Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANALITIK I

PERCOBAAN VIII
TITRASI KOMPLEKSOMETRI

OLEH :
NAMA

: AMINA SARI MUIS

NIM

: F1C1 13 006

KELOMPOK

: VIII (DELAPAN)

ASISTEN

: LA ODE SUKMO M.

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2014

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Titrasi kompleksometri yaitu titrasi berdasarkan

pembentukan

persenyawaan kompleks (ion kompleks atau garam yang sukar mengion),


Kompleksometri merupakan jenis titrasi dimana titran dan titrat saling
mengkompleks, membentuk hasil berupa kompleks. Reaksireaksi pembentukan
kompleks atau yang menyangkut kompleks banyak sekali dan penerapannya juga
banyak, tidak hanya dalam titrasi. Karena itu perlu pengertian yang cukup luas
tentang kompleks, sekalipun disini pertama-tama akan diterapkan pada titrasi.
Titrasi kompleksometri juga dikenal sebagai reaksi yang meliputi reaksi
pembentukan ion-ion kompleks ataupun pembentukan molekul netral yang
terdisosiasi dalam larutan. Persyaratan mendasar terbentuknya kompleks demikian
adalah tingkat kelarutan tinggi. Selain titrasi komplek biasa seperti di atas, dikenal
pula kompleksometri yang dikenal sebagai titrasi kelatometri, seperti yang
menyangkut penggunaan EDTA.
Berdasarkan penjelasan diatas, penting untuk dilakukan percobaan yang
berjudul titrasi kompleksometri tujuannya adalah untuk menentukan kadar
kalsium secara kompleksometri.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada percobaan ini adalah bagaimana menentukan
kadar kalsium secara kompleksometri ?

B. Tujuan
Tujuan dari dilakukannya percobaan ini adalah menetukan kadar kalsium
secara kompleksometri.
C. Manfaat

Manfaat dari dilakukannya percobaan ini adalah dapat menetukan kadar


kalsium secara kompleksometri.

II. TINJAUAN PUSTAKA


Senyawa kompleks adalah senyawa yang terbentuk dari ion logam yang
berikatan dengan ligan secara kovalen koordinasi. Ikatan kovalen koordinasi
adalah ikatan kovalen dimana ligan memberikan sepasang elektronnya kepada ion
logam untuk berikatan. Kestabilan senyawa kompleks dipengaruhi oleh faktor
ligan dan atom pusat. Faktor yang mempengaruhi kestabilan kompleks
berdasarkan pengaruh atom pusat antara lain besar dan muatan dari ion , nilai
CFSE dan faktor distribusi muatan (Agustina, 2013)
Ligan adalah spesies yang memiliki atom (atom-atom yang dapat
menyumbangkan sepasang elektron pada ion logam pusat pada tempat tertentu
dalam lengkung koordinasi. Sehingga, ligan merupakan basa lewis dan ion logam
adalah asam lewis. Jika ligan hanya dapat menyumbangkan sepasang elektron
disebut ligan monoidentat atau anion monoatomik (Petrucci, 1985).
Berdasarkan banyaknya elektron yang didonorkan oleh ligan, maka ligan
dapat diklasifikasikan menjadi 3 yaitu, ligan monodentat, ligan bidentat, dan ligan

multidentat. Ligan monodentat adalah ligan yang hanya dapat mendonorkan


pasangan elektron satu yang dimilikinya ke logam. Ligan bidentat hanya dapat
mendonorkan dua pasangan elektronnya, sedangkan banyaknya jumlah pasangan
elektron yang didonorkan kelogam disebut ligan multidentat (Saria, 2012).
Titrasi adalah metode penetapan kadar suatu larutan dengan menggunakan
larutan standar yang telah diketahui konsentrasinya. Dalam hal ini, suatu larutan
yang telah diketahui (larutan standar), ditambahkan secara bertahap kelarutan
yang tidak diketahui konsentrasinya, sampai reaksi kimia antara larutan tersebut
berlangsung sempurna. Sebelum ditambahkan harga pH adalah larutan asam kuat,
sehingga pH >7 ketika basa ditambahkan sebelum titik ekuivalen, harga pH
ditentukan oleh asam lemah. Titik ekuivalen adalah titik keadaan (kuantitas) asam
basa dapat ditentukan secara stoikiometri (Chandra, 2012).
EDTA mempunyai kemampuan untuk membentuk komplek-kompleks
stabil dengan kation-kation tertentu. EDTA mempunyai atom donor N dan O,
sehingga dapat membentuk kelat. Senyawa yang komplek dan stabil adalah
senyawa yang dapat membentuk kelat, dan senyawa ini dapat dijadikan sebagai
katalis. Senyawa kompleks terbentuk akibat adanya ikatan antara ligan dengan ion
pusat (logam) yang berperan sebagai donor pasangan elektron (basa lewis), dan
ion pusat (logam) yang berperan sebagai ekspektor pasangan elektron (asam
lewis) (Triyani, 2013).

III.

METODOLOGI PRAKTIKUM

A. Waktu Dan Tempat


Percobaan ini dilakukan pada hari selasa, tanggal 28 oktober 2014,pukul
07:30-selesai WITA, bertempat di Laboratorium Kimia Organik Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Halu Oleo, Kendari.
B.Alat dan Bahan

1. Alat
Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah pipet ukut 25 mL,
Erlenmeyer 125 mL, labu ukur 100 mL, klep, dan gelas piala 600 mL.
2. Bahan
Bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah air sungai, EDTA,
eriochrom black T, dan CaCl2.

