Anda di halaman 1dari 29

Bacalah dan jawablah pertanyaan berikut:

Perihelion adalah titik terdekat dengan matahari, aphelion


adalah titik terjauh dari matahari. Perhatikan gambar elips di
bawah ini :

Hukum Kepler 3 memiliki bentuk : a^3 = T^2


a adalah setengah sumbu panjang (dalam SA atau AU), T
adalah periode benda langit mengelilingi Matahari (dalam
tahun), jadi :
a = akar pangkat tiga dari (T^2)
Cari eksentrisitas dari data Perihelion yang diberikan
Rumus Perihelion Pe = a(1 e)
Masukkan nilai ini untuk mencari jarak Aphelion :
Rumus aphelion Ape = a (1+e)
Soal:
1. Sebuah asteroid mempunyai jarak perihelium 2,0 Satuan
Astronomi (SA). Jika periodenya
5,2 tahun. Jarak apheliumnya adalah
a. 1 satuan astronomi
b. 2 satuan astronomi
c. 3 satuan astronomi

d. 4 satuan astronomi
e. 5 satuan astronom
2. Perbandingan diameter sudut suatu bintang saat suatu
planet di titik perihelion dan aphelion adalah
48:50,eksentrisitasorbit planet mengelilingi bintang
adalah.....
3. Periode orbit merkurius adalah 88 hari, jika jarak perihelion
0,3 SA berapa eksentrisitasnya?
Prinsip pancaran benda hitam (bintang termasuk benda hitam
menurut fisika) :
Benda hitam memancarkan energi pada semua panjang
gelombang
Ada panjang gelombang tertentu yang dipancarkan
dengan intensitas lebih besar dari yang lainnya, disebut
max, nilainya berhubungan dengan suhu benda hitam
tersebut (T) dengan persamaan (disebut Hukum Wien):
max . T = 2,898 . 10-3 mK
dalam meter dan T dalam Kelvin, 2,898 . 10-3 mK disebut
konstanta Wien
Semakin tinggi suhu benda, maka semakin kecil panjang
gelombang (menuju warna biru)
Semakin rendah suhu benda, maka semakin besar
panjang gelombang (menuju warna merah)
Jadi suhu bintang menyatakan juga warna bintang
Grafik energi bintang dengan suhu yang berbeda-beda
bisa dilihat seperti gambar ini :

Soal:
4. Tiga buah bintang A,B dan C masingmasing menunjukkan
pancaran spektrum pada
panjang gelombang 5000, 7000 dan 10000 Angstrom.
Dalam hal ini bisa disimpulkan
bahwa temperatur bintang tersebut mengikuti kaedah
berikut
a. A lebih panas dari B dan B lebih panas dari C
b. C lebih panas dari B dan B lebih panas dari A
c. A lebih panas dari B dan C lebih panas dari A
d. A lebih panas dari C dan B lebih panas dari C
e. A lebih panas dari B dan B sama panas dengan C
Rumus kecepatan orbit ada tiga bentuk :

R adalah radius orbit, T adalah periode orbit, M adalah


massa pusat yang diorbit, G adalah konstanta gravitasi, g
adalah percepatan gravitasi yang dirasakan satelit dari
planet induk (bukan gravitasi di permukaan planet).
G = 6,67 x 10-11,ingat 1 hari =24 jam dan 1 jam =3600 sekon

Soal:

5. Titan adalah satelit Planet Saturnus yang mengorbit dengan


lintasan yang berupa
lingkaran dengan kecepatan orbit 5595,25 m/s, dan periode
orbitnya adalah 15,9 hari.
Hitunglah:
a. Radius orbitnya
b. Massa planet Saturnus.

1. BINTANG
1.1. SATUAN JARAK DAN SUDUT
Untuk menyatakan jarak, ada beberapa satuan yang biasa dipakai dalam
astronomi yaitu:
1. Satuan Astronomi (SA) atau Astronomical Unit (AU) yaitu jarak rata-rata antara Bumi dan
Matahari yang besarnya 149.597.870,7 atau 150 x 106 km.
2. Tahun cahaya (light year = ly) yaitu jarak yang ditempuh oleh cahaya selama satu tahun
dalam ruang hampa dengan kecepatan cahaya sebesar 3 x 105 km/s.

