Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PENDAHULUAN HIPOSPADIA

Nama : Irma Rakhmalia


NIM : 4006130053
Ruang : Bedah Anak, Kemuning Lt.2
A. Pengertian
Hipospadia adalah suatu kelainan bawaan di mana meatus uretra eksterna
terletak di permukaan ventral penis dan lebih keproksimal dari tempatnya yang
normal (ujung glands penis). (Arif Mansjoer. 2000)..
Hipospadia adalah kelainan bawaan berupa lubang uretra yang terletak
dibagian bawah dekat pangkal penis (Ngastiyah. 2005. Hal. 288)
Hipospadia adalah suatu kelainan kongenital anormali yang mana uretra
bermuara pada sisi bawah penis atauperineum (Suryadi dan Yuliani. 2001).
B. Etiologi
Penyebabnya sebenarnya sangat multifaktor dan sampai sekarang belum
diketahui penyebab pasti dari hipospadia. Namun, ada beberapa faktor yang oleh
para ahli dianggap paling berpengaruh antara lain :
1. Gangguan dan ketidakseimbangan hormone
Hormon yang dimaksud di sini adalah hormon androgen yang mengatur
organogenesis kelamin (pria). Atau bisa juga karena reseptor hormon
androgennya sendiri di dalam tubuh yang kurang atau tidak ada. Sehingga
walaupun hormon androgen sendiri telah terbentuk cukup akan tetapi apabila
reseptornya tidak ada tetap saja tidak akan memberikan suatu efek yang
semestinya. Atau enzim yang berperan dalam sintesis hormon androgen tidak
mencukupi pun akan berdampak sama.
2. Genetika
Terjadi karena gagalnya sintesis androgen. Hal ini biasanya terjadi karena
mutasi pada gen yang mengode sintesis androgen tersebut sehingga ekspresi
dari gen tersebut tidak terjadi.
3. Prematuritas
Peningkatan insiden hipospadia ditemukan di antara bayi yang lahir dari ibu
dengan terapiestrogen selama kehamilan. Prematuritas juga lebih sering
dikaitkan dengan hipospadia
4. Lingkungan

Biasanya faktor lingkungan yang menjadi penyebab adalah polutan dan zat
yang bersifat teratogenik yang dapat mengakibatkan mutasi.
C. Klasifikasi
Tipe hipospadia berdasarkan letak orifisium uretra eksternum/ meatus :
1. Tipe sederhana/ Tipe anterior
Terletak di anterior yang terdiri dari tipe glandular dan coronal. Pada tipe
ini, meatus terletak pada pangkal glands penis. Secara klinis, kelainan ini
bersifat asimtomatik dan tidak memerlukan suatu tindakan. Bila meatus agak
sempit dapat dilakukan dilatasi atau meatotomi.
2. Tipe penil/ Tipe Middle
Middle yang terdiri dari distal penile, proksimal penile, dan pene-escrotal.
Pada tipe ini, meatus terletak antara glands penis dan skrotum. Biasanya
disertai dengan kelainan penyerta, yaitu tidak adanya kulit prepusium bagian
ventral, sehingga penis terlihat melengkung ke bawah atau glands penis
menjadi pipih. Pada kelainan tipe ini, diperlukan intervensi tindakan bedah
secara bertahap, mengingat kulit di bagian ventral prepusium tidak ada maka
sebaiknya pada bayi tidak dilakukan sirkumsisi karena sisa kulit yang ada
dapat berguna untuk tindakan bedah selanjutnya.
3. Tipe Posterior
Posterior yang terdiri dari tipe scrotal dan perineal. Pada tipe ini, umumnya
pertumbuhan penis akan terganggu, kadang disertai dengan skrotum bifida,
meatus uretra terbuka lebar dan umumnya testis tidak turun.
D. Manifestasi Klinis
1. Glans penis bentuknya lebih datar dan ada lekukan yang dangkal di bagian
bawahpenis yang menyerupai meatus uretra eksternus.
2. Preputium (kulup) tidak ada dibagian bawah penis, menumpuk di
bagianpunggung penis.
3. Adanya chordee, yaitu jaringan fibrosa yang mengelilingi meatus dan
4.
5.
6.
7.
8.
9.

membentang hingga ke glans penis, teraba lebih keras dari jaringan sekitar.
Kulit penis bagian bawah sangat tipis.
Tunika dartos, fasia Buch dan korpus spongiosum tidak ada.
Dapat timbul tanpa chordee, bila letak meatus pada dasar dari glans penis.
Chordee dapat timbul tanpa hipospadia sehingga penis menjadi bengkok.
Sering disertai undescended testis (testis tidak turun ke kantung skrotum).
Kadang disertai kelainan kongenital pada ginjal.

