Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN

PADA PASIEN DENGAN KARSINOMA NASOFARING

A. Konsep Dasar Penyakit


1. Definisi
Karsinoma nasofaring merupakan tumor ganas yang tumbuh di daerah nasofaring
dengan predileksi di fossa Rossenmuller dan atap nasofaring. Karsinoma nasofaring
merupakan tumor ganas daerah kepala dan leher yang terbanyak ditemukan di Indonesia.
(Efiaty & Nurbaiti, 2001).
Karsinoma nasofaring (KNF) adalah tumor ganas yang tumbuh didaerah
nasofaring dengan predileksi di fosa Rossenmuller dan atap nasofaring (Arima, 2006 dan
Nasional Cancer Institute, 2009).
Karsinoma nasofaring adalah tumor ganas yang berasal dari sel-sel epitelial yang
menutupi permukaan nasofaring. Karsinoma nasofaring pertama kali dikemukakan oleh
Regaud dan Schmincke pada tahun 1921 (Bernard, 2006).

Gambar 1. Karsinoma Nasofaring

2. Epidemiologi/Insidensi Kasus
KNF dapat terjadi pada setiap usia, namun sangat jarang dijumpai penderita di
bawah usia 20 tahun dan usia terbanyak antara 45 54 tahun. Laki-laki lebih banyak dari
wanita dengan perbandingan antara 2 3 : 1. Kanker nasofaring tidak umum dijumpai di
Amerika Serikat dan dilaporkan bahwa kejadian tumor ini di Amerika Serikat adalah
kurang dari 1 dalam 100.000 (Nasional Cancer Institute, 2009).
1

Di sebagian provinsi di Cina, dijumpai kasus KNF yang cukup tinggi yaitu 15-30
per 100.000 penduduk. Selain itu, di Cina Selatan khususnya Hongkong dan Guangzhou,
dilaporkan sebanyak 10-150 kasus per 100.000 orang per tahun. Insiden tetap tinggi untuk
keturunan yang berasal Cina Selatan yang hidup di negara-negara lain. Hal ini
menunjukkan sebuah kecenderungan untuk penyakit ini apabila dikombinasikan dengan
lingkungan pemicu (Fuda Cancer Hospital Guangzhou, 2002 dan Nasional Cancer
Institute, 2009).
Di Indonesia, KNF menempati urutan ke-5 dari 10 besar tumor ganas yang
terdapat di seluruh tubuh dan menempati urutan ke -1 di bidang Telinga, Hidung dan
Tenggorok (THT). Hampir 60% tumor ganas kepala dan leher merupakan KNF (Nasir,
2009). Berdasarkan data Departemen Kesehatan, tahun 1980 menunjukan prevalensi 4,7
per 100.000 atau diperkirakan 7.000-8.000 kasus per tahun (Punagi,2007).

3. Penyebab/Faktor Predisposisi
Terjadinya KNF mungkin multifaktorial, proses karsinogenesisnya mungkin
mencakup banyak tahap. Faktor yang mungkin terkait dengan timbulnya KNF adalah:
1) Kerentanan Genetik
Walaupun karsinoma nasofaring tidak termasuk tumor genetik, tetapi kerentanan
terhadap karsinoma nasofaring pada kelompok masyarakat tertentu relatif lebih
menonjol dan memiliki agregasi familial. Analisis korelasi menunjukkan gen HLA
(human leukocyte antigen) dan gen pengkode enzim sitokrom p4502E (CYP2E1)
kemungkinan adalah gen kerentanan terhadap karsinoma nasofaring, mereka
berkaitan dengan sebagian besar karsinoma nasofaring (Pandi, 1983 dan Nasir, 2009)
.
2) Infeksi Virus Eipstein-Barr
Banyak perhatian ditujukan kepada hubungan langsung antara karsinoma nasofaring
dengan ambang titer antibody virus Epstein-Barr (EBV). Serum pasien-pasien orang
Asia dan Afrika dengan karsinoma nasofaring primer maupun sekunder telah
dibuktikan mengandung antibody Ig G terhadap antigen kapsid virus (VCA) EB dan
seringkali pula terhadap antigen dini (EA); dan antibody Ig A terhadap VCA (VCA-Ig
A), sering dengan titer yang tinggi. Hubungan ini juga terdapat pada pasien di
Amerika yang mendapat karsinoma nasofaring aktif. Bentuk-bentuk anti-EBV ini
2

