Anda di halaman 1dari 27

Nilai :

LAPORAN PRAKTIKUM
TEKNIK PENANGANAN HASIL PERTANIAN
(Pengukuran Densitas dan Spesific Gravity Pengukuran Sudut Geser dan
Angle of Repose)
Oleh :
Nama

: Frida Pascha Nurfitrianty

NPM

: 240110120066

Hari, Tanggal Praktikum

: Selasa, 28 September 2014

Waktu/Shift

: 13.00-15.00 WIB/B1

Asisten

: Desny Angelina

LABORATORIUM PASCA PANEN DAN TEKNOLOGI PROSES


JURUSAN TEKNIK DAN MANAJEMEN INDUSTRI PERTANIAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN
UNIVERSITASPADJADJARAN
2014

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Karakteristik bahan hasil pertanian terdiri dari karakteristik fisik, kimia
serta biologis. Bahan hasil pertanian sangat rentan terhadap kerusakan, terutama
kerusakan secara fisik. Petani biasanya melakukan penanganan melalui proses
penyimpanan. Terdapat juga bulk density, spesific gravity dan sudut repos yang
menjadi pengaruh kerusahan atau keawetan suatu bahan hasil pertanian. Pada
proses penyimpanan para petani haruslah mengetahui cara menyimpan yang baik
dan benar agar tidak terjadi kerusakan yang berarti bagi bahan tersebut.
Data yang diperoleh dari nilai bulk density, spesific gravity dan sudut repos
sangat dibutuhkan untuk proses penyimpanan bahan hasil pertanian, yaitu
perancangan pengemasan, perencanaan silo dan masih banyak lagi. Proses
tersebut dilakukan untuk menambah umur penyimpanan suatu bahan hasil
pertanian dan menghindarinya dari semua elemen yang membuat kerusakan
terhadap bahan tersebut.
Selain itu, pengetahuan tentang karakteristik bahan diperlukan antara lain
untuk merancang bangun mesin-mesin pengolahan, menentukan bahan atau
material konstruksinya, pengoperasian serta pengendaliannya, menganalisis dan
menentukan efisiensi suatu mesin, maupun proses pengolahan, mengembangkan
produk-produk olahan baru dari bahan berupa tanaman atau hewan dan
mengevaluasi serta mengawetkan mutu produk akhir.
Maka dari itu, untuk mempertahankan mutu bahan produk pertanian
diperlukan pemahaman tentang sifat bahan hasil pertanian dengan cara melakukan
pengukuran densitas dan specific gravity, pengukuran sudut geser dan angle of
repose produk pertanian yang berbentuk tidak beraturan serta bersifat porus yang
dimana dilakukan pada praktikum kali ini.

