Anda di halaman 1dari 6

Landasan teori

Berdasarkan hukum fasa gibs, jumlah terkecil variabel bebas yang dilakukan untuk
menyatakan keadaan suatu sistem dengan tepat pada kesetimbangan di ungkapkan sebagai:
F: C P + 2
Dimana: F= jumlah derajat kebebasan
C= Jumlah komponen
P= jumlah fasa
Dalam ungkapan di atas, kesetimbangan dipengaruhi oleh temperatur, tekanan dan
komposisi sistem. Jumlah derajat kebebasan untuk sistem tiga komponen pada temperatur
dan tekanan tetap dinyatakan sebagai:
F:3P
(Oktaviana, 2012)
Satu fasa membutuhkan dua derajat kebebasan untuk menggambarkan sistem secara
sempurna, dan untuk dua fasa dalam kesetimbangan, satu derajat kebebasan. Jadi, dapat
digambarkan diagram fasa dalam satu bidang. Cara terbaik untuk menggambarkan sistem tiga
komponen adalah dengan mendapatkan suatu kertas grafik segitiga (Dogra, 2009: 473).
Konsentrasi dapat dinyatakan dalam istilah % berat atau fraksi mol. Bila komposisi
masing-masing dinyatakan dalam persen berat masing-masing komponen, maka perlu
diketahui massa jenis tiap komponen untuk menghitung beratnya masing-masing.
m=XV
keterangan : m = massa
= massa jenis
V = volume
Bila berat masing-masing komponen sudah dihitung, hitung persen berat masing-masing
komponen (fraksi dari masing-masing komponen). Alas segitiga menggambarkan komposisi
campuran air-kloroform (Tim Dosen Kimia Fisik, 2012: 14).
Oleh karena itu, sistem tiga komponen pada temperatur dan tekanan tetap mempunyai
jumlah derajat kebebasan paling banyak dua, maka diagram fasa sistem ini dapat

digambarkan dalam fasa bidang datar berupa suatu segitiga sama sisi yang disebut diagram
Terner (Oktaviana, 2012).
Dengan ini dapat digambarkan diagram fasa yang menyatakan susunan dua komponen.
Diagram ini digambarkan sebagai segitiga sama sisi.

Gambar 11.16. Diagram Fasa Sistem Tiga Komponen


Sudut-sudut A, B, C menyatakan susunan komponen murni. Campuran antara A dan B, A dan
C serta B dan C, terletak pada sisi-sisi segitiga. Campuran antara a, B dan C terletak dalam
segitiga. Suatu campuran berisi 30% A, 20% B dan 50% C terletak dititik D (Sukardjo, 2005:
273-274).
Air dan asam asetat dapat bercampur seluruhnya, demikian juga dengan kloroform dan
asam asetat. Air dan kloroform hanya dapat campur sebagian. Apa yang terjadi jika ketiganya
berada bersama-sama? (Atkins, 2006: 218).
Asam asetat , asam etanoat atau asam cuka adalah senyawa kimia asam organik yang
dikenal sebagai pemberi rasa aroma dalam makanan. Asam cuka memilih rumus empiris
C2H4O2. Rumus ini seringkali ditulis dalam bentuk CH 3-COOH,CH3COOH atau CH3CO2H.
Asam asetat murni (disebut asam asetat glasial) adalah cairan higroskopis tak berwarna dan
memiliki titik beku 16,70C. Asam asetat merupakan salah satu asam karboksilat paling
sederhana, setelah asam formal (Alamsyah, 2011).
Asam asetat lebih suka pada air dibandingkan kepada kloroform oleh karenanya
bertambahnya kelarutan kloroform dalam air lebih cepat dibandingkan kelarutan air dalam
kloroform. Penambahan asam asetat berlebih lebih lanjut akan membawa sistem bergerak
kedaerah satu fase (fase tunggal). Namun demikian, saat komposisi mencapai titik a 3, ternyata
masih ada dua lapisan walaupun sedikit (Tim Dosen Kimia Fisik, 2012: 14).
Adanya suatu zat terlarut mempengaruhi kelarutan zat terlarut lainnya. Efek garam-keluar
(setting-out) adalah berkurangnya kelarutan suatu gas (atau zat bukan-ion lainnya) di dalam
air jika suatu garam ditambahkan. Efek garam ke dalam (setting-in) juga dapat terjadi,
dimana sistem terner lebih pekat (dalam arti mempunyai air lebih sedikit) dari pada sistem
biner. Garam juga dapat mempengaruhi kelarutan elektrolit lain, seperti amonium klorida,
aluminium sulfat dan air. Titik b menunjukkan kelarutan klorida dalam air: campuran denagn
komposisi b1 terdiri atas klorida yang tak larut dan larutan jenuh dengan komposisi b.

