Anda di halaman 1dari 24

BAGIAN KANDUNGAN DAN KEBIDANAN

LAPORAN

KASUS
FAKULTAS KEDOKTERAN

FEBRUARI 2015

UNIVERSITAS HALU OLEO

G1P0A0 GRAVID PRETERM (35 MINGGU), PREEKLAMSIA


BERAT, POLIHIDRAMNION

OLEH:
MUHAMMAD RIZAL ARDIANSYAH
K1A1 09 032

PEMBIMBING
dr. INDRA MAGDA TIARA, M.Kes, Sp. OG

DIBUAT DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN ILMU KANDUNGAN DAN KEBIDANAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2015

BAB I
LAPORAN KASUS
A.

Identitas pasien
Nama

: Ny. HS

Usia

: 25 tahun

Alamat

: Konda

Pekerjaan

: Ibu rumah tangga

Pendidikan : SMA
Suku

: Tolaki

Agama

: Islam

Identitas suami
Nama

: Tn L

Usia

: 26 tahun

Alamat

: Konda

Pekerjaan

: Wiraswasta

Pendidikan : SMA

B.

Suku

: Tolaki

Agama

: Islam

Anamnesis

Keluhan Utama
Tekanan darah tinggi sejak kurang lebih 3 bulan yang lalu
Riwayat penyakit sekarang
Pasien masuk rumah sakit atas rujukan dokter praktek
dengan hamil anak pertama, usia kehamilan 35 minggu
disertai

preeklamasi

polihidramnion

berat

(proteinuri

+++)

dan

Pasien mengeluh tekanan darahnya tinggi

yang dialami sejak 3 bulan yang lalu. Pasien tidak


merasakan keluhan seperti sakit kepala, penglihatan kabur ,
nyeri ulu hati maupun kejang selama hamil. Pasien hanya
mengeluh bengkak pada kedua tungkai. Pasien juga merasa
agak sesak. Riwayat ANC di puskesmas 5 kali selama hamil
dan sudah pernah disuntik TT 2x. Riwayat USG 1x didokter
praktek. Riwayat HPHT 4 Mei 2014.
Riwayat penyakit dahulu
Asma (-), Kelainan jantung (-), kelainan darah (-), riwayat
penyakit menular seksual (-), riwayat menjalani operasi (-)
Riwayat penyakit keluarga
Riwayat penyakit yang sama dalam keluarga (-)
Riwayat menstruasi

Menarche

: 13 tahun

Siklus haid
: 28 hari
Lama haid
: 4-5 hari
Jumlah darah haid : 2 kali ganti pembalut
Nyeri haid
: tidak ada

Riwayat pernikahan dan perkawinan


Pasien menikah

saat usia 23

tahun (2012) merupakan

pernikahan pertama kali dan hamil anak pertama. Riwayat


penggunaan obat-obatan dan kontrasepsi (-)
C.

Pemeriksaan fisik
Keadaan umum : Baik
Tanda vital

Tekanan darah
Frekuensi nadi
Frekuensi nafas
Suhu
:

:
190/120 mmHg
:
88 x/menit
:
18 x/menit
0
36,8 C

Status generalisata

Kepala
Mata
Telinga
Hidung
Tenggorok
Leher

:
:
:
:
:
:

normosefal
konjungtiva anemis (-/-), sclera ikterik (-/-)
tidak ditemukan kelainan
tidak ditemukan kelainan
tidak ditemukan kelainan
pembesaran kelenjar getah bening (-),

pembesaran tiroid (-)


Thoraks
:
o Paru

Inspeksi

: Bentuk normal, gerak simetris,retraksi intercostal

space(-) , retraksi otot bantu napas supraclavicular (-), ekspirasi


memanjang (-)

Palpasi

: Pelebaran ICS(-),Fremitusvokalkanan=kiri,

Perkusi

: sonor kiri dan kanan

Auskultasi : Suara nafas vesikuler,ronki(-/-),wheezing(-/-)

Jantung

Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat

Palpasi

: Ictus cordis tidak teraba

Perkusi

: Redup,

batas

jantung

di

ICS

III

parasternalis dextra, ICS V midclavicularis sinistra

Auskultasi : S1S2 tunggal reguler,bising jantung(-)


Ekstremitas :
o Superior : edema (-/-), akral hangat
o Inferior : edema (+/+), akral hangat, varises (-/-)

Status Obstetri

Pemeriksaan luar
o Tinggi fundus

jari

dibawah

processus

xyphoideus
o Teraba punggung disebelah kiri dan ekstremitas

disebelah kanan
o Taksiran berat janin : 28x94 = 2632 gram
o Denyut jantung janin :146 x/ menit
o Bagian terbawah : kepala
o Perlimaan : 5/5
Pemeriksaan dalam vagina
o V/V
: Tidak ada kelainan
4

o
o
o
o
o
o
o
D.