3. Parsec (pc) yaitu jarak bintang yang paralaksnya satu detik busur. Paralaks bintang akan
dibahas pada bab selanjutnya.
1 pc = 206265 AU
1 pc = 3,262 tahun cahaya

1 pc = 3,086 x 1013 km
Satuan lainnya yang penting dalam astronomi adalah satuan sudut. Selain
menggunakan derajat satuan lainnya yang sering digunakan adalah:
1. Radian. Kita tahu bahwa sudut 1800 sama dengan radian sehingga

2. Menit busur, 10 = 60
3. Detik Busur, 10 = 3600
CONTOH:
Isilah titik-titik dibawah ini:
a. 45 derajat = . Radian
b. 0,00056 radian = . Detik busur
c. 30.000.000 km = . SA
PEMBAHASAN:
a. Ingat 1 radian = 570,3, maka

b. Ingat 1 radian = 570,3 dan 10 = 3600, maka

c. Ingat 1 SA = 150 x 106 km, maka

LATIHAN 1

1. Satu derajat hampir sama dengan


a.
b.
c.
d.
e.

radian
100 radian
60 radian
3600 radian
0.01745 radian

2. Satu radian sama dengan


a.
b.
c.
d.
e.

206265 detik busur


100000 detik busur
3600 menit busur
60 derajat
648000 detik busur

3. Diameter sudut Matahari 30 menit busur atau ekivalen dengan


a.
b.
c.
d.
e.

3/100000 radian
873/100000 radian
1800/ 100000 radian
540/ 100000 radian
976/100000 radian

4. Bila kecepatan cahaya dalam vakum adalah 299.792 458 x 106 m/detik
maka 1 SA adalah
a.
b.
c.
d.
e.

365 detik cahaya


400 detik cahaya
499 detik cahaya
999 detik cahaya
720 detik cahaya

1.2. DIAMETER SUDUT DAN DIAMETER LINIER


Diametr sudut adalah besarnya sudut yang dibentuk oleh piringan sebuah
objek langit. Sedangkan diameter linier adalah diameter sebenarnya dari
objek tersebut.
Jari-jari suatu objek langit dapat kita tentukan dengan mengukur besarnya
sudut

yang

dibentuk

oleh

objek

langit

tersebut.

Misalkan

untuk

mengetahui radius matahari maka kita dapat mengamati berapa sudut


bundaran matahari yang kita lihat di Bumi.

pengamat

Gambar 1.1. Jari-jari sudut piringan objek langit yang dilihat


daridisebut
Bumi
Sudut
jari-jari sudut. R adalah jari-jari linier atau jari-jari

sebenarnya dan d adalah jarak. Hubungan antara jari-jari sudut dan jarijari linier adalah

Karena sudut kecil, maka

Sudut dinyatakan dalam radian. Dari pengukuran diketahui bahwa jarijari sudut matahari, = 960 = 4,654 x 10 -3 radian, dan jarak mataharibumi d = 1 AU = 1,496 x 1013 cm, maka jari-jari linier matahari adalah

LATIHAN 2
1. Hitung berapa diameter sudut matahari bila diamati dari planet Mars yang berjarak 1,51
SA Jika diketahui diameter sudut matahari diamati dari bumi adalah 30?
a. 32
b. 27
c. 20
d. 15
e. 12
2. Pada suatu malam saat bulan purnama, tercatat bahwa diameter sudut bulan adalah 0,460.
Jika radius linier bulan adalah 1,734 x 103 km, maka jarak Bulan dari Bumi adalah.
a. 1,42 x 105 km
b. 2,16 x 105 km
c. 3,84 x 105 km
d. 4,33 x 105 km
e. 8,66 x 105 km
(OSK 2009)

3.

Dari hasil pengukuran diperoleh diameter sudut sebuah bintik matahari (sunspot) adalah
20. Jika pada saat itu jarak Matahari-Bumi adalah 150.000.000 km, berapakah diameter
linier bintik matahari tersebut
a. 1435 km
b. 4357 km
c. 143579 km
d. 14544 km
e. 1435700 km
(OSK 2009)

4.

Nebula M20 yang dikenal dengan nama nebula Trifid, mempunyai diameter sudut
sebesar 20 menit busur, jika jarak nebula ini dari Bumi 2200 tahun cahaya, berapakah
diameter nebula ini?
a. Sekitar 0,5 tahun cahaya
b. Sekitar 13 tahun cahaya
c. Sekitar 100 tahun cahaya
d. Sekitar 4 tahun cahaya
e. Tidak dapat ditentukan jaraknya, karena datanya masih kurang
(OSK 2008)

