Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN
Jumlah wanita penderita AIDS di dunia terus bertambah, khususnya pada usia
reproduksi. Sekitar 80% penderita AIDS anak-anak mengalami infeksi perinatal dari
ibunya. Laporan CDC (Central for Disease Control) Amerika memaparkan bahwa
seroprevalensi HIV pada ibu prenatal adalah 0,0% - 1,7%, pada saat persalinan 0,4% 2,3% dan 9,4 29,6% pada ibu hamil yang biasa menggunakan narkotika intravena.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kehamilan dapat memperberat kondisi klinik
wanita dengan infeksi HIV. Sebaliknya, risiko tentang hasil kehamilan pada penderita
infeksi HIV masih merupakan tanda Tanya. Transmisi vertical virus AIDS dari ibu
kepada janinnya telah banyak terbukti, akan tetapi belum jelas diketahui, kapan
transmisi perinatal tersebut terjadi. Penelitian di Amerika Serikat dan Eropa
menunjukkan bahwa risiko transmisi perinatal pada ibu hamil adalah 20 40%.
Transmisi dapat terjadi melalui plasenta, perlukaan dalam proses persalinan atau
melalui ASI. Walaupun demikian WHO menganjurkan agar ibu dengan HIV (+) tetap
menyusui bayinya mengingat manfaat ASI yang lebih besar dibandingkan dengan
risiko penularan HIV.1
Infeksi oleh virus penyebab defisiensi imun merupakan masalah yang relatif
baru, terutama pada anak. Masalah ini pertama kali dilaporkan di Amerika pada tahun
1982 sebagai suatu sindrom defisiensi imun makin meningkat secara relatif cepat
disertai angka kematian yang mencemaskan, maka dilakukanlah pengamatan dan
penelitian yang intensif sehingga akhirnya penyebab defisiensi imun ini ditemukan.
Penyebab defisiensi imun ini adalah suatu virus yang kemudian dikenal dengan nama
human immunodeficiency virus tipe-1 (HIV-1), pada tahun 1985. Pada pengamatan
selanjutnya, ternyata bahwa infeksi HIV-1 ini dapat menimbulkan rentangan gejala
yang sangat luas, yaitu dari tanpa gejala hingga gejala yang sangat berat dan
progresif, dan umumnya berakhir dengan kematian. Dengan meningkat dan
menyebarnya kasus defisiensi imun oleh virus ini pada orang dewasa secara cepat di
seluruh dunia, apabila kasus tersebut tidak mendapat perhatian dan penanganan yang
memadai, dalam waktu dekat diperkirakan jumlah kasus defisiensi imun pada anak
juga akan meningkat.2
Secara keseluruhan, infeksi pada wanita meningkat, dan proporsi wanita dan
gadis remaja yang terinfeksi meningkat tiga kali lipat dari 7 menjadi 23 persen dari
1

tahun 1985 sampai 1998. Sejak saat itu, prevalensi penyakit yang mematikan ini
meningkat di seluruh dunia hampir secara geometris. Di Amerika Serikat sampai
tahun 1998, Fauci (1999) menyebut sekitar 650.000 sampai 900.000 orang terinfeksi
dan hampir setengah juta meninggal. Pada tahun 1994, kematian akibat infeksi HIV
menjadi penyebab utama kematian pada orang berusia 25 sampai 44 tahun. Seperti
diperkirakan, infeksi perinatal juga meningkat. Sampai tahun 1993, Centers for
Disease Control and Prevention memperkirakan bahwa di Amerika Serikat 15.000
anak terinfeksi HIV lahir dari wanita positif HIV.3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Definisi
HIV/AIDS adalah suatu sindrom defisiensi imun yang ditandai oleh adanya infeksi
oportunistik dan atau keganasan yang tidak disebabkan oleh defisiensi imun primer
atau sekunder atau infeksi kongenital melainkan oleh human immunodeficiency
virus.2Kausa sindrom imunodefisiensi ini adalah retrovirus DNA yaitu HIV-1 dan
HIV-2.3
2.2. Etiologi
Penyebab dari virus ini adalah dari retrovirus golongan retroviridae, genus lenti virus.
Terdiri dari HIV-1 dan HIV-2. Dimana HIV-1 memiliki 10 subtipe yang diberi dari
kode A sampai J. Dan subtype yang paling ganas di seluruh dunia adalah grup HIV-1.4
2.3. Cara Penularan
Kita masih belum mengetahui secara persis bagaimana HIV menular dari ibu-ke-bayi.
Namun, kebanyakan penularan terjadi saat persalinan (waktu bayinya lahir). Selain
itu, bayi yang disusui oleh ibu terinfeksi HIV dapat juga tertular HIV. Hal ini
ditunjukkan dalam gambar berikut:12

Ada beberapa faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan bayi terinfeksi HIV.
Yang paling mempengaruhi adalah viral load (jumlah virus yang ada di dalam darah)
ibunya. Oleh karena itu, salah satu tujuan utama terapi adalah mencapai viral load
3

yang tidak dapat terdeteksi seperti juga ART untuk siapa pun terinfeksi HIV. Viral
load penting pada waktu melahirkan. Seperti ditunjukkan pada gambar, penularan
dapat terjadi dalam kandungan. Hal ini dapat disebabkan oleh kerusakan pada
plasenta, yang seharusnya melindungi janin dari infeksi HIV. Kerusakan tersebut
dapat memungkinkan darah ibu mengalir pada janin. Kerusakan pada plasenta dapat
disebabkan oleh penyakit lain pada ibu, terutama malaria dan TB.12

Namun risiko penularan lebih tinggi pada saat persalinan, karena bayi tersentuh oleh
darah dan cairan vagina ibu waktu melalui saluran kelahiran. Jelas, jangka waktu
antara saat pecah ketuban dan bayi lahir juga merupakan salah satu faktor risiko untuk
penularan. Juga intervensi untuk membantu persalinan yang dapat melukai bayi,
misalnya vakum, dapat meningkatkan risiko. Karena air susu ibu (ASI) dari ibu
terinfeksi HIV mengandung HIV, juga ada risiko penularan HIV melalui menyusui.

Faktor risiko lain termasuk kelahiran premature (bayi lahir terlalu dini) dan
kekurangan perawatan HIV sebelum melahirkan. Sebenarnya semua faktor risiko
menunjukkan satu hal: yang terpenting adalah mengawasi kesehatan ibu.
Beberapa pokok kunci:
4

Status HIV bayi dipengaruhi oleh kesehatan ibunya


Status HIV bayi tidak dipengaruhi sama sekali oleh status HIV ayahnya
Status HIV bayi tidak dipengaruhi oleh status HIV anak lain dari ibu

2.4. Patofisiologi
Untuk dapat terinfeksi HIV diperlukan reseptor spesifik pada sel pejamu yaitu
molekul CD4. Molekul CD4 ini mempunyai afinitas yang sangat besar terhadap HIV,
terutama terhadap molekul glikoprotein (gp120) dari selubung virus. Di antara sel
tubuh yang memiliki molekul CD4, sel limfosit-T memiliki molekul CD4 paling
banyak. Oleh karena itu, infeksi HIV dimulai dengan penempelan virus pada limfositT. Setelah penempelan, terjadi diskontinuitas dari membran sel limfosit-T sehingga
seluruh komponen virus harus masuk ke dalam sitoplasma sel limfosit-T, kecuali
selubungnya. Selanjutnya, RNA dari virus mengalami transkripsi menjadi seuntai
DNA dengan bantuan enzim reverse transcriptase. Akibat aktivitas enzim RNA-ase
H, RNA yang asli dihancurkan sedang seuntai DNA yang terbentuk mengalami
polimerisasi menjadi dua untai DNA dengan bantuan enzim polimerase. DNA yang
terbentuk ini kemudian pindah dari sitoplasma ke dalam inti sel limfosit-T dan
menyisip ke dalam DNA sel pejamu dengan bantuan enzim integrase, disebut sebagai
provirus. Provirus yang terbentuk ini tinggal dalam keadaan laten atau dalam keadaan
replikasi yang sangat lambat, tergantung pada aktivitas dan deferensiasi sel pejamu
(T-CD4) yang diinfeksinya, sampai kelak terjadi suatu stimulasi yang dapat memicu
dan mamacu terjadinya replikasi dengan kecepatan tinggi.2
Stimulasi yang dapat memicu dan memacu terjadinya replikasi (atau ekspresi
virus, yaitu pembentukan protein atau mRNA virus yang utuh) yang cepat ini masih
belum jelas, walaupun umumnya diduga dapat terjadi oleh karena bahan mitogen atau
antigen yang mungkin bekerja melalui sitokin, baik yang terdapat sebelum maupun
sesudah terjadinya infeksi HIV. Tidak semua sitokin dapat memacu replikasi virus
oleh karena sebagian sitokin malah dapat menghambat replikasi. Sitokin yang dapat
memacu adalah sitokin yang umumnya ikut serta mengatur respons imun, seperti
misalnya interleukin (IL) 1,3,6, tumor necrosis factor dan , interferon gamma,
granulocyte-macrophage