berhubungan dengan karsinoma nasofaring tidak berdifrensiasi (undifferentiated) dan


karsinoma nasofaring non-keratinisasi (non-keratinizing) yang aktif (dengan
mikroskop cahaya) tetapi biasanya tidak berhubung dengan tumor sel skuamosa atau
elemen limfoid dalam limfoepitelioma (Nasir, 2009 dan Nasional Cancer Institute,
2009).
3) Faktor Lingkungan
Penelitian akhir-akhir ini menemukan zat-zat berikut berkaitan dengan timbulnya
karsinoma nasofaring yaitu golongan Nitrosamin, diantaranya dimetilnitrosamin dan
dietilnitrosamin, Hidrokarbon aromatic dan unsur Renik, diantaranya nikel sulfat
(Roezin, Anida, 2007 dan Nasir, 2009).
4. Patofisiologi
Keganasan pada umumnya dapat terjadi melalui dua mekanisme yaitu, pertama
pemendekan waktu siklus sel sehingga akan menghasilkan lebih banyak sel yang
diproduksi dalam satuan waktu. Kedua, penurunan jumlah kematian sel akibat gangguan
pada proses apoptosis. Gangguan pada berbagai protoonkogen dan gen penekan tumor
(TSGs) yang menghambat penghentian proses siklus sel (Maitra dkk, 2007 dan Roezin,
Anida, 2007).
Pada keadaan fisiologis proses pertumbuhan, pembelahan, dan diferensiasi sel
diatur oleh gen yang disebut protoonkogen yang dapat berubah menjadi onkogen bila
mengalami mutasi. Onkogen dapat menyebabkan kanker karena memicu pertumbuhan dan
pembelahan sel secara patologis (Maitra dkk, 2007 dan Roezin, Anida, 2007).

Gambar 2. Skema Patofisiologi Terjadinya Keganasan (Maitra dkk, 2007).

5. Klasisikasi
Berdasarkan klasifikasi histopatologi menurut WHO, KNF dibagi menjadi tipe 1
karsinoma sel skuamosa dengan keratinisasi, tipe 2 gambaran histologinya karsinoma tidak
berkeratin dengan sebagian sel berdiferensiasi sedang dan sebagian lainnya dengan sel
yang lebih ke arah diferensiasi baik, tipe 3 karsinoma tanpa diferensiensi adalah sangat
heterogen, sel ganas membentuk sinsitial dengan batas sel tidak jelas. Jenis KNF yang
banyak dijumpai adalah tipe 2 dan tipe 3. Jenis tanpa keratinisasi dan tanpa diferisiensi
mempunyai sifat radiosensitif dan mempunyai titer antibodi terhadap virus Epstein-Barr,
sedangkan jenis karsinoma sel skuamosa dengan berkeratinisasi tidak begitu radiosensitif
dan tidak menunjukkan hubungan dengan virus Epstein-Barr (Roezin, Anida, 2007 dan
Nasir, 2009).

6. Gejala Klinis
a) Gejala dini
KNF bukanlah penyakit yang dapat disembuhkan, maka diagnosis dan
pengobatan yang sedini mungkin memegang peranan penting (Roezin,Anida, 2007).
Gejala pada telinga dapat dijumpai sumbatan Tuba Eutachius. Pasien mengeluh rasa
4

penuh di telinga, rasa dengung kadang-kadang disertai dengan gangguan pendengaran.


