Anda di halaman 1dari 62

ANALISIS TINGKAT KEBANGKRUTAN PERUSAHAAN

SEKTOR KEUANGAN PERBANKAN


(Studi pada Perusahaan Perbankan yang Go Publik di Bursa Efek Indonesia)

Diajukan sebagai salah satu syarat


memperoleh gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Akuntansi

Nama

: Inggrid Sutjianto

No. Stb

: 0913074

JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS ATMA JAYA
MAKASSAR
2013

ANALISIS TINGKAT KEBANGKRUTAN PERUSAHAAN


SEKTOR KEUANGAN PERBANKAN
(Studi pada Perusahaan Perbankan yang Go Publik di Bursa Efek Indonesia)

Diajukan sebagai salah satu syarat


memperoleh gelar Sarjana Jurusan Ekonomi

Nama

: Inggrid Sutjianto

No. Stb

: 0913074

Telah disetujui oleh :

Konsultan I

Konsultan II

Dr. Fransiskus Randa, SE., M.Si., Akt

Marselinus Asri, SE., M.Si.,

Akt
Tanggal :

Tanggal :

SKRIPSI
ANALISIS TINGKAT KEBANGKRUTAN PERUSAHAAN
SEKTOR KEUANGAN PERBANKAN
(Studi pada Perusahaan Perbankan yang Go Publik di Bursa Efek Indonesia)
Usulan Penelitian untuk Skripsi Sarjana Ekonomi

Nama

: Inggrid Sutjianto

No. Stb

: 0913074

Telah disetujui oleh :


Konsultan I

Konsultan II

Dr. Fransiskus Randa, SE., M.Si., Akt

Marselinus Asri, SE., M.Si., Akt

Tanggal :

Tanggal :
Mengetahui,
Ketua Jurusan

Dekan

Dr, F. E. Daromes, S.E., M.Si.,Ak.

Wihalminus Sombolayuk, SE.,

M.Si
Tanggal :

Tanggal :

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI


Saya yang bertandatangan di bawah ini Inggrid Sutjianto (Stb-0913074),
menyatakan bahwa skripsi dengan judul Analisis Tingkat Kebangkrutan
Perusahaan Sektor Keuangan Perbankan, adalah hasil karya sendiri dan belum
pernah diajukan untuk memperoleh gelar keilmuan baik dalam lingkup
Universitas Atma Jaya Makassar maupun perguruan tinggi lain. Isi skripsi ini
sepenuhnya adalah ide saya, sedangkan pernyataan atau temuan yang berasal
dari penulis lain dalam skripsi ini telah diberi penghargaan dengan mengutip
sumbernya. Oleh karena itu, semua tulisan dalam skripsi ini menjadi tanggung
jawab saya.
Apabila di kemudian hari ditemukan hal-hal yang tidak sesuai dengan
pernyataan ini, saya bersedia mempertanggung-jawabkan sesuai dengan
ketentuan yang berlaku.

Makassar, 20 Oktober 2013

Inggrid Sutjianto

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Obstacles are what you see


when you take your eye off the goal

Don't worry, be happy, feel good

Work to become, not to acquire

Skripsi ini kupersembahkan untuk:

& ,

Love you all

KATA PENGANTAR
Pertama-tama peneliti ingin memanjatkan puji dan syukur kepada Tuhan
karena atas rahmat dan bimbingan-Nya selama ini sehingga peneliti dapat
menyelesaikan skripsi yang berjudul Analisis Tingkat Kebangkrutan Perusahaan
Sektor Keuangan Perbankan. Pembuatan skripsi ini juga merupakan salah satu
syarat untuk mendapatkan gelar sarjana ekonomi di Universitas Atma Jaya
Makassar.
Pada kesempatan ini peneliti juga ingin menyampaikan terima kasih
kepada:
1. Khusus kepada orang tuaku (Ginfri Sutjianto dan Siulyani Tjindrajaya),
serta

saudara-saudariku

yang

telah

membesarkan,

memberikan

motivasi, mendukung, serta membimbing peneliti hingga saat ini.


2. Seluruh keluarga besar Sutjianto yang turut memberikan motivasi
sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini.
3. Bapak Wihalminus Sombolayuk, SE., M.Si selaku Dekan Fakultas
Ekonomi, Bapak Bartholomeus Tandiayu, SE., M.Si., selaku Wakil Dekan
Bidang Akademik, dan Dr. F.E. Daromes, SE., M.Si., Ak selaku Ketua
Jurusan Akuntansi dan para karyawan Fakultas Ekonomi Universitas
Atma Jaya.
4. Dr. Fransiskus Randa, S.E., M.Si., Ak., dan Marselinus Asri, S.E., M.Si.,
Ak. sebagai dosen pembimbing yang telah meluangkan waktu untuk
membimbing peneliti sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini.
5. Fanny M. Chandra, Santo Paledung dan Sam Ronald sebagai saudara(i)
seperjuangan yang selalu mendukung peneliti selama belajar di
Universitas Atma Jaya Makassar maupun dalam penyusunan skripsi ini.
6. Seluruh staf pengajar dan karyawan Universitas Atma Jaya Makassar
yang telah memberikan bekal ilmu pengetahuan kepada peneliti.

7. Teman-teman mahasiswa(i) Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi Tahun


Ajaran 2009.
8. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
Peneliti menyadari bahwa skripsi ini masih memiliki kekurangan. Oleh
karena itu peneliti mengharapkan dan menerima adanya masukan yang sifatnya
membangun sehingga dapat mengevaluasi segala kekurangan ini.
Akhir kata semoga hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Semoga kita semua berada dalam lindungan Tiratana.
Makassar, 20 Oktober 2013
Peneliti

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis prediksi tingkat kebangkrutan
pada perusahaan sektor keuangan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia. Metode Altman Z-Score digunakan untuk mengevaluasi prediksi
tingkat kebangkrutan perusahaan perbankan. Data yang digunakan dalam
penelitian ini adalah laporan keuangan tahunan 31 bank yang terdapat pada
Bursa Efek Indonesia.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 1 perusahaan diprediksi berada
pada kategori sehat, 17 perusahaan diprediksi berada pada kategori grey area,
dan 13 perusahaan diprediksi berada pada kategori bangkrut. Dan yang
menyebabkan rendahnya nilai Z-score pada perusahaan yang dikategorikan
bangkrut adalah permasalahan dalam menutupi kewajiban jangka pendeknya
serta ketidakmampuan perusahaan perbankan dalam memenuhi kewajiban dari
nilai pasar modal. Hasil prediksi ini dapat digunakan sebagai bahan
pertimbangan investor dalam pengambilan keputusan berinvestasi dan bagi
pihak manajemen bank dalam mengevaluasi kinerja perbankan.
Kata Kunci : Prediksi Kebangkrutan Bank, Altman Z-Score, Bursa Efek Indonesia

ABSTRACT
The purpose of this study is to analyze prediction of insolvency level at
financial banking sector companies registered in the Indonesia Stock Exchange.
Altman Z-Score Method is used to evaluate the prediction of insolvency level at
financial bank sector companies. The data used for this study is the annual
financial report of 31 banks registered in the Indonesia Stock Exchange.
The result of this study shows that 1 company is predicted to be in the
healthy category, 17 companies are predicted to be in the grey area category,
and 13 companies are predicted to be in the insolvency category. And the cause
of Z-Score is low in the insolvency category because companies are strugling to
cover their short-term liabilities and their inability to meet the obligation of capital
market value. The result of this prediction can be used by investors in the
decision making of investment and also can be used by bank management in
bank performance evaluation.
Keywords Bank Insolvency Prediction, Altman Z-Score, Indonesia Stock
Exchange

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL...........................................................................................i
HALAMAN PERSETUJUAN KONSULTAN......................................................ii
HALAMAN PERSETUJUAN SKRIPSI..............................................................iii
HALAMAN PENGESAHAN SKRIPSI...............................................................iv
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI................................................................ v
MOTTO DAN PERSEMBAHAN....................................................................... vi
KATA PENGANTAR......................................................................................... vii
ABSTRAK (INDONESIA)................................................................................. ix
ABSTRAK (INGGRIS)...................................................................................... x
DAFTAR ISI..................................................................................................... xi
DAFTAR TABEL...............................................................................................xiii
BAB I PENDAHULUAN....................................................................................1
1.1 Latar Belakang Masalah..................................................................1
1.2 Rumusan Masalah...........................................................................4
1.3 Tujuan Penelitian.............................................................................4
1.4 Manfaat Penelitian...........................................................................4
BAB II METODOLOGI PENELITIAN................................................................6
2.1 Objek Penelitian ...............................................................................6
2.2 Jenis dan Sumber Data ....................................................................6
2.3 Metode Pengumpulan Data .............................................................6
2.4 Metode Analisis Data .......................................................................7
BAB III LANDASAN TEORI..............................................................................9
3.1 Pengertian Bank ..............................................................................9
3.2 Laporan Keuangan Bank .................................................................13
3.3 Manfaat Laporan Keuangan .............................................................15
3.4 Pengguna Laporan Keuangan..........................................................15
3.5 Istilah Kebangkrutan.........................................................................17

10

3.6 Penyebab Kebangkrutan ..................................................................17


3.7 Metode Altman Z-Score ...................................................................21
BAB IV GAMBARAN UMUM DAN PEMBAHASAN..........................................27
4.1 Deskripsi Objek Penelitian ...............................................................27
4.2 Analisis Data ....................................................................................29
4.2.1 Analisis Variabel Z-Score .......................................................29
4.2.1.1 Analisis Variabel X1 ...................................................29
4.2.1.2 Analisis Variabel X2 ...................................................33
4.2.1.3 Analisis Variabel X3 ...................................................35
4.2.1.4 Analisis Variabel X4 ...................................................37
BAB V PENUTUP............................................................................................47
5.1 Kesimpulan.......................................................................................47
5.2 Saran ...............................................................................................47
DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................49
LAMPIRAN.......................................................................................................51

11

DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Interpretasi Nilai Z-Score ...............................................................6
Tabel 4.1 Daftar Perusahaan Perbankan ......................................................24
Tabel 4.2 Analisis Variabel X1 ........................................................................27
Tabel 4.3 Analisis Variabel X2 ........................................................................30
Tabel 4.4 Analisis Variabel X3 ........................................................................32
Tabel 4.5 Analisis Variabel X4 ........................................................................35
Tabel 4.6 Interpretasi Z-Score .......................................................................37
Tabel 4.7 Analisa atas Variabel Penyebab Kebangkrutan .............................39
Tabel 4.8 Prediksi Tingkat Kebangkrutan Perusahaan Perbankan ................40
Tabel 4.9 Prediksi Perusahaan Perbankan yang Masuk Kategori Sehat........41
Tabel 4.10 Prediksi Perusahaan Perbankan yang
Masuk Kategori Grey Area..............................................................41
Tabel 4.11 Prediksi Perusahaan Perbankan yang
Masuk Kategori Bangkrut...............................................................42

