Anda di halaman 1dari 39

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada era globalisasi sekarang ini, komputer memiliki peranan yang hampir
bisa dikatakan telah masuk ke semua sendi kehidupan manusia, tidak terkecuali
dalam bidang informasi atau bidang lainnya. Saat ini telah banyak sistem
informasi yang digunakan untuk menunjang dan menyelesaikan suatu
permasalahan yang biasanya timbul dalam suatu organisasi, perusahaan ataupun
instansi pemerintahan.
Pada era teknologi seperti sekarang ini, sistem informasi sangat dibutuhkan
oleh setiap Guru yang memiliki keunggulan kompetitif, hal ini sangat
mempengaruhi dunia bisnis dalam pengambilan keputusan yang cepat, tepat dan
mengurangi kesalahan yang disebabkan karena perkembangan teknologi, dapat
mengubah pola pikir seorang pimpinan untuk mempermudah dalam pengambilan
keputusan dengan tepat waktu yang cukup singkat. Proses untuk menentukan
Guru teladan di Kabupaten Bireuen dengan menggunakan cara manual dan
membutuhkan ingatan yang kuat serta ketelitian seorang pimpinan, tentu dapat
membuat seorang pimpinan stress berat. Cara yang biasa dilakukan untuk
mewujudkan pola pikir seorang pimpinan tersebut adalah dengan cara
menggunakan alat bantu komputer yang memiliki sistem yang mendukung pola
pikir seorang pimpinan.
Proses pengambilan keputusan harus berdasarkan kriteria-kriteria dan
indikator ukuran teladan. Begitu pula bila seorang pimpinan pada Guru akan
menentukan Guru teladan. Guru teladan adalah Guru yang menampilkan perilaku
yang sejalan dengan visi, tujuan dan nilai-nilai Guru tersebut dan hal-hal tertentu
yang telah ditetapkan Guru bersangkutan. Guru yang memiliki kriteria yang telah
ditetapkan akan menerima penghargaan sebagai Guru teladan, secara periodik.
Untuk membantu penentuan dalam menetapkan Guru teladan maka
dibutuhkan sebuah sistem pendukung keputusan. Metode yang dapat digunakan
untuk Sistem Pendukung Keputusan adalah dengan menggunakan metode
Promethee. Metode ini dipilih karena mampu menyeleksi alternatif teladan dari
sejumlah alternatif,

Dalam hal ini penulis membuat program aplikasi dengan judul SISTEM
PENDUKUNG

KEPUTUSAN

PENENTUAN

GURU

TELADAN

DI

KABUPATEN BIREUEN MENGGUNAKAN METODE PROMETHEE


1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas, maka permasalahan yang timbul dalam pengerjaan
proyek akhir ini adalah :
1. Bagaimana membangun suatu Sistem Pendukung Keputusan yang dapat
mengintegrasikan dari beberapa kriteria yang ditentukan, sehingga
diperoleh suatu informasi yang tepat untuk penentuan Guru teladan ?
2. Bagaimana cara mengimplementasikan Promethee ke dalam sistem
pendukung keputusan ?
1.3 Batasan Masalah
Pada penyelenggaraan proyek akhir ini batasan permasalahan adalah :
1. Kriteria yang digunakan adalah, umur, masa kerja, jumlah pelatihan yang
telah diikuti, nilai prestasi Guru.
2. Semua tingkatan guru di Kabupaten bireuen
3. Dalam pembuatan aplikasi ini, mengambil studi kasus di Dinas Pendidikan
Dan Kebudayaan
1.4 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah membangun sebuah sistem baru yang lebih
tepat dan akurat dalam pengambilan keputusan yang diharapkan mampu:
1. Memberikan informasi secara lengkap dan aktual khususnya mengenai
penentuan Guru teladan
2. Memudahakan pihak Guru dalam melakukan penentuan Guru teladan

1.5 Manfaat Penelitian


1. Mempermudah pihak Guru dalam melakukan penentuan Guru teladan
2. Menambah wawasan dan pemahaman tetntang pembuatan penilitian
khususnya yang berhubungan dengan kinerja Guru

1.6 Metodologi Penelitian


Metodologi penelitian yang digunakan dalam penyusunan tugas akhir adalah :
1 Metode Analisis
a

Wawancara
Wawancara dilakukan untuk mengetahui masalah yang timbul atau
dialami langsung oleh yang bersangkutan. Dalam kegiatan ini
diajukan pertanyaan lisan dan usaha untuk melengkapi data data
yang akan diperoleh. Wawancara dilakukan pada bagian bagian yang
terkait dengan sistem pengolahan nilai.

Observasi.
Penulis melakukan observasi yaitu dengan melihat secara langsung
cara kerja bagian yang terkait dengan pencatatan hasil-hasil kegiatan
yang dilakukan.

Studi pustaka
Penulis mencari dan mempelajari buku-buku yang ada kaitannya dan
mencakup

perancangan

sistem

ini,

buku-buku

yang

ada

diperpustakaan kampus, catatan kuliah, serta dokumen-dokumen yang


START
didapat universitas Almuslim yang mempunyai hubungan dengan
2

perancangan sistem ini.


IDENTIFIKASI
Kerangka Konsep
Berikut ini merupakan tahapan dalam perancangan sistem pendukung
TINJAUAN PUSTAKA
keputusan dapat dilihat pada gambar 1.1
ANALISA KEBUTUHAN SISTEM

PERANCANGAN APLIKASI

PENGUJIAN SISTEM

END

Gambar 1.1 Kerangka Berfikir


1.7 Sistematika Penulisan
Dalam melakukan penulisan ilmiah ini terbagi menjadi beberapa bab
berdasarkan pembahasannya masing-masing, sistematika penulisan terdiri dari 6
bab, yaitu :
BAB I PENDAHULUAN
Pokok bahasan meliputi latar belakang permasalahan, perumusan
masalah, batasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian,
metodologi penelitian, dan sistematika penulisan.
BAB II LANDASAN TEORI
Pokok bahasan menguraikan teori-teori yang mendasari pembahasan
secara detail, dapat berupa definisi -definisi atau model yang
langsung berkaitan dengan ilmu atau masalah yang diteliti.

