Anda di halaman 1dari 12

Sistem Pemerintahan

Republik Federal Jerman


Bundesrepublik Deutschland (Jerman)

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Republik Federal Jerman (bahasa Jerman: Bundesrepublik Deutschland)
adalah suatu negara berbentuk federasi di Eropa Barat. Negara ini memiliki
posisi ekonomi dan politik yang sangat penting di Eropa maupun di dunia.
Dengan luas 357.021 kilometer persegi (kira-kira dua setengah kali
pulau Jawa) dan penduduk sekitar 82 juta jiwa, negara dengan 16 negara
bagian (Bundesland, jamak: Bundeslnder) ini menjadi anggota kunci
organisasi Uni Eropa (penduduk terbanyak), penghubungtransportasi barang
dan jasa antarnegara sekawasan dan menjadi negara dengan
penduduk imigran ketiga terbesar di dunia.
Jerman sendiri menganut sistem pemerintahan berbentuk federasi/ federal.
Awalnya pemerintahan negara ini berbentuk kekaisaran. Seusai perang
Perancis-Prusia (1870-1871) sistem pemerintahan negara ini berubah menjadi
sistem parlementer dengan kanselir pemegang pemerintahan. Kanselir
pertama adalah Otto Von Bismarck. Pemerintahan yang sehari-harinya
dipegang oleh Kanselir memegang peranan seperti perdana menteri. Posisi
kanselir diraih secara otomatis oleh kandidat utama partai pemenang
pemilihan umum federal.
Jerman juga pernah menganut sistem pemerintahan demokrasi tapi tidak
berlangsung lama, itu terjadi tahun 1933. Setelah itu pemerintahan dipegang
oleh NAZI, sebuah rezim otoriter yang dipimpin Adolf Hitler dan membawa
kehancuran dalam perang dunia II. Hal ini membuat Jerman terbagi menjadi
dua yaitu Jerman Barat (Republik federal Jerman) dan Jerman Timur
(Republik Demokratik Jerman). Tapi Kekalahan dalam Perang Dunia II telah
membuat Jerman kehilangan wilayah timur. Lalu pemerintahan berpindah ke
Jerman Barat.
Setelah negara Jerman terpisah lalu pada tahun 1990 terjadi penyatuan
kembali dengan diruntuhkannya tembok Berlin. Sistem pemerintahan berubah
menjadi sistem pemerintahan demokrasi yang berbasis ideologi berlandaskan
prioritas hak-hak asasi manusia.
Dalam pemerintahan Jerman, Parlemen dikenal sebagai Bundestag, yang
anggota-anggotanya dipilih. Partai yang memerintah adalah partai dengan
koalisi dominan di dalam parlemen ini. Selain Bundestag terdapat pula
Bundesrat, yang anggota-anggotanya adalah perwakilan pemerintahan
negara-negara bagian. Bundesrat sering disamakan dengan senat, meskipun
pada kenyataannya memiliki wewenang yang berbeda.

Walau secara konstitusional Jerman dipimpin oleh kanselir namun negara


Jerman juga menganut sistem parlementer sehingga pimpinan negara
dipegang oleh presiden yang dipilih setiap 5 tahun sekali.
Jerman juga memiliki makhamah konstitusi liberal, dimana setiap warga
mempunyai hak mengajukan keberatan berdasarkan konstitusi jika ia merasa
hak asasinya dilanggar oleh pemerintah.

1.2 RUMUSAN MASALAH


Penulis telah menyusun beberapa yang akan dibahas dalam makalah ini
antara lain;
a. Undang- undang dasar negara Jerman
b. Bagaimana pemilihan langsung oleh rakyat di negara Jerman
c. Sistem dan lembaga pemertintahan negara Jerman

1.3 TUJUAN PENULISAN


Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan dalam penulisan makalah
ini sebagai berikut
a. Untuk mengetahui pondasi terbentuknya suatu negara terutama di negara
Eropa seperti Jerman.
b. Untuk perbandingan sistem pemilihan langsung karena bisa dijadikan
bahan referensi perbaikan sistem pemilu di dalam negeri
c. Untuk memahami isi dari suatu pemerintahan negara, agar tidak terjadi
penyalahgunaan kekuasaan.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 KONSTITUSI REPUBLIK FEDERAL JERMAN


