Anda di halaman 1dari 5

Laporan Modul X, MG-2213

Flotasi Mineral Sulfida


Fathi Rifati Azkiah (12513041) / Kelompok 7 / Rabu, 4-Maret-2015
Asisten : Ari Widayat (12512022)

Abstrak praktikum modul 10 modul Flotasi Mineral


Sulfida ini bertujuan untuk menentukan pengaruh dari
penggunaan reagent-reagent kimia dan pengaruh
perubahan pH terhadap perolehan (recovery) dari proses
flotasi itu sendiri. Pada percobaan kali ini dilakukan flotasi
pada pulp dengan % berat 30 %, Potassium Amyl Xanthate
sebagai kolektor, Ca(OH)2 sebagai regulator dan MIBC
sebagai frothen. Kemudian dilihat pengaruh derajat pH
terhadap perolehan recovery dari flotasi tersebut.

adhesif terhadap gelembung udara, sehingga


gelembung-gelembung
udara
akan
mengalami
aerasi.Partikel-partikel mineral yang menempel pada
permukaan gelembung akan terbawa naik ke permukaan
pulp, dan terpisahkan. Langkah-langkah yang dilakukan
pada proses flotasi sulfida adalah :
1.

Penghancuran dan penghalusan (Kominusi)

2.

Desliming

3.

Pulp Concentration

4.

Conditioning

5.

Aeration

6.

Pemisahan

A. Tinjauan Pustaka
Flotasi merupakan proses pemisahan kimia fisika yang
didasarkan pada perbedaan sifat permukaan material
berharga dengan material pengotor. Proses pemisahan
dilakukan dengan cara mengapungkan mineral tertentu
dengan bantuan gelembung udara sampai ke permukaan
air agar dapat dipisahkan dari mineral lain. secara
spesifik pemisahan ini disebut froth flotation, atau
flotasi buih. Media pemisahannya adalah air dan
gelembung udara. Proses pemisahan tersebut
memanfaatkan perbedaan sifat kimia-fisika permukaan
mineral yang akan dipisahkan. Sifat permukaan yang
dimaksud adalah respon permukaan mineral tersebut
ketika berapa di dalam air, atau sering disebut dengan
hydrophobicity. Berdasarkan sifat tersebut, mineral
dibagi menjadi dua macam, yaitu mineral hidrofobik
dan mineral hidrofilik. Mineral hidrofobik adalah
mineral yang permukaannya mempunyai lapisan non
polar, sehingga permukaannya sukar dibasahi air, tetapi
mudah melekat pada gelembung udara. Mineral
hidrofilik adalah mineral yang permukaannya
mempunyai lapisan polar sehingga permukaannya
mudah dibasahi air, tetapi sukar melekat pada
gelembung udara. Dengan menggunakan berbagai
reagen flotasi, sifat permukaan mineral dapat diubah dan
dikendalikan.
Prinsip terjadinya flotasi adalah gelembung-gelembung
udara yang terbentuk karena adanya udara yang dihisap
ke dalam pulp, dan frother yang membentuk energi
bebas permukaan pada antar muka air dan udara. Untuk
membantu proses flotasi, partikel-partikel mineral feed
harus berukuran halus. Hal ini karena walaupun
densitynya besar, ukuran partikel yang halus akan
menyebabkan density asosiasi partikel-gelembung
menjadi lebih kecil dari density air. Karena ion
permukaan dilapisi melalui reaksi secara adsorbsi fisik
atau kimia dengan bagian ionik kolektor dan bagian
organiknya merubah sifat permukaannya misalnya
menjadi hidrofob. Dengan sifat tersebut partikel menjadi

Gambar : prinsip flotasi


Reagen dalam proses flotasi :
1.

2.