BAB III ANALISA DAN PERANCANGAN SISTEM


Bab ini menguraikan

tentang analisis terhadap permasalahan yang

terdapat di kasus yang sedang di teliti. Meliputi analisis terhadap


masalah sistem yang sedang berjalan, analisis hasil solusinya, analisis

kebutuhan terhadap system yang di usulkan, analisis kelayakan


sistem yang di usulkan. Perancangan sistem berisikan model-model
penyelesaian masalah sistem lama dengan membuat rancangan untuk
sistem baru yang diusulkan.
BAB IV IMPLEMENTASI
Bagian ini berisi penjelasan tentang lingkungan implemetasi (OS,
perangkat keras dan bahasa pemrograman yang digunakan), file-file
implementasi analisa dan perancangan sistem dari masing-masing
modul atau klas (relasinya) serta algoritma yang diimplementasikan.
BAB V PENGUJIAN DAN PEMBAHASAN
Untuk kategori topik pengembangan perangkat lunak (dimana
perangkat lunak sebagai produk utama/akhir), maka bagian ini berisi
penjelasan tentang strategi pengujian (unit, integrasi dan validasi) dan
teknik pengujian (black box atau

white box) yang dilakukan.

Dijelaskan juga seluruh kasus uji beserta hasil pengujiannya. Di dalam


penjelasan setiap kasus uji harus dimasukkan antara lain tujuan, data
masukan, prosedur uji dan hasil yang diharapkan.
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan memuat secara singkat dan jelas tentang hasil penelitian
yang diperoleh sesuai dengan tujuan penelitian. Kesimpulan didasarkan
atas pengujian dan analisis yang dilakukan di dalam proses penelitian.
Kesimpulan harus memiliki korelasi dengan rumusan masalah. Saran
digunakan untuk menyampaikan masalah yang dimungkinkan untuk
penelitian lebih lanjut. Saran berisi hal-hal yang diperlukan dalam
rangka pengembangan topik skripsi selanjutnya maupun perbaikan yang
harus dilakukan sesuai dengan kesimpulan yang didapatkan.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Tinjauan Pustaka

Tinjauan Pustaka mempunyai arti peninjauan kembali pustaka-pustaka yang


terkait (review of related literature). Sesuai dengan arti tersebut, suatu tinjauan
pustaka berfungsi sebagai peninjauan kembali (review) pustaka (laporan
penelitian, dan sebagainya) tentang masalah yang berkaitan tidak selalu harus
tepat identik dengan bidang permasalahan yang dihadapi tetapi termasuk pula
yang seiring dan berkaitan (collateral). Fungsi peninjauan kembali pustaka yang
berkaitan merupakan hal yang mendasar dalam penelitian.
2.1.1 Penelitian Terkait
Setiawan (2005) Implementasi Sistem Pendukung Keputusan Pada Supplier
Furniture Menggunakan Model Promethee. Metode Promethee dapat digunakan
sebagai metode dalam aplikasi pemilihan multikriteria dengan tingkat akurasi
yang baik.
Mahdi (2008) Sistem Pendukung Keputusan Kelompok Pemilihan Dayah
Teladan Menggunakan Metode Promethee Dan Metode Borda. Metode Promethee
dan metode borda dapat diterapkan dan manpu berfungsi sebagai sistem
pendukung keputusan pemilihan dayah teladan secara kelompok.
Prabowo (2008) penerapan metode promethee dalam menentukan prioritas
pinjaman kredit pemilikan rumah (kpr ib) kepada nasabah debitur (studi kasus
bank brisyariah cabang sidoarjo) Sistem Penentuan Prioritas Pemilihan Debitur ini
mampu menghasilkan alternatif nasabah debitur teladan sesuai dengan
perhitungan metode Promethee.
Eka (2009)

sistem pendukung keputusan pemilihan calon pegawai

marketing dengan menggunakan metode promethee (Studi Kasus Pusat Layanan


Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang) Metode Promethee dapat
diimplementasikan dengan baik pada aplikasi sistem pendukung keputusan
pemilihan calon pegawai marketing studi kasus Pusat Layanan Psikologi UMM
Malang yang menghasilkan urutan prioritas calon pegawai marketing berupa
ranking Leaving Flow, Entering Flow, dan Net Flow dimana ranking Net Flow
merupakan urutan prioritas/ranking final yang akan dijadikan pendukung dalam
pengambilan sebuah keputusan penerimaan calon pegawai marketing.

Novaliendry (2009) Aplikasi Penggunaan Metode Promethee Dalam Sistem


Pendukung Keputusan Untuk Penentuan Media Promosi Studi Kasus: Stmik
Indonesia. Keuntungan dari metode promethee adalah mempertimbangkan
ukuran-ukuran berbeda pada waktu yang sama, yang mana mustahil dengan
proses dasar keputusan yang umum berdasar pada hanya satu ukuran (dapat
menggunakan ukuran-ukuran berbeda untuk masing-masing dimensi).
Pradana (2010) Sistem Pendukung Keputusan Untuk Pemilihan Lokasi
Pembangunan Kompleks Perumahan Berbasis Web. Dalam pengambilan
keputusan pembangunan komplek perumahan dapat menggunakan metode
Promethee sebagai salah satu metode alternatif.
Ariansyah (2010) sistem pendukung keputusan evaluasi kinerja penyidik
anggota polri dengan menggunakan metode promethee. Metode Promethee dapat
diimplementasikan pada aplikasi sistem pendukung keputusan evaluasi kinerja
penyidik studi kasus Ditreskrimun Polda Jatim Surabaya yang menghasilkan
urutan prioritas kinerja penyidik berupa ranking Leaving Flow, Entering Flow,
dan Net Flow dimana ranking Net Flow merupakan urutan prioritas/ranking final
yang akan dijadikan pendukung dalam pengambilan sebuah keputusan kinerja
penyidik dikatakan memuaskan atau kurang baik.
Ariyasti (2011) Sistem Pendukung Keputusan Penentuan Lokasi BTS
menggunakan metode Promethee. Sistem telah memberikan hasil rekomendasi
lokasi BTS yang sesuai dengan pertimbangan kriteria yang digunakan dalam
memilih lokasi yang tepat.
Johan (2012) Sistem Pendukung Keputusan Untuk pembangunan sarana dan
prasarana pendidikan Menggunakan metode Promethee. Sistem Pendukung
Keputusan (DSS) untuk memberikan informasi pendukung keputusan yang
memenuhi aturan proporsi. DSS dibangun menggunakan metode Promethee,
metode Promethee menghasilkan urutan prioritas dari berbagai alternatif dan
kriteria untuk menyortir hasilnya akan digunakan sebagai informasi pendukung
keputusan bahwa pembangunan sarana dan prasarana pendidikan.
Onggo (2013) Sistem Pendukung Keputusan Untuk Pemilihan Lokasi
Pembukaan Cabang Usaha Variasi Mobil Dengan Metode Promethee. Sistem

Pendukung Keputusan dengan menggunakan metode promethee ini dapat


membantu dalam pemilihan lokasi pembukaan cabang usaha variasi mobil.
2.1.2 Perbandingan Penelitian Terkait
No
1

Nama
Setiawan

Judul
Implementasi

Tahun
Sistem

Pendukung

Mahdi

2005

Keputusan

Metode
metode

Hasil Penelitian
Metode
Promethee

promethee

digunakan sebagai metode dalam

Pada Supplier Furniture

aplikasi

Menggunakan

multikriteriadengan

Model

Promethee
Sistem

Pendukung

Keputusan

Kelompok

Pemilihan

Dayah

Teladan

2008

Menggunakan

Prabowo

Metode Borda
penerapan

metode

promethee
pinjaman

tingkat

akurasi yang baik.


