Anda di halaman 1dari 24

BAB 1

STATUS PASIEN

A. IDENTITAS PASIEN
Nama
Jenis Kelamin
Usia
Agama
Alamat
Tanggal Masuk RS
Jam MRS
Keterangan
Dokter yang merawat

: An. Z
: perempuan
: 8 tahun
: Islam
: Cempaka putih, Jakarta pusat
: 22 Oktober2014
: 11.00
: Rujukan rawat dari poli anak
: dr. Desiana, Sp.A

B. ANAMNESIS
Alloanamnesis tanggal 22 Oktober 2014, Pukul 11.00 WIB di bangsal badar RSIJ
Cempaka putih Jakarta.
Keluhan utama
Demam sejak 4 hari sebelum masuk rumah sakit
Keluhan tambahan
Keluar bintik merah, batuk.
Riwayat Penyakit Sekarang
Demam sejak 4 hari sebelum masuk rumah sakit. demam dirasakan
tinggi mendadak dan terus-menerus, demam hanya turun saat
diberikan obat penurun panas saja tapi beberapa jam kemudian
anak kembali demam.
3 hari sebelum masuk rumah sakit os sudah ke klinik. Os diberikan
cefixime tablet dan paracetamol namun keluhan tidak membaik.

Os batuk,

namun tidak pilek, batuk tidak berdahak. Sesak nafas disangkal.


Pada hari ini, demam mulai turun,tidak setinggi biasanya, namun os
merasa keluar bintik - bintik merah dibagian wajah dan lengan. Os mengatakan
perutnya sakit dan pusing.
BAB dan BAK normal. Os tidak mau makan dan minum, karena
merasakan perutnya sakit dan mual. Os tidak muntah. Os sedang dalam masa
pengobatan TB paru.

Riwayat Penyakit Dahulu


Os belum pernah mengalami hal ini sebelumnya. OS didiagnosa TB paru sejak 1
bulan yang lalu.

Riwayat Pengobatan
Os sedang mengkonsumsi OAT sejak 21 Agustus 2014.

Riwayat Penyakit Keluarga


Tidak terdapat anggota keluarga yang mengalami keluhan yang sama.

Riwayat Kehamilan dan Persalinan


Ibu rutin melakukan ANC di bidan setiap bulan selama masa kehamilan, tidak
mengkonsumsi obat-obatan selama hamil, tidak sakit.
Anak lahir cukup bulan, kehamilan tunggal, spontan di bidan tanpa penyulit
kehamilan. Langsung menangis setelah lahir dengan BB 3600 gram dan PB 48
cm

Pola Makan Anak


0 - 7 bulan
: ASI eksklusif
7 12 bulan : ASI dan susu soya dan bubur tim
8 tahun
: Nasi, sayur, ikan atau ayam
Kesan : Anak mendapat ASI eksklusif, makanan sesuai usia anak

Riwayat Alergi
Riwayat alergi obat-obatan dan makanan disangkal.
Riwayat Imunisasi
o BCG
1x
o DPT
3x
o Hepatitis B 3x
o Polio
4x
o Campak
1x
Kesan : Imunisasi dasar lengkap.

Riwayat Tumbuh Kembang (Denver Chart)


Anak sudah bersekolah di sekolah dasar (SD) kelas 3
Kesan : Perkembangan Anak sesuai usia

Riwayat Psikososial
OS tinggal bersama kedua orang tua nya di rumah petak, di dalam satu rumah
terdapat 5 orang. Sehari-hari OS sekolah, disekolah jarang jajan. Makan lebih
sering dirumah.

