Anda di halaman 1dari 11

REFLEKS SPINAL PADA KATAK

Oleh :
Nama
NIM
Rombongan
Kelompok
Asisten

: Rachmi Febriyanti
: B1J013009
:1
: IV
:

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN II

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2015

I.

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Hewan Vertebrata dan beberapa hewan Avertebrata memiliki suatu sistem
yang mengatur koordinasi keseluruhan gerak tubuhnya. Tugas itu dilaksanakan
oleh sistem yang disebut sistem saraf. Sistem ini sangat kompleks
perkembangannya pada hewan Vertebrata dalam mengatur fungsi alat alat
tubuh. Berdasarkan letaknya sistem saraf terbagi menjadi dua bagian yaitu
sistem saraf pusat dan sistem saraf perifer (tepi) (Gunawan, 2002).
Sistem saraf pusat memiliki peran dalam mengatur keseluruhan fungsi
alat tubuh serta dalam pengolahan berbagai respon dalam kehidupan serta efek
yang akan dilakukan diatur di sistem saraf pusat. Sistem saraf pusat terdiri dari
otak dan batang spinal. Hewan Vertebrata telah memiliki otak yang terdapat di
dalam tulang kepalanya dan berfungsi dengan baik dalam pengolahan rangsang
dan pemberian efek dari rangsang tersebut secar sistematis (Halwatiah, 2009).
Sistem saraf tepi atau sistem saraf perifer merupakan simpul simpul
saraf perpanjangan dari sistem saraf pusat yang berfungsi untuk menerima
respon secara langsung dan penyaluran respon tersebut ke sistem saraf pusat.
Sistem saraf tepi terdiri dari saraf kranial, saraf spinal, dan truncus simpaticus.
Sistem saraf tepi letaknya berlekatan dengan sistem gerak tubuh terutama otot
sehingga efek yang disalurkan dari respon yang diberikan langsung distimulus
oleh otot sehingga timbullah gerak. Gerak yang ditimbulkan dari stimulus yang
diberikan oleh sistem saraf terbagi menjadi dua bagian yaitu : gerak yang
disadari dan gerak refleks (Isnaeni, 2006).
Gerak yang disadari timbul dari rangkaian penyaluran respon dan
pengolahan di otak sehingga timbul ritme gerakan yang kita inginkan. Berbeda
dengan gerak yang disadari dalam gerak refleks biasanya hewan vertebrata
terutama katak melakukan gerak yang tidak seperti biasanya dilakukan karena
rangkaian rangsang yang ditimbulkan lebih ke arah cepat dan tanpa pengolahan
respon di otak. Refleks inilah yang sering disebut juga jawaban cepat terkait
reaksi yang ditimbulkan oleh rangsangan yang tidak biasa sehingga jalur
penyalurannya tanpa melalui otak hanya berakhir di medulla spinalis sehingga
terkadang penyebutan untuk gerak refleks ini ialah refleks spinal.

Refleks merupakan suatu respon organ efektor (otot ataupun kelenjar)


yang bersifat otomatis atau tanpa sadar terhadap suatu stimulus tertentu.
Refleks pada amphibia merupakan konsep dari suatu ritme yang melekat dalam
sistem syaraf pusat yang telah ditentukan selama perkembangan. Katak yang
telah pulih dari shock spinal (akibat dari operasi pemutusan), akan menarik
sebuah kakinya apabila diberi stimulasi. Apabila kaki yang terstimulasi itu
dicegah agar tidak melengkung, kaki yang lainnya akan bereaksi melengkung
(Frandson, 1993).
I.2

Tujuan
Untuk mengetahui terjadinya refleks pinal pada katak (Fejervarya cancrivora).

II.
II.1 Materi

MATERI DAN METODE

Bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini ialah Katak (Fejervarya
cancrivora), larutan asam sulfat 1%. Alat alat yang digunakan ialah jarum, pinset,
gunting, tempat penggatung katak, baki preparat.
II.2 Metode
Cara kerja yang digunakan dalam praktikum kali ini ialah:
1.
2.

Alat dan bahan yang akan digunakan disiapkan terlebih dahulu.


Otak katak dirusak menggunakan jarum penusuk dengan

3.

memasukkan ujung jarum sedalam 1 cm lalu dikorek-korekkan.


Katak diberi rangsangan stimulus berupa pembalikan tubuh, penarikan

cara

kaki depan, penarikan kaki belakang, dan pencelupan kaki katak ke dalam
4.

larutan asam sulfat 1 %.


Respon katak terhadap masingmasing perlakuan stimulus dilihat

5.

responnya.
Apabila katak masih dapat merespon maka hasilnya positif sementara jika

6.

tidak maka hasilnya negatif.


