Anda di halaman 1dari 20

.

UAS ANALISIS CEKUNGAN


ANALISIS CEKUNGAN TARAKAN, KALIMANTAN
TIMUR
6/16/2014

DWI RIZKY R
270110110073
Geologi - C

REGIONAL GEOLOGY
Tarakan basin merupakan suatu cekungan sedimen tersier yang memiliki batasbatas sebagai berikut; disebelah barat dibatasi oleh cretaceous mlange Kalimantan
Tengah, disebelah utara oleh hinges on the Sempura dan Semenanjung Dent,
disebelah selatan dibatasi oleh Semenanjung Mangkalihat yang merupakan pembatas
antara TarakanBasin dengan Kutei Basin, disebelah timur kemungkinan dibatasi oleh
continental arch uplift tua.
Berdasarkan depocentresnya, N.E Kalimantan Basin dibagi menjadi empat Subcekungan, yaitu:
1. Sub-cekungan Muara
2. Sub-cekungan Berau
3. Sub-cekungan Tarakan
4. Sub-cekungan Tidung
Sub-cekungan Muara yang berarah Baratlaut-Tenggara dibatasi di sebelah
Baratdaya oleh coast parallel wrench fault zone sepanjang pantai utara Mangkalihat
Peninsula pada . Di bagian Timurlaut dibatasi oleh wrench fault zone yang lain yang
menyebabkan terbentuknya Kepulauan Maratua.
Struktur-struktur minor terjadi pada Miosen Tengah sampai Recent post rift. Eocene rift
section kemungkinan mengandung batuan induk. Batuan reservoir pada sub-cekungan
Muara pada umumnya adalah batuan karbonat.
Sub Cekungan Berau dibatasi pada bagian Utara dan Selatan oleh singkapan
pratersier. Batas Selatan adalah Suikerbrood Ridge. Batas antara sub-cekungan
Tarakan dan Sub-cekungan Berau adalah berdasarkan penipisan Formasi Tarakan
yang berumur Pliosen.
Sub-cekungan Tidung terpisah dari sub-cekungan Tarakan oleh carbonate
flatform yang ditandai oleh penipisan Formasi Tarakan. Sub-basin Tidung terdiri dari
berbagai lipatan antiklin berarah Baratlaut. Sesar naik juga terjadi sepanjang pantai.
Pada bagian Utara dibatasi oleh Sempora Fault Zone yang menunjukan arah
pergerakan sinistaral transform.

TEKTONIK
Pada Eosen tengah sampai Miosen awal Cekungan Tarakan mulai terbentuk
bersama-sama pembentukan laut Sulawesi oleh pemekaran bagian Utara dan Barat
Sulawesi dari Kalimantan Timur (Hamilton,1979). Pemekaran dan penenggelaman
dimulai selama Eosen tengah sampai Eosen akhir dan berhenti pada awal Miosen
bagian akhir (Burollet and Salle,1981; Situmorang, 1982, 1983). Tahap tektonik
ekstensional ini membuka cekungan Tarakan ke sebelah Timur sebagaimana dicirikan
oleh predominance of enechelon block faulting yang mengarah ke Timur. Pembukaan
laut Sulawesi diyakini mempunyai kesebandingan episode tektonik dengan pembukaan
Laut Cina Selatan.

Gambar 1
Peta Lokasi Cekungan Tarakan

Pada Miosen tengah sampai Pliosen, cekungan Tarakan lebih stabil dari gayagaya tektonik dengan sedimentasi deltaik dari arah barat sepanjang sistem darainasi.
Selama tahap ini, kombinasi subsidence dan listric fault membentuk ruang untuk
sedimentasi deltaik. Ruang tampung untuk peningkatan volume sedimen deltaic
terbentuk ketika periode Miosen Tengah sampai pliosen karena kombinasi cekungan
subsiden dan gravity induced listric faulting. Productive dip oriented arches terbentuk
selama Periode Pliosen Atas sampai Resen oleh transpression pada wrench fault yang
memotong Makasar Strait.
Pliosen-Resen merupakan tahap akhir tektonik dimana terjadi pengaktifan kembali
pergerakan transform sepanjang wrench fault yang memotong Makasar strait dimulai
dari Pliosen atas dan berlanjut sampai sekarang.

