Anda di halaman 1dari 30

Laboratorium Ilmu Kesehatan Masyarakat

Kedokteran Keluarga

Fakultas Kedokteran
Universitas Mulawarman

MORBUS HANSEN

Oleh :
Ferdika Suhendra
0910015060
Pembimbing :
dr. Solihin Wijaya
dr. Evi Fitriany, M. Kes
dr. Zulhijrian Noor

Laboratorium/SMF Ilmu Kesehatan Masyarakat


Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman
Puskesmas Lempake Samarinda
2015

BAB I
PENDAHULUAN
Penyakit kusta atau lepra disebut juga Morbus Hansen, adalah sebuah
penyakit infeksi menular kronis yang disebabkan oleh bakteri mycobacterium
leprae. Kusta memiliki dua macam tipe gejala klinis yaitu pausibasilar (PB) dan
multibasilar (MB). Istilah kusta sendiri berasal dari bahasa Sansekerta, yakni
kushtha berarti kumpulan gejala-gejala kulit secara umum. Penyakit kusta disebut
juga Morbus Hansen, karen nama yang menemukan kuman mycobacterium
leprae adalah Dr. Gerhard Armauwer Hansen pada tahun 1874 sehingga penyakit
ini disebut Morbus Hansen.1,2,3
Kusta merupakan penyakit menahun yang menyerang syaraf tepi, kulit dan
organ tubuh manusia yang dalam jangka panjang mengakibatkan sebagian
anggota tubuh penderita tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Meskipun
infeksius, tetapi derajat infektivitasnya rendah. Waktu inkubasinya panjang,
mungkin beberapa tahun, dan tampaknya kebanyakan pasien mendapatkan infeksi
sewaktu masa kanak-kanak. Tanda-tanda seseorang menderita penyakit kusta
antara lain, kulit mengalami bercak putih, merah, ada bagian tubuh tidak
berkeringat, rasa kesemutan pada anggota badan atau bagian raut muka, dan mati
rasa karena kerusakan syaraf tepi. Gejalanya memang tidak selalu tampak. Justru
sebaiknya waspada jika ada anggota keluarga yang menderita luka tak kunjung
sembuh dalam jangka waktu lama. Juga bila luka ditekan dengan jari tidak terasa
sakit. 1,2,3
Kelompok yang berisiko tinggi terkena kusta adalah yang tinggal di daerah
endemik dengan kondisi yang buruk seperti tempat tidur yang tidak memadai, air
yang tidak bersih, asupan gizi yang buruk, dan adanya penyertaan penyakit lain
seperti HIV yang dapat menekan sistem imun. Pria memiliki tingkat terkena kusta
dua kali lebih tinggi dari wanita. 1,2,3
Kusta menyebar luas ke seluruh dunia, dengan sebagian besar kasus
terdapat di daerah tropis dan subtropis, tetapi dengan adanya perpindaham
penduduk maka penyakit ini bisa menyerang di mana saja. Penyakit ini diduga
berasal dari Afrika atau Asia Tengah yang kemudian menyebar keseluruh dunia

lewat perpindahan penduduk ini disebabkan karena perang, penjajahan,


perdagangan antar benua dan pulau-pulau. Berdasarkan pemeriksaan kerangkakerangka manusia di Skandinavia diketahui bahwa penderita kusta ini dirawat di
Leprosariasecara isolasi ketat. Penyakit ini masuk ke Indonesia diperkirakan pada
abad ke IV-V yang diduga dibawa oleh orang-orang India yang datang ke
Indonesia untuk menyebarkan agamanya dan berdagang. 1,2,3
Pada tahun 1991, negara-negara anggota WHO melalui resolusi World
Health Assembly, menyatakan niat mereka untuk mengeliminasi kusta sebagai
masalah kesehatan masyarakat di tahun 2000.Setelah deklarasi resolusi WHA,
Indonesia berkomitmen untuk mengeliminasi kusta pada tahun 2000.4,5
Indonesia kemudian membangun tujuan Program Pengendalian Kusta
Nasional (NLCP) sejalan dengan target global yaitu angka prevalensi menjadi
kurang dari 1 per 10.000 penduduk pada tahun 2000. Strategi Nasional
dirumuskan berdasarkan rekomendasi hasil pertemuan konsultasi manajer
program pengendalian kusta di India pada thuan 1993 yang dapat diterima untuk
situasi Indonesia. Dalam pelaksanaan semua strategi dan kegiatan, isu yang paling
penting adalah memastikan bahwa MDT cukup tersedia di semua fasilitas
kesehatan, dan bahwa semua kasus yang ditemukan diobati dengan MDT.
Kegiatan khusus diberikan untuk daerah yang sulit untuk diakses (Proyek Aksi
Khusus untuk Eliminasi Kusta (SAPEL). Peran semua sektor dan LSM di
Indonesia perlu didentifikasi jenis dukungan, daerah yang didukung, dan sumber
daya yang dibutuhkan untuk dimobilisasi secara tepat waktu. 4,5
Eliminasi kusta tingkat nasional tercapai pada Juli tahun 2000. Pada tahun
2003, lebih kurang 60 % provinsi dan kabupaten telah mencapai eliminasi (17
provinsi dengan 315 kabupaten).