Collector
Collector adalah bahan yang dapat menyebabkan
partikel mineral menjadi suka udara, yaitu dengan
cara melapisi permukaan polar dari partikel
mineral dengan reagent sehingga pada bagian luar
mineral terjadi reaksi kimia yang membentuk
lapisan non polar yang mudah menarik udara, dan
mineral kan mudah menempel pada gelembung
udara. Contoh kolektor untuk mineral sulfida
adalah Xanthate, dan Dithiophosphate. Sedangkan
untuk mineral non sulfida adalah Fatty acid jenuh
dan tidak jenuh.
Frother
Frother zat kimia yang digunakan untuk
menurunkan tegangan permukaan gelembung agar
gelembung yang terbentuk stabil dan tidak mudah
pecah. Gelembung-gelembung udara yang
terbentuk harus dapat bergerak bebas di dalam
pulp dan dapat mengambil partikel-partikel
mineral berharga, kemudian diapungkan ke atas

3.

permukaan pulp. Frother yang kali ini akan


digunakan adalah MIBC.
Modifier
Modifier digunakan untuk mengembalikan sifat
permukaan ke sifat aslinya. Tujuannya adalah
untuk meningkatkan selectivity. Modifying agent
dapat dikelompokkan menjadi 4 kelompok, yaitu :
1. pH regulator.
Regulor berfungsi untuk mengendalikan pH
agar pH tersebut optimal untuk setiap mineral
tertentu. Contohnya adalah Ca(OH)2.
2. Aktivator
Aktivator adalah senyawa kimia yang
berfungsi
agar
kolektor
mempunyai
selektivitas tinggi dan memperbesar daya
adsorpsi.
3. Depresant
Depressant adalah senyawa kimia yang
mengurangi adsorpsi kolektor.
4. Dispersant
Dispersant adalah senyawa kimia yang
membebaskan permukaan mineral dari partikel
halus (slime).

Dihidupkan mesin sel flotasi dan diatur speed


pengaduk 1500 rpm

Ditambahkan collector Amyl Xanthate sebanyak


20 tetes dan 6 sendok Ca(OH) 2

Conditioning selama 2 menit

Dihitung PH dari campuran

Ditambahkan MIBC sebanyak 20 tetes

Conditioning selama 2 menit

Dibuka kran udara dan disendok bagian gelembung


(kosentrat)

Hitung recovery tailing dan kadar tailing


Rumus-rumus yang digunakan :

% =
100%

2
% 2 =
100%

2
% =
100%
2

B. Data Percobaan
Berat bijih = 477,5 gram

Perhitungan :

Volume air = 1113 mL


Kadar solid 30%

1.

Berat terhadap pH

1. Berat tertampung (gram)


Produk
konsentrat 1
konsentrat 2
konsentrat 3
konsentrat 4
tailing
Umpan

pH 6
80,07
68,88
90,58
98,98
138,99
477,5

pH 8
78,92
71,38
97,43
103,38
126,39
477,5

pH 9
76,42
81,23
66,52
98,52
154,81
477,5

pH 6
23.17
11.39
8.89
7.59
74.56
125.6

pH 8
21.98
8.32
7.18
6.98
80.04
124.5

6
16.77

11

K1

16.53

16.00

17.05

K2

14.43

14.95

17.01

13.51

K3

18.97

20.40

13.93

19.16

K4

20.73

21.65

20.63

20.00

rata rata

17.72

18.38

16.89

17.43

Grafik % Berat terhadap pH

2. Berat Cu2S dalam konsentrat


tertampung (gram)
Produk
konsentrat 1
konsentrat 2
konsentrat 3
konsentrat 4
tailing
Total CuS2

% berat pada pH

Produk

pH 11
81,42
64,52
91,48
91,59
144,59
477,5

pH 9
21.32
14.21
11.54
9.53
59.1
115.7

pH 11
22.2475
13.1575
9.4675
4.89
78.65
130.54

C. Pengolahan Data Percobaan


Langkah-langkah percobaan :
Feed berupa 477,5 gram bijih sulfida

Dilarutkan dalam air hingga menjadi 30% solid

Dimasukkan feed ke dalam laboratory flotation cell

2.

% berat Cu2S terhadap pH

% berat Cu2S pada pH

Produk
K1

6
28.94

8
27.85

9
27.90

11
27.32

K2

16.54

11.66

17.49

20.39

K3

9.81

7.37

17.35

10.35

K4

7.67

6.75

9.67

5.12

15.74

13.41

18.10

15.80

rata rata

Grafik %Cu2S terhadap pH

3.

