Anda di halaman 1dari 38

MAKALAH PROSES INDUSTRI KIMIA II

INDUSTRI ETILEN DAN ASETILEN

DISUSUN OLEH :
Alifah Yadina ( 0611 3040 1029 )
4 Ki.B
PEMBIMBING :
Ir. Erlinawati, M. T

JURUSAN TEKNIK KIMIA


POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
2013

BAB II
SENYAWA KIMIA DARI C 2

II. 1 INDUSTRI ETILEN DAN ASETILEN


II. 1. 1 Pendahuluan
Komponen komponen yang tergabung dalam bahan kimia C 2
memiliki peranan yang sangat penting dalam industri petrokimia. Salah
satu bahan dasar petrokimia merupakan olefin. Produksi olefin di seluruh
dunia mencapai milyaran kg per tahun. Diantara olefin yang paling banyak
diproduksi adalah etilena (etena), propilena (propena), butediena, serta
asetilena. Sebagai contohnya pada tahun 1971 permintaan dari India untuk
produk ethylene sebesar 165.000 ton dan 59.000 ton untuk asetilen.
Asetilena (Nama sistematis etuna) adalah suatu hidrokarbon yang
tergolong kepada alkuna, dengan rumus C2H2. Asetilena merupakan alkuna
yang paling sederhana, karena hanya terdiri dari dua atom karbon dan dua
atom hidrogen. Pada asetilena, kedua karbon terikat melalui ikatan
rangkap tiga, dan masing-masing atom karbon memiliki hibridisasi orbital
sp untuk ikatan sigma. Hal ini menyebabkan keempat atom pada asetilena
terletak pada satu garis lurus, dengan sudut C-C-H sebesar 180. Asetilena
ditemukan oleh Edmund Davy pada 1836, yang menyebutnya karburet
baru dari hidrogen. Nama asetilena diberikan oleh kimiawan Perancis
Marcellin Berthelot, pada 1860. Pada 1812.
Etilen merupakan hormon tumbuh yang diproduksi dari hasil
metabolisme normal dalam tanaman. Etilen disebut juga ethane. Senyawa
etilen pada tumbuhan ditemukan dalam fase gas, sehingga disebut juga gas
etilen. Gas etilen tidak berwarna dan mudah menguap. Etilen memiliki
struktur yang cukup sederhana dan diproduksi pada tumbuhan tingkat
tinggi.

II. 1. 2 Sifat Fisika dan Sifat Kimia


a. Sifat Fisika dan Sifat Kimia Bahan Baku
1. Air
Sifat Fisika Air

Berat Molekul (BM)


Titik didih
Titik lebur
Densitas

Kalor jenis

: 18,0153 gram/gmol
: 100 0C
: 0 0C
: 0,998 g/mL ( cairan pada 20 0C )
0,92 g/mL ( padatan )
: 4184 J/kg.K

Sifat Kimia Air

Sifat pelarut suatu zat bergantung pada pereaksinya

Air akan bersifat asam jika bereaksi dengan basa lemah.


Reaksi yang terjadi :
NH3 + H2O NH4+ + H3O

Air akan bersifat basa jika bereaksi dengan asam lemah.


Reaksi yang terjadi :
CH3COOH + H2O CH3COO- + H3O+

2. Oksigen (O2)
Sifat Fisika Oksigen (O2)

Berat Molekul (BM)

: 32 gram/gmol

Titik didih

: -182.95 0C

Titik leleh

: - 218,79 0C

Densitas

: 1,429 gr/L

Kalor peleburan

: 0.444 kJ/mol

Kalor penguapan

: 6.82 kJ/mol

Kapasitas kalor

: 29.378 J/mol K

Sifat Kimia Oksigen (O2)

Reaksi pengikatan oksigen :


Perkaratan logam, seperti besi.
Reaksi yang terjadi :
4Fe(s) + 3O2(g) 2Fe2O3(s)
Pembakaran gas alam (CH4).
Reaksi yang terjadi :
CH4(g) + 2O2(g) CO2(g) + 2H2O(g)
Oksidasi glukosa dalam tubuh :
Reaksi yang terjadi :
C6H12O6(aq) + 6O2(g) 6CO2(g) + 6H2O(l)

b. Sifat Fisika dan Sifat Kimia Produk


1. Etena/Etilen (C2H4)
Sifat Fisika Etena / Etilen (C2H4)

Berat Molekul (BM)


Titik didih
Titik lebur
Densitas
Kelarutan

: 28.05 g/mol
: -103,7 0C
: -169,2 0C
: 0.568 gr/cm3
: 3,5 mg/100 mL H2O

Sifat Kimia Etena / Etilen (C2H4)

Reaksi

antara

etena

dan

klorin

menghasilkan

1,2

dikloroetana yang dapat digunakan sebagai bahan baku


plastik PVC.
Reaksi yang terjadi :
C2H4 + Cl2 CH2Cl - CH2Cl

Reaksi alkena dengan hidrogen halida (hidrohalogenasi).


Reaksi yang terjadi :
C2H4 + HBr C2H5Br
Reaksi alkena dengan hidrogen (hidrogenasi). Reaksi antara
etena (etilen) dengan hidrogen menghasilkan etana.
Reaksi yang terjadi :
C2H4 + H2 C2H6

Reaksi Pembakaran sempurna antara etena dan oksigen


menghasilkan

gas

karbonmonoksida

Reaksi yang terjadi :


C2H4 + 2 O2 2CO2 + 2H2
2. Etuna/ Asetylene (C2H2)
Sifat Fisika Etuna / Asetylene (C2H2)

Massa molar

: 26.0373 g/mol

Densitas

: 1.0967 kg/m3

Titik lebur

: -84 oC

Titik didih

: -80.8 oC

Ambang ledakan

: 2.5-82%

dan

air.

Temperatur maksimum
pembakaran

: 3300oC

Sifat Kimia Etuna / Asetylene (C2H2)

Asetilena dan formaldehida menghasilkan 1,4-butunadiol.


Reaksi yang terjadi :
HCCH + CH2O CH2(OH)CCCH2OH

c. Sifat Fisika dan Sifat Kimia Produk Samping


1. Sifat Fisika dan Sifat Kimia Hydrogen (H2)
Sifat Fisika Hidrogen (H2)

Massa atom
Densitas
Titik didih
Titik lebur
Titik kritis
Kalor peleburan
Kalor penguapan

: 1.00794 g/mol
: 0.08988 g/L
: 14,01 K (259,14 C)
: 20,28 K (252,87 C)
: 32,97 K
: 0.117 kJ/mol
: 0.904 kJ/mol

Sifat Kimia Hydrogen (H2)

Gas hidrogen merupakan campuran dari gas sintetik


(syntetis-gas).
Jika hidrogen direaksikan dengan gas nitrogen akan
menghasilkan gas amonia (NH3).
Reaksi yang trejadi :
N2 (g) + 3H2 (g) 2NH3 (g)

2. Sifat Fisika dan Sifat Kimia Karbon monoksida (CO)


Sifat Fisika Karbon monoksida (CO)

Berat molekul
Densitas
Penampilan

: 28,0101 g/mol
: 0,789 g/cm
: Tak berwarna, gas tak berbau

Titik leleh
Titik didih
Kelarutan
Bahaya

: -205 C (68 K)
: -192 C (81 K)
: 0,0026 g/100 mL H2O
: Sangat mudah terbakar

Sifat Kimia Karbon monoksida (CO)

Jika gas karbonmonoksida direaksikan dengan hidrogen


melalui pemanasan pada suhu tinggi akan dihasilkan
metanol.
Reaksi yang terjadi :
CO(g) + 2H2(g) CH3OH(g)

3. Sifat Fisika dan Sifat Kimia Karbon dioksida (CO2)


Sifat Fisika Karbon dioksida (CO2)

Massa molar
Penampilan
Densitas
Titik leleh
Titik didih
Kelarutan
Keasaman (pKa)
Viskositas

: 44,0095 g/mol
: Gas tidak berwarna
: 1.98 g/L
: -57 oC (216 K)
: -78 oC(195 K)
: 1.45 g/L
: 6.33 10.33
: 0.07 cP (-78 oC)

Sifat Kimia Karbon dioksida (CO2)

Kadar CO2 yang berlebih di udara dapat mengakibatkan


peningkatan suhu dipermukaan bumi.

