Anda di halaman 1dari 73

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA-PRAKTEK (KKN-P)

PG KEBON AGUNG MALANG

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang KKN-P
Di negara kita saat ini telah banyak berdiri dan berkembang
beberapa sektor industri baik yang berskala kecil, menengah, maupun
besar yang bertujuan untuk memajukan aspek perekonomian negara. PG
Kebon Agung merupakan salah satu industri berskala besar yang turut
berperan dalam memajukan sistem perekonomian Indonesia.
Meningkatnya pembangunan dunia industri di Indonesia saat ini
sangatlah diharapkan. Hal tersebut ditujukan untuk dapat mengatasi
masalah-masalah perekonomian yang terjadi di Indonesia seperti
kurangnya lapangan pekerjaan, masih kecilnya pendapatan perkapita
Indonesia, serta masih besarnya ketergantungan Indonesia terhadap
komoditi impor dari luar negeri. Sehingga dengan semakin maju dan
bertambahnya sektor industri dapat menciptakan lapangan pekerjaan yang
lebih luas, meningkatkan pendapatan perkapita Indonesia, dan Indonesia
mampu untuk memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa harus tergantung dari
komoditi impor.
Keberhasilan dalam bidang indusrialisasi dapat tercapai jika
dilakukan suatu penelitian, perencanaan serta pengembangan dan
dukungan dari berbagai departemen terkait yang saling menunjang.
Salah satu faktor yang menunjang adalah departemen pendidikan
yang merupakan bagian dalam menyediakan tenaga-tenaga ahli, sehingga
secara aktif dan kreatif turut memikirkan guna mencari terobosanterobosan baru yang sesuai dengan perkembangan teknologi industri di
Indonesia.
Program pendidikan S-1 diarahkan untuk dibekali kemampuan
teoritis yang mencukupi kepada mahasiswa, namun kurang dalam
pelaksanaan aplikatif dan praktik khususnya di lapangan sehingga timbul
kesenjangan antara teori yang didapatkan di bangku kuliah dan kondisi
JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 1

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA-PRAKTEK (KKN-P)


PG KEBON AGUNG MALANG

sebenarnya yang ada di lapangan. Oleh karena itu pemerintah


mengeluarkan kebijakan yang dirumuskan dalam program pendidikan
terpadu (link and match) antar perguruan tinggi dan perusahaan.
Jurusan Mesin Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Malang
menjalankan program ini dengan mewajibkan mahasiswanya untuk
melaksanakan Praktik Kerja Lapangan (PKL) pada perusahaan yang sesuai
dengan bidang kajian yang dipilih mahasiswa sehingga mahasiswa
mengetahui gambaran nyata dari aplikasi ilmu yang telah dipelajarinya di
bangku kuliah dalam dunia kerja. Ini sesuai dengan misi jurusan teknik
mesin sendiri sebagai salah satu ujung tombak pelaksana proses
pendidikan

akademik

unggulan

berketetapan

selalu

mengikuti

perkembangan iptek demi terwujudnya keluaran yang berkualitas sesuai


dengan kebutuhan sarjana teknik mesin tingkat nasional maupun
internasional.
1.2. Tujuan KKN-P
Kerja praktek adalah salah satu kurikulum yang berlaku di Jurusan
Teknik Mesin yang harus dilakukan oleh semua mahasiswa sebelum
melakukan tugas akhir. Adapun tujuan dan manfaat dari kerja praktek itu
sendiri, yaitu :
1. Mengetahui seluk beluk dunia kerja.
2. Melihat langsung aplikasi dan kebenaran teori yang telah
dipelajari.
3. Memberikan kesempatan untuk mempelajari keterampilan dan
pengetahuan baru melalui kegiatan kerjasama dengan para
pakar industri yang telah berpengalaman di lapangan.
4. Mengaplikasikan dan membandingkan ilmu yang telah
diperoleh selama dalam perkuliahan dengan kenyataan yang
ada di lapangan.

JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA-PRAKTEK (KKN-P)


PG KEBON AGUNG MALANG

1.3. Rumusan masalah


Permasalahan yang dibahas dalam laporan ini adalah terbatas pada
pokok bahasan proses pembuatan gula di pabrik gula Kebon Agung
Malang dari tebu sampai menjadi gula.
1.4. Batasan Masalah
Laporan praktek kerja nyata ini agar lebih terarah maka kami
memberikan batasan pada : Proses produksi di PG. Kebon Agung
khususnya alat produksi yaitu mesin giling (cane cutter 1).
1.5. Metodologi Penyusunan Laporan
Dalam pelaksanaan Praktek Kerja Nyata ini digunakan dua metode
dalam pengumpulan data. Adapun metode praktek yang digunakan ini
adalah sebagai berikut:
1.

Metode Penelitian Kepustakaan (Library Research)


Adalah suatu metode yang digunakan dalam mendapatkan data
dengan jalan bertanya secara langsung pada saat perusahaan
mengadakan kegiatan sehari-hari terhadap masalah yang dianggap
penting. Kemudian juga dengan membaca sumber-sumber data
informasi lainnya yang berhubungan dengan pembahasan. Sehingga
dengan penelitian kepustakaan ini diperoleh secara teori mengenai
permasalahan yang dibahas.

2. Metode Penelitian lapangan (Field Research)


Metode ini digunakan dalam pengumpulan data, dimana
penyelidik secara langsung terjun pada proyek penelitian, sedangkan
cara lain yang dipakai dalam Field Research ini adalah :
a. Interview, yaitu suatu metode yang digunakan dalam mendapatkan
data dengan jalan mengajukan pertanyaan secara langsung pada
saat perusahaan mengadakan suatu kegiatan.

JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 3

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA-PRAKTEK (KKN-P)


PG KEBON AGUNG MALANG

b. Observasi, yaitu suatu metode dalam memperoleh data, dengan


mengadakan pengamatan langsung terhadap keadaan yang
sebenarnya dalam perusahaan.

JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 4

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA-PRAKTEK (KKN-P)


PG KEBON AGUNG MALANG

BAB II
TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN
2.1 Sejarah Perusahaan
2.1.1

Nama dan Pemilik


Pabrik Gula Kebon Agung didirikan untuk pertama kali
dengan nama NV Suikerfabriek Kebon Agung pada tanggal 20
Maret

1905

di

mengembangkan

Malang
usahanya

oleh
dia

Tan

Tjwan

mencari

Bie.

kredit

Dalam
dengan

menghipotikkan perusahaannya kepada De Javasche Bank Malang.


Rupanya dia tidak berhasil membayar hutangnya sehingga pada
tahun 1932 seluruh sahamnya sudah tergadaikan. Tiga tahun
kemudian pada RSUP tahun 1936 seluruh sahamnya sudah dimiliki
oleh De Javasche Bank, karena ia turut campur manajemen dengan
menunjuk agennya di Malang, Gede Legeerde Cominisaris, namun
beliau masih tetap menjabat sebagai direktur. Dalam RSUP
istimewa tanggal 16 Maret 1954 beliau diberhentikan dengan
hormat dari jabatannya sebagai direktur. Dalam RSUP luar biasa
tanggal 16 Maret 1954 diumumkan pemegang saham perorangan
ini yaitu Spaarfonds voor Beanbetn Van De Bank Indonesia
(yayasan dana tabungan pegawai Bank Indonesia) dan Bank
Indonesia (atas nama Penerima Dana Pensiun dan Tunjangan Bank
Indonesia).
Pada tahun 1962 pemegang saham perorangan ini
bergabung menjadi satu yayasan yang berbadan hukum sendiri
yang bernama Yayasan Dana Pensiun dan Tunjangan Hari Tua
Bank Indonesia, karena menjadi pemegang saham tunggal. Pada
tanggal 25 Februari 1992 direksi Bank Indonesia mendirikan
Yayasan Kesejahteraan Karyawan Bank Indonesia yang kemudian
diresmikan oleh notaris Abdul Latif dengan akte no. 29 tanggal 23
April 1992 kedalam yayasan baru itu termasuk Yayasan Dana
JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 5

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA-PRAKTEK (KKN-P)


PG KEBON AGUNG MALANG

Pensiun dan Tunjangan Hari Tua Bank Indonesia. Sehingga sejak


saat itu pemilik seluruh sahamnya beralih kepada yayasan
Kesejahteraan Karyawan Bank Indonesia.
Pada tanggal 20 Maret 1993 genap usia Pabrik Gula Kebon
Agung 75 tahun, oleh karena itu sebagai pelanjut usaha perseroan
didirikan Kebon Agung berkedudukan di Jakarta, dihadapkan
notaris Achmad Bajuini, SH dengan akte no. 120 tertanggal 27
Februari 1993. Perseroan ini didirikan untuk jangka waktu 75
tahun sejak 20 Maret 1993 sampai tanggal 20 Maret 2067. Saham
perseroan baru dimiliki oleh yayasan Kesejahteraan Bank
Indonesia. Terhitung mulai tanggal 22 Maret 1993, dalam rapat
umum luar biasa pemegang saham PG Kebon Agung yang telah
diputuskan bahwa YKK BI menjadi pemegang saham tunggal PG
Kebon Agung. Perseroan ini bergerak dalam berbagai bidang usaha
antara lain Pabrik Gula.
2.1.2 Pengelolaan Perusahaan
NV Suiker Fabriek Kebon Agung sejak tahun 1917 dikelola
oleh Firma Tiedeman Van Kerchem yang lebih dikenal TVK. Pada
tahun 1957 berlangsung aksi pembebasan Irian Barat yang pada
puncaknya semua perusahaan Belanda dinasionalisasikan. Sejak itu
Pabrik Gula di Jawa termasuk Pabrik Gula dilingkungan Pabrik
Gula Kebon Agung dikuasai oleh pemerintah RI Departemen
Pertanian dan namanya menjadi PPN Gula, dikelola oleh PPN Gula
yang kemudian menjadi BPU Gula. Masa pengelolaannya sampai
dengan badan itu dilikuidasi tahun 1967.
Pada tahun 1968, Pemerintah mengeluarkan Peraturan
Pemerintah No. 3 tentang perihal peninjauan kembali terhadap
perusahaan-perusahaan yang telah dinasionalisasikan. Berdasarkan
PP tersebut Kebon Agung dikembalikan pada Yayasan Dana
Pensiun dan Yayasan Dana Hari Tua Bank Indonesia. Setelah
JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 6

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA-PRAKTEK (KKN-P)


PG KEBON AGUNG MALANG

mengalami vakum selama beberapa bulan diangkat PT. Tri


Gunabina sebagai Direksi mulai tanggal 17 juni 1967. Tugasnya
berakhir tanggal 31 Maret 1993. Pada tanggal 1 April 1993
pengelola PT. Kebon Agung diserah terimakan oleh PT. Tri
Gunabina kepada direksi PT. Kebon Agung.
2.1.3

Perbaikan-perbaikan yang telah dilakukan


Dengan adanya modal yang cukup dan untuk meningkatkan
produksi maka diadakan perbaikan antara lain :
1. Tahun 1937 dilakukan pembaharuan dan perbaikan mesin
giling di stasiun gilingan.
2. Tahun 1954 dilakukan pembaharuan pembangunan.
3. Tahun 1964 dilakukan penambahan ketel Borsig di stasiun
ketel.
4. Tahun 1970 dilakukan perubahan pada stasiun putaran dari
manual menjadi semi otomatis.
5. Tahun 1975 dilakukan pembaharuan mesin gilingan di stasiun
gilingan dan perluasan area penanaman tebu.
6. Tahun 1982 dilakukan penambahan alat putaran otomatis di
stasiun putaran.
7. Tahun 1989 dilakukan penambahan alat talofiltrat pada stasiun
pemurnian dan pembangunan fasilitas pengolahan limbah cair.
8. Tahun 1990 dilakukan penambahan alat talodura pada stasiun
pemurnian.
9. Tahun 1992 dilakukan penambahan crane atau katrol tebu pada
emplacement.
10. Tahun 1993 dilakukan penambahan dust collector pada stasiun
ketel.
11. Tahun 1993 dilakukan penambahan indikator pada evaporator.
12. Tahun 1997 dilakukan penambahan alat unigrator pada stasiun
gilingan.
JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 7

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA-PRAKTEK (KKN-P)


PG KEBON AGUNG MALANG

13. Tahun 1997 dilakukan penambahan alat putaran low grade dan
putaran high Grade pada stasiun putaran.
14. Tahun 1999 dilakukan penambahan water tube boiler
Yoshimine no. 1, flash tank dan air reservoir.
15. Tahun 2000 dilakukan penambahan pre-evaporator pada
stasiun penguapan.
16. Tahun 2004 dilakukan penambahan alat putar discontinous
centrifugal pada stasiun putaran.
17. Tahun 2005 dilakukan penambahan ketel Yoshimine II.
18. Tahun 2006 dilkukan penambahan alat single clarifier.
19. Tahun 2007 dilakukan perbaikan alat rotary vaccum filter pada
stasiun pemurnian.
20. Tahun 2008 dilakukan penggantian gilingan no. 1 dan puteran
Brod Bent.
21. Tahun 2010 dilakukan penyempurnaan sistem kontrol pada
stasiun

gilingan

dengan

menggunakan

sistem

berbasis

microcontroller, penggantian rol gilingan no: 2, 3 dan 4


diameter 45 dan panjang 90, penambaan masakan no. 12,
penambahan cooling tower kapasitas 2000m3 sebanyak 4 buah.
22. Tahun 2011 dilakukan penambahan pada alat pembangkit yaitu
1 buah Boiler JJ (Jiangxi Jianglian) dari Cina.
23. Tahun 2012 dilakukan penambahan 1 unit penghalus ampas
tebu dari Thailand yaitu HDS (Heavy Duty Shredder).
24. Tahun 2012 dilakukan penggantian pada Pre Limer dengan
Static Mixer.
25. Tahun 2014 dilakukan perubahan tempat pada evaporator
(dipindahkan ke atas).
26. Tahun 2014 dilakukan penambahan pada kapasitas Loading
Dock Meja Tebu menjadi berkapasitas 108.750 kg.

JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 8

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA-PRAKTEK (KKN-P)


PG KEBON AGUNG MALANG

2.1.4

Tujuan Perusahaan
Setiap perusahaan baik yang bergerak dalam industri
manufaktur maupun jasa dalam usahanya pasti mempunyai satu
tujuan yang ingin dicapai dalam waktu dekat maupun dalam waktu
yang lama. Begitu juga dengan PG Kebon Agung Malang,
mempunyai tujuan secara umum yaitu meningkatkan volume
produksi setiap tahun serta mengembangkan perusahaan.
2.1.4.1 Tujuan Jangka Pendek
Tujuan jangka pendek adalah tujuan perusahaan
yang harus dicapai dalam waktu yang relatif singkat,
umumnya kurang dari 5 tahun. Tujuan jangka pendek
perusahaan adalah :
o Berusaha menekan biaya agar seefisien mungkin, baik
biaya produksi maupun biaya lainnya.
o Meningkatkan volume produksi dan penjualan.
o Berusaha

semaksimal

mungkin

untuk

memenuhi

permintaan konsumen baik dari segi kualitas maupun


kuantitas.
2.1.4.2 Tujuan Jangka Panjang
Tujuan jangka panjang merupakan kelanjutan dari
tujuan

jangka

pendek

yang

telah

ditetapkan

oleh

perusahaan. Tujuan jangka panjang PG Kebon Agung


Malang adalah :
a.

Mengadakan ekspansi dalam bidang pemasaran.

b.

Mencapai tingkat laba optimal.

c.

Menjaga kontinuitas perusahaan.

d.

Menyediakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat.

JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 9

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA-PRAKTEK (KKN-P)


PG KEBON AGUNG MALANG

2.2 Tempat dan Kedudukan Perusahaan


Banyak faktor yang harus diperhatikan dan diperhitungkan untuk
mendirikan perusahaan atau pabrik yang berpengaruh secara langsung
terhadap kelangsungan hidup perusahaan. PG Kebon Agung Malang
didirikan di jalan raya Malang-Blitar, yaitu sekitar 6 km dari kota Malang.
Lokasi PG Kebon Agung terletak di:
Desa

: Kebon Agung

Kecamatan : Pakisaji
Kabupaten : Malang
Propinsi

: Jawa Timur

Pemilihan lokasi tersebut didasarkan atas beberapa faktor, antar lain:


1. faktor bahan baku
2. faktor tenaga kerja
3. faktor transportasi
4. faktor iklim
5. faktor lingkungan
6. water supply dan power plant
2.2.1

Layout Perusahaan
Penyusunan layout yang tepat dapat memperlancar proses
produksi sehingga dapat diperoleh dengan seefektif mungkin.
Untuk itu, selain lokasi yang tepat layout juga menunjang jalannya
proses produksi.

JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 10

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA-PRAKTEK (KKN-P)


PG KEBON AGUNG MALANG

Gambar 2.1 Peta Lokasi Pabrik


Sumber: PG Kebon Agung Malang
2.3

Bentuk dan Badan Hukum Perusahaan


PG Kebon Agung Malang didirikan pada tahun 1908 oleh seorang
Tionghoa yang bernama Tan Tjwan Bie. Beliau selaku pemilik pabrik
tunggal dari pabrik ini yang bentuk usahanya bersifat perseorangan.
Karena suatu hal, pada tahun 1917 pabrik ini dijual kepada Javanische
Bank (yang sekarang bernama Bank Indonesia). Yang kemudian oleh Bank
Indonesia diserahkan kepada :
a.

Yayasan Dana Pensiun dan Tunjangan Hari Tua Bank Indonesia.

b.

Dana Tabungan Pegawai Bank Indonesia


Kedua badan inilah yang bertindak selaku pemilik dan pemegang
saham tunggal yang selanjutnya bentuknyapun diubah dari perseorangan
menjadi Perseroan Terbatas.

JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 11

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA-PRAKTEK (KKN-P)


PG KEBON AGUNG MALANG

2.4

Bidang Pekerjaan Perusahaan


Pabrik Gula Kebon Agung Malang dalam bidang kegiatannya telah
menjalankan usahanya dalam bidang produksi gula. Dalam melakukan
usaha ini perusahaan membagi beberapa tahapan sebelum, saat dan
sesudah produksi,dimana tahapan tersebut adalah sebagai berikut :
1. Tahapan sebelum produksi
Sebelum melakukan proses produksi, karyawan dari bagian
tanaman melakukan survey lapangan, untuk mendapatkan tanaman
tebu yang baik sebanyak-banyaknya untuk nantinya digunakan untuk
bahan baku dalam proses pembuatan gula, selain dari bagian tanaman
dari bagian teknik melakukan perbaikan untuk semua mesin dan
instrumen yang nantinya akan dibuat produksi dan dari bagian
instrumen melakukan kalibrasi ulang untuk sistem kontrol untuk tiaptiap stasiun.
2. Tahapan pada saat produksi
Pada saat melakukan produksi, disini tahapan yang paling penting
dalam perusahaan, dimana nanti pada proses giling harus memenuhi
target yang diinginkan oleh perusahaan. Semua proses harus berjalan
secara baik dan teratur, baik dari karyawan yang sedang piket dan juga
mesin-mesin

yang

digunakan

untuk

proses

produksi

sampai

menghasilkan produk jadi gula yang sudah terkemas. Selain gula yang
dihasilkan dari proses produksi, tetes tebu atau ampas tebu yang
berupa cairan bisa dijual juga yang biasanya digunakan sebagai bahan
baku pembuatan penyedap makanan, dan juga ampas yang berupa
blotong juga akan dijual kepada para petani karena hasil berupa
blotong ini baik digunakan sebagai pupuk tanaman.
3. Tahapan sesudah produksi
Sesudah proses produksi perusahaan akan mensuplai kebutuhan
gula yang ada di Jawa, karena Pabrik Gula Kebon Agung merupakan
pabrik gula yang menghasilkan gula paling banyak se-Jawa-Bali.
Untuk para karyawan biasanya perusahaan akan memberikan gaji
tunjangan setelah proses giling kepada setiap karyawan dan juga
liburan kepada semua karyawan yang ada di perusahaan.
JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 12

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA-PRAKTEK (KKN-P)


PG KEBON AGUNG MALANG

Tahapan-tahapan tersebut harus dilakukan secara berkala


sehingga dalam proses produksi nantinya akan berjalan dengan lancar
dan menghasilkan produk gula yang mempunyai kualitas tinggi.
Selain itu, perusahaan ini juga telah berpartisipasi dengan
anggota masyarakat sesuai dengan kemampuan yang ada, yaitu ikut
melaksanakan dan

merencanakan pengembangan dan penyebaran

teknologi di Indonesia. Beberapa prioritas yang menjadi sasaran


kegiatan perusahaan untuk kepentingan masyarakat antara lain :
1. Membantu masyarakat dalam memperoleh pasokan gula yang
cukup, sehingga pemerintah juga meminimalkan impor gula dari
luar negeri.
2. Membantu petani tebu untuk menjual hasil penanaman tebu untuk
dibeli dan dijadikan sebagai bahan baku pembuatan gula.
3. Ikut membantu pembinaan dan pemupukan tenaga ahli bangsa
Indonesia

dengan

memberikan

kesempatan

kepada

siswa

SMA/SMK dan mahasiswa perguruan tinggi untuk melaksanakan


praktek kerja lapangan.
4. Menjadi sponsor berbagai kegiatan sosial.
2.5

Struktur Organisasi Perusahaan


Struktur organisasi merupakan bagian yang penting bagi perusahaan,
karena untuk melakukan kegiatan perusahaan, perusahaan harus diatur
sedemikian rupa yaitu dengan jalan memisahkan fungsi-fungsi antara
pemimpin dan pelaksana sehingga disusunlah struktur organisasi
sedemikian rupa dan dapat menghsilkan kerja sama yang baik. Dengan
tujuan apa yang direncanakan oleh perusahaan dapat berjalan dengan
semestinya tanpa adanya penyimpangan yang berarti.
Adapun struktur organisasi yang berlaku di PG Kebon Agung
Malang berbentuk garis. Pada sistem ini, perintah mengalir dari puncak
pimpinan ke bawah dengan maksud agar dapat mengadakan pengawasan
secara efektif. PG Kebon Agung dikepalai oleh seorang pimpinan
membawahi empat bagian. Kepala bagian membawahi seksi dan sub-seksi.

JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 13

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA-PRAKTEK (KKN-P)


PG KEBON AGUNG MALANG

Adapun tugas pokok, wewenang dan tanggung jawab dari masingmasing bagian adalah sebagai berikut :
1.

Pimpinan Pabrik

Melaksanakan kebijaksanaan, prosedur dan cara kerja yang


telah disetujui oleh direksi.

Membuat dan melaksanakan rencana yang terperinci sesuai


dengan rencana jangka panjang dari perusahaan yang bekerja sama
dengan kepala-kepala bagian.

Memelihara dam mempertahankan mutu dari tiap-tiap


pelaksanaan tugas, efektifitas kerja pabrik dan penggunaan secara
produktif.

Meninjau secara teratur pelaksanaan pekerjaan dari tiaptiap bagian dan memberi standar yang telah ditentukan.

2.

Bagian TUK (Tata Usaha dan Keuangan)

Melaksanakan kebijakan dari sistem akuntansi dan prosedur


yang telah disepakati.

Mengusahakan catatan akuntansi yang cermat dan membuat


laporan keuangan yang teliti dan tepat pada waktunya.

Mengusahakan analisa biaya dan laporan dari varian pada


waktunya.

3.

Bagian Teknik

Membuat rencana dan jadwal reparasi serta pemeliharaan


semua mesin dan perlengkapan pabrik.

Menjalankan rencana pemeliharaan dan reparasi yang telah


disetujui dengan mutu pekerjaan dan pemeliharaan yang tinggi dan
biaya yang ekonomis.

Mengusahakan bekerjanya ketel, pembangkit tenaga listrik,


instalasi air untuk menjamin kontinuitas penyediaan uap, listrik
dan air dengan baik.

JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 14

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA-PRAKTEK (KKN-P)


PG KEBON AGUNG MALANG

Mengusahakan pekerja bengkel besi, kayu dan pekerjaan


sipil berjalan dengan baik.

4.

Mengkoordinir penyusunan RAB di bagian teknik.


Bagian Fabrikasi

Membuat rencana kegiatan produksi.

Menjalankan rencana kegiatan produksi yang telah disetujui.

Mengusahakan penetapan kegiatan giling dan menjamin hasil


perahan tebu yang optimal.

Mengusahakan

kerjanya

peralatan

pengolahan

untuk

mendapatkan hasil gula yang maksimum serta pembungkusan gula


yang efisien dan ekonomis.
5.

Bagian Tanaman

Membuat rencana kegiatan operasi tanaman.

Mengusahakan penanaman tebu dengan teknik yang


menjamin hasil produksi yang maksimum dengan biaya yang
ekonomis.

Merumuskan rencana dan strategi peningkatan kualitas


maupun kuantitas tebu rakyat untuk kepentingan petani tebu dan
perusahaan.

Mengusahakan penebangan dan pengangkutan tebu dengan


biaya yang ekonomis untuk menjaga kelancaran dan kontinuitas
proses perusahaan.

Struktur organisasi di bagian teknik, dikepalai oleh seorang manajer


yang mempunyai tugas, wewenang dan tanggung jawab seperti dijelaskan
di atas. Seorang manajer teknik membawahi :

Bidang Pendidikan dan Personalia


Bertugas mempersiapkan dan mengelola SDM serta mengadakan
kegiatan-kegiatan perbaikan dan kebutuhan karyawan teknik.

Bidang Logistik

JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 15

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA-PRAKTEK (KKN-P)


PG KEBON AGUNG MALANG

Bertugas mengurus masalah persediaan spare part dan material di


lingkungan bagian teknik.
Bidang T.P.P.L

Mengurus pengolahan limbah lingkungan, baik gas, cair maupun


padat.
Selain itu, manajer teknik membawahi seksi-seksi yang berhubungan,
yaitu :
a.

Kasie I, membawahi :

Gilingan

Bangunan

Garasi

b.

