Anda di halaman 1dari 8

BAB II

Landasan Teori
A. Psikologi Kelompok
Pada akhir ini, timbul perubahan pendapat tentang penyebab gangguan mental,
jika pada waktu lampau para ahli psikologi, seperti Freud berpendapat bahwa penyebab
gangguan mental adalah keadaan intra-psikis, para ahli sekarang berpendapat bahwa
gangguan kesehatan mental penyebabnya tidak hanya gangguan intra-psikis, tetapi
mungkin penyebabnya lingkungan atapun interaksi individu dan llingkungannya. Caplan
dan Nelson (1973), hubungan antara orang dan lingkungan merupakan proses timbale
balik. Dalma hubungan ini perlu orang yang mempunyai pandangan bahwa penyebab
tingkah laku adalah kompleks, demikian pula penyebab ganguan kesehatan mental. Oleh
karena itu perhatian pada individu saja, atau pada lingkungan saja tidak akan banyak
membantu berkurangnya gangguan kesehatan mental.
Golann dan Baker (1975) mengemukakan bahwa Psikologi komunitas merupakan
perhatian terhadap proses-proses psikologis yang umum, yang menghubungkan secara
konseptual tingkat kemasyarakatan dan tingkah laku orang, pengertian tentang hubungan
tersebut digunakan sebagai dasar yang rasional bagi program-program untuk
mengoptimalisasikan berfungsinya manusia. Yang mnedorong timbulnya psikologi
komunitas ini adalah kesadaran akan adanya penyia-nyiaan potensi manusia karena
kemiskinan dan deskriminasi rasial, juga makin sadarnya orang bahwa problem social
dan lingkungannya sangat berpengaruh pada kehidupan manusia. Problem-problem sosila
yang menentukan adalah sangat kompleks, tetapi ada komponen-komponen psikologis
pada problem-problem tersebut yang dapat dipecahkan oelh psikolog, meskipun harus
dimengerti bahwa pemecahan psikologis bukan pemecahan satu-satunya, karena ada pula
cara-cara pemecahan lain, seperti pemecahan social maupun pemecahan politis (Heller
dan Monahan, 1977). Di dalam bidang kesehatan mental focus psikologi komunitas
terutama adalah pada prevensi atau menghindari terjadinya deficit. Tujuan prevensi ini
adalah mengurangi resiko gangguan emosi di antara para anggota komunitas atau
masyarakat, usaha pengurangan resiko gangguan emosi tidak hanya ditunjukan kepada
seluruh populasi. Pelayanan prevensi terhadap gangguan emosi dilakukan melalui
intervensi social dan intervensi komunitas. Korchin (1976) mengemukakan beberapa
prinsip Psikologi Komunitas dalam penanggulangan gangguan-gangguan kesehatan
mental. Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut:
1. Faktor-faktor lingkungan social adalah sangat penting dalam penentuan dan
perubahan tingkah laku.
2. Intervensi komunitas dan intervensi social atau intervensi yang berorientasi system,
sebagai lawan intervensi individual, dapat lebih efektif untuk membuat lembaga

