Anda di halaman 1dari 4

VALIDASI BAHAN BAKU

SEDIAAN FARMASI
I.

Pendahuluan
Industri farmasi sebagai sebagai unit usaha yang menunjang kesehatan masyarakat
mempunyai kewajiban dan tanggung jawab untuk memproduksi obat yang bermutu tinggi,
berkhasiat dan terjamin keamanannya. Karenanya pemerintah membuat kebijakan melalui
Keputusan Menteri Kesehatan No.43/MenKes/II/1988 tentang Pedoman Cara Pembuatan Obat
yang Baik (CPOB).
Sesuai dengan ketentuan CPOB bahwa dalam pelaksanaan produksi haruslah
berdasarkan pada prosedur tertulis yang dapat menjamin kebenaran bahan yang digunakan,
keandalan peralatan, sistem kerja serta kemampuan petugas pelaksanaan untuk memastikan obat
yang dihasilkan senantiasa memenuhi persyaratan mutu yang telah ditetapkan.
Validasi merupakan bagian yang penting dari CPOB, yaitu suatu tindakan pembuktian
dengan cara yang sesuai bahwa tiap bahan, proses, prosedur, kegiatan, sistem, perlengkapan
atau mekanisme yang digunakan dalam produksi dan pengawasan akan senantiasa mencapai
hasil yang diinginkan. Hal ini berguna untuk menjamin bahwa produk Indonesia adalah produk
unggul.
Selama memproduksi obat perlu dan harus dilakukan dokumentasi yang baik, karena
pelulusan untuk diedarkan setiap bets sediaan farmasi antara lain berdasarkan data yang dicatat
dan sesuai ketentuan yang ada. Selain itu bahan baku yang digunakan dalam produksi haruslah
senantiasa divalidasi oleh bagian pengawasan mutu. Oleh karena itu, bagian pengawasan mutu
harus dilengkapi dengan laboratorium pengujian untuk validasi bahan baku agar sesuai dengan
spesifikasi yang telah ditetapkan dalam CPOB.
Perlu diingat bahwa kualitas sediaan farmasi sangat ditentikan oleh kualitas bahan baku
dan dari bahan baku yang tidak memenuhi syarat spesifikasi yang telah ditetapkan untuk obat.
Bahan baku sediaan farmasi dapat dikelompokkan dalam tiga kelompok besar, yaitu
bahan aktif, bahan tambahan (eksipien), dan bahan pembantu proses.
Bahan aktif (bahan berkhasiat) adalah semua komponen formulasi yang akan
menimbulkan efek farmakologi dari sediaan, sedangkan eksipien adalah komponen yang
merupakan dasar atau pembawa untuk bahan aktif seperti air, polietilenglikol, pengisi minyak
lemak dan sebagainya. Komponen seperti pewarna, flavour, pengawet, dapar, dan sebagainya