5. Seorang astronot di permukaan Bulan melihat Bumi bercahaya dalam


keadaan purnama. Radius Bulan: 1738 km, radius Bumi: 6378 km dan
radius Matahari: 696000 km. Diameter sudut Bulan dan Matahari bila
dilihat dari Bumi sekitar 30 menit busur. Hasil pengamatan astronot
yang diharapkan
a. Diameter sudut Bumi lebih besar dibanding dengan diameter sudut
Matahari
b. Diameter sudut Bumi sama besar dengan diameter sudut Bulan
purnama bila dilihat dari Bumi
c. Diameter sudut Bumi nampak jauh lebih kecil dari diameter sudut
Matahari karena dilihat dari permukaan Bulan yang tak beratmosfer
d. Diameter sudut Bumi dilihat dari Bulan sama dengan diameter
sudut Matahari dilihat dari Bulan
e. Semua jawaban salah
(OSK 2007)

1.3. PARALAKS TRIGONOMETRI

Untuk menentukan jarak bintang yang dekat dapat menggunakan cara


paralaks trigonometri. Kita mengetahui bahwa bumi bergerak mengitari
matahari dengan periode orbit 365,25 hari. Akibat gerak edar Bumi,
bintang yang dekat akan terlihat bergeser letaknya terhadap bintang yang
jauh. Bintang tersebut seolah-olah menempuh lintasan berbentuk elips
relative terhadap latar belakang bintang yang jauh. Gerak elips paralaktik
ini sebenarnya merupakan pencerminan gerak bumi. Perhatikan gambar
berikut

bintan
g

O
A

Mataha
ri
Orbit
Bumi

Gambar 1.2. Paralaks


bintang

Hubungan antara paralaks dan jarak bintang diberikan oleh persamaan


tan p = OB/OC =

/d

adalah jarak bumi ke matahari dan d adalah jarak bintang, karena p


sudut yang kecil maka
p=

/d

p dinyatakan dalam radian. Bila sudut p dinyatakan dalam detik busur (1


radian = 206265) maka
p = 206265

/d

Astronomi sering menggunakan satuan parsec (pc) untuk menyatakan


jarak. Satu parsec didefinisikan sebagai jarak bintang yang paralaksnya
satu detik busur
1 pc = 206265 SA = 3,086 x 1018 cm
Satuan lain yang sering digunakan para astronom untuk menyatakan
jarak adalah satuan tahun cahaya, yaitu jarak yang ditempuh cahaya
dalam

setahun

dalam

ruang

hampa

dengan

kecepatan

cahaya

sebesar2,997925 x 1010 cm/s


1 tahun cahaya = 9,4605 x 1017 cm
1 pc = 3,26 tahun cahaya
Bila paralaks dinyatakan dalam detik busur dan jarak dinyatakan dalam
parsec maka paralaks bintang dihitung dengan persamaan
p = 1/d

1.4. TERANG BINTANG


Hipparchus pada abad kedua sebelum Masehi membagi bintang menurut
terangnya dalam enam kelompok. Bintang yang paling terang tergolong
magnitudo kesatu, yang lebih lemah tergolong magnitudo kedua,
demikian seterusnya hingga yang paling lemah, yang hampir tak terlihat
oleh mata termasuk magnitudo ke enam.

John Herschel kemudian mendapatkan bahwa kepekaan mata dalam


menilai terang bintang sebenarnya bersifat logaritmik. Bintang yang
magnitudonya satu ternyata 100 kali lebih terang daripada bintang yang
magnitudonya enam. Pada tahun 1856 Pogson mendefinisikan skala
satuan magnitude secara tegas. Skala Pogson didefinisikan sebagai:

E1 = fluks pancaran yang kita terima di bumi per cm 2 per detik oleh
bintang 1
E2 = fluks pancaran yang kita terima di bumi per cm 2 per detik oleh
bintang 2
m1 = magnitude bintang 1
m2 = magnitude bintang 2
Magnitudo yang kita bicarakan tadi merupakan ukuran terang bintang
yang kita lihat atau terang semu bintang (magnitudo bintang). Bintang
yang kita lihat terang belum tentu benar-benar terang, mungkin saja
karena jaraknya yang dekat maka bintang tersebut tampak terlihat
terang. Ingat persamaan

Fluks pancaran bintang berbanding terbalik dengan kuadrat jarak sumber


cahaya (luminositas)
Dimana
Untuk menyatakan luminositas atau kuat cahaya sebenarnya suatu
bintang, kita dapat mendefinisikan besaran magnitude mutlak, yaitu
magnitude bintang andaikan diamati dari jarak yang sama yaitu 10 pc.
Hubungan antara magnitude semu (m), magnitude mutlak (M) dan jarak
(d dalam pc) diberikan oleh persamaan berikut:
m M = - 5 + 5 log d

atau
M = m + 5 + 5 log p
p adalah paralaks bintang dalam detik busur, m M disebut modulus jarak
Kedua persamaan diatas dapat kita gunakan untuk menentukan jarak
bintang.
CONTOH:
1.

