Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

PUSKESMAS TEGALREJO

Disusun oleh
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

Novita Diana Ayu Chandra


Rizki Fauzya Laindjong
Rabia Aftadina
Riantriana Fahrida .L.

Dosen Pembimbing :
Imaniar Noor Farida, M.Sc., Apt

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN
2014/2015

HALAMAN PENGESAHAN
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN
DI PUSKESMAS GEDONGTENGEN
TAHUN 2014

Telah disetujui oleh :

Dosen Pembimbing

Pembimbing Lapangan

Universitas Ahmad Dahlan

Puskesmas Gedongtengen

Imaniar Noor farida, M.Sc., Apt.

Zahnyah Inayatus(Lengkapi nama ibunya)

NIY : 60120697

NIP :?

Mengetahui,
Kepala Puskesmas Tegalrejo

?
NIP :?
Tanggal Pengesahan : Desember 2014

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang PKL
Kesehatan merupakan salah satu indikator tingkat kesejahteraan manusia yang
senantiasa menjadi priotas dalam pembangunan nasional suatu bangsa, bahkan kesehatan
menjadi salah satu tolak ukur indeks pembangunan manusia suatu bangsa.Hal ini terkait
dengan upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dari bangsa tersebut.
Dengan sumber daya manusia yang berkualitas maka akan semakin meningkatkan pula
daya saing bangsa tersebut dalam persaingan global saat ini.
Puskesmas merupakan suatu kesatuan organisasi kesehatan fungsional yang
merupakan pusat pengembangan kesehatan masyarakat, juga membina peran serta
masyarakat disamping memberi pelayanan secara menyeluruh dan terpadu kepada
masyarakat diwilayah kerjanya dalam bentuk kegiatan pokok.Pelaksanaan farmasi
sebagai salah satu profesi mempunyai kedudukan penting dan merupakan bagian tak
terpisahkan dari sistem pelayanan kesehatan yang diberikan oleh Puskesmas maupun
rumah sakit serta salah satu faktor yang dapat menentukan tercapainya tujuan
pembanguan kesehatan.
Bagi masyarakat luas obat merupakan jawaban dari suatu masalah kesehatan yang
dialami dan tidak terhindar dari lingkungan dan kebiasaan hidup.Dimana masyarakat
sekarang banyak melakukan kekeliruan tentang obat-obat tersebut. Mereka melakukan
pengobatan tersendiri tanpa mengetahui bagaimana cara penggunaan obat tersebut secara
baik dan benar.Dengan demikian sebagai seorang farmasis dirasa perlu membekali diri
dengan pengetahuan mengenai pelayanan farmasi.
Pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan di Puskesmas Tegalrejo bagi mahasiswa
sangatlah perlu dilakukan untuk mencapai terwujudnya pengalaman pada keadaan yang

nyata sehingga dapat memahami peran farmasi di Puskesmas dan memiliki keterampilan
yang cukup dalam melaksanakan fungsi pelayanan kefarmasian agar mampu mengelola
bidang kefarmasian di Puskesmas
B. Tujuan PKL
1. Tujuan Umum
Setelah mengikuti Praktik Kerja Lapangan ini diharapkan mahasiswa mampu
memberikan pelayanan kefarmasian dengan pendekatan pharmaceutical care, serta
mengerti dan memahami ruang lingkup Puskesmas yang meliputi perundangundangan mengenai manajemen perbekalan farmasi di Puskesmas, pengelolaan obat,
pelayanan informasi obat sesuai undang-undang kesehatan, dan kode etik
kefarmasian.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui bagaimana cara mengelola obat dan perbekalan kesehatan di
Puskesmas mulai dari perencanaan, permintaan, penerimaan obat, penyimpanan,
distribusi, pengendalian, penggunaan , serta pencatatan dan pelaporan.
b. Mengetahui pekerjaan kefarmasian di Instalasi farmasi Puskesmas.
c. Memahami pengelolaan resep di Puskesmas yang meliputi alur pelayanan resep,
penyimpanan resep, dan pemusnahan resep.

