Anda di halaman 1dari 22

blog.tp.ac.id/wp-content/.../3a8d6ff0e13f819bbe4274f9c91b4244.d...

LAPORAN PRAKTIKUM
MIKROBIOLOGI UMUM

ISOLASI DAN PEMURNIAN MIKROBA, TEKNIK PEMELIHARAAN


KULTUR MURNI DAN PERHITUNGAN ANGKA LEMPENG TOTAL
(Total Plate Count= TPC)

Oleh:
Ahmad Soni
0810910002
Kelompok I

LABORATORIUM MIKROBIOLOGI
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG
2010
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Mikroba yang ditemukan di suatu lingkungan ditemukan dalam populasi
campuran, sangat jarang sekali yang ditemukan sebagai satu spesies tunggal.
Penelitian mengenai mikroorganisme biasanya memerlukan teknik untuk
memisahkan populasi campuran pada permulaanya, atau biakan campuran,
menjadi spesies-spesies yang berbeda-beda sebagai biakan murni. Biakan murni
terdiri dari suatu populasi sel yang berasal dari satu sel induk (Prescott, 2003). Hal
lain yang perlu diperhatikan adalah pemeliharaan kemurnian isolat selama
penyimpanan, agar produk atau metabolisme suatu mikroba termasuk kapang
tetap terjaga. Pengetahuan akan nutrisi pertumbuhan akan membantu di dalam
mengkultivasi, mengisolasi dan mengidentifikasi mikroba, karena mikroba
memiliki karakteristik dan ciri yang berbeda-beda di dalam persyaratan
pertumbuhannya.
Suatu jenis koloni mikroba yang terpisah dari koloni campurannya akan
lebih mudah

untuk diamati. Selain itu teknik untuk memisahkan dan

mendapatkan koloni tunggal serta pemeliharannya terdapat beberapa jenis.


Teknik-teknik tersebut memiliki kelebihan dan kelemahan. Beberapa cara dapat
dilakukan untuk menentukan jumlah bakteri yang terdapat pada bahan
pemeriksaan. Cara yang paling sering digunakan adalah cara penghitungan koloni
pada lempeng pembiakan (plate count), atau juga dapat dilakukan penghitungan
langsung secara mikroskopis

(Burrows, 2004). Oleh karena itu, untuk

mempelajari teknik isolasi, pemurnian mikroba, serta keuntungan dan


kelemahannya, maka praktikum Isolasi dan Pemurnian Mikroba, Teknik
Pemeliharaan Kultur Murni penting untuk dilakukan.
1.2 Tujuan
Praktikum ini bertujuan untuk mempelajari teknik penyimpanan kultur
murni dan mengkarakterisasi pertumbuhan koloni murni hasil isolasi.

1.3 Manfaat
Setelah melakukan praktikum ini mahasiswa akan mempunyai keterampilan
serta keahlian dalam mengisolasi, memurnikan dan memelihara suatu biakan
dengan beberapa macam teknik, sehingga memudahkan isolasi, pemurnian yang
dilakukan di lapangan serata menyimpan biakan tersebut.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Media agar merupakan substrat yang sangat baik untuk memisahkan
campuran mikroorganisme sehingga masing-masing jenisnya menjadi terpisahpisah. Teknik yang digunakan untuk menumbuhkan mikroorganisme pada media
agar memungkinkannya tumbuh dengan agak berjauhan dari sesamanya, juga
memungkinkan setiap selnya berhimpun membentuk koloni, yaitu sekelompok
massa sel yang dapat dilihat dengan mata telanjang. Bahan yang diinokulasikan
pada medium disebut inokulum, dengan menginokulasi medium agar nutrien
(nutrien agar) dengan metode cawan gores atau media cawan tuang, sel-sel
mikroorganisme akan terpisah sendiri-sendiri. Setelah inkubasi, sel-sel mikroba
individu memperbanyak diri secara cepat sehingga dalam waktu 18 sampai 24 jam
terbentuklah massa sel yang dapat dilihat dan dinamakan koloni. Koloni dapat
terlihat oleh mata telanjang. Setiap koloni merupakan biakan murni satu macam
mikroorganisme (Pelczar dan Chan, 2007).
Kemampuan mikroorganisme untuk tumbuh dan tetap hidup merupakan
suatu hal yang penting untuk diketahui. Pengetahuan tentang faktor-faktor yang
mempengaruhi pertumbuhan mikroba sangat penting di dalam mengendalikan
mikroba. Berikut ini faktor-faktor penting yang mempengaruhi pertumbuhan
mikroba (Suriawiria, 2005):
a. Suplai Energi
Mikroba sama dengan makhluk hidup lainnya, memerlukan suplai nutrisi
sebagai sumber energi dan pertumbuhan selnya. Unsur-unsur dasar tersebut adalah
: karbon, nitrogen, hidrogen, oksigen, sulfur, fosfor, zat besi dan sejumlah kecil
logam lainnya. Ketiadaan atau kekurangan sumber-sumber nutrisi ini dapat
mempengaruhi pertumbuhan mikroba hingga pada akhirnya dapat menyebabkan
kematian.
Kondisi tidak bersih dan higinis pada lingkungan adalah kondisi yang
menyediakan sumber nutrisi bagi pertumbuhan mikroba sehingga mikroba dapat

