Anda di halaman 1dari 20

LEMBAR PERSETUJUAN

LAPORAN TUTORIAL SGD 3 LBM 5


MYOFASIAL PAIN

Telah Disetujui oleh :


Semarang, 13 Oktober 2014
Tutor

Drg. welly Anggarani

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya
kepada kami, sehingga kami bisa menyelesaikan laporan hasil SGD 3 Myofasial Pain. Laporan ini
disusun untuk memenuhi tugas SGD yang telah dilaksanakan.
Tak lupa kami mengucapkan terimakasih kepada dosen pembimbing yang telah membantu
kami dalam mengerjakan laporan ini. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada teman-teman
mahasiswa yang juga sudah bersusah payah membantu baik langsung maupun tidak langsung dalam
pembuatan laporan ini.
Kami menyadari bahwa dalam proses penulisan laporan ini masih jauh dari kesempurnaan
baik materi maupun cara penulisannya. Namun demikian, kami telah berupaya dengan segala
kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki sehingga dapat selesai dengan baik dan oleh karenanya,
tim penulis dengan rendah hati dan dengan tangan terbuka menerima masukan, saran dan usul guna
penyempurnaan laporan ini ini.
Kami berharap semoga laporan ini dapat berguna bagi kita bersama.

Semarang, 13 Oktober 2014

Penyusun

DAFTAR ISI
2

Lembar Persetujuan....................................................................................................

Kata Pengantar..........................................................................................................

Daftar Isi..................................................................................................................

BAB I : PENDAHULUAN
I. Latar Belakang...................................................................................................
II. Skenario ...........................................................................................................
III.Identifikasi Masalah............................................................................................

4
4
5

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA


I. Landasan Teori..................................................................................................
A. Macam-macam Myofacial Pain berdasarkan regionya.....................................
B. Karakteristik dari Myofacial Pain..................................................................
C. Penyebab Myofacial Pain.............................................................................
D. Tanda-tanda Myofacial Pain.........................................................................
E. Mekanisme Myofacial Pain beserta hubungan Tenderness,Spasm dan
nyeri ketika dipalpasi...................................................................................
F. Mekanisme nyeri pada daerah m.masseter dan m.tmporalis kanan saat
dipalpasi ......................................................................................................
G. Mekanisme Tenderness................................................................................
H. Pengaruh stress dengan Myofasial Pain.........................................................
I. Jarak normal dan batas ketika membuka mulut dan mekanismenya...............
J. Menegement dan Penatalaksanaan Myofasial Pain.........................................
K. Tahap-tahap terapi Myofasial Pain...................................................
L. Mengapa setelah terapi farmakologi tidak memberikan efek nyeri pada

6
6
7
7
8
8
9
9
9
9
10
11

Pasien........................................................................................................

12

M. Cara pemeriksaan Ekstra Oral pada myofasial pain........................


N. Indikasi pada TMJ yang tidak ada rasa hangat pada pipi sebelah kanan.............

12
13

II. Kerangka konsep................................................................................................

14

BAB III : PENUTUP


Kesimpulan..............................................................................................................

15

Daftar Pustaka..........................................................................................................

20

BAB I
PENDAHULUAN
I. Latar Belakang
Myofacial Pain adalah suatu kondisi nyeri dimana, nyeri tersebut dapat
dirasakan atau terlokalisasi, penurunan aktifitas fungsional, terkadang menimbulkan
keterbatasan fungsi gerak. Dengan mekanismenya adalah saat otot mengalami
penggunaan berlebih dan kontraksi terus menerus saat kontraksi bisa timbul gangguan
pada otot dan menstimulasi nosiseptor, semakin nosiseptor mengalami ketegangan,
kekurangan oksigen, pengumpulan sisa-sisa metabolisme. Merangsang ujung saraf
3

nosiseptor tipe c untuk melepaskan substansi p, merangsang PG, bradikinin, serotonin


