Anda di halaman 1dari 26

Hukum Jaminan

Latar belakang timbulnya apa yang dinamakan jaminan


Ketika terjadi hubungan pinjam meminjam maka timbul hak dan kewajiban, ketika terjadi
wan prestasi maka disinilah timbulnya pemikiran mengenai apa yang dinamakan jaminan.
Yang dipelajari dalam hokum jaminan
adalah persoalan kredit yang bersangkut atau berkaitan dengan pihak bank.
Istilah dan Pengertian Hukum Jaminan
Istilah
Hokum jaminan berasal dari terjemahan Zakerheidessteling atau Security of law
Pengertian
1. Menurut Sri sudewi masngun sofwan
Hukum jaminan adalah mengatur konstruksi yuridis yang memungkinkan pemberian fasilitas
kredit dengan menjaminkan benda2 yang dibeli sebagai jaminan. Peraturan yang demikian
harus cukup meyakinkan dan memberikan kepastian hokum bagi lembaga2 kredit baik dari
dalam negeri maupun luar negeri
Secara Ringkas :
Dalam pemberian jaminan adakalanya benda yang dibeli menjadi jaminan
2. J Satrio
Hukum jaminan adalah peraturan hokum yang mengatur jaminan2 piutang seorang kreditur
terhadap debitur
3. Salim HS SH MS
Hukum jaminan adalah keseluruhan dari kaedah2 hukum yang mengatur hubungan hokum
antara pemberi dan penerima jaminan dalam kaitannya dengan pembebanan jaminan untuk
mendapatkan fasilitas kredit

Jadi pengertian jaminan secara umum adalah


Suatu benda yang dijadikan tanggungan bagi sebuah perjanjian hutang piutang antara
kreditur dan debitur.
ASAS-ASAS HUKUM JAMINAN
1. Asas Publicitiet
-

Asas bahwa semua hak baik hak tanggungan hak fidusia dan hipotik harus didaftarkan
Hak tanggungan

Objek benda jaminan adalah tanah berikut atau tidak berikut dengan apa yang ada
diatasnya maka aturan hokum Yang mengaturnya adalah hak tanggungan
Hak fidusia
Objek jaminan adalah benda bergerak
Ex : mobil, Honda, perabot2
Benda yang akan menjadi jaminan masih tetap dikuasai. Aturan hokum yang mengaturnya
disebut lembaga Fidusia
Benda yang akan menjadi jaminan tapi tidak dikuasainya maka aturan hokum yang
mengaturnya disebut pengadaian
Hipotik
Hipotik digunakan apabila benda yang sebagai jaminan berupa kapal yang berbobot minimal
20 ton
Hak2 yang dijadikan sebagai jaminan ia wajib didaftarkan yaitu dimasing2 instansi yang
berwenang terhadap benda tersebut.
Kegunaan didaftarkan adalah
Supaya pihak ketiga tahu bahwa benda tersebut sedang dijaminkan untuk sebuah hutang
atau dalam pembebanan hutang
Asas publicitiet untuk melindungi pihak ketiga yang beritikat baik
2. Asas specialitiet
Bahwa hak tanggungan, hak fidusia dan hipotik hanya dapat dibebankan atas persil (satuan
tanah) atau atas barang2 yang sudah terdaftar atas nama orang tertentu
Secara ringkas
Bahwa sesuatu benda yang akan dijaminkan sudah didaftarkan
3. Asas tidak dapat dibagi
Yaitu asas dapat dibaginya hutang tidak dapat mengakibatkan dapat dibaginya hak
tanggungan, hak fidusia, hipotik walaupun telah dilakukan pembayaran sebagian
Contoh :
A berhutang ke Bank 100 juta dengan jaminan sebidang tanah, dan sebuah mobil. Tanah nilai
taksirannya 100 juta dan mobil nilai taksirannya 60 juta, apabila hutang ini telah 50 %
diselesaikan maka nilai jaminannya hanya sebatas 1 benda jaminan tapi dengan begitu walau
hutang sudah mengecil tapi jaminan tidak bisa dibagi atau diambil
4. Asas inbezittsteling
Barang jaminan gadai harus berada pada penerima gadai
5. Asas horizontal
Yaitu bangunan dan tanah bukan merupakan satu kesatuan hal ini dapat dilihat dalam
penggunaan hak pakai, hak guna bangunan
EX :
Tahun 1985 Penjamin Apartemen / Rusun

Untuk apartemen atau rusun maka ketika dijadikan sebagai jaminan sebuah hutang maka
lembaga jaminannya adalah Fidusia.
SISTIM PENGATURAN HUKUM JAMINAN
Ada 2 sistem hokum :
1. Sistem terbuka
Boleh disimpangi
2. Sistem tertutup
Tidak Boleh disimpangi tunduk oleh peraturan2 yang telah ditetapkan, tidak dapat
mengadakan hak2 jaminan baru selain yang telah ditetapkan dalam Undang2
System pengaturan hokum perjanjian adalah
System terbuka artinya
Orang dapat melakukan hokum perjanjian mengenai apapun juga baik yang sudah ada
pengatur aturannya dalam KUHPerdata (Nominat) maupun yang tidak diatur dalam
KUHPerdata (Innominat).
SUMBER HUKUM JAMINAN
Sumber hokum jaminan ada ditemukan dalam
1. BUKU KE II KUHPerdata
Antara lain tentang gadai dan hipotik
2. Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD)
Terutama yang berkaitan Hipotik kapal laut
3. Undang2 No 5 tahun 1960
tentang peraturan dasar Pokok agrarian
4. Undang-Undang No 4 tahun 1996
tentang hak tanggungan atas tanah beserta benda-benda yang berkaitan dengan tanah
5. Undang-undang No 42 tahun 1949
Tentang Fidusia
6. Undang-undang no 21 Tahun 1992
Tentang pelayaran
o Dengan keluarnya atau diundangkan nya UU no 5 tahun 1960 maka dicabutnya BUKU KE II
BW kecuali yang tidak dicabut tentang gadai dan hipotik
o Dengan keluar nya Undang-Undang 4 tahun 1996 tentang hak tanggungan maka ketentuan
hipotik tentang tanah menjadi tercabut juga
Hingga saat ini yang ada dalam BW adalah Gadai dan sebagian hipotik

Pranata Jaminan dalam hokum perdata


1. Cara terjadinya :
a. Yang lahir karena Undang-Undang
Jaminan yang lahir karena Undang-undang yang merupakan jaminan yang keberadaannya
ditunjuk Undang-Undang tanpa ada perjanjian para pihak.
Maksudnya
Jaminan yang lahir karena uu karena sebenarnya dalam perjanjian pinjam-meminjam tidak
ada benda khusus yang diikat / dijadikan jaminan. Hal ini diatur dalam pasal 1131 yang
menyatakan bahwa segala kebendaan milik debitur baik yang sudah ada maupun yang baru
akan ada dikemudian hari akan menjadi tanggungan untuk segala perikatannnya. Kalau
terjadi wan prestasi maka untuk mengajukan pengadilan harus melalui : Gugatan perdata
dalam berpekara di pengadilan setelah mengajukan gugatan maka minta sita jaminan

