Anda di halaman 1dari 39

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Dasar Teori


Manusia

seperti

makhluk

hidup

lainnya,

berusaha

untuk

mempertahankan homeostasis, yang berarti keseimbangan. Otak dan organ tubuh


lainnya bekerja sama untuk mengatur suhu tubuh, keasaman darah, ketersediaan
oksigen dan variabel lainnya. Mengingat bahwa organisme hidup harus
mengambil nutrisi dan air, satu fungsi homeostasis penting adalah eliminasi atau
kemampuan untuk mengeluarkan bahan kimia dan cairan sehingga dapat menjaga
keseimbangan internal. Sistem kemih memainkan peran ekskretoris dan
homeostatik penting.
Kelangsungan hidup dan berfungsinya sel secara normal bergantung
pada pemeliharaan konsentrasi garam, asam, dan elektrolit lain di lingkungan
cairan internal. Kelangsungan hidup sel juga bergantung pada pengeluaran secara
terus-menerus zat-zat sisa metabolisme toksik dan dihasilkan oleh sel pada saat
melakukan berbagai reaksi selama kelangsungan hidupnya.
Setiap hari tubuh kita menghasilkan kotoran dan zat-zat sisa dari
berbagai proses tubuh. Agar tubuh kita tetap sehat dan terbebas dari penyakit,
maka kotoran dan zat-zat sisa dalam tubuh kita harus dibuang melalui alat-alat
ekskresi. Sistem ekresi adalah proses pengeluaran zat-zat sisa hasil metabolisme
yang sudah tidak digunakan lagi oleh tubuh. Sedangkan kebalikan dari sistem ini
adalah sistem sekresi yaitu proses pengeluaran zat-zat yang berguna bagi tubuh.
Alat-alat ekskresi manusia berupa ginjal, kulit, hati, paru-paru dan colon.
Hasil sistem ekskresi dapat dibedakan menjadi :
1.

Zat cair yaitu berupa keringat, urine dan cairan empedu.

2.

Zat padat yaitu berupa feces.

3.

Gas berupa CO2.

4.

Uap air berupa H2O.


Traktus urinarius merupakan sistem yang terdiri dari organ-organ dan
struktur-struktur yang menyalurkan urin dari ginjal ke luar tubuh. Ginjal
berperan penting mempertahankan homeostasis dengan mengatur konsentrasi
banyak konstituen plasma, terutama elektrolit dan air dan dengan mengeliminasi
semua zat sisa metabolisme.
Sistem urin adalah bagian penting dari tubuh manusia yang terutama
bertanggung jawab untuk menyeimbangkan air dan elektrolit tertentu seperti
kalium dan natrium, membantu mengatur tekanan darah dan melepaskan produk
limbah yang disebut urea dari darah.
Peran dari sistem urin umumnya adalah ekskresi, melalui air seni,
manusia membebaskan diri dari air tambahan dan bahan kimia dari aliran darah.
Aspek penting lain dari sistem urin adalah kemampuannya untuk membedakan
antara senyawa dalam darah yang bermanfaat untuk tubuh dan harus dijaga,
seperti gula, dan senyawa dalam darah yang beracun dan harus dihilangkan.

1.2 Pengertian Sistem Urinaria


Sistem perkemihan atau sistem urinaria, adalah suatu sistem dimana
terjadinya proses penyaringan darah sehingga darah bebas dari zat-zat yang
tidak dipergunakan oleh tubuh dan menyerap zat-zat yang masih di pergunakan
oleh tubuh. Zat-zat yang tidak dipergunakan oleh tubuh larut dalam air dan
dikeluarkan berupa urin (air kemih).

Gambar saluran kemih tampak depan. terdiri atas: kedua ginjal (ren,
kidney), ureter, kandung kemih (vesika urinaria/urinary bladder/ nier) dan uretra.
Sumber dari : http://www.google.co.id/imgres?q=ginjal
1.2.1 Susunan Sistem Perkemihan atau Sistem Urinaria
1.2.1.1 Ginjal
Kedudukan ginjal terletak dibagian belakang dari kavum abdominalis di
belakang peritoneum pada kedua sisi vertebra lumbalis III dan melekat langsung
pada dinding abdomen. Ginjal kanan terletak lebih ke bawah dibandingkan ginjal
kiri.
Ginjal berbentuk seperti biji kacang merah (kara/ercis), jumlahnya ada
2 buah yang letaknya di kiri dan kanan, ginjal kiri lebih besar daripada ginjal
kanan. Pada orang dewasa berat ginjal 200 gram. Dan pada umumnya ginjal
laki-laki lebih panjang daripada ginjal wanita.
Satuan struktural dan fungsional ginjal yang terkecil disebut nefron.
Tiap-tiap nefron terdiri atas pembuluh-pembuluh darah yaitu glomerulus dan
kapiler peritubuler yang mengitari tubuli. Dalam komponen tubuler terdapat
kapsul Bowman, serta tubulus-tubulus yaitu tubulus kontortus proksimal, tubulus
kontortus distal, tubulus pengumpul dan lengkung Henle yang terdapat pada
medula.
Kapsula Bowman terdiri atas lapisan parietal (luar) berbentuk gepeng
dan lapis viseral (langsung membungkus kapiler glomerulus) yang bentuknya
besar dengan banyak juluran mirip jari disebut podosit (sel berkaki) atau pedikel
yang memeluk kapiler secara teratur sehingga celah-celah antara pedikel itu
sangat teratur.
Kapsula Bowman bersama glomerulus disebut korpuskel renal, bagian
tubulus yang keluar dari korpuskel renal disebut dengan tubulus kontortus
proksimal karena jalannya yang berbelok-belok, kemudian menjadi saluran yang
lurus yang semula tebal kemudian menjadi tipis disebut ansa Henle atau Loop of
Henle, karena membuat lengkungan tajam berbalik kembali ke korpuskel renal
asal, kemudian berlanjut sebagai tubulus kontortus distal.

Ginjal dibungkus oleh simpai jaringan fibrosa yang tipis. Pada sisi medial
terdapat cekungan, dikenal sebagai hilus, yang merupakan tempat keluar masuk
pembuluh darah dan keluarnya ureter. Bagian ureter atas melebar dan mengisi hilus
ginjal, dikenal sebagai piala ginjal (pelvis renalis). Pelvis renalis akan terbagi lagi
menjadi mangkuk besar dan kecil yang disebut kaliks mayor (2 buah) dan kaliks
minor (8-12 buah). Setiap kaliks minor meliputi tonjolan jaringan ginjal berbentuk
kerucut yang disebut papila ginjal. Pada potongan vertikal ginjal tampak bahwa tiap
papila merupakan puncak daerah piramid yang meluas dari hilus menuju ke kapsula.
Pada papila ini bermuara 10-25 buah duktus koligens. Satu piramid dengan bagian
korteks yang melingkupinya dianggap sebagai satu lobus ginjal.
Secara histologi ginjal terbungkus dalam kapsul atau simpai jaringan
lemak dan simpai jaringan ikat kolagen. Organ ini terdiri atas bagian korteks dan
medula yang satu sama lain tidak dibatasi oleh jaringan pembatas khusus, ada
bagian medula yang masuk ke korteks dan ada bagian korteks yang masuk ke
medula.
1.2.1.2 Struktur Ginjal

Gambar Struktur Ginjal. Sumber dari http://www.google.co.id/imgres?


q=rongga+ginjal&

Unit fungsional ginjal adalah nefron. Pada manusia setiap ginjal


mengandung 1-1,5 juta nefron yang pada dasarnya mempunyai struktur dan fungsi
yang sama. Dapat dibedakan dua jenis nefron:
1. Nefron kortikalis yaitu nefron yang glomerulinya terletak pada bagian
luar dari korteks dengan lingkungan henle yang pendek dan tetap berada
padakorteks atau mengadakan penetrasi hanya sampai ke zona luar darimedula.
2. Nefron juxtamedullaris yaitu nefron yang glo merulinya terletak
pada bagian

dalam

dari

korteks

dekat

dengan

cortex-medulla

dengan

lengkunghenle yang panjang dan turun jauh ke dalam zona dalam dari
medula,sebelum berbalik dan kembali ke cortex.
Bila sebuah ginjal kita iris memanjang, maka akan tampak bahwa ginjal
terdiri dari tiga bagian, yaitu :

Kulit Ginjal (korteks),


Sumsum Ginjal (medulla),
Rongga Ginjal (pelvis renalis).

Gambar Bagian-bagian Ginjal. Sumber dari


http://www.google.co.id/imgres?q=bagian+ginjal

1. Kulit Ginjal (Korteks)


Bangunan-bangunan yang terdapat pada korteks antara lain :

Korteks ginjal terdiri atas beberapa bangunan yaitu Korpus Malphigi


terdiri atas kapsula Bowman (bangunan berbentuk cangkir) dan glomerulus
(jumbai /gulungan kapiler).
Korpus Malphigi
Korpus Malphigi terdiri atas 2 macam bangunan yaitu kapsul Bowman
dan

glomerulus. Kapsul Bowman sebenarnya merupakan pelebaran ujung

proksimal saluran keluar ginjal (nefron) yang dibatasi epitel. Bagian ini diinvaginasi
oleh jumbai kapiler (glomerulus) sampai mendapatkan bentuk seperti cangkir yang
berdinding ganda. Dinding sebelah luar disebut lapis parietal (pars parietal)
sedangkan dinding dalam disebut lapis viseral (pars viseralis) yang melekat erat
pada jumbai glomerulus. Ruang diantara ke dua lapisan ini sebut ruang Bowman
yang berisi cairan ultrafiltrasi. Dari ruang ini cairan ultra filtrasi akan masuk ke
dalam tubulus kontortus proksimal.
Glomerulus merupakan bangunan yang berbentuk khas, bundar dengan
warna

yang lebih tua daripada sekitarnya karena sel-selnya tersusun lebih padat.