social, seperti keluarga atau sekolah, lebih lebih mendapatkan kesehatan mental dan
hal ini juga akan mengurangi penderitaan individual.
3. Intervensi yang dilakukan harus lebih ditujukan untuk prevensi daripada untuk
penyembuhan atau rehabilitasi gangguan emosional. Yang menjadi perhatian
psikologi komunitas tidak hanya individu yang membutuhkan, akan tetapi juga
populasi yang menghadapi bahaya (bukan orang yang sakit saja, akan tetapi juga
masyarakat yang menghadapi bahaya).
4. Intervensi harus bertujuan untuk menaikkan kompetensi social, tidak hanya
pengurangan tekanan psikologis. Program yang berorientasi komunitas harus lebih
memberi tekanan pada adptivitas pada kehidupan social daripada tekanan pada
patologi atau penyakit.
5. Bantuan yang diberikan akan lebih efektif jika bantuan itu dapat diberikan di dekat
tempat problem itu timbul. Oleh karena itu psikolog komunitas harus bekerja di
tempat yang dekat dengan orang-orang yang membutuhkannya.
6. Psikologi komunitas harus mencari klien, tidak menanti secara pasif. Pelayanan harus
fleksibel, siap kalau dibutuhkan. Dalam memberikan pertolongan harus dalam
suasana yang mengurangi jarak antara yang mebrei pertolongan dan yang diberi
pertolongan, tidak malah membuat jarak keduanya. Pertolongna harus diberikan
kepada semua orang yang membutuhkan, tidak hanya kepada mereka yang mencari
bantuan.
7. Psikolog komunitas harus menggunakan sumber-sumber (key person) di dalam
komunitas. Di dalam memberi bantuan harus menggunakan pembantu-pembantu nonprofesional. Kerja para professional lebih berbentuk memberi konsultasi daripada
langsung member pelayanan.
8. Pelayanan psikologi komunitas membutuhkan program-program dan konsep-konsep
yang baru, selain dari itu motivasi masyarakat harus di diorong.
9. Komunitas atau masyarakat harus ikut berpartisipasi dan juga mengontrol
perkembangan dan jalannya program yang melayani kebutuhan mereka. Prioritas
program harus merefleksikan kebutuhan-kebutuhan dan apa yang diperlukan oleh
komunitas.
10. Problemkesehatan mental harus dipandang secara luas, bukan secara sempit, karena
kesehatan mental berhubungan dengan banyak segi kesejahteraan masyarakat, seperti
pekerjaan, perumahan, ataupun pendidikan. Supaya program kesehatan mental
komunitas keefektifannya maksimal, program itu harus memperhatikan problem
masyarakat seluas mungkin.

11. Member pendidikan kepada masyarakat untuk mengenal sifat-sifat problem


psikososial dan sumber-sumber yang dapat memecahkannya, merupakan tugas yang
sangat bernilai dan bermanfaat. Dengan adanya pengertian mengenai hal-hal tersebut
problem dapat dihindari atau dapat ditemukan sedini mungkin, sehingga dapat diatasi
sejak awal mungkin.
12. Oleh karena banyak problem kesehatan mental berskala besar, yang diatas
kemampuan untuk diintervensi, psikolog komunitas harus berorientasi pada dan kalau
mungkin mengadakan perubahan komunitas atau perubahan social.
13. Untuk mengembangkan pengetahuan yang diperlukan untuk intervensi, psikolog
komunitas butuh penelitian yang bersifat naturalistik dan ekologis.
14.

Intervensi krisis merupakan salah satu usaha prevensi primer dalam psikologi
komunitas. Suatu krisis bukanlah sakit jiwa, krisis adalah keadaan yang sangat
menekan dan sangat berkesan, sehingga dapat menjadi sumber gangguan mental
(Altrocchi, 1980; Caplan, 1964; Korchin, 1976; Rappaport; 1977). Korchin (1976),
mengemukakan dua macam krisis, yaitu krisis aksidental dan krisis perkembanga.
Krisis perkembangan adalah krisis yang terjadi dalam perkembangan menuju
kemasakan (maturasi), pada umumnya krisis ini terjadi pada waktu bayi disapih, pada
waktu anak masuk sekolah, pada waktu anak gadis mengalami menstruasi pertama.
Pada waktu itu sering terjadi keadaan emosional yang sangat menekan, dalam
keadaan yang demikian orang membutuhkan bantuan dari orang lain untuk dapat
menghadapai keadaan tersebut, supaya tidak menjadi masalah yang lebih besar,
sehingga berakibat gangguan mental. Akan lebih baik jika sebelum krisis itu terjadi,
anak atau orang yang akan menghadapi krisis perkembangan tersebut telah
dipersiapkan sebaik-baiknya, sehingga krisis itu tidak terjadi.

B. Intervensi Krisis
Suatu krisis bukan sakit jiwa, krisis adalah keadaan yang sangat menekan dan
sangat berkesan, sehingga dapat menjadi sumber gangguan mental ( Sri Mulyani,
1985). Di dalam kesehatan Masyarakat dikenal tiga macam prevensi, yaitu :
Prevensi Primer, yang bertujuan untuk mengurangi kemungkinan terkenanya
penyakit pada masyarakat, caranya dengan vaksinasi.
Prevensi sekunder, yang merupakan usaha untuk mengurangi lamanya penyakit
bagi mereka yang telah lama menderita sakit. Fokusnya adalah menemukan penyakit
sedini mungkin, dan memeberikan penyembuhan seawal mungkin.