Gejala ini merupakan gejala yang sangat dini. Radang telinga tengah sampai pecahnya
gendang telinga. Keadaan ini merupakan kelainan lanjut yang terjadi akibat
penyumbatan muara tuba, dimana rongga telinga tengah akan terisi cairan. Cairan yang
diproduksi makin lama makin banyak, sehingga akhirnya terjadi kebocoran gendang
telinga dengan akibat gangguan pendengaran (Roezin, Anida, 2007 dan National
Cancer Institute, 2009).
Gejala pada hidung adalah epistaksis akibat dinding tumor biasanya rapuh
sehingga oleh rangsangan dan sentuhan dapat terjadi pendarahan hidung atau mimisan.
Keluarnya darah ini biasanya berulang-ulang, jumlahnya sedikit dan seringkali
bercampur dengan ingus, sehingga berwarna merah muda. Selain itu,sumbatan hidung
yang menetap terjadi akibat pertumbuhan tumor ke dalam rongga hidung dan menutupi
koana. Gejala menyerupai pilek kronis, kadang-kadang disertai dengan gangguan
penciuman dan adanya ingus kental. Gejala telinga dan hidung ini bukan merupakan
gejala yang khas untuk penyakit ini, karena juga dijumpai pada infeksi biasa, misalnya
pilek kronis, sinusitis dan lain-lainnya. Mimisan juga sering terjadi pada anak yang
sedang menderita radang (Roezin, Anida, 2007 dan National Cancer Institute, 2009 ).
b) Gejala Lanjutan
Pembesaran kelenjar limfe leher yang timbul di daerah samping leher, 3-5
sentimeter di bawah daun telinga dan tidak nyeri. Benjolan ini merupakan pembesaran
kelenjar limfe, sebagai pertahanan pertama sebelum tumor meluas ke bagian tubuh
yang lebih jauh. Benjolan ini tidak dirasakan nyeri, sehingga sering diabaikan oleh
pasien. Selanjutnya sel-sel kanker dapat berkembang terus, menembus kelenjar dan
mengenai otot di bawahnya. Kelenjarnya menjadi melekat pada otot dan sulit
digerakan. Keadaan ini merupakan gejala yang lebih lanjut lagi. Pembesaran kelenjar
limfe leher merupakan gejala utama yang mendorong pasien datang ke dokter
(Nutrisno, Achadi, 1988 dan Nurlita, 2009).
Gejala akibat perluasan tumor ke jaringan sekitar. Perluasan ke atas ke arah
rongga tengkorak dan kebelakang melalui sela-sela otot dapat mengenai saraf otak dan
menyebabkan ialah penglihatan ganda (diplopia), rasa baal (mati rasa) di daerah wajah
sampai akhirnya timbul kelumpuhan lidah, leher dan gangguan pendengaran serta
gangguan penciuman. Keluhan lainnya dapat berupa sakit kepala hebat akibat
5

penekanan tumor ke selaput otak rahang tidak dapat dibuka akibat kekakuan otot-otot
rahang yang terkena tumor. Biasanya kelumpuhan hanya mengenai salah satu sisi tubuh
saja (unilateral) tetapi pada beberapa kasus pernah ditemukan mengenai ke dua sisi
tubuh (Arima, 2006 dan Nurlita, 2009).
Gejala akibat metastasis apabila sel-sel kanker dapat ikut mengalir bersama
aliran limfe atau darah, mengenai organ tubuh yang letaknya jauh dari nasofaring, hal
ini yang disebut metastasis jauh. Yang sering ialah pada tulang, hati dan paru. Jika ini
terjadi, menandakan suatu stadium dengan prognosis sangat buruk (Pandi, 1983 dan
Arima, 2006).

