Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan daerah tropis yang kaya akan hasil sumber daya alam.
Salah satu hasilnya adalah sayuran. Seperti yang kita ketahui sayuran dan buahbuahan merupakan salah satu sumber pangan yang begitu penting untuk dikonsumsi
oleh masyarakat, karena kandungan gizi pada sayuran dan buah-buahan sendiri sudah
terbukti berperan penting dalam menunjang kesehatan tubuh. Makanan yang kita
konsumsi harus mengandung zat gizi, seperti karbohidrat, protein, lemak, vitamin,
dan mineral. Zat gizi vitamin dan mineral banyak dikandung oleh sayuran dan buahbuahan. Selain kandungan vitamin dan mineralnya, buah juga banyak mengandung
serat yang melancarkan pencernaan (Novary, 1997).
Buah yang mempunyai potensi untuk dikembangkan di Indonesia adalah waluh
atau disebut juga labu kuning. Penyebaran labu kuning telah merata di Indonesia,
hampir di semua kepulauan Nusantara terdapat tanaman buah labu kuning. Cara
penanaman dan pemeliharaan pun mudah, yang mana penanamannya tidak sulit, baik
pembibitannya, perawatannya, hasilnya pun cukup memberikan nilai ekonomis untuk
Masyarakat. Tanaman ini dapat ditanam di lahan pertanian, halaman rumah atau
tanah pekarangan yang kosong dapat kita manfaatkan. Intinya tanaman ini dapat
ditanam di daerah Tropis maupun Subtropis. Labu kuning dapat menjadi sumber
pangan yang dapat diandalkan (Anonim, 2010).
Waluh sangat bagus untuk dikonsumsi oleh masyarakat karena memiliki
kandungan gizi yang baik untuk kesehatan tubuh. Apalagi dengan harganya yang

terjangkau dan mudah didapat

sehingga memudahkan masyarakat untuk

mengkonsumsinya. Jumlah produksi labu kuning cukup melimpah setiap tahunnya,


labu kuning mudah dijumpai baik di pasar tradisional maupun modern. Didorong
oleh beberapa faktor antara lain tanaman labu kuning dapat tumbuh dengan mudah,
bahkan di lahan kering sekalipun dan tanpa memerlukan perawatan yang khusus
(Rahmat, 1998).
Inflamasi atau radang merupkan salah satu penyakit yang banyak diderita oleh
masyarakat. Inflamasi memiliki angka kejadiaan yang cukup tinggi, dimana
inflamasi dapat disebabkan oleh trauma fisik, infeksi ataupun reaksi antigen dari
penyakit : seperti terpukul benda tumpul dan infekasi bakteri pada luka terbuka
(timbulnya nanah pada luka) yang dapat menimbulkan nyeri dan dapat menganggu
aktivitas (Yulianti, 2010).
Berdasarkan uraian diatas, akan diteliti ekstrak etanol daging buah labu kuning
sebagai antiinflamasi, di dalam labu kuning ini mengandung flavonoid yang diduga
memiliki kemampuan dalam menurunkan edema.

1.2 Tujuan Penelitian


Penelitian ini bertujuan untuk :
1. Untuk mengetahui efek ekstrak etanol daging buah labu kuning terhadap
edema pada telapak kaki tikus.
2. Untuk mengetahui dosis ekstrak etanol daging buah labu kuning yang dapat
menunjukan khasiat sebagai antiinflamasi.
1.3 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada masyarakat
mengenai manfaat daging buah labu kuning sebagai antiinflamasi.

1.4 Metode Penelitian


Penelitian dilaksanakan secara laboratorium eksperimental, melalui tahap kerja
sebagai berikut :
1. Pengumpulan bahan berupa labu kuning yang didapat dari perkebunan Desa
Sadapaingan Kecamatan Panawangan Kabupaten Ciamis.
2. Determinasi tumbuhan yang dilakukan di Herbarium Jatinangor Laboratorium
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Taksonomi Jurusan Biologi FMIPA Universitas Padjadjaran.


Ekstraksi dengan cara maserasi dengan menggunakan etanol.
Skrining Fitokimia.
Pembuatan sediaan uji dengan berbagai dosis.
Penyiapan hewan percobaan.
Uji aktivitas antiinflamasi dengan metode maserasi dengan ekstrak etanol .
Analisis data secara statistik dengan uji Analisis Varian (ANAVA) dan diteruskan
dengan uji lanjutan Least Significant Differences (LSD).

1.5 Lokasi Dan Waktu Penelitian


Penelitian dilakukan mulai Februari sampai Mei 2014 di laboratorium
Farmakologi Program Studi S1 Farmasi STIKes Bakti Tunas Husada Tasikmalaya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Labu Kuning ( Cucurbita Moschata D. )

Gambar 2.1 Labu Kuning


Labu kuning berasal dari Benua Amerika terutama di Negara
Peru dan Meksiko. Di Benua Amerika labu kuning menyebar di

setiap penjuru dunia, kini labu kuning banyak dijumapai di Negara


tropis seperti Filipina, Malaysia dan beberapa negara tropis di Afrika
seperti Karibia, di Indonesia disebut Waluh (Endrah, 2010).
2.1.1 Klasifikasi
Kingdom

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Sub divisi : Angiospermae


Kelas

: Dicotyledonae

Ordo

: Cucurbitales

Famila

: Cucurbitaceae

Genus

: Cucurbita

Spesies

: Cucurbita moschata D.

