Anda di halaman 1dari 32

SISTEM PENTANAHAN

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang

Sampai kira-kira tahun 1910, system-sistem tenaga listrik tidak diketanahkan. Hal itu dapat
dimengerti karena pada waktu itu system-sistem tenaga listrik masih kecil jadi bila ada gangguan
fasa ke tanah arus gangguan masih kecil, dan biasannya masih kurang dari 5 amper. Pada
umumnya bila arus gangguan itu sebesar 5 amper atau lebih kecil, busur listrik yang timbul pada
kontak-kontak antara kawat yang terganggu dan tanah masih padam sendiri. Tetapi systemsistem tenaga itu makin lama makin besar baik panjangnya maupun tegangannya.
Oleh karena itu mulai tahun 1910-an pada saat mana system-sistem tenaga relative mulai besar,
system-sistem itu tidak lagi dibiarkan terapung yang dinamakan system delta, tetapi titik netral
system itu diketanahkan melalui tahanan atau reaktansi. Pengetahanan itu umumnya dilakukan
dengan menghubungkan netral transformator daya ke tanah.
Metode-metode pengetanahan netral dari system-sistem tenaga adalah:
a.
b.
c.
d.
e.

Pengetanahan melalui tahanan (ressistance grounding)


Pengetanahan melalui reactor (reactor grounding)
Pengetanahan tanpa impedansi (soild grounding)
Pengetanahan efektif (effective grounding)
Pengetanahan dengan reactor yang impedansinya dapat berubah-ubah (resonant
grounding) atau pengetanahan dengan kumparan Petersen.

Istilah kumparan Petersen ini berasal dari nama orang yang pertama-tama menciptakan alat itu,
yaitu W. Petersen. Petersen mendapatkan cara ini pada tahun 1916. Di Negara-negara AngloSaxon nama alat itu sering juga disebut Ground Fault Neutralizer atau Arc Suppression Coil.
Umumnya kita di Indonesia mengenalnya sebagai kumparan Petersen adau Petersen spoel.
Perlu dicatat di sini bahwa analisa serta perbaikan kumparan Petersen dibuat oleh JONAS mulai
tahun 1920.
Sekalipun penggunaan kumparan Petersen itu sudah mulai berkurang tetapi system 30 dan 70
KV yang ada di Jawa masih diketanahkan dengan kumparan Petersen. Disamping itu, akhir-akhir
ini semakin banyak generator yang terhubung dengan transformator (unit connected generator)
diketanahkan dengan kumparan Petersen.

Pengetanahan Dengan Kumparan Petersen

SISTEM PENTANAHAN
1.2.

Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam pembuatan makalah ini adalah:
1. Bagaimana fungsi kumparan Petersen pada keadaan gangguan?
2. Apa komponen rugi daya dari arus gangguan residu?
3. Bagaimana pemadaman busur listrik dalam keadaan gangguan tanah?
4. Bagaimana pengaruh tahanan kontak?
5. Apa keuntungan dan kerugian kumparan Petersen?
6. Bagaimana persamaan dan diagram lingkaran Jonas?

1.3.

Tujuan dan Manfaat


Adapun Tujuan dan Manfaat yang di dapat setelah membaca makalah ini adalah:
1. Mengetahui fungsi kumparan Petersen pada keadaan gangguan
2. Mengetahui komponen rugi daya dari arus gangguan residu
3. Mengetahui pemadaman busur listrik dalam keadaan gangguan tanah
4. Mengetahui pengaruh tahanan kontak
5. Mengetahui keuntungan dan kerugian kumparan Petersen
6. Mengetahui persamaan dan diagram lingkaran Jonas
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. FUNGSI KUMPARAN PETERSEN PADA KEADAAN GANGGUAN


Bila suatu system yang tidak diketanahkan terganggu oleh hubung singkat kawat tanah,
maka arus gangguan kapasitif itu kembali ke system melalui gangguan itu, Gambar 4.1
Suatu keadaan istimewa ialah bila ada dua macam arus gangguan yang sama besarnya tetapi
berlawanan arahnya terjadi pada gangguan itu, jadi satu sama lain saling menghilangkan. Hal ini
terjadi bila pada arus gangguan yang kapasitif itu ditambahkan arus yang induktif yang tertentu
besarnya.
Inilah prinsip dasar dari hasil pekerjaan pionir Petersen.
Untuk memperoleh arus induktif itu ditambahkan reactor parallel dengan kapasitor pada setiap
fasa ke tanah. Gambar 4.2.

Pengetanahan Dengan Kumparan Petersen

SISTEM PENTANAHAN

Gambar 4.1. Sistem yang tidak diketanahkan dalam keadaan gangguan kawat tanah
a) Sistem fasa-tiga pada keadaan gangguan
b) Gambar ekivalen pada keadaan gangguan

Gambar 4.2. Sistem fasa tiga dengan reactor fasa


Tetapi cara ini bukanlah pemecahan yang ekonomis, karena dalam hal ini dibutuhkan tiga reactor
yang tidak akan jenuh dan induktansinya harus konstan.
Bila reactor itu dihubungkan ke titik netral system, umumnya dipilih netral sekunder
transformator, maka dalam hal ini dibutuhkan hanya satu reactor. Gambar 4.3.

Pengetanahan Dengan Kumparan Petersen

SISTEM PENTANAHAN

Gambar 4.3. Sistem diketanahkan melalui reactor dalam keadaan gangguan.