7. Pemeriksaan Diagnostik
Persoalan diagnostik sudah dapat dipecahkan dengan pemeriksaan CT-Scan
daerah kepala dan leher, sehingga pada tumor primer yang tersembunyi pun tidak akan
terlalu sulit ditemukan. Pemeriksaan foto tengkorak potongan anteroposterior, lateral dan
Waters menunjukan massa jaringan lunak di daerah nasofaring. Foto dasar tengkorak
memperlihatkan destruksi atau erosi tulang di daerah fossa serebri media. Pemeriksaan
darah tepi, fungsi hati, ginjal dan lain-lain dilakukan untuk mendeteksi metastasis
(Nasir,2008).
Pemeriksaan serologi IgA anti EA dan IgA anti VCA untuk infeksi virus E-B
telah menunjukkan kemajuan dalam mendeteksi karsinoma nasofaring. Tetapi pemeriksaan
ini hanya digunakan untuk menentukan prognosis pengobatan. Diagnosis pasti ditegakkan
dengan melakukan biopsi nasofaring. Biopsi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dari
hidung atau dari mulut. Biopsi dari hidung dilakukan tanpa melihat jelas tumornya (blind
biopsi). Cunam biopsi dimasukkan melalui rongga hidung menelusuri konka media ke
nasofaring kemudian cunam diarahkan ke lateral dan dilakukan biopsy (Krishnakat,
Samir,2002 dan Nasir, 2008).
Biopsi melalui mulut dengan memakai bantuan kateter nelaton yang dimasukkan
melalui hidung dan ujung kateter yang berada didalam mulut ditarik keluar dan diklem
bersama-sama ujung kateter yang di hidung. Demikian juga dengan kateter dari hidung
disebelahnya, sehingga palatum mole tertarik keatas. Kemudian dengan kaca laring dilihat
daerah nasofaring. Biopsi dilakukan dengan melihat tumor melalui kaca tersebut atau
memakai nasofaringoskop yang dimasukkan melalui mulut, massa tumor akan terlihat
6

lebih jelas. Biopsi tumor nasofaring umumnya dilakuan dengan anestsi topical dengan
Xylocain 10%. Bila dengan cara ini masih belum didapatkan hasil yang memuaskan maka
dilakukan pengerokan dengan kuret daerah lateral nasofaring dalam nakrosis. Endoskopi
dapat membantu dokter untuk melihat bagian dalam tubuh dengan hanya menggunakan
thin flexible tube. Pasien disedasi semasa tuba dimasukkan melalui mulut ataupun hidung
untuk menguji area kepala ataupun leher. Apabila endoskopi telah digunakan untuk melihat
nasofaring,disebut nasofaringoskopi (Pandi, 1983 dan Arima, 2006).
8. Therapy/Tindakan Penanganan
Radioterapi masih merupakan pengobatan utama dan ditekankan pada
penggunaan megavoltage dan pengaturan dengan komputer. Pengobatan tambahan yang
diberikan dapat berupa diseksi leher, pemberian tetrasiklin, faktor transfer, interferon,
kemoterapi, seroterapi, vaksin dan anti virus. Semua pengobatan tambahan ini masih dalam
pengembangan, sedangkan kemoterapi masih tetap terbaik sebagai terpai adjuvant
(tambahan) (Roezin, Anida, 2007 dan National Cancer Institute, 2009).
Pemberian adjuvant kemoterapi Cis-platinum, bleomycin dan 5-fluorouracil saat
ini sedang dikembangkan dengan hasil sementara yang cukup memuaskan. Demikian pula
telah dilakuka n penelitian pemberian kemoterapi praradiasi dengan epirubicin dan cisplatinum, meskipun ada efek samping yang cukup berat, tetapi memberikan harapan
kesembuhan yang lebih baik. Kombinasi kemoterapi dengan mitomycin C dan 5fluorouracil oral setiap hari sebelumdiberikan radiasi yang bersifat radiosensitizer
memperlihatkan hasil yang memberi harapan akan kesembuhan total pasien karsinoma
nasofaring (Fuda Cancer Hospital Guangzhou, 2002 dan Arisandi, 2008).
Pengobatan pembedahan diseksi leher radikal dilakukan terhadap benjolan di
leher yang tidak menghilang pada penyinaran (residu) atau timbul kembali setelah
penyinaran selesai, tetapi dengan syarat tumor induknya sudah hilang yang dibuktikan
dengan pemeriksaan radiologi dan serologi. Operasi sisa tumor induk (residu) atau kambuh
(residif) diindikasikan, tetapi sering timbul komplikasi yang berat akibat operasi (Roezin,
Anida, 2007).
Perawatan paliatif harus diberikan pada pasien dengan pengobatan radiasi. Mulut
rasa kering disebakan oleh keusakan kelenjar liur mayor maupun minor sewaktu
penyinaran. Tidak banyak yang dilakukan selain menasihatkan pasien untuk makan dengan
banyak kuah, membawa minuman kemanapun pergi dan mencoba memakan dan
7