(Hutapea, J.R, et al., 1994)

2.1.2 Morfologi Tumbuhan


Tanaman ini tumbuh merambat dengan daun yang berukuran besar dan
berbulu. Terdapat lima spesies labu kuning yang umum dikenal, yaitu Cucurbita
maxima Duchenes, Cucurbita ficifolia Bouche, Cucurbita mixta, Cucurbita
moschata Duchenes, dan Cucurbita pipo L (Brotodjojo, 2010).
Buah labu kuning berbentuk bulat pipih, lonjong, atau panjang dengan banyak
alur (15-30 alur). Buahnya besar dan warnanya hijau apabila masih muda, sedangkan
yang lebih tua berwarna kuning orange sampai kuning kecokelatan. Daging buah
tebalnya sekitar 3 cm dan rasanya agak manis. Bobot buah rata-rata 3-5 kg bahkan
sampai 15 kg (Brotodjojo, 2010).

2.1.3 Khasiat Tumbuhan


Menurut para ahli penelitian labu kuning dapat mencegah penyakit degeneratif
seperti diabetes mellitus (kencing manis),arterosklerosis (penyempitan pembuluh
darah), jantung koroner, tekanan darah tinggi, bahkan bisa pula mencegah kanker.
Pada buah labu kuning terdapat kandungan kimia seperti saponin, flavanoid dan
tanin. Kandungan kimia pada waluh inilah yang akan berfungsi untuk mengurangi
kadar gula dalam darah, menjadi sumber anti-bakteri dan anti- virus, meningkatkan
sistem

kekebalan

tubuh,

meningkatkan

vitalitas,

mengurangi

terjadinya

penggumpalan darah. Selain itu juga dapat meningkatkan aktifitas vitamin C sebagai
antioksidan mencegah oksidasi LDL kolesterol (Bahar, 2006).

2.1.4

Kandungan Kimia
Waluh/labu kuning juga sarat gizi, memiliki kandungan serat, vitamin dan

karbohidrat yang tinggi. Selain itu, didalam waluh juga terkandung 34 kalori, lemak
0.8, 45 mg kalsium, dan mineral 0.8 sehingga labu kuning sangat baik dikonsumsi
oleh anak-anak maupun orang tua, karena kandungan gizi yang terdapat didalamnya
sangat baik untuk kesehatan tubuh. Pada anak-anak dapat digunakan untuk
menambah nafsu makan dan sebagai obat cacingan (Hidayah, 2010).
Labu kuning atau waluh merupakan bahan pangan yang kaya vitamin A, B dan
C, mineral, serta karbohidrat. Daging buahnya pun mengandung antioksidan sebagai
penangkal pelbagai jenis kanker. Sifat labu yang lunak dan mudah dicerna serta

mengandung karoten (pro vitamin A) cukup tinggi, serta dapat menambah warna
menarik dalam olahan pangan lainnya. Tetapi, sejauh ini pemanfaatannya belum
optimal. Labu kuning mempunyai kandungan karbohidrat yang cukup tinggi.
Secara lengkap labu kuning mempunyai kandungan gizi sebagai berikut :
Komponen
Kalori (kal.)
Protein (g)
Lemak (g)
Karbohidrat (g)
Kalsium (mg)
Fosfor (mg)
Besi (mg)
Vit. A (S1)
Vit. B1 (mg)
Vit.C (mg)
Air (g)
b.d.d (%)

Jumlah
29
1,1
0,3
6,3
45
64
1,4
180
0,8
52
91,2
77

Sumber : Departemen Kesehatan RI., (1996).


2.2 Inflamasi / Peradangan
Peradangan dapat didefinisikan sebagai reaksi jaringan terhadap cedera, yang
secara khas terdiri atas respon vascular dan selular, yang bersama-sama berusaha
menghancurkan substansi yang dikenali sebagai asing untuk tubuh. Jaringan itu
kemudian dipulihkan sediakala atau diperbaiki sedemikian rupa agar jaringan atau
organ itu dapat tetap bertahan. (Tamanyong, 2000).
Penyebab-penyebab peradangan banyak dan berfariasi, dan penting untuk
memahami bahwa peradangan dan infeksi tidak sinonim dengan demikian infeksi
(adanya mikroorganisme hidup di dalam jaringan) hanya merupakan salah satu
penyebab peradangan. Perdangan dapat terjadi dengan mudah dalam keadaan yang
benar-benar steril. Karena banyaknya keadaan yang mengakibatkan peradangan.