10. Pancaran air kencing pada saat BAK tidak lurus, biasanya kebawah,
menyebar,mengalir melalui batang penis, sehingga anak akan jongkok pada
saat BAK.
11. Pada Hipospadia grandular/ koronal anak dapat BAK dengan berdiri
denganmengangkat penis keatas.
12. Pada Hipospadia peniscrotal/ perineal anak berkemih dengan jongkok.
13. Penis akan melengkung kebawah pada saat ereksi.
E. Patofisiologi
Penyebab dari Hypospadia belum diketahui secara jelas dan dapat
dihubungkan dengan faktor genetik dan pengaruh Hormonal. Pada usia gestasi
Minggu ke VI kehamilan terjadi pembentukan genital, pada Minggu ke VII terjadi
agenesis pada moderm sehingga genital tubercel tidak terbentuk, bila genital fold
gagal bersatu diatas sinus urogenital maka akan timbul Hypospadia.
Perkembangan urethra dalam utero dimulai sekitar usia 8 minggu dan selesai
dalam 15 minggu, urethra terbentuk dari penyatuan lipatan urethra sepanjang
permukaan ventral penis. Glandula Urethra terbentuk dari kanalisasi furikulus
ektoderm yang tumbuh melalui glands untuk menyatu dengan lipatan urethra yang
menyatu. Hypospadia terjadi bila penyatuan digaris tengah lipatan urethra tidak
lengkap sehingga meatus urethra terbuka pada sisi ventral penis. Derajat kelainan
letak ini antara lain seperti pada glandular (letak meatus yang salah pada glans),
Korona (pada Sulkus Korona), penis (disepanjang batang penis), penuskrotal
(pada pertemuan ventral penis dan skrotum) dan perineal (pada perinium)
prepusium tidak ada pada sisi ventral dan menyerupai topi yang menutupi sisi
darsal gland. Pita jaringan fibrosa yang dikenal sebagai Chordee, pada sisi ventral
menyebabkan kuruatura (lingkungan) ventral dari penis. Pada orang dewasa,
chordec tersebut akan menghalangi hubungan seksual, infertilisasi (Hypospadia
penoskrotal) atau (perineal) menyebabkan stenosis meatus sehingga mengalami
kesulitan dalam mengatur aliran urine dan sering terjadi kriotorkidisme.
F. Pemeriksaan Diagnostik
Diagnosis dilakukan dengan dengan pemeriksaan fisik pada bayi baru lahir
atau bayi. Karena kelainan lain dapat menyertai hipospadia, dianjurkan
pemeriksaan yang menyeluruh, termasuk pemeriksaan kromososm (Corwin,
2009).
Rontgen
USG sistem kemih kelamin

BNO IVP karena biasanya pada hipospadia juga disertai dengan kelainan

kongenital ginjal
Kultur urine (Anak-hipospadia)
G. Penetalaksanaan Medis/Keperawatan
Tujuan utama dari penatalaksanaan