colony-stimulating

factor

dan

macrophage

colony-

stimulating factor. Yang bersifat menghambat adalah interleukin-4, transforming


growth factor , interferon dan .2

Hal lain yang dapat memicu replikasi HIV adalah adanya ko-faktor yang
terdiri dari infeksi oleh virus DNA seperti virus Epstein-Barr, cytomegalovirus, virus
hepatitis B, virus herpes simplex, human herpesvirus 6, dan human T-cell
lymphotrophic virus tipe 1 atau oleh kuman seperti mikoplasma. Oleh karena sitokin
dapat dibentuk dan bekerja lokal di dalam jaringan tanpa masuk ke dalam sirkulasi,
maka konsentrasinya di dalam serum tidak harus meningkat untuk dapat
menimbulkan pengaruh pada replikasi atau ekspresi HIV di dalam jaringan. Oleh
karena itu, pada keadaan adanya gangguan imunologik-pun, di dalam jaringan
(terutama di dalam kelenjar limfe) tetap dapat terjadi replikasi atau ekspresi virus.2
Hipotesis yang berkembang hingga saat ini sehubungan dengan organ limfoid
dapat dipaparkan sebagai berikut: setelah HIV masuk ke dalam tubuh baik melalui
sirkulasi atau melalui mukosa, HIV pertama-tama dibawa ke dalam kelenjar limfe
regional. Di sini terjadi replikasi virus yang kemudian menimbulkan viremia dan
infeksi jaringan limfoid yang lain (multipel) yang dapat menimbulkan limfadenopati
subklinis.2
Sementara itu, sel limfosit-B yang terdapat di dalam sentrum germinativum
jaringan limfoid juga memberikan respon imun yang spesifik terhadap HIV. Hal ini
yang mengakibatkan limfadenopati yang nyata akibat hiperplasia atau proliferasi
folikular yang ditandai oleh meningkatnya sel dendrit folikular di dalam sentrum
germinativum dan sel limfosit T-CD4. Akumulasi sel limfosit T-CD4 yang meningkat
di dalam jaringan limfoid ini selain akibat proliferasi in situ tersebut, juga berasal dari
migrasi limfosit dari luar. Migrasi sel T-CD4 dari luar inilah yang mengakibatkan
penurunan sel T-CD4 di dalam sirkulasi secara tiba-tiba yang merupakan gejala yang
khas dari sindrom infeksi HIV akut. Di samping itu, sel limfosit-B menghasilkan
berbagai sitokin yang dapat mengaktifkan dan sekaligus memudahkan infeksi sel TCD4.2
Pada fase awal dan tengah penyakit, ikatan partikel HIV, antibodi dan
komplemen terkumpul di dalam jaring-jaring sel dendritik folikular. Sel dendritik
folikular ini, pada respons imun yang normal berfungsi menjerat antigen yang
terdapat di lingkungan sentrum germinativum dan menyajikannya kepada sel imun
yang kompeten yaitu sel T-CD4 yang akhirnya mengalami aktivasi dan infeksi.
Seperti telah dikemukakan, HIV di dalam sel T-CD4 dapat tinggal laten untuk waktu
yang panjang sebelum kemudian mengalami replikasi kembali akibat berbagai
stimulasi. Pada fase yang lebih lanjut, dengan demikian, tidak lagi ditemukan partikel
6

HIV yang bebas oleh karena semuanya terdapat di dalam sel. Hal lain yang dapat
diamati adalah dengan progresivitas penyakit terjadilah degenerasi sel dendrit
folikular sehingga hilanglah kemampuan organ limfoid untuk menjerat partikel HIV
yang berakibat meningkatnya HIV di dalam sirkulasi. Hal ini sudah tentu
meningkatkan penyebaran HIV ke dalam berbagai organ tubuh.2
Selanjutnya, perlu dikemukakan bahwa infeksi HIV pada sel limfosit T-CD4
tidak saja berakhir dengan replikasi virus tetapi juga berakibat perubahan fungsi sel TCD4 dan sitolisis, hingga populasinya berkurang. Mekanisme disfungsi (perubahan
fungsi dan penurunan jumlah) sel limfosit T-CD4 ini diduga berlangsung sebagai yang
tertera sebagai berikut:2

Pengaruh sitopatik langsung HIV (single-cell killing)


Pembentukan sinsitium
Respon imun spesifik
Limfosit-T sitolitik yang spesifik untuk HIV
Sitotoksisitas selular akibat adanya antibodi
Sel killer alami
Apoptosis (kematian yang terprogram)
Mekanisme autoimun
Anergi yang disebabkan oleh pengiriman isyarat yang tidak sempurna yang

diakibatkan oleh interaksi molekul gp 120-CD4


Gangguan fungsi (perturbation) subkelompok sel-T akibat adanya suatu super
antigen

2.5. Klasifikasi
HIV merupakan virus RNA, termasuk famili retroviridae dan genus lentivirus. HIV
dibagi menjadi dua tipe, yaitu HIV-1 dan HIV-2(virologi). HIV-1 dibagi lagi menjadi
3 grup, dan 10 subtipe (clade). (Gambar 1) Sebanyak 90% dari infeksi HIV yang
terjadi di dunia ini berasal dari HIV-1 Clade B.5

HIV-1 berdiameter kira-kira 100-150 nm, terdiri dari membrane lipid, protein
envelope gp-120, protein transmembran gp-41, protein matriks (p17), kapsid (p24)
dan nukleokapsid (p7). (Gb.2) Di dalam kapsid terdapat dua kopi genom RNA rantai
tunggal dan enzim-enzim yang diperlukan saat virus bereplikasi dalam sel pejamu
(reverse transcriptase, integrase, dan protease). RNA rantai tunggal HIV berisi gen
yang mengkode rangkaian protein structural (gag, pol, dan env) dan protein non
struktural atau dikenal sebagai regulator [tat, rev, nef, vpr, vpu (atau vpx di HIV-2)
dan vif].5
Klasifikasi Infeksi HIV/AIDS
Adapun klasifikasi HIV/AIDS berdasarkan stadium WHO (2003) ialah :6
1) Stadium 1 : asimtomatik, limfadenopati generalisata
2) Stadium 2
Berat badan turun < 10 %
Manifestasi mukokutan minor (dermatitis seboroik, prurigo, infeksi jamur,

kuku, ulkus oral rectum, cheilitis angularis)


Herpes zoster dalam 5 tahun terakhir
Infeksi saluran nafas atas rekuren

3) Stadium 3
Berat badan turun > 10 %
Diare yang tidak diketahui penyebab, > 1 bulan
Demam berkepanjangan (intermitten atau konstan), > 1 bulan
Kandidiasis oral
Oral hairy leucoplakia
Tuberculosis paru
Infeksi bakteri baru (pneumonia, piomiositis)
4) Stadium 4
HIV wasting syndrome
Pneumonia Pneumocystis carinii
8

Toksoplama serebral
Kriptosporodiosis dengan diare > 1 bulan
Sitomegalovirus pada organ selain hati, limpa, atau kelenjar getah bening

(misalnya retinitis CMV)


Infeksi herpes simpleks, mukokutan (> 1 bulan) atau viseral
Progressive multifocal leucoencephalopathy
Mikosis endemic diseminata
Kandidiasis esofagus, trakea, dan bronkus
Mikobakteriosis atipik, diseminata atau paru
Septikemia salmonela non-tifosa
Tuberkulosis ekstrapulmoner
Limfoma
Sarkoma Kaposi
Ensefalopati HIV