C. PEMERIKSAAN FISIK
Keadaran Umum
: Tampak Sakit sedang
Kesadaran
: Composmentis

Tanda-Tanda Vital (Poliklinik 09.00)


Nadi
: 120 kali/menit, teratur, kuat angkat
Suhu
: 37,5 C
Tekanan darah
: 80/? mmHg
2

Tanda-Tanda Vital (Bangsal Badar 11.00)


Nadi
: 110 kali/menit, teratur, kuat angkat
Napas
: 24 kali/menit, reguler
Suhu
: 37,4 C
Tekanan darah
: 90/70 mmHg
Antropometri
Berat Badan
: 21,5 kg
Tinggi Badan
: 126 cm
Lingkar Kepala
: 53 cm (Normocephal)
Status Gizi
BB/U
: 21/25 x 100 %
= 86 % ( Gizi baik )
TB/U
: 126/128 x 100 %
= 98 % ( normal )
BB/TB
: 21,5/26 x 100 %
= 82 % ( Gizi baik )
Kesan
: Gizi baik

D. STATUS GENERALIS

Kepala
Kepala
Ubun-ubun Kecil
Petechie
Mata
Konjungtiva anemis
Sclera icterus
Edema palpebra
Mata cekung
Mata merah dan berair
Hidung
Pernapasan cuping hidung
Deviasi septum
Sekret
Perdarahan
Telinga
Normotia
Sekret
Mulut
Mukosa bibir
Sianosis
Stomatitis
Tonsil
Faring Hiperemis
Bercak perdarahan pada mukosa faring

Normocephal
Menutup Sempurna
(+)
-

(-/-)
(-/-)

+
-

+
Kering
T1/T1
(+)
(+)

dan mukosa buccal

Leher

Pembesaran KGB
Pembesaran Kelenjar Thyroid

Thorax
Inspeksi
Perkusi
Palpasi
Auskultasi

Axilla
Abdomen

Gerak dada simetris


Sonor/Sonor
Vokal fremitus simetris, nyeri tekan (-/-)
Bunyi paru vesikular (+/+), ronkhi (-/-), wheezing (-/-)
Bunyi jantung I dan II murni, regular, murmur (-),
gallop (-)
: Pembesaran KGB (-/-)

Inspeksi
Auskultasi
Perkusi
Palpasi

Distensi (-), Scar (-)


BU (+) normal
Tymphani pada seluruh kuadran abdomen
Nyeri tekan (-), supel. Hepar teraba 2 cm dari arcus

Turgor Kulit

costae dan 3 cm dari prosesus xipoideus


Baik, Kembali dalam waktu < 2 detik

Inguinal

Ekstremitas

: Pembesaran KGB inguinal (-/-)

Superior
Akral
Edema
Sianosis
CRT
Petechie
Inferior
Akral
Edema
Sianosis
CRT
Petechie
Anus dan Rectum
Genitalia
Refleks

Kanan
Kiri
Hangat
Hangat
< 2 detik
< 2 detik
(+)
(+)
Kanan
Kiri
Hangat
Hangat
< 2 detik
< 2 detik
(-)
(-)
: Hemorrhoid (-). Tanda infeksi lain (-)
: tidak ada kelainan
: Patologis
Fisiologis
Babinski (-)
Patella (+)
Oppenheim (-)
Biseps (+)
Burdzinski I (-)
Achiles (+)
Burdzinski II (-)

E. Laboratorium
Pemeriksaan tanggal 22 10 -2014 Pukul 09.52 di Poliklinik
Pemeriksaan

Hasil

Satuan

Nilai Rujukan

Haemoglobin

H15,2

g/dL

11,5 13,5

Jml Leukosit

6,2

ribu/L

4,5 13.50

Hematokrit

H45

35 40

Jml Trombosit

L45

ribu/L

150 300

Hematologi Rutin

F. RESUME
An. Z (perempuan, 8 tahun , BB 21,5 kg) datang ke RSIJ Cempaka Putih
Jakarta dengan keluhan :
Demam sejak 4 hari sebelum masuk rumah sakit. demam dirasakan
tinggi mendadak dan terus-menerus, demam hanya turun saat
diberikan obat penurun panas saja tapi beberapa jam kemudian
anak kembali demam.
3 hari sebelum masuk rumah sakit os sudah ke klinik. Os diberikan
cefixime tablet dan paracetamol namun keluhan tidak membaik.

