Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN HASIL DISKUSI PEMICU 1

BLOK 18
ESTETIKA DENTOLRANIOFASIAL
Si Minder

Disusun Oleh :
Kelompok 2
Dosen Penyusun :
Erna Sulistyawati drg., Sp.Ort(K)
Erliera,drg.,Sp.Ort
Ervina Sofyanti, drg.,Sp.Ort

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2014

KELOMPOK 2

Ketua

: Musab

(120600112)

Sekretaris

: Lidya P Ulibasa

(120600117)

Anggota

Ricky Eka Putranto

(120600011)

Muhammad Ilham Aryanda

(120600012)

Ulla Athiyah

(120600013)

Siti Yoni Hukmini

(120600014)

Alfi Ramanda Pasaribu

(120600015)

Chandra lestari

(120600016)

Tria Mulia Sari

(120600017)

Desi Khairunisah

(120600018)

Sintiyah karolina Tarigan

(120600019)

Donna Ronauli

(120600111)

Mulia Daniel Sihotang

(120600113)

Devi Manurung

(120600114)

Jesika Bertauli

(120600115)

Reva Oktriani

(120600116)

Ishmah Najla

(120600118)

KATA PENGANTAR
Puji dan Syukur kami panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat limpahan
anugerah-Nya sehingga kami dapat menyusun makalah ini dengan baik dan benar, serta tepat
pada waktunya. Dalam makalah ini kami akan membahas mengenai Si Minder
Makalah ini dibuat dengan diskusi kelompok dan beberapa bantuan dari berbagai pihak
untuk membantu menyelesaikan tantangan dan hambatan selama pengerjaan makalah ini. Kami
menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang sangat mendasar pada makalah ini. Oleh
karena itu kami mengajak pembaca untuk memberikan saran serta kritik yang dapat membangun
kami. Kritik konstruktif dari pembaca sangat kami harapkan untuk penyempurnaan makalah
selanjutnya.
Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua.

Medan, Desember 2014

Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN

I.I Latar Belakang


Pada era modern seperti saat ini, kebutuhan dan tuntutan akan perawatan ortodontik
semakin banyak. Masyarakat semakin menyadari bahwa gigi yang tidak teratur terlebih lagi jika
disertai adanya kelainan bentuk muka yang disebabkan oleh adanya hubungan rahang yang tidak
harmonis akan sangat mempengaruhi penampilan. Disamping itu keadaan gigi yang tidak teratur
dan hubungan rahang yang tidak harmonis sangat mempengaruhi sistem pengunyahan,
pencernaan serta sistem artikulasi atau pembentukan suara.
Maloklusi adalah keadaan yang menyimpang dari oklusi normal, hal ini dapat terjadi
karena ketidaksesuaian antara lengkung gigi dan lengkung rahang. Keadaan ini terjadi baik pada
rahang atas maupun rahang bawah. Gambaran klinisnya berupa crowding, protrusi, crossbite
baik anterior maupun posterior. Setiap kelainan maloklusi yang terjadi memerlukan indakan
perawatan yang tepat sehingga menghasilkan prognosa yang baik.
Untuk dapat melakukan perawatan ortodontik, mahasiswa kedokteran gigi dituntut untuk
menguasai pengetahuan yang melandasi tindakan perawatan yang akan dilakukan. Selain itu juga
dituntut untuk menguasai ilmu-ilmu pengetahuan lain yang mendukung serta diperlukan
ketrampilan dalam membuat alat ortodontik, mampu memahami mekanisme kerja alat
ortodontik, mampu melakukan perawatan serta mengevaluasi hasil perawatan yang dilakukan.
Karena dalam setiap perawatan orthodontik yang kompleks dilakukan perlukzn perawatan
orthodontic multidisiplin.
I.II Deskripsi Topik
Seorang pasien perempuan, berusia 12 tahun datang ke Poliklinik Gigi Puskesmas Medan Denai
ditemani oleh ibunya. Menurut keterangan ibunya, anaknya merasa rendah diri karena kondisi
fisik dan estetika wajahnya kurang baik. Pasien memiliki celah bibir dan langit-langit unilateral
sejak bayi. Motivasi orangtua dan pasien sangat baik untuk memperoleh perawatan. Pasien sudah

