Anda di halaman 1dari 2

RSUD Dr.

MOEWARDI
PENATALAKSANAAN NYERI
No. Dokumen

No. REVISI

Halaman :
1/2

Tgl. Terbit

Ditetapkan,
DIREKTUR

STANDAR PROSEDUR
OPERASIONAL
BASOEKI SOETARDJO
NIP. 19581018 198603 1 009
Definisi

Pengertian

Tujuan
Kebijakan
Prosedur

Nyeri merupakan pengalaman sensorik dan emosional yang


tidak menyenangkan akibat adanya kerusakan atau ancaman
kerusakan jaringan
Suatu rangkaian tindakan terapi baik non-farmakologis dan
farmakologis, yang dikerjakan oleh dokter atau perawat yang
memenuhi syarat tertentu untuk menghilangkan atau mengurangi
derajat nyeri.
1. Menjamin rasa aman dan nyaman bagi pasien
2. Memberikan analgesia/bebas nyeri kepada pasien
3. Mempermudah dan mengurangi lama perawatan
4. Mempertahankan kondisi optimal pasien
5. Memperbaiki kualitas hidup pasien
Peraturan Direktur Nomor : 188.4/316A/2013 tentang Kebijakan
Pelayanan RSUD Dr. Moewardi
1. Lakukan penilaian dan tentukan derajat nyeri (ringan, sedang,
atau berat) berdasarkan persepsi dan pengalaman subyektif
pasien dengan menggunakan metode yang sesuai.
2. Lakukan edukasi nyeri dan siapkan informed consent tentang
tindakan/terapi yang akan diberikan, prosedur tindakan, efek
samping & risiko yang mungkin terjadi, serta alternative
tindakan atau tindakan lanjutan bila terapi yang diberikan
tidak/kurang efektif.
3. Lakukan
tindakan
terapi
non-farmakologi,
seperti:
immobilisasi bagian tubuh yang cidera, kompres es/kompres
hangat dan elevasi, tindakan psikologis untuk mengurangi
kecemasan, distraksi dan berikan suasana tenang bagi
pasien.
4. Berikan :
paracetamol,
aspirin,
asetaminofen atau obat anti inflamasi non-steroid yang
lain dengan atau tanpa obat tambahan
untuk nyeri ringan, selama tidak ada kontra indikasi.
5. Tambahkan opioid lemah :
tramadol,
codeine,
hydrocodone atau oxycodone,
untuk nyeri sedang.

PENATALAKSANAAN NYERI
No. Dokumen

No. REVISI

Halaman :
2/2

RSUD Dr. MOEWARDI

Unit terkait

6. Berikan opioid kuat :


morfine,
fentanyl
metadon atau
hidromorfon),
untuk nyeri berat.
7. Monitoring keadaan umum dan tanda vital sebelum, selama
dan setelah pengobatan. Nilai ulang respon nyeri secara
berkala setiap 5-15 menit pada nyeri berat dan setiap 30-60
menit pada nyeri sedang/ringan) untuk menilai efektifitas
pengobatan dan efek samping yang mungkin terjadi.
8. Waspadai efek samping pengobatan, terutama efek depresi
pernafasan dan depresi kardiovaskuler dari opioid. Yakinkan
selalu tersedia antidotum opioid (naloxone) dan alat-alat
emergensi.
9.
10.Lakukan modalitas terapi nyeri intervensi / invasive minimal
(continuous epidural, caudal blok, continuous PNB, RFA, dan
lain-lain) hanya oleh dokter spesialis yang memiliki
kompetensi dan kewenangan klinis dibidang tersebut serta
harus selalu disertai laporan tindakan, instruksi pasca
tindakan, readback dan segala sesuatu yang berkaitan
dengan tindakan tersebut.
1. KSM Anestesiologi dan Terapi Intensif
2. KSM Pemberi Konsulan
3. Klinik Nyeri
4. Instalasi Rawat Inap