Anda di halaman 1dari 10

BAB II

TINJAUAN TEORI
TUBERCULOSIS PARU
A. Definisi
Tuberculosis merupakan penyakit infeksi bakteri menahun pada
paru yang disebabkan oleh Mycobakterium tuberculosis, yaitu bakteri
tahan

asam

yang

ditularkan

melalui

udara

yang

ditandai

dengan

pembentukan granuloma pada jaringan yang terinfeksi.

Mycobacterium tuberculosis merupakan kuman aerob yang dapat


hidup terutama di paru atau berbagai organ tubuh lainnya yang bertekanan
parsial tinggi. Penyakit tuberculosis ini biasanya menyerang paru tetapi
dapat menyebar ke hampir seluruh bagian tubuh termasuk meninges, ginjal,
tulang dan nodus limfe. Infeksi awal biasanya terjadi 2-10 minggu
setelah virus masuk ke dalam tubuh. Individu kemudian dapat mengalami
penyakit aktif karena gangguan atau ketidakefektifan respon imun.
B. Tanda dan gejala
1. Tanda
a.

Penurunan berat badan

b. Anoreksia
c.

Dispneu
d. Sputum purulen/hijau, mukoid/kuning

2. Gejala
a.

Demam
Biasanya

menyerupai

demam

influenza.

Keadaan

ini

sangat

dipengaruhi oleh daya tahan tubuh penderita dengan berat-ringannya


infeksi kuman TBC yang masuk.
b. Batuk
Terjadi karena adanya infeksi pada bronkus. Sifat batuk dimulai
dari batuk kering kemudian setelah timbul peradangan menjadi batuk
produktif (menghasilkan sputum). Pada keadaan lanjut berupa batuk
darah karena terdapat pembuluh darah yang pecah. Kebanyakan batuk

darah pada ulkus dinding bronkus.


c.

Sesak Nafas
Sesak nafas akan ditemukan pada penyakit yang sudah lanjut dimana
infiltrasinya sudah setengah bagian paru.

d. Nyeri Dada
Timbul bila infiltrasi radang sudah sampai ke pleura (menimbulkan
pleuritis)
e.

Malaise
Dapat berupa anoreksia, tidak ada nafsu makan, berat badan turun,
sakit kepala, meriang, nyeri otot dan keringat malam.

C. Etiologi
TB paru disebabkan oleh Mycobakterium tuberculosis yang
merupakan batang aerobic tahan asam yang tumbuh lambat dan sensitive
terhadap panas dan sinar UV. Bakteri yang jarang sebagai penyebab,
tetapi pernah terjadi adalah M. Bovis dan M. Avium.
Penyebabnya adalah kuman Mycobacterium tuberculosa. Sejenis kuman
yang berbentuk batang dengan ukuran panjang 1-4 /mm dan tebal 0,3-0,6 /mm. Sebagian
besar kuman terdiri atas asam lemak (lipid). Lipid ini adalah yang membuat kuman lebih
tahan terhadap gangguan kimia dan fisik. Kuman ini tahan hidup pada udara kering
maupun dalam keadaan dingin (dapat bertahan-tahan dalam lemari es).
D. Pathofisiologi
Pada tuberculosis, basil tuberculosis menyebabkan suatu
reaksi jaringan yang aneh di dalam paru-paru meliputi : penyerbuan
daerah terinfeksi oleh makrofag, pembentukan dinding di sekitar lesi
oleh jaringan fibrosa untuk membentuk apa yang disebut dengan tuberkel.
Banyaknya area fibrosis menyebabkan meningkatnya usaha otot pernafasan
untuk ventilasi paru dan oleh karena itu menurunkan kapasitas vital,
berkurangnya luas total permukaan membrane respirasi yang menyebabkan
penurunan kapasitas difusi paru secara progresif dan rasio ventilasiperfusi yang abnormal di dalam paru-paru dapat mengurangi oksigenasi
darah.
Penularan penyakit ini disebabkan karena kontak dengan dahak atau menghirup
titik-titik air dari bersin atau batuk dari orang yang terinfeksi kuman tuberculosis,
anak-anak sering mendapatkan penularan dari orang dewasa di sekitar rumah maupun
saat berada di fasilitas umum seperti kendaraan umum, rumah sakit dan dari lingkungan
sekitar rumah. Oleh sebab inilah masyarakat di Indonesia perlu sadar bila dirinya

terdiagnosis tuberculosis maka hati hati saat berinteraksi dengan orang lain agar tidak
batuk sembarangan , tidak membuang ludah sembarangan dan sangat dianjurkan untuk
bersedia memakai masker atau setidaknya sapu tangan atau tissue.
E. Pathway