Glomerulus merupakan gulungan pembuluh kapiler. Glomerulus ini akan diliputi


oleh epitel pars viseralis kapsul Bowman. Di sebelah luar terdapat ruang Bowman
yang akan menampung cairan ultra filtrasi dan meneruskannya ke tubulus kontortus
proksimal. Ruang ini dibungkus oleh epitel pars parietal kapsul Bowman.
Kapsul Bowman lapis parietal pada satu kutub bertautan dengan tubulus
kontortus proksimal yang membentuk kutub tubular, sedangkan pada kutub yang
berlawanan bertautan dengan arteriol yang masuk dan keluar dari glomerulus.
Kutub ini disebut kutub vaskular. Arteriol yang masuk disebut vasa aferen yang
kemudian bercabang-cabang lagi menjadi sejumlah kapiler yang bergelung-gelung
membentuk kapiler. Pembuluh kapiler ini diliputi oleh sel-sel khusus yang disebut
sel podosit yang merupakan simpai Bowman lapis viseral. Sel podosit ini dapat
dilihat dengan mikroskop elektron. Kapiler-kapiler ini kemudian bergabung lagi
membentuk arteriol yang selanjutnya keluar dari glomerulus dan disebut vasa
eferen, yang berupa sebuah arteriol.

Apartus Yuksta-Glomerular
Sel-sel otot polos dinding vasa aferent di dekat glomerulus berubah
sifatnya menjadi sel epiteloid. Sel-sel ini tampak terang dan di dalam sitoplasmanya
terdapat granula yang mengandung ensim renin, suatu ensim yang diperlukan dalam
mengontrol tekanan darah. Sel-sel ini dikenal sebagai sel yuksta glomerular. Renin
akan mengubah angiotensinogen (suatu peptida yang dihasilkan oleh hati) menjadi
angiotensin I. Selanjutnya angiotensin I ini akan diubah menjadi angiotensin II oleh
ensim angiotensin converting enzyme (ACE) (dihasilkan oleh paru). Angiotensin II
akan mempengaruhi korteks adrenal (kelenjar anak ginjal) untuk melepaskan
hormon aldosteron. Hormon ini akan meningkatkan reabsorpsi natrium dan klorida
termasuk juga air di tubulus ginjal terutama di tubulus kontortus distal dan
mengakibatkan bertambahnya volume plasma. Angiotensin II juga dapat bekerja
langsung pada sel-sel tubulus ginjal untuk meningkatkan reabsorpsi natrium, klorida
dan air. Di samping itu angiotensin II juga bersifat vasokonstriktor yaitu
menyebabkan kontriksinya dinding pembuluh darah.
Sel-sel yuksta glomerular di sisi luar akan berhimpitan dengan sel-sel
makula densa, yang merupakan epitel dinding tubulus kontortus distal yang berjalan
berhimpitan dengan kutub vaskular. Pada bagian ini sel dinding tubulus tersusun
lebih padat daripada bagian lain. Sel-sel makula densa ini sensitif terhadap
perubahan konsentrasi ion natrium dalam cairan di tubulus kontortus distal.
Penurunan tekanan darah sistemik akan menyebabkan menurunnya produksi filtrat
glomerulus yang berakibat menurunnya konsentrasi ion natrium di dalam cairan
tubulus kontortus distal. Menurunnya konsentrasi ion natrium dalam cairan tubulus
kontortus distal akan merangsang sel-sel makula densa (berfungsi sebagai
osmoreseptor) untuk memberikan sinyal kepada sel-sel yuksta glomerulus agar
mengeluarkan renin. Sel makula densa dan yuksta glomerular bersama-sama
membentuk aparatus yuksta-glomerular.
Di antara aparatus yuksta glomerular dan tempat keluarnya vasa eferen
glomerulus terdapat kelompokan sel kecil-kecil yang terang disebut sel mesangial
ekstraglomerular atau sel polkisen (bantalan) atau sel lacis. Fungsi sel-sel ini
masih belum jelas, tetapi diduga sel-sel ini berperan dalam mekanisma umpan balik

tubuloglomerular. Perubahan konsentrasi ion natrium pada makula densa akan


memberi sinyal yang secara langsung mengontrol aliran darah glomerular. Sel-sel
mesangial ekstraglomerular di duga berperan dalam penerusan sinyal di makula
densa ke sel-sel yuksta glomerular. Selain itu sel-sel ini menghasilkan hormon
eritropoetin, yaitu suatu hormon yang akan merangsang sintesa sel-sel darah merah
(eritrosit) di sumsum tulang.
2. Sumsum Ginjal (Medula)
Bagian sistim tubulus yaitu tubulus kontortus proksimalis dan tubulus
kontortus distal.
Medula ginjal terdiri atas beberapa bangunan yang merupakan bagian
sistim tubulus yaitu pars descendens dan descendens ansa Henle, bagian tipis ansa
Henle, duktus ekskretorius (duktus koligens) dan duktus papilaris Bellini.
Tubulus Ginjal (Nefron)
A. Tubulus Kontortus Proksimal
Tubulus kontortus proksimal berjalan berkelok-kelok dan berakhir
sebagai saluran yang lurus di medula ginjal (pars desendens Ansa Henle).
Dindingnya disusun oleh selapis sel kuboid dengan batas-batas yang sukar dilihat.
Inti sel bulat, bundar, biru dan biasanya terletak agak berjauhan satu sama lain.
Sitoplasmanya bewarna asidofili (kemerahan). Permukaan sel yang menghadap ke
lumen mempunyai paras sikat (brush border). Tubulus ini terletak di korteks ginjal.
Fungsi tubulus kontortus proksimal adalah mengurangi isi filtrat
glomerulus 80-85 persen dengan cara reabsorpsi via transport dan pompa natrium.
Glukosa, asam amino dan protein seperti bikarbonat, akan diresorpsi.
B. Ansa Henle
Ansa henle terbagi atas 3 bagian yaitu bagian tebal turun (pars
asendens), bagian tipis (segmen tipis) dan bagian tebal naik (pars asendens).
Segmen tebal turun mempunyai gambaran mirip dengan tubulus kontortus
proksimal, sedangkan segmen tebal naik mempunyai gambaran mirip tubulus
kontortus distal. Segmen tipis ansa henle mempunyai tampilan mirip pembuluh
kapiler darah, tetapi epitelnya sekalipun hanya terdiri atas selapis sel gepeng, sedikit

lebih tebal sehingga sitoplasmanya lebih jelas terlihat. Selain itu lumennya tampak
kosong. Ansa henle terletak di medula ginjal. Fungsi ansa henle adalah untuk
memekatkan atau mengencerkan urin.
C. Tubulus kontortus distal
Tubulus kontortus distal berjalan berkelok-kelok. Dindingnya disusun
oleh selapis sel kuboid dengan batas antar sel yang lebih jelas dibandingkan tubulus
kontortus proksimal. Inti sel bundar dan bewarna biru. Jarak antar inti sel
berdekatan. Sitoplasma sel bewarna basofil (kebiruan) dan permukaan sel yang
mengahadap lumen tidak mempunyai paras sikat. Bagian ini terletak di korteks
ginjal. Fungsi bagian ini juga berperan dalam pemekatan urin.
D. Duktus koligen
Saluran ini terletak di dalam medula dan mempunyai gambaran mirip
tubulus kontortus distal tetapi dinding sel epitelnya jauh lebih jelas, selnya lebih
tinggi dan lebih pucat. Duktus koligen tidak termasuk ke dalam nefron. Di bagian
medula yang lebih ke tengah beberapa duktus koligen akan bersatu membentuk
duktus yang lebih besar yang bermuara ke apeks papila. Saluran ini disebut duktus
papilaris (Bellini). Muara ke permukaan papil sangat besar, banyak dan rapat
sehingga papil tampak seperti sebuah tapisan (area kribrosa). Fungsi duktus koligen
adalah menyalurkan kemih dari nefron ke pelvis ureter dengan sedikit absorpsi air
yang dipengaruhi oleh hormon antidiuretik (ADH).
Di samping bagian korteks dan medula, pada ginjal ada juga bagian
korteks yang menjorok masuk ke dalam medula membentuk kolom mengisi celah di
antara piramid ginjal yang disebut sebagai kolumna renalis Bertini. Sebaliknya ada
juga jaringan medula yang menjorok masuk ke dalam daerah korteks membentuk
berkas-berkas yang disebut prosessus Ferreini.
Sawar Ginjal
Sawar ginjal adalah bangunan-bangunan yang memisahkan darah kapiler
glomerulus dari filtrat dalam rongga Bowman. Sawar ini terdiri atas endotel kapiler
bertingkap glomerulus, lamina basal dan pedikel podosit yang dihubungkan dengan