Kasie II, membawahi :

Ketel

Listrik dan instrumentasi

2.5.1

Besali

Komposisi Personalia Perusahaan


Komposisi karyawan yang baik adalah sesuai dengan
kebutuhan perusahaan, tidak kelebihan ataupun kekurangan
karyawan. Dengan komposisi karyawan yang sesuai diharapkan
perusahaan dapat bekerja seefektif dan seefisien mungkin sehingga
biaya produksi dapat dioptimalkan dan perusahaan dapat
meningkatkan keuntungan.
Karyawan PG Kebon Agung terdiri atas empat bagian, yaitu :
1. Karyawan staf atau pimpinan
Merupakan tenaga kerja yang pengangkatanya melalui
direksi di Surabaya, dimana tugas pokoknya bertanggung jawab
atas kelangsungan hidup perusahaan. Sedang tugas dan
pelaksanaanya dibantu oleh karyawan pelaksana.

JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 16

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA-PRAKTEK (KKN-P)


PG KEBON AGUNG MALANG

2. Karyawan pelaksana
Merupakan tenaga kerja yang melaksanakan kerja dan
wewenang serta instruksi dari pimpinan.

2.5.2

Jam Kerja Karyawan


Jam kerja bagi karyawan diberikan dengan maksud sebagi
pendisiplin diri sehingga mereka dapat bekerja pada waktu yang
telah ditentukan dan pulang pada waktunya. Demikian juga di PG
Kebon Agung menetapkan jam kerja dengan maksud untuk
meningkatkan kinerja karyawan supaya memiliki daya saing yang
handal. Semua karyawan berkewajiban melakasanakan tugas
dengan penuh tanggung jawab dilandasi kedisiplinan dan
kejujuran. Pembagian jam kerja bagi karyawan dibagi dua menurut
jenis karyawan yaitu karyawan yang terkait shift dan tidak terkait
shift. Pembagiannya sebagai berikut:
1. Waktu kerja bagi karyawan yang terkait shift :
a.

Waktu pembagian shift adalah pukul 05.00, 13.00 dan 21.00

WIB.
b.

Suling dibunyikan satu kali setiap waktu pergantian shift.

c.

Bagi karyawan yang akan diganti tidak diperkenankan


meninggalkan pekerjaan sebelum penggantiannya datang.

d.

Waktu kerja selama 8 jam kerja setiap hari.

e.

Jam kerja shift dibagi:


- Shift pagi masuk pukul 05.00 - 13.00 WIB.
- Shift siang masuk pukul 13.00 21.00 WIB.
- Shift malam masuk pukul 21.00 - 05.00 WIB.
2. Waktu kerja bagi karyawan yang tidak terkait shift :
a.
-

Hari Senin sampai Kamis


Pukul 07.00 - 11.30 WIB

JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 17

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA-PRAKTEK (KKN-P)


PG KEBON AGUNG MALANG

Pukul 11.30 - 12.30 WIB (istirahat)

Pukul l2.30 - 15.00WIB

b.

Hari Jumat

Pukul 07.00 -11.00 WIB

Pukul 11.00 - 13.00 WIB

Pukul 13.00 - 15.30 WIB

c.

Hari Sabtu
Pukul 07.00 -12.30 WIB

2.5.3

Kesejahteraan dan Keselamatan Karyawan


Kesejahteraan dan keselamatan bagi karyawan sangat
diperlukan dan dibutuhkan oleh karyawan yang bekerja pada suatu
perusahaan. Kesejahteraan yang dibutuhkan adalah penyediaan
berbagai fasilitas yang berhubungan langsung dengan pekerjaannya
maupun tidak berhubungan langsung dengan pekerjaannya,
misalnya penyediaan tempat sampah, kamar kecil, sarana
komunikasi (telepon), tempat ibadah, dll. Sedangkan keselamatan
yang dibutuhkan adalah rasa aman dalam melakukan pekerjaan
sehingga dapat bekerja dengan tenang, pemberian benda-benda
pengaman untuk pekerja yang mempunyai tingkat kecelakaan yang
tinggi seperti helm, masker, dan sebagainya.
2.5.3.1

Kesejahteraan Karyawan
Kesejahteraan diberikan oleh perusahaan untuk
kepentingan pekerja dengan maksud agar pekerja merasa
betah sehingga menimbulkan motivasi untuk bekerja lebih
giat sehingga akan menciptakan produktifitas yang tinggi
dan ini akan menguntungkan perusahaan. Demikian juga
dengan PT. PG Kebon Agung Malang memberikan
berbagai fasilitas bagi pekerja seperti:

JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 18

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA-PRAKTEK (KKN-P)


PG KEBON AGUNG MALANG

a. Pemberian rumah dinas bagi pekerja tetap dengan


jangka waktu tertentu sesuai dengan kebijaksanaan
perusahaan.
b. Tempat ibadah di sekitar perusahaan
c. Poliklinik dan pelayanan dokter kesehatan bagi
pekerja dan keluarganya, diadakan:

dalam musim giling

: 3 kali seminggu

luar musim giling

: 1 kali seminggu

d.

Fasilitas olah raga

e.

Koperasi, memberikan tunjangan seperti:


- Tunjangan hari raya keagamaan
- Tunjangan waktu meninggal

f.

Kesempatan membeli gula untuk konsumsi dengan


harga dibawah pasar

g. Sarana angkutan untuk anak sekolah (berupa bus


sekolah)
h. Rekreasi diadakan setahun sekali setelah musim
giling selesai
i.

Pemberian bingkisan selesai giling dan hiburan


gratis serta pertandingan olah raga persahabatan

j.

Cuti kerja yang diberikan kepada pekerja:


- Cuti tahunan
- Cuti (hari perkawinan keluarga)
- Cuti (ada keluarga meninggal)
- Cuti melahirkan dan haid (bagi pekerja wanita)
- Cuti untuk yang sakit terus-menerus

2.5.3.2

Keselamatan Karyawan
Untuk melindungi karyawan dan hal-hal yang
dianggap rawan serta membahayakan keselamatan dan
kesehatan karyawan selama kerja maka PG Kebon Agung

JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 19

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA-PRAKTEK (KKN-P)


PG KEBON AGUNG MALANG

dilengkapi dengan sarana dan prasarana kesehatan dan


keselamatan kerja, adapun sarana dan prasarana tersebut
antara lain:
a. Pemadam kebakaran yang terdiri dari hidran, busa
serta tepung (untuk pemadam api listrik).
b. Pelindung bagian mesin yang berputar.
c. Pemakaian masker untuk tempat yang berdebu.
d. Pelindung telinga untuk tempat yang bising.
e. Pemakaian pelindung kepala (helm).
f.

Pemakaian sabuk pengaman.

g. Pemakaian

sepatu

karet

untuk

pekerja

yang

berhubungan dengan listrik.


h. Pemakaian pelindung dada dan kaca mata untuk
pekerjaan mengelas.
i.

Dipasang slogan-slogan himbauan keselamatan dan


kesehatan kerja.

j.
2.5.4

Diadakan pemeriksaan berkala.

Macam Produk
Produk yang dihasilkan oleh PG. Kebon Agung adalah :

2.5.5

a.

Gula Kristal Putih (GKP).

b.

Tetes tebu.
Visi dan Misi PG. Kebon Agung
2.5.5.1

Visi
Menuju Pabrik Gula yang berdaya saing kuat dengan
produk berkualitas dan proses produksi efisien sehingga
menuju pabrik sehat dan bertumbuh kembang serta
berwawasan lingkungan.

2.5.5.2

Misi

JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 20

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA-PRAKTEK (KKN-P)


PG KEBON AGUNG MALANG

Dengan program Pengembangan Pabrik Gula Kebon Agung


(PPKA) menuju pabrik gula dengan kapsitas giling 10.000
TCD rendemen tebu 8 dan kualitas gula.

BAB III
PROSES PEMBUATAN GULA
3.1

Landasan Teori
3.1.1

Pengertian Tentang Gula/Saccharosa


Saccharosa adalah disaccarhida yang tersusun dari glukosa
dan fruktosa yang mempunyai rumus molekul C12H22O11 dan
merupakan golongan persenyawaan yang sangat penting diantara
macam-macam gula, pati, dan selulosa dengan berat molekul
342,296 mol.
Saccharosa mempunyai sifat-sifat sebagai berikut :

Bentuk Kristal

: monokolin, transparan

Titik didih

: 185-186C

Density pada suhu 15C

: 1,6 gr/cm

Panas pembakaran

: 1351,3 kkal/mol

Panas pembentukan

: 580,03 kkal/mol

Larutan gula dalam air pada temperatur tinggi terhidrolisa,


dan hidrolisa akan bertambah cepat dengan adanya asam yang
bekerja sebagai katalis. Reaksi yang terjadi :
H
C12H22O11 + H2O
JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 21

C6H12O6 + C6H12O6

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA-PRAKTEK (KKN-P)


PG KEBON AGUNG MALANG

Saccharosa

Glukosa + Fruktosa

Reaksi ini disebut inversi sedang campuran glukosa dan


fruktosa yang terjadi disebut gula invert. Dalam suasana asam
succhrosa mudah pecah, sedang dalam suasana basa tidak mudah
pecah.
Perpecahan gula dapat disebabkan oleh organisme yang
mengeluarkan enzim yang bekerja sebagai katalis. Kehilangan
saccharosa dapat terjadi jika tebu yang sudah ditebang terlalu lama
di stasiun gilingan sehingga waktu menebang dan menggiling
diusahakan secepat mungkin.
Salah satu parameter kualitas dari gula ditinjau dari warna
ICUMSA, yaitu menunjukkan kualitas warna gula dalam larutan.
ICUMSA ( International Commission For Uniform Methods of
Sugar Analysis) merupakan lembaga yang dibentuk untuk
menyusun metode analisis kualitas gula dengan anggota lebih dari
30 negara. Mengenai warna gula ICUMSA telah membuat rating
atau grade kualitas warna gula. Sistem rating berdasarkan warna
gula yang menunjukkan kemurnian dan banyaknya kotoran yang
terdapat dalam gula tersebut.
Macam - macam Gula berdasarkan warna ICUMSA
a. Gula Rafinasi (Refined Sugar) - ICUMSA 45
Gula dengan kualitas yang paling bagus karena melalui proses
pemurnian bertahap. Warna gula putih cerah. Untuk Indonesia gula
rafinasi diperuntukkan bagi industri makanan karena membutuhkan
gula dengan kadar kotoran yang sedikit dan warna putih.
b. Gula Ekstra Spesial - ICUMSA 100 150
Gula yang termasuk food grade digunakan untuk membuat bahan
makanan seperti kue, minuman atau konsumsi langsung.
c. Gula Kristal putih - ICUMSA 200 - 300
Gula yang dapat dikonsumsi langsung sebagai tambahan bahan
JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 22

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA-PRAKTEK (KKN-P)


PG KEBON AGUNG MALANG

makanan dan minuman. Berdasarkan standard SNI gula yang boleh


dikonsumsi langsung adalah gula dengan warna ICUMSA 300.
Pada umumnya pabrik gula sulfitasi sudah dapat memproduksi
gula dengan warna ICUMSA < 300.
d. Gula Kristal Mentah (brown sugar) - ICUMSA 600 800
Di luar negeri gula ini dapat dikonsumsi langsung biasanya sebagai
tambahan untuk bubur, akan tetapi juga perlu diperhatikan
mengenai kehigienisannya yaitu kandungan bakteri dan
kontaminan.
e. Gula Kristal Mentah (Raw Sugar) - ICUMSA 1600 2000
Raw Sugar dipakai sebagai bahan baku untuk gula rafinasi,
beberapa proses lain seperti MSG juga menggunakan raw sugar.
f. Gula Mentah (Very Raw Sugar) - ICUMSA 4600 max
Khusus digunakan sebagai bahan baku gula rafinasi dan tidak
boleh dikonsumsi.
3.1.2 Bahan Baku
Untuk memproduksi gula, bahan yang dibutuhkan adalah
tebu. Selain tebu, tanaman yang menghasilkan gula adalah : Bit,
Aren, Kelapa, serta Nipah. Tanaman tebu termasuk suku rumput
rumputan orde farmiliar under peageans dan sufreges yang
merupakan sumber saccharosa. Kata saccharosa berasal dari
perkataan saskara (bahasa sansekerta) yang berarti gula pasir.
3.1.2.1 Komposisi Tebu
Komposisi tebu antara yang satu dengan yang lain
adalah berlainan tergantung pada jenis dan tuanya tebu.
Menurut analisa Honig, komponen penyusun tebu adalah
sebagai berikut:

Air

Gula

: 77 88 %
: 5 19 %

JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 23

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA-PRAKTEK (KKN-P)


PG KEBON AGUNG MALANG

Gula reduksi

: 0,3 3 %

Zat organik

: 0,5 1 %

Tanah, ampas

:12%

Adanya asam organik seperti tersebut di dalam nira


menyebabkan nira mempunyai pH yang rendah sekitar 5,6
6, zat organik yang ada antara lain :

Kalium oksida

Oksida besi

Asam fosfat

Asam silikat

Asam sulfat

Kalium oksida
Gula reduksi merupakan komponen penyusun tebu,
untuk tebu yang tua sedikit, sedangkan yang muda kadar
gula reduksinya banyak. Gula reduksi terjadi karena
penguraian saccharosa dalam batang tebu dalam nira
sewaktu diproses. Gula reduksi mempunyai sifat dapat
digunakan sebagai bahan bakar dan dapat dipakai sebagai
bahan untuk pembuatan kertas.