Metode Promethee dan metode

Promethee

borda

Dan

manpu berfungsi sebagai sistem

Metode

Borda

dapat

diterapkan

dan

pendukung keputusan pemilihan


dayah teladan secara kelompok.

2008

dalam

menentukan

pemilihan

Metode

Metode Promethee Dan


3

dapat

metode

Sistem

Penentuan

Prioritas

promethee

Pemilihan Debitur ini mampu

prioritas

menghasilkan alternatif nasabah

kredit

debitur teladan sesuai dengan

pemilikan rumah (kpr ib)

perhitungan metode Promethee.

kepada nasabah debitur


(studi

kasus

brisyariah
4

Novaliendr

sidoarjo)
Aplikasi

Metode

bank
cabang

Penggunaan

2009

Promethee

Dalam

metode

Keuntungan

promethee

promethee

Sistem

Pendukung

dari

metode
adalah

mempertimbangkan

Keputusan

ukuran-

ukuran berbeda pada waktu yang

Untuk Penentuan Media

sama,

Promosi

dengan proses dasar keputusan

Studi

Kasus:

Stmik Indonesia

yang

mana

mustahil

yang umum berdasar pada hanya


satu ukuran (dapat menggunakan
ukuran-ukuran

Eka

sistem
keputusan

pendukung
pemilihan

calon pegawai marketing

2009

Metode
Promethee

berbeda

untuk

masing-masing dimensi).
Metode
Promethee

dapat

diimplementasikan dengan baik


pada aplikasi sistem pendukung

dengan

menggunakan

keputusan

pemilihan

calon

metode promethee (Studi

pegawai marketing studi kasus

Kasus

Pusat Layanan Psikologi UMM

Pusat

Psikologi

Layanan

Universitas

Malang

Muhammadiyah Malang)

yang

menghasilkan

urutan prioritas calon pegawai


marketing

berupa

ranking

Leaving Flow, Entering Flow,


dan Net Flow dimana ranking
Net

Flow

merupakan

urutan

prioritas/ranking final yang akan


dijadikan

pendukung

dalam

pengambilan sebuah keputusan


penerimaan
6

Pradana

Ariansyah

Sistem

Pendukung

2010

calon

pegawai

metode

marketing.
Dalam pengambilan keputusan

promethee

pembangunan

Keputusan

Untuk

Pemilihan

Lokasi

perumahan dapat menggunakan

Pembangunan Kompleks

metode PROMETHEE sebagai

Perumahan Berbasis Web


sistem
pendukung
keputusan

2010

evaluasi

komplek

metode

salah satu metode alternatif.


Metode
Promethee
dapat

promethee

diimplementasikan pada aplikasi

kinerja penyidik anggota

sistem

polri

dengan

evaluasi kinerja penyidik studi

menggunakan

metode

kasus Ditreskrimun Polda Jatim

promethee

pendukung

Surabaya

yang

keputusan

menghasilkan

urutan prioritas kinerja penyidik


berupa ranking Leaving Flow,
Entering Flow, dan Net Flow
dimana

ranking

Net

merupakan

Flow
urutan

prioritas/ranking final yang akan


dijadikan

pendukung

dalam

pengambilan sebuah keputusan


kinerja
8

Ariyasti

Sistem
Keputusan
Lokasi

Pendukung
Penentuan
BTS

2011

penyidik

dikatakan

metode

memuaskan atau kurang baik.


Sistem telah memberikan hasil

promethee

rekomendasi lokasi BTS yang


sesuai

dengan

pertimbangan

menggunakan
9

Johan

kriteria yang digunakan dalam

metode Promethee
Sistem
Pendukung
Keputusan

2012

Untuk

metode

memilih lokasi yang tepat.


Sistem Pendukung Keputusan

promethee

(DSS)

untuk

memberikan

pembangunan sarana dan

informasi pendukung keputusan

prasarana

yang memenuhi aturan proporsi.

pendidikan

Menggunakan

metode

DSS

Promethee

dibangun

metode

menggunakan

Promethee,

metode

Promethee menghasilkan urutan


prioritas dari berbagai alternatif
dan

kriteria

untuk

menyortir

hasilnya akan digunakan sebagai


informasi pendukung keputusan
bahwa pembangunan sarana dan
10

Onggo

Sistem

Pendukung

Keputusan

Untuk

Pemilihan

Lokasi

Pembukaan
Usaha

Fauziah

Variasi

Promethee

keputusan

penentuan
teladan

menggunakan

dalam

metode

pemilihan

lokasi

pembukaan cabang usaha variasi

Metode
pendukung

dengan

promethee ini dapat membantu

Mobil

Promethee
sistem
guru

Metode

Cabang

Dengan
11

2013

prasarana pendidikan.
Sistem Pendukung Keputusan

mobil.