2.6. Faktor Risiko


Ada dua faktor utama untuk menjelaskan faktor risiko penularan HIV dari ibu ke
bayi:
2.6.1. Faktor ibu dan bayi
a. Faktor ibu
Faktor yang paling utama mempengaruhi risiko penularan HIV dari ibu ke bayi adalah
kadar HIV (viral load) di darah ibu pada menjelang ataupun saat persalinan dan kadar
HIV di air susu ibu ketika ibu menyusui bayinya. Umumnya, satu atau dua minggu
setelah seseorang terinfeksi HIV, kadar HIV akan cepat sekali bertambah di tubuh
seseorang.7
Risiko penularan akan lebih besar jika ibu memiliki kadar HIV yang tinggi
pada menjelang ataupun saat persalinan. Status kesehatan dan gizi ibu juga
mempengaruhi risiko penularan HIV dari ibu ke bayi. Ibu dengan sel CD4 yang
rendah mempunyai risiko penularan yang lebih besar, terlebih jika jumlah CD4
kurang dari 200.7
Jika ibu memiliki berat badan yang rendah selama kehamilan serta kekurangan
vitamin dan mineral, maka risiko terkena berbagai penyakit infeksi juga meningkat.
Biasanya, jika ibu menderita infeksi menular seksual atau infeksi reproduksi lainnya
maupun malaria, maka kadar HIV akan meningkat.7
Risiko penularan HIV melalui pemberian ASI akan bertambah jika terdapat kadar
CD4 yang kurang dari 200 serta adanya masalah pada ibu seperti mastitis, abses, luka
9

di puting payudara. Risiko penularan HIV pasca persalinan menjadi meningkat bila
ibu terinfeksi HIV ketika sedang masa menyusui bayinya. 7
b. Faktor bayi
- bayi yang lahir prematur dan memiliki berat badan lahir rendah,
- melalui ASI yang diberikan pada usia enam bulan pertama bayi,
- bayi yang meminum ASI dan memiliki luka di mulutnya 7
2.6.2. Faktor cara penularan
- menular saat persalinan melalui percampuran darah ibu dan darah bayi,
- bayi menelan darah ataupun lendir ibu,
- persalinan yang berlangsung lama,
- ketuban pecah lebih dari 4 jam
- penggunaan elektrode pada kepala janin, penggunaan vakum atau forceps, dan
tindakan episiotomi
- bayi yang lebih banyak mengonsumsi makanan campuran daripada ASI
Tabel 1 Faktor yang meningkatkan risiko penularan HIV dari ibu ke bayi
Masa kehamilan
Masa persalinan
Masa menyusui
Ibu baru terifeksi HIV
Ibu baru terinfeksi HIV
Ibu baru terinfeksi HIV
Ibu memiliki infeksi virus, Ibu mengalami pecah Ibu
memberikan
ASI
bakteri, parasit

ketuban lebih dari 4 jam dalam periode yang lama

memiliki

sebelum persalinan
infeksi Terdapat tindakan medis Ibu memberikan makanan

menular seksual

yang dapat meningkatkan campuran (mixed feeding)

Ibu

kontak dengan darah ibu untuk bayi


atau

cairan

tubuh

(sepert

ibu

penggunaan

elktrode pada kepala janin,


penggunaan vakum atau
forceps, dan episiotomi
Ibu menderita kekurangan Bayi merupakan janin Ibu memiliki masalah pada
gizi

pertama

dari

suatu payudara, seperti mastitis,

kehamilan ganda (karena abses,

luka

di

puting

lebih dekat dengan leher payudara


rahim/serviks)
Ibu

memiliki Bayi

memiliki luka di
10

korioamniositis (dan IMS mulut


yang

tak

diobati

atau

infeksi lainnya)

2.7. Manifestasi Klinik


1. Gejala Konstitusi8
Sering disebut sebagai AIDS related complex, dimana penderita mengalami paling
sedikit 2 gejala kelinis yang menetap yaitu:
a. Demam terus menerus >37,5C
b. Kehilangan berat badan 10% atau lebih
c. Radang kelenjar getah bening yang meliputi 2 atau lebih kelenjar getah bening di
d.
e.

luar daerah inguinal


Diare yang tidak dapat dijelaskan sebabnya
Berkeringat banyak pada malam hari yang terus menerus

2. Gejala Neurologis8
Gejala neurologis yang beranekaragam seperti kelemahan otot, kesulitan berbicara,
gangguan keseimbangan, disorientasi, halusinasi, mudah lupa, psikosis, dan sampai
koma (gejala radang otak)
3. Gejala infeksi oportunistik8
Gejala infeksi oportunistik merupakan kondisi dimana daya tahan tubuh penderita
sudah sangat lemah sehingga tidak mampu melawan infeksi bahkan terhadap patogen
yang normal pada tubuh manusia. Infeksi yang paling sering ditemukan ,yaitu:
a. Pneumocystic carinii pneumonia (PCP), infeksi yang paling banyak yang
disebabkan protozoa yang masuk kedalam paru dan berkembang sangat pesat
b.
c.

menjadi pneumonia, gejala yang ditimbulkan batuk kering, demam dan sesak.
Tuberkulosis , disebabkan oleh mycobacterium tuberculosis
Toksoplasmosis , gejalanya berupa sakit kepala, demam, sampai kejang dan

d.

koma.
Infeksi mukokutan, seperti herpes simpleks, herpes zoster dan kandidiasi adalah
yang paling sering ditemukan.

4. Gejala tumor, yang paling sering ditemukan adalah Sarcoma kaposis dan Limfoma
maligna non-Hodgkin, dimana ditemukan bercak merah coklat, ungu atau biru
yang awalnya beberapa millimeter menjadi beberapa sentimeter (pada Sarkoma
kaposis) dan ditemukan massa yang membesar dan menyebar secara progresif dan
melibatkan ektranodal disertai demam dan penurunan berat badan.8

11

2.8. Diagnosis infeksi HIV pada bayi


Tidak mudah menegakkan diagnosis infeksi HIV pada bayi yang lahir dari ibu HIV
positif. Tantangan untuk diagnosis adalah:9
1. Penularan HIV dapat terjadi selama kehamilan, terutama trimester ketiga, selama
proses persalinan dan selama masa menyusui. Meskipun diketahui selama
kehamilan bayi mungkin tertular HIV, belum ada penelitian yang memeriksa bayi
di dalam kandungan untuk deteksi infeksi HIV. Selain itu juga terdapat masa
jendela setelah seseorang terinfeksi HIV yang dapat berlangsung hingga enam
bulan.
2. Antibodi terhadap HIV dari ibu ditransfer melalui plasenta selama kehamilan. Jadi,
semua bayi yang lahir dari ibu yang positif HIV akan positif pula bila diperiksa
antibodi HIV dalam tubuhnya. Dikenal berbagai teknik pemeriksaan antibodi yang
terkenal dan dilakukan di Indonesia, yaitu ELISA, aglutinasi, dan dot-blot
immunobinding assay. Pemeriksaan antibodi ini dilakukan dengan diagnostik pasti
bila antibodi HIV positif pada tiga reagen yang berbeda.
Pemeriksaan laboratorium yang dapat dipakai untuk membantu menegakkan
diagnosis adalah yang dapt menemukan virus atau partikelnya dalam tubuh seorang
bayi. Meskipun beberapa tes dapat mendeteksi HIV di tubuh bayi pada usia dini, tes
tersebut (seperti tes PCR) belum secara luas tersedia di Indonesia.9
2.9. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan serologi HIV
Berdasarkan pengamatan atas penderita AIDS secara terus menerus selama
sakitnya maka dapat dibuat suatu hipotesa mengenai lama dan relatif konsentrasi
antigen (HIV) dan antibodi
dalam darah penderita. Gambaran parameter serologi infeksi HIV1 tampak pada
Grafik 1, dan dapat dipakai sebagai patokan dalam menginterpretasi hasil
pemeriksaan serologi HIV. 10
Grafik 1. Parameter Serologi Infeksi 11IV1 Konsentrasi Relatif