STRUCTURAL STYLES
Tiga zona dekstral wrench fault dan beberapa lainnya yang berskala kecil
ditemukan di cekungan Tarakan. Sempora fault zone adalah zona sesar naik paling
Utara. Zona ini membagi volkanik semenanjung Sempora dari sedimen Pulau Sebatik
Neogen. Selanjutnya zona ini merupakan batas antara sedimen kapur pada bagian
Utara dan sedimen Neogen pada bagian Selatan. Maratua Fault Zone hadir sebagai
complex transpersional zone. Zona ini membentuk batas antara Tarakan dan Muara
sub-basin. Major wrench fault ketiga terbentuk pada batas sub-cekungan Muara bagian
Selatan, sepanjang pantai Utara Semenanjung Mangkahilat. Sesar ini memperlihatkan
ekstension Palu-Kuro fault di Sulawesi.

Gambar 2
Peta Struktur Geologi Cekungan Tarakan

Lima Busur Utama mendominasi wilayah Barat, busur-busur tersebut dinamakan


dari Utara ke Selatan adalah busur Sebatik, Ahus, Bunyu, Tarakan dan Latih. Busurbusur itu adalah plunging flexures Tenggara yang dibentuk oleh transpersi TimurlautBaratdaya dan berarah Utara-Baratlaut-Selatan-Tenggara, berubah menjadi BaratlautTenggara. Intensitas perlipatan meningkat ke sebelah Utara dimana busur memberi
jalan untuk terlipat kuat pada daerah darat. Busur Latih dan antiklin minor terbentuk
pada bagian Selatan cekungan Tarakan. Antiklin-antiklin tersebut berarah BaratlautTenggara. Antiklin tersebut telah dibor dan memperlihatkan indikasi minyak dan gas dari
batupasir turbidit.

Gambar 3
Kolom Stratigrafi

STRATIGRAPHY
Endapan Pra-Tersier biasanya disebut sebagai Formasi Danau yang terdiri dari
batuan yang terkena tektonik sangat kuat dan termetamorfismekan. Stratigrafi berumur
Tersier dan Kuarter dari TarakanBasin dipaparkan seperti berikut ini berurutan dari tua
ke muda:
Formasi Sujau
Sedimen berumur Late Eocene dapat diwakili oleh Formasi Sujau yang
diendapkan secara tidak selaras diatas formasi lainnya yang lebih tua (Danau atau
Sembakung). Terdiri atas klastika kasar (konglomerat, batupasir dan volkanik) yang
terlipatkan secara kuat. Batubara, interkalasi batugamping tipis dan marl banyak
terdapat pada formasi ini. Pada bawah permukaan, Sujau memiliki ketebalan yang

mencapai 300 m di Bunyut-1 dan 450 m di Kapal-1 yang mengandung batupasir


dengan ketebalan lebih dari 80 m (PERTAMINA BEICIP, 1983). Foraminifera
planktonik terdapat pada bagian atas dari sekuen yang mengindikasikan umur Late
Eocene.
Formasi Seilor dan Formasi Mangkabua
Formasi Selior secara dominan disusun oleh micritic limestone dan diendapkan
secara selaras diatas Formasi Sujau. Berbentuk sebagai carbonate platform yang
tersebar secara merata di TarakanBasin. Sacara lokal, batugamping Selior adalah
dolomit, khususnya dimana kontak dengan sedimen diatasnya adalah kontak erosional.
Kehadiran dari Nummulites, Eulepidina dan Lepidocyclina secara jelas mengindikasikan
umur Early Oligocene. Ketebalan dari batugamping bervariasi antara 100 500 m.
Keterdapatan dari Nummulites fichteli (Marks, 1957) di Formasi Mangkubuan
mengindikasikan umur Oligocene . sebagian besar dari Formasi Mangkubuan telah
tererosi sebagai akibat dari uplift yang terjadi pada Oligocene akhir.
Formasi Tempilan
Formasi Tempilan terdiri dari lapisan tipis batupasir, tuff, shale dan batubara yang
telah mengalami alterasi. Diendapkan secara tidak selaras diatas formasi yang lebih
tua. Terdapat secara lokal dibatas barat cekungan. Foraminifera besar yang terdapat
pada formasi ini mengindikasikan umur Late Oligocene. Ketebalan yang dilaporkan
pada saat pengeboran adalah 45 m di Fanny-1 sampai 270 m di Barat-1 (PERTAMINA
BEICIP, 1983). Persebaran dari Formasi Tempilan belum diketahui secara pasti.
Kemungkinannya adalah Formasi ini hanya terakumulasi pada depresi lokal atau
graben.
Formasi Tabalar
Formasi Tabalar terdiri dari batugamping