Contoh kasus di Bank


1. Memakai Pasal 1131
Ada hutang piutang yang memakai jaminan di sebuah Bank, nilai kredit 2 milyar karena ada
isu sunami maka harga tanah turun maka ketika terjadi wan pretasi tanah tersebut di lelang
oleh bank hanya mendapat 1.7 milyar, untuk menutupi kekurangan maka dipakailah pasal
1131.
2. Memakai Pasal 1132
Dengan demikian berarti seluruh harta benda debitur menjadi jaminan bagi semua kreditur,
dalam hal debitur tidak dapat memenuhi kewajiban hutangnya kepada kreditur maka
kebendaan milik debitur tersebut akan di jual kepada umum dan hasil penjualannya akan
dibagi antara para kreditur seimbang dengan besr piutang masing2 (1132).
b. Yang lahir karena di perjanjian
Selain jaminan yang ditunjuk oleh Undang-Undang tentang sebagai bagian dari asas
konsesualitas dalam hokum perjanjian, Undang-Undang memungkinkan para pihak untuk
melakukan perjanjian penjaminan yang ditujukan untuk menjamin pelunasan atau
pelaksanaan kewajiban debitur kepada kreditur, perjanjian2 penjaminan ini merupakan
perjanjian tambahan yang melekat pada perjanjian hutang piutang diantara debitur dengan
kreditur.
Contoh :
Hipotik, hak tanggungan, fidusia, perjanjian penanggungan, perjanjian garansi dan lain-lain.
Karena lahir dari perjanjian maka dari awalnya telah dipersiapkan dan dalam hal ini ada
perjanjian tambahan (assesoir) yang isinya menyangkut tentang pengikatan jaminan
Secara ringkas
Penjaminan yang lahir melalui undang-undang Tidak diperjanjikan, penagihannya susah
dilakukan, kalau krediturnya banyak harus dibagi, kalau penjaminan lahir melalui perjanjian
penagihannya mudah melalui pelelangan yang dilakukan oleh badan negara.

2. Objeknya
a. Yang berobjek benda bergerak
- Gadai
Adalah suatu hak yang diperoleh kreditur atas waktu kebendaan bergerak yang diserahkan
kepadanya oleh seorang debitur dan seorang lain atas nama debitur yang memberikan
kekuasaan kepada kreditur untuk mengambil pelunasan dari barang tersebut secara di
dahulukan dari pada kreditur lainnya, atau dapat disbut kreditur preveren (kreditur yang
didulukan)
- Fidusia
Hak jaminan atas benda bergerak baik yang berwujud atau tidak berwujud dan benda tidak
bergerak khususnya bangunan yang tidak dapat di bebani hak tanggungan sebagai mana yang
dimaksud dalam UU No 4 1996 tentang hak tanggungan yang tetap berada dalam
penguasaan pemberi Fidusia sebagai agunan bagi pelunasan utang tertentu yang memberikan
kedudukan yang diutamakan kepada penerima fidusia terhadap kreditur lainnya.
b. Yang berobjek benda tidak bergerak/benda tetap
Kalau rumah/bangunan yang berada diatas tanah orang lain tetapi bisa diikat dengan
jaminan fidusia
c. Yang berobjek benda berupa tanah
Diikat dengan hak tanggungan.
Hak tanggungan Adalah :
- Hak tanggungan atas tanah beserta benda2 yang berkaitan dengan tanah adalah hak jaminan

3.
a.

b.

c.

yang dibebankan pada hak atas tanah sebagaimana dimaksud dalam UU No 5 tahun
1996 terikat atau tidak terikat, benda-benda lain yang merupakan satu kesatuan dengan
tanah itu, untuk pelunasan hutang tertentu yang memberikan kedudukan yang diutamakan
pada kreditur tertentu terhadap kreditur lainnya.
Sifatnya
Termasuk jaminan umum
Jaminan yang diberikan bagi kepentingan semua kreditur dan menyangkut semua harta
debitur, sebagaimana diaturPasal 1131 BW
Termasuk jaminan khusus
Jaminan dalam bentuk penunjukan atau penyerahan benda tertentu secara khusus sebagai
jaminan atas pelunasan kewajiban atau yang debitur kepada kreditur tertentu yang hanya
berlaku untuk kreditur tertentu tersebut.
Yang bersifat jaminan kebendaan
Adanya benda tertentu yang dijadikan jaminan
Ilmu Hukum tidak membatasi kebendaan yang dapat dijadikan jaminan, hanya saja
kebendaan yang dijaminkan tersebut haruslah merupakan milik dari pihak yang memberikan
jaminan kebendaan tersebut.

d. yang bersifat perorangan


Ada pihak ketiga yang berjanji pada kreditur bahwa jika debitur tidak membayar hutangnya
maka pihak ke III yang akan membayarnya dengan catatan di lelang dulu harta kekayaan
Debitur
Dalam kitab UU hokum perdata dikenal jaminan Orang atau penanggungan Hutang atau
disebut juga dengan BORGTOEHT.
Menurut Subekti jaminan perorangan adalah :
Suatu perjanjian antara seorang berpiutang dengan seorang ketiga yang menjamin di
penuhinya kewajiban si berhutang / Debitur ia bahkan dapat diadakan di luar (tanpa
Siperhutang tersebut).
Pada dasarnya penanggungan ini untuk kepentingan kreditur namun demikian penanggungan
ini tidak mengubah status debitur menjadi kreditur Freveren sehingga jika terjadi kelalaian
debitur maka tetap berlaku ketentuan pelunasan secara proposional.
Menurut pasal 1831 BW untuk membayar hutang debitur tersebut maka barang kepunyaan
debitur harus di sita dan dijual terlebih dahulu untuk melunasi hutangnya.
4. Kewenangan menguasai benda jaminan
Dari kewenangan menguasai benda jaminan, penjaminan dibedakan antara :
a. yang menguasai benda jaminan
Contoh :
Gadai dan Hak retensi (Hak untuk menahan benda2 yang ada di tangannya)
Bagi kreditur penguasaan benda ini akan lebih aman terutama untuk benda bergerak yang
mudah di pindahtangankan dan berubah nilainya,
b. Tanpa menguasai benda jaminan
Contoh :
Hak hipotik dan fidusia
Hal ini menguntungkan debitur karena tetap dapat memanfaatkan benda jaminan.
Kegunaan jaminan kredit adalah untuk :
1. memberikan hak dan kekuasaan kepada Bank untuk mendapat pelunasan dari aggunan apabila
debitur melakukan cidera janji yaitu untuk membayar kembali hutangnya pada waktu yang
telah ditetapkan dalam perjanjian.
2. Menjamin agar debitur berperan serta dalam transaksi untuk membiayaai usahanya sehingga
kemungkinan untuk meninggalkan usaha atau proyeknya dengan merugikan diri sendiri atau
perusahaannya dapat di cegah
3. Memberikan dorongan kepada debitur untuk memenuhi janjinya khususnya mengenai
pembayaran kembali sesuai dengan syarat yang disetujui.
Dapatlah disimpulkan bahwa jaminan kredit Bank berfungsi untuk menjamin pelunasan
hutang debitur bila debitur cidera janji atau pailit

Jaminan kredit akan memberikan jaminan kepastian hokum kepada pihak perbankan bahwa
kreditnya akan tetap kembali dengan cara mengexekusi jaminan kredit perbankannya.
Dalam perbankan ada 2 istilah dalam jaminan yaitu :
1. Jaminan
Termasuk jaminan pokok yaitu kepercayaan dalam hubungan hokum hutang piutang.
2. Agunan
Termasuk jaminan tambahan dalam hubungan hokum hutang piutang