mengunyah bahan yang rasa asam sehingga merangsang keluarnya air liur. Gangguan lain
adalah mukositis rongga mulut karena jamur, rasa kaku di daerah leher karena fibrosis
jaringan akibat penyinaran, sakit kepala, kehilangan nafsu makan dan kadang-kadang
muntah atau rasa mual (Roezin,Anida, 2007).
Kesulitan yang timbul pada perawatan pasien pasca pengobatan lengkap dimana
tumor tetap ada (residu) akan kambuh kembali (residif). Dapat pula timbul metastasis jauh
pasca pengobatan seperti ke tulang, paru, hati, otak. Pada kedua keadaan tersebut diatas
tidak banyak tindakan medis yang dapat diberikan selain pengobatan simtomatis untuk
meningkatkan kualitas hidup pasien. Pasien akhirnya meninggal dalam keadaan umum
yang buruk , perdarahan dari hidung dan nasofaring yang tidak dapat dihentikan dan
terganggunya fungsi alat-alat vital akibat metastasis tumor (Fuda Cancer Hospital
Guangzhou, 2002 dan Roezin, Anida, 2007).
9. Prognosis
Prognosis karsinoma nasofaring secara umum tergantung pada pertumbuhan lokal
dan metastasenya. Karsinoma skuamosa berkeratinasi cenderung lebih agresif daripada
yang non keratinasi dan tidak berdiferensiasi, walau metastase limfatik dan hematogen
lebih sering pada ke-2 tipe yang disebutkan terakhir. Prognosis buruk bila dijumpai
limfadenopati, stadium lanjut, tipe histologik karsinoma skuamus berkeratinasi. Prognosis
juga diperburuk oleh beberapa faktor seperti stadium yang lebih lanjut,usia lebih dari 40
tahun, laki-laki dari pada perempuan dan ras Cina daripada ras kulit putih (Arima, 2006) .
10. Komplikasi
Toksisitas dari radioterapi dapat mencakup xerostomia, hipotiroidisme, fibrosis
dari leher dengan hilangnya lengkap dari jangkauan gerak, trismus, kelainan gigi, dan
hipoplasia struktur otot dan tulang diiradiasi. Retardasi pertumbuhan dapat terjadi sekunder
akibat radioterapi terhadap kelenjar hipofisis. Panhypopituitarism dapat terjadi dalam
beberapa kasus. Kehilangan pendengaran sensorineural mungkin terjadi dengan
penggunaan cisplatin dan radioterapi. Toksisitas ginjal dapat terjadi pada pasien yang
menerima cisplatin. Mereka yang menerima bleomycin beresiko untuk menderita fibrosis
paru. Osteonekrosis dari mandibula merupakan komplikasi langka radioterapi dan sering
dihindari dengan perawatan gigi yang tepat (Maqbook, 2000 dan Nasir, 2009).
8

11. Pencegahan
Pemberian vaksinasi pada penduduk yang bertempat tinggal di daerah dengan
risiko tinggi. Penerangan akan kebiasaan hidup yang salah serta mengubah cara memasak
makanan untuk mencegah kesan buruk yang timbul dari bahan-bahan yang berbahaya.
Penyuluhan mengenai lingku ngan hidup yang tidak sehat, meningkatkan keadaan sosialekonomi dan berbagai hal yang berkaitan dengan kemungkinan-kemungkinan faktor
penyebab. Akhir sekali, melakukan tes serologik IgA-anti VCA dan IgA anti EA
bermanfaat dalam menemukan karsinoma nasofaring lebih dini (Tirtaamijaya dalam
Dharishini, 2010).