merupakan komponen eksipien yang ditambahkan dalam formulasi dengan tujuan untuk
meningkatkan sifat fisik dan stabilitas dari sediaan. Termasuk dalam kelompok zat pembantu
proses adalah bahan pembantu yang digunakan selama proses manufaktur produk yang pada
tahap akhir dihilangkan dari produk yang diproses, seperti zat pembantu untuk proses
penyaringan (filter aids), pelarut yang digunakan untuk ekstraksi, dan sebagainya.
II.
Sifat Fisika dan Kimia bahan
Sifat fisika dan kimia suatu bahan padat, cair atau gas merupakan hal penting yang
perlu diketahui dari suatu bahan baku, karena dengan sifat fisika dan kimia tersebut dapat
diketahui cara penyimpanannya, bahan yang tidak tercampurkan dengan bahan baku yang
digunakan, dan sebagainya yang berkaitan dengan sifat fisik a dan kimia itu.
Pengetahuan tentang bentuk fisika dan kimia dari serbuk merupakan hal utama yang
penting diketahui untuk pengembangan sediaan farmasi. Selain itu distribusi dan ukuran partikel
merupakan faktor penting yang perlu diketahui jika akan mengembangkan sediaan berbentuk
suspensi, tablet, kapsul, dan sebagainya, di mana karakteristik tersebut pada umumnya
tergantung pada cara kristalisasi dari serbuk padat tersebut dan daya kohesi intramolekuler
dalam molekul. Bentuk partikel akan sangat mempengaruhi sifat aliran pada saat pemampatan
dan pada permukaan.
Bentuk kristal (polimorfisme) dari suatu bahan padat perlu diketahui karena zat dapat
berada dalam bentuk amorf dan berbagai bentuk kristal, dalam hal ini perbedaan disebabkan
perbedaan kisi kristal dari zat. Walaupun secara kimia tidak terlihat perbedaan pada bentuk
polimorfisme, akan tetapi perbedaan bentuk akan terlihat pada karakteristik fisik seperti bobot
jenis, temperatur, leleh, kelarutan dan kecepatan disolusi.
Untuk bahan baku yang monografinya tidak terdapat dalam kompendium maka
persyaratan harus dikembangkan oleh industri dengan merujuk kompendium yang berlaku.
Bagian QC harus mampu memberikan penilaian untuk menetapkan persyaratan bahan baku
tersebut berdasarkan hal berikut :
a. mengikuti spesifikasi yang sudah ada untuk zat yang hampir sama
b. menetapkan parameter uji berdasarkan pengetahuan tentang bahan secara kimiawi.