12

13

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Pertumbuhan

perekonomian

suatu

Negara

sejalan

dengan

perkembangan lembaga-lembaga keuangan Negara tersebut. Salah satu yang


nampaknya memiliki peranan yang paling besar yaitu lembaga keuangan bank.
Industri perbankan di Indonesia telah mengalami perkembangan yang
pesat. Perkembangan ini dimulai dengan dikeluarkannya ketentuan permodalan
dalam mendirikan suatu bank pada tahun 1988 yang menyebabkan jumlah bank
umum mengalami peningkatan drastis. Memasuki tahun 1997, Indonesia
termasuk dalam kawasan yang terkena krisis ekonomi, sehingga industri
perbankan di Indonesia turut mengalami krisis keuangan yang menyebabkan
banyak bank yang harus mengalami likuidasi. (Qiedfagot,2013)
Pasca krisis tersebut, nilai portofolio kredit menurun tajam. Hal ini
diakibatkan banyaknya kredit bermasalah yang harus diserahkan kepada BPPN
(Badan Penyehatan Perbankan Nasional). Dalam menanggulangi krisis tersebut,
Bank Indonesia dan Pemerintah turut berupaya keras dengan melakukan
pembenahan di sektor perbankan guna menstabilisasi sistem keuangan serta
mencegah terulangnya krisis ini. Sejak dilakukannya pembenahan tersebut,
sektor perbankan di Indonesia semakin membaik. Hal ini terlihat pada akhir
tahun 2006, pemberian

14

15

kredit mengalami peningkatan dan berkurangnya keketatan likuiditas


perbankan. (Sipahutar,2007)
Dalam Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan, Bank
adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk
simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan
bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.
Perbankan

juga

memegang

peranan

penting

dalam

kehidupan

masyarakat karena berhubungan langsung dengan masyarakat. Hal ini dapat


dilihat dengan banyaknya dana yang mengalir ke perbankan, serta banyaknya
jenis tabungan yang dipromosikan berbagai bank guna menarik perhatian
nasabah. Tentunya nasabah ataupun calon nasabah tidak akan langsung
menyimpan uangnya pada suatu bank. Tetapi nasabah akan memilih bank yang
sehat serta dapat dipercaya dalam melakukan jasa perbankan.
Saat ini banyak perusahaan perbankan yang go public memanfaatkan
pasar modal sebagai sarana dalam mendapatkan sumber dana alternatif.
Sebelum menanamkan dananya pada suatu perusahaan, para investor akan
selalu terlebih dahulu melihat kondisi keuangan suatu perusahaan. Pasar akan
merespon positif jika kinerja perusahaan dan kondisi keuangan bagus.
Meskipun kondisi perekonomian di Indonesia cenderung stabil (Perry
dalam Benyamin,2013), resiko suatu perusahaan dalam mengalami kesulitan
keuangan ataupun kebangkrutan masih tinggi. Kesalahan suatu perusahaan
dalam

memprediksi

kelangsungan

operasi

dapat

berakibat

kehilangan

pendapatan (investasi) yang telah ditanam. Oleh karena itu, suatu model
peramalan kebangkrutan menjadi sangat penting bagi beberapa pihak, seperti
investor, pemerintah, akuntan, pemberi pinjaman, dan manajemen. Banyak

16

nasabah dari suatu bank ingin mengetahui seberapa besar perusahaan


perbankan tersebut dapat bertahan dari kebangkrutan.
Persaingan antar perusahaan perbankan di Indonesia semakin tinggi baik
bank pemerintah, swasta, maupun bank asing. Kesulitan keuangan dapat terjadi
apabila suatu perusahaan perbankan memiliki modal yang kecil serta tidak
memiliki daya tarik pasar. Sehingga pada akhirnya perusahan perbankan
tersebut akan dilikuidasi. Apabila situasi ini telah terjadi, maka tingkat
kepercayaan masyarakat (nasabah) terhadap perbankan akan mengalami
penurunan dan masyarakat akan lebih mengivestasikan dananya ke luar negeri
serta akan mengakibatkan bank mengalami kekurangan dana.
Salah satu metode dalam memprediksi kesulitan keuangan dan
kebangkrutan perusahaan adalah metode Z-Score. Altman dalam Nurdin
mengemukakan bahwa Analisis Z-Score merupakan suatu alat yang digunakan
dalam meramalkan tingkat kebangkrutan suatu perusahaan dengan menghitung
nilai dari 5 rasio, kemudian dimasukkan dalam suatu persamaan diskriminan.
Dengan adanya pendeteksian yang lebih awal mengenai kondisi perbankan di
Indonesia, maka kesulitan keuangan dapat diantisipasi lebih awal sebelum
mencapai krisis. Untuk itu, penilaian laporan keuangan menjadi salah satu
indikator utama dalam mengukur kemungkinan terjadinya kebangkrutan suatu
perusahaan. (Kamal,2012)
Penelitian ini mengacu pada penelitian Kamal yang meneliti tentang
Analisis Prediksi Kebangkrutan pada Perusahaan Perbankan yang Go Public di
Bursa Efek Indonesia. Sampel yang digunakan oleh Kamal dalam penelitiannya
menggunakan 20 perusahaan perbankan teratas di Bursa Efek Indonesia.
Sedangkan, penelitian ini menggunakan sampel semua bank yang terdaftar di

17

Bursa Efek Indonesia. Hal ini dilakukan karena perusahaan perbankan yang
tidak termasuk dalam kategori tersebut juga memiliki kemungkinan dalam
mengalami kebangkrutan.
Perbedaan selanjutnya terletak pada penelitian yang dilakukan oleh
Kamal menghasilkan persentase prediksi kebangkrutan dalam masing-masing
kategori kriteria penilaian dalam suatu tahun periode. Sedangkan dalam
penelitian ini, peneliti menggunakan data terkini serta menghasilkan urutan
prediksi kebangkrutan dari seluruh bank.

1.2.

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang didapat

adalah sebagai berikut: Bagaimana tingkat kebangkrutan perusahaan sektor


keuangan perbankan go public yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dengan
menggunakan Altman Z-score?

1.3.

Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah

untuk

menganalisis

tingkat

kebangkrutan

perusahaan

sektor

keuangan

perbankan go public yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

1.4.

Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat:
a. Bagi Investor maupun calon investor dalam memberikan bahan
pertimbangan (acuan) dalam pengambilan keputusan investasi.

18

b. Bagi pihak Bank sebagai masukan dalam mengevaluasi kinerja


perbankan.
c. Bagi pengembangan Ilmu pengetahuan dalam menambah pengetahuan
di bidang perbankan.

BAB II
METODOLOGI PENELITIAN

2.1

Objek Penelitian
Objek dalam penelitian ini yaitu semua bank yang terdaftar di Bursa Efek

Indonesia (BEI).
2.2

Jenis dan Sumber Data


Jenis data dalam penelitian ini adalah data dokumenter. Data dokumenter

yaitu jenis data yang diperoleh dalam bentuk dokumen yaitu berupa laporan
keuangan bank. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data
sekunder. Data sekunder yaitu data yang diperoleh secara tidak langsung melalui
media perantara atau dari pihak lain baik dalam bentuk jurnal, penelitian
terdahulu maupun data yang akan diolah dalam analisis penelitian ini berupa
laporan keuangan tahunan perusahaan perbankan yang diperoleh dari situs
resmi PT Busa Efek Indonesia, yaitu www.idx.co.id/
2.3

Metode Pengumpulan Data


Dalam

pengumpulan

menyusun
data

laporan

dokumenter.

ini,
Studi

pengumpulan data yang

19

penulis

menggunakan

dokumenter

yaitu

suatu

metode
teknik

20

dilakukan oleh penulis dengan menghimpun serta menganalisis dokumendokumen, baik dokumen tertulis, gambar maupun elektronik.
2.4

Metode Analisis Data


1. Dalam penelitian ini, prediksi tingkat kebangkrutan perusahaanperusahaan perbankan akan dianalisis dengan menggunakan metode
yang dikemukakan oleh Altman yang disebut Altmans Bankruptcy
Prediction Model (Z-Score). Z-Score Altman untuk perusahaan nonmanufaktur

(perbankan)

yang

telah

go

public

ditentukan

menggunakan persamaan sebagai berikut (Altman,2000) :

Z Score=6,56 x1 +3,26 x 2 +6,72 x 3 +1,05 x 4


Dimana:

x 1= Working Capital to Total Assets (Modal Kerja/Total Aset)


x 2= Retained Earning to Total Assets (Laba Ditahan/Total Aset)
x 3= Earning Before Interest and Taxes (EBIT) to Total Assets
(Pendapatan sebelum bunga dan pajak/Total Aset)

x 4=

Market Value of Equity to Book Value of Total Liabilities

(Harga Pasar Saham Dibursa/Nilai Total Utang)

21

Dengan kriteria Penilaian sebagai berikut:


Tabel 2.1 Interpretasi Nilai Z-Score
Nilai Z-Score
Z-Score < 1,23

Interpretasi
Perusahaan perbankan memiliki kesulitan
keuangan yang sangat besar dan beresiko
tinggi (kemungkinan bangkrut besar).

1,23 < Z-Score < 2,90 Perusahaan perbankan memiliki kesulitan


keuangan tetapi masih bisa diselamatkan
apabila pihak manajemen dapat memperbaiki
kinerjanya (grey area).
Z-Score > 2,90

Perusahaan perbankan tidak memiliki masalah


keuangan sehingga dikategorikan perbankan
yang sehat.

