Anda di halaman 1dari 7

CASE STUDY 2

DESAIN GIGI TIRUAN SEBAGIAN LEPASAN


A. Pendahuluan
Gigi tiruan sebagian lepasan adalah salah satu alat yang berfungsi untuk
mengembalikan beberapa gigi asli yang hilang dengan dukungan utama jaringan
lunak di bawah plat dasar dan dukungan tambahan berupa gigi asli yang masih
tertinggal dan terpilih sebagai pegangan (Applegate, 1959). Pembuatan desain
gigi tiruan sebagian lepasan merupakan salah satu tahap yang penting dan salah
satu faktor penentu keberhasilan atau kegagalan sebuah gigi tiruan. Terdapat
suatu prinsip yang umum dan penting yang harus diketahui dokter gigi sebelum
menentukan desain gigi tiruan, yaitu dokter gigi perlu mengetahui seluruh
informasi mengenai keadaan fisik dan memahami secara betul data-data
mengenai bentuk, indikasi, dan fungsi dari cengkeram, letak sandaran, macam
konektor, bentuk sadel, dan jenis dukungan yang akan diterapkan untuk sebuah
geligi tiruan (Gunadi, 1991).
Setiap protesa yang dipasang dalam rongga mulut memiliki resiko
merusak kesehatan gigi dan jaringan pendukung. Agar hal ini tidak terjadi, maka
dokter gigi harus membuat desain dengan tepat dan menginstruksikan pada
pasien tentang cara menjaga kebersihan mulut dan geligi tiruan dengan baik
(Neil & Walter, 1992).
B. Tahap-tahap pembuatan desain
Menurut Gunadi (1991), prinsip pembuatan desain gigi tiruan tidaklah
terlalu berbeda antara yang terbuat dari resin akrilik ataupun dari kerangka
logam. Prinsipnya terdapat 4 tahap dalam pembuatan desain gigi tiruan, yaitu:
1. Tahap I
Merupakan tahap menentukan kelas dari masing-masing daerah yang
tidak bergigi. Daerah tak bergigi dari masing-masing lengkung gigi pasien
bervariasi, baik dari hal panjang, macam, jumlah, dan letaknya. Hal tersebut
1

akan mempengaruhi rencana pembuatan desain gigi tiruan, baik dalam bentuk
sadel, konektor, maupun dukungan. Menurut Applegate, daerah tak bergigi
dapat dibagi menjadi enam beserta indikasi protesanya, yaitu:
a. Kelas I
Daerah tak bergigi berupa sadel berujung bebas (free end) bilateral.
Indikasi protesa yang dapat digunakan yaitu protesa lepasan, dua sisi
dengan perluasan basis ke distal.
b. Kelas II
Daerah tak bergigi berupa sadel berujung bebas (free end) unilateral.
Indikasi protesa yang dapat digunakan yaitu protesa lepasan, dua sisi
dengan perluasan basis ke distal.
c. Kelas III
Daerah tak bergigi berupa sadel tertutup (paradental), kedua gigi
tetangganya kuat tetapi tidak mampu memberikan support sepenuhnya.
Indikasi protesa yang dapat digunakan yaitu protesa lepasan, dua sisi dan
dengan dukungan dari gigi.
d. Kelas IV
Daerah tak bergigi berupa sadel tertutup dan melewati garis tengah.
Indikasi protesa yang dapat digunakan yaitu protesa cekat atau lepasan,
dua sisi.
e. Kelas V
Daerah tak bergigi berupa sadel tertutup dan gigi tetangga bagian
anterior tidak mampu menjadi penyangga. Indikasi protesa yang dapat
digunakan yaitu protesa lepasan dua sisi.
f. Kelas VI
Daerah tak bergigi berupa sadel tertutup dan kedua gigi tetangga
mampu menjadi penyangga. Indikasi protesa yang dapat digunakan yaitu
protesa cekat atau lepasan, satu sisi dan dukungan dari gigi.
(Gunadi, 1991).
2. Tahap II
Merupakan tahap menentukan macam dukungan dari setiap sadel.
Sadel dibedakan berdasarkan bentuk daerah tak bergigi, yaitu paradental
saddle dan free end saddle. Paradental saddle bisa mendapatkan dukungan
dari gigi, mukosa, ataupun kombinasi (gigi dan mukosa), sedangkan free end
2

