Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang

Sifilis merupakan penyakit menular seksual yang menginfeksi


sebanyak 5% dari seluruh pekerja seks diseluruh dunia (WHO, 2012). Hasil
survey yang dilakukan pada tahun 2010 menunjukan prevalensi penyakit
sifilis yang diderita pekerja seks di Indonesia dari tahun 2005 2007
meningkat dari 7,8% menjadi 14,5%.[1] Sifilis dapat menular melalui kontak
seksual maupun kongenital karena dapat menembus sawar plasenta. Lesi
basah terinfeksi dari penderita memperoleh kontak langsung ke kulit atau
mukosa pejamu yang akan mengakibatkan penularan sifilis.[2] Penularan
yang mudah melalui hubungan seks yang berisiko tinggi pada pekerja seks
di Indonesia membutuhkan perhatian penting dalam mencegah penularan,
deteksi dini, dan manajemen pengobatan dan perawatan sesegera mungkin
dibutuhkan agar penyakit ini dapat disembuhkan.[1] Pengetahuan tentang
penularan dan kesadaran terhadap bahaya penyakit sifilis sangat dibutuhkan
agar penyebaran penyakit sifilis tidak meningkat setiap tahunnya.

1.2. Rumusan Masalah


-

Definisi Sifilis

Klasifikasi Sifilis

Tanda dan Gejala Sifilis

Cara Penularan Sifilis

Pemeriksaan Diagnostik untuk Pasien Sifilis

Kajian Islam terkait Penyakit Menular Seksual

Studi Kasus

Rencana Asuhan Keperawatan Pasien Sifilis Sesuai Studi Kasus

Implementasi Asuhan Keperawatan

Evaluasi Asuhan Keperawatan

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Definisi Sifilis

Sifilis adalah salah satu penyakit menular seksual yang disebabkan


oleh invasi bakteri spiral yakni Treponema Pallidum.[2] Sifilis merupakan
penyakit infeksi sistemik dan kronik yang ditandai oleh beberapa tahap yang
mudah dbedakan secara klinis.[3]

Schaudinn dan Hoffman (1905), berhasil me nemukan penyebab


sifilis yaitu Treponema pallidum. Organisme ini termasuk dalam ordo
Spirochaetales, famili Spirochaetaceae dan genus Treponema dengan
tingkat virulensi yang tinggi Treponema pallidum berbentuk spiral yang
teratur rapat dengan jumlah lekukan sebanyak 8 24. Panjangnya berkisar 6
15 m dengan lebar 0,15 m. Apabila difiksasi, Treponema pallidum
terlihat seperti gelombang dengan panjang gelombang sebesar 1,1m dan
amplitudo 0,2 0,3 mm (Djuandi. A, 2000).

2.2. Klasifikasi Sifilis

Menurut cara penularannya, sifilis dapat dibedakan menjadi sifilis


didapat dan sifilis kongenital. Sifilis didapat dibedakan menjadi sifilis dini
dan sifilis lanjut. Menurut ECDC (2009) sifilis dini adalah sifilis yang
terjadi kurang dari satu tahun setelah transmisi bakteri. Sifilis dini dibagi
menjadi sifilis primer, sifilis sekunder, dan infeksi laten dini. Sedangkan
sifilis lanjut adalah sifilis yang terjadi lebih dari 1 tahun setelah transmisi
bakteri. Sifilis lanjut diklasifikasikan menjadi infeksi laten lanjut, dan sifilis

tersier yang termasuk didalamnya adalah neurosifilis, gummatosa, dan sifilis


kardiovaskular.[5]
Sifilis kongenital dapat diklasifikan menjadi sifilis kongenital dini
yang terjadi pada dua tahun pertama kehidupan dan sifilis kongenital
lanjutan.[5]

2.3. Patofisiologi Sifilis

Bakteri penyebab sifilis yaitu T. Pallidum ditemukan di eksudat lesi


lembab mukosa atau kutaneus. Transmisi bakteri tersebut terjadi melalui
hubungan kontak seksual antar kutan atau mukosa walaupun dapat terjadi di
lokasi ekstra genital yaitu transmisi melalui transplasenta sehingga disebut
sifilis kongenital.[6]