3.1.2.2 Bahan Pembantu


Bahan

pembantu

sangat

dibutuhkan

mengingat

adanya senyawa-senyawa yang akan mengganggu proses.


Bahan pembantu ini dapat menentukan kualitas dan
kuantitas gula yang dihasilkan.
Adapun bahan pembantu yang sering digunakan :
a.

Susu Kapur
Sistem pemberian kapur dapat diberikan dalam
bentuk padat maupun larutan. Susu kapur diberikan
pada nira dengan tujuan untuk mencegah terjadinya

JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 24

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA-PRAKTEK (KKN-P)


PG KEBON AGUNG MALANG

inverse, mengendapkan kotoran-kotoran pada nira dan


mengatur pH. Pengendapan karena penambahan susu
kapur akan membentuk gumpalan-gumpalan yang
disebabkan oleh garam Ca. Pencampuran ion-ion Ca
dengan ion garam organic maupun ion garam
anorganik dapat membentuk garam-garam Ca3(PO4)2,
CaSO4, dan CaC2O4. syarat pembuatan kapur cair :

Harus mengandung kapur > 90 %

Tidak
anorganik

mengandung

zat

organic

maupun

lainnya

Harus mudah larut dalam air

Mudah dihidrolisa bila dialiri gas CO2 akan


berubah menjadi CaCO2

b.

Flokulan
Bahan ini berfungsi untuk mempercepat
terjadinya endapan. Flokulan ini dalam bereaksi akan
membentuk ikatan berantai sehingga akan mengendap
bersama-sama dengan kotoran dalam nira.

3.2

Aliran Proses Produksi


3.2.1 Proses Pembuatan Gula
Proses pembuatan gula ada 3 jenis yaitu defikasi, sulfitasi,
karbonasi. Adapun perbedaan antara pabrik yang satu dan yang
lainnya terletak pada cara pemurniannya saja, sedangkan pada
proses yang lain pada umumnya sama.
Dalam hal proses produksi gula dimulai dari bahan baku
yaitu tebu sampai menjadi gula produk dilakukan dengan dengan
mengambil

zat

gula

(nira)

semaksimal

mungkin

untuk

menghasilkan produk gula sebaik mungkin. Pada pengolahan tebu


sampai menjadi gula produk sampai siap diproduksi ada beberapa

JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 25

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA-PRAKTEK (KKN-P)


PG KEBON AGUNG MALANG

tahapan proses yang harus dilalui, sebagaimana digambarkan


dalam bagan dibawah ini.

JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 26

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA-PRAKTEK (KKN-P)


PG KEBON AGUNG MALANG

Timbangan

Tebu 100%

Air Imbibisi
19-27%

Gas SO2

Stasiun Penggilingan

Ampas
32-33%

Stasiun Pemurnian

Blotong 3-4%

Stasiun Ketel

Nira encer
84-90%

Larutan susu kapur

Stasiun Penguapan

Kondensat 62-64%

Nira kental
22-26%
Stasiun Masakan
Sirup
31-35%

Kondensat 13-16%

Masecuite
40-44%
Stasiun Puteran

Tetes 4-5%

Gula produk
SHS 6-8%
Stasiun Pembungkusan

Gudang

Gambar 3.1 Flow Sheet Bagan Proses Pembuatan Gula


Sumber: PG Kebon Agung Malang
3.2.2 Proses Produksi Secara Global
Tebu dipotong cane cutter menjadi potongan-potongan
pendek kemudian dilanjutkan/dimasukkan ke unigrator untuk
JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 27

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA-PRAKTEK (KKN-P)


PG KEBON AGUNG MALANG

memperkecil potongan-potongan sehingga menjadi serat-serat tebu


dan dibawa ke stasiun penggilingan secara perlahan oleh cane
carrier. Pada stasiun penggilingan diadakan pemerahan dengan
ditambah air imbibisi sehingga diperoleh nira mentah, sedangkan
bagasse atau ampas tebu hasil dari penggilingan ini dibawa ke
stasiun ketel yang akan digunakan sebagai bahan bakar ketel.
Nira mentah hasil gilingan langsung dibawa ke stasiun
pemurnian untuk dicampur dengan larutan kapur dan gas SO2 guna
mempercepat pengendapan dan mengikat kotoran, sehingga
didapatkan nira encer dan blotong. Nira encer tersebut diuapkan di
stasiun penguapan untuk diperoleh nira kental dan didapatkan air
kondensat untuk mengisi ketel uap. Dari stasiun penguapan, nira
kental dimasak di stasiun masakan agar terbentuk kristal-kristal
hingga diperoleh cairan masecuite dan dihasilkan pula air
kondensat untuk pengisi ketel uap. Selanjutnya masecuite diputar
di stasiun putaran untuk memisahkan antara kristal gula dan cairan.
Di stasiun putaran selain dihasilkan kristal gula juga dihasilkan
tetes.
Gula SHS yang dihasilkan dari stasiun putaran menuju ke
talang goyang dan masuk ke pengering gula kemudian masuk ke
elevator, setelah dari elevator masuk ke saringan getar untuk
diperoleh ketiga jenis kristal gula yaitu gula kasar, normal, dan
halus. Kristal gula kasar dan halus dimasak kembali ke stasiun
masakan sedangkan kristal gula yang normal sebagai produk yang
kemudian dikemas di stasiun pembungkusan dalam berat 50 kg,
kemudian kemasan gula tersebut disimpan dalam gudang.

3.3. Tahapan Proses Produksi Gula


Tahapan proses dalam pengolahan tebu menjadi gula di PG. Kebon
Agung Malang melalui proses tahapan di tiap stasiun sebagai berikut :
JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 28

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA-PRAKTEK (KKN-P)


PG KEBON AGUNG MALANG

1. Stasiun Timbangan
2. Stasiun Persiapan
3. Stasiun Gilingan
4. Stasiun Pemurnian
5. Stasiun Penguapan
6. Stasiun Masakan
7. Stasiun Putaran
8. Stasiun Penyelesaian (proses pembungkusan - penyimpanan gula)
3.3.1 Stasiun Timbangan
Sebelum masuk ke persiapan produksi pada gilingan, tebutebu harus melalui tahapan timbangan terhadap bobot tebu yang
dibawa oleh truk-truk petani tebu yang telah mengantri untuk
dilakukan penimbangan dan dilanjutkan bongkar muat tebu yang
dibawa. Pada proses timbangan sendiri akan dilakukan uji kadar
gula juga sebagai sampel berapa kandungan gula yang terkandung
pada batang tebu sebelum melalui proses produksi, untuk
mengontrol kandungan gula setiap tebu petani. Di pabrik gula
kebon agung sendiri memilki dua jenis timbangan yang digunakan
yaitu :

Gambar 3.2 Stasiun Timbangan


Sumber: PG Kebon Agung Malang
a) Jenis alat

: Timbangan jembatan elektronik

Merk

: Rinstrum

Tipe/No seri

: 5000/3326404

JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 29

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA-PRAKTEK (KKN-P)


PG KEBON AGUNG MALANG

Kapasitas

: 60.000 kg

Daya baca/Kelas : 10 kg/III


Buatan

: Australia

Ditera

: 27 April 2012

b).Tebu yang biasa digunakan untuk truk engkol besar, gandengan, non
tebu seperti tetes, belerang, kapur dll. Spesifikasi :
Merk

: Mettler Toledo

Kapasitas

: 100 ton

Type

: 8142

Buatan

:Cina

c) Jenis alat

: Timbangan jembatan elektronik

Merk

: Saturius

Kapasitas

: 80 ton

Buatan

: Jerman

3.3.2.

Stasiun Persiapan
Sebelum masuk ke stasiun gilingan, tebu dipersiapkan di

emplacement yang kemudian secara bergiliran menuju timbangan


tebu. Di Pabrik Gula Kebon Agung terdapat tiga jenis emplacement
yaitu:
1.

Emplacement luar
Tempat berhentinya truk bermuatan tebu menunggu giliran
menuju emplacement dalam dan timbangan tebu.

2.

Emplacement dalam I
Tempat penampungan truk tebu yang siap

menerima

giliran, tetapi sebelumnya harus menuju ke timbangan tebu untuk


ditimbang.
Jika pada emplacement ini pengaturannya tidak teratur, maka
pekerjaan di stasiun penggilingan akan mengalami keterlambatan
dan mengganggu administrasi penyediaan tebu.

JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 30

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA-PRAKTEK (KKN-P)


PG KEBON AGUNG MALANG

Adapun mesin dari stasiun persiapan ini adalah sebagai


berikut:

Mono Rail Crane (MRC)


Fungsinya

mengeluarkan

tebu

dari

truk

untuk

dijatuhkan ke meja tebu.


Spesifikasi teknik :
- Kapasitas MRC

: 12.500 kg

- Jumlah MRC

: 6 buah

Gambar 3.3 Mono Rail Crane


Sumber: PG Kebon Agung Malang

Cane Cutter I
Fungsinya memotong tebu menjadi bagian-bagian yang
pendek.
Spesifikasi teknik :
- Diameter mata pisau

: 1.520 mm

- Jumlah mata pisau

: 56 buah

- Jarak dengan carrier

: 40 cm

- Tebal Pisau

: 25 mm

- Penggerak

: turbin

JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 31

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA-PRAKTEK (KKN-P)


PG KEBON AGUNG MALANG

Gambar 3.4 Cane Cutter 1


Sumber: PG Kebon Agung Malang
Spesifikasi Turbin Cane Cutter I
- Model

: DEG61-50H

- Output

: 1500Hp

- Steam press

: 16 kg/cm2

- Steam temp.

: 3100

- exhaust press

: 0,8 kg/cm2

- turbine speed

: 5220 rpm

- output shaft speed

: 750 rpm

Gambar 3.5 Cane Cutter I


Sumber: Anonymous 1 : 2014

Cane Cutter II
Fungsinya memotong tebu menjadi bagian-bagian yang
pendek.

JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 32

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA-PRAKTEK (KKN-P)


PG KEBON AGUNG MALANG

Spesifikasi teknik :

- Diameter mata pisau

: 1.540 mm

- Jumlah Disc Holder

: 20 buah

- Jumlah tangkai pisau

: 80 buah

- Tebal Pisau

: 25 mm 50 mm

- Penggerak

: turbin

- Turbin

: 2500 Hp

Cane Table
Penampung

tebu

dari

lori

maupun

truk

dan

menjatuhkannya ke carrier tebu menuju gilingan.


Spesifikasi teknik :
- Kapasitas

: 108.750 kg

- Panjang

:7m

- Lebar

:6m

- Kecepatan rantai

: 3,6 s/d 7,2 m/min

- Jumlah

: 4 Buah

Gambar 3.6 Cane Table


Sumber: PG Kebon Agung Malang

Cane Carrier
Fungsinya

mengangkut

tebu

penggilingan secara perlahan lahan.

JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 33

dari

meja

tebu

ke

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA-PRAKTEK (KKN-P)


PG KEBON AGUNG MALANG

Gambar 3.7 Cane Carrier


Sumber: PG Kebon Agung Malang

Main Carrier
Spesifikasi teknik :

- Kapasitas

: 178.000 kg

- Kecepatan

: 4 s/d 12 m/min

- Daya motor penggerak

: 200 kW

- Sudut kemiringan

: 30

Auxiliary Carrier
Spesifikasi teknik :

- Kapasitas

: 178.000 kg

- Kecepatan

: 6 m/min

- Daya motor penggerak

: 200 kW

Cane Leveller
Fungsinya untuk meratakan tebu pada cane carrier agar
permukaan tidak terlalu tebal dan rata sehingga kerja cane
carrier tidak terlalu berat. Leveller dipasang sebelum cane
cutter.

HDS (Heavy Duty Shredder)


Fungsinya

memperhalus

menjadi serpihan-serpihan.

JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 34

potongan-potongan

tebu

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA-PRAKTEK (KKN-P)


PG KEBON AGUNG MALANG

Spesifikasi Teknik :
- Diameter

: 1830 mm

- Inlet Width

: 56 mm

- Kapasitas

: 12.000 15.000 kg

- Hammers

: 8 x 12 = 96 buah

- Turbin

: 4000 HP

Gambar 3.8 Heavy Duty Shredder


Sumber: PG Kebon Agung Malang
3.3.3. Stasiun Gilingan
Pada stasiun gilingan, tebu secara intensif dan berkali-kali
digiling dan diperah untuk mendapatkan jumlah nira yang
maksimal. Adapun bagian dari stasiun penggilingan ini sebagai
berikut:
1. Rol gilingan
Fungsinya memeras tebu sehingga diperoleh jumlah nira
yang maksimal. Pada Pabrik Gula Kebon Agung menggunakan
lima unit gilingan yang masing-masing unit memiliki empat rol
gilingan :
a. rol muka (feed roll)
b. rol atas (top roll)
c. rol belakang (rear roll)
d. rol pengisi (fourth roll)
Spesifikasi Mill Setting untuk gilingan 1-5 :

JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 35

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA-PRAKTEK (KKN-P)


PG KEBON AGUNG MALANG

- Diameter luar rol muka

: 1168 mm

- Diameter luar rol atas

: 1168 mm

- Diameter luar rol Belakang

: 1168 mm

- Diameter alur

: 50 mm

- Putaran / menit

: 3,5 5,5 rpm

Rol penggilingan menggunakan penggerak turbin dengan


spesifikasi yang sama antara gilingan 1-5. Dengan spesifikasi
turbin gilingan sebagai berikut :
- Output

: 1400 HP

- Steam press

: 16 kg/cm2

- Steam temp.