1.2 Tujuan Praktikum


1.2.1 Tujuan Instruksional Khusus

1. Menentukan kerapatan kamba (Bulk Density), spesific gravity serta


sudut repos (angle of repose) suatu bahan;
2. Mempelajari cara pengukuran densitas produk pertanian yang
berbentuk tidak beraturan serta berisfat porus.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Bulk Density
Bulk density menunjukkan perbandingan dengan volume antara berat
tanah kering dengan volume tanah termasuk pori-pori tanah. Bulk density
merupakan kepadatan tanah. Makin padat suatu tanah makin tinggi bulk
density, yang berarti makin sulit meneruskan air atau ditembus akar
tanaman. Pada umumnya Bulk Density berkisar dari 1,1 1,6 g/cc. Bulk
Density penting untuk menghitung kebutuhan pupuk atau air untuk tiaptiap hektar tanah, yang didasarkan pada berat tanah per hektar.
Tanah organik memiliki bulk density yang sangat rendah jika
dibandingkan dengan tanah mineral. Variasi-variasi ada tergantung pada
keadaan bahan organik dan kandungan air pada waktu pengambilan
cuplikan untuk menentukan bulk density. Nilai-nilai yang berkisar dari 0,1
sampai 0,6 gram per sentimeter kubik adalah biasa .
Contoh tanah yang digunakan untuk menetapkan berat jenis palsu
harus diambil secara hati-hati dari dalam tanah. Pengambilan contoh tanah
tidak boleh merusak struktur asli tanah. Terganggunya struktur tanah dapat
mempengaruhi jumlah pori-pori tanah, demikian pula berat satuan volume.
Empat atau lebih bongkah (gumpal) tanah biasanya diambil dari tiap
horison untuk memperoleh nilai rata-rata. Gumpal-gumpal tanah yang
diambil dari lapangan untuk penetapan bulk density dibawa ke
laboratorium untuk dikering ovenkan dan ditimbang. Kerapatan volume
dapat pula Ditetapkan dengan satuan lain, misalnya pount/ft. Jika
ditetapkan dalam g/cm, maka bulk density lapisan olah berstruktur halus
biasanya berkisar antara 1,0 1,3. Sedangkan jika tekstur tanah itu kasar,
maka kisaran itu selalu di antara 1,3 1,8. Semakin berkembang struktur
tanah lapisan olah yang bertekstur biasanya memiliki nilai berat jenis palsu
yang rendah, dibandingkan pada tanah-tanah berpasir. Timbulnya proses
pembentukan struktur di horison-horison bagian atas dari bahan induk ini
mengakibatkan bulk density yang rendah dibandingkan lebih rendah dari
batuan induk itu sendiri. Tanah-tanah organik memiliki nilai bulk density
yang rendah dibandingkan dengan tanah mineral. Tergantung dari sifat-

sifat bahan organik yang menyusun tanah organik itu, dan kandungan air
pada saat pengambilan contoh, maka biasanya bulk density itu berkisar
antara 0,2 0,6 gr/cm3.
Bahan organik memperkecil berat isi tanah karena bahan organik jauh
lebih ringan daripada mineral. Berat isi ditentukan oleh porositas dan
padatan tanah. Tanah yang bertekstur halus mempunyai berat isi yang
lebih rendah daripada tanah berpasir (Iin. 2012).
2.2 Spesific Gravity
Spesific gravity perbandingan berat bahan terhadap berat air yang
volumenya sama dengan bahan. Spesific gravity dan bulk density dari
bahan hasil pertanian memiliki peranan yang sangat penting dalam proses
penanganan bahan hasil pertanian. Sebagai contoh, data kerapatan kamba
dan spesific gravity bahan diperlukan untuk penyimpanan biji-bijian,
perencanaan silo, bunker, hopper, perancanangan pengemasan, dan lainlain (Rusendi, Dadi, dkk. 2014).
.......(1)
Untuk gas :
pV
=nRT
pV
= (m/M) R T

= m/V

= (p M)(R T)

dimana :
p
= Tekanan (atm)
V
= Volume (liter)
n
= Jumlah mol, kgmol
m
= massa, kg
M
= berat molekul
T
= suhu, 0K
R
= konstanta gas (0,08206 (liter.atm) (mol0K) = 10,7315
Sebagaimana yang tercantum dalam rumus SG di atas, bahwa SG
merupakan perbandingan densitas zat terhadap densitas zat standar.
Densitas merupakan perbandingan massa zat dengan volume zat. Volume
zat sangat dipengaruhi oleh suhu. Kenaikan suhu akan mengakibatkan
pemuaian zat sehingga volumenya bertambah. Dengan demikian densitas