2014

promethee

di

Aplikasi
penentuan
kabupaten

ini

berfungsi

guru

untuk

teladan

bireuen

dengan
metode

kabupaten

bireuen

mengimplementasikan

menggunakan

metode

promethee ke dalam sistem,

promethee

2.2 Konsep Dasar Sistem


Istilah sistem berasal dari bahasa Yunani yang artinya kesatuan. Sebuah
sistem terdiri dari bagian-bagian yang saling berhubungan yang tidak dapat
dipisahkan antara satu dengan lainnya yang beroperasi secara bersama-sama untuk
mencapai beberapa sasaran atau tujuan yang ingin dicapai.
Havery (2009) mendefinisikan sistem adalah prosedur logis dan rasional
untuk merancang suatu rangkaian komponen yang berhubungan satu dengan yang
lainnya dengan maksud untuk berfungsi sebagai suatu kesatuan dalam usaha
mencapai suatu yang telah ditentukan.

di

Manama (2009) mendefinisikan sistem adalah sebuah struktur konseptul


yang tersusun dari fungsi-fungsi yang saling berhubungan yang bekerja sebagai
suatu kesatuan organik untuk mencapai suatu hasil yang diinginkan secara efektif
dan efisien.
Mengacu pada beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa sistem
adalah seperangkat elemen yang mana elemen-elemen tersebut mempunyai subsub elemen yang saling berinteraksi antara satu sama lainnya untuk mencapai
suatu tujuan tertentu.
2.3 Sistem Pendukung Keputusan
Konsep Sistem Pendukung Keputusan (SPK) / Decision Support Sistem
(DSS) pertama kali diungkapkan pada awal tahun 1970-an oleh Michael S. Scott
Morton dengan istilah Management Decision Sistem. Sistem tersebut adalah suatu
sistem yang berbasis komputer yang ditujukan untuk membantu pengambil
keputusan dengan memanfaatkan data dan model tertentu untuk memecahkan
berbagai persoalan yang tidak terstruktur.Istilah SPK mengacu pada suatu sistem
yang memanfaatkan dukungan komputer dalam proses pengambilan keputusan.
Untuk memberikan pengertian yang lebih mendalam, akan diuraikan beberapa
difinisi mengenai Sistem Pendukung Keputusan yang dikembangkan oleh
beberapa ahli, diantaranya oleh Man dan Watson yang memberikan definisi
sebagai berikut, Sistem Pendukung Keputusan merupakan suatu sistem yang
interaktif, yang membantu pengambil keputusan melalui penggunaan data dan
model-model keputusan untuk memecahkan masalah yang sifatnya semi
terstruktur maupun yang tidak terstruktur (Kusrini, 2007).
1. Tahapan Sistem Pendukung Keputusan:
a. Definisi masalah
b. Pengumpulan data atau elemen informasi yang relevan
c. Pengolahan data menjadi informasi baik dalam bentuk laporan grafik
maupun tulisan
d. menentukan alternatif-alternatif solusi (bisa dalam persentase)
2. Tujuan dari Sistem Pendukung Keputusan:

a. Membantu menyelesaikan masalah semi-terstruktur


b. Mendukung manajer dalam mengambil keputusan
c. Meningkatkan efektifitas bukan efisiensi pengambilan keputusan
2.4 Manfaat dari Sistem Pendukung Keputusan
Sistem pendukung keputusan memiliki manfaat, yaitu :
1. Pengambilan keputusan yang rasional, sesuai dengan jenis keputusan yang
diperlukan
2. Membuat peramalan (forecasting)
3. Membandingkan alternatif tindakan
4. Membuat analisis dampak
5. Membuat model.
2.5 Promethee
Promethee yang merupakan singkatan dari Preference Ranking Organization
Methods for Enrichment Evaluations adalah metode outranking yang menawarkan
cara yang fleksibel dan sederhana kepada user (pembuat keputusan) untuk
menganalisis masalah-masalah multikriteria.
Tipe preferensi yang digunakan dalam promethee adalah sebagai berikut :

1. Kriteria Biasa (Usual Criterion)

............................................................................(2.1)
Keterangan :
1. H (d) : Fungsi selisih kriteria antar alternatif
2. d
: Selisih nilai kriteria {d = f (a) f (b)}
Fungsi H (d) untuk fungsi preferensi ini disajikan pada Gambar 1.

Gambar 2.1 Kriteria Biasa

2. Kriteria Quasi (Quasi Criterion)

..........................................................................(2.2)
Keterangan :
1. H (d) : Fungsi selisih kriteria antar alternatif
2. d
: Selisih nilai kriteria {d = f (a) f (b)}
3. Parameter (q) : Harus merupakan nilai yang tetap
Fungsi H (d) untuk fungsi preferensi ini disajikan pada Gambar 2.

Gambar 2.2 Kriteria Quasi

3. Kriteria Preferensi Linier

...................................................................(2.3)
Keterangan :
1. H (d) : Fungsi selisih kriteria antar alternatif
2. d
: Selisih nilai kriteria {d = f (a) f (b)}
3. p
: Nilai kecenderungan atas
Fungsi H (d) untuk fungsi preferensi ini disajikan pada Gambar 3.

Gambar 2.3 Kriteria Preferensi Linier


4. Kriteria Level

......................................................................(2.4)
Keterangan
1. H (d) : Fungsi selisih kriteria antar alternatif
2. p : Nilai kecenderungan atas
3. Parameter (q) : Harus merupakan nilai yang tetap.
Fungsi H (d) untuk fungsi preferensi ini disajikan pada Gambar 4.

Gambar 2.4 Kriteria Level

5. Kriteria Preferensi Linier dan area yang berbeda

....................................................................(2.5)

Keterangan:
1. H (d) : Fungsi selisih kriteria antar alternatif
2. d : Selisih nilai Kriteria {d=f(a) f(b)}
3. Parameter (p) : nilai kecenderungan atas.
4. Parameter (q) : Harus merupakan nilai yang tetap
Fungsi H (d) untuk fungsi preferensi ini disajikan pada Gambar 5

Gambar 2.5 Kriteria Preferensi Linier dan area yang tidak berbeda
6. Kriteria Gaussian (Gaussian Criterion)

......................................................................(2.6)
Fungsi H (d) untuk fungsi preferensi ini disajikan pada Gambar 1.6.

Gambar 2.7 Kriteria Level

2.6 Entity Relationship Diagram (ERD)


ERD(Entity Relationnship Diagram)pertama kali di deskripsikan oleh Peter
Chen dalam bukunya The Entity Relationship Model-Toward a Unifield of
Data. Dalam buku ini Chen mencoba merumuskan dasar-dasar model setelah itu
dikembangkan dan dimodifikasi oleh Chen dan banyak pakar lain.