yang merepresentasikan platforn

carbonate sequence dengan pertumbuhan reef secara lokal. Didominasi oleh


kandungan micritic limestone yang berumur Latest Oligocene Early Miocene dan
tersebar secara merata pada wilayah onshore maupun nearshore. Diendapkan secara

selaras diatas Formasi Tempilan dan secara lokal diendapkan secara tidak selaras
diatas Formasi Seilor (sumur Segitiga-1 dan singkapan di Sungai Tabalar). Ketebalan
pada sumur Segitiga-1 adalah 800 m. Batugamping ini menipis hingga kurang dari 150
m kearah utara pada Tarakan Subbasin (PERTAMINA BEICIP, 1983). Sekuen ini kaya
akan foraminifera yang mengindikasikan lingkungan laut terbuka.
Formasi Birang/Naintupo
Batugamping Talabar secara bergradasi berubah kearah atas menjadi shales
dan marl dan lapisan batugamping fasies laut terbuka yang kaya akan foraminifera
planktonik. Sekuen tersebut secara luas tersebar dan disebut sebagai Formasi Birang
(Wesch, 1936 dan Swemlw, 1940) pada bagian selatan cekungan. Sekuen yang sama
yang terdapat diutara disebut sebagai Formasi Naintupo (Leopold, 1928). Mesalai Marl
yang sama dengan Formasi Talabar sangat sulit dibedakan dengan formasi ini.
Kehadiran dari foraminifera planktonik di Bunyut-1 dengan jelas mengindikasikan umur
diatas zona N.9 atau bahkan N.10. ketebalan dari Formasi Birang/Naintupo bervariasi
antara 200-400 m akan tetapi di Tarakan Subbasin meningkat menjadi 600 800 m
(PERTAMINA BEICIP, 1983).
Formasi Latih/Meliat
Formasi Latih diketahui dengan baik dari singkapan di Berau Subbasin. Terdiri
dari 900 1100 m batupasir kasar berstruktur cross bedding, carbonaceous shale, dan
batugamping tipis. Kandungan foraminifera besar pada formasi ini menunjukan umur
Middle Miocene. Formasi ini diendapkan secara tidak selaras diatas Formasi Birang
dan kemungkinan diendapkan pada lingkungan deltaik. Disebelah timur, secara cepat
berubah menjadi fasies marine. Litologic unit yang sama di Tidung dan Tarakan
Subbasin disebut sebagai Formasi Meliat. Ketebalannya antara 250 700 m. Formasi
ini terdiri dari batupasir kasar, shale dan batubara dari fasies delta.
Formasi Menumbar
Formasi Menumbar merupakan calcareous mudstone, marl dan batugamping di
Muara Subbasin. Nama ini diperkenalkan oleh Buchan dkk. Pada 1971 untuk

mengindikasikan endapan marine berumur Middle sampai Late Miocene di area


Mangkalihat dan di bagian selatan Muara Subbasin. Pada Sub-cekungan ini, sediment
diendapkan secara tidak selaras diatas Formasi Birang. Formasi ini sulit dibedakan satu
sama lainnya dikarenakan oleh kemiripan litologinya. Pada Berau Subbasin, formasi ini
diendapkan secara selaras diatas Formasi Latih. Banyak dari bagian Menumbar yang
hilang karena erosi yang terjadi pada tektonik Late Miocene.pada bagian timur laut dari
Tarakan

Subbasin,

Menumbar

bagian

bawah

meluas

sebagai

lapisan

tebal

batugamping yang sama dengan Formasi Tabul.