membran celah (slit membran). Sel podosit adalah sel-sel epitel lapisan viseral
kapsula Bowman. Sel-sel ini telah mengalami perubahan sehingga berbentuk
bintang. Selain badan sel sel-sel ini mempunyai beberapa juluran (prosessus) mayor
(primer) yang meluas dari perikarion dengan cara seperti tentakel seekor gurita.
Sebuah prosessus primer mempunyai beberapa prosessus sekunder yang kecil atau
pedikel. Pedikel podosit yang berdekatan saling berselang-seling dalam susunan
yang rumit dengan sistem celah yang disebut celah filtrasi (Slit pores) di antara
pedikel. Pedikel-pedikel ini berhubungan dengan suatu membran tipis disebut
membran celah (Slit membran). Di bawah membran slit ini terdapat membran basal
sel-sel sel endotel kapiler glomerulus.
Guna sawar ginjal ini adalah untuk menyaring molekul-molekul yang
boleh melewati lapisan filtrasi tersebut dan molekul-molekul yang harus dicegah
agar tidak keluar dari tubuh. Molekul-molekul yang dikeluarkan dari tubuh adalah
molekul-molekul yang sudah tidak diperlukan oleh tubuh, sisa-sisa metabolisma
atau zat-zat yang toksik bagi tubuh. Molekul-molekul ini selanjutnya akan dibuang
dalam bentuk urin (air kemih). Proses filtrasi ini tergantung kepada tekanan
hidrostatik darah dalam kapiler glomerulus.
3. Rongga Ginjal (pelvis renalis)
Pelvis renalis adalah ujung ureter yang berpangkal di ginjal, berbentuk
corong lebar. Sebelum berbatasan dengan jaringan ginjal, pelvis renalis bercabang
dua atau tiga disebut kaliks mayor yang masing-masing bercabang membentuk
beberapa kaliks minor yang langsung menutupi papilla renis dari pyramid. Kaliks
minor ini menampung urin yang terus keluar dari papila. Dari Kaliks minor,urin
masuk ke kaliks mayor, ke pelvis renis ke ureter, hingga di tampung dalam kandung
kemih (vesikula urinaria).

10

Gambar Struktur Ginjal terdapat Kaliks Minor dan Kaliks Mayor.


Sumber dari http://www.google.co.id/imgres?q=rongga+ginjal
1.2.1.3 Fungsi Ginjal
Ginjal berfungsi sebagai berikut :
1. Membuang bahan sisa terutama senyawaan nitrogen seperti urea dan
kreatinin yang dihasilkan dari metabolisme makanan oleh tubuh, bahan asing dan
produk sisa.
2. Mengatur keseimbangan air dan elektrolit.Kelebihan air dalam tubuh
akan dieksresikan oleh ginjal sebagai urin ( kemih ) yang encer dalam jumlah besar,
kekurangan air ( kelebihan keringat ) menyebabkan urin yang di eksresi berkurang
dan konsentrasinya lebih pekat sehingga susunan dan volume cairan tubuh dapat
dipertahankan relatif normal.
3. Mengatur keseimbangan asam dan basa cairan tubuh bergantung pada
apa yang dimakan, campuran makanan menghasilkan urin yang bersifat agak
asam , pH kurang dari 6 ini disebabkan hasil akhir metabolisme protein.
Apabila banyak makan sayur sayuran , urin akan bersifat basa. pH urin bervariasi
antara 4 , 8 8,2.Ginjal menyekreksi urin sesuai dengan perubahan pH darah.
4. Menghasilkan renin yang berperan dalam pengaturan tekanan darah.

11

5.

Menghasilkan eritropoietin yang mempunyai peran dalam proses pembentukan


eritrosit di sumsum tulang.

6.

Produksi dan ekskresi urin.

7.

Mengatur keseimbangan osmotik dan mempertahankan keseimbangan ion yang


optimal dalam plasma ( keseimbangan elektrolit ). Bila terjadi pemasukan /
pengeluaran yang abnormal ion ion akibat pemasukan garam yang berlebihan /
penyakit perdarahan ( diare , muntah ) ginjal akan meningkatkaneksresi ion ion
yangpenting ( mis. Na , K , Cl , Ca dan fosfat).

1.2.1.4 Ureter, Kandung Kemih, dan Uretra


Ureter
Secara histologik ureter terdiri atas lapisan mukosa, muskularis dan
adventisia. Lapisan mukosa terdiri atas epitel transisional yang disokong oleh
lamina propria. Epitel transisional ini terdiri atas 4-5 lapis sel. Sel permukaan
bervariasi dalam hal bentuk mulai dari kuboid (bila kandung kemih kosong atau
tidak

teregang)

sampai

gepeng

(bila

kandung

kemih

dalam

keadaan

penuh/teregang). Sel-sel permukaan ini mempunyai batas konveks (cekung) pada


lumen dan dapat berinti dua. Sel-sel permukaan ini dikenal sebagai sel payung.
Lamina propria terdiri atas jaringan fibrosa yang relatif padat dengan banyak serat
elastin. Lumen pada potongan melintang tampak berbentuk bintang yang
disebabkan adanya lipatan mukosa yang memanjang. Lipatan ini terjadi akibat
longgarnya lapis luar lamina propria, adanya jaringan elastin dan muskularis.
Lipatan ini akan menghilang bila ureter diregangkan.
Lapisan muskularisnya terdiri atas serat otot polos longitudinal disebelah
dalam dan sirkular di sebelah luar (berlawan dengan susunan otot polos di saluran
cerna). Lapisan adventisia atau serosa terdiri atas lapisan jaringan ikat fibroelsatin.
Fungsi ureter adalah meneruskan urin yang diproduksi oleh ginjal ke
dalam kandung kemih. Bila ada batu disaluran ini akan menggesek lapisan mukosa
dan merangsang reseptor saraf sensoris sehingga akan timbul rasa nyeri yang amat
sangat dan menyebabkan penderita batu ureter akan berguling-gulung, keadaan ini
dikenal sebagai kolik ureter.

12

Ureter adalah tabung/saluran yang menghubungkan ginjal dengan


kandung kemih. Ureter merupakan lanjutan pelvis renis, menuju distal
& bermuara pada vesica urinaria. Panjangnya 25 30 cm. Persarafan ureter oleh
plexus hypogastricus inferior T11-L2 melalui neuron-neuron simpatis.
Terdiri dari dua bagian :
pars abdominalis
pars pelvina
Tiga tempat penyempitan pada ureter :
uretero- pelvic junction
tempat penyilangan ureter dengan vassa iliaca sama dengan flexura
marginalis
muara ureter ke dalam vesica urinaria
Terdiri dari 2 saluran pipa masing masing bersambung dari ginjal ke
kandung kemih (vesika urinaria) panjangnya 25 30 cm dengan penampang
0,5 cm. Ureter sebagian terletak dalam rongga abdomen dan sebagian
terletak dalam rongga pelvis.
Lapisan dinding ureter terdiri dari :
a. Dinding luar jaringan ikat (jaringan fibrosa)
b. Lapisan tengah otot polos.
c. Lapisan sebelah dalam lapisan mukosa
Lapisan dinding ureter menimbulkan gerakan gerakan peristaltik tiap
5 menit sekali yang akan mendorong air kemih masuk ke dalam kandung kemih
(vesika urinaria).
Gerakan peristaltik mendorong urin melalui ureter yang dieskresikan
oleh ginjal dan disemprotkan dalam bentuk pancaran, melalui osteum uretralis
masuk ke dalam kandung kemih.
Ureter berjalan hampir vertikal ke bawah sepanjang fasia muskulus
psoas dan dilapisi oleh pedtodinium. Penyempitan ureter terjadi pada tempat
ureter terjadi pada tempat ureter meninggalkan pelvis renalis, pembuluh darah,
saraf dan pembuluh sekitarnya mempunyai saraf sensorik.

13

Gambar Ureter pada laki-laki dan perempuan. Sumber dari


http://www.google.co.id/imgres?q=ureter+pada+laki-laki+dan+perempuan
Ureter pada pria terdapat di dalam visura seminalis atas dan disilang
olehduktus deferens dan dikelilingi oleh leksus vesikalis. Selanjutnya ureter
berjalan oblique sepanjang 2 cm di dalam dinding vesika urinarai pada sudut
lateral daritrigonum vesika. Sewaktu menembus vesika urineria, dinding atas dan
dinding bawah ureter akan tertutup dan pada waktu vesika urinaria penuh
akanmembentuk katup (valvula) dan mencegah pengambilan urine dan vesika
urinaria.
Ureter pada wanita terdapat di belakang fossa ovarika dan berjalan
ke bagian medial ddan ke dapan bagian lateral serviks uteri bagian atas , vagina
untuk mencapai fundus vesika urinaria. Dalam perjalanannya, ureter didampingi
oleh arteri iterina sepanjang 2,5 cm dan sellanjutnya arteri ini menyilang
ureter dan mmenuju ke atas di antara lapisan ligamentum. Ureter mempuunyai 2
cm dari sisi.
Pembuluh darah ureter:
a.
b.
c.
d.

Arteri renalis
Arteri spermatika interna
Arteri hipogastrika
Arteri vesikalis inferior
14

Persarafan Ureter :
Persarafan ureter merupakan cabang dari pleksus mesenterikus
inferior,fleksus spermatikus, dan pleksus pelvis sepertiga dari nervus vagus rantai
eferensdan nervus vagus rantai eferens dari nervus torakali ke-11 dan ke-12,
nervuslumbalis ke-1,dan nervus vagus mempunyai rantai eferens untuk ureter .
Kandung kemih
Kandung kemih disebut juga Vesica Urinaria/bladder, terdiri atas
lapisan mukosa, muskularis dan serosa/adventisia. Vesica urinaria merupakan
kantung berongga yang dapat diregangkan dan volumenya dapat disesuaikan
dengan mengubah status kontraktil otot polos di dindingnya. Secara berkala urin
dikososngkan dari kandung kemih ke luar tubuh melalui ureter. Organ ini
mempunyai fungsi sebagai reservoir urine (200 - 400 cc). Dindingnya mempunyai
lapisan otot yang kuat. Letaknya di belakang os pubis. Bentuk bila penuh
sepertitelur ( ovoid ). Apabila kosong seperti limas. Apex ( puncak ) vesica
urinaria terletak di belakang symphysis pubis.
Mukosanya dilapisi oleh epitel transisional yang lebih tebal dibandingkan
ureter (terdiri atas 6-8 lapis sel) dengan jaringan ikat longgar yang membentuk
lamina propria dibawahnya. Tunika muskularisnya terdiri atas berkas-berkas serat
otot polos yang tersusun berlapis-lapis yang arahnya tampak tak membentuk aturan
tertentu. Di antara berkas-berkas ini terdapat jaringan ikat longgar. Tunika
adventisianya terdiri atas jaringan fibroelastik.