saddle bisa mendapatkan dukungan dari mukosa atau kombinasi (gigi dan
mukosa) (Gunadi, 1991).
Dukungan yang berasal dari gigi menerima tekanan oklusal secara
langsung ke gigi penyangga melalui titik kontak pendukung utamanya, yaitu
gigi asli. Selain fungsi tersebut, basis bersama elemen gigi tiruan berfungsi
pula mencegah migrasi horizontal gigi tetangga serta migrasi vertikal gigi
antagonis. Sedangkan dukungan yang berasal dari jaringan, tekanan oklusal
diterima oleh mukosa dan tulang alveolar di bawah mukosa. Tekanan oklusal
akan disalurkan ke permukaan yang lebih luas, sehingga tekanan persatuan
luas menjadi kecil (Gunadi,1991).
Dukungan dari gigi tiruan sebagian lepasan akan diperoleh bila
memperhatikan beberapa faktor, diantaranya:
a. Keadaan jaringan pendukung
Dukungan gigi tiruan sebaiknya berasal dari gigi apabila jaringan gigi
sehat. Namun, apabila jaringan gigi meragukan, sebaiknya dukungan di
dapat dari mukosa dengan memperhatikan:
1) Jaringan mukosa di bawah sadel sehat dan cukup tebal
2) Bagian plat kortikal dari tulang alveolar di bawah sadel padat dan
terletak di atas tulang trabekula dan kanselus yang sehat.
3) Pasien tidak memiliki riwayat penyakit yang berhubungan dengan
resorpsi yang cepat.
Dukungan dari mukosa ini ideal untuk kasus-kasus dengan free end
saddle karena agar beban kunyah dapat diterima secara seimbang antara
gigi dan mukosa. Dukungan kombinasi masih dapat dimungkinkan pada
kasus free end saddle dengan syarat jaringan gigi sehat dan mampu
menjadi pendukung untuk gigi tiruan (Gunadi,1991).
b. Panjang sadel
Sadel yang pendek dengan gigi tetangga yang kuat sebaiknya
mendapat dukungan yang berasal dari gigi, namun sebaliknya, apabila
sadel panjang dan gigi tetangga kurang kuat, maka sebaiknya dipilihkan
dukungan dari mukosa, terutama untuk gigi rahang atas (Gunadi,1991).
c. Jumlah sadel
Jumlah sadel yang multiple pada rahang perlu memerhatikan keadaan
gigi tetangga dan jaringan mukosa disekitarnya. Bila sadel multiple di
3

rahang atas, maka dianjurkan untuk mendapatkan dukungan dari mukosa


dan diharapkan semaksimal mungkin dokter gigi memiliki upaya untuk
mendapatkan desain yang tidak terlalu kompleks (Gunadi,1991)..
d. Keadaan rahang
Rahang bawah memiliki luas permukaan yang lebih

kecil

dibandingkan rahang atas, sehingga dianjurkan pada rahang bawah


dengan sadel berujung tertutup diberikan dukungan yang berasal dari gigi.
Begitupun, untuk rahang atas dengan gigi tiruan berbahan resin,
dukungan dapat berasal dari gigi karena tekanan kunyah akan disalurkan
lebih besar kepada gigi dan mencegah kerusakan jaringan mukosa akibat
tekanan yang berlebihan (Gunadi,1991).
3. Tahap III
Merupakan tahap untuk menentukan jenis penahan atau retainer.
Penahan untuk geligi tiruan dibagi menjadi dua, yaitu:
a. Direct retainer
Merupakan bagian dari gigi tiruan yang menahan terlepasnya gigi
tiruan secara langsung ke arah oklusal. Direct retainer ini dapat berupa
cengkeram dan presisi yang berkontak langsung dengan permukaan gigi
pegangan. Prinsip desain cengkeram ini yaitu pemelukan, pengimbangan,
retensi, stabilisasi, dukungan, dan pasifitas (Soelarko dan Wachijati,
1980).
b. Indirect retainer
Merupakan bagian dari gigi tiruan yang menahan gigi tiruan secara
tidak langsung. Retensi tidak langsung diperoleh

dengan cara

memberikan retensi pada sisi berlawanan dari garis fulkrum tempat gaya
tadi bekerja. Retensi ini dapat berupa lingual bar atau lingual plat bar
(Soelarko dan Wachijati, 1980).
Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih jenis
penahan yang akan digunakan pada gigi tiruan sebagian lepasan, diantaranya:
a. Dukungan dari sadel
Hal ini berkaitan dengan indikasi dari macam cengkeram yang akan
dipakai dan gigi penyangga yang ada atau diperlukan (Gunadi,1991).
b. Stabilisasi dari geligi tiruan