Os batuk,

namun tidak pilek, batuk tidak berdahak. Sesak nafas disangkal.


Pada hari ini, demam mulai turun,tidak setinggi biasanya, namun os
merasa keluar bintik - bintik merah dibagian wajah dan lengan. Os mengatakan
perutnya sakit dan pusing.
BAB dan BAK normal. Os tidak mau makan dan minum, karena
merasakan perutnya sakit dan mual. Os tidak muntah. Os sedang dalam masa
pengobatan TB paru.
Imunisasi dasar lengkap, perkembangan sesuai dengan usia, gizi baik.
Pada pemeriksaan fisik ditemukan :
KU: tampak sakit sedang, Kesadaran: composmentis
Suhu : 37,4oC
RR : 24 x /mnt
HR : 110 x/ mnt, teratur kuat
Tekanan darah : 90/70 mmHg
Faring hiperemis dan petechie (+)
5

Ekstremitas,: Petechie (+)


Laboratorium:
Hb
: 15,2 g/dL
Ht
: 45%
Trombosit : 45 ribu/L
G. ASSESMENT
Febris H4
Petechie
Abdominal pain
hepatomegali
Intake sulit
Trombositopeni
hemokonsentrasi
H. DIAGNOSIS
Diagnosis Klinis
Status Imunisasi
Satatus Tumbuh Kembang
Status Gizi

: DBD grade II
: Imunisasi dasar sesuai usia
: Tumbuh Kembang sesuai dengan usia
: Gizi baik

I. TATA LAKSANA
Assering 45 tpm. 140 cc/jam
Gelofusin 200cc/jam
Injeksi Omeprazole 1x20 mg
Cek tanda vital dan urin ouput / jam
Cek hematologi rutin per 6 jam
FOLLOW UP
23 Oktober 2014
S
- Demam (-)
- Nyeri perut
berkurang

O
- S : 36,7
- N : 96 x/menit
- RR : 22
- TD : 100/70

A
- DBD grade II

P
Cek HHTL
Terapi lanjut

24 Oktober 2014
S
- Demam (-)
- Nyeri perut
berkurang
- Sudah mau makan

O
- S : 36,8
- N : 90
- RR : 22
- TD : 100/60

A
DBD grade II

P
Cek HHTL
Terapi lanjut

minum
6

25 Oktober 2014
S
O
- Demam (-), nyeri - S : 36,7
- N : 84
perut (-), Batuk
- RR : 20
(-)
- TD : 100/70
- BAK kuning

A
DBD grade II

P
Rencana pulang
Psidii 3 x 1 cth
Ramivel syr 2 x 1 cth
Starmuno syr 1 x 1 cdo
Inj omz 1 x 20mg

jernih

Tabel observasi tanda vital

Tgl
22/10/14

23/10/14

Jam
12.00
13.00
14.00
15.00
16.00
17.00
18.00
19.00
20.00
21.00
22.00
23.00
00.00
01.00
02.00
03.00
04.00
05.00
06.00
07.00
08.00
09.00
10.00
11.00
12.00
13.00
14.00
15.00

HR
95
92
104
98
100
100
88
86
96
98
98
94
106
102
96
94
98
96
96
92
100
90
88
92
90
92
98
94

TD
90/70

Suhu
36,8
36,5
37,0
36,8
37,0
36,8
100/70 36,5
36,5
36,8
37,0
36,8
37,0
90/70 36,8
36,5
36,5
36,8
36,8
36,5
100/70 37,0
36,8
37,0
36,8
36,5
37,0
36,8
37,0
100/70 36,8
36,5