C. Manfaat PKL
a. Dapat langsung mengaplikasikan ilmu teori kefarmasian yang telah diperoleh pada
pendidikan di Perguruan Tinggi, sehingga dapat meningkatkan keterampilan
mahasiswa.
b. Memperoleh gambaran dan pengalaman kepada mahasiswa mengenai Puskesmas
dengan segala aktifitasnya sehingga mahasiswa dapat memperoleh pemahaman
mengenai peranan Apotek dan personilnya, memperoleh bekal kemampuan
profesional, managerial, pengalaman praktis dan keterampilan dalam pengelolaan
Apotek di Puskesmas.

c. Mengembangkan keterampilan berkomunikasi dengan pasien, keluarga pasien, dan


tenaga kesehatan lainnya sehingga tercapai tujuan dari pengobatan yaitu peningkatan
kualitas hidup pasien.
d. Kegiatan Praktik Kerja Lapangan ini merupakan salah satu bentuk pendidikan yang
berupa pengalaman belajar secara nyata dan komprehensif yang sangat penting dan
bermanfaat bagi mahasiswa untuk mencapai suatu keberhasilan pendidikan, sehingga
nantinya mahasiswa dapat lebih siap dan mandiri.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Struktur Organisasi
Menurut keputusan menteri kesehatan RI nomor 128/MenKes/RI/SK/II/2004,
struktur organisasi puskesmas tergantung dari kegiatan dan beban tugas masing-masing
puskesmas. Penyusunan struktur organisasi puskesmas di satu kabupaten / kota dilakukan
oleh Dinas Kesehatan kabupaten/kota, sedangkan penetapannya dilakukan dengan
peraturan daerah.
B. Perencanaan dan Pengadaan Obat
Perencanaan dilakukan untuk menetapkan jenis dan jumlah obat dan perbekalan
kesehatan yang tepat sesuai dengan kebutuhan pelayanan kesehatan dasar.Dalam

merencanakan pengadaan obat diawali dengan kompilasi data yang disampaikan


puskesmas kemudian oleh Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota diolah menjadi rencana
kebutuhan obat dengan menggunakan teknik-teknik tertentu. Tahap-tahap yang dilalui
dalam proses perencanaan obat adalah :
1. Tahap pemilihan obat, dimana pemilihan obat didasarkan pada obat generik terutama
yang tercantum dalam Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN), dengan harga
berpedoman pada penetapan Menteri.
2. Tahap kompilasi pemakaian obat, untuk memperoleh informasi :
a. Pemakaian tiap jenis obat pada masing-masing unit pelayanan
kesehatan/puskesmas pertahun
b. Persentasi pemakaian tiap jenis obat terhadap total pemakaian setahun seluruh
unit pelayanan kesehatan/puskesmas.
c. Pemakaian rata-rata untuk setiap jenis obat untuk tingkat kabupaten/Kota secara
periodic.
3. Tahap perhitungan kebutuhan obat, dilakukan dengan :
a. Metode konsumsi adalah metode yang didasarkan atas analisa data konsumsi obat
tahun sebelumnya.
b. Metode morbiditas adalah perhitungan kebutuhan obat berdasarkan pola penyakit.
4. Tahap proyeksi kebutuhan obat, dengan kegiatan-kegiatan :
a. Menetapkan perkiraan stok akhir periode yanga akan dating dengan mengalikan
waktu tunggu dengan estimasi pemakaian rata-rata/bulan ditambah stok
pengaman.
b. Menghitung perkiraan kebutuhan pengadaan obat periode tahun yang akan dating
c. Menghitung perkiraan anggaran untuk total kebutuhan obat dengan melakukan
analisa ABC-VEN, menyusun prioritas kebutuhan dan penyesuaian kebutuhan
dengan anggaran yang tersedia.
d. Pengalokasian kebutuhan obat berdasarkan sumber anggaran dengan melakukan
kegiatan menetapkan kebutuhan anggaran untuk masing-masing obat berdasarkan
sumber anggaran, menghitung persentase anggaran masing-masing obat terhadap
total anggaran dan semua sumber.