zat yang sama pada temperatur yang lebih tinggi akan lebih rendah. Oleh
karenanya besarnya SG zat tersebut pun berubah.
Guna kepentingan transaksi jual beli, khususnya di bidang migas
supaya pembeli dan penjual tidak ada yang dirugikan maka ditetapkan
standar SG 60/60 sebagai dasar perhitungan transaksi jual beli. SG 60/60
berarti perbandingan densitas zat pada suhu 60 degF dengan densitas zat
standar pada suhu yang sama. Namun kenyataannya, sangat sulit
mengkondisikan suhu pengukuran tepat pada 60 degF. Oleh karena itu
pengukuran dilakukan pada suhu ruangan (berapapun) yang nantinya hasil
pengukuran tersebut dikonversi ke SG 60/60 dengan suatu koreksi suhu
(Refi. 2013).
2.3 Sudut Repos
Menurut Rusendi, Dadi, dkk sudut repos adalah sudut yang terbentuk
antara bidang alas dan bidang miring dari suatu bentuk segitiga pada saat
bahan curah (biji-bjian) dijatuhkan secara bebas atau sampai bahan mulai
jatuh bergulir. Sudut repos terjadi :
a. Sudut repos statik, yaitu sudut gesek antar bijian diambang batas gerak;
b. Sudut repos dinamik, yaitu sudut antara lereng timbunan biji-bijian
dengan permukaan horizontal
Nilai sudut repos dari suatu bahan dipengaruhi oleh bentk, ukuran,
kadar air dan orientasi bahan.
2.4 Piknometer
Menurut Riko, 2011 piknometer adalah bejana yang dilengkapi
dengan termometer untuk mengukur dan membandingkan berat jenis zat
cair atau zat padat. Pengukuran dengan piknometer harus dilakukan pada
suhu tetap. Selain itu, volume zat cair harus sama dengan volume
piknometer. Bagian-bagian piknometer terdiri dari 3 bagian:
1. Tutup pikno : bagian tutup mempunyai lubang berbentuk saluran kecil.
2. Thermometer : mengamati bahwa zat yang diukur memiliki suhu yang
tetap.
3. Labu dari gelas : tempat meletakkan zat yang akan di ukur massa jenisnya.
Cara penggunaan
1. Timbang piknometer dalam keadaan kosong.

2. Masukkan fluida yang akan diukur massa jenisnya ke dalam piknomeer


tersebut.
3. Tepatkan volumenya, lalu tutup piknometer.
4. Timbang massa piknometer yang berisi fluida tersebut.
5. Hitung massa fluida yang dimasukkan dengan cara mengurangkan massa
pikno berisi fluida dengan massa pikno kosong.
6. Setelah didapat data massa dan volume fluidanya, tentukan nilai
rho/masssa jenis () fluida.

BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM
3.1 Alat dan Bahan
3.1.1 Alat
1.
2.
3.
4.

Alat pengukur sudut repos;


Baker glass ;
Gelas ukur ;
Timbangan analitik.

3.1.2 Bahan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
3.2

Aquades;
Beras;
Cairan toluen;
Jagung;
Kacang hijau;
Kacang kedelai;
Minyak atsiri.
Prosedur Praktikum
1. Menentukan Bulk Density
a. Menimbang sejumlah bahan dengan menggunakan timbangan
analitik;
b. Mengukur volume bahan yang telah ditimbang tersebut dengan
menggunakan gelas ukur;
c. Menghitung bulk density bahan
2. Menentukan Spesific Gravity
2.1 Metode Platform Scale
a. Menimbang bahan dengan menggunakan timbangan analitik;
b. Memasukkan airkedalm gelas ukur kemudian menimbang glass yang
telah diisi air tersebut(massa wadah + air);
c. Memasukkan bahan kedalam gelas ukur yang telah diisi air tersebut
dan mencatat massanya (massa wadah + air + bahan);
d. Menghitung spesific gravity bahan
2.2 Metode piknometer
Prinsip metode ini didasarkan atas penentuan massa cairan dan
penentuan ruangan yang ditempati cairan ini.

2.2.1

Menentukan Spesific Gravity Bahan Padat (terutama bijian)


a. Menimbang berat sampel diudara (Bs);
b. Menimbang berat piknometer (Bp);
c. Memasukan cairan toluen kedalam piknometer, menimbang berat
toluen + piknometer (Bp + t);

d. Memasukkan sampel bijian kedalam piknometer yang telah terisi


cairan toluen, menimbang berat toluen + piknometer + sampel (Bt
+ p + s) hingga mencapai batas garis pada piknometer;
e. Setelah piknometer dikosongkan dicuci dan dibersihkan dengan
alkohol, menimbang juga berat toluen + air (Bp + a) sampai batas
garis pada piknometer;
f. Menghitung spesific gravity dan berat satuan sampel.
2.2.2 Menentukan Spesific Gravity Bahan Cair (minyak atsiri)
a. Menyiapkan piknometer kosong (m) yan bersih kemudian
ditimbang beratnya dalam gram, selanjutnya memasukkan aquades
sampai garis batas piknometer;
b. Menutup piknometer hingga

