Anda di halaman 1dari 40

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Asma adalah penyakit paru dengan ciri khas yakni saluran nafas sangat
mudah bereaksi terhadap berbagai rangsangan atau pencetus dengan manifestasi
berupa serangan asma (Ngastiyah, 2005).
Asma merupakan penyakit kronik tersering pada anak dan masih tetap
merupakan masalah bagi pasien, keluarga, dan bahkan para klinisi dan peneliti
asma. Mengacu pada data epidemiologi Amerika Serikat pada saat ini
diperkirakan terdapat 4-7% (4,8 juta anak) dari seluruh populasi asma. Selain
karena jumlahnya yang banyak, pasien asma anak dapat terdiri dari bayi , anak,
dan remaja.
Prevalensi penyakit alergi seperti asma, rinitis alergi, dermatitis atopi, alergi
obat dan alergi makanan meningkat di banyak negara. Dermatitis atopi dan alergi
makanan timbul pada usia < 2 tahun sedangkan asma dan rinitis alergi sekitar 6-12
tahun. Dermatitis atopi timbul paling dini sekitar 6 bulan dan 50%-80% akan
berkembang menjadi asma di kemudian hari, bila mereka mempunyai orang tua
atopi (allergic march).
Banyak faktor yang dapat mencetuskan penyakit alergi seperti faktor
lingkungan misalnya alergen, infeksi, polusi dan lain-lain yang dapat memulai
sensitisasi alergi dan menimbulkan manifestasi klinis. Oleh karena prevalens
penyakit alergi meningkat di banyak negara sedangkan faktor genetik belum dapat
dipengaruhi, maka yang dapat dimanipulasi adalah faktor lingkungan. Prevalens
asma di populasi 3-4% sedangkan rinitis 20%.
Pencegahan asma pada anak yang dapat dilakukan oleh orang tua ataupun
pengasuhnya yaitu mengajari anak-anak bagaimana cara cuci tangan secara benar
untuk menjauhkan dari penyebaran bakteri dan virus penyebab asma dan
membatasi anak agar tidak terlalu terpajan oleh faktor alergen yang emnjadi
pemicu asma. Sebagai tenaga kesehatan harus memberikan asuhan keperawatan
yang tepat pada anak dengan asma agar komplikasi-komplikasi yang menyertai
dapat dicegah sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang dengan sehat.

1.2 Tujuan
1.2.1Tujuan Umum
Mahasiswa mampu memahami teori tentang asma dan melaksanakan asuhan
keperawatan pada anak dengan asma dan mendokumentasikannya.
1.2.2Tujuan Khusus
Mahasiswa mampu:
1. Mengetahui konsep teori asma (definisi, etiologi, patofisiologi,
klasifikasi, tanda dan gejala, komplikasi, pemeriksaan penunjang,
penatalaksanaan).
2. Melakukan pengkajian melalui anamnesis maupun pengkajian fisik
pada penderita asma.
3. Menganalisis data dan menentukan diagnosis keperawatan.
4. Menyusun intervensi serta melaksanakan implementasi pada penderita
asma.
5. Melakukan evaluasi terhadap asuhan keperawatan yang dilaksanakan.
6. Melakukan pendokumentasian hasil asuhan keperawatan pada kasus
asma.
1.3 Pelaksanaan
Kegiatan Praktek Klinik dilakukan pada tanggal 20 oktober 7 November
2014 di Poli Anak RSU Haji Surabaya.

BAB 2
TINJAUAN TEORI
2.1

Konsep Dasar Asma


2.1.1

Pengertian

Asma adalah penyakit paru dengan ciri khas yakni saluran nafas sangat
mudah bereaksi terhadap berbagai rangsangan atau pencetus dengan manifestasi
berupa serangan asma (Ngastiyah, 2005).
Asma adalah penyakit yang menyebabkan otot-otot di sekitar saluran
bronchial (saluran udara) dalam paru-paru mengkerut, sekaligus lapisan saluran
bronchial mengalami peradangan dan bengkak (Espeland, 2008).
Asma adalah suatu peradangan pada bronkus akibat reaksi hipersensitif
mukosa bronkus terhadap bahan alergen (Riyadi, 2009).
2.1.2

Klasifikasi

Berdasarkan penyebabnya, asma dapat diklasifikasikan menjadi 3 tipe,


yaitu:
1. Ekstrinsik(alergik)
Ditandai dengan reaksi alergik yang disebabkan oleh faktor-faktor
pencetus yang spesifik(alergen), seperti : debu, serbuk bunga, bulu binatang, obatobatan (antibiotic dan aspirin) dan spora jamur. Asma ekstrinsik sering
dihubungkan dengan adanya suatu predisposisi genetik terhadap alergi. Oleh
karena itu jika ada faktor-faktor pencetus spesifik seperti yang disebutkan di atas,
maka akan terjadi serangan asma ekstrinsik.
2. Intrinsik (nonalergik)
Ditandai dengan adanya reaksi non alergi yang bereaksi terhadap pencetus
yang tidak spesifik atau tidak diketahui, seperti : udara dingin atau bisa juga
disebabkan oleh adanya infeksi saluran pernafasan dan emosi. Serangan asma ini
menjadi lebih berat dan sering sejalan dengan berlalunya waktu dan dapat
berkembang menjadi bronkhitis kronik dan emfisema. Beberapa pasien akan
mengalami asma gabungan.

3. Asma gabungan
Bentuk asma yang paling umum. Asma ini mempunyai karakteristik dari
bentuk alergik dan non-alergik.
Sedangkan pembagian asma pada anak adalah:
1.

Asma episode yang jarang.


Biasanya terdapat pada anak umur 3 8 tahun. Serangan umumnya

dicetuskan oleh infeksi virus saluran nafas bagian atas. Banyaknya serangan 3 4
kali dalam 1 tahun. Lamanya serangan dapat beberapa hari, jarang merupakan
serangan yang berat.
Gejala yang timbul lebih menonjol pada malam hari. Mengi dapat
berlangsung kurang dari 3-4 hari, sedang batuk-batuknya dapat berlangsung 10
14 hari. Manifestasi alergi lainya misalnya, eksim jarang terdapat pada golongan
ini. Tumbuh kembang anak biasanya baik, diluar serang tidak ditemukan kelainan.
Waktu

remisi

berminggu-minggu

sampai

berbulan-bulan.

Golongan

ini

merupakan 70 75 % dari populasi asma anak.


2.

Asma episode yang sering.


Pada 2/3 golongan ini serangan pertama terjadi pada umur sebelum 3

tahun. Pada permulaan, serangan berhubungan dengan infeksi saluran nafas akut.
Pada umur 5 6 tahun dapat terjadi serangan tanpa infeksi yang jelas. Biasanya
orang tua menghubungkan dengan perubahan udara, adanya alergen, aktivitas
fisik dan stress. Banyak yang tidak jelas pencetusya. Frekwensi serangan 3 4
kali dalam 1 tahun, tiap serangan beberapa hari sampai beberapa minggu.
Frekwensi serangan paling tinggi pada umur 8 13 tahun. Pad golongan lanjut
kadang-kadang sukar dibedakan dengan golongan asma kronik ataui persisten.
Umumnya gejala paling jelek terjadi pada malam hari dengan batuk dan mengi
yang akan mengganggu tidurnya. Pemeriksaan fisik di luar serangan tergantung
frekwensi serangan. Jika waktu serangan lebih dari 1 2 minggu, biasanya tidak
ditemukan kelainan fisik. Hay Fever dapat ditemukan pada golongan asma kronik
atau persisten. Gangguan pertumbuhan jarang terjadi . Golongan ini merupakan 20 % dari populasi asma pada anak.

3.

Asma kronik atau persisten.