Radang dapat dibagi 3 yaitu : Radang akut, Radang sub akut, Radang kronik (Price
dan Wilson, 2005).
2.2.1 Tanda Tanda Peradangan
Gambaran makroskopik peradangan akut, tanda-tanda pokok peradangan
mencakup kemerahan (Rubor), panas (kalor), nyeri (dolor), bengkak (tumor), dan
gangguan fungsi (fungsio laesa).
a.

Rubor (kemerahan)
Biasanya merupakan hal pertama yang terlihat di daerah yang mengalami

peradangan. Sering dengan munculnya reaksi peradangan, arterior yang memasok


darah tersebut berdilatasi sehingga memungkinkan lebih banyak darah mengalir
kedalam mikrosirkulasi darah lokal.
b.

Kolor (panas)
Kolor atau panas terjadi bersamaan dengan kemerahan pada reaksi peradangan

akut. Daerah peradangan dikulit menjadi lebih hangat dibanding dengan


sekelilingnya karena lebih banyak darah (pada suhu 370 C) dialirkan dari dalam
tubuh kepermukaan daerah yang terkena dibandingkan dengan daerah yang normal.
c. Dolor (nyeri)
Pada suatu nyeri peradangan tampaknya ditimbulkan dalam berbagai cara.
Perubahan pH lokal atau konsentrasi lokal ion-ion tertentu dapat merangsang ujungujung saraf. Hal yang sama, pelepasan zat-zat kimia bioaktif lain dapat merangsang
saraf. Selain itu, pembengkakan jaringan yang meradang menyebabkan peningkatan
tekanan lokal yang tidak diragukan lagi dapat menimbulkan nyeri.
d. Tumor (pembengkakan)
Pembengkakan lokal yang dihasilkan oleh cairan dan sel-sel yang berpindah
dari aliran darah kejaringan intestisial. Campuran cairan dan sel-sel ini yang
tertimbun didaerah peradangan disebit eksudat.
e. Fungsio laesa (perubahan fungsi)

Perubahn fungsi merupaka bagian yang lazim pada reaksi peradangan. Sepintas
mudah dimengerti, bagian yang bengkak, nyeri disertai sirkulasi abnormal dan
lingkungan kimiawi lokal yang abnormal, seharusnya berfugsi secara abnormal.
Penyebab-penyebab peradangan meliputi agen-agen fisik, kimia, reaksi imunologik,
dan infeksi oleh organism-organisme patogenik. Infeksi tidak sama dengan
peradangan dan infeksi hanya merupakan salah satu penyebab peradangan. (Price
dan Wilson, 2005).

2.2.2 Mekanisme Inflamasi


Proses inflamasi di mulai daari stimulus yang akan mengakibatkan kerusakan
sel, sebagai reaksi terhadap kerusakan sel, maka sel tersebut akan melepaskan
beberapa fosfolipid yang diantaranya adalah asam arakhidonat. Setelah asam
arakhidonat tersebut bebas akan diaktifkan oleh beberapa enzim, diantaranya
siklooksigenase dan lipooksigenase. Enzim tersebut mengubah asam arakhidonat ke
dalam bentuk yang tidak stabil (hidroporeksid dan endoporeksid) yang selanjutnya
dimetabolisme menjadi leukotrin, prostaglandin, prostasiklin dan tromboksan.
Bagian prostaglandin dan leukotrin bertanggung jawab terhadap gejala-gejala
peradangan (Katzung, 2002).

2.3

Obat Antiinflamasi
Obat-obat antiinflamasi adalah golongan obat yang memiliki aktivitas menekan

atau menekan peradangan. Aktivitas ini dapat dicapai melalui beberapa cara, yaitu
menghambat pembentukan mediator radang prostaglandin, menghambat migrasi sel-

sel leukosit ke daerah radang, menghambat pelepasan prostaglandin dari sel-sel


tempat pembentuknya. Berdasarkan mekanisme kerjannya, obat-obat antiinflamasi
dibagi menjadi dua golongan utama, yaitu : obat antiinflamasi golongan steroid dan
obat antiinflamasi golongan non steroid (Katzung, 2002).
Obat antiinflamasi non steroid merupkan obat seperti aspirin yang menghambat
sintesa prostaglandin. Obat-obat ini mempunyai efek analgetik dan antipiretik yang
berbeda-beda tetapi terutama dipakai sebagai agen atiradang untuk meredakan
radang dan nyeri. Golongan obat ini menghambat enzim siklooksigenase tetapi tidak
pada enzim lipooksigenase sehingga konversi asam arachidonat menjadi terganggu
yang mengakibatkan terhambatnya pelepasan mediator nyeri seperti prostaglandin,
tromboksan. Ketika memberikan AINS untuk mengatasi nyeri, biasanya dosis lebih
tinggi dari pada untuk pengobatan radang. Kecuali spirin, preparat-preparat tidak
dianjurkan pemakaiannya untuk meredekan sakit kepala yang ringan atau demam.
Oleh karena itu AINS lebih cocok untuk mengurangi pembengkakkan, nyeri dan
kekakuan sendi-sendi (Kee dan Evely, 1996).
Mekanisme kerja NSAID didasarkan atas penghambtan isoenzim COX-1
(cycloaxygenase-1) dan COX-2 (cycloaxygenase-2). Enzim cycloaxygenase ini
berperan dalam memacu pembentukan postaglandin dan tromboksan dari asam
arakhidonat. Prostaglandin merupakan molekul pembawa pesan pada proses
inflamasi (Anonim, 2010).
NSAID merupakan golongan obat yang relatif aman, namun ada 2 macam efek
samping utama yang ditimbulkannya, yaitu efek samping pada saluran pencernaan
(mual, muntah, diare, pendarahan lambung dan dispepsia) serta efek samping pada

