Anda di halaman 1dari 6

I.

Formula Asli
R/ Krim Kosmetik

II. Rancangan Formula


Nama Produk
Jumlah Produk
Tanggal Pembuatan
No. Reg
No. Bets
Komposisi

III.

:
: 2 @ 40 g
: 16 Januari 2013
:
:
: Tiap 40 g mengandung
VCO
15%
TEA
2%
Asam Stearat
6%
Adeps Lanae
Cetyl Alcohol
5%
Gliserin
25%
Nipagin
0,1%
Nipasol
0,01%
Dimethicone
2%
BHT
0,05%
Rose oil
Aquadest
ad
40%

Master Formula
Diproduksi

Tanggal

Tanggal

Oleh

Pembuatan

Produksi

Kode Bahan

Nama Bahan

Kegunaan

Dibuat Oleh

Disetujui Oleh

Per wadah

Per bets

001
002
003
004
005
006
007
008
009
010
011
012

VCO
TEA
Asam Stearat
Adeps Lanae
Cetyl Alcohol
Gliserin
Nipagin
Nipasol
Dimethicone

Zat aktif
Emulgator
Emulgator
Basis
Pembentuk massa

Emolien
Pengawet
Pengawet
Antibusa
Antioksidan
Pengaroma
Pembawa

BHT
Rose oil
Aquadest

IV.Alasan Pembuatan Produk


Krim adalah bentuk sediaan setengah padat, berupa emulsi mengandung air tidak kurang
dari 60% dan dimaksudkan untuk pemakaian luar.(Dirjen POM.1989)
Krim didefinisikan sebagai cairan kental atau emulsi setengah padat baik bertipe air
dalam minyak atau minyak dalam air. Krim biasanya digunakan sebagai emolien atau
pemakaian obat padat kulit. (Ansel.1989)
Krim adalah sediaan homogen,viscous atau semi solid yang biasanya mengandung
larutan atau suspensi satu atau lebih zat aktif dalam basis yang cukup. Krim
diformulasikan menggunakan basa hidrofilik atau hidrofobik untuk mendapatkan krim
yang tersatukan dengan secret kulit. Krim biasanya digunakan pada kulit atau membrane
mukosa untuk perlindungan, pengobatan atau pencegahan. Krim harus menggunakan
pengawet serta mengandung zat tambahan yang cocok seperti anti oksidan, stabilizer,
pengemulsi dan pengental (BP, 1988)
Komposisi krim
1. Zat berkhasiat

Sifat fisika dan kimia dari bahan atau zat berkhasiat dapat menentukan cara
pembuatan dan tipe krim yang dapat dibuat, apakah krim tipe minyak dalam air
atau tipe air dalam minyak.
2. Minyak
Salah satu fase cair yang bersifat nonpolar
3. Air.
Salah satu fase cair yang bersifat polar. Untuk pembuatan digunakan air yang
telah dididihkan dan segera digunakan setelah dingin.
4. Pengemulsi :
Umumnya berupa surfaktan anion, kation atau nonion.pemilihan surfaktan
didasarkan atas jenis dan sifat krim yang dikehendaki. Untuk krim tipe minyak
air digunakan zat pengemulsi seperti trietanolaminil stearat dan golongan
sorbitan, polisorbat, poliglikol, sabun. Untuk membuat krim tipe air-minyak
digunakan zat pengemulsi seperti lemak bulu domba, setil alkohol, stearil alkohol,
setaseum dan emulgida.
5. Bahan tambahan;
Untuk sediaan semi solid agar peningkatan penetrasi pada kulit:
Indonesia sebagai negara yg beriklim tropis dgn tingkat pentinaran matahari yg sngat
panas, menyebabkan kulit pada lapisan corneum menjadi kering dan kurang lentur. Untuk
itu diperlukan krim pelembab yang memperbaiki kulit kering.