sebagai teknikal stimuli. Adapun stres menjadi sangat berpengaruh terhadap nyeri
dikarenakan adanya peningkatan saraf simpatisnya bisa meningkatkan neuron afferen
gamma, pada spindel bisa berkontraksi.
Sehingga penatalaksanaan dari miofacial pain sendiri dengan cara microwave
diatermi dg stressor energi elektromagnetik, penyemprotan CE spray terdapat trigger
point, dan akan terblok dan efek spasme mestimulasi otot merenggang, ketegangan
otot menurun.
II. Skenario
Judul : Daerah sekitar telingaku kok sakit ya?
Seorang laki-laki berusia 49 tahun mengeluh nyeri pada daerah pipi kanan depan
telinganya. Nyeri yg dirasakan muncul spontan dan menyebar, terkadang disertai pusing. Ia
menceritakan bahwa nyeri dirasakan sejak ia mengalami kebangkrutan perusahaannya sekitar
1 tahun lalu sehingga menyebabkan sulit tidur dan depresi pada awalnya nyeri terasa ringan
tetapi sekarang nyeri semakain hebat dan sudah sangat menggangu. Pasien pernah meminum
obat penghilang sakit dan obat pusing tetapi tidak mengurangu keluhan nyeri.
Setelah dilakukan pemeriksaan ekstraoral diketahui bahwa pasien hanya mampu
membuka mulut 15 mm, ketika dipalpasi tidak ditemukan pembengkakan pada wajah, tidak
ada rasa hangat,tidak ada kliking maupun krepitasi pada area TMJ. Adanya tenderness,
spasm, dan nyeri ketika dilakukan palpasi pada muskulus masseter dan temporalis kanan.
Hasil pemeriksaan intraoral tidak ada kelainan pada gigi geligi serta oral higyene sedang,
radiografi menunjjukan tidak ada kelainan pada TMJ maupun gigi geligi. Dokter gigi
melakukan perawatan awal terhadap keluhan pasien tersebut

I.

Identifikasi Masalah
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
4

Apa saja macam-macam Myofacial Pain berdasarkan regionya


Apa saja karakteristik dari Myofasial Pain
Apa penyebab Myofacial Pain
Apa saja tanda-tanda Myofasial Pain
Bagaimana mekanisme Myofasial Pain beserta hubungan Tenderness,Spasm dan Nyeri
ketika dipalpasi
Bagaimana mekanisme nyeri pada daerah m.masseter dan m.tmporalis kanan saat
dipalpasi
Bagaimana mekanisme Tenderness
Bagaimana pengaruh stress dengan Myofasial Pain
Berapa jarak normal dan batas ketika membuka mulut dan mekanismenya
Apa saja menegement dan penatalaksanaan Myofasial Pain
Mengapa setelah terapi farmakologi tidak memberikan efek nyeri pada pasien

12.
13.

Bagaimana cara pemeriksaan EO pada myofasial pain


Apa indikasi yang terjadi pada TMJ yang tidak ada rasa hangat pada pipi sebelah kanan

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
I.

Landasan Teori

A. Macam-macam Myofacial Pain berdasarkan regionya


Macam-macam Myofasial Pain berdasarkan regionya ada 3,yaitu :
1. Upper
: trigger point terletak di daerah m.trapezius
2. Medium
: trigger point terletak di daerah m.levator scapula

3. Lower

: trigger point terletak di daerah m.rhomboideus mayor

B. Karakteristik dari Myofasial Pain


Nyeri terlokalisasi
Adanya Taut Band pada grup otot/otot tertentu
Nyeri menyebar
Kelemahan pada otot tertentu/sekelompok otot
Nyeri satu sisi pada trigger point (titik tertentu)
Autonomic Dysfunction
Kemungkinan nyeri aktif (pada saat bergerak) atau laten (nyeri pada saat di palpasi
Prevalensi anatara usia 20-49 tahun
Nyeri (terbakar atau periodik)
Kaku biasanya dirasakan pada malam hari
Kelelahan pada otot yang berlebihan
Penurunan ROM
Kelemahan tanpa disertai atrofi otot
Penurunan sensitifitas terhadap rasa dingin
C. Penyebab Myofacial Pain
Penyebab myofacial sendiri belum diketahui secara jelas. Biasanya myofacial
terjadi akibat kelemahan dari otot tersebut, postur tubuh yang tidak simetris, alignment
tubuh yang tidak simetris, kerja otot yang terus menerus, faktor stress, pengulangan
gerak yang (berlebihan dan terus menerus (repetitive motions)dan gangguan pada sendi.
Faktor-faktor tersebut yang menghasilkan siklus nyeri, gangguan beraktivitas.
Trauma tiba-tiba atau berlebihan akut myofascial jaringan gerakan berulangulang atau microtrauma (lambat awal), leg discrepancy(beda panjang tungkai),
kekurangan gizi, perubahan hormon (PMS atau menopause) infeksi kronis pendinginan
daerah badan, stres emosional yang intens.
D. Tanda-tanda Myofasial Pain