Sumber : (S. Munawir, 2002:311) dalam Kamal (2012)


2. Mengevaluasi prediksi tingkat kebangkrutan perusahaan perbankan
untuk

menyusun

perbankan.

rangking

tingkat

kebangkrutan

perusahaan

BAB III
LANDASAN TEORI

3.1 Pengertian Bank


Menurut Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan, Bank
adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk
simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan
bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.
Undang-Undang ini juga menjelaskan bahwa perbankan berperan sebagai
lembaga intermediasi yang berarti perbankan memberikan kemudahan dalam
mengalirkan dana dari nasabah yang memiliki dana lebih (biasa disebut sebagai
penabung) ke nasabah yang memerlukan dana dalam memenuhi berbagi
kepentingannya (biasa disebut dengan peminjam) serta sebagai penunjang
sistem pembayaran. Dengan menjadi penunjang dan penyalur dana di
masyarakat, bank turut berperan dalam pembangunan nasional sehingga dapat
meningkatkan pemerataan, pertumbuhan ekonomi, dan stabilitas nasional ke
arah peningkatan kesejahteraan rakyat banyak.
Dalam Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 juga dijelaskan bahwa bank
menurut jenisnya terbagi atas dua, yaitu :
3. Bank Umum
Yaitu bank yang melaksanakan kegiatan usahanya secara konvensional
dan atau berdasarkan prinsip syariah yang memberikan jasa dalam lalu
lintas

22

23

pembayaran. Bank ini juga menerbitkan surat pengakuan hutang;


membeli, menjual atau menjamin risiko bank maupun untuk kepentingan
nasabahnya berupa surat wesel, Sertifikat Bank Indonesia (SBI), obligasi;
memindahkan uang baik untuk kepentingan sendiri maupun untuk
kepentingan nasabah; menyediakan tempat untuk menyimpan barang
dan surat berharga; menempatkan dana dari nasabah kepada nasabah
lainnya dalam bentuk surat berharga yang tidak tercatat di bursa efek;
serta melakukan usaha kartu kredit.
4. Bank Perkreditan Rakyat
Yaitu bank yang melaksanakan kegiatan usahanya secara konvensional
dan atau berdasarkan prinsip syariah yang tidak memberikan jasa dalam
lalu lintas pembayaran. Bank ini juga dapat menempatkan dananya
dalam bentuk Sertifikat Bank Indonesia (SBI), deposito berjangka,
sertifikat deposito, dan/atau tabungan pada bank lain.
Saat ini, seluruh bank di Indonesia dibina dan diawasi oleh Bank
Indonesia. Bank Indonesia memiliki wewenang dalam :
1. Memberikan izin (right to license), yaitu kewenangan dalam
menetapkan tata cara perizinan dan pendirian bank. Hal ini meliputi
pemberian dan pencabutan izin usaha bank, pemberian persetujuan
dalam pembukaan, penutupan maupun pemindahan kantor bank,
pemberian persetujuan atas kepemilikan dan kepengurusan bank,
serta pemberian izin dalam menjalankan kegiatan usaha tertentu.
2. Mengatur (right to regulate), yaitu kewenangan dalam menetapkan
ketentuan yang menyangkut aspek usaha dan kegiatan perbankan
dalam menciptakan perbankan yang sehat.

24

3. Mengawasi (right to control), yaitu kewenangan dalam mengawasi


bank baik melalui pengawasan langsung (on-site supervision)
maupun

pengawasan

tidak

langsung

(off-site

supervision).

Pengawasan langsung dapat berupa pemeriksaan umum dan khusus,


yang bertujuan untuk mendapatkan gambaran mengenai keadaan
keuangan bank dan memantau tingkat kepatuhan bank terhadap
peraturan yang berlaku serta untuk mengetahui apakah terdapat
praktik-praktik

yang

tidak

sehat

yang

dapat

membahayakan

kelangsungan usaha bank. Sedangkan pengawasan tidak langsung


yaitu pengawasan yang dilakukan melalui alat pemantauan seperti
laporan

berkala

yang disampaikan

oleh

bank,

laporan hasil

pemeriksaan atau informasi lainnya. Dalam melaksanakan tugas


pengawasannya, Bank Indonesia dapat menugasi pihak lain untuk
dan atas nama Bank Indonesia.
4. Mengenakan sanksi (right to impose sanction), yaitu kewenangan
dalam menjatuhkan sanksi sesuai dengan ketentuan perundangundangan terhadap suatu bank apabila bank tersebut kurang atau
tidak memenuhi ketentuan. Tindakan ini dilakukan guna membina
agar bank beroperasi sesuai dengan asas perbankan yang sehat.
Beberapa tindakan yang akan dilakukan jika pengawasan yang dilakukan
terhadap suatu perusahaan perbankan dinilai mengalami kesulitan yang dapat
membahayakan kelangsungan usahanya (disebut juga pengawasan khusus),
antara lain:

25

1. Memerintahkan bank atau pemegang saham bank untuk mengajukan


rencana

perbaikan

permodalan

secara

tertulis

kepada

Bank

Indonesia.
2. Memerintahkan

bank

untuk

memenuhi

kewajiban

dalam

melaksanakan tindakan perbaikan.


3. Memerintahkan bank atau pemegang saham Bank untuk melakukan
tindakan antara lain:
a. mengganti dewan komisaris dan atau direksi Bank;
b. menghapusbukukan kredit atau pembiayaan berdasarkan Prinsip
Syariah yang tergolong macet dan memperhitungkan kerugian
bank dengan modal Bank;
c. melakukan merger atau konsolidasi dengan bank lain;
d. menjual Bank kepada pembeli yang bersedia mengambil alih
seluruh kewajiban Bank;
e. menyerahkan pengelolaan seluruh atau sebagian kegiatan Bank
kepada pihak lain;
f.

menjual sebagian atau seluruh harta dan atau kewajiban Bank


kepada bank atau pihak lain; dan atau

g. membekukan kegiatan usaha tertentu Bank.


Adapun larangan dan pembatasan bagi Bank dalam Pengawasan
Khusus, antara lain:
1. Bank dilarang melakukan pembayaran distribusi modal (pembagian
dividen atau pemberian bonus);
2. Bank dilarang melakukan transaksi dengan pihak terkait atau pihak lain
yang ditetapkan oleh Bank Indonesia;

26

3. Bank dikenakan pembatasan pertumbuhan aset;


4. Bank dilarang melakukan pembayaran terhadap pinjaman subordinasi;
5. Bank dikenakan pembatasan kompensasi kepada pihak terkait.

3.2

Laporan Keuangan Bank


Dalam Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Standar

Akuntansi, laporan keuangan merupakan bagian dari proses pelaporan


keuangan. Laporan Keuangan menurut (Baridwan, 2004:17), didefenisikan
sebagai berikut:
Laporan Keuangan merupakan ringkasan dari suatu proses
pencatatan, merupakan suatu ringkasan dari suatu transaksitransaksi keuangan yang terjadi selama tahun buku yang
bersangkutan. Laporan keuangan ini dibuat oleh manajemen
dengan tujuan untuk mempertanggung jawabkan tugas-tugas
yang dibebankan kepadanya oleh para pemilik perusahaan.
Disamping laporan keuangan dapat juga digunakan untuk
memenuhi tujuan-tujuan lain yaitu sebagai laporan kepada pihakpihak luar perusahaan.
Laporan keuangan meliputi neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan
posisi keuangan yang disajikan dalam bentuk laporan arus kas atau laporan arus
dana, catatan dan laporan lain serta materi penjelasan yang merupakan bagian
integral dari laporan keuangan. (Ikatan Akuntan Indonesia,2007) dalam
Mulyaningrum

(2008).

Laporan

keuangan

bank

terdiri

atas:

(Bank

Indonesia,2008)
1. Neraca
Bank menyajikan aktiva dan kewajibannya tidak dikelompokkan menurut
lancar dan tidak lancar, melainkan menurut likuiditas dan jatuh tempo.
2. Laporan Laba Rugi

27

Laporan laba rugi bank disajikan dalam bentuk berjenjang (multiple step)
yang menggambarkan pendapatan atau beban operasional maupun non
operasional.
3. Laporan Arus Kas
Laporan arus kas disusun berdasarkan konsep kas (cash concept)
selama periode laporan keuangan, sehingga dapat diklasifikasi menurut
aktivitas operasi, investasi, maupun pendanaan.
4. Laporan Perubahan Ekuitas
Laporan perubahan ekuitas menyajikan peningkatan dan penurunan aset
bersih

atau

berdasarkan

kekayaan
prinsip

bank

selama

pengukuran

periode

tertentu

laporan
yang

keuangan

dianut

dan

mengungkapkan prinsip yang digunakan dalam laporan keuangan.


5. Catatan atas Laporan Keuangan.
Catatan atas laporan keuangan mengungkapkan catatan mengenai
devisa neto menurut jenis mata uang serta aktivitas-aktivitas lain seperti
kegiatan wali amanat, penitipan harta (custodianship) dan penyaluran
kredit kelolaan.

28

3.3

Manfaat Laporan Keuangan


Dalam Pedoman Akuntansi Perbankan (2008) dijelaskan tentang tujuan

dari pelaporan keuangan yaitu untuk menyediakan informasi posisi keuangan,


kinerja, perubahan ekuitas, arus kas serta informasi lainnya yang bermanfaat
kepada pengguna laporan dalam rangka membuat keputusan ekonomi serta
menunjukkan pertanggungjawaban manajemen atas penggunaan sumber daya
mereka. Tujuan lain dari pelaporan keuangan yaitu untuk menyediakan informasi
dalam membantu investor, kreditor, dan pemakai lainnya baik yang sekarang
maupun yang berpotensial untuk menilai jumlah, waktu, dan ketidakpastian dari
prospective penerimaan kas dari dividen atau bunga. (Scott,2000) dalam
(Purwanti,2005)
3.4

Pengguna Laporan Keuangan


Menurut (Ikatan Akuntansi Indonesia,2007:2-3) dalam (Purwanti,2005),

pengguna laporan keuangan meliputi:


1. Investor
Investor membutuhkan informasi dalam membantu menentukan
pembelian, penanaman, atau penjualan investasinya. Pemegang
saham juga tertarik pada laporan keuangan karena memungkinkan
mereka dalam menilai kemampuan perusahaan untuk membayar
deviden.
2. Karyawan
Karyawan menggunakan informasi laporan keuangan dalam menilai
kemampuan perusahaan untuk memberikan balas jasa, imbalan
pasca kerja, dan kesempatan kerja.
3. Pemberi pinjaman

29

Pemberi pinjaman menggunakan informasi laporan keuangan dalam


memutuskan kemungkinan pembayaran pinjaman serta bunganya
dapat dibayar pada saat jatuh tempo atau tidak.
4. Pemasok dan kreditur usaha lainnya
Pemasok dan kreditur usaha lainnya menggunakan informasi laporan
keuangan dalam memungkinkan mereka dalam memutuskan jumlah
yang terutang akan dibayar pada saat jatuh tempo atau tidak.
5. Pelanggan
Pelanggan menggunakan informasi laporan keuangan mengenai
kelangsungan hidup perusahaan, terutama jika mereka terikat dengan
perjanjian jangka panjang atau bergantung pada perusahaan.
6. Pemerintah
Pemerintah

menggunakan

informasi

laporan

keuangan

dalam

mengatur aktivitas perusahaan, menetapkan kebijakan pajak, serta


sebagai dasar dalam menyusun statistik pendapatan nasional dan
statistik lainnya.
7. Masyarakat
Masyarakat
membantu

menggunakan
menyediakan

perkembangan

terakhir

informasi
informasi

laporan

keuangan

kecenderungan

perkembangan

terakhir

(tren)

dalam
dan

kemakmuran

perusahaan serta rangkaian aktivitasnya.


3.5

Istilah Kebangkrutan
Kebangkrutan merupakan suatu keadaan atau situasi dimana suatu

perusahaan tidak mampu lagi memenuhi kewajiban-kewajiban kepada debitur.

