Anda di halaman 1dari 8

Dalam pembahasan mengenai civil society erat kaitannya dengan masyarakat madani.

Akan tetapi dua penjelasan tersebut berasal dari latar belakang dan sejarah yang berbeda
didalamnya. Civil society berasal dari tradisi barat yang berkembang sejak zaman kerajaan
dan juga pada saat doktrin agama begitu kuat didalamnya. Civil society muncul dari
pergerakan kalangan yang memisahkan peran agama dan juga kehidupan kemasyarakatan
pada saat itu. Berbeda dengan masyarakat madani yang berpedoman pada kehidupan
kemasyarakatan yang berada di kawasan madinah. Seperti diketahui madinah merupakan
suatu kawasan yang sangat erat terhadap kehidupan agama dan kehidupan kemasyarakatan
pada umumnya.
Dengan demikian, civil society aslinya adalah bersifat sekularistik, yang telah
mengesampingkan peran agama dari segala aspek kehidupan. Dan tentu saja civil society
tidak dapat dilepaskan dari kesatuan organiknya dengan konsep-konsep Barat lainnya, seperti
demokrasi, liberalisme, kapitalisme, rasionalisme, dan individualisme.
Civil society berdasarkan pandangan islam tradisional dalam hal ini dapat terlihat
pada NU. Sebagaiamana diketahui Pendekatan Tocquevellian yang diadopsi NU, menekankan
fungsi civil society sebagai counter balancing terhadap negara, dengan melakukan penguatan
organisasi-organisasi independen di masyarakat dan pencangkokkan civic culture untuk
membangun budaya demokratis. Pendekatan Tocquevellian ini digunakan karena sepanjang
dua dasawarsa awal Orba, NU tidak memperoleh tempat dalam proses-proses politik.
Marginalisasi politik ini, disebabkan karena rezim Orba hanya mengakomodasi kelompok
Islam yang mendukung modernisasi, dan itu didapat dari kalangan modernis yang sudah lebih
dulu melakukan pembaruan pemikiran politik Islam. Ahmad, Haidlor Ali. Dinamika
Kehidupan Keagamaan di Era Reformasi, Maloho Jaya Abadi Press, Jakarta, 2010, 21.
Pada saat era orba tersebut khususnya pada kubu PPP yang cenderung dikuasai oleh
kaum modernis, peran NU sedikit terpinggirkan oleh kalangan modernis. Oleh sebab itu pada
tahun 1980an NU memutuskan untuk keluar dari kubu PPP dan memunculkan doktrin bahwa
NU kembali kepada khitahnya sesuai sejarah awal NU terdahulu. Karena hal yang paling
mendasar adalah bahwa NU tidak bisa dilepaskan dari sesuatu yang bersifat tradisionalis
menjadi sesuatu yang bersifat modernis seperti yang diinginkan PPP saat itu,
Dengan semangat tradisionalis ini NU membentuk suatu wadah bagi masyarakat
untuk membebaskan peran masyarakat menjadi lebih luas lagi. Penguatan NU misalnya
dalam bidang organisasi dan juga LSM yang menaungi pemikiran dan gagasan NU pada
khususnya. Semua penguatan kegiatan di luar negara membuat NU menjadi mandiri dan
cenderung bisa menjadi kuat dari sebelumnya karena NU merasa bebas dan juga tidak adanya