Rasa sakit yang dalam dan konstan


7

Sakit yang dalam dan konstan dapat menyebabkan efek eksitator (perangsangan)
sentral pada area yang jauh.
Stres emosional yang meningkat.
Kelainan tidur.
Sakit kepala yg sering
Penurunan ROM
Adanya stifness atau kekakuan
Adanya taut band pada otot-otot
Faktor-faktor lokal
Beberapa kondisi lokal yang mempengaruhi aktivitas otot seperti kebiasaan, sikap
badan
yang salah, keseleo, dan aktivitas otot yang berlebihan dapat menghasilkan nyeri
myofacial.
Faktor-faktor sistemik
Beberapa faktor sistemik dapat mempengaruhi atau bahkan menghasilkan nyeri
miofasial.
Faktor-faktor sistemik seperti hipovitaminosis, kondisi fisik yang rendah, lelah, dan
infeksi virus.
Adanya trigger point dan terlokalisasi
Adanya nyeri alih dengan adanya stimulasi penekan trigger point
Menurut John Halford terdapat 3 jenis trigger point yang berkembang dalam
otot,ligamen
dan kapsul sendi
:
- Inactive trigger point : kondisi ini seperti gunung berapi yang tidak lagi aktif.
- Latent trigger point : kondisi ini seperti gunung berapi yang bergemuruh.
- Active trigger point : kondisi ini seperti gunung berapi yang aktif dan
bergemuruh.

E. Mekanisme Myofasial Pain beserta hubungan Tenderness,Spasm dan Nyeri ketika


dipalpasi
Pada myofascial umumnya dicirikan dengan adanya spasme otot, tenderness,
stifness(kekakuan), keterbatasan gerak bahkan sampai kelemahan otot. Pada kondisi ini
apabila dilakukan palpasi maka akan ditemukan adanya taut band yaitu berbentuk
seperti tali yang membengkak pada badan otot, yang membuat pemendekan serabut
otot yang terus-menerus, sehingga terjadi peningkatan ketegangan serabut otot. Otot
yang mengalami ketegangan terus-menerus jika berlangsung lama akan mengakibatkan
jaringan miofascial terjadi penumpukan zat-zat asam laktat dan karbondioksida ke
jaringan dan menimbulkan iskemik.
Nyeri didalam kasus myofascial merupakan otot yang mengalami ketegangan
terus-menerus jika berlangsung lama akan mengakibatkan jaringan miofascial terjadi
penumpukan zat-zat asam laktat dan karbondioksida ke jaringan dan menimbulkan
iskemik. Keadaan iskemik ini membuat jaringan mengalami mikrosirkulasi karena
vasokonstriksi pembuluh darah, mengalami kekurangan nutrisi dan oksigen serta
menumpuknya zat-zat sisa metabolisme dan timbul viscous circle. Keadaan ini akan
8

merangsang ujung-ujung saraf tepi nosiseptife C untuk melepaskan suatu neuropeptida


yaitu substansi P. Karena adanya pelepasan substansi P akan membebaskan
prostaglandin dan diikuti juga dengan pembebasan bradikinin, potassium ion, serotonin
yang merupakan noxius stimuli sehingga dapat menimbulkan nyeri.
F. Mekanisme nyeri pada daerah m.masseter dan m.tmporalis kanan saat dipalpasi
Saat dipalpasi terjadi nyeri karena kemungkinan adanya taut band pada m.masseter dan
m.temporalis yang akan menyebabkan adanya trigger pointpada taut band tersebut
ketika trigger point dalam keadaan aktif saat dipalpasi akan menimbulkan
stimulus berupa mekanik kemudian akan mengakibatkan kerusakan jaringan
sehingga mengeluarkan mediator nyeri mengaktifkan nosiseptor dikirim
melalui serabut A delta dan serabut C ke medulla spinalis mengalami modulasi
ke kortex cerebri persepsi nyeri.
G. Mekanisme Tenderness
Tenderness merupakan nyeri tekan. Sebagaimana diketahui bahwa tenderness
merupakan salah satu ciri dari myofacial pain. Mekanisme tenderness yaitu
1.
2.
3.

H.

Rangsangan di trigger point berupa tekanan


Pelepasan neurotransmitter bradikinin, prostaglandin dan mediator nyeri lainnya
menyebabkan penghantaran impuls nyeri
Impuls nyeri dihantarkan dari serabut saraf aferent menuju neuron orde 1 di
gangglion dorsalis lalu dihantarkan ke neuron orde II di seubtansia gelatinosa
medula spinalis lalu akan menuju ke neuron orde III di thalamus melalui jalur
spunotalamicus menuju gyrus post sentralis cortex serebri sebagai area
somatosensorik untuk di persepsikan sebagai nyeri. Selain itu impuls juga
dihantarkan melalui jalur spinoretikularis menuju ke amigdala sebagai area limbik
yang mengatur emosi.

