Anda di halaman 1dari 8

ASAM SULFAT

1.1 TUJUAN
- Mampu melakukan pengenceran asam sulfat pekat
- Memahami sifat asam sulfat pekat sebagai oksidator dan dehidator
- Untuk memahami dasar teori yang berhubungan dengan asam sulfat.
1.2 DASAR TEORI
1.2.1 Asam Sulfat
Asam sulfat merupakan asam mineral (anorganik) yang kuat
dengan rumus molekul H2SO4. Zat ini larut dalam air pada semua
perbandingan. Asam sulfat murni sangat korosif, tidak berwarna dan
berupa cairan kental. Garam dari asam sulfat disebut sulfat. Asam sulfat
larut dalam air pada semua konsentrasi. Asam sulfat mempunyai titik
lebur pada 10,31C dan titik didih pada 336,85C tergantung kepekatan.
Pada temperatur 300C atau lebih dapat terdekomposisi menghasilkan
sulfur trioksida.

Gambar 1. Struktur Kimia Asam Sulfat

Pembuatan asam sulfat dilakukan dengan proses oksidasi belerang


menjadi SO3, yang kemudian direaksikan dengan air. Adapun proses
reaksinya meliputi 3 tahap berikut :
- Pembakaran belerang menjadi belerang dioksida :
S(s) + O2(g) SO2(g)
- Oksidasi belerang dioksida menjadi belerang trioksida :
2SO2(g) + O2(g) 2SO3(g)
- Penggabungan belerang trioksida dengan air :
SO3(g) + H2O(l) H2SO4(aq)
Asam sulfat juga memiliki berbagai kegunaan. Sebagai contoh,
asam sulfat merupakan katalis asam yang umumnya digunakan untuk
mengubah sikloheksanonoksim menjadi kaprolaktam yang digunakan
untuk membuat nilon. Asam sulfat juga digunakan untuk membuat

asam klorida dari garam melalui proses Mannheim. Banyak asam sulfat
yang digunakan dalam pengilangan minyak bumi, contohnya sebagai
katalis untuk reaksi isobutana dengan isobutilena yang menghasilkan
isooktana. Selain itu asam sulfat juga digunakan dalam pembuatan
pupuk, serabut buatan, bahan kimia industri, plastik, baterai, bahan
ledak, kertas dan pulp, karet sintetis dan alami serta cat dan pigmen.
Sifat-sifat asam sulfat yang korosif diperburuk oleh reaksi
eksotermiknya dengan air. Luka bakar akibat asam sulfat berpotensi
lebih buruk daripada luka bakar akibat asam kuat lainnya. Hal ini
dikarenakan

adanya

tambahan

kerusakan

jaringan

dikarenakan

dehidrasi dan kerusakan termal sekunder akibat pelepasan panas oleh


reaksi asam sulfat dengan air. Walaupun asam sulfat tidak mudah
terbakar, namun kontak dengan logam dalam kasus tumpahan asam
dapat menyebabkan pelepasan gas hidrogen. Penyebaran aerosol asam
dan gas sulfur dioksida menambah bahaya kebakaran yang melibatkan
asam sulfat.

1.2.2 Kuprum Sulfat Pentahidrat


Tembaga (II) sulfat berbentuk serbuk, manakala tembaga (II) sulfat
terhidrat berwarna biru terang. Nama kuno bagi tembaga (II) sulfat
ialah vitriol biru. Kebanyakan kuprum sulfat wujud dalam alam semula
jadi dalam bentuk pentahidrat (CuSO4.5H2O), mineral ini dikenali
sebagai kalkantit. Tembaga (II) sulfat mengurai sebelum melebur.
Bentuk pentahidrat yang lazim terhidratnya, yaitu kehilangan empat
molekul airnya pada 110C dan kelima lima molekul air pada 150 C.
Pada 650 C, tembaga (II) sulfat mengurai menjadi tembaga (II) oksida
(CuO), sulfur dioksida (SO2) dan oksigen (O2).