intervensi dari pihak manapun. Pembangunan LSM dan organisasi NU secara tidak langsung
membuat kemandirian pula dalam masyarakat luas dan tanpa disadari juga dapat membentuk
civil society menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Civil society terbentuk secara alami dan
berperan penting dalam kehidupan masyarakat luas. Hal ini dapat dibuktikan dengan
mengamati kiprah NU sejak awal dasawarsa 1990-an. Ketika kalangan Islam modernis
terakomodasi dalam state (ICMI), Gus Dur mendirikan forum demokrasi, dan aktivitas NU
secara umum diarahkan untuk menciptakan ruang publik diluar negara dengan banyak
bergerak dalam LSM-LSM dan kelompok-kelompok studi. Peran gusdur ini merupakan suatu
terobosan yang sangat baik demi menyeimbangkan peran kaum modernis dan kaum
tradisionalis khususnya NU karena dalam hal ini, modernisme tidak lagi dianggap sebagai
satu-satunya sumber gagasan kemajuan dan dipuja sebagai dewa penyelamat bagi peradaban
manusia. Karena modernisme itu sendiri terbukti tidak mampu memenuhi janji-janji
kemajuannya. Bahkan, dalam beberapa hal, modernisme meninggalkan banyak petaka.
Konsepsi Tocquevillian dalam menandai kehadiran civil society. Dalam cara pandang
Tocquevillian, civil society dilihat sebagai wilayah-wilayah kehidupan sosial yang bersifat
yang terorganisir dan bercirikan antara lain kesukarelaan (voluntary), keswasembadaan (self
generating) dan keswadayaan (self supporting), memiliki kemandirian tinggi berhadapan
dengan negara dan terikat dengan norma-norma atau nilai-nilai hukum yang diikuti oleh
warganya.
Dalam kerangka hidup bersama, civil society bukan semata-mata kehidupan
asosiasional yang nyaman seperti yang tergambar dalam konsepsi Tocquevillian, melainkan
seharusnya mencerminkan beberapa karakter utama sebagai berikut :
1. Civil society mensyaratkan keterlibatan warga dalam tindakan kolektif dalam
wilayah publik yang didalamnya tertampung berbagai entitas dengan berbagai
kepentingan, untuk mencapai kebaikan bersama. Ranah publik tidak hanya
menyangkut sesuatu yang bersifat fisik-spasial-arsitektur, melainkan mencakup ranahranah kultural, sosial, politik, hukum dan sebagainya. Dengan demikian, keberadaan
civil society, bukan hanya dilihat dari keberadaan, kesemarakan dan tingkat kepadatan
asoasional, melainkan sejauhmana warga terlibat dalam pencapaian tujuan-tujuan
publik (bersama). Dalam mencapai tujuan bersama itu dilakukan dengan terbukatidak tertutup, rahasia dan korporatif - dan mudah diakses oleh seluruh warga.
2. Civil society bukan terpisah dari negara, melainkan berhubungan dengan Negara.
Walaupun berhubungan dengan negara, civil society tidak berusaha untuk merebut
kekuasaan atas negara atau mendapatkan posisi dalam negara. Itu artinya, civil

society

dalam

kerangka

kehidupan

bersama,

lebih

dilihat sebagai

ruang

intermediary antara individu dan keluarga dengan institusi negara. Penekanan pada
ruang

intermediary

menjadi

sangat

penting

ketika

demokrasi

perwakilan

dilembagakan, seringkali muncul jarak antara institusi negara dengan individu dan
keluarga yang relatif powerless. Dengan demikian, civil society menjadi relevan untuk
membangun solidaritas dan asosiasi lintas warga akan membantu mereka untuk
mengantarkan dan menegosiasi aspirasinya dan kepentingannya terhadap Negara dan
sekaligus sebagai independent eye of society, dimana asosiasi-asosiasi sosial kontrol
negara lewat kehidupan sehari-hari.
3. civil society mengandung dalam dirinya perbedaan dan keragaman (pluralisme).
Sehingga, tatanan civil society terwujud apabila tidak ada satu kelompok yang
berupaya memonopoli ruang fungsional atau politik dalam masyarakat, menendang
pesaing atau mengklaim kebenaran.
4. keberadaan civil society bukan dimaksudkan mewakili seluruh kepentingan individu
atau kelompok. Dan tidak berusaha menampilkan seluruh kepentingan pribadi atau
komunitas Namun, karakter civil society akan terbentuk ketika asosiasi-asosiasi
sukarela tidak hanya mengikat individu-individu lewat hubungan hubungan mikro
dimana hal ini bisa munculkan solidaritas dan kewaspadaan terhadap persoalanpersoalan yang mereka hadapi, melainkan bisa melebur kepentingan-kepentingan
subjektif dalam kepentingan bersama, dan melindungi individu dari negara dan pasar.
5. Secara internal, civil society ditandai dengan civic community dimana civil society
dalam dirinya mempraktekkan prinsip-prinsip demokrasi Demokrasi tidak hanya
bekerja lewat praktek-praktek dan institusi-institusi politik, tapi juga lewat ide,
sentimen dan nilai-nilai kewargaan (civic virtues). Robert Putnam merumuskan civic
community sebagai keterlibatan dan komitmen warga dalam proses politik (civic
engagement); kesetaraan politik (political equality); solidaritas, kepercayaan (trust)
and toleransi dan kehidupan asosiasional yang kuat (network of civic engangement).
Ahmad, Haidlor Ali. Dinamika Kehidupan Keagamaan di Era Reformasi, Maloho
Jaya Abadi Press, Jakarta, 2010, 23-25.
Dalam pandangan civil society dianggap bukan hanya sebagai alat penggerak didalam negara.
Civil society tidak bisa mempengaruhi jalannya demokrasi bila didalam civil society tersebut
tidak terbentuk suatu demokrasi itu sendiri. Kemandirian civil society yang diiringi dengan
demokrasi yang baik maka akan membentuk suatu kekuatan kehidupan masyarakat menjadi
lebih baik lagi. Disini peran negara juga ikut serta dalam segala aspek yang berhubungan
dengan civil society pada umumnya. Segala kepentingan didalam negara yang menganut
sistem demokrasi pasti landasan mendasarnya adalah penguatan dari sistem civil society
terlebih dahulu awalnya.