Rangkaian perjalanan penyakit sifilis terbagi atas empat tahap yakni


primer, sekunder, laten, dan lanjut.[6]

2.3.1. Sifilis Primer

Pada tahap ini, sifilis berkembang pada tempat awal invasi


bakteri penyebabnya. Bakteri T. Pallidum berkembang biak pada
jaringan epitel berjalan melalui kelenjar getah bening ke nodus limfe
sekitar yang merangsang terjadinya respon imun humoral dan respon
imun selular. Reaksi tersebut menyebabkan munculnya reaksi
peradangan jaringan sekitar berupa granulomatosa yang disebut
chancre.[6]

2.3.2. Sifilis Sekunder

Pada sifilis sekunder, manifestasi klinis yang dihasilkan


berbeda dengan sifilis primer. Pada tahap ini, reaksi peradangan

bersifat sistemik. Setelah melalui nodus limfe pada kelanjar getah


bening, bakteri yang telah berproliferasi menyebar ke sistem
vaskular melalui vena sehingga lesi peradangan yang berupa papula
dapat ditemukan di hampir semua permukaan kulit terutama pada
daerah genital, telapak tangan dan telapak kaki serta tempat tempat
perlipatan yang lembab seperti perlipatan selangkangan, lipatan
ketiak, dan mukosa oral.[6]

Pada akhir fase ini, terdapat periode dimana sistem imun


dapat menekan terjadinya infeksi meskipun tanpa menjalani
pengobatan sehingga lesi yang terdapat di permukaan kulit sembuh
dan

menghilang

seketika.

Namun,

pemeriksaan

serologi

menunjukkan hasil positif bakteri T. Pallidum meskipun tidak


terlihat manifestasi secara klinis pada pasien sifilis. Fase ini
merupakan pertanda peralihan dari sifilis sekunder ke sifilis laten.[6]

2.3.3. Sifilis Laten

Fase laten merupakan fase peralihan dari sifilis dini ke tahap


sifilis lanjut. Pada fase laten, manifestasi lesi papular menghilang
akibat sistem imun humoral dan selular berhasil menekan infeksi
bakteri penyebab. Namun hasil pemeriksaan serologi menunjukkan
hasil positif pada penderita sifilis dini yang tidak menjalani
pengobatan.

2.3.4. Sifilis Tersier

Fase tersier merupakan fase paling parah dan dapat


menyebabkan kematian. Patogenesis dari manifestasi tahap tersier
masih belum sepenuhnya diketahui. Namun, hipotesis yang diyakini
saat ini adalah terjadinya hipersensitivitas dari sistem imun yang

sangat hebat sehingga menyebabkan kerusakan pada kulit, dan


jaringan

lunak

yang

disebut

gumma.

Guma

adalah

lesi

granulomatosa yang terbentuk akibat kumpulan kecil sel sel


makrofag mencoba menyekat bakteri penyebab sifilis yang akhirnya
terlihat seperti nodul kecil yang berbatas tegas.

2.4. Tanda dan Gejala Sifilis

2.4.1. Sifilis Primer

Gambar 1. Chancre sifilis primer pada area anal (a) penis (b) dan
mukosa oral (c).[4]

Lesi khas pada sifilis berupa papula yang muncul pada


tempat kontak seksual pada 10 90 hari setelah paparan. Lesi
tersebut berkembang hingga diameter 0,5 1,5 cm dan setelah satu
minggu akan menjadi lembab bernanah dan berbatas jelas yang
disebut chancre pada sifilis primer. Ulserasi memiliki dasar cerah
tanpa eksudat. Harus diperhatikan bahwa ulserasi genital yang
berdiameter 1 2 cm tidak menyebabkan nyeri.[4]

Penyebaran sifilis melalui kontak seksual mengakibatkan


tempat manifestasi chancre yang paling sering adalah di genital,
perineal, dan anal. Pada laki laki, chancre biasanya ditemukan
pada penis dan pada perempuan ditemukan pada labia, vagina, dan
serviks. Pada laki laki heteroseksual, diagnosis sifilis dapat
ditegakkan pada tahap primer karena chancre dapat terlihat langsung

pada organ genital. Sedangkan, pada laki laki homoseksual yang


letak chancre-nya berada pada anal dan perineal memberikan
kerancuan diagnosis dengan hemoroid yang kadang disertai
perdarahan rektal. Pada perempuan, diagnosis juga sulit ditegakkan
sampai berlanjut pada tahap sekunder karena munculnya chancre
tidak terlihat dan tidak terasa nyeri.[4]