Pilih mana yang salah


a. Jika matahari dipindahkan ke jarak yang 100x lebih jauh dari sekarang, maka
terangnya akan menjadi 10.000x lebih lemah
b. Jika bintang Alpha Centauri dipindahkan jaraknya 10x lebih dekat dari sekarang maka
terangnya akan menjadi 100x lebih kuat
c. Terang bintang bermagnitudo 2 sama dengan 2x terang bintang bermagnitudo 1
d. Magnitudo semu sidefinisikan sebagai ukuran terang bintang sebagaimana kita lihat
e. Magnitudo mutlak (absolute) didefinisikan sebagai ukuran terang bintang kalau
bintang tersebut ditempatkan pada jarak 10 parsek

PEMBAHASAN:
1.

Pernyataan yang salah adalah C


Perbedaan 1 magnitudo menunjukan perbedaan terang 2,5x. Angka magnitude yang lebih
kecil menunjukan terang yang lebih besar. Jadi bintang yang mempunyai magnitudo 2,
terangnya 2,5x lebih lemah daripada bintang yang bermagnitudo 1.

LATIHAN 3

1. Magnitudo bintang P adalah 2. Bintang P terlihat 10 kali lebih terang


dari bintang Q, maka magnitudo bintang Q adalah
a. 4,5
b. 0,5
c. -0,5
d. -4,5
e. -2,0
2. Sebuah bintang dilihat dari Bumi memiliki magnitude sebesar 1,25. Jika
jarak bintang adalah 15 pc, maka magnitudo mutlak bintang tersebut
adalah
a. 3,7
b. 0,37
c. 2,5
d. 0,25
e. 0,75
3. Dari pengamatan diketahui bintang Alpha Centauri memiliki paralaks
sebesar 0,77 dan magnitudo semu -0,01. Maka magnitudo mutlaknya
adalah
a. 4,4
b. 4,1
c. 4,2
d. 3,9
e. 3,7
4. Bintang A dan B memiliki luminositas yang sama. Jika magnitude
bintang A dan bintang B berturut-turut adalah -0,8 dan 1,2 maka..
a. Bintang A 6,3 kali lebih jauh dari bintang B
b. Bintang A 6,3 kali lebih dekat dari bintang B
c. Bintang A 2,5 kali lebih jauh dari bintang B
d. Bintang A 2,5 kali lebih dekat dari bintang B
e. Bintang A memiliki jarak yang sama dengan bintang B
5. Proxima Centauri dilihat dari Bumi memiliki paralaks 0,76. Berapa
paralaxnya jika diamati dari sebuah asteroid yang berjarak 5 AU dari
matahari?

a. 1,69
b. 1,3
c. 3,8
d. 0,26
e. 0,12
6.

Berapa kali lebih terangkah bintang dengan magnitudo 1 dibandingkan dengan bintang
bermagnitudo 5
a. 25 kali
b. 40 kali
c. 50 kali
d. 75 kali
e. 100 kali
(OSK 2009)

7. Paralaks sebuah bintang yang dilihat dari Bumi besarnya adalah 0,5, berapakah besarnya
paralaks bintang tersebut apabila di lihat dari planet Mars yang berjarak 1,52 AU (Satuan
Anstronomi) dari Matahari
a. 0,25
b. 0,33
c. 0,5
d. 0,76
e. 1,0
(OSK 2009)
8. Kelas spektrum bintang X adalah K9, paralaks trigonometrinya px dan luminositasnya
adalah 1,0 kali luminositas Matahari, sedangkan bintang Y kelas spektrumnya adalah B3,
paralaks trigonometrinya py dan luminositasnya adalah 0,1 kali lumonositas Matahari.
Jika terang kedua bintang sama, maka rasio px/py adalah
a.
b. 2/
c.
d. 3
e. 1/
(OSP 2009)
9. Periode bintang ganda Alpha Centauri adalah 79,92 tahun, dan sudut
setengah sumbu panjangnya adalah 17,66 detik busur. Apabila paralaks

bintang ini adalah 0,74 detik busur, maka jumlah massa bintang ganda
ini adalah,
a. 2, 13 massa Matahari
b. 20 massa Matahari
c. 37,58 massa matahari
d. 1,17 massa matahari
e. 0,96 massa matahari
(OSP 2006)
10. Bintang A memiliki magnitudo 4 dan bintang B memiliki magnitudo 2, maka:
a. bintang A jaraknya lebih dekat ke Bumi dibandingkan bintang B
b. bintang A terlihat lebih redup dibandingkan bintang B
c. bintang A berumur lebih tua dibandingkan bintang B
d. bintang A lebih panas dibandingkan bintang B
e. jawaban a, b, c, dan d semuanya salah
(OSK 2005)
1.5. SPEKTRUM BINTANG
Kirchoff

pada

tahun

1859

mengemukakan

tiga

hukum

mengenai

pembentukan spektrum oleh materi


1.