Gambar 8.18. Diagram fasa, pada temperatur dan tekanan tetap Untuk sistem terne NH4Cl / (NH4)2SO4

/ H2O
(Atkins, 2006: 220)
http://mutmainnahlatief.wordpress.com/2012/06/08/sistem-tiga-komponendiagram-fasa-sistem-terner/

Percobaan diagram terner (zat cair tiga komponen) ini bertujuan untuk membuat kurva
kelarutan suatu cairan (benzena) yang terdapat dalam dua campuran tertentu (kloroform dan
air). Prinsip percobaan ini adalah like dissolve like, yaitu suatu senyawa terlarut sempurna
pada pelarut yang kepolarannya cenderung sama, misalnya senyawa polar terlarut pada
pelarut polar, ataupun sebaliknya. Selain itu juga menggunakan prinsip kelarutan tiga
komponen menurut aturan fasa Gibbs.
Metode yang digunakan adalah titrasi (dengan menambahkan zat ketiga yang mampu
menambahkan atau mengurangi kelarutan dari dua campuran yaitu kloroform dan air). serta
untuk mencari volume titran pada titik akhir titrasi (yaitu, Titik pada saat tidak terjadi
perubahan warna. Yaitu dari larutan bening agak keruh menjadi larutan keruh).
Kloroform dan air tidak dapat bercampur sempurna membentuk fase tunggal. karena air
bersifat polar sedangkan kloroform bersifat semipolar. Perbedaan kepolaran air dan
kloroform tidak terlalu besar sehingga kedua larutan tersebut tidak dapat bercampur
sempurna. Terbentuknya dua fase yang tidak saling campur sempurna ini, bisa dibedakan
antara air dengan kloroform.
Pada saat kesembilan campuran air dengan kloroform ini dititrasi oleh larutan benzena,
larutan berubah menjadi keruh. Hal ini terjadi karena pecahnya larutan tiga komponen
menjadi dua larutan konjugat terner. Pada kondisi ini campuran yang merupakan fasa tunggal
berubah menjadi campuran fasa biner (yaitu satu fasa berupa campuran antara air dan
benzena, dan fasa yang lainnya yaitu antara air dan kloroform). Hal ini terjadi karena
penambahan benzena pada dua cairan yang dapat bercampur sempurna akan mempengaruhi
kelarutan dari cairan air dan kloroform tersebut, dimana benzena akan terlarut sebagian ke
dalam air dan kloroform. Pemvariasian volume dimaksudkan untuk memudahkan saat
membuat kurva dan mengolahnya menjadi diagram terner. Pada kuva tentu harus didapatkan
beberapa titik, karena kurva terdiri lebih dari satu titik. Jadi, dengan memvaraisikan volume
air (C) dan kloroform (A) akan didapat lebih dari satu titik untuk diplotkan pada kurva.
Pada saat titrasi warna keruh yang dihasilkan tidak boleh terlalu keruh,karena jika terlalu
keruh berarti kelarutan benzena pada larutan air dan kloroform tersebut sudah terlalu jenuh.
Dari hasil percobaan didapatkan hasil berupa peningkatan fraksi mol air dengan semakin
meningkatnya komposisi air didalam Erlenmeyer. Hal ini dikarenakan dengan meningkatnya
komposisi atau volume air maka volume kloroform yang terdapat dalaam Erlenmeyer

berkurang sehingga fraksi mol airnya menjadi lebih besar dari fraksi mol kloroform karena
mol bebanding lurus dengan volume (n=.v/BM).
Dari data pengamatan akan terlihat bahwa peningkatan fraksi mol air diikuti dengan
penurunan fraksi mol benzena. Hal ini karena sesuai prinsip like dissolve like. Kepolaran
benzena berbeda dengan kepolaran air, sehingga benzena semakin sulit larut dengan
banyaknya air yang ada, kalaupun bias benzene lebih akan cenderung ke kloroform yang
semipolar. Karena itu peningkatan fraksi mol benzene.
Dari hasil ini, akan diolah menjadi suatu kurva atau diagram terner (yaitu suatu diagram fasa
system zat cair tiga komponen yang digambarrkan dalam suatu segitiga sama sisi).
Diagram terrner memudahkan untuk memahami bagaimana pengaruh penambahan suatu zat
terhadap kelarutan dua campuran yang tadinya saling larut ssempurna.
Dari hasil pembuatan kurva kelarutan suatu cairan pada system tiga komponen ini dapat
diketahui bahwa benzena banyak larut dalam kloroform, sedangkan pada air benzene hanya
akan larut sedikit atau larut sebagian.
http://ilmualambercak.blogspot.com/2013/03/diagram-terner-sistem-zat-cairtiga.html