Menurut Jogiyanto (2005) ERD (Entity Relationship Diagram) adalah


pemodelan data utama yang membantu mengorganisasikan data dalam suatu
proyek kedalam entitas-entitas dan menentukan hubungan antar entitas atau
sejumlah notasi dan simbol untuk menggambarkan struktur dan hubungan antar
data. Ada beberapa macam elemen yang umum digunakan yaitu :
1. Entitas/Entity adalah suatu tempat atau objek untuk menyimpan data. Contoh:
Entitas buku untuk menyimpan atribut mengenai buku (judul buku, kode
buku, pengarang, dsb). Entity digambarkan dengan persegi panjang.
2. Atribut. Atribut berfungsi untuk mendeskripsikan entitas dan atribut
mempunyai nilai (harga). Atribut digambarkan dengan simbol ellips.
3. Relasi/Relationship. Database adalah kumpulan file yang saling berkaitan.
Pada model data relasi hubungan antar file direlasikan dengan kunci relasi.
Relasi ini digambarkan dengan garis dalam ERD.
4. Cardinalitas. Terdapat beberapa pengertian key sehubungan dengan
normalisasi dan ERD, antara lain :
a. Superkey adalah gugus dari sejumlah atribut entiti yang dapat
digunakan untuk mengindentifikasi obyek secara unik.
b. Candidate key adalah superkey yang

jumlah atribut minimal dan

dapat berdiri sendiri.


c. Primary key adalah superkey yang dipilih oleh desainer atau
administrator basis data.
Dalam kardinalitas terdapat relasi dari antar table/instansi untuk
menghubungkan key-key yang telah terhubung. Relasi yang dapat terjadi ialah :

1. Satu kesatu (One to one)


Hubungan relasi satu kesatu yaitu setiap entitas pada himpunan entitas A
berhubungan paling banyak dengan satu entitas pada himpunan entitas B.

penerima

mendapat

bantuan

2. Satu kebanyak (One to many)


Setiap entitas pada himpunan entitas A dapat berhubungan dengan banyak
entitas pada himpunan entitas B, tetapi setiap entitas pada entitas B dapat
berhubungan dengan satu entitas pada himpunan entitas A.

Penerima

Bekerja

Proyek

3. Banyak kebanyak (Many to many)


Setiap entitas pada himpunan entitas A dapat berhubungan dengan banyak
entitas pada himpunan entitas B.

Penerima

Bekerja

Proyek

2.7 Diagram Konteks


Menurut Jogiyanto (2005) Diagram konteks adalah arus data yang
berfungsi untuk menggambarkan keterkaitan aliran-aliran data antara sistem
dengan bagian-bagian luar (kesatuan luar). Kesatuan luar ini merupakan sumber
arus data atau tujuan data yang berhubungan dengan sistem informasi tersebut.
Diagram konteks memberikan batasan yang jelas mengenai besaran-besaran
entitas yang berada diluar sistem yang sedang dibuat, artinya diagram ini
mengggambarkan secara jelas batasan-batasan dari sebuah sistem yang sedang
dibuat,
Diagram konteks bisa disebut dengan Model sistem pokok (fundamental
system model) mewakili keseluruhan elemen software dengan masukan (input)

dan keluaran (output) yang diidentifikasi dengan anak panah masuk dan keluar
memperlihatkan sumber data.
Model relasional lebih popular daripada tipe model database lain seperti
hirarki dan network, karena kesederhanaanya. Relational database management
system (RDBMS) menjadi sangat popular karena mudah digunakan strukturnya
bersifat fleksibel. Komponen dari medel relasional adalah:
1. Kumpulan objek atau reasi yang menyimpan data.
2. Kumpulan operator yang dapat digunakan pada relasi untuk menghasilkan
3.

relasi yang lain.


Integrasi data untuk akurasi dan konsistensi.

2.8 Data Flow Diagram (DFD)


Definisi diagram arus data menurut Jogiyanto (2005) dalam bukunya yang
berjudul Analisis & Desain Sistem Informasi, menjelaskan bahwa Data Flow
Diagram digunakan untuk menggambarkan suatu sistem yang telah ada atau
sistem baru yang akan dikembangkan secara logika tanpa mempertimbangkan
lingkungan fisik dimana data tersebut mengalir atau lingkungan fisik dimana data
tersebut akan disimpan. Data Flow Diagram juga digunakan pada metodologi
pengembangan sistem yang terstruktur.
Menurut ladjamudin (2005) dalam bukunya yang berjudul

Analisis dan

Desain Sistem Informasi, menjelaskan bahwa: diagram aliran data merupakan


model dari sistem untuk menggambarkan pembagian sistem ke modul yang lebih
kecil. Langkah-langkah di dalam membuat data flow diagram menurut Tata
Sutabri (2004) dalam bukunya Analisa Sistem Informasi, dibagi menjadi 3 (tiga)
tahap atau tingkat konstruksi data flow diagram, yaitu sebagai berikut:

Diagram konteks
Diagram ini dibuat untuk menggambarkan sumber

serta tujuan data

yang akan diproses atau dengan kata lain diagram tersebut digunakan

untuk menggambarkan sistem secara umum/global dari

keseluruhan

sistem yang ada.


2

Diagram nol
Diagram ini dibuat utuk menggambarkan tahapan

proses yang ada di

dalam konteks, yang penjabarannya lebih terperinci.


3

Diagram detail
Diagram ini dibuat untuk menggambarkan arus data secara lebih rinci
mendetail lagi dari tahapan proses yang ada di dalam diagram nol.

Berdasarkan pengertian di atas maka penulis dapat menyimpulkan bahwa data


flow diagram adalah suatu model perancangan yang menggambarkan aliran data
yang diproses dalam suatu sistem.
Tabel 2.1 Simbol-simbol DFD
Model Yordan Demarco
No
Simbol
.

4
2.9 Visual Basic.Net

Keterangan
Terminator adalah entitas diluar sistem yang
berkomunikasi / berhubungan langsung
dengan sistem. Terminator dapat berupa
orang,
sekelompok
orang,
organisasi,
perusahaan/departemen yang berada diluar
sistem, diberi nama yang berhubungan dengan
sistem tersebut.
Arus Data digunakan untuk menerangkan
perpindahan data/paket data dari satu bagian
ke bagian lainnya.
Suatu proses adalah kegiatan atau kerja yang
dilakukan oleh orang, mesin atau komputerr
dari hasil suatu arus data yang masuk ke
dalam proses untuk dihasilkan arus data yang
akan keluar dari proses. Proses disesuaikan
dengan proses / kegiatan yang sedang
dilakukan.
Data Store adalah tempat penyimpanan data

Visual Basic.Net adalah salah satu bahasa pemrograman komputer. Bahasa


pemrograman adalah perintah- perintah yang dimengerti oleh komputer untuk
melakukan tugas tugas tertentu.
Visual Basic.Net merupakan salah satu Development Tool yaitu alat bantu
untuk

membuat

berbagai

macam

program

komputer, khususnya

yang

menggunakan sistem operasi Windows. Visual Basic.Net merupakan salah satu


bahasa pemrograman komputer yang mendukung pemrograman berorientasi objek
(Object Orinted Programming, OOP).
Visual Basic.Netmerupakan rilis keempat dari perbaikan besar-besaran
bahasa VB. Secara internal dikenal sebagai VB versi 9.0 dan dengan pembaruan
parallel di Framework.Net versi 3.5
2.10 SQL Server
SQL Server adalah salah satu aplikasi yang digunakan untuk membuat
database. SQL Server dilengkapi dengan fitur SQL Server Management Studio.
Fitur ini adalah lingkungan terintegrasi untuk mengakses, melakukan konfigurasi,
mengelola dan melakukan administrasi semua kompoen SQL Server. SQL Server
Management Studio merupakan gabungan kemampuan dari Enterprise Manager,
Query Analyzer dan Analysis Manager yang ada pada SQL Server versi
sebelumnya.