Sejalan

dengan

strategi

global

yang

dicanangkan WHO untuk menurunkan lebih jauh beban karena kusta (2011-2014),
pemerintah mengadopsi tujuan untuk menurunkan angka cacat tingkat 2 per
100.000 penduduk di tahun 2015 sebesar 35% dibandingkan dengan data tahun
2010. 4,5

BAB II
LAPORAN KASUS
2.1. Identitas Pasien
Nama

: Bpk. S. B.

Umur

: 28 tahun

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Alamat

: Jln. Merapi No. 30 RT. 13 Kelurahan Tanah Merah


Kecamatan Samarinda Utara Kota Samarinda

Pekerjaan

: Tidak Berkerja

Pendidikan

: SMP

Suku

: Madura

Agama

: Islam

2.2. Anamnesis
Anamnesis

dilakukan

pada

hari Senin,

11 Januari

2015 secara

autoanamnesis dan alloanamnesis di tempat tinggal pasien.


2.2.1. Keluhan Utama
Bercak putih pada pundak kanan dan dagu
2.2.2. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien mengeluhkan timbulnya bercak putih pada pundak kanan dan dagu
sejak 1 tahun yang lalu. Pasien mengungkapkan bahwa pada awalnya bercak
hanya kecil lalu semakin besar secara perlahan-lahan. Pasien juga mengeluhkan
bahwa daerah dengan bercak tersebut terasa tebal dan kurang sensitif terhadap
sentuhan bila dibandingkan dengan kulit sekitarnya. Tidak ada keluhan rasa gatal
ataupun nyeri pada bercak tersebut. Daerah tersebut juga dirasakan selalu kering
dan tidak berkeringat bila beraktivitas. Terdapat beberapa bagian tubuh yang
mengalami keluhan serupa yaitu kekeringan pada kedua pundak kaki, rasa tebal
pada pinggang kiri, lengan kanan dan ketiak kanan, namun keluhan-keluhan pada
tempat-tempat ini sudah pernah mendapatkan terapi sebelumnya dan pasien

mengatakan keluhan pada daerah-daerah tersebut sudah berkurang. Pasien


menyangkal adanya rontok bulu mata, alis, demam berulang, dan batuk lama.
2.2.3. Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien pertama kali mengalami keluhan serupa pada saat masih Sekolah
Dasar yaitu bercak keputihan pada lengan kanan dan pinggang. Keluhan yang
dirasakan saat itu adalah bercak keputihan yang kecil namun semakin membesar
dalam waktu hitungan tahun hingga lengan atas dan lengan bawah tangan kanan.
Pasien dan keluarga mengira bahwa bercak tersebut adalah jamur sehingga sempat
diobati menggunakan obat salep anti jamur namun tidak ada perubahan. Pasien
lalu dibawa berobat ke Puskesmas lalu di rujuk ke RSUD AWS dan dinyatakan
mengalami Morbus Hansen tipe Multibasiler dan ditemukan bakteri BTA pada
pemeriksaan laboratorium. Pasien kemudian mendapatkan terapi pada periode
tahun 2000-2001 saat duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Setelah
selesai pengobatan bercak dan rasa tebal berkurang. Pada tahun 2004 pasien
mengluhkan kedua pundak kaki terasa tebal dan kering, lalu mendapatkan terapi
Morbus Hansen kedua kalinya pada periode 2004-2005 dan keluhan berkurang.
2.2.4. Riwayat Penyakit Keluarga
1. Tidak ada anggota keluarga yang mengalami keluhan serupa
2. Terdapat riwayat keluarga dengan hipertensi
3. Tidak ada riwayat keluarga dengan alergi, asma, pengobatan TB dan
kencing manis
2.2.5. Riwayat Kontak
Pasien memiliki riwayat kontak terhadap pasien dengan Morbus Hansen
yaitu tetangga pasien yang tinggal di belakang rumah dengan jarak 5m.

