Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN FRAKTUR TIBIA

A. Konsep Dasar Penyakit


1. Definisi
Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau
tenaga fisik. Kekuatan dan sudut dari tenaga tersebut, keadaan tulang, dan
jaringan lunak disekitar tulang akan menentukan apakah fraktur yang
terjadi itu lengkap atau tidak lengkap. (Price and Wilson, 2006)
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai
jenis dan luasnya. (Brunner and Suddarth, 2002)
Fraktur adalah terputusnya hubungan atau kontinuitas tulang karena
stress pada tulang yang berlebihan. (Luckmann and Sorensens, 1993:
1915)
Fraktur Tibia adalah fraktur yang terjadi pada bagian tibia sebelah
kanan maupun kiri akibat pukulan benda keras atau jatuh yang bertumpu
pada kaki. Fraktur ini sering terjadi pada anak- anak dan wanita lanjut usia
dengan tulang osteoporosis dan tulang lemah yang tak mampu menahan
energi akibat jatuh atau benturan benda keras (Handerson, 1998).
Menurut Mansjoer (2005:356), fraktur tibia (bumper
fracture/fraktur tibia plateau) adalah fraktur yang terjadi akibat trauma
langsung dari arah samping lutut dengan kaki yang masih terfiksasi ke
tanah.
Klasifikasi fraktur, antara lain:
a. Fraktur komplet: Fraktur / patah pada seluruh garis tengah tulang dan
biasanya mengalami pergeseran dari posisi normal.
b. Fraktur tidak komplet: Fraktur / patah yang hanya terjadi pada
sebagian dari garis tengah tulang.
c. Fraktur tertutup: Fraktur yang tidak menyebabkan robeknya kulit, jadi
fragmen frakturnya tidak menembus jaringan kulit.
d. Fraktur terbuka: Fraktur yang disertai kerusakan kulit pada tempat
fraktur (Fragmen frakturnya menembus kulit), dimana bakteri dari luar
bisa menimbulkan infeksi pada tempat fraktur (terkontaminasi oleh
benda asing)
1) Grade I dengan luka bersih kurang dari l cm panjangnya.
2) Grade II luka lebih besar, luas tanpa kerusakan jaringan lunak
yang ekstensif.
1

3) Grade III yang sangat terkontaminasi dan mengalami


kerusakan jaringan lunak ekstensif, merupakan yang paling
kuat.
2. Etiologi
Fraktur disebabkan oleh:
a. Trauma langsung
Trauma langsung menyebabkan tekanan langsung pada tulang. Hal
tersebut dapat mengakibatkan terjadinya fraktur pada daerah tekanan.
Fraktur yang terjadi biasanya bersifat komuniti dan jaringan lunak ikut
mengalami kerusakan.
b. Trauma tidak langsung
Apabila trauma dihantarkan kedaerah yang lebih jauh dari daerah
fraktur, trauma tersebut disebut trauma tidak langsung. Misalnya jatuh
dengan tangan ekstensi dapat menyebabkan fraktur pada klavikula.
Pada keadaan ini biasanya jaringan lunak tetap utuh.
Fraktur juga dapat disebabkan oleh pukulan langsung, gaya
meremuk, gerakan puntir mendadak, dan kontraksi otot ekstrim. (Brunner
& Suddart, 2002, hal 2357)
Penyebab paling umum fraktur tibia biasanya disebabkan oleh:
a. Pukulan/benturan langsung.
b. Jatuh dengan kaki dalam posisi fleksi.
c. Gerakan memutar mendadak.
d. Kelemahan/kerapuhan struktur tulang akibat gangguan atau
penyakit primer seperti osteoporosis.
3. Faktor Predisposisi
Beberapa faktor predisposisi fraktur adalah:
a. Riwayat penyakit keluarga seperti diabetes, osteoporosis, osteoartritis.
b. Nutrisi yang tidak adekuat terutama kalsium dan protein.
c. Usia lanjut lebih dari 50 tahun. Karena pada lansia pembentukan
substansi dasar tulang rawan berkurang.
4. Tanda dan Gejala
a. Nyeri terus-menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang
dimobilisasikan.

