Anda di halaman 1dari 27

LABORATORIUM BIOFARMASEUTIKA

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS INDONESIA TIMUR

LAPORAN LENGKAP
FARMAKOLOGI DAN TOKSIKOLOGI II
DIURETIK

OLEH :
KELAS : B.11
ASISTEN : FARDIN, S.Farm., Apt

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS INDONESIA TIMUR
MAKASSAR
2014

BAB I
PENDAHULUAN

Obat merupakan semua zat baik kimiawi, hewani maupun nabati


yang didalam dosis layak dapat menyembuhkan, meringankan atau
mencegah penyakit berikut gejalanya. Kebanyakan obat yang digunakan
dimasa lalu adalah obat yang berasal dari tanaman.
Namun tidak semua obat memulai riwayatnya sebagai obat anti
penyakit, adapula yang awalnya digunkan sebagai alat ilmu sihir
kosmetika atau racun untuk membunuh musuh misalnya:stichim dan
kurare. Mula-mulanya digunakan sebagai racun. Panah penduduk pribumi
Afrika dan Amerika serikat. Contoh yang lebih baru ialah obat kanker
nitrogen,

mustad

yang

semula-mula

digunakan

sebagai

gas

racun(Mustard gas) pada perang dunia pertama (Tjay, 2007).


Diuretik adalah obat yang dapat bekerja pada ginjal, untuk
meningkatkan eskresi air dan natrium klorida. Secara normal, reabsorbsi
garam dan air dikendalikan masing-masing oleh aldosteron dan
vasopnesin (Hormon antidiuretik, ADH)
Ekskresi elektrolit yang meningkat diikuti oleh peningkatan ekskresi
air, yang penting untuk mempertahankan keseimbangan osmotik (Neal,
2006).

Golongan obat diuretik yaitu thiazid, diuretik hemat kalium,


antagonis aldosteron (Elin, 2008).
Diuretik digunakan untuk mengobati atau mengurangi edema dan
gagal jantung kongestif, beberapa penyakit ginjal dan sirosis hepatis.
Beberapa diuretic terutama thiazid secara luas digunakan pada terapi
hipertensi, namun kerja hipertensi jangka panjangnya tidak hanya
berhubungan dengan sifat diuretiknya (Neal, 2006).
Diuretik meningkatkan pengeluaran garam dan air oleh ginjal
hingga volume darah dan tekanan darah menurun. Disamping itu
berpengaruh langsung terhadap dinding pembuluh, yakni penurunan
kadar Na membuat dinding lebih tebal terhadap non adrenalin, hingga
daya tahanya berkurang (Tjay, 2008).
Berdasarkan uraian diatas maka akan dilakukan praktikum tentang
contoh obat-obat diuretic pada tikus putih (Rattus novergicus) dengan
mengobati jumlah frekuensi dan volume urin pada tikus putih (Rattus
novergicus)
Adapun tujuan dari percobaan yaitu untuk mengetahui jenis-jenis
obat diuretik dan mekanisme kerja obat-obat diuretik Seperti furosemid,
hidroklorotiazid, dan spironolakton dengan parameter pengukuran volume
dan frekuensi pengeluaran urin, terhadap hewan uji tikus putih (Rattus
novergicus).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Teori Ringkas
1. Definisi Diuretik
Diuretik ialah

obat yang

dapat

menambah

kecepatan

pembentukkan urin. Istilah diuresis mempunyai dua pengertian,


yaitu pertama menunjukkan adanya penambahan volume urin
yang

diproduksi

dan

yang

kedua

menunjukkan

jumlah

perngeluaran (kehilangan) zat-zat terlarut dan air (Gunawan,


2007).
Fungsi utama ginjal adalah memelihara kemurnian darah
dengan jalan mengeluarkan dari dalam darah dengan jalan semua
zat asing da sisa pertukaran zat (Tjay, 2007).
Fungsi peting lainnya adalah meregulasi kadar garam dan
cairan dalam tubuh. Ginjal merupakan organ terpenting pada
perngaturan homeostatis, yakni keseimbangan dinamis antara
caitan intrasel dan ekstrasel, serta pemeliharaan volume tidal dan
susu cairab ekstrasel. Hal terutama tergantung dari jumlah ion Na +
yang untuk sebagian besar terdapat diluar sel, dicairan antar sel
dan diplasma darah. Kadar Na + dicairan ekstrasel diregulasi olah
sekresi ADH di neurohipofisis (Tjay, 2007).
2. Proses Pembentukkan Urine
a. Filtrasi
Filtrasi mengacu kepada aliran deras plasma menembus
kapiler