Bila suatu benda langit, cair atau gas bertekanan tinggi dipijarkan, benda tadi akan
memacarkan energi dengan spectrum pada semua panjang gelombang. Spektrum ini

2.

disebut spektrum kontinu


Gas bertekanan rendah bila dipijarkan akan memancarkan energi hanya pada warna atau
panjang gelombang tertentu saja. Spektrum yang diperoleh berupa garis-garis terang

3.

yang disebut garis pancaran atau garis emisi.


Bila seberkas cahaya putih dengan spectrum kontunu dilewatkan melalui gas yang dingin
dan renggang (bertekanan rendah) gas tersebut akan menyerap cahaya tadi pada warna
atau panjang gelombang tertentu. Akibatnya akan diperoleh spectrum kontinu diselang
seling garis gelap yang disebut garis serapan atau garis absorbsi.

Ketiga hukum Kirchoff ini merupakan dasar-dasar dalam spektroskopi.


Cahaya bintang berlatar belakang spektrum kontinu menunjukan bahwa
cahaya bintang itu berasal dari gas yang bertekanan tinggi. Bagian
bintang yang memancarkan spectrum kontinu ini disebut fotosfer. Fotosfer
diselubungi oleh gas yang lebih dingin dan renggang yang merupakan

atmosfer bintang. Lapisan gas ini menyerap pancaran dengan spectrum


kontinu tadi pada panjang gelombang tertentu dan membentuk garisgaris gelap pada spectrum matahari maupun bintang lainnya. Untuk
matahari, lapisan kromosfer dan korona mempunyai temperatur lebih
tinggi yang disebabkan oleh proses pemanasan.
Adapun pengelompokan spektrum bintang adalah sebagai berikut:

Gambar 1.3. Pengelompokan Spekturm


Bintang

1. Kelas O
Garis absorbsi yang tampak tidak efektif. Garis Helium terionisasi, garis Nitrogen
terionisasi dua kali, garis Silicon terionisasi tiga kali dan garis atom lain yang terionisasi
beberapa kali tampak, tapi lemah. Garis Hidrogen juga tampak tapi lemah. Temperatur >
25.000 K. Warna biru
2. Kelas B
Garis Helium netral, garis Silicon terionisasi satu dan dua kali serta garis Oksigen
terionisasi terlihat. Garis Hidrogen lebih jelas daripada kelas O. Temperatur antara
25.000 10.000 K. Warna biru
3. Kelas A

Garis Hidrogen terkuat pada kelas ini. Garis ion Magnesium, Silicon, Besi, Titanium dan
Kalsium terionisasi satu kali mulai tampak. Garis logam netral terlihat lemah.
Temperatur antara 10.000 7500 K. Warna biru
4. Kelas F
Garis Hidrogen lebih lemah dari kelas A tetapi masih jelas. Garis-garis Kalsium, Besi
dan Chromium terionisasi satu kali dan juga garis Besi dan Chromium netral serta garis
logam lainnya mulai terlihat. Temperatur antara 7500 6000 K. Warna biru keputihputihan.
5. Kelas G
Garis Hidrogen lebih lemah daripada kelas F. Garis Kalsium terionisasi terlihat. Garisgaris logam terionisasi, logam netral dan tampak Pita molekul CH (G-band) tampak
sangat kuat. Temperatur antara 6000 5000 K. Warna putih kekuning-kuningan.
6. Kelas K
Garis logam netral tampak mendominasi. Garis Hidrogen lemah sekali. Pita molekul TiO
mulai tampak. Temperature antara 5000 3500 K. Warna jingga kemerah-merahan
7. Kelas M
Pita molekul TiO (Titanium Oksida) terlihat sangat mendominasi, garis logam netral
tampak dengan jelas. Temperatur < 3500 K. Warna merah