tidak

ada

gelembung,

lalu

membersihkan dinding luar piknometer dengan tisu. Kemudian


mencatat suhu pada tutup pinometer dan menimbang kembali
berat piknometer yang berisi aquades (m1);
c. Melakukan prosedur untuk sampel yang digunakan, mencatat suhu
dan berat piknometer dan sampel (m2).
3. Menentukan Sudut Repos
a. Meletakkan bahan pada permukaan bidang atas (seng) dari alat
pengukur sudut repos;
b. Menaikkan lapisan atas dari alat pengukur sudut repos sedikit
demi sedikit sampai dengan bahan mulai bergulir jatuh dan amati
busur derajat untuk melihat besarnya sudut yang terbentuk antara
lapisan bawah dan lapisan atas daru alat pengukur sudut repos;
c. Pada saat mulai bergerak, mencatat sudut yang terbentuk (sudut
repos bahan);
d. Mengulangi pengukuran pada permukaan yang berbeda (mika dan
kayu) dengan masing-masing permukaan diulang sebanyak 30
kali.
4. Mengukur densitas bahan pertanian porus berbentuk tak menentu
dengan pelapisan lilin
a. Menyiapkan sampel dan timbang beratnya , ms;
b. Menyiapkan air dan ukur volumenya, Va;
c. Memanaskan lilin sampai mencair;
d. Setelah lilin mencair, mencelupkan sampel kedalam lilin kemudian
menimbang berat sampel berlapis lilin, msl;
e. Memasukkan sampelberlapis lilin kedalam air. Mengukur volume
air ditambah sampel dan lilin;

f. Menghitung volume lilin, V1;


g. Menghitung volume sampel;
h. Menghitung densitas sampel.

BAB IV
HASIL
Tabel 1. Pengukuran Bulk Density (Kacang Hjau + Kedelai) @5 gram
Percobaa

Massa (g)
K.Hijau K.Kedela

n Ke

Volume (mL)
K.Hijau K.Kedela

1
2
3
Catatan

5
5,16
5,01
5,09
5
5,02
: air 20 Ml

23,8
23,8
24

1. Perhitungan
A. Kacang Hijau
a.

BD

b. BD

massa bahan( gr )
volume bahan(mL)

5 gr
23,8 mL

= 0,21008 gr/mL
massa bahan( gr )
= volume bahan(mL)
=

c. BD

5,01 gr
23,8 mL

= 0,2105 gr/mL
massa bahan( gr )
= volume bahan(mL)
=

5 gr
24 mL

= 0,20833 gr/mL
B. Kacang Kedelai
massa bahan( gr )
a. BD
= volume bahan(mL)
=

b. BD

BD (g/mL)
K.Hijau K.Kedela

5,16 gr
24 mL

= 0,215 gr/mL
massa bahan( gr )
= volume bahan(mL)

i
24
24
24,2

0,2108
0,2105
0,20833

0,215
0,21208
0,2074

c. BD

5,09 gr
24 mL

= 0,21208 gr/mL
massa bahan( gr )
= volume bahan(mL)
=

5,02 gr
24,2 mL

= 0,2074 gr/mL
Tabel 2. Pengukuran Spesific Gravity dengan Metode Platform Scale
Massa air

M. air +

Massa (gr)

(15 mL) +

wadah

[a]

wadah (g)

+bahan (g)

[b]
Jagu Bera

[c]
Jagu

Bera

Jagu

Ber

Jagu

Bera

ng
103,

s
103,

ng
108,

s
108,

ng

as
5,0

ng
0,99

s
0,99

75
103,

56
104,

78
108,

59
109,

3
5,0

4
1,00

51
103,

17
104,

53
108,

13
109,

99

58

Per Ke

Jagu

Ber

ng

as

5,02

5,02

5,04
Catatan

5,0

02
94
53
: SG air = 1

M. air yang
dipindahka

SG

n (g)