Air hujan yang dapat melarutkan gas karbondioksida yang


terdapat didalam udara membentuk asam karbonat (H2CO3)
sehingga terjadi hujan asam.
Reaksi yang terjadi :
CO2 (g) + H2O(l) H2CO3(aq)

4. Sifat Fisika dan Sifat Kimia Karbon (C)

Sifat Fisika Karbon (C)

Density

Titik Leleh

Titik Didih
Sifat Kimia Karbon (C)

Reaksi pembakaran

: 2,26 gr/cm3
: 3800 K (3527 C)
: 4300 K (4027 C)
tak

sempurna

mengakibatkan

penumpukan karbon yang terjadi pada piston mesin dan


karbon monoksida dari knalpot.
Reaksi yang terjadi :
CH4 + O2 C + H2O
5. Sifat Fisika dan Sifat Kimia Etana (C2H6)
Sifat Fisika Etana (C2H6)

Berat molekul

: 30.07 g/mol

Penampilan

: gas tak bewarna

Densitas

: 1.212 kg/m3

Titik leleh

: -182.76 oC ( 90.34 K)

Titik didih

: -88.6 oC (184.5 K)

Titik nyala

: -135 oC

Kelarutan dalam air

: 4.7 gr/100 mL H2O

Keasaman (pKa)

: 50

Bahaya

: sangat mudah terbakar

Sifat Kimia Etana (C2H6)

Reaksi pembakaran etana dengan oksigen menghasilkan CO2


dan H2O.
Reaksi yang terjadi :
C2H6 + 7/2 O2 2 CO2 + 3H2O

6. Metana (CH4)
Sifat Fisika Metana (CH4)

Berat Molekul
Density
Titik Leleh
Titik Didih
Kelarutan

: 16,042 g/mol
: 0,717 kg/m3
: - 182,5 C (91 K)
: -161,6 C ( 112 K)
: 3,5 mg/100 mL H2O

Sifat Kimia Metana (CH4)

Gas metana yang direaksikan dengan oksigen akan


mengalami reaksi pembakaran sempurna.
Reaksi yang terjadi :
CH4 + 2O2 CO2 + 2H2O
Reaksi Substitusi
Reaksi penggantian satu atau beberapa atom H dengan
atom atau gugus atom lain.
Reaksi yang terjadi :
CH4 + Cl2 CH3Cl + HCl

7. Butana (C4H10)
Sifat Fisia Butana (C4H10)

Berat Molekul

: 58,12 gr/mol

Density

: 2,48 kg/m3 (fase gas)

Titik Leleh

: 138.4 C (135.4 K)

Titik Didih

: 0.5 C (272.6 K)

Kelarutan

: 6,1 mg/100 ml H2O

Sifat Kimia Butana (C4H10)

Reaksi pembakaran sempurna pada butana yang terbakar dalam


keadaan oksigen yang berlebih dan membentuk oksigen. Reaksi
ini menimbulkan kalor yang tinggi yang disebut dengan reaksi
eksoterm.
Reaksi yang terjadi :

C4H10 + 13/2 O2 4CO2 + 5H2O + 688.0 kkal/mol

8. Propana(C3H8)
Sifat Fisika Propana (C3H8)

Berat Molekul

: 44,1 gr/mol

Density

: 1,83 kg/m3

Titik Leleh

: 187,6 C (85.5 K)

Titik Didih

: 42,09 C (231.1 K)

Kelarutan dalam air

: 0,07 mg/mL H2O

Sifat Kimia Propana (C3H8)

Halogenasi pada propana


Jika campuran alkana dan gas klor disimpan pada suhu
rendah dalam kamar gelap,reaksi tidak terjadi. Di bawah
sinar atau suhu tinggi, terjadi reaksi eksoterm. Satu atau
lebih atom hidrogen diganti oleh atom klor.

Reaksi yang terjadi :


CH3CH2CH3 + Cl2 CH3CH2CH2Cl + CH3CH(Cl)CH3 + HCl
9. Butena (C4H8)
Sifat Fisika Butena (C4H8)

Berat Molekul

: 56,11 gr/mol

Density

: 0,00237 gr/cm3 (fase gas)

Titik Didih

: - 6.3 C (267 K)

Sifat Kimia Butena (C4H8)

Adisi halogen dengan penambahan klor atau brom yang


dilarutkan dalam pelarut inert.
Reaksi yang terjadi :

CH3CH=CHCH3 + Cl2 CH3CH-Cl CH-Cl-CH3


10. Propena ( C3H6)
Sifat Fisika Propena (C3H6)

Berat Molekul

: 42,08 gr/mol

Viskositas

: 8,34 Pas (pada suhu 16,7 oC)

Titik Leleh

: 185,2 C (88.0 K)

Titik Didih

: 47,6 C (225.5 K)

Kelarutan dalam air

: 0,61 g/m3 (20 C)

Sifat Kimia Propena (C3H6)

Propena jika bereaksi dengan air akan menghasilkan


propanol yang memerlukan adanya katalis berupa asam
(H2SO4,H3PO4).
Reaksi yang terjadi :
C3H6 + H2O

C3H7OH

Reaksi adisi ( penambahan) yaitu penjenuhan ikatan


rangkap.
-

Adisi

klorin

pada

propena

pada

propena

menghasilkan

1,2-

dikloropropana.
-

Adisi

HCl

menghasilkan

2-

kloropropana.

II. 1. 3 Klasifikasi Proses


1. Pirolisis steam (cracking) dari petroleum yang berasal dari LPG
dan naphta.
2. Pirolisis termal dari etana dan atau propana ( tidak fleksibel)

3. Dehidrasi dari etanol.


Yang akan dibahas adalah proses pirolisis steam (cracking) dari
petrolium yang berasal dari LPG dan Napthalena. Proses pemecahan
hidrokarbon melalui pemanasan atau lebih dikenal dengan cracking via
steam

of

hidrokarbon

merupakan

pemecahan

senyawa-senyawa

hidrokarbon dari rantai panjang menjadi rantai yang lebih pendek pada
suhu tinggi (700-800oC) dan tekanan tinggi (35 atm) tanpa memerlukan
gas O2 untuk pembakaran.

II. 1. 4 Reaksi Kimia


Reaksi kimia yang terjadi yaitu :
Reaksi utama :
C x H 2 x 2 H 2 O O2

700 800 C C 2 H 4 ( 4 5 % ) C 2 H 6 C 2 H 2 (17 13%)


H 2 ( 25 30 %) CO CO2 CH 4 C 3 H 6 C 3 H 8
C 4 H 10 C 4 H 8 C 4 H 6 C C 6 H 6
Heavy oil fraction

Reaksi pada Acetylene converter :


C2 H 2 H 2

C2 H 4

Reaksi di washer :
H 2 CO3 NaOH Na2 CO 3 H 2 O

Reaksi pembakaran :
CH 4 CO 2CO 2 2 H 2O

II. 1. 5 Data Kuantitatif


Basis: 1 ton Ethylena.
Bahan baku
tak dapat diidentifikasi ( industri di India
kebanyakan akan menggunakan naphta sebagai produk).
Kapasitas pabrik : 100-600 ton/hari dari Ethylena.

II. 1. 6 Flowsheet (Lampiran)


II. 1. 7 Uraian Proses
Pada furnace terjadi reaksi antara H2O dan O2, dimana digunakan
Naphta sebagai bahan baku dan Fuel Gas sebagai bahan bakar pada proses
ini. Produk yang dihasilkan pada unit furnace yaitu berupa C 1-C4, CO,
CO2, H2 dan beberapa minyak yang masih termasuk di dalam produk yang
dihasilkan. Lalu panas hasil pembakaran pada furnace diubah pada unit
boiler, dimana boiler digunakan agar air yang dihasilkan dapat diubah
menjadi uap superheated. Lalu setelah itu, proses selanjutnya pembersihan
produk dengan dilakukan penambahan minyak (oil) pada unit scrubber.
Pada scrubber terjadi proses pembersihan produk dari sisa-sisa kotoran
yang masih terikut dalam produk dengan dilakukan penambahan minyak.
Sehingga pada scrubber didapatkan buangan berupa minyak, lalu produk
penyulingan gas yang berupa C1-C4, CO, CO2 dan H2 serta beberapa
komponen padatan yang masih terikut di dalam produk akan di kompresi
dengan menggunakan tekanan 35 atm. Lalu selanjutnya proses dilakukan
pada separator, dimana pada separator terjadi pemisahan antara gas dan
padatan. Dimana yang berupa fase gas seperti C 1-C3 akan dihasilkan pada
top produk dari separator sedangkan yang berupa fase padatan seperti C 3C4 akan dihasilkan pada bottom produk dari separator. Sehingga produk
yang dihasilkan pada top produk separator seperti CO 2, CO, H2, C1-C3.
Lalu produk akan dicuci dengan soda kaustik (NaOH) untuk memisahkan
CO2, sehingga produk yang dihasilkan dari unit washer hanya
mengandung C1-C3, CO, dan H2. Lalu produk yang berupa gas di
keringkan pada unit gas driyer. Sehingga dihasilkan hanya C 1-C3. Pada
washer terjadi reaksi yaitu H2CO3 + NaOH Na2CO3. Selanjutnya
dilakukan proses destilasi antara senyawa metana, CO dan H 2 yang masih
terkandung didalam produk. Pada unit dementanizer, produk dipisahkan
dimana berupa metana, CO, dan H2 akan menguap dan sebagian dihasilkan
yang berupa C2-C3 pada bottom produk dementhanizer, dan sebagian dari
C2-C3 akan dikembalikan ke dementanizer untuk di destilasi kembali.