Formasi Tabul dan Santul
Nama Tabulk pertama kali digunakan oleh Leopold pada 1928 untuk sekuen
berumur Middle Late Miocene yang ditemukan di singkapan sebelah utara Formasi
Tidung. Formasi Tabul terdiri dari batupasir, silt, dan shale interbed dan secara lokal
terdapat di Tarakan dan bagian dari Tidung Subbasin. Pada area Mandul, memiliki
ketebalan 1500 m dan bertambah kearah timur. Secara regional, Formasi Tabul
terbentuk sebagai kompleks delta yang berprogradasi kearah timur dan diendapkan
secara selaras diatas Formasi Meliat.
Formasi Santul digunakan oleh beberapa operator terutama pada Tarakan
Subbasin untuk mengidentifikasikan batupasir, shale dan batubara interbedded yang
berumur Late Miocene yang merupakan endapan delta front delta plain.
Formasi Sajau/Tarakan
Formasi Sajau/Tarakan tersusun atas pasir, shale dan batubara interbed yang
merupakan sistem delta berumur Pliocene. Formasi ini utamanya terbentuk pada
Tidung Subbasin dan bagian barat dari Tarakan Subbasin dan diendapkan sebagai
delta front delta plain sediment. Kearah timur secara gradual berubah menjadi fasies
shale dan batugamping dari prodelta atau lingkungan marine. Formasi ini diendapkan
secara tidak selaras diatas formasi sebelumnya. Endapan volkanik yang dikenal
dengan nama Tuff Sijin secara lokal terdapat dibawah Formasi Sajau dan berumur early
Late Miocene. Tuff ini berasal dari aktivitas volkanik yang terjadi pada saat uplift yang
terjadi pada Late Miocene.

Formasi Domaring
Pada Berau Subbasin, bagian barat dari area Mangkalihat, fasies carbonate
platform mendominasi pada Pliocene. Secara bergradasi kearah timur menjadi outer
neritic marl dan shales. Domaring diendapkan secara tidak selaras diatas formasi
sebelumnya terutama di batas barat cekungan dan di onshore. Sedangkan di offshore
kontaknya adalah selaras.
Formasi Bunyu dan Waru
Formasi Bunyu ditemukan pada Tarakan Subbasin. Terdiri atas pasir, shale dan
lignite interbed. Diendapkan secara tidak selaras diatas Formasi Tarakan. Formasi
Bunyu diendapkan pada trangresi Pleistocene dan memperlihatkan lingkungan delta
plain sampai fluviatil. Pada Muara dan Berau Subbasin dan area Mangkalihat unit yang
sama diendapkan pada kondisi laut dangkal yang dikenal dengan nama Formasi Waru.

Gambar 4
Penampang melintang Cekungan Tarakan

DEPOSITIONAL CYCLES
Diatas basement dari TarakanBasin, Late Eocene dan sedimen muda lain yang
diendapkan dapat dikelompokan kedalam beberapa siklus sebagai berikut:
1. Late Eocene Late Oligocene Depositional cycle
Peneplanation yang luas dan transgresi regional mengikuti uplift yang terjadi pada
Middle Eocene di N.E. Kalimantan. Graben secara cepat terisi dan siklus pertama
dimulai dengan terbentuknya Formasi Sujau secara tidak selaras diatas Formasi
Sembakung atau basement Pra Tersier. Diatasnya diendapkan Formasi Seilor yang
merupakan carbonate platform. Sedimentasi karbonat menjadi dominan selama
Early

Oligocene.

Transgresi

laut

memutuskan

siklus

pertama

dengan

diendapkannya Mangkabua Marl secara selaras diatas Seilor Limestone.


Tektonik event yang sangat penting terjadi pada Late Oligocene. Batas barat
cekungan (Tinggian Tengah Kalimantan) terangkat pada masa ini ditemani oleh
vulkanisme berumur 26 MYBP.
2. Latest Oligocene Early Middle Miocene Depositional Cycle
Siklus

ini

dimulai

dengan

pengendapan

Formasi

Tempilan.

Setelah

itu,

peneplanation yang meluas dan transgresi regional terjadi dan ditemani oleh
pengendapan dari Formasi Tabalar pada platform facies. Kesebelah timur, Tabalar
Limestone secara berangsur berubah menjadi facies laut terbuka. Formasi Birang
dan Naintupo terbentuk. Siklus kedua terhenti oleh fase dimana terjadi uplift dari
batas cekungan dan terjadinya vulkanisme. Vulkanisme event ini terjadi pada 16,2
17,5 MYBP yang terdeteksi pada sumur Bangkudulis.
3. Middle Late Miocene Depositional Cycle
Walaupun Late Oligocene merupakan saat dari diatrofisme yang sangat penting,
perubahan sejarah sedimentasi terdapat pada early Middle Miocene. Pada saat ini,
uplift terjadi kembali di batas cekungan barat menyediakan endapan klastik baru
dalam bentuk dalta yang berprogradasi dari barat ke timur.
Diatas Formasi Birang dan Naintupo diendapkan tidak selaras diatas Formasi Latih
dan Formasi Meliat disebelah barat dan sebelah utara cekungan. Formasi Latih