: 310o C

- exhaust press

: 1,0 kg/cm2

Gambar 3.9 Flow Sheet Stasiun Gilingan


Sumber: PG Kebon Agung Malang
Keterangan
2 : Cane Leveller
3 : Cane Cutter I dan II
HDS : (Heavy Duty Cane)
G1 : Unit Gilingan Ke-1
G2 : Unit Gilingan Ke-2
G3 : Unit Gilingan Ke-3
G4 : Unit Gilingan Ke-4
G5 : Unit Gilingan Ke-5
HDS : (Heavy Duty Cane)
N1 : Nira Perahan dari Gilingan Ke-1
JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 36

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA-PRAKTEK (KKN-P)


PG KEBON AGUNG MALANG

N2 : Nira Perahan dari Gilingan Ke-2


N3 : Nira Perahan dari Gilingan Ke-3
N4 : Nira Perahan dari Gilingan Ke-4
N5 : Nira Perahan dari Gilingan Ke-5
2. Hidraulic Pressure
Fungsinya menahan gerakan ke atas rol akibat masuknya
umpan (ampas tebu). Dengan adanya tekanan yang berlawanan
maka ampas akan terperah niranya.
3. Ampas Plate
Fungsinya penahan ampas yang keluar dari rol atas dan rol
depan sehingga ampas dengan mudah masuk ke tekanan kerja.
4. Ampas Balk
Fungsinya menahan ampas plate supaya kedudukan ampas
plate mampu menahan tekanan ampas.
5. Scrapper Plate
Fungsinya sebagai alat pembersih ampas yang masuk
melekat dalam alur-alur pada rol gilingan.
6. Intermediate Carrier
Fungsinya mengangkut dan memberikan umpan ampas dari
gilingan satu ke gilingan berikutnya.
7. Talang nira
Fungsinya mengalirkan hasil perahan gilingan (nira)
menuju bak penampung.
8. Bak penampung nira
Fungsinya menampung hasil perahan (nira) hasil dari
gilingan. Pada bak ini diberikan hembusan uap pada nira
supaya dapat mengurangi buih.
9. DSM Screen
Fungsinya menyaring nira mentah yang dihasilkan oleh unit
gilingan. Nira hasil saringan ditampung sedangkan ampas pada
saringan dibawa intermediate carrier.

JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 37

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA-PRAKTEK (KKN-P)


PG KEBON AGUNG MALANG

10. Main Carrier berjumlah 1 buah


Fungsi membawa serpihan tebu menuju unit gilingan dan
berjumlah 1 buah.
11. Aux Carrier
Berjumlah 1 buah yang berfungsi membawa tebu dari meja
tebu ke pencacah tebu (Cane Cutter)
12. Main Carrier
Berjumlah 1 buah berfungsi membawa serpihan tebu
menuju unit gilingan.
13. Gilingan berjumlah 5 unit yang tiap unitnya terdiri dari 4 roll
gilingan yang terpasang seri.
14. Carrier ampas
Fungsi membawa ampas tebu dari gilingan akhir ke stasiun
ketel (boiler) dan berjumlah 1 buah.
Proses pada Stasiun Gilingan :
Pada Pabrik Gula Kebon Agung proses penggilingan tersusun
dari beberapa tahapan. Masing-masing gilingan terdiri atas empat
rol baja, yaitu : rol atas, rol muka, rol belakang, dan rol pengisi
sebagai rol pembantu.
1. Gilingan I
Tebu yang telah dicacah oleh cane cutter dan merupakan
umpan (feed) gilingan I dengan alat angkut cane carrier dan
dengan bantuan feeding roll masuk ke bukaan kerja depan
kemudian feed diperah oleh rol gilingrn. Nira yang dihasilkan
disebut nira perahan pertama (NPP) dialirkan ke talang bak
penampung nira. Ampasnya digunakan sebagai feed pada
gilingan II.
2. Gilingan II
Ampas dari gilingan I ditarik oleh pencakar ampas, dan
digunakan sebagai feed gilingan II lalu diperah sehingga

JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 38

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA-PRAKTEK (KKN-P)


PG KEBON AGUNG MALANG

dihasilkan nira yang selanjutnya dialirkan ke bak penampungan


nira.
3. Gilingan III
Ampas dari gilingan II mendapatkan imbibisi nira yang
diangkut dengan intermediate carrier menuju gilingan III,
kemudian diperah sehingga diperoleh nira sebagai imbibisi nira
untuk gilingan II. Sedangkan ampas yang dihasilkan dikirim
sebagai umpan gilingan IV.
4. Gilingan IV
Demikian pula pada gilingan IV ampas dari gillngan III
dicampur dengan imbibisi nira dan pada gilingan V diperah
yang menghasilkan nira, nira yang dihasilkan digunakan
sebagai imbibisi pada gilingan III. Ampas yang dihasilkan
dialirkan ke gilingan V.
5. Gilingan V
Ampas dari gilingan IV dibawa menuju ke gilingan V nira
yang dihasilkan digunakan untuk imbibisi gilingan IV.
Sedangkan ampas yang dihasilkan merupakan ampas akhir.
Kemudian dibawa oleh bagasse elevator yang dilengkapi
dengan saringan halus dimana ampas halus digunakan sebagai
mud juice (nira kotor) yang keluar dari door clarifier menuju
ke vaccum filter. Sedangkan ampas kasar digunakan sebagai
bahan bakar ketel dan sisanya dikirim ke pabrik kertas.
Nira yang diproses lanjut (yang dimurnikan untuk dijadikan
gula produk) adalah nira yang berasal dari gilingan I dan II. Nira
tersebut ditampung dalam bak penampung dan dipompa dalam
DSM screen untuk disaring. Air imbibisi digunakan untuk
melarutkan kandungan gula yang ikut terbawa ampas semaksimal
mungkin. Jumlah imbibisi yang diberikan 20% dari tebu yang
tergiling. Imbibisi yang ditambahkan pada ampas disamping
JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 39

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA-PRAKTEK (KKN-P)


PG KEBON AGUNG MALANG

digunakan nira, juga menggunakan air. Imbibisi nira diberikan


pada ampas yang akan masuk pada gilingan II dan III, sedangkan
imbibisi air ditambahkan pada ampas yang masuk gilingan IV.

Gambar 3.10 Gilingan


Sumber: PG Kebon Agung Malang

3.3.4. Stasiun Pemurnian


Stasiun ini bertujuan untuk mendapatkan nira murni dengan
kadar gula semaksimal mungkin dan untuk menghilangkan zat-zat
atau bahan organik yang terbawa oleh nira mentah sehingga
diperoleh gula yang berkualitas tinggi.
Adapun proses yang terjadi pada stasiun pemurnian ini adalah
sebagai berikut:
a. Proses kimia.
Dengan cara memberikan zat kimia pada nira (asam fosfat
dan susu kapur) yang dapat mengikat komponen-komponen
menjadi endapan garam halus.
b. Proses fisika.
Dengan cara pengendapan dan penyaringan terhadap
kotoran-kotoran yang kasar.

JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 40

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA-PRAKTEK (KKN-P)


PG KEBON AGUNG MALANG

c. Proses kimia fisika.


Perpaduan

antara

proses

kimia

dan

fisika

untuk

mempercepat terjadinya pengumpulan endapan kotoran.

Gambar 3.11 Flow Sheet Stasiun Pemurnian


Sumber: PG Kebon Agung Malang
1. DSM
Fungsinya menyaring nira mentah yang berasal dari proses
gilingan untuk memisahkan dari ampas kasar.
2. Tangki nira mentah
Merupakan tempat menampung nira mentah setelah dari
DSM.
3. Heater 1
Digunakan

untuk

memanaskan

nira

mentah

pada

temperatur 750C dengan pemanas yang berasal dari uap ketel


sehingga dapat memperlancar proses pengendapan.
Fungsi :
JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 41

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA-PRAKTEK (KKN-P)


PG KEBON AGUNG MALANG

- mencegah terjadinya gula inversi.


mernpercepat reaksi antara bahan organik dan

anorganik.
-

membunuh bakteri pengurai sukrosa.

koloid lebih cepat mengendap.

mengeluarkan gas-gas dalam nira.

4. Splinter Box
Fungsinya mengatur susu kapur yang masuk sehingga
jumlah susu kapur dapat sesuai dengan yang dikehendaki
berdasarkan jumlah nira mentah dalam kurun waktu tertentu
secara kontinyu.
5. Static Mixer
Fungsinya sebagai tempat pencampuran nira mentah
dengan susu kapur agar diperoleh turbulensi yang tinggi supaya
pencampuran kedua komponen tersebut tercampur secara
sempurna.
6. SO2 Tower
fungsi :

Menurunkan pH nira mentah dengan menghembuskan


gas SO2 sampai mencapai pH 7,2.

Menetralkan kelebihan Ca(OH)2.

Membentuk endapan CaSO3 yang dapat menyerap


kotoran sehingga mengumpul dan mengendap.

Spesifikasi teknik:
- Kapasitas

: 10 m3

- Diameter

: 2.200 mm

- Tinggi

: 6.735 mm

7. Neutralizer
Merupakan tabung yang berfungsi sebagai pengawasan nira
dengan pH yang diinginkan yaitu 7,2. Jika pH nira mentah
JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 42

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA-PRAKTEK (KKN-P)


PG KEBON AGUNG MALANG

yang keluar dari SO2 Tower masih kurang dari 7,2, maka dalam
bejana neutralizer akan mencampurkan susu kapur agar
dihasilkan pH yang diinginkan.
8. Heater 2
Fungsinya memanaskan nira mentah pada temperatur 1100C
dengan bahan pemanas dari uap ketel untuk memperlancar
proses pengendapan.
9. Prefloc Tower
Merupakan

tabung

yang

berfungsi

sebagai

jalur

pembuangan gas dari heater dan tempat pencampuran nira


mentah dengan cairan flokulan, dimana larutan flokulan
berfungsi untuk mengikat kotoran dari nira mentah menjadi
nira jernih.
10. Single Tray Clarrifier
Fungsinya untuk memisahkan atau mengendapkan kotorankotoran yang terbentuk pada saat pemurnian sehingga akan
didapatkan dua lapisan yaitu nira jernih dan nira kotor (nira
yang bercampur kotoran akibat dari larutan pengikat flokulan).
Spesifikasi teknik :
- Merk

: Single Tray Door

- Kapasitas

: 278 m3

- Tinggi

: 18 ft

- Sistem

: continuous

- Jumlah

: 1 buah

- Diameter

: 20 ft

11. Saringan nira jernih


Nira encer dari door clarifier di saring dalam saringan nira
jernih kemudian ditampung dalam peti nira jernih.
12. Heater 3

JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 43

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA-PRAKTEK (KKN-P)


PG KEBON AGUNG MALANG

Fungsinya memanaskan nira jernih yang berasal dari


saringan nira jernih pada temperatur 110-1150C dengan bahan
pemanas dari uap ketel untuk memperlancar proses penguapan.
13. Mud feed mixer
Fungsinya mencampur nira kotor dengan bagasilo (ampas
halus) yang berasal dari bagasse elevator.
14. Rotary Vaccum Filter
Fungsinya memisahkan kotoran nira yang berasal dari mud
feed mixer sehingga diperoleh nira tapis dan blotong, kemudian
nira tapis akan mengalir ke tangki nira mentah dan diproses
ulang untuk mendapatkan nira jernih, sedangkan blotong akan
diangkut oleh truk untuk dijadikan pupuk.
15. Rotary Sulfur Burner
Fungsinya menghasilkan gas SO2 dengan jalan membakar
belerang dengan udara kering pada dapur belerang.
Proses pada Stasiun Pemurnian :
Nira mentah yang berasal dari stasiun gilingan yang sudah
tersaring dalam DSM screen selanjutnya turun menuju ke tangki
nira mentah, lalu nira mentah dipompa menuju heater 1 untuk
dipanaskan dengan temperatur 750C dengan bahan pemanas dari
uap ketel. Setelah dipanaskan dari heater 1 lalu nira masuk ke
tabung pre liming disini ada 2 tabung pre liming yaitu pre liming 1
dan 2, dimana pada pre liming1 diinginkan nira mentah mencapai
pH sebesar 5-8 dengan cara pencampuran antara nira mentah
dengan susu kapur, sedangkan pada preliming 2 diinginkan pH 810,5 dengan pencampuran susu kapur yang berfungsi untuk
mempermudah proses pengendapan.
Setelah nira mentah dari proses pada preliming 2, kemudian
nira mentah mengalir ke bejana sulfitasi nira mentah, disini pH nira
mentah diturunkan menjadi 6,8 dengan mencampurkan antara nira
mentah dari preliming dengan gas SO2 atau gas belerang,kemudian
JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 44