ginjal (penahanan garam dan cairan dan hipertensi). Efek samping ini tergantung
pada dosis yang digunakan (Anonim, 2010).

2.4 Ekstraksi
Ekstraksi adalah kegiataan penariakan kandungan kimia yang dapat larut
sehingga terpisah dari bahan yang tidak dapat larut dengan pelarut cair (Depkes RI,
2000).
Ekastrak adalah sediaan kental yang diperoleh dengan mengekstraksi senyawa
aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang esuai,
kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang
tersiasa diperlakukan sedemikian hingga memenuhi baku yang telah ditetapkan. (FI
edisi 4 : 1995).
2.4.1 Ekstraksi Dingin (Maserasi)
Proses pengekstrakan simplisia dengan menggunakan pelarut dengan beberapa
kali pengocokan atau pengadukan pada temperatur ruangan (kamar). Penyarian zatzat berkhasiat dari simplisia, baik simplisia dengan zat khasiat yang tidak tahan
pemanasan maupun yang tahan pemanasan (Depkes RI, 2000).
Sampel biasanya direndam selama 3-5 hari, sambil diaduk sesekali untuk
mempercepat proses pelarutan komponen kimia yang terdaapat dalam sampel.
Maserasi dilakukan daalam botol yang berwarna gelap dan ditempatkan pada tempat
yang terlindung cahaya. Ekstraksi dilakukan berulang-ulang kali sehingga sampel
terekstraksi secara sempurna yang ditandai dengan pelarut pada sampel berwarna
bening. Sampel yang direndam dengan pelarut tadi disaring dengan kertas saring

10

untuk mendapat maseratnya. Maseratnya dibebaskan dari pelarut dengan


menguapkan yaitu dengan rotary evaporator. Keuntungan dari metode ini adalah
peralatannya sederhana dan dapat digunakan untuk zat yang tahan dan tidak tahan
pemanasan. Sedangkan kerugiannya antara lain waktu yang diperlukan untuk
mengekstraksi sampel cukup lama, cairan penyari yang digunakan lebih banyak,
tidak dapat digunakan untuk bahan-bahan yang mempunyai tekstur kertas seperti
benzoin, tiraks dan lilin (Murtala, 2011).
2.5 Pengujian Edema
Ada 3 cara yang dilakukan untuk mengukur besar edema antara lain menghitung
panjang keliling telapak kaki tikus, menghitung besar edema dengan menggunkan
kapiler dan menghitung besar edema dengan menggunkaan plestismometer.
Plestismometer sering digunakan pada uji antiinflamsi karena pengukurannya tepat,
cepat dan akurat dibandingkan dengan alat yang lain. Alat ini memiliki 2 tabung
yang saling berhubungan dan berisi cairan. Tabung A berdiameter lebih besar dari
pada tabung B. Prinsip kerja dari alat ini adalah perpindahan cairan dari tabung A ke
tabung B. Perpindahan cairan yang terjadi dengan cara menenggelamkan kaki
binatang percobaan ke dalam tabung A, direfleksikan ke tabung B yang memiliki
transduser. Transduser terhubung pada suatu alat pembaca sehingga hasilnya dapat
diketahui, pengukuran dilakukan setiap 1 jam selama 6 jam (Winter, 2000).
2.6 Karagenan
Karegenan merupakan senyawa yang termasuk kelompok polisakarida
galaktosa hasil ekstraksi dari rumput laut. Sebagian besar karagenan mengandung
natrium, magnesium, dan kalsium yang dapat terikat pada gugus ester sulfat dari
galaktosa dan kopolimer 3,6-anhydro-galaktosa. Karagenan banyak digunakan pada

11

sediaan makanan, sediaan farmasi dan kosmetik sebagai bahan pembuat gel,
pengental atau penstabil.
Di alam ini, terdapat 3 jenis karegenan yang dapat ditemukan secara luas di
berabagai perairan dunia. Ketiga jenis karagenan ini adalah kappa, iota dan lambda.

