Anda di halaman 1dari 4

I.

Pendahuluan
Krisis keuangan yang telah terjadi baik yang khusunya memiliki dampak bagi
perusahaan dalam negeri, secara tak langsung memberikan dampak yang luar biasa
ke berbagai negara, sedikit banyak perusahaan yang produknya diekspor ke luar
negeri telah terkena dampaknya. Oleh karena itu, perusahaan perlu melakukan
restrukturisasi untuk memperbaiki kinerjanya, agar dapat tetap tumbuh dan
berkembang ditengah kesulitan yang ada.
Restrukturisasi perusahaan sebetulnya tak harus menunggu perusahaan menurun,
namun dapat dilakukan setiap kali, agar perusahaan dapat bersaing dan tumbuh
berkembang. Dalam keadaan normal, perusahaan perlu melakukan pembenahan dan
perbaikan supaya dapat terus unggul dalam persaingan, atau paling tidak dapat
bertahan. Perusahaan yang tidak melakukan pembenahan dan penyesuaian, dalam
kondisi persaingan yang semakin global, akan terlindas oleh para pesaing.
Restrukturisasi perusahaan bertujuan untuk memperbaiki dan memaksimalisasi kinerja
perusahaan. Perusahaan melakukan pembenahan supaya segera lepas dari krisis
melalui berbagai aspek. Perbaikan-perbaikan tersebut menyangkut berbagai aspek
perusahaan, mulai dari perbaikan portofolio perusahaan, perbaikan permodalan,
perampingan manajemen, perbaikan sistem pengelolaan perusahaan, sampai
perbaikan sumber daya manusia. Dengan demikian, restrukturisasi perusahaan
merupakan kepentingan semua pihak. Bukan saja pihak manajemen, namun juga
merupakan kepentingan komisaris yang mewakili kepentingan pemegang saham.
Restrukturisasi juga merupakan kepentingan karyawan secara keseluruhan karena
tindakan restrukturisasi akan berdampak pada semua karyawan.
II. Alasan Restrukturisasi
Alasan suatu korporasi melakukan restrukturisasi, antara lain:
a. Masalah Hukum/desentralisasi
Undang-undang No.22/1999 tentang Pemerintahan Daerah dan No.25/1999
tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah telah
mendorong korporasi untuk mengkaji ulang cara kerja dan mengevaluasi
hubungan kantor pusat, yang kebanyakan di Jakarta, dengan anak-anak
perusahaan yang menyebar di seluruh pelosok tanah air. Keinginan Pemerintah
Daerah untuk ikut menikmati hasil dari perusahaan-perusahaan yang ada di
daerah masing-masing menuntut korporasi untuk mengkaji ulang seberapa jauh
wewenang perlu diberikan kepada pimpinan anak-anak perusahaan supaya bisa
memutuskan sendiri bila ada masalah-masalah hukum di daerah.
b. Masalah Hukum/monopoli
Perusahaan yang telah masuk dalam daftar hitam monopoli, dan telah dinyatakan
bersalah oleh Komisi Pengawasan Persaingan Usaha (KPPU)/pengadilan, harus
melakukan restrukturisasi agar terbebas dari masalah hukum. Misalkan,
perusahaan harus melepas atau memecah divisi supaya dikuasai pihak lain, atau

menahan laju produk yang masuk ke daftar monopoli supaya pesaing bisa
mendapat porsi yang mencukupi.
c. Tuntutan pasar
Konsumen dimanjakan dengan semakin banyaknya produsen. Apalagi dalam era
perdagangan bebas, produsen dari manapun boleh ke Indonesia. Hal ini
menuntut korporasi untuk memenuhi tuntutan konsumen, yang antara lain
menyangkut :1) kenyamanan (convenience), 2) kecepatan pelayanan (speed), 3)
ketersediaan produk (conformity), dan 4) nilai tambah yang dirasakan oleh
konsumen (added value). Tuntutan tersebut bisa dipenuhi bila perusahaan paling
tidak mengubah cara kerja, pembagian tugas, dan sistem dalam perusahaan
supaya mendukung pemenuhan tuntutan tersebut.
d. Masalah Geografis
Korporasi yang melakukan ekspansi ke daerah-daerah sulit dijangkau, perlu
memberi wewenang khusus kepada anak perusahaan, supaya bisa beroperasi
secara efektif. Demikian juga jika melakukan ekspansi ke luar negeri, korporasi
perlu mempertimbangkan sistem keorganisasian dan hubungan induk-anak
perusahaan supaya anak perusahaan di manca negera dapat bekerja baik
e. Perubahan kondisi korporasi
Perubahan kondisi korporasi sering menuntut manajemen untuk mengubah iklim
supaya perusahaan semakin inovatif dan menciptakan produk atau cara kerja
yang baru. Iklim ini bisa diciptakan bila perusahaan memperbaiki manajemen dan
aspek-aspek keorganisasian, misalnya kondisi kerja, sistem insentif, dan
manajemen kinerja.
f.