glomerulus

masuk

keruang

interstisum

yang

mengelilingi pangkal nefron, daerah yang disebut sebagai


ruang bowman. Di glomerulus sekitar 20% plasma secara terus
menerus kedalam ruang Bowman. Komposisi filtrat ini sama
dengan komposis plasma, yang

berbeda adalah meolakul

protein biasanya tidak disaring. Filtrat awal berdifusi menembus


ruang bowman dan menuju pangkal bagian tubulus, yaitu
kapsul bowman. Untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan
melewati bagian tubulus yang lain (Elizabeth, 2009).
b. Reabsorbsi dan sekresi tubulus
Langkah kdedua dalam proses pembentukan urn setelah
filtrasi adalah reabsorbsi selektif zat zat yang sudah difiltrasi.
Sebagian besar zat yang difiltrasi direabsorbsi melalui pori
pori kecla yang terdapat dalam tubulus sehingga akhirnya zat
zat tersebut kemblai lagi ke dalam kalpiler peritubulus yang
mengelilingi tubulus. Disamping itu, beberapa zat disekresi pula
dari pembuluh darah peritubulus sekitar kedalam tubulus
(Sylvia, dkk, 2006).
3. Farmakologi Klinis Agen Diuretik
a. Keadaan Edematosa
Diuretik paling banyak digunakan untuk mengurangi edema
perifer atau paru yang terakumulasi akibat jantung, ginjal, atau
vaskular. Berbagai keadaan ini menurunkan suplasi darah ke
ginjal. Penurunan ini dipersepsi sebagai insufiensi volume
Efektif darah arteri sehingga terjadi retensi garam dan air
serta pembentukkan edema.

Penggunaan diuretik secara rasional memobilisasi cairan


edema intestisial ini tanpa mengurangi volume plasma secara
bermakna. Namun pneggunaan diuretik yang berlebihan dapat
menimbulkan gangguan volume efektif darah arteri disertai
penurunan perfusi organ vital. Oleh karena itu, pengunaan
diuretik untuk memobilisasi edema memerlukan pemantauan
keadaan

hemodinamik

penderita

secara

seksama

dan

pemahaman mengenai patofisiologi penyakit yang mendasari.


b. Keadaan edematosa
1. Hipertensi
Teorinya, kerja thiazid sebagai diuretik dan vasodilator
ringan bagi sebgian besar penderita lainnya. Diuretik loop
biasanya hanya digunaka untuk pasien insufisiensi ginjal
atau gagal jantung. Pembatasan asupan diet Na + sedang
(60-100 mEg/hari) terbukti memperkiat diuretik dalam
hipertensi esensial dan mengurangi kehiangan K + melalui
ginjal.
2. Nefrotiasi
Gangguan ini dapat diobati menggunakan diuretik thiazid
yang meningkatkan reabsorbsi Ca 2+ ditubulus

contorti

distalis sehingga menurunkan konsentrasi Ca 2+ urin.


3. Hiperkalsemia
Hiperkalsemia merupakan suatu kegawatdaruratan
medis. Salie harus diberika bersamaan dengan diuretik loop
bla ingin mempertahankan diuresis Ca2+ yang efektif.
4. Diabetes insipidus
Diabetes insipidus dapat terjadi akibat defisiensi produksi
ADH atau akibat respons terhadap ADH yang tidak adekuat

