Anda di halaman 1dari 6

LABORATORIUM TEKNIK PERAWATAN

SEMESTER GANJIL TAHUN AJARAN 2014/2015

MODUL

: Cooling Tower

PEMBIMBING

: Dr. Ir. Ahmad Rifandi, M.Sc. Cert. IV

Tanggal Praktikum : 05 Desember 2014


Tanggal Penyerahan : 17 Desember 2014
(Laporan)

Oleh :
Kelompok

Nama, NIM :
Kelas

V (Lima)
1. Fifin Muafiyah

,121424013

2. Gilang Kurniawan

,121424014

3A- TKPB

PROGRAM STUDI DIPLOMA IV TEKNIK KIMIA PRODUKSI BERSIH

JURUSAN TEKNIK KIMIA


POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2014

I.

II.

Tujuan Praktikum

Mengetahui cara kerja cooling tower

Mengetahui bagian-bagian cooling tower

Mengetahui sistem perpipaan unit cooling tower

Landasan Teori
Menara pendingin merupakan suatu peralatan yang digunakan untuk menurunkan
suhu aliran air dengan cara mengekstraksi panas dari air dan mengemisikannya ke atmosfir.
Menara pendingin menggunakan penguapan dimana sebagian air diuapkan ke aliran udara
yang bergerak dan kemudian dibuang ke atmosfir. Sebagai akibatnya, air yang
tersisadidinginkan secara signifikan.

Gambar 1. Skema Cooling Tower secara umum


(sumber : jobsheet praktikum teknik perawatan)
Menara pendingin mampu menurunkan suhu air lebih dari peralatan-peralatan yang
hanya menggunakan udara untuk membuang panas, seperti radiatordalam mobil, dan oleh
karena itu biayanya lebih efektif dan efisien energinya.
Komponen-komponen Cooling Tower
Komponen dasar sebuah menara pendingin meliputi rangka dan wadah, bahan
pengisi, kolam air dingin, eliminator aliran, saluran masuk udara, louvers, nosel dan
fan.

1. Rangka dan wadah


Hampir semua menara memiliki rangka berstruktur yang menunjang tutup luar
(wadah/casing), motor, fan, dan komponen lainnya. Dengan rancangan yang lebih
kecil, seperti unit fiber glass, wadahnya dapat menjadi rangka.
2. Bahan Pengisi
Hampir seluruh menara menggunakan bahan pengisi (terbuat dari plastic atau kayu)
untuk memfasilitasi perpindahan panas dengan memaksimalkan kontak udara dan
air. Terdapat dua jenis bahan pengisi:
Bahan pengisi berbentuk percikan/Splash fill: air jatuh diatas lapisan yang
berurut dari batang pemercik horisontal, secara terus menerus pecah menjadi
tetesan yang lebih kecil, sambil membasahi permukaan bahan pengisi. Bahan
pengisi percikan dari plastic memberikan perpindahan panas yang lebih baik
daripada bahan pengisi percikan dari kayu.
Bahan pengisi berbentuk film: terdiri dari permukaan plastik tipis dengan
jarak yang berdekatan dimana diatasnya terdapat semprotan air, membentuk
lapisan film yang tipis dan melakukan kontak dengan udara. Permukaannya
dapat berbentuk datar, bergelombang, berlekuk, atau pola lainnya. Jenis bahan
pengisi film lebih efisien dan memberi perpindahan panas yang sama dalam
volume yang lebih kecil daripada bahan pengisi jenis splash.
3. Kolam air dingin
Kolam air dingin terletak pada atau dekat bagian bawah menara, dan menerima air
dingin yang mengalir turun melalui menara dan bahan pengisi. Kolam biasanya
memiliki sebuah lubang atau titik terendah untuk pengeluaran air dingin. Dalam
beberapa desain, kolam air dingin berada dibagian bawah seluruh bahan pengisi.
Pada beberapa desain aliran yang berlawanan arah pada forced draft, air di bagian
bawah bahan pengisi disalurkan ke bak yang berbentuk lingkaran yang berfungsi
sebagai kolam air dingin. Sudu-sudu fan dipasang dibawah bahan pengisi untuk
meniup udara naik melalui menara. Dengan desain ini, menara

dipasang pada

landasannya, memberikan kemudahan akses bagi fan dan motornya.


4. Drift eliminators
Alat ini menangkap tetes-tetes air yang terjebak dalam aliran udara supaya tidak
hilang ke atmosfir.
5. Saluran udara masuk
Ini merupakan titik masuk bagi udara menuju menara. Saluran masuk bisa berada
pada seluruh sisi menara (desain aliran melintang) atau berada dibagian bawah
menara (desain aliran berlawanan arah).

6. Louvers
Pada umumnya, menara dengan aliran silang memiliki saluran masuk

louvers.