Hal ini berhubungan dengan jumlah dan macam gigi pendukung yang
ada dan akan dipakai (Gunadi,1991).
c. Estetik
Hal ini berhubungan dengan bentuk atau tipe cengkeram serta lokasi
dari gigi penyangga (Gunadi,1991).
Menurut Neil & Walter (1992), berikut macam-macam cengkram
berdasarkan fungsinya:
a. Kelompok cengkeram paradental
Merupakan cengkeram yang fungsinya selain dari retensi dan
stabilisasi protesa, juga sebagai alat untuk meneruskan beban kunyah
yang diterima gigi tiruan ke gigi penjangkarannya Jadi,cengkeram
paradental harus mempunyai bagian yang melalui bagian oklusal gigi
penjangkaran atau melalui titik kontak antara gigi penjangkaran dengan
gigi tetangganya. Macam-macam cengkeram paradental:
1) Cengkeram tiga jari: cengkeram ini di bentuk dengan jalan menyoldir
lengan-lengan kawat pada sandaran atau menanamnya ke dalam basis.
2) Cengkeram jackson: digunakan pada gigi molar, premolar yang
mempunyai kontak yang baik di bagian mesial dan distalnya Bila gigi
penjangkaran terlalu cembung, seringkali cengkeram ini sulit masuk
pada waktu pemasangan protesa.
3) Cengkeram half jackson: Disebut pula cengkeram satu jari atau
Cengkeram C. Digunakan pada gigi molar dan premolar gigi terlalu
cembung sehingga cengkeram jackson sulit melaluinya ada titik kontak
yang baik di antara 2 gigi.
4) Cengkeram S: Cengkeram ini bersandaran pada singulum gigi kaninus
dan perlu diperhatikan agar letak tidak mengganggu oklusi.
b. Kelompok cengkeram gingival
Yaitu cengkeram yang fungsinya hanya untuk retensi dan stabilisasi
protesa. Jadi, karena tidak berfungsi untuk meneruskan beban kunyah
yang diterima protesa ke gigi penjangkaran, maka cengkeram ini tidak
mempunyai bagian yang melalui bagian oklusal gigi penjangkaran, bisa
diatas permukaan oklusal.
5

1) Cengkeram dua jari: Berbentuk sama seperti Arkers clasp, tetapi tanpa

sandaran. Tanpa sandaran, cengkeram ini dengan sendirinya berfungsi


retentive saja pada protesa dukungan mukosa.
2) Cengkeram 2 jari panjang: Desainnya seperti cengkeram 2 jari, hanya
disini melingkari 2 gigi berdekatan.
(Soelarko dan Wachijati, 1980).
4. Tahap IV
Menentukan jenis konektor. Konektor pada protesa resin biasanya
berbentuk pelat, sedangkan pada protesa kerangka logam bentuknya bervariasi
dan dipilih sesuai indikasinya (Gunadi,1991).
Terdapat 2 (dua) jenis konektor yang dapat dipilih sesuai kebutuhan
dan desain:
a. Konektor Utama
Merupakan bagian dari GTSL yang menghubungkan komponenkomponen yang terdapat pada satu sisi rahang dengan sisi yang lain atau
bagian yang menghubungkan basis dengan retainer. Fungsi konektor
utama adalah menyalurkan daya kunyah yang diterima dari satu sisi
kepada sisi yang lain. Syarat konektor utama adalah:
1) Rigid
2) Tidak mengganggu gerak jaringan
3) Tidak menyebabkan tergeseknya mukosa dan gingiva
4) Tepi konektor utama cukup jauh dari margin gingiva
5) Tepi dibentuk membulat dan tidak tajam supaya tidak menganggu lidah
dan pipi.
Konektor utama dapat berupa bar atau plate tergantung lokasi, jumlah
gigi yang hilang, dan rahang mana yang dibuatkan. Pada rahang atas
dapat berupa single palatal bar, U-shaped palatal connector, anteroposterior palatal bar dan palatal palate. Pada rahang bawah dapat berupa
lingual bar dan lingual plate (Gunadi, 1991).
b. Konektor minor
Konektor minor merupakan bagian GTSL yang menghubungkan
konektor utama dengan bagian lain, misalnya sandaran oklusal. Biasanya
diletakkan pada daerah embrasur gigi dan harus berbentuk melancip ke
arah gigi penyangganya. Fungsi konektor minor adalah meneruskan
6

tekanan oklusal atau beban oklusi ke gigi peganggan, membantu


stabilisasi dengan menahan gaya pelepasan, menghubungkan bagianbagian GTS dengan konektor utama, menyalurkan efek penahan,
sandaran dan bagian pengimbangan kepada sandaran serta mentransfer
efek retainer serta komponen gigi lain ke gigi tiruan. Dasar pertimbangan
pemilihan konektor adalah pengalaman pasien, stabilisasi, dan bahan
geligi tiruan (Gunadi, 1991).
DAFTAR PUSTAKA

Applegate, 1959, Essential of Removable Partial Denture Prosthesis, 2th ed., W.B.
Sounders Co., Philadelphia, London.
Gunadi, H.A., 1991, Buku Ajar Ilmu Geligi Tiruan Sebagian Lepasan jilid 2,
Hipocrates, Jakarta.
Neil, DJ. & Walter, JD, 1992, Geligi Tiruan Sebagian Lepasan. Diterjemahkan dari
buku asli: Partial Denture,. Alih bahasa: Lilian Yuwono, EGC, Jakarta.
Soelarko, R.M., dan Wachijati, H., 1980, Diktat Prostodonsia Gigi Tiruan Sebagian
Lepasan, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjajaran, Bandung.

Anda mungkin juga menyukai