Anda di halaman 1dari 5

1.

Definisi dan Patogenesis


Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit yang disebabkan oleh
virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti, yang ditandai
dengan demam mendadak yang berlangsung selama 2 7 hari. Disertai dengan sakit
kepala hebat, nyeri belakang, sakit mata, nyeri sendi otot, mual, muntah dan ruam-ruam
pada kulit. Pada keadaan yang lebih parah bisa terjadi kegagalan sirkulasi darah dan
penderita jatuh dalam keadaan shock akibat kebocoran plasma atau biasa disebut dengan
dengue shock syndrome (Mansjoer, Arif, dkk. 2001)
Insiden penyakit demam berdarah dengue pada manusia dipengaruhi oleh faktor
sebagai berikut : tingginya mobilitas penduduk, tingginya kepadatan vektor dan tingginya
kepadatan penduduk. Disamping itu ada 3 faktor penting yang mempengaruhi kejadian
antara lain faktor host, lingkungan dan virusnya sendiri. Faktor host yaitu kerentanan
misalnya umur dan respon imun, faktor lingkungan yaitu kondisi geografis (ketinggian
dari permukaan laut, curah hujan, angin kelembaban dan musim), kondisi demografi
(kepadatan dan mobilitas penduduk), perilaku misalnya kebiasaan tidur siang dimana
nyamuk aktif mencari darah hingga memudahkan terjadinya penularan penyakit serta
kebiasaan menggantung pakaian dimana nyamuk senang beristirahat pada tempat-tempat
gelap seperti pada pakaian yang tergantung, tempat penampungan air bersih yang
terlindung dari sinar matahari dan kurang diperhatikan kebersihannya. Sedangkan faktor
agent yaitu sifat virus dengue yang hingga saat ini diketahui ada 4 serotipe virus yaitu
dengue 1, 2, 3 dan 4. kemungkinan lain adalah perubahan musim mempengaruhi virus
atau manusia itu sendiri yang mengubah sikapnya terhadap gigitan nyamuk seperti

menggunakan waktu lebih banyak tinggal dalam rumah selama musim hujan.
(www.pikiranrakyat.com. 2006)
Infeksi pertama untuk virus dengue/infeksi primer menimbulkan imunitas spesifik
relatif, berarti seseorang dapat terinfeksi kembali oleh seritipe virus yang sama/berlainan.
Mengenai terjadinya Demam Berdarah Dengue (DBD), pendapat umum menganut
secondary heterology hypotesis yang mengatakan bahwa DBD dapat terjadi apabila
seseorang yang telah infeksi primer mendapatkan infeksi ulangan oleh seritope virus
yang berlainan (infeksi sekunder) dengan interval antara 6 bulan sampai 5 tahun, dimana
terbentuk kompleks virus antibodi dalam sirkulasi yang akan mengaktivasi sistem
komplemen tubuh. Akibat aktivasi komplemen C3 dan C5 maka akan dilepaskan C3a dan
C5a yang kemudian melepaskan histamin dan mediator kimia lainnya. Mediator-mediator
ini akan meningkatkan permeabilitas dinding pembuluh darah sehingga plasma mudah
melalui endotel pembuluh darah yang kemudian dapat mengakibatkan kebocoran plasma.
(Hadinegoro R. 2002)
2. Manifestasi Klinis dan Diagnosis
Kriteria klinis demam berdarah dengue menurut World Healt Organization
(WHO) 1986, yaitu :
a. Demam akut, yang tetap tinggi selama 2 7 hari, yang kemudian turun secara lisis.
Demam disertai gejala yang tidak spesifik, seperti anoreksia, malaise, nyeri pada
punggung, tulang, persendian dan kepala.
b. Manifestasi perdarahan, seperti uji tourniqet positif, petekie, ekimosis, epistaksis,
perdarahan gusi, hematemesis dan melena.
c. Pembesaran hati dan nyeri tekan dengan/tanpa ikterus