GADAI / PAD ( 1150 1160 BW )


Gadai menurut salim HS
Adalah suatu perjanjian yang dibuat antara kreditur dengan debitur dimana debitur
menyerahkan benda bergerak kepada kreditur untuk menjamin pelunasan suatu hutang
gadai ketika debitur lalai melaksanakan prestasinya.
Gadai dikonstruksikan sebagai perjanjian accesoir (tambahan) sedangkan perjanjian
pokoknya adalah perjanjian pinjam meminjam uang dengan jaminan benda bergerak apabila
debitur dalam melaksanakan kewajibannya, barang yang telah dijaminkan oleh debitur
kepada kreditur dapat dilakukan pelelangan untuk melunasi hutang debitur.
Gadai Tanah pertanian UU No 56 tahun 1960
Gadai tanah ini bukan dikonstruksikan sebagai perjanjian tambahan, tetapi merupakan
perjanjian yang berdiri sendiri dimana yang jadi objeknya adalah tanah. Kalau sifatnya
sebagai jaminan maka ketika perjanjian pokok terjadi wan prestasi, maka barang gadai
tidak akan dilakukan pelelangan
Unsur-unsur yang tercantum dalam pengertian gadai
1. Adanya subjek gadai yaitu :
Kreditur sebagai penerima gadai dan debitur sebagai pemberi gadai
2. Adanya Objek gadai yaitu :
Barang bergerak baik yang berwujud maupun tidak berwujud
3. Adanya kewenangan kreditur adalah :
Kewenangan untuk melakukan pelelangan terhadap barang debitur, hal ini di sebabkan
karena debitur tidak melaksanakan prestasi sesuai dengan kesepakatan walaupun debitur
sudah diberikan somasi
Di Indonesia lembaga yang ditunjuk untuk menerima dan menyalurkan kredit berdasarkan
hokum gadai adalah perum gadai, perusahaan ini didirikan berdasarkan :

- PP No 7 Tahun 1969 tentang perusahaan jawatan pengadaian.


- PP No 10 Tahun 1970 perubahan PP No 7 Tahun 1969 tentang perusahaan jawatan
pengadaian.
- PP No 103 tahun 2000 tentang perum pengadaian.
Usaha yang paling menonjol yang dilakukan perum penggadaian adalah menyalurkan
kredit, berdasarkan hokum gadai artinya bahwa barang yang digadaikan itu harus
diserahkan oleh pemberi gadai kepada penerima gadai sehingga barang-barang itu berada di
bawah kekuasaan pemberi gadai asas ini disebut IN BEZIT STELING
Prosedur dan syarat-syarat pemberian dan pelunasan pinjaman gadai
Setiap nasabah yang ingin mendapatkan pinjaman dari penggadaian keinginan kepada para
[penerima gadai dengan menyerahkan objek gadai kepada penaksir gadai.

1.
2.
3.
a.
b.
c.

Penaksir gadai adalah :


Merupakan orang yang ditunjuk oleh lembaga penggadaian untuk menaksir objek gadai.
Penaksir gadai melakukan aktivitas-aktivitas sebagai berikut :
Menerima barang jaminan dari nasabah dan menetapkan besar nilai tafsiran dan uang
pinjamannya.
Mencatat nilai taksiran dan uang pinjaman pada buku tafsiran kredit dan menerbitkan SBK
( surat bukti kredit ).
SBK dibuat rangkap 2
Lembar 1 diserahkan kepada nasabah
Kiter tengah dan luar lembar kedua ditempatkan pada barang.
Kitter dalam serta badan dikirim ke kasir.
JANGKA WAKTU GADAI
N
o

Uang Pinjaman

Sewa modal/15 Hari

Max waktu kredit

Max sewa Modal

1,125 %

120 Hari

10 %

5.000 S/d 40.000

40.500 s/d 150.000

1,15 %

120 Hari

12 %

151.000 s/d 500.000

1,75 %

120 Hari

14 &

510.000 s/d ke atas

1,75 %

120 Hari

14 %

SE No 16/OP 00211/2001 tentang petunjuk pelaksanaan SK Direksi


No 020/OP 00211/2001 Tentang perubahan tariff sewa modal
Hapusnya Gadai
Ada 2 cara hapusnya hokum gadai ( Pasal 1152 )

1. Hapus barang gadai itu hapus dari pemegang gadai


2. Hilangnya barang gadai/dilepaskan dari kekuasaan penerima gadai (surat bukti kredit)
PELELANGAN BARANG GADAI
Dalam surat bukti kredit telah di tentukan tanggal mulainya kredit dan tanggal jatuh
temponya atau taggal pengembalian kredit, disamping itu di dalam SBK telah ditentukan
syarat jika sampai dengan tanggal jatuh tempo pinjaman tidak dilunasi/diperpanjang maka
barang jaminan akan dilelang pada tanggal yang sudah ditentukan.
Tanggal jatuh tempo berbeda dengan tanggal pelelangan, tenggang waktu antara jatuh
tempo dengan pelelangan berselisih 20 hari hal mana di maksudkan untuk memberikan
kesempatan kepada debitur untuk melunasi pinjaman pokok beserta bunganya.
Apabila hasil pelelangan ada kelebihan maka sisanya akan dikembalikan kepada debitur.
Constitutum Porsessorium adalah Berlanjutnya sebuah penguasaan
Hak milik dipindah tangan kan tetapi benda masih dikuasai penguasa sebelumnya

Fidusia asal kata dalam bahasa belanda artinya kepercayaan, sedang dalam literature lain
eigendum overracht atau peralihan kepercayaan
Di dalam pasal 1 ayat 1 UU no 42 tahun 1999 Pengertian Fidusia
adalah pengalihan hak kepemilikan suatu benda atas dasar kepercayaan dengan ketentuan
bahwa benda yang hak kepemilikan nya di alihkan tetap dalam penguasaan pemilik benda.
Jaminan Fidusia
Hak jaminan atas benda bergerak baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud dan
benda tidak bergerak khususnya bangunan yang tidak dapat dibebani hak tanggungan
sebagaimana di maksud dalam UU No 4 tahun 1996 tentang hak tanggungan yang tetap
berada dalam pengguasaan pemberi fidusia sebagai agunan bagi pelunasan hutang tertentu
yang memberikan kedudukan yang diutamakan kepada penerima fidusia terhadap kreditur
lainnya
Menurut DR A Hamsah dan Senjun Manulang
Fidusia adalah :
Suatu cara pengoperan hak milik dari pemiliknya (Debitur) berdasarkan adanya perjanjian
pokok (perjanjian hutang piutang) kepada kreditur, akan tetapi yang diserahkan hanya
haknya saja secara Yuridis Levering dan hanya dimiliki oleh kreditur secara kepercayaan
saja (sebagai jaminan hutang debitur)sedang kan barangnya tetap dikuasai oleh debitur
tetapi bukan lagi sebagai eigenaar (pemilik) maupun beziter (menguasai) melainkan hanya
sebagai Detentor atau Holder dan atas nama kreditur Eigenaar.