V. Alasan Penambahan Bahan


1. Virgin Coconut Oil (Zat Aktif)
VCO diyakini mampu melembabkan kulit dan menghaluskan kulit serta sangat
ampuh untuk melembutkan kulit. Struktur molekul VCO yang kecil mudah diserap kulit
sehingga sel-sel kulit mendapat nutrisi yang dibutuhkan (J Kuncoro. 2010)
Asam lemak jenuh pada VCO dapat meningkatkan metabolisme secara cepat
sehingga mendorong proses penggantian jaringan kulit yang rusak dengan sel baru.
Proses ini membantu menghaluskan dan menipiskan strech marks (Sutarmi. 2006)

2. TEA (Emulgator)
TEA luas digunakan dalam formulasi topikal, umumnya dalam bentuk emulsi.
TEA membentuk sabun dengan asam lemak bebas, seperti asam stearat atau asam oleat.
Konsentrasinya untuk emulsifikasi adalah 2 4 % dan 2 5 kali untuk asam lemak
(Kibbe, 2006: 754).
3. Asam Stearat (Emulgator)
Asam stearat luas digunakan dalam formulasi oral dan topikal. Dalam formulasi
topikal, asam stearat digunakan sebagai emulgator dengan konsentrasi 1 20 % (Kibbe,
2006: 697).
Biasanya 2 4 % TEA dan 5 15 % asam stearat dibutuhkan, tergantung pada
bobot minyak yang teremulsi (Scovilles: 322).
4. Cetyl Alcohol (Pembentuk massa)
Cetyl alcohol digunakan dalam kosmetik dan formulasi antara lain suppositoria,
emulsi, lotion, krim, dan salep. Dalam emulsi o/w, cetyl alcohol dilaporkan akan
meningkatkan stabilitas dengan mengkombinasikannya dengan agen pengemulsi yang
larut air (Kibbe, 2006: 155).
Serupa dengan steryl alcohol, juga memberikan tekstur lembut pada kulit dan luas
digunakan dalam bentuk kosmetik krim dan lotion (RPS 18th: 1312).
Sebagai emulien, konsentrasinya yaitu 2 5 % (Kibbe, 2006: 155).

5. Gliserin
Diformulasi farmasi topikal dan kosmetik, gliserin umum atau sering digunakan
sebagai humektan dan emolien (Excipients. 2009; 283)
Gliserin berfungsi sebagai emolien dan humekta pada range 30% (Excipients.
2009; 2830
6. Nipagin
Metil paraben luas dipakai sebagai pengawet dalam kosmetik, makanan, dan
formulasi. Ia dapat digunakan sendiri atau dikombinasi dengan paraben atau pengawet

lainnya. Dalam kosmetik, metil paraben adalah pengawet yang paling sering digunakan
(Kibbe, 2006: 441 - 442).
Paraben efektif pada rentang pH yang luas dan spektrum hambat aktivitas
antimikroba yang luas. Dalam sediaan topikal, konsentrasinya 0,02 0,3% (Kibbe, 2006:
442)
7. Nipasol
Propil paraben luas dipakai sebagai pengawet dalam kosmetik, makanan, dan
formulasi. (Kibbe, 2006: 596).
Dalam sediaan topikal, konsentrasinya adalah 0,01 0,6% (Kibbe, 2006: 596).

VI.

Cara Kerja
1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Ditimbang semua bahan (fase minyak dan fase air)
3. Bahan fase minyak (Adeps lanae, Cetyl alcohol, Asam stearat, Dimethicone) dimasukkan
ke dalam gelas kimia A dan dipanaskan hingga 70C sambil diaduk hingga homogen.
Setelah suhunya agak turun, tambahkan VCO yang telah dilarutkan nipasol ke dalamnya.
4. Bahan fase air (Glycerin, TEA, Nipagin) dimasukkan ke dalam gelas kimia B dan
dipanaskan hingga 40 60 C sambil diaduk hingga homogen
5. Dimasukkan bahan fase air ke dalam bahan fase minyak yang telah di lebur dan diaduk
secara konstan.

6. Dimasukkan Rose Oil dan BHT


7. Diaduk secara terus-menerus hingga campuran pengental.
8. Dimasukkan ke dalam wadah dan diberi etiket.