B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan


1. Pengkajian
a) Faktor herediter atau riwayat kanker pada keluarga misal ibu atau nenek dengan
riwayat kanker payudara
b) Lingkungan yang berpengaruh seperti iritasi bahan kimia, asap sejenis kayu
tertentu.
c) Kebiasaan memasak dengan bahan atau bumbu masak tertentu dan kebiasaan
makan makanan yang terlalu panas serta makanan yang diawetkan ( daging dan
ikan).
d) Golongan sosial ekonomi yang rendah juga akan menyangkut keadaan lingkungan
dan kebiasaan hidup (Efiaty & Nurbaiti, 2001)
e) Pemeriksaan Fisik
9

Aktivitas
Kelemahan atau keletihan. Perubahan pada pola istirahat; adanya faktor-faktor
yang mempengaruhi tidur seperti nyeri, ansietas.
Sirkulasi
Akibat metastase tumor terdapat palpitasi, nyeri dada, penurunan tekanan darah,
epistaksis/perdarahan hidung.
Integritas ego
Faktor stres, masalah tentang perubahan penampilan, menyangkal diagnosis,
perasaan tidak berdaya, kehilangan kontrol, depresi, menarik diri, marah.
Eliminasi
Perubahan pola defekasi konstipasi atau diare, perubahan eliminasi urin,
perubahan bising usus, distensi abdomen.
Makanan/cairan
Kebiasaan diit buruk ( rendah serat, aditif, bahanpengawet), anoreksia,
mual/muntah, mulut rasa kering, intoleransi makanan,perubahan berat badan,
kakeksia, perubahan kelembaban/turgor kulit.
Neurosensori
Sakit kepala, tinitus, tuli, diplopia, juling, eksoftalmus
Nyeri/kenyamanan
Rasa tidak nyaman di telinga sampai rasa nyeri telinga (otalgia), rasa kaku di
daerah leher karena fibrosis jaringan akibat penyinaran
Pernapasan
Merokok (tembakau, mariyuana, hidup dengan seseorang yang merokok),
pemajanan
Keamanan
Pemajanan pada kimia toksik, karsinogen, pemajanan matahari lama /
berlebihan, demam, ruam kulit.
Seksualitas
Masalah seksual misalnya dampak hubungan, perubahan pada tingkat kepuasan.
Interaksi sosial
Ketidakadekuatan/kelemahan sistem pendukung
(Doenges, 2000)
10

2. Diagnosa Keperawatan
1) Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri fisik ditandai dengan pasien tampak
meringis.
2) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
ketidakmampuan pemasukan nutrisi ditandai dengan penurunan berat badan.
3) Risiko infeksi berhubungan dengan tindakan infasive, imunitas tubuh menurun.

3. Rencana Keperawatan
No

Diagnosa

Nyeri akut

Tujuan

Intervensi

Setelah dilakukan askepManajemen nyeri :

berhubungan dengan selama 3 x 24 jam tingkat1. Lakukan pegkajian nyeri secara


agen injuri fisik kenyamanan
klien komprehensif termasuk lokasi,
ditandai dengan meningkat, dan dibuktikan karakteristik, durasi, frekuensi,
pasien tampak

dengan level nyeri: klien

meringis

dapat melaporkan nyeri

kualitas dan faktor presipitasi.


Rasional : Nyeri merupakan

pada petugas, frekuensi

pengalaman subyektif dan harus

nyeri, ekspresi wajah, dan

dijelaskan

menyatakan

mengidentifikasi

kenyamanan

fisik dan psikologis, TD

oleh

pasien,

nyeri

untuk

memilih intervensi yang tepat.

120/80 mmHg, N: 60-1002. Anjurkan untuk beristirahat dalam


x/mnt, RR: 16-20x/mnt
ruangan yang tenang.
Rasional : Menurunkan stimulasi
Control nyeri dibuktikan
yang berlebihan yang dapat
dengan klien melaporkan
mengurangi sakit kepala.
gejala nyeri dan control
3. Berikan

nyeri.

kompres

dingin

pada

bagian yang nyeri.


Rasional

Meningkatkan

nyaman

dengan

rasa

menurunkan

vasodilatasi.
4. Ajarkan teknik relaksasi dengan
distraksi dan napas dalam.
Rasional
:
Membantu
11

mengendalikan

nyeri

dan

mengalihkan perhatian dari rasa


nyeri.
5. Kolaborasi

medis,

berikan

analgesik untuk mengurangi nyeri.


Rasional : Analgesik mampu
menekan saraf nyeri.