Prevensi tersier, adanya usaha untuk mengurangi akibat penyakit bagi mereka
yang sudah menderitanya, caranya dengan bermacam-macam rehabilitasi, rehabilitasi
fisik, vokasional maupun mental.
Bloom (dalam Heller dan Monahan, 1977), juga Roan (1984) mengungkapkan
tiga tipe program pelaksanaan prevensi, yaitu : (1) program untuk seluruh komunitas
(community wide), (2) program milestone dan (3) program resiko tinggi (high risk
program).
Program untuk seluruh komunitas ditujukkan kepada seluruh populasi, program
ini misalnya : program pembuatan lapangan baru, program pendidikan masyarakat,
program pelayanan kesejahteraan ibu dan anak.
Dalam program milestone penduduk pada periode tertentu dari hidupnya
dihadapkan pada program tertentu, tujuannya adalah supaya kemudian tidak akan
mengalami hal-hal yang dapat mengganggu kesehatan mental mereka. Milestones
psikologi yaitu saat-saat pada waktu terjadi perkembangan yang krisis yang mudah
terkena gangguan emotional dan stress, missal pertama kali berpisah dnegan orang
tua, perubahan pekerjaan, menghadapi atau permulaan masa pension. Jadi program
milestones ini ditujukan untuk menghadapi situasi atau keadaan.
Program ketiga adalah program resiko tinggi, fokusnya adalah pada penduduk
yang mempunyai resiko tinggi untuk mendapatkan gangguan mental. Yang dimaksud
dengan penduduk yang memiliki resiko tinggi adalah anak anak yang memeiliki
orang tua peminum, pemadat atau orang yang menderita gangguan mental, anak-anak
yang ditinggal oleh orang tuanya sewaktu kecil, anak-anak dari keluarga yang pecah,
orang-orang yang pernah mengalami bencana dahsyat, seperti kecelakaan, letusan
gunung, banjir, kebakaran, dan bencana yang lainnya. Orang-orang ini perlu
mendapat program yang dapat menghindarkan mereka dari stress atau gangguan
kesehatan mental.
Dalam konsepsi prevensi primer terkandung tidak hanya penelitian tentang
penyakit, tetapi penelitian tentang kesehatan. Yang terakhir ini sering kurang
mendapa perhatian. Program prevensi primer ditujukan untuk menemukan factorfaktor lingkungan yang mempengaruhi kemampuan komunitas untuk menghadapi
tekanan hidup, baik yang dapat membantu, maupun yang mengganggu (Rappaport,
1977).
Caplan (1964) dalam model prevensi psikiatri, mulai dnegan asumsi dasar bahwa
manusia membutuhkan suple-suple yang sesuai dengan tingkat perkembangannya.
Kekurangan dalam suple ini dapat berakibat gangguan kesehatan mental. Apa yang
dimaksud oleh Caplan sama dengan yang disebut oleh Maslow (1970) dengan
kebutuhan-kebutuhan dasar, menurut Maslow orang yang tidak terpenuhi kebutuhan