Undang-Undang Dasar RFJ yang bersifat sementara (Ubergangszeit) yang
di buat pada tanggal 23 Mei 1949 (saat itu diputuskan oleh Dewan Menteri
Wilayah Barat yang dikepalai oleh Konrad Adenauer), menjadi dasar dan
landasan terwujudnya satu peraturan kebebasan demokrasi untuk rakyatnya.
Penduduk RFJ dituntut aktif untuk mewujudkan, mempertahankan kedaulatan
dan kemerdekaan RFJ. Setelah Jerman bersatu kembali pada tahun 1990,
tuntutan ini terpenuhi oleh karena UUD diperbaharui.
Pada tahun 1999 orang Jerman telah mempunyai pengalaman setengah
abad dengan Undang-Undang Dasar mereka yaitu Grundgesetz. Pada
jubileum ke-40 dari Republik Federal Jerman pada tahun 1989, Grundgesetz
telah dinyatakan sebagai undang-undang dasar yang terbaik dan paling liberal
yang pernah terdapat di bumi Jerman. Penerimaan rakyat terhadapnya
melebihi sikap terhadap konstitusi Jerman yang manapun sebelumnya.
Dengan Grundgesetz telah diciptakan sebuah negara, yang sejauh ini belum
pernah dilanda krisis konstitusional yang serius.
Grundgesetz terbukti merupakan landasan yang kokoh bagi kehidupan
suatu masyarakat negara demokratis yang stabil. Kehendak penyatuan
kembali yang terkandung di dalamnya terlaksana pada tahun 1990.
Berdasarkan Perjanjian Unifikasi yang mengatur bergabungnya RDJ dengan
Republik Federal Jerman, mukadimah dan pasal penutuf Grundgesetz
mengalami penyusunan baru, dan kini menyatakan bahwa dengan
bergabungnya RDJ maka rakyat Jerman sudah kembali memperoleh
kesataunnya. Sejah tanggal 3 Oktober 1990 Grundgesetz berlaku untuk
seluruh Jerman.
Isi Grundgesetz sendiri banyak mencerminkan pengalaman para
penyusunya pada masa pemerintahan totaliter di bawah rezim diktatorial
Nazi. Terlihat dalam banyak pokok pikiran UUD ini upaya untuk
menghindari kesalahan masa lalu yang ikut menyebabkan keruntuhan
Republik Weimar yang demokratis. Para penyusun Geundgesetz pada tahun
1948 mencakup para Perdana Menteri negara bagian di ketiga zone Barat
serta anggota Majelis Parlementer yang diutus oleh setiap parlemen negara
bagian. Majelis yang dipimpin oleh Konrad Adenauer ini memutuskan
Grundgestz yang diikrarkan pada tanggal 23 Mei 1949.

Dasar-dasar tata negara yang Ada di Jerman memiliki lima prinsip yang
menjadi acuan ketatanegaraan dalam Grundgesetz, yaitu negara republik dan
demokrasi, negara federal, negara hukum dan negara sosial.
Republik sebagai bentuk negara dikukuhkan oleh UUD dalam penamaan
Republik Federal Jerman, hal ini tampak dalam kenyataan, bahwa Presiden
Federal (Bundesprasident) adalah kepala negara yang ditentukan melalui
pemilihan. Dasar bentuk negara demokrasi adalah asas kedaulatan rakyat.
Undang-Undang Dasar menyebutkan, bahwa seluruh kekuasaan negara
berasal dari rakyat. Dalam hal ini Grundgesetz menganut sistem demokrasi