Pengaruh stress dengan Myofasial Pain


Sistem limbik stressdibawa oleh neuron afferen gammapeningkatan tonus
otot kontraksi ototterus menerus sehingga menimbulkan kelelahan
ototpenumpukan asam laktatiskemiamengeluarkan mediator nyeritimbul rasa
nyeri

I.

Jarak normal dan batas ketika membuka mulut dan mekanismenya


Gerak sendi pada orang dewasa normal memiliki kisaran 20 - 25mm antara gigi
geligi rahang atas dan bawah. Bila dikombinasikan dengan jarak meluncur kisaran
gerak membuka mulut yang normal akan meningkat menjadi 35 45mm, sedangkan
gerak lateral 10mm dan gerakan TMJ kedepan 10-20mm.

Mekanisme Membuka Mulut

[Penggerak utamanya adalah : M. Pterygoideus lateralis]


M. Pterigoideus lateralis menarik processus condilaris ke depan menuju eminentia
articularis.Pada saat bersamaan,serabut posterior M. Temporalis harus relaks dan
keadaan ini diikuti dengan relaksasi M. Maseter,serabut anterior M. Temporalis,
dan M. Pterigoideus medialis yang berlangsung cepat dan lancar. Keadaan ini
akan memungkinkan mandibula berotasi di sekitar sumbu horizontal sehingga
processus condilaris akan bergerak ke depan sedang angulus mandibula begerak
ke belakang. Dagu akan terdepresi , keadaan ini dibantu dengan gerak membuka
yang kuat oleh M. Digastricus,M. Geniohyoideus , dan M. Mylohyoideus yang
berkontraksi terhadap os hyoid .

Mekanisme Menutup Mulut


:
[Penggerak utamanya adalah : M. Maseter , M. Temporalis, M. Pterigoideus
Medialis]
Rahang dapat menutup pada berbagai posisi.Mulai dari menutp pada posisi protusi
penuh sampai menutup pada keadaan processus condilaris berada pada posisi
paling posterior dalam fossa mandibula . Pada posisi protusi memerlukan
kontraksi M. Pterigoideus Lateralis\yang dibantu M. Pterigoideus Medialis. Caput
mandibula akan tetap pada posisi ke depan eminentia articularis . Pada gerak
menutup retrusi, serabut posterior M. Temporalis akan bekerjasama dengan
M.Maseter untuk mengembalikan processus condilaris ke dalam fossa mandibula.
Sehingga gigi geligi dapat saling kontak pada oklusi normal.
Pada gerak menutup cavum oris, kekuatan yang dikeluarkan otot pengunyahan
akan diteruskan terutama melalui gigi geligi ke rangka wajah bagian atas. M.
Pterigoideus Lateralis dan serabut posterior M. Temporalis cenderung
menghilangkan tekanan dari caput mandibula pada saat otot-otot ini berkontraksi.
Keadaan ini berhubungan dengan fakta bahwa sumbu rotasi mandibula akan
melintas di sekitar ramus.

J.

Menegement dan Penatalaksanaan Myofasial Pain


MASSAGE
Prinsip efek terapeutik massage adalah menghancurkan perlengketan pada Trigger
point, memperbaiki sirkulasi darah local dan relaksasi otot. Teknik "deep friction" dari
Cyriax cukup efektif dan mudah dikerjakan untuk merusak TrP tersebut. Kemudian
dilanjutkan dengan "effleurage" dan atau "stroking".
Terapi es/dinging (icing)
Dapat berupa kompres dingin dengan memakai handuk atau cold pack, dan atau ice
massage. Hati-hati kemungkinan alergi terhadap es.
Terapi panas
10