dasar ini juga akan terganggu penyesuaiannya. Caplan mengemukakan bahwa untuk
untuk perkembangan mental yang sehat ada tiga macam supple yang dibutuhkan,
yaitu supple fisik, supple pikososial, supple sosiokultural. Yang dimaksud dengan
supple fisik antara lain adalah makanan, tempat tinggal, perlindungan tehadap rasa
sakit, dan perlindungan terhadap rangsangan indera yang mengganggu. Supple
psikososial antgara lain adalah rangasangan emosional dan intelektual, cinta dan
kasih sayang, dan kesempatan untuk berpartisispasi dalam kesempatan social yang
memuaskan. Supple ini dapat didapatkan melalui interaksi dengan orang lain, jika
individu tidak mendapat penghargaan dari orang lain, atau tidak mendapatkan kasih
sayang, akan dapat mengakibatkan gangguan emosional pada individu tersebut.
Supple sosiokultural adalah kekuatan social yang dapat menentukan status individu
dan harapan dari orang lain terhadap individu tersebut.
Hal lain yang berfungsi sebagai prevensi primer menurut Altrocchi (1980) adalah
memberikan kesempatan pemecahan masalah yang bersifat psikologis daripada yang
bersifat kimiawi. Maksudnya orang diajar untuk mengatasi masalah-masalah dirinya
dengan cara-cara yang bersifat psikologis, yaitu berusaha mengahadapi masalah
tersebut, tidak lari melalui penggunaan obat-obatan. Prediktor yang paling baik bagi
kesehatan mental bukan tidak adanya laku abnormal, akan tetapi adanya kekuatan
kekuatan pada masyarakat dan individu (Altrocchi, 1980). Adanya kegagalan dalam
melakukan tugas perkembangan, akan berakibat pada kegagalan pada tingkat
selanjutnya. Hal ini akan menghambat kesuksesan kemudian, sehingga yang
bersangkutan dapat dengan mudah terkena gangguan emosi.
Prevensi primer dapat berupa intervensi krisis (Altrocchi, 1980; Caplan, 1964;
Korchin, 1976; Rappaport, 1977). Suatu krisis bukan sakit jiwa, krisis adalah
keadaan yang sangat menekan dan sangat berkesan, sehingga dapat menjadi sumber
gangguan mental. Korchin (1976) mengemukakan dua macam krisis, yaitu krisis
aksidental dan krisis perkembangan. Yang dimaksud dengan krisis perkembangan
adalah krisis yang terjadi dalam perkembangan menuju kemasakan (maturasi), pada
umumnya krisis ini terjadi pada waktu bayi disapih, pada waktu anak masuk sekolah,
pada waktu anak gadis mengalami menstruasi pertama, dan lain-lain. Pada waktu itu
sering terjadi keadaan emosional yang menekan, dalam keadaan yang demikian orang
membutuhkan orang lain untuk dapat menghadapi keadaan tersebut, supaya tidak
menjadi masalah yang lebih besar, sehingga berakibat gangguan mental. Akan lebih
baik jika belum krisis itu terjadi, anak atau orang yang akan menghadapi krisis
perkembangan tersebut te;lah dipersiapkan sebaik-baiknya, sehingga krisis tersebut
tidak terjadi.
Krisis aksidental adalah suatu keadaan yang kurang dapat diramalkan
sebelumnya atau yang tidak dapat diramalkan sebelumnya, sehingga tidak dapat
dihindari. Yang termasuk dalam krisis ini misalnya saja, mengalami sakit serius yang

sekonyong-konyong, kehilangan pekerjaan, kematian orang yang dicintai, gempa,


kebakaran atau bencana lain-lain yang dahsyat, yang dialami oleh komunitas maupun
individu. Krisis aksidental dapat terjadi pada orang yang mnedapat promosi dalam
pekerjaannya, atau orang yang terbelit hutang atau orang yang mulanya miskin tetapi
bahagia. Yang menentukan luas dan mendalamnya krisis ini adalah pengaruh situasi
baru, keadaan social tempat terjadinya kejadian tersebut, dan kepribadian maupun
sumber menghadapi (coping) dari individu.
Orang yang dalam keadaan krisis, mengalami kecemasan yang tinggi, ia
membutuhkan cara-cara bagaimana menghadapi keadaan yang tidak enak yang tidak
dideritanya. Orang yang dalam keadaan krisis inginmendapatkan bantuan cara-cara
untuk menghadapai kesukarannya.
Tujuan intervensi krisis ini adalah :
1.

Mengurangi ketegangan, kecemasan, kebingungan, dan ketidakberdayaan

2.

Mengembalikan orang yang dalam krisis ke fungsi sebelumnya

3.