tumbuh berkembang di lingkungan seperti ini. Oleh karena itu, prinsip daripada
menciptakan lingkungan bersih dan higinis adalah untuk mengeliminir dan
meminimalisir sumber nutrisi bagi mikroba agar pertumbuhannya terkendali.
b. Suhu/Temperatur
Suhu merupakan salah satu faktor penting di dalam mempengaruhi dan
pertumbuhan mikroorganisme. Suhu dapat mempengaruhi mikroba dalam dua
cara yang berlawanan. Apabila suhu naik maka kecepatan metabolisme naik dan
pertumbuhan dipercepat. Sebaliknya apabila suhu turun, maka kecepatan
metabolisme akan menurun dan pertumbuhan diperlambat. Apabila suhu naik atau
turun secara drastis, tingkat pertumbuhan akan terhenti, kompenen sel menjadi
tidak aktif dan rusak, sehingga sel-sel menjadi mati. Berdasarkan hal di atas, maka
suhu yang berkaitan dengan pertumbuhan mikroorganisme digolongkan menjadi
tiga, yaitu : Suhu minimum yaitu suhu yang apabila berada di bawahnya maka
pertumbuhan terhenti.

Suhu optimum yaitu suhu dimana pertumbuhan

berlangsung paling cepat dan optimum. (Disebut juga suhu inkubasi). Suhu
maksimum yaitu suhu yang apabila berada di atasnya maka pertumbuhan tidak
terjadi.
Berdasarkan ketahanan panas, mikroba dikelompokkan menjadi tiga
macam, yaitu :
Peka terhadap panas, apabila semua sel rusak apabila dipanaskan pada
suhu 60oC selama 10-20 menit. Tahan terhadap panas, apabila dibutuhkan suhu
100oC selama 10 menit untuk mematikan sel. Thermodurik, dimana dibutuhkan
suhu lebih dari 60oC selama 10-20 menit tapi kurang dari 100 oC selama 10 menit
untuk mematikan sel.
c. Keasaman atau Kebasaan (pH)
Setiap organisme memiliki kisaran pH masing-masing dan memiliki pH
optimum yang berbeda-beda. Kebanyakan mikroorganisme dapat tumbuh pada
kisaran ph 8,0 8,0 dan nilai pH di luar kisaran 2,0 sampai 10,0 biasanya bersifat
merusak.

d. Ketersediaan Oksigen
Mikroorganisme

memiliki

karakteristik

sendiri-sendiri

di

dalam

kebutuhannya akan oksigen. Mikroorganisme dalam hal ini digolongkan menjadi


Aerobik : hanya dapat tumbuh apabila ada oksigen bebas. Anaerob : hanya dapat
tumbuh apabila tidak ada oksigen bebas. Anaerob fakultatif : dapat tumbuh baik
dengan atau tanpa oksigen bebas. Mikroaerofilik : dapat tumbuh apabila ada
oksigen dalam jumlah kecil (Tortora, 2002).
Metode-metode yang dapat digunakan untuk mengisolasi biakan murni
mikroorganisme antara lain cawan gores (sterak plate), cawan tebar, dan cawan
tuang.
1. Teknik Dilusi (Pengenceran)

Gambar 1. Teknik Dilusi (Rachdie, 2008)


Teknik dilusi sangat penting di dalam analisa mikrobiologi. Karena hampir
semua metode perhitungan jumlah sel mikroba mempergunakan teknik ini, seperti
TPC (Total Plate Count).
Cara Kerja :
-

Dari larutan kultur kita ambil 1 ml dan kita masukkan ke dalam 9 ml

aquades atau larutan buffer pepton untuk memperoleh dilusi 1/10 bagian.
-

Dari larutan dilusi 1/10 kita ambil 1 ml dan kita masukkan ke dalam 9 ml

aquades atau larutan buffer pepton untuk memperoleh dilusi 1/100 bagian.
-

Dari larutan dilusi 1/100 kita ambil 1 ml dan kita masukkan ke dalam 9 ml

aquades atau larutan buffer pepton untuk memperoleh dilusi 1/1000 bagian.
-

Dari larutan dilusi 1/1000 kita ambil 1 ml dan kita masukkan ke dalam 9

ml aquades atau larutan buffer pepton untuk memperoleh dilusi 1/10.000 bagian.
-

Dan seterusnya

Maksud dari 1/10, 1/100, 1/1000, 1/10.000 dst adalah suatu rasio dilusi yang
apabila pada tiap dilusi ditumbuhkan ke dalam suatu media dan koloninya yang
tumbuh dapat dihitung, maka jumlah sel mikroba dapat diketahui dengan cara :
Jumlah koloni x

1
Pengenceran

Misal :
Apabila pada dilusi 1/100 tumbuh sebanyak 20 koloni, maka dapat
diketahui jumlah sel adalah :
20 koloni x

1
1/100

= 2000 sel

Apabila pada dilusi 1/1000 tumbuh sebanyak 3 koloni, maka dapat diketahui
jumlah sel adalah :
2 koloni x