Porsio
Pembukaan
Ketuban
Presentasi
Hodge
Kesan Panggul
Pelepasan

:
:
:
:
:
:
:

Teraba lunak, tebal


(-)
(-)
(-)
(-)
Cukup
Lendir

Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium 06/1/2015, hasil pemeriksaan Urin lengkap
1.

2.

Kimia
glukosa :
bilirubin :
keton
:
BJ
:
Darah/HB :
PH
:
Protein
:
Urobilin :
Nitrit
:
Leukosit :
Mikro
Leukosit :
Eritrosit :
Epitel sel :
Kristal
:
Bakteri/MO

(-)
(-)
(-)
1.030
(-)
6
+++
(-)
(-)
+
+/LP
2-6/LP
++/LP
(-)
: (-)

USG Obstetri

Janin tunggal letak kepala, plasenta baik, usia kehamilan 35


minggu berat janin 2300 gram dengan polihidramnion.
E.

Diagnosis kerja sementara


G1P0A0 Gravid preterm 35 minggu + Preeklamsi Berat +
Polihidramnion

F.

G.

Penatalaksanaan
IVFD RL 500 cc + MgSO4 40%, 28 tpm selama 24 jam
Inj. MgSO4 40% 10 cc/IV
Inj. Dexametason 1 amp/ 6 jam/IV
Dopamet ( methyldopa ) 2x250 mg
Follow up
Tanggal 07/1/2015
S : Tidak ada keluhan
O : Composmentis, HR: 84x /menit, suhu : 36,8 0C BP:160/100mmHg,
RR:18x/m, DJJ : 140x/menit
A : G1P0A0 Gravid Preterm 35 Minggu + Preeklamsi Berat +
Polihidramnion
P : Pasang kateter tetap
IVFD RL + MgSO4 40% 15 cc

Inj. MgSO4 40% 10 cc


Inj. Dexametason 1 Amp/6 jam/IV
Tanggal 08/1/2015
S : Tidak ada keluhan
O : Composmentis,HR: 80x/m, S: 37,00C, BP:140/90 mmHg, RR:18x/m ,
DJJ :142x/menit
A : G1P0A0 Gravid Preterm 35 Minggu + Preeklamsi Berat +
Polihidramnion
P : IVFD RL 28 tpm
Nifedipin tablet 3x10 mg
Tanggal 09/1/2015
S : Tidak ada keluhan
O : Composmentis, HR 88x/menit, S: 37,00C, BP: 140/80 mmHg, RR:
19x/m , DJJ :136x/menit
LENGKAP
Makro
Warna
Jernih/Keruh
Kimia
Glukosa
Bilirubin
Keton
BJ
Blood
pH
Protein
Urobilin

Nilai

Rujukan

Kuning
Jernih

Kuning Muda
Jernih

Negatif
Negatif
Negatif
1,020
Moderate
7,0
++
0,2

Negatif
Negatif
Negatif
1,008-1,030
Negatif
6,0
Negatif
Negatif

Nitrit
Leukosit
Sedimen
Leukosit
Erytrostit
Epitel sel
Kristal fosfat
Bakteri/MO
Granula Halus

Positif
Trace

Negatif
Negatif

70-100
100-150
100-150
Negatif
++
++

0-2
0-2
0-2
0-2
0-2

A : G1P0A0 Gravid Preterm 35 Minggu + Preeklamsi Berat +


Polihidramnion
P : Nifedipin tabler 3x10 mg
Cefadroxil 3x500 mg
Tanggal 10/1/2015
S : Tidak ada keluhan
O : Composmentis, HR 72x/menit, S: 36,60C, BP: 140/100 mmHg, RR:
20x/m , DJJ :132x/menit
A : G1P0A0 Gravid Preterm 35 Minggu + Preeklamsi Berat +
Polihidramnion
P : Nifedipin tablet 3x10 mg
Cefadroxil 3x500 mg
Tanggal 11/1/2015
S : Tidak ada keluhan
O : Composmentis, HR 84x/menit, S: 36,80C, BP: 140/80 mmHg, RR:
20x/m , DJJ :136x/menit