Secara ringkas
Suatu cara pengoperan hak milik dari Debitur kepada kreditur berdasarkan adanya
perjanjian hutang piutang, yang diserahkan hanya haknya saja secara Yuridise Levering
sedang kan barangnya tetap dikuasai oleh debitur tetapi bukan lagi sebagai eigenaar
(pemilik) maupun beziter (menguasai) melainkan hanya sebagai Detentor atau Holder dan
atas nama kreditur Eigenaar.

Pasal 1977 BW
Beziter yang menguasai secara hokum dianggap memiliki
Kalau ada klausula dalam perjanjian jaminan ketika debitur wan prestasi maka benda
jaminanmenjadi milik kreditur, maka perjanjian tersebut batal demi hokum. Dasar

hukumnya Pasal 12 UU no 4 tahun 1996 , Berlaku untuk semua benda jaminan oleh sebab
itu ini merupakan suatu asaz
RUMUS
Jaminan Fidusia
Fidusia
Jaminan
Pjjian Hut-Piu

:
:
:
:

.
Pengalihan secara kepercayaan secara yuridisnya saja.
Perjanjian Asesoir
Jaminan pokok

Lembaga fidusia di ciptakan dari berbagai sebab :


Hukum gadai tidak memenuhi harapan dari debitur, harapan tsb adalah bila seorang
pengusaha hendak menjalankan usaha tapi benda yang diperlukan untuk usaha tersebut
dikuasai oleh kreditur, kurang memuaskan.

1.

2.
a.
b.

Latar belakang timbulnya lembaga fidusia


Sebagaimana dipaparkan oleh para ahli adalah karena ketentuan UU yang mengatur tentang
lembaga gadai mengandung banyak kekurangan tidak memenuhi kebutuhan masyarakat dan
tidak dapat mengikuti perkembangan masyarakat hambatan itu meliputi :
Adanya asaz In bezit stelling
asas yang menyaratkan bahwa kekuasaan atas benda nya harus pindah/berada pada
pemegang gadai sebagai mana diatur dalam pasal 1152 BW, ini merupakan hambatan yang
berat bagi gadai atas benda2 bergerak yang berwujud karena pemberi gadai tidak dapat
menggunakan benda2 tersebut untuk keperluannya
Gadai atas surat2 piutang
Kelemahan dalam pelaksanaan gadai atas surat2 piutang ini karena :
Tidak adanya ketentuan tentang cara penarikan dari piutang2 oleh si pemegang gadai
Tidak adanya ketentuan mengenai bentuk tertentu bagaimana gadai itu harus dilaksanakan

3. Gadai kurang memuaskan


Karena ketiadaan kepastian, berkedudukan sebagai kreditur terkuat sebagaimana tampak
dalam hal membagi eksekusi kreditur lain yaitu pemegang hak PRIVILEGE dapat kedudukan
lebih tinggi dari pada pemegang gadai
DASAR HUKUM JAMINAN FIDUSIA
Yang menjadi dasar hokum berlakunya Fidusia
1. Arrest Thoge road 1929, Tgl 25 Januari 1929
Tentang Bierbrouwerij Arrest (negeri Belanda)
2. Arrest Hogger Rechshof 18 Agustus 1932
Tentang BPM-Clynet Arrest (Indonesia)
3. UU No 42 Tahun 1999
Tentang jaminan Fidusia
Objek Dan Subjek jamninan Fidusia
Dengan keluarnya UU 42 1999 terjadi pergeseran atau diperluasnya objek dari jaminan
fidusia, sebelum keluar UU ini Cuma benda tidak bergerak, setelah keluar UU ini menjadi
benda2 tidak bergerak yang tidak bisa. dijaminakan sebagai hak tanggungan
Catatan :
Sebelum Keluar UU 42 tahun 1999 yang menjadi objek jaminan fidusia adalah benda
bergerak yang terdiri dari benda dalam persediaan, benda dagangan, piutang, peralatan
mesin dan kendaraan bermotor dengan keluarnya UU no 42 tahun 1999 mak objek jaminan
fidusia diberikan pengertian yang luas.
Objek Fidusia di bagi 2 yaitu :
1. Benda Bergerak baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud

2. Benda tidak bergerak khususnya bangunan yang tidak dibebani hak tanggungan.
Dengan adanya UU No 16 Tahun 1995 tentang rumah susun maka terhadap rumah susun
tersebut kalau akan dijaminkan atas suatu hutang meka lembaga jaminannya adalah fidusia
Subjek Fidusia
Subjek dari jaminan fidusia adalah pemberi dan penerima fidusia, pemberinya adalah orang
perorangan atau koorporasi, pemilik benda yang menjadi objek jaminan fidusia sedangkan
penerima fidusia adalah orang perorangan atau kooperasi yang mempunyai piutang yang
pembayarannya dijamin dengan jaminan fidusia.
Pembebanan, bentuk dan substansi jaminan fidusia
Berawal dari sebuah perjanjian pokok (hutang-piutang), yang dalam perjanjian pokok itu ada
pasal yang mengatur bahwa akan ada sebuah perjanjian Fidusia.

Pembebanan jaminan Fidusia diatur dalam pasal 4 sampai dengan pasal 10 UU No 42


1999.
Jaminan Fidusia adalah perjanjian ikutan dari suatu perjanjian pokok (hutang piutang) yang
menimbulkan kewajiban bagi para pihak untuk memenuhi suatu prestasi
Pendaftaran Jaminan Fidusia
Setelah akta jaminan Fidusia yang dibuat di notaries maka dilakukan pendaftaran ke kantor
pendaftaran fidusia.
Pendaftaran jaminan fidusia diatur dalam pasal 11, pendaftaran dilakukan pada kantor
pendaftaran fidusia yang berada dalam lingkup tugas departemen kehakiman dan HAM.
Tujuan Pendaftaran adalah :
1. Memberikan kepastian hokum kepada para pihak yang berkepentingan

2. Memberikan hak yang didahulukan atau priverent kepada penerima fidusia


terhadap kreditur yang lain.
Dalam sertifikat jaminan fidusia tercantum kata-kata demi keadilan berdasarkan
ketuhanan
yang
maha
esa
.
Sertifikat
jaminan
ini
mempunyai
kekuatan EXEKUTORIAL yang sama dengan putusan pengadilan yang telah memperoleh
kekuatan hokum yang pasti.
Apabila debitur cedera janji penerima fidusia mempunyai hak untuk menjual benda yang
menjadi objek jaminan fidusia atas kekuasaannya sendiri.
Hapusnya dan Roya Jaminan Fidusia adalah :
Tidak berlakunya lagi jaminan Fidusia
Ada 3 sebab Hapusnya jaminan Fidusia
1. Pertama hapusnya hutang yang dijamin dengan fidusia
Contoh : Hutang Telah dibayar lunas oleh debitur
2. Pelepasan Hak atas jaminan fidusia oleh penerima fidusia
Contoh :
Lola hutang ke Bank Mandiri sebesar 3 milyar, ketika lola wan prestasi ternyata setelah
dihitung kekayaannya kurang dari 3 Milyar (lihat masalah harga tanah di padang dimana dulu
harga tanah daerah pantai harganya tinggi setelah adanya sunami aceh dan sering terjadi
gempa maka harga tanah diderah sekitar pantai jadi murah), jalan keluarnya adalah
kreditur membuat atau mengajukan permohonan bahwa lola failit tapi karena yang bisa
mengajukan pailit adalah kreditur yang berstatus kongkuren oleh karena itu maka kreditur