Lalu hasil pemisahan pada dementhanizer yang berupa C2-C3 akan


dipisahkan secara destilasi pada unit deethanizer berdasarkan fraksifraksinya. Dimana deethanizer berfungsi untuk memisahkan antar fraksi
C2 dan C3. Hasil pada top produk deethanizer berupa C2 dan pada bottom
produk akan dihasilkan berupa C3. Senyawa C2 yang dihasilkan dari top
produk deethanizer akan dipisahkan pada unit splitter untuk memisahkan
etana dan gas asetilen. Dimana etana dan asetilen dalam fase gas akan
akan

dihasilkan

dari

splitter

bersama

dengan

absorben

(N,N

dimetilformida). Sebagian asetilen akan masuk kedalam konverter dengan


dilakukan penambahan H2, dengan tujuan untuk memperoleh etilen yang
lebih banyak. Pada Acetylene konverter terjadi reaksi C2H2 + H2 C2H4.
Keluaran dari dalam acetylen konverter berupa C2H4 akan dipisahkan
secara destilasi di ethylene topping still, dimana bottomtopping still akan
dilewatkan pada heater dan kembali kedalam ethylene tailing still untuk
memperoleh ethylene yang lebih murni. Keluaran dari bottom-tailing still
berupa C2H6 akan direcycle kembali kedalam splitter. Sebagian hasil
keluaran dari splitter dialirkan ke dalam unit acetylene bersama dengan
absorber (N,N dimetilformida) yang akan dipisahkan dari senyawasenyawa yang masih terikut di dalam acetylene seperti absorben (N,N
dimetilformida) pada unit stripper dimana asetilen sebagai produk akan
dihasilkan. Dan absorben (N,N dimetilformida) akan diekstraksi kembali
ke dalam unit asetilen. Sehingga hasil keluaran yang diperoleh berupa
ekstrak yaitu acetylene. Dan solven akan di recycle kembali ke dalam unit
acetylene.
Pada bottom produk dari unit separator berupa C3-C4 dan
komponen gas lain akan dicuci dengan soda kaustik (NaOH) di dalam
washer untuk mengikat CO2 dan juga NaOH bereaksi dengan CO 2. Hasil
keluaran dari washer seperti C3-C4 dan sedikit komponen C1-C3 akan
difraksionasi untuk memisahkan antara fraksi C1-C3 dan C3-C4. Dimana
akan didapatkan fraksi C3-C4 pada bottom produk. Dan fraksi C1-C3 akan
dihasilkan pada top produk. Fraksi C1-C3 pada perfractionator akan

direcycle kembali ke dalam washer. Dan hasil didapatkan pada bottom


produk pada perfractionator berupa C3-C4 akan dialirkan dengan senyawa
C3 yang didapatkan dari hasil pemisahan antara fraksi C 2 dan C3 yang
terjadi pada deethanizer, kemudian fraksi C3-C4 dan fraksi C3 akan
dipisahkan secara destilasi berdasarkan titik didih pada unit debutanizer,
dimana yang memiliki titik didih yang tinggi akan dihasilkan pada top
produk pada debutanizer yaitu senyawa C3-C4. Lalu produk C3-C4 yang
dihasilkan pada top produk debutanizer akan pisahkan dengan cara
destilasi yang didasarkan titik didih. Dimana titik didih yang redah akan
dihasilkan pada top produk dan titik didih yang tinggi akan dihasilkan
pada bottom produk. Pada top produk di dapatkan fraksi C 3 akan
dikondenser dan dipisahkan dari beberapa senyawa fase gas C2 dan C4
yang terdapat pada senyawa C3 pada unit splitter. Sehingga didapatkan
pada top produk splitter yaitu propylene sebagai produk sampingnya,
sedangkan pada bottom produk yang masih mengandung senyawa
aromatik akan dipisahkan secara destilasi berdasarkan fasenya pada unit
return tower, dimana pada return tower terjadi pemisahan antara senyawa
aromatik dan fuel gas (bahan bakar). Lalu pada bottom produk hasil
pemisahan pada depropanizer diabsorbsi untuk menyerap C4 sehingga
didapatkan senyawa C4 pada top produk dari unit absrober dengan
menggunakan absorber berupa DMF, sedangkan pada senyawa C4 yang
masih mengandung produk berupa butadien akan dialirkan pada unit
stripper dan dipisahkan pada unit stripper secara destilasi berdasarkan titik
didihnya. Dimana titik didih untuk senyawa butadiene yaitu -6,3C akan
didapatkan pada top produk dari unit stripper sedangkan titik didih yang
tinggi untuk senyawa C4 yaitu sekitar -0,5C akan dihasilkan pada bottom
produk. Dan pada bottom produk yang berupa senyawa C 4 akan diabsorbsi
pada unit kembali pada unit absorber untuk didapatkan produk samping
yang berupa senyawa C4. Fraksi gas C2 dan C4 dan beberapa fraksi C3 yang
masih terikut dalam pemisahan pada unit C3 splitter akan direcycle
kembali kedalam pirolisis furnace. Lalu pada pirolisis furnace terjadi

reaksi antara H2O dan O2 sehingga menghasilkan excess steam. Dimana


senyawa C2, C3, dan C4 digunakan sebagai bahan baku dan fuel gas
digunakan sebagai bahan bakar. Lalu panas hasil pembakaran pada
pirolisis furnace akan diubah pada unit boiler sehingga menghasilkan
steam pada top produk boiler dan produk yang dihasilkan pada unit boiler
yaitu C1-C4, CO, CO2 dan H2 serta beberapa padatan yang masih terikut
akan dicuci pada unit scrubber sehingga didapatkan buangan berupa
minyak dan padatan, pencucian dilakukan dengan penambahan oil. Lalu
hasil pada top produk yang berupa C1-C4, CO, CO2 dan H2 pada scrubber
direcycle kembali kedalam unit kompresor untuk dilakukan proses
selanjutnya. Dana proses ini dilakukan secara kontinyu.

II. 1. 8 Kegunaan Produk


a. Produk Utama
1. Etilen atau etena (C2H6) dapat digunakan :

Sebagai obat bius bila dicampur dengan O2.

Sebagai hormon bagi tumbuhan yang dapat menstimulasi


pematangan

buah-buahan,

merangsang

pemekaran

bunga,dan mengakhiri masa dormansi pada tumbuhan.

Sintesis zat lain (gas alam, minyak bumi, etanol)

2. Acetylene dalam perbengkelan digunakan :

Untuk memotong dan menyambung benda yang terbuat


dari logam seperti plat besi, pipa dan poros.

Sebagai bahan bakar analisa laboratorium dan rumah sakit.

b. Produk Samping

Butadiena sering digunakan sebagai bahan bakar.


Propylene dapat digunakan sebagai bahan baku industri
untuk membuat plastik, karet sintetik dan alkohol.

Etana dapat digunakan sebagai bahan mentah untuk


produksi etilena atau etena (C2H4) melalui perengkahan
kukus (steam cracking).

Metana dalam bentuk gas alam terkompresi digunakan


sebagai bahan bakar kendaraan. Dan juga Metana

digunakan dalam proses industri kimia dan dapat diangkut


sebagai cairan yang dibekukan (gas alam cair). Selain itu
juga, metana digunakan untuk zat bakar dan sintesis
senyawa metil klorida dan metanol.

Propana umumnya digunakan sebagai bahan bakar untuk


mesin, baberque (pemanggang) dan di rumah-rumah. Dan
juga digunakan untuk sintesis propanal.

Butena digunakan sebagai bahan pembuatan karet sintesis.

Propena digunakan sebagai bahan untuk sintesis gliserol,


isopropil dan plastik polipropilena.

II. 1. 9 Kegunaan Alat


Pylorisis Furnace

: Sebagai tempat pembakaran dengan


bahan bakar berupa fuel.