(a) Diagram fasa-tiga
(b) Diagram ekivalen
Gambar 4.3. (b) di atas menggambarkan sirkuit ekivalen system itu dalam keadaan gangguan
kawat-tanah. Bila reactor itu mempunyai kesanggupan untuk dapat mengatur impedansinya di
samping adanya sadapan, alat itu dinamakan kumparan Petersan. Untuk sementara marilah kita
sebut alat itu reactor saja yang impedansinya dapat diatur.
Sebutlah impedansinya reactor itu Zp, maka arus melalui reactor IL, dimana,
I L=

E ph E ph
=
( L=induktansireaktor )
Z p wL

(4.1)

Dan arus kapasitif,


C e=kapasitansi sistem ke tanah , dan C e =C o
I FG =E ph w C e
=

E ph w Co

(4.2)

Bila dipenuhi kondisi.


wL=

1
w Co

(4.3)

Maka arus yang mengalir dari system melalui kapasitansi pada satu pihak dan melalui reactor
netral pada pihak lain akan saling menetralisir. Jadi dalam hal ini tidak ada arus yang mengalir
melalui titik gangguan kecuali komponen arus rugi-rugi (lihat pasal 3) dan arus-arus harmonis.

Pengetanahan Dengan Kumparan Petersen

SISTEM PENTANAHAN
Persamaan (4.3) adalah ekspresi matematis dari hokum Petersen, bahwa reactor pengetahanan
harus didimensionir sedemikian rupa sehingga dapat ditala dengan system itu.
2.2. KOMPONEN RUGI DAYA DARI ARUS GANGGUAN RESIDU.
Di dalam system dengan kumparan Petersen, bila terjadi gangguan tanah akan ada arus kapasiif
dan arus induktif. Adanya arus-arus ini mengakibatkan tibulnya rugi-rugi pada kumparan
Petersen sendiri maupun pada system transmisi serta trafo dayanya.
Komponen rugi-rugi di dalam rangkaian pengganti urutan nol dapat dinyatakan dengan
tahanan yang memberikan efek yang sama. Untuk itu rugi-rugi tersebut perlu dibahas satu
persatu, lihat gambar 4.4.

Gambar 4.4. Komponen-komponen rugi daya pada system dengan kumparan


Petersen yang disebabkan oleh arus gangguan.
a. Arus bocor yang mengalir melalui permukaan isolator penggantung pada tiang transmisi.
Besar arus ini tidak akan melampaui 5% dari arus kapasitif dari system. Pengukuran
sesungguhnya terhadap arus bocor pada isolator penggntung tidak memberikan nilai yang
tetap, tergantung pada keadaan permukaan isolator, cuaca dan perencanaannya.
Rugi-rugi untuk arus bocor ini dinyatakan dengan konduktansi pengganti G 1 dalam
gambar 4.4.
b. Rugi-rugi I2R yang disebabkan oleh arus gangguan kapasitif dan arus kumparan di dalam
jala-jala transmisi, transformator daya, dan jalan balik lewat tanah, dinyatakan dengan
tahanan pengganti R3.
c. Rugi-rugi yang disebabkan adanya efek korona atau rugi-rugi dialektrik, dinyatakan
dengan tahanan pengganti R4.
d. Rugi-rugi yang dihasilkan di dalam kumparan Petersen sendiri, yang terdiri dari rugi-rugi
besi di dalam inti, dan rugi-rugi tembaga pada belitannya, kedua macam rugi-rugi ini
dinyatakan masing-masing dengan tahanan shunt R2 dan R5.
e. Rugi-rugi yang disebabkan oleh tahanan hubungan tanah dapat dinyatakan oleh tahanan
pengganti R6.
Rangkaian pengganti secara lengkapnya untuk menunjukan komponen-komponen rugirugi ini diperlihatkan dalam gambar 4.4.
Pengetanahan Dengan Kumparan Petersen

SISTEM PENTANAHAN
Di dalam system tanpa efek korona, harga dalam persen masing-masing komponen rugi-rugi
dinyatakan dalam table 4.1.
Konduktansi bocor
Kumparan Petersen:
Rugi-rugi besi
Rugi-rugi tembaga
Rugi-rugi I2R dalam transmisi dan jalan balik lewat
tanah
Rugi-rugi tambahan pada trafo daya yang
diketanahkan
Rugi-rugi pada titik pengetanahan kumparan petersen

1,5-5%
0,5-1%
1,5%
Sampai 0,5%
Sampai 5%
Sampai 1%

Di dalam system tegangan ekstra tinggi (EHV) persen rugi daya total selama terjadi gangguan
tanah ini biasanya besarnya tak melampaui 4% dan rugi daya pada kumparan Petersen sendiri
sangat kecil sehingga dapat diabaikan. Bila dipakai isolasi dengan tingkat yang normal, persen
rugi daya total dapat berkisar 6-15%. Hal ini dapat dilihat dalam table 4.2 yang didapat dalam
praktek untuk berbagai tegangan system dan juga tergantung dari keadaan system.
Untuk mencari rugi daya total ini tidak dibutuhkan perhitungan yang teliti,
tetapi sudah cukup teliti bila dipakai cara pendekatan dengan berpedoman
pada table tadi.
Tabel 4.2. Persen rugi total pada system yang berbeda-beda
Tegangan system
(KV)
6
30
30
10
25
25
25
50
110
110

Jenis hantaran
Kabel
Kabel
Kabel
Kawat
Kawat
Kawat
Kawat
Kawat
Kawat
Kawat

udara
udara
udara
udara
udara
udara
udara

Arus gangguan
(Amper)
20,5
450
2800
6,5
3
9
10-45
7
22-54
70

Persen rugi daya


total (%)
9,5
4,5
3,5
11
12
8
14-10
9,5-13
3,3-4,75
4,3

Sebagai pegangan dalam perhitungan-perhitungan, jumlah rugi-rugi itu adalah kira-kira:


5% untuk tegangan tinggi 110 KV
ke atas

Pengetanahan Dengan Kumparan Petersen

15% untuk tegangan sedang, dan

SISTEM PENTANAHAN

Jadi bila rugi-rugi itu tidak diabaikan, diagram ekivalen Gambar 2.2. (b) berubah menjadi seperti
Gambar 4.5.