mengajukan pelelangan terhadap harta jaminan dengan alasan wan prestasi dan
kekurangannya di jatuhkan ke proses pailit.
3. Musnahnya barang yang menjadi Objek Fidusia
Musnahnya benda jaminan fidusia tersebut tidak menghapuskan claim asuransi
Roya
Sebuah Sertifikat apa bila dijadikan jaminan pada kreditur maka akan ada ditulis
keterangannya pada sertifikat tersebut yang menyatakan bahwa sertifikat tersebut
sedang dijaminakan pada kreditur/berstatus sedang dijaminakan, tulisan tersebut memakai
tinta merah apabila kelak debitur membayar lunas/menyelesaian pembayarah hutang maka
tanda yang bertulis merah tersebut di coret dengan tanda silang yang menyatakan bahwa
sertifikat tersebut sudah tidak menjadi jaminan dari suatu Bank. Inilah yang
dinamakan ROYA.
Exekusi jaminan fidusia
Penyitaan penjualan benda yang menjadi objek jaminan fidusia
Alasan dilakukan exekusi jaminan fidusia
1. Karena perjanjian pokok tidak dilaksanakan dengan baik.

2. Karena Kreditur ingkar janji atau wan prestasi atau hutang tidak dibayar.
Ada 3 cara Exekusi Benda jaminan Fidusia
1. pelaksanaan title Exekutorial oleh pemberi dan penerima fidusi yaitu tulisan yang
mengandung putusan pengadilan yang memberi dasar penyitaan dan lelang sita
tanpa perantara hakim

2. Penjualan benda yang menjadi objek jaminan Fidusia atas kekuasaan penerima
fidusia sendiri melalui pelelangan umum.
3. Penjualan dibawah tangan yang dilakukan penanda tanganan kesepakatan
Hak tanggungan
Juga merupakan perjanjian jaminan
Hak tanggungan Adalah :
Hak jaminan yang dibebankan pada hak atas tanah sebagaimana yang dimaksud di dalam UU
No 5 tahun 1960 berikut atau tidak berikut benda2 lain yang merupakan satu kesatuan
dengan tanah itu untuk pelunasan hutang tertentu yang menberikan kedudukan yang
diutamakan kepada kreditur tertentu terhadap kreditur2 lainnya.
Unsur2nya
1. Hak jaminan yang dibebankan hak atas tanah.

2. Hak atas tanah berikut atau tidak berikut benda lain yang merupakan satu
kesatuan dengan tanah.
3. Untuk pelunasan hutang tertentu.
4. Hak preferen sama dengan kedudukan yang diutamakan.
Memberikan kedudukan yang diutamakan kepada kreditur tertentu terhadap kreditur2
lainnya lazim disebut Droit de Preference.
Kreditur separatis adalah kreditur yang tidak kena dampak failit.
Guna irah-irah adalah berfungsi sebagai agar kreditur dapat melelang apabila debitur
wanprestasi
Keistimewaan ini ditegaskan dalam pasal 1 ayat 1 dan pasal 20 ayat 1 UU no 4 Tahun 1976
yang berbunyi :
apabila debitur cidera janji kreditur pemegang hak tanggungan berhak menjual objek yang
dijadi kan jaminan melalui pelelangan umum menurut peraturan yang berlaku dan mengambil
pelunasan piutangnya dari hasil penjualan tersebut dengan hak mendahului daripada
kreditur yang lain yang bukan pemegang hak tanggungan atau kreditur pemegang hak
tanggungan dengan perintah yang lebih rendah. Hak yang istimewa ini tidak dipunyai oleh
kreditur bukan pemegang hak tanggungan.
Dari uraian diatas dapat ditemukan ciri hak tanggungan adalah :
1. Memberikan kedudukan yang diutamakan.

2. selalu mengikuti objek yang dijamin dalam tangan siapapun benda itu berada (Droit
De suit)
3. Memenuhi asas, spesialitas dan publisitas dapat mengikat pihak ke tiga dan
memberikan kepastian hukum bagi pihak yang berkepentingan
4. Mudah dan pasti dalam pelaksanaan eksekusinya, kalau ia didaftarkan.
Selain ciri di atas keistimewaan kedudukan hukum, kreditur pemegang hak tanggungan juga
dijamin dengan ketentuan pasal 21 UU No 4 Tahun 1996, apabila pemberi hak tanggungan
dinyatakan failit objek hak tanggungan tidak termasuk ke dalam budel kefailitan pemberi
hak tanggungan sebelum kreditur pemegang hak tanggungan mengambil pelunasan
piutangnya dari hasil penjualan objek hak tanggungan itu.

Objek Hak tanggungan


Ada 5 hak atas tanah yang dijaminkan :
1. Hak milik.

2. HGU
3. HGB

4. Hak pakai baik yang berasal dari tanah hak milik maupun berasal dari hak atas
tanah negara
5. Hak atas tanah berikut bangunan, tanaman dan hasil karya yang telah ada atau
akan ada merupakan satu kesatuan dengan tanah tersebut merupakan hak milik
pemegang hak atas tanah yang pembebanannya dengan tegas dinyatakan dalam
akta pemberian hak atas tanah yang bersangkutan.
Subjeknya mengikuti orang yang punya objek
Pengertian Tanah Hak milik
Hak milik adalah hak untuk menikmati kegunaan sesuatu kebendaan dengan leluasa dan
untuk berbuat bebas atas kebendaan itu dengan kedaulatan sepenuhnya asal tidak
bertentangan dengan UU, ketentuan umum dan tidak mengganggu hak orang lain menurut
pasal 570 KUHPer.
Hak milik menurut UU No 5 Tahun 1950 adalah hak turun temurun terkuat dan terpenuh
yang dapat dipunyai orang atas tanah dengan mengingat ketentuan yang tercantum dalam
pasal 6 UUPA (setiap hak atas tanah itu berfungsi sosial)
Subjek Hak milik
a. WNI
b. Badan Hukum yang ditetapkan pemerintah sesuai dengan ketentuan yang berlaku
Ex : Bank pemerintah, badan keagamaan dan badan sosial.
Tata Cara tentang pemberian hak tanggungan.
Ada 2 macam
1. Diberikan langsung oleh debitur
Prosedur pemberian hak tanggungan dengan cara langsung
a. Didahului janji untuk memberikan hak tanggungan sebagai jaminan
pelunasan hutang tertentu yang merupakan tak terpisahkan dari perjanjian
hutang piutang.
Ex :
Dalam perjanjian pokok yang di sebut hanya hutang piutang tapi dalam hal ini ada sedikit
disinggung tentang pelunasannya di jamin oleh hak tanggungan yang akan ada perjanjiannya
tersendiri.
b. Dilakukan dengan pembuatan akte pemberian hak tanggungan (APHT) yang
dibuat oleh PPAT.

c. Objek Hak tanggungan berupa hak atas tanah yang berasal dari konversi
yang telah memenuhi syarat didaftarkan akan tetapi belum dilakukan maka

pemberian hak tanggungan bersamaan dengan permohonan pendaftaran hak


atas tanah yang bersangkutan.