http://dwaney.files.wordpress.com/2011/02/pathway-tbc.jpg
F. Penatalaksanaan dan Pengobatan
1. Aktivitas Bakteriosid
Disini obat bersifat membunuh kuman-kuman yang sedang tumbuh (metabolismenya
masih aktif). Aktivitas bakteriosid biasanya diukur dengan kecepataan obat tersebut
membunuh atau melenyapkan kuman sehingga pada pembiakan akan didapatkan hasil
yang negatif (2 bulan dari permulaan pengobatan).
2. Aktivitas Sterilisasi
Disini obat bersifat membunuh kuman-kuman yang pertumbuhannya lambat
(metabolismenya kurang aktif). Aktivitas sterilisasi diukur dari angka kekambuhan
setelah pengobatan dihentikan. Dalam pengobatan penyakit Tuberculosis dahulu
hanya dipakai satu macam obat saja. Kenyataan dengan pemakaian obat tunggal ini
banyak terjadi resistensi. Untuk mencegah terjadinya resistensi ini, terapi tuberculosis
dilakukan dengan memakai perpaduan obat, sedikitnya diberikan dua macam obat
yang bersifat bakterisid. Dengan memakai perpaduan obat ini, kemungkinan resistensi
awal dapat diabaikan karena jarang ditemukan resistensi terhadap dua macam obat
atau lebih serta pola resistensi yang terbanyak ditemukan ialah INH (Isoniazid).
3. Jenis-jenis obat yang dipakai:
a. Obat-obat primer:
v . Isoniazid (INH)
v. Rifampicin
v. Pirazinamid
v.Streptomisin
v. Etambutol
b. Obat-obat skunder

v. Etionamid
v. Protionamid
v. Sikloserin
v. Kanamisin
v. P.A.S.A (Para Amino Salicylic Acid)
v. Tiasetazon
v. Viomisin
v. Kapreomisin
Obat

INH

Dosis harian
(mg/kgbb/hari)
5-15 (maks 300
mg)

Dosis
2x/minggu
(mg/kgbb/hari)

Dosis 3x/minggu
(mg/kgbb/hari)

15-40
(maks. 900 mg)

15- 40 (maks. 900 mg)


15-20 (maks. 600 mg)

Rifampisin

10-20
(maks. 600 mg)

10-20
(maks. 600 mg)

Pirazinamid

15-40 (maks. 2 g)

50-70 (maks. 4 g)

15-30 (maks. 3 g)

Etambutol

15-25 (maks. 2,5 g)

50 (maks. 2,5 g)

15-25 (maks. 2,5 g)

Streptomisin

15-40 (maks. 1 g)

25-40 (maks. 1,5


g)

25-40 (maks. 1,5 g)


http://www.scribd.com

G. Diagnosa keperawatan beserta aplikasi tujuan dan rencana tindakan


1. Resiko tinggi infeksi ( penyebaran / aktivasi ulang ) B/D
a. Pertahanan primer tak adekuat , penurunan kerja silia
b. Kerusakan jaringan
c. Penurunan ketahanan
d. Malnutrisi
e. Terpapar lngkungan
f. Kurang pengetahuan untuk menghindari pemaparan patogen
Kriteria hasil :
v. Pasien menyatakan pemahaman penyebab / faktor resiko individu
v. Mengidentifikasi untuk mencegah / menurunkan resiko infeksi
v. Menunjukkan teknik , perubahan pola hidup untuk peningkatan lingkungan
yang aman
Intervensi :
v. Kaji patologi penyakit dan potensial penyebaran infeksi

v. Identifikasi orang lain yang beresiko


v. Anjurkan pasien untuk batuk /bersin dan mengeluarkan pada tissue dan
menghindari meludah
v. Kaji tindakan kontrol infeksi sementara
v. Awasi suhu sesuai indikasi
v. Identifikasi faktor resiko individu terhadap pengaktifan berulang
v. Tekankan pentingnya tidak menghentikan terapi obat
v. Kaji pentingnya mengikuti dan kultur ulang secara periodik terhadap sputum
v. Dorong memilih makanan seimbang
v. Kolaborasi pemberian antibiotik
v. Laporkan ke departemen kesehatan lokal
2. Bersihan jalan nafas tak efektif B/D
a. Adanya secret
b. Kelemahan , upaya batuk buruk
c. Edema tracheal
Kriteria hasil :
v. Pasien menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan adekuat
Intervensi :
v. Kaji fungsi pernafasan , kecepatan , irama dan kedalaman serta penggunaan
otot asesoris
v. Catat kemampuan unttuk mengeluarkan mukosa / batuk efekttif
v. Beri posisi semi/fowler
v. Bersihkan sekret dari mulut dan trakhea
v. Pertahankan masukan cairan sedikitnya 2500 ml per hari
v. Kolaboras pemberian oksigen dan obat obatan sesuai dengan indikasi

