Anda di halaman 1dari 135

Jurnal Ekonomi Pembangunan

Vol. 9, No. 2, Desember 2008, hal. 121 - 136


TERAKREDITASI. SK Dikti No.55a / DIKTI / Kep / 2006 ISSN 1411- 6081

Volume 9, No. 2, Desember 2008

DAFTAR ISI

Dampak Ketidakstabilan Nilai Tukar Rupiah terhadap Permintaan Uang M2


di Indonesia
Etty Puji Lestari ………….……….……..…………………………………….……. 121 - 136

Analisis Peranan Sektor Industri terhadap Perekonomian Jawa Tengah Tahun 2000
dan Tahun 2004 (Analisis Input Output)
Didit Purnomo dan Devi Istiqomah ………………………………………….……. 137 - 155

Analisis Perubahan Kurs Rupiah terhadap Dollar Amerika


Triyono ………………….………..…………………………………………….…… 156 - 167

Produktivitas Lahan dan Biaya Usahatani Tanaman Pangan


di Kabupaten Gunung Kidul
Suwarto ………………….……..………..……..…………………………………… 168 - 183

Analisis Kompetensi Produk Unggulan Daerah pada Batik Tulis dan Cap Solo
di Dati II Kota Surakarta
Daryono Soebagiyo dan M. Wahyudi ………………..………………………..….. 184 - 197

Analisis Dampak Otonomi Daerah terhadap Strategi Pengembangan Perguruan


Tinggi Swasta (PTS) di Kabupaten Sleman
Rudy Badrudin ………………………………………..………………………….… 198 - 215

Peran Aktif Wanita dalam Peningkatan Pendapatan Rumah tangga Miskin:


Studi Kasus pada Wanita Pemecah Batu di Pucanganak Kecamatan Tugu Trenggalek
Sugeng Haryanto …………………….…………..………….……………………… 216 - 227

The Competitiveness of Soybean Production in Blitar-East Java, Indonesia


Moh. Azis Arisudi dan Salfarina Abdul Gapor ………...………..………………... 228 - 247
Jurnal Ekonomi Pembangunan
Vol. 9, No. 2, Desember 2008, hal. 121 - 136

DAMPAK KETIDAKSTABILAN NILAI TUKAR RUPIAH


TERHADAP PERMINTAAN UANG M2 DI INDONESIA

Etty Puji Lestari


Fakultas Ekonomi Universitas Terbuka, Jakarta
E mail: ettypl@mail.ut.ac.id

ABSTRACT
This article attempts to estimate demand for M2 money in Indonesia using time
series non-stationary technique in 1997.1 - 2006.4. There are four methods are used
in research, first, VAR estimation used to forecast model which have interaction of
data time series. Second, function impulse response to see response from every
variable to structural innovation of the other variables at the same time. Third,
variance decomposition to know dissociating variation change of shock from each
variable to other variables in model. Fourth method, ADL ECM to see long-range
adjustment in variable, before and after addition of variable. The result, there are
non-stationary condition in the time series data in the research. Result of VAR
estimation show that there is no causality relation two ways among fifth of variable.
From impulse, response known that response of M2 variable to other variable very
fluctuative but finally the condition will return to stabilize.
Keywords: instability of exchange rate, M2 money, vector autoregression

PENDAHULUAN masuk Indonesia. Perekonomian Indonesia


Perekonomian Indonesia masih menunjukkan mulai mengalami perubahan yang signifikan
kinerja yang cukup baik sampai awal tahun setelah pada pertengahan tahun 1997 muncul
1997 yang ditandai oleh menguatnya bebe- masalah yang menghantam perdagangan
rapa indikator makro ekonomi. Pada tahun valuta asing di kawasan Asia, yang diawali
1996, tingkat pertumbuhan ekonomi masih dengan guncangan pasar valuta asing di
mencapai 7,8 persen per tahun dan investasi Thailand dan kemudian menjalar ke pasar
langsung luar negeri mencapai $6,5 juta pada valuta asing negara-negara lain termasuk
tahun fiskal 1996/1997. Sementara itu cada- Indonesia. Pada akhir periode tahun 1997,
ngan devisa resmi pemerintah mencapai $20 depresiasi riil nilai tukar rupiah terhadap
juta pada bulan Maret 1997, serta tingkat dolar AS mencapai angka 68,7 persen. Pada
depresiasi rupiah terhadap dolar Amerika saat keseimbangan eksternal tergangggu,
masih terpelihara pada kisaran 3-5 persen terjadi pula ketidakseimbangan internal.
(Bank Indonesia, 1997). Kenaikan harga barang-barang secara otoma-
tis akan memperbesar angka inflasi. Pada
Krisis ekonomi dan keuangan yang
akhir tahun 1997 angka inflasi mencapai 11,1
awalnya melanda Thailand berdampak pada
persen per tahun dan terus meningkat hingga
perekonomian negara-negara ASEAN, ter-
122 Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008

Pertumbuhan Ekonomi

100

80

60
Persen

40

20

0
1992 1994 1996 1998 2000 2002 2004 2006 2008

-20
Tahun

inflasi pertumbuhan PDB riil

Gambar 1. Laju Inflasi dan Pertumbuhan PDB Riil

mencapai 168,32 persen per tahun pada tahun rakat (percapita gross national product)
berikutnya (Bank Indonesia, 1999). yaitu dari 4.49 juta rupiah pada tahun 1998
Pada kasus Indonesia, krisis nilai tukar dan 5,78 juta rupiah (2000) menjadi 6,86 juta
mata uang Rupiah terhadap dolar, terus rupiah pada tahun 2001 (BPS, 2003). Pemu-
menular ke sektor-sektor lainnya hingga lihan kondisi tersebut ditunjang oleh mem-
menimbulkan krisis ekonomi. Pada akhir baiknya infrastuktur yang ada serta
tahun 1997, pertumbuhan ekonomi tahunan kebijakan-kebijakan yang diterapkan oleh
(PDB riil) tercatat sebesar 4,7 persen sedang pemerintah baik fiskal maupun moneter.
pada akhir tahun 1998 turun sebesar -13,2 Kondisi non stasioner tersebut menun-
persen (Gambar 1). Sebelum terjadinya krisis jukkan bahwa secara teoritis terdapat masa-
ekonomi, antara tahun 1990 sampai 1996, lah yang berkaitan dengan stabilitas. Stabili-
pertumbuhan ekonomi Indonesia rata-rata tas merupakan syarat utama dari stasioneritas
mencapai 8 persen. Setelah terjadinya krisis data, terutama data time series. Kondisi non
ekonomi tahun 1997 maka pertumbuhan stasioner terjadi jika nilai rata-rata (mean),
ekonomi Indonesia antara tahun 2000 sampai variance dan covariance tidak konsisten
2006 menurun dengan rata-rata 4,86 persen. sepanjang waktu. Stabilisasi pada data time
Perekonomian Indonesia mulai dikata- series berhubungan erat dengan stabilitas
kan membaik pada tahun 2000 yang dibukti- ekonomi makro. Jika ada permasalahan yang
kan dengan adanya penurunan inflasi dari berhubungan dengan variabel non stasioner
77,63 persen pada tahun 1998 menjadi 2,01 maka hasil estimasi akan mengalami regresi
pada tahun 2000, namun kembali meningkat lancung (spurious regression atau spurious
pada tahun 2002 sebanyak 12,55 persen. correlation problem). Sejauh ini perdebatan
Membaiknya kinerja ini juga diikuti oleh akademik menyangkut kelancungan pertama
meningkatnya pendapatan perkapita masya- kali dikemukakan oleh Granger dan Newbold
pada tahun 1974 dan tahun 1977 serta dikaji
Etty Puji Lestari - Dampak Ketidakstabilan Nilai Tukar Rupiah 123

lebih lanjut oleh Phillips pada tahun 1986. terhadap luar negeri bebas dilakukan oleh
Dampak yang ditimbulkan oleh regresi masyarakat Indonesia. Masyarakat telah
lancung antara lain: koefisien penaksir tidak dibebaskan untuk memegang valuta asing
efisien, peramalan berdasarkan regresi terse- dengan sistem kurs mengambang terkendali
but akan meleset dan uji baku umum menjadi (managed floating exchange rate) sejak awal
tidak sahih (Insukindro, 1991). tahun 1980-an dan sekarang sistem kurs
Untuk mencapai stabilisasi ekonomi mengambang penuh (free floating exchange
maka diperlukan target-antara di antaranya rate). Kebijakan ini memungkinkan masyara-
jumlah uang beredar. Di sisi lain pengenda- kat di dalam negeri untuk merelokasikan
lian jumlah uang beredar (JUB) sulit diukur. kekayaannya dengan memasukkan mata uang
Pengendalian JUB berkaitan erat dengan asing sebagai salah satu bentuk kekayaan
perilaku permintaan uang masyarakat teru- yang dipegang sehingga memungkinkan
tama untuk jangka panjang. Salah satu maksimisasi return dari asset yang mereka
variabel penentu yang cukup berarti dalam pegang.
dalam teori ekonomi adalah kurs atau nilai Perdebatan pemilihan variabel kunci
tukar yang sifatnya fluktuatif. Variabel ini dalam menjelaskan perilaku permintaan uang
menjadi lebih dominan pada masa krisis. tidak terlalu banyak variasinya. Penelitian
Perekonomian suatu negara dikatakan bebas yang dilakukan oleh Hendry dan Erricson
dari krisis apabila mampu mencapai nilai (1991) dan Mizao (1997) menggunakan 4
kurs yang stabil. variabel yaitu M, π , Y dan R yang masing-
Berangkat dari kondisi yang sangat fluk- masing menunjukkan M1 riil, tingkat laju
tuatif tersebut, maka artikel ini ingin menga- inflasi, output riil, dan tingkat bunga berjang-
nalisis permintaan uang di Indonesia dengan ka. Selanjutnya melihat kondisi keterbukaan
teknik time series non stasioner pada saat yang dialami Indonesia sejak awal tahun
terjadi ketidakstabilan nilai tukar pada tahun 1980-an maka berbeda dengan penelitian
1997.1–2006.4; menganalisis perilaku varia- Morimune dan Zhao (1997), model dapat
bel penentu permintaan uang yang memiliki diperluas untuk memasukkan variabel nilai
karakteristik yang sangat fluktuatif di tukar dan permintaan uangnya dipilih M2
Indonesia terutama setelah Bank Indonesia karena memiliki skala yang lebih luas
mengenakan sistem kurs mengambang bebas; dibandingkan M1. Model penelitian ini dapat
dan mengukur besarnya kecepatan penye- dituliskan sebagai berikut:
suaian (speed of adjustment) jangka panjang
permintaan uang. M d = f (Yt , ER t , rt , Inf t )

dimana
METODE PENELITIAN
Md adalah permintaan uang M2
Yt adalah output atau pendapatan nasional riil
Model Estimasi Permintaan Uang
ERt adalah nilai tukar rupiah terhadap dolar
Penggunaan model perekonomian terbuka rt adalah tingkat suku bunga pasar dan
dapat diterima untuk kasus permintaan uang Inft adalah tingkat inflasi.
di Indonesia, mengingat bahwa transaksi
124 Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008

Penelitian ini menggunakan data sekun- neritas karena pada prinsipnya uji tersebut
der yang diperoleh dari Badan Pusat Statis- dimaksudkan untuk mengamati apakah koefi-
tik, Statistik dan Keuangan Indonesia, Bank sien tertentu dari model otoregressif yang
Indonesia, International Financial Statistic ditaksir memiliki nilai satu atau tidak.
(IFS), World Bank dan beberapa sumber lite- Namun demikian model otoregresif memiliki
ratur lainnya. Rentang waktu yang digunakan distribusi yang tidak baku seperti uji t dan uji
dalam penelitian adalah mulai tahun 1997.1 f yang tidak cukup layak digunakan untuk
sampai 2006.4. menguji hipotesa. Uji tersebut dikembangkan
Penelitian ini menggunakan 4 (empat) dengan penaksiran otoregresif sebagai
metode estimasi, yaitu pertama, Vector Auto- berikut:
regression/VAR untuk melihat estimasi hubu-
ngan dalam jangka panjang. Metode VAR X t = α + θX t −1 + u t …….(1)
diyakini mampu melakukan peramalan yang
lebih baik dibandingkan model persamaan dimana parameter θ untuk data time series
struktural. Metode kedua adalah melakukan diasumsikan positip. Xt menjadi non stasio-
pengujian terhadap impulse response func- ner jika parameter θ sama dengan atau lebih
tion untuk melihat respon dari setiap variabel dari satu. Time series persamaan 1 stasioner
terhadap struktural inovasi variabel lainnya jika θ < 1. Proses pengujiannya dilakukan
dalam model pada periode waktu bersamaan. dengan mengaplikasikan OLS ke dalam per-
Metode ketiga adalah menguji variance de- samaan 1 sehingga kita mendapatkan θ̂ nilai
composition yang berguna untuk memisah- estimasi dari θ . Selanjutnya dilakukan uji t
kan variasi perubahan shock dari setiap (t-test) pada hipotesis nol Ho: θ =1 melawan
variabel terhadap variabel lain dalam model.
Ha: θ <1. Jika θ̂ merupakan standar error
Metode terakhir yang dipakai adalah melaku-
kan estimasi model ADL ECM. Metode estimasi dari θ̂ maka uji statistik (t-statistik/
estimasi ini merupakan turunan dari model TS) dirumuskan sebagai berikut:
VAR atau metode estimasi VAR yang
memasukkan variabel tambahan (ECT) ke θˆ − 1 …….(2)
dalam analisis. Tujuannya adalah untuk meli- TS =
s θˆ
hat penyesuaian jangka panjang dalam varia-
bel yang diamati sebelum dan sesudah
penolakan Ho berimplikasi pada data yang
penambahan variabel.
stasioner.
Kajian yang dilakukan oleh D.A Dickey
Uji Akar Unit Autoregressive
dan W.F Fuller (1981) dilakukan dengan
Tujuan uji akar unit adalah untuk mengetahui menulis persamaan 1 menjadi:
ada tidaknya akar unit (komponen random
walk). Uji akar unit yang digunakan dalam ΔX t = α + θ * X t −1 + u t ,
penelitian ini adalah dua uji yang dikem-
bangkan oleh Dickey dan Fuller (1981). Uji θ* = θ − 1 …….(3)
akar unit dapat dipandang sebagai uji stasio-
Etty Puji Lestari - Dampak Ketidakstabilan Nilai Tukar Rupiah 125

dengan pengujian Ho: θ =1 melawan Ha: θ < bentuk hubungan jangka panjang. Metode
1 dalam persamaan 1 sama dengan pengujian lainnya adalah Vector Autoregression (VAR)
Ho: θ *=0 melawan Ha: θ *<0 pada persa- yang diperkenalkan oleh Sims (1980).
maan 3. Pengujian yang terakhir terakhir Metode ini didasarkan atas reaksi terhadap
sering disebut uji akar unit (unit root test). pendekatan ekonometri tradisional untuk
Dickey-Fuller telah mengembangkan sebuah menangani model simultan (multi-equation
simulasi dengan menabulasi distribusi t-rasio simultaneous models). Kunci penting dari
sampel besar dengan menguji hipotesa nol metode ini adalah pembagian variabel-
(Ho) yaitu θ *=0. Mereka menemukan ada- variabel menjadi variabel endogen ke dalam
nya bias ke bawah (downward biased) distri- model dan variabel yang diperlakukan seba-
busi t rasio pada nol seperti jika estimator gai variabel eksogen (Litterman, 1985).
OLS θ̂ * yang tidak bias tetapi pada nilai VAR sering digunakan untuk meramal-
yang kurang dari nol (lihat Thomas, kan model yang memiliki data time series
1997:406 dan 412, Greene, 2000: 750). yang saling berhubungan (interrelated time
Pada situasi seperti ini dihasilkan t-rasio series) dan digunakan untuk menganalisis
dengan simbol t1*.t1* yang disebut sebagai dampak dari variabel pengganggu (random
statistic DF (Dickey Fuller statistic). Bebera- disturbances) yang dinamis. Kriteria pengu-
pa nilai kritis Dickey Fuller untuk t1* ditun- jian secara statistik dilakukan dengan uji
jukkan pada Tabel 1. parsial (uji-t) dan uji goodness of fit; t tabel(2
tail, α = 0.05,∞) = 1.960. Uji goodness of fit
Penelitian ini menggunakan uji akar-akar dilakukan dengan melihat koefisien determi-
unit yang dikembangkan oleh Dickey & nasinya (R2). Uji ini bertujuan untuk mengu-
Fuller (1981, hal 1057-1072). Tima series kur seberapa besar variasi dari variabel-
yang memiliki akar unit biasa disebut sebagai variabel independen dapat menjelaskan
random walk time series (Gujarati, 728). Uji variabel dependen.
ini dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan
memasukkan konstanta tetapi tidak mema- Model VAR yang digunakan dalam
sukkan trend dan dengan memasukkan penelitian ini sebagai berikut:
konstanta dan trend.
Yt = ΓYt −1 + ε t …….(4)

Estimasi Jangka Panjang dengan Var


dimana vektor Yt = Yt , Z t . Lakukan turu-
Analisis kointegrasi sering digunakan seba- nan pertama (first difference) menjadi:
gai salah satu metode dalam menentukan

Tabel 1. Nilai Kritis untuk t1*


Jumlah sample n Nilai t biasa
Nilai kritis dari t1*
25 50 100 500 ∞ (n=∞)

Tingkat sig 0,01 -3.75 -3.58 -3.51 -3.44 -3.43 -2.33


Tingkat sig 0,05 -3.00 -2.93 -2.89 -2.87 -2.86 -1.65
Tingkat sig. 0,10 -2.63 -2.60 -2.58 -2.57 -2.57 -1.28
126 Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008

y t − y t −1 = (Γ − 1)y t −1 + ε t t dan Impulse Response Function dari Model


Var
Δyt = Πy t −1 + ε t …….(5)
Impulse Response Function menggambarkan
respon dari setiap variabel terhadap struk-
Jika semua variabel terintegrasi I(1), tural inovasi variabel lainnya dalam model
maka semua variabel M pada sisi kiri adalah pada periode waktu bersamaan. Estimasi
I(0). Matrik Π menghasilkan kombinasi impulse response dapat dilihat pada saat ini
linier dari variabel dalam Yt. namun tidak dan akan datang. Selanjutnya model VAR
semua kombinasi linier terkointegrasi meski- dapat ditulis sebagai suatu vektor rata-rata
pun model representasi VAR dipastikan ada. bergerak atau VMA (vector moving ave-
Jika model ini diasumsikan sebagai rage). Jika dituliskan dalam bentuk matriks
unrestricted VAR maka hasil matriks aljabar dari bentuk standar VAR maka akan
koefisien harus diperingkat. Implikasinya, didapat persamaan berikut:
jika variabel benar-benar terkointegrasi maka
koefisien matriksnya tidak akan kehilangan ⎡ y t ⎤ ⎡ y ⎤ ∞ ⎡ a11 a12 ⎤ ⎡ e1t −i ⎤
kesesuaiannya (goodnes of fit) (Greene, ⎢ z ⎥ = ⎢ z ⎥ + ∑ ⎢a a 22 ⎥⎦ ⎢⎣e2t −i ⎥⎦
⎣ t ⎦ ⎣ ⎦ i =0 ⎣ 22 ….(7)
2000:794).
Menurut Morimune dan Zhao (1997),
dimana {yt} dan {zt} mempunyai hubungan
jika Xt menjadi kolom vektor dari sejumlah p
dengan {e1t} dan {e2t} secara berurutan.
komponen dengan I(1), maka sistem yang
Dengan menggunakan {εyt} dan {εzt}, selan-
dapat ditulis dalam jumlah order VAR yang
jutnya dengan menggunakan operasi matriks
terbatas (restricted VAR) seperti berikut:
aljabar maka vector error dapat ditentukan
menjadi:
ΔX t = μ + Π x t −1 + ... + Tk Δx t −k + ε t ….(6)
⎡ e1t ⎤ ⎡ 1 − b12 ⎤ ⎡ε yt ⎤
⎢e ⎥ = [1 /(1 − b12 b21 )]⎢− b 1 ⎥⎦ ⎢⎣ε zt ⎥⎦
dimana t = 1,2,3…t dan ε t independen, ⎣ 2t ⎦ ⎣ 21 ...(8)
E( ε t ) = 0 dan covariance ( ε t ) = ∑ . Model
Moving average representation dalam
koreksi kesalahan (ECM) terjadi ketika
persamaan (4) dan (5) dapat ditulis dengan
matrik Π dibatasi. Hanya variabel Π xt
kaitan {εyt} dan {εzt} secara berulang menja-
yang menunjukkan masih ada hubungan
di:
jangka panjang dimana masing-masing varia-
bel tidak berubah nilainya. Dalam jangka
⎡ y t ⎤ ⎡ y ⎤ ∞ ⎡ Φ 11 (i ) Φ 12 (i ) ⎤ ⎡ε yt −i ⎤
pendek variabel Π xt tidak cocok dengan ⎢ z ⎥ = ⎢ z ⎥ + ∑ ⎢Φ (i ) Φ (i ) ⎥ ⎢ε ⎥
keseimbangan masa lalu dan sisi kiri adalah ⎣ t ⎦ ⎣ ⎦ i = 0 ⎣ 21 22 ⎦ ⎣ zt −1 ⎦
penyesuaian dari ketidakcocokannya (Guja- …….(9)
rati, 1995).
Empat satuan koefisien Φ11(i), Φ12(i), Φ21(i),
dan Φ22(i) inilah yang disebut dengan
impulse response function (IRF).
Etty Puji Lestari - Dampak Ketidakstabilan Nilai Tukar Rupiah 127

dimana: Yt+n – et yt+n = φ11 (0)ε yt+n + φ11 (1)ε yt+n-1 +


Фij( i ) = efek dari struktural shock pada y ... + φ11 (n-1)ε yt+1
dan z φ12 (0)ε zt+n + φ12 (1)ε zt+n-1 +
Фij( 0 ) = impact multipliers
Σ Фij( i ) = cumulative multipliers ... + φ12 (n-1)ε zt+1 …….(13)
Σ Фij( i ) = pada saat n → ∞ = long run
multipliers Variance dari forecast error Yt+n periode n
ke depan adalah σy (n)2, dimana:

Variance Decomposition dari M2


σy(n)2 = σ2y [φ11(0)2 + φ11(1)2 + ... + φ11(n-1)2]
Variance decomposition memisahkan variasi
+ σ2z [φ12(0)2 + φ12(1)2 + ...
perubahan shock dari setiap variabel terhadap
variabel lain dalam model. Setiap variabel + φ12(n-1)2] …….(14)
perubahan dalam model diasumsikan tidak
berkorelasi. Variance decomposition meng- forecast error variance decomposition adalah
gambarkan besarnya sumbangan pengaruh proporsi dari σy(n)2 terhadap shock y dan
dari suatu variabel perubahan terhadap varia- shock z. Sehingga forecast error variance
bel lain dalam model. Bentuk VMA dari decomposition pada shock y adalah:
variabel x pada satu periode di depan ditulis-
kan sebagai berikut: σ2y [φ11(0)2 + φ11(1)2 + ... + φ11(n-1)2] / σy(n)2

∞ …….(15)
X t +1 = X + ∑ ϕi ε t +1−i …….(10)
i =1 Sedangkan forecast error variance de-
composition pada shock z adalah:
Forecast error pada satu periode ke
depan adalah: σ2z [φ11(0)2 + φ11(1)2 + ... + φ11(n-1)2] / σy(n)2
∞ …….(16)
E t X t +1 = X + ∑ ϕi ε t +1−i …….(11)
i =1
Estimasi Model ADL ECM
Peramalan satu periode kedepan dilam- Penelitian ini menggunakan model ADL
bangkan dengan φ0 ε t+1 . Forecast error pada ECM (Autoregressive Distributed Lag Error
periode n ke depan adalah: Correction Models) untuk mengestimasi
fungsi permintaan uang seperti yang dipakai

oleh Hendry et al, yaitu:
X t + n − E t X t +1 = X + ∑ ϕi ε t +1−i …….(12)
i =1
Yt = α 0 + α1Yt −1 + β 0 X t + β1X t −1 + ξ t ..(17)
Forecast error pada n periode ke depan
untuk variabel y adalah: persamaan ini kemudian ditransformasikan
kedalam bentuk ECM menjadi
128 Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008

ΔYt = α 0 + α *1 (Yt −1 − βX t −1 ) + dapat berkorelasi dengan error term dari


regresi. Model ADL secara konsisten dapat
β 0 ΔX t + ξ t ……(18)
diestimasi dengan teknik variabel tambahan.

Bentuk ECM ini berbeda dengan bentuk


VAR turunan atau VAR yang memasukkan HASIL PENELITIAN DAN
Xt atau ∆Xt yang disetarakan dengan variabel PEMBAHASAN
dependen. Secara umum model ADL ditulis- Berdasar hasil estimasi, diketahui bahwa
kan sebagai berikut: nilai t-statistik atau nilai hitung ADF untuk
variabel M2, pendapatan nasional, dan suku
m p n bunga sudah stasioner pada derajat keperca-
Yt = α 0 + ∑ αi Yt −1 + ∑∑ βjiXjt−i + ξt t yaan satu persen, sedangkan variabel inflasi
i=1 i=1 i=0
stasioner pada derajat kepercayaan lima
..….(19)
persen. Dalam uji ini hanya variabel kurs
yang tidak lolos uji akar unit sehingga harus
dimana p merupakan indeks variabel penjelas diteruskan dengan uji derajat integrasi satu.
yang masing-masing memiliki distribusi Hal ini menunjukkan ada masalah dengan
kelambanan. Model ADL dapat ditransfor- akar unit yang menggambarkan situasi non
masikan dalam bentuk ECM namun diseta- stasioner. Untuk selanjutnya perlu dilakukan
rakan dengan termin tambahan (extra term) uji derajat integrasi untuk mengetahui pada
ΔX jt , j = 1,..p yang sangat berguna dalam derajat ke berapa data-data tersebut stasioner.
studi empiris. Tetapi termin tambahan ΔX jt Hasil selengkapnya uji akar unit dapat dilihat
membuat estimasi menjadi bermasalah ketika pada Tabel 2.

Tabel 2. Uji Akar Unit dan Uji Derajat Integrasi I


NILAI KRITIS ADF
VARIABEL UJI AKAR UNIT DERAJAT INTEGRASI 1
Derajat kepercayaan (%) t statistik
M2 2.707622 1 -2.627238
(lolos) 5 -1.949856
10 -1.611469
Y 3.572500 1 -2.628961
(lolos) 5 -1.950117
10 -1.611339
ER 0.673967 1.708373 1 -2.627238
(tidak lolos) (lolos) 5 -1.949856
10 -1.611469
INF -2.073001 1 -2.625606
(lolos) 5 -1.949609
10 -1.611593
R -3.154925 1 -2.641672
(lolos) 5 -1.952066
10 -1.610400
Sumber: data di olah
Etty Puji Lestari - Dampak Ketidakstabilan Nilai Tukar Rupiah 129

Dari hasil perhitungan secara keseluruh- Tabel 3. Penentuan Lag Optimal


an disimpulkan bahwa pengujian ini tidak
Kriteria Rumus
perlu diteruskan ke uji kointegrasi. Namun
demikian menurut Wickens & Brusch Final Prediction ⎡ RSS ⎤ T +k
Error (FPE) ⎢⎣ T ⎥⎦ X T −k
(1988), ECM standar dari model yang
dikembangkan oleh Domowitz dan El Akaike Information ⎡ RSS ⎤
⎢ T ⎥X e (2k / T )
Badawi (1987) sudah sahih dan dapat Criterion (AIC) ⎣ ⎦
digunakan untuk melakukan inferensi. Schwarz ⎡ RSS ⎤
Information ⎢⎣ T ⎥⎦ X T kj / T
Criterion (SIC)
Penentuan Lag Optimal Model Var Hannan-Quinn ⎡ RSS ⎤ 2k / T

Untuk dapat melakukan estimasi model VAR


Information ⎢⎣ T ⎥⎦ X (ln T )
Criterion (HQ)
maka perlu ditentukan seberapa banyak
variabel lag length dibutuhkan dalam model.
Hasil dari uji kelambanan optimal VAR
Di dalam model autoregresi dimana peran
nampak dalam Tabel 4. Tanda (*) bintang
waktu sangat berpengaruh maka peranan lag
menunjukkan rekomendasi kelambanan (lag)
didalam model menjadi sangat penting.
dari masing-masing kriteria statistik yang
Penentuan lag length juga bertujuan untuk
dipakai. Dari hasil perhitungan diperoleh
mendapatkan model yang tepat untuk
hasil bahwa empat dari lima kriteria pengu-
diestimasi, dimana model tersebut ditentukan
jian kelambanan optimal di atas (LR, FPE,
oleh banyaknya jumlah lag yang digunakan.
AIC, dan HQ) menunjukkan lag optimal
Beberapa rumus yang biasa dipakai sebesar tiga kuartal dan hanya satu dari
untuk menentukan lag optimal disajikan kriteria yaitu SC yang menyarankan dua
dalam Tabel 3. kuartal. Dengan hasil ini maka kelambanan

Tabel 4. Hasil Uji Kelambanan Optimal Var


VAR Lag Order Selection Criteria
Endogenous variables: M2 INF R XR Y
Exogenous variables: C
Date: 11/23/07 Time: 10:12
Sample: 1997:1 2006:4
Included observations: 33

Lag LogL LR FPE AIC SC


0 256.0274 NA 1.70E-13 -15.21378 -14.98704
1 403.8607 241.9091 1.01E-16 -22.65823 -21.29776
2 468.0934 85.64361 1.05E-17 -25.03597 -22.54179*
3 510.4817 43.67280* 5.01E-18* -26.08980* -22.46191
* indicates lag order selected by the criterion
LR: sequential modified LR test statistic (each test at 5% level)
FPE: Final prediction error
AIC: Akaike information criterion
SC: Schwarz information criterion
HQ: Hannan-Quinn information criterion
130 Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008

(lag) optimal yang disarankan dipakai dalam variabel memiliki nilai koefisien determinasi
model VAR adalah sebesar 3 kuartal. di atas 84 persen, artinya sebanyak lebih dari
84 persen variasi variabel independen mam-
Hasil Estimasi Var pu menjelaskan variabel dependennya.
Setelah dilakukan uji akar unit, uji derajat Pengujian parsial dengan uji-t diketahui
integrasi dan uji kelambanan optimal, beri- memiliki 3 (tiga) hubungan antarvariabel
kutnya dilakukan estimasi dengan metode yang lolos uji-t, yaitu M2(-1)→M2, InfÆY(-
VAR untuk melihat estimasi jangka panjang- 1), InfÆY(-2), InfÆY(-3), RÆR(-3), RÆ
nya. Hasil estimasi model VAR selengkap- Y(-3), XRÆ R(-3), YÆY(-2), YÆY(-3),
nya disajikan pada Tabel 5. Keseluruhan YÆ R(-1), YÆ(R-3), YÆY(-3). Dari hasil

Tabel 5. Hasil Perhitungan VAR


Vector Autoregression Estimates
Date: 11/23/07 Time: 10:18
Sample(adjusted): 1998:4 2006:4
Included observations: 33 after adjusting endpoints
Standard errors in ( ) & t-statistics in [ ]

M2 INF R XR Y
M2(-1) 0.783374 1.844524 0.251858 -0.468354 0.044517
(0.37096) (1.29575) (0.27842) (0.69119) (0.37265)
[ 2.11176] [ 1.42351] [ 0.90460] [-0.67761] [ 0.11946]

M2(-2) 0.101779 -2.377601 -0.153366 1.043349 0.678514


(0.45664) (1.59505) (0.34273) (0.85084) (0.45873)
[ 0.22288] [-1.49061] [-0.44748] [ 1.22626] [ 1.47913]

M2(-3) -0.105720 -1.172032 -0.384822 -0.423674 0.555252


(0.32894) (1.14898) (0.24688) (0.61289) (0.33044)
[-0.32140] [-1.02006] [-1.55873] [-0.69127] [ 1.68035]

INF(-1) 0.016692 0.597428 0.044956 -0.057750 0.016844


(0.05924) (0.20694) (0.04447) (0.11039) (0.05951)
[ 0.28175] [ 2.88695] [ 1.01104] [-0.52316] [ 0.28302]

INF(-2) -0.011220 -0.438280 0.007151 0.005899 -0.028079


(0.06488) (0.22663) (0.04870) (0.12089) (0.06518)
[-0.17294] [-1.93391] [ 0.14686] [ 0.04880] [-0.43082]

INF(-3) 0.026202 0.155418 -0.050401 -0.001466 -0.039886


(0.04825) (0.16853) (0.03621) (0.08990) (0.04847)
[ 0.54307] [ 0.92221] [-1.39185] [-0.01630] [-0.82294]

R(-1) -0.035488 0.583482 -0.047829 -0.044903 1.039238


(0.27803) (0.97115) (0.20867) (0.51804) (0.27930)
[-0.12764] [ 0.60081] [-0.22920] [-0.08668] [ 3.72091]

R(-2) -0.078593 -1.580649 0.389580 0.849796 -0.308423


(0.38304) (1.33797) (0.28749) (0.71371) (0.38479)
[-0.20518] [-1.18138] [ 1.35511] [ 1.19068] [-0.80153]
Etty Puji Lestari - Dampak Ketidakstabilan Nilai Tukar Rupiah 131

R(-3) -0.001224 1.600961 0.575622 -1.621212 -0.945592


(0.29013) (1.01341) (0.21775) (0.54057) (0.29145)
[-0.00422] [ 1.57978] [ 2.64349] [-2.99905] [-3.24446]

XR(-1) -0.176861 -0.173906 0.139247 0.569632 0.119205


(0.18946) (0.66178) (0.14220) (0.35301) (0.19032)
[-0.93351] [-0.26279] [ 0.97926] [ 1.61365] [ 0.62633]

XR(-2) 0.054334 0.982400 0.074591 -0.322684 -0.381226


(0.20502) (0.71612) (0.15387) (0.38199) (0.20595)
[ 0.26503] [ 1.37184] [ 0.48476] [-0.84473] [-1.85106]

XR(-3) 0.017595 -0.197403 0.137369 0.047209 0.026610


(0.13497) (0.47143) (0.10130) (0.25147) (0.13558)
[ 0.13037] [-0.41873] [ 1.35609] [ 0.18773] [ 0.19627]

Y(-1) 0.237431 2.356010 -0.063190 -0.535039 0.409370


(0.23503) (0.82096) (0.17640) (0.43792) (0.23610)
[ 1.01022] [ 2.86984] [-0.35822] [-1.22178] [ 1.73388]

Y(-2) -0.103522 -2.557144 0.018346 1.142768 0.390319


(0.30269) (1.05730) (0.22718) (0.56399) (0.30407)
[-0.34200] [-2.41856] [ 0.08075] [ 2.02622] [ 1.28364]

Y(-3) -0.001688 1.416462 0.243388 -0.900841 -0.699599


(0.15802) (0.55198) (0.11860) (0.29444) (0.15875)
[-0.01068] [ 2.56615] [ 2.05211] [-3.05952] [-4.40706]

C 1.796884 5.118083 -0.023133 4.989832 -4.886436


(1.74706) (6.10247) (1.31124) (3.25520) (1.75502)
[ 1.02852] [ 0.83869] [-0.01764] [ 1.53288] [-2.78425]
R-squared 0.990984 0.930770 0.979846 0.846529 0.996698
Adj. R-squared 0.983029 0.869685 0.962063 0.711114 0.993785
Sum sq. resids 0.003030 0.036968 0.001707 0.010519 0.003058
S.E. equation 0.013350 0.046633 0.010020 0.024875 0.013411
F-statistic 124.5714 15.23727 55.09962 6.251360 342.1365
Log likelihood 106.5544 65.27937 116.0241 86.01784 106.4043
Akaike AIC -5.488144 -2.986628 -6.062068 -4.243506 -5.479048
Schwarz SC -4.762565 -2.261049 -5.336488 -3.517926 -4.753469
Mean dependent 14.94122 0.102758 0.185773 3.953862 14.67097
S.D. dependent 0.102480 0.129179 0.051444 0.046281 0.170120
Determinant Residual Covariance 6.94E-19
Log Likelihood (d.f. adjusted) 455.7600
Akaike Information Criteria -22.77333
Schwarz Criteria -19.14543
Sumber : Data diolah
Keterangan:
- Angka dalam kurung menunjukkan nilai t-stat.
- Tanda * menunjukan signifikan pada derajat 5%.

tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa


tidak ditemukan hubungan kausalitas dua
arah di antara kelima variabel tersebut.
132 Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008

Pengujian Impulse Response dari Var Jika dilihat pada respon permintaan uang
M2 terhadap suku bunga maka ketika ada
Impulse Response Function menggambarkan
kenaikkan suku bunga maka dampaknya
respon dari setiap variabel terhadap struk-
cukup fluktuatif (naik turun) dan mulai stabil
tural inovasi variabel lainnya dalam model
pada kuartal ke 11 walaupun tidak mencapai
pada periode waktu bersamaan. Estimasi
titik keseimbangan. Sementara itu respon M2
impulse response dapat dilihat pada masa
terhadap variabel kurs adalah ketika ada
sekarang dan diwaktu yang akan datang.
shock kenaikan nilai tukar maka dampaknya
Berdasarkan gambar 2 dapat dilihat akan mengalami penurunan permintaan uang
bahwa respon variabel M2 terhadap inflasi M2 yang besarannya cukup fluktuatif dan
adalah ketika ada shock dari kenaikkan mulai stabil setelah kuartal ke-8.
inflasi maka dampaknya terhadap permintaan
Dari gambar 2 tersebut juga dapat dilihat
uang M2 mula-mula mengalami penurunan
bahwa respon variabel permintaan uang M2
pada kuartal ke-2 kemudian naik dan
terhadap pendapatan nasional adalah apabila
mencapai titik tertingginya pada kuartal ke-4
ada kenaikan shock dari variabel pendapatan
setelah itu turun dan stabil setelah kuartal ke
nasional maka akan berdampak terhadap
10. Walaupun kenaikannya semakin lama
peningkatan permintaan uang M2 yang
semakin besar sampai dengan periode kuartal
besarannya cukup fluktuatif. Pergerakan ini
ke-10 namun kenaikan tersebut tidak menca-
mulai stabil pada kuartal ke 8.
pai titik keseimbangan.

Response to Cholesk y One S.D. Innovations ± 2 S.E.

Response of M 2 to INF Response of M2 to R


.008 .008

.004 .004

.000 .000

-.004 -.004

-.008 -.008
2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20

Response of M2 to XR Response of M2 to Y
.008 .008

.004 .004

.000 .000

-.004 -.004

-.008 -.008
2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20

Gambar 2. Impulse Response dari VAR


Etty Puji Lestari - Dampak Ketidakstabilan Nilai Tukar Rupiah 133

Variance Decomposition dari M2 kuartal ke-10 kontribusinya sebesar 1,13


persen namun terus mengalami penurunan.
Dari hasil analisis diketahui bahwa kontri-
Kontribusi shock variabel pendapatan nasio-
busi shock variabel inflasi terhadap permin-
nal terhadap permintaan uang M2 sebesar
taan uang M2 mula-mula hanya sebesar 5,12
2,05 persen pada kuartal kedua, setelah itu
persen pada kuartal ke-2 setelah itu mengala-
kontribusinya selalu mengalami kenaikan,
mi kenaikan dan mencapai titik tertingginya
sampai dengan periode kuartal ke-20
pada kuartal ke-5 sebesar 52,26 persen
kontribusinya menjadi sebesar 5,42 persen.
setelah itu kontribusinya mengalami keadaan
yang fluktuatif dan setelah kuartal ke-12
kondisinya cenderung menurun. Kontribusi Estimasi Model ADL ECM
shock variabel tingkat bunga terhadap Nilai ECT yang diperoleh dari hasil estimasi
permintaan uang M2 sebesar 43,73 persen, dengan metode kemungkinan terbesar (maxi-
setelah itu kontribusinya selalu mengalami mum likelihood methods) periode 1997.1.-
penurunan, sampai dengan periode kuartal 2006.4 seperti terlihat dalam persamaan 20.
ke-20 kontribusinya menjadi sebesar 15,8
persen. ECTt-1 = M2t-1 – 0.992216 Yt-1 –
Kontribusi shock variabel nilai tukar
0.102853 XRt-1 …….(20)
terhadap permintaan uang M2 sebesar 0,55
persen, setelah itu kontribusinya selalu Setelah didapatkan nilai ECT-nya selan-
mengalami kenaikan. Sampai dengan periode

Tabel 6. Variance Decomposition dari M2

Period S.E. M2 INF R XR Y


1 0.013350 100.0000 0.000000 0.000000 0.000000 0.000000
2 0.015438 97.31852 0.051243 0.020625 0.557130 2.052477
3 0.018161 94.96562 0.044148 0.437314 0.444897 4.108023
4 0.019645 93.94593 0.500858 0.380871 0.508195 4.664150
5 0.021823 93.44062 0.522639 0.331059 0.616973 5.088714
6 0.024060 93.67414 0.430552 0.287892 0.612195 4.995224
7 0.025671 93.65795 0.393043 0.253987 0.849843 4.845173
8 0.027307 93.39646 0.365960 0.237812 1.004539 4.995226
9 0.028899 93.30018 0.398452 0.215920 1.068344 5.017104
10 0.030400 93.11123 0.436917 0.196797 1.139797 5.115263
11 0.032042 93.02633 0.434180 0.195401 1.128380 5.215709
12 0.033581 93.00438 0.441786 0.185527 1.119366 5.248945
13 0.035130 92.95221 0.441626 0.182093 1.111660 5.312411
14 0.036721 92.95073 0.433587 0.181513 1.082086 5.352081
15 0.038253 92.96421 0.430030 0.175938 1.065414 5.364405
16 0.039796 92.96678 0.420388 0.173802 1.048806 5.390225
17 0.041324 92.98871 0.412407 0.170359 1.032688 5.395835
18 0.042813 92.99650 0.407306 0.165528 1.026657 5.404008
19 0.044307 93.00097 0.401069 0.162298 1.019942 5.415724
20 0.045776 93.00743 0.397324 0.158005 1.016614 5.420625
Cholesky Ordering: M2 INF R XR Y
134 Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008

jutnya dilakukan estimasi ADL ECM dengan DM2 = 0.067259 DY + 0.004331 DINF +
simulasi pertama yaitu memasukkan ECT (0.624268) (1.004939)
tetapi tanpa variabel kurs, sehingga didapat-
0.145596DIR ……(22)
kan hasil seperti pada persamaan 21.
(0.145767)

DM2 = - 0.002147 ECTt-1 + 0.068736 DY + R2 = 0.530; DW = 1.61


(-0.042568) (0.599131)
0.004333 DINF - 0.145937DR Dari hasil estimasi di atas, dapat disim-
(0.143676) (0.990927) pulkan bahwa ketidakseimbangan jangka
pendek (short run disequilibrium) tidak ber-
…..(21)
pengaruh pada angka koefisien yang diesti-
R2 = 0.530476; DW = 1.615692; masi ketika kecepatan penyesuaian menuju
keseimbangan jangka panjang kecil (bisa
JB(2) = 2.0294
dilihat angka koefisien ECT pada simulasi 1
di atas yang sebesar -0.002). Hal ini bisa
Angka koreksi kesalahan (error correc- ditunjukkan koefisien pendapatan nasional
tion term) atau ECTt-1 memiliki koefisien berubah dari 0.068 menjadi 0.067, koefisien
yang negatif yang menunjukkan adanya inflasi tidak berubah (0.00433) dan variabel
penyesuaian menuju keseimbangan jangka suku bunga berubah dari 0.145 menjadi
panjang (long run equilibrium) dengan nilai 0.146.
t-statistik yang tidak signifikan. Koefisien
Simulasi yang ketiga adalah dengan
ECT lebih kecil dari keseluruhan koefisien
memasukkan ECT dan variabel kelambanan
masing-masing variabel. Hal ini menunjuk-
kurs, didapatkan hasil estimasi sebagai
kan kecepatan penyesuaian menuju keseim-
berikut:
bangan jangka panjang lebih rendah dari
kecepatan penyesuaian pendapatan nasional
DM2 = - 0.008258 ECT + 0.079827 DY +
(DY), inflasi (DINF) dan suku bunga (DR).
(-0.202947) (0.862622)
Tanda pada regressor sesuai dengan
0.218982 DXR + 0.012486 DINF
hipotesis dimana pendapatan nasional (LYR)
(4.331162) (0.511945)
memiliki tanda positif. Tingkat inflasi
alamiah (rate of inflation naturally) memiliki -0.015018DR …….(23)
koefisien positif yang dampaknya akan (0.122563)
menambah tingkat keseimbangan permintaan
uang M2 di Indonesia ketika terjadi tingkat R2 =0.035; DW = 1.23
inflasi yang meningkat.
Simulasi yang kedua adalah dengan
Dari hasil estimasi tersebut, ditemukan
menghilangkan ECT dan variabel kurs,
bahwa nilai koefisien yang diestimasi tidak
didapatkan hasil estimasi seperti disajikan
berubah banyak dari hasil estimasi mula-
pada persamaan 22.
mula. Nilai kelambanan dari variabel kurs
DXR signifikan. Hal ini menunjukkan
Etty Puji Lestari - Dampak Ketidakstabilan Nilai Tukar Rupiah 135

masyarakat akan melakukan keseimbangan 2. Kecepatan penyesuaian menuju keseim-


portofolionya dalam mengalokasikan aset- bangan di antara variabel-variabel per-
asetnya utamanya dalam bentuk aset-aset luar mintaan uang riil, pendapatan nasional,
negeri (terutama dollar). kurs, inflasi dan suku bunga membutuh-
Dari hasil estimasi di atas diakui bahwa kan waktu tiga kuartal dan tidak ditemu-
kemampuan nilai tukar atau kurs dalam men- kan hubungan kausalitas dua arah di
jelaskan variasi ketidakseimbangan jangka antara kelima variabel yang dipakai
pendek permintaan uang tidaklah terlalu dalam penelitian. Sementara itu dari
efektif karena model ECM nya sendiri tidak impulse response diketahui bahwa respon
memberikan hasil yang signifikan. Kesim- variabel M2 terhadap empat variabel
pulan ini sama dengan yang dikemukakan lainnya sangat fluktuatif terutama ketika
oleh Baba, et.al (1992) dan Morimune dan variabel lain mengalami shock, namun
Zhao (1997). Hubungan antara nilai tukar kondisi ini pada akhirnya akan kembali
dan jumlah uang beredar tergantung pada stabil.
harapan (expectation) pemegang uang 3. Hubungan antara nilai tukar dan jumlah
sehingga sulit untuk mempertahankan hubu- uang beredar di Indonesia selama periode
ngan yang stabil antara nilai tukar dan pengamatan tergantung pada harapan
permintaan uang M2. (expectation) pemegang uang sehingga
Dalam kondisi semacam ini, masyarakat sulit untuk mempertahankan hubungan
Indonesia pada periode penelitian cenderung yang stabil antara nilai tukar dan permin-
berpendapat bahwa memegang uang bukan taan uang M2. Masyarakat Indonesia
hanya untuk tujuan transaksi, tetapi lebih cenderung berpendapat bahwa meme-
kepada tujuan untuk berjaga-jaga, bahkan gang uang bukan hanya untuk tujuan
tidak tertutup kemungkinan untuk motif transaksi, tetapi lebih kepada tujuan
spekulasi. Selama masa krisis ini, mata uang untuk berjaga-jaga, bahkan tidak tertutup
asing khususnya dolar menjadi salah satu alat kemungkinan untuk motif spekulasi.
bagi para pelaku ekonomi untuk menimbun Dua kebijakan yang direkomendasikan
kekayaan bahkan mampu meningkatkan nilai antara lain pertama, otoritas moneter diha-
atau harga assetnya (kekayaan) terutama bagi rapkan mampu mengontrol keberadaan fak-
para spekulan. tor-faktor yang mempengaruhi permintaan
uang termasuk kurs, inflasi, suku bunga dan
pendapatan nasional. Hal ini dilakukan agar
KESIMPULAN
pertumbuhan permintaan uang dapat dilaku-
Dari hasil analisis dapat ditarik tiga kesim- kan dengan stabil. Saran kedua, strategi
pulan sebagai berikut: dengan target nilai kurs layak dipertimbang-
1. Terdapat kondisi non stasionaritas terha- kan terutama pada kondisi ketidakstabilan
dap data time series (runtun waktu) permintaan uang yang diakibatkan oleh
dalam periode penelitian sehingga adanya kurs yang sangat fluktuatif. Target
menyebabkan stabilitas ekonomi makro nilai kurs merupakan target yang sederhana.
sulit dicapai. Untuk itu keberadaan Bank Sentral dibu-
tuhkan untuk mempertahankan nilai tukar
136 Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008

yang tetap agar mata uang dari negara yang Greene, W.H. 2000. Econometric Analysis.
banyak melakukan perdagangan (baskets of Fourth Edition. Prentice Hall
trading partner currencies) terjaga tingkat Gujarati, D., 2003. Basic Econometric. Fifth
kestabilannya. Edition. New Jersey: McGraw-Hill, Inc.
Handoyo, R.D. (2002). Permintaan Uang M1
DAFTAR PUSTAKA Asean-4, Singapura, Thailand, Malaysia
dan Indonesia, 1980.1–1999.4, Estimasi
Baba, Y., D.F. Hendry, dan R.M. Starr, 1992,
Data Non Stasioner. Tesis. Universitas
The Demand for M1 in the USA, 1960-
Gadjah Mada, tidak dipublikasikan.
1988. Review Economic Studies. 59. 25-
61. Hendry, D., dan Ericson N. 1991. Econome-
tric Analysis U.K. Money Demand in
Badan Pusat Statistik. 2003. Indikator Eko-
Monetary Trends in the United States
nomi. www.bps.go.id
and the United Kingdom. The American
Bank Indonesia. 1997. Laporan Tahunan Economic Review. 81. 1-80.
Bank Indonesia. www.bi.go.id
Insukindro. 1991. Regresi Linier Lancung
Bank Indonesia. 1999. Laporan Tahunan dalam Analisis Ekonomi: Suatu tinjauan
Bank Indonesia. www.bi.go.id dengan Studi Kasus Indonesia. Jurnal
Dickey, D.P., dan W.A., Fuller. 1981. Like- Ekonomi dan Bisnis Indonesia. 18-23.
lihood Ratio Statistics for Autoregres- Insukindro. 1998. Sindrum R2 dalam Analisis
sive Time Series with a Unit Root. Regresi Linier Runtun Waktu. Jurnal
Econometrica (Journal). 49. 1057 – Ekonomi dan Bisnis Indonesia. 7, 1-17
1072.
Morimune, K dan Zhao,G.Q. 1997. Non Sta-
Domowitz, I, dan Elbadawi. 1987. An Error tionary Estimation of the Japanese
Correction Approach to Money De- Money Demand Function. Journal of
mand: The Case of Sudan. Journal of Economic Research. 2.1-28
Development Economics. 25.257-275.
Wickens, M.R., dan Brusch T.S.1988. The
Dutton, D.S dan Gramm, W.P. 1973. Trans- Dynamics Specification, The Long-run
action Cost, The Wage Rate dan The and Estimation of Transformed Regres-
Demand for Money. American Eco- sion Models. Economic Journal. 98.
nomic Review. No. 63, 652-665 (Suplemen). 189-205.
Jurnal Ekonomi Pembangunan
Vol. 9, No. 2, Desember 2008, hal. 137 - 155