bedah

hipospadia

adalah

merekomendasikan penis menjadi lurus dengan meatus uretra ditempat yang


normal atau dekat normal sehingga aliran kencing arahnya ke depan dan dapat
melakukan coitus dengan normal (Anak-hipospadia).
Koreksi bedah mungkin perlu dilakukan sebelum usia anak 1 atau 2 tahun.
Sirkumsisi harus dihindari pada bayi baru lahir agar kulup dapat dapat digunakan
untuk perbaikan dimasa mendatang (Corwin, 2009).
Informasikan orang tua bahwa pengenalan lebih dini adalah penting sehingga
sirkumsisi dapat dihindari, kulit prepusium digunakan untuk bedah perbaikan
(Muscari, 2005).
1. Operasi pelepasan chordee dan tunneling
2. Dilakukan pada usia satu setengah hingga dua tahun. Pada tahap ini dilakukan
operasi eksisi chordee dari muara uretra sampai ke glans penis. Setelah eksisi
chordee maka penis akan menjadi lurus akan tetapi meatus uretra masih
terletak abnormal. Untuk melihat keberhasilan setelah eksisi dilakukan tes
ereksi buatan intraoperatif dengan menyuntikan NaCl 0,9% ke dalam korpus
kavernosum.
3. Operasi uretroplasti
4. Biasanya dilakukan 6 bulan setelah operasi pertama. Uretra dibuat dari kulit
penis bagian ventral yang diinsisi secara longitudinal paralel di kedua sisi.
5. Dikenal banyak teknik operasi hipospadia yang umumnya terdiri dari :
Operasi hipospadia satu tahap (One stage urethroplasty) adalah teknik operasi
sederhana yang sering digunakan, terutama untuk hipospadia tipe distal. Tipe
distal inimeatusnya letak anterior atau yang middle. Meskipun sering hasilnya
kurang begitu bagus untuk kelainan yang berat. Sehingga banyak dokter lebih
memilih untuk melakukan 2 tahap. Untuk tipe hipospadia proksimal yang
disertai dengan kelainan yang lebih berat, maka one stage urethroplasty nyaris
dapat dilakukan. Tipe anghipospadia proksimal seringkali di ikuti dengan
kelainan-kelainan yang berat seperti chordee yang berat, globuler glands yang
bengkok ke arah ventral (bawah) dengan dorsal : skin hood dan propenil bifid

scrotum. Intinya tipe hipospadia yang letak lubang air seninya lebih ke arah
proksimal (jauh dari tempat semestinya) biasanya diikuti dengan penis yang
bengkok dan kelainan lain di scrotum. Operasi yang dilakukan hanya satu
tahap, akan tetapi operasi hanya dapat dilakukan pada hipospadia tipe distal
dengan ukuran penis yang cukup besar.
H. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a. Genitouria
Praoperasi
Yang terinspeksi pada Genitourinaria adalah:
1) pemeriksaan genitalia
2) tidak ada kulit katan (foreksin) ventral
3) palpasi abdomen untuk melihat distensi bladder atau pembesaran pada
ginjal.
4) Kaji fungsi perkemihan
5) Adanya lekukan pada ujung penis
6) Glans penis berbentuk sekop
7) Melengkungnya penis ke bawah dengan atau tanpa ereksi
8) Terbukanya urethral pada ventral (hypospadias)
Pascaoperasi
Yang terinspeksi pada Genitourinaria adalah:
1) Pembengkakan penis
2) Perdarahan pada sisi pembedahan
3) Disuria
b. Neurologis
1) Iritabilitas
2) Gelisah
c. Kaji riwayat kelahiran (adanya anomali konginetal, kondisi kesehatan)
d. Head to toe
1)

Perhatikan adanya penis yang besar kemungkinan

terjadi pubertas yang terlalu dini


2)

Pada anak yang obesitas penis dapat ditutupi oleh

bantalan lemak di atas simpisis pubis

3)

Pada bayi, prepusium mengencang sampai usia 3 tahun

dan tidak boleh diretraksi


4)

Palpasi abdomen atau melihat distensi bladder atau

pembesaran pada ginjal


5)

Perhatikan lokasi pada permukaan dorsal atau ventral

dari penis kemungkinan tanda genetalia ganda


6)

Kaji fungsi perkemihan

7)

Kaji adanya lekukan pada ujung penis

8)

Jika mungkin, perhatikan kekuatan dan arah aliran

urin.
9)

Perhatikan skrotum yang kecil dekat perineum dengan

adanya derajat pemisahan garis tengah


10)

Rugae yang terbentuk baik menunjukkan turunya

testis.
11)