1
1/1000

= 3000 sel

Oleh karena itu, dengan metode dilusi kita dapat memperkirakan jumlah sel
mikroba pada suatu benda atau produk.
2. Teknik Pour Plate (Lempeng Tuang)
Teknik

Pour

Plate

adalah

suatu

teknik

dalam

menumbuhkan

mikroorganisme dalam media agar dengan cara mencampurkan media agar cair
dengan stok kultur. Teknik ini umumnya digunakan pada metode Total Plate
Count (TPC). Sedangkan teknik streak plate adalah suatu teknik dalam
menumbuhkan mikroorganisme dalam media agar dengan cara menggores
(streak) permukaan agar dengan jarum yang telah diinokulasi dengan kultur
mikroba. Teknik ini menjadikan mikroorganisme tumbuh dan tampak pada
goresan-goresan inokulasi bekas jarum (Radchie, 2008).

3. Teknik Streak Plate

Gambar 2 . Teknik Streak Plate (Rachdie, 2008)


Teknik streak plate (lempeng gores) adalah suatu teknik di dalam
menumbuhkan mikroorganisme di dalam media agar dengan cara menstreak
(menggores) permukaan agar dengan jarum ose yang telah diinokulasikan dengan
kultur bakteri. Dengan teknik ini mikroorganisme yang tumbuh akan tampak
dalam goresan-goresan inokulum bekas dari streak jarum enten.
4. Pemeliharaan Kultur pada Slant Agar

(a)
(b)
Gambar 3. Teknik
Slant
Agar. (a)

memasukkan kultur pada slant agar (b) bagian-bagian yang akan


dipindahkan (Rachdie, 2008)
Agar slants adalah kultivasi biakan mikroba ke dalam agar miring di
dalam tabung reaksi untuk melihat karakteristik koloni bakteri yang tumbuh. Tiap
bakteri memiliki karakteristik koloni yang berbeda. Karakteristik yang diamati
pada koloni bakteri yang tumbuh adalah (Rachdie, 2008):
Karakteristik Pertumbuhan Koloni Bakteri

Ukuran : Diameter koloni yang diukur di dalam mm atau cm


Bentuk Keseluruhan Koloni : Sirkular, irregular, punctiform, rhizoid
Tepi / Margin : Entire, lobate, erose, undulate
Elevasi : Datar (flat), raised, convex (cembung), pulvinate, umbonate, crateriform
Permukaan : Wrinkled, rough (kasar), concentric rings, dull, glistening, waxy
Pigmentasi :
Warna : merah, kuning, krim, putih, tidak berwarna
Kelarutan dalam air : larut dalam air, tidak larut dalam air
Opasitas : Transparan, translucent, opaque
Bau : manis, putrefactive, fruity

BAB III
METODE PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum Isolasi Dan Pemurnian Mikroba, Tehnik Pemeliharaan Kultur
Murni Dan Penghitungan Angka Lempeng Total (Total Plate Count=TPC) ini

dilaksanakan pada hari Kamis, 01 April 2010 pada pukul 13.00 16.35 WIB.
Praktikum dilaksanakan di laboratorium Mikrobiologi, Jurusan Biologi, Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Brawijaya, Malang.
3.2 Cara Kerja
3.2.1 Teknik Dilusi (Pengenceran)
Sampel (tanah murni dan tanah yang ditambah dengan pestisida) ditimbang
sebanyak 5 mg dan dimasukkan ke dalam 45 ml garfis atau larutan buffer pepton
untuk memperoleh dilusi 1/10 bagian. Dari larutan dilusi 1/10 diambil 1 ml dan
dimasukkan ke dalam 9 ml garfis atau larutan buffer pepton untuk memperoleh
dilusi 1/100 bagian. Dari larutan dilusi 1/100 diambil 1 ml dan dimasukkan ke
dalam 9 ml garfis atau larutan buffer pepton untuk memperoleh dilusi 1/1.000
bagian. Dari larutan dilusi 1/1.000 diambil 1 ml dan dimasukkan ke dalam 9 ml
garfis atau larutan buffer pepton untuk memperoleh dilusi 1/10.000 bagian. Dari
larutan dilusi 1/10.000 diambil 1 ml dan dimasukkan ke dalam 9 ml garfis atau
larutan buffer pepton untuk memperoleh dilusi 1/100.000 bagian. Dari larutan
dilusi 1/100.000 diambil 1 ml dan dimasukkan ke dalam 9 ml garfis atau larutan
buffer pepton untuk memperoleh dilusi 1/1.000.000 bagian.
3.2.2 Teknik Pour Plate (Lempeng Tuang)
Diambil sampel sebanyak 1 ml dari masing-masing pengenceran berseri
pada teknik dilusi dan dimasukkan ke dalam cawan petri steril, cawan segera
ditutup agar terhindar dari kontaminan. Masing-masing cawan petri berisis hasil
pengenceran ditambahkan dengan Potato Dextrose Agar (PDA) untuk kapang, dan
media Nutrient agar (NA) untuk bakteri. Segera setelah media dimasukkan, cawan
petri diputar secara perlahan-lahan di atas meja horizontal untuk mengaduk
campuran media agar dengan dilusi kultur mikroba. Setelah memadat, cawancawan tersebut diletakkan dalam posisi terbalik. Inkubasi dilakukan pada suhu
kamar, untuk kapang dan bakteri dilakukan inkubasi minimal selama 3x24 jam.
Karakteristik koloni yang tumbuh diamati.
3.2.3 Teknik Streak Plate (Lempeng Gores)