Boiler

: Sebagai tempat untuk mengubah air


menjadi uap supertheated.

Scrubber

: Sebagai tempat untuk


membersihkan sisa-sisa minyak dari
gas hasil penyulingan dengan
menggunakan oil.

Kompressor

: Sebagai tempat mengambil gas

refinery dari Scrubber menuju


washer.
Menara pencuci (washer)

: Menara Pencuci sebagai tempat


untuk membersihkan gas komponen
dari gas CO2 dengan menggunakan
larutan NaOH.

Gas Dryer
Demethanizer
Deethanizer
Splitter

Stripper
Acetylene Converter
Perfractionator
Debutanizer

Depropanizer

: Sebagai tempat untuk


mengeringkan fraksi gas C1- C3.
: Merupakan Destilator untuk
memisahkan fraksi C1 dari fraksi
C2-C3.
: Merupakan Destilator untuk
memisahkan fraksi C2-C3.
: Merupakan Destilator untuk
memisahakan Etana dari gas fraksi
C2. Dan sebagai tempat untuk
memisahkan Propylene dari fraksi fraksi gas.
: Sebagai tempat untuk memisahkan
suatu komponen dari zat-zat lain
yang terlarut didalamnya.
: Sebagai tempat bereaksinya
acetylene dengan H2.
: Sebagai tempat untuk memisahkan
C3-C4 menjadi fraksi-fraksinya
: Sebagai tempat untuk memisahkan
senyawa aromatic dari fraksi-fraksi
gas.
: Sebagai tempat untuk memisahkan
Fraksi C4 dari fraksi gas C3.

Return Tower

: Sebagai tempat untuk memisahkan

senyawa Aromatic dengan fuel gas.


Absorber

: Sebagai tempat untuk memisahkan


senyawa C4 dengan Senyawa
Butadiene.

II. 1. 10 Kesimpulan
Etilen dan Asetilen dapat dihasilkan dari proses pirolisis steam dari
Hidrokarbon.
Naptha atau petroleum eter selain sebagai pelarut dapat juga
digunakan sebagai bahan baku dalam industry petrokimia.
Asetilene dapat dihasilkan dari reaksi antara etilen dengan gas
hidrogen.

DAFTAR PUSTAKA

Chaptere,dryden.1963.outlines of chemical technology.2nd en.


.....................Perrys Chemical Engineering Handbook.7th en.
Achmadi,Suminar.1990.Kimia Organik.Jakarta : Penerbit erlangga
http://wikipedia.com/.
http://www.scribd.com/doc/24553568/reaksi-alkena-alkana-alkuna
http://117.102.86.211/ina/product/industri-asetilen
http://howgreenareyou.wordpress.com
http://www.slideshare.net/alkana-1945703
http://kimiaman.blogspot.com/2010/09/reaksi-dalam-alkana-alkena-danalkuna
http://www.chem-is_try.org/materi_kimia/sifat_senyawa_organik/
alkana1/pembakaran_akana
http://kimia-master.blogspot.com/2011/11/definisi-naftalena-adalah
hidrokarbon.html

Pertanyaan
Nama : Belly Kurniawan
Pertanyaan :
Kenapa digunakan larutan NaOH sebagai larutan pencuci pada
proses ini ? alasan apa sebagian produk acetylene dimasukkan ke
dalam unit acetylen dan acetylen konverter ?
Jawaban :
Alasannya, karena NaOH digunakan karena dapat mengikat
senyawa CO2. Dan juga NaOH dapat bereaksi dengan senyawa
CO2. Lalu produk yang masuk kedalam unit acetylene yaitu
acetylen yang munir sedangkan acetylen yang belum murni
dilakukan proses konverter pada acetylen konverter dengan
penambahan H2 sehingga akan menghasilkan produk utama kedua
yaitu Etilen (C2H4).

Nama : Muhammad Riswan


Pertanyaan :
Kenapa produk dimasukkan pada return tower ?
Jawaban :
Karena produk yang dihasilkan pada unit debutanizer yang masih
mengandung senyawa aromatik, lalu pada returtn tower terjadi
pemisahan antara senyawa aromatik dengan fuel gas.
Nama : Rosdelima
Pertanyaan :
Kenapa harus dilakukan pemasukan pada unit-unit lainnya,
padahal produk sudah didapatkan? Dan apakah fungsi heater pada
masing-masing alat ?
Jawaban :
Karena produk samping yang dihasilkan para proses ini harus
digunakan akar buangan yang dihasilkan lebih bermanfaat. Lalu
fungsi heater pada proses ini yaitu dimana proses ini berlangsung
dengan suhu sekitar 700C - 800C, dengan kata lain suhu tersebut

harus dijaga pada setiap unitnya. Oleh karena itulah dibutuhkan


heater pada setiap alatnya.

Lampiran
Asetilena
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Asetilen)
Belum Diperiksa
Asetilena (Nama sistematis: etuna) adalah suatu hidrokarbon yang
tergolong kepada alkuna, dengan rumus C2H2. Asetilena merupakan alkuna
yang paling sederhana, karena hanya terdiri dari dua atom karbon dan dua
atom hidrogen. Pada asetilena, kedua karbon terikat melalui ikatan rangkap
tiga, dan masing-masing atom karbon memiliki hibridisasi orbital sp untuk
ikatan sigma. Hal ini menyebabkan keempat atom pada asetilena terletak
pada satu garis lurus, dengan sudut C-C-H sebesar 180.
Asetilena ditemukan oleh Edmund Davy pada 1836, yang menyebutnya
karburet baru dari hidrogen. Nama asetilena diberikan oleh kimiawan Perancis
Marcellin Berthelot, pada 1860. Pada 1812, sebuah ledakan asetilena
membutakan fisikawan Gustaf Daln, yang kemudian di tahun yang sama
memperoleh hadiah Nobel di bidang fisika.[1]

[sunting] Reaksi
Reaksi pirolisis asetilena dimulai pada temperatur 400 C(673 K) (cukup
rendah untuk hidrokarbon). Hasil utamanya adalah dimer vinilasetilena (C4H4)
dan benzena. Pada temperatur diatas 900 C(1173 K), hasil utama reaksi
adalah jelaga (karbon hitam).
Berthelot menunjukkan bahwa senyawa alifatik dapat diubah menjadi
senyawa aromatik, dengan memanaskan asetilena di dalam tabung reaksi
menghasilkan benzena dan sedikit toluena. Berthelot juga mengoksidasi
asetilena menghasilkan asam asetat dan asam oksalat. Ia juga menemukan
reduksi asetilena dengan hidrogen menghasilkan etilena dan etana.
Polimerasi asetilena dengan katalis Ziegler-Natta menghasilkan lapisan
poliasetilena. Poliasetilena, rantai molekul karbon dengan ikatan tunggal dan
ganda berselang-seling, merupakan semikonduktor organik yang pertama
sekali ditemukan; reaksi dengan iodin menghasilkan bahan yang amat
konduktif.
[sunting] Reaksi-reaksi Reppe

Walter Reppe menemukan bahwa asetilena dapat bereaksi pada tekanan


tinggi dengan katalis logam berat menghasilkan senyawa-senyawa yang
penting dalam industri.

Asetilena bereaksi dengan alkohol, hidrogen sianida, hidrogen klorida


atau asam karboksilat menghasilkan senyawa-senyawa vinil.

Dengan aldehida menghasilkan diol etunil.

Misalnya asetilena dan formaldehida menghasilkan 1,4-butunadiol sesuai


reaksi dibawah ini, yang digunakan dalam industri
HCCH + CH2O CH2(OH)CCCH2OH

Dengan karbon monoksida menghasilkan asam akrilat, atau ester


akrilat, yang dapat digunakan untuk memproduksi kaca akrilat.