12

Pada bulan pertama setelah terjadi infeksi, dalam darah penderita masih
ditemukan virus HIV (viremia pertama). Pemeriksaan untuk isolasi HIV pada periode
ini sangat jarang berhasil, karena sulit mengetahui kapan infeksi terjadi, lagi pula
viremia hanya berlangsung sebentar, sekitar 2 bulan. Pada akhir bulan ke 2 tubuh
mulai membentuk antibodi terhadap envelope dan disusul dengan pembentukan
antibodi terhadap core (inti). Pada saat itu pemeriksaan antibodi HIV mulai menjadi
positif untuk jangka waktu lama, kecuali pada antibodi terhadap core yang dapat
menurun setelah beberapa tahun kemudian, tergantung dari frekuensi infeksi ulang.
Ini berarti bahwa selama paling sedikit 2 bulan penderita tampak sehat dan dalam
darahnya antibodi HIV tidak terdeteksi oleh pemeriksaan serologi; periode ini disebut
window period. Setelah 510 tahun HIV mulai ditemukan dalam darah untuk kedua
kalinya (viremia kedua), di samping itu juga ditemukan antibodi terhadap envelope.
Tampak bahwa antibodi terhadap envelope selalu dapat ditemukan dalam darah
dibanding dengan antibodi terhadap core.10
Pemeriksaan antibodi HIV paling banyak menggunakan metoda ELISA/EIA
(enzyme linked immunoadsorbent assay). ELISA pada mulanya digunakan untuk
skrening darah donor dan pemeriksan darah kelompok risiko tinggi/tersangka AIDS.
Pemeriksaan ELISA harus menunjukkan hasil positif 2 kali (reaktif) dari 3 test yang
dilakukan, kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan konfirmasi yang biasanya
dengan memakai metoda Western Blot. Test'konfirmasi lain yang jarang dipakai lagi
adalah RIPA (Radioimmunoprecipitation Assay), IFA (Immunofluorescence Antibody
Technique).Berbagai macam test konfirmasi tersebut tidak lebih sensitif dari ELISA,
sulit dikerjakan, mahal, lama dan masih dapat memberi hasil tidak benar, false
positive, false negative, indeterminate. Penggabungan test
13

ELISA yang sangat sensitif dan Western Blot yang sangat spesifik mutlak dilakukan
untuk menentukan apakah seseorang positif AIDS.10
Enzym immunoassay (EIA) digunakan sebagai uji penapis antibodi HIV. Uji
penapis yang positif memiliki sensitivitas lebih dari 99,5 persen. Uji positif
dikonfirmasi dengan western blot atau immunofluorescence assay (IFA). Walaupun
sangat positif, western blot kurang sensitif dibandingkan dengan immunoassay,
karena untuk memberi hasil positif diperlukan lebih banyak antibodi. Dengan
demikian immunofluorescence assay dapat digunakan untuk memastikan sampel yang
positif-EIA tetapi hasil western blot-nya meragukan. Menurut Center for Diseases
and Prevention (1998B) antibodi dapat dideteksi pada 95% pasien dalam waktu 6
bulan setelah infeksi, dan karenanya pemeriksaan antibodi tidak dapat menyingkirkan
infeksi yang terjadi lebih dini. Untuk infeksi HIV primer akut, diperlukan identifikasi
antigen inti P24 atau RNA Virus. Hasil konfirmasi yang positif-palsu jarang terjadi
dan pada satu penelitian terhadap hampir 300.000 donor darah, dengan menggunakan
biakan virus, tidak terdeteksi adanya hasil positif-palsu wester blot (Center for
Diseases and Prevention (1995)). Hasil western blot yang meragukan dapat terjadi
karena faktor-faktor yang mencakup:3
1.
2.
3.
4.

Individu baru terinfeksi, sehingga sedang mengalamni serokonversi


Penyakit HIV stadium akhir
Bayi yang terpajan secara perinatal dan sedang mengalami serokonversi
Reaksi nonspesifik pada wanita tidak terinfeksi yang sedang atau pernah
hamil.

Pemeriksaan ELISA/EIA10
ELISA dari berbagai macam kit yang ada di pasaran mempunyai cara kerja
hampir sama. Pada dasarnya, diambil virus HIV yang ditumbuhkan pada biakan sel,
kemudian dirusak dan dilekatkan pada biji-biji polistiren atau sumur microplate.
Serum atau plasma yang akan diperiksa, diinkubasikan dengan antigen tersebut
selama 30 menit sampai 2 jam kemudian dicuci. Ella terdapat IgG (immunoglobulin
G) yang menempel pada biji-biji atau sumur microplate tadi maka akan terjadi reaksi
pengikatan antigen dan antibodi. Antibodi anti-IgG tersebut terlebih dulu sudah diberi
label dengan enzim (alkali fosfatase, horseradish peroxidase) sehingga setelah
kelebihan enzim dicuci habis maka enzim yang tinggal akan bereaksi sesuai
dengankadar IgG yang ada, kemudian akan berwarna bila ditambah dengan suatu
substrat. Sekarang ada test EIA yang menggunakan ikatan dari heavy dan light chain
14

dari Human Immunoglobulin sehingga reaksi dengan antibodi dapat lebih spesifik,
yaitu mampu mendeteksi IgM maupun IgG.
Pada setiap tes selalu diikutkan kontrol positif dan negatif untuk dipakai
sebagai pedoman, sehingga kadardi atas cut-off value atau di atasabsorbance level
spesimen akan dinyatakan positif. Biasanya lama pemeriksaan adalah 4 jam.
Pemeriksaan ELISA hanya menunjukkan suatu infeksi HIV di masa lampau. Tes
ELISA mulai menunjukkan hasil positif pada bulan ke 23 masa sakit. Selama fase
permulaan penyakit (fase akut) dalam darah penderita dapat ditemukan virus
HIV/partikel HIV dan penurunan jumlah sel T4 (Gratik).
Setelah beberapa hari terkena infeksi AIDS, IgM dapat dideteksi, kemudian
setelah 3 bulan IgG mulai ditemukan. Pada fase berikutnya yaitu pada waktu gejala
major AIDS menghilang (karena sebagian besar HIV telah masuk ke dalam sel tubuh)
HIV sudah tidak dapat ditemukan lagi dari peredaran darah dan jumlah Sel T4 akan
kembali ke normal. Hasil pemeriksan ELISA harus diinterpretasi dengan hati-hati,
karena tergantung dari fase penyakit. Pada umumnya, hasil akan positifpada lase
timbul gejalapertama AIDS (AIDS phase) dan sebagian kecil akan negatif pada fase
dini AIDS
(Pre AIDS phase).
Beberapa hal tentang kebaikan test ELISA adalah nilai sensitivitas yang tinggi:
98,1% 100%, Western Blot memberi nilai spesifik 99,6% 100%. Walaupun begitu,
predictive value hasil test positif tergantung dari prevalensi HIV di masyarakat. Pada
kelompokpenderita AIDS,predictive positive value adalah 100% sedangkan pada
donor darah dapat antara 5% 100%. Predictive value dari hasil negatif ELISA pada
masyarakat
sekitar 99,99% sampai 76,9% pada kelompok risiko tinggi. Di samping keunggulan,
beberapa kendala path test ELISA yang perlu diperhatikan adalah:
1. Pemeriksaan ELISA hanya mendeteksi antibodi, bukan antigen (akhir-akhir ini
sudah ditemukan test ELISA untuk antigen). Oleh karena itu test uji baru akan
positif bila penderita telah mengalami serokonversi yang lamanya 23 bulan sejak
terinfeksi HIV, bahkan ada yang 5 bulan atau lebih (pada keadaan
immunocompromised). Kasus dengan infeksi HIV laten dapat temp negatif selama
34 bulan.
2. Pemeriksaan ELISA hanya terhadap antigen jenis IgG. Pen-Cermin Dunia
Kedokteran No. 75, 1992 15 derita AIDS pada taraf permulaan hanya
15

mengandung IgM, sehingga tidak akan terdeteksi. Perubahan dari IgM ke IgG
membutuhkan waktu sampai 41 minggu.
3. Pada umumnya pemeriksaan ELISA ditujukan untuk HIV 1. Bila test ini
digunakan pada penderita HIV-2, nilai positifnya hanya 24%. Tetapi HIV2 paling
banyak ditemukan hanya di Afrika.
4. Masalah false positive pada test ELISA. Hasil ini sering ditemukan pada keadaan
positif lemah, jarang ditemukan pada positif kuat. Hal ini disebabkan karena
morfologi HIV hasil biakan jaringan yang digunakan dalam test kemurniannya
berbeda dengan HIV di alam. Oleh karena itu test ELISA harus dikorfirmasi
dengan test lain. Tes ELISA mempunyai sensitifitas dan spesifisitas cukup tinggi
walaupun hasil negatif tesini tidak dapat menjamin bahwa seseorang bebas
100%dari HIV1terutama pada kelompok resiko tinggi.
Akhir-akhir ini test ELISA telah menggunakan recombinant antigen yang
sangat spesifik terhadap envelope dan core. Antibodi terhadap envelope ditemukan
pada setiap penderita HIV stadium apa saja (Graf k). Sedangkan antibodi terhadap
p24 (proten dari