Sistem adalah suatu zat yang dapat diisolasikan dari zat- zat lain dala suatu bejana
inert, yang menjadi pusat perhatian dalam mengamati pengaruh perubahan temperature,
tekanan serta konsentrasi zat tersebut. Sedangkan komponen adalah yang ada dalam sistem,
seperti zat terlarut dan pelarut dalam senyawa biner. Banyaknya komponen dalam sistem C
adalah jumlah minimum spesies bebas yang diperlukan untuk menentukan komposisi
semua fase yang ada dalam sistem.
Definisi ini mudah diberlakukan jika spesies yang ada dalam system tidak bereaksi
sehingga kita dapat menghitung banyaknya. Fasa merupakan keadaan materi yang seragam di
seluruh bagiannya, tidak hanya dalam komposisi kimianya tetapi juga dalam keadaan
fisiknya. Contohnya: dalam sistem terdapat fasa padat, fasa cair dan fasa gas. Banyaknya fasa
dalam sistem diberi notasi P. Gas atau campuran gas adalah fasa tunggal . Kristal adalah
fasa tunggal dari dua cairan yang dapat bercampur secara total membentuk fasa tunggal.
Campuran dua logam adalah sistem dua fasa (P=2), jika logam-logam itu tidak dapat
bercampur, tetapi merupakan sistem satu fasa(P=1), jika logam-logamnya dapat dicampur.
Pada perhitungan dalam keseluruhan termodinamika kimia, J.W Gibbs menarik kesimpulan
tentang aturan fasa yang dikenal dengan Hukum Fasa Gibbs , jumlah terkecil perubahan
bebas yang diperlukan untuk menyatakan keadaan suatu sistem dengan tepat pada
kesetimbangan diungkapkan sebagai:
V=CP+2
Dimana V = jumlah derajat kebebasan
C = jumlah komponen
P = jumlah fasa
Jumlah fasa dalam sistem zat cair tiga kompoen tergantung pada daya saling larut
antar zat cair tersebut dan suhu percobaan. Andaikan ada tiga zat cair A, B dan C. A dan B
saling larut sebagian. Penambahan zat C kedalam campuran A dan B akan memperbesar atau
memperkecil daya saling larut A dan B.

(Ahsanudin Iwan. 2011. http://iwan.blogspot.com/2011/11/praktikum-kelarutan-zat-diagramterner.html)