b. Krepitus yaitu saat ekstremitas diperiksa dengan tangan, teraba adanya


derik tulang.
c. Deformitas (terlihat maupun teraba)
d. Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi sebagai
akibat trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur.
e. Tak mampu menggerakkan kaki karena adanya perubahan
bentuk/posisi berlebihan bila dibandingkan dengan keadaan normal.
5. Patofisiologi
Fraktur ganggguan pada tulang biasanya disebabkan oleh trauma
gangguan adanya gaya dalam tubuh, yaitu stress, gangguan fisik,
gangguan metabolic, patologik. Kemampuan otot mendukung tulang
turun, baik yang terbuka ataupun tertutup. Kerusakan pembuluh darah
akan mengakibatkan pendarahan, maka volume darah menurun. COP
menurun maka terjadi perubahan perfusi jaringan. Hematoma akan
mengeksudasi plasma dan poliferasi menjadi odem lokal maka
penumpukan di dalam tubuh. Fraktur terbuka atau tertutup akan mengenai
serabut saraf yang dapat menimbulkan gangguan rasa nyaman nyeri.
Selain itu dapat mengenai tulang dan dapat terjadi revral vaskuler yang
menimbulkan nyeri gerak sehingga mobilitas fisik terganggau. Disamping
itu fraktur terbuka dapat mengenai jaringan lunak yang kemungkinan
dapat terjadi infeksi dan kerusakan jaringan lunak akan mengakibatkan
kerusakan integritas kulit.
Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma
gangguan metabolik, patologik yang terjadi itu terbuka atau tertutup. Baik
fraktur terbuka atau tertutup akan mengenai serabut syaraf yang dapat
menimbulkan gangguan rasa nyaman nyeri. Selaian itu dapat mengenai
tulang sehingga akan terjadi neurovaskuler yang akan menimbulkan nyeri
gerak sehingga mobilitas fisik terganggu, disamping itu fraktur terbuka
dapat mengenai jaringan lunak yang kemungkinan dapat terjadi infeksi
terkontaminasi dengan udara luar. Pada umumnya pada pasien fraktur
terbuka maupun tertutup akan dilakukan imobilitas yang bertujuan untuk
mempertahankan fragmen yang telah dihubungkan tetap pada tempatnya
sampai sembuh (Henderson, 1989).
Pathways

6. Komplikasi
Komplikasi fraktur dapat dibagi menjadi :
a. Komplikasi Dini
1) Nekrosis kulit
2) Osteomielitis
3) Kompartement sindrom
4) Emboli lemak
5) Tetanus
b. Komplikasi Lanjut
1) Kelakuan sendi
2) Penyembuhan fraktur yang abnormal:
- Malunion, adalah suatu keadaan dimana tulang yang patah
telah sembuh dalam posisi yang tidak pada seharusnya,
membentuk sudut atau miring
- Delayed union, adalah proses penyembuhan yang berjalan
terus tetapi dengan kecepatan yang lebih lambat dari
keadaan normal.
- Nonunion, patah tulang yang tidak menyambung kembali.
3) Osteomielitis kronis
4) Osteoporosis pasca trauma
5) Ruptur tendon
7. Pemeriksaan Khusus
Pemeriksaan penunjang fraktur menurut Doenges (1999):
a. Pemeriksaan Rongent
Menentukan luas atau lokasi fraktur.
b. CT Scan tulang, tomogram MRI
Untuk melihat dengan jelas daerah yang mengalami kerusakan.
c. Arteriogram (bila terjadi kerusakan vasculer)
d. Hitung darah kapiler lengkap
1) HT mungkin meningkat (hema konsentrasi) meningkat atau
menurun.
2) Kreatinin meningkat, trauma obat, keratin pada ginjal meningkat.
3) Kadar Ca kalsium, Hb
8. Penatalaksanaan
Prinsip penanganan fraktur meliputi reduksi, imobilisasi, dan
pengembalian fungsi dan ketentuan normal dengan rehabilitasi.

a. Reduksi fraktur (seting tulang) berarti mengembalikan fregmen


tulang pada kesejajaran dan rotasi anatomis.
b. Imobilisasi fraktur: setelah fraktur direduksi, fragmen tulang harus
diimobilasisi atau dipertahankan dalam posisi dan kesejajaran yang
benar sampai terjadi penyatuan.
c. Rehabilitasi: proses mengembalikan ke fungsi dan struktur semula
dengan cara melakukan ROM aktif dan pasif seoptimal mungkin
sesuai dengan kemampuan klien.
B. Konsep Keperawatan
1. Pengkajian Fokus
a. Anamnesa
1) Data Biografi
2) Riwayat kesehatan masa lalu
3) Riwayat kesehatan keluarga
b. Pemeriksaan Fisik
1) Aktivitas / istirahat
Keterbatasan/kehilangan fungsi yang efektif (perkembangan
sekunder dari jaringan yang bengkak / nyeri)
2) Sirkulasi
- Hipertensi (kadang terlihat sebagai respon terhadap nyeri /
ansietas) atau hipotensi (kehilangan darah)
- Takikardia (respon stress , hipovolemik)
- Penurunan nadi pada distal yang cidera , pengisian kapiler
lambat
- Pembengkakan jaringan atau hematoma pada sisi yang cidera
3) Neurosensori
- Hilang gerakan / sensasi, spasme otot
- Kebas / kesemutan (parestesia)
- Nyeri / kenyamanan
- Nyeri mungkin sangat berat, edema, hematoma dan spasme
otot merupakan penyebab nyeri di rasakan