2. Diberikan oleh Kuasa


Prosedur Pemberian hak tanggungan dengan cara melalui surat kuasa pembebanan hak
tanggungan.
a. Wajib dibuat dengan akta Notaris atau akta PPAT.
Yang isinya :
- Tidak memuat kuasa untuk melakukan perbuatan hukum lain daripada pembebanan hak
tanggungan jadi isinya Cuma satu atau semata2 hanya berisi kuasa memasang hak
tanggungan.
- Tidak memuat kuasa substitusi (surat kuasa pengalihan ).
- Mencantumkan secara jelas objek hak tanggungan, jumlah hutang dan nama serta identitas
krediturnya apabila debitur bukan pemberi hak tanggungan.
b. Tidak dapat ditarik kembali atau tidak dapat berakhir oleh sebab apapun
kecuali kuasa tersebut telah dilaksanakan atau karena telah habis jangka
waktunya.

c. Surat kuasa pembebanan hak tanggungan mengenai hak atas tanah yang
sudah terdaftar wajib diikuti dengan pembuatan APHT selambat2nya 1
bulan sesudah diberikan
d. Surat kuasa membebankan hak tanggungan mengenai hak atas tanah yang
belum terdaftar wajib diikuti dengna pembuatan APHT selambat2 3 Bulan
sesudah diberikan.
Ada 2 alasan pembuatan dan penggunaan SKMHT (surat keterangan memegang hak
tanggungan)
1. Alasan Subyektif

a. Pemberian hak tanggungan tidak dapat hadir di hadapan Notaris atau PPAT
untuk membuat akta hak tanggungan.
b. Prosedur pembebanan hak tanggungan panjang
c. Biayanya Tinggi.
d. Kredit yang diberikan jangka pendek.
e. Kredit yang diberikan tidak besar
f. Debitur sangat Bonafit.
2. Alasan Objektif
a

Sertifikat belum diterbitkan

Balik Nama atas tanah pemberi hak tanggungan belum dilakukan.

Pemenuhan, penggabungan tanah belum selesai dilakukan atas nama pemberi


tanggungan.

d Roya atau pencoretan belum dilakukan.


Pendaftaran Hak tanggungan
Diatur dalam pasal 13 sampai dengan 14 UU No 4 Tahun 1996
Tata caranya :
1. Pendaftaran dilakukan di kantor pertanahan.

2. Dilakukan 7 hari setelah ditandatangani


3. Kantor apertanahan mencatat dalam buku tanah hak atas tanah yang menjadi
objek hak tanggungan serta menyalin catatan tersebut pada sertifikat hak atas
tanah yang bersangkutan.
4. Tanggal buku tanah hak tanggungan adalah tanggal hari ke 7 setelah penerimaan
secara lengkap surat2 yang diperlukan bagi pendaftarannya.
5. Hak tanggungan lahir pada hari tanggal buku tanah hak tanggungan dibuatkan.
6. Kantor pertanahan menerbitkan sertifikat hak tanggungan dengan irah2 demi
keadilan berdasarkan Tuhan yang maha esa.
Hapusnya hak tanggungan
1. Hapusnya hutang yang dijamin dengan hak tanggungan

2. Dilepaskan hak tanggungan oleh pemegang hak tanggungan


3. Pembersihan hak tanggungan berdasarkan penetapan peringkat oleh ketua
pengadilan negeri
4. Hapusnya hak atas tanah yang dibebani hak tanggungan .
Eksekusi Hak tanggungan
1. Melalui pelelangan umumsebagaimana diatur pada Pasal 6

2. Eksekusi atas titel Eksekutorial yang terdapat pada sertifikat hak tanggungan.
3. Exsekusi di bawah tangan berdasarkan kesepakatan antara kreditur dengan
debitur.
Setelah hutang selesai dibayar maka akan dilakukan roya.

Penertian Jaminan dan Hukum Jaminan


Jaminan adalah suatu yang diberikan kepada kepada kreditur untuk menimbulkan
keyakinan bahwa debitur akan memenuhi kewajiban yang dapat dinilai dengan uang
yang timbul dari suatu perikatan.

Hukum Jaminan adalah keseluruhan dari kaidah kaidah hukum yang mengatur
hubungan hukum antara pemberi dan penerima jaminan dalam kaitannya dengan
pembebanan jaminan untuk mendapatkan fasilitas/kredit.
Azas hukum jaminan :
1.

asas publicitet : asas bahwa semua hak, baik hak tanggungan, hak fidusia, dan
hipotik harus didaftarkan.

2.

asas specialitet : bahwa hak tanggungan, hak fidusia, dan hak hipotik hanya
dapat dibebankan atas percil atau atas barang barang yang sudah terdaftar
atas nama orang tertentu.

3.

asas tak dapat dibagi bagi : asas dapat dibaginya hutang tidak dapat
mengakibatkan dapat dibaginya hak tanggungan, hak fidusia, hipotik,dan hak
gadai walaupun telah dilakukan pembayaran sebagian.

4.

asas inbezittstelling yaitu barang jaminan ( gadai ) harus berada pada penerima
gadai.

5.

asas horizontal yaitu bangunan dan tanah bukan merupakan satu kesatuan.

Jaminan ada 2 (dua) yaitu :


1.

Jaminan umum yaitu jaminan dari pihak debitur yang terjadi atau timbul dari
undang-undang, yaitu bahwa setiap barang bergerak ataupun tidak bergerak
milik debitur menjadi tanggungan utangnya kepada kreditur. Maka apabila
debitur wanprestasi maka kreditur dapat meminta pengadilan untuk menyita dan
melelang seluruh harta debitur.

2.

Jaminan khusus yaitu bahwa setiap jaminan utang yang bersifat kontraktual,
yaitu yang terbit dari perjanjian tertentu, baik yang khusus ditujukan
terhadap benda-benda tertentu maupun orang tertentu.

Orang lebih memilih Jaminan Khusus karena :


1.

Eksekusi benda jaminannya lebih mudah, sederhana dan cepat jika debitur
melakukan wanprestasi

2.

Kreditur jaminan khusus didahulukan dibanding kereditur jaminan umum dalam


pemenuhan piutangnya.

Jaminan Khusus ada 2 (dua) yaitu :

1.

Jaminan kebendaan adalah jaminan yang berupa hak mutlak atas suatu
benda, mempunyai hubungan langsung atas benda tertentu debitur, dapat
dipertahankan terhadap siapapun, selalu mengikuti bendanya (droit de suite) dan
dapat di peralihkan (contoh : Hipotik, gadai dll).

2.

Jaminan immaterial (perorangan) adalah jaminan yang menimbulkan hubungan


langsung pada perorangan tertentu, hanya dapat dipertahankan terhadap debitur
tertentu, terhadap harta kekayaan debitur umumnya (Contoh borgtocht)

Jaminan Kebendaan ada 2 (dua) yaitu :


1.

Benda Bergerak, lembaga jaminannya adalah : Gadai, Fidusia

2.

Benda Tidak Bergerak lembaga jaminannya : Hypotik dan hak tanggungan

Perjanjian kebendaan dapat dibedakan menjadi 2 macam yaitu :


1.

Perjanjian Pokok adalah Perjanjian antara debitur dan kreditur yang berdiri
sendiri tanpa bergantung pada adanya perjanjian. Contoh : perjanjian kredit bank

2.

Perjanjian tambahan (accesoir) adalah Perjanjian antara debitur dan kreditur


yang diadakan sebagai perjanjian tambahan dari pada perjanjian
Pokok. Contoh : perjanjian pembebanan jaminan, seperti
perjanjian gadai, tanggungan dan fidusia.