2.4.2. Sifilis Sekunder

Gambar 2. Papula pada telapak tangan dan telapak kaki (a),


kondiloma lata pada vulva (b), dan ulkus mukosa pada lidah (c).[4]

Setelah beberapa minggu atau beberapa bulan, beberapa


manifestasi lanjutan sifilis mulai bermunculan yang dikarakteristikan
oleh demam ringan, malaise, sakit tenggorokan, sakit kepala,
pembesaran kelenjar limfe, dan ruam pada mukosa.[4]

Perubahan manifestasi pada sifilis sekunder menandakan


penyebaran T. Pallidum ke vaskular sistemik dan kelenjar getah
bening. Pada tahap ini, papula simetris mulai bermunculan pada
batang tubuh dan ekstremitas termasuk telapak tangan dan telapak
kaki.

Papula berwarna merah atau merah kecoklatan dengan

diameter 0,5 2 cm. Papula biasanya bersisik, lembut, dan


berbentuk folikel atau pustular (bisul) .[4]
Kondiloma lata adalah lesi abu keputihan yang ditemukan
pada area yang hangat dan lembab. Kondiloma lata dimanifestasikan
6

sebagai kutil daerah genital perianal yang juga dapat ditemukan


pada perlipatan selangkang dan ketiak. Pada bagian mukosa oral,
ulkus mukosa (jejak siput) sebagai lesi khas yang terjadi pada sifilis
sekunder.[3],[4]

Sifilis sekunder adalah penyakit sistemik dan pemeriksaan


oleh ahli dermatologi sangat dibutuhkan untuk diagnosis banding
selain manifestasi pada kulit harus dipastikan terjadinya gejala lain
seperti limfadenopati biasanya epitroklear, malaise, demam,
penurunan berat badan, sakit tenggorokan, nyeri otot, dan rasa
gatal.[4]

2.4.3. Sifilis Tersier

Manifestasi dan gejala sifilis tersier biasanya mulai muncul


tiga tahun atau lebih setelah sifilis primer terjadi. Pada tahap ini lesi
khas berupa guma. Guma merupakan lesi berbentuk seperti ulkus,
depigmentasi sentral, dan hiperpigmentasi perifer yang pada waktu
yang lama akan terbentuk jaringan parut. Pada awitan pertama,
kemunculan guma tidak menunjukkan tanda tanda peradangan dan
keras. Namun, setelah beberapa bulan guma mulai melunak mulai
dari bagian tengah dan tanda tanda peradangan mulai muncul
diikuti oleh perforasi guma yang mengeluarkan cairan seropurulen
(pus) yang berwarna kekuningan dan berbau tidak sedap. Kemudian,
tempat tempat perforasi tersebut meluas menjadi ulkus dan
jaringan nekrotik.[3]

Sifilis tersier dapat menyerang beberapa jaringan lain selain


genital dan kutan yakni menyerang sistem kardiovaskular, sistem
saraf, dan sifilis kongenital.[3]

2.4.3.1. Sifilis Kardiovaskular

Sifilis yang menyerang sistem kardiovaskular paling


sering menyerang aorta dengan menyebabkan aortitis
sehingga megakibatkan inkompetensi aorta dan menyerang
lengkung aorta yang mengakibatkan aneurisma aorta yang
ditandai dengan suara serak, batuk keras, stridor dan
disfagia. Sedangkan, jika menyerang aorta asendens
mengakibatkan erosi iga, gagal jantung kanan, dan kolaps
paru.[3]

2.4.3.2. Neurosifilis

Neurosifilis
paresis

dibagi

generalisata,

menjadi

dan

tabes

meningovaskular,
dorsalis.

