Anda di halaman 1dari 16

TUGAS INDIVIDU

PROSES KIMIA LANJUT


MATERI :

PROSES INDUSTRI KLOROMETANA

Disusun Oleh :
Nama

: Anas Fahmi Imron

NIM

: 011200305

Jurusan

: Teknokimia Nuklir

Semester

: VI

Dosen

: Dr Deni Swantomo, M.Eng

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR


BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL
YOGYAKARTA
2015

INDUSTRI PEMBUATAN METIL


KLORIDA
1 PENDAHULUAN
Metil klorida, juga disebut sebagai klorometana, R-40 atau HCC 40, adalah
senyawa kimia organik yang termasuk dalam kelompok haloalkana. Senyawa
ini dulu digunakan sebagai pendingin. Senyawa ini berbentuk gas tak
berwarna yang mudah terbakar dengan bau sedikit manis. Karena sifatnya
racun, maka saat inisenyawa ini tak digunakan lagi pada produk-produk
rumah tangga. Metil klorida pertama kali disintesis oleh kimiawan Perancis
Jean-Baptiste

Dumas

dan

menguapkan

campuran

Eugene

metanol,

Peligot
asam

pada

sulfat,

tahun
dan

1835

dengan

natrium

klorida.

(wikipedia)
Metil klorida merupakan senyawa klorometana selain metilen klorida dan
karbon tetraklorida. Senyawa metil klorida dapat diproduksi dengan proses
hidroklorinasi fase gas metanol, sehingga bahan baku utama metil klorida
adalah metanol dan asam klorida. Metanol dan asam klorida, keduanya
adalah reaktan berharga murah. Oleh karena itu akan lebih menguntungkan
jika dijadikan bahan baku untuk membuat metil klorida, karena metil klorida
adalah pelarut yang harganya lebih mahal. Penggunaan proses hidroklorinasi
dari metanol akan lebih menguntungkan jika produk yang diinginkan hanya
metil klorida dan dengan kapasitas pabrik yang kecil (Mc Ketta).
92% metil klorida yang dihasilkan di Amerika Serikat digunakan sebagai
feedstock

dalam

pembuatan

bahan

lanjutan

metil

klorosilane.

Metil

klorosilane digunakan dalam produksi fluida silikon, elastomer, dan resin.


Namun paling besar digunakan sebagai fluida silikon, dimana digunakan
dalam tingkatan yang luas dari produk termasuk proses pembantu seperti
agen antifoaming, agen pelepasan, dan pelumas ringan. Metil klorida juga

digunakan dalam bidang kimia untuk produk konsumsi seperti kosmetik, auto
polishes,

pelitur

furniture,

dan

lapisan

kertas

(www.OxyChem.com).

Pembuatan tertramethyl lead dan tripatane (2,2,3,-trimethylbutane) sebagai


bahan tambahan anti ketukan untuk bensin, adalah penggunaan paling luas
dari metil klorida (www.cdc.gov). Metil klorida juga digunakan dalam sintesis
berbagai senyawa, dan sebagai pengekstraks untuk lemak, minyak, dan
resin. Metil klorida juga telah digunakan sebagai bahan pembakar dalam
aerosol dan pembuatan obat (drugs) terlarang (www.inchem.org).
Dalam pembuatan metil klorida diperlukan ketelitian karena kondisi reaksi
tidak menyukai kompetisi reaksi untuk 2 molekul metanol yang bergabung
untuk membentuk dimetil eter. Akan tetapi reaksi utama pembentukan metil
klorida tetap dominan karena dimetil eter yang terbentuk sangat sedikit
(Rase).