Terapi panas superficial seperti kompres panas (hot pack), lampu infra merah (infra
red), tidak dapat menenangkan TrP. Terapi panas-dalam (baik berupa Shortwave
diathermy atau Microwave Diathermy) lebih efektif untuk TrP dengan mekanisme
memperbaiki mikrosirkulasi pada serabut otot yang letaknya dalam sehingga
menimbulkan efek relaksasi. Yang paling efektif adalah ultrasound therapy, dengan
mekanisme mikromassage akan menghancurkan perlengketan pada trigger point tanpa
menimbulkan reaksi nyeri seperti halnya ketika dilakukan "deep friction".
TENS (Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation
Dengan stimulasi listrik intensitas rendah (dibawah ambang nyeri), dimana frekuensi
dapat tinggio (high frecuency current) atau rendah (Low frecuency current), dengan
electrode diletakan di kulit diatas TrP, pada kasus-kasus MTPS baru, cukup efektif.
Pada kasus kronis dan sulit TENS diberikan bersama modalitas lain.
Spray and Stretch
Metode spray and stretch atau stretch and spray (semprot dan regang) merupakan cara
terapi MTPS yang dianggap paling mudah, cepat dan kurang sakit. Yang umum dipakai
adalah "chloraethyl spray".
Exercise therapy (terapi latihan)
Banyak kegagalan terapi MTPS karena tidak memasukkan program terapi latihan di
dalam paket manajemen. Terapi latihan yang utama adalah latihan peregangan setelah
terapi fisik (terapi Diathermy, terapi Ultrasound, infra red terapi), yang juga bisa
digunakan sebagai home exercise/home programe. Lewit melaporkan hasil studinya
mengenai efektifitas prosedur terapi latihan berupa "isometric relaxation" untuk
menenangkan nyeri miofascial. Krauss memberikan beberapa model latihan peregangan
dan relaksasi yang dapat digunakan di dalam manajemen MTPS. Metode Terapi latihan
yang lebih efektif berupa hold relax and contract relax yang diambil dari teknik-teknik
Propioceptive Neuromusculer Fasilitation (PNF).
K. Tahap-tahap Terapi pada Myofasial Pain
1. Konseling
Konseling adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh seorang ahli (disebut
konselor) kepada individu yang mengalami sesuatu masalah (disebut konseli) yang
bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien.
Ciri-ciri pokok konseling adalah sebagai barikut :
a. Dilakukan oleh seorang konselor yang kompeten dan ahli dalam menangani konflik
atau masalah.
b. Melibatkan dua orang yang saling berinteraksi.
c. Menggunakan berbagai model interaksi multi dimensional, tidak terbatas pada
dimensi verbal saja.
11

d. Interaksi antara konselor dan klien berlangsung dalam waktu yang relatif lama dan
terarah pada pencapaian tujuan.
e. Terjadi perubahan tingkah laku klien kearah yang lebih baik.
f. Konseling merupakan proses yang dinamis, dimana individu klien dibantu untuk
dapat mengembangkan dirinya.
g.Konseling bersifat pribadi (privacy) dan bersifat rahasia (confidential).
h.Konseling bersifat formal, professional dan terarah antara konselor dengan konseli.
2. Fisioterapi
Merupakan bentuk pelayanan kesehatan yang ditujukan kepada individu atau
kelompok untuk mengembangkan, memelihara dan memulihkan gerak dan fungsi
tubuh sepanjang dasar kehidupan dengan menggunakan penanganan secara manual,
peningkatan gerak, peralatan (fisik, elektroterapeutik, dan mekanis, pelatihan fungsi,
komunikasi), (Menteri kesehatan RI Nomor 17/Menkes/SK/VI/2008).
3. Farmakoterapi
Terapi menggunakan obat berdasarkan jenis penyakit dan kondisi penderita.
4. Pembedahan
L. Mengapa setelah terapi farmakologi tidak memberikan efek nyeri pada pasien
Hal ini terjadi karena jenis obat yang digunakan sebagai terapi kurang tepat.
Obat-obatan jenis NSAIDs digunakan untuk nyeri miofasial pain akut karena NSAIDs
dapat menghambat proses transduksi yaitu pengeluaran neurotransmiter yang berperan
pada penghantaran nyeri yang disebabkan karena dipicunya trigger point. Akan tetapi
pada skenario, pasien telah mengalami nyeri selama satu tahun atau dalam hal ini
pasien mengalami nyeri miofasial pain kronis (central mediated mialgia). Central
mediated mialgia termasuk nyeri nouropatik yang terjadi karena adanya nyeri nosiseptif
yang terus menerus (myofasial pain). Oleh karena itu pemberian obat jenis opioid lebih
tepat diberikan karena obat jenis ini dapat menghambat nyeri dengan cara mengeblok
reseptor nyeri di substasia gelatinosa medula spinalis sehingga penghantaran nyeri
dapat dihambat.
M. Cara pemeriksaan Ekstra Oral pada myofasial pain

Inspeksi
Memeriksa kesimetrisan wajah
Memeriksa midline gigi rahang atas dan rahang bawah
Memeriksa Range of motion
Pemeriksaan pergerakan Range of Motion dilakukan dengan pembukaan mulut
secara maksimal, pergerakan dari TMJ normalnya lembut tanpa bunyi atau nyeri.
Mandibular range of motion diukur dengan :
o
Maximal interticisal opening (active and passive range of motion)
o
Lateral movement
o
Protrusio movement
Auskultasi : Joint sounds
12

Dengan menggunakan stetoskop mendengar adanya krepitasi atau kliking pada area
depan telinga yang akan diperiksa. Selanjutnya instruksikan pasien untuk membuka
dan menutup mulut.
Palpasi :
Cara 1 : dengan palpasi bimanual pada area depan telinga kanan dan kiri, selanjutnya
instruksikan pasien untuk membuka dan menutup mulut. Periksa kelancaran
pergerakan TMJ.
Cara 2 : Masukan jari kelingking pada meatus acusticus (telinga) pada kanan dan kiri,
selanjutnya instruksikan pasien untuk membuka dan menutup mulut.
Pemeriksaan Muskulus Trapezius
Dengan cara melakukan palpasi pada muskulus trapezius kemudian pasien disuruh
memutar kepalanya dengan melawan tahanan (tangan pemeriksa). Kemudian
tanyakan kepada pasien sensasi apa yang dirasakan saat dipalpasi.