ANALISIS PERANAN SEKTOR INDUSTRI TERHADAP


PEREKONOMIAN JAWA TENGAH TAHUN 2000 DAN TAHUN 2004
(ANALISIS INPUT OUTPUT)

Didit Purnomo 1
Devi Istiqomah 1
1
Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Surakarta
E-mail: didiet_p@yahoo.com

ABSTRACT
This research aim to analyse role of industrial sector to other economy sectors in
Central Java and the role in Central Java economy. Research method, which
applied that, is Input Output Analysis Model (Analysis I-O), accompanied by
analysis of role of production sector and output creator of Central Java economy,
backward and forward linkage index analysis, and key sector analysis. Data which
used that is I-O table of Central Java year 2000 and year 2004 with classification
19 sector is obtained from Central Java BPS. Research result indicate that
industrial sector role is seen enough dominant in Central Java economy in the year
2000 and 2004. From the result, author suggests government so that more give
priority to industrial sectors that become key sector in Central Java in the year
2000 and 2004.
Keywords: backward and forward linkage, key sector

PENDAHULUAN ekonomi secara nasional tidak bisa terlepas


Sejak terjadinya krisis ekonomi yang mulai dari pembangunan ekonomi secara regional.
dirasakan sejak bulan Juni 1997, membuat Pada hakekatnya pembangunan regional
pembangunan ekonomi di Indonesia menga- merupakan pelaksanaan dari pembangunan
lami stagnasi, bahkan di beberapa bidang nasional pada wilayah tertentu yang disesuai-
mengalami kemunduran. Dalam menghadapi kan dengan kemampuan fisik, sosial ekonomi
era globalisasi dan perdagangan bebas, regional tersebut, serta harus tunduk pada
Indonesia dituntut untuk siap bersaing peraturan tertentu. Demi keberhasilan pem-
dengan negara-negara lain. Agar bisa ber- bangunan ekonomi regional itulah, maka
saing dengan negara lain, sebelumnya pemerintah memberlakukan otonomi daerah.
Indonesia harus memantapkan terlebih Otonomi daerah merupakan kewenangan
dahulu perekonomian yang goncang akibat daerah otonomi untuk mengatur dan mengu-
krisis multidimensi yang berkepanjangan. rus kepentingan masyarakat setempat menu-
Fundamental perekonomian yang kuat akan rut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi
meningkatkan kesiapan pemerintah dalam masyarakat. Ini karena daerah akan diberi
menghadapi era globalisasi. Pembangunan peran yang lebih besar melalui penyerahan
138 Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008

semua urusan pemerintahan serta sumber- tumbuhan Produk Domestik Regional Bruto
sumber keuangannya, kecuali kewenangan (PDRB) atas dasar harga konstan 2000,
dalam politik politik luar negeri, pertahanan semakin membaik dari tahun sebelumnya,
keamanan, peradilan, moneter dan fiskal, yaitu 5,35 persen (2004 = 5,13%). Hal cukup
agama dan perencanaan sosial. Ketidakmam- beralasan mengingat kondisi perekonomian
puan keuangan pusat akibat krisis ekonomi, relatif terus membaik selama tahun 2001
mengakibatkan daerah diberikan wewenang sampai tahun 2005.
untuk mencari sumber-sumber pendapatan Sedangkan, saat ini perekonomian Pro-
dan mengurus kebutuhan sendiri agar beban vinsi Jawa Tengah terus mengalami pertum-
pusat menjadi berkurang. buhan, yaitu pada tahun 2003 (4,98 persen),
Menurut Kamaluddin (1987:46), maksud tahun 2004 (5,13 persen) dan tahun 2005
dan tujuan yang hakiki dari otonomi daerah (5,43 persen). Pertumbuhan ekonomi Pro-
dan desentralisasi daerah adalah: vinsi Jawa Tengah mengandalkan berbagai
1. Mengurangi beban pemerintah pusat dan sektor antara lain Pertanian (5,33 persen),
campurtangannya tentang masalah-masa- Pertambangan (2,73 persen), Industri (6,41
lah tingkat lokal atau daerah di samping persen), Listrik, Gas, dan Air Bersih (8,65
itu memberi peluang untuk koordinasi persen), Gedung (7,84 persen), Perdagangan,
pelaksanaan pada tingkat lokal tersebut. Hotel, dan Restoran (2,63 persen), Trans-
portasi dan Komunikasi (4,67 persen),
2. Meningkatkan pengertian serta dukungan
Keuangan (2,67 persen), dan Jasa (5,58
pusat dalam kebutuhan usaha pemba-
persen). Sebagai cara untuk mendorong
ngunan daerah.
pertumbuhan ekonomi yang signifikan,
3. Penyusunan program-program pemba-
menciptakan lapangan kerja, mengurangi
ngunan untuk perbaikan dan penyempur-
kemiskinan, dan meningkatkan kesejahteraan
naan sosial ekonomi pada tingkat lokal
penduduk, Pemerintah Daerah Provinsi Jawa
akan menjadi realistis.
Tengah mentargetkan komposisi investasi
4. Melatih dan mengajar masyarakat untuk dari Pemerintah Daerah sebesar 25 persen
bisa mengatur dan mengatur rumah dan investasi swasta sebesar 75 persen (BPS
tangganya. Jawa Tengah, 2006).
5. Terciptanya pembinaan dan pengem-
Untuk mencapai tujuan dan sasaran
bangan daerah dalam rangka kesatuan
pembangunan dan daerah, khususnya pemba-
nasional.
ngunan ekonomi di Jawa Tengah dan untuk
Di era otonomi daerah ini setiap wilayah dapat memanfaatkan sumberdaya ekonomi
atau daerah dituntut untuk bisa mencari, daerah secara optimal, maka pembangunan
mengelola dan mengidentifikasi kemampuan daerah dapat disusun menurut tujuan antar
daerah bersangkutan. Untuk itu perlu adanya sektor. Perencanaan sektoral dimaksudkan
perencanaan pembangunan yang tepat untuk pengembangan sektor-sektor tertentu
dengan memperhatikan potensi ekonomi disesuaikan dengan keadaan dan potensi
yang dimilikinya. masing-masing sektor dan juga tujuan pem-
Pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah bangunan yang ingin dicapai.
tahun 2005 yang ditunjukkan oleh laju per-
Didit dan Devi – Analisis Peranan Sektor Industri 139

Dengan menggunakan Tabel Input- sangat penting bagi kelangsungan pertum-


Output (I-O) Jawa Tengah tahun 2000 dan buhan ekonomi, industrialisasi itu sendiri
2004 akan dijabarkan sektor-sektor yang bukan tujuan akhir, melainkan hanya
menjadi sektor industri di Jawa Tengah. merupakan salah satu strategi yang harus
Selanjutnya diharapkan dapat dipakai sebagai ditempuh untuk mendukung proses pemba-
informasi yang komprehensif agar tepat guna ngunan ekonomi guna mancapai tingkat
dan tepat sasaran bagi perekonomian Jawa pendapatan perkapita yang tinggi (Tambu-
Tengah. nan, 2001)
Pembangunan ekonomi daerah adalah Industri mempunyai peranan sebagai
suatu proses dimana pemerintah daerah sektor pemimpin maksudnya dengan adanya
mengelola sumberdaya-sumberdaya yang ada pembangunan industri maka akan memacu
membentuk suatu pola kemitraan antara dan mengangkat pembangunan sektor-sektor
pemerintah daerah dengan sektor swasta lainnya seperti sektor pertanian dan jasa.
untuk menciptakan suatu lapangan kerja baru Sebagai misal pertumbuhan sektor industri
dan merangsang perkembangan kegiatan yang pesat akan merangsang pertumbuhan
ekonomi (pertumbuhan ekonomi) dalam sektor pertanian untuk menyediakan bahan-
wilayah tersebut (Arsyad, 1999) bahan baku bagi suatu industri. Dengan
Untuk mempercepat pengembangan per- adanya industri tersebut memungkinkan juga
ekonomian daerah, maka perlu memperbesar berkembangnya sektor jasa.
penanaman investasi pada lapangan usaha Menurut Hirschman, pertumbuhan yang
yang memiliki keterkaitan yang besar cepat dari satu atau beberapa industri men-
terhadap lapangan usaha lainnya. Dengan dorong perluasan industri-industri lainnya
demikian akan dapat mendorong lapangan yang terkait dengan sektor industri yang
usaha lainnya yang mendukung lapangan tumbuh lebih dulu. Dalam sektor produksi
usaha yang dijadikan kunci atau leading mekanisme pendorong pembangunan (in-
tersebut, sehingga akan bisa meningkatkan ducement mechanisme) yang tercipta sebagai
produksi regional secara keseluruhan melalui akibat dari adanya hubungan antara berbagai
dampak multipliernya. (Ropingi dan Dany industri dalam menyediakan barang-barang
Artanto, 2002). yang digunakan sebagai bahan mentah bagi
Industrialisasi merupakan suatu proses industri lainnya, dibedakan menjadi dua
interaksi antara pengembangan teknologi, macam yaitu pengaruh keterkaitan ke be-
inovasi spesialisasi, dalam produksi dan lakang (backward linkage effect) dan penga-
perdagangan antarnegara yang pada akhirnya ruh keterkaitan ke depan (forward linkage
sejalan dengan peningkatan pendapatan effect). Pengaruh keterkaitan ke belakang
perkapita mendorong perubahan struktur maksudnya tingkat rangsangan yang dicipta-
ekonomi. Industrialisasi sering juga diartikan kan oleh pembangunan suatu industri terha-
sebagai suatu proses modernisasi ekonomi dap perkembangan industri lainnya. Sedang-
yang mencakup semua sektor ekonomi yang kan pengaruh keterkaitan ke depan adalah
mencakup semua ekonomi yang ada yang tingkat rangsangan yang dihasilkan oleh in-
terkait langsung maupun tidak langsung dustri yang pertama bagi input mereka
dengan industri manufaktur. Walaupun (Arsyad, 1999).
140 Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008

METODE PENELITIAN a. Analisis Keterkaitan ke Depan.


b. Analisis Keterkaitan ke Belakang.
Data dan Sumber Data c. Analisis Sektor Kunci Menggunakan
Data yang dipergunakan dalam penelitian ini Forward dan Backward Process.
adalah data sekunder yaitu Tabel Input
Output perekonomian Jawa Tengah tahun Konsep Dasar Input Output
2000 dan Tahun 2004. Tabel input output
Jhingan (1996:751) menyebutkan bahwa
disajikan dalam bentuk matriks yang
analisis input output juga merupakan variasi
diklasifikasikan menjadi 19 sektor perekono-
terbaik keseimbangan umum yang mempu-
mian. Data tabel input output perekonomian
nyai tiga unsur utama. Pertama, melalui
Jawa Tengah tahun 2000 dan tahun 2004
analisis input output memusatkan perhatian-
diperoleh dari Badan Pusat Statistik Jawa
nya pada perekonomian dalam keadaan
Tengah dan dari instansi terkait lainnya.
seimbang. Kedua, tidak memusatkan perha-
tian pada analisis permintaan tetapi masalah
Metode dan Alat Analisis Data teknis produksi. Ketiga, analisis ini didasar-
Metode analisis data yang digunakan dalam kan pada penelitian empiris.
penelitian ini adalah Model Input-Output. Ada beberapa manfaat yang dapat
Model input-output pertama kali dikembang- diperoleh dari penggunaan model input
kan oleh Wassily Leontief pada tahun 1930- output. Pertama, melalui model ini dapat
an. Idenya sangat sederhana namun mampu diperkirakan dampak permintaan akhir terha-
menjadi salah satu alat analisis yang ampuh dap output, nilai tambah, impor, penerimaan
dalam melihat hubungan antarsektor dalam pajak dan kesempatan kerja yang ditawarkan
perekonomian (Nazara, 1997:48). Komponen diberbagai sektor produksi yang ada. Kedua,
yang paling penting dalam analisis input out- sektor-sektor yang pengaruhnya paling
put adalah inverse matriks tabel input output, dominan terhadap pertumbuhan ekonomi dan
yang sering disebut sebagai inverse Leontif sektor-sektor yang paling peka terhadap
(Miller, 1999:15). Matriks ini mengandung perekonomian dapat diketahui melalui anali-
informasi penting tentang bagaimana kenaik- sis input output. Ketiga, model input output
an produksi dari suatu sektor (industri) akan juga dapat digunakan untuk melihat kompo-
menyebabkan berkembangnya sektor-sektor sisi penyediaan dan penggunaan barang dan
lainnya. Matriks kebalikan Leontif merang- jasa, terutama dalam analisis terhadap
kum seluruh dampak dari perubahan produk- kebutuhan impor dan kemungkinan subtitusi-
si suatu sektor terhadap total produksi sektor- nya. Keempat, dengan menggunakan model
sektor lainya ke dalam koefisien-koefisien ini dapat dilihat konsistensi dan kelemahan
yang disebut sebagai multiplier (αij). Multi- berbagai data statistik yang pada gilirannya
plier ini adalah angka-angka yang terlihat di dapat dijadikan sebagai landasan perbaikan,
dalam matriks (1-A)-1. Adapun analisis yang penyempurnaan dan pengembangan lebih
akan dihitung dalam penelitian ini adalah lanjut. Kelima, penyusunan proyeksi varia-
sebagai berikut: bel-variabel ekonomi makro dapat dilakukan
dengan memanfaatkan model input output.
Keenam, model ini berguna dalam mengana-
Didit dan Devi – Analisis Peranan Sektor Industri 141

lisis perubahan harga yang dapat ditinjau dari bahwa total efek dari kegiatan produksi
pengaruh secara langsung dan tidak langsung di berbagai sektor merupakan penju-
dalam perubahan harga input terhadap harga mlahan dari efek pada masing- masing
output (Tabel Input Output Indonesia, kegiatan.
2000:5). Berdasarkan asumsi tersebut, maka tabel
Suatu tabel input output menyajikan input output sebagai model kuantitatif memi-
informasi tentang transaksi barang dan jasa liki keterbatasan, yaitu bahwa koefisien input
yang terjadi pada semua sektor yang ada atau koefisien teknis diasumsikan tetap
dalam perekonomian, dengan bentuk penya- (konstan) sepanjang periode analisis atau
jian berupa matriks. Dalam suatu Tabel Input proyeksi. Maka produsen tidak dapat menye-
Ouput yang bersifat terbuka dan statis, suaikan perubahan-perubahan inputnya atau
transaksi yang digunakan dalam penyusunan mengubah proses produksi. Karena koefisien
tabel input output harus memenuhi tiga teknis dianggap konstan, maka teknologi
asumsi dasar, yaitu (Tabel Input Output yang digunakan oleh sektor-sektor ekonomi
Indonesia, 2000:3): dalam proses produksi pun dianggap konstan.
1. Keseragaman (homogeneity), yaitu asum- Akibatnya perubahan kuantitas dan harga
si bahwa setiap sektor ekonomi hanya input akan selalu sebanding dengan peruba-
memproduksi satu jenis barang dan jasa han kuantitas dan harga output. Walaupun
dengan susunan input tunggal (seragam) mengandung keterbatasan, model input ouput
dan tidak ada subtitusi otomatis terhadap tetap merupakan alat analisis ekonomi yang
input dari sektor yang berbeda. lengkap dan komprehensip (Tabel I-O
Indonesia, 2000:3).
2. Kesebandingan (proportionality), yaitu
asumsi bahwa hubungan antara input dan Pada Tabel 1 disajikan contoh Tabel I-O
ouput pada setiap sektor produksi meru- untuk sistem perekonomian yang terdiri dari
pakan fungsi linier, artinya kenaikan dan tiga sektor produksi yaitu sektor 1, 2, dan 3.
penurunan output suatu sektor akan Dari gambaran tersebut tampak bahwa
sebanding dengan kenaikan dan penurun- penyusunan angka-angka dalam bentuk
an input dari sektor yang bersangkutan. matriks memperlihatkan suatu jalinan yang
3. Penjumlahan (additivity), yaitu asumsi saling kait dari berbagai kegiatan antarsektor.
Sebagai ilustrasi dapat diamati proses

Tabel 1. Bagan Tabel Input Output Sistem Perekonomian dengan Tiga Sektor Produksi

Permintaan Antara Sektor Produksi


Alokasi Output Input Permintaan Jumlah
Antara Akhir Output
1 2 3
1 X11 X12 X13 F1 X1
Input Sektor
Antara Produksi 2 X21 X22 X23 F2 X2
3 X31 X32 X33 F3 X3
Input Primer V1 V2 V3
Jumlah Input X1 X2 X3
142 Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008

pengalokasian output pada Tabel 1 Output An1X1 + an2X2 + ... + anj Xj ... + ann Xn + Fn +
sektor 1 pada tabel tersebut adalah sebesar En = Xn + Mn ……….(2)
X1 dan didistribusikan sepanjang baris
sebesar X11, X12, dan X13 masing-masing Persamaan (2) disederhanakan ke dalam
untuk memenuhi permintaan antara sektor 1, persamaan matriks menjadi sebagai berikut:
2, dan 3, sedangkan sisanya sebesar F1
digunakan untuk memenuhi permintaan Ax + F + E =X + M ……….(3)
akhir.
dimana
Begitu juga dengan output sektor 2 dan 3
masing-masing sebesar X2 dan X3, dapat
dilihat dengan cara yang sama dalam proses
pengalokasian output sektor 1 (Tabel I-O
DKI Jakarta, 2000:65).

Cara Perhitungan
X11 + Xi2 + ... + X1j ... + X1n + F1 + E1 =
X1 + M1
X21 + X22 + ... + X2j ... + X2n + F2 + E2 =
X2 + M2 A disebut matriks koefisien teknologi, matrik
yang menunjukkan technological input struc-
Xi1 + Xi2 + ... + Xij ... + Xin + Fi + Ei =
ture antarsektor perekonomian aij dibaca
Xi + M3 sebagai jumlah output sektor i yang dibutuh-
.... .... .... kan sektor j untuk memproduksi satu unit
Xn1 + Xn2 + .... + XnJ + ... + Xnn + Fn + En = output sektor j (Xij/Xj).
Xn + Mn ……….(1) Persamaan (3) di atas adalah persamaan
identitas untuk analisis input output dengan
Di sini Xij adalah jumlah output sektor i
perlakuan impor secara kompetitif. Impor
yang diminta sektor j sebagai input bagi
setiap sektor ekonomi dianggap proporsional
produksi output sektor j (permintaan antara),
terhadap tingkat konsumsi domestik terhadap
Fi adalah permintaan akhir domestik terhadap
output sektor tersebut. Misalnya ditentukan
output sektor i, Ei adalah ekspor atau
proporsi ini sebagai koefisien import, maka
permintaan akhir luar negeri atau daerah, Xi
koefisien suatu sektor ekonomi dapat dihi-
adalah total sektor i dan Mi adalah jumlah
tung sebagai berikut:
sektor i. Dengan mensubstitusikan Xij maka
persamaan (1) di atas akan menjadi: impor
μ=
a11X1 + a12X2 + ... + a1j Xj ... + a1n Xn + F1 + permintaan antara + permintaan akhir
E1 = X1 + M1 a21X1 + a22X2 + ... + a2j Xj ... +
atau
a2n Xn + F2 + E2 = X2 + M2 ai1X1 + ai2 X2 + ...
+ aij Xj ... + ain Xn + Fi + Ei = Xi + Mi μ=
M
sehingga μ i = (∑ X +F )
∑X
ij
.... .... .... ij +F
Didit dan Devi – Analisis Peranan Sektor Industri 143

Dengan demikian persamaan AX + F + E = (I – A)-1 adalah invers matriks leontief, (I –


X + M dapat diubah menjadi: A)-1 F adalah output yang disebabkan oleh
domestik (Final Demand) dan (I – A)-1 E
X = AX + F + E – µAX – µF ..........(4) adalah output yang disebabkan oleh ekspor
(Foreign Final Demand). Domestik Final
Selanjutnya suku yang mengandung X Demand biasanya terdiri dari elemen kon-
dipindahkan ke sebelah kiri tanda persa- sumsi rumah tangga, pengeluaran pemerin-
maan, menjadi: tah, dan investasi. Matriks Inverse Leontief
sering dilambangkan sebagai B, dengan ele-
X – AX + µAX = F – µF + E ..........(5) men matriknya bij dibaca sebagai besarnya
output sektor i yang disebabkan oleh per-
[I– (I – µ) A]X = (I – µ) F + E ….......(6) mintaan di sektor j sebesar satu unit.

Maka X dalam persamaan (4) di atas berubah Analisis Data dengan Matriks Inverse
menjadi: Leontief
1. Analisis Indeks Total Keterkaitan
X = [I – (I – µ)A]-1[(I– µ)F + E] ...........(7)
Indeks total keterkaitan digunakan sebagai
X = [I – (I – µ)A]-1 adalah invers yang dasar perumusan strategi pembangunan eko-
digunakan dalam analisis seperti diketahui nomi dengan melihat keterkaitan antar sektor
dari persamaan (7) persamaan ini terbentuk dalam suatu sistem perekonomian. Menurut
dari dua bagian: Rasmussen indeks total keterkaitan meliputi
indeks total keterkaitan ke belakang dan
X = [I – (I – µ)A]-1 (I– µ)F, tanpa dengan indeks total keterkaitan ke depan. Indeks
ekspor ..........(8) total keterkaitan ke belakang suatu industri
atau suatu sektor menunjukkan hubungan
X = [I – (I – µ)A]-1 E, hanya ekspor …... (9) keterkaitan tentang pengaruh yang ditimbul-
kan oleh satu unit permintaan akhir pada
X = AX + F + E .........(10)
sektor tersebut terhadap total pembelian input
semua sektor di dalam suatu perekonomian.
Selanjutnya suku yang mengandung
matriks X dipindahkan ke sebelah kiri Indeks total keterkaitan ke depan
tanda persamaan: menunjukkan hubungan keterkaitan tentang
pengaruh yang ditimbulkan oleh satu unit
X – AX = F + E ..........(11) permintaan akhir suatu sektor terhadap total
penjualan output semua sektor di dalam suatu
(I – A)X = F + E ..........(12)
perekonomian.
Maka X dalam persamaan (4) berubah men-
2. Indeks Total Keterkaitan ke Belakang
jadi:
Konsep ini diartikan sebagai kemampuan
X = (I – A)-1 (F + E) ..........(13) suatu sektor untuk meningkatkan pertumbuh-
an industri hulunya. Indeks total keterkaitan
144 Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008

n
ke belakang disebut juga sebagai indeks daya v
penyebaran (power of dispersion) yang digu-
n ∑Xa
i =1
j

nakan untuk mengukur kaitan ke belakang. FL i = n n


Rumus untuk mencari nilai indeks total ∑∑ α
i =1 j=1
ij
keterkaitan ke belakang yaitu:
n dimana:
n ∑
i =1
b ij FLi = indeks total keterkaitan ke depan
BL j = n n
sektor i
∑∑ α
i =1 j=1
ij αij = unsur matriks kebalikan Leontief

dimana:
Nilai FLi dapat bernilai sama dengan 1, lebih
BLj = indeks total keterkaitan ke belakang besar 1 atau lebih kecil 1. Bila FLi = 1 hal
sektor j tersebut berarti bahwa derajat kepekaan
αij = unsur matriks kebalikan Leontief sektor I sama dengan rata-rata derajat
kepekaan seluruh sektor ekonomi. Bila Fli >
Besaran BLj dapat mempunyai nilai sama 1 hal tersebut berarti derajat kepekaan sektor
dengan 1, lebih besar 1 atau lebih kecil 1. i lebih tinggi dari derajat kepekaan seluruh
Bila BLj = 1 hal tersebut berarti bahwa daya sektor ekonomi. Sebaliknya, bila FLi < 1 hal
penyebaran sektor j sama dengan rata-rata tersebut berarti bahwa derajat kepekaan
penyebaran seluruh sektor ekonomi. Bila BLj sektor i dibawah rata-rata derajat kepekaan
> 1 hal tersebut berarti daya penyebaran seluruh sektor ekonomi.
sektor j berada di atas rata-rata daya penye-
baran seluruh sektor ekonomi. Sebaliknya, 4. Analisis Sektor Kunci Menggunakan
bila BLj < 1 hal tersebut berarti bahwa daya Forward dan Backward Process
penyebaran sektor j lebih rendah dari rata- Dari analisis I-O dapat dilihat sektor-sektor
rata daya penyebaran seluruh sektor ekono- kunci yang memiliki backward linkages
mi. (keterkaitan ke belakang) atau disebut juga
derajat kepekaan yang tinggi dan forward
3. Indeks Total Keterkaitan ke Depan
linkages (keterkaitan ke depan) atau daya
Konsep ini diartikan sebagai kemampuan sebar yang tinggi. Sektor yang mempunyai
suatu sektor untuk mendorong pertumbuhan daya penyebaran tinggi menunjukan sektor
produksi sektor-sektor lain yang memakai tersebut mempunyai daya dorong yang cukup
input dari sektor ini. Total keterkaitan ke kuat dibandingkan sektor lainnya. Sedangkan
depan disebut juga sebagai indeks derajat sektor yang mempunyai derajat kepekaan
kepekaan (degree of sensitivity) yang diguna- yang tinggi menunjukkan bahwa sektor
kan untuk mengukur kaitan ke depan. Rumus tersebut mempunyai ketergantungan yang
untuk mencari nilai indeks total keterkaitan tinggi terhadap sektor lain. Sektor kunci
ke depan yaitu: didefinisikan sebagai sektor yang memegang
peranan penting dalam menggerakkan roda
perekonomian dan ditentukan berdasarkan
Didit dan Devi – Analisis Peranan Sektor Industri 145

indeks total keterkaitan ke belakang dan ke Tabel 2 menyajikan tujuh sektor yang memi-
depan. Sektor kunci adalah sektor yang liki nilai indeks total keterkaitan ke depan
memiliki indeks total keterkaitan ke belakang terbesar berdasarkan tabel input output Jawa
dan ke depan lebih besar dari satu. Tengah Tahun 2000.
Dari hasil olahan data tabel input output
Jawa Tengah tahun 2000, sektor industri
HASIL PENELITIAN DAN
PEMBAHASAN lainnya memiliki nilai indeks paling besar
yaitu dengan nilai 3,14516. Nilai tersebut
Hasil Analisis Indeks Keterkaitan Ke menunjukkan bahwa bila terjadi kenaikan
Depan permintaan akhir atas sektor-sektor lain sebe-
sar satu unit maka sektor industri lainnya
Indeks total keterkaitan ke depan yang
akan mengalami peningkatan output sebesar
memiliki nilai lebih besar dari satu menun-
3,14516 unit. sektor industri makanan,
jukkan bahwa sektor tersebut mempunyai
minuman dan tembakau sebesar 1,24356,
kemampuan yang kuat untuk mendorong
sektor industri pengilangan minyak 1,00214.
pertumbuhan output industri hilirnya atau
Sedangkan sektor lainnya hanya pelengkap
dengan kata lain kemampuan sektor tersebut
yaitu sektor pertambangan dan penggalian
untuk mendorong pertumbuhan produksi
yang memiliki nilai indeks total keterkaitan
sektor-sektor lain yang memakai input dari
ke depan atau indeks daya kepekaan sebesar
sektor ini. Output yang dihasilkan oleh sektor
1,40276, sektor perdagangan dengan nilai
tersebut merupakan komoditi intermedier,
1,26291, sektor lembaga keuangan, real
dalam artian merupakan bahan baku bagi
estate dan jasa perdagangan sebesar 1,06582
industri-industri dan sektor-sektor perekono-
dan sektor pengangkutan dan komunikasi
mian lainnya. Nilai tersebut juga menunjuk-
sebesar 1,00164. Output yang dihasilkan oleh
kan besarnya peranan sektor industri tersebut
sektor tersebut merupakan komoditi interme-
dalam mendorong pertumbuhan perekono-
dier, dalam artian merupakan bahan baku
mian di Jawa Tengah. Dari hasil olah data
bagi industri-industri dan sektor-sektor per-
tabel Input Output Jawa Tengah Tahun 2000
ekonomian lainnya.
maka dapat diperoleh indeks derajat kepeka-
an atau indeks keterkaitan ke depan. Dalam

Tabel 2. Tujuh Sektor dengan Indeks Total Keterkaitan Ke Depan Terbesar Menurut Tabel Input
Output Tahun 2000

No Kode I-O Sektor Indeks DK


1 9 Industri lainnya 3,14516
2 7 Pertambangan dan penggalian 1,42076
3 13 Perdagangan 1,26291
4 8 Industri Makanan, Minuman, dan Tembakau 1,24356
5 16 Lembaga Keuangan, Real Estate, dan Jasa Perusahaan 1,06582
6 10 Industri Pengilangan Minyak 1,00214
7 15 Pengangkutan dan Komunikasi 1,00164
Sumber: Tabel Input Output Jawa Tengah Tahun 2000, diolah.
146 Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008

Tabel 3. Empat Sektor dengan Indeks Total Keterkaitan Ke Depan Terbesar Menurut
Tabel Input Output Tahun 2004

No Kode I-O Sektor Indeks DK


1 7 Pertambangan dan Penggalian 4,07757
2 9 Industri lainnya 1,98493
3 8 Industri Makanan, Minuman, dan Tembakau 1,17136
4 13 Perdagangan 1,39055
Sumber: Tabel Input Output Jawa Tengah Tahun 2004, diolah

Sedangkan dari hasil olahan data tabel industri yang mempunyai indeks total keter-
input output Jawa Tengah tahun 2004, juga kaitan ke depan pada tahun 2004 menurun
dapat diperoleh indeks derajat kepekaan atau dari tahun 2000. Di tahun 2000 terdapat tujuh
indeks keterkaitan ke depan yang disajikan sektor yang mempunyai indeks keterkaitan
dalam Tabel 3. ke depan atau derajat kepekaan, antara lain
Dari hasil olah data tabel input output sektor Industri lainnya, sektor pertambangan
Jawa Tengah tahun 2004, sektor industri dan penggalian, sektor perdagangan, sektor
lainnya yang memiliki nilai indeks total industri makanan, minuman dan tembakau,
keterkaitan ke depan atau indeks daya kepe- sektor, lembaga keuangan, real estate dan
kaan sebesar 1,98493, selanjutnya sektor jasa perusahaan, sektor industri pengilangan
industri makanan, minuman dan tembakau minyak dan sektor pengangkutan dan komu-
dengan nilai 1,17136 maka sektor industri nikasi. Sedangkan pada tahun 2004, hanya
pada tahun 2004 mengalami penurunan. terdapat empat sektor yang mempunyai
Sedangkan sektor lainnya yang sebagai derajat kepekaan lebih dari satu yaitu sektor
pelengkap yaitu sektor pertambangan dan pertambangan dan penggalian, sektor industri
penggalian memiliki nilai indeks paling besar lainnya, industri makanan minuman dan
yaitu dengan nilai 4,07757. Nilai tersebut tembakau dan sektor perdagangan. Selanjut-
menunjukkan bahwa bila terjadi kenaikan nya sektor industri lainnya pada tahun 2000
permintaan akhir atas sektor-sektor lain sebe- mempunyai nilai 3,14516 dan menurun
sar satu unit maka sektor pertambangan dan secara tajam pada tahun 2004 manjadi
penggalian akan mengalami peningkatan out- 1,98493. Sektor industri Makanan, Minuman
put sebesar 4,07757 unit dan sektor perdaga- dan Tembakau pada tahun 2000 sebesar
ngan sebesar 1,39055. Dimana semua sektor- 1,24356 dan pada tahun 2004 meningkat
sektor tersebut yang memiliki nilai indeks menjadi 1,17136. Industri Pengilangan
total keterkaitan ke depan lebih besar dari Minyak pada tahun 2004 tidak mempunyai
satu merupakan sektor-sektor yang mampu indeks derajat kepekaan yang tinggi.
meningkatkan pertumbuhan produksi sektor- Pada Tabel 4 disajikan hasil indeks
sektor lain yang menggunakan input dari keterkaitan ke depan pada tahun 2000 dan
sektor ini. 2004 sebagai perbandingan.
Dari hasil olahan tabel input-output Jawa
Tengah tahun 2000 dan 2004, terlihat sektor
Didit dan Devi – Analisis Peranan Sektor Industri 147

Hasil Analisis Indeks Keterkaitan diperoleh indeks daya penyebaran atau


ke Belakang indeks keterkaitan ke belakang seperti yang
disajikan dalam Tabel 5.
Indeks total keterkaitan ke belakang
yang memiliki nilai lebih besar dari satu Sektor industri lainnya merupakan sektor
tersebut menunjukkan bahwa sektor-sektor yang memiliki nilai indeks keterkaitan ke
industri mempunyai kemampuan yang kuat belakang yang paling tinggi yaitu sebesar
untuk menarik pertumbuhan output sektor 1,65850, artinya apabila terjadi kenaikan
hulunya. Nilai indeks lebih besar dari satu permintaan akhir terhadap sektor industri
menunjukkan daya penyebaran di sektor lainnya sebesar satu unit maka untuk sektor-
industri berada di atas rata-rata daya penye- sektor ekonomi lainnya yang ada di Jawa
baran seluruh sektor perekonomian di Jawa Tengah akan mengalami pertumbuhan output
Tengah. Dari hasil olah data tabel Input sebesar 1,65850 unit. Begitu juga dengan
Output Jawa Tengah Tahun 2000 maka dapat sektor-sektor industri lain yang memiliki

Tabel 4. Indeks Total Keterkaitan Ke Depan Terbesar Menurut Tabel Input Output
Tahun 2000 dan 2004
2000 2004

No Kode Sektor Indeks DK No Kode Sektor Indeks DK


I-O I-O
1 9 Industri lainnya 3,14516 1 7 Pertambangan dan 4,07757
Penggalian
2 7 Pertambangan dan Penggalian 1,42076 2 9 Industri Lainnya 1,98493
3 13 Perdagangan 1,26291 3 8 Industri Makanan,
Minuman, dan Tembakau
4 8 Industri Makanan, Minuman, 1,24356 4 13 Perdagangan
dan Tembakau
5 16 Lembaga Keuangan, Real 1,06582
Estate, dan Jasa Perusahaan
6 10 Industri Pengilangan Minyak 1,00214
7 15 Pengangkutan dan Komunikasi 1,00164

Sumber: Tabel Input Output Jawa Tengah Tahun 2000 dan 2004, diolah.

Tabel 5. Delapan Sektor dengan Indeks Total Keterkaitan Ke Belakang Terbesar


Menurut Tabel Input Output Tahun 2000

No Kode I-O Sektor Indeks DP


1 9 Industri Lainnya 1,65850
2 12 Bangunan 1,30056
3 11 Listrik, Gas, dan Air Minum 1,26897
4 8 Industri Makanan, Minuman, dan Tembakau 1,22679
5 14 Restoran dan Hotel 1,20395
6 10 Industri Pengilangan Minyak 1,16144
7 18 Jasa-jasa 1,03612
8 15 Pengangkutan dan Komunikasi 1,01495
148 Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008

nilai indeks keterkaitan ke belakang yang nan, minuman dan tembakau akan mengala-
lebih besar dari satu antara lain sektor sektor mi peningkatan output sebesar 1,24356 unit.
industri makanan, minuman dan tembakau Selanjutnya industri lainnya yang memiliki
sebesar 1,22629, sektor industri pengilangan nilai indeks daya penyebaran sebesar
minyak sebesar 1,16144. Sektor industri 1,65850 dan nilai indeks daya kepekaannya
yang mempunyai daya penyebaran tinggi sebesar 3,14516. Nilai kedua indeks pada
menunjukan sektor tersebut mempunyai daya sektor industri lainnya ini menunjukkan
dorong yang cukup kuat dibandingkan sektor bahwa apabila terjadi kenaikan permintaan
lainya. akhir terhadap sektor industri lainnya sebesar
Berdasarkan Tabel 6 maka peranan satu unit maka sektor-sektor ekonomi lainnya
sektor industri terhadap sektor perekonomian yang ada di Jawa Tengah akan mengalami
terlihat dominan pada perekonomian Jawa peningkatan output sebesar 1,65850 unit.
Tengah. Semua kelompok sektor industri Sebaliknya, apabila terjadi kenaikan permin-
Pada tahun 2000 yaitu sektor industri makan- taan akhir atas sektor-sektor ekonomi lainnya
an, minuman dan tembakau, sektor industri sebesar satu unit maka sektor listrik dan gas
lainnya, sektor industri pengilangan minyak akan mengalami peningkatan output sebesar
kesemuanya menjadi sektor unggulan. 3,14516 unit. Selanjutnya, industri pengila-
Sektor-sektor industri inilah yang memegang ngan minyak yang memiliki nilai indeks daya
peranan penting dalam menggerakkan roda penyebaran sebesar 1,11644 dan nilai indeks
perekonomian Jawa Tengah pada tahun daya kepekaannya sebesar 1,00214. Nilai
2000. Sektor industri makanan, minuman dan kedua indeks pada sektor industri pengila-
tembakau memiliki nilai indeks daya penye- ngan minyak ini menunjukkan bahwa apabila
baran sebesar 1,22629 dan nilai indeks daya terjadi kenaikan permintaan akhir terhadap
kepekaan sebesar 1,24356. Besaran tersebut sektor industri pengilangan minyak sebesar
menunjukkan apabila terjadi kenaikan per- satu unit maka sektor-sektor ekonomi lainnya
mintaan akhir terhadap sektor industri yang ada di Jawa Tengah akan mengalami
makanan. minuman dan tembakau sebesar peningkatan output sebesar 1,11644 unit.
satu unit maka sektor-sektor ekonomi lainnya Sebaliknya, apabila terjadi kenaikan permin-
yang ada di Jawa Tengah akan mengalami taan akhir atas sektor-sektor ekonomi lainnya
peningkatan output sebesar 1,22629 unit. sebesar satu unit maka sektor industri pengi-
Sebaliknya, apabila terjadi kenaikan permin- langan minyak akan mengalami peningkatan
taan akhir atas sektor-sektor ekonomi lainnya output sebesar 1,00214 unit.
sebesar satu unit maka sektor industri maka-

Tabel 6. Sektor Industri Perekonomian Jawa Tengah Menurut Tabel Input Output Jawa Tengah
Tahun 2000

No Kode I-O Sektor Indeks DK Indeks DP


1 8 Industri Makanan, Minuman, dan Tembakau 1,24356 1,22629
2 9 Industri lainnya 3,14516 1,65850
3 10 Industri Pengilangan Minyak 1,00214 1,16144
Sumber: Tabel Input Output Jawa Tengah Tahun 2000, diolah.
Didit dan Devi – Analisis Peranan Sektor Industri 149

Berdasarkan Tabel 7 hanya terdapat dua apabila terjadi kenaikan permintaan akhir
sektor perekonomian yang menjadi sektor atas sektor-sektor ekonomi lainnya sebesar
industri perekonomian Jawa Tengah pada satu unit maka sektor listrik dan gas akan
tahun 2004 yaitu sektor indutri makanan, mengalami peningkatan output sebesar
minuman dan tembakau, dan sektor industri 1,42724 unit. Sedangkan sektor industri
lainnya. Sektor-sektor inilah yang memegang pengilangan minyak pada tahun 2004 tidak
peranan penting dalam menggerakkan roda menjadi sektor kunci. Dalam pembangunan
perekonomian Jawa Tengah pada tahun di Jawa Tengah untuk memacu pertumbuhan
2004. Sektor industri makanan, minuman dan ekonomi di Jawa Tengah, maka sektor-sektor
tembakau memiliki nilai indeks daya tersebut layak untuk diprioritaskan. Hal ini
penyebaran sebesar 1,20178 dan nilai indeks dikarenakan sektor-sektor tersebut memiliki
daya kepekaan sebesar 1,17136. Besaran daya dorong yang kuat terhadap penciptaan
tersebut menunjukkan apabila terjadi sektor-sektor ekonomi lainnya dan juga
kenaikan permintaan akhir terhadap sektor memiliki sensitivitas yang tinggi terhadap
industri makanan, minuman dan tembakau perubahan permintaan akhir dari sektor-
sebesar satu unit maka sektor-sektor ekonomi sektor ekonomi lainnya.
lainnya yang ada di Jawa Tengah akan Pada tahun 2000 terdapat empat sektor
mengalami peningkatan output sebesar yang menjadi sektor industri perkonomian
1,20178 unit. Sebaliknya, apabila terjadi Jawa Tengah antara lain sektor industri
kenaikan permintaan akhir atas sektor-sektor makanan, minuman dan tembakau, sektor
ekonomi lainnya sebesar satu unit maka industri lainnya, sektor industri pengilangan
sektor indutri makanan, minuman dan minyak, dan sektor pengangkutan dan
tembakau akan mengalami peningkatan komunikasi. Sedangkan pada tahun 2004
output sebesar 1,17136 unit. Selanjutnya hanya menjadi dua sektor yaitu sektor
industri lainnya yang memiliki nilai indeks industri makanan, minuman dan tembakau
daya penyebaran sebesar 1,42724 dan nilai dan sektor industri lainnya. Dalam Tabel 8
indeks daya kepekaannya sebesar 1,98493. disajikan perbandingan sektor industri Jawa
Nilai kedua indeks pada sektor industri Tengah pada tahun 2000 dan 2004.
lainnya ini menunjukkan bahwa apabila
Interpretasi ekonomi dimaksudkan untuk
terjadi kenaikan permintaan akhir terhadap
menginterpretasikan hasil analisis berdasar-
sektor industri lainnya sebesar satu unit maka
kan ilmu-ilmu ekomomi terhadap keselu-
sektor-sektor ekonomi lainnya yang ada di
ruhan hasil analisis. Dari analisis mengenai
Jawa Tengah akan mengalami peningkatan
sektor industri perekonomian Jawa Tengah
output sebesar 1,98493 unit. Sebaliknya,

Tabel 7. Sektor Industri Perekonomian Jawa Tengah


No Kode I-O Sektor Indeks DK Indeks DP

1 8 Industri Makanan, Minuman, dan Tembakau 1,17136 1,20178


2 9 Industri Lainnya 1,98493 1,42724

Menurut Tabel Input Output Jawa Tengah Tahun 2004


150 Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008

Tabel 8. Sektor Industri yang Menjadi Sektor Kunci Perekonomian Jawa Tengah Menurut Tabel
Input Output Jawa Tengah Tahun 2000 dan 2004

2004 2000
Kode I-O Sektor Indeks Indeks DP Kode I-O Sektor Indeks Indeks
DK DK DP
8 Industri 1,17136 1,20178 8 Industri Makanan, 1,24356 1,22629
Makanan, Minuman, dan
Minuman, dan Tembakau
Tembakau
9 Industri Lainnya 1,98493 1,42724 9 Industri Lainnya 3,14516 1,65850
10 Industri 1,00214 1,16144
Pengilangan
Minyak
Sumber: Tabel Input Output Jawa Tengah Tahun 2000 dan 2004, diolah

tahun 2000 dan 2004 maka dapat dilakukan satunya komponen nilai tambah yang bisa
interpretasi ekonomi berdasarkan hasil anali- langsung diterima oleh pekerja. Surplus
sis nilai tambah bruto, analisis indeks keter- usaha sendiri belum tentu dapat langsung
kaitan ke belakang, analisis indeks keterkait- dinikmati oleh masyarakat, karena surplus
an ke depan dan analisis sektor kunci. usaha tersebut sebagian ada yang tersimpan
Komponen upah dan gaji sebagai atau ditanam di perusahaan dalam bentuk
pembentuk nilai tambah bruto pada tahun laba yang ditahan. Dalam surplus usaha
2000 yang diciptakan oleh kegiatan ekonomi termasuk juga bagian pendapatan dari tenaga
di Jawa Tengah mencapai Rp. 33.893.355,43 kerja yang tidak dibayar.
juta atau sebesar 28,78 persen dari total Nilai indeks keterkaitan ke depan atau
Rp.117.750.498,96 juta di tahun 2000 dan indeks daya kepekaan pada tahun 2000
meningkat sebesar Rp. 58.450.517,29 juta terdapat tujuh sektor yang mempunyai indeks
dan memberikan kontribusi 30,21 persen keterkaitan ke depan atau derajat kepekaan,
pada tahun 2004 dengan nilai total antara lain sektor Industri lainnya, sektor
Rp.193.435.263,05 juta. Namun ternyata pertambangan dan penggalian, sektor perda-
komponen upah dan gaji ternyata relatif lebih gangan, sektor industri makanan, minuman
rendah bila dibandingkan dengan surplus dan tembakau, sektor, lembaga keuangan,
usaha, surplus usaha yang diterima oleh real estate dan jasa perusahaan, sektor
pengusaha satu setengah kali lebih besar industri pengilangan minyak dan sektor
dibandingkan komponen upah dan gaji. pengangkutan dan komunikasi.
Komponen surplus usaha memberikan Sedangkan pada tahun 2004, hanya ter-
kontribusi sebesar 57,86 persen atau senilai dapat empat sektor yang mempunyai derajat
Rp. 68.133.212,52 juta pada tahun 2000, dan kepekaan lebih dari satu yaitu sektor pertam-
meskipun pada tahun 2004 menurun menjadi bangan dan penggalian, sektor industri lain-
51,92 persen dengan nilai Rp.100.442.999,19 nya, industri makanan minuman dan tem-
juta. Padahal upah dan gaji merupakan satu- bakau dan sektor perdagangan. Sektor
Didit dan Devi – Analisis Peranan Sektor Industri 151

Industri lainnya memberikan kontribusinya sektor yang memiliki nilai indeks keterkaitan
yang paling tinggi dibandingkan dengan ke belakang yang paling tinggi yaitu sebesar
sektor lainnya pada tahun 2000 sebesar 2,30278, artinya apabila terjadi kenaikan
3,14516. Nilai ini berarti menunjukkan permintaan akhir terhadap sektor industri
pengaruh sektor industri lainnya apabila pengilangan minyak sebesar satu unit maka
terjadi kenaikan permintaan akhir atas sektor- untuk sektor-sektor ekonomi lainnya yang
sektor lain sebesar satu juta maka sektor ada di Jawa Tengah akan mengalami pertum-
industri lainnya akan mengalami peningkatan buhan output sebesar 2,30278 unit. Sektor
output sebesar 3,14516. Sedangkan pada yang mempunyai daya penyebaran tinggi
tahun 2004 sektor yang memiliki indeks menunjukan sektor tersebut mempunyai daya
keterkaitan ke depan atau daya kepekaan dorong yang cukup kuat dibandingkan sektor
tinggi adalah sektor yang pertambangan dan lainnya.
penggalian sebesar 4,07757. Nilai ini berarti Peranan sektor industri dalam dalam
menunjukkan pengaruh sektor pertambangan tabel input output Jawa Tengah pada tahun
dan penggalian apabila terjadi kenaikan 2000 dan 2004 mempunyai peranan yang
permintaan akhir atas sektor-sektor lain cukup signifikan dalam proses produksi.
sebesar satu juta maka sektor pertambangan Terlihat dari beberapa sektor industri menjadi
dan penggalian akan mengalami peningkatan sektor kunci perekonomian Jawa Tengah.
output sebesar 4,07757. Output yang Pada tahun 2000 sektor industri makanan,
dihasilkan merupakan komoditi intermedier, minuman, dan tembakau menyumbang
dalam artian merupakan bahan baku bagi sebesar Rp. 27.744.377,35 juta dengan
industri-industri dan sektor-sektor perekono- indeks keterkaitan ke depan sebesar 1,24356
mian lainnya. dan ke belakang sebesar 1,22629 atau sebesar
Nilai indeks keterkaitan ke belakang 13,4 persen dari jumlah output. Selanjutnya
atau daya penyebaran pada tahun 2000 industri lainnya menyumbang Rp.
terdapat delapan sektor antara lain industri 27.901.202,3 juta dengan indeks keterkaitan
lainnya, bangunan listrik, gas dan air minum, ke depan sebesar 3,14516 dan ke belakang
industri makanan, minuman dan tembakau, sebesar 1,65850 atau sebesar 13,48 persen
restoran dan hotel, industri pengilangan dari jumlah output. Sedangkan sektor industri
minyak, jasa-jasa, pengangkutan dan komu- penanggulangan minyak menyumbang Rp.
nikasi. Sektor yang mempunyai nilai indek 11.101.830,81 juta dengan indeks keterkaitan
penyebaran paling tinggi pada tahun 2000 ke depan sebesar 1,00214 dan ke belakang
adalah sektor Industri lainnya yang memberi- sebesar 1,16144 atau sebesar 5,36 persen dari
kan kontribusi sebesar 1,65850 yang artinya jumlah output. Dalam hasil analisis pada
apabila terjadi kenaikan permintaan akhir tahun 2004 sektor industri makanan,
terhadap sektor industri lainnya sebesar satu minuman dan tembakau menyumbang
unit maka untuk sektor-sektor ekonomi lain- sebesar Rp. 47.409.368,92 juta dengan
nya yang ada di Jawa Tengah akan menga- indeks keterkaitan ke depan sebesar 1.17136
lami pertumbuhan output sebesar 1,65850 dan ke belakang sebesar 1.20178 atau sebesar
unit. Sedangkan pada tahun 2004, sektor 22,9 persen dari jumlah output. Selanjutnya
industri pengilangan minyak merupakan industri lainnya menyumbang Rp.
152 Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008