pernah dioperasi saat usia 10 bulan untuk penutupan celah langit-langit tanpa disertai oleh
penanaman tulang (bone graft). More info : Pada pemeriksaan klinis, terlihat susunan gigi-geligi
mengalami malposisi terutama pada regio anterior rahang atas, disertai juga agenesis gigi
anterior atas. Pertumbuhan maksila terlihat kurang dari normal dibandingkan dengan rata-rata
pertumbuhan maksila, relasi Molar Klas III (perhatikan gambar). Pasien memperlihatkan
kebiasaan memposisikan lidahnya di dasar mulut saat diam ataupun berbicara

Pertanyaan:
1. Jelaskan prosedur anamnesis yang baik ketika berhadapan dengan pasien pada
kasus di atas!
2. Jelaskan prosedur pengambilan data yang perlu dilakukan untuk dianalisis
dalam menegakkan diagnosis kasus di atas!
3. Bagaimana analisis bentuk wajah, simetrisitas, profil dan proporsi
(keseimbangan) wajah pasien tersebut?
4. Jelaskan diagnosis pada kasus tersebut!
5. Sebutkan etiologi pada kasus di atas
6. Jelaskan bagaimana proses terjadinya etiologi tersebut sehingga menyebabkan
terjadinya maloklusi
7. Jelaskan anomali ortodonti yang sering dijumpai pada kasus diatas
8. Apa yang akan terjadi bila maloklusi ini dibiarkan sejak masa tumbuh kembang
hingga akhir masa tumbuh kembang?
9. Bagaimana prognosis kasus di atas?
10. Jelaskan bagaimana tindakan saudara dalam kasus ini sebagai seorang dokter
gigi umum?

BAB II
PEMBAHASAN

II.4 Jelaskan diagnosis pada kasus tersebut!


Diagnosis : Maloklusi Angle Truw klas III tipe dentoskeletal
KLASIFIKASI MALOKLUSI
Menurut Angle yang dikutip oleh Rahardjo, mendasarkan klasifikasinya atas asumsi bahwa gigi
molar pertama hampir tidak pernah berubah posisinya. Angle mengelompokkan

maloklusi

menjadi tiga kelompok, yaitu maloklusi Klas I, Klas II, dan Klas III. 1,2
1.

Maloklusi Klas I : relasi normal anteroposterior dari mandibula dan maksila. Tonjol
mesiobukal cusp molar pertama permanen berada pada bukal groove molar pertama
permanen mandibula. Seperti yang terlihat pada gambar .Terdapat relasi lengkung

anteroposterior yang normal dilihat dari relasi molar pertama permanen (netrooklusi).
Kelainan yang menyertai maloklusi klas I yakni: gigi berjejal, rotasi dan protrusi.
Tipe 1 : Klas I dengan gigi anterior letaknya berdesakan atau crowded atau gigi C
ektostem
Tipe 2 : Klas I dengan gigi anterior letaknya labioversi atau protrusi
Tipe 3 : Klas I dengan gigi anterior palatoversi sehingga terjadi gigitan terbalik
(anterior crossbite).
Tipe 4 : Klas I dengan gigi posterior yang crossbite.
Tipe 5 : Klas I dimana terjadi pegeseran gigi molar permanen ke arah mesial akibat
prematur ekstraksi.

2. Maloklusi Klas II

: relasi posterior dari mandibula terhadap maksila. Tonjol

mesiobukal cusp molar pertama permanen atas berada lebih mesial dari bukal groove
gigi molar pertama permanen mandibula. Seperti yang terlihat pada gambar

Divisi 1

: insisivus sentral atas proklinasi sehingga didapatkan jarak gigit besar


(overjet), insisivus lateral atas juga proklinasi, tumpang gigit besar
(overbite), dan curve of spee positif. 12

Divisi 2

: insisivus sentral atas retroklinasi, insisivus lateral atas proklinasi, tumpang


gigit besar (gigitan dalam). Jarak gigit bisa normal atau sedikit
bertambah. 12, 14

Pada penelitian di New York Amerika Serikat diperoleh 23,8% mempunyai


maloklusi Klas II. Peneliti lain mengatakan bahwa 55% dari populasi Amerika Serikat
mempunyai maloklusi Klas II Divisi I.
3.