Sifilis

meningovaskular dapat timbul 5 tahun setelah infeksi


primer dan timbul sebagai meningitis, palsi saraf kranial,
dan kadang kadang hemiplegia.[3]
Sifilis paresis generalisata dapat terjadi 10 30
tahun setelah infeksi primer dengan disfungsi korteks
global sehingga menyebabkan gangguan kognitif, tremor,
kejang, dan akhirnya demensia.[3]
Sifilis tabes dorsalis dapat terjadi 15 35 tahun
setelah infeksi awal. Manifestasinya berupa nyeri yang
menonjol, hilangnya modalitas sensorik (postural, suhu,
nyeri dalam dan superfisial), hipotonia, gangguan refleks,
ataksia, dan gangguan kandung kemih.[3]

2.4.3.3. Sifilis Kongenital


Sifilis kongenital disebabkan oleh infeksi in utero
dan bermanifestasi dini dengan bicara sengau, ruam
makulopapular, osteokondritis, hepatosplenomegali, dan
anemia. Dapat bermanifestasi lanjut sebagai keratitis
interstitial dahi menonjol, tuli, susunan gigi abnormal, dan
artropati rekuren.[3]

2.5. Cara Penularan Sifilis

Sifilis dapat ditularkan melalui kontak seksual atau melalui


transplasental yang terjadi pada sifilis kongenital. Transmisi melalui kontak
seksual terjadi akibat paparan lesi mukosa lembab dan lesi kutaneus dari
sifilis primer atau sekunder.[4] Sedangkan, sifilis kongenital terjadi akibat
bakteri T. Pallidum dapat menembus sawar plasenta dan menginfeksi
neonatus.[2]

Bakteri T. Pallidum menyebar melalui aliran darah yang dimulai


pada periode inkubasinya. Transmisi melalui plasenta terjadi segera setelah
onset infeksi terjadi dan dapat diketahui pada usia sembilan minggu
kehamilan.[4]

2.6. Pemeriksaan Diagnostik untuk Pasien Sifilis

Beberapa

pemeriksaan

diagnostik

dapat

dilakukan

untuk

mengidentifikasi keberadaan bakteri T. Pallidum pada tubuh seseorang. Uji


pemeriksaan yang dilakukan berupa tes serologik menggunakan serum
darah sebagai sampel pemeriksaan. Beberapa jenis tes serologik yang dapat
dilakukan untuk mendeteksi penyakit sifilis adalah sebagai berikut :

2.6.1. Uji nontreponemal


Uji non treponemal menggunakan antigen non spesifik
yang merupakan uji awal sebelum uji treponemal. Jika uji non
treponemal

positif

maka

pemeriksaan

dilanjutkan

ke

uji

treponemal.[4]

2.6.1.1. Uji Wasserman


Uji ini dilakukan untuk mengukur kadar antibodi
Wassermann

yang

timbul

sebagai

respon

terhadap

kardiolipin yang merupakan antigen penting bagi T.


Pallidum.[4]

2.6.1.2. Uji Flokulasi


Uji flokulasi dibagi menjadi dua jenis yakni Veneral
Disease Research Laboratory (VRDL) dan Rapid Plasma
Reagin (RPR). VRDL dilakukan dengan menambahkan
reagen VRDL kedalam serum dengan hasil positif (reaktif)
jika terdapat flokulasi (gumpalan) butir butir gelap.[4]
Peoses pengujian menggunakan Rapid Plasma
Reagin (RPR) hampir sama dengan VRDL hanya RPR
sensitivitasnya lebih tinggi karena antigen lebih mirip
dengan antigen T. Pallidum daripada antigen VRDL.[4]

2.6.2. Uji Treponemal


Uji treponemal dikenal dengan nama Treponema Pallidum
Hemaaglutination Assay (TPHA). Uji tersebut bertujuan untuk
memdeteksi langsung antibodi spesifik terhadap antigen T. Pallidum
yang digunakan untuk mengonfirmasi uji non treponemal. Hasil

10

positif yang konsisten biasanya dihasilkan pada sifilis sekunder yang


tidak diberikan manajemen pengobatan.[4]

2.7. Kajian Islam

Penyebab utama transmisi penyakit sifilis adalah melalui hubungan


seksual yang meningkat dengan pasangan yang berganti ganti. Dalam hal
ini, perzinahan menjadi faktor utama dalam penularan penyakit seksual.
Dalam pandangan Islam perzinahan merupakan perbuatan yang kotor dan
keji sesuai dengan firman Allah SWT dalam surah Al Isra :

Artinya : Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina


itu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk (Q.S. Al Isra 17:32).