49.280.413,96 juta dengan indeks keterkaitan sebanyak 17,13 persen PDRB digunakan
ke depan sebesar 1.98493 dan ke belakang untuk investasi melalui pembentukan
sebesar 1.42724 atau sebesar 23,8 persen dari modal tetap bruto namun pada tahun
jumlah output. Pada 2004 industri 2004 persentasenya turun menjadi hanya
pengilangan minyak tidak termasuk menjadi sebesar 16,81 persen. Sementara itu
sektor kunci karena mengalami penurunan ekspor netto Jawa Tengah mengalami
dari tahun 2000. sedikit peningkatan. Pada tahun 2000
komponen ekspor netto PDRB menun-
jukkan peranan sebesar 8,50 persen
KESIMPULAN namun pada tahun 2004 peranannya
Berdasarkan hasil analisis input output meningkat cukup signifikan, yakni
dengan menggunakan Tabel Input Output menjadi 10,63 persen.
Jawa Tengah tahun 2000 dan tahun 2004 3. Nilai indeks keterkaitan ke depan atau
tentang peranan sektor industri terhadap indeks daya kepekaan pada tahun 2000
perekonomian Jawa Tengah tahun 2000 dan terdapat tujuh sektor yang mempunyai
tahun 2004 maka dapat ditarik kesimpulan indeks keterkaitan ke depan atau derajat
sebagai berikut: kepekaan, antara lain sektor Industri lain-
1. Komponen pembentuk nilai tambah bruto nya, sektor pertambangan dan peng-
dengan peranan terbesar adalah surplus galian, sektor perdagangan, sektor indus-
usaha. Pada tahun 2000 peranan kompo- tri makanan, minuman dan tembakau,
nen ini dalam pembentukan nilai tambah sektor, lembaga keuangan, real estate dan
di Jawa Tengah adalah sebesar 57,86 jasa perusahaan, sektor industri pengila-
persen dengan nilai sebesar ngan minyak dan sektor pengangkutan
Rp.68.133.212,52 juta dan pada tahun dan komunikasi. Sedangkan pada tahun
2004 menurun menjadi 51,92 persen 2004, hanya terdapat empat sektor yang
dengan nilai sebesar Rp.100.442.999,19 mempunyai derajat kepekaan lebih dari
juta. satu yaitu sektor pertambangan dan peng-
galian, sektor industri lainnya, industri
2. Jumlah permintaan akhir yang tercipta
makanan minuman dan tembakau dan
masing-masing pada tahun 2000 dan
sektor perdagangan. Sektor Industri lain-
2004 adalah sebesar Rp. 272.703.047 juta
nya memberikan kontribusinya yang
dan Rp.170.021.068 juta. Komponen
paling tinggi dibandingkan dengan sektor
konsumsi rumah tangga menjadi peng-
lainnya pada tahun 2000 sebesar
guna PDRB terbesar selama kurun waktu
3,14516. Nilai ini berarti menunjukkan
tersebut. Bila pada tahun 2000 sebanyak
pegaruh sektor industri lainnya apabila
55,38 persen PDRB Jawa Tengah
terjadi kenaikan permintaan akhir atas
digunakan untuk memenuhi konsumsi
sektor-sektor lain sebesar satu juta maka
rumah tangga maka pada tahun 2004
sektor industri lainnya akan mengalami
meningkat menjadi sekitar 65,25 persen.
peningkatan output sebesar Rp. 3,14516
Sebaliknya, terjadi penurunan persentase
juta. Sedangkan pada tahun 2004 sektor
penggunaan PDRB untuk pembentukan
yang memiliki indeks keterkaitan ke
modal tetap bruto. Pada tahun 2000
Didit dan Devi – Analisis Peranan Sektor Industri 153

depan atau daya kepekaan tinggi adalah makanan, minuman dan tembakau, sektor
sektor yang pertambangan dan pengga- industri lainnya, sektor industri pengila-
lian sebesar 4,07757. Nilai ini berarti ngan minyak dan sektor pengangkutan
menunjukkan pengaruh sektor pertamba- dan komunikasi. Sektor-sektor inilah
ngan dan penggalian apabila terjadi yang memegang peranan penting dalam
kenaikan permintaan akhir atas sektor- menggerakkan roda perekonomian Jawa
sektor lain sebesar satu juta maka sektor Tengah pada tahun 2000. Sedangkan
pertambangan dan penggalian akan tahun 2004 hanya terdapat dua sektor
mengalami peningkatan output sebesar perekonomian yang menjadi sektor kunci
Rp. 4,07757 juta. perekonomian Jawa Tengah yaitu sektor
4. Nilai indeks keterkaitan ke belakang atau industri makanan, minuman dan temba-
daya penyebaran pada tahun 2000 terda- kau, dan sektor industri lainnya. Ini
pat delapan sektor antara lain industri memperlihatkan bahwa terjadi penurunan
lainnya, bangunan listrik, gas dan air dalam perekonomian Jawa Tengah pada
minum, industri makanan, minuman dan tahun 2004 bila dibandingkan dengan
tembakau, restoran dan hotel, industri tahun 2000.
pengilangan minyak, jasa-jasa, pengang- 6. Peranan sektor industri dalam dalam
kutan dan komunikasi. Sektor yang tabel input output Jawa Tengah pada
mempunyai nilai indeks penyebaran tahun 2000 dan 2004 mempunyai
paling tinggi pada tahun 2000 adalah peranan yang cukup signifikan dalam
sektor industri lainnya yang memberikan proses produksi. Terlihat dari beberapa
kontribusi sebesar 1,65850 yang artinya sektor industri menjadi sektor kunci
apabila terjadi kenaikan permintaan akhir perekonomian Jawa Tengah. Pada tahun
terhadap sektor industri lainnya sebesar 2000 sektor industri makanan, minuman
satu unit maka untuk sektor-sektor eko- dan tembakau menyumbang sebesar
nomi lainnya yang ada di Jawa Tengah Rp.27.744.377,35 juta dengan indeks
akan mengalami pertumbuhan output keterkaitan ke depan sebesar 1,24356 dan
sebesar 1,65850 unit. Sedangkan pada ke belakang sebesar 1,22629 atau sebesar
tahun 2004, sektor industri pengilangan 13,4 persen dari jumlah output. Selanjut-
minyak merupakan sektor yang memiliki nya industri lainnya menyumbang
nilai indeks keterkaitan ke belakang yang Rp.27.901.202,3 juta dengan indeks
paling tinggi yaitu sebesar 2,30278, keterkaitan ke depan sebesar 3,14516 dan
artinya apabila terjadi kenaikan permin- ke belakang sebesar 1,65850 atau sebesar
taan akhir terhadap sektor industri pengi- 13,48 persen dari jumlah output.
langan minyak sebesar satu unit maka Sedangkan sektor industri pengilangan
untuk sektor-sektor ekonomi lainnya minyak menyumbang Rp. 11.101.830,81
yang ada di Jawa Tengah akan mengala- juta dengan indeks keterkaitan ke depan
mi pertumbuhan output sebesar 2,30278 sebesar 1,00214 dan ke belakang sebesar
unit. 1,16144 atau sebesar 5,36 persen dari
5. Sektor kunci perekonomian Jawa Tengah jumlah output. Dalam hasil analisis pada
pada tahun 2000 yaitu sektor indutri tahun 2004 sektor industri makanan,
154 Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008

minuman dan tembakau menyumbang 3. Sektor-sektor lain yang pada tahun 2000
sebesar Rp.47.409.368,92 juta dengan dan 2004 memiliki indeks keterkaitan ke
indeks keterkaitan ke depan sebesar depan atau daya kepekaan yang tinggi
1.17136 dan ke belakang sebesar 1.20178 seperti sektor industri lainnya, sektor
atau sebesar 22,9 persen dari jumlah pertambangan dan penggalian, sektor
output. Selanjutnya industri lainnya perdagangan, sektor, lembaga keuangan,
menyumbang Rp.49.280.413,96 juta real estate dan jasa perusahaan di usaha-
dengan indeks keterkaitan ke depan kan juga agar menjadi sektor kunci pada
sebesar 1.98493 dan ke belakang sebesar tahun-tahun selanjutnya, dengan membe-
1.42724 atau sebesar 23,8 persen dari rikan regulasi khusus dari pemerintah
jumlah output. Pada 2004 industri pengi- Jawa Tengah.
langan minyak tidak termasuk menjadi 4. Untuk penelitian selanjutnya sebaiknya
sektor kunci karena mengalami penuru- menambahkan beberapa analisis lagi
nan dari tahun 2000. sehingga benar-benar dapat menganalisis
Dari kesimpulan di atas, dapat dikemu- sebuah peranan sektor ekonomi terhadap
kakan beberapa saran yang diharapkan dapat perekonomian Jawa Tengah.
bermanfaat bagi pengambilan kebijakan
pemerintah dan bagi penelitian selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
1. Sektor industri makanan, minuman dan
tembakau, dan sektor industri lainnya Badan Pusat Statistik. 2002. Analisis Lan-
perlu mendapat perhatian dari pemerintah jutan Tabel Input-Output DKI Jakarta
Jawa Tengah karena sektor industri 2000: Tinjauan Perekonomian. BPS:
makanan, minuman dan tembakau, sektor DKI Jakarta.
industri lainnya sangat berperan dalam Badan Pusat Statistik. 2000. Kerangka Teori
memacu pertumbuhan ekonomi di Jawa dan Analisis Tabel Input Output. BPS:
Tengah pada tahun 2000 dan 2004. DKI Jakarta.
Sektor industri makanan, minuman dan
Badan Pusat Statistik. 2000. Tabel Input
tembakau, dan sektor industri lainnya
Output Indonesia Tahun 2000. BPS:
memiliki daya dorong yang kuat terhadap
DKI Jakarta.
penciptaan sektor-sektor ekonomi lain-
nya dan juga memiliki sensitivitas yang Badan Pusat Statistik. 2003. Tabel Input
tinggi terhadap perubahan permintaan Output Indonesia Updating 2003. BPS:
akhir dari sektor-sektor ekonomi lainnya. DKI Jakarta.

2. Pemerintah provinsi Jawa Tengah juga Badan Pusat Statistik. 2000. Tabel Input
harus memberikan perhatian lebih terha- Output Jawa Tengah Tahun 2000. BPS:
dap sektor industri pengilangan minyak Jawa Tengah.
yang pada tahun 2000 menjadi sektor Badan Pusat Statistik. 2004. Tabel Input
kunci namun pada tahun 2004 sektor Output Jawa Tengah Tahun 2004.
tersebut tidak lagi menjadi sektor kunci. Badan Pusat Statistik: Jawa Tengah.
Didit dan Devi – Analisis Peranan Sektor Industri 155

Badan Pusat Statistik. 2003. Statistik Sosial Nazara, Suahasil. 1997. Analisis Input Out-
dan Kependudukan Jawa Tengah. Hasil put. Jakarta: Lembaga Penerbitan FE
Susenas 2003. Semarang: BPS Jawa UI.
Tengah. Kamaluddin, R. 1987. Beberapa Aspek Pem-
Arsyad, Lincoln. 1999. Ekonomi Pembaya- bangunan Nasional dan Pembangunan
ran. Yogyakarta: Bagian Penerbitan Daerah. Jakarta: LPFE-UI.
STIE YKPN. Tambunan, Tulus, 2001. Industri di Negara
Jhingan, M.L. 1998. Beberapa Masalah Berkembang Kami Indonesia. Jakarta:
Perencanaan Pembangunan Daerah. Ghalia.
Jakarta: Rajawali Press.
Miller, Ronald E, dan Peter H. Blair. 1999.
Input Output Analysis: Foundation and
Extensions, New Jersey: Prentice Hall.
Jurnal Ekonomi Pembangunan
Vol. 9, No. 2, Desember 2008, hal. 156 - 167

ANALISIS PERUBAHAN KURS RUPIAH


TERHADAP DOLLAR AMERIKA

Triyono
Fakultas Ekonomi Universitas Muhammmadiyah Surakarta
E mail: triums@yahoo.com.sg

ABSTRACT
This research analyse influence of money supply, inflation, SBI rate of interest, and
import to Indonesia Rupiah exchange rate to US Dollar. In analysis, used multiple
regression analysis instrument with model Error Correction Model (ECM). With
this method obtained equation of regression in long-run and short-run equilibrium.
In the long run equilibrium model, covered series of adjustment process that
bringing every shock to equilibrium. In other word, in the long run very possibly
performed full adjustment to every changes in arising out. Estimation result from
regression ECM and long-run analysis indicate that inflation variable, SBI rate of
interest, and import have significant influence with positive direction to exchange
rate. While variable JUB have influence with negative direction to exchange rate.
Keywords: exchange rate, ECM, monetary tight policy

PENDAHULUAN investasi dan pedagangan Internasional.


Perbedaan nilai tukar mata uang suatu negara Indonesia sebagai negara yang banyak
(kurs) pada prinsipnya ditentukan oleh besar- mengimpor bahan baku industri mengalami
nya permintaan dan penawaran mata uang dampak dan ketidakstabilan kurs ini, yang
tersebut (Levi, 1996:129). Kurs merupakan dapat dilihat dari rnelonjaknya biaya produk-
salah satu harga yang lebih penting dalam si sehingga menyebabkan harga barang-
perekonomian terbuka, karena ditentukan barang milik Indonesia mengalami pening-
oleh adanya kseimbangan antara permintaan katan. Dengan melemahnya rupiah menye-
dan penawaran yang terjadi di pasar, mengi- babkan perekonomian Indonesia menjadi
ngat pengaruhnya yang besar bagi neraca goyah dan dilanda krisis ekonomi dan keper-
transaksi berjalan maupun bagi variabel- cayaan terhadap mata uang dalam negeri.
variabel makro ekonomi lainnya. Kurs dapat Sistem devisa bebas dan ditambah
dijadikan alat untuk mengukur kondisi dengan penerapan sistem floating exchange
perekonomian suatu negara. Pertumbuhan rate di Indonesia sejak tahun 1997, menye-
nilai mata uang yang stabil menunjukkan babkan pergerakan nilai tukar di pasar
bahwa negara tersebut memiliki kondisi menjadi sangat rentan oleh pengaruh faktor-
ekonomi yang relatif baik atau stabil faktor ekonomi maupun non ekonomi. Seba-
(Salvator, 1997:10). Ketidakstabilan nilai gai contoh pertumbuhan nilai mata uang
tukar ini mempengaruhi arus modal atau rupiah terhadap dolar AS pada era sebelum
Triyono - Analisis Perubahan Kurs Rupiah 157

krisis melanda Indonesia dan kawasan Asia merupakan perbandingan nilai atau harga
lainya masih relatif stabil. Jika dibandingkan antara kedua mata uang tersebut. Perban-
dengan masa sebelum krisis, semenjak krisis dingan nilai inilah sering disebut dengan kurs
ini terjadi lonjakan kurs dolar AS berada (exchange rate). Nilai tukar biasanya
diantara Rp6.700 - Rp9.530 sedangkan perio- berubah-ubah, perubahan kurs dapat berupa
de 1981- 1996 di bawah Rp2.500 (Bank depresiasi dan apresiasi. Depresiasi mata
Indonesia, 2000). uang rupiah terhadap dolar AS artinya suatu
Melalui mekanisme transmisi, inflasi penurunan harga dollarAS terhadap rupiah.
serta suku bunga domestik bisa turun ke Depresiasi mata uang negara membuat harga
tingkat yang rendah. Sebaliknya, dengan barang-barang domestik menjadi lebih murah
menguatnya dolar AS belakangan, nilai bagi fihak luar negeri. Sedang apresiasi
Rupiah merosot dan berpotensi mendongkrak rupiah terhadap dollar AS adalah kenaikan
inflasi. Pergerakan nilai tukar yang fluktuatif rupiah terhadap dollar AS. Apresiasi mata
ini mempengaruhi perilaku masyarakat uang suatu negara membuat harga barang-
dalam memegang uang, selain faktor-faktor barang domestik menjadi lebih mahal bagi
yang lain seperti tingkat suku bunga dan fihak luar negeri (Sukirno, 1981:297). Kurs
inflasi. Kondisi ini didukung oleb laju inflasi rupiah terhadap dollar AS memainkan peran-
yang meningkat tajam dan menurunnya an sentrel dalam perdagangan internasional,
kepercayaan masyarakat terhadap perbankan karena kurs rupiah terhadap dollar AS
nasional. memungkinkan kita untuk membandingkan
harga semua barang dan jasa yang dihasilkan
Tingkat suku bunga yang tinggi, akan
berbagai negara. Kurs valuta asing dapat
menyerap jumlah uang yang beredar di
diklasifikasikan kedalam kurs jual dan kurs
masyarakat. Sebaliknya jika tingkat suku
beli. Selisih dari penjualan dan pembelian
bunga terlalu rendah maka jumlah uang yang
merupakan pendapatan bagi pedagang valuta
beredar di masyarakat akan bertambah
asing. Sedang bila ditinjau dari waktu yang
karena orang lebih suka memutarkan uang
dibutuhkan dalam menyerahkan valuta asing
pada sektor-sektor produktif dari pada
setelah transaksi kurs dapat diklasifikasikan
menabung. Dalam hal ini tingkat suku bunga
dalam kurs spot dan kurs berjalan (forward
merupakan instrumen konvensional untuk
exchange).
mengendalikan inflasi (Khalawaty, 200:144).
Semua transaksi valuta asing yang ber-
Dari latar belakang yang telah diuraikan
langsung seketika atau langsung di mana
di atas, penelitian ini menganalisis mengenai
kedua belah pihak sepakat untuk saling
bagaimana pengaruh jumlah uang beredar
membayar secepatnya saat itu atau paling
(JUB), inflasi, suku bunga (SBI), dan impor,
lambat dua hari setelah transaksi, disebut
pada kurs rupiah terhadap dollar AS.
kurs spot (spot exchange rate). Sedangkan
Landasan teori dalam penelitian ini kesepakatannya disebut transaksi spot. Bebe-
sebagai berikut: rapa kesepakatan sering seringkali secara
1. Pengertian Kurs khusus menetapkan tanggal lebih dari dua
hari, misalnya 30 hari, 90 hari,atau 180 hari
Kurs (Exchange Rate) adalah pertukaran atau bahkan beberapa tahun. Kurs yang
antara dua mata uang yang berbeda, yaitu
158 Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008

menjadi dasar bagi transaksi semacam ini di Sistem sekeranjang mata uang, keun-
sebut kurs berjangka (forward exchange tungannya adalah sistem ini menawarkan
rate). stabilisasi mata uang suatu negara karena
pergerakan mata uangnya disebar dalam
2. Sistem Kurs dan Dasar Pertimbangan sekeranjang mata uang. Mata uang yang di
Penetapannya masukan dalam keranjang biasanya diten-
Pada dasarnya terdapat lima jenis system tukan oleh besarnya peranannya dalam mem-
kurs utama yang berlaku (Kuncoro,1996:27) biayai perdagangan negara tertentu.
yaitu: sistem kurs mengambang (floating Sistem kurs tetap, dimana negara mene-
exchang rate), kurs tertambat (pegged ex- tapkan dan mengumumkan suatu kurs terten-
change rate), kurs tertambat merangkak tu atas mata uangnya dan menjaga kurs
(crawling pegs), sekeranjang mata uang dengan cara membeli atau menjual valas
(basket of currencies), kurs tetap (fixed ex- dalam jumlah yang tidak terbatas dalam kurs
change rate). tersebut. Bagi negara yang sangat rentan
Pada jenis sistem kurs mengambang, terhadap gangguan eksternal, misalnya
kurs ditentukan oleh mekanisme pasar memiliki ketergantungan tinggi terhadap
dengan atau tanpa adanya campur tangan sektor luar negeri maupun gangguan internal,
pemerintah dalam upaya stabilisasi melalui seperti sering mengalami gangguan alam,
kebijakan moneter apabila ada terdapat menetapkan kurs tetap merupakan suatu
campur tangan pemerintah maka system ini kebijakan yang beresiko tinggi.
termasuk mengambang terkendali (managed
3. Hubungan antara Kurs dengan Jumlah
floating exchange rate).
Uang Beredar
Pada sistem kurs tertambat, suatu negara
menambatkan nilai mata uangnya dengan Bahwa peredaran reserve valuta asing (nera-
sesuatu atau sekelompok mata uang negara ca pembayaran) timbul sebagai akibat kele-
lainnya yang merupakan negara mitra dagang bihan permintaan atau penawaran uang.
utama dari negara yang bersangkutan, ini Apabila terdapat kelebihan jumlah uang
berarti mata uang negara tersebut bergerak beredar maka neraca pembayaran akan defisit
mengikuti mata uang dari negara yang dan sebaliknya apabila terdapat kelebihan
menjadi tambatannya. permintaan uang, neraca pembayaran akan
surplus kelebihan jumlah uang beredar akan
Sistem kurs tertambat merangkak, di
mengakibatkan masyarakat membelanjakan
mana negara melakukan sedikit perubahan
kelebihan ini, misalnya untuk impor atau
terhadap mata uangnya secara periodik
membeli surat-surat berharga luar negeri
dengan tujuan untuk bergerak ke arah suatu
sehingga terjadi aliran modal keluar, yang
nilai tertentu dalam rentang waktu tertentu.
berarti permintaan akan valas naik sedangkan
Keuntungan utama dari sistem ini adalah
permintaan mata uang sendiri turun (Nopirin,
negara dapat mengukur penyelesaian kursnya
1997: 222). Jika pemerintah menambah uang
dalam periode yang lebih lama jika di
beredar akan menurunkan tingkat bunga dan
banding dengan system kurs terambat.
merangsang investasi keluar negeri sehingga
terjadi aliran modal keluar pada giliran kurs
Triyono - Analisis Perubahan Kurs Rupiah 159

valuta asing naik (apresiasi). Dengan berpendapat bahwa pengetatan moneter


menaiknya penawaran uang atau atau jumlah yang mendorong peningkatan suku bunga
uang beredar akan menaikkan harga barang akan mengakibatkan apresiasi nilai tukar
yang diukur dengan (term of money) sekali- karena adanya pemasukan modal dan
gus akan menaikkan harga valuta asing yang luar negeri (Arifin, 1998: 4).
diukur dengan mata uang domestik (Herlam-
bang, dkk, 2001) c. Hubungan Nilai Impor dengan Kurs
Di dalam pasar bebas perubahan kurs
a. Hubungan Inflasi dengan Kurs
tergantung pada beberapa faktor yang
Nilai tukar dibedakan menjadi dua yaitu mempengaruhi permintaan dan penawa-
nilai tukar nominal dan nilai tukar riil. ran valuta asing. Bahwa valuta asing
Nilai tukar nominal menunjukkan harga diperlukan guna melakukan transaksi
relatif mata uang dan dua negara, sedang- pembayaran keluar negeri (impor).
kan nilai tukar riil menunjukkan tingkat Makin tinggi tingkat pertumbuhan penda-
ukuran (rate) suatu barang dapat diperda- patan (relatif terhadap negara lain) makin
gangkan antar negara. Jika nilai tukar riil besar kemampuan untuk impor makin
tinggi berarti harga produk luar negeri besar pula permintaan akan valuta asing.
relatif murah dan harga produk domestik Kurs valuta asing cenderung meningkat
relatif mahal. Persentase perubahan nilai dan harga mata uang sendiri turun.
tukar nominal sama dengan persentase Demikian juga inflasi akan menyebabkan
perubahan nilai tukar riil ditambah perbe- impor naik dan ekspor turun kemudian
daan inflasi antara inflasi luar negeri akan menyebabkan valuta asing naik.
dengan inflasi domestik (persentase peru- (Nopirin, 1997: 148)
bahan harga inflasi). Jika suatu negara
luar negeri lebih tinggi inflasinya diban- Berdasarkan perumusan masalah yang
dingkan domestik (Indonesia) maka ada, maka dapat diambil suatu hipotesis yang
Rupiah akan ditukarkan dengan lebih merupakan jawaban yang bersifat sementara
banyak valas. Jika inflasi meningkat dan masih harus diuji kebenarannya sebagai
untuk membeli valuta asing yang sama berikut;
jumlahnya harus ditukar dengan Rupiah 1. Jumlah uang beredar berpengaruh positif
yang makin banyak atau depresiasi terhadap kurs Rupiah terhadap dollar AS.
Rupiah (Herlambang, dkk, 2001 : 282) 2. Tingkat Suku Bunga SBI berpengaruh
negatif terhadap kurs Rupiah terhadap
b. Hubungan Suku Bunga dengan Kurs
dollar AS.
Kebijakan yang dapat digunakan untuk 3. Besarnya inflasi berpengaruh positif ter-
mencapai sasaran stabilitas harga atau hadap kurs Rupiah terhadap dollar AS.
pertumbuhan ekonomi adalah kebijakan- 4. Besarnya nilai impor berpengaruh negatif
kebijakan moneter dengan menggunakan terhadap kurs Rupiah terhadap dollar AS.
instrumen moneter (suku bunga atau
agregat moneter). Salah satu jalur yang
digunakan adalah jalur nilai tukar,
160 Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008

METODE PENELITIAN 5. Nilai Impor (M)


Nilai impor adalah jumlah masukan hasil
Jenis dan Sumber Data
perdagangan dari luar ke dalam negeri
Jenis data yang digunakan adalah data sekun- selama rentang waktu tertentu. Diukur
der yang terdiri dan satu variabel terikat yaitu dalam satuan juta $US dan telah diubah
kurs dan empat variabel bebas yaltu jumlah menjadi satuan rupiah.
uang yang beredar, inflasi, tingkat suku
bunga SBI, dan nilai impor. Data sekunder
Metode Analisis Data
ini bersumber pada Bank Indonesia (BI) dan
beberapa pustaka lainnya. Alat analisis yang digunakan dalam peneli-
tian ini adalah regresi berganda. Model yang
Definisi Operasional Variabel digunakan adalah Error Correction Model
(ECM) yang formulasi jangka panjang seba-
1. Kurs
gai berikut:
Kurs atau nilai tukar mata uang (ex-
change rate) merupakan harga suatu Log kurst = β0 + β1 LogJUBt + β2 JNFt +
mata uang terhadap mata uang lain.
β3 SBIt + β4 LogMt + Ut
Dalam penelitian digunakan nilai tukar
rupiah terhadap dollar AS. Diukur dalam
dimana:
satuan rupiah (Rp/$ ).
β1, β2 , β3, β4 = koefisien jangka panjang
2. Tingkat Inflasi (INF)
Inflasi adalah kenaikan harga-harga Sementara hubungan jangka pendek
barang kebutuhan umum yang terjadi dinyatakan dengan persamaan sebagai beri-
secara terus-menerus. Inflasi diukur kut:
dalam satuan persen (%) α1 DLogJUBt + α2 DJNFt + α3 SDBIt+
3. Jumlah uang yang beredar (JUB) α4 Dlog
Jumlah uang yang beredar adalah uang
dalam arti sempit yang terjadi dari uang D Log kurs = Mt – α (LogKurst-1 - β0 -
kartal dan uang giral yang dipegang oleh
masyarakat. Data jumlah uang yang bere- β1LogJUBt-1 + β2INFt-t +
dar yang digunakan diukur dalam satuan β3SB1t-1 + β4LogMt-1 ) + Ut
rupiah.
4. Tingkat Suku Bunga SBI (SBI) dimana:
Tingkat suku bunga SBI adalah rata-rata α1, α2, α3, α4 = parameter jangka panjang
persentase suku bunga SBI yang ditetap-
αs = parameter penyesuaian
kan oleh Bank Indonesia. Data suku
bunga yang digunakan diukur dalam Parameterisasi persamaan jangka pendek
satuan persen.
dapat menghasilkan bentuk persamaan:
Triyono - Analisis Perubahan Kurs Rupiah 161

y0+ y1DLogJUBt + y2DINFt + y3DSBIt + y4D jat integrasi (Integration Test) sampai
memperoleh data yang stasioner.
D Log Kurst = LogMt, + y5LogJUBt-1 +
y6JNFt-1+ y7SBIt-1 +y8LogMt-1 + b. Uji Kointegrasi (Cointegration Test)

y9ECT + Ut Uji kointegrasi adalah uji ada tidaknya


hubungan jangka panjang antara variabel
ECT = LogJUBt-1 + 1NFt-1 + SBIt-1 + bebas dan terikat, uji ini merupakan
kelanjutan dari uji akar-akar unit (Unit
LogMt-1 - LogKurst-1
Root Test) dan uji derajat integrasi
(Integration Test).
Keterangan:
D Log kurs = Kurs rupiah terhadap dolar AS 2. Uji Asumsi Klasik
D log JUB = Jumlah Uang Beredar
a. Heteroskedastisitas
D INF = Inflasi
D SBI = Tingkat Suku Bunga SRI Heteroskedastisitas terjadi apabila variasi
D Log M = Nilai Impor Ut tidak konstan atau sering berubah-
Log JUBt-1 = Kelambanan Jumlah Uang ubah seiring dengan berubahnya nilai
Beredar (JUB) variabel independen (Gujarati, 2002:61).
INF t-1 = Kelambanan Inflasi Untuk melacak keberadaan heteroskedas-
SBI = Kelambanan Tingkat Suku tisitas dalam penelitian ini digunakan uji
Bunga (SBI) White.
Log M t-1 = Kelambanan Nilai Impor
ECT = Error Correction Term b. Autokorelasi
Ut = residual Autokorelasi dapat diidentifikasi sebagai
D = perubahan korelasi antara anggota serangkaian
t = periode waktu observasi. Dalam penelitian ini menggu-
nakan uji Breusch Godfrey.

Uji dalam Penelitian c. Uji Normalitas


1. Uji Stasioneritas Asumsi normalitas gangguan Ut adalah
Uji ini terdiri dari: penting sekali mengingat uji validitas
pengaruh variabel independen baik seca-
a. Uji Akar-Akar Unit (Unit Root Test)
ra serempak (uji F) maupun sendiri-
Uji akar-akar unit ini dimaksudkan untuk sendiri (uji t) dan estimasi nilai variabel
menentukan stasioner tidaknya sebuah dependen mensyaratkan hal ini. Apabila
variabel. Data dikatakan stasioner bila asumsi ini tidak terpenuhi, maka kedua
data tersebut mendekati rata-ratanya dan uji ini dan estimasi nilai variabel depen-
tidak terpengaruh waktu. Apabila data den adalah tidak valid untuk sampel kecil
yang diamati dalam uji akar-akar unit atau tertentu (Gujarati, 2002:143). Uji
(Unit Root Test) ternyata belum stasioner normalitas Ut yang digunakan dalam
maka harus dilanjutkan dengan uji dera- penelitian ini adalah uji Jarque Bera.
162 Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008

d. Uji Spesifikasi Model (Uji Ramsey- besarnya pengaruh masing-masing varia-


Reset) bel independen terhadap variabel depen-
den secara dua sisi (two tail).
Uji spesifikasi model pada dasarnya
digunakan untuk asumsi (CLRM) tentang
linearitas model, sehingga sering disebut HASIL PENELITIAN DAN
uji linearitas model. Pada penelitian ini PEMBAHASAN
digunakan uji Ramsey-Reset yang terke-
nal dengan sebutan uji kesalahan spesifi- Pengujian dengan Error Correction Model
kasi umum. (ECM)
Model ECM (Error Correction Model) me-
3. Uji Statistik
rupakan model ekonometrik yang digunakan
a. Uji F (F Test) untuk mencari persamaan regresi keseim-
Uji F dilakukan untuk mengetahui apa- bangan jangka panjang dan jangka pendek.
kah model yang digunakan eksis atau Dalam penelitian ini hasil estimasi regresi
tidak. seperti nampak pada Tabel 1.
Dari hasil Error Correction Model
b. R2 (Koefisien Determinasi Majemuk) (ECM) nampak bahwa nilai ECT sebesar
Koefisien determinasi merupakan pro- 0,483191 pada derajat α = 5%. Hal ini berarti
porsi atau prosedur total varian dependen nilai ECT tersebut sudah memenuhi kriteria
yang dijelaskan oleh variabel indepen- yaitu 0<ECT<1. Dengan kata lain model
den. Nilai R2 terletak antara 0 dan 1. ECM dalam penelitian ini dapat dipakai
untuk menganalisis pengaruh variabel bebas
c. Uji Validitas Pengaruh yaitu inflasi, JUB, SBI, dan impor (M)
terhadap variabel tidak bebas yaitu kurs. Dari
Untuk menggunakan fungsi validitas pe-
hasil analisis regresi ECM bila ditulis dalam
ngaruh dari variabel independen terhadap
bentuk persamaan linier sebagai berikut:
variabel dependen digunakan uji t. Uji t
statistik ini bertujuan untuk mengetahui

Tabel 1. Hasil Analisis Model ECM


Variabel Koefisien Std. error T. Ststistik Prob
C 3.546013 1.795917 1.974485 0.0595
D(INF) -0.000168 0.002526 -0.066645 0.9474
D(LNM) 0.041126 0.031006 1.326398 0.1967
D(SBI) 0.011526 0.017263 0.667668 0.5105
D(LNJUB) 0.749601 0.274389 2.731896 0.0114
INF(-1) -0.482204 0.156806 -3.075165 0.0050
LNM(-1) -0.371070 0.134930 -2.750087 0.0109
SBI(-1) -0.483551 0.155602 -3.107607 0.0047
LNJUB(-1) -0.545433 0.197522 -2.761380 0.0106
ECT 0.483191 0.156966 3.078313 0.0050
Sumber: Data sekunder diolah
Triyono - Analisis Perubahan Kurs Rupiah 163

D(LKURS)= 3,54601288 – χ tabel


2
= 27,587 > χ hitung
2
= 13,798244 berar-
0,0001683258664* D(INF) +
ti tidak ada masalah heteroskedastisitas.
0,04112572539*D(LN M) +
0,01152604922*D(SBI) = 2. Autokorelasi
0,7496011781*D(LN JUB) –
0,4822037777*INF(-1) – Dalam penelitian ini digunakan uji Breusch
0,371069781*LN M(-1) – Godfrey dengan kesimpulan:
0,4835505342*SBI(-1) – χ hitung
2
= 6,718503 < χ tabel =7,81473 berarti
2

0,5454332375*LN JUB(-1)+
dalam model tidak terdapat masalah auto-
0,4831908372*ECT
korelasi.

Keterangan: 3. Normalitas μt
* = signifikan pada α = 0,05
Uji normalitas μt dalam pembahasan ini
menggunakan Uji Jarque-Bera dengan
kesimpulan: nilai statistik Jarque-Bera =
Model tersebut merupakan model jangka
pendek. Model jangka panjang harus melihat 0,289995 lebih kecil dari χ 02, 05;3 = 5,99146
keseimbangan dimana di dalamnya tercakup berarti distribusi μt normal
serangkaian proses penyesuaian yang mem-
bawa setiap shock kepada equilibrium. Spesifikasi Model
Dengan kata lain dalam jangka panjang
memungkinkan mengadakan penyesuaian Dalam penelitian ini digunakan uji Ramsey-
penuh untuk setiap perubahan yang timbul. Reset. Karena Fhitung = 2,18131 < Ftabel = 3,40
(Lihat Tabel 2) berarti model linier.

Uji Asumsi Klasik


1. Heteroskedastisitas
Untuk mendeteksi masalah heteroskedastisi-
tas dilakukan dengan menggunakan Uji
White dengan kesimpulan, karena nilai

Tabel 2. Koefisien Regresi Jangka Panjang

Variabel Perhitungan
C 3,546013/0,490864 = 7,22402
INF(-1) -0,482204 + 0,490564/0,490864 = 0,01764
JUB(-1) -0,545433 + 0.490864/0,490864 = -0,11117
SBI(-1) -0,483551 + 0,490564/0,490864 = 0,01490
M(-1) -0,371070 + 0,490564/0,490864 = 0,24405
Sumber: Data sekunder diolah
164 Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008

Uji Statistik Tabel 4. Koefisien Regresi dalam Jangka


Pendek dan Jangka Panjang
1. Uji t
Variabel Koefisien Regresi
Tabel 3. Hasil Uji t Jangka Jangka
Panjang Pendek
Nama t hitung t tabel Kesimpulan
Variabel C 3.546013 7,22402
D(INF) -0.000168 -
Inflasi -0,066645 2,056 Tidak
berpengaruh D(LNM) 0.041126 -
JUB 2,731896 2,056 Berpengaruh D(SBI) 0.011526 -
SBI 0,66768 2,056 Tidak D(LNJUB) 0.749601 -
berpengaruh INF(-1) -0.482204 0,01764
Import 1,326398 2,056 Tidak
LNM(-1) -0.371070 0,24405
berpengaruh
Inflasi-1 -3,075165 -2,056 Berpengaruh SBI(-1) -0.483551 0,01490
JUB-1 -2,761380 -2,056 Berpengaruh LNJUB(-1) -0.545433 -0,11117
ECT 0.483191 -
SBI-1 -3,107607 -2,056 Berpengaruh
Impor-1 -2,750087 -2,056 Berpengaruh Sumber: Data sekunder yang diolah
ECT 3,078313 2,056 Berpengaruh

2. Uji F 1. Inflasi
Dengan kesimpulan: Karena Fhitung= Dari hasil analisis jangka pendek variabel
2,678083 > Ftabel = 2,27 berarti model yang inflasi tidak mempunyai pengaruh yang
dipakai adalah eksis. signifikan terhadap kurs. Sedangkan dari
hasil perhitungan jangka panjang variabel
3. Koefisien Determinasi (R2) inflasi mempunyai pengaruh yang signifikan
Nilai R2 = 0,490864 berarti besarnya penga- terhadap kurs, sebesar 0.01764 dengan arah
ruh variabel independen terhadap variabel positif yang berarti naiknya variabel inflasi
dependen sebesar 49,0864 persen, sedang mengakibatkan naiknya variabel kurs sebesar
sisanya sebesar 50,9136 persen menggam- 0,01764 atau 1,764 persen.
barkan pengaruh dari variabel-variabel di
2. JUB
luar model.
Hasil analisis jangka pendek variabel JUB
Interpretasi Ekonomi mempunyai pengaruh yang signifikan terha-
dap kurs sebesar 0,749601 dengan arah
Analisis regresi baik model jangka pendek positif yang berarti naiknya variabel JUB
maupun jangka panjang disajikan dalam akan mengakibatkan naiknya variabel kurs
Tabel 4 yang selanjutnya dilakukan inter- sebesar 0,74601 atau 74,601 persen. Sedang-
pretasi ekonomi. kan perhitungan jangka panjang variabel JUB
Interprestasi terhadap masing-masing berpengaruh signifikan terhadap kurs sebesar
nilai koefisien regresi variabel bebas adalah: -0,11117 dengan arah negatif artinya turun-
Triyono - Analisis Perubahan Kurs Rupiah 165

nya variabel JUB akan mengakibatkan naik- 1. Berdasarkan hasil uji stasioneritas
nya variabel kurs sebesar 11,117 persen. menunjukkan bahwa variabel impor
sudah stasioner pada derajat α = 5%.
3. SBI Sedangkan variabel kurs, inflasi, JUB
Hasil analisis jangka pendek variabel SBI dan SBI tidak stasioner pada derajat α =
tidak berpengaruh secara signifikan terhadap 5%.
kurs. Sedangkan dan perhitungan jangka 2. Berdasarkan uji kointegrasi menunjukkan
panjang variabel SBI berpengaruh secara bahwa inflasi, impor, SBI dan JUB tidak
signifikan terhadap kurs sebesar 0,01490 berkointegrasi terhadap kurs pada derajat
dengan arah positif artinya naiknya variabel kepercayaan α = 5%.
SBI akan mengakibatkan naiknya variabel 3. Berdasarkan uji derajat integrasi menun-
kurs sebesar 1,49 persen jukkan bahwa variabel kurs, inflasi, JUB,
SBI dan impor stasioner pada derajat α =
4. Impor (M)
5%.
Hasil analisis jangka pendek variabel impor 4. Berdasarkan hasil estimasi regresi ECM
tidak berpengaruh secara signifikan terhadap dan analisis jangka panjang variabel
kurs. Sedangkan dari perhitungan jangka inflasi, SBI dan impor mempunyai
panjang variabel impor berpengaruh secara pengaruh yang signifikan pada α = 0,05
signifikan terhadap kurs sebesar 0,24405 dengan arah positif terhadap kurs.
dengan arah positif yang berarti naiknya Sementara variabel JUB mempunyai
variabel impor (M) akan mengakibatkan pengaruh dengan arah negatif terhadap
naiknya kurs sebesar 0,24405 atau 24,405 kurs pada α = 0,05.
persen.
5. Berdasarkan hasil pengujian asumsi
5. ECT klasik, tidak ditemukan masalah hetero-
skedastisitas dan autokorelasi dalam
Signifikansi pada tingkat α = 0,05 dengan model. Model yang digunakan dalam uji
nilai koefisien sebesar 0,483191. Hal ini normalitas tidak terdapat penyimpangan,
menunjukkan proporsi ketidakseimbangan sehingga dapat dikatakan bahwa distri-
dalam variabel kurs sebelum disesuaikan busi Ut normal. Dalam uji linieritas
pada periode sekarang adalah 0,519125. nilai menunjukkan spesifikasi model benar.
koefisien tersebut dapat menjelaskan feno-
6. Hasil analisis dengan uji t diketahui
mena jangka panjang.
bahwa regresi jangka pendek variabel
inflasi, SBI dan impor tidak signifikan
KESIMPULAN terhadap kurs pada α = 5%, sementara
Berdasarkan hasil regresi model ECM (Error variabel JUB berpengaruh secara signifi-
Correction Model) mengenai pengaruh kan terhadap kurs pada α = 5%. Dalam
inflasi, JUB, SBI, dan impor (M) terhadap regresi jangka panjang variabel inflasi,
kurs, maka dapat disimpulkan adalah sebagai JUB, SBI, dan impor berpengaruh secara
berikut: signifikan terhadap kurs pada α = 5%.
166 Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008

7. Koefisien determinasi (R2) menunjukkan tian ini dapat dijadikan sebagai penun-
bahwa variabel inflasi, JUB, SBI dan jang untuk penelitian selanjutnya.
impor memberikan kontribusinya sebesar
49,0864 persen terhadap kurs, sedangkan DAFTAR PUSTAKA
sisanya 50,9136 persen dipengaruhi oleh
variabel bebas lain di luar model yang Adias, Levi lqbal. 2003. Analisis Fluktuasi
digunakan. Kurs Rupiah terhadap Dollar AS.
Skripsi. Tidak Diterbitkan. Surakarta:
8. Variabel ECT (Error Correction Term) Universitas Sebelas Maret
signifikan pada tingkat α = 5% dengan
nilai koefisien regresi sebesar 0,483191. Bank Indonesia. Beberapa tahun edisi, Sta-
tistik Ekonomi-Keuangan Indonesia.
Berdasarkan hasil-hasil kesimpulan di Jakarta: BI
atas, penulis memberikan beberapa saran
sebagai berikut: Bank Indonesia. Beberapa tahun edisi.
Laporan Tahunan. Jakarta: BI
1. Kebijakan untuk menjaga inflasi yang
rendah dalam jangka panjang melalui Arifin, Samsjul. 1998. Buletin Ekonomi
pengetatan moneter (monetary tight Moneter dan Perbankan. Vol.1 No.3,
policy) untuk mengurangi jumlah uang Desember hal 1-16
beredar dan ini akan menimbulkan ting- Boediono. 2000. Ekonomi Mikro. Yogyakar-
kat inflasi yang menurun. Kebijakan ta: BPFE UGM.
menurunkan tingkat inflasi dapat dilaku- Gujarati, Damodar. 2002. Ekonometrika
kan dengan melihat penyebab terjadinya Dasar. Jakarta: Erlangga
inflasi tersebut apakah demand pull
Herlambang, Sugiarto dan Baskara Said
inflation atau cost push inflation. Penge-
Kelana. 2001. Ekonorni Makro: Teori
tatan moneter ini juga akan meningkat-
Analisis dan Kebijakan. Jakarta: Gra-
kan suku bunga yang berakibatkan
media Pustaka Utama
menguatnya kurs rupiah karena adanya
peningkatan pemasukan aliran modal luar I Swatini, Fidya. 2003. Analisis Nilai Tukar
negeri. Rupiah terhadap Dollar AS dan Faktor-
fàktor yang Mempengaruhinya. Skripsi.
2. Pemerintah agar melakukan usaha-usaha
Tidak Diterbitkan. Surakarta: Univer-
agar nilai tukar tetap terkendali. Upaya
sitas Muhammadiyah Surakarta
ini harus didukung dengan memperkuat
cadangan devisa terletak dahulu melalui Kuncoro, Mudrajad. 1996. Manajemen
peningkatan ekspor dan meminimalkan Keuangan internasional. Edisi pertama.
impor. Yogyakarta: BPFE UGM
3. Dalam penelitian seperti ini yang mung- Levi, Maurice D. 1996. Keuangan Interna-
kin dilakukan untuk selanjutnya yaitu sional. Yogyakarta: Andi Offset
menambah variabel ekonomi lainnya Levi, Maurice D. 2001. Keuangan Interna-
dengan beberapa metode yang berbeda sional. Yogyakarta: Andi Offset
sehingga kita dapat membandingkan
Nastain. 2003. Analisis Pengaruh Penda-
hasilnya. Selanjutnya diharapkan peneli-
patan Nasional, Laju Inflasi, Tingkat
Triyono - Analisis Perubahan Kurs Rupiah 167

Suku Bunga dan Jumlah Uang Beredar Sukirno, Sadono. 2000. Makro Ekonorni
terhadap Nilai Tukar Rupiah terhadap Modern Perkembangan Pemikiran dari
Dollar AS Periode 1985-2001. Skripsi. Klasik Hingga Keynesian Baru. Jakarta:
Tidak Diterbitkan.Surakarta: Universi- PT. Raja Grafindo Persada.
tas Muhammadiyah Surakarta Susilo, Y. Sri; Sigit Triandaru dan A. Totok
Nopirin. 1997. Ekonomi Moneter. Buku I. Budi Santoso. 2000. Bank dan Lembaga
Yogyakarta: BPFE UGM Keuangan Lain. Jakarta: Salemba Em-
Purnomo, Didit dan Wahyudi. 2003. Hubu- pat.
ngan Kausalitas Defisit Neraca Tran- Utomo, Yuni Prihadi. 2005. Penurunan
saksi Berjalan dengan Kurs di Indone- Model Estimasi Jangka Pendek ECM.
sia. Jurnal Ekonomi Pembangunan. Surakarta (makalah tidak diterbitkan).
Vol. 4. No. 1, Juni. hal 18-29 Surakarta:
BPPE FE UMS
Setyowati, Eni, dan Soepatini. 2004. Analisis
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Nilai
Tukar Rupiah terhadap Dollar AS
dengan Pendekatan Neraca Pembayaran
(Pendekatan Engle Granger Error Cor-
rection Model). Jurnal Ekonomi Pem-
bangunan Vol. 5. No.2, Desember hal
147-159, Surakarta: BPPE FE UMS.
Jurnal Ekonomi Pembangunan
Vol. 9, No. 2, Desember 2008, hal. 168 - 183

PRODUKTIVITAS LAHAN DAN BIAYA USAHATANI TANAMAN


PANGAN DI KABUPATEN GUNUNG KIDUL

Suwarto
Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta
E mail: suwar_uns@yahoo.co.id

ABSTRACT
This research aims to investigate land productivity and cost of production of food
crops farm in Gunung Kidul. The result of this research found that using labor,
fertilizer, and manure increases the land productivity. Similar to, farmers education
increases the land productivity. Based on dummy variables, the household labor
increases the land productivity. The self-owned land productivity is higher than the
rented one belonging to HB, land productivity of forestation department loan is
lower than the rented one belonging to HB. Prices of labor, phosphate fertilizer, and
organic manure increases the production cost of food crops farm. Based on dummy
variables, the production cost of food crops farm LKP rented land is higher than one
from other land institution. On the contrary, the cost of production of food crops
farmland forestation department loan is lower than one from other land institution.
Keywords: land productivity, food crops, production cost

PENDAHULUAN Hartono et al., 2001). Kelembagaan lahan


Berusahatani adalah suatu kegiatan untuk yaitu aturan-aturan kerjasama yang disepaka-
memperoleh produksi dan pendapatan di ti dan dipatuhi oleh suatu masyarakat.
bidang pertanian. Pendapatan berupa selisih Kebutuhan tenaga kerja pada usahatani
nilai produksi atas biaya-biaya yang secara fluktuatif selaras musim dan pertumbuhan
eksplisist dikeluarkan petani dalam usaha- tanaman. Para petani terbiasa hidup dengan
tani. Dalam hal ini salah satu cara yang dapat saling membantu, kerjasama tenaga kerja
dilakukan petani dalam efisiensi usahatani tersebut melembaga menjadi kelembagaan
yaitu dengan meminimumkan biaya untuk tenaga kerja. Kelembagaan tenaga kerja di
suatu tingkat produksi tertentu (Nicholson, dalamnya terkandung kaidah-kaidah baik
1998) formal atau informal yang mengatur penggu-
Lahan sebagai faktor produksi penting naan tenaga kerja dalam suatu masyarakat.
yang ketersediaannya terbatas dan terdistri- Kelembagaan lahan dan tenaga kerja
busi tidak merata menimbulkan kerjasama dapat berpengaruh terhadap produktivitas
antara pemilik lahan luas dengan petani lahan dan biaya usahatani. Debertin (1986)
berlahan sempit atau petani tidak berlahan menjelaskan bahwa jika biaya sewa lahan
dalam suatu kelembagaan lahan (Fujimoto, harus dibayar di muka, maka akan mengura-
1996; Sangwan, 2000; Sharma, 2000; ngi kemampuan penyewa membeli input
Suwarto - Produktivitas Lahan dan Biaya Usahatani 169

produksi. Pengaruh modernisasi terhadap Constant Elasticity of Substitution (CES),


kelembagaan tenaga kerja, diungkapkan oleh fungsi transcendental, dan fungsi translog.
Iwamoto et al. (Hartono, 2003) bahwa Dari fungsi produksi yang telah dikembang-
modernisasi berdampak melemahkan kelem- kan banyak ahli di antaranya Sri Widodo
bagaan tenaga kerja non upahan yang (1986) dan Soekartawi (1994) menjelaskan
berlandaskan sistem kegotong-royongan dan bahwa fungsi produksi Cobb Douglas
kebersamaan, seperti sambatan dan bawon. merupakan fungsi produksi yang banyak
Kelembagaan tenaga kerja non upahan yang dipergunakan. Pada awalnya diperkenalkan
sebelum ini menolong petani kecil karena tahun 1928 fungsi tersebut menurut Debertin
murah kini banyak digantikan dengan (1986) hanya meliputi dua input variabel.
pengupahan yang komersial.
Diduga produktivitas lahan dan biaya Y = AX1αX21-α …….(1)
usahatani tanaman pangan tumpang sari para
petani dipengaruhi oleh penggunaan input Keterangan:
dan kelembagaan. Y = produksi,
Selaras dengan permasalahan yang X1 = tenaga kerja,
dikemukakan diatas, penelitian ini bertujuan X2 = modal.
mengetahui produktivitas lahan dan biaya
usahatani tanaman pangan tumpang sari di Dalam perkembangannya, fungsi pro-
Kabupaten Gunung Kidul. duksi Cobb-Douglas dapat meliputi atas dua
atau lebih variabel bebas, disebut dengan
Landasan teori dalam penelitian ini fungsi produksi tipe Cobb-Douglas yang
sebagai berikut: dapat dirumuskan sebagai berikut:

1. Produktivitas Usahatani
Y = aX1b1 X2b2, ...Xibi, ... Xnbn …….(2)
Produktivitas adalah rasio dari total output
dengan input yang dipergunakan dalam Keterangan:
produksi (Heady, 2002). Selanjutnya Heady Y = variabel dependen (output),
(2002) menjelaskan bahwa berkenaan dengan X = variabel independen (input),
lahan, produktivitas lahan berkesesuaian a dan b = koefisien yang diduga.
dengan kapasitas lahan untuk menyerap input
produksi dan menghasilkan output dalam Untuk memudahkan proses perhitungan,
produksi pertanian. persamaan dua (2) diubah ke dalam bentuk
linier yaitu dengan melogaritmakan persa-
Konsep dasar yang dipergunakan untuk
maan tersebut dalam bentuk double natural
menganalisis produktivitas adalah fungsi
logaritma (ln) menjadi sebagai berikut:
produksi. Dewasa ini telah banyak fungsi
produksi yang dikembangkan dan diperguna-
Ln Y = ln a + b1 ln X1 + b2 ln X2 + ... +
kan. Soekartawi (1994) menjelaskan bahwa
fungsi-fungsi yang sering dipergunakan yaitu bn ln Xn …….(3)
fungsi linier, fungsi kuadratik, fungsi
produksi Cobb-Douglas, fungsi produksi
170 Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008

Secara umum fungsi produksi Cobb- 2. Biaya Produksi


Douglas memiliki kelebihan yaitu: (1) penye-
lesaiannya relatif mudah, karena dengan Salah satu cara yang dapat dilakukan petani
mudah dapat ditransfer ke bentuk linier, (2) dalam efisiensi usahatani yaitu dengan memi-
hasil pendugaan garis melalui fungsi Cobb- nimumkan biaya untuk suatu tingkat
Douglas akan menghasilkan koefisien regresi produksi tertentu. Diasumsikan bahwa dalam
yang berguna sebagai penunjuk besarnya produksi dipergunakan faktor produksi
elastisitas, (3) penjumlahan dari elastisitas modal (K), dan tenaga kerja (L), maka
tersebut menunjukkan besarnya return to minimasi biaya dapat dirumuskan sebagai:
scale.
Minimasi C = wL + rK …….(5)
Selanjutnya, merujuk pada Jatileksono
(1993), untuk menganalisis hasil penelitian, Subject to, F(K,L) = Y0 …….(6)
output tanaman pangan (Y) yang heterogen
seperti padi, jagung, kedele, dan kacang Dalam hal ini w = tingkat upah tenaga kerja,
tanah, maka Y diukur dalam nilai produksi. r = bunga modal, Y0 = tingkat produksi yang
Nilai produksi adalah perkalian output (Y) diinginkan.
dengan harga output (Py). Perbedaan nilai
Menggunakan fungsi produksi tipe
output per petani dalam hal ini menggam-
Cobb-Douglas, fungsi produksi dapat diru-
barkan perbedaan kualitas output pada setiap
muskan:
petani. Untuk mengetahui faktor-faktor yang
berpengaruh terhadap produktivitas lahan
F(K, L) = AKαLβ …….(7)
tanaman pangan, dilakukan dengan analisis
fungsi produksi. Produksi tanaman pangan
Merujuk kepada Pindyck dan Rubinfeld
sebagai output (Y) dipengaruhi oleh input
(2001), upaya minimasi biaya untuk
faktor produksi yaitu: lahan (A), tenaga kerja
memproduksi sebesar Y0, dengan modal (K),
(L), modal lancar (C), lingkungan fisik
dan tenaga kerja (L) dapat dinotasikan
usahatani (E), teknologi (T), dan karakteristik
dengan Lagrangian sebagai berikut:
petani (S). Dalam jangka pendek teknologi
dianggap sama, dengan demikian fungsi
produksi dapat dirumuskan sebagai: Ф = wL + rK – λ(AKαLβ - Y0) .......(8)

Derivasi terhadap L, K dan λ, dan


Y= F(A, L, C, E, S) ……. (4)
menyamakan turunannya dengan nol, maka
diperoleh:
Fungsi ini dianggap memenuhi asumsi
baku untuk fungsi produksi, dan dalam satu
kali proses produksi tanaman pangan, ∂Ф/∂L = w – λ(AKαLβ-1) = 0 .......(9)
diasumsikan bahwa A, E, T, dan S adalah
variabel-variabel eksogen. ∂Ф/∂K = r – λ(AKα-1L β) = 0 .......(10)

∂Ф/∂λ = AKαLβ – Y0 = 0 .......(11)


Suwarto - Produktivitas Lahan dan Biaya Usahatani 171

Dari persamaan 9 diperoleh: Besarnya biaya total untuk output Y


selanjutnya dapat diperoleh dengan mensub-
λ = w/AKαLβ-1 .......(12) stitusikan persamaan 17 untuk K dan 18
untuk L pada persamaan 5, yaitu C = wL +
Jika persamaan 12 disubstitusikan ke rK. Dengan operasi aljabar secara sederhana
persamaan 10 maka diperoleh: diperoleh:

rβAKαLβ-1 = wαAKα-1L .......(13) C = w β/(α+ β) r α /(α+ β) [(α/β) β / (α+ β) +

atau L = βrK/αw .......(14) (α/β) -α /(α+ β) ](Y/A)1/(α+ β) …….(19)

Selanjutnya menggunakan persamaan 14 Selanjutnya jika α + β = 1, kondisi con-


untuk mengeliminasi L dari persamaan 11 stant returns to scale, maka persamaan 19
diperoleh: dapat disederhanakan sebagai berikut:

AKα ββ r β Kβ /α β w β = Y0 .......(15) C = w βr α [(α/β) β +( α/β) -α ](1/A)Y …….(20)

Persamaan 15 dapat disederhanakan Fungsi biaya tersebut menunjukkan


menjadi: bahwa total biaya akan meningkat jika total
produksi ditingkatkan hingga suatu tingkat
Kα+ β = (αw/ βr) β Y0/A .......(16) tertentu, atau akan berubah jika tingkat upah
dan bunga modal berubah. Sejalan dengan
atau K = [(αw/ βr) β/(α+ β) ](Y0/A)1/(α+ β) .... (17) teori tersebut, Silberberg (1978) merumuskan
fungsi biaya sebagai berikut:
Persamaan 17 berarti modal minimal
yang dapat dipergunakan untuk memproduk- C = f(Y, pi, ..., pn) …….(21)
si sejumlah Y0. Selanjutnya minimasi biaya
tenaga kerja dapat diperoleh dengan mensub- Keterangan:
stitusikan persamaan 17 ke dalam persamaan C = biaya produksi,
14 yaitu sebagai berikut: Y = tingkat produksi,
pi, ..., pn = harga input X1, ..., Xn.
L = [(βr/αw) α / (α+ β) ](Y0/A)1/(α+ β) .......(18)
Dalam bentuk fungsi produksi Cobb-
Dalam hal ini jika tingkat upah (w) Douglas, maka fungsi biaya tersebut dapat
secara relatif meningkat terhadap bunga diformulasikan sebagai berikut:
modal (r) maka petani akan memilih lebih
padat modal, dengan mengurangi penggu- C = A Y β П (pi) αi .......(22)
naan tenaga kerja, dan sebaliknya. Jika
teknologi budidaya meningkat, bertambah
Dalam bentuk logaritma natural, persa-
baik, maka penggunaan biaya modal dan
maan 22 dapat disajikan sebagai berikut:
tenaga kerja per satu satuan output menurun.
172 Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008

m
(upah dibayar setelah panen, yaitu pada
Ln C = Ln A + β Ln Y + ∑ α lnp
i =1
i ….(23)
waktu bodo atau Idul Fitri, rasul yaitu acara
selamatan bersih desa, dan pada waktu
17an), arisan atau RTan, sambatan, dan yang
Keterangan: hanya menggunakan tenaga sendiri. Di
C = biaya produksi, samping itu, menurut pekerjaan luar usaha-
A = intersep, tani, petani dapat dibedakan atas pedagang
Y = produksi, dan penyedia jasa, tukang dan pengrajin,
α i, βi = koefisien regresi. buruh tani, dan tani saja yaitu tidak memiliki
pekerjaan luar usahatani.

METODE PENELITIAN
Metode Analisis data
Lokasi dan Waktu Penelitian Untuk menguji pengaruh kelembagaan lahan,
Penelitian dilakukan pada dua dusun di kelembagaan tenaga kerja, dan faktor-faktor
Kabupaten Gunung Kidul wilayah tenggara, lainnya terhadap produktivitas lahan tanaman
yaitu di Dusun Widoro Wuni, Desa Balong, pangan disusun model 1 regresi berganda
Kecamatan Girisubo dan di Dusun Candisari, sebagai berikut:
Desa Hargosari, Kecamatan Tanjungsari.
Semua petani di kedua dusun yaitu 88 KK di ln Q/A = ln α + β1 lnX1 + β2 ln X2 +β3 ln X3 +
Dusun Widoro Wuni dan 137 KK di Dusun β4 ln X4 + β5 lnX5 + β6 ln X6 +
Candisari dijadikan responden. Dusun
Widoro Wuni relatif jauh dari pembinaan dan β7 ln X7 + δ1 D1 + δ2 D2 + δ3 D3 +
relatif jauh dari pasar, kurang lebih 37 km δ4 D4 + δ5 D5 +δ6 D6 + δ7 D7 +
tenggara dari ibukota kabupaten. Dusun
δ8 D8 + δ9 D9 + δ10 D10 + μ ….(1)
Candisari kurang lebih 12 km, sebelah
tenggara dari ibu kota kabupaten relatif dekat
Keterangan:
dengan pusat pembinan, mudah mengakses
pasar. Pengumpulan data primer penelitian Q/A = produktivitas lahan (ribu rupiah/ha),
ini dilakukan dari bulan Agustus 2005 hingga α = intersep,
Desember 2005. βi = koefisien regresi (i=1 s/d 7),
Responden menurut kelembagaan lahan δi = koefisien variabel dummy (i=1 s/d 10),
meliputi petani pemilik penggarap, penyewa X1 = luas lahan tanaman pangan (ha),
lahan lungguh-kas desa-pengarem-arem-dan X2 = tenaga kerja (HOK/ha),
milik perseorangan (LKP), penyewa lahan X3 = pupuk nitrogen(kg/ha),
Hamengku Buwono (HB), dan peminjam X4 = pupuk phosfat (kg/ha),
lahan kehutanan (berusahatani di antara X5 = pupuk organik (kg/ha),
tanaman jati muda milik kehutanan). Menu- X6 = pendidikan Kepala Keluarga (tahun),
rut kelembagaan tenaga kerja pada usahatani, X7 = umur Kepala Keluarga (tahun),
petani dapat dikelompokkan atas petani Dummy kelembagaan lahan,
pengguna tenaga kerja upahan, royongan D1 = 1 jika pemilik penggarap,
Suwarto - Produktivitas Lahan dan Biaya Usahatani 173

D1 = 0 jika lainnya, Keterangan:


D2 = 1 jika sewa lahan LKP, CTP = biaya produksi usahatani tanaman
D2 = 0 jika lainnya, pangan (ribu rupiah/ha),
D3 = 1 jika pinjam lahan Kehutanan, α = intersep,
D3 = 0 jika lainnya, βi = koefisien regresi (i=1 s/d 9),
Dummy kelembagaan tenaga kerja, δi = koefisien variabel dummy (i = 1 s/d
D4 = 1 jika tenaga upahan, 10),
D4 = 0 jika lainnya, X1 = upah tenaga kerja (ribu rupiah/HOK),
D5 = 1 jika tenaga kerja royongan, X2 = harga pupuk nitrogen (ribu rupiah/kg)
D5 = 0 jika lainnya, X3 = harga pupuk phosfat(ribu rupiah/ kg),
D6 = 1 jika arisan atau RTan, X4 = harga pupuk organik(ribu rupiah/ kg),
D6 = 0 jika lainnya, X5 = jumlah tenaga kerja keluarga (orang),
D7 = 1 jika tenaga kerja sambatan, X6 = luas lahan tanaman pangan (ha),
D7 = 0 jika lainnya, X7 = produktivitas lahan (ribu rupiah/ha/
tahun),
Dummy pekerjaan luar usahatani,
X8 = pendidikan Kepala Keluarga (tahun),
D8 = 1 jika pedagang dan jasa,
X9 = umur Kepala Keluarga (tahun),
D8 = 0 jika lainnya,
D9 = 1 jika tukang dan perajin, Dummy kelembagaan lahan,
D9 = 0 jika lainnya, D1 = 1 jika pemilik penggarap,
D1 = 0 jika lainnya,
Dummy lingkungan usahatani,
D2 = 1 jika sewa lahan LKP,
D10 = 1 jika tempat tinggal dekat dengan
D2 = 0 jika lainnya,
kota,
D3 = 1 jika pinjam lahan Kehutanan,
D10 = 0 jika lainnya,
D3 = 0 jika lainnya,
μ = error term
Dummy kelembagaan tenaga kerja pada
Untuk menguji pengaruh kelembagaan usahatani,
lahan, kelembagaan tenaga kerja, dan faktor- D4 = 1 jika tenaga kerja upahan,
faktor lainnya terhadap biaya produksi D4 = 0 jika lainnya,
usahatani disusun model 2 regresi berganda D5 = 1 jika tenaga kerja royongan,
sebagai berikut: D5 = 0 jika lainnya,
D6 = 1 jika arisan atau RTan,
ln CTP = ln α + β1 lnX1 + β2 ln X2 + β3 ln X3 + D6 = 0 jika lainnya,
D7 = 1 jika tenaga kerja sambatan,
β4 ln X4 + β5 lnX5 + β6 ln X6 +
D7 = 0 jika lainnya,
β7 ln X7 + β8 lnX8 + β9 ln X9 +
Dummy pekerjaan luar usahatani,
δ1 D1 + δ2 D2 + δ3 D3 + δ4 D4 + D8 = 1 jika pedagang dan jasa,
δ5 D5 + δ6 D6 + δ7 D7 + δ8 D8 + D8 = 0 jika lainnya,
δ9 D9 + δ10 D10 + μ .......(2) D9 = 1 jika tukang dan perajin,
D9 = 0 jika lainnya,
174 Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008

Dummy lingkungan usahatani, HASIL PENELITIAN DAN


D10 = 1 jika tempat tinggal dekat dengan PEMBAHASAN
pasar atau kota,
D10 = 0 jika lainnya, Produktivitas Lahan Tanaman Pangan
μ = error term Sebagaimana data pada Tabel 1, produktivi-
tas lahan tanaman pangan para petani yang
Pengujian Model Regresi dekat kota, sesuai kelembagaan lahan rata-
rata Rp3.742.000,- per ha per tahun oleh para
Pengujian model regresi berganda atas data petani penyewa LKP relatif lebih besar dari
cross section yang dipergunakan untuk me- produktivitas lahan tanaman pangan bagi
ngetahui apakah tidak terdapat pelanggaran para petani dalam kelembagaan lahan lain-
terhadap asumsi klasik yaitu adanya multiko- nya. Demikian pula produktivitas lahan
linearitas dan heteroskedastisitas. Jika terda- tanaman pangan petani penyewa LKP yang
pat pelanggaran terhadap kaidah tersebut jauh dari kota Rp4.523.000,- per ha per tahun
maka harus dilakukan pengobatan. Selanjut- relatif lebih besar dari produktivitas lahan
nya pengujian kesesuaian model dilakukan tanaman pangan bagi para petani dalam
meliputi adjusted R2, uji F dan uji t (Greene, kelembagaan lahan lainnya.
2003 dan Gujarati, 2003).
Produktivitas lahan tanaman pangan para
petani yang dekat kota, sesuai kelembagaan

Tabel 1. Rata-rata Produktivitas Lahan Berdasarkan Kelembagaan Lahan dan Tenaga Kerja
di Kabupaten Gunung Kidul Tahun 2005 dalam Ribuan Rupiah per ha

Kelembagaan Lahan
Kel. Naker.
Milik Sewa LKP Sewa LHB Pnj. Lhut Rata-rata

Relatif dekat dengan kota atau pasar, mudah mengakses perkerjaan luar usahatani (1)
Upahan 3.760 3.540 0 2.390 3.688
Royongan 3.510 3.654 3.090 1.652 3.343
Arisan/RTan 3.497 2.738 2.630 1.648 3.352
Sambatan 3.336 0 0 0 3.336
Sendiri 4.277 4.346 2.902 2.284 4.071
Rata-rata (1) 3.189 3.742 2.332 1.742 3.525
Relatif jauh dari kota atau pasar, sulit mengakses perkerjaan luar usahatani (2)
Upahan 3.257 0 2.994 0 3.239
Royongan 2.621 0 2.731 0 2.648
Arisan/RTan 3.466 0 3.076 0 3.384
Sambatan 2.714 0 0 0 2.714
Sendiri 3.768 4.523 3.335 0 3.669
Rata-rata (2) 3.357 4.523 3.158 0 3.330
Rata2 (1&2) 3.251 3.829 2.927 1.742 3.449
Sumber: Analisis Data Primer
Keterangan: LKP= lahan lungguh, Kas Desa, pengarem-arem, dan milik perseorangan,
LHB = lahan milik Hamengku Buwono, Pnj. Lhut = pinjam lahan milik Kehutanan
Suwarto - Produktivitas Lahan dan Biaya Usahatani 175

tenaga kerja rata-rata Rp4.071.000,- per ha tersebut menunjukkan pentingnya intensifi-


per tahun oleh para petani yang mengerjakan kasi pemeliharaan tanaman pada lahan yang
sendiri usahataninya, relatif lebih besar dari sercara umum tidak subur dan relatif terpen-
produktivitas lahan tanaman pangan bagi car tersebut. Elastisitas produktivitas lahan
para petani dalam kelembagaan tenaga kerja atas penggunaan tenaga kerja 0,077, berarti
lainnya. Demikian pula produktivitas lahan peningkatan penggunaan tenaga kerja dapat
tanaman pangan petani yang mengerjakan meningkatkan produktivitas lahan. Dewasa
sendiri usahataninya, yang jauh dari kota, ini para petani rata-rata mengalokasikan 486
rata-rata Rp3.669.000,- per ha per tahun HOK/ha/tahun, dengan 300 HOK/ha/tahun
relatif lebih besar dari produktivitas lahan tenaga kerja keluarga untuk usahataninya.
tanaman pangan bagi para petani dalam Penggunaan tenaga kerja yang tinggi dimak-
kelembagaan tenaga kerja lainnya. sudkan petani sebagai upaya intensifikasi.
Model yang disusun untuk menjelaskan Sejalan dengan penggunaan tenaga
faktor-faktor yang mempengaruhi produkti- kerja, penggunaan pupuk nitrogen, pupuk
vitas lahan (model 1) mendapatkan F-tabel phosfat dan pupuk organik juga meningkat-
nyata pada taraf kesalahan 5 persen, dan kan produktivitas lahan. Secara berturut-turut
tidak terdapat multicollinearity. Nilai korela- elastisitas produktivitas lahan atas ketiga
si antarvariabel bebas terbesar 0,504 yaitu variabel tersebut yaitu 0,041; 0,011; dan
antara pendidikan dan umur kepala keluarga. 0,093, dan dosis pupuk yang digunakan para
Adjusted R2 sebesar 0,45 yang berarti bahwa petani rata-rata berturut-turut 170kg/ha,
45 persen variasi produktivitas lahan dapat 8kg/ha, dan 2.802 kg/ha. Dalam hal ini
dijelaskan oleh variabel-variabel bebas pada peningkatan penggunaan pupuk organik,
model yang disusun. Namun model mengin- yang umumnya adalah milik petani sendiri
dikasikan adanya heteroscedasticity, hal ter- penting untuk meningkatkan produktivitas
sebut ditunjukkan oleh hasil test hetero- lahan bagi daerah yang berlahan kering dan
scedasticity pada model varlin, stdlin, dan kurang subur tersebut
mult nyata. Untuk mengatasi pelanggaran Dari karakteristik petani yang diteliti,
terhadap kaidah heteroscedasticity tersebut pada tingkat kesalahan 5 persen pendidikan
dilakukan dengan menggunakan regresi petani berpengaruh nyata, meningkatkan
model heteroscedasticity. Nilai Likelihood produktivitas lahan. Hasil penelitian ini
Ratio (LR) nyata pada taraf kesalahan sejalan dengan pendapat Mugniesyah dan
5persen, dan ketiga model heteroscedasticity Mizuno (2003) bahwa tingkat pendidikan
(varlin, stdlin, dan mult) dapat memperbaiki penting dalam pengelolaan input produksi.
model OLS. Model heteroscedasticity dengan Namun hasil penelitian ini menunjukkan
mult mendapatkan 13 koefisien regresi nyata bahwa umur petani tidak berpengaruh nyata
dipergunakan untuk menjelaskan model terhadap produktivitas lahan. Rata-rata para
regresi. petani berumur 51 tahun, para petani telah
Elastisitas produktivitas lahan atas luas disosialisaikan pada usahatani sejak kecil,
lahan tanaman pangan -0,146 berarti pening- sehingga dengan kelembagaan lahan, tenaga
katan luas penguasaan lahan tanaman pangan kerja, dan teknologi budidaya yang dipergu-
akan menurunkan produktivitas lahan. Hal nakan para petani dewasa ini, bertambahnya
176 Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008

umur petani tidak meningkatkan produktivi- pinjaman lahan Kehutanan (berusahatani di


tas lahan. antara pohon jati muda), hal tersebut dapat
Menurut kelembagaan lahan diketahui disebabkan perbedaan kesesuaian persyaratan
bahwa produktivitas lahan pemilik-pengga- tumbuh. Persaingan antara tanaman pangan
rap pada tingkat kesalahan 5 persen lebih dengan tanaman jati akan semakin besar
tinggi dari produktivitas lahan pada kelemba- dengan semakin rapat dan bertambahnya
gaan lahan lainnya. Hal tersebut dapat umur tanaman jati dan akan menurunkan
mengindikasikan bahwa teknis budidaya para produktivitas tanaman pangan. Produktivitas
petani pemilik penggarap lebih baik. Sebalik- lahan penyewa lahan LKP pada tingkat
nya produktivitas lahan petani peminjam kesalahan 5 persen tidak berbeda dengan
lahan Kehutanan lebih rendah dari produk- produktivitas lahan para petani lainnya. Hasil
tivitas lahan petani pada kelembagaan lahan analisis tersebut menyiratkan bahwa perbeda-
lainnya. Lebih rendahnya produktivitas lahan an produktivitas lahan secara relatif (Tabel 2)
antara petani penyewa LKP dengan produkti-

Tabel 2. Hasil Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Lahan


Tanaman Pangan (Ln Ribu Rp/ha) di Kabupaten Gunung Kidul
Tahun 2005

Model OLS Heteros. (mult)


Variabel
Koef. Reg. t-hit. Koef. Reg. t-hit.
Ln lahan tan. pangan (ha) -0,136* -4,473 -0,146* -5,733
Ln tenaga kerja (HOK/ha) 0,109* 2,695 0,077* 2,365
Ln pupuk nitrogen (kg/ha) 0,026 1,694 0,041* 2,352
Ln pupuk phosfat (kg/ha) 0,007 1,820 0,011* 4,309
Ln pupuk organik (kg/ha) 0,113* 2,279 0,093* 2,286
Ln pendidikan KK (tahun) 0,014 1,581 0,017* 2,115
Ln umur KK (tahun) 0,002 0,036 0,057 1,054
Dummy Kel.lahan
- Pemilik penggarap 0,119* 2,879 0,106* 3,194
- Sewa LKP 0,174 0,935 0,057 1,142
- Pinjam lahan Kehutanan -0,393* -4,152 -0,353* -5,844
Dummy kel. Tenaga kerja
- Upahan -0,071 -1,409 -0,128* -3,009
- Royongan -0,150* -3,189 -0,152* -4,082
- Arisan atau RTan -0,100* -2,300 -0,153* -4,019
- Sambatan -0,155* -2,252 -0,170* -2,473
Dummy pekerjaan luar UT
- Pedagang dan jasa 0,020 0,531 0,063 1,888
- Tukang & pengrajin -0,018 -0,563 -0,033 1,172
Dummy lingkungan UT
- Relatif dekat kota 0,092* 2,754 0,086* 2,811
Konstanta 6,244* 13,23 6,316* 16,17
Adjusted R2 0,448 0,448
F-hitung 11,709* LR=84,44*
Sumber: Analisis Data Primer
Keterangan: LKP = lahan lungguh, Kas Desa, pengarem-arem, dan milik perseorangan, RT= rumah tangga,
UT= usahatani, *)= nyata pada α 5%.
Suwarto - Produktivitas Lahan dan Biaya Usahatani 177

vitas lahan para petani lainnya ternyata tidak rap yang dalam hal ini lebih banyak dari para
nyata. Hal tersebut dapat disebabkan oleh petani pemilik penggarap yang jauh dari kota
variasi produktivitas lahan LKP yang besar. yaitu 78 persen. Para petani relatif lebih
Menurut kelembagaan tenaga kerja, dekat dengan kota (pusat pembinaan), meng-
diketahui bahwa produktivitas lahan yang gunakan biaya produksi yang lebih besar
menggunakan tenaga kerja upahan, royong- yaitu Rp1.036.000,- per ha per tahun lebih
an, arisan atau RTan, dan sambatan sesuai tinggi dari penggunaan biaya produksi para
data pada Tabel 1 lebih rendah dari produkti- petani yang jauh dari kota yaitu Rp950.000,-
vitas lahan pada kelembagaan tenaga kerja per ha per tahun. Biaya tersebut di antaranya
lainnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa untuk pembelian pupuk nitrogen dan pupuk
penggunaan tenaga kerja keluarga lebih baik phosfat. Rata-rata biaya pembelian pupuk
dari penggunaan tenaga kerja luar keluarga. tersebut per ha per tahun sebesar
Di samping itu, para petani yang tidak meng- Rp210.362,- untuk para petani dekat kota dan
gunakan tenaga kerja luar keluarga rata-rata Rp178.293,- untuk para petani yang jauh dari
berlahan sempit, para petani tersebut dapat kota.
memelihara tanaman secara lebih intensif.
Dilihat dari pekerjaan luar usahatani, Biaya Produksi Usahatani Tanaman
petani sebagai pedagang dan penyedia jasa, Pangan
tukang dan perajin mendapatkan produktivi- Biaya produksi usahatani sebagai faktor
tas lahan tidak berbeda dengan produktivitas penting yang berpengaruh terhadap penda-
lahan petani lainnya. Hal tersebut menyirat- patan usahatani. Biaya produksi usahatani
kan bahwa kesempatan bekerja pada luar tanaman pangan para petani sesuai kelemba-
usahatani yang sekarang ini belum meng- gaan lahan rata-rata Rp1.611.000,- dan
hambat aktivitas para petani berusahatani, Rp1.422.000,- per ha per tahun oleh para
karena rata-rata luas penguasaan lahan petani penyewa lahan LKP secara berturut-
pangan hanya 0,42 ha. turut yang dekat dan yang jauh dari kota.
Menurut dummy lokasi, diketahui para Secara relatif biaya produksi usahatani
petani yang dekat dengan kota (mudah tanaman pangan per ha per tahun tersebut
mengakses pasar atau pekerjaan luar usaha- lebih besar dari biaya tersebut bagi para
tani) mendapatkan produktivitas lahan lebih petani dalam kelembagaan lahan lainnya
besar dari produktivitas lahan para petani pada masing-masing wilayah tempat tinggal
yang jauh dari kota atau pasar. Rata-rata petani.
produktivitas lahan para petani dekat kota Biaya produksi usahatani lahan tanaman
Rp3.525.000,- per ha per tahun dan produkti- pangan para petani yang dekat kota, sesuai
vitas lahan para petani yang jauh dari kota kelembagaan tenaga kerja rata-rata
atau pasar sebesar Rp3.330.000,- per ha per Rp1.272.000,- per ha per tahun oleh para
tahun. Hal tersebut di antaranya dapat petani yang menggunakan tenaga kerja
berkenaan dengan kelembagaan lahan dan upahan dalam usahataninya, relatif lebih
penggunaan input produksi. Para petani dekat besar dari biaya produksi usahatani tanaman
kota 117 KK atau 85 persen dari seluruh pangan bagi para petani dalam kelembagaan
petani tersebut adalah petani pemilik pengga-
178 Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008

tenaga kerja lainnya. Biaya produksi usaha- 0,534 yaitu antara tingkat upah tenaga kerja
tani lahan tanaman pangan petani yang luar keluarga dengan luas lahan tanaman
menggunakan tenaga kerja royongan, yang pangan. Variabel-variabel bebas pada model
jauh dari kota, rata-rata Rp905.000,- per ha yang disusun mampu menjelaskan 48persen
per tahun relatif lebih besar dari biaya dari variasi total biaya produksi tanaman
produksi usahatani tanaman pangan bagi para pangan sebagaimana nilai adjusted R2.
petani dalam kelembagaan tenaga kerja Namun model mengindikasikan adanya
lainnya. heteroscedasticity, hal tersebut ditunjukkan
Pengaruh kelembagaan lahan, tenaga oleh hasil test heteroscedasticity nyata.
kerja dan faktor-faktor lainnya terhadap Untuk mengatasi pelanggaran terhadap
biaya produksi tanaman pangan disajikan kaidah homoscedaticity tersebut dilakukan
data hasil analisis fungsi biaya pada Tabel 3. perbaikan dengan menggunakan regresi
Model yang disusun untuk menjelaskan fak- model heteroscedasticity. Nilai Likelihood
tor-faktor yang mempengaruhi variasi biaya Ratio (LR) nyata pada taraf kesalahan
produksi tanaman pangan (model 2) menda- 5persen, dan model heteroscedasticity
patkan F-Tabel nyata pada taraf kesalahan 5 dengan varlin, stdlin, mult, dan depvar dapat
persen, dan tidak terdapat multicollinearity. memperbaiki model OLS. Model heterosce-
Nilai korelasi antarvariabel bebas terbesar dasticity (varlin) mendapatkan 8 koefisien
regresi nyata (lebih banyak) pada taraf

Tabel 3. Rata-rata Biaya Produksi Usahatani Tanaman Pangan per ha Berdasarkan


Kelembagaan Lahan dan Tenaga Kerja di Kabupaten Gunung Kidul
Tahun 2005 dalam Ribuan Rupiah

Kelembagaan Lahan
Kel. Naker.
Milik Sewa LKP Sewa LHB Pnj. LHut Rata-rata

Relatif dekat dengan kota atau pasar, mudah mengakses perkerjaan luar usahatani (1)
Upahan 1.215 1.868 0 1.334 1.272
Royongan 1.051 1.425 866 566 1.041
Arisan/RTan 995 1.419 814 537 977
Sambatan 749 0 0 0 749
Sendiri 786 1.628 718 418 877
Rata-rata (1) 1.018 1.611 794 684 1.029
Relatif jauh dari kota atau pasar, sulit mengakses perkerjaan luar usahatani (2)
Upahan 895 0 575 0 873
Royongan 900 0 920 0 905
Arisan/RTan 801 0 881 0 818
Sambatan 701 0 0 0 701
Sendiri 832 1.422 708 0 814
Rata-rata (2) 836 1.422 774 0 830
Rata2 (1&2) 950 1.590 780 684 951
Sumber: Analisis Data Primer
Keterangan: LKP= lahan lungguh, Kas Desa, pengarem-arem, dan milik perseorangan, LHB = lahan milik
Hamengku Buwono, Pnj. Lhut = pinjam lahan milik Kehutanan
Suwarto - Produktivitas Lahan dan Biaya Usahatani 179

Tabel 4. Hasil Analisis Fungsi Biaya Produksi Usahatani Tanaman Pangan (Ln Ribu Rp/ha)
di Kabupaten Gunung Kidul Tahun 2005

Model OLS Heteros. (Varlin)


Variabel
Koef. Reg. t-hit. Koef. Reg. t-hit.
Ln upah naker. (ribuRp/HOK) 0,038 1,793 0,040* 2,095
Ln harga pupuk N (ribuRp/kg) 0,114 0,501 0,010 0,061
Ln harga pupuk P (ribuRp/kg) 0,018* 2,943 0,021* 4,161
Ln harga pupuk org (ribuRp/kg) 0,400* 5,347 0,460* 10,37
Ln jum. kel. kerja (orang) -0,012 -0,253 -0,021 -0,508
Ln luas lahan pangan (m2) -0,028 -0,706 -0,046 -1,359
Ln produktvitas lhn (ribuRp/ha) 0,305* 3,676 0,309* 4,674
Ln pendidikan KK(tahun) 0,021 1,959 0,015 1,770
Ln Umur KK (tahun) 0,112 1,471 0,127* 2,112
Dummy Kel.lahan
- Pemilik penggarap 0,011 0,204 0,018 0,461
- Sewa LKP 0,528* 5,425 0,513* 6,827
- Pinjam lahan Kehutanan -0,150 -1,207 -0,244* -2,345
Dummy kel. Tenaga kerja
- Upahan 0,171* 2,209 0,153* 2,215
- Royongan 0,102 1,353 0,093 1,439
- Arisan atau RTan 0,017 0,242 -0,006 -0,100
- Sambatan 0,002 0,020 -0,017 -0,200
Dummy pekerjaan luar UT
- Pedagang dan jasa 0,050 1,091 0,048 1,237
- Tukang & pengrajin 0,025 0,612 0,009 0,277
Dummy lingkungan UT
- Relatif dekat ko ta 0,008 0,195 0,006 0,190
Konstanta 5,168* 5,549 5,435* 7,323
adjusted R2 0,484 0,484
F-hitung 12,06* LR=101*
Sumber: Analisis Data Primer
Keterangan: LKP = lahan lungguh, Kas Desa, pengarem-arem, dan milik perseorangan, RT= rumah tangga,
UT= usahatani, *)= nyata pada α= 5%.

kesalahan 5 persen, selanjutnya dipergunakan para petani yang menggunakan tenaga kerja
untuk menjelaskan model regresi. royongan, di samping tingkat upah sama
Elastisitas biaya produksi usahatani dengan upah tunai, juga membayar upahnya
tanaman pangan per ha atas tingkat upah setelah panen, namun penggunaannya harus
tenaga kerja positif nyata yaitu 0,040. Berarti melalui kelompok kerja.
jika tingkat upah tenaga kerja per ha naik 10 Elastisitas biaya produksi usahatani tana-
persen maka biaya produksi usahatani per ha man pangan per ha atas harga pupuk phosfat
akan naik 0,4 persen. Pada umumnya para positif yaitu 0,021. Berarti jika harga pupuk
petani menggunakan tenaga kerja luar phosfat naik 10 persen maka biaya usahatani
keluarga di samping memperhatikan tingkat per ha akan naik 0,21 persen. Harga pupuk
upah, juga waktu pembayarannya. Seperti phosfat Rp1.600 per kg, harga pupuk tersebut
180 Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008

dinilai mahal. Tidak banyak petani yang sebagai faktor produksi yang tidak dibayar,
menggunakan pupuk phosfat, dalam hal ini pada sisi lain dalam kelembagaan tenaga
dosis pupuk phosfat para petani rata-rata baru kerja (arisan atau RTan) terdapat pertukaran
8 kg/ha/ tahun. Berbeda dengan dosis pemu- faktor produksi tersebut. Para petani yang
pukan nitrogen (urea) yang rata-rata 170 berlahan sempitpun menggunakan tenaga
kg/ha/ tahun. Penggunaan pupuk yang tidak kerja luar keluarga. Demikian pula, elastisitas
berimbang tersebut perlu diteliti, jangan biaya produksi terhadap luas lahan tanaman
sampai karena pengaruh penggunaan pupuk pangan negatif, namun tidak nyata. Rata-rata
phosfat yang tidak segera tampak sebagai- luas penguasaan lahan tanaman pangan para
mana pengaruh pupuk urea sehingga pupuk petani rata-rata 0,42 ha, dalam hal ini jika
phosfat banyak ditinggalkan oleh petani. luas lahan tanaman pangan ditingkatkan
Harga pupuk nitrogen, urea Rp1.100 per diduga intensitas pemeliharaan tanaman oleh
kg belum berpengaruh nyata terhadap biaya para petani belum menurun.
produksi usahatani tanaman pangan. Hal ter- Elastisitas biaya produksi tanaman
sebut dapat berkenaan dengan sifat-sifat pangan per ha terhadap produktivitas lahan
pupuk nitrogen dan kebutuhan unsur hara positif yaitu 0,309. Berarti jika produktivitas
tersebut pada tanaman pangan. Pupuk nitro- lahan menghendaki meningkat 10persen
gen bersifat mobile, mudah tercuci oleh air maka pembudidayaan tanaman harus lebih
hujan atau menguap karena panas matahari, intensif, dengan biaya produksi per ha
sehingga diperlukan cara pemupukan yang meningkat 3,09 persen. Dalam hal ini para
benar supaya terserap dengan baik oleh petani sebenarnya telah berupaya membudi-
tanaman. Pada sisi lainnya pupuk nitrogen dayakan tanaman dengan baik, walaupun
sangat diperlukan tanaman, karena keter- diutarakan banyak petani mengenai ketidak-
sediaannya terbatas dan esensial bagi per- berdayaan petani dalam menanggulangi
tumbuhan tanaman. serangan hama dan penyakit, keterbatasan
Elastisitas biaya produksi usahatani modal, dan pengaruh faktor alam seperti
tanaman pangan per ha atas harga pupuk curah hujan.
organik positif yaitu 0,460. Berarti jika harga Elastisitas biaya produksi usahatani
pupuk organik naik 10persen maka biaya tanaman pangan terhadap tingkat pendidikan
usahatani per ha akan naik 4,60 persen. Hal positif tetapi tidak nyata pada tingkat kesa-
tersebut menunjukkan walaupun harga pupuk lahan 5 persen, dan nyata pada tingkat
organik murah, kurang lebih Rp70,-/kg, kesalahan 5 persen pada model perbaikan
namun karena dipergunakan secara luas oleh heteroscedasticity (depvar). Dalam hal ini
para petani maka kenaikan harga pupuk terdapat indikasi bahwa meningkatnya pendi-
tersebut meningkatkan biaya produksi secara dikan petani meningkatkan biaya produksi
nyata. usahatani tanaman pangan, seperti mening-
Elastisitas biaya produksi terhadap jum- katnya penggunaan tenaga kerja luar keluar-
lah tenaga kerja keluarga negatif, namun ga. Di samping itu, dewasa ini sebagian
tidak nyata. Hal tersebut diduga berkaitan petani yang berpendidikan SLTA banyak
dengan kelembagaan tenaga kerja pada usa- yang berusaha mendapatkan pekerjaan non
hatani. Pada satu sisi tenaga kerja keluarga usahatani. Demikian pula elastisitas biaya
Suwarto - Produktivitas Lahan dan Biaya Usahatani 181

produksi terhadap tingkat umur petani positif lainnya tidak berbeda. Hal tersebut karena
dan nyata. Hasil penelitian mengindikasikan para petani pemilik penggarap tidak menge-
peningkatan umur petani meningkatkan luarkan biaya sewa lahan sebagaimana para
penggunaan tenaga kerja luar keluarga. petani penyewa LKP, dan penyewa lahan
Dalam hal ini dapat dipahami bahwa banyak HB. Pada sisi lain, petani pemilik penggarap
pekerjaan usahatani yang memerlukan bantu- memperoleh produktivitas lahan lebih besar
an petani lainnya, seperti dalam persiapan dari produktivitas lahan para petani lainnya
tanam, mengangkut input produksi seperti yang dapat berpengaruh pada biaya produksi
pupuk kandang, dan hasil panen. (Tabel 2).
Berdasarkan kelembagaan lahan, biaya Biaya produksi usahatani tanaman
produksi usahatani tanaman pangan per ha pangan per ha sesuai kelembagaan tenaga
petani penyewa LKP lebih besar dari biaya kerja pada usahatani diketahui bahwa biaya
tersebut pada para petani lainnya. Hal tersebut bagi petani yang menggunakan
tersebut karena biaya sewa lahan LKP cukup tenaga kerja upahan sesuai data pada Tabel 3
besar, dalam hal ini lebih besar dari biaya bagi para petani yang relatif dekat kota, lebih
sewa lahan HB (Tabel 5). besar dari biaya produksi usahatani tanaman
Biaya produksi usahatani tanaman pangan per ha para petani dalam kelembaga-
pangan per ha petani peminjam lahan Kehu- an tenaga kerja lainnya. Dalam hal ini para
tanan lebih rendah dari biaya tersebut pada petani yang menggunakan tenaga kerja
petani dalam kelembagaan lahan lainnya. upahan secara relatif juga lebih banyak
Dalam hal ini karena petani peminjam lahan menggunakan biaya tenaga kerja borongan
Kehutanan tidak membayar sewa, dan pada dari penggunaan biaya tenaga tersebut pada
sisi lain produktivitas lahan pinjaman kehu- petani lainnya.
tanan lebih rendah dari produktivitas lahan Biaya produksi usahatani per ha petani
para petani lainnya (Tabel 2). Antara biaya yang menggunakan tenaga kerja royongan,
produksi usahatani tanaman pangan per ha arisan atau RTan, dan sambatan, masing-
petani pemilik penggarap dengan biaya masing tidak berbeda dengan biaya tersebut
produksi usahatani tersebut pada petani pada petani lainnya. Hal tersebut sebagai

Tabel 5. Rata-rata Luas Lahan dan Nilai Sewa Lahan per Tahun Para Petani di Kabupaten
Gunung Kidul Tahun 2005

Kelembagaan Lahan

Lokasi Lahan LKP Lahan HB

(ha) Sewa ribuRp ribuRp/ha (ha) Sewa ribuRp ribuRp/ha)


Dekat kota 3,08 2.240 727 2,200 292 133
Jauh kota 1,64 950 579 8,040 954 119
Jumlah 4,72 3.190 676 10,240 1.246 122
Sumber: Analisis Data Primer
Keterangan: LKP= lahan lungguh, Kas Desa, pengarem-arem dan milik perseorangan, HB = Hamengku Buwono
182 Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008

akumulasi dari semua biaya yang dikeluarkan dari produktivitas lahan para petani yang
para petani yang secara keseluruhan tidak jauh dari pasar atau kota.
berbeda. 2. Tingkat upah tenaga kerja, harga pupuk
Dilihat dari pekerjaan luar usahatani, P, dan harga pupuk organik meningkat-
total biaya produksi usahatani per ha antara kan biaya produksi tanaman pangan.
para petani sebagai pedagang dan penyedia Demikian pula umur petani berpengaruh
jasa, tukang dan perajin dengan biaya terse- terhadap biaya produksi tanaman pangan.
but pada para petani lainnya tidak berbeda. Biaya produksi tanaman pangan petani
Demikian pula antara biaya produksi usaha- penyewa LKP lebih besar dari biaya
tani tanaman pangan per ha para petani yang tersebut bagi para petani petani lainnya.
dekat dengan kota atau pasar tidak berbeda Sebaliknya biaya produksi tanaman
dengan biaya usahatani tersebut bagi para pangan petani peminjam lahan Kehutan-
petani yang jauh dari kota atau pasar Hal an lebih kecil dari biaya tersebut bagi
tersebut dapat mencerminkan akumulasi dari para petani lainnya. Biaya produksi ta-
keseluruhan biaya produksi usahatani tanam- naman pangan petani yang menggunakan
an pangan per ha para petani tersebut secara tenaga kerja upahan lebih besar dari
keseluruhan tidak berbeda. biaya tersebut bagi para petani lainnya.
Biaya produksi tanaman pangan petani
yang menggunakan tenaga kerja royong-
KESIMPULAN an, arisan atau RTan, dan sambatan tidak
1. Penggunaan tenaga kerja, pupuk nitro- berbeda dengan biaya tersebut bagi para
gen, pupuk phosfat, dan pupuk organik petani lainnya. Demikian pula biaya pro-
meningkatkan produktivitas lahan. Ting- duksi tanaman pangan petani sebagai
kat pendidikan berpengaruh nyata terha- pedagang dan penyedia jasa, tukang dan
dap produktivitas lahan, namun umur perajin tidak berbeda dengan biaya terse-
petani tidak berpengaruh nyata terhadap but bagi para petani sebagai buruh tani
produktivitas lahan. Produktivitas lahan dan yang tidak bekerja pada luar usa-
para petani pemilik penggarap lebih hatani.
tinggi dari produktivitas lahan petani Implikasi kebijakan dari penelitian ini
lainnya. Sebaliknya, produktivitas lahan sebagai berikut:
para petani peminjam lahan Kehutanan
a. Petani peminjam lahan Kehutanan
lebih rendah dari produktivitas lahan
menguasai lahan sempit, dengan tingkat
petani lainnya. Produktivitas lahan para
produktivitas rendah, maka diperlukan
petani penyewa LKP tidak berbeda
upaya pemberian konsesi luas pengua-
dengan produktivitas lahan petani lain-
saan lahan yang lebih memadai serta
nya. Produktivitas lahan para petani yang
pemberdayaan usahatani.
mengerjakan sendiri usahataninya lebih
tinggi dari produktivitas lahan petani b. Penggunaan tenaga kerja luar keluarga
yang menggunakan tenaga kerja luar menurunkan produktivitas lahan, oleh
keluarga. Produktivitas lahan para petani karena itu diperlukan pemberdayaan ter-
yang dekat pasar atau kota lebih tinggi hadap kelembagaan tenaga kerja pada
Suwarto - Produktivitas Lahan dan Biaya Usahatani 183

usahatani, utamanya terhadap tenaga di Lampung. Jurnal Ekonomi Indone-


kerja wanita yang selama ini dominan sia, Jakarta. 2 (1): 51-73.
dalam perannya sebagai tenaga kerja Mugniesyah, S.S.M. and K. Mizuno, 2003.
dalam kelompok kerja. Gender, Poverty and Peasant Household
Survival Strategies a Case Study in Dry
Land Village in West Java. Proceedings
DAFTAR PUSTAKA
of the 1st Seminar, Toward Harmoniza-
Fujimoto. 1996. Rice Land Ownership and tion between Development and Envi-
Tenancy System in Southeast Asia: ronmental Conservation in Biological
Facts and Issues Based on Ten Village Production, February 21-23, 2001,
Studies. The Developing Economics. Yayoi Auditorium Graduate School of
Institute of Developing Economics, To- Agricultural and Life Sciences, Tokyo:
kyo, Japan. 34 (3): 281-315. The University of Tokyo: 63-78.
Greene, W.H., 2003. Econometric Analysis. Nicholson, W., 1998. Microeconomic The-
Fifth Ed. Upper Saddle River, New Jer- ory, Basic Principles and Extensions,
sey: Prentice Hall. Seventh Edition. Fort worth Philadel-
Gudjarati, D.N., 2003. Basic Econometrics, phia: The Dryden Press, Harcourt Brace
Forth Ed. Boston: McGraw Hill. Collage Publishers.
Hartono, S., N. Iwamoto, and S. Fukui, 2001. Pindyck, R.S and D.L. Rubinfeld. 2001. Mi-
Characteristics of Farm Household Eco- croeconomics. Fifth Edition. London,
nomy and Its Flexibility, a Case Study New York: Prentice Hall International,
in Central Java Villages. Proceedings of Inc.
the 1st Seminar, Toward Harmonization Sangwan, S.S., 2000. Emerging Credit De-
between Development and Environ- mand of Tenants in Haryana. Indian
mental Conservation in Biological Journal of Agricultural Economics.
Production, February 21-23, 2001, Mumbai: Indian Society of Agricultural
Yayoi Auditorium Graduate School of Economics. 55 (3): 317-330.
Agricultural and Life Sciences, the
Sharma, H.R., 2000. Tenancy Relation in
University of Tokyo, Japan: 23-30.
Rural India: A Temporal and Cross-
Hartono, S., 2003. Pengembangan Bisnis Sectional Analysis. Indian Journal of
Petani Kecil. Sri Widodo (Ed). Peranan Agricultural Economics. Mumbai: In-
Agribisnis Usaha Kecil dan Menengah dian Society of Agricultural Economics.
untuk Memperkokoh Ekonomi Nasional. 55 (3): 295-307
Yogyakarta: Liberty: 11-26.
Sri Widodo. 1986. An Econometric Study of
Heady, O.E., and J.H. Dillon, 2002. Agri- Rice Production Efficiency among Rice
cultural Production. Ames, Iowa: Iowa Farmers in Irrigated Lowland Villages
State University Press. in Java, Indonesia. Disertasi S3. Tokyo
Jatileksono, T., 1993. Ketimpangan Penda- University of Agriculture.
patan di Pedesaan: Kasus Daerah Padi
Jurnal Ekonomi Pembangunan
Vol. 9, No. 2, Desember 2008, hal. 184 - 197

ANALISIS KOMPETENSI PRODUK UNGGULAN DAERAH PADA


BATIK TULIS DAN CAP SOLO DI DATI II KOTA SURAKARTA

Daryono Soebagiyo 1
M. Wahyudi 1
1
Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Surakarta
E mail: dsoebagyo@yahoo.com

ABSTRACT
This research concerning local prominent product competency of ‘batik tulis’ and
‘batik cap’ in Surakarta. Two kinds of these batik are production of small and middle
scale industry (IKM Batik) where IKM Batik has became one of economy prime acti-
vator in Surakarta. In this research, writers apply research methods as follows:
Bayes approach technique for getting priority prominent product rank, Analytical
Hierarchy Process (AHP) by using Expert Choice Software, with aim to know
prominent competency of IKM in Surakarta, and Value Chain Economic Analysis
started with chain mapping to priority prominent product which appertained as main
rank. Research result indicates that competency approach in local industrial devel-
opment relevant enough for increasing local competitiveness and finally increasing
national competitiveness. It can be happened considering that competency approach
try to exploit local excess and excellence uniquely.
Keywords: bayers method, analytical hierarchy process, chain mapping

PENDAHULUAN dilakukan secara komprehensif dan integratif,


Kebijakan pembangunan industri jangka yang didukung secara simultan dengan
menengah saat ini (2004-2009) diarahkan pengembangan industri terkait (related
pada pengembangan dan penumbuhan klus- industries) dan industri penunjang (support-
ter-kluster industri, yang sementara ini ing industries). Dalam pelaksanaannya, pem-
berjumlah sepuluh kelompok industri, yaitu: bangunan industri dimaksud seharusnya juga
(i) industri makanan dan minuman, (ii) dilakukan dengan sinergi dan terintegrasi
industri pengolahan hasil laut, (iii) industri dengan pembangunan sektor lain seperti
tekstil dan produk tekstil, (iv) industri alas pertanian dan jasa. Dukungan kelembagaan
kaki, (v) industri kelapa sawit, (vi) industri juga harus bersinergi dengan dengan koordi-
barang kayu (termasuk rotan), (vii) industri nasi kelembagaan terkait lainnya.
karet dan barang karet, (viii) industri pulp Dengan mempertimbangkan kondisi
dan kertas, (ix) industri mesin listrik dan pembangunan industri, baik di tingkat nasio-
peralatannya, (x) serta industri petrokimia. nal maupun daerah, dan dalam rangka
Dalam kebijakan pembangunan industri, peningkatan daya saing, maka pembangunan
pengembangan sepuluh kluster industri inti industri dilaksanakan dengan melakukan
Daryono dan Wahyudi - Analisis Kompetensi Unggulan Daerah 185

sinergi antara perencanaan di tingkat nasional tasi sumberdaya dan kemampuan organisasi
atau pusat dan perencanaan di tingkat daerah. secara unik. Keunikan ini merupakan nilai
Hal ini dilakukan dengan dua pendekatan tersendiri yang tidak dimiliki daerah lain, dan
sekaligus, yaitu pendekatan top down dan oleh karena itu akan menjadi keuntungan
pendekatan bottom up. Pendekatan top down bagi daerah yang memilikinya. Penerapan
pembangunan industri direncanakan dengan kompetensi secara nasional dapat diterjemah-
memperhatikan prioritas yang ditentukan kan dengan memperkenalkan satu produk
secara nasional dan diikuti oleh partisipasi unik pada setiap daerah yang berbeda. Hal ini
daerah. Hal ini biasa dikenal dengan dilakukan agar seluruh sumberdaya dan
pembangunan berdasarkan disain (by design) kemampuan yang dimiliki daerah tersebut
nasional. Pendekatan bottom up dilakukan terfokus pada upaya untuk menciptakan
dengan penetapan kompetensi inti yang kompetensi yang bersifat unik.
merupakan keunggulan daerah. Penggunaan Sesuai dengan sumber dan perkemba-
kompetensi inti sebagai unggulan daerah ini ngan konsep kompetensi, maka dalam usaha
dimaksudkan agar daerah memiliki daya membangun kompetensi (baik berupa
saing dan meningkatkan daya saingnya. produk, layanan atau komoditi) seharusnya
Praktek perencanaan dengan dua pende- memperhatikan kriteria-kriteria yang relevan
katan ini tercermin dari pelaksanaan rencana dengan kebutuhan peningkatan daya saing,
pembangunan industri. Berdasarkan disain yaitu keunikan (dan sulit ditiru), kemampuan
nasional, kebijakan industri secara nasional memberi manfaat lebih, atau kemampuan
dilakukan dengan menentukan industri prio- memberi keuntungan dengan korbanan yang
ritas, yaitu dikenalkannya 32 industri priori- lebih efisien.
tas dengan pendekatan kluster. Kemudian, Pada konteks daerah, pemilihan kompe-
secara bottom up, pemerintah telah secara tensi seharusnya mempertimbangkan kondisi
aktif melakukan sosialisasi dan mengajak daerah dengan tetap memperhatikan kriteria
daerah berpartisipasi dalam pembangunan persaingan seperti: adanya nilai tambah yang
kompetensi pada setiap daerah prioritas. tinggi, adanya sifat yang unik, adanya keter-
Penggunaan kompetensi dalam pembangu- kaitan dan peluang untuk bersaing di pasar
nan industri daerah cukup relevan untuk luar daerah (bahkan internasional). Dengan
tujuan peningkatan daya saing daerah dan kata lain, pemilihan dan penentuan kompe-
akhirnya juga peningkatan daya saing tensi seharusnya memberi dampak yang
nasional. Hal ini dapat terjadi mengingat besar dalam memberi stimulus perekonomian
bahwa pendekatan kompetensi berusaha daerah. Yang lebih penting lagi hal tersebut
mengeksploitasi kelebihan dan keunggulan harus dilakukan dengan memperhatikan
daerah secara unik. Kompetensi di sini dide- kemampuan sumberdaya daerah.
finisikan sebagai kumpulan keterampilan dan
Surakarta merupakan kota yang memili-
teknologi yang memungkinkan suatu organi-
ki banyak IKM, di mana IKM di Surakarta
sasi dapat menyediakan manfaat tersendiri
adalah sebagai penggerak utama ekonomi
secara unik kepada pelanggannya. Hal ini
masyarakat. Data IKM Surakarta pada tahun
diterjemahkan dalam pembangunan industri
2007 mencapai 80 persen jumlah usaha
daerah dengan mencoba melakukan eksploi-
dengan kontribusi penyerapan tenaga kerja
186 Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008

mencapai lebih dari 95 persen. Untuk usaha investasi sebesar Rp.57.895.790.000 dan
menengah di Surakarta terdapat kurang lebih sektor informal meliputi 4.070 unit usaha
85 unit usaha menyerap 10.608 orang dengan digerakkan oleh 12.055 tenaga kerja dengan
nilai investasi sebesar Rp.45.870.748.000. investasi sebesar Rp.15.071.040.000 (Tabel
Usaha kecil sebanyak 1.061 unit menyerap 1)
tenaga kerja 24.954 orang dengan nilai Perkembangan sektor industri di kota

Tabel 1. Data Industri Kota Surakarta Tahun 2006

No. Uraian Tenaga Kerja Nilai Investasi Nilai Produksi Jumlah Unit Usaha
1. Industri Kecil 24.954 57.895.790 4.239.889.800 1061
2 Industri menengah 7.560 45.870.748 1.127.798.350 85
3. Industri besar 10.608 297.795.960 1.017.089.000 41
4. Non Formal 12.055 15.071.040 1.592.397.420 4.070
Jumlah 55.177 416.633.538 7.977.174.570 5.257
Sumber: Rencana Pengembangan Industri di Surakarta, Disperindag. 2007.