30

Hal

ini

dikarenakan

perusahaan

tersebut

mengalami

kekurangan

atau

ketidakcukupan dana dalam menjalankan atau melanjutkan usahanya sehingga


tujuan ekonomi yang ingin dicapai oleh perusahaan tidak dapat dicapai yaitu
profit.

Sebab laba yang

diperoleh perusahaan,

bias

digunakan untuk

mengembalikan pinjaman, membiayai operasi perusahaan, dan kewajibankewajiban yang harus dipenuhi bias ditutp dengan laba atau aktiva yang dimiliki.
(Amalia dan Herdiningtiyas,2005) dalam (Fitriya,2007).
Kebangkrutan menurut Altman (1973) dalam Nurdin (2012) yaitu
perusahaan yang bangkrut secara hukum. Dalam Undang-Undang No. 37 Tahun
2004 dijelaskan bahwa suatu institusi dinyatakan mengalami kepailitan
(kebangkrutan) oleh keputusan pengadilan apabila debitur memiliki dua atau
lebih kreditur dan tidak membayar sedikitnya satu hutang yang telah jatuh tempo
dan dapat ditagih. Kebangkrutan sering juga disebut dengan likuidasi
perusahaan atau penutupan perusahaan
3.6

Penyebab Kebangkrutan
Penyebab kegagalan perusahaan sangatlah bervariasi. Penyebab

kebangkrutan utama suatu perusahaan pada umumnya adalah inkompetensi


(ketidakmampuan) manajerial, disamping beberapa masalah struktural lain yang
sering dialami perusahaan (Martin,dkk,1998:374-375) dalam (Fitriya,2007) yaitu :
1.

Ketidakseimbangan

keahlian

dalam

manajemen

puncak. Seorang manajer cenderung mencari mitra yang memiliki


keahlian serupa dengannya. Contohnya, suatu manajemen puncak
yang terdiri dari orang-orang penjualan tanpa memiliki ahli produksi.
2.

Pemimpin tertinggi sering mengabaikan saran mitramitranya dalam pengoperasian perusahaan.

31

3.

Dewan

direktur

yang

kurang

aktif

atau

tidak

mengetahui apa-apa. Misalnya Dewan Direktur Penn Central,


meskipun sebagian para anggotanya merupakan seorang bankir,
baru mengetahui kesulitan yang dialami perusahaan hanya beberapa
minggu sebelum kebangkrutan diumumkan.
4.

Fungsi keuangan dalam manajemen perusahaan tidak


berjalan

sebagaimanamestinya.

Misalnya

meskipun

suatu

perusahaan telah memiliki sistem informasi yang efektif, tetapi jika


tidak ada pejabat keuangan yang terampil dalam mengalirkan
informasi itu ke dewan direktur, ancaman kegagalan perusahaan
tersebut akan tetap besar.
5.

Kurangnya tanggung jawab pimpinan puncak. Bila


seluruh manajer harus bertanggung jawab kepada seorang atasan,
pimpinan puncak jarang merasa harus mempertanggungjawabkan
segala tindakannya. Secara konseptual, ia bertanggung jawab
kepada para pemegang

saham.

Namun dengan melebarnya

pemisahan antara pihak manajemen dengan para pemilik saham,


ikatan itu semakin kendur bahkan akan lenyap sama sekali.
Menurut Benston dan Kaufman (1995) dalam Mulyaningrum (2008) ada
empat faktor yang dapat menyebabkan kegagalan bank, yaitu:
1. Ekspansi kredit yang berlebihan.
2. Informasi asimatri yang mengakibatkan ketidakmampuan deposan
dalam menilai aktiva bank secara akurat, khususnya ketika kondisi
ekonomi bank sedang memburuk.

32

3. Gonjangan ketidakstabilan dimulai dari luar sistem perbankan,


terlepas dari kondisi keuangan bank, para penabung mengubah
preferensi

likuiditasnya

sehingga

menyebabkan

berkurangnya

cadangan bank.
4. Pembatasan institusional dan hukum yang dapat memperlemah
kondisi bank sehingga menyebabkan kebangkrutan.
Menurut Jauch dan Glueck dalam (Fakhrurozie,2007) faktor-faktor yang
menyebabkan terjadinya kebangkrutan adalah :
1. Faktor Umum, yang terbagi atas :
a. Sektor Ekonomi, yaitu gejala inflasi dan deflasi dalam harga
barang dan jasa, kebijakan keuangan, suku bunga dan devaluasi
atau revaluasi uang dalam hubungannya dengan uang asing serta
neraca pembayaran, surplus atau defisit dalam perdagangan luar
negeri.
b. Sektor sosial, yaitu pada pengaruh perubahan gaya hidup
masyarakat pada permintaan terhadap produk dan jasa ataupun
cara perusahaan berhubungan dengan karyawan serta apabila
terjadi kerusuhan atau kekacauan yang terjadi di masyarakat.
c. Teknologi, yaitu biaya perusahaan yang membengkak dalam
pemeliharaan dan pengimplementasian teknologi informasi.
d. Sektor Pemerintah, yaitu berasal dari kebijakan pemerintah
terhadap pencabutan subsidi pada perusahaan dan industri,
pengenaan tarif ekspor dan impor barang yang berubah,
kebijakan perundang-undangan yang berubah dan lain-lain.
2. Faktor Eksternal, yang terbagi atas :

33

a. Faktor pelanggan atau nasabah, yaitu perusahaan harus mampu


mengidentifikasi sifat konsumen sehingga dapat menciptakan
peluang dalam menemukan konsumen baru serta mencegah
konsumen berpaling ke pesaing.
b. Faktor pemasok (kreditur), yaitu perusahaan harus mampu dalam
mendapatkan pinjaman serta jangka waktu pengembalian hutang
yang tergantung pada kepercayaan kreditur terhadap likuiditas
suatu bank.
c. Faktor pesaing (bank lain), yaitu perusahaan tidak boleh
melupakan pesaingnya karena jika produk pesaing lebih diterima
oleh masyarakat maka perusahaan tersebut akan kehilangan
nasabah serta dapat mengurangi pendapatan.
3. Faktor Internal menurut Harmanto dalam (Fakhrurozie,2007), yang
terbagi atas :
a. Besarnya kredit yang diberikan kepada para nasabah,
sehingga

menyebabkan

adanya

penunggakan

dalam

pembayaran sampai akhirnya nasabah tidak dapat membayar.


b. Tidak adanya kemampuan, pengalaman, keterampilan, sikap
inisiatif dari manajemen sehingga menyebabkan manajemen
kurang efisien.
c. Penyalahgunaan wewenang dan kecurangan yang dilakukan
oleh

karyawan

ataupun

manajer

puncak

yang

dapat

merugikan perusahaan terutama yang berhubungan dengan


keuangan perusahaan.

34

3.7

Metode Altman Z-Score


Penerapan analisis rasio keuangan bank masih dianggap terbatas karena

setiap rasio yang diuji dilakukan secara terpisah. Untuk mengatasi hal ini, Altman
mengombinasikan beberapa jenis rasio keuangan menjadi sebuah model
prediksi dengan teknik statistik yaitu analisis diskriminan yang digunakan guna
memprediksi kebangkrutan suatu perusahaan dengan metode Altman Z-Score.
Z-Score yaitu skor yang ditentukan dengan hitungan standar kali rasio-rasio
keuangan

yang

menunjukkan

tingkat

kemungkinan

kebangkrutan

suatu

perusahaan. (Supardi,2003:73) dalam (Fakhrurozie,2007)


Dari beberapa jenis rasio keuangan tersebut, Altman menemukan lima
diantaranya yang paling berkontribusi dalam model prediksi. Fungsi diskriminan
Z yang ditemukan oleh Altman adalah : (Weston dan Copeland,2004:255) dalam
(Iflaha,2008)

Z =0,012 x 1 +0,014 x 2+ 0,033 x 3 +0,006 x 4 +0,999 x 5

(3.1)

Pada tahun 1983 dan 1984 model ini dikembangkan oleh Altman untuk
perusahaan manufaktur yang go public, sehingga dari penelitian tersebut
ditemukan nilai Z yang dicari dengan persamaan sebagai berikut: (Hanafi &
Halim,2003:275) dalam (Iflaha,2008)

Z Score=1,2 x 1 +1,4 x 2+ 3,3 x 3 +0,6 x 4 +1,0 x 5

(3.2)

Dimana:

x 1= Working Capital to Total Assets (Modal Kerja/Total Aset)


x 2= Retained Earning to Total Assets (Laba Ditahan/Total Aset)
x 3= Earning Before Interest and Taxes (EBIT) to Total Assets (Pendapatan
sebelum bunga dan pajak/Total Aset)

35

x 4=

Market Value of Equity to Book Value of Total Liabilities (Harga Pasar

Saham Dibursa/Nilai Total Utang)

x 5= Sales to Total Assets (Penjualan/Total Aset)


Dengan kriteria penilaian sebagai berikut (Fakhrurozie,2007) :
1. Z-Score < 1,20 dikategorikan sebagai perusahaan yang memiliki kesulitan
keuangan yang sangat besar dan beresiko tinggi (kemungkinan bangkrut
besar).
2. 1,20 < Z-Score < 2,90 (biasa disebut grey area) dikategorikan sebagai
perusahaan

yang

memiliki

kesulitan

keuangan

tetapi

masih

bisa

diselamatkan apabila pihak manajemen dapat memperbaiki kinerjanya.


3. Z-Score > 2,90 dikategorikan sebagai perusahaan yang tidak memiliki
masalah keuangan sehingga dikategorikan perusahaan yang sehat.
Masalah lain yang sering dihadapi oleh Altman dalam melakukan
penelitian di Indonesia adalah banyaknya perusahaan yang tidak go public. Jika
perusahaan tidak go public, Altman mengembangkan model diskriminan
kebangkrutan dengan mengganti nilai pasar menggunakan nilai buku saham
biasa dan preferen sebagai salah satu komponen variabel bebasnya. Sehingga
diperoleh model sebagai berikut:

Z Score=0,717 x 1+ 0,847 x 2 +3,107 x 3+ 0,42 x 4 + 0,998 x 5

Dimana

x 1= Modal Kerja/Total Aset


x 2= Laba Ditahan/Total Aset

(3.3)

36

x 3= Laba Sebelum Bunga dan Pajak/Total Aset


x 4=

Nilai Buku Aset/Nilai Buku Total Utang

x 5= Penjualan/Total Aset
Dengan kriteria penilaian sebagai berikut (Altman,2000) :
1. Z-Score < 1,23 dikategorikan sebagai perusahaan yang memiliki kesulitan
keuangan yang sangat besar dan beresiko tinggi (kemungkinan bangkrut
besar).
2. 1,23 < Z-Score < 2,90 (biasa disebut grey area) dikategorikan sebagai
perusahaan

yang

memiliki

kesulitan

keuangan

tetapi

masih

bisa

diselamatkan apabila pihak manajemen dapat memperbaiki kinerjanya.


