Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pada tahun 1861, dokter asal Prancis bernama Prosper Meniere


menggambarkan sebuah kondisi yang sekarang kondisi tersebut diabadikan
dengan menggunakan namanya. Penyakit Meniere adalah kelainan telinga bagian
dalam yang menyebabkan timbulnya episode vertigo (pusing berputar), tinnitus
(telinga berdenging), perasaan penuh dalam telinga, dan gangguan pendengaran
yang bersifat fluktuatif. Adapun struktur anatomi telinga yang terkena dampaknya
adalah seluruh labirin yang meliputi kanalis semisirkularis dan kokhlea. Pendapat
ini kemudian dibuktikan oleh Hallpike dan Cairn tahun 1938, dengan
ditemukannya hidrops endolimfa setelah memeriksa tulang temporal pasien
dengan dugaan penyakit Meniere.1
Serangan khas dari Meniere didahului oleh perasaan penuh pada satu
telinga. Gangguan pendengaran yang bersifat fluktuatif dan dapat disertai dengan
tinnitus. Sebuah episode penyakit Meniere umumnya melibatkan vertigo,
ketidakseimbangan, mual, dan muntah. Serangan rata-rata berlangsung selama dua
sampai empat jam. Setelah serangan yang parah, kebanyakan pasien mengeluhkan
kelelahan dan harus tidur selama beberapa jam. Ada beberapa variabilitas dalam
durasi gejala. Beberapa pasien mengalami serangan singkat sedangkan penderita
lainnya dapat mengalami ketidakseimbangan konstan.1
Keluhan yang sering diutarakan pasien salah satunya adalah pusing.
Pusing yang dialami pasien biasanya bersifat pusing berputar. Bila pasien
mengalami sensasi berputar, bisa terjadi perasaan tubuh berputar terhadap
lingkungan sekitarnya atau lingkungan sekitar yang berputar terhadap tubuh. Bila
salah satu gejala itu yang dikeluhkan maka itu yang dinamakan vertigo. Bila
seseorang mengalami vertigo ia tidak dapat mengendalikan sistem keseimbangan
tubuhnya sendiri sehingga ia dapat tiba-tiba jatuh dan merasakan mual dan

kemudian muntah. Menurut penyebabnya vertigo dibagi menjadi 2 yaitu vertigo


sentral dan perifer. Vertigo sentral bila jaringan yang mengalami gangguan ada di
susunan saraf pusat, sedangkan vertigo perifer bila gangguannya berada di telinga
bagian dalam, yaitu pada kanalis semisirkularis, sakulus, atau utrikulus. Salah satu
penyakit yang dapat menyebabkan gangguan pada bagian tersebut adalah penyakit
Meniere.1

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 ANATOMI TELINGA


2.1.1 Telinga Luar

Telinga luar terdiri dari auricula dan meatus acusticus externus. Auricula
atau daun telinga mempunyai bentuk yang khas dan berfungsi mengumpulkan
getaran udara. Auricula terdiri atas lepeng tulang rawan elastis tipis yang ditutupi

kulit. Auricula memiliki otot intrinsik dan ekstrinsik, keduanya dipersarafi oleh
nervus kranialis no. VII (nervus facialis).2,3
Meatus acusticus externus atau yang lebih dikenal sebagai liang telinga
adalah tabung berkelok yang menghubungkan auricula dengan membrana
tympani, berfungsi untuk menghantarkan gelombang suara dari auricula ke
membrana tympani. Rangka sepertiga bagian luar dari meatus acusticus externus
adalah kartilago elastis, dan dua pertiga bagian dalam adalah tulang, yang
dibentuk oleh lempeng tympani. Meatus acusticus eksternus dilapisi oleh kukoklit
yang bagian luarnya mempunyai rambut, kelenjar sebacea, dan glandula

ceruminosa. Glandula ini merupakan modifikasi dari kelenjar keringat yang


menghasikan sekret lilin yang berwarna coklat kekuningan. Rambut dan lilin ini
berfungsi sebagai barier yang lengk yang berfungsi untuk mencegah masuknya
benda asing.2

2.1.2

Telinga Tengah (Cavum Tympani)


Telinga tengah adalah ruang berisi udara didalam pars petrosa ossis

temporalis yanbg diilapisi oleh membrana mukosa. Ruang ini berisi tulang-tulang
yang berfungsi untuk meneruskan getaran membrana tympani ke prilympha
telinga dalam. Cavum tympani berbentuk celh sempit yang miring, dengan sumbu
panjang terletak sejajar dengan membran tympani. Di depan, ruang ini
berhubungan dengan nasopharing melalui tuba auditiva dan dibelakang dengan
antrum mastoideum. Telinga tengah memiliki atap, lantai, dinding anterior,
dinding posterior, dinding lateral, dan dinding medial.2
Atap dibentuk oleh lempeng tipis tulang yang disebut tagmen tympani,
yang merupakan bagian dari pars petrossa ossis tenporali Telinga tengah
berbentuk kubus dengan : 4,5