e. Mengisis lembar kerja perencanaan pengadaan obat, dengan menggunakan


formulir lembar kerja perencanaan pengadaan obat.
5. Tahap penyesuaian rencana pengadaan obat
Dilakukan untuk memperoleh informasi mengenai jumlah rencana pengadaan
skala prioritas masing-masing jenis obat tahun yang akan datang.
C. Pengadaan Obat(Lengkapi lagi)
Pengadaan obat public dan Perbekalan Kesehatan untuk pelayanan kesehatan
dasar, yaitu :
a. Kriteria obat perbekalan kesehatan meliputi kriteria umum dan persyaratan umum.
Kriteria umumnya yaitu obat termasuk dalam daftar obat Pelayanan Kesehatan Dasar
(PKD) obat program kesehatan, obat generic yang tercantum dalam Daftar Obat
Esensial Nasional (DOEN).
b. Persyaratan pemasok, yaitu memiliki izin Pedagang Besar Farmasi (PBF) yang masih
berlaku, harus memiliki dukungan dari Industri farmasi yang memiliki sertifikat
CPOB bagi masing-masing jenis sediaan obat yang dibutuhkan, harus memiliki
reputasi yang baik dalam bidang pengadaan obat, pemilik dan atau apoteker/AA
penanggung jawab Pedagang Besar Farmasi (PBF) tidak sedang dalam proses
pengadilan atau tindakan yang berkaitan dengan profesi kefarmasian, mampu
menjamin kesinambungan ketersediaan obat sesuai dengan masa kontrak.
c. Penilaian dokumen data teknis
d. Penentuan waktu pengadaan dan kedatangan obat dan perbekalan kesehatan
ditetapkan berdasarkan hasil analisa dari data sisa stok dengan memperhatikan tingkat
kecukupan obat dan perbekalan kesehatan, jumlah obat yang akan diterima sampai
dengan akhir tahun anggaran, kapasitas sarana penyimpanan, dan waktu tunggu.
e. Pemantauan status pesanan dilakukan berdasarkan system VEN dengan
memperhatikan nama obat, satuan kemasan jumlah obat diadakan, obat yang sudah
dan belum diterima.

f. Penerimaan dan pemeriksaan obat dan perbekalan kesehatan dilakukan oleh panitia
penerima yang salah satu anggotanya adalah tenaga farmasi.
D. Distribusi Obat(lengkapi lagi)
Distribusi adalah kegiatan pengeluaran dan penyerahan obat secara merata dan
teratur untuk memenuhi kebutuhan sub-sub unit pelayanan kesehatan antara lain sub unit
pelayanan kesehatan dilingkungan puskesmas. Tujuannya memenuhi kebutuhan obat sub
unit pelayanan kesehatan yang ada diwilayah kerja puskesmas dengan jenis, mutu,
jumlah dan tepat waktu. Penyaluran/distribusi adalah kegiatan pengeluaran dana
penyerahan obat secara merata dan teratur untuk memenuhi kebutuhan sub-sub unit
pelayanan kesehatan antara lain :
1. Sub unit pelayanan kesehatan di lingkungan puskesmas (kamar obat, laboratorium)
2. Puskesmas pembantu
3. Puskesmas keliling
4. Posyandu dan Poskesdes
Kegiatan yang dilakukan, yaitu :
1. Menentukan frekunsi distribusi perlu dipertimbangkan kan jarak sub unit pelayanan
dan biaya distribusi yang tersedia.
2. menentukan jumlah dan jenis obat yang diberikan, yang perlu dipertimbangkan,
pemakaian rata-rata per jenis obat, sisa stok, pola penyakit, dan jumllah kunjungan
sub unit.
3. Melaksanakan penyerahan obat dapat dilakukan dengan cara bagian gudang obat
puskesmas menyerahkan ke sub unit atau di ambil sendiri oleh sub unit pelayanan.
Hal hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan frekuensi distribusi, yaitu :
1. Jarak Sub Unit Pelayanan
2. Biaya Distribusi yang tersedia.
E. Kebijakan Pelayanan Obat
Pelayanan obat adalah proses kegiatan yang meliputi aspek teknis dan Non Teknis
yang harus dikerjakan mulai dari menerima resep dokter sampai penyerahan obat kepada