III.

IV.

Spesifikasi Bahan Baku dalam Kerangka CPOB


Suatu bahan baku tertentu yang sama akan dapat berbeda dari suatu suplier dan
suplier lainnya ataupun dari suatu lot dengan lot lain dari suplier yang sama bahkan
mungkin dari suatu wadah dengan wadah lain dari lot yang sama dan tidak jarang terjadi
ketidakhomogenan yang cukup bermakna (non homogen) dalam suatu wadah, misalnya dari
bagian atas , tengah, dan bawah.
Untuk komponen yang monografinya terdapt dalam kompendium resmi (USP,
Farmakope Eropa, dan sebagainya) spesifikasi produk yang akan digunakan di industru
farmasi dapat dikembangkan dari rujukan tersebut dengan catatan untuk Indonesia
menggunakan Farmakope Indonesia yang sah berlaku menurut ketentuan perundangundangan sebagai rujukan utama.
Jika bahan baku tersebut diuraikan dalam kompendium resmi seperti Farmakope
biasanya perbedaan relatif kecil atau bahkan hampir tidak ada sama sekali karena produsen
bahan baku dan obat jadi akan selalu merujuk persyaratan dalam monografi farmakope, di
mana kedua pihak akan melakukan pengujian sesuai dengan ketentuan dan cara uji farmakope,
serta menetapkan apakah bahan memenuhi persyaratan spesifikasi atau tidak.
Akan tetapi jika komponen tersebut tidak diuraikan dalam kompendium resmi, maka
industri farmasi dapat menggunakan kompendium sebagai rujuka dan acuan degan mengikuti
spesifikasi komponen yang hampir bersamaan. Kemudian industri (bagian pengawasan mutu)
mengembangkan penilaian dan menetapkan parameter untuk pengujian bahan tersebut
berdasarkan pengetahuan tentang ilmu kimia komponen tersebut. Tahap selanjutnya adalah
mengembangkan metoda untuk menurunkan metoda pengujian yang memungkinkan untuk
mengukur setiap parameter. Dengan melakukan pengujian beberapa lot komponen industri
farmasi dapat menetapkan spesifikasi untuk kriteria penerimaan dan atau penolakan.
Spesifikasi merupakan alat penting dalam melakukan validasi bahan baku dan proses
karena tanpa spesifikasi tidak dapat dilakukan validasi. Spesifikasi harus dibuat dalam bentuk
tertulis dan diikuti. Bila spesifikasi bahan baku telah ditetapkan untuk pembuatan obat, maka
hal ini merupakan sarana untuk menyaring dan menetapkan untuk tidak menggunakan
komponen yang tidak memenuhi syarat dalam memproduksi obat.
Masalah bahan baku merupakan masalah utama industri farmasi disebabkan oleh:
1. Industri bahan baku farmasi masih belum begitu berkembang dan bagian terbesar bahan
baku terutama bahan berkhasiat berasal dari berbagai negara.
2. Kebanyakan industri farmasi menerima bahan baku dari penyalur dan bukan dari
produsen di mana jarang sekali penyalur tersebut yang mempunyai laboratorium
pengujian untuk menjamin bahwa komponen yang diperdagangkan sesuai dengan
persyaratan yang berlaku.
3. Penyalur sering mengimpor bahan baku dengan harga yang paling murah agar supaya
lebih mudah dipasarkan di pasaran Indonesia, karena sering pertimbangan utama adalah
pertimbangan harga dan negara asal bahan baku bagi industri farmasi di Indonesia untuk
selalu mendapatkan bahan baku dari industri negara yang sama.
Walupun demikian pada umumnya bahan baku yang diimpor tersebut dinyatakan pada
etiketnya memenuhi persyaratan kompendium tertentu (misal USP, BP, Farmakope Jepang,
dan sebagainya), sehingga hal tersebut sangat membantu industri farmasi dalam menetapkan
spesifikasi dan melakukan cara pengujian.
Oleh sebab itu dalam menetapkan spesifikasi bahan baku industri farmasi harus
mampu mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat menimbulkan variasi dan masalah, dan
andaikata karena keadaan terpaksa dilakukan penggantian bahan baku dari bahan baku yang
sudah lazim digunakan harus dilakukan validasi setidak-tidaknya secar parsial, yaitu pada
masalah penyebab timbulnya variasi.
Validasi Bahan Baku
Validasi proses akan lebih bermakna dan lebih murah jika kita dapat menilai secara
tepat bagaimana melakukan operasi yang diperlukan. Semua pertimbangan evaluasi dan
keputusan yang diambil harus didokumentasikan, sehingga jika timbul masalah yang sama
kelak di kemudian hari maka dapat dengan mudah menelusuri langkah dalam pemecahan
masalah secara mudah dan cepat.
Langkah-langkah berikut dibutuhkan secara bertahap dan sistematis dalam
melakukan validasi bahan baku :