Ayat tersebut menjelaskan bahwa berzina atau berhubungan seksual


dengan seseorang yang bukan mahram-nya merupakan perbuatan yang keji
dan suatu jalan yang buruk. Perbuatan keji dapat diartikan perbuatan yang
kotor dan dapat menyakiti diri sendiri. Menyakiti diri sendiri yang dimaksud
adalah tingginya resiko penularan penyakit akibat kontak seksual dengan
pasangan yang berbeda beda.

Allah juga menjelaskan bahwa seseorang yang keji adalah pasangan


dari seseorang yang keji pula. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT
dalam surah An Nur :

11

Artinya : wanita yang keji adalah untuk laki laki yang keji, dan
laki laki yang keji adalah untuk wanita wanita yang keji (pula) (Q.S.
An - Nur 24:26).
2.8. Studi Kasus
SKENARIO
Nn. A berusia 20 tahun bekerja sebagai perempuan pekerja seks
selama 1 tahun terakhir. Setiap bulan tempat ia bekerja, dilakukan
pemeriksaan kesehatan rutin IMS (Infeksi Menular Seksual) oleh PKBI
(Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia). Sekitar sebulan sebelum hari
pengkajian oleh kelompok kami, ia mengaku mengetahui mengidap
penyakit sifilis setelah dilakukan pemeriksaan dengan metode VCT
(Voluntary Counseling and Testing) melalui analisis darah yang didapatkan
hasil positif sifilis. Nn. A mengaku mengeluh demam, sakit tenggorokan,
dan malaise sekitar sebulan terakhir. Nn. A mengeluh merasa tidak nyaman
pada area genitalnya seperti ada massa yang mengganjal namun tidak terasa
gatal ataupun sakit. Akibat adanya massa yang mengganjal tersebut, Nn. A
merasa aneh dan saat menyentuh area genitalnya. Karena tidak ada rasa
gatal ataupun sakit Nn. A hanya mengabaikan keadaan tersebut. Setelah
divonis menderita penyakit sifilis dan mengalami gejala yang membuatnya
merasa tidak nyaman, Nn. A langsung dirujuk ke rumah sakit untuk
melakukan pemeriksaan. Setelah diperiksa Nn. A mengatakan bahwa dia
diberi beberapa obat oleh dokter. Nn. A mengaku setelah mengonsumsi obat
obatan tersebut gejala yang dialaminya berkurang sehingga aktivitasnya
dapat berjalan seperti biasa lagi. Nn. A menyatakan saat koitus dengan
pasangan atau pacar- nya dia tidak menggunakan alat kontrasepsi
apapun. Sedangkan, jika melaukan koitus dengan pelanggan dirinya

12

selalu memakai alat kontasepsi. Sampai saat ini, Nn. A selalu rutin
mengikuti pemeriksaan IMS yang selalu diadakan 4 kali sebulan. Dari hasil
observasi pengkajian kelompok kami, Nn. A terlihat enggan terbuka
menceritakan masalah kesehatannya dengan cara menatap ruangan sekitar
dengan gugup. Nn. A menyatakan merasa cemas terhadap penyakitnya
karena merasa takut jika orang lain dan teman temannya akan
menjauhinya apabila mereka mengetahui penyakitnya. Sekaligus, dapat
mengganggu pendapatan dari pekerjaannya sebagai perempuan pekerja
seks.
2.9. Rencana Asuhan Keperawatan