(Diabetes Insipidus nefrogenik). Diuretik thiazid dapat


menurunkan poliurea dan polidipsi pada kedua tipe diabtes
insipidus (Katzung, 2012).
B. Penggolongan Obat
1. Diuretika Lengkungan
Obat obat ini berkhsiat kuat dan pesat tetapi agak singkat
(4-6 jam). Banyak digunak pada keadaan akut, misalnya pada
udema otak dan paru-paru. Memperlihatkan kurva dosis efek
curam, artinya bila dosis dinaikkan efeknya (diuresis) senantiasa
bertambah. Contoh obatnya furosemida, bumetanida dan etakrinat
(Tjay, 2007).
Diuretika kuat terutama bekerja dengan cara menghambat
reabsorbsi elektrolit Na+/ K+/ 2Cl- di ansa henle asendens bagian
epite tebal, tempat kerjanya dipermukaan sel epitel bagian luminal
(Gunawan, 2007).
2. Bentotiadiazid
Diuretik thiazid berkerja menghambat simpoter Na +, Cl-, di
hulu tubulus distal. Sistem transport ini dalam keadaan normal
berfungsi membawa Na+ dan Cl- dari lumen kedalam sel epitel
tubulus. Na+ selanjutnya dipompakan keluar tubulus dan ditukar
K+, sedangkan Cl- dikeluarkan melalui kenal klorida. Efek
farmakodinamik thiazid yang utama adalah meningkatkan ekskresi
natrium, klorida dan sejumlah air. Contoh obatnya hidroklorthiazid,
klortalidon, nefrusida, indapamida dan lain lain (Gunawan, 2007).
3. Diuretik Hemat kalium
Efek obat ini hanya lemah dan khusus digunakan terkombinasi
dengan diuretika lainnya guna menghemat ekskresi kalium.

Aldosteron menstimulasi reabsorbsi Na + dan ekskresi K+. Proses ini


dihambat secara kompetitis (saingan) oleh obat obat lain.
Amilorida dan triamteran dalam keadaan normal hanya lemah
efek ekskresinya mengenai Na+ dan K+. Tetapi pada penggunaan
diuretika lengkungan dan thiazid terjadi ekskresi kalium dengan
kuat, makan pemberian bersama dari penghemat kalium ini
menghambat ekskresi K+ dengan kuat pula (Tjay, 2007).
4. Diuretika osmotis
Obat-obat ini hanya direansorbsi sedikit oleh tubuli, hingga
reansorbsi air juga terbatas. Efeknya adalah diuresis osmotis
dengan ekskresi air kuat dan relatif sedikit ekskresi Na +. Terutama
manitol, yang hanya jarang digunakan sebgai infus I.V untuk
mngeluarkan cairan dan menurunkan tekanan intraokuler (pada
glaucoro), juga untuk tekanan intrkranial (dalam tengkorat). Contoh
obatnya menitol dan sorbitol (Tjay, 2007)
5. Perintang Karbonanhidrase
Zat ini merintangi enzim karbonhidrase di tubuli proksimal,
sehinnga disamping kerbonat, juga Na+ dan K+ diekskresika lebih
banyak bersamaan dengan air. Khasiat diuretiknya hanya lemah,
setelah beberapa hari terjadi tachyfylaxie, maka perlu digunakan
secara selang seling (intermittens) (Tjay, 2007).
C. Uraian Bahan
1. Aquadest (Depkes RI 1979, hal 96)
Nama Resmi
: AQUA DESTILLATA
Nama Lain
: Air suling
Berat Molekul
: 18,02
Rumus Molekul
: H2O
Pe merian
: Cairan
jernih,
tidak
berwarna,
Penyimpanan

berasa,tidak berbau.
: Dalam wadah tertutup rapat

tidak

2. Na. CMC (Depkes RI 1979, hal 401)


Nama Resmi

: NATRII CARBOXIMETHYL CELLULOSUM

Nama Lain

: Natrium Karboksimethil Selulosa

Pemerian

: Serbuk

atau

butiran,

putih

atau

putih

kekuningan, tidak berbau atau hamper tidak


berbau.
Kelarutan

: Mudah mendispersi dalam air membentuk


suspense koloid, tidak larut dalam etanol
(95%)P dalam eter P

Khasiat
: Zat tambahan
Penyimpanan
: Dalam wadah tertutup rapat
D. Uraian Obat
1. Furosemid (PIO, 2007)
Nama generik
: FUROSEMIDA
Deskripsi
: nama dan struktur kimia :
4 chloro N furfuryl

sulphamoylanthranilic acid. C12H11N2O5S. Sifat


fisikokimia : serbuk kristal berwarna putih atau
hampir putih, praktis tidak larut dalam air dan
diklorometan, larut sebagian dalam alkohol,
larut dalam aseton.
Golongan