Maloklusi klas III : relasi anterior dari mandibula terhadap maksila. Tonjol mesiobukal
cusp molar pertama permanen atas berada lebih distal dari bukal groove gigi molar
pertama permanen mandibula dan terdapat anterior crossbite (gigitan silang anterior).

Tipe 1

: adanya lengkung gigi yang baik tetapi relasi lengkungnya tidak normal.

Tipe 2

: adanya lengkung gigi yang baik dari gigi anterior maksila

tetapi

ada

linguoversi dari gigi anterior mandibula.


Tipe 3 : lengkung maksila kurang berkembang; linguoversi dari gigi

anterior maksila;

lengkung gigi mandibula baik.


Tweed membagi maloklusi Klas III dalam 2 kategori. Pertama, pseudo Klas III dengan
mandibula normal dan maksila yang kurang berkembang. Kedua, maloklusi Klas III sejati (true
Class III) dengan ukuran mandibula yang besar. Cara untuk membedakan keduanya dapat
dilakukan dengan pemeriksaan pola penutupan mandibula pada relasi sentrik normal dan
habitual. Pada Pseudo Klas III, saat relasi sentrik diperoleh overjet yang normal atau posisi
insisivus yang edge to edge. Maloklusi pseudo Klas III dapat ditandai dengan terjadinya gigitan
terbalik habitual dari seluruh gigi anterior, tanpa kelainan skeletal, dan dihasilkan dari pergeseran
fungsional mandibula saat menutup. Hal tersebut menjadi kunci dalam diagnosa untuk
membedakan antara pseudo dan true pada maloklusi Klas III.3
Berhubungan pada kasus di atas, dari pengambilan data anamnesis, analisis data dan gambaran
klinis, diagnosa yang tepat adalah maloklusi angle klas III tipe 3. Hal tersebut didukung oleh
gambaran hubungan mandibula terhadap maksila. Mandila lebih progenasi disbanding maksila.
Kasus ini dikategorikan sebagai true klas III karena pada hasil anamnesis, pasien memiliki
riwayat kelainan kongenital cleft palate, yang mana ada kemungkinan penyebab cleft palate
tersebut adalah genetik.

II. 5 Sebutkan etiologi pada kasus di atas !

Kelainan Kongenital : Cleft Palate. Labiopalatoschisiz unilateral sinistra incomplete.


Agenesis gigi anterior
Kebiasaan buruk pasien : memposisikan lidahnya di dasar mulut saat diam ataupun

berbicara
Tulang Maksila yang kurang berkembang

II. 6 Jelaskan bagaimana proses terjadinya etiologi tersebut sehingga menyebabkan terjadinya
maloklusi

Labiopalatoschisiz unilateral sinistra incomplete. 4


Pada dasarnya kelainan kongenital ini terjadi akibar gagalnya penyatuan prosesus maksilaris
dan prosesus nasalis medialis selama proses tumbuh kembang kraniofasial janin pada minggu
ke empat sampai minggu ke 8. Karena celah bibir dan langit-langit yang telah dilakukan
operasi tetapi tidak dilakukan bonegraft.Pada bagian tulang yang rusak akibat tidak dilakukan
bone graft, menyebabkan gigi tidak dapat erupsi pada bagian tulang yang rusak tersebut, gigi
biasanya erupsi pada daerah sekitarnya. Hal ini menyebabkan gigi sebelahnya menjadi
bergeser karena harus berbagi ruang sehingga menyebabkan malposisi pada gigi.

Kebiasaan meletakkan lidah pada dasar mulut


Pada pasien yang meletakkan lidah pada dasar mulut baik pada saat diam maupun berbicara
dapat menyebabkan terdorongnya insisivus bawah ke arah depan, dan berakibat terjadi
proklinasi insisivus bawah sehingga jarak gigit menjadi lebih besar.

