Anda di halaman 1dari 11

Laporan Praktikum Keperawatan Komunitas III PSIK

Universitas Jember

BAB 3. PEMBAHASAN
3.1 Aplikasi Konsep Neumans Health Systems Model
pada Kasus DM
3.1.1 Pengkajian
1. Data Demografi
A. Lokasi
a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)
h)

Propinsi : Jawa Timur


Kabupaten
: Jember
Kecamatan
: Ajung
Kelurahan
: Lengkong
RT
: 30
RW
: 06
Luas Wilayah : 5.245 m2
Batas wilayah :
Utara
: Desa Tempurejo
Selatan
: RT 26 RW 5
Barat
: Jalan payangan
Timur
: RT 29 RW 6

B. Total penduduk di RT 30 RW 6 berjumlah 400 penduduk


a) 52% wanita yaitu sebanyak 208 orang
b) 48% pria yaitu sebanyak 192 orang
C. Berdasarkan kelompok usia
Bayi/balita
Anak-anak
Remaja
Dewasa
Lansia

: 50 orang
: 50 orang
: 60 orang
: 150 orang
: 90 orang

2. Basic Structure
a. Fungsi Fisiologis
Di RT 30 RW 6 Desa Lengkong terdapat 400 orang penduduk dimana 40
penduduk mengalami DM dengan tanda dan gejala penduduk tersebut
memiliki nafsu makan yang meningkat akan tetapi berat badan terus
menurun, merasa sering haus, dan juga sering buang air kecil terutama
pada malam hari. Selain itu, 40 penduduk tersebut memiliki kadar gula
dalam darah lebih dari 200mg/dl.
b. Pola Respon
Hasil pengkajian di wilayah RT 30 RW 6 Desa Lengkong tersebut,
didapatkan hasil bahwa masyarakat setempat belum memiliki pengetahuan

Laporan Praktikum Keperawatan Komunitas III PSIK


Universitas Jember

yang cukup mengenai DM. Sehingga masyarakat belum mengetahui


bagaimana seharusnya gaya hidup seorang yang mengalami DM. Dan
masyarakat sekitar seringkali menghindari seseorang yang mengalami DM
dengan komplikasi gangren, karena mereka tidak kuat dengan bau yang
menyengat dari luka gangren tersebut.
c. Genetik struktur
Terdapat 20 penduduk di RT 30 RW 6 Desa Lengkong yang memiliki
riwayat keluarga mengalami DM. 5 diantaranya mengatakan bahwa
anggota keluarga yang mengalami DM tersebut meninggal karena sudah
terjadi beberapa komplikasi. Selain itu, terdapat 6 penduduk yang
mengatakan bahwa pada saat ini keluarganya masih mengalami DM dan
tidak terdapat gangren. Dan yang lainnya mengatakan bahwa keluarga
yang mengalami DM adalah dari keturunan sebelum orang tua mereka atau
dari keluarga yang terdahulu.
d. Organ strengh and weakness
Penyakit DM atau Diabetes Milletus ini terdapat beberapa jenis, yaitu DM
tipe 1, DM tipe 2, dan DM gestasional. DM tipe 1 adalah tipe DM dimana
sel beta pankreas tidak dapat memproduksi insulin sama sekali, sehingga
penderita DM tipe 1 ini memerlukan insulin terus menerus. Sedangkan
DM tipe 2 adalah keadaan dimana sel beta pankreas masih mampu
memproduksi insulin akan tetapi hasil produksinya tidak seimbang dengan
kebutuhan tubuh. Dan DM gestasional adalah tipe DM yang terjadi pada
masa kehamilan, dan DM ini bisa hilang setelah melahirkan karena DM
tipe ini disebabkan karena produksi progesteron yang meningkat. Para
orang DM akan merasa lemas, dan sering kali merasa haus, merasa ingin
makan terus akan tetapi berat badan terus menurun. Karena gangguan ini,
maka beberapa penduduk di RT 30 RW 6 desa Lengkong ini ada yang
harus dirawat di Rumah sakit, sedikitnya terdapat 30 orang yang sudah
pernah di rawat di rumah sakit. Selain itu, aktivitas sehari-hari penduduk
yang mengalami DM juga mengalami gangguan, karena merasa lemas
mereka seringkali membutuhkan bantuan dari orang lain untuk melakukan
aktivitasnya.
Dari 40 penduduk yang sedang mengalami DM terdapat 23 penduduk
yang sudah mengalami komplikasi dari DM yaitu adanya luka gangren.
Karena adanya luka gangren ini, penduduk menjadi kurang berinteraksi
dengan masyarakat sekitar dikarenakan malu, dan bau yang ditimbulkan
dari luka gangren ini membuat beberapa masyarakat yang ada
menjauhinya. Dan ada dua penduduk yang harus kehilangan salah satu jari
kakinya karena harus diamputasi.
e. Struktur Ego
Para penduduk yang mengalami DM sebenarnya mengetahui bahwa
mereka sedang mengalami sakit gula, sehingga mereka tidak
diperbolehkan memakan makanan dan minuman yang manis-manis dan
makan sumber karbohidrat yang salah seperti makan nasi putih terlalu
banyak, minum kopi, dan lain sebagainya. Akan tetapi mereka masih
seringkali melanggar pantangan tersebut, dengan berbagai alasan. Seperti