RR
22
20
24
18
20
20
24
18
18
20
24
28
26
22
24
20
24
18
20
20
24
18
18
20
22
20
24
18
7

16.00
17.00
18.00
19.00
20.00
21.00
22.00
23.00
24.00

Tgl
24/10/14
25/10/14

Jam
06.00
06.00

98
92
90
98
96
100
90
94
90

HR
90
84

37,0
36,8
37,0
36,8
100/70 36,5
36,5
36,8
37,0
36,6

TD
100/60
100/70

20
20
20
20
24
18
18
20
22

Suhu
36,8
36,7

RR
22
20

Ht
45
37
35
40
34
34
39

Trombosit
45.000
30.000
56.000
45.000
56.000
68.000
94.000

Observasi hematologi rutin


Tgl
22/10/14
23/10/14
24/10/14

Jam
09.52
16.00
22.00
07.00
14.00
20.00
07.00

Hb
15,2
12,5
12,8
13,4
12,2
12,2
13,2

Leukosit
6.200
6.100
8.500
10.050
8.030
9.450
9.180

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. INFEKSI VIRUS DENGUE
Penyakit Demam Dengue dan Demam Berdarah Dengue atau Dengue
Hemorrhagic Fever (DHF) ialah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang
ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Kedua jenis
nyamuk ini terdapat hampir di seluruh pelosok Indonesia.
Infeksi virus dengue pada manusia mengakibatkan spectrum manifestasi klinis
yang bervariasi antara penyakit paling ringan (mild undifferentiated febrile illness),
demam dengue, demam berdarah dengue (DBD) sampai demam berdarah dengue
disertai syok (dengue shok syndrome = DSS). Gambaran manifestasi klinis yang
8

bervariasi ini memperlihatkan sebuah fenomena gunung es, dengan kasus DBD dan
DSS yang dirawat di rumah sakit sebagai puncak gunung es yang terlihat di atas
permukaan laut, sedangkan kasus dengue ringan merupakan dasarnya.
Perbedaan patofisiologik utama antara DD/DBD/DS dan penyakit lain ialah
adanya peningkatan permeabilitas kapiler yang menyebabkan perembesan plasma
dan gangguan hemostasis. Demam berdarah dengue ditandai oleh 4 manifestasi yaitu
demam tinggi, perdarahan, terutama perdarahan kulit, hepatomegali, dan kegagalan
peredaran darah.
B. EPIDEMIOLOGI
Istilah haemorrhagic fever di Asia Tenggara pertama kali digunakan di Filipina
pada tahun 1953. Di Jakarta kasus pertama dilaporkan pada tahun 1969, pada saat ini
DBD sudah endemis di banyak kota-kota besar, bahkan sejak tahun 1975 penyakit
ini talah berjangkit di daerah pedesaan. Berdasarkan jumlah kasus DBD, Indonesia
menempati urutan kedua setelah Thailand. Sejak tahun 1968 angka kesakitan ratarata DBD di Indonesia terus meningkat dari 0,05 (1968), menjadi 8,14 (1973), 8,65
(1983) dan mencapai angka tertinggi pada tahun 1998 yaitu 35,19 per 100.000
penduduk dengan jumlah penderita sebanyak 72.133 orang.
Morbiditas dan mortalitas DBD yang dilaporkan berbagai Negara bervariasi
disebabkan beberapa faktor, antara lain status umur penduduk, kepadatan vector,
tingkat penyebaran virus dengue, prevalensi serotype virus dengue dan kondisi
meteorologis. Pada awal terjadinya wabah di sebuah Negara, pola distribusi umur
memperlihaatkan proporsi kasus terbanyak berasal dari golongan anak berumur < 15
tahun (86-95%). Namun pada wabah selanjutya, jumlah kasus golongan usia dewasa
muda meningkat.

C. ETIOLOGI
Virus dengue termasuk group B arthropod bone vius (arboviruses) dan
sekarang dikenal sebagai genus flavivius, famili Flaviviridae, yang mempunyai 4
jenis serotipe yaitu den-1, den-2, den-3, den-4. Infeksi dengan salah satu serotipe
akan menimbulkan antibodi seumur hidup terhadap serotipe yang bersangkutan
tetapi tidak ada perlindungan terhadap serotipe yang lain.