Batas lateral : membran tympani

Batas anterior : tuba eustachius

Batas inferior : bulbus jugularis

Batas posterior : aditus ad antrum, kanalis fasialis pars verikalis

Batas superior : lantai fossa kranii media

Batas medial : kanalis semisirkularis horizontalis, kanalis fasialis,


fenestra ovale, fenestra rotundum dan promontorium

2.1.2.1 Membran Tympani


Membran tympani adalah membrana fibrosa tipis yang
berwarna kelabu mutiara. Membran ini terletak miring, menghadap ke
bawah, depan, dan lateral. Permukaannya konkaf ke lateral. Pada
dasar cekungannya terdapat lekukan kecil, yaitu umbo, yang terbentuk
oleh ujung manubrium mallei. Bila membran terkena cahaya otoskop,
bagian cekung ini menghasilkan "refleks cahaya", yang memancar ke
anterior dan inferior dari umbo.2
Membran tympani berbentuk bulat dengan diameter lebihkurang 1 cm. Pinggirnya tebal dan melekat di dalam alur pada tulang.
Alur itu, yaitu sulcus tympanicus, di bagian atasnya berbentuk
incisura. Dari sisi-sisi incisura ini berjalan dua plica, yaitu plica mallearis anterior dan posterior, yang menuju ke processus lateralis
mallei. Daerah segitiga kecil pada membran tympani yang dibatasi
oleh plika-plika tersebut lemas dan disebut pars flaccida. Bagian
lainnya tegang disebut pars tensa. Manubrium mallei dilekatkan di
bawah pada permukaan dalam membran tympani oleh membran
mucosa. Membran tympan sangat peka terhadap nyeri dan permukaan
luarnya dipersarafi oleh n.auriculotemporalis dan ramus auricularis n.
vagus.2
Dinding medial dibentuk oleh dinding lateral telinga dalam.
Bagian terbesar dari dinding memperlihatkan penonjolan bulat,
disebut promontorium, yang disebabkan oleh lengkung pertama
kokhlea yang ada di bawahnya. Di atas dan belakang promontorium
terdapat fenestra vestibuli, yang berbentuk lonjong dan ditutupi oleh
basis stapedis. Pada sisi medial fenestra terdapat perilympha skala
vestibuli telinga dalam. Di bawah ujung posterior promontorium
terdapat fenestra kokhleae, yang berbentuk bulat dan ditutupi oleh

membran tympani sekunder. Pada sisi medial dari fenestra ini terdapat
perilympha ujung buntu skala tympani.2
2.1.2.2 Tulang-tulang Pendengaran
Di dalam telinga tengah terdapat tulang-tulang pendengaran
yaitu malleus, incus, stapes.2

Gambar 1. Tulang-Tulang Pendengaran.

2.1.2.3 Tuba Eustachius


Tuba eustachius terbentang dart dinding anterior kavum
tympani ke bawah, depan, dan medial sampai ke nasopharing.
Sepertiga bagian posteriornya adalah tulang dan dua pertiga bagian
anteriornya adalah kartilago. Tuba berhubungan dengan nasopharing
dengan berjalan melalui pinggir atas m. constrictor pharynges
superior. Tuba berfungsi menyeimbangkan tekanan udara di dalam
cavum tympani dengan nasopharing.2,3

2.1.2.4 Antrum Mastoideum


Antrum mastoid terletak di belakang kavum tympani di
dalam pars petrosa ossis temporalis, dan berhubungan dengan telinga
tengah melalui auditus ad antrum, diameter auditus ad antrum lebih
kurang 1 cm.2
Dinding anterior berhubungan dengan telinga tengah dan
berisi auditus ad antrum, dinding posterior memisahkan antrum dari
sinus sigmoideus dan cerebellum. Dinding lateral tebalnya 1,5 cm
dan membentuk dasar trigonum suprameatus. Dinding medial
berhubungan dengan kanalis semicircularis posterior. Dinding
superior merupakan lempeng tipis tulang, yaitu tegmen tympani,
yang berhubungan dengan meninges pada fossa kranii media dan
lobus temporalis cerebri. Dinding inferior berlubang-lubang,
menghubungkan antrum dengan cellulae mastoideae.2

2.1.3

Telinga Dalam
Bentuk telinga dalam sedemikian kompleksnya sehingga disebut

labirin. Telinga dalam terdiri dari kokhlea yang berupa dua setengah lingkaran
dan vestibuler yang dibentuk oleh utrikulus, sakulus, dan kanalis
semisirkularis. Labirin (telinga dalam) mengandung organ pendengaran dan
keseimbangan, terletak pada pars petrosus os temporal. Labirin terdiri dari : 4,6
Labirin bagian tulang, terdiri dari : kanalis semisirkularis, vestibulum,

dan kokhlea
Labirin bagian membran, yang terletak di dalam labirin bagian tulang,
terdiri dari : kanalis semisirkularis, utrikulus, sakulus, sakus, dan
duktus endolimfatikus serta kokhlea.
Antara labirin bagian tulang dan membran terdapat suatu ruangan

yang berisi cairan perilimfe yang berasal dari cairan serebrospinalis dan filtrasi
dari darah. Di dalam labirin bagian membran terdapat cairan endolimfe yang

diproduksi oleh stria vaskularis dan diresirbsi pada sakkus endolimfatikus. 4,6
Ujung atau puncak kokhlea disebut helikoterma yang menghubungkan
perilimfa skala tympani dan skala vestibuli. Pada irisan melintang di kokhlea
tampak skala vestibuli di sebelah atas, skala tympani di sebelah bawah dan
skala media diantaranya. Skala vestibuli dan skala tympani berisi perilimfe
sedangkan skala media berisi endolimfe. Dasar skala vestibuli disebut
membran reissner sedangkan dasar skala media disebut membran basilaris
yang terletak organ korti di dalamnya. Pada skala media terdapat bagian yang
berbentuk lidah yang disebut membran tektoria dan pada membran basilaris
melekat sel rambut dalam, sel rambut luar, dan kanalis korti. Membran
basilaris sempit pada basisnya (nada tinggi) dan melebar pada apeksnya (nada
rendah). Terletak diatas membran basilaris dari basis ke apeks adalah organ
korti yang mengandung organel-organel penting untuk mekanisme saraf perifer
pendengaran. Organ korti terdiri dari satu baris sel rambut dalam (3.000) dan
tiga baris sel rambut luar (12.000). Ujung saraf aferen dan eferen menempel
pada ujung bawah sel rambut.
Bagian vestibulum telinga dalam dibentuk oleh utrikulus, sakulus, dan
kanalis semisirkularis. Utrikulus dan sakulus mengandung makula yang
diliputi oleh sel-sel rambut. Menutupi sel-sel rambut adalah suatu lapisan
gelatinosa yang ditembus oleh silia dan pada lapisan ini terdapat pula otolit
yang mengandung kalsium dan akan menimbulkan rangsangan pada reseptor.
Sakulus berhubungan dengan utrikulus melalui suatu duktus sempit yang
merupakan saluran menuju sakus endolimfatikus. Makula utrikulus terletak
pada bidang yang tegak lurus dengan makula sakulus. Ketiga kanalis
semisirkularis bermuara pada utrikulus. Masing-masing kanalis memiliki satu
ujung yang melebar yang membentuk ampula dan mengandung sel-sel rambut
krista dan diselubungi oleh lapisan gelatinosa yang disebut kupula. Gerakan
dari endolimfe dalam kanalis semisirkularis akan menggerakkan kupula yang
selanjutnya akan membengkokkan silia sel-sel rambut krista dan merangsang
sel reseptor.4,6