Setelah semua perlakuan tersebut dilakukan satu per satu kemudian
dilanjutkan dengan perusakan 1/4, 1/2, , dan perusakan total pada

7.

medulla spinalis.
Setiap perusakan lalu dilakukan empat macam perlakuan yang sama
seperti sebelumnya dan baru setelah itu dilanjutkan pada perusakan

8.
9.

berikutnya hingga perusakan total pada medulla spinalis.


Langkah ketiga dan keempat dilakukan pengulangan sebanyak tiga kali.
Hasil yang telah diperoleh dimasukkan ke dalam tabel pengamatan.

III.

HASIL DAN PEMBAHASAN

III.1 Hasil
Tabel Refleks Spinal pada Katak (Fejervarya cancrivora)
Otak

1/4

1/2

3/4

total

Pembalikan

tubuh
Penarikan kaki

+++

+++

++

+++

++

depan
Penarikan kaki
belakang
Pencelupan
H2SO4
Keterangan :
(+) ada reaksi (refleks)
(-) tidak ada reaksi (refleks)

III.2 Pembahasan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan diperoleh hasil bahwa saat
otak perusakan otak, pada perlakuan pembalikan tubuh katak dapat merespon
dengan membalikkan tubuh ke dalam posisi awal. Saat pemberian stimulus
dengan penarikan kaki depan katak juga merespon. Saat penarikan kaki belakang
katak merespon. Begitu pula saat kaki katak sebelah kiri dimasukkan ke dalam
larutan asam sulfat 1 % katak juga melakukan respon dengan mengangkat
kakinya ke atas karena larutan asam tersebut. Perlakuan lainnya diberikan dengan
merusak bagian medulla spinalis secara bertahap mulai dari katak tidak dapat
membalikan tubuhnya namun ketika dan tidak dapat menggerakkan kaki
depan dan kaki belakang bagian, dan medulla spinalis dirusak secara total atau
seluruhnya. Semua perlakuan yang diberikan ketika perusakan medulla spinalis
menunjukkan hasil terapat positif dan negatif. Hal ini membuktikan bahwa
hubungan antara alat-alat vestibular dan sumsum tulang belakang tidak lumpuh
total.
Hasil percobaan tidak sesuai dengan pernyataan Kimball (1988) yang
menyatakan bahwa rusaknya otak menyebabkan hubungan antara alat-alat
vastibuler dengan sumsum tulang belakang hilang. Menurut Prawirohartono
(1990), sumsum tulang belakang mempunyai fungsi sebagai penghubung impuls
dari dan ke otak dan memungkinkan jalan terpendek untuk gerakan refleks.
Neuron pada Xenopus memproduksi glycinergic, suatu penghambat negatif yang
mengurangi gerakan neuron motorik (Higashijima et al., 2004).
Gerak refleks adalah suatu respon organ efektor yang bersifat otomatis dan
tanpa sadar terhadap stimulus tertentu (Jungueira, 1982). Aksi reflek dalam
kenyataannya tidak memerlukan kontrol, hal ini dapat dibuktikan dengan
menggunakan katak yang otaknya telah dirusak (Frandson, 1992). Mekanisme
gerak reflek menurut Villee, et al., (1988) adalah sebagai berikut : reseptorreseptor dalam kulit dirangsang dan merupakan bagian dari syaraf spinal dan
menjulur ke dalam sumsum tulang belakang serta membawa impuls itu kembali
melalui syaraf spinal ke sekelompok otak ekstensor.
Saraf spinal semua vertebrata pada dasarnya sama, pada vertebrata yang
paling primitif akar ventral dan akar dorsal di perifer tidak bergabung, dan
beberapa neuron aferen keluar dari sumsum melalui akar dorsal. Saraf spinal

katak dapat menghasilkan respon pada bagian tubuh setelah perlakuan dengan
merusak rangsangan pada kulit. Namun, ditemukan bahwa neuron motorik yang
tersusun baik dapat juga ditimbulkan oleh mikrostimulan bagian lain dari saraf
spinal. Katak mempunyai 10 pasang saraf spinal yang berperan besar dalam
kontrol aktivitas tubuh. Bagian dorsal merupakan organ tubuh bagian luar dan
bagian ventral melayani organ tubuh bagian viseral (Giszter dan Mussa, 2004).
Refleks melarikan diri pada katak terlihat pada saat katak dijepit dengan
pinset, kaki depan maupun kaki belakangnya akan ditarik. Dengan demikian,
propioreseptor tidak hanya berperan untuk mengirimkan berita dari otot, tapi
juga berperan untuk mengirimkan impuls dan menyelenggarakan pengaturan
secara refleks (Bevelander, 1988).
Menurut Storer (1988), menambahkan bahwa mekanisme gerak refleks
katak menurutnya yaitu :
1.

