Anda di halaman 1dari 46

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Memang sudah tidak bisa dipungkiri lagi jika dunia
pendidikan

di

negeri

kita

ini

menyimpan

banyak

sekali

problematika. Dimulai dari pendidikan dasar, menengah, bahkan


sampai perguruan tinggi, juga formal dan informal. Sekelumit
problematika ini harus bisa dipecahkan guna dapat memberikan
generasi ulung yang dapat merubah keadaan negeri ini menjadi
lebih

baik.

mendapatkan

Guna

menginginkan

generasi-genersai

hasil
yang

yang

optimal

excellent

dan

(dalam

intelektual, akhlaq, dan fisik), maka, sekelumit masalah ini harus


dipecahkan bersama terutama oleh tiga pilar pendidikan, yaitu
guru, orang tua, dan siswa sendiri1.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sebab apa yang
paling dominan sehingga siswa sangat kurang dalam prestasi
belajarnya. Kurangnya motivasi internal dan eksternal, perhatian
orang tua, sistem pengajaran oleh guru, kondisi belajar yang
tidak kondusif, atau pun yang lainnya. Ini semua bisa menjadi
sebab seorang siswa kurang dalam prestasi belajarnya.
Subjek penelitian ini adalah salah seorang siswa di MTsN
Karawang
Berikut kami rinci biodata subjek penelitian;
DATA PRIBADI SISWA
OBJEK ANALISIS
Nama

Dede Abdul Latif

1 Syekh Az-zarnuji, Talim Mutaallim


1|Laporan Onsevasi
Psikologi Pendidikan

Tempat,
tanggal,lahir
Orang Tua Wali

Karawang,06

Juni

1999

:
a. Ayah

Engko

b. Ibu

Nuraini

Saudara

Kelas

Anak ke 4
VIII (Delapan)

Alamat

Daerah Asal

Kp. Sangkali, Kel. Tanjung Pura, Kec.


Karawang Barat, Karawang
Karawang, Jawa Barat

Data diperoleh melalui observasi lapangan ; yang meliputi


wawancara dengan siswa terkait
Penyesuaian sosial pada objek penelitian berada dalam
kategori tinggi dan kualitas kehidupan sekolah pada rata-rata
subjek penelitian berada dalam kategori tinggi.
Pendidikan dalam bahasa yunani meliputi dua kata yaitu
paedagogie

dan paedagogiek. Paedagogie

artinya pendidikan

sedangkan paedagogiek artinya ilmu pendidikan2.


Pedagogik atau ilmu pendidikan adalah ilmu pengetahuan
yang menyelidiki, merenungkan tentang gejala-gejala perbuatan
mendidik. Secara sederhana dapat kita fahami bahwa pendidikan
adalah segala usaha orang dewasa dalam pergaulannya dengan
anak-anak

untuk

memimpin

perkembangan

jasmani

dan

rohaninya kea rah kedewasaan. Merujuk terhadapa apa yang


dikatakan John Dewey yang menyatakan bahwa pendidikan
adalah membantu pertumbuhan intelektual, moral dan fisik
2 Ratna, Teori dan Praktik Psikologi Pendidikan, Rosda Karya. 2005
Bandung hal. 27
2|Laporan Onsevasi
Psikologi Pendidikan

tanpa dibatasi oleh usia. Secara nyata, dari uraian di atas kita
sadara bahwa tujuan pendidikan tidak lain hanya peningkatan
keilmuan jasmani dan akhlaq sehingga secara bertahap dapat
mengantarkan si anak kepada tujuan yang paling tinggi, agar si
anak hidup bahagia serta seluruh apa yang dilakukannya
menjadi bermanfaat bagi dirinya dan masyarakat. Hal itu selaras
dengan apa yang dikatakan oleh Prof. DR. Mahmud Yunus
mengenai tujuan pendidikan.3
Melahirkan

generasi

cemerlang

yang

dihasilkan

dari

pendidikan sehingga mampu membangun bangsa yang beradab


adalah impian dari setiap institusi pendidikan di dunia ini.
Namun, dalam kenyataannya banyak sekali problematika yang
mengganjal

kelangsungan

pendidikan

sehingga

tidak

bias

mencetak generasi unggul bahkan terjadi degradasi moral di


kalangan anak didik. Hal itu tidak saja disebabkan oleh kurang
berkualitasnya institusi pendidikan tetapi juga ada aspek yang
disebabkan oleh human eror.4
Salah satu permasalahan dunia pendidikan adalah siswa
tak

mampu

mendapatkan

prestasi

yang

tinggi,

bahkan

mendapatkan prestasi di bawah rata-rata. Hal inilah salah satu


permasalahan terbesar dalam dunia pendidikan dan menjadi
tugas para ahli pendidikan untuk mendongkrak prestasi anakanak. Permasalahan ini sangat besar, karena objek yang harus
ditingkatkan

tidak

hanya

perseorangan

tetapi

ini

bersifat

komperhensif yang menyagkup setiap individu anak didik.

3 http: // www.rentcost.com/2011/12/pengertian pendidikan-definisi.


html.
4 Budianto, lapangan Psikologi Pendidikan
3|Laporan Onsevasi
Psikologi Pendidikan

Memang sulit, tapi sesulit apapun inilah tugas kita sebagai


calon pendidik agar selalu berusaha mencari jalan keluar
tersebut. Melihat realita yang ada, siswa berprestasi rendah
banyak sekali sebabnya, diantaranya : kurang perhatian dari
orang tua,

ekonomi rendah, pergaulan tidak kondusif di

lingkungan sekitar dan segudang sebab lain. Berkaitan dengan


hal ini, penulis berkeinginan untuk meneliti seorang siswa secara
individu supaya bisa menguak apa alasan siswa tersebut
berprestasi rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan
wawasan tentang sebab berprestasi rendah dan memberikan
solusi berdasarkan perspektif psikologi pendidikan.

B. Rumusan dan Pembatasan Masalah


Supaya masalah tidak terlalu meluas dan juga bisa dibatasi,
maka dari beberapa hal yang telah dipaparkan sebelumnya,
penulis

berkehendak

untuk

membatasi

masalah-masalah

tersebut dengan beberapa rumusan masalah, yaitu :


a. Bagaimana keadaan siswa ketika berada di dalam keluarga ?
b. Bagaimana keadaan siswa ketika berada di lingkungan
c.
d.
e.
f.
g.

sekolah dan pergaulan dengan teman-temannya ?


Bagaimana keadaan staus ekonomi siswa ?
Hal apa yang menyebabkan siswa berprestasi rendah ?
Hal apa yang menyebabkan siswa menjadi malas ?
Hal apa yang menyebabkan siswa tidak aktif dalam belajar ?
Apa solusi yang tepat bagi siswa menurut pandangan
perspektif psikologi pendidikan ?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian


Penelitian dan observasi yang dilakukan oleh penulis tentu
memiliki beberapa tujuan dan manfaat. Tujuan serta manfaatnya
yaitu sebagai berikut :
a. Tujuan Penelitian
4|Laporan Onsevasi
Psikologi Pendidikan

i. Untuk mengetahuai penyebab siswa berprestasi


rendah.
ii. Untuk mengetahui

kekurangan

dari

proses

pembelajaran siswa yang dilakukan guru.


iii. Mengetahui keluhan dan problem siswa.
iv. Mencoba
memberikan
solusi
berdasarkan
persepektif psikologi pendidikan.
v. Berusaha memperbaiki prestasi siswa.
b. Manfaat Penelitian
i. Menambah khazanah
ilmu pengetahuan dan
wawasan bagi penulis.
ii. Mencoba memberikan

kontribusi

bagi

karya

penulisan yang berkenaan tentang problematika


siswa berprestai rendah dalam perspektik psikologi
pendidikan.
iii. Penelitian ini merupakan angkah awal bagi penulis
yang dapat ditinjak lanjuti oleh penulis di kemudian
hari.

5|Laporan Onsevasi
Psikologi Pendidikan

BAB II
Kajian Pustaka
A. Belajar
Pendidikan menurut Undang-undang No. 20 Tahun 2003
Tentang

SISDIKNAS adalah usaha sadar dan terencana untuk

mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar


peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk
memiliki

kekuatan

spiritual

keagamaan,

pengendalian

diri,

kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang


diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.5
Belajar pada hakekatnya juga merupakan kegiatan mental
yang tidak dapat dilihat. Artinya, proses perubahan yang terjadi
dalam diri seseorang yang belajar tidak dapat disaksikan.
Manusia mungkin hanya dapat menyaksikan dari adanya gejalagejala perubahan perilaku yang tampak. Oleh karena itu, George
R.

Knight

menganjurkan

lebih

banyak

kebebasan

untuk

berekspresi bagi peserta didik dan lingkungan yang lebih terbuka


sehingga peserta didik dapat mengerahkan energinya dengan
cara yang efektif.6
Wittig dalam bukunya Psychology of Learning mendefinisikan
belajar

sebagai,

any

relatively

permanent

change

in

an

organisms behavioral repertoire that ocurs as a result of


experience.7

5 file:///D:/Dokumen%20Pribados/Kuliahan/Mata%20Kuliah
%20Semester%202/Psikologi%20Pendidikan/Makalah%20Hakekat
%20Belajar%20dan%20pembelajaran%20%20%20Alamsyah.com.htm
14 Jun. 13 19.00
6 Ibid
6|Laporan Onsevasi
Psikologi Pendidikan

Pada dasarnya belajar merupakan tahapan perubahan


prilaku siswa yang relatif positif dan mantap sebagai hasil
interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif 8,
dengan kata lain belajar merupakan kegiatan berproses yang
terdiri dari beberapa tahap. Tahapan dalam belajar tergantung
pada fase-fase belajar, dan salah satu tahapannya adalah yang
dikemukakan oleh witting yaitu :
1. Tahap acquisition, yaitu tahapan perolehan informasi;
2. Tahap storage, yaitu tahapan penyimpanan informasi;
3. Tahap retrieval, yaitu tahapan pendekatan kembali
informasi.9
Definisi yang lain menyebutkan bahwa belajar adalah
sebuah proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh
sebuah perubahan tingkah laku yang menetap, baik yang dapat
diamati maupun yang tidak dapat diamati secara langsung, yang
terjadi sebagai suatu hasil latihan atau pengalaman dalam
interaksinya dengan lingkungan.
Peristiwa belajar sudah sering kita jumpai. Misalnya ketika
seorang balita sedang diberikan hadiah berupa bola, kemudian
anak tersebut mencoba melemparkan bola tersebut ke arah yang
tidak

beraturan,

kemudian

memungutnya

lagi

dan

melemparkannya lagi.
Manifestasi atau perwujudan perilaku belajar biasanya
lebih

sering

tampak

dalam

perubahan-perubahan

seperti

berikut : 1) kebiasaan ; 2) keterampilan; 3) pengamatan

7 Muhibbin Syah, Psikologi pendidikan, (Bandung : Rosada, 2010), h.


89
8 Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan, (Bandung : Rosada, 2003)
9 Ibid
7|Laporan Onsevasi
Psikologi Pendidikan

4)berpikir asosiatif dan daya ingat; 5) berfikir rasional; 6) sikap;


7) inhibisi; 8) apresiasi; dan 9) tingkah laku efektif.10
Dalam mengimplikasikan belajar, terdapat beberapa faktor
yang mempengaruhi belajar siswa, yaitu :
1. Faktor

internal

(faktor

dari

dalam

siswa),

yakni

keadaan/kondisi jasmani dan rohani siswa, meliputi :


I. Fisiologi :
Kondisi fisik
Kondisi pancaindra
II. Psikologis :
Bakat
Minat
Kecerdasan
Motivasi
Kemampuan kognitif
2. Faktor eksternal (faktor dari luar siswa), yakni kondisi
lingkungan di sekitar siswa, meliputi :
I.
Lingkungan
Alam
Sosial
II.
Instrumental
Kurikulum/bahan ajar
Guru/pengajar
Sarana dan fasilitas
Administrasi/manajemen
Setiap individu pasti mengalamai proses belajar. Belajar
dapat dilakukan oleh siapapun, baik anak-anak, remaja, orang
dewasa, maupun orang tua, dan akan berlangsung seumur
hidup. Dalam pendidikan disekolah belajar merupakan kegiatan
yang pokok yang harus dilaksanakan. Tujuan pendidikan akan
tercapai apabila proses belajar dalam suatu sekolah dapat
berlangsung dengan baik, yaitu proses belajar yang melibatkan

10 Muhibbin Syah, Psikologi pendidikan, (Bandung : Rosada, 2010), h. 116

8|Laporan Onsevasi
Psikologi Pendidikan

siswa secara aktif dalam proses pembelajaran.


Djamarah menjelaskan bahwa ciri-ciri belajar sebagai berikut. 11
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Perubahan yang terjadi secara sadar.


Perubahan dalam belajar bersifat fungsional.
Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif.
Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara.
Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah.
Perubahan mencangkup seluruh aspek tingkah laku.
Slameto mengungkapkan bahwa belajar adalah suatu

proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu


perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai
hasil

pengalamannya

lingkungannya.

sendiri

dalam

interaksi

dengan

Berikut ini ciri-ciri perubahan tingkah laku

menurut Slameto.12
1. Perubahan terjadi secara sadar.
2. Perubahan dalam belajar bersifat kontinu dan fungsional.
3. Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif.
4. Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara.
5. Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah.
6. Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku.
Belajar merupakan proses penting bagi perubahan perilaku
pada

diri

seseorang

dan mencakup

segala

sesuatu

yang

dipikirkan dan dikerjakan. Belajar memegang peranan penting di


dalam perkembangan, kebiasaan, sikap, keyakinan, tujuan,
kepribadian, dan bahkan persepsi manusia. Di dalam belajar
terdapat prinsip-prinsip belajar yang harus diperhatikan, Dalyono
mengemukakan prinsip-prinsip belajar sebagai berikut.13
1. Kematangan jasmani dan rohani
11 http://hendriansdiamond.blogspot.com/2012/01/pengertian-faktordan-indikator-hasil.html 18 Jun. 13 (05.30)
12 Ibid
13 http://hendriansdiamond.blogspot.com/2012/01/pengertian-faktordan-indikator-hasil.html 18 Jun. 13 (05.30)
9|Laporan Onsevasi
Psikologi Pendidikan

Salah satu prinsip utama belajar adalah harus mencapai


kematangan jasmani dan rohani sesuai dengan tingkatan
yang dipelajarinya. Kematangan jasmani yaitu setelah sampai
pada batas minimal umur serta kondisi fisiknya telah kuat
untuk melakukan kegiatan belajar. Sedangkan kematangan
rohani artinya telah memiliki kemampuan secara psikologis
untuk melakukan kegiatan belajar.
2. Memiliki kesiapan
Setiap orang yang hendak belajar harus memiliki kesiapan
yakni dengan kemampuan yang cukup, baik fisik, mental
maupun perlengkapan belajar.

3. Memahami tujuan
Setiap orang yang belajar harus memahami tujuannya,
kemana arah tujuan itu dan apa manfaat bagi dirinya. Prinsip
ini sangat penting dimiliki oleh orang belajar agar proses yang
dilakukannya dapat selesai dan berhasil.
4. Memiliki kesungguhan
Orang yang belajar harus memiliki kesungguhan untuk
melaksanakannya.

Belajar

tanpa

kesungguhan

akan

memperoleh hasil yang kurang memuaskan.


5. Ulangan dan latihan
Prinsip yang tidak kalah pentingnya adalah ulangan dan
latihan. Sesuatu yang dipelajari perlu diulang agar meresap
dalam

otak,

sehingga

dikuasai

sepenuhnya

dan

sukar

dilupakan.
Salah satu indikator tercapai atau tidaknya suatu proses
pembelajaran adalah dengan melihat hasil belajar yang
dicapai oleh siswa. Hasil belajar merupakan cerminan tingkat
keberhasilan atau pencapaian tujuan dari proses belajar yang
telah dilaksanakan yang pada puncaknya diakhiri dengan
suatu evaluasi. Hasil belajar diartikan sebagai hasil ahir

10 | L a p o r a n O n s e v a s i
Psikologi Pendidikan

pengambilan keputusan tentang tinggi rendahnya nilai siswa


selama mengikuti proses belajar mengajar, pembelajaran
dikatakan berhasil jika tingkat pengetahuan siswa bertambah
dari hasil sebelumnya.
Hasil belajar merupakan tingkat penguasaan yang
dicapai

oleh

murid

dalam

mengikuti

program

belajar

mengajar, sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. Menurut


Dimyati dan Mudjiono hasil belajar merupakan hasil dari suatu
interaksi tindak belajar dan tindak mengajar.
Sukmadinata mengatakan hasil belajar

merupakan

realisasi atau pemekaran dari kecakapan-kecakapan potensial


atau kapasitas yang dimiliki seseorang. Sedangkan hasil
belajar menurut Arikunto sebagai hasil yang telah dicapai
seseorang setelah mengalami proses belajar dengan terlebih
dahulu

mengadakan

evaluasi

dari

proses

belajar

yang

dilakukan.
Hasil belajar dapat dikatakan tuntas apabila telah
memenuhi kriteria ketuntasan minimum yang ditetapkan oleh
masing-masing guru mata pelajaran. Hasil belajar sering
dipergunakan dalam arti yang sangat luas yakni untuk
bermacam-macam aturan terdapat apa yang telah dicapai
oleh murid, misalnya ulangan harian, tugas-tugas pekerjaan
rumah,

tes

berlangsung,

lisan
tes

yang
ahir

dilakukan

catur

wulan

selama
dan

pelajaran
sebagainya.

Banyak faktor yang dapat mempengaruhi hasil pembelajaran.


Ada faktor yang dapat diubah (seperti cara mengajar, mutu
rancangan, model evaluasi, dan lain-lain), adapula faktor yang
harus diterima apa adanya (seperti: latar belakang siswa, gaji,
lingkungan sekolah, dan lain-lain).
B. Prestasi Belajar

11 | L a p o r a n O n s e v a s i
Psikologi Pendidikan

Dalam sebuah pencapaian belajar, akan menemukan


sebuah hasil yang begitu terasa memuaskan baik secara kualitas
keintelektualitasan maupun perubahan akhlak ke arah yang lebih
baik.
Kita semua sudah sepakat, bahwa manusia disebut sebagai
makhluk pembelajar. Terdapat berbagai macam problematika
ketika mendapatkan seorang anak dalam belajar. Misalnya, saat
anak kita bayi dan berumur 1 tahun. Dia ingin memasukan
semua barang yang dapat ia pegang ke dalam mulutnya, benar?
Nah yang kebanyakan orang lakukan saat itu adalah berkata
eh itu kotor, ngga boleh sambil menarik barang tersebut.
Sebenarnya ini adalah perilaku dasar pada saat seorang anak
belajar. Kemudian saat dia mulai bisa berjalan, mulai ingin tahu
lebih banyak tentang

lingkungan sekitar, semakin banyak

larangan yang dikeluarkan oleh orangtua ataupun pengasuh.


Mungkin karena lelah menjaga anak seharian, sehingga banyak
larangan yang dikeluarkan. Padahal ini adalah keinginan mereka
untuk tahu (belajar) lebih banyak, mengisi database di otaknya
yang masih kosong dan perlu diisi. Secara tidak langsung kita
telah

menghentikan

rasa

ingin

tahu

anak,

yang

dapat

merangsang kognitif anak untuk menumbuhkan mental prestasi


dalam diri nak.
Seperi

belajar,

dalam

mendefinsikan

arti

prestasi

belajar para pakar pun berbeda-beda pendapat.


Prestasi belajar adalah sebuah kalimat yang terdiri dari
dua kata, yakni prestasi dan belajar. Untuk memahami lebih
jauh

tentang

pengertian

prestasi

belajar,

peneliti

menjabarkan makna dari kedua kata tersebut.


Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, pengertian
prestasi adalah hasil yang telah dicapai(dari yang telah
12 | L a p o r a n O n s e v a s i
Psikologi Pendidikan

diakukan, dikerjakan, dan sebagainya) .Sedangkan menurut


Saiful Bahri Djamarah, prestasi adalah apa yang telah dapat
diciptakan, hasil pekerjaan, hasil yang menyenangkan hati
yang diperoleh dengan jalan keuletan kerja.14 Dalam buku
yang sama Nasrun Harahap, berpendapat bahwa prestasi
adalah penilaian pendidikan tentang perkembangan dan
kemajuan

siswa

berkenaan

dengan

penguasaan

bahan

pelajaran yang disajikan kepada siswa.


Sedangkan belajar, seperti yang kita simpulkan, bahwa
belajar adalah sebuah proses yang dilakukan oleh individu
untuk memperoleh sebuah perubahan tingkah laku yang
menetap, baik yang dapat diamati maupun yang tidak dapat
diamati secara langsung, yang terjadi sebagai suatu hasil
latihan

atau

pengalaman

dalam

interaksinya

dengan

lingkungan.
Dari pengertian di atas dapat diambil kesimpulan
bahwa prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan seseorang
atau

kelompok

yang

telah

dikerjakan,

diciptakan

dan

menyenangkan hati yang diperoleh dengan jalan bekerja.


Beberapa ahli telah mendefinisikan arti dari prestasi
belajar. Menurut Surtanih Tirtonegoro mengemukakan bahwa
prestasi belajar adalah penilaian hasil usaha kegiatan belajar
yang dinyatakan dalam bentuk simbol angka, huruf maupun
kalimat yang dapat mencerminkan hasil yang sudah dicapai
oleh setiap anak didik dalam periode tertentu. Menurut Siti
Partini, Prestasi belajar adalah hasil yang dicapai oleh
seseorang dalam kegiatan belajar. Sejalan dengan pendapat
itu

Sunarya

menyatakan

Prestasi

belajar

merupakan

14 Saiful Bahri Djamarah, Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru,


(Surabaya : Usaha Nasional : 1994), h. 20-21
13 | L a p o r a n O n s e v a s i
Psikologi Pendidikan

perubahan tingkah laku yang meliputi ranah kognitif, afektif,


dan psikomotorik yang merupakan ukuran keberhasilan
siswa.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Adapun

faktor-faktor

yang

mempengaruhi

prestasi

belajar secara umum menurut Slameto pada garis besarnya


meliputi
Faktor intern dan faktor ekstern yaitu:
1. Faktor intern
Dalam faktor ini dibahas 2 faktor yaitu:
a) Faktor jasmaniah mencakup:
1) Faktor kesehatan
2) Cacat tubuh
b) Faktor psikologis mencakup:
1) Intelegensi
2) Perhatian
3) Minat
4) Bakat
5) Motivasi
6) Kematangan
7) Kesiapan
c) Faktor kelelahan
2. Faktor ekstern
Faktor ini dibagi menjadi 3 faktor, yaitu:
a) Faktor keluarga mencakup:
1) Cara orang tua mendidik
2) Relasi antar anggota keluarga
3) Suasana rumah
4) Keadaan ekonomi keluarga
5) Perhatian orang tua
6) Latar belakang kebudayaan
b) Faktor sekolah meliputi metode mengajar, kurikulum,
relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa,
disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah, standar
pelajaran di atas ukuran, keadaan gedung, metode
belajar, dan tugas rumah.
14 | L a p o r a n O n s e v a s i
Psikologi Pendidikan

c) Faktor masyarakat meliputi kegiatan dalam masyarakat,


mass

media,

teman

bermain,

bentuk

kehidupan

bermasyarakat,
Selanjutnya

Sumadi

Suryabrata

mengklasifikasikan,

faktor-faktor yang memepengaruhi belajar sebagai berikut:


1) Faktor-faktor yang berasal dari luar dalam diri
a) Faktor non-sosial dalam belajar
Meliputi keadaan udara, suhu udara, cuaca, waktu,
tempat da alat-alat yang dipakai untuk belajar(alat tulis,
alat peraga)
b) Faktor sosial dalam belajar
2) Faktor-faktor yang berasal dari luar diri
a) Faktor fisiologi dalam belajar
Faktor ini terdiri dari keadaan jasmani pada umumnya
dan keadaan fungsi jasmani tertentu.
b) Faktor psikologi dalam belajar
Faktor ini dapat mendorong aktivitas belajar seseorang
karena aktivitas dipacu dari dalam diri, seperti adanya
perhatian, minat, rasa ingin tahu, fantasi, perasaan, dan
ingatan.
Pendapat

lain

mengenai

faktor-faktor

yang

mempengaruh keberhasilan belajar menurut Abu Ahmadi dan


Widodo Supriyono yaitu:
1) Faktor internal
Faktor jasmaniah, baik bawaan maupun yang diperoleh.
Yang

termasuk

faktor

ini

misalnya

penglihatan,

pendengaran, struktur tubuh, dan sebagainya.


Faktor psikologi, baik bawaan maupun yang diperoleh yang
terdiri atas :
1. Faktor intelektif yang meliputi:
a) Faktor potensial yaitu kecerdasan dan bakat
b) Faktor kecakapan nyata yaitu prestasi yang telah
dimiliki

15 | L a p o r a n O n s e v a s i
Psikologi Pendidikan

2. Faktor

non

intelektif

yaitu

unsur-unsur

kepribadian

tertentu seperti sikap, kebiasaan, minat, kebutuhan,


motivasi, emosi, penyesuaian diri.
3. Faktor kematangan fisik maupun psikis
2) Faktor Eksternal
Faktor sosial, yang terdiri atas :
a)
b)
c)
d)

Lingkungan
Lingkungan
Lingkungan
Lingkungan

kerja
social
masyarakat
kelompok

Jadi, berdasarkan pendapar di atas dapat disimpulkan bahwa


faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar digolongkan
menjadi dua yaitu:
1) Faktor intern
Faktor ini berkaitan dengan segala yang berhubungan dengan
diri

siswa

itu

sendiri

berupa

motivasi,

minat,

bakat,

kepandaian, kesehatan, sikap, perasaan dan faktor pribadi


lainnya.
2) Faktor ekstern
Faktor ini berhubungan dengan pengaruh yang datang dari
luar diri individu berupa sarapa dan prasarana, lingkungan,
masyarakat, guru, metode pembelajaran, kondisi social,
ekonomi, dan lain sebagaianya.

16 | L a p o r a n O n s e v a s i
Psikologi Pendidikan

BAB III
Metode Penelitian

a. Subjek Penelitian
Dalam

penelitian ini, tentu penulis membutuhkan subjek

penelitian yang dimaksudkan agar hasil dari observasi yang


penulis jalani mendapatkan hasil secara maksimal secara
eksperimental dari fenomena fakta yang ada dan real de facto,
yang tidak hanya sekedar teoritia. Untuk itu subjek penelitian
yang dilakukan oleh seorang penulis dalam penelitian kali ini
adalah seorang siswa Madrasah Tsanawiyah kelas 8. Yang mana
anak tersebut memiliki problematika dalam prestasi belajarnya.
Nama

Dede Abdul Latif

Tempat,tanggal

Karawang, 6 Juni 1999

lahir
Orang Tua Wali
a. Ayah

Engko

b. Ibu

Nuraini

Pekerjaan

a. Buruh pabrik

Ayah
b. Ibu
Pendidikan

Ibu rumah tangga


a. SMA

Ayah
b. Ibu

SMA

Kelas

VIII (Delapan)

Alamat

Kp. Sangkali, Kel. Tanjung Pura, Kec.

Daerah Asal

Karawang Barat, Karawang


Karawang, Jawa Barat

17 | L a p o r a n O n s e v a s i
Psikologi Pendidikan

b. Desain dan Prosedure Penelitian


Dalam penelitian ini, kami menggunakan metode jenis
penelitian kualitatif dengan menelusuri data-data kepribadian
siswa tersebut, sebagaimana berlaku dalam penulisan karya tulis
ilmiah, yang mana kami mengambil data serta pendapat dari
guru BK dari objek siswa penelitian. Menurut Sukmadinata
(2005) dasar penelitian kualitatif adalah konstruktivisme yang
berasumsi bahwa kenyataan itu berdimensi jamak, interaktif dan
suatu pertukaran pengalaman sosial yang diinterpretasikan oleh
setiap

individu. Peneliti

kualitatif percaya

bahwa

kebenaran

adalah dinamis dan dapat ditemukan hanya melalui penelaahan


terhadap orang-orang melalui interaksinya dengan situasi sosial
mereka (Danim, 2002).15 Sedangkan penelitian ini menggunakan
pendekatan deskriptif-analitis. Pendekatan deskriptif bertujuan
memberikan gambaran tentang bagaimana kendala yang dialami
siswa yang bernama Dede mempunyai prestasi rendah di
Sekolah.

Begitu

interaksinya

baik

juga

lingkungan

antara

dia

dimana

dengan

ia

berada

gurunya,

dan

temannya,

keluarganya, lingkungan masyarakatnya. Sedangkan analitis


berarti pembahasan yang memaparkan data yang telah tersusun
dan teridentifikasi

dengan melakukan kajian dan analisa

terhadap data-data tersebut.


Selain

penggunaan

metode

jenis

penelitian

kualitatif

berdasarkan library research, penulis juga menggunakan metode


kualitatif

berdasarkan penelitian lapangan atau field research.

Dengan langsung mengunjungi objek penelitian yakni siswa kelas

15 http://belajarpsikologi.com/metode-penelitian-kualitatif/
18 | L a p o r a n O n s e v a s i
Psikologi Pendidikan

VIII yang bernama

Dede Abdul Latif dan mengadakan

wawancara dengan guru BK.


Tempat Penelitian
Tempat yang dijadikan penulis dalam rangka pelaksanaan
observasi itu, yaitu : bertempat di :
Nama Sekolah

MTsN Karawang
Jl.

Alamat Sekolah

R.M.

Soleh

Karawang

Kulon

No.

4/c

Sadamalun

Karawang

Barat

Karawang
Waktu Penelitian
Observasi yang dilakukan dilapangan bertepatan pada hari
jumat, tanggal 20 maret 2012.

c. Laporan Observasi
Penulis mengawali langkah dalam melakukan observasi
siswa di sekolah MTsN Karawang. Disana penulis mendapatkan
data

yang

akurat

sebagai

landasan

penulis

membuat

penelitian ini. Diantaranya adalah penulis behasil melakukan


wawancara dengan guru BK, siswa, dan teman siswa.
Dari keterangan yang diberikan oleh guru BK siswa,
berpendapat bahwa Dede sebenarnya adalah siswa yang
memiliki intelijensi yang cukup untuk bersaing dengan siswa/i
lainnya, hanya saja Dede ini seringkali berulah nakal dan
kerap mengganggu teman-teman lainnya di dalam kelas, hal
ini menjadikan kondisi kelas untuk proses KBM menjadi sulit
untuk kondusif. Dede pula seringkali acuh tak acuh dalam
memperhatikan rutinitas akdemik yang di laluinya. Hal ini
berimplikasi

pada

hasil

belajar

yang

siswa

lakukan.

19 | L a p o r a n O n s e v a s i
Psikologi Pendidikan

Kemungkinan besar Dede memiliki prestasi rendah adalah


karena kurangnya motivasi dalam diri siswa dan pergaulan
yang tidak kondusif untuk menjadi partner dalam belajar.
Penulis pula berhasil mengambil inisiatif masuk ke
dalam kelas setelah ada perizinan dari pihak sekolah guna
mengetahui kondisi real dari siswa yang bernama Dede.
Ketika proses kbm dimulai, suasana kelas yang panas menjadi
pemicu kenyamanan dalam kelas tersebut. Penulis mulai
memperhatikan objek dari dalam kelas yang saat itu sedang
berlangsung

mata

pelajaran

Fiqih.

Seperti

apa

yang

diinformaikan, Dede memang termasuk anak dalam kategori


acuh tak acuh dalam belajar. Hal ini terlihat ketika guru
sedang memberikan penjelasan mendalam materi, namun
Dede tidak memfokuskan pada penjelasan guru tersebut.
Dede justru lebih senang berbincang-bincang dengan teman
sebangkunya, bahkan Dede sempat membuat kegaduhan
dengan bercanda sengan teman-temannya.
Beralih ke faktor pengajaran guru. Dalam perspektif
penulis, guru tersebut mengajar dengan cukup baik. Cara
improvisasi yang sempurna berhasil menarik simpati para
siswa agar fokus dalam proses belajar. Selaras dengan hal itu,
guru pun aktif memberikan question pada siswa yang
membuat siswa harus aktif pula memikirkan jawabannya. Dan
hal itu lah yang tidak terlihat dalam diri siswa yang bernama
Dede. Dalam pandangan penulis, guru tersebut menerapkan
pendekatan belajar kogitif, yaitu lebih mementingkan proses
belajar dari pada hasil belajarnya.16 Guru seringkali menuntut
16 Dr. C. Asri Budiningsih, Belajar dan Pemebelajaran, (Jakarta : PT.
Bineka Cipta, 2004), h. 34
20 | L a p o r a n O n s e v a s i
Psikologi Pendidikan

siswa

untuk

berfikir

aktif,

namun

guru

tersebut

tidak

memberikan punishment jika ada siswa tidak bisa menjawab.


Dari hal yang subjektif ini lah penulis dapat menyimpulkan
bahwa

faktor

pengajaran

guru

bukan

lah

hal

yang

mempengaruhi kurangnya minat siswa dalam belajar.


Seperti

apa

yang

penulis

publikasikan

terhadap

pembaca, penulis juga mendapatkan kesempatan langsung


berdialog dengan Dede. Dede yang saat itu memakai seragam
sekolah batik corak kotak-kotak dengan ukuran baju yang
ketat, tidak cukup muat untuk dimasukan ke dalam celana
panjangnya sesuai disiplin siswa MTs. Bukan hanya bajunya
saja, namun juga celana yang dikenanakannya sangat jauh
dengan kedisiplinan, yaitu celana dengan model beggy, atau
pada

bagian

bawah

celana

mengkrucut

kecil

yang

membuatnya jauh mengatung dari mata kaki. Dalam diri


siswa pula terlihat hal yang benar-benar tidak disiplin, yaitu
dengan tatanan rambut yang tidak rapi disisir.
Ketika menghadapi siswa seperti itu, penulis mulai
berfikir bahwa siswa seperti itu memiliki daya komunikasi
yang kurang. Namun ada hal yang membuat penulis perlu
menggaris bawahi, yaitu ternyata Dede adalah siswa yang
memiliki komunikasi yang cukup baik untuk timbal balik. Hal
ini terbukti Dede dapat menjawab setiap pertanyaan yang
diberikan oleh penulis.
Hal yang mengejutkan justru terjadi ketika penulis
sengaja memerintahkan Dede untuk membacakan ayat suci
Al-Quran. Dede cukup fasih dalam melantunkan ayat suci AlQuran, bahkan Dede melantunkan ayat tersebut dengan lagulgu muratal quran. Hanya saja Dede kurang fasih dalam
21 | L a p o r a n O n s e v a s i
Psikologi Pendidikan

makharijul huruf nya. Mungkin masih sangat kurang jika


dibandingkan

dengan

anak-anak

yang

mendapatkan

pendidikan langsung di Pesantren. Bukan hanya itu, penulis


pun memberikan hafalan berupa kosa kata dalam bahasa
asing. Namun hal hanya bahasa arab saja yang Dede mampu
menghapalnya, itu pun masih kurang.
Berdasarkan

semua

data

yang

sudah

terkumpul,

sekelumit problem yang dialami siswa dalam pikirannya


sehingga

membuatnya

tidak

tenang

dalam

proses

pembelajaran serta rasa perhatian dari kedua orang tua


sehingga membuatnya bergaul dengan teman-teman yang
berada dalam kategori nakal yang tidak dapat menghadirkan
motivasi internal maupun eksternal dalam dirinya.
Siswa selama ini mendapatkan prestasi yang rendah di
bidang akdemik, bukan hanya itu saja siswa pun tidak dapat
memaksimalkan

dalam

bidang

kognitif,

apektif,

serta

psikomotorik.
Dalam bidang kognitif, siswa sangat rendah sekali dalam
berfikir,

sehingga

tidak

dapat

memaksimalkan

dalam

mengekspresikan proses pembelajarannya. Terbukti siswa selalu


mendapatkan

prestasi

rendah

dalam

bidang

akademiknya,

dengan nilai kurang dari rata-rata kelas. Selama ini siswa sangat
kurang perhatian dalam proses pembelajaran. Contohnya ketika
siswa sedang menghadapi UTS/UKK siswa sangat acuh tak acuh
dalam menghadapinya, bahkan siswa tidak merspon sama sekali
dengan adanya UTS/UKK sehingga hal tersebut membuat siswa
selali mendapatkan nilai dibawah rata-rata.
Bukan hanya kognitif saja. Motivasi internal yang tertanam
dalam siswa, penulis menilai sangat kurang sekali sehingga
22 | L a p o r a n O n s e v a s i
Psikologi Pendidikan

membuat siswa pun sangat kurang dalam bidang psikomotorik.


Hal tersebut membuat siswa menjadi malas dalam mengikuti
proses pendidikan. Bahkan terkadang siswa lebih mengutamakan
hal lain dari pada sekolah itu sendiri.
Ketika

berbicara

tentang

apektif

siswa,

siswa

pun

dapat

dikategorikan sebagai siswa yang nakal, hal itu terbukti sekali


ketika siswa seringkali masuk keluar kantor karena beberapa
kasus yang menyeretnya untuk dihukum/diperingati.

Diantara

pelanggaran siswa yang sering dilakukan adalah merokok, tidak


mengerjakan tugas, mengganggu teman, dll.
Atas pelbagai penelitian yang dilakukan oleh penulis, maka
penulis menyimpulkan faktor terbesar dan terpenting yang
membuat anak malas dalam belajar dan tidak ada gairah dalam
mengikuti kegiatan-kegiatan sekolah adalah faktor kurangnya
motivasi dari keluarga serta lingkungan siswa yang tidak
kondusif. Hasil itu didasarkan dari analisa berdasarkan dari
analisa wawancara penulis dengan guru BK, siswa, dan teman
siswa.
Selain karena kurangnya motivasi hal terbesar yang
dijadikan faktor terbesar dalam peristiwa ini menurut hemat
penulis adalah perhatian keluarga yang kurang sehingga dia
bermain di lingkungan yang tidak kondusif untuk bergaul dan
membantunya dalam proses belajar.
Oleh karena itu penulis memberikan kesimpulan bahwa
siswa sangat kurang motivasi dan keadaan lingkungan yang
tidak kondusif untuk belajar. Dari dua hal tersebut penulis
berusaha

memberikan

solusi

secara

perspektif

psikologi

pendidikan yang khusus menangani dua hal tersebut pada subbab selanjutnya.
23 | L a p o r a n O n s e v a s i
Psikologi Pendidikan

d. Wawancara
Berdasarkan observasi dan penelitian yang kami lakukan
dengan menggunakan metode kualitatif kami mengambil sub
bagian pada metode tersebut yakni wawancara dan
mendapatkan

beberapa

informasi

melakukan penelitian ini.


Riset
wawancara

sebagai

memberikan

berhasil

acuan

kesempatan

kami
untuk

mempersoalkan pemisahan individu dengan konteksnya, untuk


membumikan pengalaman dalam relasi sosial.17
Maka kami lampirkan hasil wawancara dengan pihak
a.

terkait.
Hasil wawancara dengan guru BK (Ibu Amel)
Question :Selama ini bagaimana prestasinya

di

bidang

akademik ?
Answer : Selama ini prestasinya tidak begitu memprihatinkan
sebenarnya, hanya saja dia sering kali terlihat tidak bergairah di
kelas.
Question : Apakah dia tertarik dengan mata pelajaran
tertentu ?
Answer : Itu belum terlihat dari dirinya, jika dia suka pelajaran
tertentu.
Question :

Apa yang melatarbelakanginya dia tidak suka

pelajaran apapun ?
Answer : Saya rasa

ini

berkaitan

dengan

pergaulan

di

lingkungan rumahnya saja, yang tidak mendukungnya dalam


belajar.
Question

Bagaimana

keadaan

perkembangan

psikomotoriknya ?
Answer : tidak aktif dalam prestasi belajar
Question : Rajin atau malaskah dia ?
Answer : malas
Question : Bagaiamanakah perkembangan apektifnya ?
Answer : Sebenarnya dia anak yang cukup baik, hanya saja
seringkali terbawa oleh pergaulan buruk teman-temannya.
Question : Bagaimanakah pergualannya selama disekolah ?
17 Ian Parker, Psikologi Kualitatif, (ANDI : Yogyakarta, 2008), h. 79
24 | L a p o r a n O n s e v a s i
Psikologi Pendidikan

Answer : Pergaulannya tidak begitu baik, seringkali dia terlihat


bergaul dengan anak-anak yang memiliki etika buruk.
Question : Apakah dia dikategorikan anak yang nakal ?
Answer : Dia termask anak yang nakal, seringkali membuat
onar dalam beberapa kasus.
Question : Apa saja kenakalannya ?
Answer : Seperti ikut tawuran dengan sekolah lain, merokok,
sering tidak mengerjakan tugas
Question : Menurut anda, apa yang membuatnya seringkali
bertingkah nakal ?
Answer : Kemungkinan besar adalah pergaulannya dengan
teman-teman yang saya rasa kurang memiliki etika yang tidak
baik dan kemungkinan kecilnya adalah kurangnya perhatian dari
orang tua.
Question

Lalu

apakah

pihak

sekolah

sering

menghukumnya ketika dia membuat pelanggaran ?


Answer : Pernah, namun tidak sering
Question : Apa hukumannya ?
Answer : Sebenarnya hanya mendapatkan hukuman berupa
teguran keras saja, sekeras-kersanya hanya dicukur rambutnya
ketika dia tawuran.
Question : Apakah dia pernah melakukan kenakalan di luar
batas anak-anak seumurnya
Answer : belum pernah.
Question : Bagaimanakah keadaannya secara kognitif ?
Answer : Tidak jauh berbeda, daya pikir anak untuk menjawab
keilmuan sungguh malas.
Question : Bagaimana menurut anda dengan keadaan
ekonominya selama ini ?
Answer : Menurut saya keekonomiaannya termasuk dibawah
rata-rata, karena seringkali dia juga susah untuk membeli LKS,
dan kami memaklumi hal itu.
Question : Pernahkah dia tidak masuk sekolah ?
Answer : Pernah
Question : Mengapa ?
Answer : Kemungkinan besar dia bolos dan tidak ada perhatian
dari orang tuanya.
25 | L a p o r a n O n s e v a s i
Psikologi Pendidikan

b. Wawancara dengan Dede Abdul Latih


Question : Siapa nama anda ?
Answer : Dede Abdul Latif
Question : Dimana anda tinggal ?
Answer : Kp. Sangkali, Kel. Tanjung Pura, Karawang
Question : Siapakah orang tua anda ? masih adakah ?
Answer : Bapak saya Engko, ibu saya Nuraini
Question : Anda anak ke berapa dari berapa saudara ?
Answer : Anak ke 2 dari 7 bersaudara
Question : Dengan siapa anda tinggal ?
Answer : Dengan kedua orang tua dan enam bersaudara
Question : Berapa anda mendapatkan uang jajan perhari ?
Answer : Rp. 5000,Question : Dimanakah bapak dan ibu anda bekerja ?
Answer : Bapak di pabrik, kalo ibu di rumah saja.
Question : Apakah bapak/ibu sering menyuruh belajar ?
Answer : Sesekali saja, tidak sering ko.
Question : Siapakah diantara mereka yang paling sering
menyuryh belajar ?
Answer : Ibu

26 | L a p o r a n O n s e v a s i
Psikologi Pendidikan

Question : Apakah bapak/ibu marah ketika anda tidak


belajar ?
Answer : Paling hanya ngomel sedikit
Question : Apa yang anda inginkan dari bapak/ibu ?
Answer : Saya ingin bapak/ibu lebih perhatian dengan belajar
saya
Question : Apakah anda masuk full terus selama 1 minggu ?
Answer : Iya
Question : Apakah anda aktif di ekstrakurikuler ?
Answer : Iya, Cuma marawis
Question : Apakah anda juga aktif di OSIS ?
Answer : Tidak
Question : Apakah anda merasa nyaman ketika di sekolah
Answer : Tidak begitu nyaman
Question : Kenapa ?
Answer : Ya, malas saja kalo masuk kelas
Question : Apa yang sekiranya membuat anda nyaman ?
Answer : Mungkin teman-teman saya kebanyakan berasal dari
SD dan kampung yang sama, sehingga merasa terasa begitu
banyak teman.
Question : Ketika proses pembelajaran di kelas, apakah anda
merasa nyaman ?

27 | L a p o r a n O n s e v a s i
Psikologi Pendidikan

Answer : Tidak begitu nyaman juga.


Question : Kenapa ?
Answer : Karena banyak pelajaran yang tidak saya suka, seperti
matematika, ipa, juga bahasa inggris, dan masih banyak lagi.
Question : Pelajaran apa yang anda suka ?
Answer :Pelajaran yang berhubungan dengan agama, seperti
fiqih, akidah akhlak, dll.
Question : Apa alasan yang membuat anda hanya menyukai
pelajaran agama ?
Answer : Karena merasa mudah dan juga karena sudah banyak
juga yang saya tahu dari pengajian
Question : Apakah nilai pelajaran di bidang agama anda
cukup baik ?
Answer : Tidak sebenarnya.
Question : Jadi anda hanya menyukainya saja
Answer : Iya
Question : Apakah anda sering mengerjakan PR ?
Answer : Jarang sekali, sekali pun pernah paling hanya di kelas.
Question : Kenapa ?
Answer : Karena sering lupa merasa malas sekali pun itu adalah
tugas mata pelajaran agama.
Question : Apa hal yang membuat anda malas ?

28 | L a p o r a n O n s e v a s i
Psikologi Pendidikan

Answer : Karena malu terhadap teman-teman ketika saya rajin,


nanti di bilang sok rajin atau apa lah, juga ya saya merasa
kurang ada motivasi baik dlam diri atau pun orang tua.
Question : Hal apa yang paling anda benci di sekolah ?
Answer : Sebenarnya tidak ada, namun merasa kesulitan saja
ketika belajar pelajaran umum.
Question : Tipe teman seperti apa yang membuat anda
nyaman ?
Answer : Teman yang saling mengerti saja keadaan temannya
Question : Maksudnya mengerti itu berarti bagaimana ?
Answer : Ya, misalnya kalau lagi sedih, selalu ada gitu.
Question : Saat ini anda berteman paling banyak dengan
tipe seperti apa ?
Answer

Dengan

teman-teman

yang

terbilang

nakal

sebenarnya.
Question : Kenapa anda memilh mereka menjadi teman ?
Answer : Karena merasa nyaman saja.
Question : Apa hal yang membuat anda nyaman bergaul
dengan mereka ?
Answer : Mereka lucu-lucu, jadi gak buat bosen di sekolah
Question : Apakah anda punya pacar ?
Answer : Iya, punya 2
Question : Kapan anda merasa termotivasi untuk belajar ?
29 | L a p o r a n O n s e v a s i
Psikologi Pendidikan

Answer : Saat mendengarkan guru ngaji ceramah


Question : Mengapa ?
Answer : Karena merasa nyaman aja.
Question : Jika di sekolah ?
Answer : Biasa-biasa aja,
Question : Apa ada guru yang membuat anda tidak nyaman
di kelas ?
Answer : Ada
Question : Kenapa ?
Answer : Karena dia sering memberikan PR jika tidak dikerjakan
pasti selalu dihukum.
Question : Apa hukumannya ?
Answer : Kadang suruh berdiri di depan kelas, kadang di suruh
di luar saja dan ngerjain PR.
Question

: Apa ada juga guru yang membuat anda

nyaman ?
Answer : Tentu ada
Question : Karena apa dia membuat anda nyaman ?
Answer : Karena dia mengajarnya enak
Question : Mengajar yang bagaiman yang membuat anda
enak ?
Answer : Mengajar yang ada unsur humorisnya juga gak pernah
ngasih PR.
30 | L a p o r a n O n s e v a s i
Psikologi Pendidikan

Question : Apakah anda punya unek-unek yang tersimpan


untuk Ibu/Bapak anda ?
Answer : Sebenarnya saya ingin Ibu mau lebih aktif nemenin
saya belajar.

c. Teman Dede Abdul Latif


Question : Apakah yang bernama Dede Abdul Latif baik ?
Answer : Sebenarnya baik, cuma agak nakal dan pemalas
Question : Bagaimana ia bergaul dengan temannya ?
Answer : Baik
Question : Dengan tipe teman-teman yang seperti apa dia
bergaul di sekolah ?
Answer : Dengan teman-teman yang tergolong nakal.
Question : Apakah dia pintar ?
Answer : Biasa saja
Question : Kapan anda melihat Dede rajin ?
Answer : Gak ingat

31 | L a p o r a n O n s e v a s i
Psikologi Pendidikan

BAB IV
ANALISIS DATA
Setelah pengamatan yang di lakukan penulis melalui kaca
mata objektifitas, maka penulis

menemukan

gejala

yang

cukup memprihatinkan dalam diri siswa. Dimana siswa yang


bernama Dede ini memiliki rasa acuh tak acuh terhadap proses
belajarnya, bahkan gejala kenakalan remaja si seusianya sering
kali dia tampakan. Ketika siswa berada di dalam kelas, siswa
lebih banyak bergurau dengan teman sebangkunya, berjalanjalan, bahkan mengganggu temannya. Dari penampilan siswa
pun membuktikan bahwa siswa bukan termasuk anak yang
disiplin. Dari beberapa kasus studi ini, penulis beranggapan
bahwa siswa kurang motivasi.
Merujuk terhadap problem terbesar yang dialami siswa
adalah kurangnya motivasi, maka pertama kali penulis mencoba
memaparkan kurangnya moivasivasi siswa dari keadaan keluarga
yang sedemikian kurang perhatian.
a) Motivasi
Motivasi sering diarttikan berasal dari kata motif
untuk

menunujukan

mengapa

orang

tersebut

berbuat

sesuatu. Kata motif diartikan sebagai daya upaya yang


mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Motif dapat
dikatakan sebagai daya penggerak dari dalam dan di dalam
subjek untuk

melakukan aktifitas-aktifitas

tertentu demi

mencapai satu tujuan. Bahkan motif dapat diartikan sebagai


suatu kondisi ntern (kesiapansiagaan). Berawal dari kata motif
itu maka motivasi dapat diartikan sebagai daya penggerak
yang menjadi aktif. Motif menjadi aktif pada saat tertentu
32 | L a p o r a n O n s e v a s i
Psikologi Pendidikan

terutama

bila

kebutuhan

untuk

mencapai

tujuan

yang

dirasakan.
Dalam

psikologi

motivasi

dapat

diartikan

sebagai

kekuatan (energi) sesorang yang dapat menimbulkan tingkat


persistensi dan antusiasmenya dalam melaksanakan suatu
kegiatan, baik dari diri itu sendiri, (motivasi intrinsik) maupun
dari luar individu (motivasi ekstrinsik).18
Seberapa kuat motivasi yang dimiliki individu akan
banyak

menentukan

terhadap

kualitas

prilaku

yang

ditampilkannya, baik dalam konteks belajar, bekerja maupun


dalam kehidupan lainnya. Kajian tentang motivasi telah sejak
lama memiliki daya tarik sendiri bagi kalangan pendidik,
manajer, peneliti, terutama dikaitkan dengan upaya kinerja
(prestasi) seseorang. Dalam konteks studi psikologi, Abin
Syamsuddin

Makmun

mengemukakan

bahwa

untuk

memahami motivasi indidvidu dapat dilihat dari beberapa


indikator,diantaranya :19
1. Durasi Kegiatan
2. Frekuensi Kegiatan
3. Ketabahan, keuletan dan kemampuan dalam menghadpi
rintangan dan kesulitan
4. Devosi dan pengorbanan
5. Tingkat aspirasi yang hendak dicapai dengan kegiatan
yang dilakukan.
6. Tingkat kualifikasi prestasi atau produk yang dicapai dari
kegiatan yang dilakukan.
7. Persistensi pada kegiatan
18 Dany Haryanto, Teori Belajar Motivasi (Jakarta:Prestasi Pustaka :
2009) hal. 79
19 http://devamelodica.com/contoh-teori-motivasi-belajar-untukskripsi/ 20 Jun. 13 (04.35)
33 | L a p o r a n O n s e v a s i
Psikologi Pendidikan

8. Arah sikap terhadap sasaran kegiatan.


Melihat

realita

yang

ada,

siswa

kurang

memiliki

motivasi intrinsik dan ekstrinsik dari keluarganya sehingga ia


tak mempunyai harapan besar dalam hidupnya, tak punya
mimpi, cita-cita, keinginan berprestasi (karena tidak dihargai
kalaupun

berprestasi

juga),

tak

mempunyai

keinginan

merubah hidupnya karena tidak didorong oleh motivasi


keluarga, itu semua tidak lain adalah kurangnya perhatian
dari keluarga terutama sang ibu.
Seberapa kuat motivasi yang dimiliki siswa akan
berpengaruh terhadap daya kemampuan siswa dalam proses
akademik siswa yang dilaluinya.
Karakteristik motivasi berprestasi tinggi
David C. Mc. Clelland (1961)

mengemukakan 6

karakteristik orang yang mempunyai motif berprestasi tinggi.


Keenam karakteristik motivasi berprestasi tinggi menurut Mc
Clellalnd itu adalah sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.

Memiliki tingkat tanggung jawab pribadi yang tinggi


Berani mengambil dan memikul resiko
Memiliki tujuan yang realistik
Memiliki rencana kerja yang menyeluruh dan berjuang

untuk merealisasi tujuan


5. Memanfaatkan umpan balik yang konkret dalam semua
kegiatan yang dilakukan
6. Mencari kesempatan untuk merealisasikan rencana yang
telah diprogramkan
Sedangkan menurut Edward Murray (1957) berpendapat
bahwa

karakteristik

orang

yang

mempunyai

motivasi

berprestasi tinggi memiliki 6 ciri-ciri. Ciri-ciri orang yang

34 | L a p o r a n O n s e v a s i
Psikologi Pendidikan

memiliki motivasi berprestasi tinggi itu adalah sebagai berikut


:
1. Melakukan sesuatu dengan sebaik-baiknya
2. Melakukan sesuatu untuk mencapai kesuksesan
3. Menyelesaikan tugas-tugas yang memerlukan usaha dan
keterampilan
4. Berkeinginan menjadi

orang

bidang tertentu
5. Melakukan pekerjaan

yang

terkenal
sukar

atau menguasai

dengan

hasil

yang

memuaskan
6. Mengerjakan sesuatu yang sangat berarti
7. Melakukan sesuatu yang lebih baik daripada orang lain
8. Menulis novel atau cerita yang bermutu
Berdasarkan pendapat Mc Clelland dari Edward Murray
dapat

dikemukakan

bahwa

karakterisitk

seseorang

yang

mempunyai motivasi berprestasi tinggi, antara lain :


1. Memiliki tanggung jawab yang pribadi
2. Memiliki program kerja berdasarkan rencana dan tujuan
yang realistik serta berjuang untuk merealisasikannya
3. Memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan dan
berani mengambil resiko yang dialaminya
4. Melakukan pekerjaan yang berarti dan menyelesaikannya
dengan hasil yang memuaskan
5. Mempunyai keinginan menjadi orang yang terkemuka yang
menguasai bidang tertentu
Karakteristik motivasi berprestasi rendah
Karakteristik seseorang yang memiliki motivasi berprestasi
rendah dapat dikemukakan, antara lain :
1. Kurang

memiliki

tanggung

jawab

pribadi

dalam

mengerjakan sesuatu pekerjaan atau kegiatan

35 | L a p o r a n O n s e v a s i
Psikologi Pendidikan

2. Memiliki

program

rencana

dan

kerja

tujuan

tetapi
yang

tidak

didasarkan

realisitik

serta

pada
lemah

melaksanakannya
3. Bersikap apatis dan tidak percaya diri, rata-rata dalam
mengambil keputusan
4. Tindakannya kurang terarah pada tujuan
Sesuai dengan hasil wawancara yang telah dilkukan
terhadap guru BK subjek, maka dapat dianalisis bahwa subjek
yang bernama Dede masih memiliki kekurangan semangat
dalam belajar (motivasi belajarnya kurang). Ini bisa dilihat dari
apa yang terjadi pada Dede yaitu dia masih belum bisa
membentuk atau mengatur masalah belajarnya ketika saat
ada di disekolah terlebih di rumah. Ketika ada disekolahnya
siswa masih sering kali tidak fokus terhadap bidang studi yang
dipelajarinya. Bukan hanya itu saja, seolah sekolah hanya lah
arena

bermainnya

saja,

siswa

ke

sekolah

karena

ingin

berkumpul dengan teman-temannya, memang di sekolah dia


termasuk anak yang cukup pandai bergaul. Siswa pun dapat
dikategorikan

sebagai siswa yang memiliki penyimpangan

sosial, dalam arti nakal. Hal itu dapat terlihat dari cara siswa
berpakaian,

bergurau

dengan

teman-temannya,

bahkan

berdialog dengan guru. Meskipun sebenarnya, dia nakal masih


dalam kategori batas remaja. Tentu saja menurut pandangan
penulis itu semua akibat dari siswa bergaul dengan temanteman yang memiliki etika seperti itu.
Ketika penulis menyinggung sedikit mengenai masalah
kenakalan remaja, penulis mengutip dari sebuah buku yang
berjudul

Kenakalan Remaja

mengenai beberapa

faktor

pendorong yang menjadikan norma hukum lebih dipatuhi oleh


anak remaja antara lain :
1. Dorongan yang bersifat psikologis/kejiwaan
36 | L a p o r a n O n s e v a s i
Psikologi Pendidikan

2. Dorongan untuk memelihara nilai-nilai moral yang luhur di


dalam masyarakat
3. Dorongan untuk menghindar dari sanksi hukum.20
b) Lingkungan Keluarga dan Teman
i. Lingkungan Keluarga
Pengertian lingkungan keluarga berasal dari dua kata,
yaitu lingkungan dan keluarga. J. P. Chaplin mengemukakan
bahwa lingkungan merupakan keseluruhan aspek atau
fenomena

fisik

perkembangan

atau

sosial

individu.21

mengemukakan bahwa

yang

Sementara,

lingkungan

mempengaruhi
Joe

Kathena

merupakan segala

sesuatu yang berada di luar individu yang meliputi fisik dan


sosial budaya. Lingkungan ini merupakan sumber seluruh
informasi yang diterima individu melalui alat inderanya
yaitu penglihatan, penciuman, pendengaran, dan rasa.
Lingkungan yang mempengaruhi perkembangan individu
yaitu lingkungan keluarga, sekolah, kelompok sebaya (peer
group), dan masyarakat. Lingkungan pertama yang sangat
berpengaruh

terhadap

perkembangan

individu

adalah

lingkungan keluarga. Sudardja Adiwikarya, Sigelman dan


Shaffer berpendapat bahwa keluarga merupakan unit
terkecil yang bersifat universal, artinya terdapat pada
setiap masyarakat di dunia (universe) atau suatu sistem
sosial yang terpancang (terbentuk) dalam sistem sosial
yang lebih besar.

22

20 Drs. Sudarsono. S.H., Kenakalan Remaja, (Jakarta: PT Rineka Cipta,


1995) h. 111
21 Syamsu Yusuf, Psikologi Perkembangan Anak dan Belajar,
(Bandung : Rosda : 2000),
22 Ibid
37 | L a p o r a n O n s e v a s i
Psikologi Pendidikan

Peran

orang

tua

merupakan

suatu

kompleks

pengharapan manusia terhadap caranya individu harus


bersikap sebagai orang yang mempunyai tanggung jawab
dalam satu keluarga, dalam hal ini khususnya peran
terhadap anaknya dalam hal pendidikan, keteladanan,
kreatif sehingga timbul dalam diri anak semangat hidup
dalam pencapaian keselarasan hidup di dunia ini.23
Orang tua mempunyai kedudukan yang utama dalam
sebuah keluarga karena dari keluarga itu orang tua sebagai
pendidik yang pertama bagi anak-anaknya. Begitu juga
dalam hal pengetahuan yang bersifat umum maupun
khusus sangat diperhatikannya. Ini artinya dalam keluarga
orang tua memberikan bekal pada anaknya itu secara
global.
Peran orang tua akan sangat dipengaruhi oleh peranperannya atau kesibukannya yang lain. Misalnya, seorang
ibu yang disibukkan pekerjaannya akan berbeda dengan
perannya ibu yang sepenuhnya konsentrasi dalam urusan
rumah tangga. Bagaimanapun peran seseorang sebagai
orang tua, ditentukan pula oleh kepribadiannya.
Secara umum orang tua mempunyai tiga peranan terhadap
anak:
1. Merawat fisik anak, agar anak tumbuh kembang dengan
sehat

23 http://tongkal09.wordpress.com/2010/01/04/peran-orang-tua-dalammeningkatkan-prestasi-belajar-anak-pada-mp-pai-di-sekolah-dasarnegeri-34v-sungai-saren/#_ftn13 20 Jun. 13, (2.00)


38 | L a p o r a n O n s e v a s i
Psikologi Pendidikan

2. Proses sosialisasi anak, agar anak belajar menyesuaikan


diri terhadap lingkungannya (keluarga, masyarakat,
kebudayaan)
3. Kesejahteraan psikologis dan emosional dari anak.24
Fungsi orang tua menurut prof. dr. zakiah daradjat dkk,
adalah:
1. Pendidik yang harus memberikan pengetahuan, sikap
dan ketrampilan terhadap anggota keluarga yang lain di
dalam kehidupannya,
2. Pemimpin keluarga yang harus mengatur kehidupan
anggota,
3. Contoh yang merupakan tipe ideal di dalam kehidupan
dunia, dan
4. Penanggung jawab di dalam kehidupan baik yang
bersifat fisik dan materiel maupun mental spiritual
keseluruhan anggota keluarga.25
Dari hal di atas, penulis dapat memberikan suatu
pemahaman, bahwa posisi orang tua dalam keluarga
sangat menentukan prestasi seorang anak, bagaimana
tidak, bagaimana pun atmosfir sosial pertama yang seorang
anak rasakan adalah ketika bersama keluarga. Tentu saja
24 Lubis Salam, Keluarga Sakinah, (Surabaya: Terbit Terang, t.th), hlm.
76
25 Zakiah Daradjat, dkk, Islam Untuk Disiplin Ilmu Pendidikan, (Jakarta:
Bulan Bintang, 1987), hlm. 183.
39 | L a p o r a n O n s e v a s i
Psikologi Pendidikan

hal ini memberikan gamabaran bahawa sebagai seorang


orang tua memang memiliki kewajiban untuk memberikan
motivasi dengan aktif mengaplikasikannya.
ii.

Teman Bergaul
Hary Stack Sullivan (1953) berpendapat bahwa di
masa remaja awal, pengaruh psikologis dan keakraban dari
kawan

dekat,

cendrung

meningkat.26

Sullivan

juga

berpendapat bahwa kawan-kawan juga memainkan peranan


yang

penting

dalam

membangun

kesejahteraan

dan

perkembangan anak-anak maupun remaja.27


Teori yang di kembangkan oleh Sullivan tersebut
membuktikan bahwa seorang remaja awal seperti Dede ini
memiliki rasa pengaruh yang kuat terhadap siapa saja
orang yang bergaul dengannya. Namun dalam konteks ini,
subjek

lebih

cendrung

memilih

teman-teman

yang

terbilang berprilaku penyimpangan sosial dan berprestasi


rendah. Hal ini memicu dari dalam dirinya tumbuh mental
siswa berprestasi rendah seperi yang dijelaskan di atas.
Sontak jelas saja, ini lah faktor yang membuat siswa tidak
terpicu untuk bersaing dengan siswa lainnya. Siswa lebih
akrab

dengan

yang

namanya

melanggar

peraturan

sekolah. Anggapan siswa melanggar adalah hal yang


membuatnya terlihat dewasa. Ini merupakan ideologi
perkembangan yang sering berkembang dalam kelompok
remaja seperti Dede.

26 John W. Santrock, Remaja, (Jakarta:Erlangga, 2007), hal. 70


27 Ibid
40 | L a p o r a n O n s e v a s i
Psikologi Pendidikan

Maka dari itu jika kita hubungkan apa yang terjadi


pada siswa dengan beberapa teori tentang motivasi belajar
yang telah dijelaskan di atas, siswa termasuk anak yang
belum memiliki motivasi belajar yang tinggi. Dimana
seharusnya anak seumuran MTs sudah harus memiliki
motivasi belajar yang lebih supaya cepat paham dengan
pelajaran dan tujuan yang diinginkan dalam belajar bisa
dicapai.
Mengenai penyebab dari apa yang terjadi pada siswa
kemungkinan yang pertama karena kurangnya peran
keluarga terhadap masalah belajar, tidak cukup hanya
sekedar suruhan melainkan harus paling sedikit ikut peran
dengan cara menemaninya saat belajar. Serta dari pihak
keluarga pun tidak memperdulikan pergaulan Dede di luar
rumah. Kedua, kemungkinan karena masalah pergaulan
siswa dengan teman-temannya, Dede justru lebih memilih
teman-teman
belajar,

yang

memiliki

teman-teman

yang

motivasi
berprestasi

rendah
rendah

dalam
yang

seringkali juga membuat bahkan teman-temannya. Ketiga,


kemungkinan karena lingkungan tetangga yang kurang
mendukung, dimana jika dilihat dari kondisi lingkungan
tetangga dan teman-temannya setiap hari hanya sekedar
bermain dan bermain saja, tanpa ada waktu sedikit untuk
belajar. Dan yang terakhir kemungkinan karena tidak
adanya reward atau penghargaan orang tua terhadap apa
yang telah dicapai oleh setiap anak. Dimana seharusnya
setiap orang tua harus memberikan penghargaan terhadap
apa yang telah dilakukan anaknya baik itu baik maupun
jelek,

walaupun

hanya

sekedar

jelek.

Reward

atau

penghargaan disini bisa berupa hukuman ataupun yang

41 | L a p o r a n O n s e v a s i
Psikologi Pendidikan

lainnya. Sebab sesuai yang telah dijelaskan oleh teori di


atas bahwa salah satu faktor yang menumbuhkan motivasi
belajar adalah pujian dan hukuman.

42 | L a p o r a n O n s e v a s i
Psikologi Pendidikan

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
a) Kesimpulan
Motivasi

belajar

merupakan

salah

satu

upaya

untuk

mencapai pretasi yang tinggi. Siswa yang memiliki motivasi


belajar

akan

membaca

memperhatikan

materi

menggunakan

pelajaran

sehingga

strategi-strategi

bisa

yang

disampaikan,

memahaminya,

belajar

tertentu

dan
yang

mendukung. Selain itu, siswa juga memiliki keterlibatan yang


intens dalam aktivitas belajar tersebut, rasa ingin tahu yang
tinggi, mencari bahan-bahan yang berkaitan untuk memahami
suatu topik, dan menyelesaikan tugas yang diberikan. Intinya,
motivasi belajar adalah hal yang akan memberikan peluang
besar dalam prestasi belajar. Dalam membentuk motivasi
tersebut, tentunya siswa pun harus di dukung pula dengan
lingkungan di dekatnya, terutama keluarga dan teman bergaul
siswa.
Dari analisis yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan
bahwa subjek yang bernama Dede yang ada dalam kategori
siswa berprestasi rendah, faktor yang membelitnya adalah
masih belum memiliki motivasi belajar yang tinggi terutama
dalam bidang akademik. Adapun indikator atau ciri yang
membuktikan bahwa dia belum memiliki motivasi belajar yang
tinggi antara lain Dede belum bisa mengatur dirinya untuk fokus
pada pelajaran yang disampaikan di sekolah.
Beberapa penyebab dari apa yang dialami Dede diantaranya
kurangnya peran keluarga terhadap belajar anak terutama
menemani saat belajar, teman-teman yang ada di sekitar Dede
lebih banyak di antara mereka yang memiliki motivasi belajar
rendah, lingkungan keluarga baik teman atau tetangga yang

43 | L a p o r a n O n s e v a s i
Psikologi Pendidikan

kurang mendukung, dan tidak adanya reward/penghargaan dan


juga hukuman bagi anak mengenai keberhasilan atau kegagalan
dalam belajar.

b) Saran
Merujuk terhadap beberapa problem yang dihadapi oleh
siswa, maka penulis mengambil saran terhadap orang tua
berdasarkan perspektif psikologi pendidikan.
1. Adanya kerja sama dari semua pihak untuk meningkatkan
prestasi belajar

siswa, khususnya orang tua dan guru.

Misalnya

tua

orang

selalu berkonsultasi dengan pihak

sekolah tentang perkembangan maupun prestasi belajar


anak-anaknya.
2. Orang tua terus mendukung dan mendorong anak-anaknya
untuk lebih giat belajar lagi di rumah , selain itu juga orang
tua

mengetahuai

dan

selalu

mengawasi

teman

pergaulannya.
3. Orang tua maupun guru memberikan penghargaan atas
percapaian prestasi belajar peserta didik. Penghargaan
tersebut bias berupa pujian atau hasil belajar yang sudah
dicapai.
4. Orang tua harus mengetahui tipe teman-teman yang
bergaul dengan anaknya, serta memberikan kesadaran
terhadap anak akan pentingnya dengan siapa dia bergaul.
5. Orang tua memberikan dukungan terhadap kegiatan ekstra
siswa, guna membentuk mental kreatif dalam diri anak.

44 | L a p o r a n O n s e v a s i
Psikologi Pendidikan

Daftar Pustaka
Syekh Az-zarnuji, Talim Mutaallim
Ratna. Teori dan Praktik Psikologi Pendidikan. Bandung : Rosda
Karya, 2010.
http: // www.rentcost.com/2011/12/pengertian pendidikandefinisi. html.
Budianto, lapangan Psikologi Pendidikan
file:///D:/Dokumen%20Pribados/Kuliahan/Mata%20Kuliah
%20Semester%202/Psikologi%20Pendidikan/Makalah%20Hakekat
%20Belajar%20dan%20pembelajaran
%20%20%20Alamsyah.com.htm
Syah, Muhibbin. Psikologi pendidikan. Bandung : Rosada, 2010.
http://hendriansdiamond.blogspot.com/2012/01/pengertianfaktor-dan-indikator-hasil.html
http://hendriansdiamond.blogspot.com/2012/01/pengertianfaktor-dan-indikator-hasil.html
Saiful, Bahri Djamarah. Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru.
Surabaya : Usaha Nasional, 1994.
http://belajarpsikologi.com/metode-penelitian-kualitatif/
Budianingsih, Asri. Belajar dan Pemebelajaran. Jakarta : PT.
Bineka Cipta, 2010.
Parker, Ian. Psikologi Kualitatif. ANDI : Yogyakarta, 2008.
Dany Haryanto. Teori Belajar Motivasi. Jakarta:Prestasi Pustaka,
2009.
http://devamelodica.com/contoh-teori-motivasi-belajar-untukskripsi/
Sudarsono. Kenakalan Remaja. Jakarta: PT Rineka Cipta, 1995
Yusuf, Syamsu. Psikologi Perkembangan Anak dan Belajar.
Bandung : Rosda,
2000
45 | L a p o r a n O n s e v a s i
Psikologi Pendidikan

http://tongkal09.wordpress.com/2010/01/04/peran-orang-tuadalam-meningkatkan-prestasi-belajar-anak-pada-mp-pai-disekolah-dasar-negeri-34v-sungai-saren/#_ftn13
Salam, Lubis. Keluarga Sakinah. Surabaya: Terbit Terang.
Zakiah Daradjat, dkk, Islam Untuk Disiplin Ilmu Pendidikan,
(Jakarta: Bulan Bintang, 1987. Santock, John W. Remaja,
Jakarta:Erlangga. 2007

46 | L a p o r a n O n s e v a s i
Psikologi Pendidikan