Gambar 4.5. Diagram ekivalen system yang diketanahkan dengan kumparan


Petersen dalam keadaan gangguan R= rugi-rugi ekivalen.
Perlu ditekankan di sini bahwa rugi-rugi ini sangat terpengaruh oleh keadaan cuaca, karena rugirugi ini sebagian besar ditentukan korona dan kebocoran isolator. Dalam musim hujan
kemungkinan timbulnya korona lebih besar. Jadi rugi-rugi dalam musim hujan lebih besar
daripada rugi-rugi dalam musim kering.
2.3. PEMADAMAN BUSUR LISTRIK DALAM KEADAAN GANGGUAN TANAH
Pada saat gangguan dihilangkan, maka pada saat pemutusan arus, busur listrik timbul antara
kontak-kontak, yaitu antara fasa yang terganggu dan tanah, atau antara elektroda-elektroda a dan
b, Gambar 4.5. Bersamaan dengan pemutusan arus itu tegangan kawat akan berusaha kembali ke
tegangan normal melalui waktu transisi. Pada waktu pengembalian tegangan inilah akan kita
lihat kegunaan yang sangat besar dari kumparam Petersen itu.
Sifat sesuatu gangguan menentukan pergeseran titik netral O sampai E ph. Umumnya kumparan
Petersen itu tidak ditala sempurna, jadi selalu ada arus gangguan mengalir (termasuk arus rugirugi).
Arus itu dinamakan arus residu (residual current) dan diberi dengan notasi Ir. Komponen reaktif
dari arus gangguan residu ini,

I r . x =E ph w C o

1
wL

(4.4)

Arus gangguan bila tidak ada kumparan Petersen,

Pengetanahan Dengan Kumparan Petersen

SISTEM PENTANAHAN

I FG=E ph w C o=

E ph
ZG

(4.5)

Bila ada penyimpangan dari penalaran yang sempurna dinyatakan dengan , maka:
wC 1
o
I FGI L
wL
=
=
I FG
wC o
=1

1/wL
w Co

Atau
=1

1
w L Co

(4.6)

Bila Persamaan (4.3) dipenuhi maka = O


Sebenarnya, bagaimanapun sempurnanya penalaan selalu ada arus rugi-rugi

Iw

Dalam gambar 4.5, L dan Co membentuk sirkuit isolasi. Frekuensi sudut (angular frequency) dari
isolasi bebas (free oscillation) adalah:
wf=

1
LC o

Bila w = frekuensi daya maka pada penalaan yang sempurna

(4.7)
w f =w

Sekarang akan kita lihat bagaimana pemadaman bunga api itu terjadi setelah gangguan
hilang. Untuk ini kita akan meninjau dua macam keadaan, yaitu pada penalaan yang sempurna
dan pada penalaan yang tidak sempurna.
2.3.1. Pemadaman Bunga Api pada Penalaan yang Sempurna
Terjadinya busur listrik atau loncatan api sebenarnya disebabkan karena udara terionisasi pada
waktu adanya gangguan, sehingga yang tadinya bersifat sebagai isolator, sekarang bersifat
sebagai konduktor. Setelah gangguan itu hilang pada waktu arus melewati titik nolnya, udara
ingin kembali lagi sebagai isolator. Peristiwa kembalinya udara sebagai isolator lagi disebut
Pengetanahan Dengan Kumparan Petersen

SISTEM PENTANAHAN
tegangan pulih dielektrik atau dielectric recovery voltage (DRV) atau build-up of dielectric
strength of gap. Pada saat arus nol tegangan system ingin kembali ke harga normalnya melalui
gejala peralihan mengikuti lengkung tegangan pulih system atau system recovery voltage
(SRV).
Penyalaan kembali dari busur listrik dapat terjadi apabila pada timbulnya tegangan pulih system
terjadi pukul ulang (restrike), di mana terjadi perpotongan antara kedua lengkung tersebut yaitu
tegangan pulih dielektrik dan tegangan pulih system dan kejadian ini bias menyebabkan
timbulnya busur tanah, walaupun penyebab dari gangguan itu sendiri sudah hilang. Jadi harus
ingat bahwa pada saat arus sama dengan nol, belum tentu busur listrik itu hilang. Karena itu
diinginkan supaya lengkung tegangan pulih system lebih rendah dari tegangan pulih dielektrik,
atau dengan perkataan lain diinginkan agar kenaikan tegangan system lambat dan kenaikan dari
tegangan pulih dielektrik lebih cepat.
Perlu dicatat bahwa bila tegangan system makin tinggi berarti kemungkinan terionisasinya udara
makin besar, maka bila terjadi gangguan tanah yang menimbulkan busur listrik, arus daya yang
mengalir dalam busur listrik itu besar sehingga menyebabkan naiknya tegangan pulih dielektrik
menjadi lambat. Tetapi pada pemutus daya udara, busur listrik itu cepat hilang karena itu
kenaikan tegangan pulih dielektrik dipercepat.
Begitu juga yang terjadi pada kumparan Petersen, dimana tegangan pulih dielektrik dapat dibuat
cepat sekali dan tegangan pulih system dibuat cukup lambat. Inilah jasa kumparan Petersen yang
terpenting, sebab gangguan tanah dapat diselamatkan tanpa pemutusan saluran yang terganggu.
Kumparan Petersen memperlambat naiknya tegangan pulih system, setelah gangguan itu hilang,
seperti terlihat pada keterangan-keterangan dibawah ini.
Pada penalaan yang sempurna

w f =w

, jadi bila system dibiarkan bebas akan terus menerus

berosilasi. Tetapi karena adanya rugi-rugi amplitudenya makin lama makin kecil.
Konstanta waktu dari osilasi yang teredam itu ialah
1
T = =2 L/R se

Dimana:

Rse

(4.8)

= tahanan ekivalen seri

Bila konstanta waktu dihitung dari sirkuit ekivalen parallel maka:


1
T = =2 R C

(4.9)