core) bila positif berarti

penderita

sedang mengalami

kemunduran/deteriorasi.
Pemeriksaan Western Blot10
Pemeriksaan Western Blot cukup sulit, mahal, interpretasinya membutuhkan
pengalaman dan lama pemeriksaan sekitar 24 jam. Cara kerja test Western Blot yaitu
dengan meletakkan HIV murni pada polyacrylamide gel yang diberi anus
elektroforesis sehingga terurai menurut berat protein yang berbeda-beda, kemudian
dipindahkan ke nitrocellulose. Nitrocellulose ini diinkubasikan dengan serum
penderita. Antibodi HIV dideteksi dengan memberikan antlbodi anti-human yang
sudah dikonjugasi dengan enzim yang menghasilkan wama bila diberi suatu substrat.
Test ini dilakukan bersama dengan suatu bahan dengan profil berat molekul standar,
kontrol positif dan negatif. Gambaran band dari bermacam-macam protein envelope
dan core dapat mengidentifikasi macam antigen HIV.
Antibodi terhadap protein core HIV (gag) misalnya p24 dan protein precursor
(p25) timbul pada stadium awal kemudian menurun pada saat penderita mengalami
deteriorasi. Antibodi terhadap envelope (env) penghasil gen (gp160) dan precursornya (gp120) dan protein transmembran (gp4l) selalu ditemukan pada penderita AIDS

16

pada stadium apa saja. Beberapa protein lainnya yang sering ditemukan adalah: p3 I,
p51, p66, p14, p27, lebih jarang ditemukan p23, p15, p9, p7.
Secara singkat dapat dikatakan bahwa bila serum mengandung antibodi HIV
yang lengkap maka Western blot akan memberi gambaran profil berbagai macam
band protein dari
HIV antigen cetakannya. Definisi hasil pemeriksaan Western Blot menurut profit dari
band protein dapat bermacam-macam, pada umumnya adalah:
1. Positif:
a. Envelope : gp4l, gpl2O, gp160.
b. Salah satu dari band : p 15, p 17, p24, p31, gp4l, p51, p55, p66.
2. Negatif :
Bila tidak ditemukan band protein.
3. Indeterminate
Bila ditemukan band protein yang tidak sesuai dengan profil positif. Hasil
indeterminate diberikan setelah ditest secara duplo dan penderita diberitahu untuk
diulang setelah 23 bulan. Hal ini mungkin karena infeksi masih terlalu dini sehingga
yang ditemukan hanya sebagian dari core antigen (p17, p24, p55). Akhir-akhir ini
hasil positif diberikan bila ditemukan paling tidak p24, p31 dan salah satu dari gp41
atau gpl60. Dengan makin ketatnya !criteria Western Blot maka spesifisitas menjadi
tinggi, dan sensitifitas turun dari 100% dapat menjadi hanya 56% karena hanya 60%
penderita AIDS mempunyai p24, dan 83% mempunyai p31. Sebaliknya cara ini dapat
menurunkan angka false positive pada kelompok risiko tinggi, yang biasanya
ditemukan sebesar 1 di antara 200.000 test padahal test tersebut sudah didahului
dengan test ELISA. Besar false negative Western Blot belum diketahui secara pasti,
tapi tentu tidak not. False negative dapat terjadi karena kadar antibodi HIV rendah,
atau hanya timbul band protein p24 dan p34 saja (yaitu pada kasus dengan infeksi
HIV2). False negative biasanya rendah pada kelompok masyarakat tetapi dapat
tinggi pada kelompok risiko tinggi. Cara mengatasi kendala tadi adalah dengan
menggunakan recombinant HIV yang lebih murni.
Pemeriksaan Penunjang HIV AIDS lainnya: 11
1. Foto Thoraks
2. Pemeriksaan Fisik
Penampilan umum tampak sakit sedang, berat
Tanda vital
17

Kulit terdapat rush, steven jhonson


Mata merah, icterik, gangguan penglihatan
Leher: pembesaran KGB
Telinga dan hidung; sinusitis berdengung
Rongga mulut: candidiasis
Paru: sesak, efusi pleura, otot bantu
Jantung: pembesaran jantung
Abdomen: ascites, distensi abdomen, pembesaran hepar
Genetalia dan rectum: herpes
Neurologi: kejang, gangguan memori, neuropati.
3. Mantoux test
4. Pemeriksaan Laboratorium Darah (Kadar CD4, Hepatitis, Paps Smear,
Toxoplasma, Virus load)

2.10. Penatalaksanaan
Dapatkah perempuan terinfeksi HIV hamil/memiliki anak?
Kita semua berhak untuk menikah dan mendapatkan keturunan. Menjadi HIVpositif
tidak mengurangi hak kita. Namun jelas tanggung jawab kita juga lebih besar. Kita
pasti ingin supaya anak kita tidak terinfeksi HIV, dan ada beberapa cara untuk
mengurangi risiko ini. Selain itu, kita pasti ingin tetap sehat agar dapat membesarkan
anak kita. Cara terbaik untuk memastikan bahwa bayi kita tidak terinfeksi dan kita
tetap sehat adalah dengan memakai terapi antiretroviral (ART). Perempuan terinfeksi
HIV di seluruh dunia sudah memakai obat antiretroviral (ARV) secara aman waktu
hamil lebih dari sepuluh tahun. ART sudah berdampak besar pada kesehatan
perempuan terinfeksi HIV dan anaknya. Oleh karena ini, banyak dari mereka yang
diberi semangat untuk mempertimbangkan mendapatkan anak.12
Penatalaksanaan selama kehamilan
Konseling merupakan keharusan bagi wanita positif-HIV. Hal ini sebaiknya dilakukan
pada awal kehamilan, dan apabila ia memilih untuk melanjutkan kehamilannya, perlu
diberikan konseling berkelanjutan. Perkembangan penatalaksanaan selama kehamilan
mengikuti kemajuan-kemajuan dalam pengobatan individu non hamil dengan HIV.
Konsekuensi penyakit yang tidak diobati sangat merugikan, terjadi pergeseran dari

18

fokus yang semata-mata untuk melindugi janin menjadi pendekatan yang lebih
berimbang berupa pengobatan ibu dan janinnya.13
Banyak terjadi kemajuan dalam pengobatan HIV. Sejumlah penelitian
membuktikan bahwa kombinasi analog nukleosida-zidovudin, zalsitabin, atau
lamivudin- yang diberikan bersama dengan suatu inhibitor protease-indinavir,
ritonavir, atau sakuinavir- sangat efektif untuk menekan kadar RNA HIV. Pada pasien
HIV yang diberi kemoterp triple, angka kelansungan hidup jangka panjang meningkat
dan morbiditas berkurang.13
Center for Disease Control and Prevention (1998) menganjurkan untuk
menawarkan terapi antiretrovirus (ARV) kombinasi pada wanita hamil. Petunjuk ini
diperbarui oleh Perinatal HIV Guidelines Working Group (2000,2001). Working
Group merekomendasikan pemeriksaan hitung CD4+ limfosit T dan kadar RNA HIV
kurang lebih tiap trimester, atau sekitar setiap 3 sampai 4 bulan. Hasil pemeriksaan ini
dipakai untuk mengambil keputusan untuk memulai terapi ARV, mengubah terapi,
menentukan rute pelahiran, atau memulai profilaksis untuk pneumonia Pneumocystis
carinii.13
Bahkan dengan pengobatan, penyulit non-infeksi menigkat pada para wanita
dan bayi. Wanita hamil yang diterapi dua inhibitor transcriptase mengalami efek
merugikan dan sering terjadi pelahiran preterm.13
Pada ibu juga dilakukan pemeriksaan untuk penyakit menular seksual lain dan
tuberculosis (TB). Pasien diberi vaksininasi untuk hepatiis B, influenza, dan mungkin
juga infeksi pneumokokus. Apabila hitung CD4+ kurang dari 200 /ul, dianjurkan
pemberian profilaksis primer P.carinii. Pneumonia diterapi dengan pentamidin atau
sulfametoksazol-trimetoprin oral atau intravena. Infeksi oportunistik simtomatik lain
yang mungkin timbul adalah toksoplasmosis, herpes, dan kandidiasis.13
Seksio Sesarea
European Collaborative Study Group (1994) melaporkan bahwa seksio
sesarea elektif dapat mengurangi risiko penularan vertikal sekitar 50 %. Apabila
dianalisis berdasarkan terapi ARV, tidak terdapat perbedaan yang bermakna dalam
angka penularan pada wanita yang mendapat zidovudin dan menjalani seksio sesarea
versus per vaginam.13
Internasional Perinatal HIV Group (1999) baru-baru ini melaporkan
penularan HIV vertikal secara bermakna menurun menjadi kurang dari separuh apabia
saksio sesarea dibandingkan dengan cara pelahiran lain. Apabila pada masa prenatal,
19