2.2.6. Genogram

Keterangan :
= Pasien

= Laki -laki

= Meninggal Dunia

= Perempuan
= Tinggal Serumah

2.3. Pemeriksaan Fisik


2.3.1. Status Generalisata
Keadaan Umum

: Baik

Kesadaran

: Compos mentis

Tinggi badan
Berat badan
BMI
Status gizi

: 167 cm
: 64 kg
: 22,95 kg/m2
: Baik

Tanda Vital
Tekanan darah

120/60 mmHg

Nadi

92 kali/menit, regular, kuat angkat

Frekuensi Nafas

18 kali/menit, reguler

Suhu

36,8 oC per aksiler

Kepala dan Leher:

Kepala

: Mata
Hidung
Telinga
Mulut
Wajah

Leher
Toraks

Inspeksi

: Paru

: Anemis (-), Ikterik (-), Madarosis (-)


: Saddle Nose (-)
: Penebalan Cuping Teling (-)
: Lidah kotor (-), Faring hiperemi (-), Pembesaran tonsil (-)
: Lesi (-), Fascies Leonia (-)
: Pembesaran KGB (-)

Jantung
Palpasi

: Paru
Jantung

Perkusi

: Paru
Jantung

Auskultasi : Paru
Jantung

: Pergerakan dinding dada simetris


: Ictus cordis tidak terlihat
: Fremitus raba dextra = sinistra
: Ictus cordis teraba
: Sonor pada seluruh lapangan paru
: Batas jantung kesan normal
: Suara napas vesikuler, Ronkhi (-/-), Wheezing (-/-)
: S1S2 tunggal-reguler, Murmur (-), Gallop (-)

Abdomen

Inspeksi

: Flat

Palpasi

: Soefl, Nyeri tekan (-), Organomegalli (-), Massa (-)

Perkusi

: Distribusi redup-timpani

Auskultasi : Bising usus (+) kesan normal


Genitalia

: Tidak dilakukan pemeriksaan.

Ekstremitas
Atas

: Edema (-/-), Akral hangat, Kontraktur (-), Claw hand (-)

Bawah

: Edema (-/-), Akral hangat, Ulkus (-)

2.3.2. Status Dermatologis :


Lokalisasi

: 1. Regio Scapularis Dextra


2. Regio Axilaris Dextra

3. Regio Lumbalis Sinistra


4. Regio Dorsum Pedis Dextra et Sinistra
Effloresensi

1,2 dan 3)

: Tampak makula-plak hipopigmentasi, batas tidak tegas,


berukuran plakat, berbentuk oval, asimetris.

4)

: Tampak kering dan mengkilat

2.3.3. Pemeriksaan Tambahan


Pemeriksaan saraf tepi

Nervus medianus

: -/-

Nervus ulnaris dekstra et sinistra

: -/-

Nervus radialis dekstra et sinistra

: -/-

Tes Sensibiltas :
o Rasa raba

: Hipoestesia pada daerah lesi

o Rasa nyeri

: Hipoalgesia pada daerah lesi

2.4. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan bakteriologis

: BTA (-)

2.5. Diagnosis Kerja


Morbus Hansen tipe Multi Basiler Status Release From Treatment
2.6. Penatalaksanaan
2.6.1. Edukasi
Edukasi pasien mengenai :
Menjaga kebersihan pribadi dan lingkungan.
Makan makanan dengan gizi seimbang secara teratur.

2.6.2. Medikamentosa

Pengobatan yang telah diberikan pada pasien setiap bulan selama 12 bulan
adalah :
Pengobatan Bulanan : Hari ke 1 (obat diminum didepan petugas)
a) 2 kapsul rifampisin @ 300 mg (600 mg)
b) 3 tablet clofazimin @ 100 mg (300 mg)
c) 1 tablet dapson @ 100mg
Pengobatan Harian : Hari ke 2-28
a) 1 tablet clofazimine 50 mg
b) 1 tablet dapson 100 mg
2.8. Prognosis
Ad Vitam
Ad Sanationam
Ad Kosmetikum

: Bonam
: Dubia
: Dubia

BAB III
ANALISIS KEDOKTERAN KELUARGA
3.1. Identitas Keluarga
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Keterangan
Nama
Umur
Jenis kelamin
Status
perkawinan
Agama
Suku bangsa
Pendidikan
Pekerjaan
Alamat
lengkap

I. Kepala Keluarga
Bpk. S.B.
28 tahun
Laki-laki

II. Pasangan
Ibu N.S.
27 tahun
Perempuan

Menikah

Menikah

Islam
Islam
Madura
Jawa
SMP
SMK
Tidak Berkerja
Ibu Rumah Tangga
Jln. Merapi No. 30 RT. 13 Kelurahan Tanah Merah
Kecamatan Samarinda Utara Kota Samarinda

3.2. Anggota Keluarga


No.
1.