tak langsung, yaitu demokrasi melalui perwakilan. Artinya : kekuasaan negara


harus diakui dan disetujui rakyat, tetapi penyelenggaraannya tidak langsung
oleh keputusan-keputusan rakyat, selain dalam pemilihan umum.
Penyelenggaraan ini diserahkan kepada badan-badan tersendiri dibidang
legislatif, eksekutif dan yudikatif. Rakyat sendiri menjalankan kekuasaan
negara terutama dalam pemilihan parlemen yang diselenggarakan secara
berkala. Berbeda dengan konstitusi berbagai negara bagian, Grundgesetz
menentukan bentuk-bentuk demokrasi langsung seperti referendum dan
plebisit hanya sebagai perkecualian. Penyelenggaraan plebisit hanya
diharuskan dalam hal perubahan pembagian wilayah federal.
Grundgesetz memilik konsep demokrasi yang berani melawan. Sikap ini
berasal dari pengalaman pada saat Republik Weimar, yang diruntuhkan oleh
partai-partai radikal dan memusuhi konstitusi. Dasar pemikiran demokrasi
berlawanan adalah bahwa kebebasan semua kekuatan dalam percaturan
politik menemui batasnya, bila ada usaha meniadakan demokrasi itu sendiri
melalui prosedur demokrastis. Itulah alasan mengapa Grundgesetz
memberikan kewenangan kepada Mahkamah Konstitusional Federal untuk
melarang partai politik yang bertujuan menghambat atau meniadakan tata
negara demokratis.
Prinsip negara sosial adalah pemikiran baru yang melengkapi gagasan
tradisional tentang negara hukum. Negara diwajibkan melindungi kelompokkelompok masyarkat yang lemah dan senantiasa mengusahkan keadilan
sosial. Banyak sekali undang-undang dan keputusan pengadilan yang telah
menghidupi prinsip ini. Negara sosial diwujudkan dalam asuransi wajib
kesejahteraan sosial yang meliputi tunjangan purnakarya (pensiun), tunjangan
bagi orang cacat, biaya perawatan dan pemulihan kesehatan serta tunjangan
bagi penganggur. Negara juga, untuk menyebut beberapa contoh lagi,
memberi bantuan sosial kepada yang membutuhkan, tunjangan tempat tinggal
dan tunjangan anak, serta menjaga keadilan sosial melalui perundangan yang
menyangkut lindungan pekerjaan dan waktu kerja.
2.2 SISTEM PEMILIHAN LANGSUNG
Pemilihan umum untuk semua Dewan Perwakilan Rakyat bersifat umum,
langsung, bebas, sama dan rahasia. Setiap warga negara Jerman yang telah
berusia 18 tahun mempunyai hak pilih, dengan syarat telah tinggal di Jerman
selama paling sedikit tiga bulan dan tidak kehilangan hak pilihnya; apabila
dipenuhi prasyarat-prasyarat tertentu, orang-orang Jerman yang tinggal di luar
negeri juga dapat memilih (hak pilih aktif). SeTIap orang yang paling sedikit
sudah satu tahun memiliki kewarganegaraan Jerman dapat mencalonkan diri
dalam pemilihan umum, dengan syarat telah mencapai umur 18 tahun pada
hari pemilihan umum dilaksanakan, tidak kehilangan hak pilih aktifnya atau
karena keputusan hakim dicabut haknya untuk dipilih atau menduduki jabatan
publik (hak pilih pasti). Tidak ada tahap pemilihan pendahuluan. Para calon
untuk pemilihan pada umumnya diajukan oleh partai-partai, tetapi terdapat
kemungkinan calon-calon perorangan yang tidak berpartai untuk mengajukan
diri.