15

Gambar Bagian-bagian kandung kemih/vesica urinaria/bladder. Sumber


dari http://www.google.co. id/imgres?q=kandung+kemih
Bagian Vesica Urinaria :
Apex
Dihubungkan ke cranial oleh urachus (sisa kantong allantois ) sampai
ke umbilicus membentuk ligamentum vesico umbilicale mediale. Bagian ini
tertutup peritoneum dan berbatasan dengan ileum & colon sigmoideum
Corpus
Fundus
Vesica urinaria dipersarafi oleh cabang-cabang plexus hypogastricus
inferior yaitu:
Serabut-serabut post ganglioner simpatis glandula para vertebralis L12
Serabut-serabut preganglioner parasimpatis N. S2,3,4 melalui N.
splancnicus & plexus hypogastricus inferior mencapai dinding vesica urinaria.
Disini terjadisinapsis dengan serabut-serabut post ganglioner.
Serabut-serabut sensoris visceral afferent: N. splancnicus menuju SSP.
Serabut-serabut afferen mengikuti serabut simpatis pada plexus
hypogastricusmenuju medulla spinalis L1-2.27.
Fungsi vesica urinaria:
1. Sebagai tempat penyimpanan urin, dan
2. Mendorong urin keluar dari tubuh.
Persarafan kandung kemih

16

Gambar persarafan pada kandung kemih. Sumber dari


http://anfisdeny.blogspot.com/p/anatomi-internal-bledder.html
Persarafan utama berasal dari saraf-saraf pelvis yang berhubungan
dengan medulla spinalis melalui pleksus sakralis dari medulla spinalis.
Saraf sensorik untuk mendeteksi derajat regangan dalam dinding
kandung kemih. Sinyal regangan merupakan sinyal yang kuat terutama berperan
untuk memicu reflek pengosongan kandung kemih.
Saraf motorik merupakan saraf parasimpatik. Saraf ini berakhir di sel
ganglion yang terletak di dalam kandung kemih.Mempersarafi detrusor (kontraksi
kandung kemih). Selain saraf pelvis, terdapat dua persarafan lain, yaitu serabut
motorik skeletal yang dibawa melalui saraf pudendus ke spincter eksterna
kandung kemih. Saraf ini mengatur otot rangka volunter pada spincter tsb. Selain
itu juga mendapatkan persarafan simpatis dari saraf hipogastrik terutama
berhubungan dengan L2 dari medulla spinalis.

17

Serabut simpatis merangsang pembuluh darah dan memberi sedikit efek


terhadap proses kontraksi kandung kemih.
Pengisian dan Pengosongan Kandung Kemih

Pengisian
Dinding ureter mengandung otot polos yang tersusun dalam berkas
spiral longitudinal dan sekitar lapisan otot yang tidak terlihat. Kontraksi peristaltic
ureter 1-5 kali/menit akan menggerakkan urine dari pelvis renalis ke dalam
kandung kemih dan disemprotkan setiap gelombang peristaltic. Ureter yang
berjalan miring melalui dinding kandung kemih untuk menjaga ureter tertutup
kecuali selama gelombang peristaltic untuk mencegah urin tidak kembali ke
ureter.
Apabila kandung kemih terisi penuh permikaan superior membesar,
menonjol ke atas masuk ke dalam rongga abdomen. Peritoneum akan menutupi
bagian bawah dinding anterior kolum kandung kemih yang terletak di bawah
kandung kemih dan permukaan atas prostat. Serabut otot polos dilanjutkan
sebagai serabut otot polos prostat kolum kandung kemih yang dipertahankan pada
tempatnya oleh ligamentum pubovesikalis pada wanita yang merupakan penebalan
fasia pubis.
Membran mukosa kandung kemih dalam keadaan kosong akan berlipatlipat. Lipatan ini akan hilang apabila kandung kemih terisi penuh. Daerah
membran mukosa meliputi permukaan dalam basis kandung kemih yang
dinamakan trigonum. Vesika ureter menembus dinding kandung secara miring
membuat seperti katup untuk mencegah aliran balik urin ke ginjal pada waktu
kandung kemih terisi.

Pengosongan
Kontraksi otot muskulus detrusor bertanggung jawab pada pengosongan
kandung kemih selama berkemih (mikusturasi). Berkas otot tersebut berjalan pada
sisi uretra, serabut ini dinamakan sfingter uretra interna. Sepanjang uretra

18

terdapat sfingter otot rangka yaitu sfingter uretra membranosa (sfingter uretra
eksterna). Epitel kandung kemih dibentuk dari lapisan superfisialis sel kuboid.
Uretra
Merupakan saluran keluar dari urin yang diekskresikan oleh tubuhmelalui
ginjal, ureter, vesica urinaria.Uretra adalah saluran sempit yang berpangkal pada
kandung kemih yang berfungsi menyalurkan air kemih keluar.
Panjang uretra pria antara 15-20 cm dan untuk keperluan deskriptif
terbagi atas 3 bagian yaitu:
A. Pars Prostatika, yaitu bagian uretra mulai dari muara uretra pada
kandung kemih hingga bagian yang menembus kelenjar prostat. Pada bagian ini
bermuara 2 saluran yaitu duktus ejakulatorius dan saluran keluar kelenjar prostat.
B. Pars membranasea yaitu bagian yang berjalan dari puncak prostat di
antara otot rangka pelvis menembus membran perineal dan berakhir pada bulbus
korpus kavernosus uretra.
C. Pars kavernosa atau spongiosa yaitu bagian uretra yang menembus
korpus kavernosum dan bermuara pada glands penis.
Epitel uretra bervariasi dari transisional di uretra pars prostatika, lalu pada
bagian lain berubah menjadi epitel berlapis atau bertingkat silindris dan akhirnya
epitel gepeng berlapis pada ujung uretra pars kavernosa yang melebar yaitu di fosa
navikularis. Terdapat sedikit sel goblet penghasil mukus. Di bawah epitel terdapat
lamina propria terdiri atas jaringan ikat fibro-elastis longgar.
Pada wanita uretra jauh lebih pendek karena hanya 4 cm panjangnya.
Epitelnya bervariasi dari transisional di dekat muara kandung kemih, lalu berlapis
silindris atau bertingkat hingga berlapis gepeng di bagian ujungnya. Muskularisnya
terdiri atas 2 lapisan otot polos tersusun serupa dengan ureter (aw/2001).
1.2.1.5 Proses Pembentukan Urin
Cara Kerja Ginjal
Darah yang banyak mengandung sisa metabolisme masuk ke ginjal
melalui pembuluh nadi ginjal. Cairan yang keluar dari pembuluh darah masuk ke

19

nefron. Air, gula, asam amino dan urea terpisah dari darah kemudian menuju
simpai Bowman. Proses ini disebut filtrasi. Dari sekitar 180 liter air yang disaring
oleh simpai Bowman setiap hari, hanya liter yang diekskresikan sebagai urin.
Sebagian besar air diserap kembali di dalam pembuluh halus. Cairan dari simpai
Bowman menuju ke saluran pengumpul. Dalam perjalanan tersebut terjadi
penyerapan kembali glukosa dan bahan-bahan lain oleh aliran darah. Peristiwa ini
disebut reabsorpsi. Bahan-bahan seperti urea dan garam tidak direabsorpsi
bergabung dengan air menjadi urin.
Dalam keadaan normal, urin mengandung: air, urea dan ammonia yang
merupakan sisa perombakan protein. Garam mineral, terutama garam dapur. Zat
warna empedu yang memberi warna kuning pada urin. Zat yang berlebihan dalam
darah seperti vitamin, obat-obatan pada hormon. Jika dalam urin terdapat protein,
hal itu menunjukkan adanya kerusakan di dalam ginjal.
Ginjal berperan dalam proses pembentukan urin yang terjadi melalui
serangkaian proses, yaitu: penyaringan, penyerapan kembali dan augmentasi.
1. Penyaringan (filtrasi)
Proses pembentukan urin diawali dengan penyaringan darah yang
terjadi di kapiler glomerulus. Sel-sel kapiler glomerulus yang berpori (podosit),
tekanan dan permeabilitas yang tinggi pada glomerulus mempermudah proses
penyaringan. Selain penyaringan, di glomelurus juga terjadi penyerapan kembali
sel-sel darah, keping darah, dan sebagian besar protein plasma. Hasil penyaringan
di glomerulus disebut filtrat glomerolus atau urin primer, mengandung asam
amino, glukosa, natrium, kalium, dan garam-garam lainnya.
2. Penyerapan kembali (re-absorbsi)
Bahan-bahan yang masih diperlukan di dalam urin pimer akan diserap
kembali di tubulus kontortus proksimal, sedangkan di tubulus kontortus distal
terjadi penambahan zat-zat sisa dan urea. Meresapnya zat pada tubulus ini melalui
dua cara. Gula dan asam amino meresap melalui peristiwa difusi, sedangkan air

20

melalui peristiwa osmosis. Penyerapan air terjadi pada tubulus proksimal dan
tubulus distal.
Substansi yang masih diperlukan seperti glukosa dan asam amino
dikembalikan ke darah. Zat amonia, obat-obatan seperti penisilin, kelebihan
garam

dan

bahan

lain

pada

filtrat

dikeluarkan

bersama

urin.

