Anda di halaman 1dari 2

DAFTAR PUSTAKA

Harahap, U., Marianne., Suwarso, E., Bahri, S., Hasibuan, P.A., Dalimunthe, A.
(2010). Modul Penuntun Praktikum Farmakologi. Departemen
Farmakologi Fakultas Farmasi. Medan: Universitas sumatera Utara.
Arisman. (2007). Gizi dalam Daur Kehidupan. Jakarta : Penerbit Buku
Kedokteran EGC. Hal. 33.
Bertoluzza, A., Bonora, S., Battaliga, M.A., Monti, P. (1979). Raman and Infrared
Study on the Effects of Dimethylsulphoxide (DMSO) on water structure.
J. Raman. Spectors. 8(5): 231-235.
Bourne, Henry R dan Zastrow, Mark Von. (2001). Reseptor dan Farmokodinamika
obat. Dalam buku: Farmakologi Dasar dan Klinik. Buku I. Editor: Betram
G. Katzung. Jakarta: Salemba Medika. Hal. 27.
Brown, V.K., Robinson, J., dan Stevenson, D.E. (1963). A Note on the Toxicity
and Solvent Properties of Dimethylsulphoxide. J.Parm. Pharmacol.
15(1): 688-692.
Chusnia. (2010). Morfologi Keji Beling. Tanggal akses 19 Mei 2014
http://id.shvoong.com/exact-sciences/biology/2073541-morfologi-kejibeling/.
Dalimartha, S. (2007). Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Jakarta: Trubus
Agriwidya. Hal. 36.
Depkes RI. (1989). Materia Medika Indonesia. Jilid V. Jakarta: Departemen
Kesehatan RI. Hal. 194-197, 516, 518, 522, 536, 540, 549-553.
Ditjen POM. (2000). Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Cetakan
I. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Hal. 10-11, 17, 31-32.
Ditjen POM. (1995). Materia Medika Indonesia. Jilid IV. Jakarta: Departemen
Keesehatan RI. Hal. 510-512.
Ditjen POM. (1986). Sediaan Galenik. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Hal.
81.
Farnsworth, N.R. (1996). Biologycal and Phytochemical Screening of Plants.
Journal of Pharmaceutical Science. 55(3): 257-259, 263.
Gerhard, V.H. (2002). Drug Discovery and Evaluation. ed.II. Springer-Verlag
Berlin Heidelberg New York. Hal. 878.

33

Harborne, J.B. (1987). Metode Fitokimia. Penerjemah: Kosasih Padmawinata dan


Iwang Soediro. Edisi II. Bandung: Penerbit ITB. Hal. 147.
Husori, D.I. (2011). Peranan Epitelial Terhadap Efek Relaksasi Senyawa Marmin
dari Agle marmelos Correa pada Otot Polos Trakea Marmut Terisolasi.
Tesis. Yogyakarta: Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada.
Lee, W.T., Ip, K.S., Chan, J.S., Lui, N.W., Young, B.W. (2008). Increased
prevalence of constipation in pre-school children is attributable to
underconsumption of plant foods: a community-based study. Tanggal
akses10 Mei 2014. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17854410.
Munaf, S. (1994). Catatan Kuliah Farmakologi. Bagian II. Palembang; Penerbit
Buku Kedokteran ECG. Hal. 7,15,22.
Rahardjo, R. (2009). Kumpulan Kuliah Farmakologi. Edisi 2. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC. Hal. 52-53.
Saps M., Sztainberg M., dan Di Lorenzo C. (2006). A prospective community
based study of gastroenterological symptoms in school age children. J
Pediatric Gastroenterol Nutr. Tanggal akses 1 Juni 2014.
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17033522
Siswono. (2003). Mengatasi Konstipasi pada usia lanjut. Tanggal akses 14 Mei
2014. www.gizinet.com.
Soelistijani, D.A. (2002). Sehat dengan Menu Berserat. Jakarta: Trubus
Agriwidya. Hal. 25.
Tyrode, M.V. (1910). The Mode of Action of Some Purgative Salts. Arch. Intern.
Pharmacodyn. 17, 205-209.
Wanda. (2012). 80 Persen Penyebab Konstipasi adalah Kurang Serat. Tanggal
akses 15 Juli 2014. www.KPKpos.com.
WHO. (1992). Quality Control Methods for Medicinal Plant Materials. Geneva:
World Health Organization. Page 31.
WHO. (1998). Quality Control Methods for Medicinal Plant Material.
Switzerland: WHO. Hal. 35-39.
Velasco, R., Trujillo, X., Vasquez, C., Huerta, M., dan Trujillo-Hernandez, B.
(2003). Effect of Dimethyl Sulfoxide on Excitation-Contraction Coupling
in Chicken Slow Skeletal Muscle. J. Pharmacol. Sci. 93, 149-154.
Vogel, H.G., Bernward, A.S., Jurgen, S., Gunter, M., dan Wolfgang, F.V. (2002).
Drug Discovery and Evaluation: Pharmacological Assays, Spingerverlag,
Berlin Heidelberg, Germany.

34