Sistem pemilihan Bundestag adalah peraturan pemilihan sebanding yang


bersifat personal. Setiap pemilih mempunyai dua suara dengan suara pertama
ia memilih salah satu calon dari wilayah pemilihannya menurut sistem
mayoritas relatif; calon yang mendapat suara terbanyak dinyatakan terpilih.
Dengan suara kedua, pemilih menentukan wakil-wakil yang akan
memperoleh mandat di Bundestag melalui apa yag disebut daftar calon
negara bagian. Hasil suara dari setiap wilayah pemilihan dan dari daftar
tersebut diperhitungkan sedemikian rupa sehingga pebagian jumlah kursi di
Bundestag nyaris sebanding dengan persentase suara bagi masing-masing
partai. Apabila suatu partai mendapat mandat langsung di wilayah-wilayah
yang lebih banyak daripada jumlah kursi yang semestinya menurut persentase
suara, maka ia tetap boleh memegangnya sebagai mandat tambahan, tanpa
ada kompensasi yang diberikan pada partai-partai lain. Dalam hal ini,
Bundestag akan memiliki jumlah anggota yang melebihi jumlah yang
ditetapkan peraturan, yaitu 656 orang wakil rakyat. Oleh sebab itu sekarang
ada 669 wakil rakyat. Peraturan megenai daftar calon negara bagian
dimaksudkan agar setiap partai mampu mengirim wakil-wakilnya ke
Bundestag sesuai perolehan suara masing-masing. Selain itu, dengan adanya
mandat langsung, setiap warga diberikan kemungkinan untuk lansung
memilih politisi tertentu. Biasanya masyarakat menunjukkan minat yang
cukup besar dalam pemilu.
Pada tahun 1998, 82,2 persen pemilih menggunakan hak pilih mereka.
Dalam pemilihan dinegara bagian dan pemilihan komunal angka ini berubahubah, namun biasanya berkisar pada 70 persen.Setiap 4 tahun sekali diadakan
pemilihan umum sesuai dengan peraturan yang ada untuk memilih Bundestag
(parlemen), Landtag (perwakilan negara bagian) dan Komunal. Sistem pemilu
ini bersifat keseluruhan, segera, bebas, rahasia, sama dan tertutup, yang
ditentukan wilayahnya. Para pemilih (warga negara Jerman yang sudah
berumur 18 tahun) dipanggil untuk memenuhi kewajibannya, setiap pemilih
mempunyai 2 suara. Dengan suara pertama dapat dipilih calon (kandidat) dari
wilayah yang bersangkurtan, sedangkan suara kedua menentukan partai untuk
parlemen (Bundestag), partai-partai ini harus mempunyai paling tidak 5 dari
suara pemilih untuk harus mempunyai paling tidak 5 % dari suara pemilih
untuk dapat masuk ke Parlemen (5 % klausal).

2.3 SISTEM DAN LEMBAGA PEMERINTAHAN NEGARA JERMAN


A. SISTEM NEGARA
i. Umum

Republik Federal Jerman terdiri atas 16 negara bagian. Negara bagian


bukanlah provinsi, tetapi negara dengan kewenangan bernegara sendiri.
Setiap negara bagian mempuyai undang-undang dasar sendiri, yag harus
sesuai dengan prinsip negara hukum berbentuk republik yang demokratis dan
sosial menurut norma Grundgesetz. Di luar itu, negara bagian tersebut
memiliki kebebasan menentukan sendiri undag-undang dasarnya.
Bentuk negara federal termasuk di antara prinsip-prinsip konstitusi yang
tidak bisa diubah. Akan tetapi keberadaan negara bagia yang ada sekarang
bukan tidak bisa berubah. Untuk penyusunan kembali RFJ terdapat aturan
dalam Grundgesetz. Sistem federasi mempunyai tradisi konstitusional yang
panjang, yang hanya pernah diselingi oleh sistem negara kesatuan di bawah
rezim Nazi (1933-1945). Jerman termasuk contoh negara federal yang klasik.
Federalisme telah terbukti tangguh: baik keistimewaan maupun masalahmasalah regional dapat diperhatikan dan teratasi dengan lebih baik melalui
sistem ini dibandingkan melalui sistem pemerintahan terpusat.
Tatanan federal di Jerman, seperti juga di Amerika Serikat dan Swis,
menjembatani persatuan ke luar dengan keanekaragaman di dalam.
Pelestarian keanekaragaman itu adalah fungsi tradisional federalisme. Kini
fungsi tersebut menjadi semakin penting berkenaan dengan tuntutan regional
seperti perlindungan bangunan bersejarah, pelestarian tradisi tata kota serta
pengembangan kebudayaan daerah.
Tugas utama federasi adalah mempertahankan kemerdekaan. Pembagian
antara federasi dengan negara bagian adalah elemen penting dalam sistem
pembagian kewenangan dan keseimbangan kekuasaan. Termasuk di dalamnya
keikutsertaan negara bagian dalam kegiatan politik pada tingkat federasi
melalui perannya di Bundesrat.
Tatanan federal juga memperkuat prinsip demokrasi karena
memungkinkan keterlibatan politik warga dalam lingkungannya. Demokrasi
akan lebih hidup, bila warganya ikut terlibat dalam proses politik di daerah
yang dikenalnya melalui pemilihan umum dan pemungutan suara. Sistem
federasi masih mempunyai beberapa kelebihan, misalnya kesempatan
bereksperimen dalam lingkup terbatas dan munculnya persaingan sehat antar
negara bagian. Salah satu negara bagian dapat saja menerapkan sesuatu yang
baru, misalnya dalam bidang pendidikan, dan dengan demikian merintis
pembaruan di seluruh wilayah federal. Selain itu, sistem federasi mampu
memberi kesempatan sesuai dengan perbedaan regional dalam pembagian
kekuatan politik. Partai yang beroposisi pada tingkat federal, bisa saja
memiliki mayoritas dan memegang pemerintahan di salah satu negara bagian.