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA-PRAKTEK (KKN-P)


PG KEBON AGUNG MALANG

setelah nira mencapai pH 6,8 maka nira mengalir ke tabung


neutralizer yaitu dengan menambahkan susu kapur untuk
mendapatkan pH nira sebesar 7-7,2.
Dari bejana sulfitasi nira mentah lalu ke bejana neutralizer,
selanjutnya nira mentah dipompa ke heater 2 untuk dipanaskan
dengan temperatur 1100C dengan bahan pemanas dari uap ketel
untuk mempermudah dalam proses pengendapan dan penguapan
nira, dari heater 2 nira akan mengalir ke bejana preflocc tower, di
sini gas yang terdapat pada nira mentah akan keluar dan
pencampuran antara nira mentah dengan larutan flokulan agar
partikel-partikel atau kotoran-kotoran yang mengapung pada nira
mentah diikat dan lebih cepat dalam melakukan pengendapan
kotoran.
Selanjutnya nira mentah tersebut turun ke single tray
clarrifier, di dalam tabung terdapat 2 lapisan yaitu : lapisan atas
merupakan nira jernih dan lapisan bawah merupakan nira kotor,
dimana nira kotor merupakan nira yang masih mengandung
partikel-partikel kotoran yang terikat oleh larutan flokulan.
Nira jernih yang dihasilkan dari single tray clarrifier akan
mengalir mengalir melalui door clariffier yang kemudian akan
mengalir menuju saringan nira jernih yang berjumlah 9 saringan.
Setelah melalui saringan nira jernih lalu nira jernih akan dipompa
menuju heater 3 untuk mendapatkan panas sebesar 110-1150C yang
berfungsi untuk mempercepat penguapan.
Untuk nira kotor dari single tray clarrifier akan mengalir ke
tabung nira kotor yang kemudian akan dipompa ke mud feed mixer
yang berungsi untuk mencampurkan antara nira kotor dengan
bagasilo (ampas halus) dari bagasse elevator yang dihasilkan dari
ampas gilingan, selanjutnya mengalir ke rotary vaccum filter, yang
akan menghasilkan nira tapis dan blotong, dimana nira tapis akan
dialirkan ke tabung penampung nira mentah untuk diproses ulang
JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 45

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA-PRAKTEK (KKN-P)


PG KEBON AGUNG MALANG

pada stasiun pemurnian sampai mendapatkan nira jernih dan


blotong akan dijual untuk dijadikan pupuk petani.
3.3.5. Stasiun Penguapan
Stasiun penguapan bertujuan untuk menguapkan air yang
terkandung di dalam nira encer sehingga diperoleh nira kental
dengan batas kekentalan 64%, selain itu hasil dari penguapan
adalah air kondensat yang digunakan sebagai air pengisi ketel.
Peralatan yang digunakan pada stasiun penguapan adalah sebagai
berikut:
1. Pre Evaporator
Fungsinya menguapkan air yang terkandung dalam nira
encer.
2. Pompa vakum
Fungsinya sebagai penekan uap sehingga tekanan tiap-tiap
badan penguapan berbeda.
3. Kondensor
Fungsinya

mengembunkan

air

yang

diuapkan

dari

evaporator V.
4. Juice Catcher
Sebagai penampung uap akhir sebelum ke kondensor dan
mendeteksi uap air yang mengandung gula masuk ke air
injeksi.
5. Bejana penguapan (evaporator)
Fungsinya menguapkan air yang banyak terkandung dalam
nira encer sehingga dihasilkan nira kental.
Spesifikasi teknik :
- Merk

: Stork

- Jenis

: Calandria

- Jumlah

: 9 buah

JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 46

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA-PRAKTEK (KKN-P)


PG KEBON AGUNG MALANG

Gambar 3.12 Flow sheet Stasiun Penguapan


Sumber: PG Kebon Agung Malang
Tabel 3.1 Spesifikasi Evaporator
Dimensi

Pre
Evap.
I

Pre
Evap.
II

Evap.
I

Evap.
II

Evap.
III

Evap.
IV

Evap.
V

Evap.
VI

Evap.
VII

4000

4000

3000

2200

2200

1700

1100

1100

1100

Panjang
pipa (mm)

2383

2383

2375

2375

2375

2375

2375

2375

2375

Diameter
pipa (mm)

38/35

38/35

38/35

38/35

38/35

38/35

38/35

38/35

38/35

Jumlah
pipa (mm)

1601
6

1601
6

8550

7800

7800

6500

4320

4320

4320

Suhu (C)

118

118

118

118

118

118

108

95

85

Tekanan

0.8
ato

0.8
ato

0.8
ato

0.8
ato

0.8
ato

0.8
ato

0.6
ato

8
cmHg

30
cmH
g

Luas
pemanasan
(m2)

JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 47

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA-PRAKTEK (KKN-P)


PG KEBON AGUNG MALANG

Pada masing-masing badan evaporator dilengkapi dengan :


a. Pipa pemanas
Fungsinya tempat pertukaran panas antara uap dengan nira.
b. Pipa Nira
Sebagai tempat sirkulasi nira dan keluarnya nira ke bejana
penguapan berikutnya.
c. Outlet kondensat
Sebagai tempat keluarnya air kondensat.
d. Sapvanger
Fungsinya untuk menahan percikan nira agar uap air yang
dipakai sebagai bahan pemanas evaporator tidak tercampur
dengan nira.
e. Sight glass
Fungsinya sebagai kaca pengontrol nira.
f. Termometer dan manometer vakum.
Sebagai pengontrol kondisi badan evaporator.

Gambar 3.13 Stasiun Penguapan


Sumber: PG Kebon Agung Malang
Proses Pada Stasiun Penguapan :
Nira encer dari heater III di stasiun pemurnian dialirkan ke pre
evaporator untuk diuapkan sebagian airnya. Dari pre evaporator,

JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 48

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA-PRAKTEK (KKN-P)


PG KEBON AGUNG MALANG

nira kental dengan temperatur 115C dan tekanan 0,8 atm dialirkan
ke badan penguapan dengan sirkulasi lima tahap yaitu:
1. Tahap I, nira encer dari pre evaporator dialirkan ke evaporator
I untuk dipanaskan oleh uap dengan temperatur 108C dan
tekanan 0,6 kg/cm2.
2. Tahap II, nira dari evaporator I dialirkan ke evaporator II
untuk diuapkan airnya dengan temperatur 80C s/d 95C
dengan tekanan vacum 8 s/d 10 cmHg.
3. Tahap III, nira dari evaporator II dialirkan ke evaporator III
dan diuapkan dengan temperatur 80C s/d 85C dengan
tekanan vacum 30 s/d 35 cmHg.
4. Tahap IV, nira encer dari evaporator III dialirkan ke
evaporator IV dan diuapkan dengan temperatur 60C s/d 62C
dengan tekanan vacum 60 cmHg.
5. Tahap V, nira yang keluar dari evaporator IV dialirkan ke
evaporator V

dan diuapkan hingga memiliki kekentalan

tertentu (nira kental).


Proses Pada Setiap Badan Penguapan :
1. Pre evaporator
Nira encer hasil pemurnian dialirkan ke evaporator, disini
nira encer mengalami pemanasan lanjut dengan temperatur
115C s/d 120C dengan tekanan 0,8 atm. Uap yang digunakan
dalam

proses

ini

adalah

uap-uap

bekas

turbin

yang

dimanfaatkan sebagai feeding pada pemanasan pendahuluan


(PP) juga pada stasiun masakan.
2. Evaporator I
Dimanfaatkan untuk menguapkan nira encer dengan
menggunakan uap bekas dari pre evaporator. Nira dipanaskan
oleh uap dengan temperatur 108C dan tekanan 0,6 kg/cm2. Uap
hasil penguapan ini adalah uap nira I yang digunakan sebagai

JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 49

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA-PRAKTEK (KKN-P)


PG KEBON AGUNG MALANG

pemanas pada evaporator II, yang kemudian niranya dialirkan


ke evaporator II.
3. Evaporator II
Digunakan untuk menguapkan air dalam nira dengan
menggunakan uap evaporator I untuk diuapkan airnya dengan
temperatur 80C s/d 95C dengan tekanan 8 s/d 10 cmHg.
Hasil penguapan ini digunakan untuk pemanasan pada
evaporator III yang selebihnya digunakan untuk pemanasan
pendahuluan I dan niranya dialirkan ke evaporator III.
4. Evaporator III
Digunakan untuk menguapkan air dalam nira dengan
memakai uap nira dari hasil penguapan pada evaporator II.
Nira diuapkan dengan temperatur 80C s/d 85C dan tekanan
30 s/d 35 cmHg vakum. Uap nira hasil dari penguapan ini
digunakan untuk pemanasan pada evaporator IV.
5. Evaporator IV
Evaporator ini menggunakan uap nira hasil dari penguapan
pada evaporator III. Nira dipanaskan dengan temperatur 60C
s/d 62C dan tekanan 60 cmHg.
6. Evaporator V
Evaporator ini berfungsi untuk menguapkan nira hingga
mencapai kekentalan tertentu yang kemudian nira tersebut akan
dialirkan ke peti masakan. Uap bekas dari evaporator V ini
dialirkan ke kondensor dan didinginkan pada cooling pond
(kolam pendingin), seterusnya digunakan sebagai air kondensat
pengisi ketel.
3.3.5. Stasiun Masakan
Stasiun ini bertujuan untuk mengubah sukrosa yang
berbentuk larutan menjadi kristal gula yang rata rata berukuran 0,8
JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 50

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA-PRAKTEK (KKN-P)


PG KEBON AGUNG MALANG

s/d 1,0 mm. Sukrosa yang terkandung dalam nira kental diuapkan
hingga menghasilkan massecuite, yaitu campuran kristal gula dan
larutannya. Pemasakan akan dilakukan secara bertingkat untuk
mencapai efisiensi proses, dengan proses bertingkat akan
dihasilkan sakarosa di dalam nira kental

hingga mencapai

kuantitas kristal maksimal. Jumlah tingkatan proses tergantung


pada kemurnian nira. Nira dengan kemurnian tinggi akan
dikristalkan dalam 4 tahap, sedangkan nira dengan kemurnian
rendah 85 % akan dikristalkan dalam 3 tahap. Di PG Kebon
Agung menerapkan 3 tahap pemasakan dengan proses ACD.
Peralatan yang digunakan pada stasiun ini adalah sebagai berikut:

Gambar 3.14 Flow Sheet St. Masakan, St. Putaran, dan St Penyelesaian
Sumber: PG Kebon Agung Malang
1. Pan Masakan
Fungsinya

membuat

kristal

gula

dengan

cara

menguapkan nira mentah hingga mencapai titik jenuhnya.


JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 51

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA-PRAKTEK (KKN-P)


PG KEBON AGUNG MALANG

Jumlah pan masakan ada 12 unit yang terdiri dari pan


masakan bibitan, pan masakan A, C, dan D.
2. Palung Pendingin
Jumlahnya ada 13 unit, sebagai tempat penampung hasil
masakan sebelum dibawa ke stasiun putaran. Selain itu juga
berfungsi sebagai :
- Tempat penyempurnaan kristalisasi.
-

Meningkatkan kejenuhan air sampai mendekati daerah


metastabil.

Palung pendingin ini dilengkapi dengan pengaduk yang


berfungsi:
a. Mempercepat pendinginan.
b. Mendorong keluarnya masakan yang akan diputar.
c. Mencegah agar tidak membeku karena pendinginan masakan
pertama.
3. Palung Pendinginan Cepat
fungsinya :
- Sebagai pendinginan masakan.
- Mengurangi kekentalan masakan D agar mudah diputar.
Jumlahnya ada 2 buah untuk masakan masecuite D.
Proses Pada Stasiun Masakan :
1. Pada Pembibitan
Pada proses masakan sebelum nira dari penguapan masuk
ke pan masakan A terjadi proses pembibitan gula terlebih
dahulu. Proses pembibitan tersebut berlangsung pada pan
masakan bibitan. Bahan dari pembibitan tersebut dari stroop D
dan C deklare sebanyak 200 HL yang telah tercampur hingga
larutan tersebut hampir jenuh kemudian dimasukkan nira
mentah dan gula fondan dengan volume 200 HL. Bahan-bahan
JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 52

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA-PRAKTEK (KKN-P)


PG KEBON AGUNG MALANG

tadi di campur jadi satu hingga mencapai volume 400 HL.


