Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TERNAK

ACARA II
SACCUS PNEUMATICUS

Disusun oleh :
Kelompok XXVII
Septian Dwiki Indra

PT/06641

Deddy . N. F

PT/06642

Ardha Adi . K.

PT/06643

Khoirun Nisak

PT/06644

Anis Siti Nurjanah

PT/06656

Anisa Warih . N

PT/06657

Asisten : Rio Gustianto

LABORATORIUM FISIOLOGI DAN REPRODUKSI TERNAK


UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2015

ACARA II
SACCUS PNEUMATICUS
Tujuan Praktikum
Praktikum saccus pneumaticus ini bertujuan untuk mengetahui
bentuk saccus pneumaticus, letak saccus pneumaticus, macam-macam
saccus pneumaticus, dan mekanisme kerja dari saccus pneumaticus.
Tinjauan Pustaka
saccus pneumaticus adalah alat pembantu dalam proses masuk
dan keluarnya udara. Saccus pneumaticus berfungsi untuk membantu
pernapasan, mempertahankan suhu badan oleh pengaruh keadaan luar
dan membantu memperkeras suara (Radiopoetro, 1996).
Proses inspirasi dimulai karena terdapat tekanan yang serentak
terhadap udara agar masuk ke dalam saccus cranial dan saccus caudal.
Hal ini berarti selama proses inspirasi, udara mengalir ke dalam semua
saccus namun tidak semua saccus diisi udara dari luar dan ketika tekanan
uap udara mengalir, maka udara akan keluar kembali (Schmidt dan
Nielsen, 1997)
Burung mempunyai delapan atau sembilan kantung udara yang
menembus abdomen, leher, dan sayap. Kantung udara tidak secara
langsung berfungsi dalam pertukaran gas, akan tetapi bertindak sebagai
alat penghembus yang menjaga agar udara mengalir melalui paru-paru.
Kantung udara juga mengurangi kerapatan burung, yang merupakan
suatu adaptasi penting untuk terbang. Keseluruhan sistem paru-paru dan
kantung udara diventilasi ketika burung menghirup dan menghembuskan
napas. Udara mengalir melalui sistem yang saling berhubungan dalam
sirkuit yang lewat melalui paru-paru dengan satu arah saja. Alveoli
merupakan tabung dengan ujung buntu yang tidak akan cocok berada
dalam sistem respirasi burung, sehingga paru-paru burung memiliki
saluran yang sangat kecil yang disebut sebagai parabonki. Parabonki

akan dilalui udara yang mengalir secara kontinu dalam satu arah
(Campbell, 2002).
Mekanisme respirasi pada unggas dibagi menjadi dua yakni
inhalasi dan ekshalasi. Proses inhalasi dimulai ketika udara masuk melalui
hidung, berlanjut ke trakea, kemudian menuju kantong udara dan akhirnya
masuk ke paru-paru, sedangkan proses ekshalasi dimulai saat udara dari
paru-paru menuju ke kantung udara anterior, berlanjut masuk ke trakea,
kemudian masuk lubang hidung dan akhirnya keluar (Campbell, 2002).
Saccus pneumaticus pada unggas berjumlah sembilan bagian yang terdiri
sepasang saccus cervicalis, satu buah saccus interclavicularis, sepasang
saccus thoracalis posterior, sepasang saccus thoracalis anterior, dan
sepasang saccus abdominalis (Dukes, 1995).

Materi dan Metode


Materi
Adapun materi yang digunakan dalam praktikum ini adalah sebuah
preparat columba livia, penjepit, selang dan supit.
Metode
Melakukan pengamatan secara langsung terhadap bagian-bagian
saccus pneumaticus kemudian dipelajari dan dipahami mekanisme
syestem kerja dari saccus pneumaticus.
Hasil dan Pembahasan
Percobaan yang telah dilakukan yaitu mengamati bentuk, letak, dan
macam mekanisme kerja dari saccus pneumaticus. Preparat yang
digunakan adalah Columba livia atau burung dara. Columba livia
merupakan spesies hewan bertulang belakang (vertebrae) dari kelas aves
yang memiliki bulu dan dapat terbang (Soman, 2005). Berdasarkan

praktikum yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa alat-alat


respiratoria pada unggas terutama pada burung dara dan juga letak
bagian-bagiannya dari Saccus pneumaticus beserta fungsinya. Secara
skematis gambar Saccus pneumaticus disajikan pada gambar berikut ini :