Teknik Streak plate diawali dengan teknik aseptis. Jarum ose atau enten
dibakar dari bagian pangkal dalam terus hingga ke bagian ujung sampai berpijar
merah. Kemudian bibir tabung reaksi yang berisi kultur bakteri atau kapang
dibakar dengan cara memutar tabung sehingga semua bagian bibir tabung terkena
api. Jarum enten atau ose segera dimasukkan ke dalam cawan petri hasil pour
plate, lalu segera dikeluarkan. Ketika memasukkan jarum enten atau ose jangan
sampai menyentuh dinding tabung dan dilakukan di dekat pembakar Bunsen.
Masing-masing cawan berisi biakan bakteri diambil sedikit dengan ose dan sedikit
di congkel bagian bakteri yang ingin dimurnikan. Sedangkan untuk kapang yang
sangat berserabut, cukup sedikit digores pada bagian agak ke tepi. Jarum enten
atau ose yang mengandung koloni kapang atau bakteri segera di sentuhkan pada
cawan petri lain yang berisi Potato Dextrose Agar (PDA) untuk kapang dan
Nutrien Agar (NA) untuk bakteri yang telah mengeras pada bagian tengah. Hasil
dari Streak Plate untuk kapang tersebut kemudian diinkubasi. Inkubasi dilakukan
pada suhu 300C, untuk kapang dan bakteri dilakukan inkubasi minimal selama
3x24 jam. Inkubasi dilakukan dengan posisi cawan terbalik.
3.2.4 Penyimpanan Biakan Murni
Untuk menguasai teknik penyimpanan biakan murni, diperlukan
ketrampilan menguasai teknik agar slants. Agar slants adalah kultivasi biakan
mikroba ke dalam agar miring di dalam tabung reaksi. Selain digunakan untuk
penyimpanan kultur murni, teknik ini juga digunakan untuk melihat karakteristik
koloni bakteri atau kapang yang tumbuh. Langkah menuang media agar ke dalam
tabung reaksi secara aseptis, kemudian didinginkan dalam keadaan miring ( 20-30
derajat Celcius). Kemudian di-streak dengan biakan mikroba dengan
menggunakan jarum ose secara aseptis, lalu diinkubasi ke dalam inkubator dan
diamati bentuk koloni yang tumbuh.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Analisis Prosedur
4.1.1 Teknik Dilusi (Pengenceran)

Teknik dilusi sangat penting di dalam analisis mikrobiologi, karena hampir


semua metode perhitungan jumlah sel mikroba diawali teknik ini. Teknik dilusi
dilakukan untuk benar-benar mendapatkan koloni tunggal. Sampel (tanah murni
dan tanah yang ditambah dengan pestisida) ditimbang sebanyak 5 mg dan
dimasukkan ke dalam 45 ml garfis atau larutan buffer pepton untuk memperoleh
dilusi 1/10 bagian. Dari larutan dilusi 1/10 diambil 1 ml dan dimasukkan ke dalam
9 ml garfis atau larutan buffer pepton untuk memperoleh dilusi 1/100 bagian. Dari
larutan dilusi 1/100 diambil 1 ml dan dimasukkan ke dalam 9 ml garfis atau
larutan buffer pepton untuk memperoleh dilusi 1/1.000 bagian. Dari larutan dilusi
1/1.000 diambil 1 ml dan dimasukkan ke dalam 9 ml garfis atau larutan buffer
pepton untuk memperoleh dilusi 1/10.000 bagian. Dari larutan dilusi 1/10.000
diambil 1 ml dan dimasukkan ke dalam 9 ml garfis atau larutan buffer pepton
untuk memperoleh dilusi 1/100.000 bagian. Dari larutan dilusi 1/100.000 diambil
1 ml dan dimasukkan ke dalam 9 ml garfis atau larutan buffer pepton untuk
memperoleh dilusi 1/1.000.000 bagian. Maksud dari 1/10, 1/100, 1/1000, 1/10.000
hingga seterusnya merupakan suatu rasio dilusi yang apabila pada tiap dilusi
ditumbuhkan kedalam suatu media dan koloninya yang tumbuh dapat dihitung.
Pengenceran dilakukan untuk mendapatkan koloni yang akan diisolasi dengan
meminimalkan kontaminasi dan penambahan nutrisi untuk mikroba
4.1.2 Teknik Pour Plate
Pada teknik pour plate, mula-mula diambil sampel sebanyak 1 ml dari
masing-masing pengenceran berseri pada teknik dilusi dan dimasukkan ke dalam
cawan petri steril, cawan segera ditutup agar terhindar dari kontaminan. Potato
Dextrose Agar (PDA) merupakan media yang digunakan untuk menumbuhkan
kapang, sedangkan Nutrient Agar (NA) merupakan media yang digunakan untuk
menumbuhkan bakteri, media ini dipanaskan agar mencair, kemudian sedikit
didinginkan sehingga suhunya kira-kira 40-50C, pendinginan ini dilakukan untuk
mendapatkan suhu yang ideal sehingga agar tidak mengeras namun tidak terlalu
panas yang mengakibatkan kematian koloni yang akan dibiakkan.. Masing-masing
cawan petri berisi hasil pengenceran ditambahkan dengan Potato Dextrose Agar
(PDA) untuk kapang, dan Nutrien Agar (NA) untuk bakteri. Segera setelah media