intrapartum, dan neonatal juga diberikan terapi ARV dan dilakukan seksio sesarea,
kemungkinan penularan vertikal akan berkurang sebesar 87 % disbanding dengan cara
pelahiran lain dan tanpa terapi ARV.13
Berdasarkan

temuan

ini,

American

College

of

Obstetricians

and

Gynecologists (2000) menyimpulkan bahwa seksio sesarea terencana harus dianjurkan


bagi wanita terinfeksi HIV dengan jumlah RNA HIV-1 lebih dari 1000 salinan/ml. Hal
ini dilakukan tanpa memandang apakah pasien sedang atau belum mendapat terapi
ARV. Persalinan terencana dapat dilakukan sebelum 38 minggu untuk mengurangi
kemungkinan pecahnya selaput ketuban.13
Penulis-penulis lain mengungkapkan kekhawatiran morbiditas mungkin
meningkat secara bermakna pada wanita terinfeksi HIV yang menjalani seksio
sesarea. Mereka menyimpulkan bahwa terapi ARV kombinasi dapat menurunkan
resiko penularan vertikal sampai serendah 2 %. Morris,dkk tidak melaporkan adanya
penularan perinatal pada 76 wanita yang mendapat terapi ARV sangat aktif (High
active antiretroviral therapy, HAART).13
2.11. Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Bayi
Program untuk mencegah terjadinya penularan HIV dari ibu ke bayi, dilaksanakan
secara komprehensif dengan menggunakan empat prong, yaitu:
- Prong 1 : Mencegah terjadinya penularan HIV pada perempuan usia reproduktif;
- Prong 2 : Mencegah kehamilan yang tidak direncanakan pada ibu HIV positif;
- Prong 3 : Mencegah terjadinya penularan HIV dari ibu hamil HIV positif ke bayi
yang dikandungnya;
- Prong 4 : Memberikan dukungan psikologis, sosial dan perawatan kepada ibu HIV
positif beserta bayi dan keluarganya.
Pada daerah dengan prevalensi HIV yang rendah, diimplementasikan Prong 1
dan Prong 2. Pada daerah dengan prevalensi HIV yang terkonsentrasi,
diimplementasikan semua prong. Ke-empat prong secara nasional dikoordinir dan
dijalankan oleh pemerintah, serta dapat dilaksanakan institusi kesehatan swasta dan
lembaga swadaya masyarakat.14
Pedoman baru dari WHO mengenai pencegahan penularan dari ibu-ke-bayi
(preventing

mother-to-child

transmission/PMTCT)

berpotensi

meningkatkan

ketahanan hidup anak dan kesehatan ibu, mengurangi risiko (mother-to-child

20

transmission/MTCT) hingga 5% atau lebih rendah serta secara jelas memberantas


infeksi HIV pediatrik.15
Pedoman itu memberikan perubahan yang bermakna pada beberapa tindakan
di berbagai bidang. Anjuran kunci adalah:
-

ART untuk semua ibu hamil yang HIV-positif dengan jumlah CD4 di bawah 350
atau penyakit WHO stadium 3 atau penyakit HIV stadium 4, tidak menunda mulai
pengobatan dengan tulang punggung AZT dan 3TC atau tenofovir dan dengan
3TC atau FTC.

Penyediaan antiretroviral profilaksis yang lebih lama untuk ibu hamil yang HIVpositif yang membutuhkan ART untuk kesehatan ibu.

Apabila ibu menerima ART untuk kesehatan ibu, bayi harus menerima profilaksis
nevirapine selama enam minggu setelah lahir apabila ibunya menyusui, dan
profilaksis dengan nevirapine atau AZT selama enam minggu apabila ibu tidak
menyusui.

Untuk pertama kalinya ada cukup bukti bagi WHO untuk mendukung pemberian
ART kepada ibu atau bayi selama masa menyusui, dengan anjuran bahwa
menyusui dan profilaksis harus dilanjutkan hingga bayi berusia 12 bulan apabila
status bayi adalah HIV-negatif atau tidak diketahui.

Apabila ibu dan bayi adalah HIV-positif, menyusui harus didorong untuk paling
sedikit dua tahun hidup, sesuai dengan anjuran bagi populasi umum.15
Untuk mencegah penularan pada bayi, yang paling penting adalah mencegah

penularan pada ibunya dulu. Harus ditekankan bahwa bayi hanya dapat tertular oleh
ibunya. Jadi bila ibunya HIV-negatif, maka bayi juga tidak terinfeksi HIV. Status HIV
ayah tidak mempengaruhi status HIV bayi.16
Hal ini dapat dijelaskan karena sperma ayah yang menderita HIV tidak
mengandung virus, yang mengandung virus adalah air mani. Oleh sebab itu, telur ibu
tidak dapat ditularkan sperma. Jelas, bila perempuan tidak terinfeksi, dan melakukan
hubungan seks dengan laki-laki tanpa kondom dalam upaya buat anak, ada risiko si
perempuan tertular. Dan bila perempuan terinfeksi pada waktu tersebut, dia sendiri
dapat menularkan virus pada bayi. Tetapi laki-laki tidak dapat langsung menularkan
janin atau bayi. Hal ini menekankan pentingnya kita menghindari infeksi HIV pada
perempuan.16
Tetapi untuk ibu yang sudah terinfeksi, kehamilan yang tidak diinginkan harus
dicegah. Bila kehamilan terjadi, harus ada usaha mengurangi viral load ibu di bawah
21

1.000 agar bayi tidak tertular dalam kandungan, mengurangi risiko kontak cairan
ibunya dengan bayi waktu lahir agar penularan tidak terjadi waktu itu, dan hindari
menyusui untuk mencegah penularan melalui ASI. Dengan semua upaya ini,
kemungkinan si bayi terinfeksi dapat dikurangi jauh di bawah 8%.16
Jelas yang paling baik adalah mencegah penularan pada perempuan. Hal ini
membutuhkan peningkatan pada program pencegahan, termasuk penyuluhan,
pemberdayaan perempuan, penyediaan informasi dan kondom, harm reduction, dan
hindari transfusi darah yang tidak benar-benar dibutuhkan.16
Untuk mencegah kehamilan yang tidak diinginkan, program tidak jauh
berbeda dengan pencegahan infeksi HIV. ODHA perempuan yang memakai obat
antiretroviral harus sadar bahwa kondom satu-satunya alat KB yang efektif. Dalam
hal ini, mungkin kondom perempuan adalah satu sarana yang penting.16

PMTCT dengan antiretroviral penuh


Untuk mengurangi viral load ibu, cara terbaik adalah dengan memakai terapi
antiretroviral penuh sebelum menjadi hamil. Ini akan mencegah penularan pada janin.
Terapi antiretroviral dapat diberikan walaupun tidak memenuhi kriteria untuk mulai
terapi antiretroviral; setelah melahirkan bisa berhenti lagi bila masih tidak
dibutuhkan.16
Pedoman baru dari WHO melonggarkan kriteria terapi antiretroviral untuk
perempuan hamil. WHO mengusulkan perempuan hamil dengan penyakit stadium
klinis 3 dan CD4 di bawah 350 ditawarkan ART (antiretroviral therapy). Jelas bila
CD4 di bawah 200, atau mengalami penyakit stadium klinis 4, sebaiknya si
perempuan memakai ART.16
Namun ada sedikit keraguan dengan rejimen yang sebaiknya diberikan pada
perempuan. Perempuan hamil tidak boleh diberikan efavirenz pada triwulan pertama.
Selain itu, ada masalah dengan pemberian nevirapine pada perempuan dengan CD4
yang masih tinggi: efek samping ruam dan hepatotoksisitas (keracunan hati) lebih
mungkin dialami oleh perempuan dengan di atas 250. Jadi dibutuhkan pemantauan
yang lebih ketat, sedikitnya pada beberapa minggu pertama, bila nevirapine diberikan
pada perempuan dengan CD4 di atas 250.16
22