Anggota
Keluarga
Bpk. S.B.

2.

(Pasien)
Ibu N.S.

3.

An. M.K.

Usia
28 thn

Pekerjaan
Tidak

27 thn

Berkerja
IRT

6 thn

Pelajar

Hub.

Stt.

Serumah
Ya
Tdk Kdg

Klrg.

Nikah

Ayah

Menikah

Ya

Ibu
Anak

Menikah
Belum

Ya

kandung

menikah

Ya

3.3. Status Keluarga


No.
1.
2.
3.

Ekonomi Keluarga
Luas tanah
Luas Bangunan
Pembagian ruangan

Keterangan
12 x 7 meter
4 x 10 meter
Rumah ialah rumah pribadi pasien
dengan pembagian ruangan 2 ruang
tamu, 1 kamar tidur, 1 kamar mandi,

4.
5.

Besarnya daya listrik


Tingkat pendapatan keluarga :
a. Pengeluaran rata-rata per bulan

dan 1 dapur
550 Watt
Rp 1.500.000,00

10

Bahan makanan :
-

Beras

Rp 150.000,00

Lauk/ikan, sayur

Rp 550.000,00

Air minum

Rp 50.000,00

Diluar bahan makanan :


-

Pendidikan

Rp 300.000,00

Kesehatan

Listrik

Rp 100.000,00

Air

Lain-lain

Rp 350.000,00

b. Penghasilan keluarga/bulan

No.

Rp 1.800.000,00

Perilaku Kesehatan

Keterangan

1.
2.

Pelayanan promotif/preventif
Puskesmas
Pemeliharaan kesehatan anggota keluarga Puskesmas dan Rumah Sakit

3.

lain
Pelayanan pengobatan

Puskesmas dan Rumah Sakit

4.

Jaminan pemeliharaan kesehatan

Jamkesda

No

Pola Makan Keluarga

1.

Pasien dan anggota keluarga

Keterangan
Makan 2 kali sehari (siang dan
malam). Nasi, tahu, tempe, ayam, ikan,
telur, sayur. Jarang mengkonsumsi susu
dan buah.

No
1.

Aktivitas Keluarga

Keterangan

Aktivitas fisik
a. Ayah (pasien)

Mencari pekerjaan, merawat ternak

b. Ibu

Mencuci

baju,

memasak,

dan

membersihkan rumah
c. Anak

Bersekolah dan bermain di dalam

11

dan di luar rumah.


2.

Aktivitas mental

Seluruh anggota keluarga jarang


melaksanakan

ibadah

sholat

waktu.
No

Lingkungan

Keterangan
Hubungan

Sosial

sekitar

dengan

baik,

lingkungan

sebagian

warga

mengetahui kondisi pasien namun


pasien tidak merasa dikucilkan

Fisik dan Biologik :


Perumahan dan fasilitas

Sederhana

Luas tanah

12 x 7 meter

Luas bangunan

4 x10 meter

Jenis dinding terbanyak

Kayu

Jenis lantai terluas

Kayu

Sumber penerangan utama

Lampu listrik

Sarana MCK

Kamar mandi bergabung dengan


WC dan tempat mencuci pakaian.

Sarana Pembuangan Air Limbah

Melalui saluran air ke parit

Sumber air sehari-hari

Air sumur gali yang di tampung ke


tandon

Sumber air minum

Air galon

Pembuangan sampah

Sampah dikumpulkan menjadi satu


plastik kemudian dibuang ke tempat
pembuangan

sampah

di

daerah

tersebut.
3

Lingkungan Kerja
- Ayah (Pasien)

Di luar dan dalam rumah

- Ibu

Di dalam rumah

- Anak

Di luar dan dalam rumah

12

3.4. Pola Hidup Bersih dan Sehat Keluarga


No

Indikator Pertanyaan

Keterangan

Jawaban
Ya

Tidak

A. Perilaku Sehat
1

Tidak merokok
Ada yang memiliki kebiasaan
merokok
Persalinan
Dimana ibu melakukan
persalinan
Imunisasi
Apakah bayi ibu sudah di
imunisasi lengkap
Balita di timbang
Apakah balita ibu sering
ditimbang ? Dimana ?
Sarapan pagi
Apakah seluruh anggota
keluarga memiliki kebiasaan
sarapan pagi?
Dana sehat / Askes
Apakah anda ikut menjadi
peserta jaminan kesehatan
Cuci tangan
Apakah seluruh anggota
keluarga mempunyai
kebiasaan mencuci tangan
menggunakan sabun sebelum
makan dan sesudah buang air
besar ?