5,03
5,02
5,05

2
5,0

0,99

2. Perhitungan
A. Massa Air yang Dipindahkan
a. Jagung
i.
(Massa wadah + air + bahan) (m. Air + bahan)
= 108,78 103,75
= 5,03 gr
ii.
(Massa wadah + air + bahan) (m. Air + bahan)
= 108,53 103,51
= 5,02 gr
iii.
(Massa wadah + air + bahan) (m. Air + bahan)
= 108,99 103,94
= 5,05 gr
b. Beras
i.
(Massa wadah + air + bahan) (m. Air + bahan)
= 108,59 103,56
= 5,03 gr
ii.
(Massa wadah + air + bahan) (m. Air + bahan)

8
0,99

= 109,13 104,17
= 4,96 gr
iii.
(Massa wadah + air + bahan) (m. Air + bahan)
= 109,58 104,53
= 5,05 gr
B. Spesific Gravity
a. Jagung
massa bahan( g)
i.
SG
= massa air yangdipindahkan( g) x SG air
=

5,02
5,03

x1

= 0,998
ii.

SG

massa bahan( g)
massa air yangdipindahkan( g)

5,02
5,02

x SG air

x1

=1
iii.

SG

massa bahan( g)
massa air yangdipindahkan( g)

5,04
5,05

x SG air

x1

= 0,998
b. Beras
i.

SG

massa bahan( g)
massa air yangdipindahkan( g)

5,00
5,03

x SG air

x1

= 0,994
ii.

SG

massa bahan(g)
= , 008 massa air yangdipindahkan(g)
=

5,00
4,96

x SG air

x1

= 1,008
iii.

SG

massa bahan( g)
massa air yangdipindahkan( g)

5,002
5,05

= 0,99

x1

x SG air

Tabel 3. Pengukuran SG Bahan Padat dengan Metode Piknometer (Beras +


Kacang Hijau) @3 gram
BS

BP

BPt

BPts

SG
Bahan

Toluen

Sampe

43,02 0,9436
43,02 0,9436

l
5,55
14,89

Gram
Beras
K.Hija

3
3

22,08 41,84
22,08 41,84

44,33
44,65

VS

mm3)

(gr)

0,540
0,201

5,55
14,8

BPa

3. Perhitungan

a. Toluene

BPt BP
BPaBP
41.8422.08

= 43.0222.08
= 0.9436
b. SG Sampel kacang hijau =

SGt x Bs
BS( BPtSBPt )

0.9436 x 3
3(44.6541.84)

= 14.89

0.9436 x 3
3( 44.3341.84)

c. SG Beras

d. V sampe kacang hijau

= 5.5505
BS
= SGs
=

e. V Beras

3
14.89

= 0.201477
BS
= SGs

3
5.550

= 0.54048

f. Berat satuan kacang hijau =

BS
VS
3

= 0.201477
= 14.89037
BS
= VS

g. Berat satuan beras

3
0.54048

= 5.550
Tabel 4. Pengukuran SG Bahan Cair dengan Piknometer
Bahan
Minyak Atsiri
Aquades

MP (gram)
16,55 (M)
16,55 (M)

Massa Bahan + Piknometer


37,93 (M2)
37,79 (M1)

4. Perhitungan
sampel

M 2M
M 1M

Keterangan:
M2 = Mat + P
M1 = Maq + P
M = Massa Piknometer
a. SG sampel

M 2M
M 1M

37,93 16,55
= 37,79 16,55
= 1,006591337

SG
1,006591337

Tabel 5. Pengukuran Sudut Repose (Jagung, Kacang Hijau, Kacang Kedelai)