diendapkan pada lingkungan laut dangkal sampai deltaik. Lingkungan pengendapan


dari Formasi Meliat pada bagian atas Tidung Subbasin juga laut dangkal sampai
deltaik. Bergerak kearah timur, Tarakan Subbasin, berubah menjadi endapan laut
dalam sampai prodelta.
Berlanjut pada sedimentasi delta yang berprogradasi kearah timur pada early Late
Miocene berkembang pada Tarakan Subbasin. Sedimen delta front sampai deltaic
plain pada bagian teratas Formasi Tabul disebut Santul Sandstone oleh DEMINEX.
Semua proses sedimentasi pada area ini terhenti oleh uplift yang terjadi pada Late
Miocene.
4. Pliocene Depositional Cycle
Uplift yang terjadi pada batas barat cekungan pada Early Pliocene, memberikan
sumber baru untuk sedimentasi deltaik Formasi Sajau/Tarakan pada wilayah timur
TarakanBasin. Wilayah selatan relatif lebih stabil, dan shelf limestone yang disebut
sebagai Formasi Domaring diendapkan diatas Semenanjung Mangkalihat, Muara
dan Berau Subbasin. Batupasir, clay dan lapisan tipis batubara yang terdapat diatas
Domaring mengindikasikan influx dari material terrigenous kedalam wilayah selama
Pliocene akhir.
5. Quarternary Depositional Cycle
Siklus termuda ini berawal pada Pliocene/Pleistocene terus berlangsung sampai
sekarang. Sedimen dari siklus ini diendapkan setelah terjadinya marine onlap
secara umum yang tercatat pada 2,8 MYBP (Vail,1977) yang diakibatkan oleh
peningkatan muka air laut global. Transgresi ini memaksakan perubahan dari delta
Pliocene kembali lagi mendekati garis pantai yang sekarang. Formasi Bunyu
diendapkan pada bagian atas deltaic plain sampai lingkungan flivial, pada daerah
yang bebas dari pengaruh delta, limestone dan marl terakumulasikan sebagai
Formasi Waru.

Petroleum System
Reservoir
Sub-cekungan Muara terdapat pada Delta Berau terisi oleh sedimen yang secara
umum terdiri atas karbonat berumur Oligocene Recent yang berada diatas basement
volkanik dan sediment rift yang berumur Eocene. Data kualitas reservoir pada beberapa
sumur yang terdapat di Sub-cekungan Muara dan Berau dirasa kurang mencukupi.
Properties reservoir yang buruk jarang terdapat pada Formasi Domaring. Segitiga-1 dan
Tabalar-1 yang menembuh formasi ini menemukan terumbu yang memiliki arah yang
sejajar dengan Mangkalihat Peninsula.
Formasi Tabalar juga merupakan reservoir yang terdapat pada bagian selatan
cekungan. Platform ini mengandung fasies terumbu yang memperlihatkan porositas
12% di sumur Tabalar-1 dan 22% di sumur Karang Besar-1. ketebalan dari Formasi
Tabalar berkisar antara 1200 m pada segitiga-1. pinnacle reef mungkin terdapat dengan
karakteristik reservoir yang bagus. Reservoir tambahan mungkin terdapat disepanjang
sayap dari Maratua Basement high dalam bentuk carbonate talus dan endapan
turbidite.
Pada Sub-cekungan Berau, Formasi Tabalar memiliki kekerasan yang tinggi
(tight) dan memiliki ketebalan yang terbatas pada sumur yang terdapat di daratan.
Lapisan klastika berumur Eocene Oligocene ditemukan pada sumur Latih-1. 80 m
interval batupasir terdapat pada sumur NW Berau-1 dan Bunyut-1. interval ini memiliki
flow rate air yang baik dengan jejak gas. Pasirnya bercampur dengan volkanik dibagian
barat.
Beberapa lapisan batupasir Formasi Latih dengan properties reservoir yang baik
terdapat pada sumur Bunyut-1 dan Sajau-1. formasi ini tererosi secara total atau
sebagian kearah darat. Formasi Latih diasumsikan memiliki persentase batupasir yang
baik kearah timur dan selatan pada bagian darat untuk menyusun karakteristik reservoir
yang menarik.
Sedimen pengisi sub-cekungan pada onshore pada umumnya mengandung
endapan sedimen Eosen sampai Miosen yang mengendap pada saat kenaikan muka
air laut. Serpih homogen dan batulempung bergradasi ke atas menjadi Marl dan