Siklisisasi menghasilkan benzena dan siklooktatetraena:

Referensi
1. ^ "Gustaf Daln". Nobelprize.org. Diakses pada Kesalahan: waktu
tidak valid
Memisahkan dan menyimpan gas asetilen menggunakan scecair ionik.
Proses super hijau
Ditulis dalam teknologi hijau oleh mAthA inggin bixara pada Juli 21, 2009
Latar belakang
Gas asetilen (C2H2) diperoleh terutama melalui proses pembakaran metan atau sebagai produk
samping perengkahan nafta atau gas alam [1,2]. Dalam proses pemurniannya, hasil perengkahan
tadi dialirkan ke dalam kolom untuk diekstrak menggunakan pelarut organik N,Ndimetilformamida (DMF) atau N-metilpirrolidone (NMP) demi mendapatkan asetilen yang
terpisah dari fraksi gas lain (etilen) [3]. Tapi proses ini bukannya tanpa masalah karena pelarut
organik yang digunakan termasuk beracun dan mudah lepas ke lingkungan karena kesetimbangan
tekanan uapnya relatif tinggi (sifat khas pelarut organik yang mudah menguap).
Dalam industri polimerisasi poliolefin, bahan baku gas etilen seringkali terkontaminasi dengan gas
asetilen dan pemisahannya cukup sulit karena memiliki titik didih serupa. Kontaminan ini dapat
meracuni katalis (misalnya katalis ziegler-Natta) dan bahkan bisa bereaksi dengan material reaktor
dari tembaga membentuk senyawa tembaga-asetilida yang dapat menyumbat reaktor dan mudah
meledak [4]. Oleh karena itu asetilen perlu disingkirkan dari aliran gas etilen. Salah satu cara yang
populer dan dikenal di industri adalah reaksi hidrogenasi selektif (selective hydrogenation)
menggunakan katalis paladium-silver yang diemban oleh karbon atau alumina [5]. Proses ini lagilagi masih memiliki banyak masalah diantaranya adalah pemakaian katalis dari logam transisi
yang mahal dan terjadi reaksi hidrogenasi samping yang mengubah etilen menjadi etana.
Dalam praktek, asetilen disimpan dalam tabung silinder logam dengan cara dilarutkan dalam
aseton dan diberi tekanan kurang lebih 15 psi [6]. Aseton berfungsi semacam pelarut yang bisa
menampung dan meredam kereaktifan asetilen karena molekul asetilen dan aseton saling
berasosiasi. Tapi pelarut ini lagi-lagi adalah pelarut organik yang mudah menguap dan terbakar.
Selain itu, tekanan yang diberikan hanya sebatas 15 psi karena asetilen pada tekanan lebih tinggi
(yang artinya konsentrasi lebih tinggi) memiliki potensi ledakan dan terpolimerisasi (self
polimerization).
Kimia asetilen dan proses ekstraksi
Mengapa menggunakan DMF atau NMP? Salah satu alasannya adalah (selain pelarut tersebut
diproduksi massal dan umum digunakan), DMF dan NMP digolongkan sebagai senyawa amida
dan memiliki sifat basa lemah. Sementara itu, asetilen walaupun berbentuk gas memiliki karakter

asam. Asetilen memiliki dua buah atom hidrogen yang masing-masing terikat pada dua atom
karbon berikatan rangkap 3. Ikatan antar karbon rangkap 3 ini meningkatkan kepolaran masingmasing atom, sehingga hidrogen memiliki sedikit muatan positif dan karbon memiliki muatan
negatif. Kepolaran inilah yang memberikan derajat Keasaman atom hidrogen pada molekul
asetilen (pKa = 25) [1]. Walaupun asam sangat-sangat lemah tapi sifat ini memiliki dampak besar
dan bisa dieksploitasi, apalagi dalam konsentrasi yang besar (bulk quantity). Dengan DMF atau
NMP yang mengemban sifat basa lemah, diharapkan ekstraksi asetilen berlangsung tuntas dan
selektif, karena gas-gas hidrokarbon lain misalnya etilen, butana, metan dan lain-lain tidak
memiliki karakteristik seperti asetilen.
Perspektif proses ekstraksi dan penyimpanan alternatif
Oleh karena beberapa masalah yang telah disebutkan di atas, maka diusulkan sebuah sistem
pelarut baru yang memiliki kapasitas dan selektifitas ekstrasi besar, memiliki tekanan uap rendah
(negligible vapor pressure), tidak mudah terurai oleh panas atau proses kimiawi (thermally and
chemically stable), dan tidak mudah terbakar (nonflammable). Serta diharapkan ada sebuah proses
pemurnian atau pemisahan asetilen yang bisa bekerja secara daur ulang pada suhu relatif rendah
sehingga tidak membutuhkan energi tambahan.
Sebuah grup penelitian dari kampus Kyung Hee, Korea Selatan mencoba mengeksploitasi sebuah
sistem pelarut baru yang dikenal sebagai cecair ionik (ionic liquids) [7]. Sekilas tentang aspek
kimia dan praktis dari cecair ini dapat dilihat pada artikel di halaman ini. Cecair ionik adalah
cairan garam yang berbentuk cair atau lelehan pada suhu kamar. Sifat ikatan kimia maupun fisika
antar ion penyusun lelehan ini menyebabkan dia memiliki sifat istimewa disamping sifat cairnya,
salah satu yang paling menonjol adalah tekanan uapnya yang nyaris nol. Selain itu cecair ionik
bisa diatur sifat fisika-kimianya dengan memodifikasi struktur ion-ionnya. Prinsipnya, cecair ionik
memenuhi hampir seluruh prasyarat yang dibutuhkan sebagai pelarut alternatif yang lebih hijau
dalam proses pemisahan dan penyimpanan asetilen.
Penelitian awal [8] memberikan hasil mengejutkan karena dengan pemilihan cecair ionik yang
tepat disesuaikan dengan karakteristik keasaman asetilen, maka dapat dicapai pemisahan selektif
asetilen dari campuran asetilen/etilen jauh lebih baik dibanding pelarut konvensional DMF atau
NMP. Disamping itu, proses regenerasi atau daur ulang cacair ionik relatif mudah karena cukup
menggunakan vakum sambil diberi sedikit panas untuk menarik semua gas terlarut dari cairan
(100% bersih, bebas gas). Hal ini tentu sangat sulit diterapkan pada pelarut organik karena mereka
akan ikut tersedot oleh alat vakum dan menguap bersama gas. Cecair ionik tersebut juga memiliki
kapasitas penglarutan yang jauh lebih tinggi dibanding DMF maupun NMP sehingga layak
dijadikan medium alternatif penyimpan asetilen yang stabil. Dengan menggunakan cecair ionik,
masalah ekonomi sekaligus masalah lingkungan dalam proses pemisahan asetilen bisa diatasi
sekaligus.

Ilustrasi interaksi cecair ionik 1-etil-3-metil-imidazolium acetate dengan gas asetilen


Penelitian menunjukkan bahwa terjadi interaksi khusus antara asetilen dengan cecair ionik
sehingga kelarutan asetilen relatif lebih tinggi dibanding kelarutan metan, etilen, butan, butadien,
dan beberapa hidrokarbon lain serta CO2, CO, oksigen, nitrogen maupun hidrogen [9]. Kini tim

peneliti sedang menunggu kerjasama aktif dari kalangan industri yang tertarik memanfaatkan
proses ini yang bisa dikatakan sebagai super green technology.
Propena
Dari Wikipedia, ensiklopedia bebas
Propena, juga dikenal sebagai propylene, adalah tak jenuh senyawa organik mempunyai rumus
kimia C 3 H 6. Ia memiliki satu ikatan rangkap , dan merupakan anggota paling sederhana kedua
dari alkena kelas hidrokarbon , dan juga kedua dalam kelimpahan
Pada suhu kamar , propena adalah gas, dan seperti banyak lainnya alkena , juga berwarna dengan
bau yang tidak menyenangkan tetapi lemah. [1]
Propena memiliki kepadatan lebih tinggi dan titik didih dari etilena karena lebih besar ukurannya.
Memiliki titik didih yang lebih rendah sedikit daripada propana dan dengan demikian lebih stabil .
Ini kurang kuat obligasi kutub , namun molekul kecil memiliki momen dipol karena simetri
direduksi (nya grup jalur yang C s ).
Propena memiliki rumus empiris sama seperti siklopropana tetapi atom mereka yang terhubung
dalam cara yang berbeda, membuat molekul-molekul isomer struktural .
[ sunting ] Produksi
Propena dihasilkan dari bahan bakar fosil - minyak , gas alam dan untuk tingkat yang jauh lebih
rendah batubara . Propena adalah produk sampingan dari pemurnian minyak dan pengolahan gas
alam . Etilen, propena, dan senyawa lain dihasilkan oleh cracking molekul hidrokarbon yang lebih
besar. Propena dipisahkan oleh distilasi fraksional dari campuran hidrokarbon yang diperoleh dari
cracking dan proses penyulingan lainnya.
Propena produksi tetap statis pada sekitar 35 juta ton (Eropa dan Amerika Utara saja) 2000-2008
tetapi telah meningkat di Asia Timur, terutama Singapura dan China. [2] [3] Total produksi dunia
propena saat ini sekitar setengah bahwa etilena.
[ sunting ] Penggunaan
Propena adalah produk awal kedua yang paling penting dalam industri petrokimia setelah etilen.
Ini adalah bahan baku untuk berbagai produk. Produsen plastik polypropylene account selama
hampir dua pertiga dari semua permintaan. Polypropylene adalah, misalnya, diperlukan untuk
produksi film,, kemasan tudung dan penutup serta untuk aplikasi lain. Pada tahun 2008 penjualan
di seluruh dunia propena mencapai nilai lebih dari 90 miliar dolar AS. [4]
Propena dan benzene dijabarkan ke dalam aseton dan fenol melalui proses kumena . Propena juga
digunakan untuk memproduksi isopropanol (propan-2-ol), akrilonitril , propilena oksida
(epoxypropane) dan epiklorohidrin . [5]
[ sunting ] Reaksi
Propena menyerupai alkena lain dalam hal ini mengalami penambahan reaksi relatif mudah pada
suhu kamar. Kelemahan relatif dari ikatan rangkap (yang kurang kuat dari dua ikatan tunggal)
menjelaskan kecenderungan untuk bereaksi dengan zat yang dapat mencapai transformasi ini.