3. Z-Score > 2,90 dikategorikan sebagai perusahaan yang tidak memiliki
masalah keuangan sehingga dikategorikan perusahaan yang sehat.
Jika perusahaan termasuk dalam perusahaan non-manufaktur yang go
public (yang digunakan untuk perusahaan perbankan yang telah go public),
Altman mengembangkan model diskriminan kebangkrutan dengan tidak
menggunakan variabel X5. Sehingga diperoleh model sebagai berikut:

Z Score=6,56 x1 +3,26 x 2 +6,72 x 3 +1,05 x 4

Dimana:

x 1= Working Capital to Total Assets (Modal Kerja/Total Aset)


x 2= Retained Earning to Total Assets (Laba Ditahan/Total Aset)

(3.4)

37

x 3= Earning Before Interest and Taxes (EBIT) to Total Assets (Pendapatan


sebelum bunga dan pajak/Total Aset)

x 4=

Market Value of Equity to Book Value of Total Liabilities (Harga Pasar

Saham Dibursa/Nilai Total Utang)


Dengan kriteria penilaian sebagai berikut (Altman,2000) :
1. Z-Score < 1,23 dikategorikan sebagai perusahaan yang memiliki kesulitan
keuangan yang sangat besar dan beresiko tinggi (kemungkinan bangkrut
besar).
2. 1,23 < Z-Score < 2,90 (biasa disebut grey area) dikategorikan sebagai
perusahaan

yang

memiliki

kesulitan

keuangan

tetapi

masih

bisa

diselamatkan apabila pihak manajemen dapat memperbaiki kinerjanya.


3. Z-Score > 2,90 dikategorikan sebagai perusahaan yang tidak memiliki
masalah keuangan sehingga dikategorikan perusahaan yang sehat.

x 1=

Uraian masing-masing dari variabel di atas adalah sebagai berikut:


Modal Kerja/Total Aset (Working Capital to Total Assets) digunakan

untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban


jangka pendeknya. Indikator ini digunakan untuk mendeteksi masalah pada
tingkat likuiditas perusahaan seperti ketidakcukupan kas, utang dagang
membengkak, dan beberapa indikator lainnya. Modal kerja didapat dari
selisih antara aktiva lancar dikurangi hutang lancar.

x 2=

Laba Ditahan/Total Aset (Retained Earning to Total Assets) digunakan

untuk mengukur akumulasi laba selama perusahaan beroperasi. Hal ini

38

berarti, umur perusahaan turut berperan dalam rasio ini sehingga dapat
menyebabkan

perusahaan-perusahaan

baru

pada

umumnya

akan

menunjukkan hasil rasio yang rendah.

x 3=

Pendapatan sebelum bunga dan pajak/Total Aset (Earning Before

Interest and Taxes to Total Assets) digunakan untuk mengukur kemampuan


perusahaan dalam menghasilkan laba dari aktiva yang digunakan, Rasio ini
merupakan kontributor terbesar dalam model ini, karena digunakan untuk
mendeteksi masalah pada kemampuan profitabilitas perusahaan seperti
piutang dagang yang meningkat, kerugian yang terus-menerus dalam
beberapa kwartal, persediaan yang meningkat, penjualan yang menurun,
serta terlambatnya penagihan hutang.

x 4=

Harga Pasar Saham Dibursa/Nilai Total Utang (Market Value of Equity

to Book Value of Total Liabilities) digunakan untuk mengukur seberapa


banyak kemungkinan aktiva perusahaan mengalami penurunan nilai (nilai
pasar modal ditambah hutang) sebelum jumlah hutang (kewajiban) melebihi
aktiva perusahaan dan mengakibatkan perusahaan menjadi bangkrut.

39

BAB IV
GAMBARAN UMUM DAN PEMBAHASAN

4.1 Deskripsi Objek Penelitian


Objek

perusahaan

yang

digunakan

dalam

penelitian

ini

adalah

perusahaan perbankan yang go public dan terdaftar di Bursa Efek Indonesia.


Periode yang diambil dalam penelitian ini adalah tahun 2012. Daftar perusahaan
perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dapat dilihat dalam tabel 4.1
Tabel 4.1 Daftar Perusahaan Perbankan
Tanggal
No.

Kode

Tanggal

Nama Bank
Rakyat

Pendirian
Indonesia 27-Sept-1989

Pendaftaran
08-Agt-2003

AGRO

Bank

2
3
4
5
6
7

BABP
BACA
BAEK
BBCA
BBKP
BBNI

Agroniaga Tbk
Bank ICB Bumiputera Tbk
Bank Capital Indonesia Tbk
Bank Ekonomi Raharja Tbk
Bank Central Asia Tbk
Bank Bukopin Tbk
Bank Negara Indonesia Tbk

31-Jul-1989
20-Apr-1989
15-Mei-1989
10-Agt-1955
10-Jul-1970
05-Jul-1946

15-Jul-2002
04-Okt-2007
08-Jan-2008
31-Mei-2000
10-Jul-2006
25-Nop-1996

BBNP

Bank Nusantara Parahyangan 18-Jan-1972

10-Jan-2001

Tbk
9

BBRI

Bank

Rakyat

Indonesia 18-Des-1968

10-Nop-2003

(Persero) Tbk
Tanggal
No.

Kode

Tanggal

Nama Bank
Tabungan

Pendirian
Negara 31-Jul-1992

10

BBTN

Bank

11
12

BDMN
BEKS

(Persero) Tbk
Bank Danamon Indonesia Tbk
Bank Pundi Indonesia

40

16-Jul-1956
11-Sept-1992

Pendaftaran
17-Des-2009
06-Des-1989
13-Jul-2001

13

BJBR

Bank

Daerah 20-Mei-1961

08-Jul-2010

14

BJTM

Jawa Barat dan Banten Tbk


Bank Pembangunan Daerah 17-Agt-1961

12-Jul-2012

BKSW
BMRI
BNBA
BNGA
BNII

Jawa Timur Tbk


Bank QNB Kesawan Tbk
Bank Mandiri (Persero) Tbk
Bank Bumi Artha Tbk
Bank CIMB Niaga Tbk
Bank Internasional Indonesia

01-Apr-1913
02-Okt-1998
03-Mar-1967
26-Sept-1955
15-Mei-1959

21-Nop-2002
14-Jul-2003
31-Des-2009
29-Nop-1989
21-Nop-1989

BNLI
BSIM
BSWD
BTPN

Tbk
Bank Permata Tbk
Bank Sinarmas Tbk
Bank of India Indonesia Tbk
Bank Tabungan Pensiunan

17-Des-1954
18-Agt-1989
28-Sept-1968
16-Feb-1985

15-Jan-1990
13-Des-2010
01-Mei-2002
12-Mar-2008

BVIC
INPC

Nasional Tbk
Bank Victoria International Tbk
28-Okt-1992
Bank Artha Graha International 07-Sept-1973

30-Jun-1999
29-Agt-1990

15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25

Pembangunan

Tbk
Tanggal
No.

Kode

26

MAYA

27

Tbk
MCOR Bank

28
29
30
31

MEGA
NISP
PNBN
SDRA

Tanggal

Nama Bank
Pendirian
Bank Mayapada Internasional 07-Sept-1989
Windu

Kentjana 02-Apr-1974

International Tbk
Bank Mega Tbk
Bank OCBC NISP Tbk
Bank Pan Indonesia Tbk
Bank Himpunan Saudara 1906

15-Apr-1969
04-Apr-1941
17-Agt-1971
15-Jun-1974

Pendaftaran
29-Agt-1997
03-Jul-2007
17-Apr-2000
20-Okt-1994
29-Des-1982
15-Des-2006

Tbk
4.2 Analisis Data
4.2.1

Analisis Variabel Z-Score


Dalam memprediksi kebangkrutan suatu perusahaan perbankan, metode

Altman Z-Score mengombinasikan beberapa jenis rasio keuangan. Analisis rasio


tersebut meliputi :

41

4.2.1.1 Analisis Variabel X1


Variabel ini menunjukkan kemampuan perusahaan (perbankan) dalam
menghasilkan modal kerja bersih dari total aktiva yang dimilikinya. Modal
kerja bersih diperoleh dari selisih aktiva lancar dikurangi kewajiban lancar.
Modal kerja yang negatif kemungkinan akan mengalami masalah dalam
menutupi kewajiban jangka pendeknya karena tidak tersedianya aktiva
lancar dalam menutupi kewajiban tersebut. Hasil yang negatif pada rasio
ini dapat

menunjukkan adanya masalah pada tingkat likuiditas

perusahaan perbankan, seperti ketidakcukupan kas, utang dagang yang


membengkak,

modal

(harta

kekayaan)

yang

menurun,

ataupun

penambahan utang yang tidak terkendali.

x 1=

Working Capital
Total Assets

Tabel 4.2 Analisis Variabel X1


Working
No.

Nama Bank

Bank

Indonesia

Capital
(Million Rp)
584.076

2
3

Agroniaga Tbk
Bank ICB Bumiputera Tbk
Bank Capital Indonesia

4
5
6
7
8

Tbk
Bank Ekonomi Raharja Tbk
Bank Central Asia Tbk
Bank Bukopin Tbk
Bank Negara Indonesia
Bank
Nusantara

Rakyat

Total Assets
(Million Rp)

X1

4.040.140

0,145

614.850
518.129

7.433.803
5.666.177

0,083
0,091

2.766.317
56.797.623
7.265.440
60.365.343
611.153

25.365.299
442.994.197
65.689.830
333.303.506
8.212.208

0,109
0,128
0,111
0,181
0,074

Parahyangan Tbk

42

Bank

Rakyat

Indonesia

93.733.066

551.336.790

0,170

Negara

31.714.107

111.748.593

0,284

Bank Danamon Indonesia

54.115.092

155.791.308

0,347

270.033

7.682.938

0,035

(Persero) Tbk
10

Bank

Tabungan

(Persero) Tbk
11

Tbk
12

Bank Pundi Indonesia

Working
No.
13

Nama Bank
Bank

Pembangunan

Capital
(Million Rp)
12.711.342

Total Assets
(Million Rp)

X1

70.840.878

0,179

Daerah Jawa Barat dan


14

Banten Tbk
Bank
Pembangunan

5.779.830

29.112.193

0,199

15
16

Daerah Jawa Timur Tbk


Bank QNB Kesawan Tbk
Bank Mandiri (Persero)