dimasukkan, cawan petri diputar secara perlahan-lahan di atas meja horizontal


untuk mengaduk campuran media agar dengan dilusi kultur mikroba. Setelah
memadat, cawan-cawan tersebut diletakkan dalam posisi terbalik. Cawan
diletakkan dalam posisi terbalik berfungsi untuk mencegah kondensasi menitis
dari bawah ke atas permukaan agar yang dapat memfasilitasi pergerakan
organisme antara koloni (Sciencestuff, 2008). Inkubasi dilakukan pada suhu 300C
(jika tergolong mikroba mesofil) dengan lama inkubasi 24 jam untuk bakteri dan
paling sedikit 3x24 jam untuk kapang. Perbedaan waktu inkubasi adalah karena
waktu pertumbuhan dan perkembangbiakkan antara bakteri dan kapang berbeda.
Inkubasi dilakukan untuk memberikan suasana yang memungkinkan (optimal)
untuk pertumbuhan bakteri dan kapang hingga terbentuk koloni. Inkubasi
dilakukan dengan posisi cawan terbalik. Hal ini dilakukan agar untuk mencegah
kondensasi menitis dari bawah ke atas permukaan agar yang dapat memfasilitasi
pergerakan organisme antara koloni (Sciencestuff, 2008). Karakteristik koloni
yang tumbuh diamati.
4.1.3 Teknik Streak Plate (lempeng gores)
Teknik Streak plate diawali dengan teknik aseptis. Jarum enten dan ose
dibakar dari bagian pangkal dalam terus hingga ke bagian ujung sampai berpijar
merah, hal ini dilakukan agar jarum enten dan ose bebas dari kontaminan. Pada
biakan kapang digunakan jarum enten karena biasanya kapang memiliki struktur
yang berserabut dehingga dengan jarum enten akan diperoleh serabut atau hifa
dari kapang dan dibiakkan, sedangkan jarum ose digunakan untuk mengambil
biakan bakteri karena ukuran bakteri yang sangat kecil. Kemudian bibir tabung
reaksi yang berisi kultur bakteri dan kapang dibakar dengan cara memutar tabung
sehingga semua bagian bibir tabung terkena api untuk memastikan tidak ada
mikroba lain yang masuk ke dalam media biakan. Jarum enten atau ose segera
dimasukkan ke dalam cawan petri hasil pour plate, lalu segera dikeluarkan. Ketika
memasukkan jarum enten atau ose jangan sampai menyentuh dinding tabung dan
dilakukan di dekat pembakar Bunsen karena akan menyebabkan kontaminasi.
Masing-masing cawan berisi biakan bakteri diambil sedikit dengan ose dan sedikit
di congkel bagian bakteri yang ingin dimurnikan, namun jangan sampai bagian
agar terambil atau jika terpaksa bagian agar terambil, diusahakan seminimal

mungkin. Sedangkan untuk kapang yang sangat berserabut, cukup sedikit digores
pada bagian agak ke tepi. Pemilihan bagian tepi ini bertujuan agar biperoleh
biakan murni dengan umur yang relatif sama. Teknik streak untuk kapang tidak
sama dengan bakteri, karena umumnya kapang memiliki karakteristik yang
berserat atau terdiri dari banyak hifa, maka dilakukan penempelan jarum enten
pada agar dan kapang akan berkembang. Jarum enten yang mengandung koloni
kapang segera di sentuhkan pada cawan petri lain yang berisi Potato Dextrose
Agar (PDA) yang telah mengeras pada bagian tengah, hal ini dilakukan agar
kapang dapat tersebar dengan merata sesuai dengan diameter cawan petri. Hasil
dari Streak Plate untuk kapang dan bakteri tersebut kemudian diinkubasi. Inkubasi
dilakukan pada suhu 300C (jika tergolong mikroba mesofil) dengan lama inkubasi
24 jam untuk bakteri dan paling sedikit 3x24 jam untuk kapang. Perbedaan waktu
inkubasi adalah karena waktu pertumbuhan dan perkembangbiakkan antara
bakteri dan kapang berbeda. Inkubasi dilakukan untuk memberikan suasana yang
memungkinkan (optimal) untuk pertumbuhan bakteri dan kapang hingga
terbentuk koloni. Inkubasi dilakukan dengan posisi cawan terbalik. Hal ini
dilakukan agar untuk mencegah kondensasi menitis dari bawah ke atas permukaan
agar yang dapat memfasilitasi pergerakan organisme antara koloni (Sciencestuff,
2008). Kemudian diamati pertumbuhan koloni tersebut.
4.1.4 Pemurnian Biakan Murni
Pemurnian biakan murni bertujuan untuk mendapatkan satu spesies dalam
satu tabung pemeliharaan kultur. Langkah-langkah pemurnian biakan murni
adalah sebagai berikut, koloni dengan karakter morfologi tertentu (koloni tunggal)
dapat dipisahkan satu dengan lainnya dengan cara mengambilnya dengan ose
(diusahakan koloni yang berjauhan). Kemudian digoreskan pada media nutrien
agar atau medium agar pemurnian yang lain. Pengambilan dengan ose dapat
memisahkan koloni tunggal dengan yang lainnya. Untuk memurnikan kapang,
ambil koloni dengan karakter morfologi tertentu dengan cara mengambilnya
dengan jarum enten kemudian menaruhnya pada satu titik media PDA pada cawan
petri. Jarum ose dan jarum enten yang digunakan untuk memindahkan sedikit
biakan bakteri dan kapang ke gelas obyek harus disterilisasi dengan cara