ii. Negara Bagian


Grundgesetz mengatur kewenangan legislatif federasi dengan
memperhatikan, apakah diperlukan peraturan hukum yang berlaku di seluruh
wilayah federal, ataukah diinginkan peluang bagi negara bagian untuk

menciptakan undang-undang sendiri. Hal ini jelas lagi dengan adanya


pembagian kewenangan federasi dalam penetapan hukum yaitu kewenangan
penuh, kewenangan bersaing dan kewenangan membuat undang-undang
pokok. Federasi mempunyai kewenangan legislatif penuh antara lain atas
bidang-bidang hubungan luar negeri, pertahanan, moneter dan alat
pembayaran, perkeretaapian, hubungan udara dan sebagian peraturan
perpajakan.
Dalam hal kewenangan bersaing, negara bagian mempunyai hak
menetapkan undang-undang hanya bila hal bersangkutan belum di atur
federasi. Pusat di lain pihak hanya boleh melakukannya, jika benar-benar
diperlukan peraturan hukum yang seragam untuk seluruh wilayah negara
federal. Termasuk dalam kewenangan bersaing antara lain bidang-bidang
hukum pidana dan perdata, hukum niaga, undang-undang mengenai energi
nuklir, hukum perburuhan dan hukum pertanahan; selanjutnya peraturan
untuk warga asing, bidang perumahan, pelayaran dan lalu lintas jalan,
masalah limbah, kebersihan udara dan peredaman kebisingan. Dalam
kenyataannya, untuk semua hal tersebut dibutuhkan peraturan hukum yang
seragam, sehingga secara praktis negara bagian tidak lagi memiliki
kewenangan di bidang tersebut.
Beberapa bidang dimasukkan dalam kewenangan negara bagian, dengan
berpatokan pada undang-undang pokok yang ditentukan federasi. Di sini
termasuk perguruan tinggi, kelestarian alam dan cagar alam, perencanaan
daerah dan masalah air. Masih ada beberapa bidang yang pada awalnya tidak
tercantum dalam Grundgesetz, yang saat ini direncanakan, di atur dan
dibiayai bersama oleh federasi dan negara bagian. Bidang-bidang yang
disebut Kewenangan Bersama ini pada tahun 1969 dimasukkan ke dalam
Grundgesetz. Termasuk diantaranya perluasan dan pembangunan perguruan
tinggi, perbaikan struktur ekonomi regional serta struktur pertanian dan
perlindungan pantai.
Lembaga administrasi negara pada tingkat federal hanya ada untuk bidangbidang hubungan luar negeri, kereta api, pos, penempatan tenaga kerja, bea
cukai, serta pada polisi perbatasan dan angkatan bersenjata. Bagian terbesar
administrasi publik dikerjakan oleh setiap negara bagian secara mandiri.
Yurisdiksi federasi pada dasarnya terbatas pada Mahkamah Konstitusional
Federal dan pengadilan-pengadilan tinggi. Keberadaan pengadilan tersebut
menjamin penafsiran hukum yang seragam. Semua pengadilan lainnya adalah
pengadilan negara bagian.
Dalam menegakkan hukum, negara bagian memiliki kewenangan atas
semua bidang yang belum di atur oleh federasi atau yang tidak ditentukan
sebagai kewenangan federasi oleh Grundgesetz. Dengan demikian pokopokok yang tinggal untuk legislasi negara bagian adalah sebagian luas bidang
pendidikan dan kebudayaan, sebagai perwujudan kedaulatan budaya mereka.
Selain itu, peraturan hukum di tingkat komunal serta bidang kepolisian juga
menjadi kewenangan negara bagian.
Kekuatan negara bagian yang sebenarnya terletak pada pelaksanaan
administrasi negara dan keterlibatannya dalam pembuatan undang-undang
federasi melalui bundesratz. Negara-negara bagian berwenang melaksanakan
seluruh administrasi dalam negeri. Pada waktu yang sama, aparat pemerintah