pasien. Tujuan pelayanan obat yaitu agar pasien mendapat obat sesuai dengan resep
dokter dan mendapat informasi bagaimana menggunaknanya. Semua resep yang telah
dilayani oleh puskesmas harus dipelihara dan disimpan minimal 3 tahun dan pada setiap
resep harus diberi tanda :
1. Umum, yaitu resep pasien umum
2. Askes, yaitu untuk resep pasien yang diterima oleh peserta asuransi kesehatan.
3. Jamkesmas, yaitu untuk resep yang diberikan kepada pasien yang dibebaskan dari
pembiayaan retribusi.
Untuk menjamin keberlangsungan pelayanan obat dan kepentingan pasien maka
obat yang ada di puskesmas tidak dibeda-bedakan sumber anggarannya.Semua obat yang
ada di puskesmas pada dasarnya dapat digunakan melayani semua pasien yang datang ke
puskesmas.Semua jenis obat yang tersedia di unit unit pelayanan kesehatan yang
berasal dari berbagai sumber anggaran dapat digunakan untuk melayani semua kategori
pengunjung puskesmas dan puskesmas pembantu.Setelah menerima resep dari pasien,
dilakukan hal hal berikut :
1. Pemeriksaan kelengkapan administratif resep.
a. Pemeriksaan kesesuaian farmasetik, yaitu bentuk sediaan, dosis, stabilitas, cara
dan lama penggunaannya.
b. Pertimbangan klinik seperti alergi, efek samping, interaksi dan kesesuaian dosis.
c. Konsultasikan dengan dokter apabila ditemukan keraguan pada resep atau obat
tidak tersedia.
d. Peracikan obat
Setelah memeriksa resep, dilakukan hal hal berikut, yaitu :
a. Peracikan obat
b. Pemberian etiket putih untuk obat oral dan biru untuk obat luar, serta label
kocok dahulu pada sediaan obat dalam bentuk larutan.

c. Memasukan obat dalam wadah yang sesuai dan terpisah untuk obat yang berbeda
untuk menjaga mutu obat dan penggunaan yang salah.
Setelah peracikan, dilakukan hal hal berikut, yaitu :
a. Penyerahan obat harus dilakukan dengan baik dan sopan, mengingat pasien dalam
kondisi tidak sehat.
b. Memastikan bahwa yang menerima obat adalah pasien atau keluarganya.
c. Memberikan informasi cara penggunaan obat dan hal-hal yang terkait dengan obat
tersebut, antara lain manfaat obat, makanan dan minuman yang harus dihindari,
kemungkinan efek samping, cara penyimpanan obat, dan lain lain.
Pelayanan informasi obat harus benar, jelas, mudah dimengerti, akurat, bijaksana
dan terkini sangat diperlukan dalam upaya penggunaan obat yang rasional oleh
pasien.Petugas sangat perlu menyadari bahwa pasien berhak menerima informasi yang
menyangkut efek samping serta keadaan atau tingkat keparahan penyakit pasien
hendaknya disampaikan secara hati hati dan agar kerahasiaan penyakitnya dapat dijaga
dengan sebaik baiknya.
Sebab utama mengapa penderita tidak menggunakan obat dengan tepat adalah
karena penderita tidak mendapatkan kejelasan yang cukup dari yang memberikan
pengobatan atau yang menyerahkan obat, oleh karena itu sangatlah penting memberikan
waktu untuk memberikan penyuluhan kepada penderita tentang obat yang
diberikan.Informasi yang perlu diberikan kepada pasien adalah :
1. Waktu penggunaan obat
2. Lama penggunaan obat
3. Cara penggunaan obat yang benar
4. Efek samping obat
5. Cara penyimpanan obat.