karbonat. Singkapannya merupakan lipatan berarah Utara-Selatan pada sub-cekungan


Berau dan merupakan rangkaian yang terlipat kuat.
Pada sub-cekungan Tidung, objek utamanya adalah klastika Formasi Tabul yang
berumur Miosen akhir. Lapangan sembakung adalah lapangan yang memproduksi
minyak yang berasal dari reservoir formasi Tabul. Lapangan ini memiliki 6 sumur yang
berproduksi 2000-2500 BOPD.
Batupasir prodelta Formasi Tabul yang diendapkan pada saat sea level lowstand,
merupakan reservoar potensial kedua yang terletak pada Cekungan Tarakan lepas
pantai. Sumur Vanda-1 memberi data bahwa reservoir batupasir Miosen yang
berpotensi terletak jauh di bawah cekungan, hasil analisis juga menyebutkan bahwa
batuan reservoir ini memiliki porositas yang besar.
Pada bagian Utara Cekungan Tarakan, pasokan sedimen klastik terbatas
sehingga memberi peluang untuk berkembangnya karbonat dengan perkembangan
yang terisolasi.
Pada sistem pengendapan delta, kemenerusan reservoir kurang bagus pada
lingkungan delta plain dimana shale dan lapisan batubara terpotong oleh channel yang
diisi oleh batupasir ataupun shale. Kemenerusan reservoir harus lebih besar pada
distributary channel, river mouth bar dan innerfringe environtment pada sistem delta
(persentasi batupasir meningkat antara 10% - 40%). Ketebalan maksimum reservoir
batupasirkira-kira 25 30 meter.
Traps
Pada selatan Cekungan Terakan terdapat beberapa stratigrafi dan structural
traps yang potensial. Stratigrafic trap termasuk reefal build up formasi Domaring.
Pinnacle reef terdapat pada sepanjang punggungan struktur pada ujung paparan.
Fasies reefal yang lain, Tabalar dan Seilor karbonat terdapat pada basement high atau
discrte ridges terkurung. Fasies-fasies tersebut terperangkap oleh serpih Formasi
Birang.
Pembajian geometri stratigrafi trap ditemukan pada batupasir deltaik Formasi
Latih. Jenis perangkap ini berada pada sayap struktur atau sepanjang ketidakselarasan.

Onlap dan pinch-out trap kemungkinan terdapat pada Formasi Sujau yang berumur
Eocene.
Struktur antiklin pada bagian utara dan baran pada sumur Segitiga-1 (Berau
River Delta) pada umumnya wrenching. Kenampakan struktural sistem kompresional
pada bagian barat dan tensional pada bagian timur dan pengaruh tektonik pada
sedimen dispersalberpengaruh terhadap mekanisme pemerangkapan pada cekungan
tarakan bagian utara. Cekungan ini mempunyai kombinasi kompleks busur-busur utama
yang bersifat kompresional sehingga menyebabkan akumulasi hydrocarbon pada
lapangan Sembakung.
Roll-over berasosiasi dengan antiklin terdapat pada Formasi Bunyu dan Tarakan.
Bidang sesar

mempunyai dip yang memiliki arah timur. Blok sesar yang menjadi

perangkap dibnetuk pada bagian atas sesar tersebut. Shale diapir pada bagian timur
juga menghasilkan trap bersama-sama dengan antiklin roll-over. Karbonat trap terjadi
juga sebagai trap campuran pada bagian atas sesar atau pada reefal fasies pada ujung
punggungan.

Seal
Pada Sub-cekungan bagian selatan, batu lempung laut Formasi Birang
(Oligocene) merupakan seal yang efektif bagi karbonat Tabalar. Formasi Menumbar
membentuk potensial seal untuk Miocene ref yang berlokasi kearah batas cekungan.
Karbonat Domaring ditutup oleh Formasi Waru yang berumur Pleistocene. Lateral seal
yang mungkin pada daerah ini adalah sealing fault, perubahan fasies atau perbedaan
diagenesa batugamping. Fasies batulempung delta plain Cekungan Tarakan, marine,
prodelta dan delta plain dapat membentuk seal.
Source Rock
Source rock yang teridentifikasi pada cekungan Tarakan bagian utara
mengandung batubara dan siltstone yang merupakan Formasi Meliat (Middle Miocene)
dan Formasi Lower Tabul (Late Miocene). Dari data geokimia yang didapat,