Pemeriksaan Muskulus Temporalis


Dengan cara melakukan palpasi pada muskulus temporalis,kemudian tanyakan kepada
pasien sensasi apa yang dirasakan saat dipalpasi.

N. Indikasi pada TMJ yang tidak ada rasa hangat pada pipi sebelah kanan
Tidak ada rasa hangat pada pipi sebelah kanan menandakan tidak adanya inflamasi,
karena jika terjadi inflamasi maka akan terjadi vasodilatasi pada kerusakan jaringan
yang ada dan menimbulkan rasa hangat pada daerah inflamasi . Tanda-tanda adanya
inflamasi yaitu sebagai berikut:
- tumor atau membengkak
- calor atau menghangat
- dolor atau nyeri
- rubor atau memerah
- functio laesa atau daya pergerakan menurun
Selain itu juga karena otot mastikasi mengalami spasme otot membuat kelelahan
otot terjadi penumpukan asan laktat dan iskemia yang dapat mengakibatkan
berkurangnya pasokan darah ke jaringan sehingga sel sel otot tidak mendapatkan
makanan akibatnya tidak dapat melakukan metabolisme / metabolisme turun, tidak
mendapat energi dan tidak menimbulkan rasa hangat.

II. Kerangka Konsep


Depres
i
Indikasi
13

Myofasial
Pain

Mekanisme

Penyebab

Macammacam

Karakteristi
k

Pemeriksaan EO
dan IO

Perawatan /
Terapi

BAB IV
PENUTUP

1.
2.
3.

Macam-macam Myofasial Pain berdasarkan regionya ada 3,yaitu :


Upper : trigger point terletak di daerah m.trapezius
Medium
: trigger point terletak di daerah m.levator scapula
Lower : trigger point terletak di daerah m.rhomboideus mayor

Karakteristik dari Myofasial Pain


Nyeri terlokalisasi
Adanya Taut Band pada grup otot/otot tertentu
Nyeri menyebar
Kelemahan pada otot tertentu/sekelompok otot
Nyeri satu sisi pada trigger point (titik tertentu)
Autonomic Dysfunction
Kemungkinan nyeri aktif (pada saat bergerak) atau laten (nyeri pada saat di palpasi
Prevalensi anatara usia 20-49 tahun
14

Nyeri (terbakar atau periodik)


Kaku biasanya dirasakan pada malam hari
Kelelahan pada otot yang berlebihan
Penurunan ROM
Kelemahan tanpa disertai atrofi otot
Penurunan sensitifitas terhadap rasa dingin

Penyebab Myofacial Pain


Penyebab myofacial sendiri belum diketahui secara jelas. Biasanya myofacial
terjadi akibat kelemahan dari otot tersebut, postur tubuh yang tidak simetris, alignment
tubuh yang tidak simetris, kerja otot yang terus menerus, faktor stress, pengulangan
gerak yang (berlebihan dan terus menerus (repetitive motions)dan gangguan pada sendi.
Faktor-faktor tersebut yang menghasilkan siklus nyeri, gangguan beraktivitas.
Trauma tiba-tiba atau berlebihan akut myofascial jaringan gerakan berulangulang atau microtrauma (lambat awal), leg discrepancy(beda panjang tungkai),
kekurangan gizi, perubahan hormon (PMS atau menopause) infeksi kronis pendinginan
daerah badan, stres emosional yang intens.
Tanda-tanda Myofasial Pain