Di Indonesia, pengamatan virus dengue yang dilakukan sejak tahun 1975 di


beberapa rumah sakit menunjukan bahwa keempat serotipe ditemukan dan
bersirkulasi sepanjang tahun. Serotipe den-3 merupakan serotipe yang dominan dan
banyak berhubungan dengan kasus berat.
D. PATOGENESIS
Mekanisme sebenarnya tentang patofisiologi, hemodinamika, dan biokimiawi
DBD belum diketahui secara pasti karena kesukaran mendapatkan model binatang
percobaan yang dapat menimbulkan gejala klinis DBD seperti pada manusia. Hingga
kini sebagian besar sarjana masih menganut the secondary heterologous infection
hypothesis yang menyatakan bahwa DBD dapat terjadi apabila seseorang setelah
terinfeksi virus dengue pertama kali mendapatkan infeksi kedua dengan virus
dengue serotipe lain dalam jarak waktu 6 bulan sampai 5 tahun.

E. MANIFESTASI KLINIK
Demam berdarah dengue ditandai oleh 4 manifestasi yaitu demam tinggi,
perdarahan, terutama perdarahan kulit, hepatomegali, dan kegagalan peredaran
darah.fenomena patofisiologi utama yang menentukan derajat penyakit dan
membedakan DBD dari DD ialah peningkatan permeabilitas dinding pembuluh
10

darah, menurunnya volume plasma, trombositopenia, dan diathesis hemoragik.


Perbedaan gejala antara DBD dan DD tertera pada tabel berikut :

DD

GEJALA KLINIS

DBD

++

Nyeri Kepala

+++

Muntah

++

Mual

++

Nyeri otot

++

Ruam kulit

++

Diare

Batuk

Pilek

++

Limfadenopati

Obstipasi

Uji turniquet +

++

++++

Petekie

+++

Perdarahan sal cerna

++

Hepatomegali

+++

Nyeri perut

+++

++

Trombositopenia

++++

Syok

+++

Keterangan : (+): 25%, (++):50%, (+++):75%, (++++):100%


Pada DBD terdapat perdarahan kulit, uji tourniquet positif, memar dan
perdarahan pada tempat pengambilan darah vena. Petekia halus yang tersebar di
anggota gerak, muka, aksila seringkali ditemukan pada masa dini demam.
Sedangkan pada masa konvalesens seringkali ditemukan eritema pada telapak
tangan/telapak kaki.
Pada DBD syok, setelah demam berlangsung salama beberapa hari keadaan
umum tiba-tiba memburuk, hal ini biasanya terjadi pada saat atau setelah demam
menurun, yaitu diantara hari sakit ke 3-7. Pada sebagian besar kasus ditemukan
11

tanda kegagalan peredaran darah, kulit teraba lembab dan dingin, sianosis sekitar
mulut, nadi menjadi cepat dan lembut. Anak tampak lesu, gelisah, dan secara cepat
masuk dalam fase syok.

Patokan diagnosis DBD (WHO) berdasarkan gejala klinis dan laboratorium

Klinis
Demam tinggi mendadak dan terus-menerus selama 2-7 hari
1. Manifestasi perdarahan, minimal uji tourniquet positif dan salah satu bentuk
perdarahan

lain

(petekia,

purpura,ekimosis,epistasis,perdarahan

gusi),

hematemesis dan melena.


2. Pembesaran hati
3. Syok yang ditandai nadi lemah dan cepat disertai tekanan nadi menurun
(20mmHg), tekanan darah menurun (tekanan sistol 80mmHg) disertai kulit
yang teraba dingin dan lembab terutama pada ujung hidung , jari dan kaki,
pasien menjadi gelisah, dan timbul sianosis disekitar mulut.