Sikat gigi
Apakah anggota keluarga
memiliki kebiasaan gosok
gigi menggunakan odol

Aktivitas fisik/olahraga
Apakah anggota keluarga
melakukan aktivitas fisik atau
olah raga teratur

Pasien memiliki
kebiasaan merokok

Persalian ditolong oleh


bidan

Riwayat imunisasi anak


lengkap

Di timbang di Posyandu

Setiap anggota tidak


memiliki kebiasaan
makan pagi sebelum
memulai aktivitas
Jamkesda

Seluruh keluarga tidak


selalu mencuci tangan
dengan air dan sabun
sebelum makan dan
mengolah makanan
Seluruh anggota keluarga
melakukan kebiasaan
menggosok gigi dengan
odol.
Seluruh anggota keluarga
jarang melakukan
olahraga

13

B. Lingkungan Sehat

Jamban
Apakah di rumah tersedia
jamban dan seluruh keluarga
menggunakannya

Air bersih dan bebas jentik


Apakah dirumah tersedia air
bersih dengan tempat/tendon
air tidak ada jentik ?

Bebas sampah
Apakah dirumah tersedia
tempat sampah? Dan di
lingkungan sekitar rumah
tidak ada sampah berserakan?

SPAL
Apakah ada/tersedia SPAL di
sekitar rumah

Ventilasi
Apakah ada pertukaran udara
didalam rumah

Kepadatan
Apakah ada kesesuaian
rumah dengan jumlah
anggota keluarga?

Lantai
Apakah lantai bukan dari
tanah?

Rumah memiliki 1 buah


kloset (WC) yang
digabung dengan kamar
mandi
Di rumah menggunakan
sumber air berasal dari air
sumur yang dipompa
kedalam tandon. Air
bersih namun menjadi
keruh bila hujan.
Rumah terlihat
bersih/bebas sampah dan
tersedia tempat sampah
didalam/diluar rumah
Lingkungan yang bersih
tidak ada air limbah yang
menggenang
Ukuran ventilasi lebih
kurang 1/10 luas lantai
untuk tiap ruangan
Pengukuran kepadatan
dimana 1 orang penghuni
membutuhkan 2 x2 x 2
meter

Lantai rumah adalah


sebagian besar adalah
kayu dan tidak ada lantai
tanah
C. Indikator tambahan

ASI Eksklusif
Apakah ada bayi usia 0-6
bulan hanya mendapat ASI
saja sejak lahir sampai 6
bulan
Konsumsi buah dan sayur

Semua anaknya
mendapatkan asi
eksklusif.

14

Apakah dalam 1 minggu


terakhir anggota keluarga
mengkonsumsi buah dan
sayur?
Jumlah

Semua anggota keluarga


mengkonsumsi sayur dan
buah

15

Klasifikasi :
SEHAT I : Dari 18 pertanyaan jawaban Ya antara 1-5 pertanyaan (Merah)
SEHAT II : Dari 18 pertanyaan jawaban Ya antara 6-10 pertanyaan (Kuning)
SEHAT III : Dari 18 pertanyaan jawaban Ya antara 11-15pertanyaan (Hijau)
SEHAT IV : Dari 18 pertanyaan jawaban Ya antara 16-18pertanyaan (Biru)
Kesimpulan :
Dari 18 indikator yang ada, yang dapat dijawab Ya ada 15 pertanyaan yang
berarti identifikasi keluarga dilihat dari Perilaku Hidup Bersih dan Sehatnya
masuk dalam klasifikasi SEHAT III.