Tabel 2. Produk IKM Kota Surakarta

No Nama Produk/Industri Nilai Investasi Unit Jumlah Kapasitas


Produksi/ Usaha Tenaga Kerja Produksi/
tahun (000) tahun
1 Alat Musik 270.225 138.380.000 2 68 3.603
2 Batik dan Produk Batik 48.008.448.000 672.333.340 7 108 480.084.480
3 Bengkel 480.334.240 772.350.000 13 91 12.008.356
4 Elastik 120.000 104.000.000 1 10 24.000
5 Fiber Glass 1.000 30.000.000 1 5 200
6 Foto Stodio 4.400 40.000.000 1 4 220
7 Handicraft 997.800 389.837.000 5 20 16.630
8 Kapur Semut 30.000 16.000.000 1 2 60.000
9 Kaset 33.000 21.500.000 1 1 3.000
10 Kemasan 188.000 32.040.000 3 11 37.600
11 Kimia 1.000 24.500.000 1 41 2
12 Kosmetik 1.095.000 152.232.500 3 12 73.000
13 Logam 12.720 53.415.000 2 8 636
14 Makanan 180.544.134,5 3.386.740.000 37 142 361.088.269
15 Mebel 2.789.000 2.048.751.000 5 105 5.578
16 Mesin Industri 342.000 175.600.000 3 25 456
17 Obat-obatan 2.750.000 50.000.000 1 5 50.000
18 Pengolahan Hasil Bumi 6.300 40.000.000 1 4 180
19 Percetakan 9.152.955 3.220.009.500 23 194 9.152.955
20 Plastik 6.394.012,5 8.802.650.000 7 1.088 852.535
21 Pupuk 7.500 60.000.000 1 3 100
22 Rokok Kretek 245.000 40.650.000 1 6 700.000
23 Shuttle Cock 96.000 38.800.000 1 5 96.000
24 Tekstil dan Produk Tekstil 25.271.415.000 663.385.000 10 2.523 336.952.200
25 Timbangan 72.750 251.560.000 4 34 4.850
26 Transportasi 22.000 40.000.000 1 7 400
Daryono dan Wahyudi - Analisis Kompetensi Unggulan Daerah 187

Surakarta, di masa datang dititikberatkan Metode dan alat analisis yang dipergu-
pada industri kecil dan kerajinan rakyat. Data nakan dalam pengkajian kompetensi unggul-
Desperindag yang dikumpulkan saat pra- an IKM Kota Surakarta dilakukan dengan
survei yang dilakukan oleh peneliti (2007) menggunakan teknik pendekatan:
menunjukkan bahwa jumlah industri kecil di a. Metode Bayes, guna memperoleh
kota Solo mencapai 3.821 industri, sedang peringkat produk unggulan prioritas.
industri besar dan menengah ada 56 industri
b. Analytical Hierarchy Process (AHP)
dengan tenaga kerja yang terserap berjumlah
dengan mengaplikasikan Software Expert
38.765 orang. Dari beberapa jenis industri
Choice, yang bertujuan untuk mengeta-
yang ada di kota Surakarta (Solo) terdapat
hui Kompetensi Unggulan IKM Daerah
produk unggulan yaitu; usaha batik dan kon-
Kota Surakarta
veksi Beberapa produk komoditi Industri
c. Analisis Ekonomi Rantai Nilai, yang
Kecil Menengah (IKM) tersebut terlihat
dimulai dengan melakukan pemetaan
dalam Tabel 2.
rantai (chain map) atas produk unggulan
Dengan melihat persoalan tersebut priotitas yang tergolong sebagai pering-
maka, penelitian ini akan mencoba menga- kat utama, dengan menggambarkan seca-
nalisis Kompetensi Unggulan Daerah pada ra garis besar tahapan mulai dari input
Produk Batik Tulis dan Batik Cap Solo di hingga pemasaran produk sampai ke
Dati II Kota Surakarta. tangan konsumen. Kemudian masing-
masing mata rantai nilai diidentifikasi
METODE PENELITIAN apa yang menjadi kekuatan atau kompe-
Dalam penelitian ini diketengahkan bahwa tensinya. Untuk selanjutnya dikuantifika-
kompetensi IKM daerah Kota Surakarta si dan dinilai Analisis Ekonomi Rantai
Nilainya.
adalah keunggulan yang dimiliki daerah yang
unik meliputi aspek Keterampilan Manusia,
Sumber Daya Alam, Lingkungan, Budaya, HASIL PENELITIAN DAN
dan Prospek Pasar, baik untuk produk primer PEMBAHASAN
maupun produk olahan.
Profil Industri Kecil dan Menengah
Adapun ciri-ciri kompetensi inti daerah
terdiri dari 3 yaitu: Usaha kecil dan menengah idealnya memang
membutuhkan peran dan campur tangan dari
1. Memiliki akses potensial ke berbagai
pemerintah dalam peningkatan kemampuan
pasar – kompetensi daerah harus dapat
bersaing. Sungguhpun demikian, yang perlu
mengembangkan produk atau jasa baru
diperhatikan adalah bahwa kemampuan di
2. Kompetensi daerah harus menciptakan sini bukan dalam arti kemampuan untuk
kontribusi nyata untuk mendapatkan bersaing dengan usaha/industri besar, tetapi
manfaat produk akhir. lebih pada kemampuan untuk memprediksi
3. Kompetensi daerah seharusnya memiliki lingkungan usaha dan kemampuan untuk
sesuatu yang sulit ditiru oleh kompetitor mengantisipasi kondisi lingkungan tersebut.
lain/daerah lain, dengan kata lain bersifat Terdapat karakteristik khusus dari suatu
unik.
188 Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008

produk yang cocok untuk industri kecil dan mengembangkan pengusaha yang sudah ada
ada kelompok produk yang cocok untuk supaya menjadi tangguh, atau (ii) mengem-
industri besar. Industri kecil tidak akan bangkan wirausaha baru yang tangguh.
mampu bertahan pada kelompok produk Strategi (program) pengembangan untuk
yang cocok untuk industri besar. Dan kedua kondisi tersebut haruslah berbeda
sebaliknya, industri besar tidak akan tertarik (spesifik). Bahkan strategi pengembangan
untuk masuk dan bersaing dalam kelompok untuk pengusaha yang sudah ada pun tidak
produk yang cocok untuk industri kecil, dapat dilakukan dengan “penyeragaman”.
karena dengan pertimbangan efisiensi skala Apa yang disebutkan oleh Haeruman di atas
usaha. (Stanley dan Morse, 1965). adalah kondisi yang digeneralisasi. Tiap jenis
Peran kebijakan pemerintah bukan saja usaha, bahkan tiap pengusaha pada jenis
pada pemberian modal, tetapi lebih pada yang sama akan mempunyai permasalahan
membina kemampuan industri kecil dan yang berbeda. Diperlukan suatu studi yang
membuat suatu kondisi yang mendorong matang dan mendalam (diagnosis) untuk
kemampuan industri kecil dalam mengakses mengetahui apa sebenarnya permasalahan
modal atau dengan kata lain, pemerintah yang dihadapi oleh industri kecil menengah
harus membina kemampuan industri kecil yang akan dibina. Tanpa studi dan perenca-
dalam menghitung modal optimum yang naan yang matang, maka usaha program
diperlukan, kemampuan menyusun suatu pengembangan (meski dengan niat yang
proposal pendanaan ke lembaga-lembaga baik) akan menemui banyak kendala, misal-
pemberi modal, serta mengeluarkan kebijak- nya: (a) salah sasaran, (b) sia-sia (mubazir),
an atau peraturan yang lebih memihak dan (c) banyak manipulasi dalam implemen-
industri kecil dalam pemberian kredit. tasinya. Kasus munculnya koperasi dan
Menurut Haeruman (2000), bahwa tantangan industri kecil menengah “dadakan” ketika
bagi dunia usaha, terutama pengembangan diluncurkan kebijakan kredit tanpa bunga
IKM, mencakup aspek yang luas, antara (kredit dengan bunga yang rendah), dapat
lain;(1) Peningkatan kualitas SDM dalam hal dijadikan salah satu contoh kegagalan usaha
kemampuan manajemen, organisasi dan tek- pengembangan insustri kecil menengah yang
nologi, (2) Kompetensi kewirausahaan, (3) dilakukan pemerintah.
Akses yang lebih luas terhadap permodalan,
(4) Informasi pasar yang transparan, (5) Keunggulan Berbasis Kompetensi
Faktor input produksi lainnya, dan (6) Iklim
usaha yang sehat yang mendukung inovasi, Perkembangan terbaru tentang paradigma
kewirausahaan dan praktek bisnis serta perusahaan atau organisasi yang berbasis
persaingan yang sehat. sumberdaya adalah adanya fokus pada suatu
basis, sesuai yang melampaui asset-asset
Namun permasalahan yang dihadapi
tangible dan intangible, tentang keunggulan
oleh pemerintah dalam upaya pengembangan
berbasis sumberdaya, yaitu kompetensi.
wirausaha industri kecil menengah yang
Dalam kerangka ini, perusahaan fokus pada
tangguh adalah pemilihan dan penetapan
kompetensi inti. Suatu kompetensi inti dapat
strategi (program) untuk dua kondisi yang
didefinisikan sebagai seperangkat ketrampil-
berbeda. Kondisi yang dimaksud adalah: (i)
Daryono dan Wahyudi - Analisis Kompetensi Unggulan Daerah 189

an dan teknologi yang terintegrasi. Suatu Kota Solo


kompetensi perusahaan bukan suatu hal yang
Kota Solo adalah kota yang memiliki banyak
sama dengan ketrampilan individu personel-
industri kecil menengah, sebagai penggerak
nya, tetapi merupakan integrasi dari keteram-
utama ekonomi masyarakat, yang memberi
pilan-keterampilan yang ada. Hal ini juga
Kontribusi besar bagi pendapatan daerah dan
tidak sama dengan sumberdaya, sebab kom-
memegang peranan penting bagi pertum-
petensi lebih merupakan suatu asset. Perusa-
buhan perekonomian daerah. (Tabel 3)
haan, jaringan distribusi, brand kesemuanya
merupakan asset (dan sumberdaya), Sung- Usaha/Industri Kecil dan Menengah di
guhpun demikian, suatu kemampuan khusus kota Solo yang banyak jumlahnya dan
untuk mengelola perusahaan, jaringan distri- macam produknya. Yang tercatat di data
busi, atau brand adalah merupakan kompe- laporan Disperindag Kota Solo terdapat 26
tensi. macam produk. Prioritas. Tetapi dari 26
macam produk prioritas tersebut terdapat 7
Suatu kompetensi dapat dikatakan disini
produk yang potensial dapat dikembangkan
apabila memenuhi syarat syarat tertentu.
di Kota Solo.
Yang utama, syarat untuk kompetensi adalah
keterbukaan terhadap pasar baru, kemung- Industri kecil menengah yang paling
kinan-kemungkinan baru, sifat yang adaptif. menonjol yang diutamakan bagi Kota
Manager suatu perusahaan yang memiliki Surakarta apabila ditilik dari besarnya nilai
suatu kompetensi harus berpikir tentang produksi dan besarnya nilai investasi tentu-
bagaimana seperangkat ketrampilan yang nya adalah Batik dan Produk Batik, Tekstil
terintegrasi diterapkan pada domain-domain dan Produk Tekstil serta Makanan yang
produk baru. Oleh karena itu pandangan yang menghasilkan berbagai aneka makanan dan
berbasis kompetensi berangkat dari fokus makanan ringan. Ketiga produk ini merupa-
pada strategi level bisnis dan mulai kan trade mark bagi Kota Surakarta atau
menghadapi strategi level korporasi, dan Solo, dari sisi Produksi yang dihasilkan
menentukan jenis usaha (bisnis) yang tepat. daerah (Tabel 4)
Suatu studi penelitian yang pernah dila-
Gambaran Industri Kecil dan Menengah kukan oleh penulis yang sama untuk menen-

Tabel 3. Produk Industri Kecil Menengah di Kota Solo

No Nama Produk/Industri Nilai Produksi/ Investasi Unit Jumlah


tahun Usaha Tenaga Kerja
1 Batik dan Produk Batik 48.008.448.000.000 672.333.340 7 108
2 Logam/Besi 12.720.000 53.415.000 2 8
3 Makanan 180.544.134.500 3.386.740.000 37 142
4 Mebel 2.789.000.000 2.048.751.000 5 105
5 Percetakan 9.152.955.000 3.220.009.500 23 194
6 Plastik 6.394.012.500 8.802.650.000 7 1.088
7 Tekstil dan Produk Tekstil 25.271.415.000.000 663.385.000 10 2.523
Sumber: Disperindag Kota Solo 2006
190 Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008

tukan Kriteria dan kompetensi Kota Solo uji kuesioner dan diskusi dengan narasumber
dengan melihat produk-produk potensial kompeten yang memiliki kewenangan serta
yang dapat dikembangkan bagi daerah kota konsern terhadap produk kompetensi daerah.
Solo dari 26 macam produk unggulan daerah. Selanjutnya dilakukan kriteria pembobotan,
Dari kontribusi data yang di cover dari Dis- di mana memunculkan suatu produk kompe-
perindag Kota Solo menunjukkan bahwa, tensi unggulan dengan komponennya seperti;
muncul paparan kriteria Kesepakatan 7 keterampilan staf, manajemen brand, daya
produk prioritas unggulan bagi kota Solo, inovasi, kesetiaan kerja, jaminan kualitas,
yaitu; Batik dan produk Batik, Tekstil dan desain, tenaga kerja banyak, sumber daya
Produk tekstil, Makanan, Percetakan, lingkungan yang tidak merusak, manajemen
Plastik, Mebel dan logam/besi (2007). harga, daya adopsi, manajemen jaringan dan
Suatu alasan mengapa prioritas produk lain sebagainya.
unggulan yang terpilih adalah produk-produk
Peta Rantai Nilai Produk Unggulan
tersebut adalah; (1) dapat menyerap tenaga
Prioritas
kerja yang banyak (2) nilai produksinya
tinggi (3) image tentang produk tersebut Produk kompetensi unggulan prioritas dite-
adalah menjadi trade-mark bagi kota Solo. mukan dari kompetensi-kompetensi produk
Dari 7 prioritas produk unggulan daerah kota unggulan yang telah diidentifikasi. di mana
Solo selanjutnya dimunculkan produk ung- kriteria pemilihannya adalah dengan mem-
gulan utama yang menjadi pertimbangan pertimbangkan:
penentuan kriteria untuk memunculkan • Keunikan
produk inti unggulan Kota Solo yaitu: Batik • Daya saing
dan Produk Batik. • Keterbukaan terhadap pasar baru
• Manfaat yang lebih baik bagi pelanggan
Langkah selanjutnya adalah melakukan
Berdasarkan kategori kompenen-kom-

Tabel 4. Matriks Keputusan Ranking Produk Unggulan

Kriteria
No Alternatif Produk/ Nilai Peringkat
Jml Preferensi
Industri Nilai Investasi/ Alternatif
Tenaga Nara
Produksi Unit
Kerja Sumber
Bobot Kriteria 0,3 0,2 0,2 0,3 1
1 Batik dan Produk Batik 5 3 2 4,728708045 3,918612414 1
2 Logam/Besi 1 1 1 2,956154917 1,586846475 7
3 Makanan 4 2 3 4,472135955 3,541640786 3
4 Mebel 1 5 1 3,590938482 2,577281545 6
5 Percetakan 3 4 4 3,109843949 3,432953185 4
6 Plastik 2 5 5 1,414213562 3,024264069 5
7 Tekstil dan Produk 5 1 5 3,827710282 3,848313085 2
Tekstil
Sumber: hasil penghitungan dengan analisis Bayes dari data primer dan sekunder
Daryono dan Wahyudi - Analisis Kompetensi Unggulan Daerah 191

ponen tersebut akhirnya penentuan kriteria, Tabel 5. Kriteria Prioritas Kompetensi Unggulan
Batik dan Produk Batik
memunculkan Batik dan produk batik seba-
gai produk kompetensi unggulan Kota Solo. No Goal/Kriteria Skor Bobot
1. Unik 0,356
Melalui penghitungan Analytic Hierar-
2. Daya Saing 0,226
chy Process ditemukan bahwa pada batik dan 3. Kekuatan 0,169
produk batik memiliki in-konsistensi nilai 4. Manfaat 0,147
5. Keterbukaan 0,102
bervariasi antara 0,1 hingga sampai 0,09.
Keterangan: Inconsistency ratio 0,09
Artinya dari kajian analisis ditemukan semua
kriteria dan kompetensi batik dan produk
batik memiliki manfaat kepentingan yang Tabel 6. Produk Unggulan Batik dan Produk Batik
ideal sesuai dengan harapan dari produk dengan Kriteria Unik
kompetensi unggulan prioritas kota Sura- No Goal/Kompetensi Skor
karta. Bobot
1. Karakteristik 0,215
Dari kajian analisis ditemukan semua 2. Desain 0,211
kriteria dan kompetensi unggulan batik dan 3. Manajemen jaringan Distribusi 0,199
produk batik memiliki manfaat kepentingan 4. Manajemen Brand 0,142
5. Keterampilan Staf 0,119
yang ideal sesuai dengan harapan dari produk 6. Disiplin Pekerja 0,059
unggulan prioritas kota Surakarta. Tabel 5 7. Daya Inovasi 0,055
menunjukkan kriteria kompetensi unggulan Keterangan: Inconsistency ratio 0,02
prioritas batik dan produk batik yang
memiliki kriteria-kriteria paling menonjol Unggulan batik dan produk batik dengan
adalah dari sisi keunikan memiliki skor 0,356 kriteria unik ini memiliki kompetensi utama
serta sisi daya saing dengan skor 0,226. yang cukup baik dan kuat pada karakteristik
Sedangkan kriteria unik dimungkinkan dapat dengan bobot 0,215 dan desain dengan bobot
muncul karena produk ini memiliki suatu 0,211 yang memiliki in-konsistensi 0,02
nilai lebih dan tidak mudah ditiru, sedang
daya saing disini produk tersebut apabila Tabel 7. Produk Unggulan Batik dan Produk Batik
dengan Kriteria Daya Saing
diperbandingkan dengan produk sejenis
memiliki kelebihan layak jual laku keras di No Goal/Kompetensi Skor Bobot
pasaran. 1. Daya Inovasi 0,348
2. Desain 0,173
Kriteria produk unggulan batik dan pro- 3. Keterampilan Staff 0,126
duk batik memiliki in-konsistensi relatif baik 4. Jaminan Kualitas 0,124
5. Manajemen Brand 0,091
sebesar 0,09 masih kurang dari 0,1 sedang 6. Tenaga kerja banyak 0,074
skor pembobotan dari masing-masing kriteria 7. Kesetiaan pekerja 0,064
yang ada berkisar antara 0,102 sampai 0,356. Keterangan: Inconsistency ratio 0,09

Unggulan batik dan produk batik dengan


kriteria daya saing memiliki kriteria dominan
di kompetensi utama pada daya inovasi
dengan bobot sebesar 0,348 dan desain
192 Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008

dengan bobot sebesar 0,173 dengan rasio in- Dianalisis unggulan batik dan produk
konsistensi 0,09. batik dengan kriteria kekuatan ternyata
memiliki kompetensi kuat/utama pada sisi
karakteristik di mana memiliki bobot sebesar
Tabel 8. Produk Unggulan Batik dan Produk Batik
dengan Kriteria Keterbukaan 0,292 dan desain dengan bobot sebesar
0,181. Karakteristik batik Solo motifnya
No Goal/Kompetensi Skor Bobot
sangat tradisional, batik Solo dari warna,
1. Daya Inovasi 0,260 motif punya karateristik dan kualitas lebih
2. Manajemen harga 0,251
3. Daya Adopsi 0,162 bagus dari daerah lain di Indonesia.
4. Disiplin Pekerja 0,107 Demikian pula dalam rasa desain, batik dan
5. Keterampilan Staf 0,099
produk batik Solo sama dengan daerah lain,
6. Desain 0,068
7. SDA melimpah 0,053 hanya saja batik Solo memiliki motif
Keterangan: Inconsistency ratio 0,05 unggulan corak klasik yang memiliki cita
rasa makna tersendiri.
Demikian juga di unggulan batik dan
produk batik dengan kriteria keterbukaan Tabel 10. Produk Unggulan Batik dan Produk Batik
pasar, memiliki kompetensi intu utama dalam dengan Kriteria Kekuatan
daya inovasi dengan bobot 0,260 dan kompe- No Goal/Kompetensi Skor Bobot
tensi manajemen harga dengan skor bobot 1. Karakteristik 0,292
0,251 dengan rasio in-konsistensi 0,05. 2. Desain 0,181
3. Manajemen jaringan Distribusi 0,145
Hasil analisis Analytic Hierarchy 4. Manajemen Brand 0,125
Process selanjutnya mencoba memaparkan 5. Keterampilan Staf 0,107
kompetensi unggulan untuk batik dan produk 6. Disiplin Pekerja 0,103
7. Daya Inovasi 0,046
batik, dengan kriteria manfaat akan memliki Keterangan: Inconsistency ratio 0,1
kompetensi utama/kuat di manajemen harga
dengan bobot sebesar 0,355 dan daya adopsi
dengan bobot sebesar 0,257. dengan rasio in- Batik dan produk batik Solo sebenarnya
konsistensi 0,04. sama dengan daerah lain, sungguhpun demi-
kian batik dan produk batik Solo memiliki
Tabel 9. Produk Unggulan Batik dan Produk Batik motif kompetensi unggulan produk dengan
dengan Kriteria Manfaat corak klasik, terasa sangat kental makna
No Goal/Kompetensi Skor Bobot filosofis.
1. Manajemen harga 0,355 Dari hasil penelitian lapangan yang
2. Daya Adopsi 0,257 dilakukan penelitian ini menunjukkan bahwa
3. Tenaga kerja banyak 0,125
4. Daya Inovasi 0,108 batik dan produk batik Solo diutamakan
5. Desain 0,064 pada:
6. Manajemen Brand 0,047
7. Manajemen Jaringan Distribusi 0,045 1. Karakter, desain serta daya inovasi di
Keterangan: Inconsistency ratio 0,04 mana hal ini merupakan unsur dominan
bagi andalan batik dan produk batik tulis
dan cap Solo,
Daryono dan Wahyudi - Analisis Kompetensi Unggulan Daerah 193

2. Sumber daya manusia dengan kriteria tiaan/ketaatan kepada juragan/pengusaha


banyak; seperti disiplin kerja serta dapat diatur dari turnovernya. Hubungan
keterampilan staf yang baik, spesifik antara majikan dan pekerja ini
3. Daya saing akan dapat memiliki kompe- memberikan dampak positif terwujudnya
tensi unggulan yang ditunjang dengan daya saing yang kuat bagi batik dan
manajemen harga relatif kompetitif serta produk batik di daerah kota Surakarta.
manajemen jaringan distribusi yang baik loyalitas pekerja batik sangat tinggi,
karena mereka bekerjanya mengandalkan
perasaan dalam hal mendesain sampai
Analisis Supply Chain Management pada mengerjakan proses produksi hanya
Batik dan Produk Batik memang karena tingkat pendidikan yang
Menurut Schroeder (2000), supply chain tidak begitu tinggi, agak susah dalam
management adalah strategi untuk meren- mengatur disiplin kerja mereka, ini
canakan, mengelola dan mengawasi aliran menyangkut tingkat pendidikan yang
barang-jasa dan informasi dari pemasok, relatif kurang. Proses pembatikan apalagi
perusahaan, distribusi sampai dengan konsu- batik tradisional sampai modern, SDM-
men akhir dengan kualitas yang terjaga nya menggunakan banyak perasaan,
sepanjang waktu. Secara sederhana sebuah sungguhpun tingkat pendidikan relatif
Supply Chain Management dapat diringkas kurang tinggi, demikian itu tentunya
seperti nampak dalam Gambar 1. perusahaan yang unggul akan dapat
mengatur loyalitas dalam bentuk penga-
Aktivitas pendukung turan waktu, misalnya dengan cara model
Aktivitas pendukung dalam sebuah rantai pekerja borongan. Kalau menggunakan
nilai terdiri dari empat aktivitas, yaitu antara sistem part time nampaknya sulit untuk
lain kesetiaan kerja, manajemen brand, tena- dikerjakan. Karena proses pembatikan ini
ga kerja yang banyak serta SDA yang tidak akan berbeda dengan di tekstil.
merusak. Bagi Batik dan Produk Batik Solo 2. Manajemen Brand, adalah penggunaan
yang menjadi prioritas utama dalam rantai merek dan pengelolaannya adalah meru-
nilai aktivitas pendukung adalah sebagai pakan suatu wujud pencitraan bagi
berikut: produk batik, yang dapat memberikan
1. Kesetiaan Kerja secara teoritis adalah sentuhan nilai tambah batik dan produk
lamanya SDM bekerja di mana dalam batik Solo. Ternyata batik Solo memiliki
usaha pembatikan dan produk batik karakter sendiri di mata konsumennya.
pekerja memiliki suatu ciri unsur kese- Batik Solo secara tidak langsung sudah
memiliki keungulan karena Solo merupa-

Pemasok Perusahaan Distributor Konsumen


akhir

Gambar 1. Supply Chain Management


194 Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008

kan salah satu daerah penghasil produk ka peluang tenaga kerja di sektor/industri
batik besar di Indonesia. Image nama yang lain.
lama sampai sekarang masih dominan 4. SDA di sini adalah merupakan sumber
mempengaruhi pencitraannya bagi kon- daya alam yang ramah lingkungan, sifat-
sumen. Banyak orang-orang dari luar nya tidak merusak. Batik dan Produk
daerah Surakarta memiliki cita rasa batik memerlukan komponen hasil olah-
bahwa batik itu ya,… adanya di Solo. an dari SDA seperti gondorukem serta
Branding batik Solo dapat dikatakan bahan pewarna alam. Gondorukem
memiliki sisi unggul. diambil getahnya tetapi pohonnya tetap
3. Tenaga kerja yang banyak adalah meru- dilestarikan, sedang bahan pewarna alam
pakan jumlah tenaga kerja dalam industri diambil dari sulur-sulurnya atau daun-
batik dan produk batik.. Berdasarkan daunnya eksistensi pohonnya tetap
hasil FGD kompetensi tenaga kerja dilestarikan.
dalam kaitannya dengan produk batik Peta Rantai Nilai (Chain Map) Produk
IKM di Kota Surakarta relatif cukup Unggulan Prioritas peringkat pertama yang
besar mengingat tenaga kerja di lingkup terindikasi di wilayah Kota Surakarta, yaitu
pembatikan ini memiliki keterkaitan Batik dan Produk Batik, Dengan spesifikasi
dengan penyerapan tenaga kerja di sektor batik tulis dan batik cap, dalam bentuk bagan
lain di mana ada tenaga kerja yang skematis sederhana dapat dideskripsikan
berlainan sifatnya. Batik dapat menyerap seperti dalam Gambar 2.
TK di bahan material dan. proses pra-
Aliran barang dan jasa serta informasi
pembatikan ternyata sudah dapat membu-
dalam IKM komponen batik dan produk

Gambar 2. Simulasi Analisis Ekonomi Peta Rantai Nilai dan Nilai Tambah (Added Value)
Kompetensi: Batik Tulis dan Batik Cap
Daryono dan Wahyudi - Analisis Kompetensi Unggulan Daerah 195

batik di Kota Surakarta belum sempurna. Hal karakteristik, desain dan daya inovasi,
ini dikarenakan dari komponen Supply Chain serta makna filosofis atas motifnya.
Management IKM pembatikan di Surakarta 2. Batik dan produk batik kota Solo dalam
terkonsentrasi sebagian besar di wilayah proses pengerjaannya memerlukan ke-
Kecamatan Laweyan dan Kecamatan Pasar mampuan teknik membatik yang baik.
Kliwon, utamanya di Kampung Laweyan dan Itulah sebabnya mengapa batik dan
Kampung Kauman Pasar Kliwon, serta produk batik tulis dan cap Solo dikatakan
sebagian di daerah Kampung Sewu. memiliki keunikan, karena mampu
Para pelaku IKM batik dan produk batik bersaing dengan kompetitor di daerah/
ini hanya menguasai aliran barang dan jasa wilayah Indonesia lainnya, buktinya
serta informasi di tingkat perusahaan/pabrik/ batik Solo masih eksis sampai saat ini.
bengkel kerja, sementara untuk pasokan 3. Batik dan produk batik kota Solo memili-
bahan baku seperti; malam/lilin, obat batik ki pangsa pasar Asia, Amerika, Afrika
(terbuat dari bahan baku alamnya Gondoru- serta Eropa. Untuk pangsa pasar
kem dan pewarna alam yang didapat dari Amerika, Afrika dan Eropa, Batik yang
pohonan yang diambil sulur atau daunnya) diinginkan batik bermotif sederhana,
dan juga distribusi, menunjukkan kondisi yang penting motif gambar pada kain
ketergantungan mereka pada pihak lain tersebut dilakukan dengan proses batik.
sangat besar, sungguhpun persediaan bahan
4. Seiring dengan diadakannya mem-patent
cukup memadai.
kan motif batik Solo, gelar acara Solo
Idealnya dalam sebuah industri pemba- Batik Carnival, Srawung Batik, serta
tikan yang berdaya saing tinggi maka setiap event-event yang berkaitan dengan
komponen dalam Supply Chain Management promosi batik Solo, seyogyanyalah ada
bisa dikontrol atau diantisipasi terutama dari kajian lanjut dalam upaya pemberian
aliran informasi. Semakin lemah kontrol ruang pas serta kebijakan yang perlu dari
perusahaan, pabrik atau bengkel kerja pem- pemerintah daerah kota Surakarta dan
batikan seperti di kota Solo terhadap infor- instansi terkait lainnya, agar supaya batik
masi dalam mata rantai Supply Chain Mana- dan produk batik tulis serta batik cap
gement, maka industri kecil menengah Solo benar-benar menjadi produk kompe-
pembatikan di daerah Solo akan semakin tensi unggulan nyata, bukannya produk
rentan dengan ketidakpastian. semu yang dipaksakan.
Saran-saran yang diajukan dari peneliti-
KESIMPULAN an ini sebagai berikut
1. Batik dan produk batik yang memiliki Pertama, perlu dilakukan survey lapangan
peringkat pertama dalam produk unggul- untuk memperoleh data yang sebenarnya
an industri kecil menengah di kota mengenai persoalan kompetensi unggulan.
Surakarta atau Solo yang memiliki Tidak hanya didasarkan pada data yang
keunikan dalam motif, sungguhpun motif sudah ada di instansi tertentu. Data instansi
yang ada sangat banyak, tetapi memiliki hanya sebagai alat pengontrol saja. Kedua,
kompetensi unggulan dominan dalam Seharusnya jangan hanya menentukan pro-
196 Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008

duk kompetensi unggulan IKM dari jenis Disperindag. tt. Laporan Data Industri
barangnya saja tetapi, memasukkan juga Daerah, Surakarta: Disperindag Kota
produk jasa, karena di kota (kebanyakan kota Surakarta.
besar) untuk produk unggulan IKM dari Garcia dan Soelistianingsih, 1998, Pengaruh
barang biasanya kurang bisa diandalkan. Variabel Modal Manusia, Fertilitas
Sehingga perlu produk unggulan bersifat Total, Selain Pangsa Sektor Minyak dan
jasa, hal itu karena kebanyakan produk yang Gas dalam PDRB untuk Mengukur
dihasilkan adalah jasa. Ketiga, membangun Ketersediaan Sumber Daya Alam terha-
produk kompetensi unggulan bagi daerah dap Pertumbuhan Ekonomi Daerah,
diperlukan komitmen, kebijakan pemerintah Penelitian, Jakarta
dan asosiasi pengusaha/industri/bengkel
Haeruman, 2000, Tantangan Bagi Dunia
kerja IKM.
Usaha Pengembangan Industri Kecil

DAFTAR PUSTAKA Indonesia Human Development Report,


2002, Regional Economics Develop-
Akita, Takahiro dan Armida S. Alisjahbana, ment
2001, The Economic Crisis and Re-
Islam, Iyanatul, 2005, Ketidakmerataan
gional Inequality in Indonesia, Makalah
Antardaerah di Indonesia, School of
seminar, Jakarta.
International Business and Asian Stud-
Amurwaraharja, Indra Permana, 2003, Anali- ies, Griffith University, Australia.
sis Teknologi Pengolahan Sampah
Kurniawan Bangun Nur Cahyo, 2006, Mul-
dengan Proses Hirarki Analitik dan
ticriteria Decision Making Methot for
Metoda Valuasi Kontingensi, Bogor:
the Determination of Collection Priority
Program Pascasarjana IPB.
of land and Property Tax (PBB) by
Azis, Iwan Jaya, 1997, Analytic Hierarchy Letter Force, Geodesi FTSL, ITB.
Process,in the Benefit Cost Framework:
Porter, M. E. 1985. Competitive Advantage
A Post Evaluation of the Trans Sentra
Creating and Sustaining Superior Per-
Highway Project, European Journal of
formance. New York: The Free Press.
Operation Research, 48 (1990): 38-48
North Holland. Porter, M. E. 1990. The Competitive Advan-
tage of Nations. New York: Free Press.
Badan Pusat Statistik. tt. Surakarta dalam
Angka, Surakarta: BPS Kanwil Surakar- Saaty, Thomas. L, 1989, Decision Making,
ta. Reading and Number Crunching, Deci-
sion Sciences 20 (2).
Blodger’s Communications, tt. Analytic Hi-
erarchy Process (AHP), Tutorial, Saaty, Thomas. L, 1993, Pengambilan Kepu-
RFID. tusan bagi para Pemimpin, Proses
Hirarki Analitik untuk Pengambilan
Disperindag. 2007. Rencana Pengembangan
Keputusan dalam Situasi yang Kom-
Industri di Surakarta. Surakarta: Bagian
pleks, Manajemen No.14, Jakarta: PT.
Penerbitan Disperindag.
Pustaka Binaman Pressindo.
Daryono dan Wahyudi - Analisis Kompetensi Unggulan Daerah 197

Schroeder, 2000, Supply Chain Management, Kota Surakarta. Hasil Riset Diseminasi
New York: PrenticeHall. Pengkajian Kompetensi Inti Daerah.
Subekti, Nanang, 2005, Pertumbuhan Ekono- Surakarta.
mi Regional, Makalah Seminar, Jakarta. Teknomo Kardi, Hendro Siswanto, Sebastia-
Soebagiyo, Daryono, 2002, Perspektif Kota nus Ari Yudhanto, 1999, Penggunaan
Surakarta dalam Wacana menjadikan Metode Analytic Hierarchy Process
Sebagai Ibukota Propinsi, Makalah dalam Menganalisa Faktor-faktor yang
Seminar Dialog Ekonomi Regional, Mempengaruhi Pemilihan Modal ke
IMM, Surakarta. Kampus, Dimensi Teknik Sipil, Vol.1,
No,1, Maret 1999, Universitas Kristen
Soebagiyo, Daryono, 2001, Model Perenca-
Petra, Surabaya.
naan Ekonomi Melalui Metode
Pengambilan Keputusan dengan AHP World Bank, 2005, Indonesia Policy Briefs,
(Analytic Hierarchy Process), Jurnal Mendukung Usaha Kecil dan Mene-
Ekonomi Pembangunan Vol 2. No.1 ngah, Washington DC: The World
Juni 2001 Surakarta: BPPE FE UMS Bank.

Subagiyo, Daryono. 2007. Pengembangan


UKM Yang Berdasarkan Kompetensi di
Jurnal Ekonomi Pembangunan
Vol. 9, No. 2, Desember 2008, hal. 198 - 215

ANALISIS DAMPAK OTONOMI DAERAH TERHADAP


STRATEGI PENGEMBANGAN PERGURUAN TINGGI SWASTA
(PTS) DI KABUPATEN SLEMAN

Rudy Badrudin
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN Yogyakarta
E mail: rudy@stieykpn.ac.id

ABSTRACT
This research analyze the effect of regional autonomy to the interest of college’s
student candidate to continue studying in Sleman Regency which research’s samples
for major program’s chosen was Accounting, Management, and Economics in UII,
UAJY, UPNVY, and STIE YKPN. The result of research with Boston Consulting
Group (BCG) Matrix shows that each major program in four universities and
college was in different quadrant. Therefore, each university and college has to
choose different development strategic specifically even for each major programs in
each university and college, so that the major programs in four universities and
college in Sleman Regency could grow and rise.
Keywords: development strategy, BCG matrix

PENDAHULUAN Daerah per 1 Januari 2001 menjadi faktor-


Prospek pendidikan tinggi di Kabupaten faktor penyebab turunnya minat orang tua
Sleman didasarkan perkembangan pendidi- untuk menyekolahkan anak-anaknya kuliah
kan tinggi di Propinsi Daerah Istimewa di Yogyakarta dan Sleman.
Yogyakarta yang terjadi sesudah tahun 2001 Krisis ekonomi yang terjadi pada tahun
karena pada kurun waktu tersebut telah 1998 telah berdampak pada peningkatan
terjadi beberapa peristiwa nasional maupun jumlah pengangguran sehingga menjadi
regional yang berdampak terhadap perkem- faktor negatif bagi orang tua dalam kemam-
bangan dunia pendidikan. Beberapa peristiwa puannya membiayai biaya pendidikan tinggi
tersebut di antaranya, krisis ekonomi tahun bagi anak-anaknya. Oleh karena itu, orang
1998, diberlakukannya Undang-Undang ten- tua akan berpikir realistis dalam arti akan
tang Otonomi Daerah pada tahun 2001, lebih memprioritaskan sumber keuangannya
diberlakukannya Undang-Undang Sistem untuk membiayai kehidupan sehari-hari. Di
Pendidikan Nasional pada tahun 2003, dan samping itu, krisis ekonomi tersebut juga
isu-isu negatif misalnya tentang narkoba dan menurunkan kemampuan daya serap perusa-
mahasiswa/pelajar dan sex bebas di kalangan haan dalam merekrut karyawan sehingga
mahasiswa di Yogyakarta dan Sleman. Di orang tua juga akan berpikir realistis untuk
antara beberapa peristiwa tersebut, diduga menyekolahkan anak-anaknya kuliah kalau
pemberlakuan Undang-Undang Otonomi setelah lulus dari perguruan tinggi hanya
Rudy Badrudin – Analisis Dampak Otonomi Daerah 199

menjadi penganggur. Diberlakukannya Un- pemerintah sendiri, artinya bagi perguruan


dang-Undang tentang Otonomi Daerah pada tinggi negeri seperti UGM yang memiliki
tahun 2001 yang lalu mengakibatkan bebera- 2.300 dosen yang terdiri dari 28 persen
pa daerah berlomba-lomba untuk mendirikan doktor, 52 persen master, dan 20 persen
perguruan tinggi. Di samping itu, undang- sarjana dari 18 fakultas dengan 71 program
undang tersebut juga memunculkan pandang- studi perlu mengundang partisipasi orang tua
an sempit tentang fanatisme daerah yaitu mahasiswa dan masyarakat dalam membiayai
pemerintah daerah hanya menerima calon biaya pendidikan tersebut.
pegawainya yang lulus dari perguruan tinggi Otoritas UGM yang semakin besar
di wilayah tersebut. Kedua hal ini tentunya dalam menyusun dan menetapkan kurikulum,
akan berdampak negatif bagi perguruan serta menjadi lebih mandiri dalam menetap-
tinggi di Kabupaten Sleman dalam penerima- kan kebijakan pembiayaan pendidikan
an mahasiswa baru. mengakibatkan biaya pendidikan di UGM
Keterbatasan pemerintah pusat dalam menjadi terkesan mahal. Sebagai gambaran,
membiayai Anggaran Pendapatan dan Belan- seorang mahasiswa S-1 UGM non-eksakta
ja Negara (APBN) sektor pendidikan khusus- mengeluarkan biaya pendidikan sekitar
nya pendidikan tinggi mengakibatkan bebe- Rp8.500.000 per tahun sedangkan seorang
rapa perguruan tinggi negeri di antaranya mahasiswa S-1 UGM eksakta mengeluarkan
Universitas Gadjah Mada (UGM) berubah biaya pendidikan sekitar Rp9.900.000 per
statusnya menjadi badan hukum milik negara tahun. Untuk mahasiswa S-1 UGM Fakultas
(BHMN). Status UGM menjadi BHMN yang Kedokteran mengeluarkan biaya pendidikan
dimulai pada tahun 2003 mengakibatkan Rp12.100.000 per tahun. Biaya pendidikan
UGM memiliki otoritas yang lebih besar itu di luar SPMA (dibayar sekali selama
dalam format penerimaan mahasiswa baru, menjadi mahasiswa) yang bervariatif per
penyusunan dan penetapkan kurikulum, serta program studi per fakultas. Misalnya, SPMA
menjadi lebih mandiri dalam menetapkan Fakultas Biologi bervariasi antara
kebijakan pembiayaan pendidikan. Berdasar- Rp1.000.000 (alternatif 1), Rp2.000.000
kan otoritas yang dimiliki UGM diharapkan (alternatif 2), Rp4.000.000 (alternatif 3), dan
UGM lebih mampu dalam memperoleh input Rp6.000.000 (alternatif 4). Fakultas Ekonomi
calon mahasiswa baru (kualitas dan kuanti- dan Kedokteran merupakan dua fakultas
tas) dan lebih fleksibel dalam menggali yang mematok SPMA paling mahal, dari
berbagai potensi sumber dana untuk pembia- termurah Rp10.000.000 sampai dengan
yaan operasional dan pengembangan UGM. termahal Rp50.000.000. Sebagai pemban-
Pembiayaan APBN sektor pendidikan ding, seorang mahasiswa baru PTS ternama
khususnya pendidikan tinggi membutuhkan di Kabupaten Sleman pada tahun 2003,
anggaran pendidikan yang cukup besar. membayar biaya pendidikan SPP Tetap
Berdasarkan perhitungan Dirjen Dikti, rata- Rp1.000.000 per semester, SPP Variabel
rata biaya pendidikan seorang mahasiswa S-1 Rp40.000 per sks, dan Sumbangan Pengem-
mencapai Rp9.000.000 per tahun. Rata-rata bangan Akademik (SPA) minimum
biaya pendidikan per tahun yang cukup besar Rp8.000.000.
tersebut tidak mungkin ditanggung oleh
200 Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008

Otoritas yang dimiliki UGM dalam rima 25 persen dari rencana 6.000 mahasiswa
penerimaan mahasiswa baru mulai diterap- baru (1.500 mahasiswa baru). Seleksi
kan pada tahun 2003, yaitu dengan mengada- penerimaan mahasiswa baru melalui UM
kan perubahan format ujian masuk. Format UGM diselenggarakan sebelum waktu
ujian masuk tahun sebelumnya adalah calon pengumuman kelulusan SMU (diselenggara-
mahasiswa baru yang melalui jalur tes harus kan di 17 kota di Indonesia pada tanggal 22
mengikuti ujian seleksi penerimaan mahasis- dan 23 April 2003). Pengumuman hasil
wa baru (SPMB) yang diselenggarakan seleksi ujian masuk melalui jalur UM UGM
bersama dengan perguruan tinggi negeri lain akan dilakukan pada akhir Mei 2003. Bagi
secara nasional, sedangkan calon mahasiswa calon mahasiswa baru yang tidak diterima
baru yang melalui jalur penjaringan bibit melalui jalur UM UGM masih diberi
berprestasi dan penjaringan dengan sistem kesempatan untuk mengikuti seleksi melalui
kemitraan (Sistem Penjaringan atau SP) jalur SPMB yang akan diselenggarakan pada
harus mengikuti seleksi yang diselengga- bulan Juni 2003. Pengumuman hasil seleksi
rakan tersendiri oleh fakultas di lingkungan ujian masuk melalui jalur SPMB (UGM)
UGM. Semua seleksi tersebut (SPMB dan dilakukan pada akhir bulan Juli atau awal
SP) diselenggarakan setelah waktu pengu- bulan Agustus. Seluruh mahasiswa baru yang
muman kelulusan SMU, sedangkan pengu- diterima di UGM melalui seleksi UM UGM
muman hasil seleksi SPMB dan SP pergu- dan SPMB harus membayar Sumbangan
ruan tinggi negeri (UGM) dilaksanakan pada Pembinaan Pendidikan (SPP) sebesar
akhir bulan Juli atau awal bulan Agustus. Rp500.000 per semester dan Biaya
Seluruh mahasiswa baru yang diterima di Operasional Pendidikan (BOP) sebesar
UGM, baik melalui jalur SPMB maupun SP Rp500.00 untuk mahasiswa fakultas non-
harus membayar Sumbangan Pembinaan eksakta dan sebesar Rp750.000 untuk
Pendidikan (SPP) sebesar Rp500.000 per mahasiswa fakultas eksakta. Di samping
semester dan Biaya Operasional Pendidikan membayar SPP dan BOP, mahasiswa baru
(BOP) sebesar Rp500.00 untuk mahasiswa juga harus membayar Sumbangan Pengem-
fakultas non-eksakta dan sebesar Rp750.000 bangan Mutu Akademik (SPMA) minimum
untuk mahasiswa fakultas eksakta. sebesar Rp5.000.000 (bagi yang mampu) dan
Format ujian masuk mulai tahun 2003 bebas terbatas (bagi yang memenuhi
adalah calon mahasiswa baru yang melalui persyaratan akademis tetapi tidak mampu
jalur tes harus mengikuti ujian masuk UGM secara ekonomi).
yang pelaksanaannya dilakukan oleh UGM Khusus bagi calon mahasiswa baru yang
sendiri (disebut Ujian Masuk UGM atau UM diterima melalui jalur Program Swadaya,
UGM) dan bersama dengan perguruan tinggi biaya pendidikan yang harus dibayarkan
negeri lain secara nasional (disebut SPMB). meliputi SPP sebesar Rp1.500.000 per
Seleksi melalui jalur UM UGM menerima 75 semester, BOP sebesar 50.000 per sks, dan
persen dari rencana 6.000 mahasiswa baru SPMA yang bervariatif terganting jenis
(4.000 mahasiswa baru melalui jalur UM program studi dan fakultas yang dipilih
UGM dan 500 mahasiswa melalui jalur SP), (minimum Rp5.000.000). Model pembiayaan
sedangkan seleksi melalui jalur SPMB mene-
Rudy Badrudin – Analisis Dampak Otonomi Daerah 201

pendidikan di UGM untuk mahasiswa baru (AAU) Adisucipto, dan Sekolah Tinggi
tahun 2003 ditunjukkan pada Tabel 1. Pertanahan Negara (STPN). Data jumlah
Secara keseluruhan, ada 5 perguruan mahasiswa baru yang mendaftar, diterima,
tinggi negeri yang berdomisili di Kabupaten dan jumlah keseluruhan di 5 perguruan tinggi
Sleman, yaitu Universitas Gadjah Mada negeri tersebut pada tahun 2002 ditunjukkan
(UGM), Universitas Negeri Yogyakarta pada Tabel 2.
(UNY), Universitas Islam Negeri (UIN) Prediksi pendidikan tinggi perguruan
Sunan Kalijaga, Akademi Angkatan Udara tinggi swasta untuk jumlah mahasiswa

Tabel 1. Biaya Pendidikan untuk Mahasiswa Baru UGM Tahun 2003


Nomor Keterangan Program Reguler Program Swadaya

1 SPP Rp500.000/semester Rp1.500.000/semester


2 BOP Rp500.000/semester (non-eksakta) Rp50.000/sks (khusus bagi program studi Teknik
Rp750.000/semester (eksakta) Pertanian Rp100.000/sks)

3 SPMA 1. Rp1.000.000 s.d. Rp4.000.000


SPMA
(Bebas terbatas bagi calon
No. Program Studi Fakultas minimum
mahasiswa yang memenuhi (Rp000.000)
persyaratan akademis, tetapi tidak
mampu secara ekonomi). 1 Ilmu Filsafat Filsafat 5
2 Ilmu Hukum Hukum 5
2. Minimum Rp5.000.000 (bagi yang 3 Ilmu Komputer MIPA 8
mampu) 4 Kimia MIPA 6
5 Psikologi Psikologi 5
6 Program Lain Studinya 10

4 Pola 1. Penjaringan Bibit Berprestasi Seleksi Tulis yang waktunya tergantung fakultas
Seleksi 2. Penjaringan Sistem Kemitraan penyelenggara program swadaya.
3. Seleksi Tulis (UM UGM dan
SPMB)

Sumber: http://web.ugm.ac.id/um-ugm/um-ugm-php.