Dimana: R = tahanan ekivalen parallel


Pengetanahan Dengan Kumparan Petersen

SISTEM PENTANAHAN
Superposisi dari tegangan pulih transien yang berosilasi dan tegangan normal menghasilkan
tegangan yang secara perlahan-lahan kembali dari keadaan gangguan ke keadaan normal. Jadi
seperti terlihat pada Gambar 4.6. arti yang terpenting dari kumparan Petersen ialah perlambatan
Eph
dari kembalinya tegangan antara fasa yang terganggu dan tanah. Bila tegangan fasa
sin
wt dan tegangan transien

E p h e t sin wt

maka tegangan pulih pada fasa yang terganggu ke

tanah menjadi,
E ph ( 1et ) sin wt
(4.10)

Gambar 4.6. Pemulihan tegangan pada fasa yang terganggu pada system
yang diketanahkan dengan kumparan Petersen.
O : titik netral
A : fasa yang terganggu
B,C
: fasa-fasa yang tidak terganggu

Pengetanahan Dengan Kumparan Petersen

10

SISTEM PENTANAHAN
Dari gambar 4.7 jelas kelihatan bagaimana tegangan dari fasa yang terganggu itu kembali setelah
gangguan dihilangkan.
Jadi tegangan adanya kumparan Petersen itu diperoleh beberapa keuntungan.
a
b

Arus gangguan kecil, jadi pada pemutusan arus, busur listrik dapat diabaikan,
Tegangan pulih system diperlambat sedemikian rupa sehingga , memberikan waktu yang
cukup kepada pemulihan dielektrik dari jalan busur listrik (arcpath) yang terjadi karena

c
d

ionisasi selama gangguan.


Pemutusan arus tidak menimbulkan busur listrik
Kemungkinan timbulnya busur tanah dihindarkan

Pemadaman sendiri (self-extinguishing) itu bukanlah oleh karena arus kecil, tetapi karena
tegangan antara elektroda a dan b ( gambar 4.4 ) lambat kembalinya. Walaupun arus gangguan
itu besar, misalanya 50 amper pada system yang diketanahkan dengan kumparan Petersen, adalah
jauh lebih baik dari arus 5 amper pada seistem yang tidak diketanahkan. Pada keadaan yang
pertama pemadaman sendiri itu dapat terjadi, sebaliknya pada keadaan terakhir belum tentu
terjadi.

Gambar 4.7. Superposisi dari tegangan mantap dan transien

2.3.2. Pemadaman Bunga Api Pada Penalaan Tidak Sempurna


Telah diterangkan dimuka bahwa kumparan Petersen itu pada umumnya tidak ditala sempurna.
Derajat simpangan tala itu diberikan oleh persamaan (4.6), yaitu
=1

1
w L Co
2

(4.6)

Dan persamaan (4.7)


Pengetanahan Dengan Kumparan Petersen

11

SISTEM PENTANAHAN
Wf =

1
L Co

(4.7)
Bila persamaan (4.7) diisikan dalam persamaan (4.6) maka diperoleh
2

w
=1 f2
w

(4.11)

Jadi frekuensi dari tegangan transien menjadi :


f =
W w

(4.12)

Tegangan pulih system antara fasa yang terganggu dan tanah diberikan oleh persamaan di bawah
ini :
t
Eph sin wt - Eph e
sin wf t

Dengan

(4.13)

1
2 RC

Gambar 4.8. Tegangan fasa yang terganggu bila kumparan Petersen ditala tidak sempurna.

= -25%, dan redaman diabaikan

Pengetanahan Dengan Kumparan Petersen

12

SISTEM PENTANAHAN
Bila redaman diabaikan ( diperoleh hasil yang konservatif), persamaan (4.13) menjadi :

Eph ( sin wt sin wf t )

(4.14)

Atau

2 Eph sin

w+w
t ) . cos (
t)
( ww
2
2
f

(4.15)

Gambar 4.8 menggambarka keadaan yang diberikan oleh persamaan (4.14). dari lgambar 4.8
kelihatan bahwa tegangan pulih dari fasa yang terganggu itu masih tetap diperlambat walaupun
pada keadaan penalaan yang tidak sempurna, dan redaman diabaikan.
Perlu dicatat disini bahwa simpangan yang besar (arus residu makin besar) akan mempercepat
naiknya tegangan pulih system. Begitu juga halnya bila makin besar arus rugi-rugi Iw,, dan bila
simpangan tala terlalu besar, maka tegangan pulih system menjadi terlalu cepat naiknya sehingga
pemadaman sendiri mungkin akan gagal, deionisasi bertambah lambat jadi tegangan pulih
dielektrik juga lambat.
Oleh karena itu beberapa alas an, penalaan yang sempurna itu tidak diinginkan. never tune to
resonance. Demikian kata jonas.
Alasan-alasan tersebut disebabkan antara lain oleh :
1
2

Sukar mengatur sehingga diperoleh penalaan sempurna,


Bila da pergeseran netral yang ditimbulkan oleh ketidakseimbangan kapasitif, tegangan
pada kumparan itu pada kerja normal akan sangat besar (mungkin 10 sampai 15 kali

sebesar pergeseran netral) bila ditala sempurna,


Dalam keadaan gangguan pergeseran netral akan maksimum bila ditala sempurna.

Kedua alas an terakhir ini akan diterangkan lebih lanjut dalam pasal 7 bab ini. Dari pengalamanpengalaman, derajat simpangan tala jangan lebih besar dari harga-harga yang diberikan pada
table 4.3.

Tabel 4.3. Simpangan dari penalaan sempurna

Pengetanahan Dengan Kumparan Petersen

13

SISTEM PENTANAHAN

Simpangan,
(%)

25

Tegangan kerja
(KV)
25
69

15

115 dan lebih

10

Bila

positif dinamakan konpensasi kurang, dalam hal ini wf < w dan bila

negatif

dinamakan konpensasi lebih, dalam hal ini wf > w.


Besar arus residu I, (sebagai pecahan dari arus gangguan kapasitif IFG ) tergantung dari derajat
simpangan , Gambar 4.9.