Laboratorium
Trombositopenia (100.000/ul) dan hemokonsentrasi yang dapat dilihat dari
peningkatan nilai hematokrit 20% dibandingkan dengan nilai hematokrit pada
masa sebelum sakit atau masa konvalesen. Ditemukannya dua atau tiga patokan
klinis pertama disertai trombositopenia dan hemokonsentrasi sudah cukup untuk
klinis membuat diagnosis DBD. Dengan patokan ini 87% kasus tersangka DBD
dapat didiagnosis dengan tepat, yang dibuktikan olah pemeriksaan serologis, dan
dapat dihindari diagnosis berlebihan.

WHO (1975) membagi derajat penyakit DBD dalam 4 Derajat yaitu :


1.Derajat I
Demam di sertai gejala tidak khas dan satu-satunya manifestasi perdarahan
adalah uji tourniquet +.
2.Derajat II
Derajat I disertai perdarahan spontan di kulit dan/ perdarahan lain
3.Derajat III

12

Ditemukan tanda kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lembut, Tekanan
nadi menurun (<20 mmHg) atau hipotensi disertai kulit dingin, lembab,dan
pasien menjadi gelisah.
4.Derajat IV
Syok berat, nadi tdk teraba dan TD tidak dapat di ukur.

F.

KRITERIA DIAGNOSIS
Kontak dengan penderita DBD atau DSS
Kriteria WHO
Gejala klinis
a. demam tinggi mendadak 2 7 hari
b. manifestasi perdarahan
Hepatomegali
Tanpa atau dengan gejala renjatan
Laboratorium
Trombositopenia (<100.000/ul)
Hemokonsentrasi (Ht 20%)

Diagnosis klinis ditegakkan bila didapatkan >2 gejala klinis dan satu dari riteria
laboratorium (atau hanya peningkatan hematorit) cukup untuk menegakkan
diagnosis DBD.
Pemeriksaan Penunjang
Darah perifer
NS1
13

Uji serologi
Elektrolit
Tubex TF untuk membedakan dengan demam tifoid
Foto thorax

G. PEMERIKSAAN SEROLOGIS
Setelah satu minggu tubuh terinfeksi virus dengue, terjadi viremia yang
diikuti oleh pembentukan IgM-antidengue. Pada kira-kira hari ke lima infeksi
terbentuklah antibodi yang bersifat menetralisasi virus (neutralizing antibody).
Setelah antibody NT, akan timbul antibodi yang mempunyai sifat menghambat
hemaglutinasi sel darah merah angsa (haemaglutination inhibiting antibody= HI).
Antibodi yang terakhir, yaitu antibodi yang mengikat complement (complement
fixing antibody= CF), timbul pada sekitar hari keduapuluh.
Pada dasarnya diagnosis konfirmasi infeksi virus dengue ditegakkan atas
hasil pemeriksaan serologic atau hasil isolasi virus. Dasar pemeriksaan serologis
adalah membandingkan titer antibody pada masa akut dengan konvalesen. Teknik
pemeriksaan serologi yang dianjurkan WHO ialah pemeriksaan HI dan CF.
H. PENATALAKSANAAN
Demam :
1. Antipiretik (parasetamol) 10-15 mg/kgBB/x :3-4
2. Pemberian cairan
3. Penggantian volume plasma

Kebutuhan cairan rumatan:


100ml/kgBB (BB 10 kg), + 50 ml/kgBB (BB > 10 kg)
Jenis cairan: kristaloid (RL, RLD, RA, RAD, NaCL 0.9%) dan koloid.
a. Tatalaksana Demam Dengue
Sebagian besar anak dengan Demam Dengue dapat dirawat di rumah
dengan memberikan nasehat perawatan kepada orang tua anak. Berikan anak
banyak minum dengan air hangat atau larutan oralit untuk mengganti cairan yang
14

hilang akibat demam dan muntah. Berikan parasetamol untuk demam. Jangan
berikan asetosal atau ibuprofen karena obat-obatan ini dapat merangsang
perdarahan. Anak harus dibawa ke rumah sakit apabila demam tinggi, kejang,
tidak mau minum atau muntah terus menerus.