Gambar 4. Anatomi telinga dalam

2.2 VASKULARISASI TELINGA


Telinga dalam memperoleh pendarahan dari a.auditori interna (a.labirintin)
yang berasal dari a.serebelli anterior atau langsung dari a.basilaris yang
merupakan suatu end arteri dan tidak mempunyai pembuluh darah anastomosis.
Setelah memasuki meatus akustikus internus, arteri ini bercabang tiga, yaitu : 4
Arteri vestibularis anterior yang memperdarahi makula utrikuli,
sebagian makula sakuli, krista ampularis, kanalis semisirkularis

superior dan lateral serta sebagian dari utrikulus dan sakulus


Arteri vestibulokokhlearis yang memperdarahi makula sakuli,
kanalis semisirkularis posterior, bagian inferior utrikulus dan sakulus

serta putaran berasal dari kokhlea.


Arteri kokhlearis yang memasuki mediolus dan menjadi pembuluhpembuluh arteri spiral yang memperdarahi organ korti, skala
vestibuli, skala tympani sebelum berakhir pada stria vaskularis.

Aliran vena pada telinga dalam melalui tiga jalur utama. Vena auditori
interna berasal dari putaran tengah dan apikal kokhlea. Vena aquaduktus
kokhlearis berasal dari putaran basiler kokhlea, sakulus, dan utrikulus dan
berakhir pada sinus petrosus inferior. Vena akquaduktus vestibularis berasal dari
kanalis semisirkularis sampai utrikulus. Vena ini mengikuti duktus dan masuk ke
sinus sigmoid.4

2.3 PERSARAFAN TELINGA


Daun telinga dan liang telinga luar menerima cabangcabang sensoris dari
cabang aurikulotemporal saraf ke5 (N. Mandibularis) dibagian depan, dibagian
posterior dari Nervus aurikuler mayor dan minor, dan cabangcabang Nervus
Glofaringeus dan Vagus. Cabang Nervus Vagus dikenal sebagai Nervus Arnold.
Stimulasi saraf ini menyebabkan reflek batuk bila teliga luar dibersihkan. Liang
telinga bagian tulang sebelah posterior superior dipersarafi oleh cabang sensorik
Nervus Fasial .2,3

Tuba auditiva menerima serabut saraf dari ganglion pterygopalatinum dan


sarafsaraf yang berasal dari pleksus tympanikus yang dibentuk oleh Nervus
Cranialis VII dan IX.2
M.tensor tympani dipersarafi oleh Nervus Mandibularis (Nervus Cranial
V3 ).sedangkan M.Stapedius dipersarafi oleh Nervus Fasialis.3
Korda tympani memasuki telinga tengah tepat dibawah pinggir
posterosuperior sulkus tympani dan berjalan kearah depan lateral ke prosesus
longus inkus dan kemudian ke bagain bawah leher maleus tepat diatas perlekatan
tendon tensor tympani setelah berjalan kearah medial menuju ligamen maleus
anterior, saraf ini keluar melalui fisura petrotympani .3
2.4 FISIOLOGI PENDENGARAN DAN KESEIMBANGAN
2.4.2 Fisiologi Pendengaran
Daun telinga berfungsi untuk mengumpulak suara sementara liang
telinga karena bentuk dan dimesinya dapat memperbesar suara. Telinga
manusia dapat mendeteksi gelombang suara dengan frekuensi dari 20 Hz
sampai dengan 20.000 Hz tetapi paling peka adalah frekuensi 1000 Hz
sampai 4000 Hz. 7
Gelombang suara yang diterima akan diteruskan ke telinga tengah
dan akan menggetarkan membran tympani. Selanjutnya getaran akan
diteruskan melalui rangkaian tulang-tulang pendengaran (maleus, inkus,
stapes). Tulang pertama, maleus, melekat ke membran tympani, dan tulang
terakhir, stapes, melekat ke foramen oval, pintu masuk ke dalam kokhlea
yang berisi cairan. Suatu membran tympani bergetar sebagai respon
terhadap gelombang suara, rangkaian tulang-tulang tersebut akan bergerak
dengan frekuensi yang sama, memindahkan frekuensi getaran dari
membran tympani ke foramen oval.7
Tulang-tulang pendengaran akan meningkatkan efisiensi dari
getaran sebanyak 1,3 kali dan perbandingan luas permukaan membran
tympani dan foramen ovale dan mengamplifikasi pendengaran sebanyak