negara bagian bertanggung jawab pula atas pelaksanaan bagian terbesar


undang-undang dan peraturan yang diberlakukan federasi.
Ada tiga macam tugas yang diemban pemerintahan negara bagian: pertama
tugas yang semata-mata menjadi urusan sendiri (misalnya sekolah, kepolisian
dan perencanaan regional). Kemudian tugas melaksanakan hukum federal
sebagai urusan dan tanggung jawab sendiri (misalnya undang-undang
perencanaan bangunan, perizinan usaha, pelestarian lingkungan), dan terakhir
tugas melaksanakan peraturan hukum federal atas mandat federasi
(umpamanya pembangunan jalan negara, bantuan pendidikan).
Dengan demikian tata negara yang digariskan oleh konstitusi Republik
Federal Jerman dalam kenyataannya telah berkembang menjadi tatanan yang
bersifat sentral dalam bidang legislatif dan yang lebih menonjol ciri
federalnya dalam pelaksanaan administrasi pemerintahan.
iii. Swapraja Komunal
Pemerintahan kota dan desa yang otonom adalah pencerminan
kemerdekaan warga yang menjadi tradisi di Jerman. Hal ini berakar pada hakhak istimewa kota-kota berdaulat pada abad pertengahan. Pada masa itu orang
yang memperoleh hak sebagai warga kota berdaulat terbebaskan dari
belenggu perhambaan tuan tanah feodal. Di zaman modern, otonomi
pemerintahan komunal erat berhubungan dengan pembaruan yang
dilaksanakan Freiherr vom Stein, terutama dalam tata Kotapraja Prusia yang
diberlakukan tahun 1808.
Grundgesetz meneruskan tradisi ini dan dengan jelas menjamin
pemerintahan komunal yang otonom pada tingkat kota komune (Gemeinde)
dan kabupaten (Kreis). Dengan demikian mereka berhak untuk mengatur
segala urusan masyarakat setempat secara mandiri dalam kerangka hukum
nasional. Pemerintah kota, komune dan kabupaten harus dilaksanakan secara
demokratis. Perundang-undangan komunal menjadi kewengan negara bagian.
Berdasarkan alasan historis, undang-undang pokok di bidang ini berbeda dari
satu negara bagian ke negara bagian lain. Namun praktik administrasi
komunal pada umumnya hampir sama di semua negara bagaian.
Hak swapraja terutama mencakup bidang angkutan umum di wilayah
komunal, pembangunan jalan setempat, pengadaan listrik, air dan gas,
pengolahan air limbah, dan perencanaan tata kota. Selain itu pembangunan
dan pemeliharaan sekolah-sekolah, teater, museum, perpustakaan umum,
rumah sakit, gedung olah raga dan kolam renang. Setiap komune bertanggung
jawab pula untuk pendidikan lanjutan dan pembinaan remaja. Setiap satuan
swapraja juga menentukan sendiri apakah tindakannya efisien dan ekonomis.
Banyak masalah setempat yang tidak dapat diselesaikan sendiri oleh komune
dan kota-kota kecil. Tugas seperti ini dapat diambil alih oleh kabupaten
sebagai satuan wilayah yang lebih besar. Kabupaten inipun dengan badanbadan yang dipilih secara demokratis, merupakan bagian dari sistem swapraja
komunal. Kota-kota yang agak besar tidak ternasuk administrasi kabupaten,
melainkan berdiri sendiri.
Swapraja komunal dan kemandirian daerah tidak akan ada artinya, bila
komune-komune tidak memiliki uang yang cukup untuk membiayai