2 MACAM MACAM PROSES


Macam-macam proses pembuatan metil klorida secara komersial yang
dikembangkan, antara lain :

2.1 KLORINASI METANA


Menurut Mc Ketta (1972), secara umum sintesis metil klorida dengan metode
klorinasi metana dapat dibuat dengan beberapa cara, antara lain :

Proses thermal chlorination


Proses photochlorination
Proses klorinasi metana dengan katalis Alumindo

Pada proses klorinasi metana, metana bukan merupakan produk tunggal,


karena terbentuk produk lain seperti diklorometana, triklorometana dan
kloroform. Reaksi ini berjalan secara eksotermik.
CH4 + Cl2 CH3Cl + HCl

CH3Cl + 2 Cl2 CH2Cl2 + HCl


CH2 + Cl2 CHCl3 + HCl
2CH3Cl2 + 3Cl2 2CCl4 + HCl
Proses klorinasi metana menghendaki kemurnian metana tinggi, sehingga
diperlukan alat cryogenic destilasi untuk treatment gas alam, yang investasi
peralatan ini cukup mahal, yield proses klorinasi metana 80-85% (Kirk
Othmer, Vol5, 1993).

2.2 HIDROKLORINASI METANOL


Dari Weissermel, pembuatan metil klorida dengan metode hidroklorinasi
metanol dapat dibuat dengan dua cara :

Pembuatan metil klorida dari metanol dan asam klorida pada fase gas.
CH3OH + HCl CH3Cl + HCl

Reaksi ini dilakukan pada suhu 100-150oC dengan kelebihan tekanan yang
tipis baik tanpa katalis maupun dengan katalis homogen seperti ZnCl 2 atau
FeCl3.

Pembuatan metil klorida dari metanol dan asam klorida pada fase cair.
CH3OH + HCl CH3Cl + HCl

Reaksi ini dilakukan pada suhu 300-380 oC dan pada tekanan 3-6 bar dengan
katalis heterogen seperti ZnCl2, CuCl2, H3PO4 dengan bantuan SiO2, atau
dengan Al2O3 pada fixed atau fluidized bed.
Dari www.freepatentonline.com, reaksi berlangsung pada fase gas dan
menggunakan katalis dalam bentuk padat atau cair. Kondisi reaksi harus
dijaga, karena dapat membentuk dimetil eter. Reaksi :
CH3OH CH3OCH3 + H2O

3 PEMILIHAN PROSES
Dari kedua proses yang ada dipilih proses hidroklorinasi metanol dengan
pertimbangan :
a. Produk yang diinginkan hanya metil klorida, sedangkan klorinasi
metana selain metil klorida juga menghasilkan produk lain seperti
metilen klorida, kloroform, dan karbon tetraklorida (Othmer,1993).
Pada

hidroklorinasi

metanol,

selain

produk

metil

klorida,

juga

dihasilkan produk samping dalam jumlah sangat sedikit yaitu dimetil


eter. Akan tetapi dimetil eter dapat direduksi dengan melakukan proses
paling tidak pada dua reaktor operasi dengan memasukkan seluruh
umpan asam klorida yang dibutuhkan ke dalam reaktor pertama
sementara memisahkan pemasukan umpan metanol terutama sebagai
uap, diantara reaktor (www. patentstorm.us).
b. Yield pada proses hidroklorinasi metanol dapat mencapai 95%
sedangkan

proses

klorinasi

metana

sebesar

80-85%

(Kirk

Othmer,1993).
c. Pada proses klorinasi metana, metana sebagai bahan baku harus
memiliki kemurnian tinggi sehingga diperlukan biaya yang mahal (Mc
Ketta).

4 KEGUNAAN PRODUK
Penggunaan metilklorida dewasa ini antara lain adalah :
a. Bahan baku pembuatan silikon.
b. Bahan baku pembuatan kosmetik,

produk

rumah

tangga,

dan

makanan.
c. Komponen penting dalam buthyl rubber.
d. Bahan baku untuk memproduksi cationic polymer untuk flokulan dalam
proses pengolahan air.