15

3.5. Penilaian APGAR Keluarga


Kriteria

Adaptasi

Kemitraan

Pernyataan

Hampir
Selalu
(2)

Saya puas dengan keluarga


saya karena masing-masing
anggota keluarga sudah
menjalankan sesuai dengan
seharusnya
Saya puas dengan keluarga
saya karena dapat membantu
memberikan solusi terhadap
permasalahan yang dihadapi

Hampir
tidak
pernah (0)

Pertumbuhan

Saya puas dengan kebebasan


yang diberikan keluarga saya
untuk
mengembangkan
kemampuan yang saya miliki

Kasih sayang

Saya
puas
dengan
kehangatan dan kasih sayang
yang diberikan keluarga saya

Kebersamaan

Saya puas dengan waktu


yang disediakan keluarga
untuk menjalin kebersamaan

Total

Kadang
Kadang
(1)

10

Keterangan :
Total skor 8-10 = Fungsi keluarga sehat
Total skor 6-7 = Fungsi keluarga kurang sehat
Total skor 5= Fungsi keluarga sakit
Kesimpulan : Nilai skor keluarga ini adalah 10, artinya keluarga ini menunjukan
fungsi keluarga sehat

3.6. Resume Faktor Risiko Keluarga


16

Faktor Resiko
Rumah:

Ventilasi cukup namun pencahayaan matahari


kurang karena tertutup oleh bangunan tetangga.

Ruangan yang ada tampak kurang rapi dan di


pojok rumah terdapat tumpukan-tumpukan barang
bekas.

Fisik

Terdapat kandang peliharaan di sebelah ruang


tamu pasien yang bersebelahan dengan jendela
yang sering dalam kondisi terbuka.

Terdapat 1 buah sumber air sumur galian disekitar


rumah pasien yang tidak tertutup rapat.

Biologi

Kualitas sumber air untuk keperluan sehari-hari

kurang bersih
Tidak ada riwayat penyakit serupa dalam keluarga
Memiliki kartu jaminan kesehatan.

Sumber dana keluarga sementara keluarga tidak


memiliki perkerjaan adalah menggunakan uang

Psiko-sosioekonomi

tabungan

Pendapatan keluarga prioritas untuk kebutuhan


sandang dan pangan.

Kehidupan sosial dengan sekitar cukup baik.

Pasien tidak merasa di kucilkan karena penyakit

yang dimilikinya
Higiene pribadi kurang.

Perilaku Kesehatan

Pemeliharaan kesehatan di sarana kesehatan

Gaya hidup

puskesmas atau rumah sakit.


Pemenuhan kebutuhan primer adalah prioritas
utama, dan untuk alokasi dana kesehatan pasien
menggunakan Jamkesda.

Pasien memiliki binatang peliharan seperti 4 ekor


entok, dan 5 ekor ayam dan kandang peliharaan
17

terletak persis disebelah ruang tamu yang dapat


dilihat melalui jendela.

Lingkungan

Pasien dan keluarga suka menyimpan barang bekas

di dalam rumah.
Pasien tidak berkerja dan banyak menghabiskan
waktu di dalam rumah

Terdapat tetangga yang pernah mengalami Morbus


Hansen dan juga telah finyatakan RFT

3.7. Diagnosa Keluarga


Status Kesehatan dan Faktor Risiko

Terdapat anggota keluarga yang mengalami morbus hansen tipe


multibasiler yang telah dinyatakan RFT.

Pencahayaan matahari yang kurang, lembapnya kondisi di rumah, dan


jarangnya kegiatan menjemur tempat tidur menjadi salah satu faktor
pendukung timbulnya/penularan berbagai penyakit

Kepala keluarga yang sementara menganggur, jarang berolahraga,


polamakan dua kali sehari, jarang mengkonsumsi susu atau buah
menyebabkan buruknya asupan nutrisi sehingga dapat menurunkan
imunitas tubuh.

Status pengetahuan hidup bersih dan sehat cukup baik dan perlu
ditingkatkan lagi.

Status fungsi keluarga baik.

Status Upaya Kesehatan

Memiliki jaminan kesehatan jamkesda.

Pemeriksaan kesehatan dilakukan di Puskesmas.

Semua anggota keluarga memiliki kesempatan yang sama untuk berobat.

Status Lingkungan

18

1. Perilaku pasien dan keluarga untuk menjaga lingkungan tetap bersih dan sehat
masih kurang karena banyaknya barang bekas didalam rumah, ventilasi
kamar/rumah yang lebih banyak tertutup dan sumber air tidak bersih
2. Jendela pasien dimana arah matahari masuk tertutup oleh bangunan lain
disekitarnya

sehingga

dapat

menjadi

tempat

perkembang

biakan

mikroorganisme yang baik.


Diagnosa Keluarga
Sebuah keluarga dengan jumlah anggota keluarga sebanyak 3 orang,
dimana 1 orang diantaranya menderita morbus hansen tipe multi basiler dan telah
dinyatakan RFT.
3.8. Rencana Penatalaksanaan Masalah Kesehatan
No.
1.

Masalah kesehatan
Individu

Pengobatan/Tindakan
Diagnosis kerja pada pasien ini adalah Morbus
Hansen tipe Multibasiler yang telah dinyatakan
release

from

treatment.