Tabel 2. Jumlah Mahasiswa Baru yang Mendaftar, Diterima, dan Jumlah


Mahasiswa Total di Perguruan Tinggi Negeri, Tahun 2002

Nomor PTS 2002

Pendaftar Diterima Jumlah Total


1 UGM 193.496 8.098 50.172
2 UNY - 4.697 10.453
3 UIN SUKA 2.930 2.190 10.650
4 AAU ADISUCIPTO 1.763 162 452
5 STPN 926 301 717
Jumlah 199.115 15.448 72.444

Sumber: Sleman dalam Angka Tahun 2002, BPS Kabupaten Sleman


202 Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008

pendaftar, mahasiswa baru yang diterima, nyak 94,9 persen responden mengatakan
dan mahasiswa total mempunyai kecende- bahwa biaya pendidikan di perguruan tinggi
rungan menurun pada tahun 2005-2009. di kota Yogyakarta dan Sleman mahal.
Beberapa faktor sebagai penyebab turunnya Mahalnya biaya pendidikan di perguruan
mahasiswa pendaftar, mahasiswa baru yang tinggi di Yogyakarta dan Sleman akan ber-
diterima, dan mahasiswa total adalah mahal- dampak terhadap turunnya daya saing kota
nya biaya pendidikan dan isu narkoba yang Yogyakarta dan Sleman dalam kompetisi
terjadi di Yogyakarta dan Sleman. Mahalnya penerimaan mahasiswa baru.
biaya pendidikan di perguruan tinggi negeri Mahalnya biaya pendidikan di Yogya-
maupun swasta dirasakan di berbagai kota di karta dan Sleman dibuktikan pula dengan
Indonesia, termasuk Yogyakarta dan Sleman. hasil penelitian yang dilakukan oleh Bank
Beberapa tahun yang lalu, Yogyakarta dan Indonesia (BI) Yogyakarta, yaitu selama
Sleman dikenal sebagai Kota Pendidikan tahun 2000-2002 biaya hidup mahasiswa di
dengan biaya hidup yang relatif murah Yogyakarta rata-rata naik 8,78 persen per
dibandingkan dengan kota-kota lainnya. tahun dan di tahun 2003 diperkirakan naik
Tetapi sebutan itu tidak berlaku lagi seka- 9,12 persen sehingga biaya hidup mahasiswa
rang. Hal ini dibuktikan dengan hasil survei tahun 2002 yang sebanyak Rp8,83 juta per
terhadap 875 orang yang dilakukan oleh tahun menjadi Rp9,63 juta per tahun pada
Litbang Kompas pada tahun 2003 diperoleh tahun 2003 atau sebanyak Rp802.549 per
hasil sebagai berikut (Tabel 3) bulan. Komponen terbesar yang mengakibat-
kan kenaikan biaya hidup mahasiswa pada
Tabel 3. Survei Biaya Pendidikan di Perguruan tahun 2003 adalah kenaikan biaya pendidikan
Tinggi di Berbagai Kota, Tahun 2003 sebanyak 11,11 persen dan kenaikan biaya
Kota Murah Sedang Mahal kos sebanyak 8,11 persen (Kompas, 12 April
Responden (%) (%) (%) 2004, hal. A). Turunnya jumlah penerimaan
Jakarta 6,9 22,1 71,0 mahasiswa baru yang berdampak terhadap
Yogyakarta 0,0 5,1 94,9 jumlah mahasiswa total pada akhirnya akan
(Sleman) berdampak terhadap roda perekonomian
Surabaya 6,9 24,4 68,8
Medan 11,4 24,3 64,3
Propinsi DIY. Hal ini dibuktikan dengan
Padang 38,5 23,1 38,5 hasil survei BI pada triwulan II tahun 2003
Banjarmasin 15,0 45,0 40,0 yang menunjukkan bahwa banyaknya uang
Pontianak 13,6 45,5 40,9
Manado yang dibelanjakan oleh mahasiswa dalam 1
12,5 8,3 79,2
Makassar 7,0 20,9 72,1 tahun mencapai Rp2,94 triliun atau 17,7
Jayapura 30,4 8,7 60,9 persen dari perputaran uang di Yogyakarta
dan Sleman.
Sumber: Kompas, 22 Juni 2003, hal. 32.
Promosi negatif (depromotion) bagi
penerimaan mahasiswa baru di Yogyakarta
Berdasarkan Tabel 3, nampak tidak ada
dan Sleman, selain faktor biaya pendidikan
responden yang mengatakan bahwa biaya
juga isu Yogyakarta dan Sleman sebagai kota
pendidikan di perguruan tinggi di kota Yog-
narkoba nomor 3 di Indonesia. Menurut
yakarta dan Sleman murah dan nampak seba-
Dinas Sosial Propinsi DIY, di DIY ada lebih
Rudy Badrudin – Analisis Dampak Otonomi Daerah 203

Tabel 4. Jumlah Mahasiswa Pendaftar, Diterima, dan Total di Perguruan Tinggi Swasta
Propinsi DIY, Tahun 2001-2003

Nomor Jenis PTS 2001 2002 2003

Pendaf- Diterima Jumlah Pendaf- Diterima Jumlah Pendaf- Diterima Jumlah


tar Total tar Total tar Total

1 Universitas 98,179 27,408 107,469 87,948 22,844 91,846 88,272 34,274 118,039
2 Institut 3,146 2,153 7,530 2,880 1,879 4,790 2,671 2,000 8,715
3 Sekolah Tinggi 17,297 11,866 38,092 16,263 8,712 24,242 16,606 11,151 39,272
4 Politeknik 1,813 1,274 405 3,913 2,598 3,457 4,426 2,383 6,607
5 Akademi 8,163 5,238 14,404 9,010 4,844 12,799 8,626 5,164 16,146

Total 28,598 47,939 167,900 120,014 40,877 137,134 20,601 54,972 188,779

Sumber: Kopertis V Propinsi DIY. Data diolah

kurang 24.000 orang pengguna narkoba dan Berdasarkan Tabel 4, nampak jumlah
50 persennya adalah pelajar dan mahasiswa. pendaftar selama tahun 2001-2002 semakin
Jumlah yang cukup banyak tersebut akan menurun. Penurunan jumlah pendaftar bagi
semakin meningkat di tahun-tahun menda- perguruan tinggi swasta akan berdampak
tang apabila tidak ada upaya pencegahan pada pola seleksi penerimaan mahasiswa
untuk itu. Perda DIY Nomor 3 tahun 2000 baru yang semakin tidak berkualitas apabila
tentang Penanggulangan dan Pemberantasan perguruan tinggi swasta mempertahankan
Penyalahgunaan Narkotika dan Zat Aditif jumlah mahasiswa yang diterima. Artinya
hanya menjadi “macan ompong” yang rasio jumlah mahasiswa pendaftar dan yang
kurang mempunyai kekuatan dalam pence- diterima akan semakin meningkat angka
gahan penyalahgunaan narkoba. Hal ini dapat persentasenya. Hal ini ditunjukkan pada
kita lihat dalam praktiknya apakah perguruan Tabel 5.
tinggi sudah melakukan seleksi terhadap Berdasarkan Tabel 5, nampak total rasio
mahasiswa baru berkaitan dengan tes narko- mahasiswa pendaftar dan diterima selama
ba (Kedaulatan Rakyat, 27-29 April 2004, tahun 2001-2003 persentasenya semakin
hal. 20). meningkat, yaitu dari 37,28 persen pada
Apabila data jumlah mahasiswa pendaf- tahun 2001 menjadi 45,58 persen pada tahun
tar, mahasiswa baru yang diterima, dan 2003. Pola peningkatan rasio ini berlaku juga
mahasiswa total PTS di Kopertis Wilayah V untuk seluruh jenis pendidikan tinggi, kecuali
Propinsi DI Yogyakarta selama tahun 2001- jenis politeknik yang rasionya semakin
2003 dikelompokkan berdasarkan jenis pen- menurun, yaitu dari 70,27 persen pada tahun
didikan tinggi menurut universitas, institut, 2001, 66,39 persen pada tahun 2002, dan
sekolah tinggi, politeknik, dan akademi maka 53,80 persen pada tahun 2003. Hal ini
akan nampak data PTS pada Tabel 4. menunjukkan bahwa pendidikan tinggi jenis
politeknik merupakan jenis pendidikan tinggi
204 Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008

Tabel 5. Rasio Jumlah Mahasiswa Pendaftar dan Diterima di Kopertis V, Tahun 2001-2003

2001 2002 2003


Jenis
Nomor
PTS
Pendaftar Diterima Rasio Pendaftar Diterima Rasio Pendaftar Diterima Rasio

1 Universitas 98,179 27,408 27.92% 87,948 22,844 25.97% 88,272 34,274 38.83%
2 Institut 3,146 2,153 68.44% 2,880 1,879 65.24% 2,671 2,000 74.88%
3 SekolahTinggi 17,297 11,866 68.60% 16,263 8,712 53.57% 16,606 11,151 67.15%
4 Politeknik 1,813 1,274 70.27% 3,913 2,598 66.39% 4,426 2,383 53.8%
5 Akademi 8,163 5,238 64.17% 9,010 4,844 53.76% 8,626 5,164 59.87%

TOTAL 128,598 47,939 37.28% 120,014 40,877 34.06% 120,601 54,972 45.58%

Sumber: Kopertis V Propinsi DIY. Data diolah berdasarkan Tabel 4.

yang paling diminati para lulusan SMA model manajemen dengan paradigma baru
karena kurikulumnya lebih aplikatif daripada karena dengan paradigma baru, manajemen
jenis pendidikan tinggi lainnya. PTS dapat melakukan perbaikan dan pening-
Penelitian ini bertujuan untuk mengana- katan kualitas yang ditujukan untuk meme-
lisis dampak otonomi daerah terhadap strate- nuhi customer satisfaction (kepuasan perusa-
gi pengembangan perguruan tinggi swasta haan perekrut lulusan PTS). Paradigma baru
(PTS) di Kabupaten Sleman. Penelitian diperlukan untuk mengatasi perubahan yang
dilakukan dengan menggunakan sampel terjadi dalam lingkungan eksternal dan
empat PTS besar berdasarkan jumlah maha- bagaimana mengelola perubahan tersebut.
siswa dan berlokasi yang saling berdekatan Managerial paradigm menunjukkan cara
di Kecamatan Depok. Penelitian dilakukan orang berpikir dan bertindak dalam menge-
berdasarkan perkembangan data jumlah lola perguruan tinggi. Apabila dalam
mahasiswa baru setelah pemberlakuan otono- mengelola PTS, pengurus PTS menghadapi
mi daerah per 1 Januari 2001, yaitu mulai kenyataan-kenyataan yang dapat mengancam
tahun 2002 sampai dengan 2007. kelangsungan hidup dan prospek PTS di
masa depan, maka pengurus PTS perlu untuk
segera mengubah paradigmanya dengan
METODE PENELITIAN
paradigma baru (Bounds, Greg, et al., 1994,
Perguruan Tinggi Swasta (PTS) menghadapi hal. 28). Pergeseran paradigma tersebut
perubahan eksternal yang sangat cepat. ditujukan untuk menyediakan superior custo-
Perubahan eksternal tersebut mengakibatkan mer value melalui customer value strategy,
persaingan antarperguruan tinggi negeri dan organizational systems, dan continuous im-
swasta menjadi sangat ketat. PTS yang dapat provement.
memilih strategi yang tepat akan mampu Customer value strategy adalah strategi
memenangkan persaingan tersebut. Untuk bisnis yang berupa penawaran nilai kepada
mengantisipasi perubahan yang sangat cepat customer yang di dalamnya tidak hanya
tersebut, PTS harus mampu menerapkan berupa produk, tetapi juga berupa karakte-
Rudy Badrudin – Analisis Dampak Otonomi Daerah 205

ristik produk, pendistribusian produk, dan teknologi digunakan untuk mengurangi kom-
sebagainya (Bounds, Greg, et al., 1994, hal. pleksitas masalah terlebih dengan meng-
29). Customer value adalah kombinasi man- gunakan teknologi yang otomatis dan serba
faat yang berasal dari suatu produk dan komputer dan manajemen menggunakan
pengorbanan yang diperlukan customer teknologi hanya untuk mengotimalkan sistem
dalam memenuhi kebutuhannya atau selisih yang menghasilkan customer value. Para-
antara manfaat yang diperoleh customer dari digma baru dalam memandang pelibatan
penggunaan produk dengan pengorbanan karyawan adalah karyawan dilibatkan dalam
yang dilakukan customer untuk memperoleh kegiatan PTS yang berfokus pada strategi
manfaat tersebut. Salah satu pergeseran para- untuk memuasi customer. Pelibatan karya-
digma dari paradigma lama ke paradigma wan dilakukan dengan cara memperdayakan
baru dalam customer value strategy adalah mereka melalui continuous improvement,
tentang topik tentang kualitas. Dalam para- agar mampu memberikan kontribusi bagi
digma lama, manajemen mendefinisikan kua- PTS dan menghasilkan kepuasan customer.
litas dengan pencapaian yang telah ditentu- Continuous improvement digunakan
kan. Kualitas dijamin dengan seleksi produk untuk mengelola perubahan dalam lingku-
sebelum dikirim ke customer. Manajemen ngan eksternal agar PTS dapat membuat
membuat tradeoff antara kualitas, biaya, dan keadaan menjadi lebih baik. Improvement
skedul. Dalam paradigma baru manajemen dalam paradigma lama dilakukan yang utama
mendefinisikan bahwa kualitas produk hanya pada pengembangan produk baru dan reaksi
merupakan salah satu bagian dari customer terhadap masalah yang muncul. Improvement
value. Manajemen mencari sinergi antara dalam paradigma baru dilakukan pada setiap
kualitas, biaya, dan skedul. Untuk memiliki waktu dan di manapun. Manajemen secara
kemampuan bertahan, berkembang, dan proaktif mengadakan perbaikan pada setiap
memenangkan persaingan yang ketat dalam ada kesempatan meskipun tidak ada masalah
era bisnis global, organisasi bisnis harus yang muncul. PTS menggunakan continuous
mengarahkan semua kegiatannya untuk improvement secara berkelanjutan terhadap
menghasilkan customer value. proses dan sistem yang digunakan untuk
Organizational systems adalah sarana menghasilkan customer value dengan tingkat
yang menyediakan customer value. Terma- improvement yang lebih pesat dibandingkan
suk dalam sistem ini adalah input material improvement yang dilakukan PTS pesaing.
dan sumberdaya manusia, teknologi proses, Intensitas superior customer value
metode operasi dan praktik kerja, aliran melalui customer value strategy, organiza-
aktivitas kerja, aliran informasi, dan proses tional systems, dan continuous improvement
pengambilan keputusan. Dalam organizatio- ditentukan oleh keunggulan masing-masing
nal systems, ada pergeseran paradigma dalam PTS yang dapat dianalisis menggunakan
memandang cross functional approach, matriks pertumbuhan-pangsa pasar (growth-
tehnologi, pelibatan karyawan, manajemen share matrix – GS Matrix). GS Matrix atau
sumberdaya manusia,definisi peraturan, Boston Consultant Group Matrix/BCG
kultur, dan struktur. Misalnya, paradigma Matrix memiliki empat kuadran yang
baru dalam memandang teknologi adalah dipisahkan oleh dua sumbu, yaitu sumbu
206 Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008

vertikal dan sumbu horisontal. Sumbu verti- UK Petra dan Ubaya sebaiknya melaksana-
kal menunjukkan kontribusi PTS terhadap kan strategi integrasi horizontal. Strategi
PTS keseluruhan di Kabupaten Sleman dan tersebut dapat dijadikan acuan penyusunan
sumbu horisontal menunjukkan laju pertum- strategi jangka panjang dalam rangka
buhan PTS. Kontribusi suatu PTS diukur dari pengembangan masing-masing PTS, sehing-
kontribusi persentase jumlah mahasiswa PTS ga diharapkan pengembangannya akan sema-
tersebut terhadap jumlah mahasiswa PTS kin terarah, terfokus, efektif, dan efisien
keseluruhan di Kabupaten Sleman. Sedang- dalam mencapai visi dan misi organisasi.
kan laju pertumbuhan PTS diukur dari per- Algifari dan Rudy Badrudin (2003: 203-
sentase perubahan jumlah mahasiswa PTS 213), melakukan penelitian untuk mengurai-
tersebut dari tahun ke tahun. kan strategi yang dapat digunakan pemerin-
Andriani, Lis HR (2001), menggunakan tah daerah dalam memanfaatkan keterbatasan
BCG Matrix untuk meneliti 9 (sembilan) sumberdaya untuk memperoleh hasil pem-
PTS di Kota Surabaya yang mempunyai bangunan yang optimal. Strategi tersebut
Fakultas Ekonomi Jurusan Manajemen berkaitan dengan pengidentifikasian karak-
dengan status terakreditasi B berdasarkan teristik lokasi (dalam hal ini kecamatan),
data Direktori Kopertis Wilayah VII, Tahun kemudian memasukkan kecamatan tersebut
1999. Penelitian ini bertujuan untuk menen- ke dalam suatu kelompok tertentu. Tujuan-
tukan posisi keunggulan kompetitif masing- nya adalah untuk menentukan strategi pem-
masing PTS berdasarkan faktor-faktor keber- bangunan yang cocok bagi masing-masing
hasilan kritis internal maupun eksternal yang kelompok kecamatan. Pengelompokan keca-
dimilikinya, serta menentukan strategi apa matan dilakukan dengan menggunakan
yang paling sesuai untuk diterapkan ber- model Growth-Share BCG Matrix. Setiap
dasarkan posisi tersebut. Penelitian ini kecamatan diidentifikasi pertumbuhan eko-
menggunakan metode analisis kualitatif, nomi (growth) dan kontribusi (share) PDRB
yaitu analisis BCG Matrix. Hasil penelitian kecamatan terhadap PDRB kabupaten. Hasil
menunjukkan bahwa pertama, Unika Widya identifikasi menunjukkan bahwa tidak satu
Mandala, UK Petra, dan Ubaya berada pada pun kecamatan di Kabupaten Sleman yang
posisi yang sangat menguntungkan yaitu memiliki pertumbuhan tinggi dan kontribusi
terletak di kuadran 1, sementara keenam PTS tinggi. Kecamatan Cangkringan, Ngemplak,
lainnya berada pada kuadran 2, yang berarti Pakem, Prambanan, dan Turi memiliki
memiliki posisi cukup menguntungkan. kontribusi yang tinggi bagi PDRB kabupaten,
Kedua, alternatif strategi yang dapat diterap- namun pertumbuhan ekonominya rendah.
kan untuk masing-masing PTS adalah seba- Kecamatan Depok, Gamping, Malti, Ngaglik,
gai berikut: Unika Widya Mandala sebaiknya dan Sleman memiliki pertumbuhan ekonomi
melakukan strategi pengembangan pasar; tinggi, namun kontribusi bagi PDRB kabu-
Untag, UPB, UPN "Veteran" Surabaya, dan paten rendah. Sedangkan kecamatan Berbah,
Ubhara dianjurkan untuk menerapkan Godean, Kalasan, Minggi, Moyudan, Seye-
strategi pengembangan produk; Unitomo gan, dan Tempel termasuk ke dalam kelom-
dengan strategi integrasi ke belakang; Unipra pok yang memberikan kontribusi rendah bagi
menggunakan strategi penetrasi pasar; dan
Rudy Badrudin – Analisis Dampak Otonomi Daerah 207

PDRB kabupaten dan juga memiliki pertum- Dalam rangka merangsang pertumbuhan
buhan ekonomi yang rendah. ekonomi dan meningkatkan kualitas hidup
Prasetiyo, Yudo Agus (2004), melaku- masyarakat, Pemerintah Kabupaten Sleman
kan penelitian tentang Analisis Penetapan menerapkan pemasaran wilayah (marketing
Strategi Perusahaan Guna Meningkatkan place) bagi fokus potensi ETI (Education,
Daya Saing Pada PT Cipta Niaga Dengan Tourism dan Investment). Strategi ini diper-
Analisis SWOT, BCG Matrix, dan analisis lukan sebagai value indicator yang akan
lainnya. Hasil penelitian menunjukkan memberikan pesan yang kuat kepada stake-
bahwa dalam kondisi persaingan bisnis yang holder. Kabupaten Sleman sebagai daerah
sangat ketat seperti saat ini dibutuhkan tujuan pendidikan mempunyai atmosfer
informasi yang cepat dan metode analisis intelektual yang sangat kuat. Di Kabupaten
yang akurat. Pada persaingan yang semakin Sleman terdapat 37 perguruan tinggi yang
ketat karena keadaan pasar yang terbuka dan terdiri dari 5 Perguruan Tinggi Negeri (PTN)
kondisi ekonomi yang belum stabil diperlu- dan 32 Perguruan Tinggi Swasta (PTS),
kan strategi yang tepat untuk melanjutkan dengan mahasiswa lebih dari 150.000 orang,
kelangsungan perusahaan untuk meningkat- terkonsentrasi di Kecamatan Depok (4 PTN
kan daya saing perusahaan PT Cipta Niaga dan 19 PTS).
Palembang yang bergerak pada bidang dis- Perguruan tinggi tersebut tumbuh
tribusi barang-barang kebutuhan rumah dengan mahasiswa berasal dari berbagai be-
tangga (customer good).Sebagai kompetitor, nua untuk mempelajari berbagai disiplin ilmu
PT A bergerak dalam bidang yang sama. dalam berbagai tingkatan strata. Sebagai
Tujuan yang ingin dicapai pada penelitian ini barometer pendidikan, Kabupaten Sleman
adalah untuk menganalisis tingkat pemasaran mempunyai fasilitas dan infrastruktur yang
dan menentukan strategi yang tepat untuk lengkap dan modern. Sistem pendidikan
meningkatkan daya saing terhadap perusa- dikembangkan dengan konsep link and
haan yang sejenis yang ada pada pasar match yang sesuai dengan kebutuhan masya-
domestik. Perumusan strategi perusahaan rakat dan pasar kerja. Secara umum, pergu-
dilakukan dengan menggunakan analisis ruan tinggi di Kabupatan Sleman berorientasi
SWOT, BCG Matrix, dan analsis lainnya. pada pembentukan intellectual skill, commu-
Penerapan metode tersebut dilakukan dengan nications skill, dan interpersonal skill untuk
evaluasi dan analisis terhadap keadaan intern menghasilkan sumber daya manusia (SDM)
dan ekstern perusahaan yang meliputi yang memiliki etos kerja profesional yang
peluang, ancaman, kekuatan, kelemahan, dibutuhkan di era bisnis global. Untuk itu,
kekuatan bisnis, daya tarik industri, dan fak- Kabupaten Sleman menyediakan zona dan
tor-faktor yang mempengaruhi perkem- fasilitas pembangunan kampus yang dapat
bangan kedua perusahaan. Berdasarkan hasil mendukung proses belajar mengajar seperti
evaluasi diperoleh alternatif strategi untuk student housing, auditorium, fasilitas olah
masing-masing perusahaan, yaitu untuk PT raga indoor/outdoor, jaringan infrastuktur,
Cipta Niaga adalah strategi market growth dan utilitas. Sistem informasi juga diciptakan
dan untuk PT A adalah strategi market de- untuk membangun networking antara kampus
velopment. dengan customer.
208 Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008

PTS di Kabupaten Sleman memiliki melakukan spesialisasi diharapkan penggu-


karakteristik berbeda satu sama lain. Perbe- naan sumberdaya yang dimiliki PTS tidak
daan karakteristik ini disebabkan perbedaan mubajir.
sumberdaya yang dimiliki, baik sumberdaya Salah satu cara untuk mengetahui suatu
fisik, sumber daya non fisik (sumberdaya PTS memiliki keunggulan di antara PTS-PTS
manusia), ataupun sumber modal. Sumber- yang lain adalah dengan menggunakan
daya yang dimiliki oleh suatu PTS menentu- matriks pertumbuhan-pangsa pasar (growth-
kan jenis produk/kegiatan yang difokuskan share matrix – GS Matrix). GS Matrix atau
untuk dikembangkan. Pemilihan jenis pro- Boston Consultant Group Matrix /BCG Ma-
duk/kegiatan PTS yang akan dikembangkan trix memiliki empat kuadran yang dipisahkan
didasarkan pada keunggulan yang dimiliki oleh dua sumbu, yaitu sumbu vertikal dan
oleh PTS tersebut. Keunggulan dapat diper- sumbu horisontal. Sumbu vertikal menun-
oleh dari sumberdaya spesifik yang dimiliki. jukkan kontribusi PTS terhadap PTS keselu-
Jika suatu PTS memiliki sumberdaya yang ruhan di Kabupaten Sleman dan sumbu hori-
spesifik dan tidak dimiliki oleh PTS lain, sontal menunjukkan laju pertumbuhan PTS.
baik jenis, mutu, maupun jumlahnya menun- Kontribusi suatu PTS diukur dari kontribusi
jukkan bahwa PTS tersebut memiliki keung- persentase jumlah mahasiswa PTS tersebut
gulan memproduksi produk yang mengguna- terhadap jumlah mahasiswa PTS keseluruhan
kan input utama sumberdaya tersebut. di Kabupaten Sleman. Sedangkan laju per-
Pemilihan terhadap produk yang memiliki tumbuhan PTS diukur dari persentase pe-
keunggulan untuk dikembangkan oleh PTS, rubahan jumlah mahasiswa PTS tersebut dari
berarti PTS tersebut melakukan spesialisasi. tahun ke tahun.
Spesialisasi dalam kegiatan sektor sangat
Lingkaran-lingkaran pada GS Matrix
penting, mengingat sumberdaya yang dimi-
menunjukkan kontribusi dan laju pertumbu-
liki oleh PTS sangat terbatas. Dengan

Kontribusi PTS

Tinggi (di atas rerata kontribusi Rendah (di bawah rerata kontribusi
PTS) PTS)

Tinggi
(di atas rerata
pertumbuhan PTS)

Õ ?
Laju
Pertumbuhan
PTS

4
Rendah
(di bawah rerata
pertumbuhan PTS)

Gambar 1. Matriks BCG PTS di Kabupaten Sleman


Rudy Badrudin – Analisis Dampak Otonomi Daerah 209

han PTS. Masing-masing PTS dikelompok- gram Strata 1 (S-1) Fakultas Ekonomi
kan berdasarkan tinggi rendahnya kontribusi dengan program studi Akuntansi, Manaje-
dan pertumbuhan masing-masing PTS. PTS men, dan Ekonomi Pembangunan sehingga
yang memiliki kontribusi jumlah mahasiswa dapat dibandingkan antara keempat PTS
di atas kontribusi jumlah mahasiswa rerata tersebut, maka sebagai obyek penelitian
dikelompokkan ke dalam PTS yang memiliki adalah jumlah mahasiswa baru S-1 program
kontribusi tinggi, dan sebaliknya. Demikian studi Akuntansi, Manajemen, dan Ekonomi
juga dengan pengelompokkan PTS berdasar- Pembangunan. Berdasarkan data yang diak-
kan pertumbuhan jumlah mahasiswa. PTS ses dari Departemen Pendidikan Nasional
yang memiliki pertumbuhan jumlah maha- Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi diper-
siswa di atas rerata pertumbuhan jumah oleh data yang tersaji dalam Tabel 6.
mahasiswa semua PTS dikelompokkan ke Berdasarkan Tabel 6, nampak masing-
dalam kelompok PTS yang memiliki per- masing program studi di PTS tersebut
tumbuhan tinggi, dan sebaliknya. memiliki perkembangan jumlah mahasiswa
PTS yang dipilih sebagai sampel dalam baru selama tahun 2002-2007 yang berbeda.
penelitian ini adakah empat PTS besar ber- Perbedaan ini disebabkan masing-masing
dasarkan jumlah mahasiswa dan berlokasi program studi (PS) di PTS tersebut memiliki
yang saling berdekatan di Kecamatan Depok, karakteristik yang berbeda satu sama lain
yaitu Universitas Islam Indonesia (UII), Uni- karena perbedaan sumberdaya yang dimiliki,
versitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Uni- baik sumberdaya fisik, sumber daya non fisik
versitas Pembangunan Nasional Veteran (sumberdaya manusia), ataupun sumber
Yogyakarta (UPNVY), dan Sekolah Tinggi modal. Berdasarkan uraian tersebut, peneliti
Ilmu Ekonomi Yayasan Keluarga Pahlawan menyimpulkan bahwa:
Negara Yogyakarta (STIE YKPN). Oleh
karena keempat PTS tersebut memiliki Pro-

Tabel 6. Jumlah Mahasiswa Baru Empat PTS di Kabupaten Sleman, Tahun 2002-2007

Program Studi (PS) 2002 2003 2004 2005 2006 2007


UII
S-1 Akuntansi 444 413 452 447 524 497
S-1 Manajemen 502 509 486 487 399 368
S-1 Ekonomi Pemb. 122 125 105 77 39 71
UAJY
S-1 Akuntansi 314 283 272 276 283 231
S-1 Manajemen 306 300 296 272 274 238
S-1 Ekonomi Pemb. 57 142 52 27 30 31
UPNVY
S-1 Akuntansi 363 413 320 320 278 -
S-1 Manajemen 845 769 541 386 371 -
S-1 Ekonomi Pemb. 239 139 57 47 69 -
STIEYKPN
S-1 Akuntansi 594 509 566 500 295 379
S-1 Manajemen 579 418 337 275 127 168
S-1 Ekonomi Pemb. 23 15 22 6 5 11
Sumber: http://www.evaluasi.or.id.
210 Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008

H1: ada perbedaan rata-rata kontribusi studi Ekonomi Pembangunan di UII, UAJY,
jumlah mahasiswa baru pada program studi UPNVY, dan STIE YKPN.
Akuntansi di UII, UAJY, UPNVY, dan STIE Pengujian hipotesis dilakukan menggu-
YKPN. nakan model anova satu arah. Model arah ini
H2: ada perbedaan rata-rata kontribusi digunakan untuk pengujian perbedaan antara
jumlah mahasiswa baru pada program studi k rata-rata sampel apabila subyek-subyek
Manajemen di UII, UAJY, UPNVY, dan penelitian ditentukan secara random pada
STIE YKPN. setiap grup atau kelompok perlakuan yang
H3: ada perbedaan rata-rata kontribusi ditentukan (Subiyakto, 2004: 41). Dalam
jumlah mahasiswa baru pada program studi penelitian ini α ditetapkan sebesar 5 persen.
Ekonomi Pembangunan di UII, UAJY,
UPNVY, dan STIE YKPN. HASIL PENELITIAN DAN
PEMBAHASAN
H4: ada perbedaan rata-rata pertumbu-
han jumlah mahasiswa baru pada program Berdasarkan data jumlah mahasiswa baru
studi Akuntansi di UII, UAJY, UPNVY, dan selama tahun 2002-2007 pada masing-
STIE YKPN. masing program studi di PTS tersebut (Tabel
6), maka dapat dihitung kontribusi jumlah
H5: ada perbedaan rata-rata pertumbu-
mahasiswa baru selama tahun 2002-2007
han jumlah mahasiswa baru pada program
pada masing-masing program studi di PTS
studi Manajemen di UII, UAJY, UPNVY,
tersebut yang hasilnya ditunjukkan pada
dan STIE YKPN.
Tabel 7.
H6: ada perbedaan rata-rata pertumbu-
Berdasarkan data jumlah mahasiswa
han jumlah mahasiswa baru pada program
baru selama tahun 2002-2007 pada masing-

Tabel 7. Kontribusi Jumlah Mahasiswa Baru Empat PTS di Kabupaten Sleman,


Tahun 2002-2007
Program Studi (PS) 2002 2003 2004 2005 2006 2007 rata-rata
UII
S-1 Akuntansi 25.89% 25.53% 28.07% 28.97% 37.97% 44.90% 31.89%
S-1 Manajemen 22.49% 25.50% 29.28% 34.30% 34.07% 47.55% 32.20%
S-1 Ekonomi Pemb. 27.66% 29.69% 44.49% 49.04% 27.27% 62.83% 40.17%
UAJY
S-1 Akuntansi 18.31% 17.49% 16.89% 17.89% 20.51% 20.87% 18.66%
S-1 Manajemen 13.71% 15.03% 17.83% 19.15% 23.40% 30.75% 19.98%
S-1 Ekonomi Pemb. 12.93% 33.73% 22.03% 17.20% 20.98% 27.43% 22.38%
UPNVY
S-1 Akuntansi 21.17% 25.53% 19.88% 20.74% 20.14% 0.00% 17.91%
S-1 Manajemen 37.86% 38.53% 32.59% 27.18% 31.68% 0.00% 27.97%
S-1 Ekonomi Pemb. 54.20% 33.02% 24.15% 29.94% 48.25% 0.00% 31.59%
STIE YKPN
S-1 Akuntansi 34.64% 31.46% 35.16% 32.40% 21.38% 34.24% 31.54%
S-1 Manajemen 25.94% 20.94% 20.30% 19.37% 10.85% 21.71% 19.85%
S-1 Ekonomi Pemb. 5.22% 3.56% 9.32% 3.82% 3.50% 9.73% 5.86%
Sumber: Diolah dari Tabel 6.
Rudy Badrudin – Analisis Dampak Otonomi Daerah 211

masing program studi di PTS tersebut (Tabel Berdasarkan data pada Tabel 7 dan
6), maka dapat dihitung pertumbuhan jumlah Tabel 8, maka dapat disarikan nilai kualitatif
mahasiswa baru selama tahun 2002-2007 kontribusi dan pertumbuhan jumlah maha-
pada masing-masing program studi di PTS siswa empat PTS di Kabupaten Sleman
tersebut yang hasilnya ditunjukkan pada seperti yang nampak pada Tabel 9.
Tabel 8. Berdasarkan Tabel 9, maka dapat di-

Tabel 8. Pertumbuhan Jumlah Mahasiswa Baru Empat PTS di Kabupaten Sleman,


Tahun 2002-2007

Program Studi (PS) 2003 2004 2005 2006 2007 rata-rata


UII
S-1 Akuntansi -6.98% 9.44% -1.11% 17.23% -5.15% 2.69%
S-1 Manajemen 1.39% -4.52% 0.21% -18.07% -7.77% -5.75%
S-1 Ekonomi Pemb. 2.46% -16.00% -26.67% -49.35% 82.05% -1.50%
UAJY
S-1 Akuntansi -9.87% -3.89% 1.47% 2.54% -18.37% -5.63%
S-1 Manajemen -1.96% -1.33% -8.11% 0.74% -13.14% -4.76%
S-1 Ekonomi Pemb. 149.12% -63.38% -48.08% 11.11% 3.33% 10.42%
UPNVY
S-1 Akuntansi 13.77% -22.52% 0.00% -13.13% - -5.47%
S-1 Manajemen -8.99% -29.65% -28.65% -3.89% - -17.79%
S-1 Ekonomi Pemb. -41.84% -58.99% -17.54% 46.81% - -17.89%
STIE YKPN
S-1 Akuntansi -14.31% 11.20% -11.66% -41.00% 28.47% -5.46%
S-1 Manajemen -27.81% -19.38% -18.40% -53.82% 32.28% -17.42%
S-1 Ekonomi Pemb. -34.78% 46.67% -72.73% -16.67% 120.00% 8.50%
Sumber: Diolah dari Tabel 6.

Tabel 9. Pertumbuhan dan Kontribusi Empat PTS di Kabupaten Sleman, 2002-2007

Program Studi Pertumbuhan Kontribusi


UII
S-1 Akuntansi tinggi Tinggi
S-1 Manajemen tinggi Tinggi
S-1 Ekonomi Pemb. rendah Tinggi
UAJY
S-1 Akuntansi rendah Rendah
S-1 Manajemen tinggi Rendah
S-1 Ekonomi Pemb. tinggi Rendah
UPNVY
S-1 Akuntansi rendah Rendah
S-1 Manajemen rendah Tinggi
S-1 Ekonomi Pemb. rendah Tinggi
STIE YKPN
S-1 Akuntansi rendah Tinggi
S-1 Manajemen rendah rendah
S-1 Ekonomi Pemb. tinggi Rendah
Sumber: Diolah dari Tabel 7 dan Tabel 8.
212 Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008

gambarkan posisi masing-masing Program berarti signifikan pada α = 0,05. Ini berarti
Studi Akuntansi, Manajemen, dan Ekonomi hipotesis yang menyatakan bahwa ada
Pembangunan di UII, UAJY, UPNVY, dan perbedaan rata-rata kontribusi jumlah
STIE YKPN dalam Matriks BCG seperti mahasiswa baru pada program studi
yang nampak pada Gambar 2. Ekonomi Pembangunan di UII, UAJY,
Hasil pengujian hipotesis untuk menge- UPNVY, dan STIE YKPN diterima.
tahui signifikan tidaknya perbedaan rata-rata Nilai F test H4 adalah 0,29 dengan nilai
kontribusi dan pertumbuhan jumlah maha- P value = 0,8313 yang berarti tidak signifi-
siswa baru pada masing-masing program kan pada α = 0,05. Ini berarti hipotesis yang
studi Akuntansi, Manajemen, dan Ekonomi menyatakan bahwa ada perbedaan rata-rata
Pembangunan di UII, UAJY, UPNVY, dan pertumbuhan jumlah mahasiswa baru pada
STIE YKPN dengan Anova satu arah pada program studi Akuntansi di UII, UAJY,
tingkat signifikansi sebesar 0,05 . (Tabel 9) UPNVY, dan STIE YKPN ditolak. Nilai F
Berdasarkan Tabel 10 nampak nilai F test H5 adalah 0,62 dengan nilai P value =
test H1 adalah 8,41 dengan nilai P value = 0,6135 yang berarti tidak signifikan pada α =
0,0008 yang berarti signifikan pada α = 0,05. 0,05. Ini berarti hipotesis yang menyatakan
Ini berarti hipotesis yang menyatakan bahwa bahwa ada perbedaan rata-rata pertumbuhan
ada perbedaan rata-rata kontribusi jumlah jumlah mahasiswa baru pada program studi
mahasiswa baru pada program studi Akun- Manajemen di UII, UAJY, UPNVY, dan
tansi di UII, UAJY, UPNVY, dan STIE STIE YKPN ditolak. Nilai F test H6 adalah
YKPN diterima. Nilai F test H2 adalah 2,59 0,15 dengan nilai P value = 0,9274 yang ber-
dengan nilai P value = 0,0816 yang berarti arti tidak signifikan pada α = 0,05. Ini berarti
tidak signifikan pada α = 0,05. hipotesis yang menyatakan bahwa ada per-
bedaan rata-rata pertumbuhan jumlah maha-
Ini berarti hipotesis yang menyatakan
siswa baru pada program studi Ekonomi
bahwa ada perbedaan rata-rata kontribusi
Pembangunan di UII, UAJY, UPNVY, dan
jumlah mahasiswa baru pada program studi
STIE YKPN ditolak
Manajemen di UII, UAJY, UPNVY, dan
STIE YKPN ditolak. Nilai F test H3 adalah Berdasarkan Gambar 2, PTS yang terle-
8,07 dengan nilai P value = 0,0010 yang tak pada kuadran satu (bergambar ?) menun-
jukkan bahwa PTS tersebut mempunyai

Tabel 10. Hasil Pengujian Hipotesis dengan Anova

Hipotesis F test P value Pengujian


H1 8,41 0,0008 signifikan
H2 2,59 0,0816 tidak signifikan
H3 8,07 0,0010 signifikan
H4 0,29 0,8313 tidak signifikan
H5 0,62 0,6135 tidak signifikan
H6 0,15 0,9274 tidak signifikan
Sumber: Tabel 7 dan 8. Data diolah.
Rudy Badrudin – Analisis Dampak Otonomi Daerah 213

kontribusi rendah, tetapi laju pertumbuhan PTS yang terletak pada kuadran empat
tinggi. PTS yang terletak pada kuadran satu (bergambar ) dapat diartikan bahwa PTS
ini memiliki peluang pasar yang besar. Hal tersebut memiliki potensi yang rendah,
ini ditunjukkan oleh pertumbuhan yang karena PTS tersebut memiliki pertumbuhan
tinggi di PTS ini. Dengan demikian, PS pasar rendah dan memberikan kontribusi
Manajemen dan PS Ekonomi Pembangunan yang rendah pula. PTS tersebut memiliki
UAJY, serta PS Ekonomi Pembangunan tingkat keunggulan yang relatif rendah,
STIE YKPN yang terletak pada kuadran satu sehingga PTS tersebut hanya mampu menye-
ini berpotensi untuk dikembangkan. Strategi rap sebagian kecil permintaan pasar. Investa-
pengembangan PTS ini adalah dengan si pada PTS tersebut tidak dapat memberikan
menambah modal. prospek yang baik, karena laju pertumbuhan
PTS yang terletak pada kuadran dua PTS tersebut juga rendah. Strategi pengem-
(bergambar Õ) menunjukkan bahwa PTS bangan PS Akuntansi UAJY, PS Akuntansi
tersebut memiliki laju pertumbuhan tinggi UPNVY, dan PS Manajemen STIE YKPN
dan kontribusi tinggi. Dengan demikian, PTS yang berada pada kuadran empat adalah
tersebut merupakan PTS yang memiliki po- dengan melakukan diversifikasi produk
tensi berkembang, karena PTS tersebut untuk menciptakan pasar baru atau mencari
berada pada pasar yang memiliki laju per- pasar di luar pasar yang sudah ada.
tumbuhan tinggi. Selain itu, PTS itu juga Berdasarkan Tabel 10, nampak H1 dan
memberikan kontribusi tinggi. Strategi H3 diterima sedang H2 ditolak secara signi-
pengembangan PS Akuntansi dan PS Mana- fikan pada α = 5% . Perbedaan rata-rata kon-
jemen UII yang berada pada kuadran dua tribusi jumlah mahasiswa baru pada program
adalah memperbesar permodalan untuk me- studi Akuntansi di UII, UAJY, UPNVY, dan
layani permintaan dari laju pertumbuhan STIE YKPN terjadi karena perbedaan sum-
pasar yang tinggi dan berusaha memper- berdaya yang dimiliki, baik sumberdaya
tahankan kontribusi yang telah dimiliki. fisik, sumber daya non fisik (sumberdaya
PTS yang terletak pada kuadran tiga manusia), ataupun sumber modal. Sumber-
(bergambar 4) merupakan PTS yang berha- daya yang dimiliki oleh suatu PS menentu-
sil, karena PTS tersebut memiliki kontribusi kan jenis produk/kegiatan yang difokuskan
yang tinggi, walaupun laju pertumbuhan re- untuk dikembangkan. Sebagai contoh, perbe-
latif rendah. PTS yang terletak pada kuadran daan pada aspek kuantitas dan kualitas dosen
tiga tidak memerlukan investasi besar. Hal PS Akuntansi di antara keempat PTS tersebut
ini disebabkan laju pertumbuhan pasar juga mengakibatkan perbedaan dalam penawaran
relatif rendah. Jika diinginkan memperbesar jenis produk pengembangan, yaitu Program
investasi PTS tersebut, pengelola PS Eko- Magister Akuntansi (MAKSI) dan Program
nomi Pembangunan UII, PS Manajemen dan Pendidikan Profesi Akuntansi (PPA) yang
PS Ekonomi Pembangunan UPNVY, serta hanya ditawarkan oleh PS Akuntansi STIE
PS Akuntansi STIE YKPN harus berusaha YKPN. Demikian juga dengan perbedaan
menciptakan pasar atau mencari pasar baru rata-rata kontribusi jumlah mahasiswa baru
bagi produk-produk PTS tersebut. pada program studi Ekonomi Pembangunan
di UII, UAJY, UPNVY, dan STIE YKPN
214 Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008

terjadi karena perbedaan sumberdaya yang KESIMPULAN


dimiliki. Sebagai contoh, perbedaan dalam Dampak otonomi daerah telah menimbulkan
penawaran jenis produk pengembangan, penurunan terhadap minat calon mahasiswa
yaitu Program Magister Ekonomi Pemba- untuk melanjutkan kuliah di DIY pada
ngunan (MEP) yang hanya ditawarkan oleh umumnya dan Kabupaten Sleman pada
PS Ekonomi Pembangunan UPNVY dan khususnya karena di berbagai kota/kabupaten
Program Doktor Ilmu Ekonomi yang hanya di luar Propinsi DIY telah tumbuh dan
ditawarkan oleh PS Ekonomi Pembangunan berkembang berbagai PT. Oleh karena itu,
UII. Tidak adanya perbedaan rata-rata kon- agar PTS di Kabupaten Sleman mampu tum-
tribusi jumlah mahasiswa baru pada program buh dan berkembang maka masing-masing
studi Manajemen di UII, UAJY, UPNVY, PTS harus memilih strategi pengembangan
dan STIE YKPN terjadi karena keempat PTS PTS yang spesifik berbeda bahkan untuk
tersebut tidak memiliki perbedaan dalam masing-masing PS di masing-masing PTS.
penawaran jenis produk pengembangan,
Perbedaan rata-rata kontribusi jumlah
yaitu Program Magister Manajemen (MM)
mahasiswa baru pada PS Akuntansi dan
karena keempat PTS semuanya menawarkan
Program MM. Ekonomi Pembangunan di UII, UAJY,
UPNVY, dan STIE YKPN terjadi karena
Berdasarkan Tabel 10, nampak H4, H5, perbedaan sumberdaya yang dimiliki, baik
dan H6 ditolak secara signifikan pada α = sumberdaya fisik, sumber daya non fisik
5%. Tidak adanya perbedaan rata-rata (sumberdaya manusia), ataupun sumber
pertumbuhan jumlah mahasiswa baru pada modal. Sumberdaya yang dimiliki oleh suatu
program studi Akuntansi, Manajemen, dan PS menentukan jenis produk/kegiatan yang
Ekonomi Pembangunan di UII, UAJY, difokuskan untuk dikembangkan. Tidak ada-
UPNVY, dan STIE YKPN karena sebagai nya perbedaan rata-rata pertumbuhan jumlah
PTS yang besar di Kabupaten Sleman, mahasiswa baru pada PS Akuntansi, Manaje-
keempat PTS tersebut memiliki keterbatasan men, dan Ekonomi Pembangunan di UII,
dalam memperoleh input (calon mahasiswa) UAJY, UPNVY, dan STIE YKPN karena
yang relatif sebagian besar berasal dari luar sebagai PTS yang besar di Kabupaten
Propinsi DIY. Dampak otonomi daerah, telah Sleman, keempat PTS tersebut memiliki
menimbulkan penurunan terhadap minat keterbatasan dalam memperoleh input (calon
calon mahasiswa untuk melanjutkan kuliah mahasiswa) yang relatif sebagian besar
di DIY pada umumnya dan Kabupaten berasal dari luar Propinsi DIY.
Sleman pada khususnya karena di berbagai
kota/kabupaten di luar Propinsi DIY telah Saran-saran yang diajukan dari hasil
penelitian ini sebagai berikut:
tumbuh dan berkembang berbagai PT. Oleh
karena itu, agar PTS di Kabupaten Sleman Penelitian ini menggunakan sampel PS
mampu tumbuh dan berkembang maka Akuntansi, Manajemen, dan Ekonomi Pem-
masing-masing PTS harus memilih strategi bangunan 4 PTS di Kabupaten Sleman,
pengembangan PTS yang spesifik berbeda Propinsi DIY. Mempertimbangkan di Kabu-
bahkan untuk masing-masing PS di masing- paten Sleman terdapat 37 perguruan tinggi
masing PTS. yang terdiri dari 5 Perguruan Tinggi Negeri
Rudy Badrudin – Analisis Dampak Otonomi Daerah 215