Adanya reseptor rangsangan dari luar

2.

Induksi nervous impuls atau badan sel syaraf ke tulang belakang

3.

Ada sinapsis

4.

Terjadi penerimaan rangsangan oleh neuron motorik, terjadilah refleks


oleh effektor sebagai penggerak.
Sedangkan menurut Ganong (1995), menggambarkan mekanisme

gerak refleks sebagai berikut :


hubungan otot syaraf
Organ indera Neuron afferen sinap
Potensial aksi

otot
End plate (potensial
Ujung )

Potensial generator

potensial aksi

Potensial Pasca Sinaps


Eksitasi ( EPSP ) dan Potensial
Post Sinaps Inhibisi ( IPSP )
Sistem saraf adalah suatu sistem organ yang terdiri dari sel-sel saraf atau
neuron. Sistem saraf terdiri atas sistem saraf pusat yang meliputi otak dan
batang spinal dan sistem saraf perifer yang meliputi saraf cranial, saraf spinal,
dan trunkus simpatikus. Sistem saraf pusat berguna sebagai pusat koordinasi
untuk aktivitas yang harus dilaksanakan. Sistem saraf perifer berfungsi

memberikan informasi kepada sistem saraf pusat tentang adanya stimulus yang
menyebabkan otot dan kelenjar melakukan respon. Organisasi daerah kekuatan
dalam spinal jantung katak dapat berguna sebagai tehnik fungsional stimulasi
neuron muscular digunakan untuk untuk fungsi motorik stimulasi elektrik pada
interneuron spinal. Mikrostimulasi pada daerah kelabu pada jantung spinal
katak menghasilkan respon motorik yang dapat disebarkan pada daerah
kekuatan ( Michel et. al.,1996).
Faktor yang mempengaruhi terjadinya reflek spinal adalah masih
berfungsinya sumsum tulang belakang. Sumsum tulang belakang berperan
dalam pergerakan hewan yang otaknya dirusak (Ville et al., 1988). Percobaan
ini menunjukkan gerak setelah otak katak dirusak sehingga gerakan ini disebut
gerak reflek karena tanpa kendali otak. Mahardono (1980) menyatakan bahwa
sumsum tulang belakang terdiri dari 10 benang syaraf. Tiga yang pertama
menuju ke kepala dan anggota gerak depan. Benang syaraf yang lain menuju
badan dan anggota gerak belakang. Benang syaraf yang terakhir bersatu di
paha, membuat benang syaraf yang besar. Benang syaraf ini disebut syaraf
statik yang diperlukan dalam percobaan gerak reflek.
Faktor-faktor yang mempengaruhi reflek spinal antara lain :
1. Ada tidaknya rangsangan/stimulus.
Rangsangan dari luar contohnya adalah derivat dari temperatur, kelembaban,
sinar, tekanan, zat-zat dan sebagainya.rangsangan dari dalam yaitu dari
makanan, oksigen, air dan lainnya. Beberapa rangsangan langsung bereaksi pada
sel atau jaringan tetapi kebanyakan hewan-hewan mempunyai kepekaan yang
spesial. Pada reflek spinal, somato sensori dimasukkan dalam urat spinal sampai
bagian dorsal. Sensori yang masuk dari kumpulan reseptor yang berbeda
memberikan pengaruh hubungan pada urat spinal sehingga terjadi reflek spinal
( Richard and Gordon, 1989 ).
2.

Berfungsinya sumsum tulang belakang.


Sumsum tulang belakang mempunyai dua fungsi penting yaitu untuk mengatur
impuls dari dan ke otak dan sebagai pusat reflek, dengan adanya sumsum tulang
belakang pasangan syaraf spinal dan kranial menghubungkan tiap reseptor dan
effektor dalam tubuh sampai terjadi respon. Apabila sumsum tulang belakang
telah rusak total maka tidak ada lagi efektor yang menunjukkan respon terhadap
stimulus/rangsang (Ville et al, 1988).

3.