Hasil dari pencampuran tersebut menjadi bibitan D II yang
memiliki harga kemurnian sekitar 60-64 HK.
Proses pembibitan yang terjadi pada pan masakan A II
dibagi menjadi A I dengan sebanyak 200 HL dengan
penambahan dari masing-masing bahan stroop C dengan harga
kemurnian sebesar 58-59 HK, hingga mencapai volume 350400 HL dengan besar dari kristal gula sebesar 0.3 mm. Dari
hasil pembagian pada pan masakan A I gula tersebut masuk ke
palung, kemudian gula bibitan tersebut dipompa menuju
menuju putaran gula C. Pada putaran C terjadi pemisahan
antara flokulan gula C dan tetes C. Tetes C masuk ke peti C
untuk diproses pada pan masakan D sedangkan flokulan gula C
masuk ke peti nira kental yang digunakan sebagai proses
pembibitan kembali.
2. Pada pan masakan A.
Pan masakan A bahannya nira mentah yang berasal dari
bejana sulfitasi dan klare SHS. Dalam pan masakan A terjadi
pemasakan antara nira mentah dan klare SHS. Dari pan
masakan A campuran nirah mentah dan klare SHS menuju ke
palung A yang kemudian dipompa menuju ke mixer yang
selanjutnya masuk menuju ke putaran A untuk memisahkan
antara gula A dengan tetes A. Hasil dari putaran A yang berupa
tetes A masuk menuju peti A untuk dijadikan bahan pada pan
masakan C. Sedangkan hasil putaran yang berupa gula A masuk
menuju palung pendingin gula A yang akan dipompa menuju
ke mixer gula A sebelum menuju putaran gula A II. Pada
putaran gula A II terjadi pemisahan antara gula SHS dan klare
SHS. Klare SHS akan masuk ke pembibitan dan bahan ke pan
masakan A dan gula SHS 1 langsung dialirkan ke sugar driyer
untuk mendapatkan gula produk.
JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 53

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA-PRAKTEK (KKN-P)


PG KEBON AGUNG MALANG

3. Pada pan masakan C


Pan masakan C bahan berupa nira, klare SHS dan stroop A
hingga volume 400 HL yang telah dicampur dengan gula A
sebanyak 40 HL yang mempunyai harga kemurnian sebesar 70
HK dengan ketebalan kristal sebesar 0,7 mm.
Hasil dari pan masakan C akan masuk ke palung C yang
kemudian dipompa menuju mixer sebelum masuk ke putaran C.
Setelah nira didinginkan di palung dan di-mixer, nira akan
mengalir ke putaran gula C untuk memisahkan antara tetes C
dan gula C. Hasil dari putaran gula C yang berupa tetes C
masuk menuju peti C untuk dijadikan bahan pada pan masakan
D. Sedangkan hasil putaran yang berupa gula C masuk menuju
palung pendingin gula C dan akan dipompa rota menuju palung
gula C yang nantinya akan dijadikan bahan pada pan masakan
bibitan.
4. Pada pan masakan D
Pan masakan D bahan berupa klare D dan tetes C hingga
volume 400HL. Klare D didapatkan melalui proses masakan
bibitan.
Hasil dari pan masakan D akan masuk ke palung D dan
diteruskan ke palung pendingin cepat untuk mendapatkan gula
D, setelah dari palung pendingin cepat atau gula D akan dimixer sebelum masuk ke putaran D1. Setelah nira didinginkan
di palung dan di-mixer, nira akan mengalir ke putaran gula D1.
Pada putaran gula D1 akan menghasilkan gula D1 dan tetes D1.
Hasil dari putaran yang berupa tetes D1 akan langsung masuk
ke tangki tetes akhir karena sudah mempunyai kepekatan yang
amat jenuh. Sedangkan hasil yang berupa gula D1 akan
mengalir ke palung gula D1 dan dipompa menuju mixer dan
dilanjutkan ke putaran D2 untuk mendapatkan hasil putaran
yang berupa klare D dan gula D2. Klare D digunakan untuk
JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 54

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA-PRAKTEK (KKN-P)


PG KEBON AGUNG MALANG

bahan pan masakan D, sedangkan hasil putaran yang berupa


gula D2 akan dilanjutkan ke palung gula D2 , setelah dari
palung gula D2, gula akan dialirkan ke, apabila volume pada
tangki leburan penuh maka gula D2 akan dialirkan ke palung
gula D2 yang digunakan sebagai bahan pan masakan bibitan.
Proses Kristalisasi

Gambar 3.15 Vaccum Pans


Sumber: PG Kebon Agung Malang
Proses kristalisasi dilaksanakan dengan menguapkan air yang
terdapat dalam nira kental sehingga terjadi pembesaran inti kristal
dan bibit yang ditambahkan kedalamnya. Hal tersebut dilakukan
pada temperatur rendah serta tekanan vakum dengan maksud untuk
mendapatkan kristal yang memenuhi syarat (ukuran, bentuk, dan
mutunya). Pada PG Kebon Agung menggunakan proses masakan
tiga tingkat yang terdiri atas masakan A, masakan C, masakan D.
Sedangkan gula produktif didapat dari masakan A hasil dari
masakan C dan D dilebur sebagai bibitan untuk masakan A.
Langkah-langkah proses kristalisasi :
1. Menarik hampa
Sebelum proses kristalisasi, dimulai dahulu pengkondisian
dengan membuat bejana hampa (pan vakum). Pembuatan
bejana hampa dimulai dengan menutup semua katup yang
JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 55

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA-PRAKTEK (KKN-P)


PG KEBON AGUNG MALANG

berhubungan dengan pan kemudian dibuka katup pancingan,


apabila tekanan vakum mencapai 50 cmHg maka katup yang
berhubungan dengan pompa vakum sekitar 63 cmHg,
sementara itu katup pancingan ditutup kembali.
2. Menarik larutan
Larutan sukrosa yang akan digunakan sebagai bahan dasar
kristal disimpan dalam peti-peti larutan, peti-peti kental, petipeti stroop, peti klare dan peti leburan. Dalam peti-peti
perlengkapan ini terdapat pipa-pipa pemanas dengan lubang
terbuka yang dapat dialirkan uap panas ke dalam larutan.
Pemanas ini dimaksudkan untuk menurunkan kejenuhan agar
kristal yang terdapat dalam larutan melarut. Setelah larutan
terbebas dan inti-inti kristal yang terdapat larutan melarut,
barulah dilanjutkan dengan langkah selanjutnya.
3. Pembuatan bibit
- Pembibitan dengan cara spontan
Larutan gula dipekatkan sampai mencapai daerah stabil,
sehingga terbentuklah inti-inti kristal secara serempak.
- Pembibitan dengan kejutan
Larutan dibawa ke daerah pertengahan kemudian inti kristal
dimasukkan ke dalam larutan.
- Pembibitan dengan inti penuh
Larutan gula dipekatkan sampai daerah meta mantap
kemudian dibersihkan dan selanjutnya diuapkan pada daerah
mantap.
4. Membesarkan kristal
Setelah pembuatan bibit kemudian membesarkan bibit sampai
ukuran kristal tercapai, selanjutnya penarikan bahan dihentikan,
penguapan dikurangi, dan mengecilkan pemasukan panas.
5. Menurunkan masakan

JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 56

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA-PRAKTEK (KKN-P)


PG KEBON AGUNG MALANG

Setelah masak cukup tua maka masakan diturunkan ke palung


pendingin. Penurunan masakan dengan menghilangkan hampa
dengan cara membuka katup yang menghubungkan pan dengan
pompa vakum, sementara itu uap ditutup.
3.3.6. Stasiun Putaran
Stasiun ini bertujuan untuk memisahkan kristal-kristal gula
yang larutan induk (stroop) kristal tersebut. Peralatan yang
digunakan stasiun putaran adalah sebagai berikut:
1. Putaran discontinue.
Fungsi : untuk putaran gula A
Jumlah : 6 unit

Gambar 3.16 Discontinue Centrifugal


Sumber: Anonymous 2 : 2014
a. Mesin putaran discontinue 1-4.
Merk

: Roberts WS Manufacture

Max. rpm

: 1200

Working rpm

: 1000

JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 57

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA-PRAKTEK (KKN-P)


PG KEBON AGUNG MALANG

Kapasitas

: 650 Kg

Jumlah

: 4 unit

b. Mesin putaran discontinue 5 dan 6.


Merk

: Broadbend

Kapasitas

: 1850 kg /charge

Jumlah

: 2 unit

Max. speed

: 1500 rpm

2.Putaran continue (Lowgrade Centrifuge).


Fungsi

: untuk putaran gula D2, D1 dan gula C

Jumlah

: 13 unit.

a.

Mesin putaran continue gula D1 ada 3 unit.

b.

Mesin putaran continue 1 dan 2 gula D1.


Merk

: BMA

Type

: k2300

Max. speed

: 2000 rpm

Diameter basket

: 1300 mm

Kapasitas

: 2200 kg/jam

Jumlah

: 2 unit

Mesin putaran continue 3 gula D1.


Merk

: Roberts WS Centrifugal

Job.no

: 5276198

Max. speed

: 1800 rpm

Working speed

: 1750 mm

Kapasitas

: 800-1200 kg/jam

Jumlah

: 1 unit.

Mesin putaran continue gula D2 ada 4 unit.

Mesin putaran continue 1-3 gula D2.


Merk

: Roberts WS Centrifugal

Max. speed

: 2000 rpm

Working speed

: 1950 mm

Kapasitas

: 800-1200 kg/jam

JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 58

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA-PRAKTEK (KKN-P)


PG KEBON AGUNG MALANG

Jumlah

c.

: 3 unit.

Mesin putaran continue 4 gula D2.


Merk

: BMA

Max. speed

: 2400 rpm

Kapasitas

: 650 kg/jam

Jumlah

: 1 unit

Mesin putaran continue gula C ada 5 unit.

Mesin putaran continue 1-5 gula C.


Merk

: BMA

Max. speed

: 2400 rpm

Kapasitas

: 650 kg/jam

Jumlah

: 5 unit

Proses Pada Stasiun Putaran :


a. Proses masakan untuk putaran A.
Mula-mula tromol putaran (blower) pelan dan bahan masuk
pada batas tertentu, kemudian putaran dipercepat dengan
penyemprotan air panas dengan temperatur 800C melalui
nozzle. Tujuan pemberian hembusan dengan uap panas adalah
untuk membersihkan atau melepaskan cairan induk yang masih
tertinggal serta untuk mengeringkan kristal gula. Kemudian
putaran diperlambat maka stroop gula akan turun dan pada
penutup bagian bawah terbuka sehingga gula turun ke talang
goyang (grasshopper conveyor).
Untuk putaran A akan dihasilkan gula A dan stroop A,
kemudian gula A diputar lagi pada putaran SHS karena masih
mengandung stroop A berwarna kemerahan. Proses pada
putaran A meliputi:

JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 59

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA-PRAKTEK (KKN-P)


PG KEBON AGUNG MALANG

- Gula A turun ke talang bawah dan ditambahkan klare 1 agar


tercuci kembali dan untuk mempermudah digunakan pompa
ke mixer SHS.
- Selanjutnya diputar pada putaran SHS dan menghasilkan
gula SHS dan klare I.
- Gula SHS ini dibawa ke talang goyang kemudian masuk ke
pengeringan selanjutnya diangkat dengan bucket elevator
ke vibrating screen dan didapatkan tiga jenis gula.
Jenis gula kasar dan halus dimasak kembali di stasiun masakan.
Sedangkan gula normal dikirim ke stasiun pembungkusan dan
ditimbang 50 kg selanjutnya disimpan di gudang dan siap
untuk dipasarkan.
b. Proses masakan untuk putaran C dan D
Alat ini bekerja secara otomatis dan bekerja secara terus
menerus tanpa terputus, bahkan masuk dan gula menguap
dengan gaya sentrifugal. Larutan yang berupa zat cair akan
menembus saringan serta masuk ke ruang larutan kemudian
secara overflow keluar melalui saluran, sedangkan kristal gula
tertahan pada saringan gula ke kristal akibat kemiringan basket
dan gaya sentrifugal. Selanjutnya kristal keluar melalui corong
pengeluaran kristal.

Gambar 3.17 Mesin Putaran Batch Centrifugal dan Continues Centrifugal


Sumber: PG Kebon Agung Malang
JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 60

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA-PRAKTEK (KKN-P)


PG KEBON AGUNG MALANG

3.3.7. Stasiun Penyelesaian


Stasiun ini bertujuan. untuk menyelesaikan hasil kerja
stasiun putaran yaitu gu1a produk yang masih basah dikeringkan
sehingga gula produk menjadi kering dan siap untuk dikantongkan.
Peralatan yang digunakan stasiun penyelesaian adalah sebagai
berikut:
1. Grasshoper conveyor (talang goyang)
Fungsi : sebagai pengering pendahuluan dan pengangkut
gula ke sugar driyer untuk memisahkan gumpalan gula.
Alat ini bergerak secara eksentrik sehingga menimbulkan
getaran.
2. Pengeringan
Fungsi : mengeringkan gula SHS.
Alat ini bekerja otomatis, gula yang diproses melalui proses
pengeringan bertujuan agar gula yang masih basah dapat
menjadi kering dan membentuk kristal putih dan dapat
memisahkan antara kotoran dan gula.
3. Bucket Elevator
Fungsi: mengangkut gula kering menuju saringan atau
ayakan getar (vibrating screen).
4. Dust collector (rotoclone)
Fungsi:

sebagai

penangkap

debu-debu

gula

dan

pengeringan gula.
Alat dilengkapi dengan blower yang menghisap udara dan gula
debu dan sugar dryer yang kemudian dihembuskan ke atas.
Pada bagian atas dilakukan penyemprotan dengan air untuk

JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 61

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA-PRAKTEK (KKN-P)


PG KEBON AGUNG MALANG

mengikat

gula

debu.