: Diuretik

Nama Dagang

: Cetasix, Diurefo, Farsiretic, Furosemid, dan


Furosix

Indikasi

: Penanganan

edema

yang

berhubunga

dengan gagal jantung koroner dan penyakit


hati, diberikan tunggal atau dalam kombinasi
dengan

antihipertensi

pada

penanganan

hipertensi
Dosis, Cara & Lama : Bayi dan anak : oral 1-2 mg/kg/dosis
dengan peningkatan 1 mg/kg/dosis pada
setiap tahap peningkatan sampai terjadi
respon memuaskan. Dewasa : oral dosis
awal 20-80 mg/dosis. i.m, i.v 20 -40
mg/dosis, diulang 1 2 kali
Farmakologi

furosemid
berkerja

adalah

suatu

dengan

cara

diuretik

yang

menghambat

reabsorbsi ion Na pada jerat henle. Omset


kerja : diuresis awal 30 60 menit. Durasi :
oral 6 8 jam. Metabolisme: melalui hati.
Stabilitas penyimpanan

: Furosemid injeksi harus disimpan


pada suhu kamar yang terkontrol
dan

dilindungi

dari

cahaya.

Furosemid tidak stabil pada media


asam tetapi stabil pada media
basa.

Kontraindikasi

: Hipersensitifitas terhadap furosemid,


atau

komponen

lain

dalam

sediaan/sulfonil urea, anuria, pasien


koma hepatik/ keadaan penurunan
elektrolit parah.
Efek samping

: Hipotensi ortostatik, tromboflebitis,


aortritis

kronik,

hipotensi

akut,

serangan jantung, vertigo, pusing,


demam hiperglikemia
Mekanisme aksi

Inhibisi

reabsorbsi

natrium

dan

klorida pada jerat henle manaik dan


tubulus ginjal distal, mempengaruhi
sistem kontraspor ikatan klorida,
selanjutnya meningkatkan eksresi
air, natrium, klorida, magnesium
dan kalsium.
2. Hidroklorthiazid (PIO, 2007)
Nama Generik
: Hidroklorthiazid
Nama kimia
: 6 chloro 3,4 dihydro 2 H 1 2, 4
Struktur kimia
Sifat fisika kimia

kenzothiazidine 7 sulphonamida
: C7H8ClN3O4S2
: serbuk kristal berwarna putih atau hampir
putih. Sangat sedikit larut sebagian dalam al-

Golongan

kohol larut dalam aseton.


: Diuretik

Nama Dagang
Indikasi

: Hidroklorthiazid
: Penanganan hipertensi

ringan

sampai

sedang, edema pada gagal jantung dan


Farmakodinamik

sindrom nefrotik
: Efek farmakodinamik tiazid yang utama ialah
meningkatnya ekskresi natrium klorida akan
sejumlah air, efek nafigasi ini disebabkan
oleh penghambatan mekanisme reabsorbsi

Farmakokinetik

elektrolit pada tubulus distal (nafidin, 2009)


: reabsorbsinya dari usus sampai 80%, Ppnya
K-5 70% dengan plasma. Waktu paruh 6
15 jam. Eksresinya terutama lewat secara

Kontraindikasi

utuh (Tjay, 2008)


: Diabetes melitus

Efek samping

hipersensitifitas terhadap golongan obat ini


: Hipotensi artantik, hipotensi, reaksi alergi
antifilaktis

yang

dengan

kemungkinan

membahayakan

hidup,

tekanan pernafasan.
Bentuk sediaan
: Tablet 25 mg
3. Spironolakton (PIO, 2007)
Nama generik
: Spironolakton
Deskripsi
: Sifat fisikokimia: serbuk putih sampai agak
kekuningan. Praktis tidak larut dalam air,
larut dalam alkohol dan etil asetat, larut baik
dalam kloroform dan benzene, sedikit larut
Golongan
Nama dagang

dalam metil alkohol.