adanya reflek spinal katak berupa respon dengan menarik kaki


belakang saat perusakan sumsum tulang belakang disebabkan karena masih
terjadi interkoneksi dari satu sisi korda spinalis ke sisi yang lain (Subowo,
1992).
Refleks merupakan respon efektor yang bersifat tanpa sadar terhadap suatu
stimulus tertentu. Refleks melibatkan bagian otak dan sistem saraf otonom, dan
refleks yang paling sederhana adalah refleks spinal. Gerak refleks merupakan
aktivitas yang cepat, otomatis dan tidak disadari (Fradson, 1992). Susunan saraf
pusat merupakan pusat kegiatan mental dan mengatur fungsi ala-alat tubuh
manusia. Di dalam otak dijumpai bagian-bagian yang menjadi pusat pergerakan,
perasaan penglihatan, pendengaran dan fungsi-fungsi lain. Obat yang bekerja
pada susunan saraf pusat digunakan juga untuk meningkatkan rasa nyaman
(Arifin,2010).
Karmana (1984) berpendapat bahwa mekanisme gerak refleks adalah
sebagai berikut: reseptor saraf sensoris saraf konektor saraf motoris
efektor atau reseptor stimulus neuron affektor saraf tulang belakang
neuron effektor efektor refleks.
Gerakan refleks melarikan diri juga terlihat pada saat kaki katak di
masukkan ke dalam asam sulfat (H2SO4), kemudian terjadi juga refleks
menghapuskan asam sulfat yang menempel di kaki. Hal ini terjadi karena
rangsangan dari larutan asam sulfat yang terasa membakar kulit dan juga karena
adanya tonus otot reflekstoris. Frandson (1992) menyatakan bahwa setelah pulih
dari shock, spinal hewan akan menarik sebuah kakinya jika diberi stimulasi
rangsangan listrik atau asam lemah. Terjadinya refleks melarikan diri merupakan
kontraksi nervi spinalis dalam sistem syaraf perifer yang masih aktif bekerja.
Refleks merupakan sebagian kecil dari perilaku hewan tingkat tinggi, tetapi
memegang peranan penting dalam perilaku hewan tingkat tinggi. Refleks
biasanya menghasilkan respon, jika bagian distal sumsum tulang belakang
memiliki bagian yang lengkap dan mengisolasi ke bagian pusat yang lebih
tinggi. Tetapi kekuatan dan jangka waktu menunjukan keadaan sifat involuntari
yang meningkat bersama dengan waktu (Madhusoodanan, 2007).

IV.

KESIMPULAN

4.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat diambil beberapa kesimpulan
sebagai berikut :
1.

Perusakan otak masih memungkinkan katak bereaksi.

2.

Perusakan sumsum tulang belakang pada katak menyebabkan koordinasi


sistem syaraf menjadi mati sehingga tidak terjadi reflek secara bertahap sesuai
kedalaman perusakanya.

3.

Pencelupan kaki katak pada H2S04 1% bertujuan untuk mempengaruhi respon


yang nyata dari kaki katak karena H2S04 1% bersifat panas.

4.

Perusakan total menyebabkan katak tidak dapat merespon terhadap stimulus


yang diberikan.

4.2 Saran
Praktikan sebelumnya lebih dahulu diberi tahu bagian medulla spinalis karena
penusukan jarum preparat yang salah bisa menembus ke organ dalam lain dan katak
dapat mudah mati.

DAFTAR PUSTAKA
Arifin, H ; Riyono H.; Elka. 2010. Efek Ekstrak Etanol Biji Pinang Muda (Areca
catechu L.) terhadap Aktifitas Sistem Saraf Pusat Mencit Putih. Fakultas
Farmasi.Universitas Andalas Padang :1-5.
Bevelander, G. 1988. Dasar-Dasar Histologi. Erlangga, Jakarta.
Frandson, R. D. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak. UGM Press, Yogyakarta.
Ganong, W.F.1995. Fisiologi kedokteran. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Giszter, Simon F and Mussa, F. 2004. Modular Premotor Drives and Unit Bursts as
Primitives for Frog Motor Behaviors. http :// web. Mit. Edu/ GCS/gizzi lab/
publications/giszter.
Jungueiro, L.C. 1982. Histologi Dasar. Penerbit Buku Kedokteran ECG, Yogyakarta.
Kimball, J. W. 1988. Biologi II. Erlangga, Jakarta.
Madhusoodanan, M. G. P. 2007. Continence Issues in the Patient with Neurotrauma.
Senior Consultant Surgery, Armed Forces Medical Services M Block,
Ministry of Defence, DHQ, New Delhi. Indian Journal of Neurotrauma
(IJNT) 2007, Vol. 4(2): 75-78.
Mahardono, A.1980. Anatomi Katak. PT Internusa, Jakarta.
Michel A. Lemay; Neville Hogan; and Emilio Bizzi. 1996. Recruitment Modulation
of Force Fields Organized in the Frog's Spinal Cord. Departments of
Mechanical Engineering and Brain & Cognitive Sciences , Massachusetts
Institute ofTechnology, Cambridge, MA 02 139.
Richard, W.H and Gordon. 1989. Animal Physiology. Harper Collins Publisher, New
York.
Storer,T.I, Walker, W.F and Barnes,R.D.1988. Zoologi Umum. Erlangga,Jakarta.
Villee, C.A,W.F. Walker and R.D. Barnes. 1988. General Zoology. W.B. Saunders
Company, Philadelphia.