Pada 25 % anak golongan ini serangan pertama terjadi sebelum umur 6

bulan; 75 % sebelum umur 3 tahun. Pada lebih adari 50 % anak terdpat mengi
yang lama pada dua tahun pertama, dan 50 % sisanya serangannya episodik. Pada
umur 5 6 tahun akan lebih jelas terjadinya obstruksi saluran nafas yang persisten
dan hampir selalu terdapat mengi setiap hari; malam hari terganggu oleh batuk
dan mengi. Aktivitas fisik sering menyebabkan mengi. Dari waktui ke waktu
terjadiserangan yang berat dan sering memerlukan perawatan di rumah sakit.
Terdapat juga gologan yang jarang mengalami serangan berat, hanya sesak
sedikit dan mengisepanjang waaktu. Biasanya setelah mendapatkan penangan
anak dan orang tua baru menyadari mengenai asma pada anak dan masalahnya.
Obstruksi jalan nafas mencapai puncakya pada umur 8 14 tahun, baru kemudian
terjadi perubahan, biasanya perbaikan. Pada umur dewasa muda 50 % golongan
ini tetap menderita asma persisten atau sering. Jarang yang betul-betul bebas
mengi pada umur dewasa muda. Pada pemeriksaan fisik jarang yang normal;
dapat terjadi perubahan bentuk thoraks seperti dada burung (Pigeon Chest), Barrel
Chest dan terdapat sulkus Harison. Pada golongan ini dapat terjadi gangguan
pertumbuhan yakni, bertubuh kecil. Kemampuan aktivitas fisik kurangsekali,
sering tidak dapat melakukan olah raga dan kegiatan lainya. Juga sering tidak
masuk sekolah hingga prestasi belajar terganggu. Sebagian kecil ada mengalami
gangguan psiko sosial.
Disamping tiga golongan besar tersebut diatas terdapat bentuk asma yang
tidak dapat begitu saja dimasukkan ke dalamnya.
1. Asma episodik berat atau berulang.
Dapat terjadi pada semua umur, biasanya pada anak kecil dan umur
prasekolah. Serangan biasanya berat dan sering memerlukan perawatan di rumah
sakit. Biasanya berhubungan dengan infeksi saluran napas. Di luar serangan
biasanya normal dan tanda-tanda alergi tidak menonjol. Serangan biasanya hilang
pada umur 56 tahun. Tidak terdapat obstruksi saluran napas yang persisten.
2. Asma persiten.
Mengi yang persisten dengan takipnea untuk beberapa hari atau beberapa
minggu. Keadaan mengi yang persisten ini kemungkinan besar berhubungan

dengan kecilnya saluran napas pada anak golongan umur ini. Terjadi pada
beberapa anak umur 312 bulan. Mengi biasanya terdengar jelas jika anak sedang
aktif. Keadaan umum anak dan tumbuh kembang biasanya tetap baik, bahkan
beberapa anak menjadi gemuk sehingga ada istilah fat happy wheezer.
Gambaran rontgen paru biasanya normal. Gejala obstruksi saluran napas
disebabkan oleh edema mukosa dan hipersekresi

daripada spasme otot

bronkusnya.
3. Hipersekresi
Biasanya terdapat pada anak kecil dan permulaan umur sekolah.
Gambaran utama serangan adalah batuk, suara napas berderak dan mengi. Pada
pemeriksaan fisik didapatkan ronkhi basah kasar dab ronkhi kering.
4. Asma karena beban fisik.
Serangan asma setelah melakukan kegiatan fisik sering dijumpai pada
asma episodik sering dan pada asma kronik persisten. Disamping itu terdapat
golongan asma yang manifestasi klinisnya baru timbul setelah ada beban fisik
yang bertambah. Biasanya pada anak besar dan akil baliq.
5. Asma dengan alergen atau sensitivitas spesifik.
Pada kebanyakan asma anak, biasanya terdapat banyak faktor yang dapat
mencetuskan serangan asma, tetapi pada anak yang serangan asmanya baru timbul
segera setelah terkena alergen, misalnya bulu binatang, minum aspirin, zat warna
tartrazine, makan makanan atau minum minuman yang mengandung zat
pengawet..
6. Batuk malam.
Banyak terdapat pada semua golongan asma. Batuk terjadi karena
inflamasi mukosa, edema dan produksi mukus yang banyak. Bila gejala menginya
tidak jelas sering salah didiagnosis, yaitu pada golongan asma anak yang berumur
26 tahun dengan gejala utama serangan batuk malam yang keras dan kering.
Batuk biasanya terjadi pada jam 14 pagi. Pada golongan ini sering didapatkan
tanda adanya alergi pada anak dan keluarganya.
7. Asma yang memburuk pada pagi hari.
Golongan yang gejalanya paling buruk jam 14 pagi. Keadaan demikian
dapat terjadi secara teratur atau intermitten. Keadaan ini diduga berhubungan
6

dengan irama diurnal caliber saluran napas, yang pada golongan ini sangat
menonjol.

2.1.3

Etiologi

Adapun faktor penyebab dari asma adalah faktor infeksi dan faktor non
infeksi. Faktor infeksi misalnya virus, jamur, parasit, dan bakteri sedangkan faktor
non infeksi seperti alergi, iritan, cuaca, kegiatan jasmani dan psikis (Mansjoer,
2000).
Asma adalah suatu obstruktif jalan nafas yang reversibel yang disebabkan
oleh :
1.

Kontraksi otot di sekitar bronkus sehingga terjadi penyempitan jalan nafas.

2.

Pembengkakan membran bronkus.

3.

Terisinya bronkus oleh mukus yang kental.


Ada beberapa hal yang merupakan faktor predisposisi dan presipitasi

timbulnya serangan asthma bronkhial.


1.

Faktor predisposisi
a. Genetik
Yangn

diturunkan

adalah

bakat

alerginya,

meskipun

belum

diketahuibagaimana cara penurunannya yang jelas. Penderita dengan penyakit


alergi biasanya mempunyai keluarga dekat juga menderita penyakit alergi. Karena
adanya bakat alergi ini, penderita sangat mudah terkena penyakit asthma
bronkhial jika terpapar dengan foktor pencetus. Selain itu hipersentifisitas saluran
pernafasannya juga bisa diturunkan.
2.

Faktor Presipitasi (Pencetus )


a. Alergen.
Dimana alergen dibagi menjadi tiga jenis , yaitu :
1) Inhalan, yang masuk melalui saluran pernapasan. Seperti debu, bulu
binatang, serbuk bunga, spora jamur, bakteri dan polusi.
2) Ingestan, yang masuk melalui mulut. Seperti makanan dan obat-obatan.

3) Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit. seperti : perhiasan,


logam dan jam tangan
b. Perubahan cuaca.
Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering mempengaruhi
asma. Atmosfir yang mendadak dingin merupakan faktor pemicu terjadinya
serangan asma. Kadang-kadang serangan berhubungan dengan musim, seperti:
musim hujan, musim kemarau, musim bunga. Hal ini berhubungan dengan arah
angin serbuk bunga dan debu
c. Stress.
Stress atau gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan asma, selain
itu juga bisa memperberat serangan asma yang sudah ada. Disamping gejala asma
yang timbul harus segera diobati penderita asma yang mengalami stress atau
gangguan emosi perlu diberi nasehat untuk menyelesaikan masalah pribadinya.
Karena jika stressnya belum diatasi maka gejala asmanya belum bisa diobati.
d. Lingkungan kerja .
Mempunyai hubungan langsung dengan sebab terjadinya serangan asma.
Hal ini berkaitan dengan dimana dia bekerja. Misalnya orang yang bekerja di
laboratorium hewan, industri tekstil, pabrik asbes, polisi lalu lintas. Gejala ini
membaik pada waktu libur atau cuti
e. Olahraga atau aktifitas jasmani yang berat
Sebagian besar penderita asma akan mendapat serangan jika melakukan
aktifitas jasmani atau aloh raga yang berat. Lari cepat paling mudah menimbulkan
serangan asma. Serangan asma karena aktifitas biasanya terjadi segera setelah
selesai aktifitas tersebut.
2.1.4