Setelah terjadi reabsorbsi maka tubulus akan menghasilkan urin sekunder, zat-zat
yang masih diperlukan tidak akan ditemukan lagi. Sebaliknya, konsentrasi zat-zat
sisa metabolisme yang bersifat racun bertambah, misalnya urea.
3. Augmentasi
Augmentasi adalah proses penambahan zat sisa dan urea yang mulai
terjadi tubulus kontortus distal.
Dari tubulus-tububulus ginjal, urin akan menuju rongga ginjal,
selanjutnya menuju kantong kemih melalui saluran ginjal. Jika kantong kemih
telah penuh terisi urin, dinding kantong kemih akan tertekan sehingga timbul rasa
ingin buang air kecil. Urin akan keluar melalui uretra. Komposisi urin yang
dikeluarkan melalui uretra adalah air, garam, urea dan sisa substansi lain,
misalnya pigmen empedu yang berfungsi memberi warna dan bau pada urin.
1.2.1.6 Transpor urin
Dari ginjal melalui ureter dan masuk ke dalam kandung kemih. Urin
yang keluar dari kandung kemih mempunyai komposisi utama yang sama dengan
cairan yang keluar dari duktus kolingentes, tidak ada perubahan yang berarti pada
komposisi urin tersebut sejak mengalir melalui kaliks renalis dan ureter sampai
kandung kemih. Urin mengalir dari duktus kolingentes masuk ke kaliks renalis,
meregangkan kaliks renalis dan meningkatkan aktivitas pacemakernya yang
kemudian mencetuskan kontraksi peristaltic yang menyebar ke pelvis renalis dan
kemudian turun sepanjang ureter dengan demikian mendorong urin dari pelvis
renalis ke arah kandung kemih. Dinding ureter terdiri dari otot polos dan
dipersarafi oleh saraf simpatis dan parasimpatis seperti juga neuron-neuron pada
pleksus intramular dan serat saraf yang meluas diseluruh panjang ureter. Seperti
halnya otot polos pada organ visera yang lain, kontraksi peristaltik pada ureter

21

ditingkatkan oleh perangsangan parasimpatis dan dihambat oleh perangsangan


simpatis.
Ureter memasuki kandung kemih memasuki otot detrusor di daerah
trigonum kandung kemih. Normalnya ureter berjalan secara oblique sepanjang
beberapa sentimeter menembus kandung kemih. Tonus normal dari otot detrusor
pada dinding kandung kemih cenderung menekan ureter, dengan demikian
mencegah aliran balik urin dari kandung kemih waktu tekanan di kandung kemih.
Setiap gelombang peristaltik yang terjadi sepanjang ureter akan meningkatkan
tekanan dalam ureter sehingga bagian yang menembus kandung kemih akan
membuka dan memberi kesempatan kandung urin mengalir ke dalam kandung
kemih. Panjang ureter yang menembus kandung kemih kurang dari normal,
sehingga kontraksi kandung kemih tidak selalu menimbulkna penutupan ureter
secara sempurna. Akibatnya,sejumlah urin dalam kandung kemih terdorong ke
dalam ureter ini disebut refluks vesikoureteral.
Refluks semacam ini dapat menyebabkan pembesaran ureter dan jika
parah dapat meningkatkan tekanan kaliks renalis dan struktur-struktur dan di
medulla renalis yang mengakibatkan kerusakan pada daerah ini.
1.2.1.7 Proses Miksi (Rangsangan Berkemih)
Distensi kandung kemih, oleh air kemih akan merangsang stres
reseptor yang terdapat pada dinding kandung kemih dengan jumlah 250 cc
sudah cukup untuk merangsang berkemih (proses miksi). Akibatnya akan terjadi
reflek kontraksi dinding kandung kemih, dan pada saat yang sama terjadi relaksasi
spinser internus, diikuti oleh relaksasi spinter eksternus, dan akhirnya
terjadi pengosongan kandung kemih.Rangsangan yang menyebabkan kontraksi
kandung kemih dan relaksasispinter interus dihantarkan melalui serabut serabut
para simpatis. Kontraksi sfinger eksternus secara volunteer bertujuan untuk
mencegah atau menghentikan miksi.Kontrol volunter ini hanya dapat terjadi bila
saraf saraf yang menanganikandung kemih uretra medula spinalis dan otak
masih utuh. Bila terjadi kerusakan pada saraf saraf tersebut maka akan terjadi
inkontinensia urin (kencing keluar terus menerus tanpa disadari) dan
retensiurine (kencing tertahan).Persarafan dan peredaran darah vesika urinaria,
22

diatur oleh torako lumbar dan kranial dari sistem persarafan otonom. Torako
lumbar

berfungsi

untuk relaksasi

lapisan

otot

dan

kontraksi

spinter

interna.Peritonium melapis kandung kemih sampai kira kira perbatasan


ureter masuk kandung kemih. Peritoneum dapat digerakkan membentuk lapisan
danmenjadi lurus apabila kandung kemih terisi penuh. Pembuluh darah
Arterivesikalis superior berpangkal dari umbilikalis bagian distal, vena
membentuk anyaman dibawah kandung kemih. Pembuluh limfe berjalan menuju
duktuslimfatilis sepanjang arteri umbilikalis.
Jadi,reflex mikturisi merupakan sebuah sikus yang lengkap yang terdiri
dari:
1. Kenaikan tekanan secara cepat dan progresif.
2. Periode tekanan menetap.
3. Kembalinya tekanan kandung kemih ke nilai tonus basal.
1.2.1.8 Perangsangan atau Penghambatan Berkemih oleh Otak
Pusat pusat ini antara lain:
Pusat perangsang dan penghambat kuat dalam batang otak, terutama
terletak di ponds, dan beberapa pusat yang terletak di korteks serebral yang
terutama bekerja penghambat tetapi dapat menjadi perangsang. Refleks
berkemih merupakan dasar penyebab terjadinya berkemih, tetapi pusat
yang lebih tinggi normalnya memegang peranan sebagai pengendali
akhir dari berkemih sebagai berikut : Pusat yang lebih tinggi menjaga
secara parsial penghambatan reflex berkemih kecuali jika peristiwa berkemih
dikehendaki.
Pusat yang lebih tinggi dapat mencegah berkemih, bahkan jika reflex
berkemih timbul sengan membuat tonik terus menerus pada sfingter eksternus
kandung kemih sampai mendapatkan waktu yang baik untuk berkemih. Jika tiba
waktu berkemih, pusat kortikal dapat merangsang pusat berkemih
sacral untuk membantu untuk mencetuskan refleks berkemih dan
dalamwaktu bersamaan menghambat sfingter eksternus kandung kemih

23

sehingga peristiwa berkemih dapat terjadi. Berkemih di bawah keinginan biasanya


tercetus dengan cara berikut:Pertama, seseorang secara sadar mengkontraksikan
otot-otot abdomennya yang meningkatkan tekanan dalam kandung kemih dan
mengakibatkan urin ekstra memasuki leher kandung kemih dan uretra posterior
dibawah tekanan sehingga meregangkan dindingnya.
.

1.2.1.9 Urin (Air Kemih)


Urin atau air seni atau air kencing adalah cairan sisa yang

diekskresikan oleh ginjal yang kemudian akan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui
proses urinasi. Eksreksi urin diperlukan untuk membuang molekul-molekul sisa
dalam darah yang disaring oleh ginjal dan untuk menjaga homeostasis cairan tubuh.
Namun,

ada

juga

beberapa

spesies

yang

menggunakan

urin

sebagai

sarana komunikasi olfaktori. Urin disaring di dalam ginjal, dibawa melalui ureter
menuju kandung kemih, akhirnya dibuang keluar tubuh melalui uretra.
Komposisi Urin
Urin terdiri dari air dengan bahan terlarut berupa sisa
metabolisme (seperti urea), garam terlarut, dan materi organik. Cairan dan materi
pembentuk urin berasal dari darah atau cairan interstisial. Komposisi urin berubah
sepanjang proses reabsorpsi ketika molekul yang penting bagi tubuh, misal glukosa,
diserap kembali ke dalam tubuh melalui molekul pembawa. Cairan yang tersisa
mengandung urea dalam kadar yang tinggi dan berbagai senyawa yang berlebih atau
berpotensi racun yang akan dibuang keluar tubuh. Materi yang terkandung di dalam
urin dapat diketahui melalui urinalisis. Urea yang dikandung oleh urin dapat
menjadi sumber nitrogen yang baik untuk tumbuhan dan dapat digunakan untuk
mempercepat pembentukan kompos. Diabetes adalah suatu penyakit yang dapat
dideteksi melalui urin. Urin seorang penderita diabetes akan mengandung gula yang
tidak akan ditemukan dalam urin orang yang sehat.
Fungsi Urin

24

Fungsi utama urin adalah untuk membuang zat sisa seperti racun atau
obat-obatan dari dalam tubuh.
Anggapan umum menganggap urin sebagai zat yang "kotor". Hal ini
berkaitan dengan kemungkinan urin tersebut berasal dari ginjal atau saluran
kencing yang terinfeksi, sehingga urinnya pun akan mengandung bakteri. Namun
jika urin berasal dari ginjal dan saluran kencing yang sehat, secara medis urin
sebenarnya cukup steril dan hampir bau yang dihasilkan berasal dari urea.
Sehingga bisa diakatakan bahwa urin itu merupakan zat yang steril.
Urin dapat menjadi penunjuk dehidrasi. Orang yang tidak menderita
dehidrasi akan mengeluarkan urin yang bening seperti air. Penderita dehidrasi
akan mengeluarkan urin berwarna kuning pekat atau cokelat.