Laporan Praktikum Keperawatan Komunitas III PSIK


Universitas Jember

halnya, minum teh manis dan minum kopi di pagi hari sulit sekali
dihindari oleh mereka karena sudah menjadi kebiasaan. Dan mereka masih
melakukan kebiasaan itu padahal sudah tahu itu tidak bolek dilakukan bagi
yang mereka mengalami DM.
3. Stressor
a. Stressor intrapersonal
Stressor intrapersonal berasal dari individu yang mengalami DM tidak
mengubah pola hidupnya karena sudah menjadi budaya untuk
mengkonsumsi masakan-masakan yang manis dan merasa sepah jika tidak
makan yang manis.
b. Stressor interpersonal
Kebanyakan individu yang tinggal di desa lengkong memiliki rasa
kekeluargaan tinggi dan kebanyakan dari keluarga kurang peduli terhadap
risiko mengalami DM dengan pola dietnya yang sudah menjadi kebiasaan
sejak dulu.
c. Stressor ekstrapersonal
Stressor ekstrapersonal yang mempengaruhi kondisi ini adalah hubungan
sosial yang ada di masyarakat berkaitan dengan budaya. Sudah menjadi
budaya masyarakat untuk mengkonsumsi makanan manis sehingga sulit
untuk mengubah pola diet karena sudah menjadi kebiasaan sejak dulu.
d. Loss
Berdasarkan hasil pengkajian, dari 85 penderita DM RT 30 RW 06 Desa
Lengkong terdapat 23 penderita juga mengalami luka pada kaki (gangren)
dengan 2 penderita diantaranya telah mendapatkan amputasi pada salah
satu jari kaki. 78 penderita DM mengalami penurunan berat badan secara
drastis meskipun nafsu makan meningkat. Penderita DM mengeluhkan
mudah merasa lemas saat beraktivitas sehingga menganggu aktivitas
sehari-hari termasuk dalam hal bekerja, hal ini dikarenakan glukosa dalam
tubuh tidak dapat diproses karena ketidakcukupan insulin yang diproduksi
tubuh maupun ketidakmampuan pankreas dalam menghasilkan insulin.
e. Pain
Para penderita DM mengatakan merasa terbebani karena tidak bebas
makan makanan yang diinginkan sehingga tingkat kepatuhan penderita
masih rendah untuk memilih jenis makanan, waktu makan, dan kebutuhan
nutrisi yang dibutuhkan. Tidak jarang penderita merasakan malas karena
harus memeriksakan kadar gula dalam darah dan mengkonsumsi obat
(insulin) secara rutin. Perawatan diri dan sering memeriksa anggota tubuh
khususnya daerah kaki secara rutin untuk mencegah timbul dan
berkembangnya luka menjadi ulkus diabetik sering diabaikan oleh
penderita DM.
f. Sensory deprivation
Pada 45 penderita terjadi penurunan penglihatan sebagai komplikasi dari
penyakit DM selain itu penurunan penglihatan juga diakibatkan oleh
penurunan usia sehingga menyebabkan fungsi tubuh menurun
g. Cultural change