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Alat Dan Bahan
3.1.1 Alat
Alat-alat yang digunakan dalam penilitian : blender, oven, alat-alat gelas (gelas
piala pyrex 500 ml, erlenmeyer pyrex 250 ml, labu ukur pyrex 1 liter, dan lainnya),
timbangan, toples, disposible 3 ml, plestimometer dan pengukur waktu (stopwacth).
3.1.2 Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian : daging buah labu kuning 300
gram, karagenan, tablet piroksikam, aquadest, etanol 95%, CMC 1%.

3.2 Sampel Penelitian


Bahan tumbuhan yang dipergunakan dalam penelitian ini, berupa daging buah
labu kuning (Cucurbita moschata D.)

yang diperoleh dari perkebunan Desa

Sadapaingan Kecamatan Panawangan Kabupaten Ciamis. Dan telah dideterminasi


tumbuhan yang dilakukan di Herbarium Jatinangor Laboratorium Taksonomi Jurusan
Biologi FMIPA Universitas Padjadjaran, Bandung.

12

3.3 Perhitungan Dosis


Perhitungan dosis piroxicam
Rata-rata 1 tablet : 10 mg
Dosis Manusia
Dosis Tikus

: 100 mg
: 0,018 x 100 mg = 1,8 mg /200 g BB tikus

Pembuatan piroxicam

: 1,8 x10 mg = 0,1 mg

Perhitungan dosis ekstrak etanol daging buah labu kuning yaitu sebanyak
670 gram sampel kering, setelah diayak 580 gram serbuk simplisia.
Dosis manusia

= 580 gram

Dosis tikus

= 0,018 x 580 gram = 10,44 gram

Volume ekstrak

= 50 ml

Perhitungan dosis pada tikus


Dosis II (empiris )

= 10,44 gram / 580 gram x 50 ml = 0,9 ml

Dosis I

= x 0,9 = 0,45 ml

Dosis III

= 2 x 0,45 = 0,9 ml

13

3.4

Hewan Percobaan
Hewan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah tikus putih

jantan galur wistar (Rattus novergicus) yang berumur 2-3 bulan dengan berat badan
100-200 gram dengan jumlah 15 ekor. Tikus dikatakan sehat bila selama masa
karantina bobot badannya bertambah atau tetap.

3.5

Metode Penelitian

3.5.1 Pembuatan Simplisia Daging Buah Labu Kuning


Labu kuning (Cucurbita moschata D.) disiapkan, dibersihkan diambil buahnya
lalu diiris tipis. Kemudian dicuci bersih di bawah air mengalir dan tiriskan, kemudian
dengan cara di oven pada suhu 40oC selama 3 hari. Daging buah labu kuning yang
sudah kering kemudian dihaluskan menggunakan blender, lalu diayak dengan
menggunkan ayakan 65 mesh. Dan menghasilkan simplisia sebanyak 300 g.
3.5.2 Pembuatan Ekstrak Etanol Daging Buah Labu Kuning
Menurut jurnal hasil penelitian Merry Senewe, Fakultas Farmasi, FMIPA
UNSRAT Manado. Ekstrak dibuat dengan metode maserasi, diambil serbuk simplisia
sebanyak 300 gram dengan menggunkan etanol 95%. Tempatkan simplisia dalam
wadah, kemudian rendaman tersebut disaring dengan kertas saring (filtrat 1) dan
sisanya di ekstrak kembali dengan etanol 95% sebanyak 750 selama 2 hari lalu
disaring (filtrat 2). Filtrat 1 dan filtrat 2 digabung kemudian diuapkan dengan rotary

14

evaporator pada suhu 60o C sampai menjadi endapan yang tidak terlalu kental dan
dilanjutkan dengan penguapan dengan menggunkan waterbath pada suhu 40o C
sampai menjadi ekstrak kental. Dari ekstrak kental yang dibuat, didapat sebanyak
41,864 gram. Penelitian ini menggunkan 3 variasi ekstrak etanol daging buah labu
kuning yaitu 15,3 g/Kg BB(dosis 1), 30,6 g/Kg BB (dosis II) dan 61,2 g/Kg BB
(dosis III).

3.6

Penapisan Fitokimia

3.6.1 Alkaloid
Simplisia dibasakan dengan amonia encer dan tambahkan beberapa mililiter
kloroform, kemudian dipisahkan lapisan kloroform dan ke dalamnya tambahkan
asam klorida 2 N. Campuran dikocok kuat-kuat hingga terdapat 2 lapisan. Lapisan
asam dipipet, kemudian dibagi 3 bagian :
a. Bagian 1 ditambahkan preaksi Mayer. Terjadinya endapan warna putih
menandakan adanya alkaloid.
b. Bagian 2 ditambahkan preaksi Dragondroff. Terjadinya endapan warna jingga
kuning menandakan adannya alkaloid.
c. Bagian 3 ditambahkan preaksi Bouchardat. Terjadinya endapan warna ungu
menandakan adannya alkaloid.
3.6.2 Flavonoid
Simplisia dipanaskan dengan campuran logam Mg dan HCl 5N, kemudian
disaring. Adanya flavonoid akan menyebabkan filtrat berwarna merah yang dapat
ditarik oleh amil alkohol.