% recovery terhadap pH
% recovery pada pH

Produk
K1

6
18.45

8
17.65

9
18.43

11
17.04

K2

9.07

6.68

12.28

10.08

K3

7.08

5.77

9.97

7.25

K4

6.04

5.61

8.24

3.75

Total

40.64

35.71

48.92

38.12

rata rata

10.16

8.93

12.23

9.53

Grafik % recovery terhadap pH

Dari tabel % berat terhadap pH, didapatkan angkaangka perbandingan antara berat konsentrat dengan
berat umpan pada pH tertentu. Angka tersebut berkisar
antara 13,93 dan 21,65 %. Sedangkan dari tabel % Cu2S
terhadap pH, didapatkan angka-angka perbandingan
antara berat Cu2S yang terdapat di dalam konsentrat
dengan berat konsentrat keseluruhan. Angka di tabel ini
menunjukkan hasil yang memiliki range lebih besar
yaitu berkisar antara 5,12 sampai 28,94 %. Dari tabel
% recovery terhadap pH, didapatkan angka
perbandingan antara berat Cu2S dalam konsentrat dan
Cu2S total dalam umpan. Angka % recovery masih
rendah, yaitu berkisar antara 3,75 sampai 18,35 %.
Recovery percobaan ini terhitung kecil karena kurang
dari 30%. Hal ini dapat disebabkan karena berbagai
kesalahan, misalnya belum terambil semua gelembung
yang ada di dalam bak penampung pulp, kemudian
adanya ketidaktepatan penimbangan jumlah berat, dan
kesalahan dalam menambahkan reagen.
Dari tabel % Cu2S dan % recovery, juga dapat
dianalisis pH manakah yang dapat memberikan hasil
yang optimum. Untuk % Cu2S, berat Cu2S akan
optimum dalam konsentrat dibandingkan dengan
konsentrat total pada pH 9, yaitu dengan rata-rata 18,10
%. Sedangkan untuk % recovery, akan didapatkan berat
Cu2S yang maksimum dalam konsentrat dibandingkan
dengan Cu2S awal dalam feed pada pH 9 pula, yaitu
rata-rata sebesar 12,23 %. Sehingga untuk
mendapatkan % Cu2S dan % Cu2S yang tinggi,
diperlukan kondisi mineral sulfide pada pH 9.
Gelembung yang didapatkan pada percobaan kali
ini adalah gelembung yang kuat. Gelembung tersebut
tidak pecah meski sedang dipisahkan dari pulp.
Gelembung yang baik adalah gelembung yang tahan
pecah karena memiliki tegangan permukaan yang
rendah. Dengan begitu, mineral hidrofobik (mineral
yang diinginkan) akan lebih lama terpisah dan lebih
mudah untuk dianmbil.
Dosis optimum kolektor tergantung pada total luas
permukaan partikel, ion-ion yang ada dalam pulp, dan
tingkat oksidasi pemukaan mineral. Dosis optimum
fother yang digunaakan adalah tergantung pada jumlah
pulp dan kekuatan gelembung pulp. Sedangkan dalam
literature, pH optimum Cu2S untuk mendapatkan
%Cu2S yang tinggi adalah pada pH 9.

D. Analisis Hasil Percobaan


Percobaan kali ini bertujuan untuk mengambil
Cu2S. Data-data yang didapatkan adalah berat
tertampung dan berat Cu2S dalam konsentrat pada pH
tertentu. Dari data tersebut, diolah menjadi data %
berat, % Cu2S, dan % recovery. Kemudian dari ketiga
data tersebut, dibuat diagram % berat terhadap pH, %
Cu2S terhadap pH dan % recovery terhadap pH.

E. Jawaban Pertanyaan dan Tugas


1. Apa tujuan desliming pada umpan flotasi?
Jawab :
Desliming pada umpan flotasi bertujuan untuk
menghilangkan partikel-partikel halus dari mineral
berharga. Partikel halus tersebut dapat mengganggu
proses pengapungan karena dapat menghalangi
partikel berharga untuk menempel dan berikatan
dengan gelembung udara.
2. Tuliskan persamaan kimia yang menunjukkan
ionisasi kalium ethyil xanthate ke dalam air!
Jawab :
CH3CH2OCS2K + H2OCH3CH2OCS2H + KOH
CH3CH2OCS2H CS2 + CH3CH2OH

3.

4.

5.

6.

7.

Tuliskan tujuan conditioning pada umpan flotasi!