A : G1P0A0 Gravid Preterm 35 Minggu + Preeklamsi Berat +


Polihidramnion
P : Nifedipin tablet 3x10 mg
Cefadroxil 3x500 mg
Tanggal 12/1/2015
S : Tidak ada keluhan
O : Composmentis, HR 82x/menit, S: 36,90C, BP: 140/80 mmHg,
RR:19x/m , DJJ :136x/menit
A : G1P0A0 Gravid Preterm 35 Minggu + Preeklamsi Berat +
Polihidramnion
P : Nifedipin tablet 3x1
Cefadroxil 3x500 mg

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. POLIHIDRAMNION
1. Definisi
Polihidramnion (hidramnion) adalah kondisi medis pada kehamilan berupa
kelebihan cairan ketuban dalam kantung ketuban. Ini merupakan temuan fisiologis
pada sekitar 1% kehamilan trimester ke-3.1
Epidemiologi
Di Amerika Serikat, polihidramnion terjadi pada 1% kehamilan. Chamberlin
menggunakan USG untuk mengevaluasi rerata mortalitas perinatal pada 7562
pasien dengan kehmailan risiko tinggi. Rerata mortalitas pasien dengan volume
cairan amnion normal sekitar 1,97 kematian per seribu pasien. Rerata mortalitas
perinatal

meningkat

hingga

4,12

kematian

perseribu

pasien

dengan

polihidramnion.2
2. Etiologi
Penyebab yang mendasari volume cairan amnion yang
banyak belum sepenuhnya dimengerti. Berbagai penyebabnya,
adalah :

Kehamilan kembar

Fetal anomaly, termasuk atresia esophagus, agenesis

tracheal, atresia duodenal, dan atresia intestinal lainnya


Kelainan sistem saraf pusat danpenyakit neuromuscular
Gangguan jantung kongenital
Ibu dengan Diabetes mellitus
Abnormalitas kromosom biasanya trisomi 21, lalu diikuti

trisomi 13 dan 18.2


3. Patofisiologi
Integrasi dari aliran cairan yang masuk dan keluar dari kantung ketuban
menentukan volume cairan ketuban. Urine janin, produksi cairan paru-paru,
proses menelan, penyerapan intramembranous (ke dalam kompartemen vaskuler
10

janin) memberikan kontribusi penting terhadap pergerakan cairan di akhir


kehamilan, faktor lain (misalnya, produksi air liur) memberikan kontribusi
minimal. Kontribusi relatif dari setiap rute pertukaran cairan bervariasi pada setiap
kehamilan. Variasi dalam cairan tubuh janin atau homeostasis endokrin juga
mempengaruhi volume produksi urin janin, menelan, dan sekresi paru-paru.
Selama trimester terakhir, output urin setara sekitar 30 persen dari berat badan
janin, proses menelan sekitar 20 sampai 25 persen, sekresi paru-paru 10 persen
(satu-setengah dari sekresi paru-paru tertelan oleh dan setengah lainnya
diekskresikan ke dalam cairan ketuban), sedangkan sekresi oral-nasal dan aliran
transmembranous (langsung ke dalam kompartemen ibu) mewakili sekitar <1
persen dari berat badan janin. Janin yang hampir cukup bulan mengeluarkan 5001200 mL urin dan menelan 210 - 760 ml cairan ketuban setiap hari. Jadi,
perubahan harian yang relatif kecil dalam produksi urin janin atau proses menelan
dapat menyebabkan perubahan volume cairan amnion. Akumulasi cairan amnion
yang berlebihan biasanya berhubungan dengan penurunan proses menelan janin
atau meningkatnya urine janin.3
4. Gejala Klinis
Gejala Polihidramnion ringan memiliki tanda dan gejala
minimal

sedangkan

pilohidramnion

yang

berat

dapat

menyebabkan :
Napas yang pendek dan kesulitan bernapas, kecuali pada

posisi berdiri
Bengkak pada ekstermitas bawah
Produksi urin yang kurang

11

Pada pasien polihidramnion uterusnya lebih besar dari


ukuran normal dan mengalami kesulitan dalam mendengar
denyut jantung janin.4
5. Diagnosis
Polhidramnion dapat didiagnosis apabila ukuran uterus lebih
dari normal. Denyut jantung janin sulit didengarkan oleh karena
volume cairan amion lebih banyak sehingga memungkinkan bayi
untuk banyak bergerak. Dokter dapat mengukur volume cairan
amnion dengan membagi 4 area dengan menggunakan metode
indeks cairan amnion. Normalnya indeks cairan amnion pada
trimester ketiga berkuruan 10-25 cm, apabila indeks lebih dari 25
cm menandakan polihidramnion.5
6. Penatalaksanaan
-