reaksi alkena meliputi: 1) polimerisasi , 2) oksidasi , 3) halogenasi dan hydrohalogenation , 4)


alkilasi , 5) hidrasi , 6) oligomerisasi , dan 7) hidroformilasi .
Etilen
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Belum Diperiksa
Etilen merupakan hormon tumbuh yang diproduksi dari hasil metabolisme normal dalam tanaman.
Etilen berperan dalam pematangan buah dan kerontokan daun. Etilen disebut juga ethene[1]
Senyawa etilen pada tumbuhan ditemukan dalam fase gas, sehingga disebut juga gas etilen. Gas
etilen tidak berwarna dan mudah menguap[2].
Etilen memiliki struktur yang cukup sederhana dan diproduksi pada tumbuhan tingkat tinggi.

Sejarah Etilen

Zaman Mesir kuno, etilen telah digunakan untuk menstimulasi


pematangan buah
Zaman Cina kuno, etilen digunakan untuk pematangan buah pir
dengan cara memberikan gas etilen pada pir dalam ruangan tertutup

Tahun 1864, lampu jalan raya ternyata mengeluarkan gas yang dapat
membuat akar mengecil dan merusak pertumbuhan

Tahun 1901, ilmuwan Rusia, Dimitry Neljubow menemukan bahwa


senyawa aktif tersebut dalah etilen[3].

Tahun 1917, ilmuwan bernama Doubt menemukan bahwa etilen dapat


menyebabkan absisi (kerontokan)[4].

Tahun 1934, ilmuwan bernama Gane menemukan penjelasan mengenai


sintesis etilen oleh tanaman[5].

Tahun 1935, Croker menemukan bahwa etilen merupakan hormon


tumbuhan yang berperan dalam pematangan buah dan penghambatan
jaringan vegetatif[6].

Sekarang, etilen banyak digunakan untuk berbagai tujuan

[sunting] Kerjasama dengan Hormon Lain


Apabila konsentrasi etilen dangat tinggi dibanding hormon auksin dan giberelin, etilen dapat
menghambat proses pembentukkan batang, akar, dan bunga. Namun etilen juga dapat merangsang
pembentukkan bunga bila bersama-sama dengan hormon auksin [6].
[sunting] Manfaat Etilen

Etilen sering dimanfaatkan oleh para distributor dan importir buah. Buah dikemas dalam bentuk
belum masak saat diangkut pedagang buah. Setelah sampai untuk diperdagangkan, buah tersebut
diberikan etilen (diperam) sehingga cepat masak.
Dalam pematangan buah, etilen bekerja dengan cara memecahkan klorofil pada buah muda,
sehingga buah hanya memiliki xantofil dan karoten. Dengan demikian, warna buah menjadi jingga
atau merah[7].
Pada aplikasi lain, etilen digunakan sebagai obat bius (anestesi)[2].
Fungsi lain etilen secara khusus adalah[8]:

Mengakhiri masa dormansi


Merangsang pertumbuhan akar dan batang

Pembentukan akar adventif

Merangsang absisi buah dan daun

Merangsang induksi bunga Bromiliad

Induksi sel kelamin betina pada bunga

Merangsang pemekaran bunga

[sunting] Biosintesis dan Metabolisme


Etilen diproduksi oleh tumbuhan tingkat tinggi dari asam amino metionin yang esensial pada
seluruh jaringan tumbuhan. Produksi etilen bergantung pada tipe jaringan, spesies tumbuhan, dan
tingkatan perkembangan[9]. Etilen dibentuk dari metionin melalui 3 proses[10]:

ATP merupakan komponen penting dalam sintesis etilen. ATP dan air
akan membuat metionin kehilangan 3 gugus fosfat.
Asam
1-aminosiklopropana-1-karboksilat
sintase(ACC-sintase)
kemudian memfasilitasi produksi ACC dan SAM (S-adenosil metionin).
Oksigen dibutuhkan untuk mengoksidasi ACC dan memproduksi etilen.
Reaksi ini dikatalisasi menggunakan enzim pembentuk etilen.

Dewasa ini dilakukan penelitian yang berfokus pada efek pematangan buah. ACC sintase pada
tomat menjadi enzim yang dimanipulasi melalui bioteknologi untuk memperlambat pematangan
buah sehingga rasa tetap terjaga.

[sunting] Referensi
1. ^ Winarno FG, Agustinah W. 2007. Pengantar Bioteknologi. Ed.rev.
Bogor:Mbrio Press
2. ^ a b Yatim W. 2007. Kamus Biologi. Jakarta: Obor.

3. ^ Neljubow, D. N. (1901). "Uber die horizontale nutation der stengel


von Pisum sativum und einiger anderen". Pflanzen Beitrage und
Botanik

Sifat-sifat Alkana
Ditulis oleh Sukarmin pada 01-10-2009
Sifat fisik
1. Semua alkana merupakan senyawa polar sehingga sukar larut dalam air. Pelarut yang baik untuk
alkana adalah pelarut non polar, misalnya eter. Jika alkana bercampur dengan air, lapisan alkana
berada di atas, sebab massa jenisnya lebih kecil daripada 1.
2. Pada suhu kamar, empat suku pertama berwujud gas, suku ke 5 hingga suku ke 16 berwujud
cair, dan suku diatasnya berwujud padat.
3. Semakin banyak atom C, titik didih semakin tinggi. Untuk alkana yang berisomer (jumlah atom
C sama banyak), semakin banyak cabang, titik didih semakin kecil.
Tabel 4. Beberapa sifat fisik alkana

Nama alkana

Rumus
Mr
molekul

Titik leleh

Titik didih

Kerapatan

Fase

(oC)

(0C)

(g/Cm3)

pada
250C

Metana
CH4

16

-182

-162

0,423

Gas

C2H6

30

-183

-89

0,545

Gas

C3H8

44

-188

-42

0,501

Gas

C4H10

58

-138

-0. 5

0,573

Gas

C5H12

72

-130

36

0,526

Cair

C6H14

86

-95

69

0,655

Cair

C7H16

100

-91

99

0,684

Cair

C17H36

240

22

302

0,778

Cair

Etana
Propana
Butana
Pentana
Heksana
Heptana

Heptadekana

Oktadekana
C18H38

254

28

316

0,789

Padat

C19H40

268

32

330

0,789

Padat

C20H42

282

37

343

0,789

Padat

Nonadekana
Iikosana

Sifat kimia
1. Pada umumnya alkana sukar bereaksi dengan senyawa lainnya.
2. Dalam oksigen berlebih, alkana dapat terbakar menghasilkan kalor, karbon dioksida dan uap air.

3. Jika alkana direaksikan dengan unsur-unsur halogen (F2, Cl2, Br2, I2), atom -atom H pada
alkana akan digantikan oleh atom-atom halogen.