@30 biji

No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
Jumla
h
Ratarata
Sd

mika
kacang jagu kede

kayu
kacang jagu kede

seng
kacang jagu kede

hijau
23
35
10
30
12
12
12
21
19
13
10
20
16
13
11
19
17
10
10
15
23
20
19
25
24
22
20
17
20
25

ng
26
27
30
25
28
35
25
24
25
24
27
28
30
31
25
28
28
32
27
30
30
28
35
25
25
27
30
22
32
30

lai
20
15
14
25
15
12
16
24
11
12
15
15
15
18
15
16
20
20
20
17
17
17
18
20
10
12
11
10
15
25

hijau
8
15
17.5
17.5
22.5
15
15
22
14
25
22.5
22
21
20
20
24
30
28
10
20
23
20
21
22
20
29
18
22
25
15

ng
24
34
30
29
32
30
34
34
33
26
22
35
36
40
41
46
35
39
25
29
35
29
31
36
35
31
31
20
20
30

lai
16
15
14
10
8
16
14
15
15
8
10
9
15
15
11
15
11
15
14
31
10
10
25
15
19
21
13
10
9
19

hijau
15
20
13
15
18
15
23
17
8
12
14
25
35
9
12
16
17
25
15
19
10
22
30
20
13
22
10
12
25
20

543

839

490

604

952

428

527

27.9

16.3

20.1333

31.7

14.2

39.2655

6
10.1

33
17.0

3
25.7402

33
36.1

66
25.6

02

57

33

50

18.1

5. Perhitungan
a. Mika

ng
35
32
35
28
24
32
32
38
37
37
35
40
40
68
35
37
30
30
18
32
40
30
35
37
35
45
35
38
30
42
106
2

17.566

35.4

40.322

66.8

lai
11
23
20
15
18
20
17
22
18
22
15
19
20
17
18
19
18
19
23
17
21
22
26
20
24
21
16
19
17
12
569
18.9
66
10.9
98

i. Sd kacang hijau =

= 39.2655172413793

ii.

Sd jagung =

= 10.1022988505747

iii.

Sd kedelai =

= 17.0574712643678

b. Kayu
i.
Sd kacang hijau =

= 25.7402298850575

ii.

Sd jagung =

= 36.1333333333333

iii.

Sd kedelai =

= 25.6505747126437

c. Seng
i.
Sd kacang hijau =

= 40.3229885057471

ii.

Sd jagung =

= 66.7999999999999

iii.

Sd kedelai =

= 10.9988505747127

Tabel 6. Pengukuran Densitas Bahan Pertanian Porus (Terong 5 gram)


Percobaa

MS

Va

MSI

VSia

n Ke

(gr)

(cm3)

(gr)

(cm3)

1
2
3

4,99
5,00
4,99

15
15
15

6,21
5,43
6,15

20
23
22

Catatan:
= 0,93 (g/ cm)
= 15 cm)

M.
Lilin
(gr)
1,22
0,43
1,17

V lilin

VS

(cm3)

(cm3)

(gr/cm3)

1,31
0,46
1,25

3,69
7,54
5,75

1,35
0,66
0,86

6. Perhitungan
a. Perhitungan massa lilin .
M lilin

M SL

Ms

i.

M lilin1

= 6,21 4,99 = 1,22 g

ii.

M lilin2

= 5,43 5,00 = 0,49 g

iii.

M lilin3

= 6,15 4,98 = 1,17 g

b. Perhitungan volume lilin.


=

M lilin
lilin

i.

V lilin1

1,22
0,93

= 1,31 cm

ii.

V lilin2

0,43
0,93

= 0,46 cm

iii.

V lilin3

1,17
0,93

= 1,25 cm

V lilin

c. Perhitungan volume sampel.


V s=V SLA
V lilin
Va

i.

V s 1=

20 1,31 15 = 3,69 cm

ii.

V s 2=

23 0,46 15 = 7,54 cm

iii.

V s 3=

22 1,25 15 = 5,75 cm

d. Perhitungan massa jenis sampel.


Ms
s
=
Vs
i.

s 1

ii.

s 2

iii.