15

3.6.3 Polifenolat Dan Tanin


Simplisia digerus dan dipanaskan dengan air di atas tangas air, kemudian
disaring. Sebagian filtrat ditetesi dengan FeCl3. Terbentuknya warna biru-hitam
menunjukan adanya polifenolat alam. Sebagian filtrat diuji ulang dengan
penambahan larutan gelatin 1%. Adanya endapan putih menunjukan adanya tanin.
3.6.4 Saponin
Simplisia dimasukan ke dalam tabung reaksi dan dicampur dengan air,
panaskan di atas tangas air, kemudian disaring. Setelah dingin, filtrat dalam tabung
reaksi dikocok kuat-kuat selama 30 detik. Pembentukan busa dan tinggi sekurangkurangnya 1 cm dan persisten dalam beberapa menit serta tidak hilang pada
penambahan 1 tetes HCl encer menunjukan bahwa dalam simplisia terdapat saponin.
3.6.5 Monoterpenoid Dan Seskuiterpenoid
Simplisia disari dengan eter, kemudian sari eter diuapkan hingga kering. Pada
residu diteteskan vanilin-asam sulfat. Terbentuknya warna-warna menunjukan
adanya senyawa monoterpenoid dan seskuiterpenoid.
3.6.6 Steroid dan Triterpenoid
Simplisia disari dengan eter, kemudian sari eter diuapkan hingga kering. Pada
residu diteteskan preaksi Liebermann-Burchard. Terbentuknya warna ungu
menunjukkan dalam rebusan terkandung kelompok senyawa triterpenoid, sedangkan

16

bila terbentuk hijau-biru menunjukkan daalam rebusan terkandung kelompok


senyawa steroid.

3.6.7 Kuinon
Simplisia digerus dan dipanaskan dengan air, kemudian disaring, filtrat ditetesi
larutan NaOH, terbentuknya warna kuning jingga merah menunjukan adanya
senyawa kuinon.

3.7 Pengujian Efek Antiinflamasi


Pengujian aktivitas antiinflamasi menggunakan metode induksi karagenan
dengan variasi tiga dosis. Pengujian dilakukan dengan cara menyuntikan suspensi
karagenan 1 % secara intraplanar pada telapak kaki tikus putih jantan.
Tahap tahap yang dilakukan untuk pengujian aktivitas antiinflamasi adalah
sebagai berikut :
1.
2.

tikus dipuasakan 18 jam sebelum pengujian tetapi minum tetap diberikan


pada hari pengujian, tikus ditimbang bobotnnya dan dikelompokan menjadi :
a. Kelompok kontrol negatif yang hanya diberi zat pembawa, yaitu suspensi
CMC 1%
b. Kelompok uji 1, tikus diberi ekstrak etanol daging buah labu kuning dengan
dosis sebesar 15,3 g/Kg BB.
c. Kelompok uji 2, tikus diberi ekstrak etanol daging buah labu kuning dengan
dosis sebesar 30,6 g /Kg BB.
d. Kelompok uji 3, tikus diberi ekstrak etanol daging buah labu kuning dengan
dosis sebesar 61,2 g/Kg BB.

17

e. Kelompok kontrol positif (pembanding) yang diberi suspensi piroxsikam


3.
4.
5.

dengan dosis 0,45 mg / Kg BB.


Kaki kiri belakang tikus ditandai dengan spidol (melingkar).
Satu jam sebelum induksi masing-masing kelompok diberi obat secara oral.
Tiap kelompok diinduksi dengan suspensi karagenan yang disuntikan secara

6.

intraplanar pada kaki kiri sebanyak 0,05 ml.


Volume kaki kiri diukur dengan cara mencelupkan ke dalam alat plestismometer

7.
8.

sampai pada batas yang ditandai (tanda pada kaki harus sama).
Semua data dicatat dan ditabulasi serta dibuat rata-rata perkelompok.
Volume telapak kaki tikus kontrol dan kelompok uji dibandingkan secara

9.

statistik.
Cara evaluasi : rata-rata % reduksi radang dihitung dengan rumus :
ab
100
% reduksi radang
a
Dimana :

a = volume rata-rata telapak kaki kelompok kontrol


b = volume rata-rata telapak kaki uji
(Erlina,2007)

3.8 Analisis Data Statistik


Data yang diperoleh dari hasil penelitian dianalisis menggunkan program
statistika metode SPSS untuk mengetahui ada tidaknya efek antar perlakuan diuji
dengan oneway ANOVA (Analisis of Variance), kemudian dilanjutkan dengan uji
LSD untuk melihat perbedaan yang nyata antar perlakuan.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

18

4.1 Determinasi Tumbuhan


Dari hasil determinasi yang telah dilakukan di Herbarium Jatinangor
Laboratorium

Taksonomi

Tumbuhan

Jurusan

Biologi

FMIPA Universitas

Padjadjaran, Bandung menunjukan bahwa tumbuhan yang di identifikasi adalah labu


kuning. Hasil determinasi dapat dilihat pada Lampiran 1.