pelaksanaan tugasnya. Keuangan yang memadai selalu mejadi bahan


pembahasan. Setiap komune berhak menarik sendiri pajak dan iuran tertentu,
seperti pajak bumi dan pajak usaha. Di samping itu komune berhak atas pajak
konsumsi dan pajak kemewahan yang ditarik oleh negara bagian dari warga
setempat. Namun itu semua biasanya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan
komune. Karena itu setiap komune mendapat andil dari federasi maupun dari
negara bagian, misalnya dari pajak imbalan kerja dan pajak pendapatan.
Selain itu ada bantuan dari dana pengimbangan antar komune, yang dkelola
secara intern oleh setiap negara bagian. Selain itu swapraja komunal
mengenakan pungutan untuk pelayanan jasa.
Sistem swapraja komunal memberi peluang bagi masyarakat untuk turut
serta dalam pelaksanaan politik dan dalam pengawasan. Dalam rapat terbuka
untuk warga setempat, setiap warga dapat berbicara langsug dengan wakilwakil rakyat yang dipilih, ia dapat memeriksa anggaran pendapatan dan
belanja, atau ikut dalam diskusi mengenai rencana pembangunan. Kota dan
Gemeinde adalah sel-sel kebersamaan politik masyarakat yang terkecil. Selsel itu harus senantiasa berkembang dan memperbarui diri, agar kemerdekaan
dan demokrasi dalam negara dan masyarakat tetap terpelihara.
B. LEMBAGA PEMERINTAHAN
Sebagai negara yang menjunjung tinggi demokrasi, RFJ berupaya keras
untuk tidak mengulangi politik yang pernah diterapkan dan terjadi sesaat
Hitler memegang kekuasaan. Oleh karena itu diupayakan adanya pembagian
kekuasaan dan kewenangan yang jelas sehingga tidak dapat terulang lagi
penyalahgunaan kekuasaan.
Dalam sistem demokrasi yang dianut oleh RFJ (demokratis-parlementer)
partai-partai politik memegang peran yang konstitutif. Yang berarti jika salah
satu partai politik menang dalam pemilu baik tingkat daerah ataupun tingkat
federal/pusat, maka partai ini berkuasa penuh dan bertanggung jawab atas
pelaksanaan politik dalam periode pemerintahan yang ditentukan. Kekuasaan
dan kewenangan yang dimiliki oleh negara terbagi dalam 3 lembaga
pemerintahan yaitu :
i. LEMBAGA LEGISLATIF :

Bundestag (DPR)
Bundestag Jerman adalah Dewan Perwakilan Rakyat Republik Federal
Jerman. Parlemen ini dipilih oleh rakyat setiap empat tahun. Pembubarannya
(sebelum masa jabatan berakhir) hanya dapat dilakukan dalam situasi khusus
dan menjadi kewenangan Presiden Federal. Tugas Bundestag yang utama
adalah menetapakan undang-undang, memilih Kanselir dan mengawasi
pemerintah.
Sidang pleno Bundestag adalah forum perdebatan besar di parlemen,
terutama dalam diskusi mengenai masalah penting politik dalam negeri dan
luar negeri. Pekerjaan awal mempersiapaan perundangan dilaksanakan dalam

rapat-rapat komisi yang biasanya bersifat tertutup. Disini aspirasi politik


harus dipertemukan dengan pandangan para ahli dari bidangnya masingmasing.
Dalam lingkup tugas komisi terletak juga titik berat pengawasan parlemen
atas perilaku pemerintah. Tanpa pembidangan itu, penyelesaian begitu banyak
masalah yang beraneka ragam tak mungkin tercapai. Bundestag menentukan
komisi-komisi sesuai dengan pembagian bidang tugas yang berlaku pada
pemerintah. Ini mencakup Komisi Luar Negeri, Komisi Sosial sampai Komisi
Anggaran Belanja Negara, yang juga memainkan peranan penting, karena
mewujudkan kewenangan parlemen atas pendapatan dan belanja negara.
Kepada Komisi Petisi setiap warga dapat mengajukan permohonan maupun
keluhannya.
Dari tahun 1949 sampai akhir periode legistalif 1990, 6700 rancangan
undang-undang (RUU) diajukan kepada parlemen dan 4400 telah diputuskan.
Kebanyakan RUU tersebut berasal dari pihak pemerintah, bagian lebih kecil
dari parlemen sendiri maupun dari Bundesrat. RUU dibacakan dan dibahas
tiga kali kepada komisi yang bersangkutan. Pada pembacaan ketiga diadakan
pemungutan sura. Suatu undang-undang (kecuali perubahan terhadap
konstitusi) diterima, apabila disetujui mayoritas dari jumlah suara yang
diberikan. Untuk udang-undang yang menyangkut kewenangan negara bagian
masih diperlukan persetujuan dari Bundesrat.
Anggota-anggota Bundestag Jerman dipilih dalam pemilihan yang umum,
langsung, bebas, sama dan rahasia. Mereka masing-masing adalah wakil
seluruh rakyat, tidak terikat pada penugasan dan perintah siapapun dan hanya
bertanggung jawab pada hati nuraninya sendiri. Jadi mereka memiliki mendat
bebas. Sesuai keanggotaan partai, mereka bergabung dalam fraksi-fraksi atau
kelompok. Hati nurani dan solidaritas politis pada partai sendiri kadangkdang dapat bertabrakan. Namun, walaupun seorang anggota parlemen keluar
dari partainya, ia masih tetap memegang mandatnya di Bundestag. Di sinilah
tampak dengan sangat jelas ketidaktergantungan anggota-anggota parlemen.
Berdasarkan jumlah anggota fraksi dan kelompok ditentukan pula jumlah
wakilnya dalam komisi-komisi. Ketua Bundestag biasanya dipilih dari fraksi
terbesar sesuai kebiasaan undang-undang dasar Jerman sejak dahulu.
Ketidaktergantungan para anggota parlemen secara keuangan dijamin
melalui pemberian honorarium yang tingginya sesuai dengan arti penting
kedudukan seorang wakil rakyat. Siapa yang sedikitnya delapan tahun
menjadi anggota parlemen berhak mendapatkan pensiun setelah mencapai
batas usia yang ditentukan.