Ketidakseimbangan Setelah dilakukan askepManajemen Nutrisi


nutrisi kurang dari selama 324 jam klien1. Kaji pola makan klien
kebutuhan tubuh menunjukan status nutrisi Rasional:Mengidentifikasi
dibuktikan defisiensi nutrisi.
2. Identifikasi pasien yang mengalami
ketidakmampuan dengan BB stabil tidak
mual/muntah yang diantisipasi.
pemasukan nutrisi terjadi mal nutrisi, tingkat Rasional : Mual/muntah psikogenik
ditandai dengan energi adekuat, masukan terjadi sebelum kemoterapi muali

berhubungan dengan adekuat

penurunan berat

nutrisi adekuat.

secara

badan

umum

tidak

berespons

terhadap obat antiemetik.


3. Kolaborasi
medis

dengan

pemberian aniemetik pada jadwal


reguler sebelum atau selama dan
setelah

pemberian

agen

antineoplastik dengan sesuai.


Rasional : Mual/muntah paling
menurunkan kemampuan dan efek
samping

psikologis

kemoterapi

yang menimbulkan stress.


4. Sajikan makanan selagi hangat.
Rasional : Dengan sajian makanan
hangat lebih mengurangi mual.
5. Dorong pasien untuk makan sedikit
tapi sering.
Rasional : Kebutuhan sehari-hari
dapat terpenuhi dengan baik.
12

Risiko infeksi

Setelah dilakukan askepKontrol infeksi :

berhubungan dengan selama 3 x 24 jam tidak1. Kaji adanya tanda-tanda infeksi.


tindakan infasive, terdapat faktor risiko Rasional : Untuk memudahkan
imunitas tubuh
menurun

infeksi

pada

klien

memberikan

intervensi

kepada

dibuktikan dengan status pasien.


2. Monitor tanda-tanda vital.
imune
klien adekuat: Rasional : Merupakan tanda adanya
bebas dari gejala infeksi, infeksi apabila terjadi peradangan.
angka lekosit normal (4-3. Kolaborasi

medis

dengan

pemberian antibiotik.
Rasional : Antibiotik

11.000 )

mencegah

sekaligus

dapat

membunuh

kuman penyakit untuk berkembang


biak
4. Evaluasi
1) Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri fisik ditandai dengan pasien tampak
meringis.
- Meringis pasien berkurang
- Skala nyeri menurun
2) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
ketidakmampuan pemasukan nutrisi ditandai dengan penurunan berat badan.
- Berat badan pasien stabil/tidak menurun
- Nutrisi pasien adekuat
3) Risiko infeksi berhubungan dengan tindakan infasive, imunitas tubuh menurun.
- Tidak adanya tanda-tanda infeksi pada pasien
- Suhu tubuh pasien dalam batas normal (35,7-37,2oC)

13

PATHWAYS KARSINOMA NASOFARING


Faktor Etiologi

Mengaktifkan EBV

Menstimulasi pertumbuhan sel


abnormal yg tak terkontrol

Riwayat Keluarga

Kerusakan DNA pada sel dimana


pola kromosomnya abnormal
Terbentuk sel-sel muatan

Pola kromosom abnormal


Diferensiasi dan polferasi protein
laten (EBNA -1)

Metastase sel kanker ke kelenjar


getah bening melalui aliran limfe

Pertumbuhan sel kanker pd


nasofaring

Kromosom ekstra terlalu sedikit


translokasi kromosom

Sifat kanker diturunkan pd anak


Penekanan pada tuba eustacius
Pertumbuhan dan perkembangan sel
kanker pd kelenjar getah bening
Penyumbatan area tuba
Benjolan massa pd leher bagian
samping

MK :Gangguan persepsi sensori


( Pendengaran)

14

Benjolan massa pd leher bagian


samping

Menembus kelenjar

System imunitas tubuh menurun

Kelenjar melekat pada otot dan sulit


digerakkan

MK; Risiko Infeksi

Indikasi kemoterapi
Peransangan zona pencetus
kemoreseptor

MK : Nyeri akut

Iritasi mukosa mulut

Merusak sel-sel epitel kulit

Mual dan muntah

anoreksia

MK : Ketidakseimbangan nutrisi

Kerusakan intregitas kulit

Kerusakan pd kulit kepala

kurang dari kebutuhan tubuh


MK : gangguan harga diri rendah.