diperkirakan source rock yang menghasilkan minyak bumi di Cekungan Tarakan


memiliki lingkungan lacustrine, coastal plain, dan deltaic. Batubara umumnya batubara
ringan yang mengandung inertinite dan 45% mengandung bahan-bahan kutikula dan
vitrinite yang biasanya

subordinat dan memiliki potensi untuk menghasilkan

hydrocarbon.batubara yang berasal dari lingkungan coastal plain dan deltaic adalah
source roct yang terkaya

dengan kadar TOC sekitar 10 70%. Inertinite juga

ditemukan pada siltstone dan berasosiasi dengan batubara. Minyak bumi yang
dihasilkan memiliki gravity yang rendah (20 40 0 API) dan merupakan asphaltic crude
(Beicip. 1985).
Data Pyrolysis GC dan geokimia mengindikasikan bahwa source rock memiliki
bentangan antara tipe II/III atau IV (Juata-IV, Pamusian, Mengatal, dan Bunyu-II/III)
sampai tipe I/II (Sembakung, Bunyu Tapa, Bangkudulis dan Vanda-I). Source rock
ternyata lebih kompleks dan memiliki lingkungan pengendapan yang lebih bervariasi
dari yang diperkirakan. Berdasarkan atas kehadiran dari hydrocarbon charge source
rock yang terbukti menyebar, terhitung dari Bangkudulis di barat sampai Vanda-1 110
km ke arah timur dan antara Sembakung di utara sampai Muara Makapan-1 105 km ke
arah selatan.
Di selatan (Sub-cekungan Muara), minyak dan gas tampak pada sumur
eksplorasi yang mengindikasikan bahwa fasies sumber (source facies) yang berpotensi
terdapat pada cekungan. Source rock interval yangterdapat pada sub-basin ini
kemungkin Formasi Malio (Eocene) dan Formasi Birang (Oligo-Miocene). Formasi Malio
mengandung mudstone yang kaya akan fossil dengan sedikit kandungan karbonat.
Planktonik shale dan marl fasies marine dominan pada formasi ini.
Petroleoum Generation and Migration
Cekungan ini memiliki gradien geothermal yang bervariasi yakni antara
2,60C/100m sampai diatas 3,50C/100m pada utara-barat dan pada Pulau Bunyu. Pada
semua sumur, batubara dan shale Karbonan yang berumur Pleistocene dan Pliocene
adalah immature sampai early mature (max. Ro biasanya 0,5 kadang-kadang mencapai
0,6 lebih) kecuali pada base Mamburungan-1 (3065m), dimana puncak maturity (Ro
0,7) baru saja tercapai. Pemodelan dari profil vitrinite maturity oleh beberapa operator

mengindikasikan bahwa Ro 0,7 akan dicapai pada kedalaman sekitar 3200-3900 m


(Miocene) tergantung dari aliran panas lokal.
Untuk well section dan unit stratigrafi hipotesa dibawahnya, ekspulsi minyak
terjadi pada 2 Ma (contoh, dari sekitar Pliocene akhir ke atas). Heat flow secara umum
lebih tinggi selama Pliocene (1,7 HFU) dibandingkan Pleistocene (1,6 HFU) dan lebih
dari itu dianggap berasal dari passive margin. Nilai yang lebih rendah terukur pada
daerah timur (contoh, Vanda-1 memiliki 1,2 HFU). Semakin kearah laut, heat flow
mengalami penurunan seperti pada batas deltaic lainnya didunia. Pengecualian pada
Mamburungan-1, yang mana heat flow pada masa sekarang (1,9 HFU) lebih tinggi dari
Pliocene. Pengecualian lainnya adalah ekspulsi dari minyak tipe II/III yang terjadi lebih
awal (sekitar 2 Ma) jika dibandingkan dengan model well lainnya. Hot spot ini mungkin
terjadi dikarenakan adanya pergerakan transform dalam