Gambar 1.1 Letak Saccus pneumaticus dan alat respiasi pada burung
Alur dalam sistem respiratoria Saccus pneumaticus antara lainO2
dihirup dari udara masuk melalui lubang hidung kemudian melalui Nares
posterior (langit-langit rongga mulut) menuju ke glotis (katup udara) lalu
menuju larynx dan trakea (bentuk seperti cincin) masuk ke pulmo (yang
berhubungan dengan Saccus pneumaticus) dan masuk ke syrinx (pita
suara). Columba Livia bernafas dengan paru-paru yang dibantu dengan
Saccus pneumaticus atau yang biasa dikenal dengan pundi-pundi udara.
Saccus pneumaticus digunakan untuk membantu pernafasan ketika
terbang.
Aves bernafas dengan paru-paru yang dibantu dengan pundi-pundi
udara yang letaknya menempel pada pulmo dan menyebar sampai ke
leher, perut dan sayap. Saccus berbentuk seperti balon elastis. Unggas
terdapat 6 saccus, yaitu cervicalis berjumlah sepasang terdapat dileher,

saccus interclavicularis berjumlah tunggal yang terdapat diantara tulang


coracoid dan bercabang ke sebelah lateral membentuk Saccus axilaris.
Saccus axilaris berjumlah sepasang terdapat dipangkal sayap. Saccus
thoracalis anterior terletak di rongga dada bagian depan dan berjumlah
sepasang, saccus thoracalis posterior berjumlah sepasang yang terletak
di bagian rongga dada belakang, Saccus abdominalis berjumlah sepasang
terdapat disekeliling intestinum (Schamidt, 1997).
Terdapat empat tahapan mekanisme kerja Saccus pneumaticus,
yaitu inhalasi 1, exhalasi 1, inhalasi 2, exhalasi 2. Inhalasi 1, O 2 masuk
melalui lubang hidung menuju trakea dan selanjutnya menuju ke Saccus
thoracalis posterior kemudian dilanjutkan exhalasi 1. Exhalasi 1, O 2 dari
Saccus thoracalis posterior menuju ke pulmo. Proses inhalasi 2, CO 2 darin
pulmo keluar menuju Saccus thoracalis anterior, dilanjutkan dengan
exhalasi 2. Proses exhalasi 2, CO 2 keluar dari Saccus thoracalis anterior
menuju trakea dan dikeluarkan melalui hidung.
Selama inspirasi, tekanan kantung-kantung udara menurun karena
volume udara bertambah dan pada saat ekspirasi tekanan udara naik
untuk mengeluarkan udara. Paru-paru mengecil saat inspirasi dan
mengembang saat ekspirasi. Tahap inhalasi, semua kantung udara terisi
dan paru-paru terisi (Kustono dkk, 2008).
Saccus pneumaticus memiliki fungsi diantaranya membantu
pernafasan Columba livia terutama ketika terbang. Sulit bagi Columba
livia untuk bernafas (respirasi) sehingga ketika terbang Columba livia
merentangkan sayap untuk menghirup udara. Tekanan udara dalam tubuh
lebih rendah dibandingkan tekanan diluar, sehingga pada saat terbang,
udara dapat masuk kedalam Saccus pneumaticus sebagai cadangan O2.
Fungsi kedua Saccus pneumaticus adalah melindungi alat-alat dalam
tubuh karena ketika terbang, tekanan udara diluar lebih tinggi dari dalam
tubuh, maka Saccus mengembang untuk mengurangi kerusakan organ
dalam tubuh.

Saccus berfungsi sebagai alat untuk menjaga panas dalam tubuh


agar tidak hilang berlebihan. Columba livia mengepakkan sayap ketika
terbang sehingga mampu menghasilkan energi panas. Energi panas yang
dihasilkan kemudian disimpan di Saccus pneumaticus. Fungsi lainnya
dapat

memperbesar

atau

memperkecil

berat

jenis

tubuh

yang

berhubungan dengan hukum massa jenis (m/v). Columba livia mengisi


Saccus pneumaticus dengan udara sehingga volume tubuh menjadi lebih
besarsaatterbang. Pertambahan volume tubuh berbanding terbalik dengan
massa tubuh Columba livia lebih ringan dan lebih leluasa saat terbang
karena massa jenisnya kecil. Fungsi terakhir adalah memperbesar syrinx
(memperkeras suara). Setiap makhluk hidup dapat mengeluarkan suara
karena adanya udara yang mengetarkan pita suara. Semakin banyak
udara yang masuk semakin kencang pita suara bergetar yang
mengakibatkan suara mejadi lebih keras.
Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan
bahwa letak Saccus pneumaticus menempel pada pulmo yang menyebar
sampai ke leher, perut dan sayap. Saccus pneumaticus berbentuk seperti
bahan yang elastis. Saccus pneumaticus terdiri dari Saccus cervicalis,
Saccus interclavicularis, Saccus axilaris, Saccus thoracalis anterior,
Saccus thoracalis posterior, dan Saccus abdominalis. Mekanisme kerja
Saccus pneumaticus terdiri dari empat tahapan, yaitu inhalasi 1, exhalasi
1, inhalasi 2, dan exhalasi 2.

Daftar Pustaka
Campbell,N.A. 2002. Biologi Edisi V jilid 2. Erlangga: Jakarta.
Kustono,Diah T.W, Ismaya, dan Sigit B. 2008. Bahan ajar Matak Kuliah
Fisiologi
Ternak. Fakultas Peternakan Universitras
Gadjah Mada. Yogyakarta.
Schmidt,Knuf,dan Nielsen. 1997. Animal Physiology 5th Edition.
Combridge University Press. Australia.
Soman, Arya,Tyson L.Hendrick and Andrew A.B. 2005.Regional Patterns
Pectoralis
Fescicle Strain in Piogen (Columba livia) During level
Flight. Harvard University. USA.
Radiopoetro. 1996. Zoologi. Jakarta: Erlangga