5 SIFAT SIFAT BAHAN DAN PRODUK


5.1 SIFAT

SIFAT

BAHAN BAKU

UTAMA

5.1.1 Metanol (CH3OH)


Sifat sifat fisik :
Berat molekul, gram/mol : 32,042
Titik didih (1atm), oC : 64,7
Suhu kritis,oC : 239,43
Tekanan kritis, kPa : 8096
Hf (liquid) pada 25oC, J/mol : -201.170
Gf(liquid) oada 25oC, J/mol : -162.620
Densitas pada 25oC, g/ml : 0,787
Kapasitas panas cair, J/mol.K
Cp = 40,125 + 3,1046E-01T+(-1,0291E-03)T2+1,4598E-06T3
Kapasitas panas gas, J/mol oK
Cp = 40,046+(3,8287E-02)T+(-2,4529E-04)T2+(-2,1679E-07)T3+(5,9909E11)T4
(Yaws, 1999)

Sifat sifat kimia :

Pembuatan dimetil eter : dimetil eter akan terbentuk dengan dehidrasi


metanol dengan katalis Alumindo pada suhu 300C.
2CH3OH + RCOOH CH3OCH3 + H2O

Reaksi dengan asam klorida :


CH3OH + HCl CH3Cl + H2O

Dekomposisi :
CH3OH CO + H2

Dehidrogenasi dan oksidasi parsial :


CH3OH --------> HCHO + H2
2CH3OH + O2 --------> HCCHO + 3H2O

5.1.2 Asam Klorida (HCl)


Sifat-sifat fisis
Berat molekul, g/mol : 36,5
Titik didih ( 1 atm), oC : -83,0314
Suhu kritis, oC : 51,55
Tekanan kritis, atm : 82,5
Hf (liquid) pada 25oC, J/mol : -92.300
Gf (liquid) pada 25oC, J/mol : -95.30
Densitas pada 25oC, g/ml : 1,268
Viskositas, 20oC, cp : 0,0156
(Yaws, 1999)

Sifat sifat kimia :

Reaksi oksidasi dengan logam : Fe 2O3 bereaksi pada suhu 300C


menghasilkan FeCl2 dan H2O

Reaksi dengan oksidator : HCl dan O 2 bereaksi dalam fase gas

menghasilkan gas klorin.


Reaksi substitusi dan hidroksil alifatik dengan asam klorida
ROH +HCl RCl + H2O

5.2 SIFAT

SIFAT

PRODUK

5.2.1 Metil Klorida


Sifat-sifat fisik :
Sifat-sifat Fisis
Berat molekul, g/mol : 50,53
Titik didih ( 1 atm), C : -25,73
Suhu kritis, C : 143
Tekanan kritis, atm : 65,9
Hf (liquid) pada 25C, J/mol : -86.320
Gf (liquid) pada 25C, J/mol : -62.890
Viskositas, 20C, cp : 0,244
(Yaws, 1999)

Sifat-sifat kimia

Metil klorida mempunyai kemampuan mediasi dengan mekanisme


reaksi Friedel Crafts, Gignant reagent dan Wurtz synthesis :
CH3Cl + C6H6 --------> C6H5 + HCl (Crafis)
CH3Cl + Mg --------> CH3MgCl (Grignard)
2CH3Cl + 2Na --------> CH6 + 2NaCl (Wurtz)

Metilklorida akan bereaksi kuat dengan Al menghasilkan metal


Alumindo klorida untuk katalis polimerisasi dan hidrogenasi dari

hidrokarbon.
Silikon bereaksi

menghasilkan dimetilkloridasilane.
Tetramethyl Lead digunakan sebagai bahan pencampur bensin, dibuat

dengan

metilklorida

dengan

adanya

Cu

akan

dengan mereaksikan metil klorida dengan campuran Pb monosodium


dengan katalis AlCl3.
5.2.2 Air
Sifat-sifat fisis
Berat molekul, g/mol : 18
Titik didih : 100
Suhu Kritis : 647,13
Tekanan kritis : 220,5
Hf (liquid) pada 25oC, J/mol : -241.800
Gf (liquid) pada 25oC, J/mol : -228.600
Densitas pada 25oC : 1
Kapasitas panas cair, J/mol.K :
Cp=92,053+(-3,9953E-02)T+(-2,1103E-04)T2+(5,3469E-07)T3
Kapasitas panas gas(J/mol.K) :
Cp=33,933+(-8,4186E-03)T+2,9906E-05T2+(-1,7825E-08)T3+3,6934E-12T4