Membantu orang yang bersangkutan, keluarga, dan orang-orang lain yang penting
bagi penderita, belajar apa yang dapat dilakukan untuk mengatasi krisis tersebut,
dan mengetahui sumber-sumber atau pelayanan-pelayanan di masyarakat yang
dapat membantu (Korchin, 1976)
Ciri-ciri krisis menurut Caplan (1964) maupun Kappaport adalah sebagai berikut:

1. Keadaan krisis ini terjadi tidak terlalu lama, biasanya antara satu sampai enam
minggu. Diatas waktu tersebut biasnya telah terjadi pemecahan, mungkin
pemecahannya tidak sesuai, misalnya bunuh diri atau membunuh, tetapi mungkin
juga terjadi pemecahan yang sesuai, yaitu penderita dapat mengatasi masalahnya, atau
dapat juga terjadi karena tidak ada pemecahan, tekanan tersebut tidak terderita, maka
terjadi mekanisme pertahanan ego, untuk mengingkari atau menyamarkan keadaan
yang tidak enek tersebut.
2. Ada kecenderungan ada perubahan ganda dalam perasaan dan keadaan kognitif
individu. Ketegangan dan ketidak-ber-dayaan menjadi ciri-ciri fase permulaan krisis
yang diikuti oleh kebingungan, sehingga penderita tidak mampu untyk memahami
dan menilai pemecahan-pemecahan yang mungkin. Jika pemecahan dapat sukses,
maka aka terjadi pengurangan afek dan akan terjadi kenaikan kapasiatas untuk
berfikir dan berbuat.
3. Jika krisis itu hanya sebagaian atau sama sekali tidak terpecahkan, krisis itu ada
kecenderungan untuk kembali lagi, akan tetapi kalau krisis itu akibat kejadiankejadian yang jarang terjadi seperti sakit keras atau bencana, tentu krisis itu hanya

terjadi satu kali. Krisis yang pernah dialamai akan mempengaruhi krisis kemudian,
dapat membuat krisis selanjutnya lebih parah, akan tetapi mungkin juga dapat
mengurangi keparahan.
Pentingnya Psikologi Komunitas dalam Intervensi Krisis (Dicky, 2011) :
1. Tenaga professional kesehatan mental terbatas jumlahnya, masyarakat tidak dapat
menunggu terus meneru atau bergantung pada tenaga professional untuk mengatasi
masalah.
2. Dalam kondisi bencana, situasi sulit dialami secara kolektif
3. Bencana dan dampak bencana dimaknai oleh individu terkait dengan konteks
lingkungannya.
4. Komunitas adalah lingkungan yang paling dekat dan pertama menyediakan bantuan
bagi individu.
5. Komunitas sendiri lah yang memahami sumber-sumber yang dapat diandalkan untuk
mengatasi massalah
6. Menjaga keberlangsungan pemulihan dan pemberdayaan
7. Tidak dapat menggantungkan pada intervensi atau bantuan dari luar komunitas secara
terus menerus.

Daftar Pustaka
Altrocchi, J. 1980. Abnormal Behavior. Harcourt Brace Jovanovich. New York
Caplan, G. 1964. Principles of Preventive Psychiatry. Basic Book. New York
Caplan, N. & Nelson, S.D. 1973. On being useful : The Nature and Consequences of
Psychological Research on Social Problems. American Psychologist.
Golann, S.E. & Baker, J., 1973. Current and Future Trends in Community
Psychology . Human Sciences Press, New York
Heller, K. & Monahan, J., 1977. Psychology and Community Change. The Dorsey
Press, Homewood, Illinois.
Korchin, S.J,. 1976. Modern Clinical Psychology. Basic Books, New York.
Maslow, A.H,.1970. Motivation and Personality. Harper and Row, New York
Martinah, Sri Mulyani. 1985. Peran Psikologi Komunitas dalam Penanggulangan
Gangguan Kesehatan Mental. Universitas Gadjah Mada
Pelupessy, Dicky. 2011. Intervensi Psikososial : Sesi Pembelajaran Konsorsium
Pendidikan Bencana. Pusat Study Krisis Fakultas Psikologi Universitas
Indonesia.
Rappaport, J., 1977. Community Psychology. Holt, Rinehart and Wiston, New York.
Roan, W.M. 1984. Upaya Pencegahan Dalam Keehatan Jiwa. Cermin Dunia
Kedokteran, No. 35, 10-17.