C.Prosedur Kerja
Prosedur kerja pada percobaan ini adalah sebagai berikut :

Larutan yang mengandung


- Dipipet sebanyak 25 mL
Ca2+
- Dimasukkan dalam erlenmeyer
- ditambahkan

mL

amoniak

(pH=10)
-ditambahkan 50 mg EBT
- dititrasi dengan EDTA 0,05 M
- dikocok kuat-kuat sampai larutan
berubah menjadi biru
- dihitung kadar Ca dalam sampel

Kadar Ca2+ 2,4 %

V. HASIL DAN PEMBAHASAN


A.Hasil Pengamatan
1. Tabel Pengamatan

Perlakuan

1.

Hasil Pengamatan
Sebelum
Sesudah

Larutan CaCl2 + 5 mL dappar


Larutan
ammonia + EBT 50 mg dan
berwarna ungu
dititrasi dengan 25 mL EDTA

2. Analisis data
Dik mL EDTA
M EDTA
Mr CaCl2
Massa CaCl2
Dit Kadar Ca2+
N EDTA = n x M
= 4 x 0,06
= 0,24
Kadar Ca2+ =

Berwarna biru pekat ,


berarti mengandung
kalsium

= 25 mL = 0,025 L
= 0,06 mol/L
= 114 gram/mol
= 5 gram
= ......?
Be Ca2+ =
= 20 g/mol ek-1

x 100 %

x 100 %

= 2,4 %
B.Pembahasan
Salah satu tipe reaksi kimia sebagai dasar penetapan titrimetri adalah
pembentukan kompleks atau ion kompleks yang larut namun sedikit sekali
terdisosiasi. Titrasi kompleksometri adalah jenis titrasi dengan titran dan titrat
saling mengompleks, membentuk hasil berupa senyawa kompleks. Titrasi
kompleksometri adalah penetapan kadar zat berdasarkan atas pembentukkan
senyawa kompleks yang larut, yang berasal dari reaksi antara ion logam / kation

(komponen zat uji) dengan zat pembentuk kompleks sebagai ligan (pentiter).
Syarat-syarat indikator logam : (1) Stabilitas dari ikatan kompleks indikatorlogam harus lebih rendah daripada ikatan kompleks logam-EDTA. (2) Terjadi
perubahan warna pada range pH yang ditetapkan, dimana terjadi pembentukan
kompleks stabil. (3) Perubahan warna terjadi oleh adanya indicator bebas dari
kompleks logam dalam larutan, karena sejumlah eqivalen EDTA ditambahkan
untuk membentuk kompleks logam-EDTA.
Percobaan titrasi kompleksometri adalah titrasi yang melibatkan reaksi ion
logam dengan zat pengompleks/zat ligan. Zat pengompleks yang digunakan pada
percobaan ini yaitu EDTA (Ethylene Diamine Tetra Acetate) dan ion logam yang
digunakan yaitu Ca2+. Larutan EDTA yang digunakan adalah 25 mL, larutan dapar
amonia pH 10 dan larutan indikator EBT (Eriochrome Black T). Percobaan titrasi
kompleksometri dilakukan dengan tujuan untuk menentukan kadar Ca pada
sampel dan larutan CaCl2.
Percobaan pertama yang dilakukan dengan memasukkan larutan CaCl 2
pada erlenmeyer kemudian ditambahkan dappar amonia, tujuannya adalah untuk
menjaga pH larutan agar larutan tetap berada dalam suasana basa, selanjutnya
yaitu penambahan indikator EBT yang berfungsi untuk menjaga stabilitas dari
ikatan kompleks indikator logam yang harus lebih rendah dari pada ikatan
kompleks logam-EDTA. Penambahan EBT pada larutan CaCl2 yang berfungsi
sebagai indicator pengompleks yang menghasilkan warna tertentu, dengan
ditambahkannya indikator EBT, terbentuk larutan yang berwarna ungu anggur,

karena terjadiikatan antara CaCl2 dan EBT. Selanjutnya campuran larutan tersebut
dititrasi dengan larutan EDTA
Percobaan menentuan kadar kalsium yaitu antara larutan CaCl 2 dengan
EDTA. EDTA berfungsi untuk mengikat Ca2+, yang ada pada larutan, sehingga
ikatan antara EBT dan CaCl2 putus. Hasil yang diperoleh adalah larutan berwarna
biru, berubahnya warna larutan menandakan titik akhir titrasi telah tercapai, dapat
diketahui bahwa larutan CaCl2 mengandung kalsium. Berdasarkan hasil percobaan
yang dilakukan diperoleh kadar Ca2+ adalah 2,4 %.

IV.PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan percobaan tersebut, maka dapat diperoleh kesimpulan dari
menentukan kadar kalsium secara kompleksometri bahwa larutan CaCl2
mengandung kalsium dan diperoleh kadar kalsium sebesar 2,4 %.

DAFTAR PUSTAKA
Agustina L.,Suhartana,Sariatun.,2013,Sintesis Dan Karakterisasi Senyawa
Kompleks Cu(II)-8-Hidroksikuinolin Dan Co(Ii)-8-Hidroksikuinolin,1 (1)
Petrucci R.,Suminar,1985,Kimia Dasar.Jilid I.Jakarta:Erlangga
Saria Yosi.,Lucyanti., Nurlisa, H., Aldes, L., 2012, Sintesis Senyawa Kompleks
Kobalt dengan Asetilasetonato,Jurnal Penelitian Sains,15 (3)
Chandra,D.A., Hendra, C., 2012, Rancang Kangun Kontrol pH Berbasis selft
Tuning PID Melalui Metode Adaptif Control, Jurnal Teknik Pomits, vol 1
(1) hal 1-6