Sifat sifat kimia :

Dibentuk melalui reaksi : H+ + OH- H2O

Mampu

pembentuknya.
Mudah melarutkan zat.

menghidrolisis

ester

menjadi

senyawa-senyawa

6 TINJAUAN PROSES SECARA UMUM


Proses hidroklorinasi adalah suatu proses dengan atom halogen yang berasal
dari

asam

klorida

bergabung

dengan

suatu

senyawa

organik.Proses

hidroklorinasi meliputi:
1. Reaksi adisi
2. Reaksi substitusi
Senyawa yang dapat dibuat pada proses hidroklorinasi dengan reaksi adisi
adalah kloroolefin dan diolefin.Pembuatan kloroolefin dalam hal ini adalah
vinil klorida dengan bahan bakunya adalah gas asetilen dan HCl.
HC CH + HCl H2C = CHCl
Proses hidroklorinasi dengan reaksi substitusi terjadi pada pembuatan metal
klorida
CH3OH + HCl CH3Cl + H2O
metanol asam klorida metal klorida air
Pada reaksi ini ion hidroksil digantikan oleh ion klorin dari asam klorida. Pada
proses hidroklorinasi ini, tidak hanya penambahan klorida saja yang spesifik
tapi juga katalisnya. Kebanyakan katalis yang digunakan adalah pembawa
halogen seperti Pb, Sb, dan P dengan valensi dua,namun sebagai katalis
kurang stabil jika dibandingkan dengan valensi yang lebih tinggi. Karbon
aktif, clay dan alumina dapat digunakan sebagai katalis pada proses ini (Kirk
Othmer, Vol 5, 1993).

6.1 KONSEP PROSES


6.1.1 Dasar Reaksi
Proses pembuatan metil klorida dari metanol dan asam klorida dengan
katalisator alumina (Al2O3) dilakukan melalui hidroklorinasi dengan reaksi
sebagai berikut:
CH3OH(g) + HCl(g) CH3Cl(g) + H2O(g)
Reaksi hidroklorinasi metanol dengan asam klorida merupakan reaksi orde 2
(www.wikipedia.com).
6.1.2 Mekanisme Reaksi
Reaksi katalitis dengan zat reaktan metanol dan HCl berbentuk gas dan
katalisator Al2O3 berbentuk padatan berlangsung menurut mekanisme
sebagai berikut:
1.

a. Difusi gas reaktan dari fase gas ke permukaan luar katalis.


b. Difusi reaktan dari permukaan luar katalis melewati pori-pori ke
permukaan pori katalis (difusi molekuler).

2. Adsorpsi reaktan pada permukaan dalam katalis.


3. Reaksi CH3OH(g) + HCl(g) katalis CH3Cl(g) +H2O(g)
metanol asam klorida metil klorida air
4. Desorpsi hasil reaksi dari permukaan dalam katalis.
5. a. Difusivitas gas hasil reaksi dari permukaan dalam katalis ke permukaan
luar katalis.
b. Difusi gas hasil reaksi dari permukaan luar (interface) ke fase gas.
(Fogler, 1999)
Pada