(deep seated transform

movement) yang bertanggung jawab untuk struktur inversion yang terdapat pada Pulau
Tarakan. Pada Middle-Late Miocene kemungkinan telah memasuki gas window yang
terjadi selama Pleistocene akhir (diperkirakan 0,2-0,7 MYBP) pada bagian terdalam dari
depocentres.
Berdasarkan penjelasan diatas, minyak yang berasal dari lacustrine berada
secara langsung dibawahnya atau juga secara lateral. Akan tetapi pada kedalaman 900
m secara vertikal dari sumur TDs, minyak telah bermigrasi ke lapangan Pulau Tarakan
dan Pulau Bunyu dan ke Venda-1 accumulation. Maturities dari minyak ini telah
mencapai Ro 0,7 0,8 dan pada Bunyu Tapa lebih matang lagi dengan Ro 0,9. Karena
source rock Miocene telah terbukti di Sub-cekungan Tidung, maka diusulkan bahwa
fasies yang serupa seharusnya terdapat dibawah Pulau Tarakan dan Bunyu dan area
Vanda. Hydrocarbon yang terdapat pada Vanda-1 merupakan hal yang penting sebagai
dasar untuk menyatakan bahwa source rock yang matang ada jauh didalam cekungan
dan jauh dari batubara delta plain. Dari data yang didapat pada Vanda-1, dapat diambil
kesimpulan bahwa minyak daerah ini tidak overmature. Gradien geotermal menurun
kearah laut seperti yang terdapat pada kebanyakan passive margin.

OIL PLAY CONCEPT


Busur Tarakan dan Bunyu adalah jalur hydrocarbon yang terbukti yang mana
pengisian hydrocarbon

difokuskan pada reservoir batupasir Plio-Pleisto yang

diendapkan pada lingkungan proximal/delta plain. Sayangnya, play pada setting ini
telah menemukan beberapa akumulasi minyak dan gas dengan kontinuitas lateral
reservoar yang buruk, efesiensi recover yang buruk dan volume hydrocarbon yang
terlalu kecil untuk dikembangkan. Eksplorasi pada paparan dangkal dikonsentrasikan
pada daerah disepanjang strike busurnya yang mengalami penunjaman. Eksplorasi
kecil dilakukan pada sayap timurlaut dan baratdaya dari busur dimana batupasir
kemungkinan akan mengalami pinc-out yang akan menghasilkan perangkap stratigrafi.
Dua lapangan terbesar pada cekungan ini, Tarakan (215 MMBO) dan Bunyu (140
MMBO dan 350 TCF) adalah faulted antiklin. Akumulasi lainnya, keberadaannya
tergantung pada fault enclosure dan semuanya mengandung kurang dari 25 MMBO.
Dikarenakan busur berubah menjadi lebih muda kearah utara, maka kemungkinan
terdapat masalah dalam timming dari formasi perangkap.
Konsep reservoir klastika Miocene telah terbukti pada Sub-cekungan Berau
onshore dan Sub-cekungan Tidung dengan produksi pada lapangan Sembakung (25
MMBO) pada tahun 1976 oleh ARCO. Tipe ini berada pada half graben. Trap ini
ditemukan pada roll-over antiklin. Objektive metode pada daerah tektonik tertuju pada
Formasi Santul, Tabul dan Meliat dengan source rock karbonat Formasi Meliat.
Lapangan Bangkudulis yang berlokasi disebelah barat Pulau Bangkudulis mempunyai
metoda yang sama dengan Lapangan Sembakung usaha eksplorasi telah dilakukan
pada daerah offshore yang dicirikan oleh growth faulting apart pada pemboran sumur
Panda-1 oleh sceptre 1990. empat potemsial produktif teridentifikasi yaitu: 1. Shelfal
trend of growth fault pada kedalaman 20 100 m dipengaruhi oleh inversi busur, 2.
Sesar yang mengarah ke barat sumur panda-1 pada kedalam lebih dari seratus meter,
3. Inboard crestal collapse/graben trend of faulting berlokasi dibawah delta Bulungan, 4.
Outboard crestal collapse/graben trend berlokasi disebelah selatan blok Sebawang
pada kedalaman lebih dari 200 m.

Gambar 5
Oil Play Concept

Karbonat Oligo-Miocene reef dari Formasi Tabalar merupakan konsep yang


prospek pada Sub-cekungan Muara. Sub-cekungan ini mempunyai karakteristik
struktural yang kompleks dicirikan oleh subsidence yang seragam antara basement
ridge dan deposisi karbonat pada basement high dan daerah paparan. Tipe trapnya
termasuk pinnacle reef.

DAFTAR PUSTAKA
-

Petroleum Geology of Indonesian Basins, Volume 5, Tarakan Basin North east


Kalimantan, Jakarta, 1996

Proceedings of the Thirteen Annual Convention, Jakarta May 29-30 1984


Volume1 Indonesian Petroleum Association.

The Twentieth IAGI Annual Convention. Jakarta, Indonesia. December 10-121991.