Modern
Masyarakat Madani bukan berasal dari Bahasa Indonesia, meskipun demikian, istilah
ini sangat banyak di kaji oleh Pemikir Islam di indonesia. ini menunjukkan bahwa istilah
masyarakat madani sedang mendapat perhatian yang serius di kalangan ilmuwan indonesia.
Istilah masyarakat madani sendiri, berasal dari Term" madani". Nurcholis Madjid
berpendapat bahwa konsep madaniyyah, memiliki arti peradaban. Adapun "madinah" adalah
pola kehidupan sosial yang sopan yang di tegakkan atas dasar kewajiban dan kesadaran
umum untuk mempengaruhi pada peraturan atau hukum-hukum. Dalam Konteks Jazirah
Arabia, Konsep peradaban itu terkait erat dengan kehidupan menetap (Tsaqafah) di suatu
tempat sehingga suatu pola hidup bermasyarakat tampak hadir ( hadharah) di tempat itu.
Maka, masih dalam peristilahan arab, Tsafaqah menjadi berarti "kebudayaan", dan hadharah
menjadi peradaban", sama dengan madaniyyah. Dalam hal ini, pandangan Nurchalis madjid
tentang istilah Madani tersebut sangat identik dengan komunitas masyarakat yang berbudaya
dan berperadaban.
Kata Masyarakat Madani pertama kali di perkenalkan oleh Dato seri Anwar Ibrahim
saat itu Deputi Perdana Menteri Dan Menteri keuangan Malaysia dalam suatu forum ilmiah
festival istiqlal tahun 1995. Dalam ceramahnya yang berjudul Islam dan pembentukan
Masyarakat Madani, ia mengemukakan bahwa yang di maksud dengan masyarakat madani
ialah system sosial yang subur dan di asaskan pada prinsip moral yang menjamin
keseimbangan antara kebebasan perorangan dengan kestabilan masyarakat. Buto,
http://stainmetro.ac.id/e-journal/index.php/akademika/article/download/52/47/pdf,

Zulfikar

Ali, regulasi masyarakat madani dalam Bingkai pluraslisme, Lhokseumawe,


STAIN Malikussaleh Lhokseumawe.

Adapun pengertian masyarakat madani menurut pemikir Islam di Indonesia digambarkan


setidaknya oleh Abdul Munir Mulkhan, Bahtiar Effendy dan Dawan Rahardjo.
Abdul Munir Mulkhan berpendapat bahwa istilah masyarakat madani setidaknya mempunyai
tiga arti yaitu:
a. Masyarakat madani adalah masyarakat merdeka terhadap setiap bentuk intervensi
negara yang menguasai seluruh wacana publik dalam wujud konstitusi dan hegemoni
elite penguasa dan negara cenderung diperlakukan sebagai yang selalu benar di bawah
perlindungan elit yang disakralkan;