: Diuretik
: Aldactoe, Carpiaton dan Letonal

Indikasi

: Edema yang berhububgan dengan ekskresi


aldosteron

berlebihan,

hipertensi,

gagal

jantung kongesif, hipokalemia, penanganan


Farmakologi

hipersutism
: Biasa dipakai bersama diuretik lain untuk
mengurangi ekskresi kalium. Durasi kerja: 2

hari.

Ikatan

protei:

91

98%.

Metabolisme melalui hati. Eksresi melalui


urine dan feses.
Stabilitas penyimpanan
: Hindari dari cahaya
Kontraindikasi
: Hipersensitif terhadap spironolakton atau
komponen lain dalam sediaan, gangguan
fungsi
Efek samping

ekskresi

ginjal

yang

signifikan,

hiperkalemia.
: Edema, gangguan SSP seperti mengantuk,
sakit kepala, ataksia, urikaria, eosinofilia.
Mual, muntah, amenorea, kram perut, dan

Bentuk sediaan
Mekanisme aksi

pendarah lambung
: Tablet 25 mg, 100 mg
: Spironolakton
berkompetensi

dengan

aldosteron pada reseptro di tubulus distal,


meningkatkan natrium klorida dan ekskresi
air selama konversi ion kalium dan hidrogen,
juga dapat memblok efek aldosteron pada
otot polos arteriolar.
E. Uraian Hewan Uji Tikus Putih (Rattus norvegicus)
1. Tikus Putih (Rattus norvegicus)
a. Klasifikasi Tikus Putih (Rattus norvegicus) (anonim, 2012)

Kingdom

: Animalia

Phylum

: Chordata

Subphylum

: Vertebrata

Class

: Mamalia

Ordo

: Rhodentia

Family

: Muridae

Genus

: Rattus

Spesies

: Rattus norvegicus

b. Morfologi Tikus Putih (Rattus norvegicus)


Tikus atau rat (Rattus norvegicus) telah diketahui sifatsifatnya dengan sempurna, mudah dipelihara,merupakan hewan
yang relative sehat dan cocok untuk berbagai macam
penelitian.tikus yang sudah menyebar keseluruh dunia dan
digunakan secara luas untuk penelitian dan di laboratorium
ataupun hewan kesayangan adalah tikus putih yangh berasal
dari asia tengah dan tidak ada hubungannya dengan norwegia
seperti yang diduga dari namanya. Tikus dapat dikandangkan
bersama dala satu kelompok besar yang terdiri dari jantan dan
betina dan berbagai tingkat tanpa terjadinya kelahiran yang
berarti. Tikus yang lepas dari kandang umumnya akan kembali
ke kandang (Malole, 1989)
c. Karakteristik Tikus Putih (Rattus norvegicus) (Malole, 1989)
Berat badan dewasa -jantan
: 450-520 g
-betina
: 250-300 g
Berat lahir
: 5-6 g
2
Luas perukaan tubuh
: 50 g : 130 cm

2
130 g:250 cm

Temperatur tubuh
Jumlah diploid
Harapan hidup
Konsumsi makanan
Konsumsi air minum
Saat dikawinkan

-jantan
-betina

Lama siklus birahi


Lama kebuntingan
Oestrus postpartum
Jumlah anak/kelahiran
Umur sapih
Waktu pemeliharaan komersial
Komposisi air susu
Jumlah pernapasan
Volume tidal
Detak jantung
Volume darah
Tekanan darah
Butir darah merah
Hematokrit
Hemoglobin
Leukosit

: 35,9-37,5
: 42
: 2,5-3,5 tahun
: 10 g/100 g/hari
: 10-12 ml/100 g/hari
: 65-110 hari
: 65-110 hari
: 4-5 hari
: 21-23 hari
: fertile
: 6-12
: 21 hari
: 7-10 liter/4-5/bulan
: Lemak 13,0 %
Protein 9,7 %
Lactose 3,2 %
: 70-115 / menit
: 0,6-2,0 ml
: 250-450/ menit
: 54-70 ml/ kg
: 84-134/ 60 mmHg
6
: 7-10x 16 / mm
: 36-48 %
: 11-18 mg
3
3
: 6-17 x 10 / m m