Diantara kelas di atas masih ada pembagian dalam sub kelas. Misalnya
antara kelas B dan A ada pembagian subkelas B0, B1, B2, , B3, A0.
Matahari kita tergolong bintang kelas G2
Pada tahun 1943 Morgan dan Keenan dari Observatorium Yerkes membagi
bintang dalam kelas luminositas yaitu:
Kelas Ia

Maharaksasa yang sangat terang

Kelas Ib

Maharaksasa yang kurang terang

Kelas II

Raksasa yang terang

Kelas III

Raksasa

Kelas IV

Subraksasa

Kelas V

Raksasa

Kelas Luminositas Bintang dari Morgan-Keenan (MK) digambarkan dalam


diagram Hertzprung-Russell (diagram HR)

1.4. Kelas Luminositas


Bintang

Matahari tergolong bintang kelas G2V yaitu bintang deret utama dengan
kelas spectrum G2. Contoh lainnya adalah bintang Betelgeuse dengan
spectrum M2I yaitu bintang maharaksasa dengan kelas spektrum M2.

Gambar 1.5. Diagram Hertzprung-

Russell
1.6. WARNA BINTANG
Tinjau dua buah bintang A dan B. Bintang A berwarna biru dan bintang B
berwarna kuning kemerah-mearhan.
Bila kedua bintang ini kita potret dengan menggunakan pelat potret dan
filter yang peka untuk cahaya biru maka kita akan melihat bintang A
tampak lebih terang. Namun jika kedua bintang tersebut kita potret
menggunakan filter yang peka untuk cahaya kuning

maka kita akan

melihat bintang B tampak lebih terang.


Kita bisa memperkirakan temperatur bintang dengan membandingkan
kedua

potret

itu.

Temperatur

yang

ditentukan

dengan

membandingkan warna bintang, disebut temperatur warna bintang.

cara

Kita melihat bahwa bintang bila dipotret dengan menggunakan kombinasi


pelat potret dan filter dalam warna berlainan terangnya menjadi berbeda
juga.
Magnitudo bintang yang diukur dengan menggunakan kombinasi filter
dalam

warna

kuning

disebut

magnitudo

visual

atau

disingkat

V.

Sedangkan magitudo yang diukur dalam warna biru disebut magnitudo


fotografis atau disingkat B. Magnitudo ini bisa diukur dalam berbagai
warna yang lain misalnya ultraviolet, U. Selisih magnitude B-V atau U-B
disebut indeks warna. Indeks warna bisa digunakan sebagai petunjuk
temperatur warna bintang.
Kita dapat langsung memakai indeks warna B V jika bintang itu dekat.
Bila jarak bintang dekat, B V akan memberi harga yang sesungguhnya.
Namun jika bintang berjarak jauh, maka cahaya bintang tersebut akan
dipengaruhi oleh materi antar bintang, sehingga B V tidak memberi
warna yang sesungguhnya. Indeks warna harus dikoreksi.
Kita sebut B0 dan V0 sebagai magnitudo intrinsik bintang yaitu magnitudo
bintang yang sebenarnya sebelum cahaya bintang tersebut mengalami
absorbsi oleh materi antar bintang. Sedangkan V dan B adalah magnitudo
yang diterima di Bumi, maka
AB = B B0 dan AV = V V0
Karena absorbsi ini, warna juga akan berubah yaitu
(B V) = (B V) (B0 V0)
(B B0) (V V0) = AB AV > 0
(B V) ini disebut ekses warna (Color Excess)
Kalau bintang itu menjadi lebih merah, B V menjadi lebih besar
Ekses warna: EB-V = (B V) (B V)0
Hubungan antara ekses warna dan absorbs adalah
Av / EB-V = 3,2

Jika kita memperhitungkan adanya absorbsi maka hubungan magnitude


semu, magnitudo mutlak dan jarak adalah
mv Mv = -5 + 5 log d + Av
CONTOH:
1.

Pilih mana yang salah


a. Komposisi kimia bintang dapat ditentukan dari spektrum bintang
b. Urutan klasifikasi spectrum bintang O, B, A, F, G, K, M menunjukan urutan
temperatur bintang yang menurun
c. Kelas spektrum bintang menunjukan temperature permukaan bintang
d. Kelas spektrum bintang menunjukan temperature inti bintang
e. Yang disebut bintang normal adalah bintang yang spektrumnya menunjukkan garisgris absorbsi saja

2.