Patofisiologi

Faktor-faktor penyebab seperti virus, bakteri, jamur, parasit, alergi, iritan,


cuaca, kegiatan jasmani dan psikis akan merangsang reaksi hiperreaktivitas
bronkus dalam saluran pernafasan sehingga merangsang sel plasma menghasilkan
imonoglubulin E (IgE). IgE selanjutnya akan menempel pada reseptor dinding sel
mast yang disebut sel mast tersensitisasi. Sel mast tersensitisasi akan mengalami

degranulasi, sel mast yang mengalami degranulasi akan mengeluarkan sejumlah


mediator seperti histamin dan bradikinin. Mediator ini menyebabkan peningkatan
permeabilitas kapiler sehingga timbul edema mukosa, peningkatan produksi
mukus dan kontraksi otot polos bronkiolus. Hal ini akan menyebabkan proliferasi
akibatnya terjadi sumbatan dan daya konsulidasi pada jalan nafas sehingga proses
pertukaran O2 dan CO2 terhambat akibatnya terjadi gangguan ventilasi.
Rendahnya masukan O2 ke paru-paru terutama pada alveolus menyebabkan
terjadinya peningkatan tekanan CO2 dalam alveolus atau yang disebut dengan
hiperventilasi, yang akan menyebabkan terjadi alkalosis respiratorik dan
penurunan CO2 dalam kapiler (hipoventilasi) yang akan menyebabkan terjadi
asidosis respiratorik. Hal ini dapat menyebabkan paru-paru tidak dapat memenuhi
fungsi primernya dalam pertukaran gas yaitu membuang karbondioksida sehingga
menyebabkan konsentrasi O2 dalam alveolus menurun dan terjadilah gangguan
difusi, dan akan berlanjut menjadi gangguan perfusi dimana oksigenisasi ke
jaringan tidak memadai sehingga akan terjadi hipoksemia dan hipoksia yang akan
menimbulkan berbagai manifestasi klinis.
2.1.5

Manifestasi klinis dan Komplikasi

Adapun manifestasi klinis yang ditimbulkan antara lain mengi/wheezing,


sesak nafas, dada terasa tertekan atau sesak, batuk, pilek, nyeri dada, nadi
meningkat, retraksi otot dada, nafas cuping hidung, takipnea, kelelahan, lemah,
anoreksia, sianosis dan gelisah.
Adapun komplikasi yang timbul yaitu bronkitis berat, emfisema,
atelektasis, pneumotorak dan bronkopneumonia.
Ada beberapa tingkatan penderita asma yaitu :
1.

Tingkat I :
a. Secara klinis normal tanpa kelainan pemeriksaan fisik dan fungsi paru.
b. Timbul bila ada faktor pencetus baik di dapat alamiah maupun dengan
test provokasi bronkial di laboratorium.

2.

Tingkat II :
a. Tanpa keluhan dan kelainan pemeriksaan fisik tapi fungsi paru
menunjukkan adanya tanda-tanda obstruksi jalan nafas.

b. Banyak dijumpai pada klien setelah sembuh serangan.


3.

Tingkat III :
a. Tanpa keluhan.
b. Pemeriksaan fisik dan fungsi paru menunjukkan adanya obstruksi jalan
nafas.
c. Penderita sudah sembuh dan bila obat tidak diteruskan mudah diserang
kembali.

4.

Tingkat IV :
a. Klien mengeluh batuk, sesak nafas dan nafas berbunyi wheezing.
b. Pemeriksaan fisik dan fungsi paru didapat tanda-tanda obstruksi jalan
nafas.

5.

Tingkat V :
a. Status asmatikus yaitu suatu keadaan darurat medis berupa serangan
asma akut yang berat bersifat refrator sementara terhadap pengobatan
yang lazim dipakai.
b. Asma pada dasarnya merupakan penyakit obstruksi jalan nafas yang
reversibel. Pada asma yang berat dapat timbul gejala seperti :
Kontraksi otot-otot pernafasan, cyanosis, gangguan kesadaran,
penderita tampak letih, takikardi
2.1.6

Pemeriksaan diagnostik

1. Pemeriksaan Radiologi
a. Foto thorak
Pada foto thorak akan tampak corakan paru yang meningkat,
hiperinflasi terdapat pada serangan akut dan pada asma kronik,
atelektasis juga ditemukan pada anak-anak 6 tahun.
b. Foto sinus paranasalis
Diperlukan jika asma sulit terkontrol untuk melihat adanya sinusitis.
2. Pemeriksaan darah
Hasilnya akan terdapat eosinofilia pada darah tepi dan sekret hidung, bila
tidak eosinofilia kemungkinan bukan asma .
3. Uji faal paru

10

Dilakukan untuk menentukan derajat obstruksi, menilai hasil provokasi


bronkus, menilai hasil pengobatan dan mengikuti perjalanan penyakit. Alat
yang digunakan untuk uji faal paru adalah peak flow meter, caranya anak
disuruh meniup flow meter beberapa kali (sebelumnya menarik nafas
dalam melalui mulut kemudian menghebuskan dengan kuat).
4. Spirometri
Spirometri : Untuk menunjukkan adanya obstruksi jalan nafas. Tes
provokasi : Untuk menunjang adanya hiperaktifitas bronkus. Tes provokasi
dilakukan bila tidak dilakukan lewat tes spirometri. Tes provokasi
bronchial, Untuk menunjang adanya hiperaktivitas bronkus , test provokasi
dilakukan bila tidak dilakukan test spirometri. Test provokasi bronchial
seperti : Test provokasi histamin, metakolin, alergen, kegiatan jasmani,
hiperventilasi dengan udara dingin dan inhalasi dengan aqua destilata.
5. Uji kulit alergi dan imunologi
Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara goresan atau tusuk. Alergen yang
digunakan adalah alergen yang banyak didapat di daerahnya
.
2.1.7

Penatalaksanaan

1.

Medis
Pengobatan pada asma bronkhial terbagi 2, yaitu:
a. Pengobatan non farmakologik:
1) Memberikan penyuluhan
2) Menghindari faktor pencetus
3) Pemberian cairan
4) Fisiotherapy
5) Beri O2 bila perlu.
b. Pengobatan farmakologik :
1) Bronkodilator : obat yang melebarkan saluran nafas. Terbagi dalam
2 golongan
a) Simpatomimetik/ andrenergik (Adrenalin dan efedrin)
Nama obat :
Orsiprenalin (Alupent)
Fenoterol (berotec)
Terbutalin (bricasma)

11

Obat-obat golongan simpatomimetik tersedia dalam bentuk tablet, sirup,


suntikan dan semprotan. Yang berupa semprotan: MDI (Metered dose inhaler).
Ada juga yang berbentuk bubuk halus yang dihirup (Ventolin Diskhaler dan
Bricasma Turbuhaler) atau cairan broncodilator (Alupent, Berotec, brivasma serts
Ventolin) yang oleh alat khusus diubah menjadi aerosol (partikel-partikel yang
sangat halus ) untuk selanjutnya dihirup.
2) Santin (teofilin)
Nama obat :
a) Aminofilin (Amicam supp)
b) Aminofilin (Euphilin Retard)
c) Teofilin (Amilex)
Efek dari teofilin sama dengan obat golongan simpatomimetik, tetapi cara
kerjanya berbeda. Sehingga bila kedua obat ini dikombinasikan efeknya saling
memperkuat.
Cara pemakaian : Bentuk suntikan teofillin / aminofilin dipakai pada
serangan asma akut, dan disuntikan perlahan-lahan langsung ke pembuluh darah.
Karena sering merangsang lambung bentuk tablet atau sirupnya sebaiknya
diminum sesudah makan. Itulah sebabnya penderita yang mempunyai sakit
lambung sebaiknya berhati-hati bila minum obat ini. Teofilin ada juga dalam
bentuk supositoria yang cara pemakaiannya dimasukkan ke dalam anus.
Supositoria ini digunakan jika penderita karena sesuatu hal tidak dapat minum
teofilin (misalnya muntah atau lambungnya kering).
3) Kromalin
Kromalin bukan bronkodilator tetapi merupakan obat pencegah serangan
asma. Manfaatnya adalah untuk penderita asma alergi terutama anakanak.
Kromalin biasanya diberikan bersama-sama obat anti asma yang lain, dan efeknya
baru terlihat setelah pemakaian satu bulan.
4) Ketolifen
Mempunyai efek pencegahan terhadap asma seperti kromalin. Biasanya
diberikan dengan dosis dua kali 1mg / hari. Keuntungnan obat ini adalah dapat
diberika secara oral.
2.2

Konsep Dasar Asuhan Keperawatan

2.2.1

Data Subjektif

12

1. Biodata / Identitas
Nomor RM

: xxxxxx

Nama

Tempat tanggal lahir :