b. Masyarakat Madani adalah dekonstruksi peran negara, lembaga modern dan syariah.
Hal ini disebabkan kegagalan figh dalam melakukan peran publik sebagaiman
tuntutan masyarakat kontemporer;
c. Masyarakat madani adalah kritik atas birokratisme religiositas seperti politik dan
ekonomi.Selain memberi masyarakat madani tersendiri, Mulkhan juga memberikan
definisi masyarakat madani dalam arti masyarakat sipil,yaitu sebuah tata
kehidupan masyarakat yang benar-benar terbuka secara ideologi maupun teologi,
karena publiklah yang paling berhak merumuskan ideologi, hingga cita-cita
masyarakatnya melalui proses induksi berkelanjutan. Lebih lanjut, Mulkhan
berpendapat bahwa masyarakat madani yang ideal bukanlah masyarakat ketika
kebenaran dan kebaikan menjadi hegemoni elite (ahli syariah/ulama) melalui status
sosial, pendidikan dan sejarah sosialnya.
Bahtiar Effendy berpendapat bahwa konsep masyarakat madani adalah terbentuknya
lembaga-lembaga atau organisasi di luar negara yang mempunyai otonomi relatif,dan
memerankan fungsi kontrol terhadap proses penyelenggaraan kehidupan kemasyarakatan dan
kenegaraan.
Dawan Rahardjo berpendapat bahwa masyarakat madanimengandung tiga hal,yakni
agama, peradaban dan perkotaan. Dawam rahardjo berpendapat bahwa masyarakat madani
mengandung tiga hal, yakni agama, peradaban dan perkotaan. Di sini, agama merupakan
sumber, peradaban adalah prosesnya, dan masyarakat kota adalah hasilnya1.
Dari pemikir-pemikir Islam tentang masyarakat madani dapat di simpulkan bahwa
masyarakat madani adalah masyarakat beradab yang di ikat oleh masyarakat yang
beradab yang di ikat oleh bingkai hukum islam. Tanpa pelaksanaan hukum islam, sulit
untuk mewujudkan masyarakat madani, jika tidak di katakana mustahil. Peran hukum
Islam ini telah di perlihatkan oleh Rasulullah ketika berada di madinah.untuk
menciptakan masyarakat madani, dengan satu bentuk pemikiran hukum islam, yakni fiqih
lokal yaitu fiqih indonesia yang nantinya akan menjawab persoalan yang sedang
berkembang dalam konteks ke-indonesiaan.
Wawasan dasar Islam tentang prinsip-prinsip demokrasi seperti keadilan, persamaan,
kebebasan dan musyawarah, termasuk sikap toleransi dan pengakuan hak-hak asasi manusia
sebenarnya pernah terbangun dengan baik selama masa Rasul dan Khulafa al-Rasyidin
1 A Ubaedillah. 2000. Demokrasi, Hak Asasi Manusia, dan Masyarakat Madani .Jakarta :
ICCE UIN Hidayatullah Jakarta dan The Asia Foundation, 2006, hal. 302-322

dalam kehidupan sosial politik. Wawasan politik Islam inilah yang coba direkostruksi
kembali oleh kalangan intelektual Muslim dengan gagasan masyarakat madani.
Menurut Antonio Rosmini, dalam The Philosophy of Right, Rights in Civil Society
(1996: 28-50) yang dikutip Mufid, menyebutkan bahwa masyarakat madani terdapat sepuluh
ciri yang menjadi karakteristik masyarakat tersebut, yaitu: Universalitas, supermasi,
keabadian, dan pemerataan kekuatan (prevalence of force) adalah empat ciri yang pertama.
kelima, ditandai dengan "kebaikan dari dan untuk bersama". Ciri ini bisa terwujud jika setiap
anggota masyarakat memiliki akses pemerataan dalam memanfaatkan kesempatan (the
tendency to equalize the share of utility). Keenam, jika masyarakat madani "ditujukan untuk
meraih kebajikan umum" (the common good), tujuan akhir memang kebajikan publik (the
public good). Ketujuh, sebagai "perimbangan kebijakan umum", masyarakat madani juga
memperhatikan kebijakan perorangan dengan cara memberikan alokasi kesempatan kepada
semua anggotanya meraih kebajikan itu. Kedelapan, masyarakat madani, memerlukan
"piranti eksternal" untuk mewujudkan tujuannya. Piranti eksternal itu adalah masyarakat
eksternal. Kesembilan, masyarakat madani bukanlah sebuah kekuatan yang berorientasi pada
keuntungan (seigniorial or profit). Masyarakat madani lebih merupakan kekuatan yang justru
memberi manfaat (a beneficial power). Kesepuluh, kendati masyarakat madani memberi
kesempatan yang sama dan merata kepada setiap warganya, tak berarti bahwa ia harus
seragam, sama dan sebangun serta homogin. Mufid,
Reformasi Hukum Menuju Masyarakat Madani, Makalah "Seminar Nasional dan
Temu Alumni, Programa Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Malang", Tanggal, 25-26
September 1998, h. 213
Wujud Masyarakat Madani sesungguhnya telah tertanam dalam masyarakat
paguyuban yang dominan dimasa lalu, ketika kelompok masyarakat berkedudukan sama dan
mengatur kehidupan bersama secara musyawarah. Perkembangan masyarakat paguyuban
memerlukan pembaharuan dalam pendekatan melalui antara lain pengembangan masyarakat
madani dengan kedudukan sama bagi semua kelompok masyarakat dan kehidupan bersama
diatur malalui lembaga-lembaga perwakilan.
Substansi Masyarakat Madani telah lama ada dalam etika sosial politik masyarakat
Indonesia yang berkembang dalam kultur masyarakat Indonesia, hak dan kedudukan yang
sama (egaliterainisme) serta budaya sosial politik yang mengedepankan mekanisme
musyawarah dalam penyelenggaraan kehidupan sosial dan politik merupakan budaya
masyarakat Indonesia yang menonjol.