BAB III

ANALISA DAN PERANCANGAN SISTEM


3.1 Identifikasi Permasalahan
Dari latar belakang masalah yang telah diberikan serta dari hasil pengamatan,
permasalahan yang terjadi pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan yaitu
membuat keputusan menentukan guru teladan secara manual. Identifikasi
permasalahan ini dilakukan untuk menemukan konsep-konsep dan teori-teori yang
dapat mendukung untuk memecahkan suatu permasalahan yang ada.
3.1.1 Sumber Data
Adapun sumber data pada penelitian ini, diperoleh dari data eksternal dan
data internal pada instansi wilayah penelitian. Sedangkan data ekstraksi
didapatkan dari penggabungan antara data eksternal dan data internal,
penggabungan data tersebut menghasilkan basis data sistem pendukung
keputusan.
3.1.2 Data internal
Data internal yang dimaksud adalah data yang berasal dari Dinas
Pendidikan dan Kebudayaan yang dijadikan sebagai data pendukung pada sistem
pendukung keputusan. Adapun yang termasuk dalam data internal adalah : Guru
3.1.3 Data External
Data External yang dimaksud adalah data yang berasal dari guru yang
dijadikan sebagai data pendukung, adapun yang termasuk dalam data external
adalah : Data Study Pustaka
3.1.4 Ekstraksi Data
Data ekstraksi merupakan penggabungan dari data internal dan data
eksternal, proses data ekstraksi meliputi: import file, meringkas, menyaring dan
mengkodensasikan data, sehingga menghasilkan laporan dari database, proses
ekstrasi tersebut menghasilkan manajemen sistem basis data. Lihat pada Gambar
3.1 model rancangan sistem pendukung keputusan yang dibangun.

Data exsternal

E
K

1. Data Stady
Pustaka

S
T
R

BASIS
DATA

BASIS
DATA

1.
2.
3.
4.

Umur
Masa kerja
Nilai prestasi
Jumlah pelatihan

A
K

Data Internal

1. Data sekolah

ManajemenB
asis Data

ManajemenB
asis Data

User Interface
Form Login
Form Data User
Form Sekolah
Form Pilihan Penentuan
Form Profil Penilaian Guru
Form Kriteria
Form Parameter
Form Bobot Kriteria untuk setiap guru
Form Penentuan

KOMPUTER
PENGGUNA
Gambar 3.1 Sistem Pendukung Keputusan penentuan guru teladan

3.2 Analisa Sistem

Tujuan analisa sistem dalam pembangunan aplikasi sistem pendukung


keputusan ini adalah untuk mendapatkan semua kebutuhan pengguna dan sistem,
yaitu perihal masukan dan keluaran yang harus disediakan oleh sistem, serta yang
diinginkan oleh pengguna. Proses tersebut akan menjadi masukan bagi proses
perancangan sistem secara keseluruhan.
3.3 Deskripsi Sistem
Pembangunan Sistem Pendukung Keputusan untuk penentuan guru teladan
dengan menggunakan Metode Promethee ini bertujuan menghasilkan perangkat
lunak untuk menentukan guru teladan yang sesuai dengan kriteria kriteria yang
menjadi masukan sistem.
Perangkat lunak Sistem Pendukung Keputusan untuk penentuan guru teladan
ini didukung basis data dimana hasil yang diperoleh dapat memudahkan dalam
pencarian guru teladan, dengan cara petusa menginput kriteria dan data-data yang
diperlukan dalam penentuan guru teladan, kemudian sistem melakukan pencarian
dengan metode promethee dan menampilkan hasil berupa ranking.
3.4 Tahapan Metode Metode Promethee
Dalam menyelesaikan masalah menggunakan metode Metode Promethee ada
beberapa tahapan yang harus dilaksanakan, yaitu :
1
2

Langkah pertama Menentukan alternatif


Langkah kedua Menentukan kriteria
3 Langkah ketiga Memberikan nilai kriteria atau skor untuk masing-masing
4
5

alternatif guru.
Langkah keempat adalah Hitung preferen indek
Langkah kelima adalah Perangkingan promethee

Sebagai contoh di lakukan terhadap tiga guru yaitu :


1 Menentukan alternatif
Alternatif yang digunakan penelitian ini adalah Syamsiah (A1), Rusdi (A2),
Kamariah (A3)
a. Umur
Umur

Nilai

50
40
30

85
75
75

b. Masa kerja
Masa kerja
Sangat lama
lama
Sedang

Nilai
95
95
70

c. Nilai Prestasi
Nilai prestasi
Sangat baik
Baik
Sedang

Nilai
90
80
70

d. Jumlah Pelatihan
Jumlah pelatihan
Sangat banyak
Banyak
Sedang

Nilai
90
80
70

2. Menentukan kriteria
Pada penelitian ini menggunakan 1 orang yaitu kepala Dinas Pendidikan
Dan Kebudayaan. Adapun kriteria yang digunakan oleh pengambil
keputusan sebagai berikut:
Tabel 3.1 kriteria
N

Kriteria

A1

A2 A3

Kaida

Bobo

f1 (.) : umur
1

85

75 75

Max

20%

95

95 70

Max

20%

f3 (.) : masa kerja


2

f5 (.) : nilai prestasi


3

90

80 70

Max

10%

90

90 90

Max

10%

f6 (.) : jumlah pelatihan


4

Menghitung nilai prosentase kriteria :


Nilai prosentase kriteria = nilai kriteria x bobot kriteria
1) Umur :
A1 = 85x 20% = 17
A2 = 75 x 20% = 15
A3 = 75 x 20% = 15
2) Masa kerja :
A1 = 95 x 20% = 19
A2 = 95 x 20% = 19
A3 = 70 x 10% = 7
3) Nilai prestasi :
A1 = 90 x 10% = 9
A2 = 80 x 10% = 8
A3 = 70 x 10% = 7
4) Jumlah pelatihan:
A1 = 90 x 10% = 9
A2 = 90 x 10% = 9
A3 = 90 x 10% = 9

1.