Usia

: Dapat terjadi pada semua umur. Pada asma episode


jarang, dapa terjadi pada usia 3-8 tahun, Pada 2/3
golongan asma episode sering serangan pertama
terjadi pada umur sebelum 3 tahun, Pada 25 %
anak golongan ini serangan pertama terjadi
sebelum umur 6 bulan; 75 % sebelum umur 3
tahun. Pada lebih adari 50 % anak terdpat mengi
yang lama pada dua tahun pertama, dan 50 %
sisanya serangannya episodik. Pada umur 5 6
tahun akan lebih jelas terjadinya obstruksi saluran
nafas yang persisten

Jenis kelamin

Nama ayah/ ibu

Pendidikan ayah/ ibu :


Agama

Suku bangsa

Alamat

: Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin


sering

mempengaruhi

asma. Atmosfir

yang

mendadak dingin merupakan faktor pemicu


terjadinya serangan asma
Sumber informasi

Diagnosa medis

2. Keluhan utama
keluhan antara lain mengi/wheezing, sesak nafas, dada terasa tertekan atau
sesak, batuk, pilek, nyeri dada, kelelahan, lemah, nafsu makan menurun
3. Riwayat penyakit sekarang

13

Dapat timbul bronkitis berat, emfisema, atelektasis, pneumotorak dan


bronkopneumonia.
4. Riwayat pengobatan sebelumnya
5. Riwayat penyakit dahulu
Riwayat penyakit yang pernah diderita sebelumnya, apakah pernah MRS/
opname, adakah riwayat alergi
6. Riwayat penyakit keluarga
Di keluarga apakah ada yang menderita penyakit asma atau batuk lama,
adakah keluarga yang mempunyai riwayat alergi, apakah orang tua
perokok.
7. Riwayat kehamilan dan persalinan
Periksa kehamilan dimana, rutin atau tidak, lahir normal/SC, berat badan
lahir, lahir langsung menangis atau tidak, riwayat ANC ibu. ASI diberikan
sampai dengan umur berapa, PASI apa yang diberikan dan mulai usia
berapa dan sampai kapan diberikan.
8. Riwayat imunisasi
Klien sudah mendapatkan imunisasi lengkap atau tidak dan tepat sesuai
dengan jadwal atau tidak.
9. Riwayat nutrisi
Ibu klien mengatakan bahwa nafsu makan klien menurun atau tidak
10. Riwayat tumbuh kembang
Adakah hambatan dalam perkembangan dan pertumbuhannya. Bagaimana
dengan kenaikan berat badannya, sesuai atau tidak.
11. Data Psikososial
anggota keluarga yang tinggal di rumah sebanyak berapa orang
12. Kondisi Lingkungan
Kepadatan, ventilasi, dan kelembaban
13. Data objektif
2.2.2

Data Objektif

a. Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum

14

Pada asma, kesadaran dapat normal-menurun, nadi meningkat, suhu,


pernafasan dapat meningkat, tekanan darah dapat meninngkat, BB
selama sakit dapat ,enurunn.
Pada penderita asma mengi/wheezing, sesak nafas, dada terasa tertekan
atau sesak, batuk, pilek, nyeri dada, nadi meningkat, retraksi otot dada,
nafas cuping hidung, takipnea, kelelahan, lemah, anoreksia, sianosis
dan gelisah.
b. Kepala dan leher
Mata

: tidak pucat, tidak ikterus, cyanosis/ tidak, dapat takipneu.

Hidung

: terdapat pernafasan cuping hidung.

Mulut

: bersih, lidah tidak kotor

Leher

: adakah distensi vena jugularis, tidak terdapat pembesaran


kelenjar, klien mampu menelan dengan/ tanpa terasa sakit/ nyeri,
ada/ tidak ada kaku kuduk.

c. Dada dan thoraks


Bentuk dada, pergerakan dada simetris, terdapat weezing, retraksi dada, adakah
stridor, adakah bunyi jantung redup.
d. Abdomen
Bentuk supel, adakah bising usus , adakah nyeri tekan, adakah pembesaran
hepar dan limpa.
e. Integumen
Warna kulit dan membran mukosa pucat/cyanosis, turgor kulit baik/tidak,
berkeringat/ tidak.
f. Ekstrimitas
Adakah clubing finger (jari tabuh), bengkak/tidak, Tidak ada kelainan dalam
segi bentuk. Klien mampu menggerakkan ekstrimitas sesuai dengan arah gerak
sendi.

2.2.2. Pemeriksaaan diagnostik

15

1.

Pemeriksaan Radiologi
a. Foto thorak
Pada foto thorak akan tampak corakan paru yang meningkat,
hiperinflasi terdapat pada serangan akut dan pada asma kronik,
atelektasis juga ditemukan pada anak-anak 6 tahun.
b. Foto sinus paranasalis
Diperlukan jika asma sulit terkontrol untuk melihat adanya sinusitis.
2. Pemeriksaan darah
Hasilnya akan terdapat eosinofilia pada darah tepi dan sekret hidung, bila
tidak eosinofilia kemungkinan bukan asma .
3. Uji faal paru
Dilakukan untuk menentukan derajat obstruksi, menilai hasil provokasi
bronkus, menilai hasil pengobatan dan mengikuti perjalanan penyakit. Alat
yang digunakan untuk uji faal paru adalah peak flow meter, caranya anak
disuruh meniup flow meter beberapa kali (sebelumnya menarik nafas
dalam melalui mulut kemudian menghebuskan dengan kuat).
4. Spirometri
Spirometri : Untuk menunjukkan adanya obstruksi jalan nafas. Tes
provokasi : Untuk menunjang adanya hiperaktifitas bronkus. Tes provokasi
dilakukan bila tidak dilakukan lewat tes spirometri. Tes provokasi
bronchial, Untuk menunjang adanya hiperaktivitas bronkus , test provokasi
dilakukan bila tidak dilakukan test spirometri. Test provokasi bronchial
seperti : Test provokasi histamin, metakolin, alergen, kegiatan jasmani,
hiperventilasi dengan udara dingin dan inhalasi dengan aqua destilata.
5. Uji kulit alergi dan imunologi
Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara goresan atau tusuk. Alergen yang
digunakan adalah alergen yang banyak didapat di daerahnya

2.2.3

Analisis Data

Data
S: mengeluh batuk pilek,

Penyebab
Alergen

Masalah
Bersihan jalan nafas tidak
16

sesak napas
Aktivasi IgE
O:

efektif

berhubungan

dengan

peningkatan

produksi sekret.

Penggunaan otot bantu

nafas.
Cuping hidung
Bunyi nafas weezing
Perkusi redup (pekak)

Peningkatan pelepasan
histamin
Edema mukosa
Peningkatan akumulasi
sekret
Bersihan jalan nafas tidak

S: Pasien mengatakan

efektif
Alergen

kurang nafsu makan

Perubahan nutrisi kurang


dari kebutuhan

Aktivasi IgE
O:

berhubungan dengan
peningkatan kebutuhan

- BB turun
- Lila turun

Peningkatan pelepasan
histamin
Edema mukosa

metabolik sekunder
terhadap anoreksia akibat
rasa dan bau sputum

Peningkatan akumulasi
sekret
Anoreksia

S: Mengeluh dada sesak

Nutrisi
Alergen

Kerusakan pertukaran gas


berubungan dengan

O:

Aktivasi IgE

Sianosis

Takipnea

Gelisah

perubahan membran
alveolar kapiler

Peningkatan pelepasan
histamin

17

Nafas cuping hidung

Retraksi otot dada

Edema mukosa
Peningkatan akumulasi
secret
gangguan ventilasi
hipoksemia & hipoksia

S: mengeluh lemah
O:
- Tampak duduk diam
dan tidak bermain
- Takipneu

Alergen

Intoleransi aktivitas
berhubungan dengan

Aktivasi IgE

kelemahan umum,
ketidakseimbangan

Peningkatan pelepasan
histamin

antara suplay dan


kebutuhan oksigen

Edema mukosa
Peningkatan akumulasi
secret
gangguan difusi
oksigen ke jaringan tidak
memadai
gangguan perfusi
kelelahan
S: Pasien
nyeri dada

mengatakan

O:
- Pernapasan cuping

Alergen

Nyeri akut berhubungan


dengan inflamasi

Aktivasi IgE

parenkim paru, batuk


menetap

18

hidung
Bernapas dengan otot
bantu pernapasan
Rewel

Peningkatan pelepasan
histamin
Edema mukosa
Peningkatan akumulasi
secret
gangguan difusi
oksigen ke jaringan tidak
memadai
gangguan perfusi

S: Pasien menanyakan

dada tertekan, sesak


Alergen

kondisi anaknya

berhubungan dengan
Aktivasi IgE

O:
-

Ansietas orang tua


perubahan status
kesehatan, kurangnya

tampak cemas dan

gelisah

Peningkatan pelepasan
histamin

informasi.