20 kali, energi getar yang telah diamplifikasi ini akan diteruskan ke stapes
yang menggerakkan foramen ovale sehingga perilimfe pada skala vestibuli
akan bergerak. Getaran diteruskan melalui membran reissner yang
mendorong endolimfa sehingga akan menimbulkan gerak relatif antara
membran basilaris dan membran tektoria. Proses ini merupakan
rangsangan mekanik yang menyebabkan terjadinya defleksi stereosilia selsel rambut sehingga kanal ion terbuka dan terjadi pelepasan ion-ion
bermuatan listrik dari badan sel. Untuk suara dengan frekuensi tinggi akan
menyebabkan defleksi dominan pada bagian basis dari membran basilaris
sedangkan untuk frekuensi sedang di tengah dan frekuensi rendah di
apeks. Keadaan ini menimbulkan proses depolarisasi sel-sel rambut
sehingga melepaskan neurotransmiter ke dalam sinapsis yang akan
menimbulkan potensial aksi pada saraf auditoris, kemudian dilanjutkan ke
nukleus auditorius sampai ke korteks pendengaran di lobus temporalis
(area broadman 41).7
2.4.3

Fisiologi Keseimbangan
Selain beperan dalam pendengaran telinga juga memiliki bagian
yang dinamakan apparatus vestibularis yang berperan berperan dalam
pengaturan keseimbangan serta untuk koordinasi gerakan kepala dengan
gerakan mata dan gerakan postur. Aparatus vestibularis terdiri dari dua
struktur, berupa kanalis semisirkularis dan organ otolit yaitu utrikulus dan
sakulus. 7
Aparatus vetibularis mendeteksi perubahan posisi dan gerakan
kepala. Seperti di kokhlea, semua komponen aparatus vestibularis
mengandung endolimfe dan dikelilingi oleh perilimfe. Serupa dengan
organ

Corti,

komponen-komponen

vestibularis

masing-masing

mengandung sel rambut yang berespons terhadap deformasi mekanis


spesifik yang dipicu oleh gerakan spesifik endolimfe. Dan seperti sel rabut
auditorik, polarisasi bergantung pada arah gerakan cairan. Sebagian besar

informasi yang dihasilkan oleh aparatus vestibularis tidak mencapai


tingkat kesadaran. 7
Keseimbangan dan orientasi tubuh seseorang terhadap lingkungan
sekitarnya tergantung dari input sensorik dari reseptor vestibuler di labirin,
organ penglihatan, dan organ proprioseptif. Gabungan informasi ketiga
reseptor sensorik tersebut akan diolah di sistem saraf pusat sehingga akan
menimbulkan gambaran mengenai keadaan posisi tubuh pada suatu saat
dan bagaimana mengatur posisi tubuh seperti yang dikehendaki. Organ
penglihatan menerima rangsangan melalui reseptor di retina yaitu di
makula lutea. Rangsang tersebut diteruskan melalui n.optikus (N.II)
sampai ke korteks visual di lobus oksipitalis. Fungsi penglihatan
memberikan informasi tentang posisi dan gerak tubuh serta lingkungan
sekitar. Organ proprioseptif menerima rangsang gerak melalui reseptor
muskuloskeletal terutama di daerah leher yang disalurkan melalui saraf
spinal kemudian medula spinalis, medula oblongata, thalamus dan
berakhir di korteks sensoris (post sentralis). Organ vestibuler menerima
rangsangan gerak dari reseptor di labirin yaitu utrikulus, sakulus (makula)
dan kanalis semisirkularis (krista ampularis). Sel-sel pada organ otolit
peka terhadap gerak linier sedangkan sel-sel pada kanalis semisirkularis
peka terhadap rotasi khususnya terhadap percepatan sudut (perubahan
dalam kecepatan sudut). Kemudian rangsang tersebut disalurkan melalui
n.vestibularis (N.VIII) ke medula oblongata dan berakhir di korteks serebri
girus temporalis superior dekat pusat pendengaran. Sebagian rangsangan
disalurkan langsung ke serebelum dan sebagian lagi ke medula spinalis
melalui

traktus

vestibulospinal

menuju

ke

motor

neuron

yang

menginervasi otot-otot proksimal, kumparan otot leher dan otot punggung


(postural). Sistem ini berjalan dengan sangat cepat sehingga membantu
mempertahankam keseimbangan tubuh. 8,9,10
Sakulus memiliki fungsi serupa dengan utrikulus, kecuali bahwa is
berespons secara selektif terhadap kemiringan kepala menjauhi posisi
horizontal (misalnya bangun dari tempat tidur) dan terhadap akselerasi

atau deselerasi liner vertikal (misalnya meloncat-loncat atau berada dalam


elevator).11
Sinyal-sinyal yang berasal dari berbagai komponen aparatus
vestibularis dibawa melalui saraf vestibulokokhlearis ke nukleus
vestibularis, suatu kelompok badan sel saraf di batang otak, dan ke
serebelum. Di sini informasi vestibuler diintegrasikan dengan masukan
dari permukaan kulit, mata, sendi, dan otot untuk: (1) mempertahankan
keseimbangan dan postur yang diinginkan; (2) mengontrol otot mata
eksternal, sehingga mata tetap terfiksasi ke titik yang sama walaupun
kepala bergerak; dan (3) mempersepsikan gerakan dan orientasi.11,12
Beberapa individu, karena alasan yang tidak diketahui, sangat peka
terhadap gerakan-gerakan tertentu yang mengaktifkan aparatus vestibularis
dan menyebabkan gejala pusing (dizziness) dan mual; kepekaan ini
disebut

mabuk

perjalanan

(motion

sickness).