10

Untuk f1 (.) tipe preferensi 3


d = 17 15 - 15 = -13
berdasarkan kaidah minimasi diperoleh
P ( A1, A2 ) = 2
P ( A2, A1 ) = -2
P ( A1, A3 ) = 2
P ( A3, A1 ) = -2
P ( A2, A3 ) = 0
P ( A3, A2 ) = 0

2.
(2.4)
10

3.

Untuk f5 (.) tipe preferensi 3


d = 9 8 7 = -6
berdasarkan kaidah minimasi diperoleh
5

P ( A1, A2 ) = 1
P ( A2, A1 ) = -1
P ( A1, A3 ) = 2
P ( A3, A1 ) = -2
P ( A2, A3 ) = 1
P ( A3, A2 ) = -1

4.

Untuk f6 (.) tipe preferensi 3


d = 9 9 9 = -9
berdasarkan kaidah minimasi diperoleh
5

3.

Untuk f3 (.) tipe preferensi 3


d = 19 19 - 7 = -7
berdasarkan kaidah minimasi diperoleh
P ( A1, A2 ) = 0
P ( A2, A1 ) = 0
P ( A1, A3 ) = 12
P ( A3, A1 ) = -12
P ( A2, A3 ) = 12
P ( A3, A2 ) = -12

P ( A1, A2 ) = 0
P ( A2, A1 ) = 0
P ( A1, A3 ) = 0
P ( A3, A1 ) = 0
P ( A2, A3 ) = 0
P ( A3, A2 ) = 0

Memberikan nilai kriteria atau skor untuk masing-masing alternatif guru.


Proses penilaian guru dilakukan oleh pengambil keputusan sesuai dengan
alternatif yang telah ditentukan. Nilai kriteria diperoleh disajikan
Tabel 3.2
Tabel 3.2 Nilai
Tipe
N

Min /

Max

Alternatif
A1

A2

Preferensi
A3

Parameter

pada

4.

Max

17

15

15

II

q=2

Max

19

19

q = 5, p = 50

Max

Max

IV

q = 10, p = 50

Hitung preferen indek


Indeks preferensi multikriteria ditentukan berdasarkan rata-rata bobot dari
fungsi preferensi P. Perhitungan preferensi indek menggunakan persamaan
n

Gaussian (Gaussian Criterion) : ( a , b )= Pi ( a , b ) : a ,b A


i=1

(A1,A2)= 1/4(2+0+1+0) = 0,75


(A2,A1)= 1/4(-2+0+-1+0) = -0,75
(A3,A2)= 1/4(0+-12+-1+0) = -3,25
(A1,A3)= 1/4(2+12+2+0) = 16
(A3,A1)= 1/4(-2+-12+1+-0) = -3,25
(A2,A3)= 1/4(0+12+1+0) = 3,25
Tabel 3.3 Indek preferensi
Alternatif
A1
A2
A3
5.

A1
0,75
16

Perangkingan promethee

A2
-0,75
-3,25

A3
-3,25
3,25
-

Nilai leaving flow merupakan jumlah dari tiap sel pada baris, sedangkan
entering flow adalah jumlahan tiap sel pada kolom dalam matrik atau tabel
preferen indeks.
Leaving flow :

+ ( a ) =

1
(a , x )
n1 x
A

+
(A1) = ((A1,A2) + (A1,A3))
+
(A1) = ((0,75) + (16))
+
(A1) = 0,482
+
(A2) = ((A2,A1) + (A2,A3))
+
(A2) = ((-0,75) + (-3,25))
+
(A2) = 0,607
+
(A1) = ((A3,A1) + (A3,A2))
+
(A1) = ((-3,25) + (3,25))
+
(A1) = 0,410
Entering flow :

( a )=

1
( x , a)
n1 x
A

(A1) = ((A2,A1) + (A3,A1))

(A1) = ((-0,75) + (-3,25))

(A1) = 1,018

(A2) = ((A1,A2) + (A3,A2))

(A2) = ((0,75) + (3,25))

(A2) = -1


(A1) = ((A1,A3) + (A2,A3))

(A1) = ((16) + (-3,25))

(A1) = 1,482
Selanjutnya hitung nilai net flow yang merupakan selisih dari nilai leaving
flow

dan entering flow. Adapun rangking guru disajikan pada Tabel 3.4

Perhitungan net flow menggunakan persamaan


( a)
+ ( a )
( a )=
( A 1)
+ ( A 1 )
( A 1 )=
( A 1 ) =( 0,482 )(1,018)
( A 1 ) =0,536
( A 2)
+ ( A 2 )
( A 2 )=
( A 2 ) =( 0,607 )(1)
( A 2 ) =1,607
( A 2)
+ ( A 2 )
( A 2 )=
( A 2 ) =( 0,410 )(1,482)
( A 2 ) =1,072
Tabel 3.4 Rangking guru
Alternatif
LF
A1
A2
A3

Rank

0,482 2
0,607 1
0,410 3

EF

Rank

1,018 2
1
3
1,482 1

3.5 Analisa Kebutuhan


3.5.1 Analisa Kebutuhan Fungsional Sistem

NF

Ran

k
0,536 3
1,607 1
1,072 2

Kebutuhan fungsional sistem mendefinisikan hal hal yang dibutuhkan oleh


sistem yang akan dibangun, diantaranya :
1. Dukungan untuk perubahan basis data, termasuk untuk proses update dan
edit terhadap basis data.
2. Membuat report yang berhubungan dengan perengkingan untuk tiap
peserta.
3.5.2 Analisa Kebutuhan Pengguna
Pengguna sistem pendukung keputusan ini

terdiri atas dua kelompok

pengguna, yaitu pemakai dan pengawas. Kedua jenis pengguna tersebut dibedakan
dalam hal interaksi yang dapat dilakukan pada sistem, yaitu sebagai berikut :
1. Kemampuan untuk melakukan proses insert, update dan delete data
kriteria, dan data peserta.
2. Memberikan informasi judul yang akan diterima.
3. Memberikan informasi hasil perangkingan.
3.6 ERD (Entity Relationship Diagram)
Entity Relationship Diagram atau ERD digunakan untuk menganalisis tabel
yang akan dibuat beserta relasinya pada basis data. Dalam sebuah sistem, aturan
bisnis memiliki arti yang sangat penting, karena dengan aturan bisnis, batasan
pengaturan yang dilakukan pada komponen sistem dapat diketahui.