d. Dengan/tanpa renjatan. Jika terdapat renjatan akan ditandai dengan nadi cepat dan
lemah sampai tidak teraba, tekanan darah menurun ( 80 mmHg) sampai tak terukur
disertai kulit dingin, lembab dan kegelisahan. (Mansjoer, Arif, dkk, 2001)
Adapun kriteria laboratorium dari Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah :
a. Trombositopenia : Tormbosit < 100.000/mm atau penurunan progresif pada
pemeriksaan periodik disertai waktu perdarahan yang memanjang.
b. Hemokonsentrasi : Hematokrit pada saat pemeriksaan > 20 % atau meningkat
progresif pada pemeriksaan periodik.
Diagnosis ditegakkan berdasarkan patokan kriteria World Healt Organization
(WHO) dengan modifikasi yang telah digariskan pada pertemuan POKJA DBD Ciloto
pada Maret 1994 yaitu seseorang dikatakan menderita Demam Berdarah Dengue (DBD)
jika terdapat 2 kriteria klinik dan 2 kriteria laboratorium.
Berdasarkan World Healt Organization (WHO) pada tahun 1975, derajat Demam
Berdarah Dengue (DBD) yaitu :
Derajat I

: Demam disertai gejala infeksi tidak khas dan satu-satunya manifestasi


perdarahan ialah uji tourniqet positif.

Derajat II

: Derajat I ditambah perdarahan spontan dibawah kulit dan atau tempat lain.

Derajat III

: Renjatan (kegagalan sirkulasi) yang ditandai dengan nadi cepat dan lemah,
tekanan darah menurun ( 80 mmHg) atau hipotensi disertai kulit dingin,
lembab dan gelisah

Derajat IV

: Renjatan dalam dengan nadi tidak teraba, tensi tidak terukur.


(Hendrawanto, 1996)

3. Penatalaksanaan

Saat ini belum ada obat untuk penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) karena
belum ditemukan vaksin yang mengandung antigen virus dengue untuk mencegah
penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD).
Pada dasarnya pengobatan Demam Berdarah Dengue (DBD) bersifat sitomatik
dan suportif dengan tujuan mengganti cairan intravaskular (volume plasma) yang hilang
serta memperbaiki keadaan umum penderita.
Penatalaksanaan Demam Berdarah Dengue (DBD) tanpa penyulit adalah :
a. Tirah baring.
b. Makanan lunak dan bila belum ada nafsu makan diberi minum 1,5 2 liter dalam 24
jam (susu, air dengan gula atau sirup) atau air tawar ditambah garam.
c. Medikamentosa yang bersifat simtomatis. Untuk hiperpireksia dapat diberi kompres,
antipiretik golongan asetaminofen, eukinin atau dipiron dan jangan asetosal karena
bahaya perdarahan.
d. Antibiotik diberikan bila terdapat kemungkinan terjadi infeksi sekunder.
Pada pasien dengan tanda renjatan dilakukan :
a. Pemasangan infus dan dipertahankan selama 12 48 jam setelah renjatan teratasi.
b. Observasi keadaan umum, nadi, tekanan darah, suhu dan pernafasan tiap jam, serta
Hb dan Ht tiap 4 6 jam pada hari pertama selanjutnya tiap 24 jam.
Pada pasien dengan dengue syok syndrome diberi cairan intravena yang diberikan
dengan diguyur (NaCl atau Ringer Laktat) yang dipertahankan selama 12 48 jam
setelah renjatan teratasi. Bila tidak nampak perbaikan dapat diberikan plasma atau plasma
akspander, dekstran atau preparat hemasel sejumlah 15 29 ml/kg BB dan dipertahankan

selama 12 48 jam setelah renjatan teratasi. Bila pada pemeriksaan didapatkan


penurunan kadar Hb dan Ht maka diberi transfusi darah.