Kaji adanya nyeri urinasi, frekuensi, keraguan untuk

kencing, urgensi, urinaria, nokturia, poliuria, bau tidak enak pada


urine, kekuatan dan arah aliran, rabas, perubahan ukuran skrotum
e. Diskusikan pentingnya hygiene
f. Kaji faktor yang mempengaruhi respon orang tua pada penyakit anak dan
keseriusan ancaman pada anak mereka
1) Prosedur medis yang terlibat dalam diagnosis dan tindakan
2)
3)
4)
5)
6)

Ketersediaan sistem pendukung


Kekuatan ego pribadi
Kemampuan koping keluarga sebelumnya
Stress tambahan pada sistem keluarga
Keyakinan budaya dan agama

g. Kaji pola komunikasi antar anggota keluarga


1) Menurunnya komunikasi pada anak, ekspresi, dan kontrol impuls
dalam penyampaian penyaluran perasaan
2) Anak dapat merasa terisolasi, bosan, gelisah, adanya perasaan malu
terhadap teman sebaya
3) Dapat mengekspresikan marah dan agresi
2. Diagnosa Keperawatan
a. Cemas berhubungan dengan perubahan status kesehatan pada anak
b. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri biologi (post operasi)
c. Resiko infeksi

3. Intervensi/Perencanaan Keperawatan
Diagnosa Keperawatan/
Masalah Kolaborasi

Rencana keperawatan
Tujuan dan Kriteria Hasil

Intervensi

Kecemasan berhubungan
dengan perubahan status
kesehatan
-

DO/DS:
Insomnia
Kontak mata kurang
Kurang istirahat
Berfokus pada diri sendiri
Iritabilitas
Takut
Nyeri perut
Penurunan TD dan denyut nadi
Diare, mual, kelelahan
Gangguan tidur
Gemetar
Anoreksia, mulut kering
Peningkatan TD, denyut nadi,
RR
Kesulitan bernafas
Bingung
Bloking dalam pembicaraan
Sulit berkonsentrasi

Nyeri akut berhubungan


dengan:
Agen injuri (biologi, kimia,
fisik, psikologis), kerusakan
jaringan
-

DS:
Laporan secara verbal
DO:
Posisi untuk menahan nyeri
Tingkah laku berhati-hati

Gangguan tidur (mata sayu,


tampak capek, sulit atau
gerakan kacau, menyeringai)
Terfokus pada diri sendiri
Fokus menyempit
(penurunan persepsi waktu,

kerusakan proses berpikir,


penurunan interaksi dengan
orang dan lingkungan)
Tingkah laku distraksi,

contoh : jalan-jalan,
menemui orang lain
dan/atau aktivitas, aktivitas

berulang-ulang)
Respon autonom (seperti

NOC :
- Kontrol kecemasan
- Koping
Setelah dilakukan asuhan
selama
klien
kecemasan teratasi dgn
kriteria hasil:
Klien
mampu
mengidentifikasi
dan
mengungkapkan gejala
cemas
Mengidentifikasi,
mengungkapkan
dan
menunjukkan
tehnik
untuk mengontol cemas
Vital sign dalam batas
normal
Postur tubuh, ekspresi
wajah, bahasa tubuh dan
tingkat
aktivitas
menunjukkan
berkurangnya
kecemasan

NIC :
Anxiety Reduction (penurunan
kecemasan)
Gunakan
pendekatan
yang
menenangkan
Nyatakan dengan jelas harapan terhadap
pelaku pasien
Jelaskan semua prosedur dan apa yang
dirasakan selama prosedur
Temani pasien untuk memberikan
keamanan dan mengurangi takut
Berikan informasi faktual mengenai
diagnosis, tindakan prognosis
Libatkan keluarga untuk mendampingi
klien
Instruksikan
pada
pasien
untuk
menggunakan tehnik relaksasi
Dengarkan dengan penuh perhatian
Identifikasi tingkat kecemasan
Bantu pasien mengenal situasi yang
menimbulkan kecemasan
Dorong pasien untuk mengungkapkan
perasaan, ketakutan, persepsi
Kelola pemberian obat anti cemas:........