Edema mukosa
Peningkatan akumulasi
secret
gangguan ventilasi
hipoksemia & hipoksia
sianosis, takipnea,
retraksi otot dada,
pernapasan cuping

19

hidung
2.2.4

Diagnosa keperawatan
Diagnosa

keperawatan

adalah

penilaian

klinis

tentang

respon

aktual/potensial terhadap masalah kesehatan/proses kehidupan. Dari pengkajian


yang dilakukan maka didapatkan diagnosa keperawatan yang muncul seperti :
(Carpenito, 2000 & Doenges, 1999)
a.

Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan


produksi sekret.

b.

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan peningkatan


kebutuhan metabolik sekunder terhadap anoreksia akibat rasa dan bau
sputum

c.

Kerusakan pertukaran gas berubungan dengan perubahan membran


alveolar kapiler

d.

Intoleransi

aktivitas

berhubungan

dengan

kelemahan

umum,

ketidakseimbangan antara suplay dan kebutuhan oksigen.


e.

Nyeri akut berhubungan dengan inflamasi parenkim paru, batuk menetap

f.

Ansietas orang tua berhubungan dengan perubahan status kesehatan,


kurangnya informasi.

2.2.5

Perencanaan keperawatan
Perencanaan

merupakan

preskripsi untuk

perilaku

spesifik

yang

diharapkan dari pasien dan/atau tindakan yang harus dilakukan oleh perawat
(Doenges, 1999).
Perencanaan diawali dengan memprioritaskan diagnosa keperawatan
berdasarkan berat ringannya masalah yang ditemukan pada pasien (Zainal, 1999).
Rencana keperawatan yang dapat disusun untuk pasien asma yaitu: (Doenges,
1999).
1)

Bersihan jalan napas tak efektif berhubungan dengan inflamasi


trakeabronkial

Tujuan : bersihan jalan nafas efektif


Rencana tindakan :

20

a.

Ukur vital sign setiap 6 jam


Rasional :

b.

Mengetahui perkembangan pasien

Observasi keadaan umum pasien


Rasional :

Mengetahui efektivitas perawatan dan perkembangan

pasien.
c.

Kaji frekuensi/ kedalaman pernafasan dan gerakan dada


Rasional :

Takipnea, pernafasan dangkal dan gerakan dada tidak

simetris, sering terjadi karena ketidaknyamanan gerakan dada dan/atau


cairan paru.
d.

Auskultasi area paru, bunyi nafas, misal krekel, mengi dan ronchi
Rasional:
Bunyi nafas bronkial (normal pada bronkus) dapat juga
terjadi pada area konsolidasi, krekel, mengi dan ronchi terdengar pada
inspirasi atau ekspirasi pada respon bertahap pengumpulan cairan, sekret
kental dan spasme jalan nafas/obstruksi.

e.

Ajarkan pasien latihan nafas dalam dan batuk efektif


Rasional :

Nafas dalam memudahkan ekspansi maksimum paru-paru

atau jalan nafas lebih kecil. Batuk adalah mekanisme pembersihan jalan
nafas alami, membantu silia untuk mempertahankan jalan nafas pasien.
f.

Anjurkan banyak minum air hangat


Rasional :

g.

Air hangat dapat memobilisasi dan mengeluarkan sekret.

Beri posisi yang nyaman (semi fowler/fowler)


Rasional :

Memungkinkan upaya napas lebih dalam dan lebih kuat

serta menurunkan ketidaknyamanan dada.


h.

Delegatif dalam pemberian bronkodilator, kortikosteroid, ekspktoran dan


antibiotik
Rasional :

Bronkodilator

untuk

menurunkan

spasme

bronkus/melebarkan bronkus dengan memobilisasi sekret. Kortikosteroid


yaitu anti inflamasi mencegah reaksi alergi, menghambat pengeluaran
histamine. Ekspektoran memudahkan pengenceran dahak, Antibiotik
diindikasikan untuk mengontrol infeksi pernafasan.

21

2)

Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran


alveolar kapiler

Tujuan : Ventilasi dan pertukaran gas efektif.


Rencana tindakan :
a. Observasi keadaan umum dan vital sign setiap 6 jam
Rasonal :

Penurunan keadaan umum dan perubahan vital sign

merupakan indikasi derajat keparahan dan status kesehatan pasien.


b. Observasi warna kulit, membran mukosa dan kuku
Rasional :

Sianosis menunjukkan vasokonstriksi, hipoksemia sistemik.

c. Pertahankan istirahat tidur


Rasional :

Mencegah

terlalu

lelah

dan

menurunkan

kebutuhan/konsumsi oksigen untuk memudahkan perbaikan infeksi.


d. Tinggikan kepala dan sering mengubah posisi
Rasional :

Meningkatkan

inspirasi

maksimal,

meningkatkan

pengeluaran sekret untuk memperbaiki ventilasi


e. Berikan terapi oksigen sesuai indikasi
3)

Rasional :

Mempertahankan PaO2

Intoleransi

aktivitas

berhubungan

dengan

kelemahan

umum,

ketidakseimbangan suplay dan kebutuhan O2


Tujuan : Aktivitas dapat ditingkatkan
Rencana tindakan :
a. Kaji tingkat kemampuan pasien dalam aktivitas
Rasional :

Menetapkan

kemampuan/kebutuhan

pasien

dan

memudahkan pilihan intervensi.


b. Jelaskan pentingnya istirahat dan keseimbangan aktivitas dan istirahat
Rasional :

Menurunkan kebutuhan metabolik, menghemat energi

untuk penyembuhan
c. Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhannya
Rasional :

Meminimalkan kelelahan dan membantu keseimbangan

suplay dan kebutuhan oksigen.


d. Bantu pasien dalam memilih posisi yang nyaman untuk istirahat

22

Rasional:

Pasien mungkin nyaman dengan kepala tinggi, tidur di

kursi, atau menunduk ke depan meja atau bantal


e. Libatkan keluarga dalam pemenuhan kebutuhan pasien
Rasional :
4)

Keluarga mampu melakukan perawatan secara mandiri

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan


peningkatan produksi sputum

Tujuan : pemenuhan nutrisi adekuat


a. Timbang berat badan setiap hari
Rasional : Memberikan informasi tentang kebutuhan diet
b. Beri penjelasan tentang pentingnya nutrisi bagi tubuh
Rasional : Meningkatkan pematangan kebutuhan individu dan pentingnya
nutrisi pada proses pertumbuhan
c. Anjurkan memberikan makan dalam porsi kecil tapi sering
Rasional : Meningkatkan nafsu makan, dengan porsi kecil tidak akan cepat
bosan
d. Ciptakan lingkungan yang nyaman dan tenang (batasi pengunjung)
Rasional : Lingkungan yang tenang dan nyaman dapat menurunkan stress
dan lebih kondusif untuk makan
e. Anjurkan menghidangkan makan dalam keadaan hangat
Rasional : Dengan makanan yang masih hangat dapat merangsang makan
dan meningkatkan nafsu makan
5)

Nyeri (akut) berhubungan dengan inflamasi parenkim paru, batuk


menetap.

Tujuan : Nyeri, berkurang/terkontrol.