Dari Gambar 4.5

Iw =
Ir =

E ph
R

( I

FG

I L ) + I w

Ir,x = IFG IL
Pengetanahan Dengan Kumparan Petersen

14

SISTEM PENTANAHAN
I r,x
I FG

I FG I L
I FG

Jadi,
Ir
I FG

Iw
+
I FG
2

( )

(4.16)
Dari relasi terakhir ini dapat dilukiskan gambar 4.9.
Kembali persamaan ( 4.10 ) di atas, yaitu untk penalaan sempurna, laju kenaikan tegangan
adalah :
Rumus
dE
dt

ph= et
E

Dan pada t = 0
dE
dt

E ph=

E ph
2 RC

(4.17)
Laju kenaikan tegangan inilah sebagian besar yang menentukan apakah akan terjadi pukul ulang
(restrike) atau tidak. Pada umumnya harga 2 RC berkisar antara 0,02 detik untuk tegangan tinggi
sampai 0,1 detik untuk tegangan menengah.
2.4 PENGARUH TAHANAN KONTAK
Pengaruh dari tahanan kontak ini paling terasa pada saluran transmisi yang menggunakan tiangtiang kayu.

Pengetanahan Dengan Kumparan Petersen

15

SISTEM PENTANAHAN

Kita menginginkan supaya sebagian besar tegangan barada pada R. gambar 4.10. untuk
mengindarkan loncatan api samping (side flash over).
Tegangan pada kumparan Petersen adalah :
EN

=
=

R
R+ r

E ph

1
1+r /R

E ph

(4.18)
Jadi supaya tegangan EN besar , r/R harus diusahakan kecil.
Contoh .
Misalkan suatu system besar 69 KV, dengan tuang kayu, dan diketanahkan dengan kumparan
Petersen.
R = 10 % r = 250 ohm. Panjang seluruhnya 1.030 Kms
Maka,
69 1.303
260

I FG

Iw

= 10 % = 27,3 Amp

= 27,3 Amp

Jadi,
69.000

R = 3 .27,3 = 1459 ohm.


Maka,
r
R

250

= 1459 = 0,171

Pengetanahan Dengan Kumparan Petersen

16

SISTEM PENTANAHAN
EN

1
1+0,171

69
3

= 34,02 KV ( = 85 % )

Dan

Er

69
3

- 34,02 = 5,82 KV ( = 15 % )

Bila system tersebut tidak diketanahkan maka diagram ekivalennya diberikan dalam gambar 4.11. ( rugirugi system R kecil terhadap I / wC, karena itu diabaikan).

Arus kapasitif

I FG

= 273 Amp., jadi

1
wC

69000

= 3 273

= 146 ohm.

Jadi,
I=

69.000
1

=137,6 Amp .
2
3
250 +146 2

Maka,
Er =250 137,6=34401Volt=34,4 KV ( 86,3 )

Gambar 4.11. Diagram ekivalen tanpa kumparan petersen


2.5. KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN KUMPARAN PETERSEN
Jadi jelas kelihatan sekarang keuntungan-kentungan dari adanya kumparan Petersen.

Pengetanahan Dengan Kumparan Petersen

17

SISTEM PENTANAHAN
Untuk menggerakkan alarm dipergunakan tegangan dari kumparan Petersen, E N. besar
tegangan yang dibutuhkan untuk manggerakkan alarm tersebut kira-kira 80% dari E ph. Di atas
telah dihitung bahwa EN = 35% dari Eph, jadi tegangan ini sudah cukup manggerakkan alarm.
Jadi bila r terlalu besar, maka di samping E r yang besar (dan ini tidak baik) juga akan
kemungkinan EN terlalu kecil sehingga tidak dapat menggerakkan alarm.
Dari uraian-uraian diatas dpat disimpulkan bahwa keuntungan yang pslin utama dari metode
pengetanahan system dengan kumparan Petersen antara lain :
1. Arus gangguan satu fasa ke tanah dapat dibuat kecil sekali, dengan demikian
gangguan tanah itu menjadi tidak berbahaya lagi terhadap system dan gangguan
dapat hilang sendiri (self-clearing), tanpa operasi pemutus daya.
2. Hilangnya gejala busur tanah yang sangat berbahaya terhadap system (karena
tegangan lebih yang di hasilkannya), sehingga dengan demikian terhindar
kerusakan pada peralatan system, terutama pada titik gangguan.
3. Suplai daya menjadi tak terganggu dan dapat berlangsung terus walaupun gangguan
belum dihilangkan sama sekali ; artinya system dapat beroperasi terus dalam
gannuan tanah.
4. Tegangan lebih transien yang terlampubesar dapat dikurangi dibandingkan pada
system yang tersolir.
5. Efek-efek terhadap gangguan komunikasi dapat di perkecil.
6. Mengurani kejutan pada system yang disebabkan gangguan tanah itu.
Kerugian dan kelemahan-kelemahan dari metode pengetanahan dengan kumparan Petersen
ini antara lain.
1. Kumparan Petersen tidak dapat mengkompensir terhadap ganguan dua fasa ke
tanah.
2. Kumparan Petersen tidak dapat menghilankan gangguan satu fasa yang menetap
(substained grount fault) pada system.
3. Kumparan Petersen tidak dapat mengkompersir rugi-rugi daya dari system (wattcomponent) dan harmonisa-harmonisa, sehingga pemakaiannya terbatas pada
system dengan tegangan sanpai 110 KV. Pada sisitem-sistem yang mempunyai
tegangan sangat tinggi rugi-rugi daya (termasuk kerugian korona) besar kecil.

Pengetanahan Dengan Kumparan Petersen

18

SISTEM PENTANAHAN
4. Kumparan Petersen tidak dapat mencegah tegangan lebih secara keseluruhan.,
hanya membatasi sampai keadaan tertentu sehingga memerlukan peralatan yang
mampu menaggulangi tegangan lebih tersebut.