3. Resiko tinggi / gangguan pertukaran gas B/D


a. Penurunan permukaan efektif paru , atelektasis
b. Kerusakan membran alveolar kapiler
c. Sekret kental , tebal
d. Edema bronchial
Kriteria hasil :
v Pasien menunjukkan perbaikan venilasi dan oksigenasi jaringan adekuat
dengan GDA dalam rentang normal dan bebas gejala distress pernapasan.
Intervensi :

v. Kaji Dipsnea,Takhipnea, menurunnya bunyi nafas ,peningkatan upaya


pernafasan , terbatasnya ekspansi dinding dada , dan kelemahan
v. Evaluasi perubahan tingkat kesadaran , catat sianosis dan atau perubahan pada
warna kulit
v. Anjurkan bernafas bibr selama ekshalasi
v. Tingkatkan tirah baring / batasi aktivitas dan atau Bantu aktivitas perawatan diri
sesuai kebutuhan
v. Kolaborasi oksigen
4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan B/D
a. Kelemahan
b. Sering batuk / produksi sputum
c. Anorexia
d. Ketidakcukupan sumber keuangan
Kriteria hasil :
v. Menunjukkan peningkatan BB
v. menunjukkan perubahan perilaku / pola hidup untuk meningkatkan /
mempertahankan BB yang tepat
Intervensi :
v. Catat status nutrisi pasien pada penerimaan , catat turgor kulit , BB, Integrtas
mukosa oral , kemampuan menelan , riwayat mual / muntah atau diare
v. Pastikan pola diet biasa pasien
v. Awasi masukan dan pengeluaran dan BB secara periodik
v. Selidiki anorexia , mual , muntah dan catat kemungkinan hhubungan dengan
obat
v. Dorong dan berikan periode stirahat sering.
v. Berikan perwatan mulut sebelum dan sesudah tindakan pernafasan.
v. Dorong makan sedikit dan sering dengan makanan tinggi protein dan
karbohodrat.
v. Dorong orang terdekat untuk membawa makanan dari rumah.
v. Kolaborasi ahli diet untuk menentukan komposisi diet.
v Konsul dengan terapi pernafasan untuk jadual pengobatan 1-2 jam sebelum
dan sesudah makan.
v Awasi pemeriksaan laboratorium
v Kolaborasi antipiretik
5. Kurang pengetahuan mengenai kondisi, aturan tindakan, dan pencegahan B/D:
a. Keterbatasan kognitif
b. Tak akurat/lengkap informasi yang ada salah interpretasi informasi
Kriteria hasil :

v. Menyatakan pemahaman kondisi / proses penyakit dan pengobatan


serta melakukan perubahan pola hidupdan berpartispasi dalam
program pengobatan.
Intervensi :
v. Kaji kemampuan psen untuk belajar.
v. Identifikasi gejala yang harus dilaporkan ke perawat.
v. Tekankan pentingnya mempertahankan proten tinggi dan det karbohidrat dan
pemasukan cairan adekuat.
v. Berikan interuksi dan informasi tertulis khusus pada pasien untuk rujukan.
v. Jelaskan dosis obat, frekuensi pemberian, kerja yang diharapkan dan alasan
pengobatan lama.
v. Kaji potensial efek samping pengobatan dan pemecahan masalah.
v. Tekankan kebutuhan untuk tidak minum alkohol sementara minum INH.
v. Rujuk untuk pemeriksaan mata setelah memula dan kemudian tiap bulan
selama minum etambutol.
v. Dorongan pasien atau orang terdekat untuk menyatakan takut / masalah.
Jawab pertanyaan dengan benar.
v. Dorong untuk tidak merokok.
v. Kaji bagaimana TB ditularkan dan bahaya reaktivasi.

BAB III
PENUTUP
TUBERCULOSIS PARU
A. Kesimpulan
Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan antara lain:
1.
Tuberculosis merupakan penyakit infeksi bakteri menahun pada paru yang
disebabkan oleh Mycobakterium tuberculosis, yaitu bakteri tahan asam yang
ditularkan melalui udara yang ditandai dengan pembentukan granuloma pada jaringan
yang terinfeksi.
2. Mycobacterium tuberculosis merupakan kuman aerob yang dapat
hidup terutama di paru / berbagai organ tubuh lainnya yang bertekanan
parsial tinggi. Penyakit tuberculosis ini biasanya menyerang paru
tetapi

dapat menyebar

ke hampir seluruh bagian tubuh termasuk

meninges, ginjal, tulang, nodus limfe. Infeksi awal biasanya terjadi


2-10 minggu setelah pemajanan. Individu kemudian dapat mengalami
penyakit aktif karena gangguan atau ketidakefektifan respon imun.
3.