(PTN) dan 32 Perguruan Tinggi Swasta Kate, Ashcroft. (1995). The Lecturer’s Guide
(PTS), dengan mahasiswa lebih dari 150.000 to Quality and Standards in Colleges
orang, terkonsentrasi di Kecamatan Depok and Universities. London: The Falmer
sebanyak 4 PTN dan 19 PTS, maka dalam Press.
penelitian berikutnya hendaknya memper- Kedaulatan Rakyat, 2004, 27-29 April. Seleksi
banyak jumlah PTS dengan memasukkan terhadap Mahasiswa Baru Berkaitan
PTS yang dianggap kecil dalam jumlah dengan Tes Narkoba.
mahasiswanya. Penambahan obyek peneli-
Kompas, 2004, 12 April. Biaya Pendidikan di
tian sangat penting untuk mengetahui dam-
Yogyakarta: Laporan Hasil Penelitian
pak otonomi daerah terhadap strategi
Bank Indonesia (BI) Yogyakarta, Tahun
pengembangan PTS besar dan kecil di
2000-2002. Hlm. A
Kabupaten Sleman.
Kompas, 2003, 22 Juni. Survei Biaya Pendi-
dikan di Perguruan Tinggi di Berbagai
DAFTAR PUSTAKA Kota. hlm 32.
Algifari dan Rudy Badrudin. Desember 2003, Kopertis Wilayah V. Laporan Jumlah Maha-
Strategi Pengembangan Kecamatan siswa Tahun 2001-2003. Yogyakarta:
Menggunakan Growth-Share Boston Kopertis.
Consulting Group (Bcg) Matrix (Studi M. Zainuddin dan Susy Puspitasari (2001).
Kasus di Kabupaten Sleman, DIY. Strategi Peningkatan Kualitas Pendidi-
Jurnal Akuntansi & Manajemen (JAM). kan Tinggi. Bahan Pelatihan Pekerti –
Vol. XVII, No. 3: 203-213. PAU. Jakarta: Dirjen Dikti.
Andriani, Lis, HR. Januari 2001. Analisis
Maisyaroh, Arifa dan Debora Anggraini
Strategi Perguruan Tinggi: Telaah Faktor
(2005). Kompetisi dan Strategi dalam
Eksternal dan Internal Sebagai Dasar
Membangun Perguruan Tinggi pada era
Penentuan Posisi Keunggulan Kompeti-
Globalisasi. Jurnal Manajemen STIE-
tif dan Pemilihan Strategi: Kasus FE MCE.
Jurusan Manajemen pada 9 Perguruan
Tinggi Swasta di Kota Surabaya. Jurnal Prasetiyo, Yudo Agus (2004). Analisis Pene-
Ekonomi. Fakultas Ekonomi Universitas tapan Strategi Perusahaan Guna Mening-
Airlangga. Diakses dari http://www.- katkan Daya Saing Pada PT Cipta Niaga
unair.ac.id. dengan Analisis SWOT. Jurnal Kompi-
lasi. STT Musi Palembang. Diakses dari
Bounds, Greg, et. al. 1994. Beyond Total Qua- http//:www.musi.ac.id
lity Management: Toward the Emerging
Paradigm. Singapore: McGraw-Hill. Supriyono, RA. (1998). Manajemen Strategi
dan Kebijaksanaan Bisnis. Ed. 2. Yog-
Badan Pusat Statistik. 2002. Sleman dalam yakarta: BPFE UGM.
Angka. Sleman: BPS.
http://web.ugm.ac.id/um-ugm/um-ugm-php.
http://www.evaluasi.or.id.
Jurnal Ekonomi Pembangunan
Vol. 9, No. 2, Desember 2008, hal. 216 - 227

PERAN AKTIF WANITA DALAM PENINGKATAN PENDAPATAN RUMAH


TANGGA MISKIN: STUDI KASUS PADA WANITA PEMECAH BATU DI
PUCANGANAK KECAMATAN TUGU TRENGGALEK *

Sugeng Haryanto
Program D3 Keuangan dan Perbankan Universitas Merdeka Malang
E mail: p3et@yahoo.com

ABSTRACT
This research explain how women share actively in the effort increasing earnings of
the household. This research done with taking sample at the stone crusher women in
Kecamatan Tugu Kabupaten Trenggalek. Women have potency in giving contri-
bution of earnings of household, especially impecunious household. In impecunious
household, women household member plunge to job market for adding earnings
household felt insufficient. Women contribution can be told as safety valve or sup-
porter for impecunious household to fulfill everyday basic need. This research aim
1) for analyzing contribution of earnings of stone crusher worker women to earn-
ings of family, 2) to know usage of earnings of stone crusher worker women, 3) to
know in working which poured by stone crusher worker women. Research finding
indicate that women who work as stone crusher have enough significant earnings
contribution to earnings of family.
Keywords: stone crusher women, earning contribution, outpouring time

PENDAHULUAN untuk tetap dapat mempertahankan tingkat


Fenomena yang menarik pada rumah tangga kesejahteraan atau kehidupan yang layak.
miskin dalam mempertahankan hidup dengan Namun demikan upaya ini tidak semuanya
tingkat kehidupan yang layak, yaitu pertama mampu untuk dapat mempertahankan pada
pada sisi pengeluaran melakukan penghemat- tingkat kehidupan yang layak.
an pada pengeluaran yang dirasakan dapat Dalam keluarga miskin, pada umumnya
ditunda, pengeluaran-pengeluaran yang ber- seluruh sumber daya manusia dikerahkan
kaitan dengan transportasi sedapat mungkin untuk memperoleh penghasilan, sebagai
dihindari atau dikurangi. Kedua, pada sisi upaya pemenuhan pokok sehari-hari. Oleh
pendapatan rumah tangga pada rumah tangga sebab itu dalam keluarga miskin menganggur
miskin telah memaksa mereka untuk melaku- merupakan sesuatu yang mahal, karena ang-
kan pengoptimalan pendapatan melalui gota keluarga lain yang bekerja atau menjadi
pengerahan sumber daya ekonomi yang di- beban tanggungan anggota rumah tangga
miliki. Upaya ini dilakukan dalam upaya lain. Mereka tidak sempat menganggur dan

* Penelitian ini merupakan penelitian SKW yang dibiayai oleh DIKTI tahun 2007
Sugeng Haryanto - Peran Aktif Wanita dalam Peningkatan Pendapatan 217

mereka bersedia melakukan pekerjaan apa- wanita pemecah batu terhadap pendapatan
pun, terutama sektor informal yang tidak keluarga, 2) Untuk mengetahui penggunaan
membutuhkan keahlian tertentu, mudah pendapatan pekerja wanita pemecah batu, 3)
untuk dimasuki, luwes, dan tidak membutuh- Untuk mengetahui curahan waktu kerja
kan modal yang besar. pekerja wanita pemecah batu.
Berkaitan dengan pengerahan sumber Tinjauan pustaka dalam penelitian ini
daya ekonomi yang dimiliki rumah tangga sebagai berikut:
miskin, maka telah menuntut wanita sebagai
istri untuk dapat menopang ketahanan ekono- 1. Gender Inequality
mi keluarga. Kondisi demikian merupakan Gender diartikan merupakan konstruksi
dorongan yang kuat bagi wanita untuk sosial-kultural yang membedakan karakteris-
bekerja di luar rumah. Dalam beberapa tahun tik maskulin dan feminin. Gender membagi
terakhir ini keterlibatan wanita pada sektor atribut dan pekerjaan menjadi maskulin dan
publik menunjukkan angka yang terus feminin. Secara realitas sosial menunjukkan
meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa bahwa pembagian peran berdasarkan gender
motivasi wanita untuk bekerja di sektor melahirkan keadaan yang tidak seimbang, di
publik semakin tinggi. mana wanita menjadi tersubordinasi oleh
Wanita pada rumah tangga miskin, rata- laki-laki yang disebut sebagai ketimpangan
rata mempunyai tingkat pendidikan yang gender.
relatif rendah karena kondisi ekonomi yang Analisis gender dalam kegiatan ekonomi
melatarbelakanginya. Wanita ini masuk ke todak dapat dipisahkan dari analisis tentang
pasar kerja dengan tingkat pendidikan rendah keluarga. Ekonomi dan keluarga merupakan
dan ketrampilan rendah. Wanita dengan ting- dua lembaga yang saling berhubungan seka-
kat pendidikan dan ketrampilan yang rendah lipun tampak keduanya terpisah satu sama
inilah yang justru banyak masuk ke lapangan yang lainnya. Ketidakseimbangan berdasar-
kerja, terutama pada sektor informal dengan kan gender (Gender Inequality) mengacu
motivasi menambah pendapatan keluarga. pada ketidakseimbangan pada akses ke
Di daerah Pucanganak Kecamatan Tugu sumber-sumber yang langka dalam masyara-
Trenggalek banyak dijumpai keluarga yang kat. Sunmber yang penting yang ada di
bekerja sebagai pemecah batu, selain sebagai masyarakat ini antara lain meliputi kekuasaan
petani. Dengan kondisi tanah yang berbukit atasmaterial, jasa, prestise, peran dalam
mengakibatkan areal pertanian menjadi ter- masyarakat, kesempatan memperoleh pendi-
batas, mereka banyak bekerja sebagai peme- dikan, kesempatan memperoleh pekerjaan
cah batu yang berada di sekitar sungai di dan sebagainya. Pendapat tentang ketimpa-
daerah tersebut. Pekerjaan sebagai pemecah ngan gender ini tampaknya kurang memper-
batu menjadi dominan karena tingkat kete- hatikan aspek sosial budaya yang mengkon-
rampilan yang dimiliki sangat terbatas dan struksi terjadinya ketimpangan tersebut.
pendidikan yang rata-rata memang rendah.
Penelitian ini bertujuan untuk: 1) untuk
mengetahui kontribusi pendapatan pekerja
218 Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008

2. Pekerja Wanita dan Motivasi Kerja kan terhadap peningkatan pendapatan keluar-
ga. Kontribusi perempuan dapat dikatakan
Wanita mempunyai potensi dalam membe-
sebagai katup pengaman (savety valve) atau
rikan kontribusi pendapatan rumah tangga,
penopang bagi rumah tangga miskin untuk
khususnya rumah tangga miskin. Dalam
memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.
rumah tangga miskin anggota rumah tangga
wanita terjun ke pasar kerja untuk menambah Wanita Indonesia terutama di pedesaan
pendapatan rumah tangga yang dirasakan sebagai sumber daya manusia cukup nyata
tidak cukup. partisipasinya khususnya dalam memenuhi
fungsi keluarga dan rumah tangga bersama
Peningkatan partisipasi wanita dalam
pria. Beberapa hasil penelitian menunjukkan
kegiatan ekonomi karena: pertama, adanya
peran serta wanita dalam berbagai industri di
perubahan pandangan dan sikap masyarakat
beberapa daerah cukup besar dan menentu-
tentang sama pentingnya pendidikan bagi
kan, dengan pengelolaan usaha yang bersifat
kaum wanita dan pria, serta makin disada-
mandiri (Lestari, dkk: 1997).
rinya perlunya kaum wanita ikut berpartisi-
pasi dalam pembangunan, kedua, adanya Potensi yang dimiliki wanita untuk
kemauan wanita untuk bermandiri dalam menopang ekonomi keluarga memang cukup
bidang ekonomi yaitu berusaha membiayai besar. Namun demikian wanita tidak menon-
kebutuhan hidupnya dan mungkin juga ke- jolkan diri atau mengklaim bahwa mereka
butuhan hidup dari orang-orang yang men- menjadi penyangga utama ekonomi keluarga.
jadi tanggungannya dengan penghasilan Temuan penelitian yang dilakukan oleh
sendiri. Kemungkinan lain yang menyebab- Wibowo (2002) pada pedagang tradisional di
kan peningkatan partisipasi wanita dalam Semarang menunjukkan bahwa kaum wanita
angkatan kerja adalah makin luasnya kesem- pedagang tetap tidak ingin menonjolkan diri
patan kerja yang bisa menyerap pekerja atau mengklaim bahwa aktivitasnya sebagai
wanita, misalnya munculnya kerajinan pedagang adalah utama (pokok), melainkan
tangan dan industri ringan. hanya sekedar mendukung kegiatan suami,
waluapun tidak menutup kemungkinan peng-
Wanita mempunyai potensi dalam mem-
hasilan mereka jauh lebih besar daripada apa
berikan kontribusi pendapatan rumah tangga,
yang diperoleh oleh suami mereka.
khususnya rumah tangga miskin. Dalam
rumah tangga miskin anggota rumah tangga Gambaran mengenai pembagian kerja
wanita terjun ke pasar kerja untuk menambah rumah tangga berdasarkan jenis kelamin
pendapatan rumah tangga yang dirasakan tersebut merupakan sebagian kecil bukti yang
tidak cukup. Hasil penelitian yang dilakukan mencerminkan ketidak seimbangan peran
Mariun (2004) menunjukkan dari 53,44 per- produktif dan peran reproduktif antara wanita
sen perempuan yang bekerja, 72,79 persen dan pria. Gambaran seperti ini banyak
adalah pekerja tetap, artinya perempuan terdapat di berbagai masyarakat, dan keadaan
mempunyai kepastian dalam memperoleh seperti ini tampak kurang menguntungkan
pendapatan. Yuniarti dan Haryanto (2005) wanita dalam meraih kesempatan melakukan
pendapatan para pekerja wanita pada industri kegiatan-kegiatan produktifnya.
sandang mempunyai kontribusi yang signifi-
Sugeng Haryanto - Peran Aktif Wanita dalam Peningkatan Pendapatan 219

3. Wanita dan Kegiatan Sosial mata mengandalkan mekanisme harga. Pe-


kerja wanita di industri kecil dan menengah
Dalam kehidupan bermasyarakat interaksi
di kota akan membandingkan dengan upah
antara keluarga merupakan bagian yang
yang diterimanya sebagai pekerja pada sektor
sangat penting. Hubungan antaranggota ke-
lain pada wilayah opportunity-nya. Maksud-
luarga dalam kehidupan bermasyakat dalam
nya adalah level-level jabatan pekerjaan yang
bentuk seperti pertemuan rukun tetangga
tingkat kemudahan memperolehnya.
(RT), Dasa wisma, pertemuan yang bersifat
kegamaan seperti tahlilan merupakan hal Beberapa penelitian seperti Ardjani
dipandang sangat penting dalam kehidupan (2003) di IRT sandang merupakan persepsi
bermasyarakat. pekerja terhadap upah pada wilayah oppor-
tunity pekerjaaan itu sendiri. Upah yang
Pertemuan-pertemuan dalam rangka ke-
diperoleh pekerja IRT pada IRT sandang
hidupan sosial bermasyarakat tentunya akan
menunjukkan lebih tinggi dibandingkan
merupakan suatu bentuk penyisihan tersen-
dengan upah yang diperoleh pada IRT bidang
diri bagi seseorang yang harus mencari
lain. Temuan ini, walaupun belum sangat
nafkah jauh dari tempat tinggalnya. Bagi
meyakinkan tetapi merupakan suatu surprise.
keluarga yang relatif miskin, seringkali
wanita sebagai seorang ibu dituntut untuk Ardjani (2003) menemukan bahwa 20,7
juga bekerja. Bagi wanita yang bekerja persen menyatakan IRT lebih tinggi, 63 per-
seperti ini tentunya pengaturan waktu akan sen menyatakan sama saja dan hanya 16 per-
sangat penting sekali antara bekerja dengan sen yang menyatakan lebih kecil upah yang
kegiatan sosial kemasyarakatan. mereka terima dari IRT dibandingkan dengan
upah buruh industri yang sama yang diinter-
Ketika seseorang tidak mengikuti kegiat-
vensi pemerintah. UMR pada tahun peneli-
an sosial kemasyarakatan, maka seringkali
tian Rp1.350,- per hari. Rata-rata penerimaan
seseorang akan merasa diasingkan dari ling-
IRT sandang di Baliu ntuk bordir, konveksi
kungannya. Hal ini tentunya bagi masyarakat
dan tenun adalah Rp8.786,- Rp11.180,- dan
yang miskin yang rata-rata tinggal di suatu
Rp10.175,- perminggu.Harga beras Rp500,-
perkampungan merupakan beban yang sangat
perkilogram pada saat penelitian.
berat.
Penelitian di IRT yang dilakukan oleh
Ken (1994) di Sulawesi menunjukkan pen-
4. Pendapatan keluarga wanita
dapatan buruh lebih rendah dibandingkan
Sumber utama pendapatan bagi pekerja dengan umur dan juga upah industrial.
wanita adalah upah dan tunjangan-tunjangan Keadaan ini diterima dengan dikonversi
kesejahteraan lain yang diperoleh oleh dengan kombinasi berbagai pendapatan, juga
pekerja. Sebagaimana diketahui regulasi pe- karena dapat dilakukan di desa/dekat rumah
merintah untuk mengatur UMR tetapi serta pendapatan non uang.
kondisi demikian tentunya akan sangat sulit
diterapkan pada industri-industri kecil atau
5. Sektor Informal
menengah dimana jam kerja dalam sehari
masih jauh di bawah standar jam kerja. Upah Sektor informal merupakan unit usaha yang
dalam industri kecil dan menengah semata- berskala kecil yang menghasilkan dan
220 Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008

mendistribusikan barang dan jasa dengan Usaha sektor informal adalah uasaha mikro
tujuan menciptakan kesempatan kerja bagi dan juga usaha kecil (Binaswadaya, 2002).
dirinya sendiri Sektor informal ini sering Subarsono (1996) mengemukakan
disebut juga dengan aktivitas informal, ke- karakteristik sektor informal adalah: a) sektor
sempatan kerja yang diciptakan (self em- informal ini mudah dimasuki, b) tidak me-
ployment), ekonomi di bawah tanah (under- merlukan ijin untuk beroperasi, c) menggu-
ground economy), causal work, shadow nakan tehnologi sederhana dan padat tenaga
economy (Subarsono, 1998). kerja d) tidak ada akses keinstitut keuangan
Menurut Tobing (2002) umumnya yang formal, e) beroperasi dalam skala kecil dan
terlibat dalam sektor informal adalah berpen- biasanya milik keluarga, f) unit usahanya
didikan rendah, miskin tidak terampil dan tidak terorganisir, g) kesempatan kerja di
kebanyakan para migran, kurang mampu sektor ini tidak terproteksi sebab tidak diatur
mengartikulasikan dan menetapkan kebutu- oleh peraturan pemerintah.
hannya. Karena itu cakrawala mereka terba- Mengapa seseorang memasuki sektor in-
tas untuk memberi kesempatan kerja dan formal? Ada faktor yang menyebabkan sek-
menghasilkan pendapatan langsung bagi tor informal muncul, misalnya karena proses
dirinya sendiri, tidak memaksimasi profit. memperoleh kesempatan untuk memasuki
Berkaitan dengan memaksimasi profit tidak sektor formal ternyata memerlukan biaya
selamanya benar, sebab sebagian besar sektor transaksi yang terlalu tinggi bagi sebagian
informal ternyata mempunyai falsafah profit besar masyarakat urban dan rural. Motif
motive (Effendi, 1997). usaha seseorang masuk sektor informal
Aktivitas sektor informal ditandai adalah alasan ekonomi (Winarno, 1996).
dengan: a) mudah untuk memasukinya, b) Sektor informal saat ini semakin berkem-
bersumber pada sumber daya lokal, c) usaha bang, sebagian akibat dari keterpurukan
milik sendiri d) operasinya dalam skala kecil, sektor formal, banyak angkatan kerja yaang
e) padat karya dan teknologinya bersifat terpental dari sektor formal (Wahyudi, 2001).
adaptif, f) ketrampilan diperoleh dari luar Sektor informal telah mampu menjadi katup
sistem sekolah, g) tidak tersentuh langsung pengaman bagi perkembangan angkatan
oleh regulasi pemerintah, h) pasarnya bersifat kerja yang setiap tahun terus mengalami
kompetitif (Gilbert dan Glugler: 1996: 96). peningkatan (Haryanto, 2000) .
Perspektif pelaku ekonomi dapat dibe- Keberadaan sektor informal saat ini
dakan kedalam dua kelompok besar, yaitu menjadi sangat penting karena beberapa fak-
sektor usaha formal dan sektor informal. tor. Sektor informal selain sebagai penyedia
Sektor formal diasosiasikan dengan usaha lapangan kerja, juga keberadaan dan kemam-
baik kecil, menengah maupun besar yang puan sektor informal ini bertahan di perko-
memiliki badan hukum dan menjadi bagian taan tanpa bantuan dari pemerintah adalah
dari sistem ekonomi formal. Sektor informal karena kebutuhan akan berbagai macam
adalah sektor ekonomi yang ditandai dengan pruduk dan jasa yang dihasilkan oleh sektor
ketiadaan badan hukum serta ruang gerak informal ini. Selain itu sektor formalpun
yang di luar kerangka aturan yang legal. membutuhkan keberadaan sektor informal ini
dan sektor informal dan formal saling
Sugeng Haryanto - Peran Aktif Wanita dalam Peningkatan Pendapatan 221

berkaitan dan melengkapi. Peran sektor patan seluruh keluarga, jumlah anak dan data
informal sebagai basis ekonomi kerakyatan lainnya.
di beberapa kawasan kota besar memegang
fungsi strategis sebagai sector resccue dan Populasi dan sampel
penyangga yang menyelamatkan subsistensi Populasi dalam penelitian ini adalah wanita
sebagian besar penduduk yang hidup di pemecah batu di Desa Pucanganak Kecama-
bawah urban stress (Wahyudi, 2001). tan Tugu Trenggalek. Sampel diambil secara
diambil dengan menggunakan metode pur-
METODE PENELITIAN posive random sampling, yaitu sebagai beri-
kut: Menentukan pekerja wanita sebaga
Definisi Operasional Variabel pemecah batu yang yang berada di beberapa
1. Pendapatan rumah tangga, yang dimak- perdukuhan berada di Daerah Pucanganak,
sud dengan pendapatan rumah tangga kemudian menentukan pekerja waniat seba-
dalam penelitian ini adalah jumlah rupiah gai pemecah batu yang menjadi sampel se-
yang diperoleh oleh istri dan suami dari cara random.
bekerja, yang diukur dengan rupiah rata-
rata perminggunya. Lokasi Penelitian
2. Pekerja wanita, yang dimaksud dengan Lokasi penelitian dilakukan di Desa Pucang-
pekerja wanita dalam penelitian ini anak Kecamatan Tugu Trenggalek. Penen-
adalah wanita yang bekerja sebagai pe- tuan lokasi ini didasari bahwa daerah ini
mecah batu kali di daerah Pucanganak tanahnya relatif kurang subur dengan to-
Kecamatan Tugu Trenggalek. pografi yang berbukit-bukit serta tanah perta-
3. Peran aktif wanita, yang dimaksud engan niannya relatif sempit. Sehingga meraka
peran aktif wanita dalam penelitian ini banyak memfaatkan potensui alam berupa
adalah curahan waktu rata-rata perhari batuan di sungai untuk dijual sebagai bahan
yang diberikan wanita untuk bekerja bangunan.
sebagai pemecah batu untuk memperoleh
pendapatan dalam bentuk rupiah. Teknik Pengumpulan Data
4. Rumah tangga miskin, yang dimaksud Teknik pengumpulan data dilakukan
dengan rumah tangga miskin dalam melalui:
penelitian diguna indikator rumah tangga • Kuesioner terbimbing, yaitu penyebaran
penerima Bantuan Tunai Langsung kuesioner dengan memberikan bimbing-
(BLT). an secara langsung kepada responden.
Hal ini dilakukan karena mayoritas res-
Jenis data ponden yang kemampuan membaca dan
Jenis data dalam penelitian ini adalah data menulisnya yang rendah.
primer, yang berupa data pekerja wanita se- • Wawancara mendalam (in-depth inter-
bagai pemecah batu di Desa Pucang anak viewing, wawancara ini dilakukan untuk
Kecamatan Tugu Trenggalek, Waktu bekerja, memperdalam informasi dari para res-
kegiatan sosial kemasyarakatan, pendapatan ponden
dari hasil penjualan batu pecahan, penda-
222 Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008

• Observasi langsung, dua metode ini para wanita ini rata-rata rendah dan bahkan
(wawancara secara mendalam dan obser- tidak pernah mengenyam dunia pendidikan
vasi langsung) sejalan dengan teknik ob- formal. Hampir 97 persen hanya maksimum
servasi pasif. berpendidikan SD, dimana 33.33 persen
tidak pernah sekolah dan 30 persen pernah
Teknik Analisis Data sekolah di SD dan 33.33 lulus SD. Sedang-
Teknik analisis data yang digunakan dalam kan yang pernah dekolah sampai SMP hanya
penelitian ini adalah dengan analisis deskrip- 3.33 persen.
tif kuantitatif, yaitu dengan melakukan pena-
laran logis. Data temuan lapangan disusun
Tidak Lulus
secara sistematis yang menunjukkan bagai- SMP, Tidak
3.33% sekolah,
mana peran aktif wanita dalam peningkatan Lulus SD,
33.33%
33.33%
ekonomi rumah tangga.
Tidak lulus
SD,
HASIL PENELITIAN DAN 30.00%
PEMBAHASAN
Tidak sekolah Tidak lulus SD Lulus SD Tidak Lulus SMP

Usia para wanita pemecah batu ini di atas 25


tahun, bahkan ada yang usianya sudah lanjut Sumber: Data primer
di atas 60 tahun. Wanita pemecah batu yang Gambar 2. Pendidikan Wanita Pemecah Batu
usianya antara 26-40 tahun sebanyak 20
persen, 41 tahun sampai dengan 50 tahun 30
persen dan 51 tahun sampai dengan 60 tahun Pekerjaan suami para pemecah batu
30 persen serta 10 persen telah berusia di atas cukup bervariasi, yaitu sebagai petani atau
60 tahun. buruh tani sebanyak 33,3 persen, sebagai
tukang atau kuli bangunan 33,3 persen dan
50.00% sebagai pemecah batu juga sebanyak 20 per-
40.00%
40.00%
30.00%
sen sedangkan sisanya adalah lainnya. Seba-
30.00%
20.00%
gai petani dan buruh tani mereka biasanya
20.00%
10.00% pada saat tidak ada pekerjaan di sawah akan
10.00%
0.00% bekerja juga sebagai pemecah batu demikian
0.00%
Kurang 26 s/d 40 41 s/d 50 51 tahun lebih dari juga halnya untuk pekerjaan sebagai kuli
dari 25 tahun tahun s/d 60 60 tahun
tahun Tahun
bangunan.

Sumber: Data primer Pekerjaan suami menunjukkan bahwa


rata-rata pekerjaan mereka merupakan petani
Gambar 1. Usia Wanita Pemecah Batu dan atau pekerjaan-pekerjaan yang tidak
menuntut keahlian atau tingkat pendidikan
Dari pekerjaan yang mereka lakukan, tertentu. Hal ini tidak terlepas dari kondisi
dimana pekerjaan ini relatif tidak mengan- keluarga mereka yang rata-rata berasal dari
dalkan keterampilan dan sering orang petani yang kurang mampu, sehingga ber-
menganggap merupakan pekerjaan kasar dan dampak pada tingkat pendidikan dan keah-
berat, dan usia responden maka pendidikana lian yang mereka miliki. Hal ini selanjutnya
Sugeng Haryanto - Peran Aktif Wanita dalam Peningkatan Pendapatan 223

akan berpengaruh pada pekerjaan yang Tabel 1. Rata-rata Pendapatan Suami


mereka lakukan atau mereka peroleh. perminggu

Pendapatan Jumlah
40.00% 35.71% 35.71%
Kurang dari 40.000 12
30.00% Rp 40.000-≤60.000 13
21.43% Rp 61.000-≤80.000 3
20.00%
Rp 81.000-≤100.000 0
Lebih dari 100.000 0
10.00% 7.14%

0.00%
Petani dan Tukang Pemecah Lainnya Pendapatan suami yang relatif tinggi,
buruh tani Bangunan Batu
yaitu lebih dari Rp 61.000 karena mereka
Sumber: Data primer merasakan suami mereka bekerja relatif
Gambar 3. Pekerjaan Suami Wanita Pemecah kontinue. Jam kerja suami para pekerja
Batu wanita rata-rata perminggu berkisar antara 3
sampai dengan 5 jam sebanyak 5 orang
sedangkan yang bekerja antara 5 sampai
Kontribusi Pendapatan Pekerja Wanita dengan 8 sebanyak 20 orang dan lebih dari
Pemecah Batu terhadap Pendapatan
8 jam sebanyak 5 orang. Rendahnya jumlah
Keluarga
jam kerja ini mereka rasakan karena untuk
Pendapatan merupakan uang yang diterima yang bekerja di sektor pertanian pekerjaan-
seseorang karena seseorang bekerja. Penda- nya tidak rutin sepanjang waktu.
patan keluarga terdiri dari pendapatan yang
Sedangkan yang bekerja di sektor
diperoleh oleh suami yang bekerja ditambah
bangunan juga merasa tidak kontinyu.
dengan pendapatan yang diperoleh karena
Rendahnya jumlah jam kerja ini berpenga-
istri yang bekerja.
ruh pada tingkat pendapatan yang mereka
Besarnya pendapatan suami para pekerja peroleh. Selain sumber pendapatan yang
wanita ini disajikan pada tabel 1. Pendapatan berasal dari suami dan istri ada juga sum-
ini dihitung selama satu minggu. Pendapatan ber pendapatan yang berasal dari anak. 67
suami yang besarnya kurang dari Rp40.000 persen menyatakan ada sumber pendapatan
sebanyak 12 orang dan antara Rp40.000 yang berasal dari anak, sedangkan 33
sampai dengan Rp60.000 sebanyak 13 orang. persen tidak ada sumber pendapatan selain
Banyak pendapatan yang berkisar diangka dari suami dan istri.
tersebut dikarenakan pekerjaan yang sifatnya
Besarnya pendapatan yang diperoleh
dipertanian dan bangunan relatif tidak dapat
oleh wanita yang bekerja sebagai pemecah
dipastikan sepanjang waktu. Sehingga res-
batu rata-rata perminggu rata-rata sebesar
ponden membuat pendapatan tersebut adalah
53,57 persen berkisar Rp40.000 -
rata-ratanya.
Rp60.000. Tingkat pendapatan pekerja
wanita pemecah batu secara keseluruhan
disajikan pada Gambar 4.
224 Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008

60 53.57
desa yang mempunyai rasa nrima, selain
50
Jumlah Responden

kebutuhan mereka yang tidak begitu besar.


40 35.71

30
Kebutuhan yang tidak begitu besar tersebut
20
17.86 karena anak-anak mereka yang sudah
10
bekerja atau anak mereka masih kecil,
0
0 0
sehingga kebutuhannya juga belum begitu
Lebih dari
100.000
Rp 81.000-
≤100.00
Rp 61.000-
≤80.00
Rp 40.000-
≤60.00
Kurang dari
40.000
besar.
Pendapatan

Gambar 4. Tingkat Pendapatan Wanita Tabel 2. Pendapatan yang Diperoleh Wanita


Pemecah Batu Perminggu Pekerja

Keterangan Jumlah Prosentase


Dilihat dari tingkat pendapatan yang
Sudah memadai 5 16.67%
diperoleh oleh istri yang bekerja sebagai Cukup 22 73.33%
pemecah batu menunjukkan relatif cukup Kurang 3 10.00%
tinggi dengan untuk ukuran didesa. Hal ini 30 100%
mengingat pekerjaan tersebut berada di dekat Sumber Data Primer
rumah, sehingga sang istri tidak harus
meninggalkan pekerjaan-pekerjaan rumah.
Dalam masyarakat bawah atau miskin
Artinya pekerjaan rumah masih dapat dila-
anggota keluarga merupakan suatu sumber
kukan sambil bekerja untuk menambah pen-
daya yang harus dimanfaatkan untuk dapat
dapatan kelaurga. Para wanita ini mengang-
bekerja, baik itu untuk menyelesaikan
gap pekerjaan sebagai pemecah batu sebagai
pekerjaaan rumah tangga maupun pekerjaan
bentuk ketimbang ganggur neng omah.
yang mempunyai potensi untuk menambah
Tanggapan suami terhadap istri yang ekonomi atau pendapatan keluarga. Walau-
bekerja di luar rumah ini dianggap sebagai pun pekerjaan-pekerjaan yang hanya meng-
suatu yang wajar bagi mereka. Hal ini hasilkan upah atau pendapatan yang rendah.
mengingat pekerjaan di luar rumah tersebut Hal ini bagi keluarga miskin dianggap
lokasi tidak jauh dari rumah, bahkan ada sebagai suatu yang sudah menguntungkan.
yang hanya terletak dihalaman rumahnya. Karena adanya anggapan ketimbang ngang-
Sehingga sang suami juga tidak takut jika gur ono ngomah. Pada keluarga yang miskin
sang istri meninggalkan pekerjaan-pekerjaan biasanya pekerjaan-pekerjaan domestik cen-
domestiknya. derung hanya terbatas pada memasak untuk
Pendapatan yang diperoleh oleh pekerja keluarga dan mencuci pakaian serta mem-
wanita tersebut menurut mereka dirasa- bersihkan rumah, hal itu dapat dilakukan
kan sudah cukup. Responden yang me- pagi hari atau bahkan anak-anak mereka
nyatakan pendapatan tersebut cukup sebesar sudah dapat membantu untuk menyelesaikan
73,33 persen dan 16 persen memadai, pekerjaan domestik tersebut.
hanya 10 persen menyatakan masih kurang.
Pendapatan yang dirasakan sudah
memadai atau cukup tersebut mereka orang
Sugeng Haryanto - Peran Aktif Wanita dalam Peningkatan Pendapatan 225

Penggunaan Pendapatan Pekerja Wanita pribadi. Penghasilan mereka digunakan


Pemecah Batu untuk memenuhi kebutuhan keluarga secara
Pendapatan yang diterima oleh suami dan bersama. Hal ini sangat terkait dengan kebi-
istri tidak ada pemisahan, dimana pendapat- asaan yang ada di masyarakat terutama
an suami selalu diberikan kepada istri. pedesaan bahwa tanggung jawab untuk
Pendapatan yang mereka peroleh mereka mengatur rumah tangga merupakan tang-
anggap sebagai pendapatan keluarga. gungjawab wanita atau istri.
Sehingga penggunaan pendapatan juga me-
rupakan penggunaan atau belanja untuk Curahan Waktu Kerja Pekerja Wanita
kebutuhan keluarga. Penggunaan untuk ke- Pemecah Batu
butuhan keluarga tersebut, antara lain un- Para wanita pemecah batu ini rata-rata
tuk mencukupi kebutuhan pokok sehari-hari, bekerja sebagai pemecah batu sehari selama
untuk kebutuhan sekolah dan juga untuk 5 sampai dengan 8 jam (73,33 persen).
kebutuhan yang sifatnya sosial, seperti Namun demikian waktu yang dialokasikan
arisan, bowo (menyumbang orang yang tersebut relatif flrksibel. Hal ini karena
punya hajatan). pekerjaan tersebut tidak menuntut jam
yanbg pasti, selain merupakan pekerjaannya
sendiri. (Lihat gambar 5)
Tabel 3. Penggunaan Pendapatan Keluarga

Keterangan Penggunaan Jumlah Jumlah

Penggunaan Pendapatan 80 73.33


70
60
Kebutuhan rumah tangga 30 50

Biaya sekolah anak 20 40


30
Arisan dan sosial lainnya 30 20
10
16.67
10
0
0
1 s/d 3 jam 3-< 5 jam 5-< 8jam 8 jam atau
lebih

Penggunaan pendapatan yang terbesar Gambar 5. Curahan Waktu Wanita Pemecah


rata-rata untuk mencukupi kebutuhan rumah Batu
tangga sehari-hari. Sedangkan biaya sekolah
hanya temporer, yaitu setiap bulan untuk
membayar SPP, sedangkan uang saku Jam kerja yang lebih dari 8 jam ber-
anak juga tidak begitu besar. Selain itu jumlah 16,67 persen, hal ini biasanya
juga digunakan untuk kebutuhan arisan di mereka sudah bekerja pagi-pagi sekali,
lingkungannya masing-masing, untuk karena ada pesanan batu pecahan. Namun
menyelenggarakan kegiatan kendurian juga demikian jumlah jam kerja yang panjang
biasanya mereka lakukan. ini tidak dilakukan setiap hari, hanya
kadang-kadang saja.
Dilihat dari distribusi penggunaan pen-
dapatan istri atau wanita menunjukkan Curahan waktu yang relatif banyak
bahwa belum ada atau tidak banyak wanita tersebut, sebenarnya juga tidak meng-
yang menggunakan penghasilannya untuk ganggu kegiatan keluarga, seperti mengasuh
memenuhi kebutuhannya sendiri secara anak atau kegiatan keluarga yang lainnya.
226 Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008

Hal ini karena lokasi pekerjaan untuk meme- Hal ini karena pekerjaan pemecahan batu
cah batu tersebut berada dekat dengan tersebut jangka panjang akan merusak
rumahnya. Selain itu pekerjaan tersebut lingkungan.
tidak ada sifat pemaksaan waktunya. Mere-
ka dapat bekerja sesuai dengan keingi- DAFTAR PUSTAKA
nannya sendiri. Sehingga jika dirasakan ada
pekerjaan di rumah atau keperluan lainnya, Arjani, Ni Luh. 2002. Gender dan Perma-
maka pekerjaan pemecah batu tersebut salahannya. Pusat Studi Wanita Uni-
dapat ditinggal. versitas Udayana.
Arjani, Ni Luh. 2003. Ketimpangan Gender
KESIMPULAN di Beberapa Bidang Pembangunan di
Bali. Jurnal Studi Jender Vol. III No. 2
Berdasarkan hasil penelitian yang telah di- Tahun 2003
lakukan dapat diambil beberapa kesimpu-
Binaswadaya. 2002. Masalah UKM dan
lan sebagai berikut:
Peran LSM. Buletin 19 Februari 2002.
1. Pendapatan yang diperoleh oleh pekerja
Effendi, Abbas. 1997. Transformasi Struk-
wanita tersebut menurut mereka dirasa-
tural dan Kesejahteraan Masyarakat
kan sudah cukup. Kontribusi penda-
Pedesaan. Jurnal Populasi. Vol. 8 No. 2
patan pekerja wanita terhadap penda-
patan suami cukup signifikan. Gilbert, allen dan Gugler, Josef. 1996. Prop-
erty and Development: Urbanization in
2. Pendapatan wanita pemecah batu juga
the Third World. Terjemahan Anshori.
merupakan pendapatan keluarga. Peng-
Tiara Wacana Yogyakarta.
gunaan pendapatan merupakan penggu-
naan atau belanja untuk kebutuhan Haryono, Suyono.1997. Saatnya Wanita
keluarga. Penggunaan untuk kebutuhan (desa) Terjun ke Dunia Usaha. Warta
keluarga tersebut, antara lain untuk men- Demografi Th 27 No. 4.
cukupi kebutuhan pokok sehari-hari, Indaryani, Mamik. 1997. Peran Wanita
untuk kebutuhan sekolah dan juga un- dalam Menunjang Ekonomi dalam
tuk kebutuhan yang sifatnya sosial, Rumah Tangga Miskin: Studi Kasus di
seperti arisan, bowo (menyumbang orang Kecamatan Selogiri Kabupaten Wono-
yang punya hajatan). giri Jawa Tengah. Warta Demografi Th
3. Para wanita pemecah batu ini rata-rata 27. No. 4.
bekerja sebagai pemecah batu sehari se- Jenskin, M. 1993. Extending Social Security
lama 5 sampai dengan 8 jam (73,33 Protection to the Entire Population:
persen). Namun demikian waktu yang Problem and Issues. International
dialokasikan tersebut relatif fleksibel. Social Security Review.
Berdasarkan temuan penelitian saran Ken, Suratyah dkk. 1994. Marginalisasi
yang dapat disampaikan yaitu adanya Pekerja Wanita di Pedesaan: Studi Ka-
pembinaan kemampuan dan keterampilan sus pada IRT Pangan di Sulsel.
bagi pekerja wanita, sehingga dapat Yogyakarta: PPK UGM.
mengembangkan keterampilan yang lain.
Sugeng Haryanto - Peran Aktif Wanita dalam Peningkatan Pendapatan 227

Kusdiati,Veronica. 2002. Peran Wanita Kon- marang. Majalah Penelitian Lembaga


sep Mitra Setara. Sebuah Kajian Teor- Penelitian UNDIP Th X No. 37, Maret.
itik dan Empirik Wanita Pedagang Subarsono. 1996. Toward Managing the In-
Pasar Tradisional di kota Semarang. formal Sector for Urban Economic De-
Seri Kajian Ilmiah Vol. 11 No. 3. velopment: Government Policy and the
Lestari, Rahayu Endah. Santoso, Imam. Su- Informal Sector. Thesis, the Flinder
lastri, Dwi Rina. 1997. Kontribusi University of South Australia, Adelaide.
Wanita dalam Agribisnis Gula Semut di Suprapti, Redjeki, Sri dan Hatatiati. 2001.
Kabupaten Blitar Propinsi Jawa Timur. Pemberdayaan Ibu Rumah Tangga Ke-
Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial Vol. luarga Miskin di Pedesaan Kecamatan
9 No. 1 Februari. Mranggen, Kabupaten Demak. Jurnal
Mariun, N. Badrun. 2004. Kontribusi Perem- Pemberdayaan Perempuan Vol. 1. No.
puan pada Peningkatan Pendapatan 2 Desember.
Rumah Tangga Miskin: Studi Kasus di Tobing, Erwin. 2002. Reorientasi Pembena-
4 Kabupaten/ Kota. Warta Demografi han Sektor Informal.
Tahun 34 No. 3 Wibowo, B Junianto. 2002. Profil Wanita
Setiaji, Bambang. 1996. Wanita Pekerja IRT: Pedagang Kecil di Tinjau dari Aspek
Kesejahtaraan dan Perlindungan Hak. Ekonomi (Studi kasus pada Tiga Pasar
Akademika No. 01. Th. XIV Solo: Tradisional di kota Semarang, yaitu
UMS. Pasar Gayam, pasar Damar dan pasar
Setiawati, Rike dan Amin, Sophia. 2001. Mangkang). Seri Kajian Ilmiah Vol. 11
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pro- No. 3
duktivitas Tenaga Kerja Wanita pada Winarno, Agung. 1996. Profil Usaha Sektor
Industri Kecil di kota Jambi. Jurnal Informal di Jombang. Trisula Jurnal
Pemberdayaan Perempuan Vol. 1 No. 2 Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dan
Desember. Agama No. 1 Pebruari Universitas Da-
Setyowati, Yuningtyas. 1996. Pengaruh rul Ulum Jombang.
Tingkat Sosial Ekonomi (SES) Keluarga www.theindonesiainstitute.org. Diakses 3 Pe-
Terhadap Tingkat Peranan Pencarian bruari 2003.
Nafkah Karya Penelitian Atmajaya Yuniarti, Sari dan Haryanto, Sugeng. 2005.
Yogyakarta Edisi 6 tahun VI Septem- Pekerja Wanita pada Industri Rumah
ber. Tangga Sandang dan Kontribusinya
Sriyuningsih, Niniek. Sekartdji, Kartini. Terhadap pendapatan Rumah tangga di
Jadmiko. Dwi Sriyanto. 1998. Diskrimi- Kecamatan Sukun Malang. Jurnal
nasi terhadap Pekerja Perempuan dalam Penelitian Universitas Merdeka Malang
Kebijakan Manajemen Perusahaan Vol. XVII Nomor 2 Tahun 2005.
Garmen dan Tekstil di Kotamadya Se-
Jurnal Ekonomi Pembangunan
Vol. 9, No. 2, Desember 2008, hal. 228 - 247

THE COMPETITIVENESS OF SOYBEAN PRODUCTION IN


BLITAR-EAST JAVA, INDONESIA

Moh. Azis Arisudi 1


Salfarina Abdul Gapor 1
1
School of Social Sciences USM, Malaysia
E-mail: moh_azis@yahoo.com

ABSTRACT
In East Java Province, the government still provides subsidy to soybean production
in the form of soft credit to production inputs. Since the government budget and
subsidy have been limited, efficiency in production, marketing and trade become
crucial issues. The conducted research will try to achieve some research objectives
as follows: Analyzing soybean farmer income in the Blitar District at the different
cropping system; Obtaining analysis on comparative advantage and competitive-
ness of soybean by different cropping system; analyzing influences of social price
changes to farmers income due to public investment; and analyzing government
policy impact on farmers income due to market/actual price development. The
research uses Policy Analysis Matrix to obtain competitiveness rate, efficiency and
impact of government policy on soybean production under multi-cropping system
and different ecological zones in the Blitar district.
Keywords: competitiveness, Policy Analysis Matrix

INTRODUCTION gressively in the form of bean and processed


In Indonesia, soybean has an important role ones.
in providing national food supply. It is not Table 1 shows the consumption rate for
only a protein source, but also sources of soybean and its kinds in kg per capita in
mineral, vitamin and fat. In 100 gram of soy- urban and rural from 1990 to 2004. Urban
bean consists of 33.3 g protein, 15 g fat, 213 people consume more soybean than rural
mg calcium, 0.65 vitamin B1, 0.23 mg vita- people on the average especially for proc-
min B2 and vitamin C (Hermana, 1998). So, essing products, e.g. tempe, tofu. The trend
the high stock of soybean in a country will of tempe and tofu consumption increased
increase the nutrient of society through high both in rural and in urban areas in that
consumption of soybean and its processed period. In 1990, tofu consumption was 3.43
products such as tofu, tempe, and soy sauce. kg/capita and in 1996 became 3.92 kg/capita
Demand for soybean increases gradually, and this increased continually 5.36 kg/capita
since industrial sector based on soybean in 2000. Compared to other foods, soybean is
product has been growing significantly. As consumed more by both rural and urban
input for processing industry, demand for people. Rice consumption decreased from
soybean in the country tends to increase pro- 112.9 kg/capita in 2000 to 105.7 kg/capita in
M. Azis and Salfarina - The Competitiveness of Soybean Production 229

Table 1. Soybean Consumption by Kinds in Indonesia 1990-2004 (kg, capita, year)

Year Kind of Product Rural Urban Urban+Rural


1990 ‰ Bean 0.16 0.05 0.10
‰ Tofu 2.60 6.19 3.43
‰ Tempe 3.48 5.36 3.90
‰ Others 0.05 0.10 0.05
1996 ‰ Bean 0.18 0.07 0.15
‰ Tofu 3.23 5.97 3.92
‰ Tempe 3.73 5.60 4.22
‰ Others 0.04 0.09 0.05
2000 ‰ Bean 0.10 0.10 0.10
‰ Tofu 4.63 6.66 5.36
‰ Tempe 5.41 6.81 5.88
‰ Others 0.10 0.16 0.13
2004 ‰ Bean 0.11 0.12 0.53
‰ Tofu 5.03 7.02 6.03
‰ Tempe 6.20 7.51 6.86
‰ Others 0.12 0.19 0.15

Sources: Central Bureau of Statistic (1990, 2000, 2004)

2004. However, fresh fish consumed in urban Soybean import is used as food material
area increased from 15.1 kg/capita to 18.2 for veterinary and industry. The volume of
kg/capita in the period. In rural areas the soybean import in 2001 was 800,000 ton and
situation was not so different, fish consump- in 2002 increased 807,000 ton and increased
tion increased from 10 kg/capita to 13.5 746,000 ton in 2003. In the period 2001-
kg/capita (Central Bureau of Statistic 2004). 2003, the import volume of soybean
In general, we can say that people will increased continually. The average national
take protein not only from meat but also from production was 1,211 kg /ha in 2003 and this
other sources as long as the price of meat and is below laboratorial production of 2,000-
other main foods still can be covered. In 3,000 kg/ha 2002 (Department of agricul-
other words, the consumption pattern will be tural, 2004). This indicates that government
determined by their income. In 2004, soy- efforts in increasing soybean production are
bean consumption of three different income still far from successful. The low productiv-
groups was different significantly, i.e., 13.3 ity were caused by low technical practice,
kg, 21.1 kg, 29.3 kg per capita (Central low technology transformation, agricultural
Bureau of Statistic 2004). This reality shows management that has less orientation to busi-
us that the high-income group consumed ness. These all lead to low domestic produc-
more soybeans than less income group. So, tion and increased import of soybean peri-
we can expect that the soybean market can be odically.
extended when economy and income per The efforts for increasing efficiency
capita are improved. should take consideration optimal resource
use. Not only optimal resource use can lead
230 Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008

to increase production costs, other factors increasing domestic production, namely:


include uncertainty factors such as weather 1. Land extension is limited due to different
and disease. Low production consequently land acidity in the country,
can cause low income. Price is also a sig-
2. Most of the newly extended land are hilly
nificant factor that can influence farmer’s
and wavy, so it leads to easy erosion,
income. Price and production fluctuation lead
3. Low adoption and assessment of technol-
to farmer’s irrational decision in risk (risk
ogy at the farmer level and fluctuation of
averter) especially among small farmers
prices.
(Monke and Pearson 1994, Timmer 1988).
Other factors such as socio and economic Therefore government intervention is
factors can also influence farmer’s habit from still needed in soybean production and trade.
making rational choice. Table 2 below Theoretically, there is still debate on neces-
explains the development of soybean sity of government intervention and market
according to average production, and import mechanism. There are some reasons why
from 2000 to 2004. market mechanism in agricultural product
cannot work properly, namely:
Table 2 shows that soybean production
tends to decrease about 0.81 percent annu- 1. Asymmetry of information, especially in
ally. A reduction of land under soybean cul- less developing countries the current
tivation at a rate of 52% annually also caused price cannot characterize level of effi-
the decrease. Meanwhile, the productivity is ciency of the product and the producers
relative stagnant or decreases about 0.29% do not react to current prices;
annually. In Java, soybean production area 2. Agricultural products depend highly on
decreases continuously due to demand for climate, season and areas. So, the pro-
land use as a result of population stress while ducers can respond to the market prices
in outer islands are relatively stabile. More- as long as climate and season can be
over, total demand for soybean either for changed and transferred.
food and veterinary increased about 2.21%
As we all know, since 2001 the govern-
per year. Due to progressive increasing
ment of Indonesia has introduced a new pol-
demand compared to domestic supply.
icy the so called “decentralization policy”.
Some constraints are still taking place in This policy has influenced structure of the