2.9.1. Pengkajian
Nama

: Nn. A

PENGKAJIAN

Usia

: 20 Tahun

Hari / tgl

Pekerjaan

: PPS

2014

: Kamis, 20 November

Pukul

: 14.50 15.30 WIB

Lokasi

PPPS

(Perhimpunan

Perempuan Pekerja Seks Yogyakarta

Data Objektif
Klien

terlihat

Data Subjektif
enggan Klien mengeluh merasa tidak

menceritakan penyakitnya

nyaman pada area genitalnya


seperti

ada

massa

yang

mengganjal
Klien

terlihat

memalingkan
lingkungan sekitar

gugup
tatapan

dan Klien

mengaku

mengeluh

ke demam, sakit tenggorokan, dan


malaise sekitar sebulan terakhir
Klien

menyatakan

tidak

memakai alat kontrasepsi saat


koitus dengan pasangannya

13

Klien menyatakan merasa cemas

jika penyakitnya diketahui oleh


orang lain

Klien menyatakan merasa aneh


saat menyentuh area genitalnya

2.9.2. Analisa Data

Masalah
Keperawatan
Etiologi

Data Fokus

pemaparan

Resiko Infeksi
Meningkatnya

menyatakan

tidak

lingkungan terhadap patogen


(Klien

memakai alat kontrasepsi saat


koitus dengan pasangannya)

Tabel 1. Analisa Data Pengkajian.

14

Ansietas

kulit

sifilis)
-

ke

dan

Kontak mata yang buruk (Klien

T. (klien dinyatakan positif mengidap

Kerusakan integritas kulit

yakni

Perubahan dalam status kesehatan

sifilis

Faktor imunologis (Infeksi bakteri


penyebab

lapisan

gugup
tatapan

lingkungan sekitar.

terlihat

ada

(Klien mengeluh merasa

seperti

terlihat enggan menceritakan

Ragu / tidak percaya diri (Klien

Gangguan permukaan kulit

massa yang mengganjal).

genitalnya

memalingkan

tidak nyaman pada area

Kerusakan

Pallidum)
-

merasa cemas jika penyakitnya

Khawatir (Klien menyatakan

penyakitnya)
-

(Klien menyatakan merasa


aneh saat menyentuh area
genitalnya)

diketahui oleh orang lain)

Diagnosis Keperawatan
2.8.3

1) Resiko infeksi berhubungan dengan Meningkatnya pemaparan

lingkungan terhadap patogen (klien menyatakan tidak memakai

alat kontrasepsi saat koitus dengan pasangannya).

2) Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan Faktor

imunologis (Infeksi bakteri penyebab sifilis yakni T. Pallidum)

ditandai dengan kerusakan lapisan kulit (Klien mengeluh merasa

tidak nyaman pada area genitalnya seperti ada massa yang

mengganjal), gangguan permukaan kulit (Klien menyatakan

merasa aneh saat menyentuh area genitalnya).

15

3) Ansietas berhubungan dengan Perubahan dalam status kesehatan


(klien dinyatakan positif mengidap sifilis) ditandai dengan
Kontak mata yang buruk (Klien terlihat gugup dan memalingkan
tatapan ke lingkungan sekitar, ragu / tidak percaya diri (Klien
terlihat enggan menceritakan penyakitnya), khawatir (Klien
menyatakan merasa cemas jika penyakitnya diketahui oleh orang
lain).

2.9.3. Rencana Intervensi

2.9.3.1.

Nursing Outcome Classification


Knowledge : Infection Management 1842
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 2
jam klien dapat memahami tentang infeksi, penanganan,
serta pencegahannya dengan kriteria hasil :

Pengetahuan tentang cara transmisi infeksi dari


tingkat sedang ke tingkat ekstensif (level 3 5).

Pengetahuan tentang tanda dan gejala infeksi dari


tingkat terbatas ke tingkat ekstensif (level 2 5).

Pengetahuan tentang tanda dan gejala infeksi


lanjutan dari tingkat tidak tahu ke tingkat
ekstensif (level 1 5)

Pengetahuan tentang penatalaksanaan infeksi dari


tingkat tidak tahu ke tingkat ekstensif (level 1 5)

Pengetahuan tentang efek samping pengobatan


(penatalaksanaan) dari tingkat tidak tahu ke
tingkat ekstensif (level 1 5)

16

2.9.3.2.

Nursing Intervention Classification


Teaching : Disease Process 5602 pg 709
-

Nilai tingkat pengetahuan dasar klien tentang


proses penyakit sifilis.

Tinjau pengetahuan tentang kondisinya saat ini


terkait penyakit sifilis.