Kadangkadang

ketidakseimbangan cairan di telinga dalam menyebabkan penyakit


Meniere. Tidaklah mengherankan, karena baik aparatus vestibularis
maupun kokhlea mengandung cairan telinga dalam yang sama, timbul
gejala keseimbangan dan pendengaran. Penderita mengalami serangan
sementara vertigo (pusing tujuh keliling).11,12

2.5 PENYAKIT MENIERE


Penyakit Meniere adalah suatu sindrom yang terdiri dari serangan vertigo,
tinnitus, berkurangnya pendengaran yang bersifat fluktuatif dan perasaan penuh di
telinga. Penyakit ini merupakan salah satu penyakit yang menyebabkan manusia
tidak mampu mempertahankan posisi dalam berdiri tegak. Hal ini disebabkan oleh
adanya hidrops (pembengkakan) rongga endolimfa pada kokhlea dan vestibulum.
Penyakit ini ditemukan oleh Meniere pada tahun 1861 dan dia yakin bahwa
penyakit itu berada dalam telinga. Namun para ahli saat itu menduga bahwa
penyakit itu berada dalam otak. Pendapat Meniere kemudian dibuktikan oleh

Hallpike dan Cairn tahun 1938, dengan ditemukannya hidrops endolimfa setelah
memeriksa tulang temporal pasien dengan dugaan menderita penyakit Meniere.1
Penyakit

meniere

adalah

suatu

gangguan

pembengkakan

rongga

endolimfatik. Penyakit dengan triad gejala klinik klasik yakni vertigo beberapa
jam, tinitus, dan fluctuating hearing loss. Hanya didiagnosis Meniere jika terdapat
triad diatas.13
2.5.1

Epidemiologi
Penyakit meniere adalah penyebab tersering vertigo pada telinga
dalam. Umumnya penderita penakit meniere adalah orang dewasa, ratarata usia penderita adalah 40 tahun. Usia penderita penyakit meniere
berkisar antara 20-60 tahun. Jumlah antara laki-laki dan perempuan yang
menderita penyakit meniere sama banyak. Pasien dengan resiko besar
terkena penyakit Meniere adalah orang-orang yang memiliki riwayat
alergi, merokok, stres, kelelahan, alkoholisme, dan pasien yang rutin
mengonsumsi aspirin.14

2.5.2

Etiologi
Penyebab pasti penyakit Meniere belum diketahui secara pasti.
Penambahan volume endolimfa diperkirakan oleh adanya gangguan
biokimia cairan endolimfa dan gangguan klinik pada membran labirin.13

2.5.3

Patofisiologi
Proses gangguan pembengkakan pada rongga endolimfatik ini
disebut sebagai hidrops. Hidrops endolimfatik ini dapat terjadi pada
kokhlea dan vestibulum. Hidrops yang terjadi mendadak dan hilang timbul
diduga disebabkan oleh : 1. Meningkatnya tekanan hidrostatik pada ujung
arteri,

2.

Berkurangnya

tekanan

osmotik

didalam

kapiler,

3.

Meningkatknya tekanan osmotik ruang ekstrakapiler, 4. Jalan keluar sakus

endolimfatikus tersumbat, sehingga terjadi penimbunan cairan endolimfa.


13

Jika terjadi ruptur pada membran Reissner, endolimfe akan


bercampur dengan perilimfe. Hal ini dapat menyebabkan gangguan
pendengaran sementara yang kembali pulih setelah membrane Reisnerr
kembali menutup dan komposisi cairan biokimiawi endolimfe dan
perilimfe kembali normal. Secara klasik pasien akan mengalami suatu
ketulian sensorineural nada rendah diikuti dengan gejala tinitus. 14,15,16
Pada pemeriksaan histopatologi tulang temporal, ditemukan
pelebaran dan perubahan morfologi pada membran Reissner. Terdapat
penonjolan ke dalam skala vestibul, terutama didaerah apeks kokhlea
helikotrema. Sakulus juga mengalami pelebaran yang dapat menekan
utrikulus. Pada awalnya pelebaran skala media dimulai dari apeks kokhlea,
kemungkinan dapat meluas mengenai bagian tengah dan basal kokhlea.
Hal ini dapat menjelaskan terjadinya tuli saraf nada rendah pada penyakit
Meniere. 13
2.5.4

Gejala Klinis
Terdapat trias pada sindrom Meniere yaitu, vertigo, tinitus, dan tuli
sensorineural terutama nada rendah. Serangan pertama sangat berat, yaitu
vertigo disertai muntah. Setiap kali berdiri dia merasa berputar, mual dan
lalu muntah. Hal ini berlangsung beberapa hari hingga beberapa minggu,
meskipun keadaannya berangsur membaik. Penyakit ini bisa sembuh tanpa
obat dan gejala penyakit bisa hilang sama sekali. Pada serangan kedua
kalinya dan selanjutnya gejala yang dirasakan lebih ringan, tidak seperti
serangan yang pertama kali. Pada penyakit Meniere vertigonya periodik
yang makin mereda pada serangan berikutnya.13,15
Pada

setiap

serangan

biasanya

disertai

dengan

gangguan

pendengaran dan dalam keadaan tidak ada serangan, pendengaran


dirasakan normal kembali. Gejala lain yang menyertai adalah tinnitus,

yang kadang-kadang menetap, meskipun di luar serangan. Gejala lain


yang menjadi tanda khusus adalah perasaan penuh didalam telinga. 13,16,17,18
Dari keluhan vertigonya kita sudah dapat membedakan dengan
penyakit yang lainnya yang mempunyai gejala vertigo, seperti tumor
N.VIII, sklerosis multiple, neuritis vestibuler atau Vertigo Posisi
Paroksismal Jinak (VPPJ). Pada tumor N.VIII serangan vertigo periodik,
mula-mula lemah dan makin lama makin kuat. Pada sklerosis multiple,
vertigo periodik, tetapi intensitas serangan sama tiap serangan. Pada
neuritis vestibuler serangan vertigo tidak periodik dan makin lama makin
menghilang. Penyakit ini diduga disebabkan virus. Biasanya penyakit ini
timbul setelah menderita influenza. Vertigo hanya didapatkan pada
permulaan penyakit. Penyakit ini akan sembuh total bila tidak disertai
dengan komplikasi. Vertigo Posisi Paroksismal Jinak (VPPJ), keluhan
vertigo datang secara tiba-tiba terutama pada perubahan posisi kepala dan
keluhan vertigonya terasa sangat berat, kadang-kadang disertai rasa mual
sampai muntah, berlangsung tidak lama.13
2.5.5