1.3 Penilaian Hasil Pemeriksaan Urin


Sebelum menilai hasil analisa urine, perlu diketahui tentang proses
pembentukan urin. Urin merupakan hasil metabolisme tubuh yang dikeluarkan
melalui ginjal. Dari 1200 ml darah yang melalui glomeruli permenit akan
terbentuk filtrat 120 ml per menit. Filtrat tersebut akan mengalami reabsorpsi,
difusi dan ekskresi oleh tubuli ginjal yang akhirnya terbentuk 1 ml urin per menit.
Secara umum dapat dikatakan bahwa pemeriksaan urin selain untuk mengetahui
kelainan ginjal dan salurannya juga bertujuan untuk mengetahui kelainan-kelainan
dipelbagai organ tubuh seperti hati, saluran empedu, pankreas, korteks adrenal,
uterus dan lain-lain.
Faktor-Faktor yang Dapat Mempengaruhi Susunan Urin
Beberapa hal perlu diperhatikan dalam persiapan penderita untuk
analisa urin misalnya pada pemeriksaan glukosa urin sebaiknya penderita jangan

25

makan zat reduktor seperti vitamin C, karena zat tersebut dapat memberikan hasil
positif palsu dengan cara reduksi dan hasil negatif palsu dengan cara enzimatik.
Pada pemeriksaan urobilin, urobilinogen dan bilirubin sebaiknya tidak
diberikan obat yang memberi warna pada urin, seperti Vitamin B2 (Riboflavin),
Pyridium dan lain-lain.
Pada tes kehamilan dianjurkan agar mengurangi minum supaya urin
menjadi lebih pekat.
Susunan urin tidak banyak berbeda dari hari ke hari, tetapi pada pihak
lain mungkin banyak berbeda dari waktu ke waktu sepanjang hari, karena itu
penting untuk mengambil contoh urin menurut tujuan pemeriksaan. Untuk
pemeriksaan urin seperti pemeriksaan protein, glukosa dan sedimen dapat
dipergunakan urin - sewaktu, ialah urin yang dikeluarkan pada waktu yang tidak
ditentukan dengan khusus, kadang kadang bila unsur sedimen tidak ditemukan
karena urin- sewaktu terlalu encer, maka dianjurkan memakai urin pagi.
Urin pagi ialah urin yang pertama kali dikeluarkan pada pagi hari, urin
ini baik untuk pemeriksaan berat jenis, protein sedimen dan tes kehamilan.
Pada penderita yang sedang haid atau "leucorrhoe" untuk mencegah
kontaminasi dianjurkan pengambilan contoh urin dengan cara clean voided
specimen yaitu dengan melakukan kateterisasi, punksi suprapubik atau
pengambilan urin midstream dimana urin yang pertama keluar tidak ditampung,
tapi urin yang keluar kemudian ditampung dan yang terakhir tidak turut
ditampung.

1.3.1 Pemeriksaan Makroskopik, Mikroskopik dan Kimia Urin.


Dikenal pemeriksaan urin rutin dan lengkap. Yang dimaksud dengan
pemeriksaan urin rutin adalah pemeriksaan makroskopik, mikroskopik dan kimia
26

urin yang meliputi pemeriksaan protein dan glukosa. Sedangkan yang dimaksud
dengan pemeriksaan urin lengkap adalah pemeriksaan urin rutin yang dilengkapi
dengan pemeriksaan benda keton, bilirubin, urobilinogen, darah samar dan nitrit.

1.3.1.1 Pemeriksaan Makroskopik


Yang diperiksa adalah volume, warna, kejernihan, berat jenis, bau dan
pH urin. Pengukuran volume urin berguna untuk menafsirkan hasil pemeriksaan
kuantitatif atau semi kuantitatif suatu zat dalam urin, dan untuk menentukan
kelainan dalam keseimbangan cairan badan. Pengukuran volume urin yang
dikerjakan bersama dengan berat jenis urin bermanfaat untuk menentukan
gangguan faal ginjal.
A. Volume urin
Banyak sekali faktor yang mempengaruhi volume urin seperti umur,
berat badan, jenis kelamin, makanan dan minuman, suhu badan, iklim dan
aktivitas orang yang bersangkutan. Rata-rata didaerah tropik volume urin dalam
24 jam antara 800-1300 ml untuk orang dewasa. Bila didapatkan volume urin
selama 24 jam lebih dari 2000 ml maka keadaan itu disebut poliuri. Poliuri ini
mungkin terjadi pada keadaan fisiologik seperti pemasukan cairan yang
berlebihan, nervositas, minuman yang mempunyai efek diuretika. Selain itu
poliuri dapat pula disebabkan oleh perubahan patologik seperti diabetes mellitus,
diabetes insipidus, hipertensi, pengeluaran cairan dari edema. Bila volume urin
selama 24 jam 300-750 ml maka keadaan ini dikatakan oliguri.
Keadaan ini mungkin didapat pada diarrhea, muntah -muntah, deman
edema, nefritis menahun. Anuri adalah suatu keadaan dimana jumlah urin selama
24 jam kurang dari 300 ml. Hal ini mungkin dijumpai pada shock dan kegagalan
ginjal. Jumlah urin siang 12 jam dalam keadaan normal 2 sampai 4 kali lebih

27

banyak dari urin malam 12 jam. Bila perbandingan tersebut terbalik disebut
nokturia, seperti didapat pada diabetes mellitus.
B. Warna urin
Pemeriksaan terhadap warna urin mempunyai makna karena kadangkadang dapat menunjukkan kelainan klinik. Warna urin dinyatakan dengan tidak
berwarna, kuning muda, kuning, kuning tua, kuning bercampur merah, merah,
coklat, hijau, putih susu dan sebagainya. Warna urin dipengaruhi oleh kepekatan
urin, obat yang dimakan maupun makanan. Pada umumnya warna ditentukan oleh
kepekatan urin, makin banyak diuresa makin muda warna urin itu. Warna normal
urin berkisar antara kuning muda dan kuning tua yang disebabkan oleh beberapa
macam zat warna seperti urochrom, urobilin dan porphyrin. Bila didapatkan
perubahan warna mungkin disebabkan oleh zat warna yang normal ada dalam
jumlah besar, seperti urobilin menyebabkan warna coklat.
Disamping itu perlu dipertimbangkan kemungkinan adanya zat warna
abnormal, seperti hemoglobin yang menyebabkan warna merah dan bilirubin yang
menyebabkan warna coklat. Warna urin yang dapat disebabkan oleh jenis
makanan atau obat yang diberikan kepada orang sakit seperti obat dirivat fenol
yang memberikan warna coklat kehitaman pada urin.
Kejernihan dinyatakan dengan salah satu pendapat seperti jernih, agak
keruh, keruh atau sangat keruh. Biasanya urin segar pada orang normal jernih.
Kekeruhan ringan disebut nubecula yang terdiri dari lendir, sel epitel dan leukosit
yang lambat laun mengendap. Dapat pula disebabkan oleh urat amorf, fosfat
amorf yang mengendap dan bakteri dari botol penampung. Urin yang telah keruh
pada waktu dikeluarkan dapat disebabkan oleh chilus, bakteri, sedimen seperti
epitel, leukosit dan eritrosit dalam jumlah banyak.
C. Berat jenis urin
Pemeriksaan berat jenis urin bertalian dengan faal pemekatan ginjal,
dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu dengan memakai falling drop,
28

gravimetri, menggunakan pikno meter, refraktometer dan reagens 'pita'. Berat


jenis urin sewaktu pada orang normal antara 1,003 -- 1,030. Berat jenis urin
herhubungan erat dengan diuresa, makin besar diuresa makin rendah berat
jenisnya dan sebaliknya. Makin pekat urin makin tinggi berat jenisnya, jadi berat
jenis bertalian dengan faal pemekat ginjal. Urin sewaktu yang mempunyai berat
jenis 1,020 atau lebih, menunjukkan bahwa faal pemekat ginjal baik. Keadaan ini
dapat dijumpai pada penderita dengan demam dan dehidrasi. Sedangkan berat
jenis urin kurang dari 1,009 dapat disebabkan oleh intake cairan yang berlebihan,
hipotermi, alkalosis dan kegagalan ginjal yang menahun.
D. Bau urin
Untuk menilai bau urin dipakai urin segar, yang perlu diperhatikan
adalah bau yang abnormal. Bau urin normal disebabkan oleh asam organik yang
mudah menguap. Bau yang berlainan dapat disebabkan oleh makanan seperti
jengkol, petai, obat-obatan seperti mentol, bau buah-buahan seperti pada
ketonuria. Bau amoniak disebabkan perombakan ureum oleh bakteri dan biasanya
terjadi pada urin yang dibiarkan tanpa pengawet. Adanya urin yang berbau busuk
dari semula dapat berasal dari perombakan protein dalam saluran kemih
umpamanya pada karsinoma saluran kemih.
E. pH Urin
Penetapan pH diperlukan pada gangguan keseimbangan asam basa,
kerena dapat memberi kesan tentang keadaan dalam badan. pH urin normal
berkisar antar 4,5 - 8,0. Selain itu penetapan pH pada infeksi saluran kemih dapat
memberi petunjuk ke arah etiologi. Pada infeksi oleh Escherichia coli biasanya
urin bereaksi asam, sedangkan pada infeksi dengan kuman Proteus yang dapat
merombak ureum menjadi atnoniak akan menyebabkan urin bersifat basa. Dalam
pengobatan batu karbonat atau kalsium fosfat urin dipertahankan asam, sedangkan
untuk mencegah terbentuknya batu urat atau oksalat pH urin sebaiknya
dipertahankan basa.
1.3.1.2 Pemeriksaan Mikroskopik