b. Tatalaksana Demam Berdarah Dengue tanpa syok


Anak dirawat di rumah sakit
Berikan anak banyak minum larutan oralit atau jus buah atau air sirup atau
susu untuk mengganti cairan yang hilang akibat kebocoran plasma, demam,
muntah atau diare
Berikan parasetamol bila demam. Jangan berikan asetosal atau ibuprofen
karena obat-obatan ini dapat merangsang terjadinya perdarahan
Berikan infuse sesuai dengan derajat dehidrasi sedang

Berikan hanya larutan isotonic seperti Ringer Laktat atau Asetat

Kebutuhan cairan parenteral :

Berat badan < 15 kg

: 7 ml/kgBB/jam

Berat badan 15-40 kg

: 5 ml/kgBB/jam

Berat badan > 40 kg

: 3 ml/kgBB/jam

Pantau tanda vital dan dieresis tiap jam, serta periksa laboratorium : HHTL
tiap 6 jam

Apabila terjadi penurunan hematokrit dan klinis membaik, turunkan jumlah


cairan secara bertahap sampai keadaan stabil. Cairan intravena biasanya
hanya memerlukan waktu 24-48 jam sejak kebocoran pembuluh kapiler
spontan setelah pemberian cairan
Apabila terjadi perburukan klinis, berika tatalaksana sesuai dengan
tatalaksaa syok terkompensasi (compensated shock).
15

c. Tatalaksana Demam Berdarah Dengue dengan syok


Perlakukan hal ini kegawatdaruratan. Berikan Oksigen 2-4 liter/menit secara
nasal
Berikan 20 mg/kgBB larutan kristaloid seperti Ringer Laktat atau Asetat
secepatnya
Jika tidak menunjukkan perbaikan klinis, ulangi pemberian kristaloid 20
ml/kgBB secepatnya, maksimal 30 menit, atau pertimbangkan pemberian
Koloid 10-20 ml/kgBB/jam, maksimal 30 ml/kgBB/24 jam
Jika tidak ada perbaikan klinis tetapi hematokrit dan Hemoglobin menurun,
pertimbangkan terjadinya perdarahan tersembunyi, berikan transfuse
darah/komponen
Jika terdapat perbaikan klinis (pengisian kapiler & perfusi perifer mulai
membaik, tekana dahi melebar. Jumlah cairan dikurangi hingga 10
ml/kgBB/jam dalam 2-4 jam dan secara bertahap diturunkan tiap 4-6 jam
sesuai kondisi klinis dan laboratorium
Dalam banyak kasus, cairan intravena dapat dihentikan setelah 26-48 jam.

16

17

18

19

20

Indikasi untuk rawat di rumah sakit


o Takikardia
o Peningkatan Hematokrit
o Akral pucat atau dingin
o Oliguria
o Hipotensi
o Tekanan nadi melemah (<20 mmHg)
o Penurunan kesadaran
o Capillary refill time > 2 detik atau memanjang
Kriteria memulangkan Pasien:
Tidak demam selama 24 jam tanpa antipiretik
Nafsu makan membaik
Klinis perbaikan hematokrit stabil
Trombosit > 50.000/ul dan cenderung meningkat
Tidak dijumpai distres pernapasan
3 hari setelah syok teratasi

I.

PENCEGAHAN
Pencegahan penyakit DBD sangat tergantung pada pengendalian vektornya,
yaitu nyamuk Aedes aegypti. Pengendalian nyamuk tersebut dapat dilakukan dengan
menggunakan beberapa metode yang tepat, yaitu :
1. Lingkungan
Metode lingkungan untuk mengendalikan nyamuk tersebut antara lain
dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), pengelolaan sampah padat,
modifikasi tempat perkembangbiakan nyamuk hasil samping kegiatan manusia,
dan perbaikan desain rumah. Sebagai contoh:
-

Menguras bak mandi/penampungan air sekurang-kurangnya sekali seminggu.