Rencana tindakan:
a. Kaji karakteristik nyeri
Rasional :

Nyeri dada biasanya ada dalam beberapa serangan asma .

b. Observasi vital sign setiap 6 jam


Rasional :

Perubahan

frekuensi

jantung

atau

tekanan

darah

menunjukkan bahwa mengalami nyeri. Khususnya bila alasan lain untuk


perubahan tanda vital telah terlihat.
c. Berikan tindakan nyaman seperti relaksasi dan distraksi

23

Rasional :

Menghilangkan ketidaknyamanan dan memperbesar efek

terapi analgetik
d. Kolaborasi pemberian analgetik
Rasional:
6)

Meningkatkan kenyamanan/istirahat umum

Ansietas orang tua berhubungan dengan perubahan status kesehatan,


kurangnya informasi

Tujuan:

Kecemasan orang tua berkurang/hilang, pengetahuan orang tua

bertambah, orang tua memahami kondisi pasien.


Rencana tujuan :
a. Kaji tingkat pengetahuan orang tua dan kecemasan orang tua
Rasional : Untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan yang dimiliki
orang tua dan kebenaran informasi yang didapat
b. Beri penjelasan pada orang tua tentang keadaan, pengertian, penyebab,
tanda gejala, pencegahan dan perawatan pasien.
Rasional : Memberi informasi untuk menambah pengetahuan orang tua.
c. Jelaskan setiap tindakan keperawatan yang dilakukan
Rasional : Agar orang tua mengetahui setiap tindakan yang diberikan.
d. Libatkan orang tua dalam perawatan pasien
Rasional : Orang tua lebih kooperatif dalam perawatan.
e. Beri kesempatan pada orang tua untuk bertanya tentang hal-hal yang
belum diketahui
Rasional : Orang tua bisa memperoleh informasi yang lebih jelas.
f. Anjurkan orang tua untuk selalu berdoa
Rasional : Membantu orang tua agar lebih tenang
g. Lakukan evaluasi
Rasoional:

Mengetahui apakah orang tua sudah benar-benar mengerti

dengan penjelasan yang diberikan


2.2.6

Pelaksanaan keperawatan
Pelaksanaan adalah pngelolaan, perwujudan dari rencana perawatan yang
telah disusun pada tahap kedua untuk memenuhi kebutuhan pasien secara

24

optimal dan komprehensif. Tindakan keperawatan yang dilaksanakan


disesuaikan dengan perencanaan (Nursalam, 2001).
2.2.7

Evaluasi keperawatan
Evaluasi adalah proses yang berkelanjutan untuk menilai efek dari
tindakan keperawatan pada pasien. Evaluasi yang diharapkan sesuai
dengan rencana tujuan yaitu :
1)

Bersihan jalan nafas efektif

2)

Ventilasi dan pertukaran gas efektif

3)

Aktivitas dapat ditingkatkan

4)

Pemenuhan nutrisi adekuat

5)

Nyeri berkurang/terkontrol

6)

Kecemasan orang tua berkurang/hilang, pengetauan orang tua


bertambah, keluarga memahami kondisi pasien.

25

BAB 3
TINJAUAN KASUS
Pengkajian
Pengkajian dilakukan pada tanggal 29 oktober 2014 pukul 10.00 WIB di Poli
Anak RSU Haji Surabaya.
3.1 Data Subjektif
3.1.1 Biodata

3.1.2

Nomor RM

: 63xxxx

Nama

: An. F

Tempat tanggal lahir

: Surabaya, 25-01-2012

Usia

: 2 tahun 10 bulan 4 hari (anak pertama)

Jenis kelamin

: perempuan

Nama ayah/ ibu

: Tn. J/ Ny. L

Pendidikan ayah/ ibu

: SMP / D1

Pekerjaan ayah/ibu

: Swasta/IRT

Agama

: Islam

Suku bangsa

: Jawa/ Indonesia

Alamat

: kapasari DKK

Sumber informasi

: Ibu

Diagnosa medis

: Asma

Alasan Kunjungan
Ingin memeriksakan kondisi anaknya

3.1.3

Keluhan utama
Ibu pasien mengatakan An. F batuk, pilek, dan sesak
3.1.4

Riwayat penyakit sekarang

Batuk selama 1 minggu dan sesak sejak 3 hari yang lalu


3.1.5

Riwayat penyakit dahulu

26

Sejak kecil klien sering menderita batuk dan pilek. Klien memiliki alergi
susu sapi. Klien tidak pernah opname. Klien pernah menderita rhinitis
alergi
3.1.6

Riwayat penyakit keluarga

Ibu klien mengatakan bahwa bapak klien memiliki alergi makanan laut. Ibu
memiliki riwayat asma. Ayah merokok. Tidak ada keluarga yang menderita
batuk lama.
3.1.7

Riwayat kehamilan dan persalinan

Klien lahir Spt B di ruang bersalin RSU Haji Surabaya dengan berat badan
lahir 3750 gram, lahir langsung menangis, Selama hamil ibu periksa ke
RSU Haji rutin. Klien minum ASI sampai usia 1 tahun, PASI diberikan
mulai anak usia lebih dari 6 bulan.
3.1.8

Riwayat imunisasi

Klien telah mendapatkan imunisasi dasar yang lengkap yaitu: hepatitis,


BCG, Polio, DPT
3.1.9

Riwayat pola fungsi kesehatan

Nutrisi : Ibu klien mengatakan bahwa makan 3x sehari mengalami


gangguan nafsu makan sehingga terkadang hanya habis 1//2 porsi. minum
susu 5-6 botol/hari.
Eliminasi : BAB 1 kali sehari, warna kuning, konsistensi lembek. BAK
lancar warna kuning jernih tidak ada keluhan.
Aktivitas : anak aktif dan dapat beraktifitas seperti biasa namun rewel.
Istirahat : tidur sedikit terganggu karena sesak.
Lingkungan: lingkungan jauh dari polusi asap kendaraan, ayah merokok
3.1.10

Riwayat tumbuh kembang

Tidak ada gangguan pertumbuhan dan perkembangan.


3.1.11 Genogram
Tinggal
serumah
Klien
B

Laki-laki
Peremp
uan
27

: Asma

: Alergi

3.2 Data Objektif


3.2.1

Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum
Anak duduk di meja pemeriksaan keadaan umum baik, kesadaran
compomentis, anak tampak batuk-batuk, sedikit susah bernafas, rewel,
BB: 14 kg, BB sebelum sakit 14,5 kg. Nadi 88 x/mnt, pernafasan 30 x/mnt
teratur, suhu 36,8 oC.
b. Kepala dan leher
Kepala : simetris, rambut bersih, hitam dan penyebarannya merata,
terpotong pendek.
c. Mata : tidak anemi, tidak kuning, dan tidak cowong
d. Telinga : tidak ada serumen.
e. Hidung: terdapat pernafasan cuping hidung.
f. Mulut : bersih, terdapat karies gigi.
g. Leher : tidak terdapat pembesaran kelenjar, klien mampu menelan tanpa
terasa sakit/ nyeri, tidak ada kaku kuduk.
h. Dada dan thoraks
Pergerakan dada simetris, wheezing +/+, ronchi +/+ retraksi otot bantu
pernafasan ringan. Pemeriksaan jantung S1S2 tunggal tidak ada
bising/murmur.
i. Abdomen
Bentuk supel, tidak ada meteorismus, bising usus +, tidak ada nyeri tekan,
hepar dan limpa tidak teraba.
j. Ekstrimitas
Tidak ada kelainan dalam segi bentuk. Kaki dan tangan dapat bergerak
aktif

28

3.3

Analisa data

Data
S: Ibu klien mengatakan anak

Etiologi
Alergen

batuk sejak 1 minggu yang lalu


dan sesak sejak 3 hari yang lalu

Masalah
Bersihan jalan nafas
dan Pola nafas tidak

Aktivasi IgE

O:

efektif sehubungan
dengan akumulasi

Wheezing +/+.

Peningkatan pelepasan secret dan

Ronchi +/+

histamin

RR 30 x/mnt, teratur.

penyempitan jalan
nafas

Retraksi intercosta ringan.