Langkah pertama adalah untuk mengidentifikasi apakah


penyebab yang mendasari. Polihidramnion ringan dapat
cukup dipantau dan diobati secara konservatif.

Persalinan prematur biasa dilakukan karena overdistensi


dari rahim, dan langkah-langkah harus diambil untuk
meminimalkan

komplikasi

ini.

Termasuk

pemeriksaan

antenatal yang teratur dan pemeriksaan rahim dan bedrest


sampai cukup bulan.
-

Steroid intramuskular harus diberikan kepada ibu pada


antenatal

jika

dipertimbangkan

untuk

dilakukannya

12

persalinan

prematur.

Hal

ini

membantu

untuk

meningkatkan kematangan paru-paru.


-

Scan ultrasound serial harus dilakukan untuk memantau


AFI dan monitor pertumbuhan janin.

Jika

didiagnosis

adanya

diabetes

kehamilan,

kontrol

glikemik yang ketat harus dipertahankan. Hal ini biasanya


dilakukan dengan manipulasi diet dan insulin jarang
dibutuhkan.
-

Indometacin adalah obat pilihan untuk pengobatan medis


polihidramnion. Hal ini sangat efektif, terutama dalam
kasus dimana kondisi ini terkait dengan peningkatan
produksi urin janin. Mekanisme aksi menjadi efek pada
produksi

urin

oleh

ginjal

janin,

mungkin

dengan

meningkatkan efek dari vasopresin. Hal ini tidak efektif


dalam kasus di mana penyebab yang mendasari adalah
penyakit

neuromuskuler

yang

mempengaruhi

proses

menelan janin, atau hidrosefalus. Tapi hal ini merupakan


kontraindikasi

pada

sindrom

kembar-ke-kembar

atau

setelah 35 minggu, karena efek samping yang ditimbulkan


lebih besar daripada manfaat dalam kasus ini.
-

Amniosentesis direkomendasikan dalam kasus di mana


indometacin

menjadi

suatu

kontraindikasi,

pada

polihidramnion berat, atau pada pasien yang simptomatik.

13

Ini menjadi kontraindikasi pada ketuban pecah dini atau


pelepasan plasenta, atau korioamnionitis (peradangan
selaput chorioamniotic dan cairan - biasanya infektif).
-

Induksi persalinan harus dipertimbangkan jika gawat janin


berkembang. Di atas 35 minggu mungkin lebih aman untuk
dilahirkan. Induksi dengan ruptur buatan pada membran
(ARM) harus dikontrol, dilakukan oleh dokter kandungan
dan dengan persetujuan untuk melanjutkan dengan sectio
caesar jika diperlukan.3

7. Komplikasi
Polihidramnion dapat mneyebabkan :4
Kelahiran premature
Ketuban pecah dini
Pertumbuhan janin terhambat
Solusio plasenta
Prolaps tali pusat
Kematian janin
Perdarahan post partum akibat atonia uteri
8. Prognosis
Pada umumnya prognosis polihidramnion biasanya baik.
Menurut

Desmedt

polihiramnion
plasenta.

et

al,

berhubungan

Mortalitas

dan

rerata

mortaliats

dengan
morbiditas

perinatal

malformasi
padda

fetal

janin

pada
atau

dengan

polihidramnion memiliki kelainan pada beberapa kasus dengan


prognosis bergantung pada kelainan yang lebih berat2
B. PREEKLAMSIA BERAT
1. Definisi6
Preeklamsia adalah gangguan pada endotel pembuluh darah
yang mengalami kelainan fungsi dan vasospasme, yang terjadi

14

pada usia kehamilan lebih dari 20 minggu dan akan tetap ada
hingga

4-6

hipertensi

minggu
dan

setelah

proteinuria,

persalinan.
dengan

atau

Ditandai

dengan

tanpa

edema.