Identifikasi penanganan apa yang sudah klien


jalani selama mengetahui mengidap penyakit
sifilis.

Jelaskan patofisiologi tentang penyakit sifilis dan


hubungannya dengan anatomi dan fisiologi.

Gambarkan tanda dan gejala dari penyakit sifilis

Gambarkan proses terjadinya penyakit sifilis

Identifikasi

penyebab

yang

mungkin

dari

penyakit sifilis yang diderita klien.


-

Identifikasi

perubahan

fisik

pasien

akibat

gaya

hidup

untuk

penyakit sifilis
-

Diskusikan

perubahan

merencanakan pencegahan keparahan penyakit


sifilis
-

Diskusikan dengan klien tentang pilihan terapi


untuk penyakit sifilis.

Jelaskan rasional tentang pilihan terapi untuk


penyakit sifilis.

2.10. Implementasi Asuhan Keperawatan

Nama

: Nn. A

IMPLEMENTASI

Usia

: 20 Tahun

Hari / tgl : Minggu, 23 November 2014

17

Pekerjaan

: PPS

Pukul

: 13.00 14.30 WIB

Lokasi

: PPPS (Perhimpunan

Perempuan Pekerja Seks Yogyakarta

Kelompok kami melakukan implementasi asuhan keperawatan


berupa edukasi dan promosi kesehatan terkait penyakit menular seksual
sifilis menggunakan media leaflet, gambar, dan konseling. Kegiatan
kegiatan implementasi asuhan keperawatan yang kami lakukan adalah
sebagai berikut:

Menanyakan pengetahuan dasar yang dimiliki klien tentang


penyakit sifilis

Mengidentifikasi perubahan fisik yang terjadi pada klien akibat


penyakit sifilis

Menanyakan manajemen terapi yang telah dilakukan klien


selama mengetahui mengidap penyakit sifilis

Menjelaskan

patofisiologi

sifilis

kepada

klien

dengan

menggunakan media leaflet dan edukasi secara oral.


-

Menjelaskan tanda dan gejala yang muncul pada penyakit sifilis


disertai gambar spesifik manifestasi klinis penyakit sifilis.

Menjelaskan proses penyakit sifilis dengan bahasa yang mudah


dipahami melalui edukasi secara oral.

Menanyakan riwayat kesehatan dan pola seksualitas klien untuk


mengidentifikasi penyebab penyakit sifilis yang paling mungkin.

Menanyakan perubahan fisik apa yang terjadi setelah klien


mengidap penyakit sifilis dan keterkaitannya dengan tanda dan
gejala khas penyakit sifilis yang telah dijelaskan sebelumnya.

Mempromosikan

perubahan

gaya

hidup

khususnya

pola

seksualitas dalam pencegahan keparahan penyakit sifilis dengan


menggunakan kondom dan berhenti untuk melakukan hubungan
seksual dengan pasangan yang berganti ganti.

18

Memberikan informasi terkait terapi medis yang saat ini


direkomendasikan oleh instansi kesehatan sesuai dengan
Evidence Based Practice.

Menjelaskan alasan pemilihan terapi medikasi yang tepat

Menyediakan informasi terkait instansi kesehatan yang dapat


dihubungi jika tanda dan gejala bertambah parah.

2.11. Evaluasi Asuhan Keperawatan

Klien menyatakan mengetahui jika sifilis merupakan penyakit menular


seksual tetapi klien menyatakan bahwa sifilis disebabkan oleh virus
seperti HIV.

Klien menyatakan bahwa perubahan fisik yang sekarang terjadi berupa


massa yang terdapat pada vagina namun tidak terasa nyeri ataupun gatal.
Klien menyatakan tidak mengetahui bentuk pasti massa tersebut karena
sulit melihat area vagina secara langsung.

Klien menyatakan saat ini menjalani general check up teratur di


Puskesmas terdekat dan mengonsumsi obat obatan yang diberikan oleh
dokter. Klien enggan memberi informasi tentang obat apa yang
digunakan tetapi memastikan bahwa obat tersebut meringankan gejala
seperti demam, sakit tenggorokan, dan malaise yang dialaminya.