704.270
156.435.876

4.644.654
635.618.708

0,152
0,246

17
18
19

Tbk
Bank Bumi Artha Tbk
Bank CIMB Niaga Tbk
Bank
Internasional

423.508
37.849.487
20.121.822

3.483.517
197.412.481
115.772.908

0,122
0,192
0,174

20
21
22

Indonesia Tbk
Bank Permata Tbk
Bank Sinarmas Tbk
Bank of India Indonesia

20.266.390
1.098.844
407.431

131.798.595
15.151.892
2.540.741

0,154
0,073
0,160

23

Tbk
Bank Tabungan Pensiunan

11.612.202

59.090.132

0,197

24

Nasional Tbk
Bank Victoria International

1.820.514

14.352.840

0,127

25

Tbk
Bank

Graha

2.186.696

20.558.770

0,106

26

International Tbk
Bank
Mayapada

653.616

17.166.551

0,038

27

Internasional Tbk
Bank
Windu
Kentjana

698.311

6.495.246

0,108

28
29

International Tbk
Bank Mega Tbk
Bank OCBC NISP Tbk

5.770.362
11.928.949

65.219.108
79.141.737

0,089
0,151

Artha

43

30

Bank Pan Indonesia Tbk

34.027.948
Working

No.
31

Nama Bank
Bank Himpunan Saudara

Capital
(Million Rp)
1.052.327

148.792.615
Total Assets
(Million Rp)
7.621.309

0,229

X1
0,138

1906 Tbk
Berdasarkan analisis data di atas diperoleh bahwa 3 perusahaan yang
memiliki nilai X1 (Working Capital / Total Assets) tertinggi dimiliki oleh
Bank Danamon Indonesia Tbk sebesar 0,347, Bank Tabungan Negara
(Persero) Tbk sebesar 0,284, dan Bank Mandiri (Persero) Tbk sebesar
0,246. Sedangkan 3 perusahaan yang memiliki nilai X1 (Working Capital /
Total Assets) terendah dimiliki oleh Bank Pundi Indonesia sebesar 0,035,
Bank Mayapada Internasional Tbk sebesar 0,038, dan Bank Sinarmas
Tbk sebesar 0,073.
4.2.1.2 Analisis Variabel X2
Variabel ini menunjukkan kemampuan perusahaan (perbankan) dalam
menghasilkan laba ditahan dari total aktiva yang dimilikinya. Variabel ini
menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba pada
suatu periode. Menurut Mulyono (1994) dalam Fakhrurozie (2007), rasio
ini

digunakan

untuk

mendeteksi

kemampuan

perusahaan

dalam

menghasilkan keuntungan, yang ditinjau dari kemampuan perusahaan


dalam menghasilkan laba dibandingkan kecepatan perputaran operating
assets sebagai ukuran efisiensi usaha

x 2=

Retained Earning
Total Assets

Tabel 4.3 Analisis Variabel X2


No.

Nama Bank

Retained

44

Total Assets
(Million Rp)

X2

Bank

Indonesia

Earning
(Million Rp)
(16.380)

2
3

Agroniaga Tbk
Bank ICB Bumiputera Tbk
Bank Capital Indonesia

(73.000)
146.348

7.433.803
5.666.177

(0,010)
0,026

4
5
6
7

Tbk
Bank Ekonomi Raharja Tbk
Bank Central Asia Tbk
Bank Bukopin Tbk
Bank Negara Indonesia

2.158.752
45.534.178
2.858.934
20.070.536

25.365.299
442.994.197
65.689.830
333.303.506

0,085
0,103
0,044
0,060

Tbk
Bank

396.509

8.212.208

0,048

Indonesia

55.080.238

551.336.790

0,100

Rakyat

Nusantara

4.040.140

(0,004)

Parahyangan Tbk
9

Bank

Rakyat

10

(Persero) Tbk
Bank Tabungan

Negara

3.175.036

111.748.593

0,028

11

(Persero) Tbk
Bank Danamon Indonesia

15.231.383

155.791.308

0,098

12
13

Tbk
Bank Pundi Indonesia
Bank
Pembangunan

(440.490)
2.727.657

7.682.938
70.840.878

(0,057)
0,039

Daerah Jawa Barat dan


14

Banten Tbk
Bank
Pembangunan

1.248.317

29.112.193

0,043

15
16

Daerah Jawa Timur Tbk


Bank QNB Kesawan Tbk
Bank Mandiri (Persero)

(7.929)
46.079.465

4.644.654
635.618.708

(0,002)
0,072

Tbk
Retained
No.

Nama Bank

17
18
19

Bank Bumi Artha Tbk


Bank CIMB Niaga Tbk
Bank
Internasional

Earning
(Million Rp)
280.316
13.207.879
3.944.106

20
21
22

Indonesia Tbk
Bank Permata Tbk
Bank Sinarmas Tbk
Bank of India Indonesia

23

Tbk
Bank Tabungan Pensiunan

Total Assets
(Million Rp)

X2

3.483.517
197.412.481
115.772.908

0,081
0,067
0,034

1.373.831
488.250
169.558

131.798.595
15.151.892
2.540.741

0,010
0,032
0,067

6.187.792

59.090.132

0,105

45

24

Nasional Tbk
Bank Victoria International

25

Tbk
Bank

708.427

14.352.840

0,049

Graha

63.116

20.558.770

0,003

26

International Tbk
Bank
Mayapada

562.951

17.166.551

0,033

27

Internasional Tbk
Bank
Windu
Kentjana

148.665

6.495.246

0,023

28
29
30
31

International Tbk
Bank Mega Tbk
Bank OCBC NISP Tbk
Bank Pan Indonesia Tbk
Bank Himpunan Saudara

3.043.108
4.173.411
10.543.118
262.322

65.219.108
79.141.737
148.792.615
7.621.309

0,047
0,053
0,071
0,034

Artha

1906 Tbk
Berdasarkan analisis data di atas diperoleh bahwa 3 perusahaan yang
memiliki nilai X2 (Retained Earning / Total Assets) tertinggi dimiliki oleh
Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk sebesar 0,105, Bank Central
Asia Tbk sebesar 0,103, dan Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk
sebesar 0,100. Sedangkan 3 perusahaan yang memiliki nilai X2 (Retained
Earning / Total Assets) terendah dimiliki oleh Bank Pundi Indonesia
sebesar -0,057, Bank ICB Bumiputera Tbk sebesar -0,010, dan Bank
Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk sebesar -0,004.
4.2.1.3 Analisis Variabel x3
Variabel ini menunjukkan kemampuan perusahaan (perbankan) dalam
menghasilkan laba sebelum bunga dan pajak dari total aktiva yang
dimilikinya. Variabel ini dapat digunakan dalam mendeteksi masalah
kemampuan profitabilitas perusahaan, seperti piutang dagang yang
meningkat, kerugian yang dialami terus-menerus, persediaan meningkat,
penjualan

menurun,

penagihan

46

putang

yang

lambat,

kredibilitas

perusahaan menurun, serta kemampuan konsumen yang tidak dapat


membayar kredit pada waktu yang telah ditetapkan.

x 2=

Earning Before Interest Taxes


Total Assets

Tabel 4.4 Analisis Variabel X3

Bank

Indonesia

EBIT
(Million Rp)
51.471

2
3

Agroniaga Tbk
Bank ICB Bumiputera Tbk
Bank Capital Indonesia

6.010
62.561

7.433.803
5.666.177

0,001
0,011

4
5

Tbk
Bank Ekonomi Raharja Tbk
Bank Central Asia Tbk

246.890
14.686.046

25.365.299
442.994.197

0,010
0,033

Bank Bukopin Tbk

1.059.370

65.689.830

0,016

Indonesia

EBIT
(Million Rp)
8.899.562

Total Assets
(Million Rp)
333.303.506

No.

Nama Bank

No.

Rakyat

Nama Bank
Negara

Total Assets
(Million Rp)
4.040.140

X3
0,013

X3

Bank

Tbk
Bank

Nusantara

115.154

8.212.208

0,014

Parahyangan Tbk
Bank Rakyat Indonesia

23.859.572

551.336.790

0,043

10

(Persero) Tbk
Bank Tabungan

Negara

1.863.202

111.748.593

0,017

11

(Persero) Tbk
Bank Danamon Indonesia

5.486.679

155.791.308

0,035

12

Tbk
Bank Pundi Indonesia

68.220

7.682.938

0,009

13

Bank

1.512.499

70.840.878

0,021

1.001.341

29.112.193

0,034

(34.424)

4.644.654

(0,007)

20.504.268

635.618.708

0,032

77.467

3.483.517

0,022

Pembangunan

0,027

Daerah Jawa Barat dan


14

Banten Tbk
Bank
Pembangunan

15

Daerah Jawa Timur Tbk


Bank QNB Kesawan Tbk

16

Bank

17

Tbk
Bank Bumi Artha Tbk

Mandiri

(Persero)

47

18

Bank CIMB Niaga Tbk

5.786.927

197.412.481

0,029

19

Bank

1.695.869

115.772.908

0,015

20

Indonesia Tbk
Bank Permata Tbk

1.888.081

131.798.595

0,014

21

Bank Sinarmas Tbk

285.479

15.151.892

0,019

22

Bank of India Indonesia

73.922

2.540.741

0,029

23

Tbk
Bank Tabungan Pensiunan

2.485.314

59.090.132

0,042

EBIT
(Million Rp)
252.594

Total Assets
(Million Rp)
14.352.840

Internasional

Nasional Tbk
No.

Nama Bank

X3

24

Bank Victoria International

25

Tbk
Bank

Graha

49.697

20.558.770

0,002

26

International Tbk
Bank
Mayapada

351.141

17.166.551

0,020

27

Internasional Tbk
Bank
Windu
Kentjana

128.018

6.495.246

0,020

28
29
30
31

International Tbk
Bank Mega Tbk
Bank OCBC NISP Tbk
Bank Pan Indonesia Tbk
Bank Himpunan Saudara

1.566.014
1.222.241
3.042.464
160.367

65.219.108
79.141.737
148.792.615
7.621.309

0,024
0,015
0,020
0,021

Artha

0,018

1906 Tbk
Berdasarkan analisis data di atas diperoleh bahwa 3 perusahaan yang
memiliki nilai X3 (Earning Before Interest and Taxes / Total Assets)
tertinggi dimiliki oleh Bank Rakyat Indonesia Tbk sebesar 0,043, Bank
Tabungan Pensiunan Nasional Tbk sebesar 0,042, dan Bank Dabamon
Indonesia Tbk sebesar 0,035. Sedangkan 3 perusahaan yang memiliki
nilai X3 (Earning Before Interest and Taxes / Total Assets) terendah
dimiliki oleh Bank QNB Kesawan Tbk sebesar -0,007, Bank ICB
Bumiputera Tbk sebesar 0,001, dan Bank Artha Graha International Tbk
sebesar 0,002.

48

4.2.1.4 Analisis Variabel x4


Variabel ini menunjukkan kemampuan perusahaan (perbankan) dalam
memenuhi kewajiban-kewajiban dari nilai pasar modal sendiri. Nilai Pasar
modal sendiri diperoleh dari hasil kali jumlah lembar saham yang beredar
dengan nilai pasar per lembar saham tersebut. Nilai buku hutang
diperoleh dari hasil penjumlahan kewajiban lancar dan kewajiban jangka
panjang.

x 4=

Market Value of Equity


Book Value of Total Liabilities
Tabel 4.5 Analisis Variabel X4
Market Value

No.