Tahap pertama : Membuat daftar semua bahan baku yang dibutuhkan untuk
membuat suatu bentuk produk.
Dalam daftar ini termasuk semua bahan aktif eksipien dan bahan-bahan pembantu
proses yang digunakan dalam produksi dan semua bahan kimia standar yang telah ditetapkan
dan bahan-bahan laboratorium yang digunakan untuk pengujian.
Tahap Kedua : Mencari sekurang-kurangnya 2 supplier untuk setiap bahan baku.
Sesudah menyusun daftar lengkap bahan baku yang dibutuhkan, industri harus
mencari sumber bahan baku tersebut. Untuk mencegah seminimal mungkin ketergantungan
dari satu sumber perlu diupayakan sekurang-kurangnya ada 2 sumber dan produk dari kedua
sumber tersebut.
Beberapa pertimbangan harus dievaluasi untuk menetapkan supplier. Pertama ialah
mereka sanggup menyediakan bahan yang dibutuhkan dan kedua, jika lebih dari satu kualitas
bahan baku yang dibutuhkan. Ketiga, supplier harus mampu menyediakan kualitas yang
dibutuhkan agar supaya rencana produksi dapat berjalan lancar sesuai dengan rencana.
Keempat, suplier harus dievaluasi kemampuan supplier jika permintaan meningkat dengan
cepat sesuai dengan perkembangan produksi. Kelima, industri harus tahu secara pasti apakah
supplier tersebut produsen atau distributor. Akan lebih baik jika suplier adalah produsen
karena industri dapat dengan cepat dan langsung berhubungan dengan bagian QC daripada
harus melalui pihak ketiga. Jika supplier hanya merupakan penyalur saja kemungkinan tidak
melakukan kontrol kualitas atau hanya empunyai waktu yang sangat sedikit untuk melakukan
kontrol. Keenam, pertimbangan harga bahan baku. Ketujuh, reputasi dan keandalan supplier
berdasarkan pengalaman lau.
Tahap ketiga : Jika supplier baru kunjungi fasilitas industri tersebut.
Hal ini baik sekali dilakukan untuk membina hubungan pribadi dengan personalia di
industri komponen tersebut, sehingga banyak masalah dapat diselesaikan dengan cara mudah
melalui hubungan pribadi.
Tahap keempat : Memperoleh cuplikan dan sertifikat analisis dari supplier.
Setelah industri farmasi mempunyai gambaran tentang suplier yang akan dipilih
untuk menyediakan bahan baku, maka tahap selanjutnya ialah memperoleh cuplikan dengan
sertifikat analisis dari masing-masing cuplikan tersebut. Sebaiknya dipilih 2 atau lebih suplier
untuk setiap komponen yang akan digunakan dalam formulasi dan cuplikan yang diminta
berasal dari 2 atau 3 lot yang berbeda dari masing-masing cuplikan tersebut.
Cuplikan dan sertifikat analisis akan dapat menunjukkan adanya variasi antara lot
pada pengujian spesifik. Penting sekali artinya untuk mengetahui dan mengukur variasi dari
suplier yang sama antara supplier yang berbeda. Makin kecil perbedaan tersebut makin
seragam dan reprodusibel lot dari bahan baku tersebut.
Tahap kelima : Menetapkan spesifikasi untuk setiap bahan.
Jika monografi bahan baku terdapat dalam kompendium maka dengan sertifikat
analisis yang dikeluarkan oleh industri dapat dibuat spesifikasi bahan baku. Kecuali kalau ada
informasi yang bertentangan maka ketentuan dalam monografi resmi harus diikuti. Untuk
beberapa alasan kadang-kadang spesifikasi dibuat lebih ketat. Apabila bahan baku tidak
diuraikan dalam kompendium maka tugas industri menetapkan spesifikasi jadi lebih sulit.
Semua parameter pengujian yang ditetapkan harus dapat diukur dan ditetapkan pula
tentang variasi yang dapat diterima, dan setiap industri harus mengerti dan dapat
menginterprestasikan secara benar apa yag ditulis dalam spesifikasi.
Hal yang penting diperhatikan ialah rentang yang dapat diterima (atau tidak dapat
diterima) harus ditetapkan dan divalidasi berdasarkan persyaratan produk dan kemampuan
supplier.
Spesifikasi bila sudah ditetapkan untuk bahan baku harus dipertahankan sebagaimana
seharusnya, akan tetapi hal tertentu harus pula ada flesibilitas untuk menerima perubahan
spesifikasi, misalnya karena alasan perkembangan teknologi mutakhir. Sebagai contoh
misalnya dengan menggunakan cara penentuan bahan baku dengan teknik kromatografi
kinerja tinggi yang akan memberikan hasil lebih teliti dibandingkan cara tradisional titrasi.
Tahap keenam : Menetapkan prosedur pengujian
Sesuai dengan pengembangan spesifikasi harus pula ditetapkan metoda pengujian
untuk masing-masing spesifikasi tersebut. Untuk bahan baku yang terdapat dalam
kompendium prosedur pengujian disesuaikan dengan metoda uji dalam monografi yang
sesuai.
Tahap ketujuh : Menetapkan prosedur pengambilan cuplikan jika dibutuhkan
persyaratan khusus.