Diagnosis
Diagnosis dipermudah dengan dibakukannya kriteria diagnosis,
yaitu : 1. Vertigo gilang timbul, 2. Fluktuasi gangguan pendengaran berupa
tuli saraf, 3. Menyingkirkan kemungkinan penyebab dari senral, misalnya
tumor N.VIII. bila gejala-gejala khas tersebut dapat ditemukan, maka
diagnosis penyakit Meniere dapat ditegakkan.13

Skala Diagnostik untuk Penyakit Meniere oleh Committee on Hearing and Equilibrium of
the American Academy of OtolaryngologyHead and Neck Surgery 19

a. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik diperlukan hanya untuk menguatkan diagnosis
penyakit

ini.

Bila

dalam

anamnesis

terdapat

riwayat

fluktuasi

pendengaran, sedangkan pada pemeriksaan pendengaran terdapat tuli


sensorineural, maka kita sudah dapat mendiagnosis penyakit Meniere,
sebab tidak ada penyakit lain yang bisa menyebabkan adanya perbaikan
dalam tuli sensorineural, kecuali pada penyakit Meniere.13
Dalam hal yang meragukan kita dapat membuktikan adanya
hidrops dengan tes gliserin. Selain itu tes gliserin ini berguna untuk
menentukan prognosis tindakan operatif pada pembuatan shunt bila
terdapat hidrops, maka operasi diduga berhasil dengan baik.13
b. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat mendiagnosis penyakit Meniere

adalah: 1,20
Pemeriksaan audiometri

Gambar 9. Audiogram tuli sensorineural pada penyakit Meniere

Elektronistagmografi (ENG) dan tes keseimbangan, untuk mengetahui


secara objektif kuantitas dari gangguan keseimbangan pada pasien.
Pada sebagian besar pasien dengan penyakit Meniere mengalami
penurunan respons nistagmus terhadap stimulasi dengan air panas dan

air dingin yang digunakan pada tes ini.


Elektrokokhleografi (ECOG), mengukur akumulasi cairan di telinga
dalam dengan cara merekam potensial aksi neuron auditoris melalui
elektroda yang ditempatkan dekat dengan kokhlea. Pada pasien dengan
penyakit Meniere, tes ini juga menunjukkan peningkatan tekanan yang
disebabkan oleh cairan yang berlebihan pada telinga dalam yang
ditunjukkan dengan adanya pelebaran bentuk gelombang bentuk
gelombang dengan puncak yang multipel.

2.5.6

Penatalaksanaan

Nonfarmakologi
Pengaturan diet dengan meretriksi konsumsi natrium seperti garam
(1500 mg/hari), serta caffeine, nikotin, rokok, alkohol, dan makanan
dengan kandungan tinggi theophyllin (chocolate), dapat mengurangi
gejala. Selama serangan akut dianjurkan untuk berbaring di tempat yang
keras, berusaha untuk tidak bergerak, pandangan mata difiksasi pada satu
objek tidak bergerak, jangan mencoba minum walaupun ada perasaan mau
muntah, setelah vertigo hilang pasien diminta untuk bangun secara
perlahan karena biasanya setelah serangan akan terjadi kelelahan dan
sebaiknya pasien mencari tempat yang nyaman untuk tidur selama
beberapa jam untuk memulihkan keseimbangan.
Rehabilitasi penting diberikan, sebab dengan melatih sistem
vestibuler ini sangat menolong. Kadang-kadang gejala vertigo dapat
diatasi dengan baik. Orang-orang yang karen profesinya menderita
vertigo servikal dapat diatasi dengan latihan yang intenif, sehingga
gejalan yang timbul tidak lagi mengganggu pekerjaan sehari-hari.
Terdapat beberapa latihan yang dapat diterapkan untuk meringankan
gejala vertigo, seperti canalit reposition treatment (CRT) / epley
manouver dan brand-darroff exercise. Dari beberapa latihan ini kadang
memerlukan seseorang untuk membantunya tapi ada juga yang dapat
dikerjakan sendiri.13

Gambar 10. canalit reposition treatment (CRT) / epley manouver

Gambar 11. brand-darroff exercise


Farmakologis

Pada saat datang biasanya diberikan obat-obatan simptomatik,


seperti sedatif dan bila diperlukan dapat diberikan anti muntah, seperti
metrokloperamid, odansetron, prometazin.
Untuk penyakit ini diberikan obat-obatan vasodilator perifer,
antihistamin, antikolinergik, steroid, dan diuretik untuk mengurangi
tekanan pada endolimfe. Obat-obat antiiskemia dapat pula diberikan
sebagai obat alternatif dan neurotonik untuk menguatkan sarafnya selain
itu jika terdapat infeksi virus dapat diberikan antivirus seperti asiklovir.
Transquilizer seperti diazepam (valium) dapat digunakan pada
kasus akut untuk membantu mengontrol vertigo, namun karena sifat
adiktifnya tidak digunakan tidak digunakan sebagai pengobatan jangka
panjang. Antiemetik seperti prometazin tidak hanya mengurangi mual dan
muntah tapi juga mengurangi gejala vertigo. Diuretik seperti tiazide dapat
membantu mengurangi gejala penyakit Meniere dengan menurunkan
tekanan dalam sistem endolimfe. Pasien harus diingatkan untuk banyak
makanan yang mengandung kalium seperti pisang, tomat, dan jeruk ketika
menggunakan diuretik yang menyebabkan kehilangan kalium.21
Simtomatik21

Supresan vestibuler
Antagonis reseptor H1
o Dimenhidrinat 50-100 mg PO/IV/IM setiap 4-6 jam, jangan
melebihi 400 mg/hari;
o Difenhidramin 25-50 mg PO setiap 4-6 jam perhari, jangan
melebihi 300 mg/hari;
o Meklizin 2 x 12,5 mg hingga 3 x 50 mg per hari;
o Prometazin 25 mg PO atau 12,5-25 mg IV/IM setiap 4-6

jam.
Benzodiazepin
- Lorazepam 2 x 0,5 mg;
- Klonazepam 2 x 0,5 mg;
- Diazepam 2 x 2 mg PO.

2.

3.

Antimimetik
- Granisetron 2 x 1 mg PO ;
- Meklizin 12,5-25 mg PO selama 4-6 jam;
- Metrokloperamid 3 x 10 mg PO atau 10 mg IM;
- Odansetron 3 x 4-8 jam PO atau 1 x 32 mg IV;
Diuretik
Hidroklorotiazid 12,5-50mg PO per hari;
Triamteren 100-300 mg PO per hari atau dibagi menjadi dua kali
per hari;
Steroid
Untuk serangan

akut

diberikan

metilprednisolon

IM/IV

dilanjutkan prednisone 1 mg/kg PO per hari selama 10-14 hari lalu

diturunkan selama bertahap;


Deksametason 4 mg PO selama 4 hari;
Dapat diberikan PO,IM, atau transtympani;
Steroid transtympani, lebih baik dibandingkan steroid oral yang
memiliki efek sistemik.

Penatalaksanaan Bedah
Operasi yang direkomendasikan bila serangan veertigo tidak terkontrol
antara lain :10
o Dekompresi sakus endolimfatikus
Operasi ini mendekompresikan cairan berlebih di telinga dalam
dan menyebabkan kembali normalnya tekanan terhadap ujung
saraf vestibulokokhlearis. Insisi dilakukan di belakang telinga
yang terinfeksi dan air cell mastoid diangkat agar dapat melihat
telinga dalam. Insisi kecil dilakukan pada sakus endolimfatikus
untuk mengalirkan cairan ke rongga mastoid.
Secara keseluruhan sekitar 60% pasien serangan vertigo
menjadi terkontrol, 20% mengalami serangan yang lebih buruk.
Fungsi pendengaran tetap stabil namun jarang yang membaik
dan tinnitus tetap ada, 2% mengalami tuli total dan vertigo
tetap ada.
o Labirinektomi
Operasi ini mengangkat kanalis semisirkularis dan saraf
vestibulokokhlearis. Dilakukan dengan insisi di telinga

belakang dan air cell mastoid diangkat, bila telinga dalam


sudah terlihat, keseluruhan labirin tulang diangkat. Setelah satu
atau dua hari paskaoperasi, tidak jarang terjadi vertigo berat.
Hal ini dapat diatasi dengan pemberian obat-obatan. Setelah
seminggu, pasien mengalami periode ketidakseimbangan
tingkat sedang tanpa vertigo, sesudahnya telinga yang normal
mengambil alih seluruh fungsi keseimbangan. Operasi ini
menghilangkan fungsi pendengaran telinga.
o Neurektomi vestibuler
Bila pasien masih dapat mendengar, neurektomi vestibuler
merupakan

pilihan

untuk

menyembuhkan

vertigo

dan

pendengaran yang tersisa. Dilakukan insisi di belakang telinga


dan air cell mastoid diangkat, dilakukan pembukaan pada fossa
durameter dan n.VIII dan dilakukan pemotongan terhadap saraf
keseimbangan. Pemilihan operasi ini mirip labirinektomi.
Namun karena operasi ini melibatkan daerah intrakranial,
sehingga harus dilakukan pengawasan ketat paskaoperasi.
Operasi ini diindikasikan pada pasien di bawah 60 tahun yang
sehat.
Sekitar 5% mengalami tuli total pada telinga yang terinfeksi,
paralisis wajah sementara dapat terjadi selama beberapa hari
hingga bulan, sekitar 85% vertigo dapat terkonmktrol.
o Labirinektomi dengan zat kimia
Merupakan operasi dimana menggunakan antibiotik
(streptomisin atau gentamisin dosis kecil) yang dimasukkan ke
telinga dalam. Operasi ini bertujuan mengurangi proses
penghancuran saraf keseimbangan dan mempertahankan
pendengaran yang masih ada. Pada kasus penyakit Meniere,
diberikan streptomisin intramuskular dapat menyembuhkan
serangan vertigo dan pendengaran dapat dipertahankan.
o Endolimfe shunt

Operasi ini masih kontroversi karena banyak peneliti yang


menganggap operasi ini merupakan plasebo
Ada dua tipe dari operasi ini yaitu:
a) Endolimfe
subaraknoid
shunt

dengan

mempertahankan tuba diantara endolimfe dan kranium


b) Endolimfe mastoid shunt : dengan menempatkan tuba
antara sakus endolimfatikus dan rongga mastoid. (14,15)
2.5.7

Prognosis
Penyakit Meniere belum dapat disembuhkan dan bersifat progresif,
tapi tidak fatal dan banyak pilihan terapi untuk mengobati gejalanya.
Penyakit ini berbeda untuk tiap pasien. Beberapa pasien mengalami remisi
spontan dalam jangka waktu hari hingga tahun. Pasien lain mengalami
perburukan gejala secara cepat. Namun ada juga pasien yang
perkembangan penyakitnya lambat.20,22
Belum ada terapi yang efektif untuk penyakit ini namun berbagai
tindakan dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya serangan dan
progresivitas penyakit. Sebaiknya pasien dengan verigo berat disarankan
untuk tidak mengendarai mobil, naik tangga dan berenang.20,22