dipanaskan diatas lampu bunsen agar terbebas dari mikroba (steril), begitu pula
dengan bibir cawan petri tempat koloni fungi.
Medium buatan berfungsi sebagai medium pertumbuhan biakan murni
bakteri. Pada medium bakteri dapat tumbuh dan berkembang biak. Inkubasi
dilakukan pada suhu 300C (jika tergolong mikroba mesofil) dengan lama inkubasi
24 jam untuk bakteri dan paling sedikit 3x24 jam untuk kapang. Perbedaan waktu
inkubasi adalah karena waktu pertumbuhan dan perkembangbiakkan antara
bakteri dan kapang berbeda. Inkubasi dilakukan untuk memberikan suasana yang
memungkinkan (optimal) untuk pertumbuhan bakteri dan kapang hingga
terbentuk koloni. Inkubasi dilakukan dengan posisi cawan terbalik. Hal ini
dilakukan agar untuk mencegah kondensasi menitis dari bawah ke atas permukaan
agar yang dapat memfasilitasi pergerakan organisme antara koloni (Sciencestuff,
2008).
4.1.5 Penyimpanan Biakan Murni
Penyimpanan biakan murni menggunakan teknik agar miring yang berisi
media Potato Dextrose Agar (PDA) untuk kapang serta Nutrien Agar (NA) untuk
bakteri. Pada teknik ini, agar didinginkan dalam kedaan miring untuk memperoleh
luar permukaan yang lebih besar sehingga koloni yang berkembeng diharapkan
lebih banyak. Tujuan utama preservasi, yaitu mereduksi atau mengurangi laju
metabolisme sekecil mungkin dengan tetap mempertahankan viabilitas (daya
hidupnya) ciri-ciri genetiknya tetap stabil dan tidak berubah dan memelihara
sebaik mungkin biakan, sehingga diperoleh angka perolehan (recovery) dan
kehidupan (survival) yang tinggi dengan perubahan ciri-ciri yang minimum.
Caranya hampir sama dengan pemurnian biakan, yaitu dengan mengambil sedikit
koloni bakteri dengan menggunakan jarum enten kemudian menaruhnya pada
media NA yang telah disediakan, sedangkan untuk kapang pada bagian tengah
Potato Dextrose Agar (PDA) dalam tabung reaksi. Sterilisasi mulut tabung reaksi
dilakukan dengan melewatkan mulut tabung pada api bunsen. Hal ini dilakukan
sebelum dan sesudah menginokulasikan biakan. Kemudian dilakukan inkubasi ke
dalam inkubator dan diamati bentuk koloni yang tumbuh. Inkubasi dilakukan
untuk memberikan suasana yang memungkinkan (optimal) untuk pertumbuhan
kapang hingga terbentuk koloni.

4.2 Data Hasil Praktikum


Tabel 1. Hasil Penghitungan Bakteri
No.
P1

NP
2

Pengenceran
-2

10
10-3
10-4
10-5
10-6
10-2
10-3
10-4
10-5
10-6

Koloni Cawan
Ulangan I
Ulangan II
128
49
5
1
3
42
7
12
3

32
17
15
2
3
43
18
15
3
2

Sel Mikroba Tiap


ml/gr bahan
8 x 105

4,25 x 105

Tabel 2. Hasil Penghitungan Kapang


No.
P1

NP
2

Pengenceran
-2

10
10-3
10-4
10-5
10-6
10-2
10-3
10-4
10-5
10-6

Koloni Cawan
Ulangan I
Ulangan II
8
4
1
3
2
-

11
4
1
8
2
1
1
1

Sel Mikroba Tiap


ml/gr bahan
9,5 x 104

4.3 Analisa Hasil


Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan diketahui
bahwa hasil TPC berhubungan dengan seri pengenceran. Hal ini
dikarenakan dengan melakukan pengenceran berseri, maka jumlah
mikroba yang tersuspensi di dalam cairan menjadi lebih kecil., hal ini
terlihat dari jumlah mikroba yang teramati setelah pengenceran hingga
ke enam kalinya, bahwa umumnya semakin banyak pengenceran yang
dilakukan maka jumlah mikroba yang terhitung semakin sedikit.