Laporan Praktikum Keperawatan Komunitas III PSIK


Universitas Jember

Di desa Lengkong, warga memiliki budaya sendiri dalam cita rasa


masakan, warga menyukai masakan-masakan manis. Kondisi didesa
tersebut banyak dibuka warung-warung makanan yang menyediakan
berbagai macam lalapan, ayam krispi, martabak, terang bulan, dan lainlain. Sejak dibukanya warung makanan tersebut membuat sebagian warga
malas unt uk memasak.
4. Garis pertahanan
1. Garis pertahanan fleksibel.
Pada garis pertahanan fleksibel ditujukan pada warga RT 30 RW 06 Desa
Lengkong yang memiliki risiko terhadap penyakit DM. Faktor-faktor yang
dapat mempengaruhi garis pertahanan fleksibel adalah faktor yang
sewaktu-waktu dapat berubah, misalnya status nutrisi, perubahan budaya,
dan lain-lain. Warga yang memiliki garis keturunan penderita DM dengan
peningkatan risiko 7x lipat daripada warga yang tidak memiliki garis
keturunan penderita DM, di Desa Lengkong sendiri terdapat 20 orang
dengan riwayat keluarga penderita DM . Selain itu, warga dengan berat
badan lebih dari normal baik overweight dan obesitas juga dapat
meningkatkan risiko menderita DM. Warga dengan overweight sebanyak
30 orang dan satu orang obesitas.
2. Garis pertahanan normal
Secara teori, garis pertahanan normal dapat dipengaruhi oleh faktor
biologis, keadaan iklim, kondisi lingkungan, sosiokultural, perbandingan
kelahiran dan kematian serta angka harapan hidup. Penderita DM RT 30
RW 06 Desa Lengkong memiliki budaya makan makanan dengan cita rasa
manis.
3. Garis pertahanan resisten
Kematian, kehilangan anggota tubuh, struktur dan fungsi tubuh yang sudah
berbeda dari kondisi awal pasien dapat mempengaruhi garis pertahanan
resisten ini. Pada kasus penderita DM, terdapat 23 penderita yang
mengalami luka pada kaki (gangren) dan 2 diantaranya telah diamputasi
sebagai komplikasi penyakit DM. Penderita dengan luka gangren dan
amputasi dapat timbul harga diri rendah dikarenakan luka yang merubah
penampakan struktur tubuh, fungsi dan minimbulkan bau yang tidak sedap
serta memerlukan perawatan agar tidak bertambah buruk atau bahkan
menyebar.
5. Reactions
Penderita DM akan menunjukkan gejala-gejala khas yaitu: sering
buang air kecil (poliuria) terutama pada malam hari, mudah merasa haus
(polidipsia) dan nafsu makan meningkat yang menyebabkan klien sering
merasa ingin makan (polifagia) namun klien mengalami penurunan berat
badan yang drastis. Hal ini disebabkan oleh tubuh kurang atau tidak
mampu dalam memproduksi insulin sebaai hasil produksi dari sel beta
pada pankreas, insulin sebagai pengikat glukosa untuk dipecah dalam

Laporan Praktikum Keperawatan Komunitas III PSIK


Universitas Jember

tubuh sehingga energi yang dihasilkan menurun menyebabkan klien sering


mengeluhkan tidak bertenaga dan mudah lelah. Kadar gula dalam darah
klien penderita DM meningkat hingga >200 mg/dl, hal ini dikarenakan
glukosa tidak dapat diproses dengan seharusnya oleh tubuh dan ikut dalam
aliran darah dalam jumlah diatas batas normal. Kadar gula dalam darah
yang terlalu tinggi dapat menyumbat aliran darah keseluruh tubuh
khususnya pada bagian perifer, sehingga tidak jarang penderita DM yang
mengalami gangguan pada sensori penglihatan karena oksigen dan nutrisi
yang dibawa oleh darah terhambat. Penderita DM banyak mengeluhkan
mengalami luka namun tidak terasa sakit hingga lama kelamaan muncul
mereka menyadari ketika sudah muncul ulkus diabetik.