Nama Bank

of Equity
(Million Rp)

Book Value
of Total

X4

Bank

Indonesia

528.242

Liabilities
(Million Rp)
3.668.215

2
3

Agroniaga Tbk
Bank ICB Bumiputera Tbk
Bank Capital Indonesia

927.147
546.102

6.719.964
5.008.389

0,138
0,109

4
5
6
7

Tbk
Bank Ekonomi Raharja Tbk
Bank Central Asia Tbk
Bank Bukopin Tbk
Bank Negara Indonesia

2.670.000
222.551.684
4.861.737
69.932.462

22.682.197
391.096.255
60.693.088
289.778.215

0,118
0,569
0,080
0,241

Tbk
Bank

Nusantara

541.467

7.550.949

0,072

Parahyangan Tbk
Bank Rakyat Indonesia

171.450.676

486.455.011

0,352

10

(Persero) Tbk
Bank Tabungan

Negara

15.223.968

101.469.722

0,150

11

(Persero) Tbk
Bank Danamon Indonesia

53.674.003

127.057.997

0,422

12
No.

Tbk
Bank Pundi Indonesia
Nama Bank

1.301.369
Market Value

7.028.754
Book Value

0,185
X4

of Equity
(Million Rp)

of Total

Rakyat

49

Liabilities

0,144

13

Bank

Pembangunan

10.181.106

(Million Rp)
64.832.038

0,157

Daerah Jawa Barat dan


14

Banten Tbk
Bank
Pembangunan

5.594.132

23.625.087

0,237

15
16

Daerah Jawa Timur Tbk


Bank QNB Kesawan Tbk
Bank Mandiri (Persero)

2.386.398
182.000.000

3.781.586
559.085.843

0,631
0,326

17

Tbk
Bank Bumi Artha Tbk

374.220

2.961.011

0,126

18

Bank CIMB Niaga Tbk

27.644.768

174.760.569

0,158

19

Bank

Internasional

22.231.386

106.105.415

0,210

20
21
22

Indonesia Tbk
Bank Permata Tbk
Bank Sinarmas Tbk
Bank of India Indonesia

13.985.728
2.313.863
1.354.080

119.303.061
13.326.284
2.166.972

0,117
0,174
0,625

23

Tbk
Bank Tabungan Pensiunan

29.493.451

51.356.205

0,574

24

Nasional Tbk
Bank Victoria International

766.104

12.883.648

0,059

25

Tbk
Bank

Graha

943.258

18.621.443

0,051

Mayapada

8.657.148

15.320.813

0,565

788.042

5.739.581

0,137

6.394.752

58.956.287
Book Value

0,108

Artha

International Tbk
26

Bank

Internasional Tbk
27

Bank

Windu

28

International Tbk
Bank Mega Tbk

Kentjana

Market Value
No.

Nama Bank

of Equity
(Million Rp)

of Total

X4

29

Bank OCBC NISP Tbk

12.395.932

Liabilities
(Million Rp)
70.190.261

30

Bank Pan Indonesia Tbk

15.175.217

131.144.850

0,116

31

Bank Himpunan Saudara

1.482.479

7.083.302

0,209

1906 Tbk

50

0,117

Berdasarkan analisis data di atas diperoleh bahwa 3 perusahaan yang


memiliki nilai X4 (Market Value of Equity / Book Value of Total Liabilities)
tertinggi dimiliki oleh Bank QNB Kesawan Tbk sebesar 0,631, Bank of
India Indonesia Tbk sebesar 0,625, dan Bank Tabungan Pensiunan
Nasional Tbk sebesar 0,574. Sedangkan 3 perusahaan yang memiliki
nilai X4 (Market Value of Equity / Book Value of Total Liabilities) terendah
dimiliki oleh Bank Artha Graha International Tbk sebesar 0,051, Victoria
International Tbk sebesar 0,059, dan Bank Nusantara Parahyangan Tbk
sebesar 0,072.
Berdasarkan hasil perhitungan di atas, interpretasi nilai Z-Score
ditampilkan pada tabel di bawah ini:
Tabel 4.6 Interpretasi Z-Score
No.
1
2
3
4
5
No.
6
7
8
9
10
11
12
13

Nama Bank
Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk
Bank ICB Bumiputera Tbk
Bank Capital Indonesia Tbk
Bank Ekonomi Raharja Tbk
Bank Central Asia Tbk
Nama Bank
Bank Bukopin Tbk
Bank Negara Indonesia
Bank Nusantara Parahyangan Tbk
Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk
Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk
Bank Danamon Indonesia Tbk
Bank Pundi Indonesia
Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat

Z-Score
1,177
0,664
0,870
1,183
1,995
Z-Score
1,063
1,817
0,812
2,100
2,226
3,247
0,370
1,607

14

dan Banten Tbk


Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur

1,923

Grey Area

15
16
17
18
19
20
21
22

Tbk
Bank QNB Kesawan Tbk
Bank Mandiri (Persero) Tbk
Bank Bumi Artha Tbk
Bank CIMB Niaga Tbk
Bank Internasional Indonesia Tbk
Bank Permata Tbk
Bank Sinarmas Tbk
Bank of India Indonesia Tbk

1,606
1,976
1,345
1,839
1,574
1,260
0,894
2,119

Grey Area
Grey Area
Grey Area
Grey Area
Grey Area
Grey Area
Bangkrut
Grey Area

51

Interpretasi
Bangkrut
Bangkrut
Bangkrut
Bangkrut
Grey Area
Interpretasi
Bangkrut
Grey Area
Bangkrut
Grey Area
Grey Area
Sehat
Bangkrut
Grey Area

23
24
25
26
27
28
29
30
31

Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk


Bank Victoria International Tbk
Bank Artha Graha International Tbk
Bank Mayapada Internaional Tbk
Bank Windu Kentjana International Tbk
Bank Mega Tbk
Bank OCBC NISP Tbk
Bank Pan Indonesia Tbk
Bank Himpunan Saudara 1906 Tbk

2,520
1,176
0,772
1,085
1,062
1,012
1,450
1,990
1,377

Grey Area
Bangkrut
Bangkrut
Bangkrut
Bangkrut
Bangkrut
Grey Area
Grey Area
Grey Area

Penulis mencoba menganalisa berdasarkan rata-rata dari masing-masing


variabel Altman Z-Score, yang menjadi penyebab perusahaan perbankan di atas
diprediksi masuk dalam kategori bangkrut disajikan dalam tabel berikut ini :
Tabel 4.7 Analisa atas Variabel Penyebab Kebangkrutan
No
Nama Bank

X1

X2

X3

X4

.
1

Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk

2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13

Bank ICB Bumiputera Tbk


Bank Capital Indonesia Tbk
Bank Ekonomi Raharja Tbk
Bank Bukopin Tbk
Bank Nusantara Parahyangan Tbk
Bank Pundi Indonesia
Bank Sinarmas Tbk
Bank Victoria International Tbk
Bank Artha Graha International Tbk
Bank Mayapada Internaional Tbk
Bank Windu Kentjana International Tbk
Bank Mega Tbk
Berdasarkan

hasil

perhitungan

nilai

Z-Score

pada

perusahaan

perbankan di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2012, perusahaan perbankan


dengan nilai Z-Score tertinggi hingga yang terendah diurutkan dalam tabel
berikut ini:

52

Tabel 4.8 Prediksi Tingkat Kebangkrutan Perusahaan Perbankan


No.

Nama Bank

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13

Bank Danamon Indonesia Tbk


Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk
Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk
Bank of India Indonesia Tbk
Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk
Bank Central Asia Tbk
Bank Pan Indonesia Tbk
Bank Mandiri (Persero) Tbk
Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk
Bank CIMB Niaga Tbk
Bank Negara Indonesia Tbk
Bank QNB Kesawan Tbk
Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten

14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
No.
29
30
31

Tbk
Bank Internasional Indonesia Tbk
Bank OCBC NISP Tbk
Bank Himpunan Saudara 1906 Tbk
Bank Bumi Artha Tbk
Bank Permata Tbk
Bank Ekonomi Raharja Tbk
Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk
Bank Victoria International Tbk
Bank Mayapada Internaional Tbk
Bank Bukopin Tbk
Bank Windu Kentjana International Tbk
Bank Mega Tbk
Bank Sinarmas Tbk
Bank Capital Indonesia Tbk
Bank Nusantara Parahyangan Tbk
Nama Bank
Bank Artha Graha International Tbk
Bank ICB Bumiputera Tbk
Bank Pundi Indonesia

Z-Score
3,247
2,520
2,226
2,119
2,100
1,995
1,990
1,976
1,923
1,839
1,817
1,606
1,607
1,574
1,450
1,377
1,345
1,260
1,183
1,177
1,176
1,085
1,063
1,062
1,012
0,894
0,870
0,812
Z-Score
0,772
0,664
0,370

Tabel 4.9 Prediksi Perusahaan Perbankan yang Masuk Kategori Sehat


No.
1

Nama Bank
Bank Danamon Indonesia Tbk

Z-Score
3,247

Tabel 4.10 Prediksi Perusahaan Perbankan yang Masuk Kategori Grey Area
No.
1

Nama Bank
Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk
53

Z-Score
2,520

2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk


Bank of India Indonesia Tbk
Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk
Bank Central Asia Tbk
Bank Pan Indonesia Tbk
Bank Mandiri (Persero) Tbk
Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk
Bank CIMB Niaga Tbk
Bank Negara Indonesia Tbk
Bank QNB Kesawan Tbk
Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten

2,226
2,119
2,100
1,995
1,990
1,976
1,923
1,839
1,817
1,606
1,607

13
14
15
16
17

Tbk
Bank Internasional Indonesia Tbk
Bank OCBC NISP Tbk
Bank Himpunan Saudara 1906 Tbk
Bank Bumi Artha Tbk
Bank Permata Tbk

1,574
1,450
1,377
1,345
1,260

Tabel 4.10 Prediksi Perusahaan Perbankan yang Masuk Kategori Bangkrut


No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13

Nama Bank
Bank Ekonomi Raharja Tbk
Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk
Bank Victoria International Tbk
Bank Mayapada Internaional Tbk
Bank Bukopin Tbk
Bank Windu Kentjana International Tbk
Bank Mega Tbk
Bank Sinarmas Tbk
Bank Capital Indonesia Tbk
Bank Nusantara Parahyangan Tbk
Bank Artha Graha International Tbk
Bank ICB Bumiputera Tbk
Bank Pundi Indonesia

54

Z-Score
1,183
1,177
1,176
1,085
1,063
1,062
1,012
0,894
0,870
0,812
0,772
0,664
0,370

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisa dan pembahasan yang telah dilakukan, maka
dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1.