s 3

4,99
3,69

= 1,35 g/ cm

5,00
7,54

= 0,66 g/ cm

4,98
5,75

= 0,86 g/ cm

BAB V
PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini praktikan melakukan pengukuran densitas dan
spesific gravity dan pegukuran sudut repos. Pengukuran bulk density
membantu kita dalam menentukan ruang penyimpanan khususnya untuk
bahan hasil pertanian. Besarnya nilai bulk density akan berbanding lurus
dengan besarnya ruang penyimpanan suatu bahan. Apabila nilai bulk
density dari suatu produk besar, maka ruang penyimpanan yang diperlukan
oleh suatu bahan tersebut besar pula berlaku pula sebaliknya dimana nilai
bulk density kecil maka ruang penyimpanan yang diperlukan kecil pula.
Berdasarkan hasil pengukuran, diperoleh nilai bulk density untuk
kacang hijau pada percobaan pertama hingga ketiga secara berurutan
adalah 0,2108 gr/mL; 0,2105 gr/mL; dan 0,20833 gr/mL sehingga
diperoleh rata-rata nilai bulk density kacang hijau adalah 0,20988 gr/mL.
Sedangkan nilai bulk density untuk kacang kedelai pada percobaan
pertama hingga ketiga secara berurutan adalah 0,215 gr/mL; 0,21208
gr/mL; dan 0,2074 gr/mL sehingga diperoleh rata-rata adalah 0,21149.
Nilai bulk density menurut literatur untuk kacang kedelai adalah
0,5447 gr/mL sedangkan yang diperoleh praktikum hanya 0,21149,
tentunya nilai yang diperoleh praktikan berbeda cukup jauh dengan
literatur yang ada. Seangkan untuk kacang hijau sekitar 0,5 dan nilai yang
diperoleh untuk kacang hijau hanya 0,20988. Nilai itu berbeda cukup jauh
dengan literatur yang ada. Artinya perhitungan yang dilakukan praktikuan
terjadi kesalahan belum mendekati benar. Hal tersebut bisa terjadi karena
kesalahan dalam proses pengukuran massa serta volume yang tertera pada
gelas ukur.
Selanjutnya nilai spesific gravity akan praktikan bahan dimana
spesific gravity menunjukkan kerapatan massa yang yang dipengaruhi oleh
gravitasi. Nilai spesific gravity untuk jagung dan beras yang diperoleh
adalah pada percobaan pertama hingga ketiga untuk biji jagung secara
berurutan adalah 0,998; 1; dan 0,998 sedangkan untuk nilai spesific
gravity pada beras dalam percobaan pertama hingga ketiga adalah 0,994;
1,008; dan 0,99. Jika nilai spesificnya lebih besar dari 1 maka bahan yang

diuji akan tenggelam. Namun, jika nilai spesificnya dibawah 1 maka bahan
yang diuji akan mengapung. Jagung akan mengapung karena nilai SG
yang diperoleh pada percobaan pertama dan ketiga adalah kurang dari 1.
Nilai SG pada beras percobaan pertama dan ketiga akan mengapung
karena nilainya kurang dari 1 sedangkan untuk percobaan kedua beras
akan tenggelam karena nilai SG yang diperoleh adalah lebih dari 1.
Spesific gravity ini memiliki peranan penting dimana membantu bahan
hasil pertanian untuk dikeringkan dan membantu dalam hal penyimpanan
biji-bijian, penentuan kemurnian biji, sortasi serta grading.
Pengukuran spesific gravity ini dilakukan dalam dua metode, yaitu
metode platform scale dimana metode ini merupakan salah satu teknik
sederhana yang dapat digunakan pada produk yang berukuran besar dan
yang kedua adalah metode piknometer dimana piknometer itu sendiri
berarti bejana yang dilengkapi termometer untuk mengukur dan
membandingkan berat jenis cair atau zat padat. Piknometer berfungsi
untuk mengukur volume sebenarnya pada suatu bahan
Metode piknometer ini juga terbagi menjadi dua yaitu dengan bahan
padat dan dengan bahan cair. Untuk pengukuran bahan padat diperoleh
volume sampel beras adalah 0,540 mm3 dan volume sampel kacang hijau
adalah 0,201 mm3. Sedangkan untuk berat satuan sampel beras adalah 5,55
gr dan 14,89 gr kacang hijau. Dapat disimpulkan dari hasil volume dan
berat sampe yang diperoleh bahwa semakin kecil nilai volume dari sampel
yang diuji maka akan semakin besar nilai berat sampel yang diperoleh
berlaku pula sebaliknya. Untuk pengukuran SG bahan cair diperoleh nilai
sebesar 1,0066 untuk kedua bahan yaitu minyak atsiri dan aquades.
Untuk pengukuran sudut repos dilakukan pada tiga media yang
berbeda, yaitu mika, kayu serta seng. Untuk sudut repos kacang hijau hasil
yang paling besar terdapat pada seng dengan besar 40,322 0; untuk sudut
repos jagung diperoleh nilai paling besar pada media seng pula dengan
besar 66,800; dan yang terakhir nilai sudut repos untuk kedelai adalah
25,65 pada permukaan kayu. Nilai sudut repos suatu bahan dipengaruhi
oleh bentuk, ukuran, kadar air, dan orientasi bahan.
Pada pengukuran densitas bahan dengan dilapiskan lilin dan bahan uji
terong. Terong bukan termasuk kedalam bahan yang bentuknya bersifat