29

Yang dimaksud dengan pemeriksaan mikroskopik urin yaitu


pemeriksaan sedimen urin. Ini penting untuk mengetahui adanya kelainan pada
ginjal dan saluran kemih serta berat ringannya penyakit. Urin yang dipakai ialah
urin sewaktu yang segar atau urin yang dikumpulkan dengan pengawet formalin.
Pemeriksaan sedimen dilakukan dengan memakai lensa objektif kecil (10X) yang
dinamakan lapangan penglihatan kecil atau LPK. Selain itu dipakai lensa objektif
besar (40X) yang dinamakan lapangan penglihatan besar atau LPB.
Jumlah

unsur

sedimen

bermakna

dilaporkan

secara

semi

kuantitatif, yaitu jumlah rata-rata per LPK untuk silinder dan per LPB untuk
eritrosit dan leukosit. Unsur sedimen yang kurang bermakna seperti epitel atau
kristal cukup dilaporkan dengan + (ada), ++ (banyak) dan +++ (banyak sekali).
Lazimnya unsur sedimen dibagi atas dua golongan yaitu unsur organik dan tak
organik. Unsur organik berasal dari sesuatu organ atau jaringan antara lain epitel,
eritrosit, leukosit, silinder, potongan jaringan, sperma, bakteri, parasit dan yang
tak organik tidak berasal dari sesuatu organ atau jaringan seperti urat amorf dan
Kristal.
A. Eritrosit atau leukosit
Eritrosit atau leukosit di dalam sedimen urin mungkin terdapat dalam
urin wanita yang haid atau berasal dari saluran kernih. Dalam keadaan normal
tidak dijumpai eritrosit dalam sedimen urin, sedangkan leukosit hanya terdapat 0 5/LPK dan pada wanita dapat pula karena kontaminasi dari genitalia.
Adanya eritrosit dalam urin disebut hematuria. Hematuria dapat
disebabkan oleh perdarahan dalam saluran kemih, seperti infark ginjal,
nephrolithiasis, infeksi saluran kemih dan pada penyakit dengan diatesa
hemoragik. Terdapatnya leukosit dalam jumlah banyak di urin disebut piuria.
Keadaan ini sering dijumpai pada infeksi saluran kemih atau kontaminasi dengan
sekret vagina pada penderita dengan fluor albus.
B. Silinder
Silinder adalah endapan protein yang terbentuk di dalam tubulus ginjal,
mempunyai matrix berupa glikoprotein (protein Tamm Horsfall) dan kadangkadang dipermukaannya terdapat leukosit, eritrosit dan epitel. Pembentukan

30

silinder dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain osmolalitas, volume, pH dan
adanya glikoprotein yang disekresi oleh tubuli ginjal.
Dikenal bermacam-macam silinder yang berhubungan dengan berat
ringannya penyakit ginjal. Banyak peneliti setuju bahwa dalam keadaan normal
bisa didapatkan sedikit eritrosit, leukosit dan silinder hialin. Terdapatnya silinder
seluler seperti silinder leukosit, silinder eritrosit, silinder epitel dan sunder
berbutir selalu menunjukkan penyakit yang serius. Pada pielonefritis dapat
dijumpai silinder lekosit dan pada glomerulonefritis akut dapat ditemukan silinder
eritrosit. Sedangkan pada penyakit ginjal yang berjalan lanjut didapat silinder
berbutir dan silinder lilin.
C. Kristal
Kristal dalam urin tidak ada hubungan langsung dengan batu di dalam
saluran kemih. Kristal asam urat, kalsium oksalat, triple fosfat dan bahan amorf
merupakan kristal yang sering ditemukan dalam sedimen dan tidak mempunyai
arti, karena kristal-kristal itu merupakan hasil metabolisme yang normal.
Terdapatnya unsur tersebut tergantung dari jenis makanan, banyak makanan,
kecepatan metabolisme dan kepekatan urin. Di samping itu mungkin didapatkan
kristal lain yang berasal dari obat-obatan atau kristal-kristal lain seperti Kristal
tirosin, Kristal leusin.
D. Epitel
Merupakan unsur sedimen organik yang dalam keadaan normal
didapatkan dalam sedimen urin. Dalam keadaan patologik jumlah epitel ini dapat
meningkat, seperti pada infeksi, radang dan batu dalam saluran kemih. Pada
sindroma nefrotik di dalam sedimen urin mungkin didapatkan oval fat bodies. Ini
merupakan epitel tubuli ginjal yang telah mengalami degenerasi lemak, dapat
dilihat dengan memakai zat warna Sudan III/IV atau diperiksa dengan
menggunakan mikroskop polarisasi.

1.3.1.3 Pemeriksaan Kimia Urin

31

Di samping cara konvensional, pemeriksaan kimia urin dapat dilakukan


dengan cara yang lebih sederhana dengan hasil cepat, tepat, spesifik dan sensitif
yaitu memakai reagens pita. Reagens pita (strip) dari berbagai pabrik telah banyak
beredar di Indonesia. Reagens pita ini dapat dipakai untuk pemeriksaan pH,
protein, glukosa, keton, bilirubin, darah, urobilinogen dan nitrit. Untuk
mendapatkan hasil pemeriksaan yang optimum, aktivitas reagens harus
dipertahankan, penggunaan haruslah mengikuti petunjuk dengan tepat; baik
mengenai cara penyimpanan, pemakaian reagens pita dan bahan pemeriksaan.
Urin dikumpulkan dalam penampung yang bersih dan pemeriksaan
baiknya segera dilakukan. Bila pemeriksaan harus ditunda selama lebih dari satu
jam, sebaiknya urin tersebut disimpan dulu dalam lemari es, dan bila akan
dilakukan pemeriksaan, suhu urin disesuaikan dulu dengan suhu kamar. Agar
didapatkan hasil yang optimal pada tes nitrit, hendaknya dipakai urin pagi atau
urin yang telah berada dalam buli-buli minimal selama 4 jam. Untuk pemeriksaan
bilirubin, urobilinogen dipergunakan urin segar karena zat-zat ini bersifat labil,
pada suhu kamar bila kena cahaya. Bila urin dibiarkan pada suhu kamar, bakteri
akan berkembang biak yang menyebabkan pH menjadi alkali dan menyebabkan
hasil positif palsu untuk protein. Pertumbuhan bakteri karena kontaminasi dapat
memberikan basil positif palsu untuk pemeriksaan darah samar dalam urin karena
terbentuknya peroksidase dari bakteri.
Reagens pita untuk pemeriksaan protein lebih peka terhadap albumin
dibandingkan protein lain seperti globulin, hemoglobin, protein Bence Jones dan
mukoprotein. Oleh karena itu hasil pemeriksaan proteinuri yang negatif tidak
dapat menyingkirkan kemungkinan terdapatnya protein tersebut didalam urin.
Urin yang terlalu lindi, misalnya urin yang mengandung amonium kuartener dan
urin yang terkontaminasi oleh kuman, dapat memberikan hasil positif palsu
dengan cara ini. Proteinuria dapat terjadi karena kelainan prerenal, renal dan postrenal. Kelainan pre-renal disebabkan karena penyakit sistemik seperti anemia
hemolitik yang disertai hemoglobinuria, mieloma, makroglobulinemia dan dapat
timbul karena gangguan perfusi glomerulus seperti pada hipertensi dan payah
jantung. Proteinuria karena kelainan ginjal dapat disebabkan karena kelainan

32

glomerulus atau tubuli ginjal seperti pada penyakit glomerulunofritis akut atau
kronik, sindroma nefrotik, pielonefritis akut atau kronik, nekrosis tubuler akut dan
lain-lain.
A. Pemeriksaan Glukosa
Pemeriksaan glukosa dalam urin dapat dilakukan dengan memakai
reagens pita. Selain itu penetapan glukosa dapat dilakukan dengan cara reduksi
ion cupri menjadi cupro. Dengan cara reduksi mungkin didapati hasil positip palsu
pada urin yang mengandung bahan reduktor selain glukosa seperti : galaktosa,
fruktosa, laktosa, pentosa, formalin, glukuronat dan obat-obatan seperti
streptomycin, salisilat, vitamin C. Cara enzimatik lebih sensitif dibandingkan
dengan cara reduksi. Cara enzimatik dapat mendeteksi kadar glukosa urin sampai
100 mg/dl, sedangkan pada cara reduksi hanya sampai 250 mg/dl. Juga cara ini
lebih spesifik untuk glukosa, karena gula lain seperti galaktosa, laktosa, fruktosa
dan pentosa tidak bereaksi. Dengan cara enzimatik mungkin didapatkan hasil
negatip palsu pada urin yang mengandung kadar vitamin C melebihi 75 mg/dl
atau benda keton melebihi 40 mg/dl/
Pada orang normal tidak didapati glukosa dalam urin. Glukosuria dapat
terjadi karena peningkatan kadar glukosa dalam darah yang melebihi kepasitas
maksimum tubulus untuk mereabsorpsi glukosa seperti pada diabetes mellitus,
tirotoksikosis, sindroma Cushing, phaeochromocytoma, peningkatan tekanan
intrakranial atau karena ambang rangsang ginjal yang menurun seperti pada renal
glukosuria, kehamilan dan sindroma Fanconi.
B. Benda- benda keton dalam urin
Terdiri atas aseton, asam asetoasetat dan asam 13-hidroksi butirat.
Karena aseton mudah menguap, maka urin yang diperiksa harus segar.
Pemeriksaan benda keton dengan reagens pita ini dapat mendeteksi asam
asetoasetat lebllh dari 5-10 mg/dl, tetapi cara ini kurang peka untuk aseton dan
tidak bereaksi dengan asam beta hidroksi butirat. Hasil positif palsu mungkin
didapat bila urin mengandung bromsulphthalein, metabolit levodopa dan
pengawet 8-hidroksi-quinoline yang berlebihan.