Preeklamsia berat didefinisikan dengan adanya satu dari tanda


dan gejala dari preeklamasia
Tekanan darah sistolik 160 mmHg atau tekanan darah
diatolik 110 mmHg atau lebih tinggi pada dua kali
pemeriksaan selama 6 jam.
Proteinuria 5 gr selama 24 jam atau +2
Pulmonary edema atau sianosis
Oligouria (<400 ml/ 24 jam)
Nyeri kepala yang persisten
Nyeri epigastrium dengan atau kegagalan fungsi hati
Trombositopenia
2. Faktor risiko
Nulipara
Umur >40 thn
Riwayat keluarga
Penyakit ginjal kronis
Hipertensi kronis
Diabtes mellitus
IMT yang tinggi
3. Patofisiologi
Belum diketahui dengan pasti, secara umum pada Preeklampsia terjadi
perubahan dan gangguan vaskuler dan hemostatis. Sperof (1973) menyatakan
bahwa dasar terjadinya Preeklampsia adalah iskemik uteroplasenta, sehingga
terjadi ketidakseimbangan antara massa plasenta yang meningkat dengan aliran
perfusi sirkulasi darah plasenta yang berkurang.
Disfungsi plasenta juga ditemukan pada preeklampsia, sehingga terjadi
penurunan kadar 1 -25 (OH)2 dan Human Placental Lagtogen (HPL), akibatnya
terjadi penurunan absorpsi kalsium dari saluran cerna. Untuk mempertahankan
15

penyediaan kalsium pada janin, terjadi perangsangan kelenjar paratiroid yang


mengekskresi paratiroid hormon (PTH) disertai penurunan kadar kalsitonin yang
mengakibatkan peningkatan absorpsi kalsium tulang yang dibawa melalui
sirkulasi ke dalam intra sel. Peningkatan kadar kalsium intra sel mengakibatkan
peningkatan kontraksi pembuluh darah, sehingga terjadi peningkatan tekanan
darah.
Teori vasospasme dan respons vasopresor yang meningkat menyatakan
prostaglandin berperan sebagai mediator poten reaktivitas vaskuler. Penurunan
sintesis prostaglandin dan peningkatan pemecahannya akan meningkatkan
kepekaan vaskuler terhadap Angiotensin II. Angiotensin II mempengaruhi
langsung sel endotel yang resistensinya terhadap efek vasopresor berkurang,
sehingga terjadi vasospasme. Penyempitan vaskuler menyebabkan hambatan
aliran darah yang menyebabkan hambatan aliran darah yang menyebabkan
tejadinya hipertensi arterial yang membahayakan pembuluh darah karena
gangguan aliran darah vasavasorum, sehingga terjadi hipoksia dan kerusakan
endotel pembuluh darah yang menyebabkan dilepasnya Endothelin 1 yang
merupakan vasokonstriktor kuat. Semua ini menyebabkan kebocoran antar sel
endotel, sehingga unsur-unsur pembentukan darah seperti thrombosit dan
fibrinogen tertimbun pada lapisan subendotel yang menyebabkan gangguan ke
berbagai sistem organ.7
Fungsi organ-organ lain :8
a. Otak

16

Pada hamil normal, perfusi serebral tidak berubah, namun pada preeklampsia terjadi spasme pembuluh darah otak, penurunan perfusi dan
suplai oksigen otak sampai 20%. Spasme menyebabkan hipertensi serebral,
faktor penting terjadinya perdarahan otak dan kejang / eklampsia.
b. Hati
Terjadi peningkatan aktifitas enzim-enzim hati pada pre-eklampsia, yang
berhubungan dengan beratnya penyakit.
c. Ginjal
Pada pre-eklampsia, arus darah efektif ginjal berkurang + 20%, filtrasi
glomerulus berkurang + 30%. Pada kasus berat terjadi oligouria, uremia,
sampai nekrosis tubular akut dan nekrosis korteks renalis. Ureum-kreatinin
meningkat jauh di atas normal. Terjadi juga peningkatan pengeluaran
protein (sindroma nefrotik pada kehamilan).

d. Sirkulasi uterus , koriodsidua


Perubahan arus darah di uterus, koriodesidua dan plasenta adalah
patofisiologi yang terpenting pada pre-eklampsia, dan merupakan faktor
yang menentukan hasil akhir kehamilan.
-

Terjadi iskemia uteroplasenter, menyebabkan ketidakseimbangan antara


massa plasenta yang meningkat dengan aliran perfusi darah sirkulasi
yang berkurang.