Table 2. Area, Production, Productivity, Supply, and Demand for Soybean from 2000-2004

Year Area Productivity Production Supply Demand Gap


(ha) (kg/ha) (000 ton) (000 ton) (000 ton) (000 ton)
2000 1,272 1,184 1,506 1,355 2,255 -900
2001 1,265 1,180 1,493 1,344 2,312 -968
2002 1,258 1,177 1,481 1,333 2,369 -1,036
2003 1,252 1,173 1,469 1,322 2,428 -1,106
2004 1,245 1,170 1,457 1,311 2,488 -1,177
Source: Central Bureau of Statistic, 2004
M. Azis and Salfarina - The Competitiveness of Soybean Production 231

Indonesian economy. This policy also pro- provincial needs for soybean cannot be
vides opportunity for a province to determine fulfilled by local soybean production and
the main agricultural products that can sup- substantial amounts of beans and meal are
port their regional economic development. imported to fulfill this gap.
Since East Java province is been famous Government still provide subsidy to
as food supplier for national production, soybean production in the form of soft credit
some agendas in developing agricultural to production inputs. Since government
sector have been set up. There the provincial budget and subsidy have been limited, effi-
government has established an integrated ciency in production, marketing and trade
development between agricultural and indus- become crucial issues. A high efficiency will
trial sector. It is expected that agricultural increase farmer income. It means new (ap-
product can support industrial development propriate) technology should reduce produc-
program or in other words, it should be a tion costs and increase efficiency. The new
linkage between both sectors closely. From technology applied is seed “WILIS 2000”
this point of view, agricultural product map- and irrigation land (Lodagung Irrigation).
ping is really needed to ensure an efficient The proposed research will develop farm
industrial development program. Other as- budgets for soybeans with different applied
pects that can be very important in develop- technology that will show the profitability of
ing regional economy are increasing com- soybean production. With these results in
petitiveness of agricultural and industrial hand, conclusions can be drawn about the
product. likelihood that the proposed policies will
Increasing competitiveness depends meet the government’s objective of reducing
strongly on production process, marketing, dependency on imported soybeans.
and trade. An efficient production process, The research will try to achieve some
marketing and trade can stimulate and deter- research objectives as follows:
mine competitiveness of products. Provincial
1. Analyzing soybean farmer income in
government of Blitar has determined that
Blitar District at the different cropping
soybean can be selected as main product of
system;
the local. The province has also high produc-
tion of soybean and the soybean processing 2. Obtaining analysis on comparative
industries such as soy sauce, tofu and tempe. advantage and competitiveness of soy-
For tofu and tempe, most of industries are bean by different cropping system;
small-scale enterprises and the number of 3. Analyzing influences of social price
these industries is enormous throughout the changes to farmer’s income due to public
region. We can see that the demand for soy- investment;
bean in the province is still higher than pro- 4. Analyzing government policy impact on
vincial production of soybean. farmer’s income due to market/actual
Policies issues from this researchs are as price development;
follows; They expect that soybean produc- Whereas research implications as fol-
tion will stimulate significant economic lows:
growth in East Java Province. East Java’s
232 Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008

1. The result of the research will provide critical in policy analysis. What is meant by
information to the provincial and district the term, “framework for agricultural policy
government. The expanded data with analysis?” A framework is an organized and
new technology of different kinds of consistent approach for clear thinking. With-
investments could be used as alternative out it, policy debate can quickly reduce to
policy to increase the soybean produc- misunderstanding and emotionalism. A
tion. framework is designed to permit the study of
2. Technical change resulting from support linkages in economic systems. Good eco-
of soybeans would improve the effi- nomic analysis is fascinating for economists,
ciency of the system and increase the frustrating for non-economists, and relevant
soybean farmer’s income. for everyone because it focuses on linkages
within an economy – on why one group’s
Theoretical concepts in this research as actions influence others in the system. Agri-
follows: cultural refers to the production and con-
sumption of commodities that are produced
1. A Framework for Agricultural Policy
by cultivating crops or raising livestock.
Analysis
Policies are government actions intended to
Everyone involved in agricultural policy and change behavior of producers and consum-
project analysis should have a clear way of ers. Analysis consists of the evaluation of
thinking about evaluating decisions. On what government decisions to change economic
grounds can one alternative be judged better behavior. A framework for agricultural pol-
than another? How much policy is enough? icy analysis, therefore, is a logical system for
Is economic efficiency the only thing that analyzing public policies affecting producers,
matters? For rational decision-making to take marketers, and consumers of crops and live-
place, each of us needs a clear and logical stock products.
way to evaluate policy options. In an ideal
setting, everyone would have a similar way 2. Four Components of a Policy Framework
of approaching policy decisions. Then dis-
agreements would be limited to genuine dif- The four central components in the frame-
ferences of opinion rather than including also work for agricultural policy analysis pro-
misunderstandings about approaches to posed in this book are objectives, constraints,
problem solving. This chapter sets out a gen- policies, and strategies (Pearson, 2003). Ob-
eral logical approach for carrying out agri- jectives are the desired goals of economic
cultural policy analysis. The specifics of the policy as defined by the policy makers. Gov-
Policy Analysis Matrix (PAM) then are ernment officials wish to achieve certain
introduced in succeeding chapters. ends when they intervene in economies.
Constraints are the economic realities that
A well-understood framework for agri-
limit what can be accomplished. If land is
cultural policy analysis is needed for deci-
used to grow rice, it is not available to pro-
sion-makers and interest groups to under-
duce an alternative crop in that production
stand the consequences of policy actions
season. Policies are the instruments that gov-
(Pearson, 2003). The clarity of definitions is
ernments can use to change economic out-
M. Azis and Salfarina - The Competitiveness of Soybean Production 233

comes. Effective policies change the behav- government actions, the policy makers (and
ior of producers, marketers, and consumers indirectly voters in a democracy) define
and create new economic outcomes. Strate- equity. Security is furthered when political
gies are the sets of policy instruments that and economic stability allows producers and
government officials can use to achieve their consumers to minimize adjustment costs.
objectives. Each strategy is enacted through Food security refers to the availability of
the introduction of a coordinated set of poli- food supplies at affordable and stable prices.
cies. In this framework, any goal that a policy-
The strategies of policy makers consist maker is hoping achieve through government
of sets of policies that are intended to intervention will be incorporated within one
improve economic outcomes (as judged by of the three fundamental objectives – effi-
the policy makers). The selected policies ciency, equity, and security.
work through the constraints set by economic Trade-offs arise when one objective can
parameters. The constraints set by supply, be furthered only if another is impeded – that
demand, and world price conditions, either is, when gains for one goal result in losses
further or impede the attainment of objec- for another. When trade-offs exist, policy-
tives. An assessment of the impact on objec- makers have to place weights on the con-
tives permits an evaluation of the appropri- flicted objectives – by determining how
ateness of given strategies. Governments thus much they value gains from one objective
form agricultural strategies by choosing a set versus losses associated with a second objec-
of policies to further their objectives subject tive. Policy makers – not economic analysts
to the constraints on the agricultural econ- – have the responsibility to make these value
omy. With this logical picture in mind, it is judgments and assign weights to objectives.
important to review each of the four compo- These government officials have the ultimate
nents in more detail. responsibility to be accountable for their
policy actions. In the rare instances when
3. Fundamental Objectives of Policy Analy- trade-offs do not arise, policy analysis and
sis policy making are easy. The desired result is
to move forward to the extent that resources
Most goals of government policy fall under permit. Typically, however, trade-offs do
one of three fundamental objectives – effi- exist. Then economic analysts need to evalu-
ciency, equity, or security. Efficiency is ate policies, and policy makers need to make
achieved when the allocation of scarce decisions by placing weights on objectives.
resources in an economy produces the maxi- The weights have to add to one (e.g., an indi-
mum amount of income and the allocation of vidual policy maker might place weights of
goods and services brings highest consumer 0.6 on efficiency, 0.3 on equity, and 0.1 on
satisfaction. Equity refers to the distribution security).
of income among groups or regions that are
targeted by policy makers. Typically, greater 4. Constraints that Limit Agricultural Policy
equity is achieved by more even distribution
The scope for agricultural policy is defined
of income. However, because policy refers to
by three basic constraints – supply, demand,
234 Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008

and world prices. Supply, national produc- budget. They can affect various agricultural
tion, is limited by the availability of re- groups – producers, traders, and consumers –
sources (land, labor, and capital), technolo- differently because they are specific to the
gies, relative input prices, and management areas where the investment occurs.
capabilities. These parameters are the com-
ponents of production functions and thus 6. Agricultural Price Policy Instruments
limit the ability of the economy to produce
agricultural commodities. Demand, national All agricultural price policy instruments cre-
consumption, is limited by population, ate transfers either to or from the producers
income, tastes, and relative output prices. or consumers of the affected commodity and
These parameters are the components of the government budget. Some price policies
demand functions and thus limit the ability of affect only two of these three groups,
the economy to consume agricultural prod- whereas other instruments affect all three
ucts. groups. In all instances, at least one group
loses and at least one other group benefits.
World prices, for internationally tradable
Policy analysts need to consider three catego-
outputs and inputs, define and limit the
ries of agricultural rice policy instruments –
opportunities to import to increase domestic
taxes and subsidies, international trade re-
supply and to export to increase markets for
strictions, and direct controls.
domestic production. These three economic
parameters define the market for an agricul- Taxes and subsidies on agricultural
tural commodity and are the fundamental commodities result in transfers between the
forces that influence price formation and the public budget and producers and consumers.
allocation of resources. The economic con- Taxes transfer resources to the government,
straints lead to trade-offs in policy making. whereas subsidies transfer resources away
from the government. For example, a direct
production subsidy transfers resources from
5. Categories of Polices Affecting Agricul-
the government budget to agricultural pro-
ture
ducers.
Policies influencing the agricultural sector International trade restrictions are taxes
fall into one of three categories – agricultural or quotas that limit either imports or exports.
price policies, macro-economic policies, or By restricting trade, these price policy in-
public investment policies (National Plan- struments change domestic price levels. Im-
ning Development Board, 2001). Agricul- port restrictions raise domestic prices above
tural price policies are commodity specific. comparable world prices, whereas export
Each price policy targets only one commod- restrictions lower domestic prices beneath
ity (e.g., rice) at a time. Price policies also comparable world prices.
can influence agricultural inputs. Macro-eco-
Direct controls are government regula-
nomic policies are nation-wide in coverage.
tions of prices, marketing margins, or crop-
Macro policies thus affect all commodities
ping choices. Typically, direct controls must
simultaneously. Public investment policies
be accompanied by trade restrictions or
allocate capital expenditures from the public
taxes/subsidies to be effective. Otherwise,
M. Azis and Salfarina - The Competitiveness of Soybean Production 235

“black markets” of illegal trade render the ment covers the deficit by expanding the
direct controls ineffective. Occasionally, money supply.
some governments have sufficient police Foreign exchange rate policies directly
power to enforce direct controls in the ab- affect agricultural prices and costs. The for-
sence of accompanying trade regulations. eign exchange rate is the conversion ratio at
Direct controls of cropping choices can be which domestic currency exchanges for for-
enforced, for example, if the government eign currency. Most agricultural commodi-
allocates irrigation water or purchased inputs. ties are traded internationally, and most
countries either import or export a portion of
7. Macro-economic Policies Affecting their agricultural demand or supply. For in-
Agriculture. ternationally tradable commodities, the world
price sets the domestic price in the absence
Agricultural producers and consumers are
of trade restrictions. The exchange rate thus
heavily influenced by macro-economic po-
directly influences the price of an agricultural
lices even though they often have little influ-
commodity because the domestic price (in
ence over the setting of these nation-wide
local currency) of a tradable commodity is
policies. Three categories of macro-economic
equal to the world price (in foreign currency)
policies – monetary and fiscal policies,
times the exchange rate (the ratio of domestic
foreign exchange rate policies, and factor
to foreign currency).
price, natural resource, and land use policies
– affect agriculture (Timmer, Falcon, and Factor price policies directly affect agri-
Pearson, 1983). cultural costs of production. The primary
factors of production are land, labor, and
Monetary and fiscal policies are the core
capital. Land and labor costs typically make
of macro-economic policy because together
up a substantial portion of the costs of pro-
they influence the level of economic activity
ducing most agricultural commodities in
and the rate of price inflation in the national
developing countries. Governments often
economy, as measured by increases in
enact macro policies that affect land rental
indexes of consumer or producer prices.
rates, wage rates, or interest rates throughout
Monetary policies refer to controls over the
the economy. Other factor price policies,
rate of increase in the country’s supply of
such as minimum wage floors or interest rate
money and hence the aggregate demand in
ceilings, influence some sectors more than
the economy. If the supply of money is
others. Some governments introduce special
increased faster than the growth of aggregate
policies to attempt to control land uses or to
goods and services, inflationary pressure
govern the exploitation of natural resources,
ensues. Fiscal policies refer to the balance
such as minerals or water. These macro poli-
between the government taxing policies that
cies can also influence the costs of agricul-
raise government revenue and the public
tural production.
expenditure policies that use that revenue.
When government spending exceeds reve-
nue, the government runs a fiscal deficit.
That result creates inflation if the govern-
236 Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008

8. Public Investment Policies Influencing cash crops developed in international


Agriculture. research centers abroad. These “miracle
The third category of policies affecting agri- seeds” often require new agricultural
culture includes public investments from the production technologies, utilizing better
country’s capital budget – in infrastructure, water control and more intensive application
human capital, and research and technology. of purchased inputs. For some commodities,
Public investments in infrastructure can raise the technological breakthroughs, funded by
returns to agricultural producers or lower public investment, are in agricultural proc-
agricultural costs of production. Infrastruc- essing rather than in farming.
ture refers to essential capital assets, such as
roads, ports, and irrigation networks, which
RESEARCH METHOD
would be underprovided by the private sec-
tor. These assets are known as “public The research will be based on different kinds
goods,” and they require public spending of empirical analytical studies that focus on
from the government’s capital budget. In- the:
vestments in infrastructure are by nature par- 1. Evaluation of influences of the macro
ticular to specific regions and benefit mostly economic performance and policy on
the producers and consumers who live in soybean development at the local gov-
those regions. Public investment policy is ernment level;
complicated by the fact that infrastructure 2. Evaluation of soybean market and local
must be maintained and renewed. regulation on domestic trade as impact of
Public investments in human capital national policy on soybean development.
include a wide range of spending from the This will illustrate the problems and
government’s capital budget to improve the challenges on increasing soybean pro-
skill levels and health of agricultural produc- duction and lastly how the farmer
ers and consumers. Investments in formal increases their income.
schools, training and extension centers, pub-
In general, the stratified sample survey
lic health facilities, human nutrition educa-
method is applied at the micro level to obtain
tion, and clinics and hospitals are examples
primary data, while secondary data could be
of public capital spending that could raise the
collected from government agencies and
level of human capital in the agricultural
central bureau of statistics at various levels.
sector. These investments are critical for
The survey was carried out in the Blitar
long-term development, but they often take
district of East Java because the reason the
many years to show dividends in agriculture.
region is a center of food production (espe-
Public investments in research and tech- cially soybean) in East Java province. In the
nology are another example of “public district, we have selected 4 sub-districts,
goods” that directly benefit agricultural pro- namely: Binangun, Panggung Rejo, Kade-
ducers and consumers. Countries that enjoy mangan, Wonotirto, and Bakung.
rapid agricultural growth typically invest
Using a questionnaire with structured or
heavily in agricultural research to breed or
open interview of a number of sample res-
adapt high-yielding varieties of food and
M. Azis and Salfarina - The Competitiveness of Soybean Production 237

pondents, i.e., soybean farmers, traders, and The survey was designed to generate
government officials have been collected as data in relation to the following aspects:
primary data. The place of interview was 1. Production, intermediate input and pro-
basically at the fields and the efforts were duction input aspect;
made to obtain ‘a comfortable’ or neutral 2. Post-harvest activities including market-
type of interview, to establish a relation of ing, transportation cost and other costs
confidence and also to allow questions to be that influenced the end price such as po-
posed on delicate problem fields, individual lice tariff (illegally); and
experiences and personal opinions. 3. External factors such as government pol-
Apart from the respondents, several icy (subsidies), CIF price and other
other key-informants who are particularly charges in port (non-formal).
knowledgeable about the matters and socio-
economic situation of such regions, were also Research Area
interviewed to collect valuable information.
In addition, individual in-depth interviews District Blitar consists broadly 1,628.58 km2
were also needed to obtain more detailed of 267.58 km2 settlement area (kampong),
information. The person interviewed was free 336.12 km2 rice field, 490.29 km2 dry land,
to voice his/her own concerns in an unstruc- 143.93 km2 plantation, 325.18 km2 forest
tured interview. The interviewer relied on area, 13.20 km2 desert and 52,50 km2 which
open questions to introduce topics of interest, consist of other types of land. District Blitar
without the interviewer imposing his or her lay in coordinate 111° 40 - 112° 10' Longi-
ideas. Data and information gained from field tude East and 7° 09' Transversal South. To-
observation and by interviewing some key- pography of district Blitar have highest posi-
informants turned out to be valuable for this tion 800 meter and the lowest 40 meter of sea
study. surface (Central Bureau of Statistic of Blitar
District, 2004).
Secondary data are, to a limited extent,
also very important to support this study. The Regional boundary of district Blitar is as
kind of secondary data such as Gross follows:
Domestic Regional Product, population den- • North boundary is district Kediri and
sity, infrastructure, land areas, production Malang district;
rate of soybean and productivity are issued • Southern is Indonesian ocean;
by the Department of Agriculture, the Central • Eastern is Malang district; and
Bureau of Statistics or the Regional Planning • Western is Tulungagung and Kediri
Development Board. According to previous
experiences, we should be careful with these
Economic Structure of Research Area
different sources of data. For example, data
published by a source could have a different District Blitar is one of the 38 Sub-Province
value when published by other ones. To existing in East Java Province that have been
overcome this problem, we should be deemed particularly suitable for intensive
consistent in selecting and collecting the agriculture. They have special potential for
data. such sectors as livestock production, fishery,
238 Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008

plantation, and food crops. Approximately 67 Table 4. Soybean Prices in Blitar District,
percent of the District is farm land growing November 2004
rice and dry land crops. The remaining 33
No Sub-District Price at Price at
percent consists of plantations, forests, and Producer Consumer
mining operations. level (Rp) level (Rp)

1 Udanawu 3,500 3,600


Soybean Prices in Blitar District 2 Nlegok 3,450
3 Sanan Kulon 4,000
Empirically the national price of soybean 4 Wates 2,950 3,000
since 1990 to 1996 has been increasing mod- 5 Kanigoro 4,300 4,500
6 Wonotirto 3,050 3,225
erately, on the average 3.7% annually. There-
7 Gandusari 3,200
fore, it can be concluded that over this 8 Selopuro 3,250
period, the price of soybean was relative 9 Srengat 3,300
stable. Four months after the financial crisis 10 Kesamben 3,300 3,400
(mid of 1997), the prices of all goods exhib- 11 Kademangan 2,800 3,800
12 Wonodadi 4,200
ited uncontrolled increases. This multidimen- 13 Binangun 2,800 2,900
sional crisis changed consumption behavior 14 Sutojayan 2,800 2,925
throughout the country. Soybean products 15 Panggung Rejo 2,900 3,050
also increased in price. In August 1998, the 16 Bakung 2,900 3,200
domestic soybean price was 2,300 Rp per kg. 17 Ponggok 3,500 3,900
18 Selorejo 2,900 3,100
The imported soybean price was 3,500 Rp
19 Wlingi 3,500
per kg. At these prices, domestic soybeans 20 Talun 3,300
had a competitive advantage. 21 Doko 3,300
Source: Survey
Table 3. Domestic and Import Prices of
Soybean from 1990 to 2008
Soybean Cropping System in District
Year Domestic Import Soybean Blitar
Soybean (Rp/kg) (Rp/kg)
Several cropping systems exists in Blitar
1990 847 489.63 District:
1991 905 518.39
1992 833 536.46 1. Irrigated Paddy Field
1993 1,010 482.72
1994 1,087 646.60
September- January- June-
1995 995 663.93
December May August
1996 1,092 803.17
2007 5,450 6,200
2008 7,500 8,400 Paddy Paddy Soybean

Source: Central Bureau of Statistic (1990, 1995, 2007), Source: Survey


Statistic of Agr 2008

The first paddy season is started early in the


rainy season. It lasts from September to
December, the so called as “Musim Padi
Raja”. The second Paddy Season can be
M. Azis and Salfarina - The Competitiveness of Soybean Production 239

started in January to May when the dry The Study Areas


season starts. This season is called as
In this part, the characteristics of study areas
“Musim Padi Gadu”. Empirically, gadu
within the District of Blitar will be described.
season often results a better harvest than
Irrigated and non-irrigated-land were used to
Musim Padi Raja.
determinate sample design. Moreover, the
dividing line of these areas is the market
2. Wet Paddy Field
distance from the central market and infra-
September- December- May-August structure. The study areas are structured from
November April the specific region to the region situated at
the longest distance from the central market.
Soybean + Paddy Soybean+Corn+
Corn Chili or Peanut+
Graphically, these study areas are showed by
Corn+ Chili Figure 1.
Source: Survey
Central Market
Note: Another alternative crop is sugarcane, especially as a
substitute for peanuts, corn and chili.
Areas near or influenced
by central market growth
3. Dry Land
Areas far from the central
market
December- April- September-
March August November Areas far from the central
market and having rural
Soybean + Corn + Soybean + Maize or off characteristics predominantly
Chili or Soybean + Corn + Chili
Corn + paddy Or Soybean + Figure 1. The Four Study Areas and Their
Corn + Maize Distance from the Central Market
Source: Survey

Method of Analysis
The survey showed that, at the peak of the
dry season in September and November, The method of analysis that is used in this
many dry lands were not used productively. research is Policy Analysis Matrix (PAM).
The only work on them was in preparation This is to obtain competitiveness rate, effi-
for the next plantation. The research sample ciency and impact of government policy on
contained all of the cropping patterns soybean production under multi-cropping
described above. For the purpose of the system and different ecological zones in the
study, cropping systems were divided into Blitar district. The various cropping systems
four groups. These groups made it possible to can be depicted in Figure 2.
compare the following categories: Based on the real condition, soybean-
1. Traditional technology vs. improved cropping system can be divided into seven
technology kinds:

2. Irrigated land vs. non-irrigated (dry land) 1. Soybean production by traditional system
2. Soybean production by using technology
3. Multi-cropping vs. monoculture
240 Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008

1. Soybean production
by traditional system

2. Soybean production
by using technology

4. Soybean production
3. Soybean production
by using technology
by using technology
at non irrigated land
at irrigated land

5. Soybean production by 6. Soybean production by 7. Soybean production by


using technology at irrigated using technology at irrigated using technology at non
land with monoculture land with multi cropping irrigated land with multi
cropping

Source: Survey

Figure 2. Various Soybean Cropping System at Blitar District

3. Soybean production by using technology Table 4. Policy Analysis Matrix


at irrigated land
Costs
4. Soybean production by using technology
at non irrigated land Revenue Profit
Tradable Domestic
5. Soybean production by using technology input Input
toward monoculture system at irrigated Private
A B C D
land Price
6. Soybean production by using technology Social
E F G H
toward multi-cropping system at irrigated Price

land Policy
I J K L
Impact
7. Soybean production by using technology
toward multi-cropping system at non- Note: I= A – E; J= B – F; K= C – G; L= D-H
DRCR: G/(E-F); NPCO= A/E; NPCI= B/F;
irrigated land EPC= (A-B)/(E-F)

Sample is selected from population Private Profit (D)


proportionally. The total number of sample is
70 where by 10 samples are from each Private profit is used to show how much
cropping systems as mentioned. Table 4 profit that can be obtained by soybean farmer
Policy Analysis Matrix (PAM) and its per area (e.g. ha) based on private price
components will be explained properly.
M. Azis and Salfarina - The Competitiveness of Soybean Production 241

Social Profit (H) DISCUSSION


Social profit can be seen through difference Because of the various cropping systems and
between output produced and input tradable different ecological zones in Blitar district, a
and non-tradable based on social price. number of PAM models have been devel-
oped. The traditional system is one in which
Output Transfer (I) soybean farmers use traditional seed that is of
Output transfer is transfer receipt by produc- low quality. These seeds are bought at the
ers through output price. The output price is local market. Most of them are unbranded
influenced by government policy. The more and are only for household consumption.
output transfer value, the higher the support Traditional soybean farmers rarely use com-
of the government policy. posite fertilizer, and they harvest only once
per year.
Input Transfer (J)
Improved technology systems use high
Input transfer shows the number of transfer quality seed (WILIS 2000). This seed has
receipt by soybean producers through input already proved that it can increase produc-
price. The higher input transfer, the cheaper tivity significantly. Improved technology can
input price paid by producers. be found on both irrigated and non-irrigated
land. It can also be used in both monoculture
Factor Transfer (K) and multi-culture cropping systems.
Factor transfer is transfer receipt by produc- The results of Policy Analysis Matrix
ers through domestic input factor. The higher (PAM) calculation of soybean by using tra-
factor transfer, the lower factor price paid by ditional technology is depicted as follows:
producer
Based on Table 5, it can be seen that
Net Transfer (L) obtained private revenue was Rp.3,162,431,
and social revenues in amount of Rp.-
Net transfer is used to show whether the gov-
3,286,766. There is a divergence and it can
ernment policies have positive or negative
be seen from lower private revenue than
transfer on production system of soybean. A
social revenue. It is especially caused by
positive net transfer mean supporting of gov-
trading system, where the soybean farmers
ernment on the soybean production system, a
sell not directly to the market but the buyers
negative is opposite one.
come and determine the soybean price

Table 5. PAM Calculation by Using Traditional System

Cost Profit
Revenues
Tradable input Domestic factor
Private prices 3,162,431 844,480 1,829,366 488,585
Social prices 3,286,766 786,501 1,921,335 578,910
Effect of divergences and efficient policy -124,335 57,979 -91,969 -90,325
Sources: own calculation
242 Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008

directly at the location (farm or farmer ment through credit system from kiosks and
house). It causes farmer revenue to become also implicit tax (leakages) of tradable input
less than social revenue. This is due to long subsidy.
market distance and most of the farmers have Factor transfer is of Rp.-91,969.- is
no transportation tools such as motor cycle or meant input factor costs (working capital,
even a car to sell their products directly to the rent of land, and wages) paid by the farmers
market. lower than it should be. This is caused by
Private profit in the amount of Rp.- implicit subsidy and transfer of resources in
488,585 shows an actual profit that will be soybean production. Based on field observa-
receipted by the farmers with cropping sys- tion, as we all know in year 2000-2001
tem no technology application. This number government provided cheap credit program
is smaller than profit obtained in the crop- the so-called Kredit Usaha Tani (KUT).
ping system with technology. This is caused Unfortunately, many of farmers mentioned
by lack of knowledge of the farmers in how that they had never received any credit from
to plant properly and time and number of the government. So, the low factor costs are
fertilizer needed. They just plant without any mostly caused by land rent paid by the
technical consideration. farmer cheaper than the social price. This is
The social profit Rp.-578,910 shows that caused by low motivation of the people to
the system has very strong efficiency or become a farmer. Many of them move to the
comparative advantage (shown by high social city (urban area) to get more opportunity in
profits, 18 percents of social revenue). This economic activities.
results also shows that soybean production, The results of Policy Analysis Matrix
even with traditional technology, does not (PAM) of cultivating soybean using technol-
require any protection or subsidy to obtain ogy can be seen in Table 6.
high excess profit. This is a very important In this case, technology means an appli-
result in according with false claims of cation of high yield seed quality and appro-
farmer organizations that soybeans farmer priate fertilizer composition. The land with
cannot compete with import soybean if they this characteristic is normally located in flat
do not receive protection. areas, while traditional technology is mostly
Output transfer shows a negative value applied in rough areas that can be planted
at the amount of Rp.-124,335. It means that only once a year.
the output value receipted by the farmers in Based on the research PAM analysis,
hectare is lower than the social value or soybean production by using technology has
divergence. This is caused by the farmers a better private profit and output. This infor-
who prefer selling to a small trader with mation can be seen in Table 6. From table, it
lower price, rather than to the market or soy- can be seen that private profit is
bean trader. Rp.1,816,034 shows actual profit obtained by
Input transfer is Rp.-57,979 which is farmers in the cropping system by using
higher payment of tradable input from social technology. Meanwhile, social profit in
input prices. This is caused by farmer pay- amount Rp.1,925,282 means the real profit
M. Azis and Salfarina - The Competitiveness of Soybean Production 243

Table 6. PAM Calculation Cropping System by Using Technology

Cost
Revenues Profit
Tradable input Domestic factor

Private prices 5,351,807 1,433,113 2,102,660 1,816,034


Social prices 5,463,245 1,496,532 2,041,431 1,925,282
Effect of divergences and efficient policy - 111,438 -63,419 61,229 - 109,248
# Based on researcher calculation

that should be obtained by the farmers (based Factor transfer in amount Rp.-61,229
on social price) in amount Rp.1,925,282. shows input factor costs (involve cost of
Value of social profit is higher than pri- working capital, rent of land, wages) ex-
vate one. This means a policy distortion and pensed by the farmers higher than it should
market failure. The form of market failure is be (social price). Negative value of factor
factor market imperfection (inadequate transfer shows imperfect market mechanism
development of institutions to provide com- due to negative externality such as abundant
petitive services and full information) and of labors who work at overseas. This leads to
negative externality where there are many increase local wage rate (due to labor scar-
local labors work at overseas as TKI (Indo- city). Another factor is the lack of rural
nesian labor in overseas) and TKW (Woman financial intermediary. There is no financial
labor in overseas). It causes the farmers to institution that cannot provide a cheap credit
pay the higher wage rate than social wage for the farmers. Consequently, the farmers
rate. have to pay high interest rate. Negative net
transfer Rp.109,248 means that cropping
Output transfer obtained from cropping
system by using technology is still disincen-
system by using technology shows a negative
tive as effect of policy distortion and market
value Rp.111,438. It means revenue obtained
failure.
by the farmers in one ha lower than social
revenue. It is caused by price received lower
3.000.000
than market price. This is mostly caused by
2.500.000
trading system (oligopsony).
2.000.000
Input transfer in amount Rp.-63,419
1.500.000
shows that farmers have to pay tradable input
1.000.000
less than social input prices. This number is
different with the value of transfer input that 500.000

has a positive value. This is caused especially 0


1 2 3 4 5 6 7
by government subsidy on input, namely
high yield seed input WILIS 2000 (high vari- Private profits Social profits

ety) and some extensions for increasing pro-


duction. Figure 3. The Private and Social Profit from
the Seven Systems
244 Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008

From the Figure 3, we can see that ported or needed by the local farmers,
soybean with using technology (PAM 2, 3, 4, traders and consumers.
5, 6, 7) have a better private and social profit 2. Based on PAM calculation, using
than cropping system 1 (traditional one). The technology (applied seed WILIS 2000)
both cropping system 3 and 4 are using can provide a higher profit both private
technology, but cropping system 4 has and social.
private and social profit higher than system
3. The farmer still sees possibilities to get a
3. This is due to location of land. System 3
high profit for the soybean business
locates in irrigated land, while system 4 at
based on PAM analysis, especially
non-irrigated ones. So, it can be concluded
through multi cropping and imposing
that soybean is more appropriate in non-irri-
technology. It can be seen at PAM 4
gated land (dry land).
(technology and non-irrigated land) and
Cropping system 5 and 6 are using tech- PAM 7 (technology, multi-cropping and
nology, system 5 located in irrigated land and non-irrigated land) the highest profit can
system 6 in non-irrigated land. But, system 6 be achieved. So, the more multi cropping
has private and social profit higher. This is and technology implementation, the more
due to a different cropping culture, system 5 efficient the cropping system or higher
applies monoculture, while system 6 multi- profit can be achieved easily.
cropping. So, it can be said that multi-crop-
4. Based on the analysis, the seven PAM
ping is more profitable than monoculture
systems provide a high social profit. It
system. System 4 and 7 has the same social
means that government subsidy and pro-
and private profit. This is caused by the both
tection to soybean production is not so
have similar characteristics. They use tech-
important. In other words, the domestic
nology and implemented at non-irrigated
soybean production is still competitive
land.
against imported soybean.
5. Low private revenue is caused by lower
CONCLUSION price received.
The explanation above has showed some 6. A high cost of tradable input is also
findings that can be mentioned as follows: caused by trading system which farmers
1. In general, soybean market is still in effi- take tradable input before harvest time in
cient or imperfect mechanism. This is kiosks and will pay after harvest time
due to lack of information, weakness of with higher price consequently.
institution, regulation and policy distor- 7. In general, domestic factor paid by the
tion. In other words, the government farmers is lower than social price. It is
policy is still disincentive to the market. caused by a cheaper land rent than social
So, it needs government policy to pro- price.
vide a perfect market mechanism such as From this research result, policy recom-
making the information fluently and mendation given by writer is as follows:
transparent, developing institution sup-
M. Azis and Salfarina - The Competitiveness of Soybean Production 245

1. The government should provide a policy more opportunities to the farmers ac-
that can promote all stakeholders in the cessing credit.
soybean production system such as farm-
ers, wholesalers, and government. The REFERENCES
government should play an “equity” role
in enhancing and distributing welfare Central Bureau of Statistic, Blitar District.
among stakeholders. We can see that 2004. Blitar in Figure 2003/2004. Bli-
government policy only concerns on in- tar: Statistic of Blitar District.
put market but less on output market. So, Central Bureau of Statistic. 2000. Indonesia
as input of further industries (tempe, tofu, in Figure 1999/2000. Jakarta: Statistic
soy sauce) a higher soybean price will in- of Indonesia.
fluence the industries negatively. Central Bureau of Statistic. 2004. Indonesia
2. As answer for globalization, efficiency or in Figure 2003/2004. Jakarta: Statistic
higher profit (with the same land area) of Indonesia.
will be an important factor to realize it. Central Bureau of Statistic.1990. Indonesia
Multi cropping system is a good way to in Figure 1989/1990. Jakarta: Statistic
achieve this objective, but the farmer of Indonesia.
should have a good combination among
Department of Agricultural. 2004. Agricul-
crops (soybean and corn).
tural data base. Jakarta: Pusdatin.
3. Reducing illegal levies and making infor-
Hermana. 1998. Commodity Price Instability
mation fluently among stakeholders will
in Developing Countries.
absolutely influence positively soybean
business. The coordination of each Monke. E.A and Pearson S.R, 1994. The
“dinas” in the government plays a key Policy Analysis Matrix for Agricultural
role in obtaining a positive condition in Development. Cornell University Press.
realizing competitive market. National Planning Development Board.
4. Application of technology in form of 2001. An Approach to Macro Food
imposing high seed quality (WILIS Policy. Working Paper No. 6, March
2000) in soybean production provides a 2002. Jakarta
better yield. It means that government Pearson, S. 2003. Applications of the Policy
should disseminate using of this seed and Analysis Matrix in Indonesian Agricul-
its positive effect to soybean production. tural. Working paper
5. Moreover, government should develop a Timmer, Falcon, and Pearson, 1983. Food
financial institution that can fulfill farmer Policy Analysis (hereafter FPA), New
needs for competitive credit since many York.
non formal credit institutions have ex-
Timmer. C. Peter. 1988, The Agricultural
isted to provide credit with high interest
Transformation, Handbook of Devel-
rate. So, government should provide
opment Economics, Volume 1. Cornell
University Press.
246 Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008

ATTACHMENTS

Table 7. Cropping System by Using Technology at Irrigated Land (PAM 3)

Cost
Revenues Profit
Tradable input Domestic factor
Private prices 3,524,255 1,102,447 1,785,543 726,265
Social prices 4,050,747 760,719 1,955,141 1,334,887
Effect of divergences and efficient policy -526,492 251,728 -169,598 -608,622

Table 8. Cropping System by Using Technology at Non-Irrigated Land (PAM 4)

Cost
Revenues Profit
Tradable input Domestic factor
Private prices 6,381,802 1,930,778 2,419,778 2,031,246
Social prices 6,875,742 2,232,344 2,127,721 2,515,677
Effect of divergences and efficient policy -493,940 -301,566 292,057 -484,431

Table 9. Cropping System by Using Technology at Irrigated Land on Monoculture System (PAM 5)

Cost
Revenues Profit
Tradable input Domestic factor
Private prices 3,545,952 892,126 1,953,654 700,172
Social prices 4,011,530 775,712 2,175,856 1,059,962
Effect of divergences and efficient policy -465,578 116,414 -222,202 -359,790

Table 10. Cropping System by Using Technology at Irrigated Land on


Multi-Cropping System (PAM 6)

Cost
Revenues Profit
Tradable input Domestic factor
Private prices 3,278,054 1,034,064 1,617,432 626,558
Social prices 4,089,963 745,725 1,734,426 1,609,812
Effect of divergences and efficient policy -811,909 288,339 -116,994 -983,254
M. Azis and Salfarina - The Competitiveness of Soybean Production 247

Table 11. Cropping System by Using Technology at Non-Irrigated Land on


Multi-Cropping System (PAM 7)

Revenues Cost Profit

Tradable input Domestic factor


Private prices 6,381,802 1,930,778 2,419,778 2,031,246
Social prices 6,875,742 2,232,344 2,127,721 2,515,677
Effect of divergences and efficient policy -493,940 -301,566 292,057 -484,431

Table 12. Recapitalization of Ratio Indicators of Policy Analysis Matrix (PAM)

Indicators ratio PAM 1 PAM 2 PAM 3 PAM 4 PAM 5 PAM 6 PAM 7

Private profits 488,585 1,816,034 726,265 2,031,246 700,172 626,558 2,031,246


Social profits 578,910 1,925,282 1,334,887 2,515,677 1,059,962 1,609,812 2,515,677
Output transfers -124,335 -111,438 -526,492 -493,940 -465,578 -811,909 -493,940
Input transfers 57,979 -63,419 251728 -301,566 116,414 288,339 -301,566
Factor transfer -91,969 61,229 -169,598 292,057 -222,202 -116,994 292,054
Net transfers -90,325 -109,248 -608,622 -484,431 -359,790 -983,254 -484,431
PCR 0.7661 0.6602 0.7109 0.6400 0.7362 0.7208 0.6400
DRC 0.7685 0.5146 0.5943 0.4852 0.6724 0.5186 0.4852
NPCO 0.8875 0.8453 0.8700 0.8307 0.8839 0.8015 0.8307
NPCI 1.0741 0.9576 1.3310 0.8649 1.1501 1.3867 0.8649
EPC 0.8289 0.8028 0.7635 0.8142 0.8201 0.6710 0.8142
PC 0.8375 0.5620 0.5441 0.5410 0.6606 0.3892 0.5410
SRP -0.0286 -0.1543 -0.1502 -0.1679 -0.0897 -0.2404 -0.1679
Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008

INDEKS

Ketahanan Pangan: Situasi, Permasalahan, Kebijakan, dan Pemberdayaan Masyarakat


Yunastiti Purwaningsih
1 - 27

Konstelasi Institusi Pemerintah dan Lembaga Swadaya Masyarakat dalam Program PIDRA
Muhammad Iqbal
28 - 45

Relevansi dan Aplikasi Aliran Ekonomi Kelembagaan


Purbayu Budi Santosa
46 - 60

Pola Penyebaran Spasial Investasi di Indonesia: Sebuah Pelajaran dari Masa Lalu
J. J. Sarungu
61 - 71

Pendekatan QSPM sebagai Dasar Perumusan Strategi Peningkatan Pendapatan


Asli Daerah Kabupaten Batang, Jawa Tengah
Siti Nurhayati
72 - 82

Penguatan Kapasitas Klaster Usaha Kecil dan Menengah: Kasus di Serenan, Klaten
Fereshti, N.D., Edy Purwo Saputro, dan Didit Purnomo
83 - 95

Pola Distribusi Komoditas Kentang di Kabupaten Bandung, Jawa Barat


Adang Agustian, Henny Mayrowani
96 - 106

Foreign Direct Investment (FDI), Kebijakan Industri, dan Masalah Pengangguran:


Studi Empirik di Indonesia
Syamsudin, Anton A. Setyawan
107 - 119
Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008

INDEKS

Dampak Ketidakstabilan Nilai Tukar Rupiah terhadap Permintaan Uang M2 di Indonesia


Etty Puji Lestari
121 - 136

Analisis Peranan Sektor Industri terhadap Perekonomian Jawa Tengah Tahun 2000 dan Tahun
2004 (Analisis Input Output)
Didit Purnomo dan Devi Istiqomah
137 - 155

Analisis Perubahan Kurs Rupiah terhadap Dollar Amerika


Triyono
156 - 167

Produktivitas Lahan dan Biaya Usahatani Tanaman Pangan di Kabupaten Gunung Kidul
Suwarto
168 - 183

Analisis Kompetensi Produk Unggulan Daerah pada Batik Tulis dan Cap Solo di Dati II Kota
Surakarta
Daryono Soebagiyo dan M. Wahyudi
184 - 197

Analisis Dampak Otonomi Daerah terhadap Strategi Pengembangan Perguruan Tinggi Swasta
(PTS) di Kabupaten Sleman
Rudy Badrudin
198 - 215

Peran Aktif Wanita dalam Peningkatan Pendapatan Rumah Tangga Miskin: Studi Kasus pada
Wanita Pemecah Batu di Pucanganak Kecamatan Tugu Trenggalek
Sugeng Haryanto
216 - 227

The Competitiveness of Soybean Production in Blitar-East Java, Indonesia


Moh. Azis Arisudi dan Salfarina Abdul Gapor
228 - 247
Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008

INDEKS SUBYEK

A K
ADF, 128 key sector, 137
agricultural price policy instruments, 234
analytical hierarchy process, 184, 187 M
M2 money, 121
B managed floating exchange rate, 123, 158
backward linkage, 139 model input-output, 140
multiplier, 140
C
customer value strategy, 204, 205 N
net transfer, 241
D
depromotion, 202 P
policy analysis matrix, 228, 232, 239, 240,
E 247
ECM, 121, 126, 133, 135, 156, 162, 167
error correction term, 134 R
random walk, 124, 125
F
final demand, 143 S
forward exchange, 157, 158 supply chain management, 193, 195, 197
forward linkage, 137, 139
free floating exchange rate, 123 U
unit root test, 125
G
Gender Inequality, 217 V
GS Matrix, 205, 208 vector autoregression, 121

I
indeks keterkaitan ke belakang, 147
indeks keterkaitan ke depan, 146, 150, 151,
153
indeks total keterkaitan, 143, 145, 146
instability of exchange rate, 121
Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2,Desember 2008

INDEKS PENGARANG

A K
Arifin, 159, 166 Kamaluddin, 138, 155
Arsyad, 139, 155 Khalawaty, 157

B L
Baba, 135, 136 Lestari, 218, 227
Brusch, 129, 136 Levi, 156, 166

C M
Cobb-Douglas, 169, 170, 171 Mariun, 218, 227
Mizao, 123
D Moh. Azis Arisudi, 228
Dany Artanto, 139
Daryono Soebagiyo, 184 N
Didit Purnomo, 137 Nicholson, 168, 183
Nopirin, 158, 159, 167
E
El Badawi, 129 R
Etty Puji Lestari, 121 Ropingi, 139
Rudy Badrudin, 198, 206, 215
F
Falcon, 235, 245 S
Salfarina Abdul Gapor, 228
G Sugeng Haryanto, 216
Gilbert, 220, 226 Suwarto, 168
Granger, 122, 167
Gujarati, 125, 126, 136, 161, 166, 174 T
Tobing, 220, 227
H Triyono, 156
Herlambang, 159, 166
Hirschman, 139 W
Wahyudi, 167, 184, 220, 221
I Wibowo, 218, 227
Insukindro, 123, 136
Iwamoto, 169, 183 Y
Yuniarti, 218, 227
J
Jhingan, 140, 155 Z
Zhao, 123, 126, 135, 136
Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008

UCAPAN TERIMA KASIH

Ucapan terima kasih dan penghargaan diberikan kepada mitra bestari Yth.
1. Prof. Indah Susilowati, Ph.D. (Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro Semarang)
2. Dra. Yunastiti Purwaningsih, M.S. (Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret
Surakarta)
3. Dr. Imammudin Yuliadi (Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta)
4. H. Masyhudi Muqorobin, M.Ec. Ph.D. (Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah
Yogyakarta)
5. Dr. P. Eko Prasetyo, M.Si. (Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang)
yang telah diundang Redaksi Jurnal Ekonomi Pembangunan sebagai pereview artikel Jurnal
Ekonomi dan Pembangunan Volume 9 tahun 2008.
Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2,Desember 2008

PEDOMAN PENULISAN

1. Artikel, belum pernah dimuat dalam media cetak lain, diketik pada kertas kwarto
berkualitas baik. Dibuat sesingkat mungkin sesuai dengan subyek dan metode penelitian
(bila naskah tersebut ringkasan penelitian), biasanya 20-25 halaman dengan spasi satu,
untuk kutipan paragraf langsung diindent.
Substansi artikel yang diharapkan adalah sesuai Panduan Akreditasi Berkala Ilmiah 2006,
yang diterbitkan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DP2M)
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Republik Indonesia.
2. Sistematika Naskah,
ƒ Sistematika artikel hasil pemikiran adalah: judul; nama penulis (tanpa gelar
akademik); abstrak (maksimum 150 kata); kata kunci; pendahuluan yang berisi latar
belakang dan tujuan atau ruang lingkup tulisan; bahasan utama (dapat dibagi ke
dalam beberapa sub-bagian); penutup atau kesimpulan; daftar rujukan (hanya memuat
sumber-sumber yang dirujuk).
ƒ Sistematika artikel hasil penelitian adalah: judul; nama penulis (tanpa gelar
akademik); abstrak (maksimum 150 kata) yang berisi tujuan, metode, dan hasil
penelitian; kata kunci; pendahuluan yang berisi latar belakang, sedikit tinjauan
pustaka, dan tujuan penelitian; metode; hasil; pembahasan; kesimpulan; daftar
rujukan (hanya memuat sumber-sumber yang dirujuk).
3. Marjin atas, bawah dan samping harus dibuat paling tidak satu inci.
4. Halaman sampul memuat judul naskah yang spesifik dan efektif, nama penulis, gelar dan
jabatan serta institusinya, alamat surat, nomor telepon dan faksimili, alamat e-mail,
ucapan terima kasih dan catatan kaki yang menunjukkan kesediaan penulis untuk
memberikan data.
5. Halaman, semua halaman termasuk tabel, lampiran dan acuan/ referensi bacaan, harus
diberi nomor urut.
6. Angka, dilafalkan dari satu sampai dengan sepuluh dan seterusnya, kecuali jika digunakan
dalam tabel, daftar atau digunakan dalam unit, kuantitas matematis, statistik, keilmuan
atau teknis seperti jarak, bobot dan ukuran.
7. Semua naskah harus disertai dengan disket/file yang berisi ketikan naskah dengan
menyebutkan jenis pengolah kata yang digunakan dan versinya.
8. Persentase dan Pecahan Desimal, untuk penulisan yang bukan teknis menggunakan kata
persen dalam teks, sedangkan untuk pemakaian teknis menggunakan simbol %.
9. Nama penulis disertai nama lembaga atau institusi kerja dan alamat E-mailnya untuk
memudahkan komunikasi. Bila penulis lebih dari satu, ditulis ke bawah.
10. Abstrak, ditulis satu paragraf sebelum isi naskah. Untuk artikel berbahasa Indonesia
abstraknya mutlak bahasa Inggris, artikel berbahasa Inggris abstraknya berbahasa Inggris
atau bahasa Indonesia. Abstrak tidak boleh matematis, dan mencakup esensi utuh perta-
nyaan penelitian, metode dan pentingnya temuan dan saran atau kontribusi penelitian.
11. Kata kunci, setelah abstrak dicantumkan kata kunci untuk kepentingan pembuatan indeks.
Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 9, No. 2, Desember 2008

12. Tabel dan gambar, untuk tabel dan gambar (grafik) sebagai lampiran dicantumkan pada
halaman dan terletak sesudah teks. Sedangkan tabel atau gambar baik di dalam naskah
maupun bukan harus diberi nomor urut tabel.
ƒ Tabel atau gambar juga disertai judul lengkap mengenai isi tabel atau gambar.
ƒ Sumber acuan tabel atau gambar dicantumkan di bawah tabel atau gambar.
ƒ Tabel dan grafik mudah dipahami tanpa harus melihat teks penjelasan.
ƒ Tabel dibuat dengan rapi sedangkan gambar harus dalam bentuk siap cetak.
13. Daftar acuan (rujukan), setiap naskah harus mencantumkan daftar acuan yang isinya
hanya karya yang diacu, sedapat mungkin pustaka-pustaka 10 tahun terakhir. Format
penulisan:
ƒ Gunakan inisial nama depan pengarang.
ƒ Tahun terbit harus ditempatkan setelah nama pengarang.
ƒ Judul jurnal tidak boleh disingkat.
ƒ Kalau lebih dari satu karya oleh penulis yang sama urutkan secara kronologis waktu
terbitan. Dua karya atau lebih dalam satu tahun oleh penulis yang sama dibedakan
dengan huruf setelah penyebutan tahun terbit.