Penularan penyakit ini karena kontak dengan dahak atau menghirup titik-

titik air dari bersin atau batuk dari orang yang terinfeksi kuman tuberculosis, anak
anak sering mendapatkan penularan dari orang dewasa di sekitar rumah maupun saat
berada di fasilitas umum seperti kendaraan umum, rumah sakit dan dari lingkungan
sekitar rumah. Oleh sebab ini masyarakat di Indonesia perlu sadar bila dirinya
terdiagnosis tuberculosis maka hati hati saat berinteraksi dengan orang lain agar tidak
batuk sembarangan , tidak membuang ludah sembarangan dan sangat dianjurkan
untuk bersedia memakai masker atau setidaknya sapu tangan atau tissue.
4. Tanda dan gejala yang specific pada klien TBC anatara lain:
a.

Penurunan barat badan

b. Anoreksia
c.

Dispneu

d. Sputum prulen/hijau, mukoid kuning


e.

Demam

f.

Batuk

g. Nyeri dada
h. Malaise
2.

Obat obatan untuk klien TBC meliputi:


Obat

Dosis harian
(mg/kgbb/hari)
5-15 (maks 300
mg)

INH

Dosis
2x/minggu
(mg/kgbb/hari)

Dosis 3x/minggu
(mg/kgbb/hari)

15-40
(maks. 900 mg)

15- 40 (maks. 900 mg)


15-20 (maks. 600 mg)

Rifampisin

10-20
(maks. 600 mg)

10-20
(maks. 600 mg)

Pirazinamid

15-40 (maks. 2 g)

50-70 (maks. 4 g)

15-30 (maks. 3 g)

Etambutol

15-25 (maks. 2,5 g)

50 (maks. 2,5 g)

15-25 (maks. 2,5 g)

Streptomisin

15-40 (maks. 1 g)

25-40 (maks. 1,5


g)

25-40 (maks. 1,5 g)

B. Saran
1. Bagi mahasiswa
a.
Persiapan diri sebaik mungkin sebelum melaksanakan tindakan asuhan
keperawatan pada klien TBC, karena penyakit ini bersifat menular.
b.

Hendakalah jangan segan untuk bertanya kepada dosen instruktur tentang hal-

hal yang belum jelas tentang penyakit TBC.


c.
Bagi mahasiswa di harapkan bisa melaksanakan tindakan asuhan keperawatan
sesuai dengan prosedur yang ada.
2. Bagi kampus/Dosen pembimbing
a.

Mohon bimbingannya supaya kami lebih memahami tentang konsep penyakit

TBC.
b. Kami harapkan tidak bosan untuk memperhatikan dan mendengarkan
kosultasi dari mahasiswa.
c.

Harapkan kehadirannya selalu saat mahasiswa presentasi kasus di RS.

3. Bagi rumah sakit


a.

Lebih tingkatkan lagi mutu pelayanan pada klien.

b. Menertibkan pengunjung yang ingin menjenguk pasien


c. Jika pengunjung bnayak maka untuk penertiban bias secara bergantian
agar tidak menggangu istirahat pasien

DAFTAR PUSTAKA
Doengoes Marilynn E. Rencana Asuhan Keperawatan. EGC. Jakarta. 2000.
Johnson Marion. Maas Maridean. Noorhead Sue. 1997. Nursing Outcomes
Classification (NOC). United States of America. EGC.
Lynda Juall Carpenito. Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan. edisi
2. EGC. Jakarta. 1999
Mansjoer dkk. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. FK UI. Jakarta.1999
Mc Closkey Joanne C. Bulecheck Gloria M. 1997. Nursing Intervention
Classification (NIC). United States of America. EGC.
Price,Sylvia Anderson. Patofisologi : Konsep Klinis Proses Proses penyakit.
Alih bahasa Peter Anugrah. edisi 4. Jakarta. EGC. 1999

Santosa Budi. 2005. Diagnosa Keperawatan Nanda 2005 2006. Jakarta:


Prima Medika.
Tucker dkk. Standart Perawatan Pasien. EGC. Jakarta. 1998
Tuberculosis
paru
(TBC):
http://www.scribd.com/doc/20358065/
TUBERCULOSIS-PARU . di akses di situs internet pada tanggal 8 desember
2011
Tuberculosis
paru
(TBC):
http://zumrohhasanah.wordpress.com
/
2010/12/31/makalah-tb-paru/. di akses di situs internet pada tanggal 8
desember 2011