Jawab :
Secara umum, tahap conditioning bertujuan untuk
membuat suatu mineral tertentu bersifat hidrofobik
dan mempertahankan mineral lain bersifat hidrofilik.
Selain itu, conditioning juga bertujuan untuk
mengendapkan ion-ion pengganggu, mengendapkan
mineral yang tidak ingin diangkat menggunakan
depresan, menciptakan lingkungan yang memiliki
pH yang sesuai untuk mineral agar proses berjalan
optimal dan memisahkan mineral berharga dari
partikel halus menggunakan dispersan.
Tuliskan dan jelaskan macam-macam flotasi cell
yang dipegunakan dalam flotasi komersial!
Jawab :
1. Mechanical, vertical (Agitation Cell)
Shaft dan impeller terletak di tengah mesin,
udara akan dimasukkan melaluai shaft dan
didispersikan ke permukaan melalui impeller.
2. Pneumatic Cell
Tidak ada impeller dan bekerja dengan
mengkompres udara untuk agitasi atau the pulp
aerator.
3. Froth Separator
Slurries memiliki ukuran 1 mm-50 m.
Prinsipnya dengan pemisahan feed dan slurry di
dalam froth blanket.
4. Column Flotation
Flotasi dilakukan didalam sebuah kolom.
Conditioning dilakukan di luar sel. Tidak ada
bagian yang bergerak pada flotasi kolom ini.
Udara dihembuskan dari bawah.
Apa yang dimaksud dengan zat surface aktif?
Jawab :
Zat surface aktif adalah zat aktif pada permukaan
yang mempunyai dua sisi yang berbeda yaitu di satu
sisi memiliki sifat hidrofilik dan di sisi lainnya
memiliki sifat hidrofob. Frother adalah salah satu
contoh zat aktif permukaan. Frother digunakan
untuk menstabilkan buih dan memperlancar
pemisahan.
Jelaskan kenapa air murni tidak membentuk froth!
Jawab :
Air murni tidak membentuk froth karena ia memiliki
tegangan permukaan yang tinggi sehingga
buih/gelembung tidak pernah stabil.
Jelaskan mekanisme aksi pada proses flotasi!
Jawab :
1. Conditioning
Conditioning adalah mekanisme pertama dalam
proses flotasi. Conditioning ini dilakukan
dengan cara menambahkan zat-zat reagen
seperti collector, depressant, dan frothen ke
dalam pulp yang tujuan intinya adalah untuk
mengubah sifat mineral berharga hidrofilik
menjadi hidrofobik agar ia dapat dipisahkan
dengan cara pengapungan. Pada conditioning,
umpan akan diaduk agar reagen terdistribusi

2.

dengan merata dan partikel mineral memiliki


waktu yang cukup untuk berinteraksi dengan
partikel reagen yang ditambahkan dengannya.
Proses aerasi
Aerasi merupakan tahap pengaliran udara ke
dalam pulp secara mekanis, baik melalui agitasi
maupun injeksi udara. Pada saar aerasi, aliran
udara yang bertekanan lebih besar akan
mengalir ke dalam pulp dan membentuk
gelembung-gelembung udara. Pada proses
aerasi ini partikel-partikel mineral yang bersifat
hidrofobik (suka udara) akan menempel pada
gelembung udara kemudian naik ke atas untuk
selanjutnya dipisahkan.

F. Kesimpulan
Dari percobaan yang telah dilakukan, didapatkan bahwa
pengaruh reagen adalah mengubah sifat mineral
berharga yang sebelumnya hidrofilik menjadi
hidrofobik, kemudian mengangkatnya ke atas
permukaan, dan memudahkan pemisahan, termasuk
menguatkan gelembung-gelembung permukaan. pH
juga memiliki pengaruh dalam percobaan ini. % Cu2S
dan % recovery memiliki angka yang berbeda untuk
setiap pH, dan keduanya memberikan hasil yang
optimum pada pH 9.
G. Daftar Pustaka
Wills, B.A and Napier-Munn T.J., Wills Mineral
Processing Technology 7th edition. 2006. Elsevier
Science & Technology Books, page 267-269.
http://iptekduniapertambangan.blogspot.com/2011/12/f
lotasi-dalam-pertambangan.html diakses 6 Maret 2015
pukul 21.04 WIB
http://www.mineraltambang.com/froth-flotation.html
diakses 6 Maret 2015 pukul 23.07 WIB
http://www.911metallurgist.com/blog/whats-a-frothflotation-process diakses 6 Maret 2015 pukul 23.08
WIB
H. Lampiran