Diketahui magnitude bintang A adalah 6,75 dan magnitudo bintang


B adalah 8,44. Berapa magnitudo total bintang ganda tersebut?
a. 6,54
b. 4,56
c. 3,57
d. 8,29
e. 7,10

3. Dari hasil pengamatan pada sebuah bintang didapatkan U = 7,25, B =


7,53 dan V = 7,14. Diketahui harga (U B) 0 = -0,52. Hitung magnitudo
intrinsic U, B dan V
a. V0 = 6,07, B0 = 6,13, U0 = 5,61
b. V0 = 4,21, B0 = 4,57, U0 = 4,68
c. V0 = 7,25, B0 = 7,53, U0 = 7,14
d. V0 = 8,19, B0 = 8,38, U0 = 8,75
e. V0 = 6,34, B0 = 7,75, U0 = 7,48
PEMBAHASAN:
1.

Jawaban : D
Kelas spektrum bintang menunjukan temperatur permukaan bintang bukan temperatur
inti bintang

2.

mA = 6,75
mB = 8,44

(A)
3.

U = 7,25; B = 7,53: V = 7,14


(U B)0 = -0,52
U B = 7,25 7,53 = -0,28
E(U B) = (U B) (U B)0 = -0,28 (-0,52) = 0,24
E(U B) = 0,72 E(B V)
0,24 = 0,72 E(B V)
E(B V) = 0,33
Av = 3,2 E(B V) = 3,2 x 0,33 = 1,067
V V0 = Av

V0 = V Av = 7,14 1,067 = 6,073


E(B V) = (B V) (B V)0
0,33 = (7,53 7,14) (B V)0
(B V)0 = 0,06
(B V)0 = B0 V0 = 0,06
B0 = 0,06 + 6,073 = 6,133
(U B)0 = U0 B0 = -0,52
U0 = -0,52 + 6,133 = 5,613
(A) V0 = 6,07; B0 = 6,13; U0 = 5,61
LATIHAN 4
Untuk soal nomor 1 3

perhatikan table dibawah ini. Empat bintang

diamati dalam panjang gelombang visual (V) dan Biru (B)


N

o
1

4,20

4,35

3,15

2,90

3,88

3,60

2,37

2,15

5.

4,01

4,12

1. Bintang yang paling terang dilihat dengan mata adalah


a. Bintang 1
b. Bintang 2
c. Bintang 3
d. Bintang 4
e. Bintang 5
2. Bintang yang paling panas

a. Bintang 1
b. Bintang 2
c. Bintang 3
d. Bintang 4
e. Bintang 5
3. Jika luminositas keempat bintang diatas sama, maka bintang mana
yang jari-jarinya paling besar?
a. Bintang 1
b. Bintang 2
c. Bintang 3
d. Bintang 4
e. Bintang 5
4. Bintang A magnitudo visual 0,14 dan magnitudo fotometri -0,03.
Sedangkan bintang B memiliki magnitude visual 0,70 dan magnitudo
fotometri 2,14. Dari informasi tersebut dapat disimpulkan bahwa ..
a. Bintang A berwarna merah dan B berwarna kuning
b. Bintang A berwarna biru dan B berwarna merah
c. Bintang A lebih jauh dari B
d. Bintang A lebih dekat dari B
e. Tidak ada jawaban yang benar
5. Sebuah bintang memiliki magnitudo mutlak Mv = 0,2 dan koreksi
bolometric 0,04. Berapa magnitudo bolometric bintang tersebut?
a. 0,26
b. 0,54
c. 0,16
d. 2,13
e. 3,02
6. Berapa luminositas bintang pada soal nomor 5 jika magnitudo multak
bolometrik matahari adalah 4,74
a.

27 L

b.

37 L

c.

47 L

d.

67 L

e.

77 L

7. Bintang Vega memiliki paralaks p = 0,133 dan korelasi bolometric BC


= 0,15. Jika diketahui mbol bintang tersebut adalah -0,19. Berapa
Magnitudo mutlak Mv bintang Vega?
a. 0,58
b. 1,24
c. 2,58
d. 3,45
e. 3,67
8. Dari hasil pengamatan pada sebuah bintang diperoleh magnitude
visual V = 8,9 dan magnitude Biru B = 9,2. Warna intrinsic untuk
bintang ini adalah (B V)0 = 0,15. Berapa magnitude intrinsic untuk V
dan B apabila materi antar bintang di depan bintang ini adalah normal
a. V0 = 9,22 dan B0 = 9,43
b. V0 = 8,42 dan B0 = 8,57
c. V0 = 9,17 dan B0 = 8,93
d. V0 = 8,9 dan B0 = 9,2
e. V0 = 9,76 dan B0 = 10,01
9. Berapa besar absorbsi oleh materi antar bintang jika diketahui jarak
sebenarnya adalah 8 pc, magnitudo mutlak 5,2 dan magnitudo semu
4,95
a. 0,02
b. 0,50
c. 1,52
d. 0,23
e. 1,87
10. Pada