porus atau tidak beraturan. Nilai densitas yang diperoleh setelah dilakukan
tiga kali percobaan adalah 1,35 gr/cm3; 0,66 gr/cm3; dan 0,86 gr/cm3. Jika
dilihat dari hasil yang diperoleh praktikan bahwa massa terong
mempengaruhi nilai densitas dimana setiap penambahan massa bahan akan
semakin kecil densitas yang diperoleh bahan. Meskipun ada nilai densitas
yang berbeda meskipun nilai massanya sama. Mungkin hal tersebut terjadi
karena kesalahan praktikan dalam melakukan perhitungan dan proses
pelaksanaan praktikum.

BAB VI
PENUTUP
6.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang diperoleh pada praktikum kali ini, yaitu;
1. Nilai bulk density yang diperoleh berdasarkan percobaan dengan literatur
yang ada berbeda cukup jauh;
2. Jika nilai spesificnya lebih besar dari 1 maka bahan yang diuji akan
tenggelam. Namun, jika nilai spesificnya dibawah 1 maka bahan yang
diuji akan mengapung;
3. Pada pengukuran spesific gravity bahan padat semakin kecil nilai volume
dari sampel yang diuji maka akan semakin besar nilai berat sampel yang
diperoleh berlaku pula sebaliknya;
4. Nilai sudut repos suatu bahan dipengaruhi oleh bentuk, ukuran, kadar air,
dan orientasi bahan;
5. Pada perhitungan densitas bahan massa suatu bahan mempengaruhi nilai
densitas dimana setiap penambahan massa bahan akan semakin kecil
densitas yang diperoleh bahan.
6.2 Saran
Adapun saran yang diberikan oleh praktikan, yaitu :
1. Praktikan harus memahami prosedur praktikum agar mengurangi
kesalahan praktikan;
2. Memeriksa kondisi alat sebelum dan setelah digunakan;
3. Bertanya kepada asiten apabila ada yang kurang dimengerti;
4. Dalam proses menghitung dan praktikum diharapkan untuk berhati-hati
dan lebih teliti agar meminimalisir kesalahan pada saat praktikum.

DAFTAR PUSTAKA
Rusendi, Dadi, dkk. 2014. Penuntun Praktikum Teknik Penanganan Hasil
Pertanian. Jatinangor.
Iin.

2012.
Bulk
Density.
Terdapat
http://iinmutmainna.blogspot.com/2012/05/bulk-density.html
pada hari : Senin, 06 Oktober 2014 pukul 08.36 WIB).

pada
(diakses

Refi.

2013.
Spesific
Gravity.
Terdapat
pada
http://refinersnotes.blogspot.com/2013/06/specific-gravity-sg.html (diakses pada hari :
Senin, 06 Oktober 2014 pukul 09.12 WIB).

Riko.

2011.
Piknometer.
Terdapat
http://wakeriko.blogspot.com/2011/11/piknometer.html (diakses
hari : Senin, 06 Oktober 2014 pukul 09.28 WIB).

pad
pada

LAMPIRAN

Gambar 1. Aquades

Gambar 2. Pipet

Gambar 3. Piknometer

Gambar 4. Gelas Ukur

Gambar 5. Beras

Gambar 6. Timbangan
Analitik

Gambar 7. Jagung

Gambar 8. Kacang Hijau

Gambar 9. Sarung
Tangan

Gambar 10. Toluen