Perjanjian Jaminan disebut juga perjanjian tambahan karena timbulnya perjanjian


jaminan sendiri akibat dari adanya perjanjian kredit, yang mana perjanjian kredit sendiri
adalah perjanjian pokok yang akibat dari perjanjian tersebut menimbulkan perjanjian
baru yaitu perjanjian jaminan yang mana merupakan perjanjian tambahan dari
perjanjian pokok.
eksistensi perjanjian tambahan terhadap perjanjian pokok tergantung dari perjanjian
pokoknya, sedangkan eksistensi perjanjian pokok terhadap perjanjian tambahan tidak
tergantung dari perjanjian tambahan dan mandiri.
GADAI
Definisi dari Gadai berdasarkan Pasal 1150 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
(KUHPerd):
Gadai adalah suatu hak yang diperoleh kreditor (si berpiutang) atas suatu barang
bergerak, yang diserahkan kepadanya oleh debitur (si berutang), atau oleh seorang lain
atas namanya, dan yang memberikan kekuasaan kepada kreditor itu untuk mengambil
pelunasan dari barang tersebut secara didahulukan daripada kreditur-kreditur
lainnya, dengan kekecualian biaya untuk melelang barang tersebut dan biaya
yang telah dikeluarkan untuk menyelamatkannya setelah barang itu digadaikan, biayabiaya mana harus didahulukan.

Hak penerima gadai :


1.

menerima angsuran pokok pinjaman dan bunga sesuai dgn jangka waktu yg
ditentukan;

2.

menjual barang gadai, jika pemberi gadai tidak memenuhi kewajibannya setelah
lampau waktu atau setelah dilakukan peringatan untuk pemenuhan janjinya.

Kewajiban penerima gadai diatur dalam pasal 1154, 1156, d

an 1157 KUH Perd.:

1.

menjaga barang yang digadaikan sebaikbaiknya;

2.

tidak diperkenalkan mengalihkan barang yang digadaikan menjadi miliknya,


walaupun pemberigadai wanprestasi (Pasal 1154 KUH Perd.);

3.

memberitahukan kepada pemberi gadai tentang pemindahan barangbarang


gadai (Pasal 1156 KUH Perd.);

4.

bertanggung jawab atas kerugian atau susutnya barang gadai, sejauh hal itu
terjadi akibat kelalaiannya (Pasal 1157 KUH Perd.).

Hak pemberi gadai :


1.

menerima uang gadai dari penerima gadai;

2.

berhak atas barang gadai, apabila hutang pokok, bunga dan biaya lainnya telah
dilunasinya;

3.

berhak menuntut kepada pengadilan supaya barang gadai dijual untuk melunasi
hutanghutangnya(Pasal 1156 KUH Perd.).

Kewajiban pemberi gadai :


1.

menyerahkan barang gadai kepada penerima gadai;

2.

membayar pokok dan sewa modal kepada penerima gadai;

3.

membayar biaya yang dikeluarkan oleh penerima gadai untuk menyelamatkan


barangbarang gadai (Pasal 1157 KUH Perd.).

CaraCara Hapusnya Gadai

Menurut pasal 1152 BW :


1.

barang gadai itu hapus dari kekuasaan pemegang gadai;

2.

hilangnya barang gadai atau dilepaskan dari kekuasaan penerima gadai surat
bukti kredit.

Menurut ari hutagalung :


1.

hapusnya perjanjian pokok yang dijamin dengan gadai;

2.

terlepasnya benda gadai dari kekuatan penerima gadai;

3.

musnahnya barang gadai;

4.

dilepaskan benda gadai secara sukarela;

5.

percampuran ( penerima gadai ).

Penyebabkan terjadinya pelelangan jaminan karena nasabah tidak memenuhi


kewajibannya untuk membayar utang-utangnya, dan ini disebabkan faktor-faktor
sbb::
1.

kondisi ekonomi nasabah yang rendah;

2.

kemauan debitor untuk membayar hutangnya sangat rendah;

3.

nilai jaminan lebih kecil dari jumlah hutang pokok dan bunga;

4.

usaha nasabah bangkrut;

5.

kredit yang diteriman nasabah disalahgunakan;

6.

manajemen usaha nasabah sangat lemah;

7.

pembinaan kreditor terhadap nasabah sangat kurang.

FIDUSIA
Fidusia adalah pengalihan hak kepemilikan suatu benda atas dasar kepercayaan
dengan ketentuan bahwa benda yang hak kepemilikannya dialihkan tersebut tetap
dalam penguasaan pemilik benda.
Jaminan Fidusia adalah hak jaminan atas benda bergerak baik yang berwujud
maupun tidak berwujud dan

benda tidak bergerak khususnya Bangunan yang tidak dapat dibebani hak tanggungan
sebagaimanadimaksud dalam UU No. 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan
yang tetap berada di dalam penguasaanPemberi Fidusia, sebagai agunan
bagi pelunasan uang tertentu, yang memberikan kedudukan yangdiutamakan kepada
Penerima Fidusia terhadap kreditor lainnya.
Benda/barang tidak bergerak dapat dijadikan jaminan fidusiakan, diserahkan hak
miliknya, benda yang tidak bergerak yang dapat dijadikan jaminan fidusia adalah
bangunan yang tidak dibebani dengan hak tanggungan (Rumah susun ).
Penerima jaminan fidusia tidak boleh membeli/memiliki benda jaminan fidusia, karena
dikhawatirkan apabila penerima jaminan fidusia yang membeli barang jaminan maka
sipenerima fidusia akan menaksir harga barang jaminan tidak sesuai dengan harga
barang tersebut karena posisi debitur lemah.
Benda yang dibebani jaminan fidusia wajib didaftarkan, karena :
1.

Untuk memberikan kepastian hukum pada pihak yang berkepentingan;

2.

Memberikan hak yang didahulukan ( freferen ) Kepada penerima fidusia


terhadap kreditur lain;

3.

Untuk memenuhi asas publisitas / publicitet, supaya pihak ketiga dapat


mengetahui bahwa benda jaminan tersebut sedang dilakukan pembebanan
jaminan.

HAK TANGGUNGAN
Pengertian Hak Tanggungan menurut UU No. 4 Tahun 1996
Hak Tanggungan menurut UU No. 4 Tahun 1996 adalah hak jaminan yang dibebankan
pada hak atas tanah sebagaimana dimaksud dalam undangundang nomor 5 tahun
1960 tentang peraturan pokokpokok agrarian, berikut atau tidak berikut bendabenda
lain yang merupakan satu kesatuan dengan tanah itu, untuk pelunasan utang tertentu,
yang memberikan kedudukan yang diutamakan kepada kreditor tertentu terhadap
kreditorkreditor lain.
Perbedaan objek Hak Tanggungan dan Hypotek :
Objek hak tanggungan adalah hak atas tanah dam neliputi benda yang melekat dengan
tanah yang meliputi hak milik, HGU, HGB, hak pakai baik hak milik maupun hak atas
Negara dan hak atas tanah berikut bangunan , tanaman, hasil karya yang merupakan
satu kesatuan dengan tanah
Sedangkan objek hipotik hak atas tanah, meliputi hak milik, hak guna usaha, dan hak
guna bangunansaja, tetapi semenjak berlakunya UU No. 4 Tahun1996 tentang hak
tanggungan . maka hak hipotik atas tanah tidak berlaku lagi.
JAMINAN HYPOTEK
Pengertian Hypotek menurut pasal 1162 BW,