BAB III
METODE KERJA
A. Alat dan Bahan
1. Alat- alat yang digunakan
Adapun alat-alat yang digunakan yaitu batang pengaduk,
Erlenmeyer, gelas kimia, gelas ukur, jarum oral, kompor listrik,
kertas perkamen, labu ukur, lab halus, lap kasar, pipet tetes,
sendok tanduk, spoit oral, spoit injeksi, stopwatch, timbangan
analitik, dan timbangan digital.
2. Bahan-bahan yang digunakan
Adapun bahan-bahan yang digunakan yaitu aquadest, hewan
uji, tikus putih (Rattus novergicus), suspense,furosemid suspense,
Hidroklorotazida, suspense spironolakton, suspense Na.CMC 1%
b/v.
B. Waktu dan tempat praktikum
1. Waktu praktikum
: Rabu, Desember 2013 pukul 14.00 WITA.

2. Tempat praktikum
Biofarmaseutika

: Laboratorium
Fakultas

Farmasi

Universitas Indonesia Timur Makassar.


C. Prosedur kerja
1. Pengambilan sampel atau obat
Sampel atau obat yang digunakan untuk percobaan diuretik
yaitu furosemid, hidroklorotiazid, spironolakton di Laboratorium
Biofarmaseutika Fakultas Farmasi Universitas Indonesia Timur,
Makassar
2. Pembuatan Na.CMC 1% b/v
a. Disiapkan alat dan bahan
b. Ditimbang Na cmc sebanyak 4 gram
c. Diukur sebanyak 400 ml aquadest, dipanaskan hingga
mendidih
d. Didinginkan dan dimasukan ke dalam wadah dan diberi label
3. Pembuatan suspensi obat
a. Pembuatan suspensi obat furosemid 40 mg
1. Disiapkan alat dan bahan
2. Digerus 20 tablet furosemid di lumping
3. Ditimbang serbuk furosemid sebanyak
4. Diukur Na CMC sebanyak 100 ml dan dimasukan kedalam
botol/wadah
5. Dimasukan furosemid ke dalam wadah, dan diaduk hingga
homogen
6. Diberi label/etiket
b. Pembuatan suspensi obat hidroklorotiazid 25 mg
1. Disiapkan alat dan bahan
2. Digerus 20 tablet HCT dilumpang hingga halus
3. Ditimbang serbuk HCT sebanyak

c. Pembuatan suspensi obat spironolakton


1. Disiapkan alat dan bahan yang digunakan
2. Ditimbang spironolakton sebanyak
3. Dilarutkandenagn Na.CMC 1% b/v sampai 100 ml

4. Kemudian diaduk hingga homogen,kemudian dimasukan


kedalamwadah dan diberi label
5. Suspensi spironolakton siap digunakan
4. Penyiapan hewan uji
a. Hewan uji tikus putih (Rattus novergicus)
- Disiapkan alat dan bahan
- Disiapkan hewan uji , kemudian dipuasakan, ditimbang dan
dikelompokan
5. Perlakuan hewan uji
a. Disiapkan alat dan bahan
b. Hewan uji dipuasakan, ditimbang, dikelompokan
c. Hewan uji diberi suspensiobat furosemid, HCT, spironolakton,
dan sediaan suspensi Na.CMC 1% b/v
Sebanyak :
1. Untuk kelompok I dengan berat badan 110 gr diberi
sebanyak 2,75 ml furosemid
2. Untuk kelompok II dengan berat badan 105 gr, diberi
sebanyak 2,6 ml spironolakton
3. Untuk kelompok III dengan berat badan 100 gr, diberi
sebanyak 2,5 HCT
4. Untuk kelompok IV dengan berat badan 103 diberi
sebanyak 2,57 ml Na. CMC 1% b/v
d. Kemudian diukur volume urin tikus putih pada interval waktu
15,30,45 dan 60 menit.
e. Data
f. Pembahasan
g. Kesimpulan

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil pengamatan
1. Table Pengamatan