17

hipoperfusi uterus menjadi rangsangan produksi renin di uteroplasenta,


yang mengakibatkan vasokonstriksi vaskular daerah itu. Renin juga
meningkatkan kepekaan vaskular terhadap zat-zat vasokonstriktor lain
(angiotensin, aldosteron) sehingga terjadi tonus pembuluh darah yang
lebih tinggi.

karena gangguan sirkulasi uteroplasenter ini, terjadi penurunan suplai


oksigen dan nutrisi ke janin. Akibatnya bervariasi dari gangguan
pertumbuhan janin sampai hipoksia dan kematian janin.

4. Gejala Klinis9
Hipertensi tekanan darah lebih dari 140/90 mmHg
Proteinuria
Nyeri kepala yanag hebat
Penglihatan kabur
Nyeri epigastrium
Mual muntah
Penurunan produksi urin
Trombositopenia
Napas pendek
Edema
5. Diagnosis
Tekanan darah sistolik 160 mmHg atau tekanan darah
diatolik 110 mmHg atau lebih tinggi pada dua kali
pemeriksaan selama 6 jam.
Proteinuria 5 gr selama 24 jam atau +2
Pulmonary edema atau sianosis
Oligouria (<400 ml/ 24 jam)
Nyeri kepala yang persisten
Nyeri epigastrium dengan atau kegagalan fungsi hati
Trombositopenia
6. Penatalaksanaan
Pasien
dengan preeklamsia beratdilakukan induksi

persalinan dimulai pada usia kehamilan 34 minggu. Pada


beberapa kasus perlu dipikirkan diberikan kortikosteroid

18

oleh

karena

bisa

terjadi

kelahiran

premature

dan

memantau tekanan darah dan kejang.


Jika preeklamsia lebih berat maka dianjurkan untuk bed
rest atau dirawat dirumah sakit dan dilakukan observasi

secara ketat.
Bila kejang maka diberikan magnesium sulfat untuk
mencegah kejang terjadi.

7. Komplikasi
Kekurangan

aliran

mempengaruhi

6,9,10

darah

arteri

yang

ke

plasenta.

mengantarkan

Preeklamsia
darah

ke

plasenta. Jika plasenta tidak mendapatkan aliran darah


yang cukup, maka bayi akan kekurangan oksigen dan

nutrisi.
Solusio plasenta. Preeklamsia meningkatkan risiko solusio
plasenta, dimana plasenta terlepas dari dinding uterus

sebelum waktunya saat melahirkan.


Eklamsia. Ketika preeklamsia tidak terkontrol, eklamsia

dapat terjadi.9
8. Prognosis
Kebanyakan wanita yang mengalami preeklamsia akan
mengalami risiko preeklamsia pada kehamilan selanjutnya.
Wanita dengan preeklamsia akan memiliki risiko 10% terjadi
kembali

preeklamsia

pada

kehamilan

selanjutnya.

Pada

19

preeklamsia berat memiliki risiko 20% untuk kembali preeklamsia


pada kehamilan selanjutnya.10

BAB III
PEMBAHASAN
Pasien Ny.HS usia 25 tahun masuk ke ruang bersalin RSU
Bahteramas pada tanggal 6 januari 2014 atas rujukan dokter
praktek dengan hamil anak pertama, usia kehamilan 35 minggu
disertai preeklamasi berat (proteinuri +++) dan polihidramnion
Kasus

ini

di

diagnosa

kehamilan

preterm

ditegakkan

berdasarkan hasil HPHT yaitu tanggal 4 Mei 2014, dengan siklus


menstruasi teratur setiap bulannya (setiap 28 hari, selama 4-5
hari). Menurut rumus Naegle, yaitu tanggal (+7), bulan (-3), dan
tahun (+1), maka taksiran partusnya (TP) adalah tanggal 11-022015. Berdasarkan HPHT pasien, usia kehamilannya ialah 35
20