Bundesrat (Dewan utusan negara bagian)


Lembaga legislatif yang terdiri dari perwakilan dari negara bagian yang
jumlahnya didasarkan pada banyaknya penduduk negara bagian yang
bersangkutan.

Bundesrat turut serta dalam pembuatan undang-undang dan administrasi


negara federal. Berbeda dengan sistem senat di federasi lain seperti di
Amerika Serikat atau Swis, Bundesrat tidak terdiri dari wakil rakyat yang
dipilih. Anggota Bundesrat tidak terdiri dari wakil rakyat yang dipilih.
Anggota Bundesrat adalah pejabat pemerintah negara bagian atau orang yang
diberi kuasa oleh pemerintah tersebut. Sesuai dengan jumlah penduduknya,
setiap negara bagian mempunyai tiga, empat, lima atau enam suara. Dalam
pemungutan suara, setiap negar bagian hanya dapat memberikan suaranya
sebagai kesatuan. Lebih dari setengah undang-undang yang dibuat
memerlukan persetujuan Bundesrat. Artinya, undang-undang tersebut tak
dapat diputuskan tanpa direstui oleh Bundesrat terutama adalah undangundang yang berkaitan dengan kepentingan negara bagian, misalnya dengan
keuangan atau kewenangan administrasi mereka. Bagaimanapun juga,
perubahan terhadap UUD memerlukan persetujuan Bundesrat dengan
mayoritas dua pertiga dalam hal perundangan lain, Bundesrat mempunyai hak
keberatan saja, yang dapat dibatalkan oleh keputusan Bundestag. Bila kedua
dewan tersebut tidak dapat mencapai kesepakatan, maka Komisi Perantara,
yang anggotanya berasal baik dari Bundestag maupun dari Bundesrat, akan
bersidang.
Di Bundesrat, kepentingan negara bagian sering kali didahulukan dari
kepentingan partai. Akibatnya, pemungutan suara dapat membawa hasil yang
tidak sesuai dengan pembagian kursi di parlemen. Ini menunjukkan sistem
federasi yang hidup. Pemerintah pusat tak selalu dapat yakin, bahwa seitap
negara bagian yang pemerintahannya didominasi oleh partai sendiri, akan
juga selalu mendukung kebijakan Pemerintah Federal. Setiap negara bagian
mendahulukan kepentingan khususnya di Bundesrat dan akan bersekutu
dengan negara bagian lain yang bertujuan sama, tanpa peduli partai apa yang
berkuasa di sana. Ini membuat situasi mayoritas yang berganti-ganti.
Kompromi harus selalu ditemukan, apabila partai-partai yang membentuk
pemerintah federal tidak memiliki mayoritas di Bundesrat.
Ketua Bundesrat dipilih secara bergilir dari antara negara bagian yang
terwakili di dalamnya untuk masa jabatan setahun. Ketua Bundesrat mewakili
Presiden Federal, bila yang terakhir berhalangan.
iii. LEMBAGA EKSEKUTIF: