Anda di halaman 1dari 17

Ambliopia

Dewi Putriani 07120070048

Daftar Isi
Kata Pengantar...................................................................................................... 2
Pendahuluan.......................................................................................................... 3
Isi........................................................................................................................... 4
2.1 Epidemiologi................................................................................................. 4
2.2 Definisi......................................................................................................... 5
2.3 Patofisiologi.................................................................................................. 5
2.4 Etiologi......................................................................................................... 5
2.5 Diagnosis...................................................................................................... 8
2.6 Penatalaksanaan........................................................................................ 10
2.7 Prognosa..................................................................................................... 15
Kesimpulan.......................................................................................................... 16
Daftar Pustaka..................................................................................................... 17

Ambliopia

Dewi Putriani 07120070048

Kata Pengantar
Puji syukur kehadirat Tuhan yang Maha Kuasa atas segala rahmat-nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan penyusunan referat ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana.
Semoga referat ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman
bagi pembaca.
Referat yang berjudul Ambliopia ini bertujuan untuk mengetahui tentang kelainan dan
mengenali tanda-tanda terjadinya ambliopia secara lebih luas melalui epidemiologi, definisi,
etiologi, patogenesis, faktor risiko, gejala klinis, diagnosis, penatalaksanaan, dan prognosis.
Harapan penulis semoga referat ini membantu pengetahuan dan pengalaman bagi para
pembaca, sehingga penulis dapat memperbaiki bentuk maupun isi referat ini sehingga ke
depannya dapat lebih baik.
Penulis mengakui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang penulis miliki sangat
kurang. Oleh karena itu, penulis harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukanmasukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan referat ini.
Ucapan terima kasih kepada seluruh pembimbing di Departemen Mata Rumah Sakit
Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto Jakarta, atas ilmu dan bimbingannya selama ini,
khususnya kepada dr. Juniati V.P. SpM, selaku pembimbing dalam penyususnan referat ini.
Semoga referat ini bermanfaat bagi para pembaca.
Akhir kata, penulis sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta
dalam penyusunan referat ini dari awal sampai akhir.

Jakarta, Januari 2012

Penulis
2

Ambliopia

Dewi Putriani 07120070048

Pendahuluan
Kata amblyopia mengacu pada penurunan penglihatan, baik secara sepihak atau bilateral,
yang penyebabnya tidak dapat ditemukan dengan pemeriksaan fisik mata.
Klasifikasi ambliopia dibagi dalam beberapa kategori menurut penyebabnya yaitu ambliopia
strabismik, Ambliopia Fungsional, Ambliopia Refraktif, Ambliopia Anisometrik, Ambliopia
Ametropik, ambliopia organik, ambliopia deprivasi, ambliopia histeria, dan ambliopia
intoksikasi.
Ambliopia tidak dapat sembuh dengan sendirinya dan jika dibiarkan terlalu lama akan
menyebabkan gangguan penglihatan yang permanen. Ambliopia bersifat reversibel jika
dideteksi dengan cepat dan diterapi sedini mungkin.
Anak dengan ambliopia atau berpotensi terkena ambliopia dapat dideteksi pada umur dini
dimana prognosis keberhasilan terapi akan mencapai hasil yang maksimal.
Ambliopia biasa dikenal dengan mata malas (lazy eye). Ambliopia dapat mengenai semua
ras dan umur yang masih muda pada periode kritis perkembangan visual.

Ambliopia

Dewi Putriani 07120070048

Isi
2.1 Epidemiologi
Kata amblyopia mengacu pada penurunan penglihatan, baik secara sepihak atau bilateral,
yang penyebabnya tidak dapat ditemukan dengan pemeriksaan fisik mata. Istilah fungsional
amblyopia yang sering digunakan untuk menggambarkan amblyopia, yang berpotensi
reversibel dengan terapi oklusi. Amblyopia organik mengacu pada ireversibel amblyopia 1.
Sebagian besar kehilangan penglihatan pada amblyopia dapat dicegah atau reversibel dengan
intervensi yang tepat. Pemulihan tergantung pada usia berapa terapi dimulai. Hal ini penting
untuk menyingkirkan penyebab organik dari

visus menurun karena, banyak penyakit

mungkin tidak terdeteksi pada pemeriksaan rutin1.


Prevalensi amblyopia di United States sulit dinilai dan bervariasi dalam beberapa literatur,
mulai dari 1-3,5% pada anak-anak sehat sampai 4-5,3% pada anak dengan masalah mata.
Data yang terbaru menunjukkan bahwa sekitar 2% dari populasi umum telah mengalami
amblyopia1.
Amblyopia ditunjukkan dalam Survei Penurunan ketajaman Visual yang disponsori oleh
National Eye Institute (NEI) menjadi penyebab utama kehilangan penglihatan monokular
pada orang dewasa berusia 20-70 tahun atau lebih. Prevalensi amblyopia tidak banyak
berubah selama bertahun-tahun1.
Mortalitas / Morbiditas
Amblyopia merupakan masalah sosial ekonomi yang penting. Studi telah menunjukkan
bahwa itu adalah penyebab utama kehilangan penglihatan monokular pada orang dewasa.
Selanjutnya, orang dengan amblyopia memiliki risiko lebih tinggi menjadi buta.
Data menunjukkan tidak ada ras ataupun jenis kelamin tertentu yang menjadi faktor resiko
terjadinya ambliopia1.
Umur
Amblyopia terjadi selama periode kritis pengembangan visual. Peningkatan risiko ada di
anak-anak yang perkembangannya tertunda, yang prematur, dan / atau memiliki riwayat
keluarga yang mempunyai penyakit ambliopia1.
4

Ambliopia

Dewi Putriani 07120070048

2.2 Definisi
Amblyopia adalah gangguan pengembangan visial di mana mata gagal untuk mencapai
ketajaman visual normal, bahkan dengan pemakaian kacamata atau lensa kontak2.
Amblyopia adalah hilangnya kemampuan satu mata untuk melihat secara rinci. Ini adalah
penyebab paling umum dari masalah penglihatan pada anak-anak3.

2.3 Patofisiologi
Secara umum, amblyopia diyakini akibat dari tidak digunakannya stimulasi retina foveal atau
perifer dan / atau interaksi binokular yang abnormal yang menyebabkan masukan visual yang
berbeda dari foveae tersebut1.
Tiga periode kritis dari perkembangan ketajaman penglihatan manusia telah ditentukan.
Selama periode waktu, penglihatan dapat dipengaruhi oleh berbagai mekanisme untuk
menyebabkan atau sebaliknya ambliopia. Periode tersebut adalah:2

Perkembangan ketajaman visual dari kisaran 20/200 - 20/20, yang terjadi dari lahir sampai

usia 3-5 tahun.


Periode risiko tertinggi terjadinya deprivasi amblyopia, dari beberapa bulan sampai 7 atau

8 tahun.
Pada periode ini, pemulihan dari amblyopia masih dapat diperoleh, dari waktu ambliopia
deprivasi sampai dengan usia remaja atau dewasa.

Strabismus adalah penyebab paling umum dari amblyopia. Untuk menghindari penglihatan
ganda yang disebabkan oleh buruknya kesejajaran mata, otak mengabaikan masukan visual
dari mata yang bergulir, menyebabkan amblyopia pada mata ("mata malas"). Jenis ini disebut
ambliopia amblyopia strabismik.2
Kadang-kadang, amblyopia disebabkan oleh kesalahan bias di dua mata, meskipun
keselarasan mata yang sempurna. Sebagai contoh, satu mata mungkin memiliki rabun jauh
atau rabun dekat yang tidak dikoreksi, sedangkan mata yang lain tidak. Atau salah satu mata
mungkin telah mengalami silindris yang signifikan dan mata yang lain tidak.

2.4 Etiologi
Ada banyak penyebab terjadinya ambliopia, namun yang akan dipaparkan adalah penyebab
yang sering menyebabkan ambliopia, yaitu :4,1
1. Ambliopia Strabismik

Ambliopia

Dewi Putriani 07120070048

Ambliopia yang terjadi akibat juling lama (biasanya juling ke dalam) pada anak sebelum
penglihatan tetap. Pada keadaan ini terjadi supresi pada mata tersebut untuk mencegah
gangguan penglihatan (diplopia). Kelainan ini disebut sebagai ambliopia strabismik
dimana kedudukan bola mata tidak sejajar sehingga hanya satu mata yang diarahkan pada
benda yang dilihat.
Ambliopia stabismik ditemukan pada penderita esotropia dan jarang pada mata eksotropia.
Stabismus yang dapat menyebabkan ambliopia adalah strabismus manifes, strabismus
monokular, strabismus dengan sudut deviasi kecil. Strabismus yang selalu mempunyai
sudut deviasi di seluruh arah pandangannya.
2. Ambliopia Fungsional
Ambliopia dapat terjadi kongenital atau didapat, seperti ambliopia fungsional yang
terdapat pada satu mata, dengan tajam penglihatan yang kurang tanpa kelainan organik,
yang tidak dapat diperbaiki dengan kacamata. Anak- anak mempunyai resiko terjadinya
ambliopia fungsional ini. Setelah usia bertambah maka strabismus atau setiap faktor lain
yang secara potensial ambliopiagenik, seperti suatu katarak yang didapat, tidak mungkin
menyebabkan ambliopia. Defek visual yang didapat setelah usia ini, walaupun bertahan
berbulan-bulan atau bertahun-tahun, visus akan kembali normal setelah katarak atau
kelainan tersebut disingkirkan dan tindakan yang memadai dilakukan terhadap koreksi
optikal. Sampai usia 6 atau 7 tahun anak-anak sensitif terhadap ambliopia fungsional,
tetapi pada usia mereka, ambliopia juga paling berhasil diobati.
Bila ambliopia tetap tidak diobati sampai anak berumur 6-9 tahun, defek visual mungkin
tidak dapat membaik. Batas umur yang dapat diobati dengan tepat tidak dapat diukur
dengan pasti.
3. Ambliopia Refraktif
Ambliopia pada mata ametropia atau anisometropia yang tidak dikoreksi dan mata dengan
isoameteropia seperti hipermetropia dalam, atau miopia berat, atau pada astigmatisme
(ambliopia astigmatik). Ambliopia yang terjadi pada mata dengan kelainan refraksi dalam
yang tidak dikoreksi atau terdapatnya kelainan refraksi antara kedua mata. Penglihatan
dapat baik setelah beberapa bulan memakai kacamata yang sudah dikoreksi.
4. Ambliopia Anisometrik
Terjadi akibat terdapatnya kelainan refraksi kedua mata yang berbeda jauh. Akibat
anisometrik mata,

bayangan benda pada kedua mata tidak sama besar yang dapat

menimbulkan bayangan pada retina yang secara relatif diluar fokus dibanding dengan
mata lainnya. Bayangan yang lebih suram akan disupresi, biasanya pada mata yang lebih
ametropik.
6

Ambliopia

Dewi Putriani 07120070048

Beda refraksi yang besar antara kedua mata menyebabkan terbentuknya bayangan kabur
pada satu mata. Ambliopia yang terjadi akibat ketidak mampuan mata berfusi, akibat
terdapat perbedaan refraksi antara kedua mata, astigmat unilateral yang mengakibatkan
bayangan benda menjadi kabur.
5. Ambliopia Ametropik
Mata dengan hipermetropia dan astigmat sering memperlihatkan ambliopia akibat mata
tanpa akomodasi tidak pernah melihat objrek dengan baik dan jelas. Perbaikan tajam
penglihatan dapat terjadi beberapa bulan setelah kacamata dipergunakan.
Pada kedua mata tidak mencapai tajam penglihatan 5/5, biasanya hipermetropia tinggi ( +
7.0 D) atau astigmat tinggi (3.0 D) karena penderita tidak pernah melihat bayangan jelas.
Dibutuhkan waktu yang sangat lama untuk mengatasi ambliopia sesudah koreksi tajam
penglihatan terbaik.
6. Ambliopia Organik
Ambliopia dengan kelainan organik yang dapat menerangkan sebab penurunan tajam
penglihatan (tidak memenuhi kriteria ambliopia secara murni). Ambliopia dapat terjadi
akibat kerusakan fovea kongenital sehingga mengganggu penderita, ambliopia organik
bersifat tidak reversibel.
7. Ambliopia Eks anopsia/deprivasi
Ambliopia akibat penglihatan terganggu pada saat perkembangan penglihatan bayi.
Dahulu ambliopia ini diduga karena juling, pada saat ini ambliopia eks anopsia diduga
disebabkan supresi atau suatu proses aktif dari otak untuk menekan kesadaran melihat.
Ambliopia eks anopsia dapat terjadi akibat adanya katarak kongenital. Ambliopia ini bila
mulai terjadi sesudah berumur 4 tahun, maka tajam penglihatan tidak akan kurang dari
20/200, sedangkan bila terjadi pada usia kurang dari 4 tahun maka tajam penglihatan dapat
lebih buruk.
Ambliopia akibat mata tidak dipergunakan dengan baik. Biasanya mengenai satu mata
yang disertai juling ke dalam atau penglihatan yang sangat buruk. Menurunnya
penglihatan pada satu mata akibat hilangnya kemampuan melihat bentuk setelah fiksasi
sentral tidak dipergunakan (akibat katarak, kekeruhan kornea atau ptosis).
8. Ambliopia Intoksikasi
Intoksikasi dapat disebabkan pemakaian tembakau, alkohol. Timah atau bahan toksik
lainnya dapat mengakibatkan ambliopia. Biasanya terjadi neuritis toksik akibat keracunan
disertai terdapat tanda-tanda lapang pandang yang berubah-ubah.
Hilangnya tajam penglihatan sentral bilateral, yang diduga akibat keracunan metilalkohol,
yang dapat juga terjadi karena gizi buruk.
7

Ambliopia

Dewi Putriani 07120070048

9. Ambliopia Histeria
Ambliopia yang terjadi akibat histeria yang dapat mengenai satu mata, akan tetapi lebih
sering pada kedua mata. Pada pemeriksaan didapatkan lapang pandang yang menciut
konsentris dan yang lebih karakteristik lagi adalah gambaran seperti spiral selama
dilakukan pemeriksaan lapang pandang. Kadang-kadang disertai dengan gejala rangsangan
lainnya sepeerti blefarospasme, memejamkan mata, dan lakrimasi. Reaksi pupil normal
dengan gejala lainnya tidak nyata.

2.5 Diagnosis
Diangnosis dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis dan beberapa pemeriksaan:
Anamnesis
Pada anamnesis biasanya didapatkan beberapa keluhan dari penderita yaitu :

Berkurangnya penglihatan pada satu mata


Mata terlihat bekerja tidak bersamaan

Susah melihat sesuatu dengan jelas


Adanya anggota keluarga yang menderita strabismus
Adanya anggota keluarga yang menderita penyakit kelainan mata.

Pemeriksaan Khusus

Beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan pada pasien adalah :

1. Uji Crowding Phenomenom (untuk mengetahui adanya ambliopia)

Penderita diminta untuk membaca huruf kartu Snellen sampai huruf terkecil yang
dibuka satu persatu atau yang diisolasi, kemudian isolasi huruf dibuka dan pasien
diminta melihat sebaris huruf yang sama. Bila terjadi penurunan tajam penglihatan
dari huruf yang diisolasi ke huruf dalam baris, maka ini disebut adanya fenomena
crowding pada mata tersebut. Mata ini menderita ambliopia.4

2. Uji Densiti Filter Netral

Dasar uji adalah diketahui bahwa pada mata yang ambliopia secara fisiologik berada
dalam keadaan beradaptasi gelap, sehingga bila pada mata ambliopiadilakukan uji
penglihatan dengan intensitas sinar yang direndahkan (memakai filter densiti netral),
tidak akan terjadi penurunan tajam penglihatan.4

Dilakukan dengan memakai filter yang perlahan-lahan digelapkan sehingga tajam


penglihatan pada mata normal turun 50% , sedangkan pada mata ambliopia fungsional
tidak akan atau hanya sedikit penurunan tajam penglihatan pada pemeriksaan
sebelumnya.4

Dibuat terlebih dahulu gabungan filter (kodak # 96, N.D.2.00 dengan 0,50) sehingga
tajam penglihatan pada mata yang normal turun dari 20/20 menjadi 20/40 atau turun 2
baris pada kartu pemeriksaan gabungan filter tersebut ditaruh pada mata yang diduga
ambliopia.4

Bila ambliopia adalah fungsional maka paling banyak tajam penglihatan berkurang
satu baris atau tidak terganggu sama sekali. Bila mata tersebut ambliopia organik
maka tajam penglihatan akan sangat menurun dengan pemakaian filter tersebut.

3. Sensitivitasi kontras

Mata amblyopia strabismik dan anisometropik telah ditandai dengan hilangnya


ambang sensitivitasi kontras, terutama pada frekuensi spasial yang lebih tinggi;
kerugian ini meningkat dengan keparahan amblyopia.1

4. Eccentric fiksasi

Beberapa pasien dengan amblyopia secara konsisten dapat terfiksasi dengan area
nonfoveal

retina

dalam

penggunaan

monokular

mata

amblyopia,

dimana

mekanismenya masih belum diketahui. Hal ini dapat didiagnosis dengan memegang
cahaya fiksasi di garis tengah di depan pasien dan meminta mereka untuk sementara
terfiksasi pada cahaya tersebut dan mata normal ditutup. Pantulan cahaya tidak akan
dipusatkan.1
5. Refraksi
Refraksi Cycloplegic harus dilakukan pada semua pasien, menggunakan retinoscopy untuk
mendapatkan pembiasan. Dalam kebanyakan kasus, mata lebih hyperopic atau mata dengan
silindris akan lebih banyak mata amblyopia1.

6. Visuskop

Alat untuk menentukan letak fiksasi. Dengan melakukan visuskopi dapat ditentukan
bentuk fiksasi monokular pada ambliopia.

Pada pemeriksaan ini, mata yang tidak diperiksa ditutup, lalu mata yang satunya
diperiksa dengan fundus dengan fisuskop. Pasien diminta untuk melihat sumber sinar
visuskop. Dilihat letak proyeksi gambar bintang visuskop terhadap makula.

Bila fiksasi eksentrik, maka gambaran bintang yang terdapat pada visuskop
diproyeksikan di luar makula. Pada keadaan normal, gambar bintang visuskop yang
diproyeksikan pada retina terletak pada makula lutea.5

2.6 Penatalaksanaan
a. Koreksi optik

Alasan untuk mengoreksi kelainan refraksi dengan kacamata atau lensa kontak adalah
untuk memastikan bahwa retina mata masing-masing menerima optik gambar yang jelas.
Koreksi penuh ametropia efektif pada beberapa pasien, terutama pasien isoametropik dan
anisometropik (<2 D) yang binocular.6

Penggunaan kacamata dibandingkan lensa kontak untuk koreksi optik telah menjadi
subyek perdebatan. Pemilihan koreksi optik melibatkan pertimbangan keuntungan relatif dari
masing-masing.
Lensa kontak tampaknya memiliki keunggulan tertentu, termasuk:6
Pengurangan aniseikonia dalam kasus refraksi dan anisometropia aksial

Pengurangan ketidakseimbangan prismatik, masalah berat, miring, perifer distorsi,


dan pembatasan bidang visual yang berpengalaman oleh pengguna lensa kacamata.

Kacamata memiliki keuntungan :

Menjadi lebih ekonomis dalam kebanyakan kasus


Menyediakan tingkat keamanan terhadap cedera mata.
Melayani sebagai modalitas untuk modifikasi optik lainnya (bertitik api dua atau
prisma) dalam pengelolaan anomali sisa binokuler

b. Oklusi Terapi

Oklusi telah menjadi dasar pengobatan amblyopia selama lebih dari 200 tahun. Alasan
untuk menggunakan oklusi adalah bahwa oklusi lebih baik menstimulasi mata yang
amblyopia, penurunan penghambatan oleh mata yang lebih baik. Oklusi
memungkinkan mata ambliopia untuk meningkatkan masukan rangsangan saraf ke
korteks visual. Hal ini juga penting dalam menghilangkan fiksasi eksentrik.6

Oklusi dapat diklasifikasikan dalam beberapa cara :6

Tipe (langsung, invers, bergantian)


Waktu ( waktu penuh, paruh waktu, minimal)
Occluder (perban, kacamata, lensa kontak, induksi farmakologi).

Berbagai laporan dalam literatur melaporkan keberhasilan penggunaan langsung


oklusi dalam pengobatan amblyopia deprivasi, strabismik amblyopia dengan fiksasi
eksentrik, dan anisometropik amblyopia. Namun, ketidakpatuhan dengan oklusi
merupakan faktor signifikan dalam kegagalan oklusi, terutama pada pasien yang
berumur lebih dari 8 tahun.
Potensi efek samping oklusi meliputi:

Oklusi amblyopia (ambliopia pada mata yang lebih baik) yang terjadi karena

kurangnya pengawasan saat terapi oklusi


Terjadinya strabismus
Terjadinya diplopia
Kesulitan menjalani tugas-tugas sekolah yang berhubungan dengan visual
Kekhawatiran kosmetik
Kulit alergi dan iritasi dengan perban untuk oklusi

c. Terapi Visual aktif

Terapi Optometric atau orthoptics digunakan untuk memperbaiki atau meningkatkan

disfungsi spesifik dari sistem visual. Terapi visual mengacu pada program pengobatan total,
yang mungkin termasuk pilihan terapi pasif (Misalnya, kacamata, oklusi, agen farmakologis)
dan terapi aktif.

Dengan pilihan pengobatan pasif sebagai koreksi optik dan oklusi,pasien mengalami
perubahan stimulasi visual tanpa upaya sadar. Terapi aktif dirancang untuk meningkatkan
kinerja visual pasien yang melibatkan kesadaran pasien.Ketika respon refleksif ini dicapai,
perlu diingat bahwa peningkatan kinerja akan ditransfer ke tugas visual lainnya yang tidak
dikontrol dan akhirnya mengubah mekanisme pengolahan visual.

Terapi visual aktif untuk amblyopia dirancang untuk memulihkan kekurangan dalam
empat bidang tertentu: gerakan mata dan fiksasi, spasial persepsi, efisiensi akomodatif, dan
fungsi binokular. Tujuan dari terapi ini adalah remediasi dari defisiensi tersebut, kemudian
pemerataan keterampilan melihat, akhirnya integrasi mata amblyopia ke fungsi binokular.
Terapi aktif monokular dan binokular ambliopia, adalah sebagai lawan pengelolaan pasif
(misalnya, oklusi), mengurangi waktu pengobatan total yang diperlukan untuk mencapai hasil
yang terbaik. Terapi monokular melibatkan teknik stimulasi yang meningkatkan resolution
amblyopia

dan

mendorong

gerakan

mata

lebih

normal,

fiksasi

pusat,

dan

akomodasi dari mata amblyopia. Karena penghambatan aktif binokular adalah salah satu
etiologi yang mendasari unilateral amblyopia6.

d. Tatalaksana Deprivasi Ambliopia

Ketika rintangan fisik yang signifikan (misalnya, katarak kongenital) didiagnosis


lebih awal, manajemen awal harus melibatkan konsultasi dengan ophthalmologist tentang
pengangkatan obstruksi dalam 2 bulan pertama kehidupan life. Dalam kasus obstruksi fisik
bilateral,
operasi pada mata kedua biasanya dilakukan setelah 1-2 minggu operasi pada mata pertama
untuk meminimalkan periode penghambatan binokular. Setiap kelainan refraksi yang
signifikan harus dikoreksi, sebaiknya dengan lensa kontak, dalam waktu 1 minggu setelah
operasi. Paruh-waktu oklusi (2 jam per hari) dikombinasikan dengan teknik stimulasi visual
juga dapat dilakukan. Dianjurkan pasien harus diikuti di 2-4 minggu interval selama 1 tahun
untuk memantau ketajaman visual dan pengembangan binokular. Jika setelah 1 tahun praktisi
puas dengan koreksi optik, fisiologi kornea normal, dan ketajaman visual telah meningkat
dan

stabil,

pasien

kemudian

dapat

dimonitor

pada

interval

bulan.

Pada pasien yang berumur diatas 12 bulan yang memiliki rintangan fisik, ada mungkin

sebuah pertanyaan tentang apakah kondisi bawaan atau diperoleh dalam 4-6 bulan pertama
kehidupan. Dalam kasus ini prognosis untuk setiap peningkatan yang signifikan dalam
ketajaman visual adalah buruk.6

Pengujian Electrodiagnostic dianjurkan untuk menetapkan prognosissebelum memulai


perawatan atau konsultasi bedah.

e. Tatalaksana Isoametropik Ambliopia

Pengobatan awal ambliopia isoametropik melibatkan koreksi penuh kelainan refraksi


dengan kacamata atau lensa kontak. Dalam 4-6 minggu praktisi harus kembali mengevaluasi
ketajaman visual dan status refraksi dan jika perlu, memodifikasi koreksi optik untuk
mempertahankan penuh koreksi ametropia tersebut. Setelah itu, tindak lanjut dapat dilakukan
setiap 4-6 bulan untuk memantau peningkatan ketajaman visual. Pasien tidak dapat mencapai
ketajaman visual terbaiknya selama 1-2 tahun setelah awal koreksi kelainan refraksi.
Sedangkan pasien ini sering memiliki ketidak mampuan berakomodatif secara penuh, yang
dokter

mata

mungkin

meresepkan

terapi

aktif

visual

atau

berkonsultasi

dengan dokter mata yang memiliki pelatihan lanjutan atau pengalaman klinis dalam
terapi visual. Terapi visual 15 -20 menit sehari mungkin cukup untuk meningkatkan fungsi
penglihatan binokular.6

f. Tatalaksana Anisometropic Ambliopia

Langkah awal dalam mengelola amblyopia anisometropik adalah koreksi penuh dari
kelainan refraksi dengan kacamata atau lensa kontak. Lensa kontak telah dianjurkan sebagai
pengobatan optik pilihan dalam rabun anisometropic amblyopia. Beberapa pasien, terutama
orang dewasa, mungkin perlu untuk dikoreksi namun bukan koreksi penuh kurang untuk
memastikan menghindari diplopia. Cukup dengan mengoreksi kelainan refraksi dapat
meningkatkan ketajaman visual dalam beberapa kasus. Respon ini diharapkan lebih sering
pada pasien yang lebih muda atau pasien yang derajat anisometropia cukup kecil (<2 D).
Untuk anak di bawah usia 6 tahun, pengobatan awal yang direkomendasikan terdiri dari
pasien dikoreksi untuk 4-6 minggu, kemudian ketajaman visual dievaluasi kembali sebelum
resep tambahan. Untuk anak yang lebih tua, orang dewasa, dan anak-anak muda yang tidak
respon pada koreksi refraksi saja, praktisi mungkin dapat meresepkan terapi oklusi yang
paruh waktu dan terapi visual aktif atau berkonsultasi dengan seorang dokter mata yang
memiliki pelatihan lanjutan atau pengalaman klinis dalam visual terapi. Oklusi terapi paruhwaktu dengan occluder buram atau tembus dapat digunakan 2-5 jam per hari.
Terapi visual aktif dianjurkan karena beberapa studi telah menunjukkan penurunan yang

signifikan dalam waktu pengobatan ketika prosedur untuk meningkatkan fungsi visual
monokuler yang ditambahkan. Jika ketajaman penglihatan telah meningkat ke tingkat
amblyopia dangkal (20/40-20/60), residu kelainan binokular, terutama supresi, harus kembali
dievaluasi dan diobati.

Terapi yang melibatkan koreksi optik dan oklusi mungkin hanya berlangsung dari 6
menjadi 11,5 bulan, dengan efek maksimum oklusi tercapai dalam 3-4 bulan pertama.
Penambahan terapi visual aktif dapat mengurangi terapi oklusi waktu hingga 50 percent. Bila
semua pengobatan pilihan yang dikombinasikan, perkiraan waktu perawatan untuk mencapai
visual yang terbaik ketajaman dan menetapkan fungsi binokular normal dalam nonstrabismik
anisometropic amblyopia adalah 15-25 kunjungan kantor. Untuk pasien amblyopik yang
memiliki juling gabungan dan anisometropia, perkiraan waktu perawatan lebih besar.
Langkah-langkah tambahan akan diperlukan untuk mengobati strabismus dan jika mungkin,
untuk menstabilkan pengembangan visual binokuler.6

g. Tatalaksana Ambliopia Strabismik

Jika pasien dengan amblyopia strabismik memiliki prognosis buruk bagi penglihatan
binokularnya, praktisi harus menetapkan tujuan pengobatan dangkal amblyopia untuk
menghindari kemungkinan terjadinya diplopia. Setelah tingkat ini telah tercapai, prognosis
untuk visual berkenaan dgn binokular dapat dibuat. Untuk pasien dengan prognosis yang
baik,

praktisi

harus

menetapkan

kemungkinan

ketajaman

visual

terbaik.

Langkah pertama dalam mengelola amblyopia strabismik adalah koreksi penuh kelainan
refraksi dengan kacamata atau lensa kontak. Koreksi refraksi saja jarang menghasilkan
peningkatan ketajaman visualyang maksimal. Oklusi dan aktif visual terapi atau konsultasi
dengan dokter mata yang telah maju pelatihan atau pengalaman klinis dalam terapi visual
juga dapat menjadi bagian dari awal rencana pengelolaan.

Full-time oklusi direkomendasikan untuk Strabismus konstan; paruh waktu oklusi,


untuk strabismus intermiten. Ketika full time oklusi ditentukan, masalah kinerja memerlukan
pertimbangan. Untuk memungkinkan pasien berfungsi di sekolah, di tempat kerja, atau ketika
ketajaman visual yang baik sangat penting.

Pada anak-anak di bawah usia 5 tahun yang memiliki fiksasi baik pusat atau eksentrik,
oklusi langsung penuh-waktu dengan penyesuaian untuk kinerja, adalah pengobatan yang
dapat dipilih. Untuk pasien usia 5 tahun keatas, fiksasi eksentrik merupakan komplikasi yang
signifikan yang membutuhkan treatment lebih agresif. Untuk pasien yang sudah tua dengan
fiksasi eksentrik yang tidak merespon dalam jangka waktu 4-6 minggu dengan oklusi
langsung, terapi visual aktif harus dipertimbangkan. Terapi visual aktif dapat mencakup

prosedur untuk meningkatkan visual fungsi, terutama prosedur yang mendukung fiksasi
pusat. Ketajaman visual telah ditingkatkan 20/40-20/60, yang Dokter mata harus
mengevaluasi ulang dan mengobati anomali residual monokular, terutama supresi dan
strabismus jika sesuai. Durasi terapi yang menggunakan koreksi optik dan oklusi
berkisar 6-11,5 bulan dengan efek oklusi maksimum dicapai dalam 3-4 bulan pertama.
Penambahan visual aktif terapi dapat mengurangi waktu terapi hingga 50 persen. Perkiraan
pengobatan dengan menggunakan kombinasi pilihan pengobatan adalah 25-35 kunjungan
kantor

untuk

pasien

yang

mencapai
memiliki

ketajaman
sisa

visual
strabismus,

terbaik
waktu

dan

fiksasi
perawatan

pusat.

Untuk

diperkirakan

dapat lebih besar; langkah-langkah tambahan akan diperlukan untuk mengobati strabismus.6

2.7 Prognosa

Prognosis untuk pemulihan ketajaman visual dan peningkatan defisit monokuler

tergantung pada interaksi beberapa faktor yaitu :6


Kepatuhan Pasien
Jenis spesifik amblyopia
Umur saat onset
Ketajaman visual awal
Usia pasien saat pengobatan dimulai
Jenis pengobatan yang diresepkan.

Ada periode sensitif atau kritis awal dalam hidup ketika halangan untuk
pengembangan visual berkenaan dgn binokular normal (strabismus konstan atau
anisometropia) akan menyebabkan masukan visual yang abnormal (supresi dan / atau
bentuk deprivasi) monokular, sering mengakibatkan ambliopia. Sebaliknya, ada periode yang
meluas lebih jauh di tahun-tahun dimana efek fisiologis dari pengalaman visual yang
abnormal dapat terbalik menjadi normal.

Kesimpulan

Selama periode perkembangan yang cepat dari jalur visual, dari lahir sampai sekitar
6-8 tahun, sistem visual rentan dengan perkembangan yang disebabkan oleh

amblyopia bentuk deprivasi, optik defocus, atau misalignment dari mata. Para dokter
mata mendiagnostik adalah tugas utama untuk mengidentifikasi etiologi yang
mendasari dan kondisi yang terkait. Prognosis untuk berhasil umumnya baik, terutama
jika amblyopia didiagnosis dan diobati lebuh dini. Koreksi optik, oklusi, dan visual
terapi

adalah

pilihan

pengobatan

utama.

Pasien ambliopia yang tidak diobati berada pada risiko lebih besar untuk kehilangan
penglihatan yang lebih baik. Para dokter mata harus hati-hati mungkin menguraikan
hasil tanpa pengobatan, termasuk risiko untuk dampak pada masa depan peluang
kerja, kemungkinan kerusakan pada mata yang baik, dan pentingnya memakai
pelindung mata dan pemantauan reguler dari kondisi pasien.

Daftar Pustaka

1. Yen, K.G. Ambliopia. Available at : http://emedicine.medscape.com/article/1214603overview#a0199


2. Gary Heiting, OD. Ambliopia. Available at :
http://www.allaboutvision.com/conditions/amblyopia.htm
3. Dugdale. D. C. Ambliopia. Available at :
http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/001014.htm
4. Ilyas S. Prof. Ilmu Penyakit Mata. Balai Penerbit FKUI.2009. page 245-254
5. Ilyas S. Prof. Dasar Teknik Pemeriksaan Dalam Ilmu Penyakit Dalam. Balai Penerbit
FKUI.2009, page 307
6. Rouse M., M.S. Care of the Patient with Ambliopia. American Optometric Association.
1994. Page 20-26