Air
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Air dalam tiga wujudnya, cairan di laut, es yang mengambang, dan awan di
udara yang merupakan uap air.
Air adalah zat atau materi atau unsur yang penting bagi semua bentuk kehidupan yang diketahui
sampai saat ini di bumi,[1][2][3] tetapi tidak di planet lain.[4] Air menutupi hampir 71% permukaan
bumi. Terdapat 1,4 triliun kilometer kubik (330 juta mil) tersedia di bumi. [5] Air sebagian besar
terdapat di laut (air asin) dan pada lapisan-lapisan es (di kutub dan puncak-puncak gunung), akan
tetapi juga dapat hadir sebagai awan, hujan, sungai, muka air tawar, danau, uap air, dan lautan es.
Air dalam obyek-obyek tersebut bergerak mengikuti suatu siklus air, yaitu: melalui penguapan,
hujan, dan aliran air di atas permukaan tanah (runoff, meliputi mata air, sungai, muara) menuju
laut. Air bersih penting bagi kehidupan manusia. Di banyak tempat di dunia terjadi kekurangan
persediaan air. Selain di bumi, sejumlah besar air juga diperkirakan terdapat pada kutub utara dan
selatan planet Mars, serta pada bulan-bulan Europa dan Enceladus. Air dapat berwujud padatan
(es), cairan (air) dan gas (uap air). Air merupakan satu-satunya zat yang secara alami terdapat di
permukaan bumi dalam ketiga wujudnya tersebut. [6] Pengelolaan sumber daya air yang kurang baik
dapat menyebakan kekurangan air, monopolisasi serta privatisasi dan bahkan menyulut konflik. [7]
Indonesia telah memiliki undang-undang yang mengatur sumber daya air sejak tahun 2004, yakni
Undang Undang nomor 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air

Sifat-sifat kimia dan fisika


Air adalah substansi kimia dengan rumus kimia H2O: satu molekul air tersusun atas dua atom
hidrogen yang terikat secara kovalen pada satu atom oksigen. Air bersifat tidak berwarna, tidak
berasa dan tidak berbau pada kondisi standar, yaitu pada tekanan 100 kPa (1 bar) and temperatur
273,15 K (0 C). Zat kimia ini merupakan suatu pelarut yang penting, yang memiliki kemampuan
untuk melarutkan banyak zat kimia lainnya, seperti garam-garam, gula, asam, beberapa jenis gas
dan banyak macam molekul organik.
Keadaan air yang berbentuk cair merupakan suatu keadaan yang tidak umum dalam kondisi
normal, terlebih lagi dengan memperhatikan hubungan antara hidrida-hidrida lain yang mirip
dalam kolom oksigen pada tabel periodik, yang mengisyaratkan bahwa air seharusnya berbentuk
gas, sebagaimana hidrogen sulfida. Dengan memperhatikan tabel periodik, terlihat bahwa unsurunsur yang mengelilingi oksigen adalah nitrogen, flor, dan fosfor, sulfur dan klor. Semua elemenelemen ini apabila berikatan dengan hidrogen akan menghasilkan gas pada temperatur dan tekanan
normal. Alasan mengapa hidrogen berikatan dengan oksigen membentuk fasa berkeadaan cair,
adalah karena oksigen lebih bersifat elektronegatif ketimbang elemen-elemen lain tersebut (kecuali
flor). Tarikan atom oksigen pada elektron-elektron ikatan jauh lebih kuat dari pada yang dilakukan
oleh atom hidrogen, meninggalkan jumlah muatan positif pada kedua atom hidrogen, dan jumlah
muatan negatif pada atom oksigen. Adanya muatan pada tiap-tiap atom tersebut membuat molekul
air memiliki sejumlah momen dipol. Gaya tarik-menarik listrik antar molekul-molekul air akibat
adanya dipol ini membuat masing-masing molekul saling berdekatan, membuatnya sulit untuk
dipisahkan dan yang pada akhirnya menaikkan titik didih air. Gaya tarik-menarik ini disebut
sebagai ikatan hidrogen.
Air sering disebut sebagai pelarut universal karena air melarutkan banyak zat kimia. Air berada
dalam kesetimbangan dinamis antara fase
Etana
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Belum Diperiksa
Etana adalah sebuah senyawa kimia dengan rumus kimia C2H6. Senyawa ini merupakan alkana
dengan dua karbon, dan merupakan hidrokarbon alifatik. Dalam temperatur dan tekanan standar,
etana merupakan gas yang tak berwarna dan tak berbau. Dalam industri etana dihasilkan dengan
cara diisolasi dari gas alam, dan sebagai hasil samping dari penyulingan minyak.
[sunting] Kegunaan
Kegunaan utamanya adalah sebagai bahan mentah untuk produksi etilena (C2H4) melalui
perengkahan kukus (steam cracking). Etana merupakan bahan yang baik dalam produksi etilena
karena hasil reaksi perengkahan kukus etana memiliki persentase etilena yang cukup banyak,
sedangkan reaksi hidrokarbon lain yang lebih berat menghasilkan produk berupa campuran yang
memiliki sedikit etilena, dan lebih banyak olefina seperti propilena dan butadiena, serta
hidrokarbon aromatik.
Artikel bertopik senyawa kimia ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat
membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Hidrogen

Hidrogen (bahasa Latin: hydrogenium, dari bahasa Yunani: hydro: air, genes: membentuk) adalah
unsur kimia pada tabel periodik yang memiliki simbol H dan nomor atom 1. Pada suhu dan
tekanan standar, hidrogen tidak berwarna, tidak berbau, bersifat non-logam, bervalensi tunggal,
dan merupakan gas diatomik yang sangat mudah terbakar. Dengan massa atom 1,00794 amu,
hidrogen adalah unsur teringan di dunia.
Hidrogen juga adalah unsur paling melimpah dengan persentase kira-kira 75% dari total massa
unsur alam semesta.[1] Kebanyakan bintang dibentuk oleh hidrogen dalam keadaan plasma.
Senyawa hidrogen relatif langka dan jarang dijumpai secara alami di bumi, dan biasanya
dihasilkan secara industri dari berbagai senyawa hidrokarbon seperti metana. Hidrogen juga dapat
dihasilkan dari air melalui proses elektrolisis, namun proses ini secara komersial lebih mahal
daripada produksi hidrogen dari gas alam.[2]
Isotop hidrogen yang paling banyak dijumpai di alam adalah protium, yang inti atomnya hanya
mempunyai proton tunggal dan tanpa neutron. Senyawa ionik hidrogen dapat bermuatan positif
(kation) ataupun negatif (anion). Hidrogen dapat membentuk senyawa dengan kebanyakan unsur
dan dapat dijumpai dalam air dan senyawa-senyawa organik. Hidrogen sangat penting dalam
reaksi asam basa yang mana banyak reaksi ini melibatkan pertukaran proton antar molekul terlarut.
Oleh karena hidrogen merupakan satu-satunya atom netral yang persamaan Schrdingernya dapat
diselesaikan secara analitik, kajian pada energetika dan ikatan atom hidrogen memainkan peran
yang sangat penting dalam perkembangan mekanika kuantum.
[sunting] Sifat kimia
Kelarutan dan karakteristik hidrogen dengan berbagai macam logam merupakan subyek yang
sangat penting dalam bidang metalurgi (karena perapuhan hidrogen dapat terjadi pada kebanyakan
logam [3]) dan dalam riset pengembangan cara yang aman untuk meyimpan hidrogen sebagai bahan
bakar.[4] Hidrogen sangatlah larut dalam berbagai senyawa yang terdiri dari logam tanah nadir dan
logam transisi[5] dan dapat dilarutkan dalam logam kristal maupun logam amorf.[6] Kelarutan
hidrogen dalam logam disebabkan oleh distorsi setempat ataupun ketidakmurnian dalam kekisi
hablur logam.[7]
[sunting] Pembakaran
Gas hidrogen sangat mudah terbakar dan akan terbakar pada konsentrasi serendah 4% H 2 di udara
bebas.[8] Entalpi pembakaran hidrogen adalah -286 kJ/mol[9]. Hidrogen terbakar menurut
persamaan kimia:
2 H2(g) + O2(g) 2 H2O(l) + 572 kJ (286 kJ/mol)[10]
Ketika dicampur dengan oksigen dalam berbagai perbandingan, hidrogen meledak seketika disulut
dengan api dan akan meledak sendiri pada temperatur 560 C.[11] Lidah api hasil pembakaran
hidrogen-oksigen murni memancarkan gelombang ultraviolet dan hampir tidak terlihat dengan
mata telanjang. Oleh karena itu, sangatlah sulit mendeteksi terjadinya kebocoran hidrogen secara
visual. Kasus meledaknya pesawat Hindenburg adalah salah satu contoh terkenal dari pembakaran
hidrogen.[12] Karakteristik lainnya dari api hidrogen adalah nyala api cenderung menghilang
dengan cepat di udara, sehingga kerusakan akibat ledakan hidrogen lebih ringan dari ledakan
hidrokarbon. Dalam kasus kecelakaan Hidenburg, dua pertiga dari penumpang pesawat selamat
dan kebanyakan kasus meninggal disebabkan oleh terbakarnya bahan bakar diesel yang bocor.[13]