Edema mukosa

Penyempitan

akumulasi

jalan nafas

sekret

Shortness of breath
Penggunaan otot nafas
Gangguan pola nafas
S: Ibu klien mengatakan tidur Peningkatan akumulasi Ansietas berhubungan
sekret
anak rewel karena sesak
dengan perubahan
O: anak terlihat sedikit susah
bernafas,

retraksi

Batuk produktif

status kesehatan.

ringan,

wheezing (+), ibu gelisah

Dada tertekan, sesak


Gangguan rasa nyaman

S: Pasien mengatakan kurang

Ansietas
Alergen

nafsu makan

Perubahan nutrisi
kurang dari kebutuhan

Aktivasi IgE

berhubungan dengan

29

O:

peningkatan kebutuhan

- BB turun

Peningkatan pelepasan metabolik sekunder


histamin
terhadap anoreksia
Edema mukosa

akibat rasa dan bau


sputum

Peningkatan akumulasi
sekret
Anoreksia

S: Pasien mengatakan batuk

Nutrisi
Alergen

pilek sering kambuh

Kekambuhan
sehubungan dengan

Aktivasi IgE

kontak dengan alergen

O:
- terlihat secret pada hidung
- bunyi ronchi +/+

Peningkatan pelepasan
histamin

- bunyi weezhing +/+


Edema mukosa
Akumulasi sekret

3.4
a.

Diagnosis keperawatan

Bersihan jalan nafas dan Pola nafas tidak efektif sehubungan dengan akumulasi
sekret dan penyempitan jalan nafas

b.

Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan.


c.

d.

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan peningkatan


kebutuhan metabolik sekunder terhadap anoreksia akibat rasa dan bau
sputum
Kekambuhan sehubungan dengan kontak dengan alergen

30

3.5

Rencana Tindakan
Rencana
Tujuan
Tindakan
1. Bersihan
Perbaikan pola a. Observasi:
jalan
nafas. Kriteria
Pernafasan (pola,
nafas dan hasil:
kecepatan,
pola nafas Pada
saat
kedalaman,
tidak
bernafas tidak
penggunaan otot
efektif
menggunakan
bantu pernafasan)
berhubun otot
bantu, b. Jelaskan pada klien
gan
frekuensi
dan
keluarga
dengan
nafas normal,
beberapa tindakan
produksi
suara
nafas
yang
dapat
sekret
bronkovesikul
dilakukan
untuk
yang
er.
meningkatkan
berlebihan RR normal 20proses pengeluaran
30 kali/menit.
sekret.
c. Anjurkan kepada
klien dan keluarga
agar memberikan
minum
lebih
banyak
kepada
klien.
d. Anjurkan kepada
klien untuk minum
minuman hangat
e. Anjurkan pasien
posisi semi fowler
saat merasa sesak
f.Ajarkan klien batuk
efektif
g. Kolaborasi dalam
pemberian terapi
dan nebulizer
Masalah

Rasional
a. Observasi
pernafasan untuk
mengetahui
kecukupan suplai
oksigen, suplai
oksigen yang
cukup merupakan
tanda jalan nafas
sudah bebas
b. Pengetahuan yang
memadai
memungkinkan
keluarga dan klien
kooperatif dalam
tindakan
perawatan.
c. Peningkatan hidrasi
cairan dan
minuman hangat
akan
mengencerkan
sekret sehingga
sekret akan lebih
mudah dikeluarkan.
d. Posisi semi fowler
untuk
memaksimalkan
ekspansi paru
e. batuk
efektif
mengeluarkan
sekret
secara
adekuat
untuk
membersihkan
jalan nafas dan
membantu

31

2. Ansietas
berhubunga
n dengan
perubahan
status
kesehatan.

Rasa cemas a.
berkurang
setelah
b.
mendapat
penjelasan
c.
dengan
kriteria hasil:
Orangtua
d.
mengungkapk
an sudah tidak
takut terhadap e.
tindakan
perawatan,
orang
tua
tampak
tenang, orang
tua kooperatif.

mencegah
komplikasi
pernafasan.
f. Nebulizer
untuk
mengencerkan
sekret, terapi obatobatan
untuk
meringankan
keluhan
dan
membunuh kuman
penyebab infeksi.
Kaji tingkat
a.Dengan mengetahui
kecemasan (ringan,
tingkat kecemasan
sedang, berat).
klien (orang tua),
Berikan dorongan
sehingga
emosional.
memudahkan
Beri dorongan
tindakan
mengungkapkan
selanjutnya.
ketakutan/masalah b. Dukungan yang
Jelaskan jenis
baik memberikan
prosedur dari
semangat tinggi
pengobatan
untuk menerima
Beri dorongan
keadaan penyakit
spiritual
yang dialami.
c.Mengungkapkan
masalah yang
dirasakan akan
mengurangi beban
pikiran yang
dirasakan
d. Penjelasan yang
tepat dan
memahami
penyakitnya
sehingga mau
bekerjasama dalam
tindakan perawatan
dan pengobatan.
e.Diharapkan kesabaran
yang tinggi untuk
menjalani perawatan
dan menyerahkan
pada Allah atas
32

kesembuhannya.
3. Perubahan
nutrisi
kurang
dari
kebutuhan
tubuh
berhubung
an dengan
peningkata
n produksi
sputum

Tujuan

: a. Beri penjelasan
a. Meningkatkan
tentang
pematangan
pemenuhan
pentingnya nutrisi
kebutuhan individu
nutrisi adekuat
bagi tubuh
dan pentingnya
Kriteria hasil:
nutrisi pada proses
b. Anjurkan
pertumbuhan
Perbaikan
b.
Meningkatkan
memberikan
nutrisi
di
nafsu makan,
rumah setelah
makan
dalam
dengan porsi kecil
ibu
porsi kecil tapi
tidak akan cepat
mendapatkan
sering
bosan
KIE nutrisi
c. Lingkungan yang
c. Ciptakan
tenang dan nyaman
lingkungan yang
dapat menurunkan
stress dan lebih
nyaman
dan
kondusif untuk
tenang
(batasi
makan
pengunjung)
d. Dengan makanan
yang masih hangat
d. Anjurkan
dapat merangsang
menghidangkan
makan dan
makan
dalam
meningkatkan
keadaan hangat
nafsu makan

4. Kekambuh
an
sehubunga
n dengan
kontak
dengan
alergen

Tujuan

: a. Memberitahukan a. Factor allergen


ibu factor alergen
dapat memicu
mencegah
yang dapat
peningkatan
kekambuhan
menyebabkan
histamin yang akan
berulang
kekambuhan pada
merangsang
asma
timbulnya secret.
Kriteria hasil:
b. Menganjurkan ibu
Ibu
untuk mencegah
mengetahui
anak kontak
dengan factor
factor allergen
alergen
yang
dapat
menyebabkan
kekambuhan
asma

33

5. Implementasi
Tgl/ Pukul
29 Oktober

No. DP
Pelaksanaan tindakan
1. a. Menjelaskan kepada klien dan ibu bahwa sekret dapat

2014

dikeluarkan dengan batuk, tetapi bila sekret kental

10.30 WIB

akan mempersulit pengeluaran sekret. Oleh karena itu


sekret perlu diencerkan dengan nebulizer, minum
lebih banyak dan hangat, minum obat sesuai dosis dan
tepat waktu.
b. Nebulizer combivent 0,5cc + PZ 2,5 cc
c. Menganjurkan kepada klien dan ibunya agar
memberikan minum yang lebih banyak kepada anak
dan yang hangat.
d. Memberikan penjelasan tentang pengobatan dan
perawatan klien dirumah.
e. Menganjurkan kepada klien dan ibunya untuk
mengulang kembali penjelasan dari petugas sesuai
dengan bahasa sendiri.
f. Kolaborasi dengan Sp.A untuk pemberian terapi
(ambroxol 0,25 mg 3x1, Prednison 1 mg 3x1,

29 Oktober
2014
10.50 WIB

2.