mekanisme

reaksi

katalitis

diatas

tahap

difusi

dasn

adsorpsi

berlangsung cepat, sedangkan reaksi pada permukaan katalis berlangsung

paling lambat. Sehingga kecepatan reaksi pada permukaan katalitis secara


keseluruhan dikontrol oleh reaksi permukaan. Mekanisme reaksinya sebagai
berikut :
CH3OH(g) + HCl(g)-----> H2O(g) + CH3Cl(g)
Mekanisme Reaksi :
A + S -----> AS (Adsorpsi Metanol)
B + S -----> BS (Adsorpsi HCl)
AS + BS -----> DS + S (Reaksi di Permukaan katalis)
DS -----> D + S (Desorpsi Metil Klorida)
Kondisi Operasi
Unit proses digunakan reaktor fixed-bed. Stokiometri dari metanol dan HCl
diuapkan dan dipanaskan terlebih dahulu pada suhu 200oC, kemudian
diumpankan

ke

reaktor

dimana

panas

reaksi

eksotermis

menaikkan

temperatur ke range 300-380oC. Katalis yang digunakan adalah alumina gel


atau alumina (8-12 mesh) yang dibantu oleh CuCl2 atau ZnCl2 dan silika
alumina dalam reaktor pipa gas dengan batas temperature 3000C-3900C
dari 2 katalis alumina hamper mendekati konversi equilibrium dalam
kondisi kesetimbangan. Recovery produk diselesaikan dengan penggosokan
oleh air dan kondensasi metal klorida dengan pendinginan (boiling point)
pada tekanan 1 bar adalah -23,7 C (Rase).

Pemakaian Katalis
Dalam reaksi gas-gas, meskipun katalis tidak berubah pada akhir reaksi,
tetapi katalis tetap ikut aktif dalam reaksi. Katalis dapat memperbesar
kecepatan reaksi karena dimungkinkan terjadinya mekanisme alternatif
dimana energi aktivasi tiap langkah reaksi akan lebih rendah dibandingkan
tanpa katalis. Konversi kesetimbangan tidak dipengaruhi katalis, tetapi

selektivitas dapat ditingkatkan dengan adanya katalis. Umumnya penurunan


tekanan akan semakin besar bila diameter katalis semakin kecil. Permukaan
yang luas lebih baik karena laju reaksi setara dengan luas permukaan yang
ditempati, yaitu dengan adanya struktur porous, padatan terdiri dari banyak
pori. Luas permukaan yang besar disebabkan karena adanya pori (situs aktif)
ini sehingga menaikkan kecepatan reaksi dan meyebabkan berkurangnya
aktivitas sehingga kecepatan reaksi bertambah besar.
Pada reaksi hidroklorinasi metanol menjadi metil klorida, katalis yang
digunakan adalah Al2O3 yang merupakan katalis padat berpori dengan
diameter 1,68-2,38 mm.Katalis ditempatkan di dalam reaktor fixed bed di
dalam sisi tubenya, sedangkan umur dari katalis Al2O3 adalah 3-5 tahun
(Kirk Othmer, 1993).

7 LANGKAH PROSES
Unit Penyiapan Bahan Baku
HCl disimpan dalam tangki, lalu dipompa ke expander dan diturunkan
tekanannya. Lalu ditambah HCl untuk dipanaskan. Metanol disimpan,
dipompa dan dikompresi tekanannya ke vaporizer untuk diuapkan, kemudian
dialirkan ke separator dan dipisahkan antara uap dan cair. Uap keluar dari
separator, kemudian ke heater untuk dipanaskan. Setelah itu diumpankan ke
reaktor.
Unit Proses
Perbandingan equimolar dari metanol fase gas (arus 1) dan asam klorida
(arus 2) diumpankan ke reaktor hidroklorinasi yang diperlihara pada suhu
sekitar 350oC. Hidroklorinasi reaksi dikatalis oleh salah satu jenis katalis
termasuk alumina gel, cupro atau zink klorida pada karbon teraktivasi atau
batu apung, atau asam fosfor pada karbon teraktivasi. Konversi metanol
95%. Gas keluar reaktor ditransfer ke quench tower dimana asam klorida dan