Selanjutnya

cairan

yang

masih

mengandung gula debu tersebut dilebur kembali.


5. Vibrating screen
Fungsi: memisahkan gula normal, kasar dan halus.
Vibrating screen di Pabrik Gula Kebon Agung ini dibagi
menjadi dua tingkatan yaitu : dengan memisahkan gula krikil,
gula standar dan gula halus.
6. Silo (sugar storage).
Fungsi: sebagai penampung gula produksi SHS sebelum
dibungkus dalam karung.
Di bagian bawah alat ini berupa corong yang digunakan
sebagai discharge gula,disinilah gula dimasukkan dalam
karung.
7. Pembungkusan.
Fungsi: membungkus gula yang sudah distandarisasi.
Pada proses pembungkusan ini gula yang dihasilkan adalah
gula standar dan dikemas dalam karung dan selanjutnya
ditimbang.

Gambar 3.18 Pembungkusan


Sumber: PG Kebon Agung Malang
8. Timbangan.
Fungsi: menimbang gula yang sudah dikemas atau
dibungkus.
JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 62

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA-PRAKTEK (KKN-P)


PG KEBON AGUNG MALANG

Pada proses timbangan ini gula ditimbang dalam karung kurang


lebih 50,2 Kg dan seterusnya dijahit.

9.

Belt Confeyor
Fungsi sebagai alat transportasi gula menuju gudang.

Gambar 3.19 Belt Conveyor


Sumber: PG Kebon Agung Malang

Proses pada stasiun penyelesaian


Gula SHS yang dihasilkan oleh stasiun putaran SHS disebut
gula produksi. Gula SHS yang berasal dan stasiun putaran dibawa
oleh talang goyang menuju ke alat pengeringan gula, udara
dihembuskan pada temperatur. Debu-debu gula yang dibawa oleh
udara pada alat pengering dihisap oleh mesin penghisap debu dan
debu-debu gula tersebut dikirim lagi ke pan masakan bibitan. Gula
kering yang keluar diangkut dengan bucket elevator menuju ke
vibrating screen (ayakan getar). Vibrating screen di PG Kebon
Agung Malang dibagi menjadi dua tingkat yaitu dengan
memisahkan gula krikilan, gula standar dan gula halus. Gula
krikilan dan gula halus dilebur untuk bibitan masakan A,
sedangkan gula standar dikemas dalam karung 50,2 Kg dan
seterusnya dijahit. Setelah dihitung berapa jumlahnya kemudian
dimasukkan ke gudang dengan belt conveyor dan siap dipasarkan.
JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 63

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA-PRAKTEK (KKN-P)


PG KEBON AGUNG MALANG

BAB IV
STUDI KASUS
4.1 Perhitungan Cane Cutter
A. Prosedur Pemilihan

Menentukan Properties
Cane Cutter
Menentukan Tipe Cutter
Menentukan Tegangan
Cutter
Menentukan Ukuran
Cutter
Perancangan Selesai
B. Menentukan Properties

Cane Cutter I

JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 64

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA-PRAKTEK (KKN-P)


PG KEBON AGUNG MALANG

Fungsinya memotong tebu menjadi bagian-bagian yang pendek.


Spesifikasi teknik :
- Diameter mata pisau

: 1.520 mm

- Jumlah mata pisau

: 58 buah

- Jarak dengan carrier

: 40 cm

- Tebal Pisau

: 25 mm

- Bahan

: Besi tuang putih

- Penggerak

: turbin

- turbine speed

: 5220 rpm

- Output

: 1500Hp

- output shaft speed

: 750 rpm

C. Menentukan Tipe Cutter ( Determine Cutter Type)

Gambar 4.1 Cane Cutter

Cutter
(a)
JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 65

(b)

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA-PRAKTEK (KKN-P)


PG KEBON AGUNG MALANG

(c)
Gambar 4.2 (a) dudukan cutter (b) cutter (c) susunan cane cutter
- Diameter mata pisau

: 1.520 mm

- Jumlah mata pisau

: 58 buah

- Jarak dengan carrier

: 40 cm

- Tebal Pisau

: 25 mm

- Bahan

: Besi tuang putih

D. Menentukan Cutter Tension dan Cutter Size


a. Menghitung berat dari beban tebu yang dipotong
- Massa beban (load) pada cane cutter 1
Ton
)
h
W =16.7
X cutter diameter (m)
m
cutter speed S(
)
min
load quantity Q(

Dimana nilai 16,7 diperoleh dari konversi satuan :


Ton 1000 kg
h

=16,7
h
Ton
60 min
Ton
)
h
W =16.7
1,52(m)
m
750(
)
min
1000(

W =33,85(kgf )

JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 66

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA-PRAKTEK (KKN-P)


PG KEBON AGUNG MALANG

b. Menghitung Torsi cane cutter 1


P(Hp)

T =6300

cutter speed(
T =6300

m
)
min

1500( Hp)
m
750(
)
min

T = 12600 lb.in = 640,1 (kgf )


c. Secara proporsional pilih suatu cutter yang memilki average ultimate tensile
strength minimal 10 kali lebih besar dari nilai T yang telah dihitung.

average ultimate tensile strengt = T x 10 = 640,1 x 15 =


9601,5 kgf

d. Menghitung Tensile Strength

Menghitung tegangan cane cutter 1 (Cutter Tension)

Sn
N

0,5 . 15 x 106
2,5

0,5 . S ' n
2,5

=3 x 106 psi

= 1524 kgf

5. Menghitung safety factor untuk mengecek keamanan cane cutter 1


SF=

Average ultimate tensile strength 9601,5


=
=15> 10
T
640,1

dari perhitungan di atas mengindikasikan bahwa cane cutter aman digunakan.


4.2

Masalah yang terjadi pada cane cutter 1


Cane Cutter ( cane knife ), berfungsi untuk memotong tebu yang masuk

masih dalam bentuk batangan, menjadi potongan yang lebih kecil berukuran 10
- 15 cm. Tujuannya untuk memperoleh luas permukaan pemerahan yang lebih
JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 67

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA-PRAKTEK (KKN-P)


PG KEBON AGUNG MALANG

besar sehingga air tebu ( nira ) dapat semaksimal mungkin terperah di mill
station. Dengan kerja yang demikian, menyebabkan mata pisau menjadi tumpul
bahkan rusak karena gesekan yang terus menerus dengan batang tebu. Hal ini
menyebabkan

pemotongan

tebu

menjadi

tidak

maksimal,

dan

juga

membutuhkan gaya yg semakin besar pula untuk proses pemotongan. Oleh


karena itu dibutuhkan perawatan untuk menjaga kondisi dan ketajaman mata
pisau dari cane cutter. Supaya kualitas potongan menjadi baik.
Tabel 4.1 Data masalah pada Cane Cutter 1
No

Tanggal

Uraian

Jam

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

23 Mei 2013
9 Juni 2013
26 Juni 2013
28 Juli 2013
27 Agustus 2013
14 September 2013
27 September 2013
28 September 2013
2 Oktober 2013
3 Desember 2013

Tebu padat di CC.1


Tebu slip di CC.1
Pisau CC.1 putus 1 buah
Kontrol CC.1 dan CC.2 ada suara keras
Gangguan Turbin CC.1 dan CC.2
CC.1 kemasukan benda keras
Ganti baut pisau CC.1 4 buah
CC.1 kemasukan selebor meja tebu
CC.1 kemasukan benda asing
Kontrol CC.1 dan CC.2

Berhenti
2
1
1,33
0,33
0,17
0,25
0,58
0,33
0,12
2,42

Gambar 4.3 Skema Pemotongan Tebu


Sumber : Dokumen PT. PG. Kebon Agung

Analisa pisau Cane Cutter 1 putus

JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 68

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA-PRAKTEK (KKN-P)


PG KEBON AGUNG MALANG

Bahan yang digunakan untuk cane cutter yaitu besi tuang


putih. Besi tuang putih memiliki keunggulan yaitu tahan aus, tahan
korosi dan kekuatan yang tinggi.
Besi tuang putih tediri dari perlit dan sementit. Dengan
semakin banyak kadar sementit maka akan membuat sifat dari besi
tuang putih menjadi keras, akan tetapi rapuh. Kekuatan tarik besi
cor putih sekitar 25,000 50,000 Psi, kekuatan tekan 250,000
500,000 Psi, kekerasan 350 500 HB.

Gambar 4.4 Struktur besi tuang putih


Sumber : www.wikipedia.com

Penyebab
Penyebab mata pisau yang putus adalah diakibatkan
menumpuknya tebu sehingga membuat pemotongan menjadi
semakin berat. Dengan kecepatan yang tinggi sebesar 750 rpm
membuat impact yang terjadi semakin besar pula. Oleh karena itu,
pisau cane cutter putus. Ini juga dipengaruhi oleh kekuatan las
yang menyambungkan mata pisau dengan tangkai yang kurang
baik, bisa dilihat pada gambar 4.5, sehingga menyebabkan mata
pisau dan tangkainya tidak kuat menahan beban yang besar dari
tumpukan tebu yang akan dipotong. Dan juga adanya benda asing
selain tebu yang masuk ke cane cutter seperti yang ada di data

JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 69

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA-PRAKTEK (KKN-P)


PG KEBON AGUNG MALANG

produksi pabrik, hal ini juga bisa menyebabkan putusnya cane


cutter karena bila kekerasan dari benda asing tersebut melebihi
kekerasan cane cutter maka dapat menyebabkan retak bahkan
putus. Dengan putusnya cane cutter maka dapat menghambat
proses produksi yang seharusnya dapat berjalan harus terhenti
karena proses perbaikan. Kondisi mata pisau yang tumpul juga
dapat menyebabkan cane cutter putus karena dengan dengan mata
pisau yang tumpul maka proses pemotongan menjadi lebih berat
dan sulit.

(a)

(b)
Gambar 4.5 (a) Pengelasan yang tidak rata (b) Pengelasan yang tidak penuh
Sumber : Dokumentasi Pribadi

JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 70

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA-PRAKTEK (KKN-P)


PG KEBON AGUNG MALANG

Gambar 4.6 Mata pisau yang tumpul


Sumber : Dokumentasi Pribadi

Solusi
Dengan demikian, bila mata pisau mengalami kerusakan maka
langsung dilakukan pergantian karena sudah tidak maksimal lagi bila
dipakai dan juga bisa mengganggu proses produksi yang berlangsung.
Lalu, untuk mata pisau supaya tidak ada yang tumpul dan sering diperbaiki
dengan rutin agar selalu tajam karena untuk mendapatkan hasil
pemotongan yang lebih baik. Dan juga proses pengelasan untuk
penyambungan mata pisau lebih diperhatikan dan lebih baik lagi agar kuat
untuk menahan beban yang besar dan tidak terjadi putus saat proses
produksi berlangsung. Karena proses perbaikan itu membutuhkan waktu
dan menghentikan proses produksi. Jadi bila sering terjadi kerusakan maka
produksi juga akan terganggu.

JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 71

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA-PRAKTEK (KKN-P)


PG KEBON AGUNG MALANG

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Setelah melakukan pengamatan terhadap mesin-mesin yang digunakan
dalam pembuatan produk, cara pengoperasiannya dan perawatannya maka
dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Dari analisa yang dilakukan pada cane cutter 1 diketahui yang menjadi
penyebab adanya masalah dan gangguan adalah :
a. Mata pisau akan cepat rusak bila tidak dilakukan perawatan karena
di pakai secara terus menerus.
b. Jadwal perawatan mesin sudah cukup baik karena sudah
diperhatikan sehingga tidak terjadi kerugian yang besar
2. Pengoperasian

mesin-mesin

produksi

ini

disamping

diperlukan

pengetahuan yang cukup tentang mesin-mesin produksi tersebut, juga


diperlukan keterampilan dan pengalaman, seorang operator harus
menguasai bagian-bagian dari mesin tersebut secara jelas, sehingga
benar-benar mengetahui langkah apa saja yang harus dilakukan terhadap
mesin yang mengalami gangguan, sehingga mesin akan beroperasi
dengan aman dan lancar.
3. Perawatan mesin harus senantiasa dilakukan karena untuk menjamin
operasi mesin yang optimal.
4. Proses perawatan sangat penting dan harus dilakukan dengan baik agar
kondisi cane cutter tetap stabil dan optimal.
5.2 Saran
Saran-saran dari penulis agar proses produksi dapat ditingkatkan
adalah:
1. Untuk menambah profesionalisme pekerja, sebaiknya digalakkan
pelatihan-pelatihan semacam training bagi pekerja, juga pengiriman
pekerja untuk tugas belajar. Dengan demikin perusahaan akan lebih
cepat berkembang.
JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 72

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA-PRAKTEK (KKN-P)


PG KEBON AGUNG MALANG

2. Dalam mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia, perlu


didukung sarana yang memadai diantaranya perpustakaan dihidupkan
atau dikembangkan lagi sehingga menggalakkan peningkatan minat
baca karyawan.

JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 73