Rasa sakit yang dalam dan konstan


Stres emosional yang meningkat.
Kelainan tidur.
Sakit kepala yg sering
Penurunan ROM
Adanya stifness atau kekakuan
Adanya taut band pada otot-otot
Faktor-faktor lokal
Beberapa kondisi lokal yang mempengaruhi aktivitas otot seperti kebiasaan, sikap
badan
yang salah, keseleo, dan aktivitas otot yang berlebihan dapat menghasilkan nyeri
myofacial.
Faktor-faktor sistemik
Beberapa faktor sistemik dapat mempengaruhi atau bahkan menghasilkan nyeri
miofasial.
Faktor-faktor sistemik seperti hipovitaminosis, kondisi fisik yang rendah, lelah, dan
infeksi virus.
Adanya trigger point dan terlokalisasi
Adanya nyeri alih dengan adanya stimulasi penekan trigger point
Menurut John Halford terdapat 3 jenis trigger point yang berkembang dalam
otot,ligamen
dan kapsul sendi
:
- Inactive trigger point : kondisi ini seperti gunung berapi yang tidak lagi aktif.
- Latent trigger point : kondisi ini seperti gunung berapi yang bergemuruh.
15

Active trigger point : kondisi ini seperti gunung berapi yang aktif dan
bergemuruh.

Mekanisme Myofasial Pain beserta hubungan Tenderness,Spasm dan Nyeri


ketika dipalpasi
Pada myofascial umumnya dicirikan dengan adanya spasme otot, tenderness,
stifness(kekakuan), keterbatasan gerak bahkan sampai kelemahan otot. Pada kondisi ini
apabila dilakukan palpasi maka akan ditemukan adanya taut band yaitu berbentuk
seperti tali yang membengkak pada badan otot, yang membuat pemendekan serabut
otot yang terus-menerus, sehingga terjadi peningkatan ketegangan serabut otot. Otot
yang mengalami ketegangan terus-menerus jika berlangsung lama akan mengakibatkan
jaringan miofascial terjadi penumpukan zat-zat asam laktat dan karbondioksida ke
jaringan dan menimbulkan iskemik.
Nyeri didalam kasus myofascial merupakan otot yang mengalami ketegangan
terus-menerus jika berlangsung lama akan mengakibatkan jaringan miofascial terjadi
penumpukan zat-zat asam laktat dan karbondioksida ke jaringan dan menimbulkan
iskemik. Keadaan iskemik ini membuat jaringan mengalami mikrosirkulasi karena
vasokonstriksi pembuluh darah, mengalami kekurangan nutrisi dan oksigen serta
menumpuknya zat-zat sisa metabolisme dan timbul viscous circle. Keadaan ini akan
merangsang ujung-ujung saraf tepi nosiseptife C untuk melepaskan suatu neuropeptida
yaitu substansi P. Karena adanya pelepasan substansi P akan membebaskan
prostaglandin dan diikuti juga dengan pembebasan bradikinin, potassium ion, serotonin
yang merupakan noxius stimuli sehingga dapat menimbulkan nyeri.
Mekanisme nyeri pada daerah m.masseter dan m.tmporalis kanan saat dipalpasi
Saat dipalpasi terjadi nyeri karena kemungkinan adanya taut band pada m.masseter dan
m.temporalis yang akan menyebabkan adanya trigger pointpada taut band tersebut
ketika trigger point dalam keadaan aktif saat dipalpasi akan menimbulkan
stimulus berupa mekanik kemudian akan mengakibatkan kerusakan jaringan
sehingga mengeluarkan mediator nyeri mengaktifkan nosiseptor dikirim
melalui serabut A delta dan serabut C ke medulla spinalis mengalami modulasi
ke kortex cerebri persepsi nyeri.
Mekanisme Tenderness
Tenderness merupakan nyeri tekan. Sebagaimana diketahui bahwa tenderness
merupakan salah satu ciri dari myofacial pain. Mekanisme tenderness yaitu
4.
5.
6.
16

Rangsangan di trigger point berupa tekanan


Pelepasan neurotransmitter bradikinin, prostaglandin dan mediator nyeri lainnya
menyebabkan penghantaran impuls nyeri
Impuls nyeri dihantarkan dari serabut saraf aferent menuju neuron orde 1 di
gangglion dorsalis lalu dihantarkan ke neuron orde II di seubtansia gelatinosa

medula spinalis lalu akan menuju ke neuron orde III di thalamus melalui jalur
spunotalamicus menuju gyrus post sentralis cortex serebri sebagai area
somatosensorik untuk di persepsikan sebagai nyeri. Selain itu impuls juga
dihantarkan melalui jalur spinoretikularis menuju ke amigdala sebagai area limbik
yang mengatur emosi.
Pengaruh stress dengan Myofasial Pain
Sistem limbik stressdibawa oleh neuron afferen gammapeningkatan tonus
otot kontraksi ototterus menerus sehingga menimbulkan kelelahan
ototpenumpukan asam laktatiskemiamengeluarkan mediator nyeritimbul rasa
nyeri
Jarak normal dan batas ketika membuka mulut dan mekanismenya
Gerak sendi pada orang dewasa normal memiliki kisaran 20 - 25mm antara gigi
geligi rahang atas dan bawah. Bila dikombinasikan dengan jarak meluncur kisaran
gerak membuka mulut yang normal akan meningkat menjadi 35 45mm, sedangkan
gerak lateral 10mm dan gerakan TMJ kedepan 10-20mm.
Mekanisme Membuka Mulut
:
Penggerak utamanya adalah : M. Pterygoideus lateralis
Mekanisme Menutup Mulut
:
Penggerak utamanya adalah : M. Maseter , M. Temporalis, M. Pterigoideus
Medialis
Menegement dan Penatalaksanaan Myofasial Pain
MASSAGE
Terapi es/dinging (icing)
Terapi panas
TENS (Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation
Spray and Stretch
Exercise therapy (terapi latihan)