minggu. Dari hasil palpasi didapatkan tinggi fundus uteri adalah


4 jari dibawah proc.xyphoideus dan tidak dirasakan adanya his,
sedangkan berdasarkan auskultasi didapatkan denyut jantung
janin (DJJ) 146x/menit, reguler. Tetapi untuk lebih memastikan
usia kehamilan maka dapat dilakukan pemeriksaan USG dengan
mengukur BPD (Biparietal diameter).
Pada kasus ini pasien juga didiagnosa sebagai preeklamsia
berat berdasarkan hasil anamnesis yaitu tekanan darah yang
tinggi 3 bulan dan merasakan bengkak pada kedua tungkai.
Pada pemeriksaan fisik ditemukan tekanan darah 190/120 mmHg
dan adanya edema pada kedua ekstremitas inferior. Berdasarkan
hasil laboratorium pada tanggal 6 januari 2015menunjukkan
protein +++ pada pemeriksaan urin lengkap hal ini sesuai
dengan teori tekanan darah sistolik 160 mmHg atau tekanan
darah diatolik 110 mmHg atau lebih tinggi pada dua kali
pemeriksaan selama 6 jam., proteinuria 5 gr selama 24 jam
atau +2, pulmonary edema atau sianosis, oligouria (<400 ml/
24 jam), nyeri kepala yang persisten, nyeri epigastrium dengan
atau kegagalan fungsi hati dan Trombositopenia.
Selain itu pasien didiagnosa dengan polihidramnion oleh
karena berdasarkan anamnesis, pasien mengeluhkan adanya
pembengkakan pada kedua ekstremitas inferior serta keluhan
sesak dan pada hasil USG menunjukkan adanya polihidramnion,
21

hal ini sesuai dengan teori karena diagnosis polihidramnion


adalah Napas yang pendek dan kesulitan bernapas, kecuali pada
posisi berdiri, bengkak pada ekstermitas bawah, produksi urin
yang kurang, pada pasien polihidramnion uterusnya lebih besar
dari ukuran normal dan mengalami kesulitan dalam mendengar
denyut jantung janin.
Penatalaksanaan yang diberikan adalah IVFD RL 500 cc +
MgSO4 40%, 28 tpm selama 24 jam, Injeksi MgSO4 40% 10 cc/IV,
Injeksi Dexametason 1 amp/ 6 jam/IV, Dopamet ( methyldopa )
2x250 mg lalu diganti dengan Nifedipin 3x10 mg.
Pada umumnya prognosis pada polihidramnion baik. Karena
semakin

berat

derajat

polihidramnion,

maka

prognosisnya

semakin buruk. Prognosis pada preeklamsia dubia ad bonam oleh


karena pada kasus preeklamsia berat bisa terjadi kembali
preeklamsia pada kehamilan selanjut

DAFTAR PUSTAKA
1. Gondo H K, Suwardewa T G A. 2012. Ultrasnonografi: Buku Ajar Obstetri
Ginekologi. EGC. Jakarta.
2. Carter B S. Polyhydramnios and Oligohydramnios. 2015. Available at
www.reference.medscape.com/article/975821-overview#showall.

Diakses

pada 4 februari 2014

22

3. Cunningham FG, MacDonald PC, Leveno KJ, Gillstrap LC. Williams


Obstetrics.Volume 1 edisi 23. Jakarta: Penerbit buku kedokteran EGC. 2013
4. Mayo Clinic. 2014. Diseases And Conditions Polyhydramnios. Available at
www.mayoclinic.org/diseasesconditions/polyhydramnios/basics/symptoms/con-20034451.

Diakses

pada

tanggal 4 Februari 2015.


5. Baby Center Malaysia Medical Advisory Board. 2014. Polyhydramnios .
available at www.babycenter.com.my/a551936/polyhydramnios. diakses pada
tanggal 4 februari 2015
6. Lim

KH.

2014.

Preeklamsia.

Available

at

www.emeddicine.medscape.com/article/1476919-overview. diakses pada 4


februari 2014
7. Mochtar, R. 1998. Toksemia Gravidarum. Dalam : Lutan, D (Editor). Sinopsis
Obstetri (hal. 198-208). EGC, Jakarta, Indonesia.
8. Angsar, M,D., 2002. Ilmu Kebidanan: Hipertensi dalam Kehamilan (edisi
ke-3). Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta, Indonesia, hal.
530-561.
9. Mayo clinic. 2014. Disease and condition preeklamsia. Available at
www.mayoclinic.org/disease-conditions/preeklamsia/basics/symptoms/con20031644. diakses pada 4 ferbuari 2015
10. Stoppler

C.

2014.

Preeclampsia.

Available

at

www.emedicinehealth.com/preeclampsia/page6_em.htm#preeclampsia_treatm
ent. Diakses pada tanggal 4 Februari 2015.

23