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, didapatkan bahwa


jumlah koloni pada media dengan penambahan pestisida lebih banyak
daripada koloni non-pestisida. Hal ini bisa disebabkan karena bakteri
maupun kapang yang ditumbuhkan pada media dengan penambahan
pestisida memiliki resistensi yang sangat tinggi dibandingkan pada
media non-pestisida, sehingga jumlah koloni yang terbentuk pun akan
semakin banyak.
Karakterisasi Bakteri

Media Nutrient Agar Non Pestisida

Bentuk bakteri yang telah didapat dari hasil isolasi murni adalah
dengan bentuk bulat, berfilamen, dan tidak teratur. Konfigurasi bakteri
yang didapat adalah dengan tepi yang menyeluruh, erose, lobate, dan
beralun. Kebanyakan dari konfigurasi bakteri adalah menyeluruh.
Elevasi merupakan bentuk pada permukaan bakteri dengan permukaan
cembung dan pulvinat. Tekstur dari bakteri yang didapat sebagian
besar adalah berkontur. Tekstur berkontur merupakan tekstur dimana
permukaan dari sel bakteri adalah licin dan beralun secara tidak
teratur.

Konsistensi

pada

sel

bakteri

seperti

mentega

dan

pertumbuhannya mengikuti bekas garsan bekas inokulasi. Ciri optik


pada bakteri adalah opalesens yaitu seperti warna putih-kebiruan atau
warna susu dengan ciri warna yang kelihatan berubah-ubah, dan
berkilat. Pigmentasi pada bakteri sebagian besar memiliki warna
kuning, putih tulang, dan putih.

Media Nutrient Agar Pestisida

Bentuk dari bakteri pada media NA dengan pestisida semua


berbentuk

bulat.

Konfigurasi

pada

bakteri

semuanya

adalah

menyeluruh. Elevasi pada bakteri adalah cembung dan menaik dengan


tekstur berkontur. Konsistensi seperti mentega dengan ciri optik
berkilat dan opalesens. Pigmentasi pada bakteri berwarna putih, hitam,
dan tidak berwarna.
Karakterisasi Kapang

Media Potato Detroxa Non Pestisida

Karakterisasi pada kapang PDA non pestisida hanya berdasarkan


pigmentasi, garis radial, dan ada tidaknya miselium. Pigmentasi pada
kapang berbeda-beda. Terdapat kapang yang pigmentasinya pada
bagian depan dan belakang memiliki warna yang sama. Terdapat juga
pigmentasinya pada bagian depan dan belakang tidak sama, bahkan
terdapat tiga warna pada bagian depan, tengah, dan belakang. Kapang
pada media PDA non pestisida semuanya tidak memiliki garis radial.
Dengan miselium kompak dan renggang. Miselium kompak adalah
miseliumnya memiliki panjang yang sama atau sejajar. Sedangkan
renggang yaitu bentuk miseliumnya masih terdapat jarak antara satu
dengan yang lain.

Media Potato Detroxa Agar Pestisida


Pigmentasi pada kapang dengan media PDA dengan pestisida

memiliki pigmentasi antara depan dan belakang memiliki warna yang


sama. Tidak memiliki garis radial dan tidak memiliki miselium.
Pengamatan yang telah dilakukan menunjukkan bahwa terdapat
beberapa kesalahan yang terjadi, diantaranya tumbuhnya koloni
bakteri pada media PDA. Hal ini disebabkan karena PDA mengandung
nutrisi yang mencukupi untuk pertumbuhan bakteri, sehingga bakteri
juga mampu tumbuh pada media PDA. Selain itu, tidak diberikannya
antiseptic pada media PDA yang digunakan, sehingga bakteri akan
mengkontaminasi kapang pada media PDA tersebut.
TPC merupakan salah satu teknik penghitungan koloni mikroba
yang paling sederhana. Kelebihan TPC ialah tidak membutuhkan
keahlian yang sangat baik serta hanya membutuhkan biaya yang
relative lebih murah. Adapun kekurangan TPC ialah bahwa metode ini
tidak dapat digunakan jika ingin mengetahui jumlah koloni secara
tepat, dan hanya bias digunakan untuk menghitung jumlah bakteri
yang bersifat aerob saja. Penghitungan TPC dapat dipengaruhi oleh
beberapa faktor, diantaranya adalah ketepatan penghitungan koloni
yang kurang teliti serta ketidakmampuan TPC dalam menghitung
jumlah koloni secara tepat (Curtis, 2004).