BAB III
KESIMPULAN

Penyakit meniere merupakan suatu penyakit yang diakibatkan adanya


kelainan pada telinga dalam berupa hidrops (pembengkakan) endolimfa pada
kokhlea dan vestibulum. Gejala dari penyakit meniere disebut trias meniere yang
terdiri dari vertigo (sakit kepala berputar), tinnitus, dan gangguan pendengaran
berupa tuli sensori neural. Gangguan pendengaran ini bersifat fluktuatif dimana
gangguan pendengaran terjadi saat serangan dan dapat normal diluar serangan.
Penyakit Meniere adalah salah satu penyebab tersering vertigo pada
telinga dalam. Sebagian besar kasus timbul pada laki-laki atau perempuan dewasa.
Paling banyak ditemukan pada usia 20-60 tahun. Pasien dengan resiko besar
terkena penyakit Meniere adalah orang-orang yang memiliki riwayat alergi,
merokok, stres, kelelahan, alkoholisme, dan pasien yang rutin mengonsumsi
aspirin.
Pasien yang datang dengan keluhan khas penyakit Meniere awalnya hanya
diberikan pengobatan yagng bersifat simptomatik, seperti sedatif dan bila perlu
bila perlu diberikan antiemetik. Pengobatan terbaik adalah dengan cara menangani
penyebab dari penyakit tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

1. Hain,

TC, Yacovino

D.

Meniere

Disease.

2003. Available

at

http://www.dizziness-and-balance/disorders/menieres/menieres_english.html.
Accessed on March 12, 2015.
2. Snell Richard : Anatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran. Edisi 6.
Penerbit: EGC. Jakarta 2006.
3. Moore,keith L. Anatomi Klinis Dasar.EGC. Jakarta .2002
4. Ellis H. The Special Senses : The Ear. In : Clinical Anatomy, Applied
Anatomi for Students and Junior Doctor. 6th Ed. Massachussetts. Blackwell
Publishing. 20-6. 384-387.
5. Liston LS, Duvail AJ. Embriologi, Anatomi, dan Fisiologi Telinga. Dalam :
BOEIS Buku Ajar THT Edisi ke 6. Editor : Efendi H, Santosa K. Jakarta :
EGC. 1997. 27-38.
6. Soetirto I, Hendamin H, Bashiruddin J. Ganguan Pendengaran. Dalam : Buku
Ajar Ilmu Kesehatan Telinga, Hidunng, Tenggorok, Kepala dan Leher. Edisi
ke-6. Editor : Soepardi EA, Iskandar N. Jakarta : Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. 2007. 10-16.
7. Sherwood Laurale; Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Edisi 2. Penerbit:
EGC. Jakarta 2006.
8. http://library.thinkquest.org/05aug/00386/hearing/ear/index.htm
9. http://www.rnceus.com/otitis/otimid.htm
10. Anil K : Current Diagnosis and Treatment in Otolaryngology: Head and Neck
Surgery. Publisher: McGraw-Hill Medical : 2007
11. Diza M. Pengobatan Gangguan Keseimbangan (Vertigo). 2009. Available at :
http://d132a.wordpress.com/2008/12/26/pengobatan-gangguankeseimbangan-vertigo/. Accessed on March 12th, 2015.
12. Levenson, Mark J. Home of the Surgery Information Centre. Meniere
Syndrome.

2009.

Available

at

http://www.earsurgery.org/site/pages/conditions/menieres-syndrome.php.
Accessed on March 12, 2015.
13. Hadjar, E. & Bashiruddin, J. 2007. Penyakit Meniere. Buku Ajar Ilmu
Kesehatan Telinga Hidung Tengorokan, Kepala dan Leher. Edisi VI. Jakarta:
Balai Penerbit FKUI: p.102-103

14. Highler, P., Adams, G. & Boeis, L. 1997. Penyakit Meniere. BOIES Buku
Ajar Penyakit THT (BOIES Fundamental of Otolaryngologi). Edisi VI.
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC: p.136-137
15. Tierney, L. M. & McPhee, S. J. 2007. Disease of Ear, Nose & Throat. Current
Medical Diagnosis & Treatment, Forty-Sixth Edition. New York: Mc Graw
Hill LANGE
16. Bull, P. D. 2002. Lecture Notes on Disease of Ear, Nose & Throat Ninth
Edition. Sheffield: Blackwell Publishing Company. P. 61-63
17. East, C.A. & Dhillon, R.S. 1999. An Illustrated Coloured text. Ear, Nose &
Throat and Head and Neck Surgery Second Edition. London: Churcill Living
Stone: p.20-21
18. Probst, R. 2006. Basic Othorinolaringology. A Step by Step Guide Learning.
Stutgrart New York: Georg Thieme Verlag. P.282-285
19. Lalwani, A. K. 2007. Vestibular Disorders. Current Diagnosis & Treatment.
Otolaryngology Head and Neck Surgery Second Edition. New York: Mc
Graw Hill LANGE
20. Levine SC. Penyakit Telinga Dalam. Dalam : BOEIS Buku Ajar THT Edisi ke
6. Editor : Efendi H, Santosa K. Jakarta : EGC. 1997. 136-137.
21. Marcelena, R. & Bramantyo, B. 2014. Penyakit Meniere. Kapita Selekta
Kedokteran Edisi IV. Jakarta: Media Aesculapius: p.1031-1033.
22. Becker W, Naumann HH, Pfalfz CR. A Pocket Reference Ear, Nose, and
Throat Disease. Second Revised Edition. New York : Thiemes; 2004. 100101.