N
o

Perlakuan

BB

1
2
3
4

Na. CMC
Hidroklorthiazid
Spironolakton
Furosemid

100 gr
125 gr
115 gr
132 gr

B. Pembahasan
Diuretik adalah

obat

Volume Urin Pada Tikus


Putih
15
30
45
60
0,5
0,5
0,5
0,5
1,5
2
1,8
0,4
1,7
2,5
2,2
0,37
2,9
3,1
3
0,5
yang

dapat

menambah

Jumlah

Ratarata

2,0
5,7
6,77
9,5

0,575
1,425
1,69
2,375

kecepatan

pembentukkan urin, istilah dieresis mempunyai dua pengertian,


pertama menunjukkan adanya penambahan urin yang diproduksi dan

yang kedua menunjukkan jumlah pengeluaran (kehilangan) zat zat


terlarut dan air.
Pada percobaan diuretic, hewan uji yang digunakan yaitu tikus
putih (Rattus norvegicus). Sediaan yang digunakan yaitu Na. CMC 1%,
furosemid, hidroklorthiazid dan spironolakton.
Na. CMC sebagai control negative dengan jumlah frekuensi urin
yaitu 2,0 ml dan rata-ratanya 0,575 ml. Hidroklorthiazid diberikan pada
tikus putih dan menghasilkan jumlah urin 6,77 ml dan rata-rata 1,69 ml.
Furosemid diberikan pada hewan uji tikus putih dan menghasilkan
jumlah urin 9,5 ml dan rata-ratanya 2,375 ml.
Diantara keempat sediaan yang paling baik digunakan yaitu
furosemid dengan jumlah urin 9,5 ml dan rata-rata 2, 375 ml. ini
karenakan furosemid berkerja dengan cara menghambat reabsorbsi
ion Na pda jerat henle.
Mekanisme kerja furosemid adalah inhibisi reansorbsi natrum dan
klorida

pada

mempengaruhi

jerat

henle

system

menaik

kontranspor

dan
ikatan

tubulus
klorida,

ginjal

distal,

selanjutnya

meningkatkan ekskresi Na, Cl-, Mg, Kalsium dan air.


Hidroklorthiazid berkerja dengan cara menghambat simporter
Na+, Cl-, ditubuls distal. Mekanisme kerja hidroklorthiazid yaitu inhibisi
reabsorbsi pada tubulus ginjal, akibatnya ekskresi Na dan air
meningkat.
Spironolakton berkerja pada segemen yang berespon terhadap
aldosteron pada nefron distal, dimana homeostatis K + dikendalikan.
Dengan mekanisme kerja yaitu berkompetensi dengan aldosteron
pada reseptor di tubulus ginjal distal, meningkatkan NaCl dan ekskresi

air selama konversi ion kalium dan hydrogen, juga dapat memblok efek
aldosteron pada otot polos arterioles.
Sediaan Furosemid dengan Na. CMC yang paling baik digunakan
untuk mempercepat

pengeluaran urin yaitu furosemid, karena Na.

CMC disini hanya digunakan sebagai control negative sehingga tidak


memberikan efek.

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari hasil

percobaan

yang

dilakukan

di

laboratorium

Biofarmaseutika, dapat disimpulkan bahwa :


1. Obat obat diuretik seperti furosemid, hidroklorthiazid, dan
spironolakton dapat memperlancar pengeluaran urin.
2. Dari ketiga obat tersebut yang paling bagus digunakan yaitu
furosemid, ini dikarenakan furosemid berkerja dengan cara
menghambat reabsorbsi ion Na+ pada jerat Henle.
3. Mekanisme kerja dari furosemid yaitu dengan cara inhibisi
reabsorbsi natrium dan klorida pada jerat Henle menaik dan tubulus
ginjal distal mem[engaruhi system kontraspor iktan klorida,
selanjutnya meningkatkan ekskresi air, Na+, Cl-. Mg dan Kalsium.
B. Saran
1. Asisten
Kami sebagai praktikan mengharapkan bimbingan dan arahan
didalam kelas maupun di laboratorium.
2. Laboratorium
Kami mengharapkan alat alat dan bahan yang ada di
laboratorium untuk dapat dilengkapi guna memperlancar kagitan
praktikan.

DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI, 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Dirjen POM. Jakarta
Depkes RI, 2007. Pelayanan Informasi Obat. Dirjen Bina Kefarmasian dan
Alat Kesehatan. Jakarta
Elin dkk. 2009. ISO Farmakoterapi. PT. ISFI. Jakarta
Elizabeth, 2009. Buku Saku Patofisiologi. EGC. Jakarta
Katzung, 2012. Farmakolodi Dasar dan Klinik Edisi 10. EGC. Jakarta
Gunawan, 2007. Farmakologi dan Terapi Edisi V. FKUI. Jakarta
Neal, 2007. Farmakologi Medis Edisi V. Erlangga. Jakarta
Sylvia dkk. 2006. Patofisiologi. EGC. Jakarta
Tjay, 2007. Obat Obat Penting. PT. Elex Media Kompatindo. Jakarta

LAMPIRAN

A. Skema Kerja
Hewan Uji Tikus Putih (Rattus norvegicus)
Dipuasakan
Ditimbang
Dikelompokkan
Diberikan suspensi obat

Na. CMC
1%
b/v

Hidroklorthiaz
id 25 Mg

Furosemid
40 Mg

Diamati jumlah frekuensi dan volume urin pada


Interval waktu 15, 30, 45 dan 60

Data
Pembahasan
Kesimpulan

B. Perhitungan
1. Furosemid
Furosemid

: 40 mg

Spironolakt
on 100 Mg

Berat 20 tab
: 3,74 gr
Berat rata-rata
: 0,187 gr = 187 mg
BB tikus putih standar
: 100 gr
Max : 200 gr
Fk
: 0.018
Ditanya
: volume pemberian ?
Penyelesaian
:
BB Standar
= Fk x Dosis obat

BB 200 gr

0,018 x 40 mg

0,72 mg/200 gr BB

20 0
x 0,72 mg
10 0

1,44 mg/200 gr BB

Berat yang ditimbang =


=

Berat ratarata
x dosis hewan uji
dosis oabat
187 mg
x 1,44 mg
40 mg

= 6,73 mg
100 ml
x 6,73 m g
Dibuat suspense 100 ml =
5 ml

Volume pemberian I

= 134,6 ml
hewanuji
x volume max
= BB Max
132 gr
x 5 ml
= 20 0 gr
= 3,3 ml

2. Hidroklorthiazid
Hidroklorthiazid
: 25 mg
Berat 20 tab
: 3,01 gr
Berat rata-rata
: 0,1505 gr = 150,5 mg
BB tikus putih standar
: 100 gr
BB Max
: 200 gr
Fk
: 0.018
Ditanya
: volume pemberian ?
Penyelesaian
:
BB Standar
= Fk x Dosis obat
=

0,018 x 25 mg

BB 200 gr

0,45 mg/200 gr BB

200
x 0,45 mg
100

0,9 mg/200 gr BB

Berat yang ditimbang =


=

Berat ratarata
x dosis hewan uji
dosis oabat
150,5 mg
x 0,9 mg
25 mg

= 5,41 mg
Dibuat suspense 100 ml =

Volume pemberian I

100 ml
x 5,41 mg
5 ml

= 108,21 ml
hewanuji
x volume max
= BB Max
125 gr
x 5 ml
= 200 gr
= 3,1 ml

3. Spironolakton
Spironolakton
: 100 mg
Berat 20 tab
: 4,20 gr
Berat rata-rata
: 0,21 gr = 210 mg
BB tikus putih standar
: 100 gr
Max : 200 gr
Fk
: 0.018
Ditanya
: volume pemberian ?
Penyelesaian
:
BB Standar
= Fk x Dosis obat

BB 200 gr

0,018 x 100 mg

1,8 mg/200 gr BB

200
x 1,8 mg
100

3,6 mg/200 gr BB

Berat yang ditimbang =

Berat ratarata
x dosis hewan uji
dosis oabat

210 mg
x 3,6 mg
100 mg

= 7,56 mg
100 ml
x 7,56 mg
Dibuat suspense 100 ml =
5 ml

Volume pemberian I

= 151, 2 ml
hewanuji
x volume max
= BB Max
115 gr
x 5 ml
= 200 gr
= 2,8 ml