2.6 PERSAMAAN DAN DIAGRAM LINGKARAN JONAS


Dalam pasal 4 telah diterangkan bahwa pada hakekatnya penalaran sempurna itu tidak
perlu, malahan selalu dinasehatkan supaya jangan dilakukan penalaan sempurna. Untuk
menerangkan hal ini marilah kita tinjau dua macam keadaan, yaitu system dalam keadaan tidak
ada ganguan, dan system dalam keadaan gangguan tanah-kawat.

2.6.1.

System Pada Keadaan Tidak Ada Gangguan


Gambar 4 menggambarkan suatu system yang di ketanahakan dengan kumparan Petersen

dalam keadan tidak ada ganguan.

Gambar 4.12. Sistem yang diketanahkan dengan kumparan Petersen, tidak ada gangguan
Persamaan arus.
E P+ I A + I B + I C =0

(4.19)

atau

Pengetanahan Dengan Kumparan Petersen

19

SISTEM PENTANAHAN
EN EA EB EC
+ + + =0
ZP ZA ZB ZC

(4.19)

Persamaan (4.19) dapat di tulis sebagai:


E N E AN E BN ECN
1 1
1
+
+
+
+ EN
+ +
=0
ZP
Z A Z B ZC
Z A Z B ZC

) (

(4.20)

atau
EN
E
+ I U + N =O
ZP
ZG

(4.21)

tetapi dari persaman (2.8)


IU =

E NG
ZG

jadi persamaan (4.21) dapat ditulis:


EN 1
+ ( E E NG )=O
ZP ZG N
(4.22)
atau
E N=

ZP
E
Z P +Z G NG

(4.23)

pada persamaan di atas :


EN = tegangan kumparan Petersen, yaitu tegangan antara titik netral dan tanah
pada system yang di ketanahkan dangan kumoaran Petersen.
ENG = tegangan netral ke tanah pada system delta.
Mulai sekarang tegangan ketidakseimbangan ENG kita sebut tegangan urutan nol, EO, jadi
persaman (4.23) menjadi :
Pengetanahan Dengan Kumparan Petersen

20

SISTEM PENTANAHAN

E N=

ZP
E
Z P +Z G O

(4.24)

Gambar 4.13. Gambar ekivalen dari system yang diketanahkan dengan Kumparan
Petersen dan tidak ada gangguan
Gambar ekivalen dari persamaan (4.24) diberikan oleh gambar 4.13 yaitu satu rangkaian
tertutup yang diberikan oleh impedansi kumparan Petersen ZP, dan impedansi ekivalen kapasitif
system terhadap tanah, ZG terhubung seri, dan tegangan ketidak seimbangan atau tegangan
urutan nol, EO.
Jadi pada persamaan (4.24) dan Gambar 4.13 jelas kelihatan bila kumparan Petersen itu
ditala semparna (resonasi seri) harga ZP + ZG akan sangat kecil (hanya tahanan rugi-rugi Rse), jadi
persamaan (4,24) menadi :

E N , maks=

ZP
E
Rse O

dan teganagan kumparan Petersen akan maksimum, EN, maks dan ini relatif sangat besar, yaitu
10-15 kali sebesar tegangan ketidak seimbangan EO. Ini berarti kalau ada tegangan ketidak
seimbangan EO , maka dalam keadaan kerja normal pergeseran titik netral system (neutral
displacement) menjadi sangat besar. Jadi jelaslah sekarang bahwa penalaan tidak sempurna itu
sangat efektif bila ada ketidak seimbangan kapasitif pada system itu. Tetapi janganlah simpangan
tala ini ditunjukan untuk membatasi pergaseran netral yang besa, tetapi lakukanlah dengan
transposisi.

Pengetanahan Dengan Kumparan Petersen

21

SISTEM PENTANAHAN

Gambar 4.14. Karakteristik kumparan Petersen

Untuk menjaga supaya tegangan kumparan Petersen (tegangan netral) jangan terlalu besar,
impedansi kumparan Petersen itu dibuat tidak konstan, yaitu pada arus yang lebih besar
impedansinya berkurang. Gambar 4.14 (lihat juga gambar 4.16).

2.6.2. Sistem Dalam Keadaan Gangguan Tanah


ZP
Zg
Pada keadaan gangguan tanah
dan

terhubung parallel, gambar 4.15

Gambar 4.15.Gambar ekivalen system dengan kumparan Petersen


dalam keadaan gangguan tanah.

Pengetanahan Dengan Kumparan Petersen

22

SISTEM PENTANAHAN
Telah diterangkan di atas bahwa kumparan Petersen itu tidak ditala sempurna. Jadi arus
kumparan Petersen tidak menetralisir seluruh arus kapasitif. Selisih arus ini disebut arus residu,
Ir

Besar arus residu ,


Ir =

E p h Z p +Z G
ZG Zp

(4.25)
Subtitusi persamaanpersamaan (2.10) dan (2.24) dalam persamaan (4.25) diperoleh :
I r =I FG

EO
EN

(4.26)
Persamaan (4.26) ini mulamula diberi oleh Jonas, dan persamaan tersebut dinamakan
persamaan junas.
Dalam keadaan resonansi (resonansi paralel) tegangan kumparan. Petersen,

En

, akan

maksimum dan
I w =I r
Yaitu komponen watt dari arus residu,
Jadi tegangan maksimum kumparan Petersen itu menjadi :
E N , maks=

ZP
E
Rse O

(4.27)
Dari contoh dibawah ini dapat kitalihat berapa besarnya pergeseran netral (tegangan kumparan
persen) bila ditala sempurna.
Pengetanahan Dengan Kumparan Petersen

23

SISTEM PENTANAHAN
Contoh :
Suatu system besar 23 KV.Tegangan ketidak seimbangan E NG = EO dimisalkan 3% dari
tegangan fasa, dan rugi rugi system 10 % (
E N , maks=

Iw

= 10% dari

I fg

), maka :

100
3 =30
10

Jadi disini kita lihat EN = 3% maka EN, maks = 30% dan yang terakhir ini sudat sangat besar.
2.6.3

Diagram lingkaran Jonas


Dari gambar 4.14 dapat dilihat bahwa impedansi kumparan Petersen itu konstan sampai

EN

Eph

, dan di atas titik

Eph

impedansi itu makin berkurang sehingga tegangan

kumparan Petersen itu agak konstan.