PMTCT mulai dini


Namun sering kali si ibu baru tahu dirinya terinfeksi setelah dia hamil. Mungkin ARV
tidak terjangkau. Seperti dibahas, ibu hamil tidak boleh memakai efavirenz pada
triwulan pertama, tetapi mungkin nevirapine menimbulkan efek samping. Bila dia
pakai terapi TB (tuberculosis), diusulkan dihindari nevirapine, walaupun boleh tetap
dipakai NNRTI (non nucleoside reverse transcriptase inhibitor) ini bila tidak ada
pilihan lain. Dan apa dampak bila ART diberikan pada perempuan tetapi tidak pada
suami yang terinfeksi juga? Apakah si perempuan akan kasih obatnya pada suami,
atau lebih buruk lagi, obatnya dibagi dengan dia? Bila menghadapi beberapa masalah
ini, atau si perempuan tetap tidak memenuhi kriteria untuk mulai ART penuh,
sebaiknya dia ditawarkan protokol yang berikut16:
Ibu: AZT dari minggu 28
NVP dosis tunggal + AZT + 3TC saat melahirkan
AZT + 3TC diteruskan selama 7 hari
Bayi: NVP dosis tunggal + AZT segara setelah lahir
AZT diteruskan selama 7 hari
AZT dan 3TC diteruskan setelah melahirkan untuk mencegah timbulnya
resistansi pada nevirapine, karena walaupun hanya satu pil diberikan waktu
persalinan, tingkat nevirapine dapat tetap tinggi dalam darah untuk beberapa hari, jadi
serupa dengan monoterapi dengan nevirapine. Hal yang serupa pada bayi dicegah
dengan pemberian AZT setelah dosis tunggal nevirapine.16
Sekali lagi, protokol ini membutuhkan diagnosis dan perawatan agak dini, dan
obat harus tersedia. Bila ibu diberikan AZT untuk kurang dari empat minggu sebelum
melahirkan, AZT pada bayi sebaiknya diteruskan selama empat minggu, bukan tujuh
hari.16
PMTCT mulai lambat
Bila baru dapat mulai pengobatan waktu persalinan, protokol yang dapat dipakai
seperti berikut16:
Ibu: NVP dosis tunggal + AZT + 3TC saat melahirkan
AZT + 3TC diteruskan selama 7 hari
Bayi: NVP dosis tunggal + AZT segara setelah lahir
AZT diteruskan selama 4 minggu
23

Makanan bayi
Sampai 10% bayi dari ibu HIV-positif tertular melalui menyusui, tetapi jauh lebih
sedikit bila disusui secara eksklusif. Sebaliknya lebih dari 3% bayi di Indonesia
meninggal akibat infeksi bakteri, yang sering disebabkan oleh makanan atau botol
yang tidak bersih. Ada juga yang diberi pengganti ASI (PASI) dengan jumlah yang
kurang sehingga bayi meninggal karena malnutrisi. ASI memberi semuanya yang
dibutuhkan oleh bayi untuk tumbuh dan melawan infeksi. Jadi sering kali bayi lebih
berisiko bila diberi PASI daripada ASI dari ibu HIV-positif. Oleh karena itu usulan
sekarang adalah agar bayi diberi ASI eksklusif untuk enam bulan pertama, kemudian
disapih mendadak, kecuali bila dapat dipastikan bahwa PASI secara eksklusif dapat
diberi dengan cara AFASS16:
A

= Affordable (terjangkau)

= Feasible (praktis)

= Acceptable (diterima oleh lingkungan)

= Safe (aman)

= Sustainable (kesinambungan)
Itu berarti tidak boleh disusui sama sekali. Ada banyak masalah: mahalnya

harga susu formula, sehingga sering bayi tidak diberi cukup; kalau bayi menangis, ibu
didesak

untuk

menyusuinya;

ibu

yang

tidak

menyusui

dianggap

kurang

memperhatikan bayi, atau melawan dengan asas; air yang dipakai tidak bersih, atau
campuran tidak disimpan secara aman; dan apakah PASI dapat diberi terus-menerus.16
ASI eksklusif berarti bayi hanya diberi ASI dari saat lahir tanpa makanan atau
minuman lain, termasuk air. ASI adalah sangat halus, mudah diserap oleh perut/usus.
Makanan lain lebih keras sehingga lapisan perut/usus membuka agar diserap,
membiarkan HIV dalam ASI menembus dan masuk darah bayi. Jadi risiko penularan
tertinggi bila bayi diberi ASI yang mengandung HIV, bersamaan dengan makanan
lain. Harus ada kesepakatan sebelum melahirkan antara ibu, ayah dan petugas medis
agar bayi langsung disusui setelah lahir, sebelum diberi makanan/minuman lain.
Setelah enam bulan, sebaiknya disapih secara mendadak (berhenti total menyusui).16
Advokasi
Saat ini di Indonesia, jarang kita dapat bertemu dengan dokter kandungan atau dokter
anak yang berpengetahuan mengenai HIV, masalah perempuan dengan HIV, dan
bagaimana mencegah penularan HIV dari ibu-ke-bayi. Dengan semakin banyak
24

perempuan terinfeksi HIV, sudah waktunya setiap Pokja (Kelompok kerja) AIDS di
rumah sakit rujukan AIDS melibatkan dokter kandungan dan dokter anak.16

BAB III
KESIMPULAN
HIV/AIDS adalah suatu sindrom defisiensi imun yang ditandai oleh adanya infeksi
oportunistik dan atau keganasan yang tidak disebabkan oleh defisiensi imun primer
atau sekunder atau infeksi kongenital melainkan oleh human immunodeficiency
virus.Penyebab dari virus ini adalah dari retrovirus golongan retroviridae, genus lenti
virus.Terdiri dari HIV-1 dan HIV-2.
Kita masih belum mengetahui secara persis bagaimana HIV menular dari ibuke-bayi. Namun, kebanyakan penularan terjadi saat persalinan (waktu bayinya lahir).
Selain itu, bayi yang disusui oleh ibu terinfeksi HIV dapat juga tertular HIV. Ada
beberapa faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan bayi terinfeksi HIV. Yang
paling mempengaruhi adalah viral load (jumlah virus yang ada di dalam darah)
ibunya. Namun risiko penularan lebih tinggi pada saat persalinan, karena bayi
tersentuh oleh darah dan cairan vagina ibu waktu melalui saluran kelahiran. Jelas,
jangka waktu antara saat pecah ketuban dan bayi lahir juga merupakan salah satu
faktor risiko untuk penularan. Juga intervensi untuk membantu persalinan yang dapat
melukai bayi, misalnya vakum, dapat meningkatkan risiko. Karena air susu ibu (ASI)
dari ibu terinfeksi HIV mengandung HIV, juga ada risiko penularan HIV melalui
menyusui.

25

Pemeriksaan laboratorium yang dapat dipakai untuk membantu menegakkan


diagnosis adalah yang dapt menemukan virus atau partikelnya dalam tubuh seorang
bayi. Meskipun beberapa tes dapat mendeteksi HIV di tubuh bayi pada usia dini, tes
tersebut (seperti tes PCR) belum secara luas tersedia di Indonesia. Adapun
pemeriksaan penunjang yang dilakukan adalah pemeriksaan serologi HIV.
Pemeriksaan antibodi HIV paling banyak menggunakan metoda ELISA/EIA (enzyme
linked immunoadsorbent assay). Pemeriksaan ELISA harus menunjukkan hasil positif
2 kali (reaktif) dari 3 test yang dilakukan, kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan
konfirmasi yang biasanya dengan memakai metoda Western Blot. ELISA yang sangat
sensitif dan Western Blot yang sangat spesifik mutlak dilakukan untuk menentukan
apakah seseorang positif AIDS.
Kita semua berhak untuk menikah dan mendapatkan keturunan. Menjadi
HIVpositif tidak mengurangi hak kita. Namun jelas tanggung jawab kita juga lebih
besar. Kita pasti ingin supaya anak kita tidak terinfeksi HIV, dan ada beberapa cara
untuk mengurangi risiko ini. Selain itu, kita pasti ingin tetap sehat agar dapat
membesarkan anak kita. Cara terbaik untuk memastikan bahwa bayi kita tidak
terinfeksi dan kita tetap sehat adalah dengan memakai terapi antiretroviral (ART).
Perempuan terinfeksi HIV di seluruh dunia sudah memakai obat antiretroviral (ARV)
secara aman waktu hamil lebih dari sepuluh tahun. ART sudah berdampak besar pada
kesehatan perempuan terinfeksi HIV dan anaknya. Oleh karena ini, banyak dari
mereka yang diberi semangat untuk mempertimbangkan mendapatkan anak