F. Alur Pelayanan Obat


Secara umum alur pelayanan pasien di Puskesmas adalah sebagai berikut :
a. Pasien berkunjung ke puskesmas, ada beberapa Puskesmas yang menyediakan nomer
antrian baik berupa kertas bertuliskan nomer urut atau yang sudah digital. Namun ada
juga puskesmas yang percaya pada kesadaran pasien sendiri untuk antri sehingga
tidak perlu menyerobot urutan Pasien lainnya.
b. Pasien dipanggil sesuai nomor urutan untuk didaftar di loket pendaftaran. Pada proses
ini, dicatat nomer Rekam Medis Pasien atau dibuatkan nomer rekam medis untuk
Pasien yang baru pertama kali berkunjung.
c. Pasien menunggu sementara petugas akan mencari Rekam Medis Pasien yang
bersangkutan di ruang catatan medis, untuk diberikan ke unit Pelayanan atau Poli
dimana tempat Pasien ingin berobat.
d. Pasien dipanggil oleh petugas bisa juga oleh perawat.
e. Pasien diperiksa, dicatat Anamnesis, Terapi, Diagnosa dan lain-lain, termasuk obat
yang diberikan dan tindakan medis kalau ada.
f. Pasien keluar, sementara dari unit pelayanan membuat resep untuk diberikan ke ruang
obat.
g. Pasien dipanggil untuk membayar (di beberapa daerah sudah gratis), kemudian
dipanggil lagi untuk menerima obat.
h. Pasien pulang
G. Display Obat
Merupakan penempatan obat obatan di puskesmas. Bisa berdasarkan abjad,
khasiat, dan cara penggunaan.
H. Gudang Obat
Fasilitas penyimpanan dan pengiriman merupkan salah satu bagian dari system
suplai obat.Gudang merupakan tempat pemberhentian sementara barang sebelum
dialirkan dan berfungsi mendekatkan barang kepada pemakai sehingga menjamin
kelancaran permintaan dan keamanan persediaan.
I. Kartu Kendali(Cari)
J. Format Buku Administrasi Pelayanan Obat(Cari)

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Struktur Organisasi (sudah ada tinggal di scan)
B. Perencanaan Pengadaan Obat(Lengkapi)
Puskesmas Tegalrejo melakukan perencanaan pengadaan obat setiap 1 tahun
sekali dengan menggunakan metode konsumsi sesuai dengan pemakaian pada tahun
sebelumnya. Permintaan dilakukan tiap 1 bulan sekali dengan menggunakan LPLPO
C. Pengadaan Obat(Lengkapi)
Puskesmas Tegalrejo tidak mengadakan obat tetapi dari gudang farmasi dan
Alkes.
D. Distribusi Obat
Pendistribusian obat oleh Puskesmas Tegalrejo dilakukan setiap 1 bulan sekali ke
poli-poli dengan cara BMHP sesuai dengan permintaan dan penggunaan barang selama 1
bulan.

E. Kebijakan Pelayanan Obat(Lengkapi)


F. Alur Pelayanan Obat(Lengkapi)
G. Display Obat
Display obat Ruang Farmasi di Puskesmas Tegalrejo sesuai dengan alfabetis dan
bentuk sediaan obat.
H. Gudang Obat(Lengkapi)
Keadaan gudang obat di Puskesmas Tegalrejo adalah sebagai berikut :\
1. Persyaratan farmasetis
a. Ruangan kering tidak lembab
b. Mempunyai ventilasi
c. Cahaya cukup
2. Cara penataan
Pengaturan obat dilakukan berdasarkan bentuk sediaan dan disusun secara
alfabetis, alkes dan narkotika di simpan di lemari terpisah.
I. Kartu Kendali(Lengkapi)
J. Format Buku Administrasi Pelayanan Obat(Lengkapi)