Klien terlihat memperhatikan dengan seksama ketika dijelaskan tentang


patofisiologi, perjalanan penyakit, dan tanda gejala penyakit sifilis
dengan sesekali bertanya.

Klien bersama dengan kelompok kami mengeidentifikasi perubahan


fisik dan tanda gejala yang terjadi akibat penyakit sifilis.

Klien mengetahui cara pencegahan keparahan penyakit sifilis dan


menyetujui promosi kesehatan yang dianjurkan, namun enggan
melaksanakannya karena dapat mengganggu pekerjaannya.

Klien terlihat antusias dan sesekali bertanya saat dijelaskan tentang


terapi medis untuk penangan sifilis.

19

Klien telah mengetahui bagaimana cara menjangkau perawatan


kesehatan melalui puskesmas terdekat.

BAB III
KESIMPULAN
Sifilis merupakan salah satu penyakit menular seksual yang kronis,
progresif, dan mematikan. Di Indonesia dari tahun 2005 2007 prevalensi
penyakit sifilis pada wanita pekerja seks meningkat dari 7,8% menjadi
14,5%. Sifilis disebabkan oleh transmisi bakteri T. Pallidum transmukosal
dan transplasental. Sifilis dapat dibedakan menjadi sifilis dini yang
termasuk didalamnya adalah sifilis fase primer, sekunder, laten dan sifilis
lanjut yang termasuk didalamnya adalah fase tersier. Pemeriksaan
diagnostik dapat dilakukan untuk mendeteksi keberadaan bakteri T.

20

Pallidum dalam vaskular. Pemeriksaan tersebut antara lain uji non


treponemal dan uji treponemal.

Dari hasil pengkajian, rencana asuhan keperawatan, implementasi


dan evaluasi asuhan keperawatan didapatkan hasil bahwa klien memiliki
pengetahuan yang cukup terhadap penyakit sifilis dan mendukung gerakan
promosi kesehatan pencegahan keparahan penyakit sifilis. Akan tetapi, klien
enggan dalam implementasi promosi kesehatan tersebut karena mengganggu
pekerjaan dan mengurangi pendapatannya dari pekerjaannya sebagai
perempuan pekerja seks.

Dalam pandangan Islam, Islam sangat melarang dan mengharamkan


adanya perzinahan karena benyak mengakibatkan ke-mudharatan daripada
manfaatnya. Penyakit dari tubuh seseorang dapat tersebar ke tubuh orang
yang lain melalui kontak seksual. Seseorang yang berganti ganti pasangan
yang bukan mahram-nya dengan kata lain mengakumulasikan penyakit
penyakit dari pasangan pasangannya ke dalam tubuhnya.

DAFTAR PUSTAKA

1. N.I. Majid., L. Bollen., G. Morineau., SF. Daily., DE. Mustikawati., N.


Agus., AS. Anartati., C. Natpratan., R. Magnani. Syphilis Among Female
Sex Workers in Indonesia: Need an Opportunity of Intervention. Sex
Transform Infect Journal. 2010 Oktober ; 86(5):377-83.

2. Price, Sylvia A., Wilson, Lorraine M. 2003. Patofisiologi : Konsep Klinis


Proses Proses Penyakit. Jakarta : EGC Penerbit Buku Kedokteran.

21

3. Mandal. Wilkins. Dunbar. 2004. Lecture Notes: Penyakit Infeksi Edisi


Keenam. Jakarta : Penerbit Erlangga.
4. Holmes, King K., Sparling, P. Frederick., Stamm, Walter E., Piot, Peter.,
Wasserheit, Judith N., Corey, Lawrence., Cohen, Myron S., Watts, D.
Heater. 2008. Sexually Transmitted Disease Fourth Edition. USA:
McGraw - Hill Companies.
5. French P., M Gomberg., M Janier., B Schmidt., P van Voorst Vader., H
Young. IUSTI: 2008 European Guidelines on the Management of Syphilis.
International Journal of STD & AIDS 2009; 20: 300309.
6. McCance, Kathryn L., Huether, Sue E. 2006. Pathophysiology : The
Biologic Basic for Disease in Adult and Children Fifth Edition. USA :
Elsevier Mosby.

22