Anda di halaman 1dari 3

Nama

Agustina Melviani

NPM

1206218852

Kelompok

IPE-02

Fakultas

Ilmu Keperawatan

Fasilitator

drg. Febriana Setiawati M.Kes

Refleksi Diri
Pengalaman ini berawal ketika di kelas saya, IPE 02 dibagi menjadi dua
kelompok dan kemudian mulai ditentukan siapa yang akan menjadi ketua kelompok. Ketua
kelompok ini kelak akan memimpin setiap diskusi dalam modul kolaborasi, hingga proyek akhir
kolaborasi. Di dalam kelompok saya, terdapat dua orang laki-laki. Laki-laki yang pertama tidak
ingin menjadi ketua kelompok karena dia memang sudah menjadi sipen di kelas kolaborasi.
Sedangkan yang kedua, menolaknya tanpa alasan, sehingga teman-teman saya mengajukan
bahwa saya saja yang menjadi ketuanya. Kemudian saya pun berusaha menyanggupi diri
menerima posisi tersebut.
Seorang ketua ialah orang yang bertanggung jawab untuk memimpin setiap
anggota kelompoknya, dan saya sempat ragu untuk menerima posisi tersebut karena saya tahu
saya akan memiliki tanggung jawab yang besar. Terutama tanggung jawab untuk menggerakkan
kelompok dalam penyelesaian proyek akhir modul kolaborasi.
Proyek akhir kelompok saya ialah melakukan edukasi gempa pada masyarakat di
daerah Pandeglang, Provinsi Banten. Saat diskusi pertama, kelompok kami membicarakan apa
dan bagaimana konsep dari program proposal tersebut. Setelah itu, saya memimpin kelompok
untuk membagi tugas dalam penyelesaian proposal ini. Selama proses pengerjaan proposal ini
sungguh terkesan santai. Akan tetapi saat H-1 pengumpulan, kelompok saya mengalami
kepanikan, termasuk saya. Proposal tersebut masih dalam keadaan mentah, bahkan ada anggota
kelompok yang belum mengerjakan bagiannya. Sedangkan untuk media promosinya sama sekali
belum terpikirkan. Meskipun pada akhirnya semua tugas tersebut dapat terselesaikan sebelum
waktu pengumpulan yang ditentukan di scele.

Saya sempat bertanya-tanya pada diri saya, mengapa hal tersebut dapat terjadi.
Kemudian saya mencoba bercerita dan menanyakan pendapat dari salah seorang teman saya. Dia
mengatakan bahwa mungkin saja dikarenakan kurangnya komunikasi dalam kelompok, atau
karena saya kurang tegas dalam mengkoordinir anggota kelompok saya.
Setelah mendengar pendapat dari teman saya, saya mencoba mengevaluasi
bagaimana proses yang terjadi di dalam kelompok. Kelompok ini terdiri dari mahasiswa yang
berasal dari berbagai fakultas. Terutama Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kedokteran Gigi
yang terdapat di Salemba, tentu akan sangat sulit dalam melakukan pertemuan untuk melakukan
diskusi. Selain tempat, setiap anak juga memiliki kesibukan yang berbeda-beda, sehingga akan
sangat sulit untuk menyamakan jadwal. Untuk bertemu dengan teman satu fakultas saja
terkadang masih agak sulit, apalagi dengan yang berbeda fakultas. Oleh sebab itu, kami hanya
dapat bertemu saat modul kolaborasi pada hari Rabu. Kurangnya intensitas pertemuan dapat
menyebabkan kurangnya komunikasi di dalam kelompok sehingga hubungan dalam setiap
anggota kurang erat dan dapat berakibat pada kegalalan kelompok untuk mencapai tujuannya.
Saya mempelajari hal itu dari pembelajaran modul kolaborasi pada pembelajaran mengenai
konflik dalam kelompok.
Selain komunikasi yang kurang dalam kelompok, saya juga menyadari bahwa
saya kurang tegas dan bijaksana selama proses penyelesaian proyek akhir tersebut. Saya kurang
bisa mengkoordinir anggota saya untuk bekerja sama, untuk saling berbagi informasi, untuk
saling berkolaborasi. Padahal peran seorang ketua dalam kelompok adalah melakukan
pengawasan manajemen secara umum dan mendorong bawahannya untuk menggunakan
kreativitas dan inisiatif mereka dalam hal mengerjakan detail dari pekerjaannya, serta
memberikan motivasi kepada setiap anggotanya. Saya juga mempelajari hal itu dari
pembelajaran modul kolaborasi pada pembelajaran mengenai kepemimpinan.
Seorang pemimpin adalah seorang komunikator yang baik. Setelah proyek akhir,
peran saya yang terakhir ialah ketika ujian akhir. Dengan berkaca pada pengalaman saat proyek
akhir tersebut, saya mencoba untuk melakukan tugas saya terakhir kalinya sebagai ketua secara
maksimal. Saya membuat forum diskusi di media sosial seperti whatsapp untuk dapat
memudahkan setiap anggota kelompok saya dalam berkomunikasi. Saat ujian akhir, saya
berusaha memimpin kelompok dalam berdiskusi dan memberikan suatu aturan yang seperti

waktu maksimal dalam penyelesaian ujian ialah pada pukul setengah tiga, sehingga sisa
waktunya dapat digunakan untuk mengecek jawaban dan burn ke dalam bentuk CD.
Rencana saya selanjutnya ialah ingin memperbanyak pengalaman untuk menjadi
seorang ketua/pemimpin, sehingga dapat meningkatkan skill saya dalam berkomunikasi, karena
seorang pemimpin yang baik ialah orang yang dapat berkomunikasi dengan baik kepada setiap
anggotanya. Karena profesi perawat memiliki peran salah satunya ialah menjadi seorang
komunikator, dimana perawat berkomunikasi dengan klien dan juga kepada profesi kesehatan
lainnya dalam berkolaborasi untuk tujuan patient safety. Pengalaman tersebut tentunya dapat
saya dapatkan dalam berorganisasi atau mengikuti kepanitiaan, terutama yang terdapat di
Fakultas Rumpun Ilmu Kesehatan, sehingga saya juga dapat memupuk rasa berkolaborasi
dengan calon-calon profesi kesehatan lainnya, seperti farmasi, dokter, kedokteran gigi, kesehatan
masyarakat sedari masih duduk di bangku perkuliahan.