Tindakan

yang

dilakukan pada pasien ini terutama adalah


edukasi mengenai penyakitnya, pencegahan
2

Keluarga

penularannya dan kapan harus berobat kembali.


Edukasi kepada keluarga mengenai kondisi
pasien. Memotivasi keluarga untuk memberi
dukungan

positif

kepada

pasien,

mencari

sumber penghasilan tetap serta mengatur asupan


makanan keluarga agar gizi terjaga.

19

3.9. Skoring Kemampuan Penyelesaian Masalah


Masalah

Skor

Upaya

Awal

Penyelesaian

Fungsi Biologis
Pasien

menderita

Morbus

Hansen

Edukasi mengenai penyakit dan

penyakit
tipe

Multi

kondisi

pasien

Basiler yang telah dinyatakan

memberikan

release from treatment

kepada pasien

sekarang

dukungan

dan

semangat

Fungsi Ekonomi dan Pemenuhan


Kebutuhan
Keluarga sementara ini tidak

Memberi motivasi kepada keluarga

memiliki sumber penghasilan

untuk mencari sumber penghasilan

Pemenuhan kebutuhan primer

uangnya

menggunakan uang tabungan


Kurangnya

motivasi

secepatnya dan menyisihkan sedikit


untuk

keperluan

yang

mendesak

untuk

mencari sumber penghasilan


Faktor

Perilaku

Kesehatan

Keluarga
Higiene pribadi yang kurang

tentang

mengenai

pentingnya menjaga higiene dalam


mencegah berbagai penyakit
Edukasi mengenai
pentingnya

Tidak segera berobat ke tenaga


medis bila terdapat anggota

Edukasi

keluarga yang sakit

segera berobat ke tenaga medis bila


sakit agar penyakit cepat diterapi
sehingga tidak semakin berat
Edukasi mengenai
pentingnya

Tidak memperhatikan asupan


makanan/gizi keluarga

memperhatikan asupan makanan/


gizi anggota keluarga dan mengenai

Kurangnya
mengenai

jenis-jenis

pengetahuan
penyakit

yang

diperlukan
Edukasi mengenai Morbus Hansen,

Morbus

Hansen
Kurangnya tindakan pencegahan

makanan

mulai

dari

penyebab

hingga

20

penularan penyakit

komplikasinya
Edukasi
mengenai
4

tindakan-

tindakan yang dapat mencegah


berbagai penyakit seperti membuka
jendela, membiarkan sinar matahari
masuk kedalam rumah, menjemur
kasur, 4M plus dan lain-lain

Lingkungan Rumah
Kamar

yang

gelap

dengan

Memotivasi keluarga untuk lebih

jendela yang jarang dibuka dan

sering membuka jendela kamar,

sukar terkena cahaya matahari

menjemur kasur

secara langsung karena tertutupi


oleh rumah tetangga
Sumur galian yang tidak ditutup
rapat

Edukasi

untuk

menutup

dan

menguras bak mandi, atau tempat


penampungan air lainnya secara

Kandang

binatang

peliharan

yang dekat sekali dengan rumah

teratur
1

Memindahkan kandang binatang


peliharaan agar jauh dari rumah dan
rutin membersihkan

tempat

minum binatang peliharaannya


Keterangan :
Skor 1

= Tidak dilakukan, keluarga menolak, tidak ada partisipasi

Skor 2

= Keluarga mau melakukan tapi tidak mampu, hanya ada

keinginan. Penyelesaian masalah dilakukan sepenuhnya oleh provider


Skor 3

= Keluarga mau melakukan namun perlu penggalian sumber yang

belum dimanfaatkan; penyelesaian masalah dilakukan sebagian oleh provider


Skor 4

= Keluarga mau melakukan namun tak sepenuhnya; masih

tergantung pada upaya provider


Skor 5

= Dapat dilakukan sepenuhnya oleh keluarga

21

air

KOMUNITAS

Mandala of Health
PERILAKU
Berobat bila sakit
Tidak Utamakan
Pencegahan
Jarang Sarapan & Olahraga
Makan Seadanya
Jarang Mencuci Tangan

PELAYANAN KESEHATAN
Jaminan Kesehatan
Daerah
Pengobatan MH MB
Edukasi Pasien MH

FAKTOR BIOLOGI
Mengalami Morbus
Hansen
Terdapat tetangga yang
pernah mengalami Morbus
Hansen
Asupan Nutrisi