3.1.2 Analisa Data


a. Jenis Data
1. Data Subjektif
Data subjektif yang diperoleh dari masyarakat yaitu komponenkomponen dalam demografi, basic structure, stressor serta garis
pertahanan dalam komunitas tersebut.
2. Data Objektif
Data objektif yang didapatkan dari masyarakat yaitu data berupa
lingkungan fisik dan pemeriksaan fisik yang diakukan pada
masyarakat.
b. Sumber Data
1. Data primer
Data yang dikumpulkan oleh pengkaji dalam hal ini mahasiswa atau
perawat kesehatan masyarakat dari individu, keluarga, kelompok dan
komunitas berdasarkan hasil pemeriksaan atau pengkajian.
2. Data sekunder
Data yang diperoleh dari sumber lain yang dapat dipercaya, yaitu:
kelurahan, catatan riwayat kesehatan pasien atau medical record dari
pelayanan kesehatan.
c. Cara pengumpulan data
1. Wawancara atau anamnesa
2. Pengamatan
3. Pemeriksaan fisik
d. Pengolahan data
1. Klasifikasi data atau kategorisasi data
2. Perhitungan presentase cakupan
3. Tabulasi data
e. Interpretasi data analisis data
Tujuan analisis data:
1. menetapkan kebutuhan komunitas terhadap masalah yang dihadapi
yaitu DM;
2. menetapkan kekuatan yang dimiliki komunitas untuk mencegah dan
mengurangi angka kesakitan terhadap DM;

Laporan Praktikum Keperawatan Komunitas III PSIK


Universitas Jember

3. mengidentifikasi pola respon komunitas;


4. mengidentifikasi kecenderungan penggunaan pelayanan kesehatan.
f. Penentuan masalah atau perumusan masalah kesehatan
3.1.3 Diagnosa Keperawatan
Inefektif manajemen regimen terapi komunitas : resiko terjadinya
peningkatan angka kesakitan diabetes mellitus berhubungan denagn kurang
pengetahuannya masyarakat tentang pencegahan, penanganan, dan
pengelolaan pola hidup diabetes mellitus yang ditandai dengan:
1. Terdapat 40 penduduk mengalami DM degan kadar gula darah lebih dari
200mg/dl.
2. Terdapat 20 penduduk di RT 30 RW 6 Desa Lengkong yang memiliki
riwayat keluarga mengalami DM
3. Terdapat 23 penderita yang mengalami luka pada kaki (gangren) dan 2
diantaranya telah diamputasi
3.1.4 Perencanaan Keperawatan
N
o
1

Diagnosa
Inefektif
manajemen
regimen terapi
komunitas :
resiko terjadinya
peningkatan
angka kesakitan
diabetes mellitus
berhubungan
denagn kurang
pengetahuannya
masyarakat
tentang
pencegahan,
penanganan, dan
pengelolaan pola
hidup diabetes
mellitus

Tujuan dan kriteria


Hasil
Tujuan khusus : Setelah
dilakukan tindakan
keperawatan komunitas
selama 1-2 bulan pada
masyarakat Desa
Lengkong tidak
mengalami peningkatan
kejadian diabetes
mellitus
Indikator hasil :
1.
Angka kejadian
diabetes mellitus
menurun.
2.
Masyarakat
mengerti dan
melakukan
perubahan pola
hidup
3.
Masyarakat
kelompok resiko
mengembangkan
pola hidup sehat
mencegah diabettes
mellitus

Intervensi Keperawatan
Tindakan Primer:
1.
Kaji
dan
observasi
risiko
kesehatan
dari
lingkungan yang berhubungan dengan
DM, misalnya obesitas, masyarakat
dengan riwayat kesehatan keluarga
dengan penderita DM, dan memiliki
pola hidup tidak sehat (seperti
mengkonsumsi
makanan/minuman
tinggi gula).
2. Pantau status resiko kesehatan yang
sudah diketahui.
3. Kaji pengetahuan komunitas tentang
penyakit, komplikasi, dan pengobatan.
4. Lakukan program pendidikan kesehatan
untuk target kelompok berisiko.
5. Anjurkan
komunitas
untuk
mengkonsumsi gula dengan takaran
yang tidak berlebihan.
Berikut adalah daftar banyak gula yang
disarankan untuk dikonsumsi perhari
berdasarkan Asosiasi Jantung Amerika,
American Heart Association (AHA):
a.
Jumlah konsumsi gula yang

Laporan Praktikum Keperawatan Komunitas III PSIK


Universitas Jember

4.