Gambar 4.16, konstruksi dasar kumparan Petersen.


Karena pada umumnya tegangan yang mungkin timbul pada kumparan Petersen itu
jarang diatas

Eph

maka kita cukup meninjau daerah sampai

Eph

saja. Kumparan Petersen itu

mempunyai sadapansadapan, Gambar 4.16, dan impedansi itu berubah secara linear dengan
perubahan sadapan.
Pengetanahan Dengan Kumparan Petersen

24

SISTEM PENTANAHAN
Misalkan impedansi kumparan Petersen itu,
Z p =k ( r p + j x p )
(4.28)
Dimana k konstan tergantung dari kedudukan sadapan.
Impedansi ekivalen kapasitif,
EN

lihat bagaimana kedudukan

ZG

dari system itu adalah konstan. Sekarang akan kita

yaitu tegangan pada kumparan Petersen. Rangkaian ekivalen

dalam keadaan tidak adagangguan diberikan oleh Gambar 4.13. Dalam gambar 4.13,
ZG

Zp

tetap besarnya, sedangkan


Karena

E0

E0

dan

dapat diatur, yaitu dengan merubah sadapannya.

merupakan tegangan yang tetap yang dimasukkan pada dua impedansi

dalam seri, satu diantaranya


Maka tempat kedudukan

EN

ZG

yang tetap, sedang yang lain

Zp

berubah secara linear.

untuk berbagaibagai kedudukan sadapan merupakan sebuah

lingkaran, gambar 4.17.


Lingkaran gambar 4.17, merupakan tempat kedudukan (tegangan) tanah. Harga
maksimum dari

EN

yaitu

E N ,maks

ialah diameter dari lingkaran itu (

GM N

), hal manater

jadi pada keadaan resonansi.


Jadi jelas kelihatan dari gambar 4.13, bahwa pada penalaan sempurna pergeseran netral
sangat besar pada kerja normal bila ada ketidak seimbangan kapasitif (

E0

). Sebabitulah Jonas

mengatakan, bila ada ketidak seimbangan kapasitif system janganlah ditala sempurna.

Pengetanahan Dengan Kumparan Petersen

25

SISTEM PENTANAHAN

Gambar 4.17 pergeseran netral pada system dengan kumparan petrsen.


Dalam gambar 4.17
N = titiknetral
G0

= system delta (

GNG =E 0

G1

= kompensasi kurang (

GM

= ditalsempurna (

G2

= kompensasi kurang (

EN

= tegangan kumparan Petersen atau tegangan netral ketanah.

EN1

E N ,maks
EN2

)
)
)

Cara yang paling mudah untuk memperoleh data untuk melukiskan diagram lingkaran itu
ialah dengan cara pengukuran. Untuk tiap kedudukan sedapan dari kumparan Petersen itu diukur
tegangantegangan
E AB , E BC , ECA

fasa

ketanah

E A , E B , EC ,

dan

tegangan

tegangan

jala-jala

. Pengukuran itu dilakukan dengan bantuan transformator tegangan tiga fasa

dengan netralnya diketanahkan, gambar 4.18.

Pengetanahan Dengan Kumparan Petersen

26

SISTEM PENTANAHAN

Gambar 4.18, pengukuaran-pengukuran tegangan dengan transformator tegangan guna


melukiskan diagram lingkaran Jonas.
Supaya lebih jelas di bawah ini diberikan contoh suatu system 115 KV. Hasilhasil
pengukuran tegangan dikumpulkan dalam tabel 4.4 .
Prosedur untuk melukiskan diagram lingkaran Jonas adalah sebagai berikut :
1. Dari hasil hasil pengukuran tegangantegangan fasa ke tanah (kolom 3, 4, dan 5) dan
tegangan jalajala (kolom6, 7, dan 8), diambil harga rata-rata tegangan jala-jala (kolm
10) ,dan tegangan-tegangan fasa tanah dikoreksi ketegangan jala-jala ini. Misalnya untuk
baris pertama Tabel 4.4
EA=

EA

dalam kolom 11 diperoleh sebagai berikut :

115 ( referensi )
67,0 ( hasil pengukuran )
115,1 ( ratarata )

67,0 KV
Tabel 4.4 Hasil-hasil pengukuran tegangan dari suatu system 115 kv yang dilengkapi dengan
kumparan Petersen

Kumparan
Petersen
Poss
isi
1

Am
p
2

Tegangan Ke
tanah
(KV)
EA
EB
EC
3

Tegangan JalaJala
(KV)
EAB
EBC
ECA
6

Pengetanahan Dengan Kumparan Petersen

Tegangan di
atas 115 KV

10

EA

EB

EC

11

12

13

27

SISTEM PENTANAHAN
Of
1
2
3
4

0
0,5
1,5
3,8
1,3

67,0
67,8
70,0
48,0
62,4

64,
3
63,
0
55,
1
81,
2
71,
5

67,
0
68,
0
75,
2
73,
5
64,
8

115,
2
115,
1
115,
0
115,
5
115,
2

115,
2
115,
1
115,
0
115,
1
115,
0

115,
0
114,
9
114,
9
115,
1
115,
0

50
50
50
50
50

115,
1
115,
0
115,
0
115,
2
115,
1

67,0
67,8
70,0
47,8
62,3

64,2
63,0
55,1
81,0
71,3

66,9
68,0
75,2
73,0
64,7

Dengan jalan ini diperoleh harga-harga dari tegangan fasa tanah yang telah diatur (kolom 11,12
dan 13).
2

3
4

Untuk tiap kedudukan sadapan dari kumparan Petersen, dengan ketiga tegangan fasatanah yang telah diatur sebagai radius dilukiskan lingkaran.Melalui ketiga titik
perpotongan dari ketiga lingkaran itu dilukiskan segitiga. Titik berat segitiga itu
menyatakan titik kedudukan dari sadapan pada lingkaran jonas.
Dengan jalan yang sama seperti langkah 2 diatas dilakukan untuk semua sadapan dari
kumparan Petersen, termaksud kedudukan off.
Melalui titk-titik yang diperoleh pada langkah 2 dan 3 dilukiskan lingkaran, yaitu
lingkaran jonas, gambar 4.19.