Dalam sejarah sosial masyarakat Indonesia, gerakan sosial masyarakat Indonesia


salah satunya diwujudkan dalam bentuk organisasi sosial, dimana salah satu dimensinya
adalah organisasi sosial keagamaan. Organisasi ini dalam sejarahnya telah memainkan peran
strategis, sejak zaman pra-kemerdekaan sampai orde reformasi saat ini. Peran yang
dimainkan oleh organisasi ini tidak terbatas pada peran tradisional berupa pemberdayaan
keagamaan dalam bentuk pembinaan kehidupan beragama untuk penguatan komitmen
keagamaan masyarakat penganut agama, tetapi juga telah memainkan peran strategis dalam
kehidupan sosial politik. Diantara sejumlah organisasi sosial keagamaan yang ada,
Muhammadiyah dan NU merupakan ormas terbesar dan diperhitungkan.
Muhammadiyah dengan karakter modernisnya mengambil peran yang lebih awal
bersama-sama dengan kelompok modernis yang lainnya dalam menumbuhkan kesadaran
masyarakat dalam membangun kekuatan sendiri berhadapan dengan kekuatan penjajahan.
Dan Nahdatul Ulama (NU) dengan karakter tradisionalnya kemudian mengambil peran yang
penting terutama dengan pendekatan keagamaannya. Dalam sejarahnya, NU pernah
melahirkan resolusi jihad yang sangat dikenal dalam sejarah kemedekaam Indonesiadan
dalam perkembangannya antara kaum modernis dan tradisionalis yang diwakilkan oleh NU
dan Muhammadiyah silih berganti untuk ikut berperan penting di dalam negara ini. Peran
kedua ormas tersebut memiliki peran yang cukup penting dibandingkan dengan peran partai
politik sekali pun. Karena didalam tubuh NU serta Muhammadiyah memiliki kekuatan
tersendiri yang cukup solid di dalamnya sehingga dalam memperngaruhi dan mengatur
khalayak banyak bisa dibangun secara lebih mudah. NU bereperan memabangun peradaban
masyarakat madani pada kaum tradisionalis. Dan Muhammadiyah membantu untuk
membangun peradaban didalam kaum modernis pada umumnya. Peran pemberdayaan politik
sebenarnya merupakan peran yang harus dimainkan oleh partai politik resmi, tetapi
kenyataannya bahwa partai politik yang ada belum bisa memainkan peran tersebut dalam
kadar yang diharapkan. Namun demikian, hal yang mengembirakan dari fenomena sosial
politik diatas adalah bahwa gerakan demokratisasi tidak terlalu bertumpu pada partai politik.
Pemberdayaan politik oleh organisasi keagamaan telah menjadi strategi alternatif dengan
tujuan yang melekat kepadanya meruntuhkan budaya otoriterianisme yang tidak pernah lepas
dari kekuasaan dan menghidupkan demokrasi secara Komunitas, Meskipun organisasi sosial
keagamaan melakukan gerakan politik dalam rangka mewujudkan demokrasi politik, namun
kekuatan serta ruang geraknya tetap terbatas, paling jauh kekuatan mereka hanya sebatas
sebagai pressure group.