GAYA HIDUP
Sederhana Namun
Kurang Sehat

KELUARGA

LINGKUNGAN PSIKO-SOSIOEKONOMI
Ling. Ekonomi MenengahKebawah
Hub. Pasien dan Warga Baik

PASIEN MORBUS
HANSEN TIPE
MULTIBASILER

Lingkungan Komunitas :
Daerah Padat Penduduk

PEKERJAAN
Tidak Berkerja
Berternak

LINGKUNGAN FISIK
Ling. Fasilitas
Sederhana
Pencahayan Rumah
Kurang
Ventilasi tidak dibuka

BAB IV
PEMBAHASAN
Studi kasus dilakukan pada pasien Bpk. S.B. berusia 28 tahun dengan
keluhan utama bercak putih baru pada pundak dan dagu. Keluhan dirasakan
pasien sejak 1 tahun yang lalu dan telah didiagnosis dengan relap Morbus Hansen
tipe Multibasiler. Pasien telah menjalani terapi selama satu tahun dan dinyatakan
Release from treatment untuk yang ketiga kalinya. Pasien juga memiliki bercakbercak serupa pada bagian tubuh yang lain, namun telah diobati sesuai dengan
regimen yang ditentukan. Pasien tinggal satu rumah dengan 2 orang anggota
keluarganya, dan hanya pasien yang mengalami gejala serupa.
Penyakit kusta atau lepra disebut juga Morbus Hansen, adalah sebuah
penyakit infeksi menular kronis yang disebabkan oleh bakteri mycobacterium
leprae. Diagnosis Morbus Hansen tipe Multibasiler didapatkan atas dasar
anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium. Pasien awalnya
mengeluhkan bercak putih pada lengan kanan dan pinggang yang kemudian
melebar secara lambat dan pada daerah tersebut dirasakan tebal. Pada
pemeriksaan ditemukan terdapat daereh-daerah hipopigmentasi yang mengalami
gangguan saraf tepi terutama sistem sensorik dan otonom. Pada pemeriksaan
laboratorium pasien juga ditemukan BTA sehingga pasien dinyatakan mengalami
Morbus Hansen dan bedasarakan gambaran klinisnya dinyatakan tipe Multibasiler.
Adapun faktor-faktor resiko terjadinya Morbus Hansen adalah status sosial
dan ekonomi yang buruk, riwayat kontak lama terhadap pasien dengan Morbus
Hansen, imunitas tubuh yang kurang terhadap kusta dan cara hidup yang tidak
bersih dan sehat. Pada studi kasus ditemukan bahwa pasien berada dalam status
sosial dan ekonomi yang kurang, terdapat tetangga dengan Morbus Hansen yang
tinggal tepat dibelakang rumah, terdapat riwayat kontak pada pasien Morbus
Hansen, dan perilaku keluarga juga mendukung terjadinya penularan Morbus
Hansen.
Pengobatan pada pada pasien telah berjalan selama 12 bulan terakhir dan
dinyatakan release from treatment. Pada saat ini tatalaksana terutama berupa
edukasi pada pasien dan keluarganya mengenai penyakitnya yang meliputi

penyebab, faktor predisposisi, cara penularan, pencegahan, pengobatannya, dan


kapan harus kembali ke Puskesmas. Adapun edukasi dan motivasi yang juga perlu
diberikan pada keluarga ini terkait dengan permasalahan sumber penghasilan
keluarga, asupan makanan bergizi, pencahayaan kamar tidur, motivasi pasien
untuk sembuh dan merawat diri.

DAFTAR PUSTAKA

1. WHO. (2009). Enhanced Global Strategy for Further Reducing the Disease Burden
due
to
Leprosy.
retrieved
January
2015
from
ttp://www.searo.who.int/entity/global_leprosy_programme/documents/enhanced_globa
l_strategy_2011_2015_operational_guidelines.pdf. Last update: January 10, 2009
2. CDC. (2013). Hansens's Disease (Leprosy), retrieved
January 2015
http://www.cdc.gov/leprosy/health-care-workers/index.html. Last update: April 29,

2013
3. Djuanda. A.,Djuanda. S., Hamzah. M., dan Aisah.A. (1993). Ilmu Penyakit Kulit dan
Kelamin. Jakarta: Balai Penrbit FKUI
4. Ditjen PPM & PL. (2012). Pedoman Nasional Program Pengendalian Penyakit Kusta.
Jakarta : Sub Direktorat Kusta & Frambusia.
5. Daili, dkk. 1998. Kusta. UI PRES. Jakarta.

Lampiran Dokumentasi Rumah Pasien