Masyarakat
penderita diabetes
mellitus
mengembangkan
dan mengikuti
kegiatan regimen
terapeutik:
komunitas DM,
senam DM
5.
Penderita DM
mampu melakukan
perawatan mandiri
6.
Masyarakat
menyadari dan
mencatat tandatanda perubahan
status kesehatan

disarankan untuk pria: 36 gram (9


sendok teh) gula perhari.
b.
Jumlah konsumsi gula yang
disarankan untuk wanita: 20 gram (5
sendok teh) gula perhari.
c.
Jumlah konsumsi gula yang
disarankan untuk anka-anak: 12 gram (3
sendok teh) gula perhari
6. Sediakan
artikel/berita/media
dan
dorong untuk melakukan aktivitas yang
dapat meningkatkan kesehatan pada
kelompok risiko.
Tindakan Sekunder:
7. Lakukan skrining untuk menemukan
penderita sedini mungkin.
8. Kaji pengetahuan komunitas tentang
terapi dan pola hidup sehat bagi
penderita DM.
9. Lakukan program pendidikan pada
penderita DM di komunitas tentang
terapi dan pola hidup sehat untuk
penderita DM (seperti pembuatan menu
diet rendah lemak, kalori secukupnya)
10. Anjurkan penderita untuk mengurangi
konsumsi gula dan menggunakan
alternatif lain seperti madu atau gula
jagung.
11. Bentuk suatu perkumpulan khusus
penderita DM dalam komunitas untuk
meningkatkan regimen terapeutik.
12. Ajarkan senam DM pada penderita DM
di komunitas.
13. Ajarkan kepada penderita DM di
komunitas untuk merawat kaki secara
teratur, misalnya merawat kuku kaki
agar
tidak
terlalu
panjang,
membersihkan bagian sela-sela kaki dan
telapak kaki, membersihkan kaki dengan
air
hangat,
menganjurkan untuk
memberi bantalan pada alas kaki, dan
memilih sepatu yang satu ukuran lebih
besar untuk memberi ruang pada kaki,
serta istirahat yang cukup.
14. Berikan penguatan positif atas usaha
yang telah dilakukan.

Laporan Praktikum Keperawatan Komunitas III PSIK


Universitas Jember

15. Anjurkan untuk memeriksa gula darah


secara teratur.
16. Pantau perubahan status kesehatan
dalam komunitas.
Tindakan Tersier:
17. Kolaborasi dalam tim multidisplin untuk
mengidentifikasi
ancaman
yang
memungkinkan bertambahnya jumlah
penderita DM dalam komunitas.
18. Koordinasikan
pelayanan
pada
kelompok
penderita
DM
dalam
komunitas.
19. Ajarkan cara perawatan luka gangren
pada penderita DM di komunitas.
20. Ajarkan cara memberikan terapi insulin
secara mandiri.
21. Anjurkan kepada penderita DM di
komunitas untuk mengikuti jadwal dan
latihan secara teratur.
22. Anjurkan untuk mengukur kadar gula
darah secara teratur.
23. Anjurkan untuk memeriksa tekanan
darah dan kolesterol secara teratur.
24. Dukung
motivasi
pasien
untuk
melanjutkan
pengobatan
yang
berkesinambungan.
25. Kolaborasi dalam tim multidisplin
dengan petugas dan aparat
pemerintah setempat untuk
memperbaiki lingkungan atau
komunitas
apabila
menjadi
penyebab stressor
26. Lakukan rujukan ke rumah sakit
bila
apabila
pelayanan
kesehatan di daerah tersebut
tidak mampu menangani klien
DM disertai komplikasi

3.1.5 Implementasi
a.
Cognitive implementations
1. Lakukan program pendidikan kesehatan untuk target kelompok
berisiko.
2. Anjurkan komunitas untuk mengkonsumsi gula dengan takaran yang
tidak berlebihan

Laporan Praktikum Keperawatan Komunitas III PSIK


Universitas Jember

3. Sediakan artikel/berita/media dan dorong untuk melakukan aktivitas


yang dapat meningkatkan kesehatan pada kelompok risiko
4. Lakukan program pendidikan pada penderita DM di komunitas
tentang terapi dan pola hidup sehat untuk penderita DM (seperti
pembuatan menu diet rendah lemak, kalori secukupnya)
5. Anjurkan penderita untuk mengurangi konsumsi gula dan
menggunakan alternatif lain seperti madu atau gula jagung.
6. Anjurkan kepada penderita DM di komunitas untuk mengikuti
jadwal dan latihan secara teratur.
7. Anjurkan untuk mengukur kadar gula darah secara teratur.

b.