BAB IV
Nama

: Ny. S

Umur

: 21 tahun

Agama

: Islam

Suku

: Jawa

Pendidikan

: SD

Pekerjaan

: IRT
26

Alamat

: Kedung langkap kraton kencong 4/12 kraton

Tanggal MRS

: 07 Maret 2015

No RM

: 06.90.99

Ny. SITI/21 tahun/008342/Umum/Jumat 06-2-2015/


Jam Kedatangan: pukul 18.30 WIB
SUBJEKTIF
Keluhan Utama:

Pasien mengeluh kenceng-kenceng

Riwayat Penyakit Sekarang:


Pasien merasa hamil 9 bulan. Pasien mengaku merasa kenceng-kenceng sejak jam
08.007 maret 2015. Pada saat bersamaan pasien juga merasa ada air yang merembes
lewat vagina kemudian pasien periksa kebidan desa pukul 15.00 7 maret 2015 oleh
bidan dan dikatakan sudah pembukaan 1 cm. Kemudian pasien dirujuk ke RSD. dr.
Soebandi karena B.20. Saat dilakukan anamnesis, pasien mengatakan bahwa belum
keluar lendir bercampur darah. Kenceng-kenceng dirasakan semakin berat terutama di
pinggang
Riwayat Penyakit Dahulu :
Pasien mengetahui dirinya mengidap HIV sejak usia kehamilan 3 bulan (6 bulan yang
lalu)
Riwayat infeksi disangkal
Riwayat penyakit sistemik (Hipertensi, Diabetes Mellitus, Penyakit Paru, Penyakit
Kardiovaskuler) disangkal
Riwayat Penyakit Keluarga :
Suami pasien adalah seorang penderita HIV
Riwayat Pengobatan :
Pasien tidak menjalani terapi HIV
Selama hamil pasien tidak pernah mengkonsumsi obat-obatan
Riwayat Menarche

: Usia 11 tahun

Riwayat Menstruasi : 7 hari / teratur /Dismenore (-)


Riwayat Marital

: 19 tahun (1x)

Riwayat Obstetri

: I. Hamil ini

Riwayat ANC :Rutin priksa kebidan sejak kehamilan yang ke 2 bulan


27

Riwayat KB

: Pil KB selama 8 bulan

HPHT

: 12 Juni 2014

HPL

: 19 Maret 2015

TBJ

: 2790 gram

PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis

Keadaan umum

: cukup

Kesadaran

: Kompos mentis

Vital Sign
Tekanan Darah

: 120/80 mmHg

Nadi

: 104 x/menit

Frekuensi nafas

: 24 x/menit

Suhu axila

: 37,5 oC

Tinggi badan

: 159 cm

BB

: 63 kg

K/L : a/i/c/d = +/-/-/Tho: Cor: S1 S2 tunggal; Pulmo: Ves +/+, Rh -/-, Wh -/Abdomen:
o Inspeksi: bekas operasi (-)
o Auskultasi: DJJ 160x/menit.
o Perkusi: redup
o Palpasi:

L1: TFU pertengahan pusat dan simphisis pubis (11 cm);


L2:
L3:
ballotement (+)
L4:
His: (-)
Genitalia: VT tidak dilakukan.
Ekstremitas:
[Akral hangat pada 4 ekstremitas], [edema (-) pada 4 ekstremitas ]
Laboratorium:
Hb

: 11,5

Leukosit : 14,0
Hct

: 34,6

Tromb

: 300

28

ASSESMENT
G1P0000 UK 38-39 Minggu Janin T/H + B.20 + fetal distress + KPD< 24
jam

PLANNING

Inf cairan RL;

Inj. Cefotaxime 3x1 gram;

Pro SC

29

DAFTAR PUSTAKA
1. Wiknjosastro H, Saifuddin A B, Rachimhadhi T. Penyakit Menular. Dalam:
Wiknjosastro H, Saifuddin A B, Rachimhadhi T. Ilmu Kebidanan. Jakarta:
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo d/a Bagian Kebidanan dan
Kandungan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2006. 556.
2. Soedarmo S S, Garna H, Hadinegoro S R, Satari H I. Human Imunodeficiency
Virus. Dalam: Soedarmo S S, Garna H, Hadinegoro S R, Satari H I. Buku Ajar
Infeksi & Pediatri Tropis. Edisi ke-2. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta:
Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
2008. 243 247.
3. Cunningham F G, Gant N F, Leveno K J, Gilstrap L C, Hauth J C, Wenstrom,
K D. Penyakit Menular Seksual. Dalam: Cunningham F G, Gant N F, Leveno
K J, Gilstrap L C, Hauth J C, Wenstrom, K D. Obstetri Williams. Jakarta:
EGC. 2006. 1677 1678.
4. Anonim. Etiologi HIV/AIDS. Dalam Petunjuk penting AIDS. Cetakan I.
Jakarta: EGC. 1996.
5. Phangkawira E, Samsi K M K. Vaksin HIV: Harapan atau Khayalan?. Cermin
Dunia Kedokteran. 170:.36; 4, 2009.
6. Sundaru H, Djauzi S, Mahdi D, Sukmana N, Renggaris I, Karyadi TH. Infeksi
HIV/AIDS. Dalam: Rani AA, Soegondo S, Nazir AU, Wijaya IP, Nafrialdi,
Mansjoer A (eds). Panduan pelayanan medik perhimpunan dokter spesialis
penyakit dalam Indonesia. PB PAPDI, Jakarta;2006: 287.
7. Departemen Kesehatan RI Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat.
Faktor risiko penularan HIV dari ibu ke bayi. Dalam: Pratomo H. et al. (eds).
Pedoman pencegahan penularan HIV dari ibu dan bayi. Jakarta: Departemen
Kesehatan RI, 2006; 13-16.
8. Samsuridjal D. Gejala-gejala infeksi HIV/AIDS. Dalam kumpulan Artikel dan
Makalah untuk Pelatihan Penatalaksanaan HIV/AIDS di RS provinsi sumatera
Utara. Medan; 2002.
9. Departemen Kesehatan RI Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat.
Informasi umum. Dalam: Pratomo H. et al. (eds). Pedoman pencegahan
penularan HIV dari ibu dan bayi. Jakarta: Departemen Kesehatan RI, 2006;
10-12.
10. Lubis, Imran. Pemeriksaan Laboratorium untuk HIV, dalam AIDS pada
Cermin Dunia Kedokteran No.75, 1992. Pusat Penelitian Penyakit Menular,
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan R.I.,
Jakarta.
11. Isselbacher, J Kurt. dkk. Prinsip-Prinsip Ilmu Penyakit Dalam Harrison.
Editor: Ahmad H. Asdie. Volume 4, Edisi 13. Jakarta: EGC, 2000.
30

12. Green WC. Latar belakang dan masalah umum. Dalam: Green WC (eds). HIV,
kehamilan, dan kesehatan perempuan. Yayasan spiritia, Jakarta;2009:4-6.
13. Cunningham FG, Gant NF, Leveno KJ, Gilstrap LC, Hauth JC, Wenstrom,
KD. Penyakit menular seksual. Dalam: Cunningham FG, Gant NF, Leveno KJ,
Gilstrap LC, Hauth JC, Wenstrom, KD. Obstetri Williams. EGC, Jakarta;
2006: 1680-1681.
14. Jaringan pencegahan HIV dari ibu ke anak. Kebijakan PMTCT Indonesia:
PMTCT.net; 2008. h.1.
15. Anonim. Pedoman pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi terbaru dari
WHO. 2006. Diunduh dari:
http://marhendraputra.co.cc/info-sehat/329-pedoman-pencegahan penularanhiv-dari-ibu-ke-bayi-terbaru-dari-who-.html [Diakses
tanggal 14 Februari
2011].
16. Yayasan Spiritia. Pencegahan penularan dari ibu-ke-bayi. (PMTCT). 2008.
Diunduh dari: http://spiritia.or.id/cst/showart.php?cst=mtct [Diakses tanggal
14 Februari 2011].

31