pasangan

sebuah

bintang

ganda,

komponen

pertamanya

memiliki magnitudo 5,2. Jika magnitudo total bintang ganda tersebut


adalah 4,7. Berapa magnitudo bintang pasangannya
a. 0,5
b. 4,6
c. 5,8
d. 2,3

e. 3,2
1.7. GERAK BINTANG
Pada zaman dahulu, orang menganggap bahwa bintang adalah benda
yang selalu tetap letaknya di bola langit. Namun ternyata bintang tidaklah
tetap melainkan berubah letaknya. Namun karena letaknya yang sangat
jauh, maka pergerakan bintang tersebut baru bisa teramati setelah
ratusan ribu tahun. Disini kita mendefinisikan laju perubahan sudut letak
suatu

bintang

disebut

gerak

sejati

(proper

motion).

Gerak

sejati

dilambangkan dengan dan dinyatakan dengan detik busur pertahun.


Bintang yang gerak sejatinya terbesar adalah bintang Barnard dengan =
10,25 per tahun. Dengan kata lain dalam waktu 180 tahun, bintang
Barnard hanya bergeser selebar bulan purnama

V
Vt
Vr

Pengama
t
Gambar 1.6. Gerak Diri
Bintang

Keterangan:
Vt = kecepatan tangensial
Vr = kecepatan radial
V = kecepatan linier
d = jarak bintang
= gerak diri (proper motion)
Informasi

tentang

gerak

bintang

diperoleh

juga

dari

pengamatan

kecepatan radialnya, yaitu komponen kecepatan yang searah garis


pandang. Kecepatan radial dapat diukur dari efek Doppler pada spectrum
bintang, ditentukan dengan rumus

Gambar 1.7. Pergeseran Spectrum


Bintang

= diamati - diam
Vr berharga negatif, garis spektrum bergeser kearah panjang gelombang
lebih pendek (pergeseran biru). Vr berharga npositif, garis spektrum
bergeser kearah panjang gelombang lebih panjang (pergeseran merah).
Pergeseran biru berarti bintang atau galaksi atau obyek langit mendekati
pengamat (di Bumi). Sebaliknya pergeseran merah berarti obyek langit
tersebut menjauhi pengamat.

Komponen kecepatan bintang lainnya adalah kecepatan tangensial yaitu


komponen kecepatan yang tegak lurus garis pandang. Hubungan antara
kecepatan tangensial dan gerak sejati adalah

d adalah jarak bintang. Jika

dinyatakan dalam detik busur pertahun, d

dalam parsec dan Vt dalam km/s maka

LATIHAN 5:
1. Berdasarkan data spektroskopi, kecepatan radial galaksi Andromeda adalah 240 km/detik
menuju pengamat. Andaikan, kecepatan tangensial galaksi itu 180 km/detik. Jika Bumi
dianggap sebagai acuan yang diam, berapa kecepatan Andromeda dalam ruang antar
galaksi?
a. 160 km/detik
b. 300 km/detik
c. 210 km/detik
d. 420 km/detik
e. 270 km/detik
2. Sebuah bintang mempunyai gerak diri (proper motion) sebesar 5/tahun (5 detik
busur/tahun) dan kecepatan radialnya adalah 80 km/s. Jika jarak bintang ini adalah 2,5
pc, berapakah kecepatan linier bintang ini?
a. 85,73 km/s
b. 91,80 km/s
c. 94,84 km/s
d. 96,14 km/s
e. 99,55 km/s
(OSP 2009)

3. Garis spektrum suatu elemen yang panjang gelombang normalnya adalah 5000 Angstrom
diamati pada spektrum bintang berada pada panjang gelombang 5001 Angstrom.
Berdasarkan data ini maka kecepatan pergerakan bintang tersebut adalah
a. 50 km/s
b. 60 km/s
c. 75 km/s
d. 2,99 x 105 km/s
e. Kecepatannya tidak bisa ditentukan karena datanya kurang
(OSK 2008)
4. Bintang Barnard memiliki gerak diri (proper motion) sebesar 10 detik busur per tahun,
dan jaraknya 1,8 pc (parsec). Karena 1 pc = 3 x 1013 km maka komponen kecepatan
ruangnya yang tegak lurus garis penglihatan, dalam km/detik adalah
a. 87 km/detik
b. 10 km/detik
c. 1,8 km/detik
d. 78 km/detik
e. 94 km/detik
(OSK 2008)