Interpersonal implementations
1. Kaji dan observasi risiko kesehatan dari lingkungan yang
berhubungan dengan DM, misalnya obesitas, masyarakat dengan
riwayat kesehatan keluarga dengan penderita DM, dan memiliki pola
hidup tidak sehat (seperti mengkonsumsi makanan/minuman tinggi
gula).
2. Pantau status resiko kesehatan yang sudah diketahui.
3. Kaji pengetahuan komunitas tentang penyakit, komplikasi, dan
pengobatan
4. Lakukan skrining untuk menemukan penderita sedini mungkin.
5. Kaji pengetahuan komunitas tentang terapi dan pola hidup sehat bagi
penderita DM
6. Berikan penguatan positif atas usaha yang telah dilakukan.
7. Pantau perubahan status kesehatan dalam komunitas.
8. Anjurkan untuk memeriksa tekanan darah dan kolesterol secara
teratur.
9. Dukung motivasi pasien untuk melanjutkan pengobatan yang
berkesinambungan
10. Lakukan rujukan ke rumah sakit bila apabila pelayanan kesehatan di
daerah tersebut tidak mampu menangani klien DM disertai
komplikasi.

c.

Technical implementations,
1. Bentuk suatu perkumpulan khusus penderita DM dalam komunitas
untuk meningkatkan regimen terapeutik.
2. Ajarkan senam DM pada penderita DM di komunitas.
3. Ajarkan kepada penderita DM di komunitas untuk merawat kaki
secara teratur, misalnya merawat kuku kaki agar tidak terlalu
panjang, membersihkan bagian sela-sela kaki dan telapak kaki,
membersihkan kaki dengan air hangat, menganjurkan untuk
memberi bantalan pada alas kaki, dan memilih sepatu yang satu
ukuran lebih besar untuk memberi ruang pada kaki, serta istirahat
yang cukup.

Laporan Praktikum Keperawatan Komunitas III PSIK


Universitas Jember

4. Kolaborasi dalam tim multidisplin untuk mengidentifikasi ancaman


yang memungkinkan bertambahnya jumlah penderita DM dalam
komunitas.
5. Koordinasikan pelayanan pada kelompok penderita DM dalam
komunitas.
6. Ajarkan cara perawatan luka gangren pada penderita DM di
komunitas.
7. Ajarkan cara memberikan terapi insulin secara mandiri.
8. Kolaborasi dalam tim multidisplin dengan petugas dan aparat
pemerintah setempat untuk memperbaiki lingkungan atau komunitas
apabila menjadi penyebab stressor
3.1.6 Evaluasi
a. Evaluasi struktur
1. Telah melakukan pengenalan dan kontrak dengan masyarakat Desa
Lengkong melalui MMD
2. Telah mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk
membimbing masyarakat desa Lengkong
b. Evaluasi proses
1. Telah mengkaji dan observasi risiko kesehatan dari lingkungan
yang berhubungan dengan DM
2. Telah mengkaji pengetahuan komunitas tentang penyakit,
komplikasi, dan pengobatan
3. Telah dilakukan skrining untuk menemukan penderita sedini
mungkin.
4. Telah dilakukan program pendidikan kesehatan untuk target
kelompok berisiko
5. Telah dilakukan program pendidikan pada penderita DM di
komunitas tentang terapi dan pola hidup sehat untuk penderita DM
(seperti pembuatan menu diet rendah lemak, kalori secukupnya)
6. Telah dibentuk suatu perkumpulan khusus penderita DM dalam
komunitas untuk meningkatkan regimen terapeutik.
7. Telah dingajarkan senam DM pada penderita DM di komunitas.
8. Telah diajarkan kepada penderita DM di komunitas untuk merawat
kaki secara teratur
9. Telah diajarkan cara perawatan luka gangren pada penderita DM di
komunitas
10. Telah menganjurkan untuk memeriksa tekanan darah dan kolesterol
secara teratur
11. Telah memantau perubahan status kesehatan dalam komunitas.
c. Evaluasi hasil
1. 75% masyarakat mengikuti penyuluhan.
2. 80% masyarakat memahami materi yang disamapikan dalam
penyuluhan

Laporan Praktikum Keperawatan Komunitas III PSIK


Universitas Jember

3. Angka kejadian diabetes mellitus menurun.


4. Penderita diabettes mellitus rutin mengikuti perkumpulan DM.
5. Penderita diabetes mellitus mampu merawat lukanya secara
mandiri.
6. 90 % masyarakat rutin memeriksakan diri.
7. 60% penderita mengalami penurunan kadar gula darah.