Kegunaan louvers adalah untuk menyamakan aliran udara ke bahan pengisi dan
menahan air dalam menara. Beberapa desain menara aliran berlawanan arah tidak
memerlukan louver.
7. Nosel
Alat ini menyemprotkan air untuk membasahi bahan pengisi. Distribusi air yang
seragam pada puncak bahan pengisi adalah penting untuk mendapatkan pembasahan
yang benar dari seluruh permukaan bahan pengisi. Nosel dapat dipasang dan
menyemprot dengan pola bundar atau segi empat, atau dapat menjadi bagian dari
rakitan yang berputar seperti pada menara dengan beberapa potongan lintang yang
memutar.
8. Fan
Fan aksial (jenis baling-baling) dan sentrifugal keduanya digunakan dalam menara.
Umumnya fan dengan baling-baling/propeller digunakan pada menara induced draft
dan baik fan propeller dan sentrifugal dua-duanya ditemukan dalam menara forced
draft. Tergantung pada ukurannya, jenis fan propeller yang digunakan sudah
dipasang tetap atau dengan dapat dirubah-rubah/ diatur. Sebuah fan dengan balingbaling yang dapat diatur tidak secara otomatis dapat digunakan diatas range yang
cukup luas sebab fan dapat disesuaikan untuk mengirim aliran udara yang
dikehendaki pada

pemakaian tenaga terendah. Baling-baling yang dapat diatur

secara otomatis dapat beragam aliran udaranya dalam rangka merespon perubahan
kondisi beban.
III. Prosedur Kerja
Mengamati dan mempelajari cooling tower serta sistem perpipaannya.
Membuat sketsa sistem perpipaan cooling tower.

IV.

Pembahasan
Menara pendingin (cooling tower) merupakan suatu peralatan yang digunakan

untuk menurunkan suhu aliran alir dengan cara menyerap panas dari air dan
mengemisikannya ke atmosfir. Cooling tower menggunakan penguapan dimana sebagian

air diuapkan ke aliran udara yang bergerak dan kemudian dibuang ke atmosfir. Cooling
tower yang ditinjau dalam praktikum terdapat di dekat gedung Teknik Kimia Atas.
Air panas dari unit proses masuk dalam cooling tower melalui pipa aliran air
masuk. Dari puncak cooling tower (di bawah blower), air panas disemburkan melalui
nozzle. Nozzle ini digunakan untuk memecah air menjadi butir-butir kecil, seperti sprayer,
yang berguna untuk menambah luas kontak air dan kemudian membasahi filling material
(bahan pengisi). Bahan pengisi ini berguna sebagai media untuk perpindahan panas dengan
memaksimalkan kontak antara udara dan air. Kontak secara langsung dengan udara terjadi
karena pengaruh blower yang terpasang pada bagian atas cooling tower. Aliran udara
terjadi secara counterflow dimana aliran udara pada saat melewati bahan pengisi (fill
material) sejajar dengan aliran air dengan arah yang berlawanan. Blower ini dapat
berpengaruh kepada nilai massa udara atau laju massa udara yang dihasilkan sehingga
berdampak pada perpindahan panas yang terjadi. Berikut skema aliran udara secara
counterflow.

Gambar 2. Counter type design


(sumber : bionwatersynergetics.com)

Air yang telah ditampung dalam reservoir kemudian dialirkan menuju peralatan
proses di Laboratorium Pilot Plant. Air yang akan dialirkan terlebih dahulu melewati
strainer sebelum masuk ke pompa. Hal ini bertujuan untuk memisahkan padatan dengan
air supaya padatan tidak masuk ke dalam pompa. Air pendingin masuk ke dalam 4 unit
alat yaitu distilasi, leaching, falling film evaporator dan reaktor tangki berpengaduk.
Dalam sistem perpipaan cooling tower ini terdapat 1 indikator, yaitu flow indicator (FI)
yang terpasang setelah pompa.

Pada cooling tower terdapat saluran make-up water dan blowdown.

Saluran

make-up water berfungsi sebagai pengganti sejumlah air yang menguap selama proses
perpindahan panas yang terjadi di dalam menara pendingin sedangkan pipa blowdown
digunakan untuk menguras cooling tower atau mengeluarkan air buangan dari proses
pendinginan cooling tower.
V.

Kesimpulan
Prinsip kerja cooling tower adalah terjadinya perpindahan panas dari air panas ke

udara sehingga suhu air menurun


Komponen cooling tower yang diamati dalam praktikum adalah nozzle, filling
material, blower, kolam penampung air, casing, pipa make-up water, pipa
blowdown, pipa overflow, pipa inlet air (aliran air masuk), pipa aliran air keluar (air

dingin), reservoir.
Air hasil perpindahan panas pada cooling tower di gedung Teknik Kimia Atas
dialirkan sebagai air pendingin kondensor pada unit distilsi, FFE, leaching, dan
tangki berpengaduk

VI.

Daftar Pustaka
Tim Dosen Praktikum Teknik Perawatan. 2006. Petunjuk Praktikum Teknik Perawatan.
Bandung : Jurusan Teknik Kimia Politeknik Negeri Bandung
Bionwatersynergetics. bionwatersynergetics.com [Diakses : 13 Desember 2014)