Kelarutan suatu zat adalah suatu konsentrasi maksimum yang dicapai suatu zatdalam
suatu larutan. Partikel-partikel zat terlarut baik berupa molekul maupun berupaion selalu
berada dalam keadaan terhidrasi (terikat oleh molekul-molekul pelarut air).Makin banyak
partikel zat terlarut makin banyak pula molekul air yang diperlukan untuk menghindari
partikel zat terlarut itu.
Setiap pelarut memiliki batas maksimumdalam melarutkan zat. Untuk larutan yang
terdiri dari dua jenis larutan elektrolit makadapat membentuk endapan (dalam keadaan
jenuh).Pemisahan suatu larutan dalamcampuran dapat dilakukan dengan berbagai cara salah
satunya dengan ekstraksi. Ektraksi merupakan suatu metoda yang didasarkan pada perbedaan
kelarutankomponen campuran pada pelarut tertentu dimana kedua pelarut tidak
salingmelarutkan. Kelarutan suatu zat adalah suatu konsentrasi maksimum yang dicapai
suatu zatdalam suatu larutan. Partikel-partikel zat terlarut baik berupa molekul maupun
berupaion selalu berada dalam keadaan terhidrasi (terikat oleh molekul-molekul pelarut air).
Makin banyak partikel zat terlarut makin banyak pula molekul air yang diperlukan
untuk menghindari partikel zat terlarut itu. Setiap pelarut memiliki batas maksimumdalam
melarutkan zat. Untuk larutan yang terdiri dari dua jenis larutan elektrolit maka dapat
membentuk endapan (dalam keadaan jenuh). Jika kedalam sejumlah air kita tambahkan terus
menerus zat terlarut lama kelamaan tercapai suatu keadaan dimana pada keadaan tersebiut
semua molekul air akan terpakai untuk menghidrasi partikelyang dilarutkan sehingga larutan
itu tidak mampu lagi menerima zat yang akan dtambahkan.Kita katakan larutan itu mencapai
keadaan jenuh.
Zat cair yang hanya sebagian larut dalam cairan lainya, dapat dinaikan
kelarutannyadengan menambahkan suatu zat cair yang berlainan dengan kedua zat cair yang
lebih dahulu dicairkan. Bila zat cair yang ketiga ini hanya larut dalam suatu zat cair yang
terdahulu, maka biasanya kelarutan dari kedua zat cair yang terdahulu itu akan menjadi lebih
kecil. Tetapi bilazat cair yang ketiga itu larut dalam kedua zat cair yang terdahulu, maka
kelarutan dari keduazat cair yang terdahulu akan menjadi besar.
Gejala ini dapat terlihat pada sistem kloroform-asam asetat- air. Bila asam asetat
ditambahkan kedalam suatu campuran heterogen kloroform dan air pada suhu tertentu,
kelarutan kloroform dalam air akan bertambah, sehingga pada suatu ketikaakan menjadi
homogen. Jumlah asam asetat yang harus ditambahkan untuk mencapai titik homogen (pada
suhu tertentu tadi), tergantung dari komposisi campuran kloroform dalam air.
Untuk campuran yang terdiri atas tiga komponen, komposisi (perbandingan masingmasing komponen) dapat digambarkan di dalam suatu diagram segitiga sama sisi yangdisebut
dengan Diagram Terner. Komposisi dapat dinyatakan dalam fraksi massa (untuk cairan) atau
fraksi mol (untuk gas).
Diagram tiga sudut atau diagram segitiga berbentuk segitiga sama sisi dimana setiap
sudutnya ditempati komponen zat. Sisi-sisinya itu terbagi dalam ukuran yang
menyatakan bagian 100% zat yang berada pada setiap sudutnya. Untuk menentukan letak
titik dalamdiagram segitiga yang menggambarkan jumlah kadar dari masing-masing
komponen dilakukan sebagai berikut.
Suatu sistem tiga komponen yang mana mempunyai dua pengubah komposisi yang
bebas, sebut saja X2 dan X3. Jadi komposisi suatu sistem tiga komponen dapat dialurkan
dalam koordinat cartes dengan X2 pada salah satu sumbunya dan X3 pada sumbu yang lain
yang dibatasi oleh garis , garis tersebut berbentuk X2 + X3 = 1.
Karena X itu tidak simetris terhadap ketiga komponen, biasanya, komposisi
dialurkan pada suatu segitiga sama sisi dengan tiap-tiap sudutnya digambarkan suatu
komponen murni, bagi suatu segitiga sama sisi, jumlah jarak dari seberang titik di dalam

segitiga ketiga sisinya sama dengan tinggisegitiga tersebut.Jarak antara setiap sudut ke
tengah-tengah sisi yang berhadapan dibagi 100 bagian sesuai dengan komposisi dalam
persen. Untuk memperoleh suatu titik tertentu dengan mengukur jarak terdekat ketiga sisi
segitiga.
Gambar Diagram Terner
(Dedi Sugianto.2011. http://scribd.com/doc/667890/Diagram-Terner-2.html)
Diagram tiga sudut atau diagram segita berbentuk segitiga sama sisi dimana sudutsudutnya ditempati oleh komponen zat. Sisi-sisinya itu terbagi dalam ukuran yang
menyatakan bagian 100% zat yang berada pada setiap sudutnya. Untuk menentukan letak
titik dalam diagram segitiga yang menggambarkan jumlah kadar dari masing-masing
komponen.
Pada salah satu sisinya ditentukan kedua titik yang menggambarkan jumlah kadar zat
dari masing-masing zat yang menduduki sudut pada kedua ujung sisi itu. Dari dua titik ini
ditarik garis yang sejajar dengan sisi yang dihadapinya, titik dimana kedua garis itu
menyilang, menggambarkan jumlah kadar masing-masing.Titik dimana terjadi
kesetimbangan antara wujud satu fasa dengan dua fasa dari campuran ketiga komponen
tersebut, apabila dihubungkan akan membentuk suatu diagram yang menunjukkan batas-batas
antara daerah (region) satu fasa dengan daerah (region) dua fasa. Dua macam campuran pada
titik kesetimbangan dapat dihubungkan dengan tie line apabila keduanya dicampurkan
menghasilkan campuran akhir yang berada pada daerah dua fasa.
(Dani Mustofa. 2011. http://che_must.blogspot.com/2011/03/kelarutan-zat-diagramterner.html)