metanol yang tidak bereaksi dihilangkan dengan penggosokan oleh air. Air
dibuang dari quench tower (arus 4) dilepaskan dari hampir semua metil
klorida terlarut dan metanol, dimana keduanya direcycle ke reaktor
hidroklorinasi (arus 5). Cairan keluaran dari stripper (arus 6) terdiri dari asam
hydrochloric acid encer yang dikirim ke unit pengolahan limbah. Gas metil
klorida dari quench tower (arus 7) diumpankan ke drying tower, dimana akan
dikontakkan dengan asam sulfat pekat untuk menghilangkan sisa air.
Pembuangan asam sulfat encer dapat dijual atau diproses kembali. Bagian
dari metil klorida kering (arus 9) dikompresi, didinginkan, dan dicairkan
sebagai produk. Sisanya (arus 10) diumpankan ke reaktor klorinasi dengan
gas klorin (arus 11). Metil klorida dan klorin bereaksi untuk membentuk
metilen klorida dan kloroform, bersama dengan asam klorida dan sedikit
karbon tetraklorida. Arus produk dari reaktor klorinasi di kondensasikan
kemudian dilepaskan asam klorida. Asam klorida direcycle ke reaktor
hidroklorinasi metanol (arus 12). Campuran kasar dari metilen klorida,
kloroform, dan karbon tetraklorida dari stripper (arus 13) ditransfer ke tangki
penyimpanan

dan

kemudian

diumpankan

ke

kolom

destilasi

untuk

mengekstrak metilen klorida. Bagian bawah dari kolom (arus 15) didestilasi
untuk mengekstrak klorofotm. Arus produk kloroform dan metilen klorida
(arus 14 dan 16) diumpankan ke day tank dimana ditambahkan penghambat
lalu dikirim ke penyimpanan dan fasilitas pemuatan. Bagian bawah dari
destilasi kloroform (arus 17) terdiri dari karbon tetraklorida kasar yang
disimpan untuk kemudian dijual atau ditransfer ke pemisahan karbon
tetraklorida atau proses perkloroetilen (www.epa.gov).

8 DAFTAR PUSTAKA
Fogler, H.S, 1999, Elements of Chemical Reaction Engineering, 3rd edition,
Prentice Hall P.T.R, New Jersey
Kirk, R.E. & Othmer, D.F., 1993, Encyclopedia of Chemical Technology, Vol V,
3rd edition, A Wiley Interscience Publisher Inc, New York

Perry, R.H. and Green, D, 1984, Perrys Chemical Engineers Handbook, 3rd
edition, Mc Graw Hill Book Co. New York
Rase, Howard F, 2000, Handbook of Commercial Catalysts: Heterogeneous
Catalysts, CRC Press
Levenspiel, O., 1972, Chemical Reaction Engineering, 2nd edition, John Willey
and Sons Inc, Singapore
Mc. Ketta, J.J. and Chuningham, P.F., 1972, Encyclopedia of Chemical
Processing and Design, Marcel Dekker Inc, New York
Mc Ketta, J.J.,1993, Chemical Processing Handbook, CRC Press.
Vogel, A.I. and Jeffery, G.H., 1989, Vogel's Textbook of Quantitative Chemical
Analysis, Longman Scientific & Technical.
Weissermel,

Klaus

and

Arpe,

Hans

Jurgen,

2003,

Industrial

Organic

Chemistry, Wiley VCH.


Yaws, C.L., 1999, Chemical Properties Handbook, Mc Graw Hill Company, New
York

www.behmeyer.com
www.cdc.gov
www.celanise.com
www.chemicalland21.com
www.epa.gov
www.freepatentonline.com
www.inchem.org
www.indonetwork.co.id

www.medcoenergi.com
www.OxyChem.com
www.patentstorm.us
www.wikipedia.com