NOC :

NIC :
Lakukan
pengkajian
nyeri
secara
komprehensif termasuk lokasi, karakteristik,
durasi, frekuensi, kualitas dan faktor
presipitasi
Observasi
reaksi
nonverbal
dari
ketidaknyamanan
Bantu pasien dan keluarga untuk mencari
dan menemukan dukungan
Kontrol
lingkungan
yang
dapat
mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan,
pencahayaan dan kebisingan
Kurangi faktor presipitasi nyeri
Kaji tipe dan sumber nyeri untuk
menentukan intervensi
Ajarkan tentang teknik non farmakologi:
napas dala, relaksasi, distraksi, kompres
hangat/ dingin
Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri:
...
Tingkatkan istirahat
Berikan informasi tentang nyeri seperti
penyebab nyeri, berapa lama nyeri akan
berkurang dan antisipasi ketidaknyamanan
dari prosedur

Pain Level,
pain
control,

comfort

level
Setelah dilakukan tinfakan
keperawatan selama .
Pasien tidak mengalami
nyeri, dengan kriteria hasil:
Mampu mengontrol nyeri
(tahu penyebab nyeri,
mampu
menggunakan
tehnik
nonfarmakologi
untuk mengurangi nyeri,
mencari bantuan)

Melaporkan bahwa nyeri


berkurang
dengan
menggunakan manajemen
nyeri
Mampu mengenali nyeri
(skala,
intensitas,
frekuensi dan tanda nyeri)
Menyatakan rasa nyaman
setelah nyeri berkurang

diaphoresis, perubahan

tekanan darah, perubahan


nafas, nadi dan dilatasi

pupil)
Perubahan autonomic dalam
tonus otot (mungkin dalam
rentang dari lemah ke kaku)
Tingkah laku ekspresif
(contoh : gelisah, merintih,
menangis, waspada, iritabel,
nafas panjang/berkeluh
kesah)
Perubahan dalam nafsu
makan dan minum
Risiko infeksi

Faktor-faktor risiko :
Prosedur Infasif
Kerusakan jaringan dan
peningkatan paparan
lingkungan
Malnutrisi
Peningkatan paparan
lingkungan patogen
Imonusupresi
Tidak adekuat pertahanan
sekunder (penurunan Hb,
Leukopenia, penekanan
respon inflamasi)
Penyakit kronik
Imunosupresi
Malnutrisi
Pertahan primer tidak adekuat
(kerusakan kulit, trauma
jaringan, gangguan
peristaltik)

Tanda vital dalam rentang


normal
Tidak
mengalami
gangguan tidur

NOC :
Immune Status
Knowledge : Infection
control
Risk control
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan
selama
pasien tidak mengalami
infeksi dengan kriteria hasil:
Klien bebas dari tanda
dan gejala infeksi
Menunjukkan
kemampuan
untuk
mencegah
timbulnya
infeksi
Jumlah leukosit dalam
batas normal
Menunjukkan perilaku
hidup sehat
Status
imun,
gastrointestinal,
genitourinaria
dalam
batas normal

Monitor vital sign sebelum dan sesudah


pemberian analgesik pertama kali

NIC :
Pertahankan teknik aseptif
Batasi pengunjung bila perlu
Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah
tindakan keperawatan
Gunakan baju, sarung tangan sebagai alat
pelindung
Ganti letak IV perifer dan dressing sesuai
dengan petunjuk umum
Gunakan
kateter
intermiten
untuk
menurunkan infeksi kandung kencing
Tingkatkan intake nutrisi
Berikan
terapi
antibiotik:.................................
Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan
lokal
Pertahankan teknik isolasi k/p
Inspeksi kulit dan membran mukosa terhadap
kemerahan, panas, drainase
Monitor adanya luka
Dorong masukan cairan
Dorong istirahat
Ajarkan pasien dan keluarga tanda dan gejala
infeksi
Kaji suhu badan pada pasien neutropenia
setiap 4 jam

DAFTAR PUSTAKA
Mansjoer, Arif, dkk. (2000).Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 2, Jakarta :
MediaAesculapius

Muscari, M. E. (2005). Panduan Belajar : Keperawatan Pediatrik Ed. 3 hal : 357.


Jakarta : EGC.
Nanda. (2010). Diagnosis Keperawatan. Jakarta: EGC.
Ngastiyah. (2005). Perawatan anak sakit edisi ke-2 EGC: Jakarta