4.2 Penapisan Fitokimia


Hasil penapisan fitokimia menunjukan bahwa ekstrak etanol daging buah labu
kuning mengandung senyawa metabolit sekunder golongan alkoloid, flavonoid,
saponin dan tanin. Hasilnya dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4.1 Hasil Penapisan Fitokimia Daging Buah Labu Kuning
No
Nama Senyawa
.
1.
Alkaloid
2.
Flavonoid
3.
Polifenolat dan Tanin
4.
Saponin
5.
Monoterpen dan
6.
Seskieterpen
7.
Tanin
Keterangan : (+) Terdeteksi

Hasil

Ket.

+
+
+
+

Jingga coklat
Kuning
Pembentukan busa
Biru hitam

(-) Tidak Terdeteksi

4.3 Uji Aktivitas Antiinflamasi


Pengujian aktivitas antiinflamasi dilakukan dengan menggunakan alat
pletismometer. Induksi radang dilakukan secara kimia menggunakan larutan
19

karagenan 1 % (b/v) yang disuntikan secara intraplantar pada telapak kaki tikus
sebanyak 0,05 ml. Diikuti dengan pemberian kontrol negatif (CMC), kontrol positif
(piroksikam), dan ekstrak labu kuning 3 variasi yaitu 15,3 g/Kg BB(dosis 1), 30,6
g/Kg BB (dosis II) dan 61,2 g/Kg BB (dosis III).
Pembentukan radang oleh karagenan menghasilkan peradangan akut dan tidak
menyebabkan kerusakan jaringan. Karagenan sebagai penyebab radang dapat
dipengaruhi oleh obat antiradang. Responnya terhadap obat antiinflamasi lebih peka
dibandingkan dengan iritan lainnya (Juheini, 1990).
Adanya kontrol positif dan kontrol negatif bertujuan untuk membandingkan
hasil peroleh dari dosis 1 dosis 2 dan dosis 3 dalam menurunkan peradangan pada
telapak kaki tikus. Kemudian pengukuran dilakukan dengan cara mengukur
pengukuran ekstrak etanol daging buah labu kuning dalam mengurangi pembekakan
pada telapak kaki tikus. Semua kelompok perlakuan menyebabkan penurunan edema.
Data di analisis dengan metode ANAVA ( Analisis Variansi ) menggunakan program
SPSS versi 18. Analisis dilakukan terhadap hasil perubahan volume kaki tikus
dimulai dari 15 menit sampai

180 menit setelah penyuntikan karagenan. Data

perubahan volume kaki tikus dari masing-masing kelompok uji dapat dilihat pada
Lampiran 7.

Dari perubahan volume kaki tikus dapat dihitung persen kadar pada kaki tikus
yang selanjutnya dapat dibuat diagram perubahan persen radang rata-rata dan
diagram perubahan persen inhibisi radang rata-rata kaki tikus. Kelompok persen
radang kaki tikus yang lebih kecil dari kelompok kontrol positif menunjukan bahwa

20

bahan uji kecuali kontrol negatif mampu menekan radang yang disebabkan oleh
karagenan. Hasil pengukuran persen radang rata rata dapat dilihat pada tabel
berikut :
Tabel 4.2 Persen radang rata rata kaki kiri tikus
Perlakuan
Kontrol (-)
Positif (+)
Dosis 1
Dosis 2
Dosis 3
Keterangan :
Kontrol (-) :
Kontrol (+) :
Dosis 1
:
Dosis 2
:
Dosis 3
:

Persen radang rata-rata (%)


64,13
2,04
20,00
11,66
3,33

CMC 1 %
Diberi suspensi Piroksikam 0,45 mg/Kg BB
Dosis 1 diberi ekstrak etanol daging buah labu kuning 15,3 g/ Kg BB
Dosis 2 diberi ekstrak etanol daging buah labu kuning 30,2 g/Kg BB
Dosis 3 diberi ekstrak etanol daging buah labu kuning 61,2 g/Kg BB

70
60
50
40
30
20
10
0
Kontrol (-)Positif (+) Dosis 1

Dosis 2

Dosis 3

Grafik 4.1 Grafik persen radang rata-rata telapak kaki kiri tikus
Dilihat dari gambar 4.1 bahwa kontrol positif memiliki persen radang rata-rata
yang lebih kecil dari pada dosis I, dosis II, dosis III, untuk ekstrak etanol daging
buah labu kuning dosis III memiliki persen rata-rata yang lebih kecil dari pada
ekstrak etanol daging buah labu kuning dosis 1 dan dosis II. Kontrol negatif

21

menunjukan persen yang paling tinggi karena hanya diberi CMC 1 % yang tidak
memiliki efek untuk menurunkan radang.
Efek antiinflamasi dapat dilihat dari besarnya persen hambat radang ( inhibisi
radang ) rata rata ekstrak etanol daging buah labu kuning pada kaki tikus yang
ditunjukan pada tabel berikut :
Tabel 4.3