Hipotik adalah suatu hak kebendaan atas bendabenda tak bergerak, untuk mengambil
pengantian daripadanya bagi pelunasan bagi suatu perikatan.
Pengertian Hypotek menurut Vollmar,
Hipotik adalah sebuah hak kebendaan atas bendabenda tak bergerak tidak
bermaksud memberikan orang yang berhak (memegang hipotik) sesuatu nikmat dari
suatu benda, tetapi ia bermaksud memberikan jaminan belaka bagi pelunasan sebuah
hutang dengan dilebih dahulukan.
JAMINAN PERORANGAN
Jaminan immaterial (perorangan) adalah jaminan yang menimbulkan hubungan
langsung pada perorangan tertentu, hanya dapat dipertahankan terhadap debitur
tertentu, terhadap harta kekayaan debitur umumnya (menurut Sri Soedewu Masjhoen
Sofwan).
Jaminan perorangan adalah suatu perjanjian antara seorang berpiutang (kreditur)
dengan seorang ketiga, yang menjamin dipenuhinya kewajiban si berhutang
(debitur). Ia bahkan dapat diadakan diluar (tanpa) siberhutang tersebut.
(menurut Subekti)
Unsur jaminan perorangan :
1.

Mempunyai hubungan langsung pada orang tertentu

2.

Hanya dapat dipertahankan pada debitur tertentu

3.

Terhadap harta kekayaan debitur umumnya.

Para pihak dalam perjanjian penangungan hutang adalah :


1.

Debitur adalah orang yang mendapat pinjaman uang / kredit dari kreditur

2.

Kreditur adalah orang yang meminjamkan uang pada debitur

3.

Pihak ketiga adalah orang yang akan manjadi penanggung utang debitur kepada
kreditur apabila debitur tidak memenuhi prestasinya (wanprestasi)

Garansi bank adalah jaminan dalam bentuk warkat yang diterbitkan oleh bank atau
oleh lembaga keuangan non bank yang mengakibatkan kewajiban membayar terhadap
pihak yang menerima jaminan apabila pihak penerima jaminan cidera janji

PERBEDAAN JAMINAN KEBENDAAN DAN JAMINAN PERORANGAN

Dari Segi Pengertian


Jaminan yang bersifat kebendaan adalah jaminan yang berupa hak mutlak atas
sesuatu benda, yang mempunyai ciri-ciri mempunyai hubungan langsung atas benda
tertentu dari debitur, dapat dipertahankan terhadap siapa pun, selalu mengikuti
bendanya dan dapat diperalihkan (contoh: hipotik, hak tanggungan, gadai, dan lainlain).
Jaminan perseorangan adalah jaminan yang menimbulkan hubungan lansung pada
perseorangan tertentu, hanya dapat dipertahankan terhadap debitur tertentu, terhadap
harta kekayaan debitur umumnya ( contoh: borgtocht).
Dari Segi Dasar Hukum
Jaminan kebendaan diatur dalam Buku II KUH Perdata serta Undang-undang
lainnya, dengan bentuk, yaitu:
1. Gadai diatur dalam KUH Perdata Buku II Bab XX Pasal 1150-1161, yaitu suatu
hak yang diperoleh seorang kreditur atas suatu barang bergerak yang
diserahkan oleh debitur untuk mengambil pelunasan dan barang tersebut
dengan mendahulukan kreditur dari kreditur lain.
2. Hak tanggungan; UU No.4/1996, yaitu jaminan yang dibebankan hak atas
tanah, berikut atau tidak berikut benda-benda lain yang merupakan suatu
ketentuan dengan tanah untuk pelunasan hutang tertentu, yang memberikan
kedudukan yang diutamakan pada kreditur terhadap kreditu lain.
3. Fiducia, UU No.42/1999, yaitu hak jaminan atas benda bergerak baik yang
berwujud maupun yang tidak berwujud dan benda tidak bergerak khususnya
bangunan yang tidak dibebani hak tanggungan sebagai agunan bagi pelunasan
hutang tertentu yang memberikan kedudukan utama terhadap kreditur lain.
Jaminan perorangan diatur dalam Buku III KUH Perdata, dalam bentuk:
Penanggungan hutang (Borgtoght) Pasal 1820 KUH Perdata, yaitu suatu
perjanjian dengan mana seorang pihak ketiga guna kepentingan si berhutang
mengikatkan diri untuk memenuhi perikatan si berhutang mana hak orang tersebut
tidak memenuhinya.
Dari Segi Jenis
Jaminan Kebendaan terdiri dari hipotik, hak tanggungan, gadai.

Jaminan Perorangan terdiri dari Penanggungan hutang (Borgtoght), Perjanjian


garansi
Dari Segi Sifatnya
Jaminan Kebendaan :
1. Mengikuti bendanya (Droit de suite) dalam arti bahwa yang mengikuti
bendanya itu tidak hanya haknya tetapi juga kewenangan untuk menjual
bendanya dan hak eksekusi.
2. Dapat dipertahankan (diminta pemenuhan) terhadap siapapun juga,yaitu
terhadap mereka yang memperoleh hak baik berdasarkan atas hak yang umum
maupun yang khusus, juga terhadap para kreditur dan pihak lawannya.
3. Dapat diperalihkan, contoh Hipotik, gadai, dan lain-lain.
4. Menganut Azas prioriteit yakni hak kebendaan yang lebih tua (lebih dulu
terjadi ) lebih di utamakan daripada hak kebendaan yang terjadi kemudian.
Jaminan Perorangan :
1. Hanya dapat dipertahankan terhadap debitur tertentu, terhadeap kekeyaan
debitur pada umumnya.
2. Menganut Asas kesamaan dalam arti tidak membedakan mana piutang yang
terjadi lebih dulu dan piutang yang terjadi kemudian.
Dari Segi Masalah Kepailitan
Ditinjau dari sudut hak kebendaan misal : A mempunyai hak memungut hasil dari
tanah milik B, ternyata B pailit, walaupun B pailit sebagai akibat dari sifat hak
kebendaan
mutlak, maka A tdk kehilangan hak untuk menungut hasil, walaupun tanah itu dijual
oleh debitor.
Ditinjau dari hak perorangan missal : X mempunyai piutang 1juta pada Y; Y sudah
pailit
Menurut aturan kepailitan harta Y harus dijual lelang hasilnya digunakan untuk
menutupi utang utangnya (Y). X dapat mengajukan tuntutan untuk pembayaran

tagihannya. Tetapi belum tentu akan terpenuhi jika ternyata harta Y tdk cukup untuk
membayar hutang hutangnya, jika ternyata terdapat banyak kreditur Y.
Dari Segi Tujuan
Tujuan dari jaminan yang bersifat kebendaan bermaksud memberikan hak verhaal
(hak untuk meminta pemenuhan piutangnya) kepada si kreditur, terhadap hasil
penjualan benda-benda tertentu dari debitur untuk pemenuhan piutangnya.
Jaminan yang bersifat perorangan memberikan hak verhaal kepada kreditur, terhadap
benda keseluruhan dari debitur untuk memperolehpemenuhan dari piutangnya.