H2 bereaksi secara langsung dengan unsur-unsur oksidator lainnya. Ia bereaksi dengan spontan dan
hebat pada suhu kamar dengan klorin dan fluorin, menghasilkan hidrogen halida berupa hidrogen
klorida dan hidrogen fluorida.[14]
Karbon dioksida
Karbon dioksida (rumus kimia: CO2) atau zat asam arang adalah sejenis senyawa kimia yang
terdiri dari dua atom oksigen yang terikat secara kovalen dengan sebuah atom karbon.
Ia berbentuk gas pada keadaan temperatur dan tekanan standar dan hadir di atmosfer
bumi. Rata-rata konsentrasi karbon dioksida di atmosfer bumi kira-kira 387 ppm
berdasarkan volume [1] walaupun jumlah ini bisa bervariasi tergantung pada lokasi dan
waktu. Karbon dioksida adalah gas rumah kaca yang penting karena ia menyerap
gelombang inframerah dengan kuat.
Karbon dioksida dihasilkan oleh semua hewan, tumbuh-tumbuhan, fungi, dan mikroorganisme
pada proses respirasi dan digunakan oleh tumbuhan pada proses fotosintesis. Oleh karena itu,
karbon dioksida merupakan komponen penting dalam siklus karbon. Karbon dioksida juga
dihasilkan dari hasil samping pembakaran bahan bakar fosil. Karbon dioksida anorganik
dikeluarkan dari gunung berapi dan proses geotermal lainnya seperti pada mata air panas.
Karbon dioksida tidak mempunyai bentuk cair pada tekanan di bawah 5,1 atm namun langsung
menjadi padat pada temperatur di bawah -78 C. Dalam bentuk padat, karbon dioksida umumnya
disebut sebagai es kering.
CO2 adalah oksida asam. Larutan CO2 mengubah warna litmus dari biru menjadi merah muda.
[sunting] Sifat-sifat kimia dan fisika
Lihat pula: Karbon dioksida superkritis dan es kering
Karbon dioksida adalah gas yang tidak berwarna dan tidak berbau. Ketika dihirup pada konsentrasi
yang lebih tinggi dari konsentrasi karbon dioksida di atmosfer, ia akan terasa asam di mulut dan
mengengat di hidung dan tenggorokan. Efek ini disebabkan oleh pelarutan gas di membran
mukosa dan saliva, membentuk larutan asam karbonat yang lemah. Sensasi ini juga dapat
dirasakan ketika seseorang bersendawa setelah meminum air berkarbonat (misalnya Coca Cola).
Konsentrasi yang lebih besar dari 5.000 ppm tidak baik untuk kesehatan, sedangkan konsentrasi
lebih dari 50.000 ppm dapat membahayakan kehidupan hewan.[2]
Pada keadaan STP, rapatan karbon dioksida berkisar sekitar 1,98 kg/m, kira kira 1,5 kali lebih
berat dari udara. Molekul karbon dioksida (O=C=O) mengandung dua ikatan rangkap yang
berbentuk linear. Ia tidak bersifat dipol. Senyawa ini tidak begitu reaktif dan tidak mudah terbakar,
namun bisa membantu pembakaran logam seperti magnesium.
Pada suhu 78,51 C, karbon dioksida langsung menyublim menjadi padat melalui proses
deposisi. Bentuk padat karbon dioksida biasa disebut sebagai "es kering". Fenomena ini pertama
kali dipantau oleh seorang kimiawan Perancis, Charles Thilorier, pada tahun 1825. Es kering
biasanya digunakan sebagai zat pendingin yang relatif murah. Sifat-sifat yang menyebabkannya
sangat praktis adalah karbon dioksida langsung menyublim menjadi gas dan tidak meninggalkan
cairan. Penggunaan lain dari es kering adalah untuk pembersihan sembur.
Cairan kabon dioksida terbentuk hanya pada tekanan di atas 5,1 atm; titik tripel karbon dioksida
kira-kira 518 kPa pada 56,6 C (Silakan lihat diagram fase di atas). Titik kritis karbon dioksida
adalah 7,38 MPa pada 31,1 C.[3]

Terdapat pula bentuk amorf karbon dioksida yang seperti kaca, namun ia tidak terbentuk pada
tekanan atmosfer.[4] Bentuk kaca ini, disebut sebagai karbonia, dihasilkan dari pelewatbekuan CO2
yang terlebih dahulu dipanaskan pada tekanan ekstrem (40-48 GPa atau kira-kira 400.000 atm) di
landasan intan. Penemuan ini mengkonfirmasikan teori yang menyatakan bahwa karbon dioksida
bisa berbentuk kaca seperti senyawa lainnya yang sekelompok dengan karbon, misalnya silikon
dan germanium. Tidak seperti kaca silikon dan germanium, kaca karbonia tidak stabil pada
tekanan normal dan akan kembali menjadi gas ketika tekanannya dilepas.
Karbon monoksida
Karbon monoksida, rumus kimia CO, adalah gas yang tak berwarna, tak berbau, dan tak
berasa. Ia terdiri dari satu atom karbon yang secara kovalen berikatan dengan satu
atom oksigen. Dalam ikatan ini, terdapat dua ikatan kovalen dan satu ikatan kovalen
koordinasi antara atom karbon dan oksigen.
Karbon monoksida dihasilkan dari pembakaran tak sempurna dari senyawa karbon, sering terjadi
pada mesin pembakaran dalam. Karbon monoksida terbentuk apabila terdapat kekurangan oksigen
dalam proses pembakaran. Karbon dioksida mudah terbakar dan menghasilkan lidah api berwarna
biru, menghasilkan karbon dioksida. Walaupun ia bersifat racun, CO memainkan peran yang
penting dalam teknologi modern, yakni merupakan prekursor banyak senyawa karbon.
[sunting] Produksi
Karbon monoksida merupakan senyawa yang sangat penting, sehingga banyak metode yang telah
dikembangkan untuk produksinya.[1]
Gas produser dibentuk dari pembakaran karbon di oksigen pada temperatur tinggi ketika terdapat
karbon yang berlebih. Dalam sebuah oven, udara dialirkan melalui kokas. CO 2 yang pertama kali
dihasilkan akan mengalami kesetimbangan dengan karbon panas, menghasilkan CO. Reaksi O 2
dengan karbon membentuk CO disebut sebagai kesetimbangan Boudouard. Di atas 800 C, CO
adalah produk yang predominan:
O2 + 2 C 2 CO
H = -221 kJ/mol
Kerugian dari metode ini adalah apabila dilakukan dengan udara, ia akan menyisakan campuran
yang terdiri dari nitrogen.
Gas sintetik atau gas air diproduksi via reaksi endotermik uap air dan karbon:
H2O + C H2 + CO
H = 131 kJ/mol
CO juga merupakan hasil sampingan dari reduksi bijih logam oksida dengan karbon:
MO + C M + CO
H = 131 kJ/mol

Oleh karena CO adalah gas, proses reduksi dapat dipercepat dengan memanaskannya. Diagram
Ellingham menunjukkan bahwa pembentukan CO lebih difavoritkan daripada CO2 pada
temperatur tinggi.
CO adalah anhidrida dari asam format. Oleh karena itu, adalah praktis untuk menghasilkan CO
dari dehidrasi asam format. Produksi CO dalam skala laboratorium lainnya adalah dengan
pemanasan campuran bubuk seng dan kalsium karbonat.
Zn + CaCO3 ZnO + CaO + CO
Metode laboratorium lainnya adalah dengan mereaksikan sukrosa dengan natrium hidroksida
dalam sistem tertutup.
[sunting] Reaksi kimia dasar
[sunting] Penggunaan industri
Karbon monoksida adalah gas industri utama yang memiliki banyak kegunaan dalam produksi
bahan kimia pukal (bulk chemical).[4]
Sejumlah aldehida dengan hasil volume yang tinggi dapat diproduksi dengan reaksi hidroformilasi
dari alkena, CO, dan H2.
Metanol diproduksi dari hidrogenasi CO. Pada reaksi yang berkaitan, hidrogenasi CO diikuti
dengan pembentukan ikatan C-C, seperti yang terjadi pada proses Fischer-Tropsch, CO
dihirogenasi menjadi bahan bakar hidrokarbon cair. Teknologi ini mengijinkan batu bara
dikonversikan menjadi bensin.
Pada proses Monsanto, karbon monoksida bereaksi dengan metanol dengan keberadaan katalis
rodium homogen dan HI, menghasilkan asam asetat. Proses ini digunakan secara meluas dalam
produski asam asetat berskala industri.
Karbon monoksida merupakan komponen dasar dari syngas yang sering digunakan untuk tenaga
industri. Karbon monoksida juga digunakan pada proses pemurnian nikel.