15

DAFTAR PUSTAKA
Arima, C. 2006. Paralisis Saraf Kranial Multipel pada Karsinoma Nasofaring. Available
from: http://library.usu.ac.id/download/fk/D0400193.pdf [Accesed 17 April 2010].
Arisandi, D. 2008. Asuhan Perawatan Pada Klien Dengan Kanker Nasofaring. Available
from:http://www.fadlie.web.id/askep/askep-kanker-nasofaring9s.pdf.
[Accesed
10April 2010].
Arsyad Efiaty, Iskandar Nurbaiti. 2001. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung
Tenggorok Kepala dan Leher. Jakarta : FKUI.
Bernand. 2006. Nasopharyngeal Carcinoma Review in Orphanet Journal in Rare Disease.
Biomed Central.
Dharishini, P. 2010. Gambaran Karateristik Penderita Karsinoma Nasofaring di Rumah
Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan dari Januari sampai Desember 2009.
Karya Tulis Ilmiah. Diterbitkan. Medan: Universitas Sumatera Utara.
Doenges, M. G. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. Jakarta: EGC.
Fuda Cancer Hospital Guangzhou. 2002. Nasopharynx Carcinoma Therapy After The
Failure
of
Coventional
Therapy.
Available
from:http://www.orienttumor.com/id/Kankernasofaring.htm
[
Accesed
17April2010].
Krishnakat & Samir. 2002. Pharyngeal Tumors. In: A Short Textbook Of Ear,Nose And
Throat Disease For Students And Practioners. Edition 5, Mumbai:Usha
Publications, 307-310.
Maitra, dkk. 2007. Paru dan Saluran Napas Atas. Disunting oleh Vinay Kumar Ramzi S
Cotran, dan Stanley L. Robbins. Buku Ajar Patologi Robbins, Ed. 7, Vol.2.
Jakarta : EGC.
Maqbook, M. 2000. Tumours Of Nasopharynx. In: Textbook Of Ear, Nose And Throat
Disease. Edition 9, Srinagar: Jay Pee Brothers, 250-253.
Nasir,

N. 2009. Karsinoma Nasofaring; Kedokteran Islam. Available from:


http://www.nasriyadinasir.co.cc/2009/12/karsinomanasofaring_20.html [Accesed
5April2010].

National Cancer Institute. 2009. Nasopharyngeal Cancer Treatment..Available from:


http://www.cancer.gov/cancertopics/pdq/treatment/nasopharyngeal/HealthProfessi
onal/page9. [Accesed 17April2010].

Nurlita,

N. 2009. Karsinoma Nasofaring. Ilmu Keperawatan. Available


from:http://ilmukeperawatan4u.blogspot.com/2009/06/canasofaring.html
[Accessed 5April 2010].

Nutrisno, Achadi. 1988. Karsinoma Nasofaring Di Rumah Sakit Dr.Kariadi Semarang.


Cermin
Dunia
Kedokteran.
Available
from
http://www.scribd.com/doc/7962675/Cdk-052-Tumortumor-Di-Kepala-Dan-Leher.
[Accesed 15 April 2010].
Pandi, Purnama S. 1983. Aspek Klinik Tumor Ganas Telinga-Hidung-Tenggorok. In
:Himawan, Sutisna. Tumor Kepala dan Leher : Diagnosis dan Terapi. Jakarta :
FKUI. pp: 65-71.
Punagi. 2007. Ekspresi Vascular Endothelial Growth Factor Receptor (VEGFR) dan
Latent Membrane Protein (LMP-1) pada Karsinoma Nasofaring.
Otorhinolaryngologica Indonesia, Vol. XXXVII (4): 31-6.
Roezin, A. dan Anida, S. 2007. Karsinoma Nasofaring. Disunting oleh Efiaty Arsyad
Soepardi dan Nurbaiti Iskandar. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung
Tenggorokan Kepala & Leher, Edisi Keenam. Jakarta : FKUI.