Hubungan holding-anak perusahaan


Korporasi yang masih kecil dapat menerapkan operating holding system, dimana
induk dapat terjun ke dalam keputusan-keputusan operasional anak perusahaan.
Semakin besar ukuran korporasi, holding perlu bergeser dan berlaku sebagai
supporting holding, yang hanya mengambil keputusan-keputusan penting dalam
rangka mendukung anak-anak perusahaan supaya berkinerja baik. Semakin
besar ukuran korporasi, induk harus rela bertindak sebagai investment holding,
yang tidak ikut dalam aktifitas, tetapi semata-mata bertindak sebagai pemilik
anak-anak perusahaan, menyuntik ekuitas dan pinjaman, dan pada akhir tahun
meminta anak-anak perusahaan mempertanggungjawabkan hasil kerjanya dan
menyetor dividen.

g. Masalah Serikat Pekerja


Era keterbukaan, yang diikuti dengan munculnya undang-undang ketenaga
kerjaan yang terus mengalami perubahan mendorong para buruh untuk semakin
berani menyuarakan kepentingan mereka.

h. Perbaikan image korporasi


Korporasi sering mengganti logo perusahaan dalam rangka menciptakan image
baru, atau memperbaiki image yang selama ini melekat pada stakeholders
korporasi.
i.

Fleksibilitas Manajemen
Manajemen seringkali merestrukturisasi diri supaya cara kerja lebih lincah,
pengambilan keputusan lebih cepat, perbaikan bisa dilakukan lebih tepat guna.
Restrukturisasi ini biasanya berkaitan dengan perubahan job description,
kewenangan tiap tingkatan manajemen untuk memutuskan pengeluaran,
kewenangan dalam mengelola sumber daya (temasuk SDM), dan bentuk
organisasi.

j.

Pergeseran kepemilikan
Pendiri korporasi biasanya memutuskan untuk melakukan go public setelah si
pendiri menyatakan diri sudah tidak sanggup, tidak sanggup lagi menjalankan
korporasi seperti dulu. Perubahan paling sederhana adalah mengalihkan
sebagian kepemilikan kepada anak-anaknya. Tapi cara ini seringkali tidak cukup.

k. Akses modal yang lebih baik


Seringkali kita melihat beberapa Perseroan menjual sebagian sahamnya di Pasar
Bursa luar negeri dengan tujuan supaya akses modal menjadi lebih luas. Dengan
demikian, perusahaan tersebut tidak harus membanjiri BEJ dengan sahamnya
setiap kali membutuhkan modal. Sebagai dampak tindakan ini, struktur
kepemilikan otomatis berubah.
II. Jenis restrukturisasi
Pada intinya, restrukturisasi dapat dikategorikan ke dalam tiga jenis:
a). Restrukturisasi portofolio/asset;
b). Restrukturisasi modal atau keuangan; dan
c). Restrukturisasi manajemen/organisasi.
Restrukturisasi portofolio merupakan kegiatan penyusunan portofolio perusahaan
supaya kinerja perusahaan menjadi semakin baik. Yang termasuk ke dalam portofolio
perusahaan adalah setiap aset, lini bisnis, divisi, unit usaha atau SBU (Strategic
Business Unit), maupun anak perusahaan.
Restrukturisasi keuangan atau modal adalah penyusunan ulang komposisi modal
perusahaan supaya kinerja keuangan menjadi lebih sehat. Kinerja keuangan dapat
dievaluasi berdasarkan laporan keuangan, yang terdiri dari: neraca, Rugi/Laba,
laporan arus kas, dan posisi modal perusahaan. Berdasarkan data dalam laporan
keuangan perusahaan, akan dapat diketahui tingkat kesehatan perusahaan.

Kesehatan perusahaan dapat diukur berdasar rasio kesehatan, yang antara lain:
tingkat efisiensi (efficiency ratio), tingkat efektifitas (effectiveness ratio), profitabilitas
(profitability ratio), tingkat likuiditas (liquidity ratio), tingkat perputaran aset (asset turn
over), leverage ratio dan market ratio. Selain itu, tingkat kesehatan dapat dilihat dari
profil risiko tingkat pengembalian (risk return profile).
Restrukturisasi manajemen dan organisasi, merupakan penyusunan ulang komposisi
manajemen, struktur organisasi, pembagian kerja, sistem operasional, dan hal-hal
lain yang berkaitan dengan masalah managerial dan organisasi. Dalam hal
restrukturisasi manajemen/organisasi, perbaikan kinerja dapat diperoleh melalui
berbagai cara, antara lain dengan pelaksanaan yang lebih efisien dan efektif,
pembagian wewenang yang lebih baik sehingga keputusan tidak berbelit-belit, dan
kompetensi staff yang lebih mampu menjawab permasalahan di setiap unit kerja.
Pada dasarnya setiap korporasi dapat menerapkan salah satu jenis restrukturisasi
pada satu saat, namun bisa juga melakukan restrukturisasi secara keseluruhan,
karena aktifitas restrukturisasi saling terkait. Pada umumnya sebelum melakukan
restrukturisasi, manajemen perusahaan perlu melakukan penilaian secara
komprehensip atas semua permasalahan yang dihadapi perusahaan, langkah
tersebut umum disebut sebagai due diligence atau penilaian uji tuntas perusahaan.
Hasil penilaian ini sangat berguna untuk melakukan langkah restrukturisasi yang
perlu dilakukan berdasar skala prioritasnya. Dari hasil pengalaman, pelaksanaan
restrukturisasi yang berhasil, harus melibatkan dan mendapatkan komitmen dari
semua pihak. Dan akan menjadi lebih rumit, jika perusahaan mempunyai pinjaman
lebih dari satu Bank, karena akan melibatkan rangkaian pembicaraan dan pertemuanpertemuan yang melelahkan, namun bukan hal yang tak dapat dilakukan. Pada
akhirnya, kerja sama, niat baik, dan semangat yang harus didukung oleh semua
jajaran di dalam perusahaan (dari karyawan, manajemen, komisaris) serta dukungan
dari stakehoders akan mempengaruhi keberhasilan restrukturisasi tersebut.