Gambar 2. Kuprum Sulfat Pentahidrat (CuSO45H2O)

1.2.3 Seng
Seng adalah uns
lambang
dan massa

ur

Zn,

kimia dengan

bernomor

atom 30,

atom

relatif

65,39.

Beberapa sifat seng,

mirip

dengan

magnesium (Mg),

dikarenakan

ion

kedua unsur ini berukuran hampir sama. Selain itu, keduanya juga
memiliki keadaan oksidasi +2. Seng merupakan unsur yang memiliki
lima isotop stabil. Logam ini keras dan rapuh pada kebanyakan suhu,
namun dapat ditempa antara 100 sampai dengan 150 C. Di atas 210
C, logam ini kembali menjadi rapuh dan dapat dihancurkan menjadi
bubuk dengan memukulnya. Seng juga mampu menghantarkan listrik.
Dibandingkan dengan logam logam lainnya, seng memiliki titik lebur
(420 C) dan tidik didih (900 C) yang relatif rendah.

1.2.4 Tembaga
Tembaga
kimia dalam tabel

Gambar 3. Seng

adalah suatu unsur


periodik

yang

memiliki lambang Cu dengan nomor atom 29. Tembaga merupakan


konduktor panas dan listrik yang baik. Selain itu unsur ini memiliki
korosi yang sangat cepat. Tembaga murni sifatnya halus dan lunak,
dengan permukaan berwarna jingga kemerahan. Tembaga tidak bereaksi
dengan air, namun ia bereaksi perlahan dengan oksigen dari udara
membentuk lapisan coklat hitam tembaga oksida. Berbeda dengan
oksidasi besi oleh udara, lapisan oksida ini kemudian menghentikan
korosi berlanjut.

1.2.5 Besi

Gambar 4. Tembaga

Besi adalah suatu unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki
lambang Fe dengan nomor atom 26. Besi termasuk dalam logam
transisi dengan massa atom relatif 55,845. Mempunyai daya hantar
listrik dan panas yang baik, karena memiliki ikatan ganda dan ikatan
kovalen logam. Besi mempunyai titik didih 2861 C dan titik leleh 1538
C.

Gambar 5. Besi

1.3 ALAT & BAHAN


Alat :
- Gelas Ukur
- Gelas Beker
- Tabung Reaksi
- Pipit Tetes
- Batang Pengaduk

Bahan :
- H2SO4 Pekat
- CuSO4.5H2O
- Gula Pasir
- Kayu (korek api)
- Logam Zn, Cu, dan Fe

1.4 PROSEDUR KERJA


Percobaan 1. Reaksi pengenceran asam sulfat pekat
1. 2 ml asam sulfat pekat diambil dan kemudian dimasukkan ke dalam
tabung reaksi.
2. Air dingin sebanyak 25 ml dimasukkan ke dalam gelas beker.
3. Asam sulfat pekat ditambahkan secara perlahan ke dalam air dingin sambil
diaduk. Perubahan suhu pada gelas beker diamati dan dirasakan.
Percobaan 2. Reaksi dehidrasi
3 buah tabung reaksi disiapkan, masing masing tabung reaksi diisi dengan 2
ml asam sulfat pekat.
1. 1 gram CuSO4.5H2O dimasukan ke dalam tabung reaksi yang sudah berisi
asam sulfat pekat. Perubahan yang terjadi diamati dan dicatat sampai
diatas 30 menit.
2. 1 gram gula pasir dimasukan ke dalam tabung reaksi yang sudah berisi
asam sulfat pekat. Perubahan yang terjadi diamati dan dicatat.