Gambar 4.19. Segitiga tegangan dan diagram lingkaran Jonas untuk system pada Tabel 4.4.
Pengetanahan Dengan Kumparan Petersen

28

SISTEM PENTANAHAN
Lingkaran itu mempunyai radius sebesar 15 KV, atau diameter lingkaran 30 KV.
Jadi pada keadaan resonansi, dalam keadaan kerja normal (tidak ada gangguan), pergeseran
titk netral ialah 30 KV atau kira-kira 43,5% dari tegangan fasa.
Hasil dari pengukuran untuk system lain diberikan dalam Gambar 4.20. Dalam segitiga
tegangan ada dua lingkaran, yang pertama kecil dan yang kedua besar. Lingkaran kecil adalah
lingkaran yang sebenarnya, sedang yang besar diperoleh dengan melepaskan dua fasa. Hal itu
dilakukan karena system agak seimbang (fairly balanced), jadi lingkaran itu terlalu kecil untuk
dipelajari. Dengan melepaskan dua fasa diperoleh ketidakseimbangan yang besar dan lingkaran
jonas yang besar pula.

Pengetanahan Dengan Kumparan Petersen

29

SISTEM PENTANAHAN

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Adapun kesimpulan-kesimpulan Pengetanahan dengan kumparan Petersen yaitu:
1) Pengetahanan dengan kumparan petersenan sangat efektif untuk memadamkan
gangguan hubung tanah (ground fault) yang berupa transien maupun gangguan yang
berlangsung terus.
2) Kumparan petersenan mencegah timbulnya arus gangguan yang besar.
3) Kompensasi yang tepat terhadap arus kapasitif pada gangguan satu fasa ketanah
menyebabkan arus gangguan itu kecil sekali, sehingga memungkinkan system itu
dapat bekerja terus dengan satu fasa terhubung ketanah sampai ada saat yang baik
untuk melakukan lokalisasi gangguan. Sementara itu baik disis generator disentral
maupun disisi pihak konsumen tak merasai gangguan tersebut.
4) Pengurangan arus gangguan sampai harga minimumnya yang tidak lagi
membahayakan konduktor maupun isolator-isolator akan mengurangi pemeliharaan
terhadap saluran-saluran transmisi, isolator-isolator, dan sekaligus mengurangi
operasi daripada pemutus daya.
5) Busur tanah dapat dihindarkan.
6) Kerusakan-kerusakan yang diakibatkan oleh gangguan tanah diperkecil.
7) Terhadap gangguan satu fasa ketanah yang temporer, kumparan Petersen tidak hanya
menyebabkan arus gangguan itu kecil tetapi juga memperlambat kenaikan tegangan
pulih system dank arena itu busur listrik mudah hilang sendiri, jadi system kembali
normal tanpa bekerjanya pemutus daya.
8) Kumparan Petersen sangat sensitive terhadap ketidakseimbangan da dalam sistemnya.
Pengetanahan Dengan Kumparan Petersen

30

SISTEM PENTANAHAN
9) Kumparan Petersen selalu siap setiap saat untuk menetralisir arus gangguan hubung
tanah maupun hubung tanah berurutan.
10) Kumparan Petersen paling baik digunakan pada system radial baik yang melalui
terdiri dari penghantar kawat udara atau campuran hantaran udara dan kabel tanah
dengan tegangan kerja dari 2,4 KV sampai dengan 110 KV.
11) Kumparan Petersen praktis tidak membutuhkan pemeliharaan yang berarti.
12) Karena arus gangguan tanah yang timbul selain kecil juga distribusinya tidak
tergantung kepada letak gangguan, maka arus itu tidak bisa dipakai sebagai dasar
untuk rele ganggua tanah yang selektif harus dengan cara-cara yang istimewa atau
khusus.
13) Mengingat bahwa terhadap gangguan satu fasa ke tanah yang permanen pemutusan
pemutus daya dapat ditangguhkan, maka rela gangguan tanah yang selektif bukan
suatu keharusan.
14) Pemasangan wattmeter type carth leakage relay dapat menunjukkan dengan tepat
letak gangguan, sehingga dapat diadakan tindakan pengisolasian bagian system yang
mengalami gangguan itu.
15) Mengingat bahwa kumparan Petersen itu hanya berjasa terhadap gangguan suatu fasa
ketanah, maka system haruslah diusahakan sedemikian rupa sehingga gangguangangguan satu fasa ketanah saja. Untuk ini tahanan-tahanan kaki tiang harus
diusahakan serendah mungkin.
16) Karena pada waktu gangguaan satu fasa ketanah menyebabkan tegangan fasa lainya
Eph
naik menjadi 3.
atau tegangan jala-jala, maka pengenal tegangan arrestnya
haruslah berdasarkan tegangan jala-jala.
17) System dapat bekerja pada simpangan tala tertentu tanpa mempengaruhi karateristik
proteksinya terhadap system, sehingga pada perluasan system tidak menunjukkan
adanya pembatasan pemakaian kumparan Petersen ini.
18) Untuk membatasi pergeseran netral akibat resonansi maka salah satu atau beberapa
kumparan Petersen dipasang pada sadapan maksimum.
3.2 Saran

Pengetanahan Dengan Kumparan Petersen

31

SISTEM PENTANAHAN

Pengetanahan Dengan Kumparan Petersen

32