Salbutamol 0,75 mg 3x1)


a. Mengkaji tingkat kecemasan
b. Menjelaskan pada ibu tentang hasil pemeriksaan dan
keadaan anak
c. Menjelaskan kepada ibu prosedur dan manfaat
tindakan keperawatan yang akan dilakukan
d. Menganjurkan ibu untuk menghindari penyebab
alergi

29 Oktober
2014
11.00 WIB

e. Memberikan dukungan emosional dan spiritual


a. Memberi penjelasan tentang pentingnya nutrisi bagi
tubuh
b. Menganjurkan memberikan makan dalam porsi kecil
tapi sering
c. Menganjurkan ibu untuk menciptakan lingkungan

34

yang nyaman dan tenang (batasi pengunjung)


d. Menganjurkan ibu untuk menghidangkan makan
dalam keadaan hangat
6. Evaluasi
No.
S OAP
1. S: ibu mengatakan dapat memahami penjelasan yang diberikan oleh petugas
tentang

tindakan

yang

mungkin

dilakukan

untuk

memudahkan

pengeluaran riak.
O:
- Ibu mampu menjelaskan kembali apa yang telah dijelaskan petugas.
-

Ibu tampak menganggukkan kepala saat dijelaskan oleh petugas.

Batuk (+), wheezing+/+, ronchi +/+ anak akan dinebul di rumah


- Klien dapat mempraktekkan cara batuk efektif

A: Masalah teratasi sebagian


P: Melanjutkan terapi obat-obatan dirumah dan menghindapi makanan yang
merangsang
Kontrol 2 minggu lagi.
2. S: ibunya mengatakan dapat memahami penjelasan yang diberikan oleh
petugas tentang kondisi anak
O: ibu mampu menjelaskan kembali apa yang dijelaskan petugas.
Ibu tampak lebih tenang dan kooperatif dengan tindakan keperawatan
A: Masalah teratasi sebagian
P: Kontrol 2 minggu lagi.
3.

S: ibunya mengatakan dapat memahami penjelasan yang diberikan oleh


petugas tentang kebutuhan nutrisi anak
O: ibu mampu menjelaskan kembali apa yang dijelaskan petugas.
A: Masalah teratasi sebagian
P: Kontrol 2 minggu lagi.

35

4.

S: ibunya mengatakan dapat memahami penjelasan yang diberikan oleh


petugas tentang factor allergen yang memicu kekambuhan asma
O: ibu mampu menjelaskan kembali apa yang dijelaskan petugas.
A: Masalah teratasi
P: intervensi dihentikan

36

BAGAN 1 Web of Caution (WOC) Asma


Etiologi
Faktor infeksi
Virus (respiratory syntitial virus) dan virus parainfluenza
Bakteri (pertusis dan streptoccus)
Jamur (aspergillus)
Parasit (ascaris)

Faktor non infeksi


Alergi
Iritan
Cuaca
Kegiatan jasmani
Psikis

Reaksi hiperaktivitas bronkus


Antibody muncul (IgE)
Sel mast mengalami degranulasi
Mengeluarkan mediator (histamin dan bradikinin)

Anoreksia

Mempermudah proliferasi

Terjadi sumbatan dan daya konsolidasi


Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
Gangguan ventilasi

Batuk, pilek
Mengi / wheezing
Sesak
Bersihan
jalan nafas
tak efektif

Gangguan difusi
Oksigenasi ke jaringan tidak memadai
Gangguan perfusi
Hipoksemia dan hipoksia
Dada terasa
Kelelahan
tertekan / sesak, nyeri dada, nadi meningkat
Lemah
Sianosis
Takipnea
Gelisah
Intoleransi aktivitas
Nafas cuping hidung
Nyeri
Retraksi otot dada
BAB 4
Keluarga bertanya tentang penyakit anaknya
Cemas dan gelisah
Kerusakan pertukaran gas
Ansietas orang tua

37

PEMBAHASAN
Dari asuhan keperawatan yang dilakukan pada An. F didapatkan :
4.1 Pengkajian data
Pengumpulan data terlaksana dengan baik karena adanya kerjasama yang
baik antara petugas dengan pasien. Pada data subjektif ditemukan bahwa pasien
batuk, pilek, dan sesak. Keluhan pasien sesuai dengan teori yang ada dimana
gejala asma adalah batuk, pilek, sesak, nyeri dada.
Pada

data

objektif,

pemeriksaan

ditemukan

bahwa

kesadaran

compomentis, berat badan turun, anak tampak batuk-batuk, sulit bernafas, nadi 88
x/mnt, pernafasan 30 x/mnt teratur, wheezing +/+ namun tidak dilakukan
pemeriksaan penunjang berupa foto rontgen. Hasil pemeriksaan yang ada sesuai
dengan teori pada pasien dengan asma terdapat gangguan nutrisi yang ditandai
dengan berat badan turun, ditemukan wheezing saat auskultasi, ditemukan
gangguan rasa nyaman dan bersihan jalan nafas yang tidak efektif.
4.2 Analisa Data
Berdasarkan hasil pengkajian data dilakukan intervensi data. Dalam hal ini
tidak terdapat kesenjangan terhadap teori. Berat badan klien setelah mengalami
penurunan masih sesuai dengan usianya sehingga tidak disimpulkan klien
mengalami gangguan nutrisi yang tidak sesuai dengan kebutuhan tubuh. Masalah
keperawatan yang dapat disimpulkan antara lain bersihan jalan nafas dan pola
nafas kurang efektif dan ansietas.
4.3 Penatalaksanaan
Rencana yang diberikan sebagai asuhan keperawatan sesuai dengan teori
yang ada, yaitu berdasarkan kebutuhan pasien. Pada kasus sudah dilakukan
prosedur kolaborasi dengan tujuan memberikan terapi lebih lanjut untuk
keselamatan pasien. Masalah dapat diatasi sebagian, dan untuk evaluasi
selanjutnya dilakukan saat kontrol ulang.

BAB 5
38

PENUTUP
5.1

Kesimpulan
1. Asma

adalah penyakit paru dengan ciri khas yakni saluran nafas

sangat mudah bereaksi terhadap berbagai rangsangan atau pencetus


dengan manifestasi berupa serangan asma .
2. Dalam melakukan pengkajian diperlukan adanya ketelitian, kepekaan
dan peranan dari pasien sehingga diperoleh data yang menunjang
untuk mengangkat diagnosis keperawatan
3. Dalam melakukan anaisis data dan menentukan diagnosis keperawatan
pada dasarnya mengacu pada tinjauan pustaka dan adanya perubahan
serta keseimbangan dengan tinjauan pustaka dan adanya perubahan
serta keseimbangan dengan tinjauan pustaka tergantung pada kondisi
anak dengan asma.
4. Perencanaan yang ada pada tinjauan pustaka tidak semua dilakukan
pada tinjauan kasus nyata, karena dalam perencanaan disesuaikan
dengan masalah dan kebutuhan pasien.
5.2

Saran
1. Pasien harus bisa bekerja sama dengan baik dengan tenaga kesehatan
agar keberhasilan dalam asuhan kebidanan dapat tercapai serta semua
masalah pasien dapat terpecahkan.
2. Kita sebagai tenaga yang professional harus dapat memberikan
pelayanan yang membuat pasien merasa puas dan nyaman.

DAFTAR PUSTAKA
39

Anonymous. (2009). Asma Bisa Sembuh atau Problem Seumur Hidup. Diperoleh
tanggal 29 Juni 2009, dari http://www.medicastore.com/asma/
Carpenito, L.J. (2000). Diagnosa keperawatan. (Edisi 6). Jakarta: EGC
Doenges, M.E.(1999). Rencana Asuhan Keperawatan. (Edisi 3). Jakarta: EGC
Espeland, N. (2008). Petunjuk Lengkap Mengatasi Alergi dan Asma pada Anak.
Jakarta: Prestasi Pustakaraya
Gaffar, L.O.J. (1999). Pengantar Keperawatan Profesional, Jakarta: EGC
Hidayat, A.A.A.(2006). Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Surabaya: Salemba
Medika
Mansjoer, A. (2000). Kapita Selekta Kedokteran. (Edisi 3), Jilid 1. Jakarta: Media
Aesculapius
Ngastiyah. (2005). Perawatan Anak Sakit. (Edisi 2). Jakarta: EGC
Nursalam. (2001). Proses dan Dokumentasi Keperawatan. Jakarta: EGC
Price, S.A & Wilson, L.M. (2005). Patofisiologi. (Edisi 6). Jakarta: EGC
Riyadi, S. (2009). Asuhan Keperawatan pada Anak. Yogyakarta: Graha Ilmu

40