4) Keamanan
Laserasi kulit, avulsi jaringan, pendarahan, perubahan warna
Pembengkakan lokal
5) Pengetahuan
Kurangnya pemajanan informasi tentang penyakit, prognosis dan
pengobatan serta perawatannya .
6

2. Diagnosa Keperawatan
a. Gangguan rasa nyaman (nyeri akut) berhubungan dengan terputusnya
jaringan tulang.
b. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan
muskuloskeletal.
c. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual, muntah.
3. Rencana Asuhan
a. Gangguan rasa nyaman (nyeri akut) berhubungan dengan terputusnya
jaringan tulang.
Tujuan dan kriteria hasil: Nyeri dapat berkurang/hilang, pasien tampak
tenang.
Intervensi:
1) Lakukan pendekatan pada klien & keluarga
Rasional: hubungan yang baik membuat klien dan keluarga
kooperatif
2) Kaji tingkat intensitas & frekuensi nyeri
Rasional: Tingkat intensitas nyeri dan frekuensi menunjukkan
skala nyeri
3) Jelaskan pada klien penyebab dari nyeri
Rasional: Memberikan penjelasan akan menambah pengetahuan
klien tentang nyeri
4) Observasi tanda-tanda vital
Rasional: Untuk mengetahui perkembangan klien
5) Melakukan kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian
analgetik
Rasional : Merupakan tindakan dependent perawat, di mana
analgetik berfungsi untuk memblok stimulasi nyeri
b. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan
muskuloskeletal.
Tujuan dan kriteria hasil: pasien memiliki cukup energi untuk
beraktifitas perilaku menampakkan kemampuan untuk memenuhi
kebutuhan sendiri pasien mengungkapkan mampu untuk melakukan
beberapa aktifitas tanpa dibantu koordinasi otot, tulang dan anggota
gerak lainnya baik.
Intervensi:

1) Rencanakan periode istirahat yang cukup


Rasional: mengurangi aktifitas dan energi yang tidak terpakai
2) Berikan latihan aktifitas secara bertahap
Rasional: tahapan-tahapan yang diberikan membantu proses
aktifitas secara perlahan dengan menghemat tenaga tujuan yang
tepat, mobilisasi dini.
3) Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhan
Rasional: Mengurangi pemakaian energi sampai kekuatan pasien
pulih kembali
4) Setelah latihan dan aktifitas kaji respon pasien
Rasional: menjaga kemungkinan adanya abnormal dari tubuh
sebagai akibat dari latihan.
c. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual, muntah.
Tujuan dan kriteria hasil: Nutrisi pasien dapat terpenuhi. Makanan
masuk, berat badan pasien naik, mual, muntah hilang.
Intervensi:
1) Berikan makan dalam porsi sedikit tapi sering
Rasional : memberikan asupan nutrisi yang cukup bagi pasien
2) Sajikan menu yang menarik
Rasional: Menghindari kebosanan pasien, untuh menambah
ketertarikan dalam mencoba makan yang disajikan.
3) Pantau pemasukan makanan
Rasional : Mengawasi kebutuhan asupan nutrisi pada pasien
4) Kolaborasi pemberian suplemen penambah nafsu makan
Rasional : kerjasama dalam pengawasan kebutuhan nutrisi pasien
selama dirawat di rumah sakit

DAFTAR PUSTAKA

Brunner and Suddarth. 2002. Keperawatan Medikal Bedah Volume 3 Edisi 8. Jakarta:
EGC
Doenges, Marilynn. E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. Jakarta: EGC
Handerson, M. A. 1997. Ilmu Bedah Untuk Perawat. Yogyakarta: Yayasan Enssential
Medika
Mansjoer, Areif. 2005. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2. Jakarta: FKUI.
NANDA International. 2011. Diagnosa Keperawatan: Definisi dan Klasifikasi
2012-2014. Jakarta: EGC
Nurarif, Amin Huda. 2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa
Medis dan NANDA NIC-NOC. Yogyakarta: Mediaction Publishing

Anda mungkin juga menyukai