33

Dalam keadaan normal pemeriksaan benda keton dalam urin negatif.


Pada keadaan puasa yang lama, kelainan metabolisme karbohidrat seperti pada
diabetes mellitus, kelainan metabolisme lemak didalam urin didapatkan benda
keton dalam jumlah yang tinggi. Hal ini terjadi sebelum kadar benda keton dalam
serum

meningkat.

C. Pemeriksaan bilirubin dalam urin


Berdasarkan reaksi antara garam diazonium dengan bilirubin dalam
suasana asam, yang menimbulkan warna biru atau ungu tua. Garam diazonium
terdiri dari p-nitrobenzene diazonium dan p-toluene sulfonate, sedangkan asam
yang dipakai adalah asam sulfo salisilat.
Adanya bilirubin 0,05-1 mg/dl urin akan memberikan basil positif dan
keadaan ini menunjukkan kelainan hati atau saluran empedu. Hasil positif palsu
dapat terjadi bila dalam urin terdapat mefenamic acid, chlorpromazine dengan
kadar yang tinggi sedangkan negatif palsu dapat terjadi bila urin mengandung
metabolit pyridium atau serenium
D. Pemeriksaan urobilinogen
Dengan reagens pita perlu urin segar, dalam keadaan normal kadar
urobilinogen berkisar antara 0,1 - 1,0 Ehrlich unit per dl urin. Peningkatan
ekskresi urobilinogen urin mungkin disebabkan oleh kelainan hati, saluran
empedu atau proses hemolisa yang berlebihan di dalam tubuh.
Dalam keadaan normal tidak terdapat darah dalam urin, adanya darah
dalam urin mungkin disebabkan oleh perdarahan saluran kemih atau pada wanita
yang sedang haid. Dengan pemeriksaan ini dapat dideteksi adanya 150-450 ug
hemoglobin per liter urin. Tes ini lebih peka terhadap hemoglobin daripada
eritrosit yang utuh sehingga perlu dilakukan pula pemeriksaan mikroskopik urin.
Hasil negatif palsu bila urin mengandung vitamin C lebih dari 10 mg/dl. Hasil
positif palsu didapatkan bila urin mengandung oksidator seperti hipochlorid atau
peroksidase dari bakteri yang berasal dari infeksi saluran kemih atau akibat
pertumbuhan kuman yang terkontaminasi.

34

Dalam keadaan normal urin bersifat steril. Adanya bakteriura dapat


ditentukan dengan tes nitrit. Dalam keadaan normal tidak terdapat nitrit dalam
urin. Tes akan berhasil positif bila terdapat lebih dari 105 mikroorganisme per ml
urin. Perlu diperhatikan bahwa urin yang diperiksa hendaklah urin yang telah
berada dalam buli-buli minimal 4 jam, sehingga telah terjadi perubahan nitrat
menjadi nitrit oleh bakteri. Urin yang terkumpul dalam buli-buli kurang dari 4 jam
akan memberikan hasil positif pada 40% kasus.
Hasil positif akan mencapai 80% kasus bila urin terkumpul dalam bulibuli lebih dari 4 jam. Hasil yang negatif belum dapat menyingkirkan adanya
bakteriurea, karena basil negatif mungkin disebabkan infeksi saluran kemih oleh
kuman yang tidak mengandung reduktase, sehingga kuman tidak dapat merubah
nitrat menjadi nitrit. Bila urin yang akan diperiksa berada dalam buli-buli kurang
dari 4 jam atau tidak terdapat nitrat dalam urin, basil tes akan negatif. Kepekaan
tes ini berkurang dengan peningkatan berat jenis urin. Hasil negatif palsu terjadi
bila urin mengandung vitamin C melebihi 25 mg/dl dan konsentrasi ion nitrat
dalam urin kurang dari 0,03 mg/dl.
1.4 Warna Urin Sebagai Indikator Kesehatan
Urine normal biasanya akan berwarna kuning bercahaya, karena
merupakan hasil ekskresi (pengeluaran) pigmen yang ditemukan dalam darah
yang disebut urochrome. Tapi urine bisa berubah warna, sesuai dengan makanan
atau penyakit yang diderita seseorang.

35

Gambar Urin. Sumber dari http://www.google.co.id/imgres?


q=urin+tidak+normal

Warna Urin

Non Patologis
Zat Normal
dalam Jumlah
Besar

Kuning

Urobilin,
Urochrom

Penyebab Lain

Patologis
Zat Warna
Abnormal

Santonin dan PSP Bilirubin


(kuning
dalam
(Kuning
suasana asam),
kecokelatan)
Riboflavin/B12
(fluoresensi
hijau),

Penyebab
Lain
Kelainan pada
hepar

Makanan
(permen)
Hijau

Merah

Indikan,

Obat

Akriflavin

(methyleneblue,
Evans Blue)

Uroerythrin

Wortel (karoten), Hemoglobin,


merkuro,
porfirin,
prontozil, Obat profobilin
36

Kuman
-

(PS.
Aeruginosa/B.
Pyocyaneus)
Kuman
(B.Prodigiosu)

(santonin, PSP,
amidopyrin,
congored, BSP,
makanan
tertentu)
Cokelat

Urobilin

Cokelat
tua/hitam

Indikan

Argyrol, teh

Bilirubin,
hematin,
porfobilin

Obat
(derivat Darah
tua,
fenol, argyrol)
alkapton,
melanin

Putih serupa Fosfat, urat


susu

Pus,
getah
prostat, chylus,
zat-zat lemak,
bakteri
mikroba
biogenik,
protein yang
membeku.

Kejernihan urin dapat dibagi menjadi tiga yaitu jernih, agak keruh dan
keruh atau sangat keruh. Tidak semua macam kekeruhan bersifat abnormal. Urin
normalpun akan menjadi agak keruh jika dibiarkan atau didinginkan: kekeruhan
ringan itu disebut nubecula dan terjadi dari lendir, sel-sel epitel, dan leukosit yang
lambat laun mengendap.
Sebab-sebab urin keruh dari awal dikeluarkan:
1. Fosfat amorf dan karbonat dalam jumlah besar
Mungkin terjadi sesudah seseorang makan banyak. Kekeruhan itu akan
hilang jika urin diberikan asam asetat encer. Sedimen magandung banyak kristal
fosfat atau karbonat.
2. Bakteri-bakteri
Kekeruhan

yang

terjadi

bukan

saja

disebabkan

oleh

berkembangbiaknya kuman, tetapi juga oleh bertambahnya unsur sediment seperti


sel epitel, leukosit, dsb. Pemeriksaan sedimen, termasuk yang dipulas Gram dan
biakan dapat membenarkan pendapat tadi. Kekeruhan yang disebabkan oleh
kuman tidak dapat dihilangkan dengan filtrasi atau dengan pemusingan biasa.
37

3. Unsur-unsur sedimen dalam jumlah besar.


a. Eritrosit-eritrosit yang menyebabkan urin menyebabkan urin menjadi keruh dan
berwarna serupa daging. Adanya dibenarkan dengan pemeriksaan mikroskopik
sedimen.
b. Leukosit-leukosit; adanya dibenarkan dengan pemeriksaan mikroskopik sedimen.
Jika sediment urin yang mengandung banyak leukosit dibubuhi larutan NaOH
pekat, terjadilah suatu massa yang amat kental (percobaan Donne).
c. Sel-sel epitel. Akan terlihat juga dalam sedimen pada pemeriksaan lebih lanjut.
4. Chylus dan lemak
Urin keruh menyerupai susu encer. Jika kekeruhan disebabkan oleh
adanya butir-butir lemak (lipuria), maka pada pemeriksaan mikroskopik dapat
dilihat butir-butir lemak. Kalau urin yang bercampur chylus atau lemak dikocok
dengan eter, kemudian eter tersebut diteteskan pada kertas, akan terlihat berkas
lemak pada kertas tadi.
5. Benda-benda koloid
Umumnya sukar diketahui koloid apa dan sebabnya koloid tersebut ada
dalam urin.
Sebab-sebab urin menjadi keruh setelah dibiarkan:
1. Nubecula
2. Urat-urat amorf yang terbentuk dalam urin asam dan dingin
Terbentuk dalam keadaan urin asam dan dingin. Warna kekeruhan dan
endapan putih atau merah jambu dan akan lenyap jika urin dipanaskan.
3. Fosfat amorf dan karbonat
Zat-zat ini mengandap dalam urin yang menjadi lindi. Kedua macam
zat larut bila urin diasamkan, karbonat melarut dengan pembentukan gas CO2.
4. Bakteri-bakteri
Bakteri-bakteri itu tidak berasal dari dalam badan, melainkan
berkembang dalam urin yang ditampung dalam wadah kotor. Kalau tidak berasal
dari dalam badan, adanya bakteribakteri itu tidak desrtai bertambahnya unsur
sedimen.

38

39