Mengganti/menguras vas bunga dan tempat minum burung seminggu sekali.
Menutup dengan rapat tempat penampungan air.
Mengubur kaleng-kaleng bekas, aki bekas dan ban bekas di sekitar rumah dan
lain sebagainya.

21

2. Biologis
Pengendalian biologis antara lain dengan menggunakan ikan pemakan
jentik (ikan adu/ikan cupang), dan bakteri (Bt.H-14).
3. Kimiawi
Cara pengendalian ini antara lain dengan:
-

Pengasapan/fogging (dengan menggunakan malathion dan fenthion), berguna

untuk mengurangi kemungkinan penularan sampai batas waktu tertentu.


Memberikan bubuk abate (temephos) pada tempat-tempat penampungan air
seperti, gentong air, vas bunga, kolam, dan lain-lain.
Cara yang paling efektif dalam mencegah penyakit DBD adalah dengan

mengkombinasikan cara-cara di atas, yang disebut dengan 3M Plus, yaitu


menutup, menguras, menimbun. Selain itu juga melakukan beberapa plus seperti
memelihara ikan pemakan jentik, menabur larvasida, menggunakan kelambu pada
waktu tidur, memasang kasa, menyemprot dengan insektisida, menggunakan
repellent, memasang obat nyamuk, memeriksa jentik berkala, dll sesuai dengan
kondisi setempat.
Komplikasi

Perdarahan organ interna


DIC
Ensefalopati Dengue
o Pada umumnya ensefalopati terjadi sebagai komplikasi
syok yang berkepanjangan dengan perdarahan, tetapi
dapat juga terjadi pada DBD yang tidak disertai syok.
o Gangguan metabolik seperti hipoksemia, hiponatremia,
atau perdarahan, dapat menjadi penyebab terjadinya
ensefalopati.
o Melihat ensefalopati DBD bersifat sementara, maka
kemungkinan dapat juga disebabkan oleh trombosis
pembuluh darah otak sementara sebagai akibat dari
koagulasi intravaskular diseminata (KID).
Kelainan Ginjal

22

o Gagal ginjal akut pada umumnya terjadi pada fase


terminal, sebagai akibat dari syok yang tidak teratasi
dengan baik.
Edema Paru
o Edema paru adalah komplikasi yang mungkin terjadi
sebagai akibat berlebihan pemberian cairan.
o Pemberian cairan pada hari ketiga sampai kelima sesuai
panduan
yang
diberikan,
biasanya
tidak
akan
menyebabkan edema paru oleh karena perembesan
plasma masih terjadi.
o Akan tetapi apabila pada saat terjadi reabsorbsi plasma
dari ruang ekstraseluler, apabila cairan masih diberikan
(kesalahan terjadi bila hanya melihat penurunan kadar
hemoglobin dan hematokrit tanpa memperhatikan hari
sakit) pasien akan mengalami distress pernafasan, disertai
sembab pada kelopak mata, dan tampak adanya
gambaran edema paru pada foto dada.

Prognosis
Buruk bila terjadi DSS dengan syok berulang/berkepanjangan atau terjadi
DIC.

DAFTAR PUSTAKA

23

Buku Saku Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Cetakan 1. WHO. 2009.
Garna, Herry. Pedoman Diagnosis dan Terapi. Edisi ke-3. Bandung: FK UNPAD. 2005.
Soedarmo, Sumarno S. Purwo, dkk. Buku Ajar Infeksi & Pediatri Tropis Edisi kedua.
Jakarta: IDAI. 2010.
Standar Pelayanan Medis RSUP DR. SARDJITO Fakultas Kedokteran UGM 1999.

www.ejorunal.unud.ac.id

24