Agenesis Gigi Anterior 18 61 pdf


Gigi agenesis dikenal sebagai gigi yang hilang secara kongenital dan merupakan gigi yang
benihnya tidak berkembang secara baik untuk terjadinya diferensiasi jaringan gigi sehingga
tidak erupsi.1 Terdapat tiga macam gigi permanen yang sering mengalami kasus agenesis
yaitu molar tiga, premolar dua bawah dan insisif lateral atas. Moyers menyatakan bahwa
salah satu penyebab terjadinya gigi agenesis adalah herediter. Agenisi gigi menyebabkan
kurangnya stimulasi untuk perkembangan rahang dan akan terlihat seperti pada keadaan
kehilangan gigi akibat pencabutan. Agenisi bisa mengubah oklusi dan posisi gigi melalui
kelainan terhadap bentuk gigi, posisi gigi dan pertumbuhan rahang..

II. 7. Jelaskan anomali ortodonti yang sering dijumpai pada kasus diatas!

mandibula lebih besar dari maksila

maksila kurang berkembang

Gigitan terbalik anterior

hubungan edge to edge atau gigitan silang

Kelainan jumlah gigi: (misalnya: pada kasus, agenesis pada insisivus maksila. Agenesis
adalah gigi yang hilang secara kongenital dan merupakan gigi yang benihnya tidak
berkembang secara baik untuk terjadinya diferensiasi jaringan gigi sehingga tidak erupsi).

Kelainan bentuk gigi


(mis: peg teeth/ bentuk pasak, gigi bersatu/fused)

Premature loss: fungsi sebagai pengunyahan, estetis,berbicara,menyediakan ruang untuk


gigi tetap terganggu.

Gigi maksila berjejal/crowding

8. Apa yang akan terjadi bila maloklusi ini dibiarkan sejak masa tumbuh kembang hingga akhir
masa tumbuh kembang?

Terhambatnya pertumbuhan maksila

mengganggu fungsi stomatognasi

Mempengaruhi pola pertumbuhan jaringan lunak

Maloklusi susah dikoreksi

Disharmonisasi antara rahang atas dan rahang bawah

Mengganggu pengunyahan, pengucapan, estetis

Menyebabkan kurangnya rasa percaya diri.5

KESIMPULAN
Perawatan orthodonti pada anak dengan kelainan maloklusi yang disebabkan oleh
kelainan kongenital merupakan perawatan yang bersifat multidisiplin. Perawatan ini tidak serta
merta dapat dirawat hanya dengan satu displin ilmu. Sebagai dokter gigi, kita harus mampu
mengambil langkah yang tepat dalam menentukan diagnosa serta menentukan rencana perawatan

seperti kepada siapa dokter gigi akan merujuk. Dokter gigi harus mampu menganalisa bagaimana
kondisi normal dari dentokraniofasial sehingga mampu menganalisa data dari semua jenis
pemeriksaan yang telah dilakukan apakah terdapat anomali atau tidak. Pada kasus ini, dengan
diagnosis yang tepat, rencana perawatan yang tepat, serta adanya kooperatif pasien dalam
perawatan, prognosa dari kasus ini sangatlah baik karena pasien masih berada dalam masa
pertumbuhan dan perkembangan.

DAFTAR RUJUKAN

1. Febrihapsari, A. Perawatan Tanpa Bedah Untuk Maloklusi Klas III Angle Tipe Skeletal.
[Online]. Tersedia: https://www.scribd.com/doc/71347188/Perawatan-Tanpa-BedahUntuk-Maloklusi-Klas-III-Angle-Tipe-Skeletal. Html [17 Desember 2014]
2. Rahardjo P. Diagnosis ortodonsi. Surabaya: Airlangga University; 2008. p.79-91
3. Maloklusi. [Internet]. Tersedia:
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/25312/3/Chapter%20II.pdf. Html [17
Desember 2014]
4. Sianita pp, Alawiyah T. Kelainan Celah Bibir serta Langit-langit dan Permasalahannya dalam
Kaitan dengan Interaksi social dan perilaku. JITEKGI; Jakarta; 2009. 8(2): 42-46.

5. Houston W.J.B. Ortodonti Walter.Alih bahasa, Lilian Yuwono. Ed II. Jakarta:John Wright
and sons Ltd, 1994:158-162