3. Sepotong kayu (batang korek api) dimasukan ke dalam tabung reaksi yang
sudah diisi asam sulfat pekat. Perubahan yang terjadi diamati dan dicatat.
4. Tabung reaksi yang berisi garam CuSO4 dan tabung reaksi yang berisi
kayu diambil. Asam sulfat yang berada di dalam tabung dituangkan ke
dalam tempat asam sulfat pekat. CuSO4 dan batang korek api dikeluarkan
dari dalam tabung dan dengan hati-hati CuSO 4 dan batang korek api
dimasukkan ke dalam gelas beker yang berisi 50 ml air. Perubahan yang
terjadi diamati dan dicatat.
Percobaan 3. Reaksi oksidasi
1. Masing-masing tabung reaksi dimasukkan sepotong logam Zn, Fe dan Cu.
2. Sebanyak 2 ml larutan asam sulfat encer dimasukkan ke dalam tabung
reaksi yang sudah berisi logam diatas, perubahan yang terjadi diamati
dengan teliti. Gas yang timbul iamati lalu tulis reaksi kimia yang terjadi.
3. 3 tabung reaksi lain diambil dan 1 ml asam sulfat pekat dimasukkan
kedalamnya. Kedalam masing masing tabung reaksi dimasukan sepotong
logam Zn, Fe dan Cu. Dipanaskan dan diamati perubahan yang terjadi.
Jelaskan perbedaan reaksi asam sulfat pekat dengan logam Zn, Fe dan Cu
dibandingkan dengan reaksi larutan asam sulfat encer dengan logam logam
tersebut.
1.5 DATA PENGAMATAN
Percobaan 1. Reaksi pengenceran asam sulfat pekat
Asam sulfat pekat
2 mL

Air
20 mL

Perubahan suhu
Suhu meningkat

Pengamatan dan hasil


Berubah warna dari biru menjadi

Percobaan 2. Reaksi dehidrasi


No

Bahan kimia

Dehidrator

1.

CuSO4.5H2O

Asam sulfat pekat

2.

Gula pasir

Asam sulfat pekat

3.

Kayu (korek api)

Asam sulfat pekat

4.

Hasil no. 1

Air

putih dan tersisa hanya CuSO4


Kristal dan larutan berubah warna
menjadi hitam pekat
Kayu dan larutan menjadi
berwarna coklat kehitaman
Larutan berubah warna menjadi
biru muda bening

5.

Hasil no. 3

Air

Terdapat gelembung yang


menempel pada permukaan kayu

Percobaan 3. Reaksi Oksidasi


No

Bahan

Oksidator

Pengamatan dan Hasil


Timbul sedikit gelembung gas

1.

Zn

Asam sulfat encer Reaksi : Zn(s) + H2SO4(aq)

ZnSO4(aq) +

H2(g)
Suhu meningkat sesaat dan timbul sedikit
gelembung gas

2.

3.

Fe

Cu

Asam sulfat encer

Asam sulfat encer

Reaksi : Fe(s) + H2SO4(aq)


H2(g)
Tidak terjadi reaksi
Reaksi : Cu(s) + H2SO4(aq)

FeSO4(aq) +

tidak ada hasil

Timbul banyak gelembung gas

4.

Zn

Asam sulfat pekat Reaksi : Zn(s) + 2H2SO4(aq)

ZnSO4(aq) +

2H2O (l) + SO2(g)


Timbul banyak gelembung gas

5.

6.

Fe

Asam sulfat pekat Reaksi : Fe(s) + 2H2SO4(aq)

Cu

2H2O (l) + SO2(g)


Tidak terjadi reaksi
Reaksi : Cu(s) + 2H2SO4(aq)

Asam sulfat pekat

FeSO4(aq) +

tidak ada hasil

1.6 PEMBAHASAN
Pada praktikum Kimia Dasar II kali ini berjudul Asam Sulfat yang
bertujuan untuk mampu melakukan pengenceran asam sulfat pekat, untuk
memahami sifat asam sulfat pekat sebagai oksidator dan dehidrator, untuk
memahami dasar teori tentang asam sulfat. Praktikum ini dilakukan di
laboratorium kimia dasar Universitas Udayana.
Pada percobaan pertama dilakukan pengenceran asam sulfat sebanyak 2
mL. kemudian 25 ml air dimasukan ke dalam gelas beker, lalu tuang asam
sulfat 2 ml sedikit demi sedikit ke dalam gelas beker yang sudah berisi air
sambil diaduk. Sehingga reaksi yang dihasilkan oleh larutan tersebut berupa
perubahan suhu yang meningkat.