Gambar 3.2 Entity Relationship Diagram Sistem Pendukung Keputusan


Penentuan guru teladan
3.7 Analisis Kebutuhan Fungsional
Diagram konteks atau disebut juga dengan model sistem fundamental
merepresentasikan seluruh elemen sistem sebagai sebuah bubble tunggal dengan
data input, output yang ditunjukkan oleh anak panah yang masuk dan keluar
secara berurutan.
Berdasarkan hasil analisis, maka sistem yang akan dibangun dapat di lihat
pada gambar 3.3 :

Gambar 3.3 Diagram konteks.

1. Data Flow Diagram (DFD)


Data flow diagram merupakan model dari sistem untuk menggambarkan
pembagian sistem ke model yang lebih kecil. Salah satu keuntungan
menggunakan DFD adalah memudahkan pemakai yang kurang menguasai bidang
komputer dapat mengerti sistem yang akan dijalankan. Berikut data flow diagram
untuk sistem yang akan dibuat :

Gambar 3.4 DFD level 0 SPK penentuan guru teladan


Proses 1.0 : Petugas menginput data login kemudian sistem menyimpan pada
tabel user dan menampilkan info login pada petugas, Admin
menginput data login yang disimpan pada table user
Proses 2.0 : Petugas menginput data user kemudian di simpan pada table user,
system menampilkan info data yang telah disimpan, Admin
menginput data user yang disimpan pada table user
Proses 3.0 : Petugas menginput data master kemudian di simpan pada table guru,
system menampilkan info data yang telah disimpan

Proses 4.0 : Petugas melakukan pemilihan data guru yang telah di simpan pada
tabel user, system menampilkan info pilihan
Proses 5.0 : Petugas membuat laporan dari data guru yang telah disimpat, system
menampilkan info laporan pada petugas
2. DFD Level 1 Proses 1.0 Data User
Berikut ini adalah gambar dari DFD level 1 Proses 1.1 Data User. Gambar
4.5 DFD level 1 proses 1.1 data user.

Gambar 3.5 DFD level 1 proses 1.1 data user.


Proses 1.1 : Petugas menginput data login kemudian sistem menyimpan pada
tabel user dan menampilkan info login pada petugas, Admin
menginput data login yang disimpan pada table user
Proses 1.2 : Petugas menginput data user kemudian di simpan pada table user,
system menampilkan info data yang telah disimpan, Admin
menginput data user yang disimpan pada tabel user
3. DFD Level 1 Proses 2 Pengelolaan Data User
Berikut ini adalah gambar dari DFD level 1 Proses 2 Pengelolaan Data
User.

Gambar 3.6 DFD level 1 proses 2 pengelolaan data user.


Proses 2.1 : Petugas dapat menambah data user, kemudian disimpan dalam table
user
Proses 2.2 : Petugas dapat mengubah data user, kemudian disimpan dalam table
user
Proses 2.3 : Petugas dapat menghapus data user, kemudian disimpan dalam table
user

4. DFD Level 1 Proses 3.0 Data Kriteria


Berikut ini adalah gambar dari DFD level 1 Proses 3.1 data Kriteria.

Gambar 3.7 DFD level 1 proses 3.1 data master


Proses 3.1 : Petugas menginput data guru yang disimpan dalam table guru
Proses 3.2 : Petugas menginput data kriteria yang disimpan dalam table kriteria
5. DFD Level 1 Proses 4.0 Perangkingan
Berikut ini adalah gambar dari DFD level 1 Proses 4 Proses perangkingan

Gambar 3.8 DFD level 1 proses 4 pemilihan guru teladan.


Proses 4.1 : Petugas memilih data guru dan data criteria untuk dilakukan proses
pencarian kemudian disimpan dalam table guru

Proses 4.2 : Petugas membuat laporan untuk hasil yang telah didapatkan
3.8 Struktur Tabel
Berikut adalah tabel-tabel yang terdapat dalam basis data yang digunakan
dalam sistem yang akan dibangun.
1. Tabel Admin
Tabel 3.5 Admin
Nama
Id_user
Nama
Password
2. Tabel Guru

Type
Char
Vachar
Vachar

Length
8
25
10

Key
Pk

Type
Char
Vachar

Length
8
225

Key
Pk

Type
Char
Vachar

Length
8
225

Key
Pk

Type
Char
Vachar

Length
8
15

Key
Pk

Tabel 3.6 guru


Nama
Id_guru
Nama_guru
3. Tabel kriteria
Tabel 3.7 kriteria
Nama
Id_kriteria
Kriteria
4. Tabel rangking
Tabel 3.8 rangking
Nama
Nama_guru
Hsl_akhir

a.

Perancangan
Perancangan sistem pendukung keputusan terdiri dari perancangan arsitektur

menu dan perancangan tampilan program

3.9.1 Perancangan Arsitektur Menu


Dalam perancangan sebuah aplikasi dibutuhkan struktur menu yang
berisikan menu dan submenu yang berfungsi untuk memudahkan user dalam
menggunakan aplikasi tersebut. Berikut ini digambarkan mengenai stuktur menu
dalam aplikasi ini, dimana terdapat dua struktur menu yaitu :
Login

File Input Data

Proses Promethee

Perangkingan

Data Guru

Penentuan Alternatif

Perangkingan

Data Kriteria

Proses Perhitungan Persentasi

Data Parameter
Perhitungan Promethee

Gambar 3.9 Arsitektur menu penentuan guru teladan


3.6.1 Perancangan Tampilan Program
1. Tampilan Login
Berikut ini adalah rancangan tampilan login.

Gambar 3.10 Tampilan login.

Laporan

2. Tampilan Menu Utama Untuk Penentuan Guru Teladan


Berikut ini adalah rancangan tampilan menu utama untuk penentuan guru
teladan.

Gambar 3.11 Tampilan menu utama untuk penentuan guru teladan.


3. Tampilan Pengelolaan Data Guru
Berikut ini adalah rancangan tampilan pengelolaan data guru.

Gambar 3.12 Rancangan tampilan pengelolan data guru

4. Tampilan Pengelolaan Data Kriteria


Berikut ini adalah rancangan tampilan pengelolaan data kriteria.

Gambar 3.13 Tampilan pengelolaan data bobot.


5. Tampilan Proses Perangkingan
Berikut ini adalah rancangan tampilan penentuan guru teladan untuk
proses perangkingan.

Gambar 3.7 Tampilan penentuan guru teladan untuk proses perangkingan.