Dari perhitungan analisis data yang dilakukan dapat dilihat bahwa


satu perusahaan yang diprediksikan berada pada kondisi sehat, 17
perusahaan diprediksikan berada pada kondisi grey area, dan 13
perusahaan diprediksikan berada pada kondisi bangkrut.

2. Pada perusahaan yang dikategorikan bangkrut, rata-rata yang


menyebabkan rendahnya nilai Z-Score adalah hasil perhitungan
variabel x1 dan x4. Sehingga dapat disimpulkan bahwa yang
menyebabkan suatu perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa
Efek Indonesia masuk dalam kategori prediksi bangkrut mengalami
masalah

dalam

ketidakmampuan

menutupi kewajiban jangka


perusahaan

perbankan

pendeknya
dalam

serta

memenuhi

kewajiban-kewajiban dari nilai pasar modal sendiri.


5.2 Saran
Berdasarkan hasil analisa dan kesimpulan di atas, maka penulis
mengemukakan saran sebagai berikut:

55

56

1. Pihak perbankan sebaiknya selalu mengadakan evalusi terhadap


keputusan-keputusan

manajemen

dalam

menjaga

likuiditas

perusahaan, sehingga perusahaan perbankan yang ada dapat


terhindar dari kemungkinan terjadinya kebangkrutan.
2. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat mencari metode lain
yang memasukkan faktor ekonomi dalam memprediksi kebangkutan
suatu perusahaan. Hal ini dimaksudkan agar kondisi yang terjadi di
perusahaan perbankan tidak hanya dilihat dari sisi laporan
keuangannya saja, tetapi juga dapat dilihat dari sisi lainnya.

57

DAFTAR PUSTAKA
Altman, E. I. (2000). Predicting Financial Distress of Companies: Revisiting The
Z-Score and ZETA Model. Retrieved May 16, 2013 from :
http://pages.stern.nyu.edu/~ealtman/Zscores.pdf

Baridwan, Zaki. (2004). Intermediete Accounting. Edisi 8. Yogyakarta: Badan


Penerbit Fakultas Ekonomi.

Bank Indonesia. (2008). Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia. Jakarta

Benyamin, M. Y. (2013). Bank Indonesia Fokus Jaga Stabilitas Moneter.


Retrieved May 16, 2013 from :
http://www.bisnis.com/m/bank-indonesia-fokus-jaga-stabilitas-moneter

Fakhrurozie. (2007). Analisis Pengaruh Kebangkrutan Bank dengan Metode


Altman Z-Score terhadap Harga Saham Perusahaan Perbankan di Bursa
Efek Jakarta. Skripsi Universitas Negeri Semarang

Fitriya, Wulidatul. (2007). Analisis Model Altman Z-Score dan Rasio Camel untuk
memprediksi Tingkat Kebangkrutan Bank Umum Syariah yang Go Public
di Indonesia. Tesis Universitas Islam Negeri Malang

Iflaha, D. A. (2008). Analisis Financial Distress dengan Metode Z-Score untuk


Memprediksi Kebangkrutan Perusahaan. Skripsi Universitas Islam Negeri
Malang

Kamal, St. I. M. (2012). Analisis Prediksi Kebangkrutan pada Perusahaan yang


Go Public di Bursa Efek Indonesia. Skripsi Unhas

Mulyaningrum, P. (2008). Pengaruh Rasio Keuangan terhadap Kebangkrutan


Bank di Indonesia. Tesis Universitas Diponegoro

58

Nurdin, I. (2012). Peranan Analisis Metode Z-Score dalam Memprediksi


Kebangkrutan Suatu Perusahaan dan Kaitannya terhadap Harga Saham.
Jurnal Universitas Siliwangi Tasikmalaya

Qiedfagot. (2013). Perkembangan Perbankan di Indonesia. Retrieved May 15,


2013 from :
http://blogs.unpad.ac.id/qiedfaqot/2013/02/17/perkembangan-perbankandi-indonesia/

Sipahutar, M. A. (2007). Persoalan-persoalan Perbankan Indonesia. Jakarta:


Gorga Media
Undang-Undang No. 37 Tahun (2004); Tentang Kepailitan dan Penundaan
Kewajiban Pembayaran Utang. Retrieved June 7, 2013 from :
http://datahukum.pnri.go.id/index.php?
option=com_phocadownload&view=category&id=117:tahun2004&Itemid=27
Undang-Undang No. 10 Tahun (1998); Tentang Perbankan. Retrieved May 15,
2013 from :
http://id.wikisource.org/wiki/UndangUndang_Republik_Indonesia_Nomor_10_Tahun_1998

Purwanti, Y. (2005). Analisis Rasio Keuangan dalam Memprediksi Kondisi


Keuangan Financial Distress Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di
Bursa Efek Jakarta. Skripsi Universitas Islam Indonesia

LAMPIRAN
Analisis Z-Score
Persamaan

Altman

Z-Score

untuk

perusahaan

perbankan

yang

digunakan adalah sebagai berikut :

Z Score=6,56 x1 +3,26 x 2 +6,72 x 3 +1,05 x 4

1. Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk

Z Score=( 6,56 0,145 ) + ( 3,26 0,004 ) + ( 6,72 0,013 ) + ( 1,05 0,144 )=1,177
2. Bank ICB Bumiputera Tbk

Z Score=( 6,56 0,083 ) + ( 3,26 0,010 )+ ( 6,72 0,001 )+ (1,05 0,138 )=0,664
3. Bank Capital Indonesia Tbk

Z Score=( 6,56 0,091 ) + ( 3,26 0,026 )+ ( 6,72 0,011 ) + ( 1,05 0,109 ) =0,870
4. Bank Ekonomi Raharja Tbk

Z Score=( 6,56 0,109 ) + ( 3,26 0,085 ) + ( 6,72 0,010 ) + ( 1,05 0,118 )=1,183
5. Bank Central Asia Tbk

Z Score=( 6,56 0,128 ) + ( 3,26 0,103 ) + ( 6,72 0,033 ) + ( 1,05 0,569 ) =1,995
6. Bank Bukopin Tbk

59

52

Z Score=( 6,56 0,111 ) + ( 3,26 0,044 ) + ( 6,72 0,016 ) + ( 1,05 0,080 ) =1,06
7. Bank Negara Indonesia Tbk

Z Score=( 6,56 0,181 ) + ( 3,26 0,060 )+ ( 6,72 0,027 ) + ( 1,05 0,241 )=1,817
8. Bank Nusantara Parahyangan Tbk

Z Score=( 6,56 0,074 )+ ( 3,26 0,048 ) + ( 6,72 0,014 )+ ( 1,05 0,072 )=0,812
9. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk

Z Score=( 6,56 0,170 ) + ( 3,26 0,100 ) + ( 6,72 0,043 ) + ( 1,05 0,352 )=2,100
10. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk

Z Score=( 6,56 0,284 )+ ( 3,26 0,028 ) + ( 6,72 0,017 )+ (1,05 0,150 )=2,226
11. Bank Danamon Indonesia Tbk

Z Score=( 6,56 0,347 )+ (3,26 0,098 ) + ( 6,72 0,035 ) + ( 1,05 0,422 ) =3,274
12. Bank Pundi Indonesia Tbk

Z Score=( 6,56 0,035 ) + ( 3,26 0,035 )+ ( 6,72 0,009 )+ ( 1,05 0,185 )=0,370
13. Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk

Z Score=( 6,56 0,179 ) + ( 3,26 0,039 ) + ( 6,72 0,021 ) + ( 1,05 0,157 )=1,607
14. Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk

Z Score=( 6,56 0,199 ) + ( 3,26 0,043 ) + ( 6,72 0,034 ) + ( 1,05 0,237 )=1,923

15. Bank QNB Kesawan Tbk

Z Score=( 6,56 0,152 ) + ( 3,26 0,002 ) + ( 6,72 0,007 ) + ( 1,05 0,631 ) =1,606
16. Bank Mandiri (Persero) Tbk

53

Z Score=( 6,56 0,246 )+ (3,26 0,072 )+ ( 6,720,032 )+ (1,05 0,326 )=1,976


17. Bank Bumi Artha Tbk

Z Score=( 6,56 0,122 ) + ( 3,26 0,081 ) + ( 6,72 0,022 ) + ( 1,05 0,126 )=1,345
18. Bank CIMB Niaga Tbk

Z Score=( 6,56 0,192 ) + ( 3,26 0,067 ) + ( 6,72 0,029 ) + ( 1,05 0,158 ) =1,839
19. Bank Internasional Indonesia Tbk

Z Score=( 6,56 0,174 )+ ( 3,26 0,034 )+ ( 6,72 0,015 )+ ( 1,05 0,210 )=1,574
20. Bank Permata Tbk

Z Score=( 6,56 0,154 )+ ( 3,26 0,010 ) + ( 6,72 0,014 )+ ( 1,05 0,117 )=1,260
21. Bank Sinarmas Tbk

Z Score=( 6,56 0,073 ) + ( 3,26 0,032 )+ ( 6,72 0,019 ) + ( 1,05 0,174 ) =0,894
22. Bank of India Indonesia Tbk

Z Score=( 6,56 0,160 ) + ( 3,26 0,067 ) + ( 6,72 0,029 ) + ( 1,05 0,625 )=2,119

23. Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk

Z Score=( 6,56 0,197 )+ (3,26 0,105 ) + ( 6,72 0,042 ) + ( 1,05 0,574 )=2,520
24. Bank Victoria International Tbk

Z Score=( 6,56 0,127 )+ (3,26 0,049 ) + ( 6,72 0,018 ) + ( 1,05 0,059 )=1,176
25. Bank Artha Graha International Tbk

Z Score=( 6,56 0,106 )+ (3,26 0,003 ) + ( 6,72 0,002 ) + ( 1,05 0,051 )=0,772
26. Bank Mayapada International Tbk

54

Z Score=( 6,56 0,038 ) + ( 3,26 0,033 ) + ( 6,72 0,020 ) + ( 1,05 0,565 ) =1,085
27. Bank Windu Kentjana International Tbk

Z Score=( 6,56 0,108 ) + ( 3,26 0,023 ) + ( 6,72 0,020 ) + ( 1,05 0,137 )=1,062
28. Bank Mega Tbk

Z Score=( 6,56 0,089 ) + ( 3,26 0,047 ) + ( 6,72 0,024 )+ (1,05 0,108 )=1,012
29. Bank OCBC NISP Tbk

Z Score=( 6,56 0,151 ) + ( 3,26 0,053 )+ ( 6,72 0,015 ) + ( 1,05 0,177 )=1,450
30. Bank Pan Indonesia Tbk

Z Score=( 6,56 0,229 ) + ( 3,26 0,071 )+ ( 6,72 0,020 ) + ( 1,05 0,116 )=1,990

31. Bank Himpunan Saudara 1906 Tbk

Z Score=( 6,56 0,138 ) + ( 3,26 0,034 ) + ( 6,72 0,021 ) + ( 1,05 0,209 )=1,377