Pada percobaan kedua, disiapkan 3 tabung reaksi yang sudah berisi asam
sulfat pekat sebanyak 2 ml. pada tabung pertama dimasukan 1 gram
CuSO4.5H2O, pada tabung kedua dimasukan gula pasir dan pada tabung ketiga
dimasukan batang kayu. Setelah 30 menit, padatan CuSO4.5H2O berubah
warna dari biru menjadi putih. Sedangan pada gula, larutan beserta kritalnya
berubah warna menjadi hitam pekat. Dan pada batang kayu, larutan beserta
batang kayu berubah menjadi coklat kehitaman. Ini dikarenakan air (H 2O)
yang terkandung dalam kedua senyawa tersebut terdehidrasioleh asam sulfat
pekat.
Namun ketika garam CuSO4 dan batang kayu dimasukan ke dalam air,
garam CuSO4 merubah warna larutan menjadi biru muda bening, dan pada
batang kayu, terdapat gelembung yang menempel pada permukaan kayu.
Sedangkan pada percobaan ketiga, disiapkan 6 tabung reaksi,
dimana 3 tabung reaksi pertama diberikan 2 ml asam sulfat encer, kemudian 3
tabung reaksi lainnya diberikan 1 ml asam sulfat pekat. Pada tabung reaksi
yang berisi asam sulfat encer dimasukan logam Zn, Fe dan Cu, dimana pada
logam Zn timbul sedikit gelembung, sedangkan pada logam Fe suhu
meningkat sesaat dan timbul sedikit gelembung dan pada logam Cu tidak
terjadi perubahan. Berbeda dengan tabung reaksi yang berisi asam sulfat pekat
yang dipanaskan, dimana pada logam Zn dan Fe timbul banyak gelembung,
sedangkan pada logam Cu tidak terjadi perubahan. Ini membuktikan bahwa
menaikan suhu sama dengan mempercepat laju reaksi.
Dari percobaan ini terbukti bahwa asam sulfat baik yang encer maupun
yang pekat bertindak sebagai zat oksidator kuat jika direaksikan dalam suatu
logam.
1.7 KESIMPULAN
Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa :
- Asam sulfat akan mengalami kenaikan suhu ketika bereaksi dengan air dan
-

lingkungan (udara).
Pada reaksi dehidrasi, CuSO4.5H2O berubah warna menjadi putih, gula
pasir menjadi hitam pekat dan kayu berubah menjadi coklat kehitaman. Ini
dikarenakan air (H2O) yang terkandung dalam kedua senyawa tersebut
terdehidrasioleh asam sulfat pekat.

Ketika CuSO4 dan batang kayu dicelupkan kedalam air, padatan CuSO4
yang berwarna putih berubah menjadi larutan berwarna biru muda bening
dan pada batang kayu, terdapat gelembung yang menempel pada

permukaan kayu. Ini terjadi karena air diikat oleh CuSO4 dan batang kayu.
Sedangkan pada reaksi oksidasi, asam sulfat pekat yang dipanaskan lebih
banyak timbul gelembung dibandingkan dengan asam sulfat encer, ini
membuktikan bahwa menaikan suhu, sama dengan mempercepat laju
reaksi.

DAFTAR PUSTAKA
Karim, Saeful dkk. 2009. Membuka Cakrawala Alam Sekitar . Jakarta.
Keenan, Kleinfelter, Wood. 1992. Kimia untuk Universitas Jilid 2 Edisi Keenam.
Jakarta : Erlangga.
Petrucci, Ralph H, 1987. Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern Jilid 3.
Penerbit Erlangga.
Sudarmo, Unggul. 2004. Kimia Untuk SMA. Jakarta : Erlangga.
Tim Kimia Dasar. 2015. Penuntun Praktikum Kimia Dasar II. Jurusan Kimia
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Udayana.

Beri Nilai