Persen hambat radang rata rata ekstrak etanol daging buah labu
kuning pada telapak kaki kiri tikus
Perlakuan
Kontrol (+)
Dosis I
Dosis II
Dosis III

Keterangan :
Kontrol (-) :
Kontrol (+) :
Dosis 1
:
Dosis 2
:
Dosis 3
:

Persen Hambat Radang (%)


96,81
68,81
81,80
94,80

CMC 1 %
Diberi Suspensi Piroksikam 0,45 mg/Kg BB
Dosis 1 diberi ekstrak etanol daging buah labu kuning 15,3 g/Kg BB
Dosis 2 diberi ekstrak etanol daging buah labu kuning 30,2 g/Kg BB
Dosis 3 diberi ekstrak etanol daging buah labu kuning 61,2 g/Kg BB

120
100
80
60
40
20
0
Kontrol (+)

Dosis I

Dosis II

Dosis III

Grafik 4.2 Grafik persen hambat radang rata-rata ekstrak etanol daging buah labu
kuning pada telapak kaki kiri tikus
Dapat dilihat dari gambar 4.2 bahwa infusa ekstrak etanol daging buah labu
kuning dosis 1 memiliki persen hambat radang yang lebih kecil dari pada dosis III,
dosis II dan dengan kontrol posotif. Ekstrak etanol daging buah labu kuning dosis II

22

memiliki persen hambat radang rata-rata yang lebih kecil dari pada dosis III dan
dengan kontrol positif, dan dosis III mempunyai mempunyai persen hambat radang
yang lebih rendah dari pada kontrol positif. Kontrol posotif atau obat pembanding
yang dipakai dalam penelitian ini adalah piroksikam yang mana mekanisme kerjanya
adalah menghambat enzim siklooksigenase yang berperan dalam pembentukan
prostaglandin.
Senyawa metabolit sekunder yang diduga sebagai antiinflamasi dalam daging
buah labu kuning adalah flavonoid yang dalam tubuh mekanisme kerjannya sama
dengan mekanisme kerja piroksikam yaitu bertindak menghambat enzim
siklooksigenase yang berperan dalam biosintesis prostaglandin.
Berdasarkan uji normalitas kolmogorov-smirnov terlihat bahwa sampel
terdistribusi normal (0,410>0,05) sehingga Ho diterima, artinya kelima kelompok
perlakuan diambil dari populsi yang terdistribusi normal. Berdasarkan uji Levene
menunjukan bahwa 0,53 > 0,05 sehingga Ho diterima, artinya semua variasi
homogen. Karena sampel terdistribusi normal dan semua variasi homogen, maka
selanjutnya uji ANAVA.
Berdasarkan uji ANAVA, terlihat bahwa data berbeda secara signifikan (0,000 <
0,05) sehingga Ho ditolak, artinya bahwa terdapat perbedaan aktivits di setiap
kelompok. Kemudian dilakukan uji lanjutan LSD untuk melihat efek terkecil sampai
dengan terbesar antara yang satu dengan yang lain sehingga diperoleh susunan
kelompok yang berbeda.
Hasil uji lanjutan LSD menunjukan bahwa kontrol positif, ekstrak etanol daging
buah labu kuning dosis I, dosis II dan dosis III adanya perbedaan yang bermakna

23

pada tingkat kepercayaan 95 % bila dibandingkan dengan kontrol negatif. Tetapi


kontrol positif bila dibandingkan dengan dosis I, dosis II, dosis III aktifitas
antiinflamsinya lebih rendah, ini berarti seolah-olah ekstrak etanol daging buah labu
kuning memiliki aktivitas antiinflamasi lebih kuat dari pada kontrol positif atau
pembnding. Namun, itu hanya perbandingan saja untuk mengetahui benar atau
tidaknya bahwa setiap kelompok uji mempunyai aktivitas antiinflamasi yang berbeda
setelah uji ANAVA, karena dapat dilihat lagi pada gambar 4.2 bahwa persen hambat
rata-rata ekstrak etanol daging buah labu kuning masih di bawah persen hambat
rata rata kontrol positif. Hal ini kelompok kontrol positif atau piroksikam aktivitas
antiinflamasinya lebih kuat.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan

24

Dari hasil pengujian aktivitas antiinflamasi, ekstrak etanol daging buah labu
kuning memiliki aktivitas sebgai antiinflamasi dengan dosis yang paling efektif
menurunkan radang adalah dosis 61,2 g / Kg BB.

5.2 Saran
Disarankan kepada peneliti selanjutnya untuk menguji aktivitas ekstrak etanol
daging buah labu kuning sebagai antiinflamasi dengan metode lain dan perlu
dilakukan pengujian toksisitas sehingga dapat dinyatakan bahwa ekstrak etanol
daging buah labu kuning aman untuk digunakan sebagai obat.

25