Cara pengambilan cuplikan secara umum harus diuraikan pada ketentuan CPOB
seperti persyaratan umum penerimaan bahan baku di industri jumlah wadah yang harus
diambil contohnya persyaratan penandaan bahan baku dalam bentuk bulk dan wadah untuk
cuplikan, wadah cuplikan dan penutup yang akan digunakan , ukuran cuplikan dan metoda
pengambilan cuplikan. Akan tetapi untuk bahan baku tertentu diperlukan persyaratan khusus
dalam pengambilan contoh berdasarkan pertimbangan stabilitas dan atau tujuan penggunaan.
Sebelum prosedur pengambilan cuplikan secara individu tersebut diresmikan dalam
praktek secara rutin, cara tersebut harus dievaluasi dan merupakan bagian dari validasi proses.
Semua cara pengambilan cuplikan secara khusus harus dinyatakan secara eksplisit dalam
bentuk prosedur tertulis.
Tahap kedelapan : Menetapkan kondisi penyimpanan optimum
Wadah bahan baku harus ditangani dan disimpan sesuai dengan persyaratan kondisi
yang sudah ditetapkan untuk melindungi stabilitas selama periode penyimpanan yang sudah
dinyatakan. Karakteristik kritik bahan baku dan faktor yang lebih mempengaruhi telah
diidentifikasi selama waktu menetapkan spesifikasi.
Kimiawi dari setiap bahan harus ditinjau ulang yang menyangkut higroskopisitas,
kepekaan terhadap cahaya, kepekaan terhadap suhu, kemampuan menunjang pertumbuhan
mikroba, reaktivitas, dengan kemasan atau penutup wadah dan kapasitas oksidasi. Begitu
faktor kritik yang mempengaruhi bahan baku sudah diketahui baru dapat dilakukan penelitian
stabilitas, sehingga dapat dirumuskan kondisi penyimpanan optimum dan menetapkan usia
simpan bahan baku.
Tahap kesembilan : Menetapkan usia simpan
Berkaitan dengan defenisi kondisi penyimpanan bahan baku adalah menetapkan usia
simpan. Batas daluwarsa atau usia simpan dari bahan baku merupakan perioda dalam waktu
mana bahan baku harus digunakan. Sering ditetapkan masa daluwarsa lebih singkat dari data
stabilitas yang tersedia, sehingga akan selalu digunakan bahan baku yang segar/baru.
Usia simpan bahan baku harus didasarkan pada pengujian selama waktu tertentu
dalam wadah dan penutup yang digunakan disimpan sesuai dengan kondisi optimum yang
diperkirakan dan juga pada kondisi dipercepat. Jika kondisi penyimpanan yang diharapkan
adalah 2 8 oC dengan kelembaban relatif 75 80% maka penyimpanan bahan baku
dilakukan pada kondisi tersebut dan juga pada kondisi yang dipercepat sebagai berikut :
45 oC dan kelembaban relatif 80%
37 oC dan kelembaban relatif 80%
25 oC dan kelembaban relatif 80%
5 oC dan kelembaban relatif 80%
0 oC dan kelembaban relatif 80%
Sesudah disimpan dalam jangka waktu tertentu yang sebelumnya telah ditetapkan,
bahan baku harus diuji ulang untuk mengkonfirmasikan bahwa bahan baku tersebut masih
memenuhi persyaratan spesifikasi di samping harus pula menentukan kadar hasil uraian
produk tersebut.
Tahap kesepuluh : Tantangan terhadap bahan baku
Tahap terakhir yang dibutuhkan ialah melakukan uji tantangan terhadap bahan baku
agar supaya dapat terjamin bahwa bahan baku yang digunakan akan memenuhi syarat
spesifikasi produk.
Validasi memerlukan suatu (uji) tantangan terhadap proses dan cara uji yang secara
sengaja menggunakan bahan baku yang memenuhi syarat dan prosedur untuk menghasilkan
bets produk yang dapat dan tidak dapat diterima.