4.
5.
6.
7.

Tahap-tahap Terapi pada Myofasial Pain


Konseling
Fisioterapi
Farmakoterapi
Pembedahan

Mengapa setelah terapi farmakologi tidak memberikan efek nyeri pada pasien

17

Hal ini terjadi karena jenis obat yang digunakan sebagai terapi kurang tepat.
Obat-obatan jenis NSAIDs digunakan untuk nyeri miofasial pain akut karena NSAIDs
dapat menghambat proses transduksi yaitu pengeluaran neurotransmiter yang berperan
pada penghantaran nyeri yang disebabkan karena dipicunya trigger point. Akan tetapi
pada skenario, pasien telah mengalami nyeri selama satu tahun atau dalam hal ini
pasien mengalami nyeri miofasial pain kronis (central mediated mialgia). Central
mediated mialgia termasuk nyeri nouropatik yang terjadi karena adanya nyeri nosiseptif
yang terus menerus (myofasial pain). Oleh karena itu pemberian obat jenis opioid lebih
tepat diberikan karena obat jenis ini dapat menghambat nyeri dengan cara mengeblok
reseptor nyeri di substasia gelatinosa medula spinalis sehingga penghantaran nyeri
dapat dihambat.
Bagaimana cara pemeriksaan Ekstra Oral pada myofasial pain

Inspeksi
Auskultasi
Palpasi :
Pemeriksaan Muskulus Trapezius
Pemeriksaan Muskulus Temporalis
Indikasi pada TMJ yang tidak ada rasa hangat pada pipi sebelah kanan
Tidak ada rasa hangat pada pipi sebelah kanan menandakan tidak adanya inflamasi,
karena jika terjadi inflamasi maka akan terjadi vasodilatasi pada kerusakan jaringan
yang ada dan menimbulkan rasa hangat pada daerah inflamasi . Tanda-tanda adanya
inflamasi yaitu sebagai berikut:
- tumor atau membengkak
- calor atau menghangat
- dolor atau nyeri
- rubor atau memerah
- functio laesa atau daya pergerakan menurun
Selain itu juga karena otot mastikasi mengalami spasme otot membuat kelelahan
otot terjadi penumpukan asan laktat dan iskemia yang dapat mengakibatkan
berkurangnya pasokan darah ke jaringan sehingga sel sel otot tidak mendapatkan
makanan akibatnya tidak dapat melakukan metabolisme / metabolisme turun, tidak
mendapat energi dan tidak menimbulkan rasa hangat.

18

DAFTAR PUSTAKA
1. Fields HL, Martin JB. Pain: pathophysiology and management. In: Kasper DL,
Braunwald E, Fauci AS, Hauser SL, Longo DL, Jameson JL, editors. Harrisons principle
of internal medicine; 16th edition. McGraw-Hill:Philladelphia;2005:71-6
2. Holdcroft A, Power I. Management of pain. BMJ 2003;326:635-9
3. Dersh J, Polatin PB, Gatchel RJ. Chronic pain and psychopathology: research findings
and theoretical consideration. Psychosomatic Medicine 2002;64:773-86
4. Price, S. A. (1995). Patofisiologi: konsep klinis proses-proses penyakit. Ed. 4. Jakarta:
EGC
5. Smeltzer, S. C. (2001). Buku ajar keperawatan medikal bedah Brunner & Suddart. Ed. 8.
Jakarta: EGC
6. Panduan Diktat Anatomi FK Unissula
7. Vasconcelos BCE, Bessa-nogueira RV,Cyproano RV. Treatment of miofacial pain
ankylosis by gap arthroplasty. Med Oral Patol Oral Cir Bucal 2006:11:66-9
8. Jurnal Ilmiah FK USU
9. Perpus Ilmiah FKG UNPAD
10. Woolf, C. J., 2004: Pain: Moving from Symptom Control toward Mechanism-Specific
Pharmacologic Management, Ann Intern Med; 140:441-451.
19

20