Teknik Pour Plate memiliki kelebihan yaitu mikroba yang tumbuh dapat
tersebar merata pada media agar. Metode ini memboroskan bahan da waktu,
namun tidak memerlukan ketrampilan yang terlalu tinggi. Sedangkan teknik

Streak Plate dapat menghemat bahan dan waktu, namun untuk dapat memperoleh
hasil yang baik, sangat diperlukan ketrampilan dari pengalaman. Oleh karena itu
kesabaran dan pengalaman sangat penting untuk dapat menghasilkan koloni murni
mikroba, khususnya bakteri, seperti yang diinginkan.
Teknik ini memiliki beberapa kendala, di antaranya kemungkinan
terjadinya

perubahan

genetik

melalui

seleksi

varian,

peluang

terjadinya kontaminasi, dan terjadi kekeliruan pemberian label. Teknik


agar slants adalah teknik penyimpanan jangka pendek yang paling
umum dilakukan, dimana koloni bakteri hasil isolasi dipindahkan ke
tabung reaksi yang telah berisi media agar dengan posisi miring.
Teknik ini sering juga disebut dengan teknik agar miring (Lim D, 2006).

Tujuh (7) isolat bakteri telah diisolasi dari berbagai limbah cair industri dan
diuji kemampuannya dalam menggunakan senyawa adiponitril. Diantara 7 isolat
bakteri tersebut, satu isolat mampu menggunakan adiponitril (suatu senyawa yang
terkandung pada pestisida) sebagai satu-satunya sumber energi, karbon dan
nitrogen untuk substrat pertumbuhannya. Isolat bakteri tersebut teridentifikasi
sebagai Pseudomonas sp. Pseudomonas sp. mampu tumbuh pada adiponitril pada
konsentrasi yang cukup tinggi (100 mM), dan pertumbuhan maksimum dicapai
pada konsentrasi adiponitril 40 mM. Pertumbuhan Pseudomonas sp pada 40 mM
adiponitril mempunyai waktu penggandaan (td) dan laju pertumbuhan spesifik ()
sebesar 2 jam dan 0,346 jam-1. Dapat dikatakan bahwa Pseudomonas sp.
Merupakan salah satu bakteri pendegradasi pestisida (Sulistinah, 2006).

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Teknik penyimpanan mikroorganisme terlebih dahulu dilakukan
Isolasi. Isolasi

mikroorganisme dilakukan dengan teknik dilusi atau

pengenceran, dimana hasil dari teknik ini adalah 6 sampel, yaitu 10-1 10-6

pengenceran. Pengenceran ini merupakan langkah awal untuk

mendapatkan

isolat jamur yang

baik.

Tahap

berikutnya adalah

menggunakan teknik Pour Plate. Teknik ini akan memisahkan koloni


murni dari populasi campuran mikroorganisme, dimana dilakukan
dengan mencampurkan media agar cair dengan kultur bakteri hasil
dilusi. Teknik selanjutnya adalah teknik Streak Plate atau lempeng
gores. Teknik ini dilakukan dengan cara menumbuhkan jamur di dalam
media dengan cara menggores permukaan media dengan jarum ose
yang telah diinokulasi dengan kultur jamur. Setelah inkubasi maka
akan mendapatkan koloni murni dari jamur yang diinginkan. Seluruh
metode ini harus dilakukan pada keadaan yang aseptis untuk
mencegah terjadi kontaminasi. Pemeliharaan bakteri dapat dilakukan
pada agar slants atau biasa disebut agar miring. Karakteristik
mikroorganisme dilakukan melalui pengamatan langsung dibawah
mikroskop.

Karakteristik bakteri terdiri atas

bentuk, konfigurasi,

elevasi, tekstur, konsistensi, ciri optik dan pigmentasi. Sedangkan


karakteristik jamur ditentukan miselium, bentuk, konfigurasi, garis
radial dan pigmentasi.
5.2 Saran
Hendaknya para praktikan sangat berhati-hati dalam melakukan
teknik isolasi dam pemurnian agar tidak terjadi kontaminasi. Selain itu,
para praktikan diharapkan memakai masker untuk meminimalisir
terjadinya kontaminasi.

DAFTAR PUSTAKA

Burrows, W., J.M. Moulder, and R.M. Lewert. 2004. Texbook of


Microbiology. W.B. Saunders Company, Philadelphia.

Curtis, L., A. Lieberman, M. Stark, W. Rea & M. Vetter. 2004. Isolation. http://
www.e-dukasi.net /. Diakses pada tanggal 17 April 2010
Lim,D. 2006. Microbiology, 4th Edition. McGrow-hill book, New york.
Pelczar, M. J., Chan, E.C.S. 2007. Elements of Microbiology. Mc Graw Hill
Book Company. New York.
Prescott, L.M. 2003. Microbiology 5th edition. Mc Graw Hill. New York
Rachdie. 2008. Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Mikroba.
http://rachdie

.blogsome.com/2006/10/14/faktor-yang-

mempengaruhi-pertumbuhan-mikroba/. Diakses pada tanggal 17


April 2010
Sulistinah, N. 2006. Mikroba Pentranformasi Adiponitril di Palembang. Jurnal

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia : 1-8


Suriawiria, U. 2005. Mikrobiologi Dasar. Papas Sinar Sinanti, Jakarta.
Tortora,G.

Y,

Berdell.R.F,

Christine,L.C.

2002.

Microbiology

an

Introduction. Benjamin Cummings, Addrson Wesley Long man Inc.


New York